DISCLAIMER: Created in the world belonging to J.K. Rowling and no money here. Just for fun.
Chapter 11: Hogwarts at War
x-x-x
Malam itu di Hogsmeade sangat senyap, tak terlihat seorang pun di jalanan. Penetapan jam malam dan penjagaan yang mengikut sertakan sejumlah dementor membuat semua warga Hogsmeade tidak berani meninggalkan kediaman mereka sejengkal pun. Mereka sepertinya lebih memilih untuk tetap tinggal di rumah saja walau sebenarnya hari belum terlalu larut. Sudah semenjak sore toko-toko tutup, terlebih semenjak natal lalu hanya sedikit sekali murid-murid Hogwarts yang berani berkunjung ke Hogsmeade. Hogsmeade yang dulunya cukup ramai, kini menjadi sepi karena Voldemort sang pangeran kegelapan mengincar Harry Potter yang tak kunjung kembali ke Hogwarts. Sehingga dia menempatkan para death eater dan dementor untuk mengawasi setiap jalan akses menuju Hogwarts, kuatir Harry Potter akan kembali dengan diam-diam.
Keheningan malam itu terganggu dengan suara crack di kejauhan, di sebuah pub kecil di pinggiran Hogsmeade. Rupanya Harry, Cho, dan Luna rupanya tiba dengan ber-apparte langsung ke dalam Hog's Heade, sebuah pub tua yang sudah tutup sejak siang hari tadi. Kedatangan mereka yang secara tiba-tiba dan mengejutkan itu mendapat sambutan yang kurang baik dari si pemilik pub, Aberforth Dumbledore. Wajahnya terlihat masam sepertinya kesal meskipun Harry telah meminta maaf dan juga berterima kasih padanya karena telah mengirimkan Dobby padanya.
Setelah sedikit penjelasan mengenai kedatangan mereka dan tambahan ocehan dari Abeforth dan karena penjelasan Harry yang bercerita bahwa akan ada teman-teman lainnya yang mungkin menyusul, Abeforth mengomel karena berasumsi Harry telah merubah pub-nya menjadi peron dari Hogwarts (Luna dan Cho terkikik mendengarnya). Tapi itu tidak lama, karena Abeforth langsung mengajak mereka semua menuju ke lukisan Ariana dan sejenak setelah dia berbicara dengan Ariana, Ariana pergi menghilang. Sambil menunggu kembalinya Ariana, Harry mencoba mengobrol dengan Abeforth, dan walaupun dijawab dengan singkat dan agak galak, Harry yakin Abeforth cukup baik dan mau membantu mereka dengan ikhlas. Akhir Ariana kembali, dan lukisan itu tahu-tahu mengeser ke samping. Di belakang lukisan terlihat ada lubang dan jalan setapak yang dapat dilalui. Setelah berpamitan dengan mengucapkan terima kasih pada Abeforth, mereka bertiga menyusuri lorong tersebut dengan bantuan cahaya dari tongkat mereka. Rupanya lorong itu cukup baik, meski terlihat sempit, udara tetap mereka rasakan dengan baik. Lorong itu tidak memiliki cabang, hanya satu jalan saja, yang sesekali menanjak naik, lalu turun dengan tajam serta berbelok ke kanan. Lalu tiba-tiba lorong itu naik kembali ke atas, sedikit berbelok ke kiri, turun lagi ke bawah, belok kiri kembali, menanjak naik sangat tinggi, dan sepertinya lorong itu dibuat dengan sangat baik karena ada anak tangganya. Setelah sekitar sepuluh menit lamanya mereka tiba di sebuah pintu kayu. Harry menyiapkan tongkatnya, mendorong sedikit pintu itu, mengintip ke luar. Dia melihat beberapa murid-murid Hogwarts yang dikenalnya, Neville, Lavender, si kembar Patil, Romilda Vane, Ginny, Michael Corner, Hannah Abbott, Susan Bones, Justin Finch, Terry Boot, dan beberapa anggota DA lainnya.
Perlahan Harry mendorong pintu dan rupanya mereka memang sudah menunggunya. Harry langsung ditarik keluar dari lubang, Luna dan Cho menyusul keluar dari lorong setelah itu. Mereka semua mengelu-elukan Harry. Tapi mereka semua langsung terdiam begitu Hermione muncul dan melayang di samping Harry. Sebagian dari mereka memang sudah mendengar kabar tentang Hermione tapi mereka sepertinya tak menyangka bila Hermione kembali dalam rupa hantu.
"Huah…hermione, apa yang terjadi padamu?" tanya Neville
"Hermione, kau…kau kenapa?" tanya Ginny terkejut, menutup mulutnya berusaha menahan tangisnya
Harry dan Hermione menjelaskan dengan singkat kejadian yang menimpa Hermione. Ginny menangis dan histeris mendengarnya. Dia menyalahkan dirinya, karena gara-gara dia, Hermione menjadi korban. Hermione mencoba menghiburnya dan mengatakan ini bukan kesalahan murni Ginny, tapi memang Voldemort akan mencoba segala cara untuk mendapatkan Harry bahkan mencelakai sahabat-sahabat Harry. Mereka juga terkejut mendengar berita tentang tewasnya Dean dari Luna. Setelah Harry, Hermione, dan Luna bercerita tentang kejadian yang menimpa mereka serta misi yang harus mereka lakukan, Neville angkat bicara
"Harry, kami telah mendengar berita bahwa kau hendak mencari sesuatu di Hogwarts dan sebelumnya hendak masuk ke ruangan asrama Ravenclaw?" tanya Neville
"Ya benar, aku hendak melihat Patung Ravenclaw di sana"
"Kalau begitu biar teman-teman dari Ravenclaw yang menemanimu, sementara kami akan menyiapkan siasat pengalihan"
"Pengalihan? Apa maksudmu?" tanya Harry
Neville lantas bercerita bahwa saat ini setiap lorong, gang, tangga, bahkan pintu masuk asrama manapun dijaga oleh kaki tangan Snape. Bahkan Carrow bersaudara anggota death eater telah ditempatkan di sini untuk turut menjadi staff pengajar.
Mereka berdua selalu mengincar kami semua yang dianggap sekutu Harry Potter. Ada banyak murid Slytherin kelas enam dan tujuh diangkat menjadi Prefek, sebagai akibat kuasa prefek dari asrama lain dilucuti dan dialihkan ke mereka semua. Jadi saat ini tidak ada satupun asrama Ravenclaw, Hafflepuff, dan Gryffindor yang memiliki prefek.
Terlebih saat ini, Draco yang menjadi ketua murid menghilang dan sudah beberapa hari tidak kelihatan. Ketua murid permpuan, Pansy mencurigai kami dan mengatakan pada seluruh Slytherin bahwa kami yang menyekap Draco. Jadi mereka berusaha membuat kami membuka mulut tentang Draco" begitulah kira-kira penjelasan Neville beserta beberapa tambahan dari beserta teman-teman lainnya.
Setelah penjelasan dari Neville, Harry ditemani beberapa rekan dari Ravenclaw bersiap dan mengikuti Neville. Neville membuka lemari yang berwarna biru di pojok ruangan, lalu menunjukan pintu yang ada di bagian belakang lemari itu. "Jalan yang ada di belakang lemari ini selalu berubah setiap saat, kami juga tidak tahu kemana jalan ini akan membawa kalian. Yang pasti jalan keluar akan berada di dekat menara Ravenclaw"
Harry dan lainnya segera memasuki lemari tersebut, beberapa saat setelah memasuki jalan di belakang lemari, mereka menerima kabar dari Galeon kalau Fred dan George serta anggota Dumbledore's Amy lainnya sudah tiba di Hog's Head Inn dan sedang menuju ke Hogwarts.
Harry, Cho, Luna, Michael, dan juga Terry, akhirnya tiba di ujung jalan. Mereka berlima memperhatikan bahwa jalan di hadapan mereka bercabang. Sebelum mereka memutuskan untuk memilih jalan yang kiranya akan membawa mereka ke Ravenclaw. Harry lalu melihat pada langit-langit ada petunjuk jalan. "Hafflepuff belok ke arah kiri. Gryffindor lurus. Ravenclaw belok ke arah kanan". Karena itu mereka mengambil jalan yang ke arah kanan sesuai petunjuk yang didapatkan. Akhirnya, jalanan di depan mereka berakhir, dinding di hadapan mereka tertutup oleh kayu. Terry yang kebetulan berjalan paling depan mencoba mendorong dan mengeser penghalang mereka, sementara yang lain bersiap dengan tongkat di tangan. Akhirnya penghalang kayu itu berhasil didorongnya ke samping secara perlahan hampir tanpa suara. Setelah mengintip, ternyata mereka rupanya sudah tiba langsung di ruangan rekreasi Ravenclaw. Anak-anak Ravenclaw yang kebetulan ada di ruangan rekreasi terkejut melihat kedatangan mereka dari atas perapian. Namun karena yang masuk teman-teman mereka sendiri, mereka tidak membuat keributan apalagi Terry juga memberikan kode agar jangan berisik.
Di ruangan itu, semua anak menyambut kedatangan teman-teman mereka dan Harry Potter dengan antusias. Ada yang baru turun dari kamar, beberapa menyalami, ada yang saling melepas rindu. Sementara itu, Cho mengandeng tangan Harry, mengajaknya ke dekat pintu masuk dan menunjukan tempat Patung Rovena Ravenclaw berada. Cho menunjukan diadem yang ada di bagian kepala patung. Harry lalu mendekati patung itu, lalu naik ke atas meja yang ada di sampingnya, memanjat naik ke atas patung. Setibanya di atas patung, Harry memperhatikan dengan seksama diadem yang dikenakan oleh Ravena Ravenclaw. Harry mengerutkan kening, dia sepertinya pernah melihat diadem itu di suatu tempat. Dia mencoba berpikir
"Aku sepertinya pernah melihatnya, beberapa waktu lalu" pikir Harry.
Tak lama, masih diatas patung Harry merasakan seperti ada lampu dinyalakan di kepalanya, Harry lantas berseru, "Aku sudah ingat dimana aku pernah melihat diadem ini" seru Harry, dan semua segera mendatanginya. Setelah Harry turun, mereka berunding sejenak, lalu keluar dari ruangan rekreasi.
Begitu pintu membuka, di hadapan mereka Carrow bersaudara, Alecto dan Amycus sudah menghadang.
"Kena kau Potter, pangeran kegelapan akan segera mengunjungimu" kata Alecto, sementara saudaranya mengarahkan tongkatnya dengan cepat, melucuti tongkat mereka yang berada paling depan. Tongkat Cho, Terry, dan Michael sempat terlucuti, sementara Harry dan Luna yang sudah terbiasa berhadapan dengan death eater sebelumnya mampu menghindar dan membalas. Harry sempat membuatkan mantera pelindung untuk Cho dan Michael, sementara Terry terkena Flippendo dan menghantam dinding. Luna berhasil melucuti Alecto sementara Harry berduel dengan Amycus. Beberapa anak Ravenclaw lainnya hanya menonton dengan bingung, mereka sepertinya tidak berani ikut menyerang Carrow. Mungkin mereka takut terkena detensi karena menyerang guru. Tanpa diduga McGonagall datang dan berteriak,
"Hentikan semua! Apa yang terjadi?
Pertarungan segera berhenti dan Carrow bersaudara menjelaskan kalau mereka hendak menangkap Potter, rupanya Carrow tidak menduga kalau McGonnagal mendadak marah dan menyerangnya dengan tiba-tiba tanpa ada diduga sehingga Alecto pingsan. melihat itu Amycus hendak membalas menyerang McGonagall, namun tongkat Harry dan Luna sudah menerbangkan tubuhnya menghantam tembok, menghancurkan baju besi yang ada di dekatnya. Kerumunan Ravenclaw bersorak-sorak melihat Carrow bersaudara pingsan. McGonnagal segera mengikat mereka dengan tali sihir yang keluar dari tongkatnya.
Professor McGonagall lalu meminta penjelasan dari Harry. Segera Harry memberi penjelasan singkat bahwa dia hendak mencari dan menghancurkan Horcrux sesuai permintaan almarhum Dumbledore. Sementara Harry menjelaskan, tiba-tiba kepalanya sangat sakit, dia jatuh terduduk sambil memegang bekas lukanya. Luna mendekat, tangannya sempat menyentuh kepala Harry sebelum Harry berteriak, "Voldemort akan menyerang Hogwarts, Aku lihat Voldemort akan menyerang Hogwarts".
Mendengar itu Professor McGonagall segera mengambil tindakan. Dia meminta beberapa anak Ravenclaw yang di dekatnya untuk menggumpulkan semua murid di aula besar, termasuk dari asrama lainnya.
"Mr. Potter, lanjutkan misimu. Serahkan lainnya padaku" kata Professor McGonagall pada Harry.
Harry kemudian bangit berdiri, memisahkan diri diikuti oleh Cho. Mereka berdua lari menaiki tangga, menuju ke ruang kebutuhan. Setibanya di lorong tempat ruangan kebutuhan berada, Harry berjalan mondar-mandir terlihat seolah memikirkan sesuatu sambil berbisik-bisik. Setelah beberapa kali bolak balik, sebuah pintu muncul. Mereka berdua segera menghampiri dan membuka pintunya.
Mereka berdua melihat ruangan yang sangat besar, mungkin hampir seukuran sepuluh lapangan Quitditch yang dijadikan satu. Dengan dinding-dinding tinggi yang terdiri dari tumpukan berbagai benda yang rupanya disembunyikan oleh ratusan murid Hogwarts.
"Kurasa ada di dekat sini…"kata Harry sambil mengajak Cho mengikutinya.
Mereka berdua beriringan, berjalan dengan cepat melalui gang dan lorong yang sempit. Di samping mereka tampak berbagai botol berisi cairan hijau kebiruan, botol firewhiskey, serta botol minuman lainnya. Tak ketinggalan jubah dan topi, syal dan sepatu naga, peti kayu dan kursi, buku-buku tebal berdebu, berbagai macam senjata, juga berbagai sapu ada di sekeliling mereka. Harry diikuti Cho masuk semakin jauh ke dalam kumpulan lemari dan rak yang rupanya membentuk labirin. Dia berusaha mengenali sesuatu yang dapat diingatnya. Akhirnya Harry melihat lemari besar yang pintunya meleleh, tempatnya menyimpan buku Ramuan tahun lalu. Dia membuka pintu lemari, pada bagian atas lemari terdapat patung penyihir jelek yang memakai wig dan sesuatu yang terlihat seperti tiara kuno berwarna putih keperakan. Harry segera menghampiri, mengarahkan tangannya hendak menyentuh tiara tersebut sementara Cho memegang lengan Harry yang satu lagi dengan erat.
"Tahan, Potter!"
Gerakan Harry terhenti, kepalanya menoleh dan melihat Draco, Crabbe dan Goyle sudah berdiri di belakangnya berdampingan, dua tongkat yang mengarah pada Harry.
"Jadi kenapa kalian bertiga bersembunyi di sini, tidak bersama Voldemort?" tanya Harry.
"Bersembunyi katamu?" cemooh Goyle. "Kami akan mendapat penghargaan dengan membawa dirimu padanya" lanjut Crabbe.
"Bagaimana cara kalian membawa aku?" tanya Harry
"Kami tentunya akan membuatmu pingsan dahulu" kata Goyle
"Rencana yang bagus" kata Harry dengan nada kagum.
"Memangnya kalian bisa membuat aku pingsan?"
Harry mundur, tangan kanannya menggegam tangan Cho, menariknya mundur. Sementara tangan kirinya masuk ke saku celananya, menyiapkan tongkatnya. Harry bergeser melindungi Cho dengan tubuhnya. Goyle menyerang Harry "Stupefy!"
Harry menghindar dengan mudah "Kau perlu sekedar lebih dari Stupefy untuk menangkapku" ejek Harry.
Rupanya Crabbe merasa panas disindir oleh Harry, dia mengarahkan tongkatnya ke belakang Harry, pada tumpukan barang setinggi hanpir 50 kaki yang terdiri dari kumpulan lemari, kopor, dan buku serta jubah dan berbagai sampah tak jelas "Descendo!"
Tumpukan mulai bergetar, lalu barang-barang di tingkat teratas mulai berjatuhan, tumpukan itu ambruk ke gang di belakang Cho.
"Cho, awas! Lari cepat!" teriak Harry sambil menarik Cho menjauh sementara tongkatnya mengarah ke Crabbe "Expelriamus!"
Cho segera lari diikuti oleh Draco dan Goyle, sementara Crabbe membeku sesaat setelah kehilangan tongkatnya. Dia baru tersadar setelah ada botol pecah di dekat kakinya, dan langsung berbalik kabur menjauh. Semuanya berusaha menghindar ambruknya sampah yang akan menimpa mereka. Sebelum tumpukan itu menimbun lemari tempat diadem berada, Harry segera menyambar diadem dari kepala patung lantas berlari menjauhi lemari yang langsung ambruk tertimpa gunungan sampah. Sementara itu Cho telah menemukan sapu terbang, dia tanpa berpikir panjang segera mengambil dan menaikinya, menghindari jatuhnya lemari-lemari yang mulai ambruk bak kartu domino. Dia berusaha mencari Harry dari atas. Rupanya sapu yang diambil Cho adalah sapu yang sangat baik, meski sudah tua, namun tetap lincah dan dapat melaju dengan cepat dalam sekejap. Rupanya ini Silver Arrow pikir Cho sambil membaca tulisan yang agak kabur di gagang sapu,
"Pantas saja sangat lincah" pikir Cho.
Draco melihat Harry berlari dibelakangnya, mengarahkan tongkatnya pada Harry, "Epleriamus" dan diadem terlepas dari tangan Harry, terlempar ke atas lemari, memantul ke cermin, dan jatuh ke lantai. Diadem itu berusaha di tangkap oleh Goyle, namun karena terburu-buru, diadem itu tertendang oleh Crabbe dan kembali melayang. Cho tanpa diduga muncul dari atas, menukik bak seeker melewati berbagai tumpukan barang yang berjatuhan dan berusaha mengapai diadem tersebut, usahanya hampir berhasil ketika Draco menembakan beberapa mantera ke arahnya. Cho berhasil menghindari serangan itu dan Diadem berhasil diambil oleh Goyle yang ternyata sudah mendapatkan sapu juga.
Goyle tertawa penuh kemengangan sambil mengangkat diadem itu dalam gegaman tangannya. Harry terbang mendekat melihat kejadian itu. "Expelriamus"
Diadem kembali terlontar, dan Cho dalam sekejap berhasil menangkap diadem itu dengan kelincahannya mengendarai sapu sebagai seeker. Goyle menjerit marah karena Cho berhasil merebut diadem dari tangannya. Lalu kembali dia mengarahkan tongkatnya ke arah Cho, tangannya bergerak membentuk suatu pola, Draco sempat menjerit kepada Goyle.
"Jangan lakukan itu. BODOH!"
Tapi terlambat, "Fiendfyre" sudah terucapkan dari mulut Goyle, dari ujung tongkat Goyle muncul api kemerahan berbentuk seperti ular yang panjang, yang lalu membesar membentuk naga dan mendatangi Cho. Cho terkejut melihatnya, namun dia segera mempercepat sapunya menjauh. Naga Api itu makin membesar dan mengejar Cho, badai api segera terbentuk, membakar semua yang dilewatinya, dari lemari, rak kayu, sapu, buku, jubah, dan segala yang ada di hadapannya. Cho terbang melewati berbagai tumpukan lemari besar dan kecil, beberapa tiang mulai terbakar dan langit-langit tersambar api. Tak butuh waktu lama buat badai api untuk membakar setengah dari isi ruangan. Semua berusaha melarikan diri ke arah pintu, namun pintu tidak terlihat.
Melihat itu, Harry lantas mengeluarkan sapu dari tas yang dibawanya dan terbang menjauh, menyusul Cho.
Tanpa diduga, rupanya Crabbe rupanya berhasil mencegat Cho, dia sempat naik ke atas sebuah lemari dan menerjang ke arah Cho, Cho terkejut dan tak sempat menghindar. Tangan Crabbe berhasil menarik jubahnya, Cho terjatuh dari sapunya dan diadem terlepas dari tangannya. Badai Api sudah di hadapannya saat Cho bangkit, dia membeku tak berkutik. Teriakan Harry membuatnya tersadar, tangan Harry menyambar lengan Cho dan menariknya naik ke atas sapu. Namun api sempat membakar sebagian sepatu dan jubahnya. Cho berteriak-teriak kesakitan. Harry berusaha mengendalikan sapunya dengan satu tangan sementara tangan satunya megang Cho supaya tidak jatuh. Teriakan Cho rupanya membuatnya panik, Harry akhirnya hanya menjaga keseimbangannya dengan kaki saja, sementara tangan satunya berusaha memadamkan api yang membakar tubuh Cho dengan Aquamenti namun tidak berhasil. Dengan tubuh Cho yang setengah terbakar Harry melihat pintu terbuka dikejauhan, segera Harry mengarahkan sapunya ke pintu. Api mulai merayap naik, membakar kaki Cho, apinya bahkan juga sudah mulai membakar jubah Harry. Diadem yang tadi sempat dipegang Cho tak terlihat, mungkin jatuh entah kemana, namun Harry sudah tidak memikirkannya lagi. Dia sungguh panik melihat Cho berteriak kesakitan, apalagi ditambah teriakan kesakitan dari arah belakangnya dan asap hitam berbentuk wajah yang sangat menyeramkan di tengah-tengah api yang makin meluas dengan cepat. Harry benar-benar tidak memperdulikan diadem lagi, dia lebih kuatir dengan keselamatan Cho.
Harry akhirnya berhasil mencapai pintu keluar. Pintu ruang kebutuhan segera menutup begitu dia sudah tiba di luar. Pintu itu rupanya sangat kuat, karena badai api tidak merembet keluar dari ruangan. Harry jatuh terguling dari sapunya sementara tangannya melindungi kepala Cho, tangan satunya masih merangkul pinggang Cho agar tak terjatuh. Dia tidak memperhatikan api yang juga mulai membakar jubahnya. Keduanya bergulingan di lantai, menghantam tembok. Luna dan Katie yang rupanya sudah tiba dan ikut menunggu di luar segera mendekat. Mereka membantu Harry mematikan api dari jubah Cho dan Harry. Mereka berhasil memadamkan apinya, lalu Katie mengambil Cho dari tangan Harry dengan hati-hati. Luna segera melepas jubah luarnya mentransfigurasi menjadi usungan dan Katie segera memindahkan tubuh Cho ke usungan.
"Kau tak apa Harry?" tanya Luna cemas
"Aku tak apa, tapi bagaimana kondisi Cho?" tanya Harry
"Serahkan saja Cho pada kami, kami yang urus. Kau harus segera menghancurkan Horcrux bukan?" kata Katie
"Baik Katie, kupercayakan Cho pada kalian".
"Kita harus segera membawanya ke Madam Pomfrey" kata Luna sambil menerbangkan usungan Cho dengan Wingardium. Dia bersama Katie berbalik, hendak mengantar Cho menuju ke rumah sakit.
Harry melihat Draco terduduk di pojokan, sendirian dan terbatuk-batuk. Beberapa tongkat mengarah padanya. Goyle dan Crabbe tak terlihat, sepertinya mereka belum berhasil keluar dari ruangan kebutuhan. Harry juga melihat ada beberapa anggota Dumbledore's Army mulai berdatangan, ada pula oleh beberapa anggota Ordo of Phoenix. Dia sempat melihat Lupin dan Kingsley, bahkan Ibu Ron, Molly Weasley.
Sebelum mereka sempat menegurnya, Harry sudah bangkit berdiri, berkata pada Hermione yang mendekat di sisinya "Diadem, tadi terbakar dan sepertinya sudah hancur. Hanya tinggal piala ini saja, kita harus segera turun ke ruangan tempat Balisiks".
Teman-temannya kemudian hendak menegur dan memanggilnya, namun Harry sudah berlari ditemani oleh Hermione yang melayang di sampingnya. Harry menuruni tangga, hendak menuju ke toilet perempuan tempat Myrtle berada.
Harry baru saja turun dua lantai, saat di depan tangga seberkas cahaya biru hampir mengenainya. Rupanya di lantai ini telah pecah perang, beberapa death eater sudah berhasil masuk, sepertinya menerobos dari jendela. Beberapa murid yang juga anggota Dumbledore's Army dan beberapa anggota Ordo of Phoenix berhadapan dengan para death eater tersebut. Jumlah death eater sepertinya cukup banyak, mereka masih berdatangan dari jendela yang pecah. Beberapa murid Hogwarts tampak tergeletak di lantai, Harry tidak tahu apakah mereka masih hidup atau tidak.
Sesaat Harry merasakan kantung jubahnya menghangat, dia segera mengambil Galeon yang ada di sana, wajahnya memucat melihat Galeon itu. Tanggannya menggenggam dengan erat.
"Cho sudah tewas"
Harry menjerit sedih membaca pesan pada Galeon itu. Dia melemparkan galeon itu pada death eater yang baru saja masuk dari jendela, Rupanya lemparannya sangat jitu dan keras karena death eater itu berteriak kesakitan memegang wajahnya, dan sinar merah dari tongkat Harry segera melemparkannya kembali keluar jendela.
Sambil berteriak, Harry menggeluarkan tongkatnya yang satu lagi. Kini dia tidak hanya memegang satu tongkat, melainkan dua, masing-masing di kedua tangannya. Dia segera melemparkan berbagai mantera penyerangan bahkan crutio dan sectum sempra pada death eater yang terlihat olehnya. Segera saja kedudukan berubah, kini para death eater yang kelabakan mendapati serangan Harry yang tak terduga serta membabi buta dan jitu. Tak sampai semenit semua death eater yang ada berhasil mereka lumpuhkan, sebagian besar berkat serangan Harry yang luar biasa.
Harry jatuh terduduk, mengepalkan tangannya. Sementara rekan-rekan keheranan melihat kondisi Harry. Ginny yang kebetulan ada di sana, maju mendekatinya, merangkul kepala Harry sambil menatap Hermione. Harry meraung dalam sedih. Hermione hanya dapat melihatnya dengan iba, dia tentunya tak dapat berbuat apa-apa dengan kondisinya seperti itu. Dia mendekat, mengarahkan tangannya pada rambut Harry, tangannya menembus kepala Harry.
Fred, George, Bill mendekat. Hermione menjelaskan kalau Harry terpukul karena tewasnya Cho. Semuanya jadi merasa iba dan prihatin melihat Harry kehilangan orang-orang yang dekat dengannya. Sejak dari Sirius, Hermione, dan kini Cho.
