SLEEP WITH THE DEVIL - SANTHY AGATHA - BAB 11
Pair: Jeno/Renjun, dll
YAOI, OOC, MPREG
Cerita ini asli milik kak Santhy Agatha, aku hanya remake ok?
Happy Reading guys ~~
.
BAB 11
"Tidak!" Renjun berseru. Seketika wajahnya pucat pasi, tangannya langsung melindungi perutnya. Renjun tidak tahu bagaimana perempuan hamil, dia tidak punya pengalaman. Tetapi begitu sadar bahwa ada bayi yang tumbuh dan berkembang di dalam tubuhnya, Renjun langsung tahu bahwa ada ikatan di antara mereka, bahwa seorang ibu secara alami akan melindungi anaknya. "Kau harus membunuhku dulu kalau kau berniat melaksanakan niatmu itu Jeno Lee! Aku tidak tahu kegilaan apa yang ada di dalam otakmu, tapi kau seharusnya malu. Anak ini adalah darah dagingmu sendiri, dan kau berniat membunuhnya bahkan sebelum dia tumbuh!"
Jeno menatap Renjun dengan pandangan kesakitan, "Aku tidak bisa Renjun, aku tidak bisa kalau kau hamil!," lelaki itu mengacak rambutnya dan berdiri menyeberangi ruangan, menuangkan brandy untuknya dan meneguk cairan keras itu sekali teguk.
"Oh, apa kau malu karena aku laki-laki yang bisa hamil? Kau akan malu pada orang-orang, begitu?!" Mendengar itu Jeno membanting gelasnya dan menatap Renjun, matanya menyala-nyala,
"Bukan tentu saja, aku malah bersyukur, hanya saja.. Saeron….. dia sempat hamil kau tahu… kemudian keguguran…"
Renjun tercekat ketika akhirnya topik itu dilepaskan oleh Jeno. Nama Saeron seakan tabu untuk diucapkan ketika Renjun masuk ke rumah ini sebagai Nyonya Lee, atau Tuan Lee? Dan sekarang Jeno sendiriah yang mengangkat topik itu ke permukaan.
"Tetapi kondisiku dan Saeron berbeda, aku sehat-sehat saja… aku lebih kuat karena aku laki-laki."
"Yang tidak orang lain ketahui adalah Saeron hamil lagi setelah keguguran itu," Mata Jeno nyalang, ingatannya kembali ke masa lalu, seakan tidak menyadari ada Renjun di ruangan itu, "Aku tidak tahu bagaimana caranya dia membuatku lengah dan hamil lagi. Demi Tuhan aku sudah berusaha agar dia tidak hamil lagi, aku bahkan sudah membuat janji temu dengan dokter untuk operasi vasektomi. Tapi Saeron berhasil hamil lagi dan dengan keras kepala dia menyimpan rahasia itu dariku dan semua orang. Takut kalau kami mengetahuinya dia akan meminta kami menggugurkannya," Nafas Jeno tercekat, "Ketika dia meninggal seperti tidur di atas ranjang, dokter baru mengetahui dan mengatakan padaku bahwa Saeron sudah hamil tiga bulan. Kehamilannya itulah yang memperburuk kondisinya dan membuatnya semakin lemah….. kehamilan itu yang membunuhnya!"
"Tapi aku tidak sama dengan Saeron, Jeno," Renjun menyela, berusaha mengembalikan Jeno ke masa kini, "Aku sehat dan kuat dan bayi ini tidak akan membebaniku."
"Aku tidak mau kau sakit karena kehamilanmu!" Jeno menyela marah, dan ketika menyadari wajah Renjun memucat karena suaranya yang meninggi, Jeno memperlembut uaranya, tatapannya memohon, "Aku minta padamu Renjun, gugurkan bayi itu. Tidak akan pernah ada bayi di rumah ini, tidak akan pernah ada bayi di pernikahan kita. Aku tidak menginginkan bayi."
Dada Renjun bergemuruh oleh perasaan yang bercampur aduk, teganya Jeno dan betapa egoisnya dia! Betapapun Jeno merasakan trauma dan ketidaksukaan yang mendalam atas kehamilan Renjun, seharusnya lelaki itu sadar kalau yang ada di perut Renjun ini adalah darah dagingnya, anaknya! Sebegitu tidak berharganyakah Renjun di mata Jeno sehingga dia harus mengorbankan janin yang dikandungnya atas nama kenangan Jeno kepada Saeron?
"Tidak Jeno," Renjun menegakkan dagu, menahankan sakit hatinya yang meluap-luap. "Aku tidak akan pernah mengugurkan bayi ini apapapun alasannya, meskipun kau hanya menganggapnya sampah…," Renjun menatap Jeno dengan tatapan terluka yang dalam, "Meskipun kau melupakan fakta bahwa dia ada karena dirimu juga…dia adalah anakku, dan sekarang dia bertumbuh di dalam diriku. Seperti yang kubilang kepadamu tadi, kalau kau memaksakan kehendakmu kepadaku, kalau aku sampai kehilangan anak ini karena kesengajaanmu, maka yang kau dapatkan adalah kematianku."
Jeno tertegun mendengar ancaman Renjun itu, dia menatap Renjun dan menyadari laki-laki itu terluka. Jeno terlalu terburu-buru mengucapkan isi hatinya, dan itu melukai Renjun. Dengan frustrasi diacaknya rambutnya setengah marah,
"Dengar Renjun, jangan kekanak-kanakan, kalau kau hanya ingin menentangku…"
"Aku tidak ingin menentangmu!" Renjun setengah berteriak, kali ini emosinya pecah dan berderai, "Aku tidak peduli perasaanmu atas masa lalumu dengan Saeron, tetapi aku sekarang ada di sini, hidup dan bernafas saat ini. Dan kau memaksaku untuk menggugurkan anakku! Menurutmu apa yang harus kulakukan selain melindungi anakku sekuat tenaga? Anakmu juga!"
Anakmu juga. Kata-kata itu terasa menusuk dada Jeno hingga membuatnya mengernyit. Anaknya juga…. Tetapi anak itu bisa menjadi pembunuh, Jeno pernah mengalaminya sekali. Dan jika dia harus mengalaminya
lagi…
"Mungkin nanti kau akan berubah pikiran."
"Tidak akan Jeno." Renjun menyentuh kepalanya yang mulai berdenyut-denyut lagi. Dan Jeno menatapnya dengan cemas, "Apakah kau pusing lagi?"
"Ya," Renjun mengerang dan memijit kepalanya.
"Aku akan mengambilkanmu air," Jeno menuang air itu ke dalam gelas dan duduk ditepi ranjang, lalu menyerahkan gelas itu kepada Renjun, "Ini… minumlah"
Renjun menerima gelas itu dan meneguknya. Setelah selesai Jeno meletakkan gelas itu kembali di tepi ranjang.
Mereka diam di sana dalam keheningan, saling bertatapan. Biasanya suasana tidak secanggung ini. Biasanya setiap malam Jeno langsung mengajaknya masuk kamar dengan bergairah yang berlanjut dengan percintaan yang luar biasa dan mereka langsung tertidur sampai pagi. Tetapi sekarang keadaan berbeda. Jeno tidak bisa memecahkan keheningan dengan bercinta. Dan pembicaraan tadi ternyata telah menguras emosi mereka berdua.
Renjun-lah yang pertama kali memecah keheningan, "Kau ingin tidur?"
Jeno menatap ke sisi tempat tidur yang kosong. Sisi miliknya. Dan tiba-tiba merasa lelah. Renjun menggeser tubuhnya memudahkan Jeno untuk berbaring. Lelaki itu berbaring di sebelahnya dengan tenang tanpa suara, hanya suara berdesir kain yang bergesekan.
Lama mereka berdua berbaring dengan mata yang nyalang, sibuk dengan pikirannya sendiri-sendiri. Sampai akhirnya mereka lelap tertelan tidur.
Pagi harinya suasana begitu dingin, Jeno seolah tidak mau membahas percakapan mereka semalam, tetapi walaupun begitu, Renjun tetap waspada. Mengingat sifat Jeno, tidak menutup kemungkinan lelaki itu akan melakukan segala cara untuk melaksanakan keinginannya. Dengan memasukkan obat penggugur di minumannya misalnya, siapa yang tahu?
Mengingat lelaki itu pernah membiarkan minumannya dicampuri obat oleh Haechan. Renjun mengelus perutnya dan mengernyit sedih, meskipun bayi ini tidak diinginkan oleh ayahnya, meskipun perasaannya sekarang terluka karena Jeno lebih mementingkan kenangannya akan Saeron daripada dirinya yang sekarang ada dan hidup di depannya, Renjun harus berusaha tegar dan kuat, demi anak ini.
"Anda akan mempertahankan anak itu kan?" suara Haechan menyentakkan Renjun dari lamunannya. Lelaki itu sedang memasuki ruangan yang sama dengan Renjun.
Renjun menatap Haechan dan mencoba tersenyum, Haechan sangat baik dan sopan padanya ketika dia memasuki rumah ini. Haechan pulalah yang menjelaskan kepadanya kebenaran dan merubah semua pandangannya akan Jeno.
"Aku akan menjaganya dengan nyawaku. Kau harus berhadapan denganku dulu kalau kau ingin mencelakai anak ini."
Senyum terukir di bibir Haechan, "Tidak nyonya, em, tuan, Tuan Jeno tidak pernah menyuruh saya mencelakai anak itu. Bahkan jika tuan Jeno menyuruhpun, saya akan menolak, anak itu adalah keturunan Lee yang harus saya hormati pula." Kelegaan meliputi hati Renjun, setidaknya ada orang yang mau membela anaknya. Kemudian Renjun menatap Haechan dengan ragu,
"Apakah kau tahu bahwa Saeron meninggal karena dia mencoba mengandung untuk kedua kalinya?"
Haechan menatap Renjun hati-hati dan menganggukkan kepalanya, "Saya tahu, setelah kematian nyonya Saeron. Hal itulah yang menghancurkan Tuan Jeno, bahwa dia sebenarnya berkontribusi dalam kematian Nyonya Saeron. Nyonya Saeron bisa hidup lebih lama seandainya tidak hamil….," Haechan menghela nafas panjang dan menatap Renjun lembut, "Saya harap Anda memahami perasaan Tuan Jeno."
"Dia selalu menganggapku sebagai pengganti Saeron, dia menganggapku sama seperti Saeron," Renjun memejamkan matanya pedih, "Anak ini anaknya, tetapi dia menyuruhku mengugurkannya,"
Haechan menatap perut Renjun dan tatapannya melembut di sana, "Saya yakin Tuan Jeno tidak pernah menganggap Anda sebagai pengganti Nyonya Saeron. Jika dia hanya menganggap Anda sebagai boneka pengganti, dia tidak akan menunjukkan emosinya kepada Anda. Anda tidak akan diperlakukan olehnya dengan begitu hormat, yang bisa saya katakan, apa yang dilakukan Tuan Jeno adalah karena dia peduli kepada Anda."
Peduli kepadanya? Bagaimana bisa? Jeno menyuruhnya menggugurkan anaknya. Bagaimana bisa itu disebut kepedulian?
"Tuan Jeno menginginkan anak itu digugurkan karena dia mencemaskan keselamatan Anda. Dia takut Anda akan celaka dan meninggal seperti Saeron, dia takut kehilangan Anda."
Renjun menatap Haechan dengan tak percaya, "Dia tak mungkin takut kehilanganku."
"Percayalah kepada saya," Haechan tersenyum lembut. "Tuan Jeno memang tidak pernah pandai menunjukkan perasaannya, tetapi kalau memperhatikan Anda akan tahu,"
Haechan membungkukkan tubuhnya, lalu berpamitan dan meninggalkan Renjun dalam keheningan.
"Apakah kau sudah berubah pikiran tentang usulanmu semalam?" Renjun menatap Jeno yang baru saja memasuki kamar, tidak biasanya Jeno memasuki kamar sedemikian larut, dan lelaki itu tampak lelah.
Jeno menatap Renjun sekilas, lalu melepas pakaiannya dan masuk ke kamar mandi, ketika keluar dari sana, lelaki itu tampak segar dengan piyama hitamnya,
"Aku tidak mau membahasnya lalu membuatmu marahmarah sepanjang malam," dengan kasar Jeno menggosokkan handuk ke rambutnya yang basah, kemudian melempar handuk itu dan menatap Renjun, "Kau pasti akan keras kepala dan tetap pada pendirianmu, mempertahankan anak itu."
"Tentu saja, aku tidak akan menerima kemauan konyolmu untuk menggugurkan anak ini karena anak ini tidak bersalah."
"Kita akan berdebat lagi malam ini ya," Jeno mendesah lelah, "Aku lelah Renjun, yang aku tahu, anak ini akan melukaimu lalu membunuhmu."
"Jeno," seru Renjun setengah marah, "Dia hanya janin kecil yang tidak berdaya!"
"Oke!," lelaki itu membentak, tampak tak tahan dengan semua perdebatan mereka, "Silahkan, lanjutkan kehamilanmu itu… tetapi..," mata Jeno menajam, "Kalau sampai kau kenapa-kenapa gara-gara kehamilan ini, aku tidak akan berkompromi."
Jeno mengalah. Renjun terpana, sebelumnya Jeno tidak pernah mengalah secepat itu. Renjun tadi sudah mempersiapkan argumen yang panjang, pembelaan mati matian, bahkan ancaman putus asa menyangkut kehamilannya ini. Dan Jeno semudah itu mengalah kepadanya.
"Kenapa?" Jeno menatap Renjun marah, tampak tak nyaman dengan tatapan takjub Renjun,
Renjun langsung mengalihkan pandangannya dengan pipi merona, "Tidak-tidak ada apa-apa"
"Tetapi aku punya satu syarat," gumam Jeno tenang, seolah-olah baru mengingatnya.
Renjun terkesiap dan menatap Jeno waspada, dan reaksi itu membuat Jeno menahan tawanya.
"Tenang Renjun, kau tegang seperti senar yang akan putus, aku tidak sedang akan menjatuhkan bom ke kepalamu."
"Apa syaratmu?"
Pandangan Jeno berubah sensual, "Aku tidak mau kehamilan itu menggangguku jika aku menginginkanmu."
Pipi Renjun memerah, tersipu sekaligus marah atas kata-kata egois Jeno. Jangan-jangan itu adalah salah satu usaha Jeno mengganggu kehamilannya…
"Baik," Renjun mendongakkan kepalanya, mencoba terlihat menantang, "Asalkan kau melakukannya dengan lembut dan tidak melukai bayiku."
Jeno hanya menganggukkan kepalanya, ketika dia akhirnya menatap Renjun, matanya menyala dengan sensual, "Apakah kau masih pusing seperti semalam?"
Renjun tidak pusing lagi. Tetapi kearoganan Jeno yang tersirat itu membuatnya ingin menantangnya. Jeno pasti akan bercinta dengannya ketika Renjun sudah tidak pusing. Dan Renjun tidak akan bisa. Tidak akan mampu menolak pesona gairah Jeno.
Dengan berpura-pura dia memegang kepalanya, mengernyit, "Sebenarnya aku masih pusing."
"Benarkah?" Jeno menatapnya tajam bercampur kecemasan, "Kau sudah minum obat penambah darah dari dokter? Mereka bilang kau kurang darah"
"Sudah…," sedikit geli Renjun melirik Jeno, tetap berusaha berakting kesakitan.
Lelaki itu menatap Renjun lama dan intens, tampak menggertakkan gigi. Semula Renjun bingung kenapa, tetapi ketika dia melirik ke bawah, dia menyadari bahwa Jeno sudah siap, keras, dan bergairah di sana. Lelaki itu sudah begitu bergairah, dan Renjun tinggal bilang ya, lalu mereka akan bercinta di ranjang dengan penuh gairah seperti biasa… tetapi tidak! Renjun tidak akan membuat itu begitu mudah bagi Jeno, Renjun ingin menghukum Jeno karena hatinya masih sakit atas usulan Jeno untuk menggugurkan kandungannya.
"Aku pusing sekali," Renjun sengaja membuat suaranya terdengar lemah, "Aku mau tidur," Dengan gerakan sakit dibuat-buat Renjun mengangkat selimut ke bahunya dan membuat posisi tidur yang nyaman.
Jeno hanya berdiri sejenak di tengah ruangan itu dan menatap Renjun. Dia sudah dua hari tak bercinta dengan isterinya itu. Biasanya setiap hari. Dan itu semua karena kehamilan itu. Tapi mau bagaimana? Dia tidak mungkin memaksa Renjun yang sedang sakit kan?
Sedikit mendesah, merasakan kejantanannya yang begitu keras sampai terasa nyeri. Jeno melangkah ke ranjang dan membaringkan diri, tetapi Sialan! Dia tidak bisa tidur, gairah terlalu menggelegak di dalam dirinya, meminta dipuaskan. "Jeno," suara Renjun menggugah penyiksaan yang dialaminya.
"Apa Renjun?" Jeno menjawab kasar.
Diam-diam Renjun tersenyum mendengar nada tersiksa dalam suara Jeno. Rasakan kau, Tuan Jeno Lee yang arogan, soraknya dalam hati,
"Aku… aku pusing…, maukah kau memijit kepala dan pundakku?"
Mata Jeno menyala ketika menatap mata Renjun. Laki-laki ini menatapnya tanpa dosa. Tidakkah dia tahu bahwa permintaannya ini menambah penderitaan Jeno? Memijit Renjun? Dalam kondisi bergairah dan ingin dipuaskan seperti ini? Bagaimana Jeno bisa menahan diri, ketika jemarinya menyentuh kelembutan kulit Renjun di tangannya?
"Oke, berbaliklah," Jeno menggeram lagi. Renjun tidak pernah meminta tolong kepadanya, dan kalau Renjun melakukannya, itu berarti Renjun benar-benar kesakitan Jemari Jeno bergerak menyentuh kepala Renjun, ke helaian rambut seperti sutera yang terasa lembut di jemarinya. Helaian itu biasanya adalah tempat Jeno menenggelamkan kepalanya ketika dia mencapai orgasmenya yang luar biasa nikmat di atas tubuh isterinya…. Sial! Jangan pikirkan tentang itu, Man!
Jeno memijit dan seolah belum cukup siksaannya, selama proses itu, Renjun terus menerus mendesah keenakan karena pijatan Jeno. Bahkan kadang mengerang, persis seperti erangannya ketika Jeno mencumbunya, dan itu luar biasa menyiksanya. Kejantanan Jeno sudah berdenyut-denyut, dan Jeno merasa dirinya hampir meledak karena gairah, gairahnya kepada Renjun.
"Sudah cukup?"
"Aku masih sedikit pusing di sisi ini," Renjun memiringkan kepalanya, memamerkan pundaknya yang hangat dan halus, membuat Jeno ingin mengigit lembut di bagian lunak di sebelah sana…
Sial. Sial. Sial! Sambil terus memijit Renjun, Jeno menyumpah terus menerus dalam hati, Kemudian ketika Renjun tampak santai, Jeno melepaskan pijitannya dengan hati-hati.
Bagus. Renjun sudah tertidur. Sekarang mungkin dia akan mandi dengan air dingin, kalau tidak dia akan terbakar semalaman di atas ranjang ini. Menderita karena tak terpuaskan. Dengan tak kalah hati-hati, Jeno bergerak turun dari ranjang, hendak melangkah ke kamar mandi.
"Jeno."
Hampir saja Jeno mengerang mendengar panggilan Renjun, "Apa Renjun?" desis Jeno serak
"Sekarang aku sudah tak pusing lagi."
Hening.
Jeno tertegun sejenak, kemudian menyadari arti kata-kata Renjun, dia langsung membaringkan kembali tubuhnya di ranjang, sepenuh gairahnya.
"Bagus," bisiknya parau lalu membalikkan tubuh Renjun dan melumat bibirnya tanpa ampun, Gairahnya yang menggelegak tidak ditahan-tahannya lagi, Jeno menyentuh Renjun di mana-mana, menikmati kepemilikannya atas tubuh isterinya, menikmati betapa tubuh Renjun yang lembut dan hangat itu menggelenyar di setiap sentuhannya.
"Apakah aku akan menyakitimu?" Renjun tersenyum meminta pengertian, "Sedikit nyeri di bagian situ," desahnya ketika Jeno menatap dadanya yang sedikit berisi, mungkin karena kehamilanya ?
Jeno tidak mengatakan apa-apa, lelaki itu hanya mengecup ujung putingnya, lalu mamainkannya dengan lidahnya lembut, tangannya menelusur ke bawah dan menyentuh kejantanan Renjun yang sedikit menegang, menemukan bahwa Renjun sudah siap dan bergairah untuknya,
Dengan menahan dirinya, Jeno menindih Renjun dan menyatukan tubuhnya, berusaha menahan diri supaya berhati-hati, karena isterinya ini sedang hamil, Ya ampun!
Tubuh mereka menyatu, dan Jeno bergerak selembut yang dia bisa. Tetapi gairah menyala-nyala di seluruh aliran darahnya ketika akhirnya Renjun mencapai orgasme, membawanya juga terjun bebas dalam jurang kepuasan yang dalam.
Hubungan mereka membaik kembali meskipun sedikit kaku. Dan semakin bertambahnya usia kehamilannya. Renjun menyadari bahwa dia menyayangi suaminya. Ya, Renjun menyadarinya ketika dia merindukan Jeno saat lelaki itu tidak ada di sisinya. Astaga… merindukan Jeno Lee adalah hal terakhir yang ada di pikiran Renjun, tetapi itu memang terjadi.
Sembilan bulan telah berlalu, sekarang perut Renjun sudah benar-benar buncit dan gerakannya lamban. Renjun bahkan sudah tidak bisa melihat lututnya sendiri karena terhalang perutnya.
Dengan lembut Renjun mengusap perutnya, mungkin karena anak ini, mungkin juga karena perubahan hormon. Renjun tidak tahu, yang pasti setiap dia ada di dekat Jeno, perasaannya menjadi hangat.
Oh, Jeno tidak berubah. Masih sama, begitu dingin, kaku, dan menakutkan bagi para pegawai dan rekan-rekan kerjanya, sekaligus begitu penuh kasih sayang di ranjang. Gaya bercinta Jeno berubah sejak Renjun hamil,, bahkan ketika usia kehamilan Renjun beranjak makin tua, lelaki itu tidak menyentuh Renjun lagi. Dia hanya mengusap lembut rambut Renjun sebelum tidur. Dan meskipun masih belum kelihatan bisa menerima kehamilan Renjun, setidaknya Jeno terlihat mencoba berkompromi.
Benarkah Jeno sebenarnya mencemaskannya? Benarkah Jeno sebenarnya tidak menganggapnya sebagai boneka pengganti Saeron? Renjun tidak tahu. Memikirkan itu semua membuat dadanya terasa sesak. Teringat akan sikap Jeno selama kehamilannya. Lelaki itu memang bersikap lembut dan baik kepadanya, tetapi lelagki itu selalu berpura-pura bahwa kehamilan Renjun tidak ada.
Renjun tahu Jeno seperti memperhatikannya. Pernah di suatu siang, ketika Renjun membawa buku-buku yang berat untuk dibawa ke kamarnya, dari sekelebat matanya, Renjun tahu bahwa Jeno sudah akan berdiri untuk membantunya mengangkat buku-buku itu, tetapi tertahan karena Haechan sudah membantunya duluan. Pernah juga Renjun membaca buku tentang kehamilan dan persalinan di ranjang, tetapi Jeno bahkan tidak mau meliriknya dan berpura-pura tidur. Renjun juga teringat ketika usia kandungannya lima bulan, Jeno pernah memeluknya dalam tidur, mereka bercumbu siap bercinta, kemudian bayi itu menendang. Terasa kencang hingga menohok ke perut Jeno. Jeno langsung mundur, mengucapkan berbagai alasan dan beranjak pergi.
Sebegitu paranoidkah Jeno dengan kehamilannya? Sebegitu takutkah Jeno dengan bayi ini? Bukankah keberhasilan Renjun mengandung bayi ini hingga usia sembilan bulan tanpa permasalahan yang berarti sebenarnya sudah bisa membuktikan kepada Jeno bahwa Renjun adalah calon ibu yang kuat dan sehat?
"Padahal kau tidak tahu apa-apa, Nak," Renjun mengusap perutnya dengan sayang, "Maafkan ayahmu yang konyol itu."
"Tuan, ada yang ingin bertemu," Haechan tiba-tiba muncul di pintu, mengalihkan Renjun dari lamunannya.
Jaemin muncul di belakang Haechan, menggendong anak kecil yang begitu tampan, mungkin baru berusia dua tahun. Anak itu seperti malaikat dengan mata biru pucatnya yang menyala-nyala, mata Mark,
"Aku dengar tanggal kelahiran pangeran kecil ini sudah dekat, dua minggu lagi ya?," Jaemin masuk, meletakkan David dengan lembut di sofa dan memeluk Renjun. Sejak pernikahannya dengan Jeno, Renjun bersahabat erat dengan Jaemin, dan Jeno membiarkannya karena memang Jaemin adalah satu-satunya teman Renjun.
"Bagaimana kondisimu sayang?" mereka duduk di sofa, berhadap-hadapan, mata Jaemin menatap ke perut Renjun yang terlihat membuncit, "Kau harus banyak istirahat dan menjaga diri, awal-awal kehamilan adalah saat-saat yang paling penting."
Renjun menganggukkan kepalanya dan tersenyum, "Semoga anak ini kuat, aku hanya merasa pusing-pusing dan mual setiap saat." Jaemin tertawa, "Aku tidak pernah merasakanya Ren, tapi menurut buku yang kubaca di awal kehamilan bukan di akhir kehamilan," dengan sayang dia melirik putera pertamanya yang sekarang sudah melompat dari sofa dan asyik bermainmain di karpet dengan balok-balok yang dibawanya dari rumah, anak angkatnya, karena Jaemin bukanlah laki-laki special seperti Renjun, "Rahasianya ada pada teh mint dan biskuit asin, makan itu setiap bangun pagi dan kau akan bisa mengatasi morning sickmu, itu kata teman perempuanku yang pernah hamil."
"Terima kasih Jaemin," Renjun menyentuh lengan Jaemin, benar-benar tulus dengan ucapannya. Berhari-hari dilewatkannya bersama Jeno yang selalu bersikap bahwa bayi itu tak pernah ada di perut Renjun, kini rasanya begitu menyenangkan bisa bercakap-cakap berbagi keluhannya dengan teman yang mengerti dirinya.
Jaemin menatap Renjun prihatin, "Bagaimana dengan Jeno?" Jaemin tahu kisah tentang Saeron tentu saja.
Renjun mendesah,
"Dia bersikap seolah-olah anak ini tidak ada…. Dan dia… tidak pernah sekalipun mengatakan bahwa dia menyayangi aku.. aku jadi tidak yakin apakah aku hanya pengganti Saeron atau.."
"Renjun….," Jaemin menyela dengan lembut, "Kadang-kadang ada laki-laki yang tidak bisa mengungkapkan cinta dengan kata-kata. Kau sendiri, pernahkah kau mengungkapkan cinta kepada Jeno?"
"Tidak mungkin! Dia akan menggilasku begitu saja kalau aku mengatakannya," pipi Renjun merah padam. Jaemin tersenyum, "Dan apakah kau mencintai suamimu, Renjun?'
"Aku tidak tahu," Renjun memegang pipinya yang mulai terasa panas, "Perasaanku berubah,,,, dulu aku begitu membencinya, tetapi kemudian aku dihadapkan pada kenyataan demi kenyataan, bahwa dia bukan seperti yang aku kira… Lalu aku memandangnya dengan lebih baik… sekarang bahkan aku merindukannya ketika dia tidak ada, apakah itu cinta, Jaemin?" Senyum Jaemin melembut, "Aku pernah ada di posisi di saat aku bertanya-tanya tentang perasaanku, rasanya memang membingungkan Renjun. Kuharap kau menyadari perasaanmu terlebih dahulu sebelum kau meminta Jeno menjelaskan perasaannya."
Renjun menganggukkan kepalanya, kemudian serangan kram itu datang. Hanya sekejap seperti hantaman yang begitu keras. Ketika Renjun menggerakkan tubuhnya, hantaman itu terasa lagi. Lebih keras dan menyakitkan. Lalu dia merasakan basah, basah yang aneh.
Dia mendengar suara Jaemin yang terkesiap, dan mengikuti arah pandangan Jaemin, ke tengah pahanya….. di sana, merembes darah yang banyak menembus pakaiannya.
Wajahnya pucat pasi, apakah bayinya akan lahir lebih cepat dari tanggal perkiraan? Tetapi setahu Renjun proses kelahiran bayi tidaklah seperti ini, biasanya didahului dengan air ketuban yang pecah atau keluarnya darah…tapi bukan pendarahan seperti ini. Ketika merasakan hantaman rasa sakit yang terus menerus memukulnya, Renjun mengernyitkan matanya, darah itu terus mengucur, terus, dan terus hingga membasahi roknya, ya sejak kehamilanya semakin tua, Renjun terpaksa memakai rok agar terasa nyaman tentu saja. Ada sesuatu yang salah di sini!
"Oh Tuhan, Renjun, aku harus memanggil ambulance…" Haechan langsung datang dengan sigap, begitu pula para pelayan, tetapi ketika kesakitan yang begitu kuat menghantamnya untuk kesekian kalinya, Renjun tidak kuat. Kegelapan langsung menelannya, membuatnya tak sadarkan diri.
Ketika Jeno menerima telepon itu, dia sedang berada ditengah meeting penting. Dia langsung melupakan semuanya dan meluncur secepat dia bisa ke rumah sakit tempat Renjun katanya dibawa.
Terengah Jeno berlari ke ruang gawat darurat dan hampir bertabrakan dengan Haechan.
Napas Jeno terengah dan menatap Haechan yang tampak pucat dan cemas, Jeno melihat darah. Darah di lengan dan baju Haechan yang kebetulan berwarna putih,
"Kenapa ada darah di bajumu," suara Jeno bergetar, menahan perasaan cemas yang mulai menggelegak. "Tuan… tuan Renjun pendarahan.. saya menggendongnya…"
Pendarahan? Kenapa ada darah? Mau tak mau ingatan Jeno melayang ke masa bertahun-tahun lalu ketika Saeron mengalami keguguran, pendarahan yang sama, kesakitan yang sama.
"Di mana Renjun?!"
"Dokter masih menanganinya Tuan."
"Jeno," suara Jaemin yang lembut mengalihkannya, "Kondisi Renjun kritis, dokter bilang ada yang salah dengan posisi plasentanya, yang mengakibatkan pendarahan. Mereka sedang berusaha mengeluarkan bayinya."
"Bagaimana dengan Renjun?" suara Jeno bagaikan erangan menahan siksaan, "Renjun tidak sadarkan diri sejak dibawa ke ambulance, Jeno,"
Jaemin memandang Jeno cemas, "Mereka sedang berusaha di dalam sana," Jaemin menoleh pada ruang operasi di sudut dengan lampu merah yang menyala di atasnya, "Yang bisa kita lakukan hanyalah berdoa."
Berdoa? Jeno sudah lama tidak berdoa, dia pernah berdoa sebelumnya. Jiwanya yang kelam ini dulunya putih bersih. Percaya bahwa yang namanya Tuhan itu ada dan selalu tersedia untuk menolongnya. Tetapi Tuhan ternyata tidak ada ketika Saeron yang dulu dicintainya meregang nyawa. Tuhan tidak ada. Itulah yang dipercaya Jeno setelah menguburkan Saeron, sekaligus menguburkan seluruh kepercayaan yang dulunya pernah di pegangnya.
Jeno membuang hatinya, menjadi manusia berjiwa kelam yang jahat, dan kemudian lama kelamaan wataknya berubah menjadi kejam. Tidak ada yang bisa menyentuh belas kasihan Jeno, tidak ada lagi.
Sampai ayah Renjun datang dan menunjukkan foto anaknya untuk ditawarkan padanya. Jeno menyadari kemiripan itu, meskipun penampilan Renjun di foto berbeda dengan Saeron, tentu saja, dia laki-laki dengan kacamata tebal dan potongan rambut kunonya.
.
Jeno tidak menampik, ketika membuat perjanjian pernikahan di usia Renjun yang ke dua puluh dua itu murni karena ingin menjadikan Renjun sebagai pengganti Saeron.
Tetapi kemudian entah kenapa Jeno jatuh cinta kepada Renjun, entah sejak kapan Jeno tidak tahu. Mungkin sejak dia selalu menerima foto-foto hasil pengintaian dari Haechan yang membuatnya sadar bahwa Renjun telah berkembang menjadi pemuda yang mandiri. Mungkin setelah percintaan yang dahsyat di malam pertama itu, atau mungkin juga setelah perkawinan mereka, Jeno tidak tahu. Yang dia tahu pasti, Renjun tersimpan di hatinya. Hati yang dulu sudah dia buang, Ternyata selama ini hatinya masih ada di sana, menunggu untuk diisi kembali.
Dan sekarang, isteri dan anaknya sedang meregang nyawa di ruang operasi. Dan yang bisa Jeno lakukan hanyalah menunggu di sini seperti orang bodoh.
Isteri dan anaknya astaga! Bahkan Jeno selalu menutup mata, berpura-pura bahwa dia tidak mengakui keberadaan anak itu, selalu mengalihkan mata ketika menatap perut Renjun yang semakin dan semakin membuncit setiap harinya. Renjun berjuang sendirian selama masa-masa kehamilannya.
Sangat jauh dari yang dilakukannya ketika Saeron mengandung, dia merawatnya, dia menjaganya di setiap langkahnya. Memastikan Saeron sehat dan bahagia di setiap detiknya. Dan sekarang, kepada Renjun, isterinya, yang sesungguhnya sangat dicintainya, Jeno telah berbuat luar biasa jahat. Bagaimana jika nanti tidak ada kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya? Tuhan… jika dia benar benar ada, Jeno rela berdoa di setiap detiknya demi keselamatan Renjun.
"Kalau Renjun tidak dapat diselamatkan…," Suara Jeno tertelan di tenggorokannya, "Aku belum pernah bilang kalau aku mencintainya."
Haechan menundukkan kepalanya, tidak tahu bagaimana caranya menghibur tuannya yang sedang cemas. Sementara Jaemin diam-diam menyusut air matanya. Jadi lelaki ini, yang katanya begitu kejam dan jahat, ternyata mencintai isterinya. Ternyata mencintai Renjun. Dengan sepenuh hatinya Jaemin berdoa,
Kau harus hidup Renjun, suamimu di sini, mencemaskanmu.
Dia kelihatan sangat menderita, dulu dia jahat dan kejam dengan hati yang hitam, tetapi kau telah sedikit demi sedikit mengangkatnya ke dalam cahaya. Dan kalau kau meninggalkannya, mungkin dia akan terpuruk lagi, jatuh ke dalam jurang yang lebih kelam
TBC
Oh man… ini diluar dugaanku, ah Jeno sweet banget :v aku senyum-senyum bacanya :v Tapi menurutku emang cocok kok karakter Mikail diisi Jeno, Jeno kan rada pendiam dan kaku, jadi kesanya membosankan 'kan? Yang OOC parah itu ya si Haechan :v aduh manusia berisik kayak Haechan jadi dingin, nggk kebayang sumpah.
DAN SI Chenle belum muncul lagi ternyata guys, aku masih yakin kalau ada karakter kosong yang pas buat Chenle, kalau mau dijadiin anak Jaemin-Mark kok kayak enggk cocok ya :v Mungkin Jeno bakal punya anak nanti, kita lihat saja nanti.
Oh iya, ini ff chap besok udah end, aku buat ini jadi cepat, aku edit dua chap jadi satu. Biar cepet kelar kan ya :v
Gimana? Puas nggk? Yah mari yang belum pernah baca kita berdoa, moga Renjun nggk kenapa-napa ya :v Aku belom baca lanjutanya, besok aja lah :v biar ikut penasaran :v
Terima kasih buat yang review, baca, fav, dan follow.. nggk bisa aku sebutin satu-satu
See you next time.
