"Keluarkan semuanya Otouto. Bagi kesedihanmu itu padaku." Setetes cairan bening meluncur mulus dari sudut mata kiri Itachi. Ia dapat merasakan perasaan Sasuke saat ini. Pemuda dalam dekapannya ini sedang merasa sangat 'takut'.
"Berjanjilah Aniki. Saat semuanya berjalan tidak sesuai rencana…" Sasuke melepaskan pelukan Itachi. Matanya menatap tajam Raja Night Kingdom itu.
Sasuke menghela nafas sekali, " – bunuh aku!"
.
"Meskipun kau meninggalkan Dunia Langit, kau akan tetap membawaku." Aku mengangguk pelan dengan sedikit rasa penasaran yang mengganjal di hati. Nada bicara Kyuubi tidak sama seperti biasanya.
"Baiklah! Aku akan melatihmu mmengendalikan tenaga dalam."
Aku mengeryitkan dahi, 'Disini? Di ruangan yang tidak kukenal ini?'
"Tentu saja. Dan ini bukan tempat aneh. Ini adalah 'rumahku'." Om Kyuubi berjalan pelan, membawaku yang masih berada di moncongnya menuju tengah ruangan.
"Turunlah. Kita akan mulai." Dengan semangat empat lima, aku pun langsung melompat dan berdiri di pusat gambar spiral yang hampir sama dengan tanda lahir di perutku.
'Tidak! Ini bukan hampir sama. Ini benar-benar sama.'
"Duduklah." Perintah Kyuubi dengan nada datar. Sama seperti nada bicara kekasihku, Uchiha Sasuke.
Aku pun duduk bersila di pusat spiral itu. Kulihat Om Kyuu tengah menatapku sambil menyeringai.
'Tunggu! Ada yang tidak beres. Seringaian itu…'
"Hei! Apa yang ingin kau lakukan? Hei!"
'WOOOSSHHHHH'
Tiba-tiba ada api besar yang mengelilingiku. Kobarannya terasa sangat panas, memancarkan aura membunuh yang sangat kuat.
Apa?
Apa yang sebenarnya terjadi?
Apa yang Om Kyuu lakukan padaku?
.
.
Night Kingdom
Desclaimer "Naruto": Masashi Kishimoto
This story "Night Kingdom": KyuuRiu
Genre: Fantasy, Romance (?) Humor garing
Pair : SasuNaru
ItaDei
SasuSai
ItaSasu (?)
FugaMina (?)
NejiGaa
ShikaKiba
.
Rated: T
Warning: abal, geje, typo, mis-typo, maksa banget, pokoknya ga bagus dan super nista :3
.
Chap 11: Wedding Dress
.
.
"Orochimaru-sama. Anda sudah siap?" Tanya seorang berambut perak berkuncir yang memakai kacamata bulat 360 derajad, Yakushi Kabuto.
"Tentu saja. Aku sudah sangat siap untuk hari ini." Jawab sesosok makhluk berambut hitam panjang yang tengah menatap pantulan dirinya di cermin. Matanya tajam seperti mata ular, kulitnya sepucat mayat, bibirnya tengah menyunggingkan seringaian yang dianggapnya sangat menawan.
"Aku tidak menyangka bahwa bocah udel itu sukses menjalankan misinya." Kabuto berjalan mendekati tuannya, kemudian berdiri sejajar dengannya menghadap cermin.
'chuu-
"Selamat untuk anda." Ucap Kabuto setelah mencium pipi kiri makhluk geje yang ternyata adalah seme-nya (P/N: saya ga sanggup ngebayangin pair ini. Rasanya mual banget =,=)
Pria ber-eyeshadow ungu tua itu pun merangkul pasangan yaoi kesayangannya. "Aku akan segera menjadi pemilik Dunia Langit. Hahahahah… Uhuk.. Hahaha!"
"Umm.. Apa keputusan si ayam tidak terlalu aneh?" Tanya si pria berambut perak dengan nada yang sangat berhati-hati.
"Hmmm?" gumam Orochi sambil tangannya bergerak jahil di pinggang Kabuto.
"Kau tidak mencurigai apapun, sneaky-boy?" bisik si uke dengan nada manja. Yang ditanyai hanya terkikik geli.
"Aku menggunakan insting wanita pirang itu untuk 'melihat' apa yang terjadi. Semuanya akan berjalan sesuai rencana. Kau tenang saja…."
"Ohh.. OK deh. Ayo kita pergi ke tempat pria mumi itu. Mereka pasti sudah menunggu."
Orochimaru berdehem sekali, kemudian menarik Kabuto naik ke sesuatu berwarna ungu yang memiliki ukuran sangat besar. Benda itu mulai bergerak perlahan dan membawa mereka ke suatu tempat – yang sebenarnya hanya berjarak 10 meter dari ruangan tempat ia berada saat ini.
.
.
"Kau terlihat sangat tampan." Gumam pria berbalut perban setelah melihat putra kesayangannya keluar dari kamar.
Sai memakai baju hitam khas kerajaan, kali ini tanpa udel yang terekspose dan lengan baju yang tidak sama panjang. Pemuda bermata onyx itu memakai baju 'normal'.
"Kita berangkat kapan Ayah? Aku sudah tidak sabar mendengar janji setia terucap dari bibir manis Sasuke ~~" rengek Sai lebay.
Ya.
Hari ini adalah hari pernikahannya dengan Sasuke. Beberapa jam lagi, sepupu jauh Uchiha ini akan benar-benar menjadi seorang Uchiha.
"Kita tunggu jemputan Orochimaru-sama. Kau tidak mau kan jika harus berjalan kaki sampai ke tempat itu?" Balas Danzou sambil menahan sweatdrop yang siap menghiasi jidatnya. Sungguh ia tak bisa membayangkan bagaimana jadinya bila putranya ini masih saja bersikap kemayu dan geje saat upacara pernikahan nanti. Ia hanya berharap agar Sai tidak melakukan hal-hal yang memalukan.
"Kenapa kita tidak menggunakan sihir saja? Kurasa akan lebih cepat sampai." Pose ala detective diperlihatkan Sai kepada ayahnya.
"Menurut orang-orang Yunani Kuno, pergi ke tempat pernikahan itu harus dengan cara yang baik." Lagi-lagi iblis setengah mumi itu memulai ceramah tentang budaya 'Yunani Kuno'.
"Sebelum menikah, seharusnya ada acara seserahan dan juga lamaran. Akan lebih bagus kalau pada malam sebelum upacara pernikahan, diadakan acara 'midodareni'. Itu akan membuat pasangan pengantin bla bla bla…"
Malas mendengarkan ceramah ayahnya, Sai memilih untuk menyelinap, pergi menuju ruang bawah tanah tempat ia menyekap Naruto.
"Sial! Kenapa jantungku jadi berdebar-debar?" gerutu pemuda raven cepak saat dirasakannya detak jantung yang kian tak menentu. Saat ia menginjak tangga terakhir, getaran aneh itu makin membuatnya berkeringat dingin.
"Dia tidur…" gumam Sai saat mendapati bocah Kyuubi itu tidak bergerak sama sekali. tubuhnya terlihat lemas dan berkeringat.
"Tidak! Jangan-jangan –" onyx Sai membulat saat menyadari kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi. Ia berlari menembus sel itu dan langsung meletakkan jari telunjuk dan jari tengahnya di leher Naruto.
Sasuke wanna be berkonsentrasi dan memusatkan pikirannya untuk mencari sesuatu. Ia pun menghela nafas lega saat menemukan apa yang ia cari, "Huu~~hhh… Aku pikir dia sudah mati."
Dengan santainya, Sai merogoh kantung celananya, mengambil jarum suntik yang berisi cairan bening berwarna kuning keemasan – isinya sudah berkurang seperempat bagian.
"Kuberikan sedikit untukmu." Tangan pucat itu menusukkan jarum suntik ke leher tan Naruto.
"Cukup!" gumam Sai sambil mencabut suntikan itu, isinya kini tinggal setengahnya. "Sisanya kuberikan nanti di depan Sasuke." Senyum nista yang senantiasa terukir di bibir jontor Sai terlihat makin memuakkan.
"Tunggu! Kenapa aku jadi mengkhawatirkannya sih?"
"Tidak.. Tidak mungkin! Ini pasti karena aku telah berjanji kepada Sasuke."
"Ya. Pasti karena itu… fiuhhh.."
Pemuda yang menganggap dirinya seksi itu berbicara kepada dirinya sendiri. Kata-kata Naruto yang menanyakan apakah Sai menyukainya selalu terngiang sejak terakhir kali Sai berkunjung ke tempat ini.
"Dia… manis."
"Tidak..! Kau tidak boleh melakukannya! Kau mencintai Sasuke, ingat?" Sai menampar pelan pipinya sendiri saat tubuhnya tiba-tiba bergerak –sendiri- dan mendekati pemuda blonde yang tengah tak sadarkan diri.
Entah mengapa, tubuh pucat Sai tidak memedulikan perintah otaknya. Wajah polos Naruto seakan menyedot kesadarannya, membuat ia mendekatkan wajahnya ke wajah manis pemuda bertanda lahir spiral.
5 cm ..
4 cm …
3, 21 cm ...
1, 22 cm ..
0, 32 cm …
'buagghh!'
'bughh bughh duaghhh!'
"Ngghhh!"
"Bangun bodoh! Siapa yang menyuruhmu tidur!" bentak Sai kasar. Hampir saja ia kehilangan kendali diri – dan mencium Naruto. Untungnya ia cepat mendapatkan kembali kesadarannya dan mengalihkan keinginannya untuk mencium si blonde menjadi memukuli si blonde.
"Sial! Aku terlalu fokus padamu sehingga tidak menyadari kedatangannya. Kau tidak apa-apa bocah?" Tanya sebuah suara berat ala om-om dengan nada khawatir.
'Ini bukan apa-apa. Cih! Beraninya si jontor ini menggangguku.' Naruto mengeryit menahan sakit. Perutnya yang benar-benar kosong itu terasa makin sakit saat kepalan tangan si jontor menghantam kasar perutnya. Poor Naru…
"Aku akan segera berangkat ke tempat Sasuke, dengar?" tangan Sai memegang kasar pipi tan bergaris tiga, "Aku akan menikah dengannya hari ini. ME-NI-KAH." Lanjutnya dengan penekanan di kata terakhir.
'Hari ini? Berarti aku –'
"Tidak terbangun sejak kemarin lusa. Kau berada bersamaku. Ingat?" Naruto menghela nafas mendengar penuturan suara yang hanya bisa didengarnya itu. Ia sama sekali tidak memedulikan Sai yang masih berdiri di hadapannya.
"Sai! Orochi-sama sudah datang. Cepatlah!" teriak suara serak-serak becek dari arah atas – suara Danzou,
"Sebentar ayah ~~!"
"Aku ingin melihatmu menangis saat Sasuke telah menjadi milikku nanti." Sai tersenyum sinis.
"Kau akan dibuang dan tidak dipedulikan! Hahahahhh!"
'Sssshhhh… Sssshhhhhh…'
"Cepatlah atau kutinggal!" kali ini suara Kabuto yang terdengar beberapa saat setelah suara desisan ular. Kalau mobil menggunakan klakson, 'kendaraan' Orochimaru menggunakan desisannya :D
"Yaaa~~~" teriak Sai sambil berlari keluar. Ia tidak mau terlambat di acara pernikahannya sendiri. Saking tergesa-gesanya, ia tidak sadar kalau benda yang sedari tadi dipegangnya telah terjatuh.
"Kenapa bisa lama sekali sih?" gerutu Naruto sepeninggal calon mempelai dari kekasihnya itu.
"Sudahlah! Lebih efektif kalau melakukannya di rumahku dari pada disini. Kau merasakannya juga kan, bocah?" Sahut suara lain.
"Kau benar Om! Aku sudah siap keluar dari sini…" mata pewaris Namikaze itu memerah, taringnya seakan memanjang tujuh millimeter, seringai di bibirnya pun terlihat sangat mengerikan.
"Biasakan dirimu dulu! Baru kau boleh melakukannya." Naruto menyeringai mendengar ucapan Om Kyuu. Ia mengangguk pelan dan mulai berkonsentrasi.
.
.
"Sasuke-sama."
"Bagaimana tim dua? Sudah siap?" Tanya Sang Pangeran saat seorang pemuda berambut scarlet menghampirinya.
"Menurut Neji, Orochimaru sudah berangkat lewat jalan sebelah utara. Jadi tim dua mencoba mengendap melalui jalan sebelah selatan."
"Bagus. Terus pantau mereka."
"Ha'i!"
"Otouto."
"Bagaimana dengan sepupu dan kakakmu?" Tanya Sasuke kepada pemuda berkanji ai itu lagi, tanpa memedulikan panggilan kakaknya. Sejak kemarin lusa, tingkat kecerewetan Uchiha bungsu yang super tampan ini memang meningkat drastis.
"Mereka sudah siap. Kugutsu yang akan digunakan juga sudah jadi. Kurasa Pangeran pun akan sulit mengenali bahwa mereka –kugutsu- adalah iblis palsu. Temari akan membantu mereka." Jawab Gaara cepat. Sepupu yang Sasuke maksudkan adalah Sasori, sedangkan kakak yang dimaksud adalah Kankuro.
"Otoutoo…" panggil Itachi lagi. Ia mulai merasa jengkel.
"Dimana Shikamaru, Kiba dan Neji?"
"Mereka sudah di ruang utama."
"Oto –"
"Bagaimana dengan Pein dan Konan?" Tanya Sasuke antusias.
"Me – mereka juga sudah disana." Gagap Gaara dengan nada datar. Pemuda Sabaku itu merasa iba dengan Raja yang sedari tadi diacuhkan adik kesayangannya, namun ia juga tidak berani menegur Sang Pangeran – takut kena damprat.
"Bagus. Jangan samp –"
-chuu-
Pemuda berambut pantat ayam itu berhenti bicara saat tiba-tiba pipi kanannya merasakan sesuatu yang hangat.
"Apa yang kau lakukan? Dasar keriput sialan!" teriak Sasuke dengan nada datar (?) Tidak mau ikut campur, kekasih pemuda Hyuuga yang sedari tadi menjadi korban hujan pertanyaan dari Sang Uchiha Terpilih pun memilih untuk kabur.
"Baraninya kau –"
"Kendalikan emosimu." Gumam Itachi dengan nada datar. Mata merahnya menatap tajam sang adik yang tengah mencengkeram kuat kerah bajunya.
"Berhenti bersikap seperti ini. Kau akan mengacaukan semuanya!" bentak Sang Raja cukup keras, membuat Kushina dan Deidara yang berada di ruangan itu –perpustakaan keluarga- sedikit terlonjak kaget.
Sasuke terdiam cukup lama, kemudian melepaskan tangannya dari kerah baju kakaknya, "Maaf."
"Hn."
"Jangan pernah kau lakukan hal bodoh seperti tadi. Aku bukan bayi." Sasuke memijit pelipisnya. Kakak kesayangannya ini memang terkadang bersikap aneh dan seenak keriput.
"Tapi kulitmu selembut kulit bayi." Goda Itachi sambil menusuk-nusuk pipi kanan sang adik dengan telunjuk kanannya.
Sasuke menggerutu kesal, kemudian menyeringai nista. "Tentu saja kulitku halus. Tidak seperti kulitmu yang penuh dengan kerip – emmphhh!"
Itachi membekap mulut adiknya. Ia telah melakukan kesalahan dengan menggoda si bungsu seperti itu.
"Hanya itu satu-satunya cara agar kau memerhatikanku." Balas Itachi mencoba mengembalikan topik pembicaraan.
"Dei…" panggil sebuah suara keibuan. Deidara pun menengokkan kepalanya ke arah suara itu.
"Ya Kushina-san?"
"Maaf ya kalau Naruto merepotkan." Gumam Kushina pelan. Ia sibuk memerhatikan Hideo yang kini berada di gendongannya. Matanya sama sekali tidak melihat ke arah Deidara. Namun iblis berambut pirang itu tahu, Kushina tengah menyembunyikan rasa takutnya.
"Harusnya kami yang meminta maaf atas kelakuan Sasuke yang seenaknya." DeiDei mencoba menghibur mantan-calon-ibu mertua-adik-iparnya. Wanita berambut merah itu pun menengok ke arah Deidara dan mencoba tersenyum.
"Dei, itu milik Naruto?" emerald Kushina lurus tertuju pada sesuatu yang menyembunyikan sebagian kulit mulus Sasuke. Benda itu memiliki tanda yang sama dengan yang ada di lengan bajunya.
"Otouto."
"Hn."
"Kau terlihat errr.. keren?"
"Aku memang keren."
"Maksudku bajumu." Telunjuk kanan Itachi mengarah ke baju Sang Pangeran.
Sasuke –masih- memakai piyama berwarna hitam dengan gambar rubah berekor sembilan yang sangat besar, di bagian belakang piyama itu terdapat sebuah lambang spiral sederhana berwarna merah.
"Hn. Ini hasil dari sihir Naruto yang pertama." Itachi mengeryitkan dahi.
"Dia melakukannya tanpa sengaja.." lanjut Sasuke dengan nada biasa, namun raut mukanya sedikit berubah.
"Dia bilang akan lebih nyaman jika tidur menggunakan baju seperti ini. Ternyata memang benar…Nyaman."
"Kau menyimpannya? Kupikir kau tidak suka benda seperti itu." sejak kapan sang adik menyukai benda aneh seperti itu?
"Apapun itu, asalkan 'berbau' Naruto, aku akan selalu menyukainya. Yahh.. Walau agak kekecilan sih." Sasuke menarik-narik pelan piyama itu.
" Hn. Cepatlah ganti baju. Mereka akan segera tiba."
"Hn." Gumam Sasuke tanpa melakukan kontak mata dengan kakaknya. Ia paham kalau Itachi sedang mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
"Aniki…" panggil Sasuke saat kakaknya berjalan menuju tempat Deidara dan Kushina, "Jangan lupakan janjimu." Sambungnya cepat.
Itachi tidak mengatakan apapun karena sejak awal dia memang tidak menyanggupi janji itu. Raja berkeriput halus itu tidak akan pernah bisa melukai –apalagi membunuh- adiknya sendiri. Ia terlalu menyayangi Sasuke.
.
.
Terlihat dua orang pria berdiri menghadap ke luar jendela. Pria berambut pirang yang berdiri di sebelah kanan terlihat memejamkan matanya, memikirkan sesuatu.
"Minato." Tepukan pelan di bahu membuat pria beriris azure itu membuka kelopak matanya.
"Aku baik-baik saja."
"Kau tidak terlihat baik-baik saja." Gumam Fugaku. Minato terdiam, tidak menanggapi komentar sahabat baiknya itu.
"Mau berbagi denganku?" pria bermata onyx berjalan pelan, kemudian mendudukkan dirinya di atas kasur king size – mereka sedang berada di sebuah kamar di istana Night Kingdom..
"Kalau aku tidak membawa Kushina pergi meninggalkan Dunia Langit… Apakah semua ini akan tetap terjadi?" Minato menatap langit biru di luar sana. Bagaimanapun juga, jika dulu ia tidak membawa istrinya pergi, Sasuke tidak akan salah mengenalinya sebagai seorang musuh dan membawa putranya pergi, kemudian menyebabkan kekacauan ini. Semua itu tidak akan terjadi (?)
"Kalau kau tidak membawa Kushina pergi, mereka akan mengambil Kyuubi saat itu juga." Pria bermarga Namikaze merasakan tekanan benda tumpul di bahu kirinya – ternyata Fugaku sedang 'menitipkan' kepalanya di pundak sang Namikaze. (P/N: Sadar dong Bang! Udah punya cucu juga -,-)
"Tapi masalahnya tidak akan serumit ini!" nada bicara Minato naik dua tingkat (?)
"Dan saat itu kita memiliki Sasuke yang belum tahu apa-apa…" Minato terdiam.
"Sasuke yang bahkan belum bisa terbang…" mata azure itu melirik wajah rival 'kesayangan'nya yang tengah tersenyum. Tersenyum, eh?
"Mereka memang belum memiliki Sai dan beberapa pengawal lainnya. Tapi saat itu, kita juga belum memiliki Sabaku dan Hyuuga bersaudara, Neji, Kiba.. Akatsuki juga belum terorganisir secara sempurna."
"Menurutmu, siapa yang akan membantu kita menghadapi ular buduk yang sudah memiliki Kyuubi?"
Suami dari Uzumaki Kushina menghela nafasnya,"Kau benar."
"Aku memang benar, dan aku selalu…"
-chu-
" –keren!" lanjut Fugaku setelah –dengan kurang ajarnya- mencium pipi Minato. Yang dicium hanya bisa menahan amarahnya sambil ber-sweatdrop ria.
'Kenapa sih si suram ini selalu bersikap narsis!' azure Minato melirik pria Uchiha yang tengah membetulkan krah bajunya.
' – dan kenapa si Narsis Tingkat Dewa ini juga selalu memperlakukanku seperti kekasihnya? Aaarggghhh!' teriak batin Minato. Alih-alih ingin beristirahat dan numpang tidur, si pria Uchiha malah ngotot tidak mau meninggalkan Minato sendirian di kamar ini – sejak tadi malam. Membuat Minato bersikap was-was dan malah tidak bisa tidur gara-gara si Uchiha bengkotan memaksanya untuk tidur seranjang.
Hubungan mereka berdua benar-benar err – 'unik' (?)
"Yuk…" Fugaku menari lengan kanan Minato, membuat pria yang 7 tahun lebih muda darinya itu mengeryitkan dahi.
"Upacaranya akan segera dimulai." Minato mengangguk pelan dan langsung mengikuti langkah rival sekaligus sahabat sekaligus teman seperjuangan sekaligus orang aneh yang berjalan dua langkah di depannya.
Sepanjang perjalanan, bibir Sang Kilat Kuning tak pernah berhenti menggerutu kesal. Bagaimana tidak kesal kalau sejak tadi ia sudah berusaha melepaskan lengannya dari cengkraman penuh kasih (?) sang Uchiha, namun tidak pernah berhasil. Poor Papi Yondy :p
"Hei Gaga!" Fugaku menghentikan langkahnya –sekitar 7 meter dari pintu samping ruang utama- saat mendengar Minato memanggilnya dengan nama panggilan pemberian pemuda bermata azure itu. Sudah lama sekali Minato tidak memanggilnya dengan nama itu.
"Ya Mimin?" Jujur, Minato hampir muntah saat mendengar panggilan untuknya, tapi apa boleh buat? Hanya ini satu-satunya cara agar Fugaku mau mendengarkannya.
"Hentikan bersikap konyol seperti ini. Aku sudah mencintai orang lain. Dan aku tahu, kau pasti juga begitu." Ayah dari Uchiha Sasuke itu terdiam, ia tidak menyangka bahwa Minato akan bicara seperti ini.
"Aku tahu kau hanya bercanda, tapi ini semua sudah keterlaluan." Minato menghentakkan lengannya, membuat cengkraman Fugaku lepas dengan sendirinya.
"Maaf sobat. Tapi ini bukan waktu yang bisa kau gunakan untuk bercanda." Si rambut pirag berjalan mendahului si rambut hitam yang masih mematung, "Maaf Fugaku. Tapi sekarang ini, kita harus bersikap seperti orang dewasa."
Fugaku mengangguk pelan dan mengikuti langkah sahabatnya – walau tak dipungkiri bahwa hatinya terasa sesak, entah mengapa.
'Huhh.. Aktingku bagus juga.' Minato menghela nafas merayakan keberhasilannya melepaskan diri dari Sang Uchiha.
Terlihat seorang iblis berpakaian hitam -keemasan di beberapa bagian- dengan sayap yang terkembang di punggungnya tengah berdiri di depan altar yang sudah siap digunakan. Matanya menatap tajam –entah tertuju pada siapa- ke arah depan. Ia sama sekali tidak memedulikan 'tamu-tamu' yang telah datang.
"Duduklah dulu." Seorang wanita berambut hitam panjang menegurnya.
"Aku baik-baik saja Kaa-san. Waktu akan cepat berjalan jika aku pergi duduk dan merasa nyaman. Aku tidak suka itu." Mikoto mengerti betul maksud kalimat putra bungsunya.
"Tapi Sa –"
"Aku baik Kaa-san. Jangan cemaskan aku." Fugaku menghela nafas ketika mendapati bungsunya sedang memaksakan diri. Berusaha melakukan apapun yang membuat sang waktu tidak cepat berlalu.
Keputusan ini memang sudah diambil oleh Sasuke sendiri. Demi Naruto, demi Dunia Langit… Tapi semua itu tidak menjamin bahwa si pemuda berambut pantat ayam melakukan semua ini dengan senang hati. Bagaimanapun juga, hati iblis arogan yang satu ini tidak bisa berbohong.
"Jangan memaksakan diri…" seorang wanita lain yang memiliki rambut merah dan mata sea-green tersenyum ramah, " – dan jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri.
"Kushina-san benar. Kita semua akan menghadapinya bersama-sama." Deidara yang juga berada disana ikut menenangkan Sasuke.
"Hn."
"Ahh lihat… Hideo-chan juga akan membantu." Seru Deidara sambil menunjukkan bayi di gendongannya yang sedang ngulet.
"Sebentar lagi mereka sampai." Gumam Itachi yang tiba-tiba muncul. Ia bergumam sambil seakan berbincang dengan Sang Ratu. Tindakan Itachi ini membuat Kushina mengerti bahwa orang-orang Orochimaru sudah ada yang tiba di tempat ini.
"Bagaimana keadaan tim dua?" bisik Sasuke dengan mata yang seolah sebal karena Mikoto tengah membetulkan krah bajunya. Sementara itu Kushina terkikik geli dan ikut membantu Mikoto membenahi dandanan Sasuke – yang sebenarnya sudah sangat perfect itu. Mereka sedang mencoba memainkan sebuah drama jelang pernikahan.
"Hampir sampai di wilayah mereka. Keadaan cukup aman." Itachi menengokkan tubuhnya ke arah Gaara dan Neji yang baru saja datang. Acara akting dan 'bisik-bisik' itu berlangsung lancar –berkat byakugan Neji dan 'mata' Gaara yang mengintai di tempat Sasori dan Kankuro. Tidak hanya mereka yang berada disini, Kiba dan Shikamaru yang tengah berjalan memasuki ruang utama pun dapat 'mendengar' percakapan mereka, Minato dan Fugaku yang terlihat sedang beradu mulut pun bisa mengetahui percakapan ini.
Hal ini sudah diperhitungkan Sasuke sebelumnya. NejiGaa yang terlihat sedang memberi ucapan selamat itu sebenarnya sedang menyalurkan informasi yang mereka dapatkan melalui mata byakugan (Neji) dan mata 'ketiga' (Gaara)
Sang ayah akan melihat gerakan bibirnya dengan Sharingan –dan secara otomatis mengetahui pembicaraan di kubu Sasuke. Sedangkan Kiba dapat langsung mendengar percakapan itu. (P/N: anjing memiliki pendengaran yang sangat luar biasa :3)
"Pangeran." Panggil Gaara datar. Semua tahu arti dari panggilan ini. Mereka pun langsung menghadap ke arah pintu utama, membuat para tamu yang datang melakukan hal yang sama.
Fugaku dan Minato pun berjalan mendekati Sasuke cs. Seluruh Uchiha –kecuali Madara- dan para pengawalnya kini berdiri di depan altar, seakan menyambut kedatangan rombongan Orochimaru. (P/N: kalau buat Kyuu sih terlihat seperti menghalangi Sai agar dia tidak dapat berdiri di depan altar.)
"Mikoto, dimana Tou-san?" bisik Fugaku tanpa mengalihkan pandangannya dari makhluk besar berwarna ungu yang membawa Orochimaru, Sai, Danzou dan keempat pengawalnya waktu itu. Ohh ya, jangan lupakan si Harry Potter wanna be.
Mikoto menggeleng pelan.
"Madara-sama ingin melakukan sesuatu." Sahut Pein yang berdiri tepat di belakang Fugaku.
"Keempat pengawal mereka itu… Tampaknya bukan iblis biasa. Ular tunggangannya itu juga kelihatannya sangat berbahaya." Lanjut Konan.
"Dengan jumlah mereka yang seperti itu, mereka terlihat sedang memasuki 'Jurassic Park' hanya dengan membawa pistol, revolver dan senapan, atau senjata api 'biasa' lainnya." Gumam Shikamaru.
"Berbeda jika mereka masing-masing sudah menyiapkan 'bom nuklir'. Walaupun hanya dengan jumlah seperti itu, pergi ke tempat ini hanya seperti bermain di 'Jangkrik Park' bagi mereka." Balas Itachi memberikan perumpamaan dengan obyek yang –TIDAK- sama dengan si pemuda Nara. Semua yang mendengarnya hanya bisa ber-sweatdrop ria, termasuk Sasuke dan ayahnya sendiri. Mereka pasti sangat malu memiliki anggota keluarga seperti Itachi. Deidara pun hanya bisa menyembunyikan wajahnya di balik punggung Kushina. (Percuma Bang… Percuma! -,-)
Memang benar, perumpamaan yang diberikan memiliki arti yang dapat dipahami oleh semua yang mendengarnya. Tapi kata 'Jangkrik Park' itu … haruskah menggunakan kata itu?
"Sudah lama sekali ya… Fugaku?" sesosok makhluk pucat perambut hitam panjang melompat turun dari punggung seekor ular raksasa berwarna ungu, diikuti oleh tujuh bawahannya.
"Hn."
"Kau boleh keluar, Manda." Orochimaru mengelus kasar peliharaan kesayangannya itu. mata kuning tajamnya sesekali melirik ke arah para tuan rumah.
Beberapa detik kemudian, ular yang jenis kelaminnya tidak jelas itu melata keluar dari ruang utama.
"Mencari ayahku, eh?" gumam Fugaku sinis. Sharingannya menatap lurus penyuka ular itu.
Pria yang berdiri disamping kiri Danzou itu mengibaskan rambutnya, memperlihatkan anting-anting berbentuk aneh yang tergantung di daun telinga kirinya, seakan berbicara 'Lihat antingku! Aku baru saja mendapat honor yang besar setelah membintangi iklan shampoo.' Dan hal ini sukses membuat pemuda Hyuuga yang selalu bermimpi menjadi bintang iklan shampoo itu mengepalkan tangan kanannya.
"Kendalikan emosimu." Gumam pemuda Sabaku tenang.
"Sepertinya kita harus memulai acara ini sekarang juga." Kabuto menginterupsi adegan geje ini. Ia terkikik geli saat melihat pemuda Hyuuga itu –sedikit- terpancing
"Hn." Sasuke bergumam pelan dan membalikkan badannya, menghadap altar megah dominan putih.
Semua yang 'tidak berkepentingan' langsung menyingkir dari altar itu. semua orang pun bersiap pada posisinya masing-masing (P/N: kaya pernikahan biasanya gitu lah)
Itachi berdiri beberapa meter di dekat adiknya. Raut wajahnya sedikit berubah saat tanpa sengaja matanya menangkap perubahan air muka Gaara. 'Ada sesuatu yang tidak beres.' Batinnya.
Tidak mau membuat Sasuke khawatir, Uchiha sulung itu bersikap seperti biasa. Cepat atau lambat, Ratu manisnya akan memberitahunya.
Sai mulai berjalan memasuki ruang utama, didampingi oleh Danzou. Entah musik apa yang mengalun saat ini, Sasuke tidak peduli. Ia menulikan pendengarannya, memejamkan matanya dan mencoba 'mengirimkan' sesuatu melalui pikirannya.
'Dobe. Kau dengar aku?'
'Dobe … ' Sauke menghela nafas dan mulai membuka mata, 'Percuma. Aku belum pernah melakukan ini sebelumnya.'
Ruby tajam sasuke milirik ke arah Itachi. Ia sedikit lega saat mendapati anggukan kecil dari kakaknya.
'Semua berjalan lancar…' gumam Sasuke dalam hati.
Iblis setengah mumi yang tengah mendampingi putra tunggalnya sedikit menggerutu kesal. Adaknya sejak tadi memberikan sinyal-sinyal yang menunjukkan bahwa ia ingin cepat cepat sampai
"Dalam upacara pernikahan adat Yunani Kuno. Para pengantin harus berjalan perlahan-lahan. Kau ingin pernikahanmu langgeng kan?" Sai mengangguk mantab. Kali ini dia mematuhi 'saran' sang ayah. Ia pun diam dan mengikuti apa-apa yang dikatakan ayahnya.
"Fugaku-sama." Gumam Gaara bhati-hati tanpa mengeluarkan suara. Fugaku pun berdehem sekali untuk memberikan sinyal bahwa ia siap mendengarkan –lebih tepatnya membaca- laporan yang akan diberikan.
'Zetsu belum memberikan laporan sejak ia memberitahukan bahwa mereka akan mulai memasuki markas Orochi.. – wati (?)' Fugaku membaca gerakan bibir anak pemuda emo itu di dalam hati.
'Menurut Kiba, udara disini bertambah panas. –apa-apaan ini?-'
'Menurut Neji, Madara-sama akan segera tiba…' Gaara memejamkan matanya – tanda bahwa laporan yang ia sampaikan sudah selesai.
Tiga kalimat yang tidak saling berhubungan, namun cukup membuat Fugaku –sangat- panik. Apalagi untuk kalimat pertama, apakah perkiraan Sasuke meleset? Ataukah tim dua mengalami kesulitan besar?
"Mereka berempat bukan iblis biasa. Bereka bisa berevolusi." Gumam Madara yang tiba-tiba berdiri di samping putranya.
"Tou-san.."
"Aku sudah dengar tentang tim dua. Ini bukan hal yang baik…" raut muka pria berambut pantat ayam panjang itu terlihat sedang menyembunyikan emosinya.
"Gaara benar. Disini terasa panas." Gumam Minato.
Mereka bertiga terdiam. Udaranya memang terasa semakin panas.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Kenapa tim dua belum juga melapor? Padahal menurut Shikamaru, Zetsu akan melapor beberapa saat setelah Rombongan Orochimaru tiba.
"Sebentar lagi ayah… Semua akan menjadi milik kita." Gumam Sai sambil menyunggingkan senyum saat jaraknya ke altar hanya tinggal 5 meter.
Beberapa langkah kemudian, Sai berdiri tepat di samping Sasuke. Pemuda berambut pantat ayam itu hanya membuka matanya, tanpa sedikitpun melirik calon mempelainya.
"Baiklah…" Itachi berjalan mendekati altar, kemudian berdiri di depan mereka berdua.
Onyx Itachi menatap ruby sang adik, seolah bertanya 'Sudah siap?'. Sasuke mengangguk singkat. Kemudian Raja Night Kingdom itu menarik nafas dalam, bersiap 'menikahkan' sang adik dengan iblis jahanan di sebelah kirinya.
"Minato…" The Yellow Flash mengeratkan lengannya di pinggang sang istri, "Semua baik-baik saja." Ia tersenyum.
Keadaan Deidara dan para pengawal pun tak jauh berbeda dengan Kushina. Rasa khawatir dan 'tak rela' itu seakan mengambil oksigen di sekitar mereka.
" – Apakah Kau, Uchiha Sasuke, bersedia untuk setia kepada Sai. dalam suka maupun duka, dalam sedih maupun bla bla …" Sasuke menghela nafas untuk yang terakhir kalinya.
" – apakah Kau bersedia?"
"Aku –"
"Ada yang datang!" pekik Neji dan beberapa lainnya. Aura yang mereka rasakan sangatlah kuat. Begitu panas dan seakan ingin membunuh mereka semua yang ada disini.
'GLAARRRRRRR!'
"SA-SU-KEEEEEE!"
'Zzaashhhhhhhh… Buaghhhh!'
"BRENGSEK!"
.
.
Tbc
.
.
Selesai chap 11 :D
Sasu: kenapa lu slalu bikin gue sial?
Sai: gue pengen nikah sama Naru-chan.. ga mau sama si ayam.. Hueee *nangis geje
Naru: makasih Kyuu.. Akhirnya di chap ini gue bisa istirahat :d
Walai pake kena pukul segala sih
Ahahah.. :3
Di chap ini Kyuu pengen ngasi liat kalo hubungan FugaMina itu benar2 sesuatu yang 'unique'
Kyuu kemaren sepet bikin fict 'There's no next time'
Jangan lupa baca and review yah :D
Kemaren sih statusnya udah 'completed' tapi karena banyak yang minta lanjut.. Ya Kyuu ganti jadi 'in-progress' :3
Terima kasih dukungannya readers :*
.
Ok kita balas review aja yahhh
.
Hitsugaya Toushiro-chan: yapp..
Menurut hitsu-san gimana ini :3 mereka jadi nikah gak :D
Aihh senengnya ada hitsugaya nyasar di fandom ini dan baca fict Kyuu
Ikut review pula.. Makasih yahhh
.
Yuki Uta Nakigoe: ini ada yang muncul ^^
Tapi siapa yah…
Hayo siapa :D
Ini udah apdet.. terima kasih untuk dukungannya yahh : )
.
Ashahi Kagari-kun: sa – sabar kagari-san..
Sabar…
Naru: ni gue disini Cuma dikit.. kalo chap depan bakal full gue
nyahahahhhh
Trims yah dukungannya : )
Kyuu: makasih juga untuk review di there's no next time :p
.
sasunaru's lover: terima kasih dukungannya.. maaf lahir batin juga ya : D
semoga chap ini juga memuaskan senpai ..
.
Fujikuroi: ga apa2 kok..
Di kolom review Kyuu, reviewer boleh ngapain aja..
Numpang mandi juga boleh (lohh?)
Terima kasih dukungannya : )
.
Hatakehanahungry: yupp Kiyu simpen :D
Tapi belom bisa sms, Kiyu lagi kere soalnya :p
Naru: astagon dragon.. ada yang seneng gue mati
Ya Jashin.. maafkanlah dia
Kiyu: eh eh eh hana-san baca fict Kyuu yang There's no next time dong..
Jangan lupa review yah :D *promo
Arigato…
.
ttixz lone cone bebe: yupp makasih be-san dukungannya
sekalian mau bales review di fic sebelah nih *garuk2 kepala
Kyuu emang ga bisa ngilangin hasrat untuk menulis hal-hal melenceng yang Kyuu sebut 'humor'
Gimana dong senpai *nangis geje
Kasih Kyuu saran…
Makasih yah senpai : )
.
wind. le-vent: saya setuju kalo Sai disiksa *evil smirk
nanti bakal Kyuu baca senpai.. tapi nanti ya ^^
Kyuu mau ospek dulu :3
Ini nulisnya udah bener belum?
Terima kasih senpai
.
Meg chan: yuppp…
Adegan itu bakal ada kok.. Meg-san tunggu aja : )
Terima kasih ya
.
Ryuunami Sukenaru: ga apa kok senpai..
Ada yang mau baca aja Kyuu seneng banget ^^
Naru emang uke idaman :*
Umm itu ga bakal terpengaruh kok.. kan dunianya udah beda.
Dunia Langit tu bisa dibilang ada di dimensi lain gitu…
Terima kasih ^^
.
Kuroi Akuma: ahahah itu tandanya anda belum beruntung (?)
Syukurlah kalau ada yang setuju saya mem-bego-kan Sasuke
Terima kasih dukungannya ya
.
Namikaze Trisha: iya ini apdet..
Makasih juga untuk review di fic sebelah yang Kyuu bikin yah : )
Kalo pertanyaan itu, jawabnya sambil jalan :3
.
Noonacomplicated: ehemm.. ini pernikahannya agak kacau :D
Makasih dukungannya yah :3
.
sasunaru4ever: kenapa ya?
Kenapa Nar? *lirik naru
Naru: man ague tempe.. salah lu juga napa ga dijelasin di chap ini?
Kyuu: ahh itu… anu.. anu…
Eheheh besok ya senpai :3
Btw terima kasih : )
.
Ace Sam Luffy: yupp ini udah apdet :D
Sepertinya Ace-san berbakat menjadi author :D
Terima kasih yahhh
.
Ahhh selesai juga :D
Terima kasih dukungannya yah semua..
Maaf kalo ada yang kelewat : )
.
Akhir kata
REVIEW please
