Jauh seberang sana, sosok sedang duduk meringkuk merasakan tubuhnya gemetar melihat wajahnya di depan cermin. Matanya membelalak lebar. Mulutnya membuka menutup. Kedua tangan terangkat naik mengelus wajahnya, tak mampu menyamakan apa dirasakan saat ini.

"Kenapa wajahku seperti ini? Sejak kapan?"

Perkataannya tak terjawab oleh siapa pun di sekitarnya karena dia seorang diri. Gelap menyelimutinya seperti sangkar siap mengunci. Hatinya tidak bisa berkata sepatah apa pun. Pikirannya terus menjawab.

Ada apa dengannya?

Kenapa dia baru menyadarinya sekarang?

Apa kemarin itu sudah terlihat aneh dikarenakan orang-orang melihatnya salah sangka?

Jawaban-jawaban atas pertanyaannya bersarang di otaknya, memutar sampai matanya berkunang-kunang. Hanya satu orang yang tidak ada di tempat ini, orang yang mengacaukan segalanya. Hanya satu orang seharusnya berada di sini bukan dirinya.

"Dasar kau, Lee!"

.

.

Question & Answer

.

DISCLAIMER: NARUTO belong to KISHIMOTO MASASHI

WARNING: High School version. Ada typo. Out of Characters. Deskripsi biasa. Alternate Universe. Genre: Romance, Fluff, Family, Friendship, Humor. Genre mendominasi adalah Mystery dan Romance.

.

Chapter 11: Statements?

.

.

Pintu ganda terbuka lebar oleh seorang gadis berambut merah muda, merentangkan kedua tangan lebar-lebar. Senyuman merekah menghiasi wajahnya yang merona sekaligus menghirup udara bebas. Menghirup udara segar padahal dulu tidak sesegar ini, mungkin karena harus menjaga reputasi sekolah.

Tetapi, sekarang sudah berlalu. Sekarang dia bisa bebas beraktifitas.

"Indahnya hari ini," katanya semangat.

Tangan sangat dikenalnya memeluk perutnya dari belakang, gadis itu terkesiap dan menoleh ke lelaki tersenyum ke arahnya. Gadis itu tersenyum lebar, lalu menyandarkan kepalanya di dada bidang lelaki tersebut. Tangan bebas lelaki itu mengusap rambut paling disukainya.

"Sepertinya kamu senang sekali, Sayang," ucapnya mencium pelipis gadisnya. "Apa yang membuatmu senang?"

"Deidara-senpai pulang artinya selesai, 'kan?" Gadis itu mengangkat kepalanya, menatap lelaki itu penuh rasa berbinar dan kekaguman. "Itu artinya aku bisa bersamamu setiap saat, Sasuke-ku!"

Lelaki disebut Sasuke, tak lain adalah Uchiha Sasuke, tersenyum tipis. Dicium kening gadis bernama Sakura, Uchiha Sakura, penuh perasaan. "Selama kamu bahagia, aku pastikan kamu akan bahagia seterusnya."

Sakura terlonjak girang, memeluk tubuh Sasuke. Kehangatan menjalar di sekitarnya. Sakura bukan lagi Sakura selalu ketakutan pada apa pun. Inilah Sakura selalu ceria dan berani. Demi mendapatkan apa yang dia mau, Sakura tetap menjaganya.

"Heee ..., lebay." Kata-kata terlontar di mulut pemuda di belakang lelaki tersebut menghentikan keromantisan dua insan sedang beradu kasih. "Tidak bisakah kalian menunda itu selagi kita ke sekolah bareng-bareng? Aku malas melihatnya," ucap Naruto cuek.

Pemuda berambut merah berhenti berjalan di samping Naruto, menatapnya datar. "Bilang saja kamu jomblo, saudaraku."

Naruto gelagapan, salah tingkah. "Enak saja. Begini-begini tentu saja ada tertarik padaku. Aku akan mengatakan pada mereka, aku masih terbilang available."

"Capek ngomong sama kamu," katanya menyosor pergi, meninggalkan ketiganya. Naruto berusaha mengejarnya setelah berlambai-lambai ria ke dua orang terpaku melihat pertengkaran mereka dalam berargumen.

"Mereka lucu." Tepukan di puncak kepala Sakura mengalihkan pandangan. "Ada apa, Sasuke?"

"Kamu tidak ketakutan melihat mereka bertengkar?"

Sakura menggeleng, tersenyum. "Tidak. Selama aku bisa bebas, kenapa tidak balik ke diri sendiri? Tapi, kemarin aku pingsan itu nyata. Jadi, jangan pernah melakukan itu kepadaku lagi, Sasuke. Aku tidak rela." Sakura mengerucutkan bibir tak suka mendengar gossip tentang suaminya dan Temari, sepupu ipar alias isteri Shikamaru.

"Mana mungkin aku bersanding dengan anak perempuan berusia sama sepertimu." Sasuke mengedipkan mata sebelah. Sakura merona. "Kamu tetaplah wanita aku cintai, Sakura."

"Gombal!" teriak Naruto menghancurkan momen berharga itu. Sakura memerah, marah. "Sekali lagi kalian melakukan itu, aku tinggalkan kalian!" teriaknya lagi, namun berubah pucat melihat Sakura menatapnya keji dan sinis. "Maksudnya cepat-cepatlah," ucapnya pelan, lalu melarikan diri dari sana dan masuk ke mobil dikemudikan Gaara.

"Menyebalkan kamu, Naruto!" serunya nyaring hampir menggetarkan Bumi. Mau tak mau, Sakura menggandeng lengan Sasuke membawanya ke motor sport telah terparkir di tempatnya. "Saatnya menunjukkan siapa aku sebenarnya!"

Sasuke cuman tersenyum kecil, mendengar pernyataan Sakura.

.

.

Kehebohan terjadi di pagi hari setelah melihat keakraban dua insan sedang berdekatan begitu intim. Mereka adalah Sasuke dan Sakura. Mereka bergandengan tangan, memperlihatkan kemesraan tak pernah ditunjukkan kepada orang lain. Mereka mengundang decak kagum dan penasaran juga keingintahuan, ada apa dengan mereka. Bukankah mereka itu selalu asing setiap bertemu di mana saja, termasuk di kelas?

Kenapa sekarang?

Naruto menghampiri beberapa teman-temannya masih termangu melihat pemandangan melewati pandangan mereka, hendak berfokus hingga Naruto mengayunkan tangan di depan mereka. Teman-teman terkaget-kaget, masih tetap focus pada satu titik.

"Me—mereka?"

"Mereka ada hubungan?"

"Sejak kapan?"

"Sesungguhnya hubungan mereka apa, sih?"

"Bagaimana bisa terjadi?"

Dua saudara tersenyum miris mendengar pertanyaan penasaran dikeluarkan oleh teman-temannya. Mereka adalah Sai, Ino, Tenten, Kiba dan Shino. Mereka meminta jawaban dari dua orang hanya mengedikkan bahu.

"Mereka memang seperti itu."

Kalimat telah menjawab pertanyaan mereka bertubi-tubi mengalihkan dari satu titik ke titik sebelah Naruto dan Gaara. Pemuda berkepang satu memiliki warna rambut kuning keemasan dengan poni menutup mata sebelah, tersenyum hangat ke mereka serba ingin tahu.

"Dari dulu mereka seperti itu."

Ino lebih dulu melayangkan pertanyaan. "Sejak kapan, senpai? Kenapa baru sekarang mereka melayangkan pernyataan lewat tindakan tersebut?" Naruto mengerutkan kening mendengarnya, mendengus.

"Karena mungkin menghindari suatu konfrotasi akan muncul apabila tidak menyembunyikan hubungan ini. Banyak yang mau hubungan mereka hancur sebelum mereka menikah—Ups!" Deidara menutup mulut, mengernyit mendengar dialah yang membuka pernyataan.

Teman-teman Naruto dan Gaara melotot maksimal. Rahang mereka nyaris jatuh ke tanah kalau Naruto tidak menghentikannya. "Jangan sekarang! Jangan berteriak! Nanti kalian mengundang bencana! Kalian tidak mau Sakura kenapa-kenapa 'kan?"

"Ta—tapi kenapa, Naruto?" Kali ini Tenten masih berpikiran logis, menggunakan akal sehat.

Deidara tersenyum tipis. "Berikan Sakura memberi alasannya," katanya berlalu pergi.

Mereka semua hanya bisa mengangguk-angguk mengerti, paham. Walau pun kemarin Sakura tidak mau berbicara, biarlah hari ini Sakura menyertakan alasan di balik hubungan tersembunyi ini. Sakura tadinya sering pendiam berubah jadi ceria.

Mungkin inilah kekuatan cinta.

.

.

"Mereka! Mereka sudah menyatakan hubungan ini!"

Pein menjitak kepala Hidan sekeras mungkin agar tidak berteriak cempreng di hadapan banyaknya Konoha St. President tersebut. "Jangan berteriak begitu, Hidan! Sakit telingaku, tahu!"

"Tapi—mereka?"

Mata pemuda berambut merah menangkap sosok sedang berjalan-jalan mendekati gengnya, tersenyum sumringah. "Deidaraaa!"

Semua pandangan dialihkan dari dua orang memadu kasih ke sosok tersenyum ke arah mereka. Mereka tertawa melihat sahabat mereka pulang dari negeri seberang. Sasori lebih dulu melihatnya, menubruk tubuh tegap Deidara dan memeluknya selayaknya sahabat sejati.

"Kamu pulang! Akhirnya kamu pulang!"

Tepukan pelan di punggung Sasori. "Terima kasih sudah membuat gossip benar-benar menguras tenaga dan pikiran, Sasori."

"Demi apa aku begini? Hm?" tanyanya seraya mengangkat kepala dan melebarkan jarak mereka. "Ini demi kepatuhanku kepada orang itu. Selama dia membutuhkan kami, akan kami lakukan. Apa lagi saat ini kamu sudah bergabung bersama kami." Deidara cuman tersenyum lebar, tak menjawab.

"Tapi ..." Zetsu member jeda. "Ke mana anak itu? Bukankah seharusnya dia pulang bersamamu?"

Deidara mengangkat bahu. "Aku tidak tahu ke mana dia. Yang aku tahu, dia pulang beberapa minggu lalu. Kata penanggung jawab sekolah, dia kembali pulang ke sana demi menyelesaikan tugasnya yang tertunda. Aku merasa ada yang aneh di sini."

"Jadi?"

Pein menatap ke teman-temannya, memincingkan mata. "Ada yang tidak beres di sini. Aku merasa ini karena—"

"SAKURAAA!"

Kelompok Akatsuki membeku mendengar seruan seseorang yang memeluk Sakura di depan Sasuke. Sosok berambut abu-abu—siswa baru seminggu lalu bertandang ke sekolah mereka—menarik tangan Sakura dan memberikan tatapan sinis ke Sasuke yang geram melihatnya.

Gadis berambut ungu mengelus dagunya, terlihat berpikir dan menyipitkan kedua mata menatap pemuda berambut abu-abu—bernama Kakashi.

"Dia mencurigakan."

[To be continued ...]

.

A/N: Buat Nawaki Riji, ini khusus untukmu. Ke depannya ada banyak scene SasuSaku. Heu heu ...
Saya harap kamu tidak marah sama saya karena baru sedikit karena dihalangi oleh Kakashi. Semoga kamu senang dan terima kasih pada semuanya sudah membaca sampai di chapter ini.

Ini chapter awal di awal terungkapnya sebuah pertanyaan. :D

Sign,

Zecka Fujioka

08 Januari 2015