akhirnya masa puasa jimin usai!

siksaan selesai...

atau baru dimulai?

Mature content

no children

(but save for this chap)

Jimin x all

enjoy!

Jimin benci pada dirinya sendiri. Salahkan orang tuanya yang membesarkannya hingga menjadi pribadi yang terlalu baik. Terakhir, Jimin mengiyakan saja rencana membernya tanpa berfikir panjang. Dan hasilnya Jimin harus tersiksa selama berbulan-bulan.

Demi tiap pasang kaca mata yang sudah dirusak Namjoon, Jimin butuh belaian!

Ingin rasanya Jimin menangis di pojok kamarnya. Meratapi kesialannya. Jika tubuhnya masih senormal yang dulu, Jimin pasti baik-baik saja. Masalahnya Jimin sudah kepalang terbiasa, parahnya semakin butuh untuk menyalurkan hasrat. Tapi Jimin malu jika terlihat menangis hanya karena haus belaian oleh Hoseok yang meskipun canggung, tetap memilih tidur di kamar mereka semenjak kejadian hari itu.

Jimin hampir kehilangan akal sehatnya untuk menghitung hari-hari yang harus dilaluinya dengan berpura-pura baik-baik saja. Untungnya kalender di ponsel nya masih berfungsi dengan baik. Dan esok adalah hari ke-100. Hari dimana perjanjian mereka akan dimulai.

Singkatnya, Jimin harus memilih satu diantara mereka. Setiap member diberikan satu kesempatan untuk menghabiskan waktu seharian penuh hanya berdua dengan Jimin sebagai bahan pertimbangan untuk Jimin. Tapi, kesepakatan ini hanya akan dimulai setelah masa promosi album mereka selesai, plus album mereka yang selanjutnya sudah dalam tahap finishing.

Masalahnya, jarak dari promosi mixtape Hoseok, sampai ke Comeback, lalu persiapan album selanjutnya memakan waktu yang sangat lama.

Pekan pertama fikiran Jimin dipenuhi siapa yang harus dia pilih nanti. Frustrasi tentu, tapi semakin lama Jimin sudah tidak perduli dengan tanggung jawabnya untuk memilih salah satu diantara mereka. Jimin mulai kesal karena membernya yang lain memperlakukannya seperti dulu. Jimin sempat berfikir, mungkin mereka lupa pada kesepakatan itu dan mereka sudah tidak mencintainya. Jimin semakin sedih saat fikiran seperti itu melintas. Miris, karena sekarang posisinya Jimin yang Needy.

Jimin tidak bisa tidur. Membayangkan bagaimana jika saat fajar tiba para membernya benar-benar lupa. Haruskan Jimin mengingatkan? Tapi Jimin tidak mau kehilangan harga dirinya. Disini dia yang diperebutkan. Bukan dia yang meminta-minta untuk diperebutkan.

Jimin merasa seperti kembali menjadi remaja.

-_-_-_-

Jimin mengerjab lucu. Bibirnya mengerucut. Dahinya berkerut. Sepertinya baru saja lima menit Jimin jatuh tertidur tanpa sadar, kini cahaya matahari menusuk-nusuk dari balik kelopak matanya yang tertutup.

"Hyung. Bangun". Jungkook menggoyang bahu Jimin yang menggeliat mencari posisi yang lebih nyaman.

Jimin belum mau bangun. Tunggu sebentar lagi. lima menit atau sepuluh menit lagi.

"Yaa! Jimin-ah. Kau begadang lagi, hah?" Taehyung ikut mengguncang-guncang tubuh Jimin.

"Hoseok, jam berapa Jimin tidur tadi malam?"

"Entahlah hyung. yang ku ingat jam tiga saat aku keluar dia sudah tidur kok".

"Ternyata benar, Jimin lupa. Pantas saja selama ini dia biasa saja. Sekarang malah tidur pulas"

Jimin mengerutkan dahinya mendengar ucapan yang samar masuk ke telinganya.

"Jin hyung, bisa saja karena terlalu stress dia tertidur. biasanya dia tidur saat matahari mulai naik"

Yoongi, memang tsundere, fikir Jimin. Di depan saja dia cuek dan bermulut pedas. Padahal dia yang paling rasional dan ternyata hafal juga jadwal tidurnya.

"Sudahlah. Kita bangunkan saja Jimin dulu". Namjoon menengahi opini-opini yang keluar dari anggota tertua sebelum terjadi keributan. Namjoon sebenarnya sudah lelah. Tiap melakukan rapat dadakan membahas Jimin, selalu terjadi keributan.

"Jiminie. Bangun. atau. ku. cium"

Taehyung berjongkok di tepi ranjang Jimin untuk melihat wajah Jimin. Dalam hati Jimin malah menantang. Ayo cium saja, cepat!

Taehyung mengelap bibirnya sebelum bersiap untuk mencium Jimin. Saat mulai mendekat tiba-tiba saja Taehyung diterjang oleh Jungkook dan Hoseok.

"YAAA! Alien sialan! Enak saja! Cari kesempatan dalam kesempitan!"

hardik Hoseok.

"Dasar alien cabul"

Jungkook menimpali.

Taehyung nyengir. Malu, sakit, tapi memang Taehyung ingin.

"Aaaa hyungdeul. Ini sungguh menyiksa. Bukankah kalian sama tersiksanya? sampai kapan kita harus begini? kalau ternyata Jimin kembali normal karena tidak kita, ... "

Taehyung menjeda ucapannya, bingung memilih kata.

"Pokoknya bagaimana kalau ternyata dia straight lagi?!"

"Kita tinggal buat dia belok lagi"

ucap Yoongi santai membuat suasana hening sejenak. Masing-masing membenarkan ucapan yoongi dalam diam.

"Sekarang saat yang tepat hyung. Kita lihat apa Jimin masih bisa terrangsang dengan sentuhan kita".

hening lagi. Itu ide yang bodoh, tapi Taehyung ada benarnya juga. Saat ini Jimin tanpa perlawanan, menggoda sedikit tidak masalah kan?

Mereka saling pandang. Seolah ada percikan api, mereka tau maksud dari pandangan itu.

Seketika ruangan yang hening menjadi gaduh.

Taehyung yang berada paling dekat dengan Jimin sudah hampir menyambar bibir Jimin. Tapi Jungkook dengan erat memeluk Taehyung agar tubuhnya menjauh. Sementara Hoseok menjauhkan muka Taehyung, dan Seokjin menahan Hoseok yang memiliki kesempatan untuk menggapai Jimin.

"Jimin-Aaahh!"

"Tae-hyung, menjauh dari Jiminie hyung!!"

"Sialan kau Hoseok"

"Seokjin hyung, kau menginjak kaki ku!"

Namjoon geleng-geleng. Suga mengorek telinganya yang terasa sakit.

"BERHENTIII!"

"STOP!"

Jimin akhirnya menyerah. Lama-lama kamarnya bisa hancur jika dijadikan medan pertempuran. Jimin duduk sambil mengucek matanya.

"Kalian berisik sekali"

Taehyung, Jungkook, Hoseok dan Seokjin seketika berhenti. Taehyung merapikan kaosnya yang sudah terangkat sangat tinggi karena ditarik Jungkook. Sementara Hoseok merapikan rambutnya yang sempat dijambak Seokjin.

"Aku tidak lupa. Aku kira kalian yang lupa".

"Mana mungkin kami bisa lupa Jimin-ah. Kami akan menunggu di luar. Ayo semua, kita keluar dulu".

Jimin tersenyum. Namjoon memang paham kalau Jimin membutuhkan waktu saat baru bangun.

"Terima kasih, hyung".

-_-_-

Jimin keluar dari kamarnya dengan rapi. Khas style Jimin, dengan jeans biru laut dan kardigan biru tua. Rambutnya yang hitam ditata sederhana. Kaca mata hitam terpampang pas di pangkal hidungnya.

"Aku sudah siap. Ayo Namjoon hyung".

Ucap Jimin saat keluar dari kamarnya.

"Namjoon hyung, kenapa masih pakai baju ini?"

Jimin bingung. Seingatnya hari pertama dia akan pergi bersama Namjoon, tapi Namjoon bahkan terlihat belum mandi. Masih mengenakan celana boxernya dan kaos putih polos.

"Ada perubahan rencana. Kita melakukannya sesuai fanchant, tapi aku terakhir. Ada hal lain yang harus kuurus".

Jimin mengangguk paham. Sedikit kecewa. Style nya yang sekarang menyesuaikan dengan selera Namjoon. Dan jika tidak dengan Namjoon, berarti hari itu ia akan pergi dengan Seokjin. Jimin khawatir apakah pakaiannya kali ini bisa mengimbangi gaya berpakaian Seokjin. Pasalnya meski Seokjin memiliki sense fashion yang bagus, terkadang hyung yang satu itu suka tampil nyentrik.

"Jimin, bawalah payung untuk berjaga-jaga"

Hoseok muncul dari arah dapur. Dibelakangnya ada Jungkook yang mengekori.

"Hyung minum dulu. Dan bawa apel ini"

Jungkook menyodorkan kemasan susu pisang dan sebuah apel berwarna merah mengkilat.

"Jimin, bawa ini. Apapun yang kau butuhkan ada disini, terutama saat kondisi darurat"

Kali ini Taehyung keluar dari kamarnya dengan membawa tas besar.

"Memangnya itu kantong Doraemon?"

Jawab Jimin malas. Membernya mulai bertingkah berlebihan. Jimin sih tidak masalah karena berarti mereka menyayanginya. Tapi Jimin jadi bingung untuk menolaknya. Diluar tengah cerah, dan dia pergi bersama Seokjin. Semuanya pasti akan baik-baik saja.

"Kalian fikir Jimin mau pergi berperang?"

Seokjin mendecik sebal.

"Sudah, ayo Jimin. Hari ini kau tanggung jawabku"

Seokjin segera merangkul lengan Jimin dan berlalu. Jimin yang sempat terpana dengan penampilan Seokjin sedikit terhuyung. Sempat dia mengambil susu kotak di tangan Jungkook. Hitung-hitung untug mengganjal perutnya sambil menerka-nerka kemana Seokjin akan membawanya.

"Terima kasih semuanya. Aku pergi".

Jimin tersenyum lebar. Akhirnya dimulai!

TBC

a/n:

SO SORRY.

Aku sebenernya awal nulis sebagai pelarian semata.

semoga ga mengecewakan kalian ya :(

kira-kira, jin bawa jimin kemana ya?