Akasuna no Sasori memperhatikan adik perempuan satu-satunya itu dengan pandangan skeptis. Wajahnya terlihat datar melihat tingkah sang adik yang sama sekali tidak membalik halaman buku yang dibacanya. Sepasang emerald-nya memang tertuju pada buku di tangannya, namun Sasori berani menjamin bahwa pikiran gadis itu tidak sedang berada di tempat.
Pemuda berambut merah itu beranjak dari posisi bersandarnya di dahan pintu kamar Sakura untuk menyadarkan gadis itu pada kenyataan. Ia duduk menyilang tepat di hadapan Sakura dan menangkupkan wajah gadis itu dengan kedua tangannya, membuat Sakura mengerjapkan matanya, terkejut.
"Kau sudah melamun sejak dua jam lalu," ucap Sasori.
Sakura mengalihkan matanya dari sepasang hazel kakaknya itu dan memandang sekitarnya. Ia berusaha menghindari interogasi Sasori yang selalu dilakukan pemuda itu setiap kali ia tidak fokus atau melamun dalam waktu yang cukup lama. Dalam hati ia mengutuk dirinya yang sempat-sempatnya memikirkan hal lain padahal ujian akhir semester sudah di depan mata. Walau sebenarnya ia merasa lega karena sudah mempersiapkannya jauh hari sebelumnya, apalagi pelajaran pertama yang diujikan adalah matematika—pelajaran yang membuat setiap orang mengumpat, mengutuk, dan menjambak rambut dengan frustrasi pada orang yang membuat soal-soal mematikan tersebut.
"Aku... hanya berpikir tentang ujian besok. Hari pertama adalah matematika dan sosiologi. Tahun kedua ini 'kan sangat penting karena banyak mencakup pelajaran-pelajaran yang akan diujikan saat ujian nasional," jawab Sakura asal. Hanya itu hal yang terlintas di otaknya untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan Sasori selanjutnya. Ia berterimakasih kepada Kurenai-sensei yang selalu mengingatkan murid-muridnya betapa pentingnya pelajaran di kelas XI yang membutuhkan konsentrasi tinggi. Setidaknya ia bisa memberikan alasan yang masuk akal kepada Sasori.
Awalnya Sasori meragukan jawaban Sakura, namun setelah melihat tatapan yang meyakinkan dari Sakura, ia hanya menganggukkan kepalanya dan mengacak rambut Sakura. Sejujurnya ia sama sekali tidak yakin dengan jawaban Sakura. Ia terlalu tahu bagaimana seorang Haruno Sakura luar-dalam. Terlihat sekali bahwa Sakura tidak ingin kakaknya tahu masalah apa yang sedang dialaminya, apalagi sampai membuat gadis itu melamun selama dua jam. Sakura bukan tipe orang yang punya hobi memikirkan sesuatu sampai sedemikian dalamnya selama berjam-jam, kecuali ada masalah yang membuatnya menjadi seperti itu. Masalah yang sepertinya cukup berat untuk dihadapi oleh gadis itu... dan Sasori ingin tahu masalah apa itu yang sampai membuat adiknya berurai air mata dalam tidurnya.
.
.
.
Bring Me Down © Aika Umezawa
.
.
Standard Disclaimers Applied
.
.
Warning:
Alternate Universe, Out of Characters (perhaps)
.
.
.
Chapter 11
.
Wish
.
.
.
"ARGH! BAGAIMANA INI!" pekik Temari histeris sesaat sebelum ia, Sakura, dan Ino memasuki perpustakaan untuk belajar bersama dalam menghadapi tiga mata pelajaran yang akan diujikan besok. Sepanjang perjalanan mereka menuju gedung timur, Temari sibuk membicarakan mengenai ujian matematika barusan. Inilah yang selalu berusaha dihindari oleh Sakura dan Ino, yaitu mode ujian Sabaku no Temari. Gadis yang kelewat perfeksionis itu selalu tidak yakin dengan apa yang dijawabnya. Entah ingatannya yang salah, yang jelas Temari selalu mengingat kesalahan-kesalahan yang dilakukan saat ujian—yang menurut Sakura dan Ino tidak penting karena kesalahan yang disebutkannya itu sama sekali tidak fatal. Kalau sudah begitu, yang bisa dilakukan oleh Sakura dan Ino hanyalah mendiamkan gadis itu sampai ia benar-benar berhenti atau menggantinya dengan topik lain. Beda halnya dengan Shikamaru yang langsung berkomentar apabila Temari sudah kelewatan paranoid. Sayang sekali pemuda yang selalu terlihat malas itu saat ini tidak sedang bersama mereka karena sudah pulang lebih dulu segera setelah ujian hari ini berakhir.
Ocehan Temari baru berakhir ketika mereka melangkah masuk ke dalam perpustakaan, yang sudah jelas sekali aturannya untuk tidak berisik saat berada di dalamnya. Sakura bersyukur sekali ia mengajak Temari dan Ino kemari karena dengan begini mereka bisa tenang untuk beberapa jam ke depan.
Mereka menaruh tas di dalam loker yang tersedia dan mencari tempat untuk belajar. Hampir seluruh meja penuh di lantai 1 penuh. Sakura menarik kedua sahabatnya menuju satu-satunya meja yang kosong di tengah ruangan.
"Aku ke lantai 2 dulu sebentar," kata Sakura pada Ino yang mengangguk pelan tanpa mengalihkan matanya dari buku sejarah di tangannya.
Gadis bermata zamrud itu pun berjalan menuju lantai 2 untuk mencari buku yang dibutuhkannya untuk ujian besok. Datang ke perpustakaan setiap kali ujian datang sudah menjadi rutinitas Sakura. Ia akan menghabiskan waktunya sampai Sasori datang menjemputnya untuk membaca buku-buku yang bisa dijadikan referensi untuk mata pelajaran yang diujiankan.
"Kenapa rak perpustakaan selalu sulit untuk digapai?" rutuk Sakura.
Walau ia sudah sering ke perpustakaan, tetap saja gadis itu tidak terbiasa dengan rak-rak kayu yang menjulang tinggi di hadapannya. Tangga memang tersedia untuk mencapai bagian rak yang berada di atas, tetapi Sakura tidak pernah menaiki tangga kayu tanpa seseorang yang bisa menahan tangga tersebut agar tidak tergelincir dan membuatnya tertimpa rak yang penuh dengan buku. Kedua matanya memindai orang-orang di sekitarnya, kemudian ia mengerucutkan bibirnya begitu menyadari bahwa tidak ada orang yang ia begitu akrab untuk dimintai bantuan. Ia juga tidak bisa meminta bantuan kepada anggota perpustakaan yang lain karena tidak ada anggota yang bertugas dengan adanya ujian semester ini.
Sakura menghela napas pelan. Ia sangat membutuhkan buku yang berada satu meter di atasnya itu. Ia masih tidak habis pikir mengapa susunan buku di perpustakaan selalu menyulitkannya. Gadis itu membuat catatan mental untuk mengingatkan penanggungjawab perpustakaan dalam penyusunan buku-buku ini.
Sakura melirik sebelah kiri dan kanannya, memastikan tidak ada orang lain yang akan memperhatikannya apabila ia jatuh nanti. Gadis itu meraih tangga yang tersandar di sudut ruangan dan mulai memanjatnya pelan-pelan.
.
.
.
Uchiha Sasuke menyembunyikan kuapnya di balik punggung tangan sambil tetap berusaha untuk mencerna setiap kata yang tercetak dalam buku sejarah di tangannya. Rupanya keputusannya untuk mengalihkan pikirannya dengan fokus kepada ujian sama sekali tidak berhasil. Lihat saja, ia baru membaca satu halaman dan rasa kantuk yang luar biasa sudah menyerangnya. Yah, salah satu penyebabnya tak lain dan tak bukan adalah jam tidurnya yang berkurang jauh dari biasanya. Ditambah dengan sejarah yang sudah pada dasarnya sering membuat orang jatuh tertidur, bukannya tidak mungkin kalau pemuda itu akan jatuh tertidur dalam hitungan menit. Sayangnya, hal tersebut dapat terjadi apabila ia memang benar-benar bisa tidur. Selama dua minggu terakhir ini, apapun usahanya untuk membuatnya tidur dengan layak tidak ada yang ampuh.
Sasuke menghempaskan tubuhnya pada sofa empuk di tempat paling nyaman di Perpustakaan Perguruan Konoha yang terletak di sudut ruangan lantai dua. Ia menghindari keramaian bagaikan pasar di bawah sana. Orang-orang sibuk menghafalkan tanggal, peristiwa penting yang terjadi, dan berbagai hal yang berkaitan dengan sejarah. Suara decit tangga kayu yang seiring dengan ketukan sepatu yang menaiki tangga memasuki indera pendengarannya. Iaemutuskan untuk tidak peduli siapapun itu asal orang tersebut tidak mengganggu ketenangannya. Sesaat sebelum ia kembali pada bukunya, ia melihat sekilas warna merah muda dari arah tangga. Ia berani bersumpah kalau ia merasa dadanya bergemuruh, hal yang tidak pernah ia rasakan seumur hidupnya hingga saat ini.
Apakah hidupnya saat ini harus selalu berkaitan dengan gadis berkepala merah muda itu? Apakah tidak cukup menyiksa dengan tidak bertemu gadis itu berhari-hari lamanya? Walau tidak mau mengakuinya, ia cukup terpukul saat gadis itu hampir menangis ketika tidak sengaja berpapasan dengannya di ruang tamu beberapa hari lalu. Kalau sampai Sakura menyadarinya di sini dan kembali berurai air mata, Sasuke akan benar-benar tidak sanggup untuk bertemu dengan gadis itu lagi kalau yang ia lakukan hanyalah membuatnya menangis.
Dari sudut pandangnya ia bisa melihat Sakura yang sedang berusaha untuk mencapai buku di rak teratas dengan tangga yang terlihat tidak meyakinkan itu. Sasuke sedikit mengangkat sebelah alisnya dan bergumam, "Dia yakin ingin menaiki itu?"
Sepasang onyx pemuda itu memperhatikan sang gadis dari jauh, harap-harap-cemas jangan sampai sesuatu terjadi pada Sakura. Ia bisa melihat senyum puas yang menghiasi wajah manis sang ceri saat berhasil mendapatkan buku yang ia inginkan, yang tanpa ia sadari membuat kedua sudut bibirnya membentuk sebuah senyum tipis. Namun hal itu tidak bertahan lama ketika keseimbangan tangga mulai goyah saat Sakura sedikit berjingkat kegirangan, yang membuat kedua mata Sasuke melebar kaget. Sasuke melempar bukunya begitu saja ke atas sofa dan segera berlari menuju Sakura yang terlalu panik untuk bertindak apapun.
.
.
.
Kedua mata Sakura terbelalak kaget saat ia menyadari tangga yang ia naiki mulai tergelincir, siap untuk menghantam lantai di bawahnya. Tangga besi itu pun mulai terjatuh dan membuat Sakura ikut jatuh ke depan dengan wajah yang akan menubruk keramik. Namun sesuatu membuat gerakan jatuh tangga tersebut berhenti tiba-tiba dan tubuh Sakura terhuyung ke belakang. Gadis itu bertindak cepat dengan meraih tepi rak buku dan memegangnya erat. Ia menghela napas lega saat tangga yang dinaikinya sudah tidak bergerak dengan mengerikan lagi. Ia menoleh ke belakang untuk mengetahui apa yang membuatnya tidak jadi terjatuh dan tidak bisa berkata apapun saat ia mendapati Uchiha Sasuke berdiri dengan tangan yang memegangi kedua sisi tangga untuk menyeimbangkannya. Pemuda itu menghela napas panjang, lalu sedikit meringis saat merasakan nyeri dari lengan bawah tangan kirinya. Sebuah goresan panjang yang mulai mengeluarkan cairan pekat merah itu sedikit memerah bengkak. Sasuke memindai tangga itu dan mengumpat pelan saat ia melihat ujung paku yang sedikit mencuat pada tangga dekat tangan kirinya.
Sakura menuruni tangga cepat-cepat dan menyambar lengan kiri Sasuke, memeriksa luka yang didapatnya.
"Kau tidak apa-apa? Ada luka lain?" tanya Sakura terburu-buru sambil merogoh saku roknya dengan satu tangan untuk mengambil saputangan.
"Hn," gumam Sasuke, mencoba untuk meraih tangannya kembali, namun gagal karena pegangan Sakura pada tangannya terlalu kuat. Dengan lengan kirinya yang tidak bisa bertenaga karena rasa berdenyut dan perih dari lukanya, ia tidak bisa berbuat apapun untuk melepaskan diri dari Sakura.
Gadis itu memberikan pertolongan pertama dengan membungkus luka Sasuke dengan saputangannya kemudian langsung menyeret pemuda itu untuk ikut dengannya menuju ruang kesehatan tanpa menghiraukan gumaman Sasuke yang menolak untuk ikut. Ino dan Temari melihat kedua sejoli itu dengan pandangan heran sekaligus terkejut karena ini pertama kalinya Sakura dan Sasuke terlihat bersama setelah saling menghindar satu sama lain berhari-hari. Dahi Ino sedikit berkerut dan benaknya bertanya-tanya saat melihat tangan Sakura yang memegang erat lengan Sasuke yang berbalut kain putih dengan sedikit bercak merah yang ia tidak tahu apa. Tidak lama kemudian, ia mengangkat bahunya sedikit dan berkata pada Temari untuk kembali belajar dan tidak usah menghiraukan Sakura—yang mendapat protes dari gadis berkuncir empat itu.
"Sakura akan baik-baik saja," ujar Ino.
Keraguan menghampiri benak gadis cantik itu. Iris baby blue-nya menatap Sakura dan Sasuke yang baru saja keluar dari perpustakaan. Rasa cemas tergambar jelas di matanya. Ia khawatir dengan apa yang akan terjadi pada sahabatnya itu nanti.
Ya... Kau akan baik-baik saja...
Iya, 'kan, Sakura?
.
.
.
"Sakura, lepaskan aku," ucap Sasuke datar tanpa berusaha untuk melepaskan genggaman erat Sakura pada lengannya. Gadis ceri itu menariknya menuju ruang kesehatan di lantai 1, tepat di bawah perpustakaan, untuk mengobati luka yang tidak sengaja dibuatnya saat menahan tangga yang nyaris mencelakakan Sakura.
"Jangan keras kepala," ucap sang Haruno.
"Aku bisa—"
"Mengobati dirimu sendiri? Aku tahu itu," potong gadis itu. "Tapi kau hanya akan memperparah lukamu karena kau tidak tahu cara menangani luka."
Harga diri Sasuke serasa tertusuk dalam oleh sebilah kunai saat Sakura mengatakan hal barusan dengan entengnya. Ia membuka mulutnya untuk membantah hal tersebut, namun tidak sempat begitu Sakura menggeser pintu ruang kesehatan dan membawa mereka masuk.
"Shizune-sensei?" panggil Sakura.
Seorang wanita pemilik nama tersebut mengerjap kaget saat melihat sosok Sakura yang tiba-tiba muncul dari pintu geser yang mendadak terbuka tepat saat ia juga ingin menggesernya.
"Aa, Haruno. Aku baru saja mau keluar," kata Shizune.
"Ke mana, Sensei?" tanya Sakura. "Orang ini harus diobati..." ia menunjuk Sasuke saat mengatakan 'orang ini', yang membuat Sasuke mendecih pelan dengan wajah yang dipalingkan.
"Begitu? Maaf, Haruno. Aku harus menghadiri rapat guru dan pegawai di Aula Besar," ucap Shizune yang membuat Sakura menggumam kecewa. Wanita berusia 27 tahun itu melirik lengan Sasuke yang dibungkus saputangan oleh Sakura. Kain tersebut mulai berwarna merah karena darah dari luka Sasuke mulai merembes. "Kenapa bisa terluka seperti itu, Uchiha-san?"
"Hn. Tergores paku," gumam Sasuke pelan.
Shizune menggelengkan kepalanya pelan sembari terkekeh kecil. "Jarang sekali orang sepertimu bersikap seceroboh ini, Uchiha-san," ia menatap wajah Sakura, dan melanjutkan, "tapi aku benar-benar harus pergi, Haruno. Bagaimana kalau kau saja yang melakukannya? Ini salah satu latihan untuk calon dokter, bukan?"
Sakura membuka mulutnya untuk membantah, namun diurungkannya. Ia mengangguk singkat dan kembali menarik Sasuke untuk masuk ke dalam ruang kesehatan. Shizune melambaikan tangannya sebelum meninggalkan ruangan, meninggalkan kedua insan tersebut. Tanpa banyak bicara, dengan sigap Sakura mengambil kapas, alkohol, iodin, dan perban lalu mulai mengobati luka Sasuke.
Sang Uchiha menatap wajah serius Sakura yang sedang mengobati lukanya. Gadis itu tengah membersihkan lukanya dengan alkohol. Sakura mengganti kapas yang sudah kotor lalu mengambil yang baru untuk dicelupkannya ke dalam alkohol dan mengusapkannya perlahan pada luka Sasuke.
"Kau tidak perlu begini kalau kau membiarkanku jatuh saja dari tangga," gumam Sakura memecahkan keheningan yang melanda keduanya.
Sasuke mendengus pelan. "Menurutmu aku akan membiarkanmu jatuh dari sana tepat di depanku tanpa berbuat apa-apa untuk menolongmu? Never," ucapnya dalam satu tarikan napas. Kata-kata 'Aku tidak mau benar-benar kehilanganmu' hanya bisa diucapkannya dalam hati.
"Tapi kau bisa berpura-pura tidak melihat," balas Sakura sambil meneteskan iodin dan meratakannya dengan kapas. Ia merasakan urat di tangan Sasuke menegang saat ia mengucapkan itu.
"Kaupikir aku setega itu?" sambar Sasuke mulai kesal. "Kalau aku melakukannya, sama saja membunuhmu tidak langsung!"
"Kau pintar mengacuhkan orang. Pasti bisa melakukannya." Sakura mengikat perban yang menutupi luka Sasuke. "Ganti perbanmu setiap hari dan pastikan kau menjaga kebersihan lukamu baik-baik," ujar Sakura mengalihkan pembicaraan.
Gadis itu merapikan kembali botol-botol yang digunakannya ke dalam rak dan membuang kapas bekas. Sasuke menahan sikunya sebelum Sakura bisa meninggalkan Sasuke sendirian di ruang kesehatan untuk kembali ke perpustakaan.
"Apakah kau juga bisa sedingin ini setelah hampir menangis beberapa hari lalu?" sergah Sasuke emosi.
Ucapan pemuda itu sontak membuat Sakura membatu di tempat, tidak mampu berkata apa-apa. Ia hanya bisa mengalihkan wajahnya dari Sasuke, menolak untuk menatap obsidiannya yang berkilat marah.
"Kau bahkan belum mendengar jawabanku waktu itu! Kau seenaknya memutuskan untuk menjauhiku tanpa memikirkan apa yang akan kurasakan setelahnya!" Sasuke bisa melihat wajah Sakura yang mulai memucat seperti saat di ruang tamu sebelumnya. Ia tidak bermaksud untuk membuat Sakura seperti ini, tetapi ia juga tidak tahan dengan sikap Sakura yang berpikir seolah-olah ia adalah makhluk berhati dingin yang akan membiarkannya terluka begitu saja tepat di hadapannya tanpa ada usaha untuk menolongnya. Apalagi... Sakura begitu penting baginya. Ia tidak akan kurang tidur selama dua minggu lebih kalau tidak memikirkannya... Ia tidak akan begitu sakit saat melihatnya hampir menangis saat itu... Ia tidak akan membiarkannya jatuh dari tangga di depannya tanpa menyelamatkannya... Tidak, ia tidak akan melakukan itu. Uchiha Sasuke tidak akan melakukan itu pada Haruno Sakura.
"Mungkin mudah bagimu untuk menjauh dariku, tapi tidak untukku," bisik Sasuke lirih. "Tidak sama sekali..."
Sepasang emerald membulat sempurna saat Uchiha Sasuke melingkarkan kedua lengannya pada tubuh Sakura, memerangkap gadis itu ke dalam pelukannya. Gadis itu hanya bisa terdiam kaku dengan tatapan kosong; berusaha memproses otaknya bahwa ini hanya salah satu mimpinya belaka, bukan kenyataan. Mimpi... tidak akan semanis dan sesakit ini.
.
.
.
"KAU TIDAK BISA SEPERTI INI PADAKU, SASUKE!"
Seorang gadis berambut merah panjang melempar sebuah hoodie yang tidak asing lagi bagi keduanya kepada Sasuke. Pemuda itu tetap bertahan dengan wajah stoiknya sembari menatap kedua rubi sang gadis yang berkilat marah. Tanpa mempedulikan tatapan orang-orang yang memperhatikan mereka sejak awal, Karin menggebrak meja dengan penuh amarah dan menatap pemuda itu tajam.
"Ini karena gadis bernama Sakura itu, 'kan! Apa bagusnya dia, hah? Dia tidak lebih hanyalah seorang gadis munafik yang sudah merebut kekasih orang lain!" seru Karin.
"Bicara hal buruk lainnya tentang Sakura, kelak kau akan menyesal setelahnya," desis Sasuke, berbahaya. "Lagipula, barang itu yang kaupermasalahkan selama ini dengan Sakura. Kukembalikan padamu. Aku tidak membutuhkan benda yang bisa menghancurkan hidupku."
"Kenapa kau bisa begini berubah, Sasuke?" tanya Karin dengan nada yang semakin meninggi. Air mata mulai menggenang di kedua pelupuk rubinya. Ia benar-benar tidak bisa menerima perlakuan Sasuke padanya. Ia sama sekali tidak berpikir kalau Sasuke akan membela Sakura sampai seperti ini. Apakah gadis itu begitu spesial di mata sang—mantan—kekasihnya, Uchiha Sasuke? Mengingat hal tersebut semakin membuat geram. Hubungan yang sudah dijalinnya bersama Uchiha bungsu itu selama lebih dari setahun kini harus berhenti begitu saja sejak kehadiran gadis berambut merah jambu itu ke dalam hidup Sasuke.
Sasuke tertawa sinis, membuat Karin sedikit gemetar karena sebelumnya pemuda itu tidak pernah seperti ini. Tawa yang mengalir dari bibir pemuda itu seakan menelannya ke dalam lubang kegelapan yang terdalam, membawa gadis itu ke dalam kehidupan yang penuh akan ketakutan dan derita. "Berubah? Seharusnya itu kalimatku, Karin. Pada saat kita bertemu, kau begitu polos. Cerminan seorang gadis baik-baik. Sekarang apa? Kau bahkan jauh lebih jahat dari yang kubayangkan. Aku tahu kau sangat posesif, tapi kurasa kau sudah bertindak berlebihan. Aku tidak menyangka kau akan melakukan itu pada Sakura, membentaknya dan menyalahkannya atas kesalahan yang tidak pernah ia buat," jelas Sasuke.
"Kau benar-benar jahat," desis Karin.
"Kalau aku sejahat seperti yang kaupikir, aku sudah memutuskanmu jauh sebelumnya. Kau yang membuatku tertarik untuk menjadikannya sebagai pacarku bukan orang seperti ini. Aku berusaha untuk sabar dan berpikir mungkin saja kau akan mengubah sifat burukmu itu. Ternyata tidak. Pada akhirnya, bukan aku yang memutuskan hubungan kita, tetapi kau," ucap Sasuke.
Karin terdiam mendengar kata-kata Sasuke. Walau tajam, namun semua yang pemuda itu katakan memang benar. Ia tidak rela Sasuke jatuh ke tangan orang lain selain dirinya sehingga ia berani mengambil cara tersebut tanpa memikirkan apa akibatnya nanti. Di sinilah ia, berdiri menghadapi kenyataan yang disebutkan oleh Sasuke. Segala hal yang ia lakukan semata-mata hanyalah agar pemuda itu bisa terus bersamanya sampai akhir, menjadikannya sebagai satu-satunya wanita dalam hidupnya. Air mata yang berusaha ditahannya sejak tadi kini menetes satu persatu, membentuk genangan kecil di atas meja kayu di bawahnya. Kedua tangannya terkepal erat, menahan segala emosi yang berkecamuk di dadanya. Ia merasa sesak—sesak dengan kenyataan bahwa apa yang dikatakan oleh pemuda di hadapannya itu benar. Sesak karena Sasuke menemuinya untuk menghilangkan ikatan di antara mereka, yang sedang berusaha ia munculkan kembali setelah sebelumnya ia putuskan dengan keji dengan pengkhianatannya di belakang Sasuke. Ia yakin Sasuke tahu alasan ia memutuskan pemuda tersebut setelah kepulangannya dari rumah sakit. Sasuke tahu. Ia tahu, tetapi sama sekali tidak mengungkitnya.
Karin terduduk lemah di sofanya dengan air mata yang masih mengalir deras dari sepasang rubinya.
"Aku harus melanggar kata-kataku sendiri berkat dirimu. Tapi kurasa kau tidak akan pernah mengerti semua ini kalau aku tidak menjelaskannya langsung daripada kau mengulangi hal yang sama pada orang lain. Aku tidak mau kau berubah menjadi orang yang seperti itu," ujar Sasuke.
"Kau menyukainya, Sasuke?" bisik Karin lirih, namun cukup keras untuk didengar oleh Sasuke sesaat sebelum ia beranjak meninggalkan Karin setelah mengeluarkan beberapa lembar uang di meja.
Gadis berambut merah itu mengangkat kepalanya dan menatap pemuda yang sudah tidak sekaku sebelumnya. Pandangan matanya menuntut jawaban atas pertanyaan yang ia ajukan barusan. Karin sedikit terhenyak saat melihat Sasuke tersenyum hambar sebelum melontarkan jawabannya.
"Sangat."
Kalimat barusan sudah membuktikan bahwa dirinya bukan lagi seorang gadis yang menempati hati Sasuke. Kedudukannya sudah tergantikan. Sasuke sudah bukan miliknya lagi. Karin menangis pilu menyadari fakta yang sudah tidak bisa dipungkiri itu.
.
.
.
Sasuke menutup pintu kamarnya dan melemparkan tasnya yang tergeletak begitu saja di sudut meja. Ia membuka dua kancing teratasnya dan menyalakan pendingin ruangan yang langsung menghembuskan angin yang menyejukkan. Tubuhnya terhempas di atas ranjang bersprei biru itu dengan sebelah tangan yang menutupi kedua matanya. Tangan yang satunya merogoh meja nightstand-nya untuk mencari sebuah remote. Ia menekan sebuah tombol dan alunan musik instrumental memenuhi kamarnya. Pemuda itu begitu terhanyut dengan setiap nada yang mengalun lembut sampai-sampai ia tidak menyadari bahwa ia tidak lagi sendirian di dalam ruangannya.
"Kau tidak mau makan terlebih dulu sebelum tidur, Sasuke?"
Uchiha bungsu tersebut membuka kedua matanya dan menyingkirkan tangan yang menutupi kedua obsidiannya, mendapati onyx lain yang tengah menatapnya lembut.
"Aku tidak lapar, Kaa-san," jawab Sasuke akhirnya. Ia menatap langit-langit kamarnya, kembali menutup kedua matanya.
Mikoto menatap putranya khawatir. Ia tidak pernah melihat Sasuke seperti ini—begitu merasa kehilangan dan kosong. Ia baru melihat langsung bagaimana seorang gadis mampu mengubahnya sampai seperti ini. Uchiha yang selalu mampu mendapatkan apa yang mereka inginkan—termasuk wanita sekalipun—kini terpuruk menyedihkan.
"Kau akan menyesal kalau kau tidak berbuat sesuatu, Sasuke," ucap sang ibunda.
"Hn."
"Kau bisa kehilangannya."
"Aku tahu."
"Kau tidak akan bisa bersamanya."
"..."
Nyonya Uchiha hanya tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya. Ia duduk di tepi tempat tidur di samping putranya. Tangannya mengelus lembut helaian raven Sasuke yang terasa halus di antara jari-jarinya. Kerutan di dahi Sasuke berangsur-angsur menghilang. Sentuhan sang ibunda membuat Sasuke menghela napas pelan. Ibunya itu selalu mempunyai kemampuan untuk membuatnya merasa tenang dan hangat.
"Sasuke, setiap manusia pasti memiliki keinginan walau hanya satu," ujar Mikoto. "Walau seperti semboyan Uchiha yang terkenal: 'Uchiha selalu mendapatkan apa yang mereka inginkan', namun pada nyatanya tidak semuanya bisa kaudapatkan, bukan? Aku tidak mengerti mengapa pria Uchiha tidak bisa mengakui perasaan mereka sendiri..." Mikoto menghela napas saat mengucapkan kalimat terakhir.
"Sakura pun demikian. Ia punya keinginan untuk bersamamu, namun ia tepis karena rasa sayangnya padamu yang menyukai Hinata melebihi keinginannya itu. Walau itu terdengar klise, tapi itu salah satu bentuk pengorbanan terindah yang bisa dilakukan oleh seorang wanita. Apakah kau tidak pernah berpikir seperti itu?"
Sasuke memutuskan untuk tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ucapan ibunya sangat mengena sampai-sampai ia tidak bisa menemukan kata untuk membantahnya. Ia bahkan tidak sempat untuk bertanya darimana ibunya tahu mengenai Sakura beserta masalah di antara mereka.
"Apa yang harus kulakukan, Kaa-san..." bisik Sasuke pelan.
"Sebelum aku menjawabnya, aku ingin mengajukan satu pertanyaan," kata Mikoto. Ia menatap putra bungsunya lembut, namun terlihat serius dengan apa yang akan ia ucapkan selanjutnya. "Apa keinginanmu, Sasuke?"
.
.
.
Sakura sama sekali tidak baik-baik saja. Sudah empat hari Sakura menampakkan ekspresi kosong di wajahnya, membuat orang-orang di sekitarnya khawatir sekaligus bertanya-tanya apa yang sebenarnya dipikirkan oleh sang ceri. Tangannya hanya mengaduk pelan strawberry milkshake-nya tanpa meminumnya sedikit pun. Dilihat pun tidak karena pandangan matanya tidak terfokus sama sekali. Hanya menatap dari balik kaca yang membatasi dunia luar dengan kafe yang tengah dikunjungi olehnya dan Hinata.
Hinata baru mengetahui alasan kenapa Sakura bisa bersikap seperti itu beberapa saat tadi saat ia menginterogasi Sasuke. Empat hari lalu ia melihat Sasuke keluar dari ruang kesehatan dan tidak lama disusul oleh Sakura yang sudah tidak berekspresi—entah karena apa—namun Hinata bisa menebak dari kedua iris zamrudnya yang sedikit melebar, ekspresi yang menunjukkan keterkejutan.
Jujur saja, mendengar jawaban Sasuke tadi membuatnya sedikit gemas dengan sang Uchiha. Apakah ia segitu tidak pekanya dengan perasaan seorang gadis? Wajar saja kalau Sakura syok karena pemuda itu tiba-tiba memeluknya setelah dua minggu lebih mereka tidak bertukar kata satu sama lain. Hinata mengerti bahwa Sakura tengah kalut dengan perasaannya sendiri setelah kejadian di ruang kesehatan itu. Oleh karena itu, Hinata membawanya ke kafe tempat mereka biasa datangi untuk membantu meluruskan jalan pikiran Sakura. Namun sepertinya akan sedikit mengalami kesulitan karena Sakura tidak bisa fokus sedikit pun. Demi Kami-sama, bahkan Hinata harus menarik gadis itu karena ia nyaris menabrak tiang lampu jalan saking tidak memperhatikan jalan. "Efek Sasuke" rupanya sudah mengacaukan seluruh kerja sistem syaraf di otaknya.
"Kalau kau tidak menyahutiku, akan kupanggil Sasuke kemari agar dia yang berbicara langsung menggantikanku," ancam Hinata yang sontak membuat Sakura menatap mata gadis itu horor.
"Kau tidak akan melakukan itu..." ujar Sakura, sedikit terintimidasi dengan ancaman Hinata barusan. Ia tidak bisa dan tidak mau berpikir untuk bertemu Sasuke dengan pikiran yang super kalut dan berantakan seperti ini.
Hinata tersenyum menang. "Oh, ya. Aku bisa melakukannya dan akan apabila tadi kau tidak menyahutiku 30 detik setelah ancamanku," ujar gadis itu sembari tersenyum manis. "Aku tahu kenapa kau bisa begini, Sakura. Tidak lain karena Sasuke 'kan? Ekspresimu barusan menunjukkan jawabannya."
Sakura mengerucutkan bibirnya dan mulai menyesap minumannya. "Kalau sudah tahu kenapa masih bertanya..." balas Sakura.
Hinata menggelengkan kepalanya. Ia berkata, "Bukan itu pertanyaan utamaku. Apa yang kaupikirkan setelah ini? Maksudku, tentang kalian."
"Aku tidak tahu," gumam Sakura pelan.
"Sasuke memelukmu 'kan?"
Wajah sang Haruno memerah dalam hitungan detik. Ia mengalihkan matanya dari tatapan jenaka Hinata yang menahan tawa melihat reaksi Sakura. "Jangan sebut bentuk kata apapun yang memiliki kata dasar 'P' itu," gerutunya.
Hinata tertawa pelan. Ia lega akhirnya Sakura sudah bersikap seperti biasa setelah beberapa hari seperti patung bernapas.
"Memangnya kalian tidak bisa seperti dulu lagi? Bersama-sama kemanapun, bercanda, tertawa bersama, kalian tidak bisa kembali seperti itu?" tanya Hinata.
Sakura menghela napas dan menghempaskan punggungnya pada sofa di belakangnya. "Mungkin bisa... tapi tidak akan sama persis seperti dulu," jawabnya.
"Kau tidak usah cemas soal Karin. Dia tidak akan lagi mengganggumu maupun Sasuke," ujar Hinata yang membuat Sakura sedikit terkejut. Hinata mengangkat tangannya untuk menahan Sakura berbicara apapun lalu melanjutkan, "dan kau tidak usah memikirkanku karena aku dan Sasuke hanya teman, tidak lebih. Kami sudah membahas ini sebelumnya dan Sasuke baik-baik saja dengan keputusan tersebut."
Sakura membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, namun Hinata memotongnya duluan seolah-olah tahu apa yang akan dikatakan oleh Sakura. "Bukan karena kau, Sakura. Ini murni keputusanku sendiri," ujarnya.
Hinata menopang wajahnya dengan satu tangan. Senyum tidak lepas sedikit pun dari wajah cantiknya. "Ne, Sakura. Apakah kau merasa bahagia dan tenang setiap kali bersama Sasuke?" tanya Hinata.
Sakura sedikit gelagapan dengan pertanyaan mendadak Hinata itu. Rona merah kembali menjalari kedua pipinya, namun berusaha ditepisnya dengan mengatur napas yang sedikit memburu karena jantungnya yang berdegup kencang setiap kali nama Sasuke disebut.
"A—apa-apaan kau dan pertanyaanmu itu?" sergah Sakura.
"Jawab saja," balas Hinata tenang.
Alih-alih menjawab, Sakura hanya menyeruput milkshake-nya dan menatap hal apapun di sekitarnya selain kolam mutiara Hinata. Senyum Hinata semakin melebar saat melihat wajah panik Sakura yang berusaha ditutupi gadis itu.
"Apakah kau merasa ingin bersamanya?" tanya Hinata lagi.
Tidak ada jawaban.
"Apakah jantungmu berdetak kencang setiap kali bersamanya ataupun mendengar namanya?"
"..."
"..."
'Bingo,' batin Hinata. Gadis itu tersenyum puas saat melihat wajah Sakura yang sudah benar-benar memerah akibat ketiga pertanyaannya, terutama yang terakhir. Sepertinya pertanyaannya barusan tepat sasaran sampai membuat Sakura tidak bisa menjawabnya.
"Itu... sudah jelas, 'kan..." gumam Sakura sangat pelan, namun masih bisa didengar Hinata.
"Aku tidak merasakan itu terhadap Sasuke," ujar Hinata lembut. Gadis itu menepuk dadanya pelan, dan melanjutkan, "tidak ada getaran sedikit pun di sini. Zero. Nothing. Nada. Nil. Aku sama sekali tidak merasakan apa-apa.
"Aku hanya melihatnya sebagai sosok kakak yang perhatian, itu saja. Jujur saja, aku sangat bingung waktu ia mengatakan ia menyukaiku. Padahal yang selalu bersamanya itu bukan aku, tapi kau. Karena itu aku tidak menjawabnya dan membiarkannya begitu saja, sampai akhirnya aku melihat sendiri setelah kau memutuskan untuk menjauh betapa tertekannya dia dengan keputusanmu," jelas Hinata berusaha untuk meluruskan keadaan antara dua orang yang sangat penting dalam hidupnya itu.
Sakura tidak berkata apapun. Tepatnya, ia tidak bisa berkata apapun karena ucapan Hinata membuatnya kembali berpikir... apakah Sasuke memang seperti itu karena keputusan Sakura untuk menjauh? Sakura sudah memikirkan hal tersebut berkali-kali dan selalu berakhir dengan hasil bahwa Sasuke pasti bisa menjalani hidupnya dengan normal seperti biasa walau tidak ada dirinya. Karena sejak awal pun mereka hanya teman, tidak lebih. Mungkin teman dekat karena Sasuke pernah berkata demikian, tetapi itu tidak cukup penting untuk membuat Sasuke merasa kehilangan Sakura. Sekali lagi: mereka hanya teman.
Hinata meraih kedua tangan Sakura dan menggenggamnya erat. Ia kembali tersenyum pada Sakura yang masih terhanyut dalam pikirannya.
"Baginya kau bukan sekadar teman biasa, Sakura. Kau hanya perlu memberinya waktu dan kesempatan untuk menyadari itu dan mengatakannya padamu," ucap Hinata. "Kau mau melakukannya, 'kan?"
.
.
.
"Bagaimana dengan Sasuke?"
Naruto menggeleng lemah. Ia mendesah pelan sembari meminum isi dari kaleng sodanya. Frustrasi, ia melempar kaleng sodanya ke tempat sampah terdekat, menimbulkan bunyi nyaring yang mengagetkan anak-anak kecil setempat yang sedang bermain bola. Hinata tersenyum kecil pada anak-anak itu dan berkata agar tidak menghiraukan temannya yang satu ini.
Naruto sama sekali tidak menyukai keadaannya saat ini. Kedua sahabatnya itu benar-benar mengkhawatirkan. Walau ia membantu Sakura untuk menjaga jarak dari Sasuke agar dapat menenangkan hati gadis itu sementara, akan tetapi lama-lama ia tidak tahan dengan jarak yang semakin terbentang jauh itu. Satu-satunya hal yang inginkan saat ini adalah melihat dua orang terbaiknya dapat bahagia dan kalau bisa bersama, berdua.
"Mereka itu benar-benar keras kepala. Apa susahnya sih kembali berteman seperti dulu, hah? Kalau memang suka, ya, bilang!" seru Naruto emosi.
Hinata meringis pelan mendengarnya. Baru kali ini ia melihat Naruto yang sekesal ini; berbanding terbalik dengan sikap ceria dan hiperaktifnya sehari-hari. "Kurasa mereka membutuhkan waktu untuk—"
"Ini sudah dua minggu lebih, Kami-sama!" potong Naruto. Ia mulai tidak sabar dengan sikap kedua orang terdekatnya itu. "Apa lagi yang mereka tunggu sebenarnya?"
"Mereka bicara di ruang kesehatan," sahut Hinata.
"Yang berakhir dengan Sakura-chan yang terlihat seperti zombi," timpal Naruto datar. "Entah apa yang si Emo lakukan pada Sakura-chan sampai-sampai membuatnya—" Naruto terus mengoceh mengenai keduanya, membuat Hinata hanya bisa menggelengkan kepalanya. Wajar saja kalau Naruto begitu berapi-api kalau sudah menyangkut kedua orang itu. Ia dipusingkan oleh sikap Sasuke yang begitu dingin dan Sakura yang mengacuhkannya karena sibuk dengan pikirannya sendiri.
Hinata meletakkan tangannya di bahu Naruto dan menepuknya pelan. "Tenang saja, Naruto-kun. Ini semua akan berakhir sebentar lagi," ujar Hinata dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
Naruto menoleh pada gadis yang duduk di sebelahnya itu dengan alis terangkat. "Bagaimana kau bisa yakin dengan hal itu?" tanyanya.
Gadis itu hanya mengangkat kedua bahunya, namun senyum penuh keyakinan itu tidak pudar sedikit pun. "Mereka ini Sasuke dan Sakura. Kurasa mereka cukup pintar untuk bisa berpikir jernih bagaimana menyelesaikan masalah yang memisahkan keduanya. Percaya saja pada mereka," jelas Hinata.
"Hmm... Tapi..." Naruto masih tidak yakin dengan kata-kata Hinata, mengingat betapa tidak pekanya kedua orang itu.
"Percayalah, Naruto-kun," potong Hinata.
Naruto membuka mulutnya untuk mengeluarkan bantahan, namun ia mengurungkannya. Ada benarnya juga kata-kata Hinata. Sasuke dan Sakura pasti bisa menyelesaikan masalah mereka sendiri, tanpa campur tangan langsung dari orang-orang di sekitarnya.
Ya...
Mereka akan baik-baik saja...
Percayalah pada mereka...
.
.
.
Sasuke memasukkan barang-barangnya yang berserakan di atas meja ke dalam ransel hitamnya dan bersiap untuk pulang. Ia menghela napas panjang, berdiam diri sejenak untuk menenangkan dirinya. Kepalanya mulai berdenyut menyakitkan akibat kurang tidur selama 16 hari. Suhu tubuhnya pun melebihi suhu normal, membuatnya terancam demam dalam hitungan jam. Beruntunglah ia karena ujian telah berakhir sehingga ia tidak perlu repot-repot mengikuti ujian susulan apabila ia sampai jatuh sakit. Kini ia hanya perlu beristirahat di rumah sambil menunggu hasil ujian keluar minggu depan.
Ia menggeser pintu kelasnya dan melangkah menuju loker sepatunya untuk menukar uwabaki yang ia gunakan. Ia menghentikan langkahnya beberapa meter dari lokernya saat melihat sosok Sakura yang berdiri di seberang lokernya. Gadis itu menoleh seolah-olah menyadari kehadiran Sasuke dan menatapnya dengan sepasang emerald miliknya. Cahaya matahari sore menerpanya, membuatnya terlihat bersinar. Kedua sudut bibirnya membentuk seulas senyum tipis yang sudah lama tidak Sasuke lihat.
Pemuda itu kembali berjalan mendekati lokernya, berusaha mengindahkan senyum Sakura yang membuat dadanya berdebar kencang seperti terkena serangan mendadak. Ia berhenti tepat di depan lokernya, mengeluarkan sepasang sepatu van hitam dari dalam. Ia menukar uwabaki-nya dengan sepatunya dan beranjak pergi setelah mengembalikan uwabaki ke dalam lokernya tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada Sakura.
"Sasuke."
Suara Sakura yang memanggil namanya menghentikan langkah Sasuke, namun tidak membuatnya berpaling pada sang gadis. Ia hanya berdiri di tempat, menunggu gadis itu mengatakan hal selanjutnya. Ia bisa mendengar helaan napas pelan dari Sakura sesaat sebelum gadis itu kembali berucap.
"Aku punya seorang teman. Dia begitu menyukai sahabatnya sampai terasa begitu sesak. Lalu dia memutuskan untuk menjauhi sahabatnya itu walau masih sangat menyukainya," ucap Sakura. Gadis itu menatap Sasuke yang memunggunginya lalu bertanya, "Ne, Sasuke. Apakah ia harus melupakan sahabatnya itu dan mencari cinta yang lain atau menunggunya tanpa tahu berapa lama ia harus melakukannya?"
.
.
.
Bukankah wajar kalau manusia memiliki sebuah keinginan atau lebih?
Secercah kebahagiaan dalam hidupnya yang pilu...
Nasib yang lebih baik...
Uang yang berlimpah...
Semua itu adalah keinginan, bukan?
Sifat yang manusiawi.
Sebuah kekuatan dan semangat.
Kelemahan terbesar yang bisa berbalik menusuk.
"Apa keinginanmu, Sasuke?"
.
.
.
"Aku ingin agar Haruno Sakura kembali berada di sampingku—"
"—tidak hanya sebagai sahabat—"
"—bukan sekadar teman—"
"—tapi sebagai orang yang sangat kukasihi."
.
.
.
.
.
To be continued
.
.
.
.
.
A/N:
Ada yang kangen sama saya? :3
#plak
AAAAA GOMEN! Saya udah ujian, ujian, dan ujian tanpa akhir! Masa baru selesai Try Out 2 udah langsung dilanjutin Try Out 3. Ampun deh..
Jadi saya baru bisa update sekarang, ini juga nyolong-nyolong waktu (padahal Senin udah TO lagi. Cih -,-)
Dan alurnya agak kecepetan ngga sih? Saya merasa begitu soalnya. Mana berantakan pula kalimatnya, huhu -_-
Jadiii... ada yang udah kebayang gimana endingnya? Harusnya sih chapter depan udah tamat. Makanya saya potong disini. Agak minta dilempar sendal karena motongnya cliffhanger gitu, hahahaha #kicked
Semoga saya bisa melewati rintangan ujian dan mendapatkan hasil yang memuaskan, amiiin... biar bisa cepet update (?)
N.B.: Sky, cek PM!
.
Special Thanks:
Mikan Hyuuga
Ichikawa Hikaru
Nina-SasoSasuSaku
Pink Uchiha
Sasuke no Tenshi
Poetrie-chan
Chocolate Lolypop
ChieAkane
Maya
Silver Wing
Mauree-Da
Parapluei De Fleurs
Gracia De Mouis Lucheta
Dark Miki-Mizu
Merry-chan
Ghifia Kuraudo
Ramen panas
Puding-tan
Nanairo Zoacha
Sichi
Onime no Uchiha Hanabi-hime
4ntk4-ch4n
skyzhe
Angie
Andaaza
firda ap
.
Mind to review? :3
