SELAMAT BERTEMU KEMBALI DENGANKU, READERS!
/tebar bunga/ /ditoyor Jongin/
Maaf ya aku baru update ini setelah dua bulan. Maaf, banget. Semoga pada suka sama ceritanya, ya. Sesuai janjiku, ini happy ending ^^
Selamat membaca!
.
.
.
Title:
Broken Pieces
Main Cast:
Do Kyungsoo – EXO Kyungsoo
Kim Jongin – EXO Kai
Jung Soojung – f(x) Krystal
Kim Joonmyeon – EXO Suho
Genre: Romance, Drama
Rating: M
.
.
.
-CHAPTER 10-
FINAL CHAPTER
Kyungsoo saat ini berada di sebuah restoran di lantai dasar rumah sakit. Jemarinya bergerak-gerak gelisah di bawah meja, mencoba mengatasi kegugupan yang melanda dirinya sejak lima belas menit terakhir. Bibirnya pegal karena terus berusaha tersenyum sopan pada wanita yang duduk anggun di hadapannya.
Wanita itu ibu Jongin. Kyungsoo terpana pada kecantikan ibu Jongin saat pertama kali wanita itu menampakkan diri di depannya. Kyungsoo bisa mengerti dari mana Jongin dan Joonmyeon mendapatkan ketampanan mereka—tentu saja, gen turunan. Ibu Jongin tampak bersinar di mata Kyungsoo, mungkin karena ditambah kemampuan wanita itu untuk mengendalikan diri dengan baik.
"Aku sudah dengar cerita tentangmu dari Jongin." wanita itu menyesap teh chamomile-nya. "Jongin sering berkata bahwa kau sangat cantik dan sekarang aku tahu anakku tidak berbohong."
Wajah Kyungsoo bersemu merah. Ibu Jongin mengatakan kalau ia cantik? Astaga, Kyungsoo senang sekali!
"T-Terima kasih." Kyungsoo menunduk sopan. "Tapi sepertinya Jongin terlalu melebih-lebihkan."
Ibu Jongin tertawa anggun. "Tidak tidak, kau memang sangat cantik."
Kyungsoo semakin merona dan tidak tahu harus berbuat apa selain menunduk sopan dan mengucapkan terima kasih lagi.
Mereka lalu berbincang—sebenarnya lebih cocok disebut wawancara—mengenai latar belakang Kyungsoo. Pekerjaan, pendidikan, tempat tinggal, hingga keluarga. Batin Kyungsoo meringis ketika ia harus berbohong mengenai pekerjaannya. Ia mengaku belum mendapat pekerjaan tetap dengan alasan masih belum menemui perusahaan yang tepat.
Kyungsoo tidak mungkin berkata sejujurnya bahwa ia adalah salah satu karyawan di perusahaan Joonmyeon hanya untuk ditanya-tanyai perihal seberapa jauh ia tahu mengenai atasannya, kan?
"Oh, ya. Masalah Krystal…" Kyungsoo bisa merasakan aura di sekitarnya menegang. "Aku ingin meluruskan sesuatu di sini."
"Ah, s-silakan."
"Seperti yang kau tahu, Krystal dan Jongin belum genap menikah satu tahun. Dulu, Jongin memohon-mohon untuk bisa menikahi Krystal secepat mungkin. Kami tahu bahwa kami tidak mungkin menolaknya karena Jongin bahkan sampai menangis saat itu…"
Kyungsoo tidak memberikan respon apa-apa, menunggu ibu Jongin melanjutkan ceritanya yang belum tuntas.
"Kau pasti sudah mendengar ini dari Jongin, tapi kami pun terkejut ketika mengetahui golongan darah Ahreum bahkan mustahil untuk diturunkan dari golongan darah Jongin. Jongin merasa tertipu karena berpikir bahwa Ahreum adalah anaknya. Percayalah, Kyungsoo, kami pun kaget setelah mengetahui ayah Ahreum yang sebenarnya dari Jongin…"
"Barulah saat itu Jongin bercerita semuanya. Bagaimana Jongin bertemu Krystal dan meninggalkanmu demi bertanggungjawab atas perbuatannya. Jadi, atas nama Jongin, aku ingin minta maaf untuk semua yang terjadi selama setahun terakhir ini. Jongin sangat mencintaimu, nak Kyungsoo. Akan menjadi sebuah kehormatan bagiku jika kau ingin menjadi bagian dari keluarga kami setelah semua kekacauan ini terlanjur terjadi."
Jantung Kyungsoo berpacu lebih cepat. Kalau tadi ia tidak salah dengar, ibu Jongin secara tidak langsung memintanya untuk menjadi menantunya, kan?
"A-Aku…" Kyungsoo masih berusaha menetralkan detak jantungnya yang bekerja terlalu cepat. "Aku belum mendiskusikan hal ini dengan J-Jongin."
"Tidak apa-apa." wanita itu terkekeh pelan. "Aku tahu sulit bagi kalian untuk memulai semuanya lagi. Pelan-pelan saja."
Kyungsoo tersenyum tulus. Ibu Jongin—yang mungkin akan jadi ibu mertuanya sebentar lagi—memang sangat baik dan pengertian. Rasanya Kyungsoo ingin menangis karena kebaikannya.
"T-Terima kasih, ahjum—"
"Eommonim." ibu Jongin memotong kalimat Kyungsoo seraya tersenyum. "Kau bisa memanggilku eommonim mulai sekarang."
"Ah, y-ya. Eommonim." kalimat itu masih terasa sangat asing bagi bibir Kyungsoo, tapi Kyungsoo tidak bisa menahan bibirnya yang tertarik ke atas. "Terima kasih atas pengertiannya."
Kyungsoo merasa dirinya harus lebih sering berterimakasih pada Tuhan setelah ini. Mimpi lamanya perlahan kembali. Hidup bersama Jongin adalah salah satu mimpi terbesar seumur hidupnya dan Kyungsoo merasa ia bisa berusaha meraihnya kembali saat ini.
Nanti, setelah Kyungsoo selesai berurusan dengan seorang wanita lain yang tengah berdiri di dekat mejanya.
"Ah, akhirnya kau datang juga." ibu Jongin kemudian bangkit dari duduknya untuk memperkenalkan Kyungsoo dengan wanita tadi. "Perkenalkan, Kyungsoo. Ini Yixing, istri dari kakak Jongin."
Dear, Lord. Have some mercy on me, batin Kyungsoo yang sekarang duduk canggung di depan wanita yang secara tidak langsung telah ia sakiti.
oOo
Joonmyeon masih duduk terpaku di halaman belakang rumah. Sebelum Yixing berangkat menemui ibunya, istrinya itu memberinya sepucuk surat tanpa berkata apa-apa lagi pada Joonmyeon. Yixing berkata bahwa semua yang ingin ia ceritakan pada Joonmyeon ada di surat itu—surat yang seharusnya Yixing masukkan ke dalam box rahasianya tanpa diketahui Joonmyeon.
Jadi, Joonmyeon memutuskan untuk membaca surat itu di sela-sela kegiatannya meminum secangkir Americano panas yang hanya dibubuhi sedikit gula.
.
Aku akan bertemu dengan Myeonnie lagi hari ini! Akhirnya, setelah satu bulan berpisah, aku akan terbang lagi ke Korea.
Eommonim memintaku untuk sesegera mungkin memberinya cucu. Setelah kupikir-pikir, sebaiknya aku harus lebih serius memikirkan kata-katanya. Aku tidak mungkin berkata 'iya' tanpa melakukan usaha untuk itu. Jadi, akan lebih baik jika aku lebih berusaha membuka diri pada Myeonnie.
.
Joonmyeon tersenyum. Disesapnya lagi kopinya yang masih mengepulkan asap putih.
.
Myeonnie tidak seburuk ayahku. Aku tahu Myeonnie tidak pernah berbohong setiap bibirnya mengucap kata cinta padaku. Mungkin aku harus lebih memikirkan kata-kata Victoria jiejie untuk memaafkan masa laluku dan membuang rasa trauma yang membekas sampai saat ini.
.
Jantung Joonmyeon berpacu lebih cepat—dan Joonmyeon sangat tahu bahwa itu bukan efek kafein. Lelaki itu kenal Victoria, wanita berdarah asli Tiongkok yang merupakan teman satu angkatan Joonmyeon saat masih kuliah. Joonmyeon pernah mengenalkan keduanya saat awal-awal pernikahannya dengan Yixing.
Setahu Joonmyeon, Victoria mengambil kuliah jurusan psikologi. Itu artinya, Yixing memang menyembunyikan sesuatu darinya. Sesuatu yang besar hingga Joonmyeon bahkan tidak punya clue tentang itu.
Rasanya ia ingin meringis mengingat betapa masih banyak hal yang belum ia ketahui tentang Yixing.
.
Aku harus berani untuk lebih aktif dalam hubunganku dengan Myeonnie. Aku pasti sudah banyak mengecewakannya sebelum ini, jadi aku ingin sekali-kali mengajaknya melakukan yang tidak-tidak duluan
.
Joonmyeon terkekeh kecil saat melihat banyak coretan tebal sebelum kata 'yang tidak-tidak' di surat itu. Wanita itu pasti beberapa kali mengganti kata yang cocok untuk menggambarkan itu tanpa terlihat vulgar.
Yixing benar-benar imut—dan itu merupakan salah satu dari sekian banyak alasan mengapa Joonmyeon memilih untuk menikahinya.
.
Lagipula, setelah kupikir-pikir, Myeonnie tidak akan melakukan itu diam-diam dengan perempuan lain, kan?
.
Deg!
.
Iya, aku tahu. Myeonnie-ku memang sangat baik dan pengertian! Aku janji akan membalas kebaikannya setelah ini.
Jadi, selamat tinggal box kesayangan! Ini adalah surat terakhirku. Akan kupastikan surat ini kuberikan padamu setelah aku pulang dari Korea.
Doakan aku dan Myeonnie berhasil, ya! ^^
.
Tubuh Joonmyeon bergetar hebat. Tangannya tanpa sadar meremas bagian surat yang masih tergenggam hingga menimbulkan tanda bekas lipatan di sana. Nafasnya tersengal-sengal karena paru-parunya tiba-tiba sulit menerima asupan oksigen. Ya Tuhan, Joonmyeon tidak salah baca, kan?
Lelaki itu kini merutuki dirinya sendiri yang bertindak tanpa berpikir panjang. Pikirnya, ia hanya perlu menikmati Kyungsoo dan mencintai Yixing sekaligus. Nyatanya tidak semudah itu. Mustahil untuk menutupi semuanya dengan baik jika Joonmyeon bahkan memiliki sifat posesif yang sudah mengakar di dalam dirinya.
Kalau sudah begini, Joonmyeon yakin Yixing akan meninggalkannya. Lagipula, tidak ada lagi alasan yang bisa membuat wanita itu bertahan.
Cinta?
Joonmyeon bahkan ragu dengan perasaan Yixing setelah semua ini terlanjur terjadi.
Jadi, Joonmyeon memilih untuk mendekap lembaran surat itu di dadanya sambil merintihkan kata maaf berkali-kali—berharap keajaiban bisa mendatanginya begitu saja setelah ia menyesali dosa-dosanya.
oOo
Baru kali ini Kyungsoo berharap tubuh kecilnya bisa lebih mengecil. Bahkan jika bisa, Kyungsoo ingin menghilang saja dari sini. Berada satu meja dengan ibu Jongin dan istri Joonmyeon sama sekali bukan hal baik yang pernah Kyungsoo pikirkan seumur hidup.
"Kau sendirian? Mana Joonmyeon?"
Nice, sekarang nama lelaki yang sudah menciptakan kekacauan ini terjadi juga secara tidak langsung ikut serta di tengah-tengah mereka.
"Joonmyeon sedang sibuk, eommonim." Yixing tersenyum kecil. "Tapi aku sudah minta izin untuk pergi ke sini."
"Ya sudah, kalau begitu pertemuan ini jadi woman's talk."
Ibu Jongin tertawa renyah, sedangkan Yixing dan Kyungsoo sama-sama tertawa canggung menanggapinya.
"Oh ya, perkenalkan, ini Kyungsoo." ibu Jongin mengalihkan sebentar pandangannya pada Kyungsoo yang masih memasang senyuman kaku. "Calon adik iparmu."
"A-Ah, begitu." Yixing mengulurkan tangan kanan. "Aku Yixing."
"Calon kakak iparmu."
Ibu Jongin menambahi kata-kata Yixing, namun Kyungsoo terlalu perasa untuk bisa mengabaikan senyuman getir yang terlukis di wajah perempuan berdarah Tiongkok itu.
"A-Aku K-Kyungsoo."
Tangan keduanya berjabat dan Kyungsoo bersumpah jika telapak Yixing sangat dingin jika dibandingkan dengan telapaknya. Kyungsoo sampai merinding dibuatnya.
Mereka lalu berbincang mengenai keluarga yang akan menjadi bagian dari hidup Kyungsoo nanti. Ibu Jongin banyak bercerita mengenai ayah Jongin yang memanjakan Jongin hingga lelaki itu tumbuh dewasa, Jongdae yang bijak karena terlahir sebagai anak tengah di keluarga Kim, serta Joonmyeon dan Yixing yang—katanya—sedang merencanakan proyek cucu bagi orangtua mereka.
"Oh, lihat kantung matamu itu, sayang." ibu Jongin mengelus sebelah pipi Yixing. "Maafkan anakku jika ia terlalu kasar dalam melakukannya padamu, Nak."
Kyungsoo hanya bisa meringis dalam hati. Dilihat dari mana pun, Yixing tidak terlihat seperti orang yang kelelahan akibat terlalu banyak bercinta.
"Aku baik-baik saja, eommonim."
Kyungsoo diam-diam kagum dengan ketegaran hati Yixing. Tempo hari, Chanyeol berkata bahwa ia tahu istri Joonmyeon ada di rumah saat ia dengan tidak tahu malu berteriak-teriak mengenai hubungannya dengan Joonmyeon. Ia tidak tahu sejauh mana hal yang telah wanita itu ketahui tentangnya, tapi ia bertekad untuk meminta maaf hari ini.
"Sepertinya kita bisa menjenguk Jongin sekarang." ibu Jongin melirik jam mewah warna emasnya. "Ayo kita naik ke atas."
Di belakang nyonya Kim, Kyungsoo dan Yixing mengekor dengan berjalan bersisian. Kyungsoo berani bersumpah bahwa Yixing memancarkan aura yang menunjukkan bahwa wanita itu tidak ingin melihatnya barang seujung batang hidung pun.
"Eonnie, aku—"
"Nanti saja." Yixing tidak mengalihkan pandangannya dari arah depan. "Nanti saja kau lanjutkan kata-katamu."
Kyungsoo sungguh ingin menciut hingga menjadi sebesar elektron agar tidak terlihat oleh siapapun.
oOo
"Soo, kau melamun."
Mata bulat Kyungsoo mengerjap-ngerjap setelah telunjuk Jongin menusuk-nusuk sebelah pipinya. "A-Ah, maaf."
Jongin tersenyum, mau tidak mau Kyungsoo juga ikut tersenyum. Jongin bisa menangkap segurat kekhawatiran di mata wanita itu, jadi ia memilih untuk bertanya "Ada apa?"
"Yixing eonnie…" Kyungsoo menghembuskan nafasnya lemah. "Aku harus bagaimana?"
Jemari tangan Jongin beralih untuk menggenggam jemari tangan wanitanya dan memberikan usapan halus di sana. Sudah tiga minggu sejak Jongin pulang dari rumah sakit dan Kyungsoo masih tidak bisa santai masalah Yixing. Keduanya tidak mendengar kabar mengenai gugatan cerai maupun perkembangan baik mengenai hubungan Yixing dan Joonmyeon. Orangtua Jongin pun masih terlihat biasa-biasa saja.
"Dia tidak masalah dengan hubungan kita." Jongin tersenyum tulus pada Kyungsoo. "Hanya saja, mungkin dia tidak akan datang ke pernikahan kita."
Ujung bibir Kyungsoo naik dengan ragu-ragu. Entah ia harus senang atau sedih mendengar perkataan itu.
"Yixing eonnie kembali sibuk di China, kau tidak usah berpikir macam-macam tentang itu."
Yixing memang berkata pada Jongin bahwa ia harus mengurus agensinya di China saat lelaki itu masih dirawat di rumah sakit. Ada artis baru yang harus diorbitkan oleh agensi kakak iparnya itu dalam waktu dekat, jadi Jongin maklum saja jika Yixing tidak hadir di pernikahannya.
Walaupun pria itu yakin ada hal yang lebih dari itu, sih. Tapi ia tidak mungkin mengungkapkan pikiran negatifnya pada Kyungsoo yang sudah khawatir seperti ini, kan?
"T-Tapi tetap saja Jongin, kau adik iparnya. Mana mungkin dia tidak datang hanya karena kesibukannya di sana."
"Kyungsoo sayang…" Jongin mengecup dalam dahi Kyungsoo. "Percayalah, semua akan baik-baik saja. Yixing noona hanya butuh waktu untuk urusannya, bukan menghalangimu untuk menjadi bagian dari keluargaku."
Lengan kurus Kyungsoo naik untuk memeluk pinggang Jongin. Kepalanya disandarkan pada dada calon suaminya, mencoba mencari ketenangan dengan mendengarkan detak jantung yang jadi salah satu alasannya untuk tetap hidup. Pria ini mencintainya, Kyungsoo yakin akan hal itu.
"Maaf karena khawatir berlebihan."
Telapak Jongin mengelus rambut panjang Kyungsoo yang terasa halus di kulitnya. Bibirnya bergerak untuk mengecup pucuk kepala wanita yang ia cintai, mencoba menyirami Kyungsoo dengan kehangatan dengan melakukannya.
"Tidak apa, wajar kalau kau khawatir." Jongin tersenyum sambil menempelkan dagunya di pucuk kepala Kyungsoo. "Kita akan menikah sebentar lagi, pasti banyak hal yang mengganggu pikiranmu saat ini."
Kyungsoo mengangguk kecil di dekapan Jongin. "Aku hanya ingin semuanya berjalan lancar."
"Semuanya akan berjalan lancar, sayang." Jongin melepas dekapannya demi mengecup singkat bibir berbentuk hati milik Kyungsoo. "Percaya padaku."
Bibir Kyungsoo membentuk seulas senyum. Kekhawatirannya perlahan menguap karena tingkah manis calon suaminya ini. "Iya. Aku percaya."
Jongin kembali mengecup bibir ranum milik Kyungsoo. Entah perasaan Jongin saja atau bibir Kyungsoo semakin terasa manis di indra pengecapnya. Pria itu bahkan tidak bisa menahan senyuman yang kini mulai terukir di bibirnya yang masih menikmati bibir pasangannya.
Keduanya mungkin sudah saling memagut bibir pasangan masing-masing jika saja seorang pramuniaga tidak menginterupsi kegiatan mereka.
"A-Ah, maaf kelancangan saya. S-Saya—"
"Tidak apa-apa." Jongin mendesah pelan sebelum tersenyum ramah pada pramuniaga yang barusan memergoki kegiatannya dengan Kyungsoo yang sekarang merona parah. "Jadi, ada apa?"
"A-Anu, gaun dan setelan untuk tuan dan nona s-sudah siap untuk d-dicoba." pramuniaga itu memberengut takut. "S-Sekali lagi m-maafkan saya."
Jongin hanya menggumam singkat, kemudian menarik Kyungsoo untuk ikut bersamanya melihat baju pengantin mereka. Mereka memang berencana untuk melakukan fitting baju pengantin hari ini. Mumpung Jongin tidak sibuk, katanya.
"Kau pasti akan terlihat sempurna mengenakan gaun ini." Jongin berbisik rendah di telinga Kyungsoo setelah sang pramuniaga memperlihatkan gaun pesanan ibu Jongin. "Panggil aku kalau kau butuh bantuan untuk memasangnya."
Kyungsoo yang sudah merona parah tidak sanggup memberikan respon apa-apa pada Jongin. Jadi, ia memilih untuk melangkahkan kaki-kaki mungilnya menuju fitting room dengan cepat.
Setelah memasang resleting di punggungnya dengan susah payah, Kyungsoo mematut-matut dirinya di depan cermin. Wanita itu merasakan desiran menyenangkan di hatinya. Perutnya terasa dipenuhi oleh kupu-kupu yang beterbangan kesana kemari. Semburat kemerahan kembali menghiasi pipinya yang gembil. Ya Tuhan, Kyungsoo tidak pernah menyangka bahwa dirinya akan mengenakan gaun pengantin dan dinikahi seorang pria. Terlebih pria itu Kim Jongin, lelaki yang ia pikir tidak akan pernah menjadi miliknya lagi.
Proses perceraian Jongin baru selesai kemarin. Krystal dan Minhyuk berpamitan untuk pindah ke negeri sakura dan melangsungkan pernikahan di sana. Jongin sempat mengecup kening Ahreum untuk yang terakhir kali sebagai salam perpisahan—dan membuat Kyungsoo harus menahan cemburu setengah mati. Walaupun Jongin bukan ayah kandung Ahreum, Jongin masih belum bisa menghilangkan nalurinya sebagai seorang ayah. Mungkin pria itu harus cepat-cepat memiliki anak dari Kyungsoo.
"Sayang, kau baik-baik saja? Apa sudah selesai?"
Kyungsoo tertarik kembali ke dunia nyata setelah mendengar calon suaminya memanggil sambil mengetuk-ngetuk pintu yang ada di belakangnya.
"A-Ah, tunggu sebentar."
Kyungsoo membenahi letak gaun yang menempel di tubuhnya, lalu berbalik untuk membuka pintu yang menghalanginya dari Jongin dan… Astaga.
Mata lebar Kyungsoo semakin melebar setelah melihat Jongin mengenakan tuxedo yang berwarna senada dengan gaunnya. Walaupun sudah sering melihat Jongin memakai setelan formal, penampilan Jongin kali ini terlihat memukau di mata Kyungsoo. Entahlah, ia merasa Jongin lebih tampan berkali-kali lipat daripada biasanya.
"Aku tidak tahu kau bisa terlihat lebih cantik dari yang pernah kubayangkan." Jongin berkata tulus sambil mengusap sebelah bahu Kyungsoo yang terlihat akibat model gaunnya yang terbuka. "Kau sangat cantik, sayang."
"Gombal." Kyungsoo memukul dada Jongin main-main, lalu menyembunyikan kepalanya di sana. "Eommonim sudah datang?"
Jongin melihat sekilas arloji yang melekat di pergelangan tangan kirinya. "Mungkin sebentar lagi."
Well, nyatanya tidak sebentar. Kyungsoo dan Jongin bahkan harus bertahan dengan pakaian mereka hingga setengah jam kemudian—bahkan Jongin harus menutup bahu Kyungsoo yang terbuka dengan jasnya. But it's worth the wait karena ibu Jongin datang bersama ayah Jongin yang baru bisa kembali ke Korea hari ini.
"Aku tidak heran mengapa anakku ingin cepat menikahimu, nak Kyungsoo. Kau sangat cantik."
Selesai berkata begitu, Tuan Kim mendapat hadiah geplakan keras di pundak dari istrinya. Sementara sepasang lainnya hanya bisa tertawa sambil geleng-geleng kepala. Kyungsoo sekarang tahu dari mana sifat pencemburu Jongin berasal.
"Kau harus lebih bersabar, nak Kyungsoo. Jongin sama saja seperti ayahnya."
Well, setelah ini Kyungsoo pasti masih harus mendengar cerocosan panjang dari calon mertuanya tentang Jongin. Kyungsoo harus siaga memasang kuping agar tidak dianggap calon menantu kurang ajar oleh calon mertuanya.
"Sabar, sayang." Jongin berbisik di telinga Kyungsoo. "Setelah ini kita bisa menghabiskan waktu berdua di tempatku."
Dan suara geplakan yang lebih keras—diiringi suara teriakan tertahan—terdengar setelah telapak tangan Kyungsoo bertemu dengan pundak Jongin. Oh, dear.
oOo
Seperti detik yang berlalu setiap satu tarikan nafas dan hari yang berganti setiap pejaman mata, akhirnya tiba hari bagi Kyungsoo dan Jongin untuk melangsungkan pernikahan. Setelah sempat berdebat panjang lebar dengan Yifan dan mati-matian meyakinkan ayah Kyungsoo bahwa Jongin tidak main-main dengan pernikahannya kali ini, akhirnya mereka mendapat izin untuk melangsungkan pernikahan—walaupun harus mundur satu bulan dari rencana semula. Untunglah orangtua Jongin tidak terlalu mempermasalahkan hal itu.
"Kau benar-benar sudah yakin?"
Pertanyaan yang sama kembali masuk ke telinga Kyungsoo, entah sudah yang keberapa kalinya sejak ia menginjakkan kaki di ruangan ini.
"Iya, ge." Kyungsoo menjawab setengah hati. Separuh lebih konsentrasinya sekarang sedang tertuju pada tatanan rambutnya yang sedikit berantakan.
"Aku hanya tidak ingin kau menyesal, Kyungie-ku sayang." Yifan dengan kurang ajarnya mengusak pelan rambut Kyungsoo yang menurut pemiliknya masih terlihat berantakan. "Aku tidak ingin nantinya kau menangis lagi karena pria brengsek yang pernah melukaimu dulu."
Hembusan nafas kasar keluar dari mulut Kyungsoo. "Jongin sudah berubah, ge. Jangan khawatirkan aku."
"Iya, sayang. Kyungsoo sudah dewasa, dia bisa menjaga dirinya sendiri." Zitao muncul dari balik pintu yang terbuka. "Iya, kan?"
"Jiejie memang yang terbaik." lengan Kyungsoo terulur untuk memeluk kakak iparnya yang sekarang sedang hamil besar. "Terima kasih, jie."
"Ya, ya, ya. Wanita selalu benar. Aku—"
"Kyungsoo!"
Tiga orang di ruangan itu secara refleks menoleh ke belakang.
"Astaga, maafkan aku! Aku sangat terlambat, ya?"
Ternyata itu suara Baekhyun yang baru datang bersama Luhan. Luhan hanya melemparkan tatapan 'tolong-maafkan-Baekhyun' pada Kyungsoo, Yifan, dan Zitao.
"Tidak apa-apa." Kyungsoo tersenyum cantik, membuat Baekhyun histeris sendiri.
"Astaga, kau sungguh cantik, Soo! Aku yakin Jongin akan terpukau melihatmu." Baekhyun meremat sebelah tangan Luhan yang masih ia genggam, membuat sang pemilik tangan meringis.
Ngomong-ngomong tentang Baekhyun dan Luhan, keduanya tidak sengaja bertemu saat menjenguk Jongin. Tidak disangka keduanya cocok—bahkan mereka memiliki hobi yang sama—sehingga mereka jadi akrab setelahnya.
"Kau terlihat seperti putri di dongeng-dongeng." Luhan berkata dengan senyuman manis dan mata rusa cantiknya yang berkaca-kaca. "Selamat, Soo! Kau pantas bahagia dengan lelaki pilihanmu."
"Kemari, girls." Kyungsoo bangkit dari tempat duduk, lalu menarik lengan kedua sahabatnya untuk membawa mereka ke rengkuhannya. "I love you so much. Thank you for being there for me when I needed you the most."
Yifan dan Zitao sudah keluar dari ruangan itu sejak Baekhyun dan Luhan dengan tidak tahu malunya masuk untuk menemui Kyungsoo, jadi mereka bisa dengan bebas bergosip tanpa perlu takut didengar orang lain. Kakak dan kakak iparnya itu sudah tahu jika Baekhyun tidak mungkin hanya datang untuk menemui Kyungsoo. Tentu saja, Baekhyun akan berbicara panjang lebar setelahnya.
"Ngomong-ngomong, adakah teman Jongin yang masih single? Yang kira-kira cocok dengan Luhan."
Baekhyun langsung mendapat geplakan keras dan tatapan tajam dari Luhan setelah mengatakannya.
"Tidak perlu, Soo. Lagipula aku memang belum ingin mencari pasangan." Luhan mengendikkan bahunya acuh tak acuh. "Aku masih sibuk dengan Seventh Heaven, jadi ya… Nanti saja."
Luhan baru-baru ini memang membuka sebuah bakery baru di ruko dekat apartemennya. Walaupun masih baru dan tempatnya tidak luas, Luhan memiliki passion yang tinggi untuk terus mengembangkan usaha barunya itu.
Sebelum Kyungsoo pindah tempat tinggal—tepatnya sebelum Kyungsoo menjalin hubungan dengan Joonmyeon—Luhan sempat belajar mengenai cara membuat kue dan roti yang resepnya Kyungsoo dapat dari ibunya. Setelah berhari-hari belajar, akhirnya membuat roti dan kue menjadi hobi baru bagi Luhan. Membuat roti dan kue jadi hal yang Luhan lakukan untuk mengisi waktu luangnya sebagai penyanyi kafe.
Mengenai nama Seventh Heaven, mari simpan cerita itu untuk nanti karena saat ini ibu Kyungsoo datang menemui anak bungsunya.
"Kau sudah siap, Nak?" nyonya Do menepuk pelan kepala Kyungsoo yang dihiasi veil. "Appa sudah menunggumu."
Baekhyun dan Luhan mengangguk hampir bersamaan saat Kyungsoo menatap keduanya, membuat Kyungsoo semakin gugup.
"Jongin tampan sekali hari ini. Kau penasaran ingin melihatnya kan, sayang?"
Kalimat itu sukses membuat Baekhyun dan Luhan menahan tawa. Nyonya Do terdengar genit saat mengucapkannya.
"I-Iya, eomma. Aku siap." Kyungsoo perlahan berdiri dari tempat duduknya.
"Ayo."
Dengan bantuan Baekhyun dan Luhan yang dengan gesit merapikan gaun panjangnya, Kyungsoo berjalan mengikuti ibunya. Nyonya Do merasakan tangan anaknya sedikit bergetar, jadi ia menggenggam tangan Kyungsoo dengan agak lebih erat.
Nyonya Do meninggalkan anak bungsunya untuk berdiri berdampingan dengan suaminya. Matanya sempat berkaca-kaca ketika melihat Kyungsoo berdiri dengan anggun mengenakan gaun pengantin yang indah dan veil yang menjuntai menutupi punggung.
"Siap, Nak?"
Jantung Kyungsoo berdegup sangat kencang. Ingin rasanya Kyungsoo pulang saja dan melanjutkan pernikahannya tanpa kehadiran orang banyak, tapi ia tak mungkin melakukan hal itu sekarang. Kyungsoo tidak mungkin mempermalukan banyak orang hanya karena kegugupannya.
"N-Ne."
Ayah Kyungsoo tersenyum singkat, lalu menggenggam sebelah tangan Kyungsoo dengan erat. "Bersiap-siaplah."
Baru saja selesai berkata begitu, pintu yang ada di hadapan Kyungsoo terbuka. Kyungsoo bisa melihat kehadiran tamu undangan yang langsung berdiri dari duduknya demi menanti Kyungsoo yang akan berjalan melewati karpet merah di tengah-tengah ruangan. Hampir semuanya secara refleks berbalik ke belakang untuk melihat sang pengantin wanita yang sebentar lagi berganti gelar menjadi 'nyonya Kim'.
Namun tentu saja, orang yang paling mencuri perhatian Kyungsoo adalah Jongin. Kim Jongin, lelaki yang sekarang sedang berdiri di depan altar dengan mengenakan setelan berwarna putih dan senyum yang menghias wajah tampannya. Walaupun Jongin masih belum terlihat terlalu jelas karena jarak keduanya yang masih lumayan jauh, tapi Kyungsoo bisa melihat kegugupan yang sama di diri Jongin. Lalu, setelah memantapkan hati, Kyungsoo memberi kode kepada ayahnya untuk mulai berjalan di karpet merah yang terbentang di depan mereka.
Kyungsoo melangkah pelan melewati deretan bangku tamu undangan. Di sana, Kyungsoo bisa melihat teman-temannya, teman Jongin, serta beberapa orang yang tampak tidak familiar baginya—mungkin rekan bisnis Jongin atau orangtuanya. Kyungsoo hampir melompat kesenangan setelah menemukan Yixing di barisan paling depan—bersama keluarganya dan Jongin—dengan senyum yang menghiasi wajah cantiknya dan tangan yang tertaut erat dengan tangan Joonmyeon. Terlarut dalam keheranannya, Kyungsoo sedikit mengerjap ketika tersadar bahwa dirinya sudah sampai di depan altar. Ayah Kyungsoo kemudian menyerahkan telapak anaknya pada Jongin setelah berbisik, "Aku percayakan Kyungsoo padamu, Nak."
Jongin dan Kyungsoo kemudian berdiri berdampingan untuk menghadap pendeta yang akan menikahkan mereka. Keduanya sempat mencuri lirikan, lalu sama-sama tersenyum kecil.
Sang pendeta membacakan janji nikah yang harus diulang oleh keduanya. Ini bukan pertama kalinya Jongin mendengar kalimat yang sama, namun lelaki itu masih mengalami perasaan nervous yang sama—bahkan jauh lebih besar—saat harus mengeluarkan kata-kata dari bibirnya. Terlebih Kyungsoo, perempuan itu bahkan sempat tergagap hingga membuat Jongin semakin berkeringat dingin.
"You did well, honey."
Jongin berbisik setelah Kyungsoo selesai mengucapkan janji pernikahannya. Rona merah cantik menghiasi pipi Kyungsoo, membuatnya terlihat bahkan lebih cantik lagi di mata Jongin.
Keduanya menandatangani buku pernikahan mereka yang masih terlihat sangat baru. Kyungsoo yang gugup sempat bingung beberapa detik karena tidak tahu harus membubuhkan tanda tangan di sebelah mana—untunglah Jongin dengan cepat memberitahunya. Mereka kemudian mengambil sepasang cincin yang dibawa oleh seorang ring bearer dan memasangkannya di jari manis masing-masing pasangannya.
Jongin dan Kyungsoo saling melempar senyum—senyum haru dari Kyungsoo, senyum mesum dari Jongin.
Ya, mari jangan lupakan fakta bahwa seorang Kim Jongin adalah lelaki kelebihan hormon.
Sang pendeta mempersilakan keduanya untuk berciuman, membuat pipi Kyungsoo hampir sewarna udang rebus. Tangan Jongin membawa Kyungsoo untuk berdiri lebih dekat dengannya, lalu menatap dalam kedua retina matanya.
"Aku akan menyimpan ciuman panas kita untuk nanti malam." bisik Jongin sebelum mencium pipi merah Kyungsoo—dan dihadiahi riuh rendah tepuk tangan dari tamu undangan serta seruan kecewa dari Sehun.
"Kau terlalu menahan dirimu, Tuan Kim!" seru Sehun dari jajaran tamu undangan.
Jongin dan beberapa tamu undangan tertawa, sementara Kyungsoo memilih untuk menyembunyikan wajahnya.
oOo
Jongin dan Kyungsoo menyelesaikan akad pernikahan mereka pukul sepuluh pagi, jadi mereka bisa beristirahat sebelum melanjutkan resepsi pukul dua belas. Keduanya memiliki pikiran yang sama mengenai apa yang akan mereka lakukan pertama kali setelah mendapat kesempatan untuk beristirahat.
Menemui Yixing.
"Hyung, noona."
Sepasang manusia yang saat itu tengah asyik mengobrol di pinggiran taman refleks berbalik ke belakang setelah mendengar seseorang memanggil keduanya. "Ah, Jongin, Kyungsoo. Apa kabar?"
Jongin dan Kyungsoo mengerutkan kening melihat Yixing dan Joonmyeon yang bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa.
"A-Anu…" Jongin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "T-Terima kasih sudah datang ke pernikahan kami."
Segurat senyum terukir manis di wajah Yixing. "Sudah seharusnya aku menghadiri pernikahan adik iparku."
"Selamat atas pernikahan kalian." kali ini Joonmyeon yang bergerak untuk menyalami Jongin. "Dan… Ng… A-Aku ingin minta maaf untuk semuanya, Jongin, Kyungsoo. Kurasa aku belum pernah meminta maaf secara formal pada kalian."
Jongin dan Joonmyeon memang tidak pernah mengungkit-ungkit lagi masalah yang pernah terjadi beberapa bulan yang lalu. Jongin cukup tahu diri untuk tidak mempersulit kondisi Joonmyeon yang sedang mengalami masa sulit dengan Yixing, sedangkan Joonmyeon juga cukup tahu diri untuk tidak mengganggu rencana pernikahan adiknya dengan Kyungsoo.
Namun, alih-alih menjawab, Jongin malah meninju kecil bahu kakaknya. "Kau menggelikan saat berbicara serius, hyung."
Kedua kakak beradik itu tertawa, lalu saling bercerita hingga mengabaikan dua perempuan lain yang tidak tahu harus berbuat apa selain berdiri di samping lelaki masing-masing. Jadi, ketika dua lelaki tersebut meninggalkan keduanya, suasana yang menyelimuti keduanya menjadi benar-benar canggung.
"Unnie, aku ingin minta maaf soal—"
"Aku sudah memaafkanmu, Kyungsoo." Yixing memotong kata-kata Kyungsoo, lalu tersenyum tipis. "Aku sudah memaafkan masa laluku."
"T-Tetap saja unnie, aku masih sangat merasa bersalah padamu. I need to do a proper apology."
Kyungsoo baru saja akan berlutut di hadapan Yixing ketika lengan Yixing menahan pergerakannya.
"You don't have to do this, Kyungsoo." Yixing berusaha meyakinkan Kyungsoo dengan tatapannya. "Demi Tuhan, aku sudah memaafkanmu."
"Tapi—"
"Lagipula itu bukan sepenuhnya salahmu. Aku harus mengalami semua ini agar menjadi pribadi yang lebih kuat." Yixing melanjutkan ucapannya sambil menyunggingkan seulas senyum yang malah membuat hati Kyungsoo terasa semakin berat. "Aku tidak ingin anakku sedih jika aku terus larut dalam kesedihan."
…
Tunggu.
"Eonnie—" Kyungsoo menutup mulutnya dengan sebelah tangan. "J-Jangan-jangan..."
Sialnya, Yixing mengangguk.
"A-Astaga, a-aku—M-Maaf—" Kyungsoo kehilangan kata-kata. "A-Aku t-tidak—"
"Tenang, Kyungsoo." Yixing terkekeh kecil. "Kandunganku baru berusia tiga bulan."
Kyungsoo serasa ditimpa batu besar. Ingatannya dengan tidak tahu diri memberitahu bahwa saat itu ia masih berhubungan dengan Joonmyeon.
"Eonnie…" mata Kyungsoo berkaca-kaca. "Maafkan aku, sungguh. Maafkan aku."
"Everything happens for a reason, Kyungsoo." Yixing menatap Kyungsoo sungguh-sungguh. "Jika saja aku tidak mengalami ini, mungkin aku masih trauma dengan masa laluku."
Kyungsoo menatap Yixing meminta penjelasan.
"Jangan khawatir, itu hanya masa lalu." lesung pipi Yixing terbentuk setelah bibirnya membentuk seulas senyum. "Intinya, terima kasih karena kau telah membuatku sadar bahwa aku beruntung memiliki Joonmyeon. He's a great man after all."
Setelah Yixing kembali ke China, Yixing memutuskan untuk melakukan konsultasi secara intens dengan Victoria. Yixing sungguh-sungguh berusaha untuk memaafkan masa lalunya setelah mengetahui bahwa dirinya mengandung anak Joonmyeon. Yixing ingin anaknya hidup dengan sosok ayah, jadi ia memilih untuk mengenyampingkan keegoisannya. Terlebih setelah Yixing menerima permintaan maaf hampir setiap hari dari Joonmyeon—yang pada akhirnya membuat Yixing luluh dan memutuskan untuk kembali.
"Eonnie." Kyungsoo memeluk Yixing, mengabaikan posisinya yang canggung karena gaunnya yang lebar di bagian bawah. "Maaf dan terima kasih untuk ketegaran hati eonnie. Aku berjanji akan menjadi adik ipar yang baik."
"Welcome to the family, Kyungsoo."
Kyungsoo merasa beban yang ada di dalam hatinya menguap ke udara. Sekarang, sudah tidak ada lagi hal yang perlu ia khawatirkan. Lagipula, jika suatu saat nanti ia menemui rintangan dalam biduk rumah tangganya, ia yakin bisa menghadapinya bersama Jongin.
Kim Jongin, lelaki yang sempat membuat dunia Kyungsoo jungkir balik, kembali untuk menjadi pendamping hidupnya. Kyungsoo merasa perlu bersyukur untuk itu. Tidak ada pria manapun di dunia ini yang bisa menggantikan sosok Jongin bagi Kyungsoo. Jongin dengan segala kekurangannya adalah satu-satunya pria sempurna di mata Kyungsoo—begitu pula sebaliknya.
Meski sempat rusak dan hancur berkeping-keping, Kyungsoo dan Jongin sudah membuktikan kekuatan cinta mereka. Peribahasa yang sering mereka dengar adalah benar adanya: love will find its way. Bagi mereka, jalan itu membutuhkan waktu hampir satu tahun—dan mereka telah berjanji untuk tidak menyesalinya lagi.
oOo
Kyungsoo dan Jongin melanjutkan resepsi pernikahan dua jam kemudian. Resepsi dengan tema pesta kebun itu diadakan di villa milik keluarga Jongin yang berjarak setengah jam dari tempat pemberkatan mereka. Kyungsoo harus berterimakasih pada Irene karena perempuan itu sudah mau repot-repot mencarikan wedding organizer untuknya dan atasan barunya. Tanpanya, mungkin resepsi pernikahan Kyungsoo dan Jongin batal digelar—jangan lupakan bahwa pernikahan harus diundur setelah persiapan selesai hingga membuat wedding organizer sebelumnya mengundurkan diri.
Sudut mata Kyungsoo menangkap citra Baekhyun dan Chanyeol yang masih betah mengabadikan momen di sela-sela properti dekorasi. Di sisi lain, Luhan sedang menikmati potongan-potongan cake yang tertata di atas meja dan—oh, apakah itu Sehun yang sedang memperhatikan Luhan secara diam-diam?
"Sepertinya aku harus mengenalkan sahabatku itu pada Luhan." Jongin terkekeh setelah mendapati dirinya mengamati hal yang sama. "Mereka sepertinya cocok."
Seolah mengerti, dewi fortuna memberikan kesempatan bagi Luhan untuk menangkap buket bunga yang dilemparkan Kyungsoo saat prosesi pelemparan bunga—yang artinya Luhan adalah orang selanjutnya yang akan menyusul Kyungsoo untuk naik ke pelaminan.
"Lu." Kyungsoo memanggil Luhan yang masih asyik memperhatikan tatanan bunga yang ada di genggamannya. "Kemarilah."
Luhan mengikuti Kyungsoo dengan wajah yang masih menunjukkan ekspresi bingung yang kentara. "Ada apa, Kyung? Bukankah harusnya kau—"
"Nah, ini dia." Kyungsoo berdehem singkat, menahan diri untuk tidak tersenyum seperti idiot. "Luhan, aku ingin mengenalkanmu pada sahabat Jongin."
"H-Hai."
Sehun mengangkat sebelah tangannya. Wajahnya terlihat gugup saat menyapa perempuan yang sedari tadi diperhatikannya. Jongin tiba-tiba menyesal karena tidak bisa mengabadikan ekspresi Sehun yang bodoh seperti saat ini.
"Hai juga." Luhan menjawab Sehun dengan intonasi yang lebih mirip pertanyaan.
"Namanya Sehun." Jongin menunjuk-nunjuk Sehun, lalu mengacungkan jempolnya. "Dia pria baik, jangan takut."
Kalau saja tidak ada Luhan, Sehun mungkin sudah melingkarkan sebelah lengannya di leher Jongin—lalu mengeratkannya hingga lelaki itu memohon-mohon minta dilepas.
"Ah, n-ne."
Luhan melirik Kyungsoo yang sedang melempar senyum penuh arti pada Jongin.
"Nah, bagaimana jika kalian menghabiskan waktu bersama? Aku dan Jongin masih harus menyalami tamu undangan." Kyungsoo berjalan ke sisi Jongin, lalu lengannya meraih sebelah lengan Jongin. "Selamat menikmati waktu kalian."
Kyungsoo dan Jongin berjalan cepat, lalu terkekeh setelah merasa jarak mereka dengan Sehun dan Luhan sudah agak jauh. Kyungsoo bahkan sampai tertawa dan bertepuk tangan sendiri setelah melakukan hal paling konyol yang pernah ia pikirkan untuk dilakukan di tengah pesta pernikahan.
"Aku merasa bersalah pada mereka. Pasti keadaannya canggung sekarang." Kyungsoo berujar di sela-sela tawanya.
"They'll get used to it." Jongin terkekeh, lalu mengusak kecil poni Kyungsoo. "Dan kau, anak nakal, harus mendapat hukumanku nanti malam."
Mata Kyungsoo terbelalak. "Kapan kau akan berhenti mesum, Tuan Kim?"
"Aku tidak mengatakan sesuatu yang terdengar mesum, sayang." Jongin terkekeh agak lebih keras, membuat pipi Kyungsoo memerah karena sebal dan malu. "Memangnya kau berpikir aku akan berbuat apa?"
"Diam!"
"Jadi, siapa yang mesum di sini?"
"Kubilang diam, Jongin!"
"Ah, kau tak sabar untuk nanti malam, ya?"
"Jongin!"
"Baiklah, jangan lupa pakai lingerie seksi, ya."
"Mati kau Kim Jongin!"
.
.
.
END
.
.
.
ASTAGA AKHIRNYA INI END JUGA.
Well, aku gak nyangka kalau chapter ini bisa sampai 5k+ words. Anggap aja ini sebagai penebusan maafku, ya. ^^
Maafkan aku yang selama ini sibuk sama tugas dan ujian. Akhirnya aku punya waktu buat nyelesein ini setelah ujian tengah semesterku beres.
Ehm, sebenernya ada pengaruh psikis juga, sih. I'm mentally unstable dan sekarang aku lagi berusaha menyelesaikan masalahku dengan konsultasi sana-sini. Aku masih belum nemu psikolog yang cocok sama aku.
Dan karena cerita ini kubuat karena karakter Kyungsoo yang mirip sama aku, somehow aku ngerasa susah aja buat nulis chapter akhir yang berakhir bahagia ini. Mungkin karena sebulan yang lalu aku ketemu dengan sosok 'Jongin' lagi dan keadaannya gak kaya keadaan Kyungsoo yang bahagia kaya di FF ini?
Yha. Curcol.
Jadi, doakan aku segera bahagia seperti Kyungsoo, ya! ^^
Makasih banyak buat yang udah review, follow, favorite, dan yang udah mampir buat sekedar baca. Makasih buat asupan semangatnya! ^^
Aku rencananya pengen bikin sequel untuk ini karena ada bahan yang masih bisa aku tulis untuk satu-dua chapter.
/whisper/ HunHan.
Makasih banyak semuanya! /bow/ Love you!
