Usianya masih tujuh tahun saat Daehyun dibawa ke rumah Kakeknya. Masih belum mengerti kenapa kemarin Ayah dan Ibunya bertengkar hebat hingga sang Ayah menangis. Yang tertanam di otak, Ibunya yang jahat karena sering memukulinya. Mungkin Ayah menangis karena sedih melihat dia terus tersakiti.

Entahlah.

Otaknya masih terlalu kecil untuk mencerna semua hal yang terjadi.

Sosok pertama yang dia lihat pertama kali adalah Kakek yang menyambut kedatangannya dengan sebuah pelukan hangat. Berkata kalau Daehyun akan tetap baik-baik saja di rumah besar ini. Begitulah, Daehyun kecil percaya pada kata-kata itu. Percaya kalau dia akan baik-baik saja di sana. Bersama Ayah dan Kakeknya.

Dua tahun kemudian Daniel masuk dalam kehidupannya, tepat sehari setelah Ayah Daniel meninggal dunia.

Sebenarnya, Daehyun tahu kalau dia mempunyai seorang sepupu, tapi mereka belum pernah bertatap muka satu sama lain karena kegiatan orang tua mereka yang sibuk dan jadwal sekolah mereka lumayan padat―mereka ditempatkan di sekolah dasar yang berbeda dulu. Jadi setelah sekian lama, mereka baru bertemu saat menginjak kelas empat sekolah dasar.

Kesan pertama Daehyun pada Daniel adalah anak manja. Dimata Daehyun, sepupunya itu terlalu cengeng karena sering menangis saat ditinggalkan oleh Ibunya. Daniel selalu dengan cepat menolak apa yang tidak dia ingin lakukan dan akan menangis jika dipaksa melakukannya. Contohnya kecilnya seperti saat Kakek mendaftarkan mereka les Matematika. Daehyun dengan cepat menerima keputusan sang Kakek, sedangkan Daniel mati-matian menolak dan menangis kencang.

Terlalu manja, menurut Daehyun.

Beda pandangan Daehyun terhadap Daniel, berbeda pula dengan cara Daniel memandang Daehyun.

Daniel kecil selalu kagum pada Daehyun yang terlihat sangat dewasa walau mereka berada di usia yang sama. Meskipun dia pernah mengalami kejadian tak menyenangkan sewaktu kecil, Daehyun tetap terlihat tegar di balik punggung yang bahkan lebih mungil dari Daniel. Daehyun adalah sosok yang Daniel jadikan panutan.

Sosok Daniel kecil selalu mengejar Daehyun dari belakang. Mencoba menyetarakan diri agar mereka berdua bisa berteman.

Daniel selalu mengaggumi Daehyun.

。。。。。。

"Perkenalkan, namanya Ong Seongwoo. Mulai sekarang dia akan tinggal bersama kita."

Daniel tersenyum senang ketika melihat sosok anak laki-laki yang kira-kira berusia lebih tua berdiri di samping sang Kakek. Senyum tipis yang terlukis di wajahnya tak bisa menutupi getaran ketakutan yang dia rasakan. Terlebih ketika matanya melirik ke arah Daehyun yang masih saja diam tanpa reaksi.

"Kenapa Seongwoo harus tinggal bersama kita, Kek?" tanya Daniel.

"Panggil dia hyung, Daniel," tegur sang Kakek. "Banyak alasan kenapa dia harus tinggal di sini. Kakek belum bisa menceritakannya."

"Oh, begitu?" Daniel menganggukkan kepala. "Seongwoo-hyung!"

Kakek mengangguk, mengusap punggung Seongwoo agar dia maju menyapa Daniel dan Daehyun.

"Salam kenal, Daniel, Daehyun. Mohon bantuannya―ah!"

Seongwoo terkejut ketika Daniel tiba-tiba memeluknya sangat erat, tapi kemudian dia tertawa kecil saat merasa kalau Daniel menggumam.

"Aku merasakannya. Kalau hyung sama sepertiku," bisik Daniel.

Daehyun mendengus geli ketika melihat pemandangan di depannya. Tanpa berkata, bahkan tanpa menyapa Seongwoo, Daehyun bangkit dan berjalan menuju kamarnya di lantai dua.

Persetan dengan sopan santun. Itu menjadi nomor ke sekian ratus sekarang. Perasaannya saat melihat Seongwoo menjadi sangat tidak mengenakkan. Terlebih saat mendengar nama keluarganya yang aneh itu. Perasaan tidak mengenakkan itu semakin menyelimuti.

Dia tidak akan pernah bisa menyukai Seongwoo, tidak akan pernah bisa.

。。。。。。

"Hyung!"

Daniel memeluk lengan Seongwoo erat. Sudah setahun sejak Seongwoo tinggal bersama di rumah Kakek. Dia masih belum bisa mengakrabkan diri dengan Daehyun, namun dia sangat dekat dengan Daniel. Di sekolah maupun di rumah, dia tidak pernah bisa mendekati Daehyun.

Ada dinding penghalan besar dibuat oleh Daehyun agar siapapun tidak bisa mendekatinya. Bahkan tidak bisa ditembus oleh Daniel dan Seongwoo.

"Daniel makan siangnya sudah dihabiskan?"

Daniel mengangguk dan menunjukkan kotak bekal bergambar beruang yang sudah kosong. Di samping Daniel, Daehyun berdiri. Membaca buku dengan teliti tanpa menghiraukan dua orang di sampingnya.

"Tuan Kim lama, ya. Rooney belum diberi makan siang!"

"Mungkin di jalan sedang macet," ujar Seongwoo sambil mengacak rambut honey brown milik Daniel.

Tak lama sebuah mobil sedan hitam berhenti di depan mereka. Daehyun yang pertama masuk ke dalam, diikuti oleh Daniel di sampingnya dan Seongwoo duduk di samping Tuan Kim.

"Hari ini Tuan Jung datang," ujar Tuan Kim.

"Oh? Ayah sudah kembali?"

Daehyun bisa melihat Tuan Kim menganggukkan kepala pelan―dan Seongwoo yang tersenyum tipis dengan tatapan mata teduh. Dari gurat wajahnya, Daehyun bisa melihat ada kesenangan yang terpancar di sana.

Kenapa Seongwoo harus ikut senang ketika mendengar Ayah Daehyun pulang?

。。。。。。

"Bagaimana bisa dia seenaknya saja seperti itu?"

Samar-samar Daehyun bisa mendengar suara Kakek berbicara dengan seseorang di ruang kerjanya. Terdengar amarah dan kesal bercampur menjadi satu.

Daehyun yang tadinya berniat memberi makan kelinci-kelincinya di belakang rumah mengurungkan niat dan memilih untuk diam di dekat tangga. Mendengarkan percakapan dua arah dari luar ruang kerja. Apa yang sedang mereka bicarakan?

"Padahal aku sudah susah payah membawa Seongwoo ke rumah ini."

Suara Ayahnya. Kenapa mereka membicarakan tentang Seongwoo?

"Kenapa dia tiba-tiba ingin kita mengembalikan Seongwoo?"

Daehyun menarik kesimpulan pertama. Seongwoo masih memiliki orang tua di luar sana. Hipotesanya, mungkin Seongwoo dibawa ke rumah ini karena orang tuanya tidak mampu merawat hingga menelantarkan Seongwoo.

"Kurasa dia membutuhkan Seongwoo untuk menguras hartamu," ujar Kakek.

"Tapi dia sudah berbuat jahat pada Seongwoo. Tak akan kubiarkan pria itu mendapatkan Seongwoo kembali. Seongwoo sudah cukup tersiksa."

Suara Ayah Daehyun terdengar frustasi, terdengar dari caranya menarik dan menghela nafas berat. Daehyun masih di sana untuk mendengarkan lebih lanjut mengenai Seongwoo.

Hipotesa lainnya dia tarik. Kemumgkinan besar kalau Seongwoo mengalami kekerasan yang dilakukan oleh Ayahnya. Bagaimana dengan Ibunya? Apa yang terjadi pada Ibu Seongwoo?

"Lalu apa yang akan kau lakukan? Apa kau akan mengajukan ini ke pengadilan?"

"Tentu saja. Aku harus menebus kesalahanku." Ayah Daehyun lagi-lagi menghembuskan nafas berat. Suaranya terdengar lelah, "aku sudah meninggalkan orang yang kucintai dengan anak yang ada di kandungannya. Membiarkannya menikah dengan pria lain yang ternyata tak lebih baik, pria kejam yang membunuhnya secara perlahan. Sekarang saatnya aku melindungi Seongwoo. Biarkan aku melindungi anakku sendiri."

Nafas Daehyun tercekat. Ingatannya kembali berputar pada sosok Ibunya yang menangis sambil memukulinya, berteriak mengatakan kalau Ayahnya adalah pengkhianat yang ternyata sudah mempunyai anak dengan wanita lain. Wanita yang merebut kebahagiaan Ibunya.

Mungkin waktu itu Daehyun belum mengerti apa yang dikatakan Ibunya.

Tapi sekarang dia sudah mengetahui semuanya.

Ong Seongwoo ternyata adalah kakak tirinya. Anak dari wanita yang telah membuat Ibunya menderita dan hampir gila. Merebut semua kebahagiaan Ibunya. Walaupun Daehyun tahu kalau sejak awal hubungan orangtuanya tidaklah harmonis, tapi dulu Ibunya adalah seseorang yang sangat lembut dan penyayang.

Apa Ibunya mengetahui semua ini?

Dan apa sekarang Seongwoo datang untuk merebut Ayahnya?

"Daehyun? Apa yang kau lakukan?"

Kepala Daehyun terangkat, dia menyunggingkan senyum manis pada Ayahnya.

"Mau ke belakang, kasih makan Yuju sama kelinci lain," jawab Daehyun. Mencoba menyembunyikan ekspresi terkejut karena mendengar percakapan tadi.

"Kau punya kelinci?"

"Hum!" Daehyun mengangguk dan membiarkan tubuhnya dibawa ke gendongan sang Ayah. "Ada empat dan aku paling suka sama Yuju. Soalnya dia satu-satunya yang warna putih seperti kelinci salju."

"Benarkah?" Tangan besar pria itu mengacak rambut Daehyun. "Dimana tempatnya, Ayah ingin lihat."

Daehyun mengalungkan lengan ke leher Ayahnya saat mereka berjalan menuju kandang kelinci kecil di belakang rumah.

Sebelumnya, Daehyun bisa mendengar suara kucing yang dia duga sebagai milik Daniel mengeong. Sedang apa kucing itu di sini? Bukannya Daniel tidak pernah membiarkan kucingnya keluar rumah?

"Aaaa!"

Kali ini suara teriakan dari arah kandang kelinci. Daehyun melepaskan pelukannya. Meronta dan memaksa turun dari gendongan Ayahnya. Berlari menuju kandang kelinci dengan wajah panik.

Apa yang terjadi?

"Apa yang kau lakukan di sana?!" teriak Daehyun pada Seongwoo yang berada di dekat kandang kelincinya. "Sudah kubilang jangan dekati kelinciku!"

Daehyun mendekati Seongwoo menarik kerah bajunya erat-erat. Hidungnya mencium bau anyir darah.

"Itu... tadi Rooney..." Seongwoo bicara patah-patah karena ketakutan. "Kelincinya..."

Cengkraman di kerah baju Seongwoo mengendur. Pandangan Daehyun teralih ke arah kelinci-kelincinya yang tergeletak tak berdaya dengan darah mengalir dari luka yang menganga.

Yuju keadaannya paling parah dibanding kelinci lain. Lehernya hampir putus seperti digigit sesuatu.

"Kau sengaja, kan?!" Daehyun mendorong Seongwoo hingga terjatuh ke atas tanah. "Kau melepaskan Rooney dan sengaja menbuatnya membunuh kelinciku kan?!"

Dengan cepat Seongwoo menggelengkan kepala. Padahal niatnya tadi memberi makan kelinci Daehyun yang sudah berisik karena kelaparan. Tapi begitu sampai ke kandang, dia dikejutkan dengan keadaan seperti ini.

Seongwoo ingin memberikan penjelasan, tapi Daehyun terus mencecarnya dengan tuduhan.

"Tidak cukup?! Kau mau mengambil Ayah dariku dan sekarang kau membunuh kelinciku!"

"Daehyun!"

"Seongwoo-hyung!"

Ayah Daehyun dan Daniel berlari mendekat. Menarik Daehyun yang hampir saja mendaratkan pukulan di wajah Seongwoo. Sungguh Ayahnya dan Daniel tidak tahu apa yang terjadi hingga mereka bertekak seperti ini. Ini juga pertama kalinya Daehyun marah pada seseorang sampai seperti ini.

"PEMBUNUH!" teriak Daehyun.

Plaak

Sebuah tamparan dari Ayah mendarat di pipi Daehyun. Terasa panas dan perih di saat bersamaan. Kacamata bulatnya jatuh dan pecah di atas tanah. Pelupuk mata Daehyun sudah berair. Emosinya tidak stabil sekarang.

"Aku benci..." geramnya. "AKU BENCI KALIAN!"

Belum sempat Ayah menjelaskan, Daehyun sudah berlari menuju ke dalam rumah. Mengundang tanya dari Kakek yang sedang minum di ruang tamu. Daehyun menangis dan membanting pintu kamarnya kuat.

Sedangkan di belakang rumah, Seongwoo masih menangis di pelukan Daniel. Berulang kali berucap maaf. Dia merasa sangat bersalah. Terlebih ketika Daehyun mengatakan kalau Seongwoo akan mengambil Ayah Daehyun. Seongwoo sama sekali tidak pernah berniat untuk seperti itu. Bahkan dia sendiri tidak tahu menahu apa yang sedang terjadi.

"Daniel. Bawa Seongwoo ke kamar," ujar Ayah Daehyun.

Daniel mengangguk, kemudian dengan mudahnya menggendong tubuh Seongwoo yang lebih kurus berjalan memasuki rumah. Sedangkan Ayah Daehyun kini berjalan menuju kamar Daehyun setelah memerintahkan seorang tukang kebun untuk mengurus mayat kelinci di kandang. Pikirannya kalut. Bagaimana dia bisa menampar Daehyun dengan gampang seperti tadi?

"Daniel... Seongwoo bukan pembunuh..."

"Iya, Daniel tahu."

Dan untuk pertama kalinya Daniel terlihat marah. Sangat marah. Rasa hormatnya pada Daehyun berubah. Luntur menjadi kebencian.

。。。。。。

Daniel terlihat panik saat berlari di lorong rumah sakit. Wajahnya pucat dan kakinya terasa lemas karena mendengar kabar buruk dari rumah.

Seongwoo hampir saja mati karena mengiris pergelangan tangannya sendiri.

"Apa akhir-akhir ini ada yang terjadi pada Seongwoo?" tanya Kakek yang duduk di depan ICU.

Daniel menghela nafas. Perlahan dia bercerita pada Kakek. Mulai dari kematian kelinci Daehyun, kematian Rooney yang diduga perbuatan Daehyun karena dendam, penindasan yang dialami Seongwoo di sekolah karena ada yang menyebarkan kabar kalau Seongwoo tega membunuh kelinci. Ya, penindasan karena hal seperti itu sering terjadi di Korea.

"Tak hanya satu luka yang ada di tangan Seongwoo... ada banyak goresan lain."

"Apa Seongwoo akan sehat kembali, Kakek?" tanya Daniel. Nada suaranya sudah bergetar menahan tangis. Daniel takut tidak akan bertemu dengan Seongwoo lagi.

"Bagaimana keadaannya?"

Daniel mendongak, mendapati Ayah Daehyun yang sudah jelas air mukanya terlihat panik. Sedangkan Daehyun di belakangnya hanya diam, menunduk melihat lantai di bawahnya.

"Masih belum tahu," jawab Kakek. "Bagaimana hasilnya?"

"Hak asuh sudah di tanganku. Setelah dia dibolehkan keluar dari rumah sakit aku akan membawanya ke Ilsan," jelas Ayah Daehyun.

"Bersama Daehyun?"

"Tidak. Seongwoo harus berada jauh dari penyebab phobianya muncul."

"Maksudmu?"

"Seongwoo bilang padaku kalau banyak anak-anak di sekolah yang menatapnya tajam dan membuatnya ketakutan. Mana mungkin aku meninggalkannya dalam keadaan seperti ini," jelas Ayah Daehyun.

Daehyun menggigit bibir bawahnya kuat. Menahan tangis yang hampir saja lolos dari matanya. Daehyun sudah benar menduga kalau ini akan terjadi. Ayahnya akan diambil oleh Seongwoo dan dia akan ditinggalkan sendiri.

"Apakah ada keluarga dari Seongwoo?" tanya seorang dokter yang baru keluar dari ruang ICU.

Ayah Daehyun langsung mengacungkan tangan dan dokter membawa Ayah Daehyun masuk ke dalam ruang ICU. Seongwoo sudah sadar dan ingin bertemu.

Kakek pergi untuk membeli makan. Hari sudah cukup sore dan diantara mereka belum ada yang menyantap makan dari siang. Jadilah Daniel dan Daehyun ditinggal berdua di depan lorong sepi.

"Puas?" tanya Daniel sinis.

"Apa?"

"Sudah puas menghancurkan hidup Seongwoo?" tanya Daniel lagi.

"Sejak awal dia yang membuat hidupku hancur," ujar Daehyun tak kalah sinis. "Datang tiba-tiba dan membuat hubungan dengan Ayahku hancur. Lalu aku yang disebut bersalah?"

"Dan kau telah membuat Seongwoo terluka luar dalam. Membuatnya mempunyai phobia terhadap tatapan orang. Membunuh kucingku karena dendam. Bukankah hatimu terlalu busuk, Daehyun?"

"Kau!"

Cengkraman di kerah baju tak membuat Daniel gentar. Bahkan kini dia mendongakkan kepalanya, seakan menantang Daehyun untuk melayangkan pukulan di wajahnya. Daniel bukanlah Daniel yang cengeng lagi sekarang.

Daniel yang sekarang adalah Daniel yang siap untuk melindungi Seongwoo.

"Menghilang dari hadapanku," geram Daehyun.

"Dengan senang hati."

。。。。。。

Seminggu setelahnya, Daniel dan Seongwoo sudah tidak lagi berada di rumah. Ayah membawa mereka berdua pergi ke Ilsan. Demi menjaga Seongwoo, Daniel harus keluar sekolah dan ikut homeschooling bersama Seongwoo.

Daehyun masih terus diam sejak saat itu. Ayahnya tak pernah lagi menghubungi. Biar saja, paling juga sibuk dengan anak kesayangannya.

"Tidak merindukan Ayah?" tanya Ibu Daniel.

Entah sejak kapan mereka sedekat ini. Ibu Daniel lah yang paling memperhatikan kondisi Daehyun sekarang. Satu-satunya orang yang mengatakan kalau cara Ayah Daehyun itu salah.

"Aku lebih merindukanmu, Bi," jawab Daehyun.

"Jangan menyimpan dendam berlama-lama, Daehyun sayang."

"Iya, Daehyun tahu."

Walaupun begitu, bagaimanapun dia mencoba membuang kebenciannya itu tidak pernah berhasil.

Dia tetap membenci Seongwoo. Seongwoo yang telah merebut kasih sayang Ayah darinya.

。。。。。。
To be continued?
。。。。。。

Full flashback ya ini. Karena saya prefer bikin flashback di satu chapter yang berbeda dibanding nyampur sama alur aslinya~

Begitulah kira-kira.

Oh, iya. Tiap chapter panjang/pendek itu udah ada porsinya. Ada bagian dimana asiknya konflik dipotong dan dilanjutin ke chapter berikutnya ahay.

Btw, aku lebih ingin mengenal kalian~ nambah temen lumayan.

Ada yang mau tukeran sosmed? Instagram atau facebook atau twitter~ bisa komen di review. Ntar aku follow kalian follback ya xD wkwk

See you 😘