Jongin... jika pada akhirnya Tuhan tidak menakdirkan kita untuk bersama... Mau kah kau menceritakan tentangku kepada anak-cucumu? Menceritakan tentangku yang pernah ada untuk mengisi lembar cerita hidupmu... Tentangku yang pernah mencintaimu sedalam ini... Tentangku yang selalu menyimpan namamu di relung hatiku... selamanya...

.

.


Title : Forever?

Cast :

Oh Sehun as Girl

Kim Jongin/Kai

Byun Baekhyun as Girl

Kris Wu

Xi Luhan

Etc.

Pair : KaiHun, KrisHun, HanHun.

Warning : OOC, typo(s), genderswitch, etc.

Word(s) : 5k (bacanya diwaktu luang yaa, karena chapter ini lumayan panjang)

.

Don't Like

.

Don't Read

.

.

Enjoy


9 Tahun kemudian...

Malam ini angin bertiup sedikit kencang, Jongin mengumpat pelan karena harus pulang terlambat akibat mobilnya yang sedang masuk bengkel sehingga membuatnya naik angkutan umum. Ia masih menapaki trotoar dengan cepat, melewati toko-toko yang masih buka dan melihat-lihat agar tidak terlalu bosan.

Ia melewati toko elektronik yang memiliki etalase berisi beberapa televisi model terbaru. Televisi-televisi itu menyiarkan channel yang berbeda-beda, salah satunya sebuah channel yang membuat Jongin tertarik untuk menonton dan menghentikan langkahnya.

"... Luhan-ssi, bagaimana perasaan anda saat mengetahui bahwa anda dinobatkan sebagai CEO sukses termuda se-Korea selatan?"

Lelaki yang diberi pertanyaan itu tertawa, " Aku tidak tahu harus menjawab apa. Hahaha..." lLuhan berdeham, "Sejujurnya aku sedikit terkejut dan tidak menyangka."

Presenter itu ikut tertawa, "Mengapa seperti itu?"

"Karena kalau aku mengingat masa laluku hal semacam ini merupakan hal yang menakjubkan. Hahahaha... sepertinya aku terlalu berlebihan, ya?"

"Oh tidak... tidak. Memangnya ada apa dengan masa lalu mu? Apa dulu kau seorang berandalan? Haha"

"Ya, begitulah."

"Benarkah? Padahal aku hanya bercanda. Lalu apa yang bisa membuatmu berubah?"

Luhan tersenyum lebar, "Karena seorang gadis penyuka permen."

Jongin masih enggan untuk beranjak, ia terus menonton acara itu. Sang MC yang melemparkan pertanyaan dan Luhan yang selalu menjawabnya.

"Jadi kau merindukan gadis itu?"

"Iya, tentu saja."

"Mengapa kalian tidak bertemu untuk melepas rindu?"

Luhan terdiam sejenak dan menundukkan kepala selama beberapa detik, lalu menatap wajah MC itu dengan tenang dengan menyelipkan seulas senyuman. "Mungkin kami akan bertemu suatu saat nanti, ditempat damai yang jauh dari segala kekejaman. Aku sangat menantikan hari itu."

"Apa maksudnya?"

Tiba-tiba ponsel Jongin berdering, membuatnya mengalihkan fokusnya ke ponselnya.

Itu dari Soojung.

Tunangannya.

Soojung gadis anggun yang berpendidikan tinggi, dia cantik dan humoris. Mungkin Jongin akan jatuh cinta pada gadis itu apabila dihatinya tidak ada nama Sehun. Dihatinya penuh dengan nama Sehun, tidak ada tempat kosong lagi. Namun tetap saja ia tidak bisa menolak perjodohan ini karena keluarga besar mereka menaruh harapan banyak pada hubungan tanpa cinta ini.

Tapi seandainya Sehun kembali pada Jongin, ia akan memperjuangkan Sehun sampai titik darah penghabisan,walau akhirnya namanya akan dicoret dari kartu keluarga ia tidak akan perduli.

Tentu saja...

"Halo?"

"Kau dimana? Aku di apartemenmu."

"Aku pulang terlambat, mobilku mogok."

"Mau ku jemput? Aku bawa mobil."

"Tidak usah. Aku naik bis saja."

Soojung terdiam beberapa detik, "Okayyy... hmm kalau begitu bisakah kau belikan aku mochacino? Hehe."

"Baiklah."

"Hati-hati di jalan."

"Tentu."

Jongin melanjutkan perjalanannya dan mampir ke sebuah cafe kemudian mengantri di belakang seorang wanita untuk memesan. Ia pun memesan saat wanita itu bergeser ke samping. Menunggu sungguh membuatnya bosan. Ia mengedarkan pandangannya ke penjuru arah, siapa tahu ada hal menarik.

"Eomma... apakah masih lama? Aku sudah sangat haus."

Sontak saja pandangan Jongin teralih ke arah perempuan yang ada disampingnya beserta anak kecil yang menarik-narik ujung baju perempuan itu.

"Sabar sayang, sebentar lagi pesanan kita sampai." Perempuan itu menolehkan kepalanya ke arah kasir yang ada di dekat Jongin, "eum maaf nona, apa pesananku masih lama?"

Jongin membatu.

Wajah itu sangat Jongin kenali, ia hanya bisa terdiam karena tidak menyangka bahwa ia bisa bertemu perempuan ini. Takdir Tuhan memang tidak bisa ditebak, dahulu ia sudah seperti hampir gila untuk mencari alamat dan keberadaan perempuan ini, tetapi saat ia menyerah Tuhan mempertemukan dia dengan perempuan ini. Oh Tuhan...

Karena merasa diperhatikan, perempuan itu menoleh. Dia juga terdiam beberapa detik mungkin untuk mengingat siapa orang yang sedang menatapnya itu. Saat ia mengingat siapa yang ada di depannya, perempuan itu memasang wajah terkejutnya dan menjadi kikuk seketika.

"H-hai Jongin. Lama tidak bertemu." Ia tersenyum kaku.

Jongin masih tidak menyangka mereka akan bertemu setelah sembilan tahun terpisah. Ia masih terdiam sampai akhirnya tersenyum sedikit.

"Bagaimana kabarmu, Baekhyun noona?"

.

.

Mereka memilih tempat di dekat jendela. Anak Baekhyun masih saja merengek menginginkan minuman yang Baekhyun pesan, dan dengan berat hati perempuan itu mengabulkan permintaam anaknya. Namanya Nayoon, Wu Nayoon. Kenapa marganya 'Wu'? Karena suami Baekhyun bermarga Wu, yeah... Kris Wu.

Terkejut?

Pasti, Jongin pasti terkejut saat Baekhyun memberitahunya. Mereka mengobrol banyak hal tentang beberapa tahun belakangan ini.

"Jadi dulu kau tinggal dimana? Aku ke rumahmu dan para tetangga bilang kalian sudah pindah. " Jongin menopang dagu. Ia bisa mengingat beberapa cara yang Jongin lakukan dulu untuk mengetahui dimana Sehun dan keluarganya tinggal. Ia bahkan pernah menguntit Baekhyun dari tempat kuliahnya, bahkan menanyakan alamat Baekhyun ke teman-teman kampusnya.

Tapi hasilnya nihil.

Baekhyun tersenyum canggung, ia menggaruk pelan kepalanya, "Aku... aku dan keluargaku tinggal di Jepang, dirumah nenekku. Kebetulan ayah harus mengurus cabang perusahaan yang ada disana. Setelah menikah aku tinggal bersama Kris di Kanada, dan kembali ke Seoul sekitar setahun yang lalu."

Baekhyun meminum minuman yang tadi dipesannya dengan santai lalu menatap Jongin. "Bagaimana denganmu? Apa kau juga sudah menikah?"

Jongin tertawa kering, "Belum..." -Aku masih menunggu adik kesayanganmu, noona.

Si perempuan mengangguk paham.

Keheningan mengambil alih beberapa saat, sampai si kecil membuka suara.

"Eomma, minumnya aku habiskan ya?" Gadis berumur empat tahun itu menyodorkan gelasnya yang setengah kosong.

"Tidak! Flu mu bisa kambuh lagi, sayang. Kau kan tidak suka minum obat."

"Kalau aku sakit, aku akan menghabiskan obat ku, aku janji."

"Hhmm bagaimana ya?" Baekhyun memasang tampang pura-pura berfikir.

"Eomma, please..."

"Baiklah.. tapi kau harus berjanji untuk meminum obatmu."

Baekhyun memberikan senyuman keibuan sementara si gadis bersorak, membuat Jongin gemas.

"Anakmu lucu sekali, noona", Ucap lelaki itu tanpa bisa menahan senyumnya.

Si gadis kecil mendelik lalu meneliti wajah Jongin, membuat sang empunya terheran."Ada apa Nayoon? Oh! Paman terlalu tampan ya?"

Baekhyun tertawa sementara Nayoon menggeleng.

"Bukan." Jongin memasang wajah pura-pura kesal saat anak kecil itu tidak mengiyakan omongannya, "Paman, mengapa wajahmu mirip dengan yang ada di lukisan milik Sehun eonni?"

Semuanya terdiam, seketika muncul harapan Jongin untuk bisa bertemu lagi dengan Sehun.

"Nayoon.. bolehkah aku tahu dimana Sehun eonnie-mu sekarang?"

"Dia ada di-"

Ucapan si gadis terpotong karena dering ponsel Baekhyun, perempuan itu menjawabnya dan berbicara di ponselnya kurang dari satu menit. Setelahnya Baekhyun memberikan tampang menyesal.

"Maafkan aku, Jongin. Kami harus pulang karena Kris sudah menunggu dirumah. Mungkin kita bisa bertemu lagi lain waktu." Baekyun mengambil kertas dan menulis sesuatu lalu memberikannya kepada Jongin. "Ini nomer ponselku, kau bisa menghubungiku kalau ada perlu."

Baekhyun berdiri dan menggandeng Nayoon.

"Annyeong, Jongin." Mereka pergi setelah menunduk.

Jongin masih diam di tempatnya, dan masih bertanya-tanya tentang Sehun. Namun naru beberapa detik, Baekhyun kembali menghampirinya dan menaruh sebuah buku di hadapannya.

"Ini milik Sehun, kebetulan aku membawanya. Kau boleh membacanya nanti."

.

.

.

Jongin terbangun dari tidurnya pada tengah malam lalu memutuskan untuk meminum segelas air di dapur.

Ia memimpikan Sehun lagi seperti yang sudah-sudah.

Di dalam mimpi, Ia berada di antara para ilalang dan mengejar Sehun yang berlari menjauh. Namun ia segera menghentikan langkahnya saat menyadari bahwa yang ada di depannya adalah sebuah sungai yang besar. Sehun ada di sebrangnya. Perempuan itu berdiri disana dan memandang Jongin dengan tatapan yang lelaki itu tidak mengerti, lalu berbalik dan berjalan pelan menjauhi sungai, menjauhi Jongin.

"SEHUN!"

Si gadis menghentikan langkahnya. Namun kemudian ia melanjutkannya kembali.

"SEHUNA!" Teriak Jongin dengan lebih keras.

Yang dipanggil pun memberikan reaksi yang sama dengan sebelumnya.

"JANGAN PERGI... KUMOHON!"

Sehun menghentikan langkahnya kembali. Ia membalikan badan ke arah Jongin dan menampilkan ekspresi itu lagi.

Lelaki itu mengerutkan alis tak mengerti, Sehun seperti ingin bicara namun ia tetap diam. Gadis itu pun menjulurkan sebelah tangannya seakan meminta Jongin untuk menggandengnya. Sementara Jongin hanya terdiam, tidak tahu cara untuk menyebrangi sungai. Namun lelaki itu tidak mau menyerah.

"Jangan pergi kemana-mana. Aku akan membawamu pulang, aku janji."

Dan kemudian gelap menghampiri. ia terbangun.

Selalu begitu.

Teringat akan sesuatu, Jongin pun kembali ke kamarnya dan mengambil buku yang ada di tas kerjanya. Buku pemberian Baekhyun.

Angin malam menerpa wajah ketika ia membuka pintu balkon, dan memilih berdiam di balkon apartemen yang berada di lantai 27 itu.

Sekilas melirik buku yang dibawanya dan mulai membuka lembar demi lembar.

"Akhirnya aku bertemu dengannya lagi... tetapi, dia tidak mengingatku. Apa aku orang yang mudah untuk dilupakan?"

Ternyata ini buku harian, Jongin yakin ini milik Sehun.

Jongin merasa bersalah karena pura-pura melupakan Sehun ketika mereka pertama kali bertemu lagi. Sungguh ia menyesal.

Huruf demi huruf, kata demi kata, lembar demi lembar Jongin membaca buku harian Sehun. Ia masih belum mengetahui dengan apa yang dialami Sehun. Sampai sebuah kalimat membuat darahnya seakan berhenti.

"Mereka bilang umurku tidak akan lama lagi."

Kaki Jongin seakan tak menapaki tanah lagi. Apa maksud kalimat itu?

Ia membalik lembar kertas dengan tangan gemetar dan menemui sebuah sketsa wajah yang mirip dengan wajahnya.

Tunggu! Itu sketsa wajah Jongin.

Ia membalik lagi lembar demi lembar dan berhenti disebuah lembar yang berbeda dengan lainnya. Tulisan Sehun agak tidak terlihat rapih disini, tidak seperti tulisannya yang sebelumnya. Ada beberapa noda seperti bekas tetesan air dilembar itu.

"Aku bukanlah wanita paling cantik, aku bukanlah yang paling kaya. Aku tidak pintar, aku tidak memiliki banyak kelebihan. Tapi aku bisa menggambar, melukis dan semacamnya. Itu membuatku merasa bahwa setidaknya aku memiliki suatu kelebihan, sesuatu yang bisa aku banggakan kepada orang banyak. Dan membuatku bermimpi untuk menjadi seniman sukses yang akan memanjakan setiap pasang mata yang melihat karyaku, dan berharap mereka akan berkata 'Oh, lihatlah! Ini adalah karya hebat milik Oh Sehun!' .

Dan... membuatku ingin bertahan hidup lebih lama.

Tapi mereka menghancurkan kebanggaanku.

Dengan kejam mereka memberitahu bahwa syaraf-syaraf tanganku perlahan mulai lumpuh. Aku tidak akan bisa menulis. Aku tidak akan bisa melukis lagi.

Tidak akan bisa lagi.

Lantas apa yang bisa ku banggakan dari diriku?

Aku tidak akan bisa melukis lagi.

Eomma...

Mereka berbohong kan?"

Ada sesuatu yang hangat jatuh dari matanya. Ia segera menghapusnya namun cairan itu terus saja keluar. Ia seharusnya tidak menangis, karena Sehun tidak pernah suka melihatnya menangis.

Ia membalik lagi lembar buku itu dan menemukan lagi tulisan. Ini bukan lembar terakhir dari buku ini, tapi tulisan Sehun hanya sampai sini, lembar selanjutnya kosong tidak berisi.

Sebuah kalimat yang menusuk hati lelaki itu, membuatnya berteriak menyesal, membuat rindu dihatinya meluap...

Dan membuat cinta yang mulai pudar itu berwarna dengan sempurna seperti dulu.

Jongin menyesal.

.


Menjadi novelist membuat Baekhyun harus memanfaatkan waktu luangnya untuk menulis novelnya. Ia menjadi novelist selama tiga tahun, dan selama itu pula ia menerbitkan dua novelnya yang menjadi best seller. Bahkan salah satu karyanya akan diangkat ke layar lebar dalam waktu dekat ini. Novel itu berisi kisah nyata, dan dengan handal otak jenius Baekhyun menuliskan cerita itu dengan apik. Berisi tentang gadis penyakitan yang berusaha mengejar seseorang.

Yup, itu kisah Sehun dan Baekhyun menuliskannya menjadi sebuah novel.

Ia sedang dalam proses mengetik novelnya yang ketiga. Biasanya setelah anaknya dan Kris berangkat keluar rumah untuk beraktivitas Baekhyun akan langsung membuka laptop dan tenggelam di dalamnya.

Namun kali ini suara bel mengacaukan pekerjaannya, padahal ia baru saja menulis beberapa kalimat.

"Siapa orang tidak tahu diri yang bertamu di pagi hari ini?! Kalau itu sales yang kemarin maka aku akan membakar semua dagangannya!" Gerutunya sambil berjalan menuju pintu sambil menghentak-hentakkan kakinya dongkol.

Namun saat ia membuka pintu rasa shock yang diterimanya.

"B-bagaimana kau tahu alamatku?" Tanyanya dengan nafas tercekat melihat betapa buruknya penampilan seseorang yang saat ini berada di hadapannya.

Jongin... dengan baju kusut, tampang lelah, mata bengkak dan berair, rambut yang berantakan dan- ugh! Lelaki ini seperti orang yang depresi karena bangkrut.

"Kau wajib menjelaskan padaku semuanya... noona."

.

.

.

.

.

.

Suara mesin pendeteksi detak jantung itu seperti mentertawakan Jongin, mengejek dan menghina dirinya. Membuatnya bertanya bahwa benarkah cinta Jongin untuk Sehun itu benar-benar tulus dam tak terhingga? Atau hanya pengakuan diri semata?

Sehun menghilang selama bertahun-tahun.

Ia fikir Sehun ingin menjalani hidup tanpa Jongin, menjalani kehidupan dengan lebih bahagia, dan mempunyai kekasih. Ia fikir mungkin saja Sehun sedang bersekolah dengan rajinnya, ditemani dengan teman-teman baru, dan bersenang-senang.

Tapi apa yang ada dihadapan Jongin mematahkan semua fikirannya.

Baekhyun memberitahu tentang semuanya lalu membawanya ke tempat ini, seperti mimpi buruk... dan Jongin ingin segera bangun.

Kakinya mundur selangkah dengan sangat berat dan punggungnya menyentuh permukaan pintu, tubuhnya merosot perlahan dan dengan tangan gemetar ia membekap mulutnya sendiri. Air mata sialan itu terus saja muncul tanpa henti, membuat dada Jongin merasa sangat sesak.

"Setelah operasi, ia belum pernah membuka mata lagi. Padahal aku berjanji untuk mengajaknya untuk menemuimu setelahnya." Suara Baekhyun seakan menggema diruangan itu.

Suara perempuan itu sedikit tercekat, Jongin yakin ia menangis juga.

"Sembilan tahun bukanlah waktu yang sebentar. Kami sudah membawanya ke Jepang ataupun Kanada... tetapi ia belum bangun juga. Aku putus asa, Jongin." Perempuan itu menghapus air matanya kasar, "Tapi setiap kami memutuskan untuk mengakhiri semuanya, ia selalu memberikan tanda-tanda kehidupan... gerakan jari, sebuah igauan... itu yang membuat aku percaya Sehun masih ada disini."

Jongin mulai berdiri tegak, menghampiri Sehun yang berada diatas ranjang. Tubuh perempuan ini menjadi kurus dan wajahnya pucat. Tapi itu tidak berpengaruh untuk Jongin, ia tetap Sehun... Sehun-nya.

Dan kini Jongin tahu maksud dari mimpinya.

Jongin menyatukan tangan mereka, lalu mengelus puncak kepala Sehun. Ia meneliti wajah itu, dan tetap cantik seperti dulu. Ia mendekatkan mulutnya ke daun telinga Sehun...

.

"Bangunlah... aku sudah menjemputmu."

.


Semenjak hari itu, Jongin rutin menjenguk Sehun dan menemaninya semalaman dirumah sakit setiap pulang bekerja. Membawakan perempuan itu bunga kesukaannya dan menceritakan hari-harinya kepada perempuan yang terbaring lemah itu.

Walaupun tak pernah ada jawaban...

Tapi Jongin yakin bahwa Sehun masih disisinya.

Karena cinta Jongin setinggi langit, membuat Sehun tak bisa keluar dari bumi... membuat perempuan itu tetap berada di sisinya.

Suara denting gelas yang beradu semakin membuat Jongin menjadi dongkol. Seharusnya ia sedang berada di rumah sakit menemani Sehun, tapi tidak kali ini. Keluarga besarnya bertemu dengan keluarga Soojung untuk menentukan tanggal pernikahan.

"Bagaimana kalau diselenggarakan pada tanggal 15 bulan 11, itu tanggal yang unik."

Semuanya berseru atas saran ayah Soojung terkecuali Jongin.

"Wow! Itu tanggal yang unik. Idemu sungguh bagus." Kakek Jongin nenimpali.

"Hey... hey... kita tidak bisa menentukan begitu saja, kita harus menanyakannya ke kedua calon pengantin ini." Semuanya tertawa. "Bagaimana menurutmu Soojung?"

Soojung tersenyum malu dan tertawa kecil, "Terserah Jongin saja."

Lalu semuanta menatap Jongin, meminta pendapat.

"Bagaimana menurutmu, calon penangantin?"

Tapi... keputusan Jongin sudah bulat...

"Maafkan aku..."

Semuanya menatap bingung.

Tapi tekad Jongin sudah bulat.

"Aku... membatalkan pertunangan ini."

semuanya terdiam seakan tertohok. Jongin mengulangi perkataannya lagi, namun orang-orang memasang wajah tak percaya.

"Jangan bercanda, anak muda."

"Maafkan aku, eommonim."

Jongin sudah memikirkan matang-matang tentang apa yang akan terjadi. Mereka berdebat, mereka memcaci, mereka kecewa... tapi Jongin tak mengelak, karena ia tahu bahwa dirinya bersalah.

Saat Jongin menutuskan untuk keluar, Soojung mengikuti dan nencekal tangannya.

"Kenapa Jongin? Ku fikir kita sudah saling tertarik satu sama lain."

Awalnya perjodohan ini seperti kencan buta dan tanpa ada cinta. Soojung bukanlah perempuan yang tidak laku, lelaki manapun bisa ia takhlukkan. Ia cantik, berpendidikan, anggun dan mempesona. Siapa yang akan menolaknya?

Ia fikir Jongin juga sudah tertarik kepadanya, seperti dirinya tertarik pada Jongin. Karena setiap perhatian yang diberikannya kepada Jongin, lelaki itu tidak menolaknya. Namun salahkah dugaannya?

"Maafkan aku."

"Apa aku kurang menarik dimatamu?!"

"Maafkan aku, Soojung."

"Berhentilah meminta maaf! Itu tidak ada gunanya!" Teriak Soojung dengan frustasi.

"Aku lebih menyukaimu sebagai sahabat."

"Setidaknya beri aku alasan yang bagus, Kim Jongin."

Jongin tak ingin menyakikti hati Soojung karena bagaimanapun dia wanita yang baik, namun bila diam tanpa kata seperti ini maka tidak akan pernah muncul titik terang. Seberat apapun, Jongin harus berkata yang sejujurnya, "Kau cantik dan terlalu menarik, tapi maaf karena aku tekah tertarik dengan orang lain."

Soojung tersenyum miris, "Jadi... karena orang ketiga?"

"Sejak awal kau lah orang ketiganya, Soojung. Bukan dia."

Soojung terdiam dan menyadari bahwa mungkin yang dikatakan Jongin memang benar. Sejak awal Soojung sudah tahu bahwa Hati Jongin telah terambil. Foto perempuan di dompet Jongin menyadarkannya. Begitu juga setiap Soojung melihat ke dalam mata kelam Jongin, dan ia tidak pernah menemukan dirinya disana.

Ia harus menghentikan perasaanya kepada Jongin, karena ia tahu bahwa lelaki itu mungkin bukan untuknya. Ya, ia harus...

"Jongin... bolehkan aku tahu siapa perempuan itu?"

.

.

.

Awalnya Jongin ragu untuk membawa Soojung menemui Sehun, tetapi entah mengapa ia melakukannya juga pada akhirnya.

Ia mengawasi pergerakan Soojung, ia takut kalau perempuan itu melakukan hal yang buruk kepada Sehun-nya. Tapi... perempuan itu hanya diam tak bergeming, ia terus-terusan menatap Sehun yang tengah terbaring.

Namun kemudian perempuan itu berjalan perlahan ke arah ranjang Sehun, membuat Jongin semakin was-was. Tapi apa yang dilakukan perempuan itu diluar dugaan Jongin.

Soojung tersenyum lembut sambil melepaskan cincin pertunangannya dengan Jongin, lalu memakai kannya ke jari manis Sehun. Entah mengapa cincin itu terlihat pas di jari Sehun.

"Sehun, kau perempuan yang beruntung. Ayo buka matamu... Jangan buat Jongin menunggu lebih lama lagi, atau aku akan merebutnya darimu. Jadi, ayo bangun... Sehun..."

.

.


Jongin mengucek matanya dengan punggung tangan lalu pandangannya menelusuri ke segala penjuru arah. Ia tidak merasa asing dengan tempat ini, namun entah mengapa ia merasa bingung. Ya, tentu saja! Ini kantin sekolahnya. Ia melirik tubuhnya sendiri yang berbalut seragam SMA, dan kebingungan makin muncul di dirinya.

"Kkamjongiieee!"

Jongin melihat ke arah gadis yang berada tidak jauh dari meja makannya. Sang gadis dengan rambut aneh ala karakter pucca itu melambai riang lalu berlari kecil menghampiri Jongin, dan mendaratkan dirinya untuk duduk diseberang meja lelaki itu. Gadis itu sedikit terengah tapi senyum riangnya belum pudar sedikitpun.

"Hey kkamjong! Aku mencarimu kemana-mana. Lihatlah, aku sampai berkeringat seperti ini!" Si gadis merengek sambil menunjuk bulur-bulir keringatnya yang jatuh ke dahi.

Jongin hanya mengerutkan dahi dengan bingung, namun entah mengapa saat ini ia merasa sangat bahagia.

"Cha!" Gadis itu menyodorkan sebuah tempat makanan ke arah Jongin, "Aku membuat bento khusus untukmu. Cobalah lalu puji masakanku!"

"Ya! Itu pemaksaan namanya."

"Coba lalu puji masakanku atau kuberi tahu ibumu bahwa kau menyimpan majalah dewasa."

Jongin mendecih namun tak bisa menahan dirinya untuk tersenyum, ia tidak tahu mengapa dirinya merasa sangat bahagia saat ini. "Arraseo!" Ia mulai melahap bento buatan Sehun sementara gadis itu menunggu dengan penuh harap.

"Bagaimana?" Tanya Sehun dengan antusias.

"Karena aku harus memuji masakanmu maka... ini enak."

"Jinjja? Yuhuuuuu..." Gadis itu sangat senang dan entah mengapa Jongin tidak mau melepas pandangannya dari wajah Sehun.

"Kalau begitu habiskan, oke?" Lanjut gadis berambut aneh itu.

Hening menyapa, mereka terdiam dengan kesibukan masing-masing. Jongin sibuk dengan bentonya sementara Sehun hanya memperhatikan.

Namun entah dimenit yang keberapa, Sehun bersuara.

"Jongin... apa kau bahagia?"

"Huh?" Jongin yang sedang lahap memakan bento itu pun menengadah menatap Sehun.

"Apa kau bahagia?" Sehun mengulangi pertanyaannya lagi.

"Aku?" Jongin berfikir, ia bahagia saat ini, namun entah mengapa ia juga merasakan kesedihan yang ia sendiri tidak tahu apa penyebabnya. Lelaki itupun hanya menggendikan bahu dengan acuh. " Tidak tahu. Kenapa?"

Sehun tersenyum, "Tidak apa-apa. Ayo cepat habiskan makananmu."

Sehun sedikit aneh namun Jongin tidak ambil pusing, lelaki itu kembali melanjutkan kegiatannya.

"Jongin... aku mau pergi."

Jongin kembali menengadahkan kepalanya. "Pergi kemana?"

"Ke... tempat yang jauh sekali."

Lelaki itu menaruh sumpit yang dipegangnya ke atas meja, "Kemana? Amerika? Jepang? Hongkong? Indonesia?"

"Sepertinya lebih jauh dari itu semua."

"Aku tahu! Kau mau pergi ke Kutub utara, ya?" Jongin tertawa terbahak-bahak melihat raut kesal Sehun. Dan gadis itu mendaratkan jitakannya ke kening Jongin dengan senang hati, membuat sang empunya mengaduh sakit.

"Tidak lucu tahu!"

"Pokoknya sejauh apapun aku akan ikut." Lelaki itu masih mengelus kening terindahnya.

"Mwo?! Itu tidak bisa." Sehun mencicit pelan di akhir kalimatnya.

"Kenapa?"

"Pokoknya tidak boleh!"

Jongin mendecih kesal, "Dasar pelit!"

Sehun menjulurkan lidahnya meledek Jongin.

"Kalau begitu kau harus bawakan aku oleh-oleh."

"Tidak bisa jugaaa."

"Kenapa lagi?"

"Karena aku..." suara gadis itu mengecil, "-tidak akan kembali." Sehun mengedarkan pandangannya ke selain Jongin.

Jongin terdiam lama, sampai akhirnya memberi tatapan tak percaya, "Kenapa?"

Sehun tak menjawab, gadis itu mengacuhkan Jongin lumayan lama sampai akhirnya ia kembali menatap Jongin dengan tatapan penuh harap.

"Jongin... Kau harus bahagia, oke?"

Gadis itu tersenyum sangat tulus.

Namun ada yang aneh, perlahan penglihatan Jongin semakin kabur... lalu memburam dan menggelap. Ia kembali membuka matanya, namun lelaki itu berada di tempat yang berbeda. Pertama yang dilihatnya adalah langit-langit apartemennya.

Dan ia menyadari bahwa tadi adalah mimpi.

.

.

.


Pertemuan penting itu baru saja dimulai, Jongin baru saja memberikan kalimat pembuka di depan para anggota perusahaan dan bos besar yang akan membuat proyek yang akan menghasilkan untung yang besar untuk perusahaannya.

Namun telepon selulernya bergetar diatas meja, membuat ujung mata Jongin melirik dan melihat siapa si pengganggu.

Nama Baekhyun tertera disana.

Lelaki itu tidak memiliki fikiran buruk tentang apapun sehingga memutuskan panggilan itu lalu mematikan telepon selularnya. Dan ia sungguh tidak tahu bahwa penyesalan telah menantinya.

Beberapa jam berlalu. Pertemuan itu berjalan lancar, clientnya merasa puas dengan presentasi yang Jongin berikan. Lelaki itu keluar ruangan sambil membalas salam para rekan kerjanya juga tangannya yang sedang mengaktifkan kembali telepon selular yang telah ia matikan.

Beberapa notifikasi masuk, 87 panggilan tak terjawab dan 52 pesan dengan rata-rata Baekhyun sebagai pengirimnya. Alis Jongin bertaut dengan ketara. Ia menghubungi Baekhyun kembali sambil menuju mobilnya yang telah terparkir di luar perusahaan. Beberapa kali Baekhyun tidak menjawab, namun Jongin tidak menyerah. Sampai kemudian perempuan bermata sipit itu menjawab panggilannya.

"Jongin..." Suaranya bergetar dan firasat buruk hinggap di diri Jongin. "Kau... kemana saja kau?!"

"Noona, ada apa?"

Suara isakan terdengar di telinga Jongin,

"Noona! Jawab aku!"

"Jongin..." Perempuan itu berbicara sambil menangis, "Aku... aku tidak mau ia pergi... larang ia untuk pergi, Jongin! Larang dia..."

Dan Jongin tahu siapa yang dimaksud Baekhyun.

Tidak...

Sehun harus tetap disini...

Ia tahu Tuhan sangat kaya... yang dimintanya hanya seorang bidadari sebagai teman hidup untuknya. Tuhan tidak boleh meminta bidadari itu untuk pulang... tidak boleh.

Ia melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi, melesat seakan membelah jalan.

"Jangan pergi... Jangan tinggalkan aku..."

Dipertengahan jalan telepon selularnya kembali berbunyi. Baekhyun menghubunginya. Dan lelaki itu langsung menjawab panggilan Baekhyun tanpa memperdulikan dirinya sendiri yang sedang menyetir.

"Halo, noona... bagaimana-"

Dan itu terjadi begitu saja. Cahaya yang menyilaukan masuk ke retina matanya, sampai akhirnya meredup dan menjadi gelap.

Mungkin ia akan menyusul Sehun.

.

.

.

Pertama kali yang dilihatnya adalah langit-langit rumah sakit, lalu menyadari bahwa kepala dan lengan kirinya di perban.

Seorang suster yang tengah memeriksa infus tersenyum kepada Jongin. Lelaki itu menyadari bahwa seragam yang dipakai perawat itu sama dengan seragam perawat dari rumah sakit tempat Sehun dirawat.

"Oh tuan, anda sudah-"

"Sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri?"

Perawat itu memasang tampang bingung, namun akhirnya ia menjawab. "Sekitar tiga jam, tuan."

Jongin terdiam.

Menyesal, ia menyalahkan dirinya sendiri. Seandainya waktu itu ia menjawab panggilan telepon dari Baekhyun mungkin tidak akan seperti ini jadinya.

Jongin berharap dirinya belum terlambat.

Dicabutnya jarum infusan yang berada ditangan kanannya sehingga darah mulai berlomba-lomba untuk keluar. Lalu bangkit dengan sedikit terhuyung mencari Sehun. perawat itu mengikuti dan menahan Jongin dengan panik. Namun Jongin berontak, bagaimana pun juga ia lebih kuat dari perawat itu.

"Tuan anda belum pulih!"

Ia tak perduli.

Jongin mencoba berjalan lebiepat walau beberapa kali harus menabrak dinding karena langkahnya yang terhuyung.

Lalu ia dapat melihat Kris dan Baekhyun duduk di lantai, di depan kamar inap Sehun. Baekhyun terlihat menutupi wajah dengan tangannya sementara Kris mengusap punggung istrinya lembut. Mereka terkejut saat melihat Jongin yang kacau penuh darah di tangannya.

"Jongin!" Baekhyun dengan wajah khawatirnya menghampiri Jongin, "Apa yang terjadi padamu?"

"Mana Sehun?"

Sinar kekhawatiran di mata Baekhyun perlahan luntur tergantikan oleh perasaan yang lain. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan itu.

Jongin menggeleng.

"Noona..."

Lelaki itu berusaha untuk menerobos masuk ke kamar inap Sehun yang tertutup rapat. Namun Kris mencegahnya,

"Tunggu di sini saja, Jongin. Dokter sedang menanganinya."

Jongin memberontak dan tetap masuk tanpa mengindahkan ucapan Kris.

"Dia gila." Ucap Kris.

"Kau baru tahu?" Baekhyun menimpalinya.

.

Para perawat menahan Jongin saat lelaki itu menerobos masuk ke ruangan Sehun namun ia berontak. Hatinya pedih melihat Sehun yang terbaring lemah, dengan dokter yang sedang berusaha menyelamatkan hidupnya.

"Anda tidak boleh masuk, tuan."

Jongin masih saja berontak dari para perawat yang menahannya.

"Tolong jangan tahan dia, kumohon."

Permintaan Kris membuat para perawat bingung walau akhirnya menurut.

Jongin segera menghampiri Sehun, dan mengetahui detak jantung Sehun dari mesin pendeteksi detak jantung. Lalu menggenggam tangann Sehun dengan erat sehingga tangan Sehun sedikit terkena darah Jongin.

Selama hidupnya, hanya dua kali Jongin menangis dengan terisak.

Saat ayahnya meninggal... dan saat ini.

Tangan itu masih terasa hangat, dan harus selalu hangat.

"Kau... jangan pergi." Jongin tak bisa menahan tangisannya. "Aku tidak akan bahagia, Sehun... tidak akan bila kau pergi."

Namun Sehun masih menutup matanya membuat Jongin putus asa.

Baekhyun menutup mulutnya sambil menangis sementara Kris menghampiri Jongin lalu meremas pelan bahu Jongin seakan meminta lelaki itu untuk melepaskan Sehun.

Tapi kemudian jongin dapat merasakan tangan yang di genggamnya melakukan pergerakan, mesin pendeteksi detak jantung pun berjalan dengan normal. Semua yang ada di ruangan itu menatap tak percaya dan penuh dengan rasa takjub.

Seketika Baekhyun teringat akan perkataan yang pernah di ucapkan Sehun kepadanya.

"Eonnie, kau tahu 'kan bahwa aku tidak percaya pada keajaiban? Namun sekarang aku percaya."

"Kenapa?"

"Karena aku menyadari bahwa keajaiban sudah datang kepadaku sejak dulu. Kim Jongin, dia... keajaibanku."

.

.

.


Jadwal Jongin sangat padat akhir-akhir ini. Perusahaannya sedang mengadakan proyek besar, membuatnya tak punya waktu luang. Ia bahkan harus bolak-balik ke China karena proyek perusahaannya berlokasi di sana. Dan itu membuat Jongin tidak dapatengetahui perkembangan Sehun. Ia tidak sempat memeriksa pesan karena untuk tidur saja ia harus curi-curi waktu.

Namun hari ini ia mendapatkan libur, membuatnya langsung terbang ke Korea. Saat sampai di bandara Incheon ia segera meembuka pesan, ternyata ada lima puluh lima pesan dan delapan puluh tiga panggilan. Sebagian besar isinya dari Baekhyun.

Tiba-tiba saja fikiran Jingin menjadi kacau, bagaimana kalau terjadi sesuatu yang buruk kepada Sehun?

Dengan cekatan ia memainkan smartphonenya untuk menghubungi Baekhyun dan mengumpat saat kontak wanita itu sedang tidak bisa dihubungi. Tapi Jongin mencoba terus tanpa berhenti sambil menuju ke tempat dimana sopir pribadinya menunggu.

Dan kemudian menuju ke rumah sakit tempat Sehun berada.

.

.

.

.

Lorong rumah sakit seakan terulur panjang seakan menghambat waktu, detik demi detik berlalu seakan menertawakan Jongin yang merasa kalah bersaing dengan waktu. Oh andai saja ia bisa teleportasi...

Kaki panjangnya menelusuri lorong rumah sakit dengan tergesa-gesa, dengan bahu yang kadang bertemu-sapa dengan bahu orang lain dan membuatnya mendapat tatapan sinis. Namun persetan dengan itu semua, ia hanya ingin cepat sampai ke tempat menakutkan dimana putri saljunya terlelap diatas ranjang disertai selang infus yang membuat hati Jongin sesak sendiri bila melihatnya.

Ia hanya tidak ingin kejadian beberapa bulan yang lalu terulang kembali.

"Sehun... kau sudah berjanji untuk sembuh... kau sudah berjanji..."

Ia memutuskan untuk sedikit berlari. Jongin menghampiri pintu berwarna putih itu lalu membukanya. Keadaan kamar itu membuat lutut Jongin seakan melemah, pegangan tangannya pada knop pintu menguat dan sedikit bergetar.

Mungkinkah...

"Sehun..."

Ia hanya bisa mendengar suaranya sendiri yang parau diantara angin yang meniup gorden-gorden jendela. Matanya mengelilingi kamar kosong itu sambil melangkahkan kakinya lemah, lalu berubah menjadi tergesa.

Ya, Jongin yakin bahwa Sehun tidak mengingkari janjinya.

Sebuah tepukan membuat Jongin menoleh ke belakang.

"YA! Jongin! Mengapa kau tak berhenti saat aku berteriak memanggilmu tadi?!"

Dia Kris.

"Dimana Sehun?"Jongin merasa tak perlu menjawab pertanyaan Kris.

Kris terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menjawab, "Ikut aku."

Jongin hanya menurut ketika lelaki tinggi itu mengajaknya ke suatu tempat. Lelaki tinggi itu berhenti di depan sebuah pintu dan mengisyaratkan Jongin utnuk membukanya. Jongin membuka pintu itu perlahan dengan rasa penasaran tinggi, apa maksudnya Kris membawanya ke kamar ini?

Dan saat pintu itu terbuka, kebingungan Jongin terjawab.

Disana, diatas ranjang itu sosok yang sangat dicintainya sedang duduk menyender pada kepala ranjang, menonton televisi sambil memakan buah apel yang telah di potong kecil. Terkadang gadis itu tertawa kecil saat melihat ada adegan lucu dari tayangan yang di tontonnya. Dan... masih belum menyadari kehadiran Jongin.

Lelaki itu masih berdiri disana tanpa melakukan apapun. Ia menikmatinya, senyuman yang dirindukannya kini kembali lagi.

Dan saat yang ditatapnya membalas tatapan Jongin, suasana hening tercipta membuat Sehun sedikit canggung dengan keadaan seperti ini.

Entah berapa lama mereka terdiam tanpa kata, hingga akhirnya Sehun memecahkan suasana disertai senyum kecilnya.

"Hai... Jongin."

Lelaki itu tak dapat menahan senyumnya. Ia melangkahkan kakinya ke arah Sehun dengan tergesa lalu memeluk perempuan itu dengan erat, menyesap wangi yang selama ini ia rindukan. Ia mencium Sehun di kening, sangat lama sehingga membuat keduanya terhanyut. Lalu saling memandang satu sama lain tanpa membuat jarak yang berarti. Sekian lama Jongin menunggu untuk melihat mata indah itu... mata indah yang hanya ada bayangan dirinya di dalamnya.

Sehun terpejam saat Jongin mengecup kedua kelopak matanya bergantian. Kedua tangannya menangkup pipi Sehun dengan lembut.

"Kau tidak boleh hilang dari pandanganku lagi, tidak boleh walau untuk sekedar aku mengerjapkan mata. Berjanjilah, Sehun..."

Sehun mengangguk pelan tanpa bisa menahan senyumnya.

"Kau merindukanku 'kan, Jongin?" pertanyaan Sehun yang penuh kepercayaan diri itu membuat Jongin tertawa tanpa memisahkan jarak wajah mereka yang begitu dekat.

"Asal tahu saja, aku hampir gila karena itu."

Sehun kembali memejamkan matanya ketika Jongin kembali mengikis jarak, sebuah ciuman penuh kerinduan dapat ia rasakan. Jongin menyesap bibirnya dengan sangat lembut dan memabukkan. Ia membalasnya dengan pelan-pelan.

Dan Sehun akan berusaha untuk tidak mengingkari janjinya kepada dia.

Dia... Kkamjongie-nya.

.

.

.

END


.

Well, aku tau mungkin chapter ini ga sesuai sama yang kalian harapkan. Mungkin alurnya kecepetan (banget), atau feelnya kurang, atau Kaihun momentnya kurang (banget), atau cara penulisannya yang acak-acakan. Ga nulis selama berbulan-bulan bikin aku jadi kaku banget buat nulis, sampe pusing nyari kata-kata yang tepat. Ditambah lagi satu masalah besar yaitu waktu luang yang terbatas. Huhuhuhu~

Seharusnya masih dua chapter lagi, tapi aku percepat supaya cepet tamat karena... wow! FF ini udah berumur satu tahun lebih, tapi belum selesai juga haha~

Makasih ya buat yang udah setia nunggu aku update, bahkan sampe ngirim pm yang maaaffff banget gabisa aku bales huhuhu~

Tolong tinggalkan review yaa untuk menghargai kerja kerasku (?). Hehehehehehe...

.

Sampai Jumpa di lain kesempatan,

dbyhun ( SehunGotik)