Mari kita kembali melihat para pasangan nation lain. Dari Austria, kita bertolak lurus ke arah negara di atas Austria, negara yang berada di sebelah kiri Jerman, Polandia…
Di sebuah rumah yang berukuran sedang, tidak terlalu besar tapi juga tidak terlalu kecil, yang berada di tengah-tengah padang rumput hijau…
Seorang pemuda berkebangsaan Lithuania berambut cokelat sebahu yang memakai sebuah celemek putih menghela napas sambil mengusap keringat di dahinya. Di depannya bertumpuk cokelat, susu, cream, dll.
Toris menghela napas. "Ah…membuat cokelat hanya dalam waktu sejam memang sulit…kalau begini jadi mau mengutuk pekerjaan yang menumpuk itu…" keluhnya.
Saat itu dia sedang berkutat di dapur, berusaha membuat cokelat kesukaan kekasihnya, Feliks. Dia ingin membuat kejutan untuk kekasihnya itu, karena itu dia tidak ingin kekasihnya itu mengetahui apa yang ingin diberikannya padanya.
Sebenarnya dia ingin membuat cokelat ini di rumahnya saja daripada di rumah Feliks, karena dengan begitu kejutan untuk Feliks ini bisa dilakukan tanpa sembunyi-sembunyi begini, tapi karena sibuk dengan pekerjaan, akhirnya hari mereka bertemu setiap minggu tiba dengan begitu cepat, dan dia tidak punya waktu untuk membuat cokelat di rumahnya. Dan karena itu…dia terpaksa membuatnya di sini, di rumah Feliks.
"Oke, Feliks akan pulang dari kantornya dalam waktu dua jam. Kemungkinan besar, dia bakal jalan-jalan dulu ke mall atau belanja makan siang…ah tidak mungkin, dia tahu kalau aku akan ke rumah untuk makan siang. Itu artinya cokelatnya harus jadi dalam waktu dua jam…beserta dengan makan siang untuk kami berdua…" gumam Toris sambil mengocok adonan cokelat di mangkok yang dipegangnya. "Atau aku pesan makanan antar saja? Ah, tapi itu berarti…tidak ada cinta di dalam makanan yang kusediakan untuknya…aku tidak mau. Akan kubuat saat cokelatnya dibekukan ke dalam kulkas saja…"
Sekitar setengah jam kemudian, akhirnya cokelat buatan Toris berhasil dicetak dan disimpan dengan aman di dalam kulkas. Toris menghela napas lelah. "Sekarang makan siang…apa ya yang harus kubuat?" gumamnya pelan sambil membolak-balik buku masak. "Ah, sup jamur sama ayam panggang saja, deh" katanya.
Sekitar sejam kemudian, semua makanan telah tertata rapi di atas meja makan. Toris tersenyum puas melihat hasil karyanya. Dia segera berjalan ke arah dapur dan membuka kulkas, mengeluarkan cokelat buatannya. Oke, saatnya menghias cokelat ini dan meletakkannya di kamar tidur.
Toris segera meletakkan cokelat itu di atas bungkus kado dan membungkusnya dengan rapi. Saat dia ingin memotong pita untuk kado menggunakan gunting…
"Aku pulang, Liet kau ada di rumah?" suara Feliks terdengar. Saking kagetnya Toris karena Feliks pulang lebih cepat dari perkiraannya, dia jadi gugup dan tangannya tidak sengaja tergores gunting.
"ADUH!"
Toris menggenggam tangannya yang dihiasi dengan warna merah darah. Sebuah goresan panjang berwarna merah mekar di tangannya. Dia mendesis kesakitan sambil mengumpat pelan.
"Liet?" tanya Feliks sambil berjalan ke arah dapur. Seperti biasa, si pemuda Polandia yang santai dan agak easy going ini memakai pakaian casual tapi terkesan formal di saat yang sama. Yah…paling tidak, kali ini dia tidak memakai rok atau pakaian perempuan lain hobinya…
Feliks melihat Toris yang menggenggam erat tangannya dan darah yang menetes ke lantai. Dia langsung panik dan mendatangi Toris. "Liet, tanganmu berdarah? Kau tidak apa-apa?" serunya.
"Tidak apa-apa, hanya tergores saja" gumam Toris sambil membersihkan lukanya di air keran yang mengalir. Dia mendesis kesakitan saat lukanya terasa sakit akibat dihantam air yang mengalir deras.
"A…aku ambilkan kotak P3K dulu ya! Lukamu itu harus dirawat!" seru Feliks sambil berlari ke dalam kamarnya. Kesempatan itu tidak dibuang sia-sia oleh Toris. Dia segera menyelesaikan kadonya untuk Feliks dan menyembunyikannya sebelum Feliks kembali.
"Sukses…" gumam Toris.
Tidak lama kemudian, Feliks berlari kembali ke dapur sambil membawa kotak P3K. Dia segera mengobati dan membalut luka di tangan Toris. Setelah selesai, dia menghela napas sambil menepuk perban di tangan Toris lembut.
"Kenapa kau bisa terluka begini Toris? Tidak biasanya kau ceroboh begini?" tanya Feliks.
"Ah, itu urusan nanti…sekarang kita makan siang dulu, yuk" kata Toris sambil mengelus rambut pirang Feliks. Feliks hanya memandang cemas pada kekasihnya itu sebelum menganggukkan kepalanya.
Setelah makan siang, Feliks menghela napas dan berdiri dari kursinya. "Aku mau memberi makan kuda-kuda dulu" katanya sambil berjalan keluar dari dapur. Toris mengeluarkan kotak cokelat yang tadi disimpannya.
"Tinggal menempelkan kartu ini dan meletakkannya di kamar tidur Feliks…" gumam Toris sambil menempelkan sebuah kartu bergambar sebuah bendera Polandia dan sebuah bendera Lithuania di atas bungkus kotak cokelatnya. Setelah selesai, dia berjalan ke arah kamar tidur Feliks. Dia baru saja ingin meletakkan cokelat itu di atas ranjang ketika…
"Apa yang kau lakukan di kamar, Liet?" terdengar suara Feliks dari arah pintu, membuat Toris kaget dan menjatuhkan kotak yang dibawanya.
Toris berbalik dan melihat Feliks berdiri di depan pintu kamar, wajahnya menunjukkan kebingungan. "A..em…aku…"
"Apa itu?" tanya Feliks memiringkan kepalanya. Dia melihat sebuah kotak tergeletak di kaki Toris.
Toris menghela napas. Kalau sudah tertangkap basah begini, tidak ada gunanya lagi menyembunyikannya. Dia meraih kotak yang ada di kakinya itu dan menyodorkannya pada Feliks. "Ini untukmu" gumamnya dengan wajah bersemu merah.
Feliks mengambil kotak itu dengan bingung. Dia membuka kartu di kado itu dan melihat tulisan Toris.
You are as sweet as the contents of this box.
And your lips is as delicious as the contents of this box.
I like the contents of this box.
But I love the taste of your lips more.
Penasaran, Feliks membuka kado itu. Dia membuka kotak yang terbungkus di dalamnya dan meluhat cokelat dalam berbagai bentuk berderet di dalamnya. Feliks terpana sesaat sebelum memandang Toris yang menunduk memandangi kakinya, berusaha sebisa mungkin menghindari kontak mata dengan kekasihnya itu.
"A…sebenarnya aku…ingin menjadikannya kejutan untukmu…tapi aku terlalu sibuk bekerja hingga tak punya waktu yang cukup untuk mempersiapkannya dengan matang. Jadi cokelat itu…kubuat seadanya saja…" gumam Toris.
"Jangan-jangan kau terluka gara-gara membuat ini, ya?" gumam Feliks pelan.
Toris menggelengkan kepalanya sambil meraba tangannya yang dililit perban. "Aku sedang membungkus kotak itu saat kau pulang, lebih cepat dari perkiraanku. Aku gugup dan yah…tidak sengaja menggores tanganku dengan gunting" kata Toris.
Feliks memandangi cokelat-cokelat berbagai bentuk di dalam kotak yang dipegangnya. Perlahan-lahan sebuah senyum manis tersungging di bibirnya. Tangannya meraih sebuah cokelat di dalam kotak itu dan membawanya ke mulutnya. Dia mengulumnya sedikit lama, membiarkan rasa cokelat itu meleleh di mulutnya.
"Milk ganache, ya? Enak sekali" kata Feliks.
Toris yang mendengar perkataan Feliks mengangkat wajahnya untuk memandang kekasihnya itu. Dia melihat Feliks memakan cokelat buatannya sambil tersenyum manis.
"Ti…tidak usah merasa terpaksa memujiku. Cokelat itu kubuat dengan kepepet dan dengan bahan seadanya. Mungkin rasanya tidak terlalu enak…" gumam Toris.
Feliks menggelengkan kepalanya dan meletakkan kotak itu di atas meja di samping ranjangnya. Dia mengulurkan tangannya untuk mengusap pipi Toris. "Cokelatmu enak, kok" kata Feliks. "Cokelat terenak yang pernah kumakan"
"Feliks…" kata Toris.
"Dengarkan aku dulu" potong Feliks. "Cokelat ini enak, karena kau membuatnya dengan sepenuh perasaan untukku. Rasa cintamu ada di dalam cokelat ini, dalam semua masakanmu…membuatnya terasa lezat. Lagipula…yang penting dari cokelat itu bukanlah bahannya tapi perasaan yang terkandung di dalamnya" katanya sambil mencium pipi Toris lembut. "Jika kau tulus ingin memberikan cintamu kepada sang penerima cokelatmu, pasti cokelatnya akan terasa enak. Dan cokelatmu ini sangat enak…" bisiknya pelan.
Toris tersenyum dan merengkuh kekasihnya itu sebelum mencium lembut bibir merah Feliks. Mereka berciuman dengan begitu lembut, membiarkan bibir mereka saling melumat bibir satu sama lain dengan begitu lembut. Cinta dan perhatian…hanya itulah yang terasa di dalam ciuman mereka.
Setelah beberapa saat, mereka melepaskan ciuman mereka. "As tave myliu, Feliks…" katanya sambil tersenyum lembut.
Feliks tersenyum dan mencium pipi Toris sekali lagi. "Kochan cie, Toris…" bisiknya pelan. Dia lalu menarik tangan Toris. "Kalau begitu bagaimana kalau kita makan cokelat buatanmu di ruang tamu sambil nonton TV? Sambil ditemani secangkir teh bagus juga…" katanya riang.
Toris hanya tersenyum saat Feliks menggandengnya keluar dari kamar tidur mereka dan berjalan menuju ruang tamu untuk menikmati early afternoon tea yang menyenangkan bersama kekasihnya tercinta itu…
Sekarang kita bertolak ke Eropa utara, tepatnya di sebuah kota bernama Kopenhagen, di sebuah negara Eropa utara, Denmark…
"Ayo dong, Norge! Ice! Lambat banget sih!" seru seorang pemuda berambut spike pirang. Pemuda itu adalah personifikasi negara Denmark, sifatnya sesuai sekali dengan keadaan kotanya yang selalu ramai dan fun itu. Dia rusuh dan ceria.
"Diamlah, anko uzai" kata seorang pemuda berambut cokelat muda dengan rambut dijepit sebuah Nordic cross di kepalanya. Pemuda ini adalah sahabat masa kecil sekaligus coughpacarcough pemuda Denmark itu, personifikasi negara Norwegia. Berbeda dengan Denmark, pemuda ini sepertinya menganut prinsip 'diam adalah emas'. Dia tidak suka banyak bicara apalagi kalau yang diomongkan adalah sesuatu yang tidak penting.
Dan di samping Norway, berdiri seorang anak berambut perak yang menggendong sebuah penguin. Anak ini sifatnya sepertinya merupakan campuran dari Denmark dan Norway, dia tidak suka bicara, tapi sekalinya dia bicara, omongannya bisa sangat menyebalkan orang yang mendengarnya, karena omongannya sama menyebalkannya dengan omongan Denmark. Anak berambut perak ini adalah adik Norway dan…mungkin juga anggota terakhir dalam hubungan threesome aneh dan agak-agak…nggak nyambung antara Denmark-Norway-Iceland. Pemuda ini adalah personifikasi negara Islandia.
"Ayo, dong. Sudah lama kita tidak piknik bertiga gini, kan? Aku mau cepat-cepat makan!" seru Denmark sambil berdiri di atas lembah hijau yang rimbun ditumbuhi pohon-pohon di sekelilingnya. Di sekitar lembah itu juga bermekaran bunga-bunga liar, memang sepertinya tempat mereka berada saat ini cocok untuk piknik, apalagi dengan cuaca cerah dengan langit biru dan matahari bersinar, seperti mendukung piknik yang mereka bertiga rencanakan.
"Kalau kak Denmark mau sedikit berpikir aku dan Norway tidak setinggi kak Denmark. Jadi jelas saja jangkauan kaki kami lebih pendek dan butuh waktu berjalan lebih banyak dari kak Denmark" kata Iceland sambil memandangi Denmark dengan pandangan datar.
"Berkali-kali kubilang panggil aku kakak, Ice!" seru Norway pada adiknya itu, yang tentu saja hanya mengabaikannya seperti biasa.
Denmark tertawa dan berbalik untuk memandangi pemandangan di hadapannya sebelum kembali berbalik untuk menghadapi dua 'pacar'nya itu. "Kau benar, Ice. Kalian berdua memang pendek" katanya.
Tidak lama setelah itu sebuah bungkusan sandwich melayang ke arahnya dan tepat menimpuk kepalanya. Denmark mengaduh sambil mengambil bungkusan itu. "Hei Norge, tidak baik buang-buang makanan!" seru Denmark.
"Begitukah?" tanya Norway dengan nada cuek abis.
"Iya, begitu!" seru Denmark.
"Oh, maaf kalau begitu!" kata Norway.
"Sudahlah kak Denmark…Norway, makan saja sandwich itu dan habis perkara. Gak lucu kalau hari cerah begini diisi dengan pertengkaran" kata Iceland.
"Tumben omonganmu nyambung, Ice" kata Denmark sambil membuka bungkusan sandwich itu. Tidak lama giliran seekor penguin yang mampir ke kepala Denmark.
"Jangan ngelunjak!" seru Iceland sambil merengut kesal. Dia segera mendatangi Denmark dan kembali mengangkat Puffin, penguin peliharaannya yang tadi dilemparnya ke Denmark.
'Kalian berdua gak imut…" keluh Denmark pada Norway dan Iceland yang kini sudah berdiri di sebelahnya.
Tanpa bicara, Iceland membuka alas duduk yang dibawanya dan membentangkannya hingga menutupi Denmark, dan seolah-olah dia baru saja menyadari Denmark ada di sana, dia bicara dengan nada polos. "Mau ngapain kak Denmark ada di situ? Ayo pergi, nanti bisa aku jadiin kursi!" katanya.
Denmark menyingkirkan alas duduk yang menutupinya dengan kesal. Dia langsung mencubit pipi Iceland. "Menyebalkan banget ya, Ice…" katanya.
"Sudah, hentikan, anko uzai, Ice" kata Norway sambil membereskan alas duduk yang tadi dilempar Denmark dan duduk di sana. Dia mulai mengeluarkan makanan yang ada di keranjang dan dibawanya dan mengatur makanan itu di atas alas duduk.
Denmark menjambak rambutnya sendiri dengan kesal. Dia melepaskan cubitannya di pipi Ice yang hanya nyengir sambil mengusap pipinya yang agak merah dan mengempaskan diri di atas alas duduk yang sudah diatur Norway, diikuti oleh Iceland.
Denmark menghela napas kesal dan mengambil sandwich yang ada di sampingnya. Dia pun berbalik ke arah Norway.
"Hey Norge, punya alcohol nggak?" tanya Denmark.
"Tak ada, sudah kubilang kau tidak boleh mabuk siang-siang" kata Norway datar sambil mengigit sebuah cookies lemon yang dibawanya.
"Cih…" decak Denmark kesal.
Ice hanya diam dan meminum orange juice yang dibawa oleh mereka semua.
Setelah semua makanan selesai dimakan, Denmark menghela napas, dan merebahkan diri di alas duduk yang didudukinya sementara Norway membaca buku dengan serius di sebelah kanannya, dan Iceland yang asyik bermain dengan Puffin duduk di sebelah kirinya.
Denmark memandangi awan yang melayang-layang di langit biru di atasnya. Dia menghela napas dan bergumam. "Hey awan, hari ini cerah ya…coba kau bisa jadi lebih besar dan menutupi matahari, pasti hari ini bakalan lebih sejuk…" gumam Denmark.
"Kak Denmark, ngapain ngomong sama awan? Sudah gila, ya?" tanya Iceland dengan nada cuek sambil tetap bermain dengan Puffin.
Tanpa berkata-kata, mungkin karena saking frustasinya, dia langsung mengulurkan tangannya dan mencekik Iceland. "Ice, bacot sekali lagi, loe bakal gue sembelih pake kapak gue!" seru Denmark.
"Ja…jangan bunuh saya dong! Saya ini…masih muda…" kata Iceland dengan nada tercekik.
"Muda? MUDA MBAHMU?" seru Denmark sambil tetap mencekik Iceland.
"Anko uzai sudah. Yang dikatakan Ice kan memang benar. Kau memang sudah gila" kata Norway, matanya sama sekali tidak lepas dari halaman buku yang dibacanya.
"Norge, kamu ini kejam banget sih! Kenapa kamu selalu membela Ice, sih!" seru Denmark histeris sambil mengguncang-guncang tubuh Iceland yang wajahnya mulai membiru karena kehabisan napas.
"Itu anak orang mati" kata Norway datar.
"Eh?" tanya Denmark. Dia memandangi Iceland yang tepar dengan kondisi mengenaskan. "GYAAA! ICE!" serunya panik. "Jangan mati dulu! Ntar saya dimarahin bos saya gara-gara ngancurin Iceland!"
"Sudah anko uzai" kata Norway kesal sambil menimpuknya dengan buku tebal yang tadi dibacanya. "Serahkan Ice padaku". Denmark ragu-ragu sebelum menyerahkan Iceland ke pacarnya itu. Norway membaringkan adiknya itu di pangkuannya dan mengelus rambut adiknya itu. Tidak butuh waktu lama bagi Iceland untuk tertidur lelap di pangkuan kakaknya.
Denmark menghela napas panjang dan duduk di samping Norway. "Padahal Ice manis kalau dia tidur begini" kata Denmark sambil mengamati Iceland yang sedang tertidur di pangkuan kakaknya itu.
"Kamu juga begitu, kok" kata Norway.
"Eh, maksudmu aku juga manis begitu kalau tidur?" tanya Denmark ceria.
"Entah. Menurutku sih kau tambah jelek" kata Norway sambil tetap mengelus kepala adiknya.
"Tuh kan Norge~ kau pilih kasih sama aku dan Ice, ah! Aku ngambek sama kamu!" seru Denmark sambil merengut.
"Bodo ah" kata Norway cuek.
Denmark menghela napas kesal sambil menyisir rambutnya dengan jarinya. Dia kembali merebahkan diri di samping Norway. Dia memandangi awan yang bergerak dibawa angin di langit biru. Gabungan hangatnya sinar matahari dan semilir angin yang menyejukkan, perlahan-lahan membuat Denmark merasa mengantuk juga. "Hei Norge…" gumam Denmark.
"Hmm?" tanya Norway dengan nada cuek pada orang di sebelahnya itu.
"Sebenarnya siapa yang lebih kau sayangi, Ice atau aku?" tanya Denmark sebelum matanya perlahan-lahan tertutup dan dia jatuh terbawa ke alam mimpi.
Norway terpana mendengar pertanyaan Denmark. Dia baru saja ingin memarahi pemuda Denmark itu saat dia menyadari kalau dia sudah tertidur lelap di sebelahnya. Dia memandangi dua orang yang tertidur di sekitarnya itu. Wajah mereka terlihat damai dan tanpa beban. Norway memandangi mereka, benar yang orang-orang katakan, kalau tertidur orang yang menyebalkan pun bisa terlihat manis.
Norway pun sedikit tersenyum manis. Dia sedikit membungkuk dan mencium dahi Iceland dan Denmark. Dua orang itu terlihat tersenyum saat bibir dingin Norway menyentuh dahi mereka.
"Aku mencintai kalian berdua kok. Jeg elsker dig…" bisik Norway pada kedua orang yang masih tertidur lelap itu. Dia mengusap rambut Iceland dan Denmark sekali lagi sebelum kembali meraih buku yang tadi digunakannya untuk menimpuk Denmark dan kembali melanjutkan membaca buku itu, membiarkan ketenangan lembah itu menenangkannya dan membawanya ke dalam dunia favoritnya yang penuh ketenangan dan kedamaian.
Bersama dengan dua orang yang paling disayanginya berada di sisinya.
Oke, selesailah petualangan kita melihat para pasangan di benua Eropa untuk hari ini. Sekarang, mari tinggalkan benua Eropa dan menuju benua besar di bawahnya, sebuah negara benua bernama Asia, pertama mari menuju Asia Timur dulu, ke sebuah negara besar bernama Jepang, tepatnya di sebuah kota bernama Tokyo…
Seorang pemuda Jepang bernama Honda Kiku perlahan-lahan membuka matanya. Bola mata hitam besar. Pemuda Jepang bernama Honda Kiku itu menghela napas sambil mengusap rambut hitamnya.
"Aku tertidur…" gumam Kiku pelan. Dia mengangkat kepalanya dan memandangi sinar matahari musim semi yang menyusup dari sela-sela bunga sakura yang bermekaran di atasnya.
Suara meongan dari arah sampingnya menyadarkannya dari lamunannya. Kiku menunduk dan melihat seekor kucing putih berdiri di hadapannya sambil mengeong padanya. Kiku tersenyum dan mengangkat kucing itu ke pangkuannya. Kucing itu mengeong pelan sebelum melingkarkan diri di pelukan Kiku dengan manja.
Kiku memandangi kucing itu sejenak sebelum menengok ke sebelahnya dan melihat ada seseorang yang tertidur di sebelahnya, bersandar di batang pohon dengan kepala bersandar di bahunya dengan nyaman.
Pemuda itu adalah kekasihnya, seorang pemuda Yunani berambut cokelat, Heracles Karpusi.
Kiku tersenyum memandangi kekasihnya itu. Tangannya terulur untuk mengusap rambut cokelat pemuda Yunani itu. Pemuda Yunani itu menggumam pelan tapi dia sama sekali tidak terbangun.
Imut sekali…pikir Kiku sambil mengangkat kucing di pangkuannya. Kucing itu mengeong lagi sebelum merangkak ke arah Heracles dan memanjat naik ke atas pangkuan pemuda Yunani itu. Setekah tiba di atas, kucing itu dengan santainya kembali melingkarkan diri dan seperti pemiliknya, tidur dengan pulas.
Kiku mengelus rambut pemuda Yunani itu sekali lagi. Tiba-tiba saja entah disengaja atau tidak, kepala Heracles mulai merosot dari bahu Kiku dan dengan sedikit keberuntungan, kepalanya jatuh tepat di pangkuan Kiku, dan membuat pemuda itu tertidur sambil meringkuk di pangkuan Kiku.
Wajah Kiku agak sedikit bersemu merah saat dia menyadari kepala Heracles yang bersarang dengan begitu 'santai' di pangkuannya. Merasakan desah napas hangat yang dihembuskan mulut merah pemuda Yunani itu di pangkuannya dia merasakan tubuhnya sedikit mengigil. Desah napas hangat itu…membuatnya nyaman.
Tiba-tiba mata milik pemuda Yunani itu sedikit bergerak-gerak, dan perlahan-lahan mata milik pemuda Yunani itu terbuka, memperlihatkan bola mata hijau tua yang indah. Yang sangat disukai oleh Kiku.
"Selamat siang, Greece-san, bagaimana tidurmu?" kata Kiku sambil tersenyum manis.
Heracles tersenyum melihat pemandangan itu. Wajah Kiku yang tersenyum selalu manis. Wajah Kiku yang menyambutnya setiap kali dia membuka matanya selalu menjadi pemandangan favoritnya.
"Selamat pagi…Kiku" kata Greece sambil membawa tangannya yang daritadi terkulai di sisinya ke wajah Kiku, mengusap pipi pemuda Jepang itu. Pipi itu dihiasi semburat pink, benar-benar seperti sakura yang mengelilingi mereka. Pemandangan yang indah. Dia menarik wajah pemuda itu semakin mendekat dan mendekat…
Hingga akhirnya bibir mereka bertemu dalam sebuah ciuman manis yang lembut…
Di saat yang sama dengan saat bibir mereka berdua bertemu dalam ciuman itu, angin berhembus, menerbangkan kelopak-kelopak sakura, membuat kelopak-kelopak itu terbang berhamburan ke langit biru, menciptakan perpaduan indah warna pink dan biru muda yang indah.
Kiku membelalakkan matanya sesaat sebelum sorot matanya melembut dan dia memejamkan matanya. Bibir mereka bertemu semakin dalam, saling mencumbu satu sama lain. Tentu saja ciuman itu bertambah manis dengan rasa cinta yang terkandung di dalamnya.
Setelah beberapa saat, mereka melepaskan ciuman mereka. Mereka saling tersenyum, napas mereka saling bersatu di udara di antara mereka. Wajah mereka sedikit bersemu merah.
Kiku menggelengkan kepalanya. "Tidurlah lagi, Greece-san" katanya sambil mengusap rambut dan pipi Heracles. "Kau pasti masih lelah"
Heracles tersenyum dengan lembut. Dia mencium bibir Kiku sekali lagi sebelum matanya perlahan-lahan menutup dan dia kembali pergi menuju alam mimpi.
Kiku memandangi wajah kekasihnya yang tertidur lelap itu. Perlahan dia membungkuk dan mencium dahi Heracles lembut.
"Aku mencintaimu, Greece-san" bisik Kiku lembut setelah dia melepaskan ciumannya. Dia kembali bersandar di batang pohon sakura tempat mereka duduk sambil menikmati semilir angin dan bunga-bunga sakura yang beterbangan di sekitarnya. Sebuah senyum damai tersungging di wajahnya.
Yang terakhir, marilah kita menuju ke Asia Tenggara, ke sebuah negara kepulauan bernama Indonesia. Setelah tiba di Indonesia, kita terus berjalan, hingga kita sampai di sebuah salah satu kota utama kunjungan turis asing, Bali…
"WAAHHH…PANTAI! BALI! BENAR-BENAR SURGA!" seru seorang pemuda berambut pirang bermata violet yang bertelanjang dada dan hanya mengenakan sebuah celana pendek warna cokelat muda sambil berlari ke arah laut.
"Lebay banget…kayak gak punya pantai aja di Belanda…" gumam seorang pemuda berambut hitam yang berdiri di tepi pantai sambil menghela napas. Pemuda ini, seperti seorang pemuda berambut pirang tadi hanya mengenakan sebuah celana pendek berwarna biru tua saja.
"Berisik deh, Malay…" seru pemuda berambut pirang itu, yang ternyata adalah personifikasi negara Belanda atau Netherland, yang sering dipanggil Nethere. "Kamu sirik ya, gara-gara aku diundang sama Nesia ke sini sementara kamu cuma bisa ikut gara-gara Nesia butuh pembawa barang aja?"
"APA? Jangan seenaknya, ya! Aku ini diundang karena aku ini adik kesayangan kak Nesia, tahu!" seru pemuda personifikasi negara Malaysia, yang sering dipanggil Malay dengan penuh emosi.
"Oh, Cuma adik ya~? Kasihan. Aku dong, pacarnya Nesia" kata Nethere dengan nada sombong.
Wajah Malay langsung merah padam karena emosi. Dia langsung berjalan ke arah Nethere dan mencekiknya. "Katakan sekali lagi! Berani benar kau bilang kau pacarnya kak Nesia? Kapan kak Nesia menerima kamu?" serunya.
Tiba-tiba ada dua bola pantai terbang menimpuk kepala Malay dan Nethere.
"ADUH" seru keduanya bersamaan sambil mengusap kepalanya bersamaan dan memegang bola pantai yang tadi dilemparkan pada mereka.
"Kalian ini gak pernah bosan berantem ya? Setiap kali aku pasti melihat kalian berantem" kata seseorang di samping mereka. Mereka berdua segera menengok dan melihat seorang pemuda berambut hitam. Dia mengenakan sebuah jaket lengan pendek berwarna merah dan celana pendek berwarna krem. Dia mengangkat kacamata hitam yang daritadi menutupi matanya ke atas kepalanya, menunjukkan bola mata cokelat yang menunjukkan kekesalan.
"Ah! Nesia! Kak Nesia!" seru Malay dan Nethere bersamaan. Ya, pemuda itu adalah pemuda personifikasi negara tercinta kita sekalian, Indonesia. Lebih dikenal dengan panggilan sayangnya, Nesia.
"Kalian ini benar-benar! Bebal banget, sih! Aku sudah sengaja mengundang kalian ke pantai pribadiku, eh, kalian tetap aja berantem!" seru Nesia kesal.
"Sudahlah Nesia, mereka kan memang selalu begitu" kata seseorang.
Eh, siapa tuh?
Mereka menoleh dan melihat seorang pemuda berambut cokelat muda dan bermata hijau tua. Dia memakai celana pendek berwarna hitam dan kaos lengan pendek warna biru laut. Di tangannya terdapat… seekor koala?
"Aussie!" seru mereka.
Ya, pemuda ini…ah, bagaimana mengatakannya? Dia adalah anggota baru dalam hubungan cinta segi rumit di sekitar Nesia mungkin adalah kalimat yang paling tepat. Dia adalah personifikasi negara Australia, tapi orang-orang (termasuk author) lebih suka memanggilnya Aussie.
"Hei, Nesia. Makasih karena sudah mengundangku ke sini!" seru Aussie ceria sambil memeluk Nesia.
"HOI! AUSSIE! Lepaskan tanganmu dari Nesia!" seru Nethere. Dia langsung dilempar ember pasir oleh Nesia.
"Diam kau" katanya pada Nethere. Kemudian dia berbalik sambil tersenyum pada Aussie "Tidak apa-apa, kok. Kau belakangan ini pasti sibuk gara-gara masalah banjir di negaramu. Kupikir kau harus liburan untuk merilekskan diri" katanya.
Aussie tersenyum dengan teramat manisnya pada Nesia. "Terima kasih, Nesia" katanya.
Malay dan Nethere saling berpandangan dan menganggukkan kepala. Sepertinya mereka sepakat untuk bekerja sama untuk merebut perhatian Nesia dari Aussie. Dasar, kalau sudah masalah mereka tidak rela Aussie merebut Nesia mereka tercinta mereka baru bisa akur.
Malay dan Nethere segera mengambil ember pasir di sekitar mereka, mengisinya dengan air laut dan mengendap-endap ke arah Nesia dan Aussie yang masih mengobrol sambil sesekali tertawa-tawa.
"Oke, satu, dua…TIGA!"
BYURRR!
Detik berikutnya, mereka langsung menyiramkan air itu ke arah Nesia dan Aussie, sukses membuat kedua pemuda itu basah kuyub dari kepala sampai kaki. Mereka berdua terpana sesaat sebelum…
"WOI KALIAN BERDUA! DASAR KURANG AJAR!" seru Nesia pada Nethere dan Malay yang sudah berlari ke arah laut. Dia langsung mengejar kedua nation itu, diikuti Aussie.
"Tunggu~" seru Nesia sambil mengejar Nethere dan Malay. Setelah berlari beberapa lama, akhirnya dia berhasil menarik bahu Nethere dan Malay, hingga akhirnya kedua nation itu limbung dan terjatuh ke belakang sambil menjerit kaget. Sialnya, Malay dan Nethere juga menarik Nesia dan Aussie hingga akhirnya mereka berdua juga ikut terjatuh bersama mereka berdua.
BYUR! PLASH!
Keempat nation itu langsung bergelimpangan di tepi pantai. Untung saja mereka terjatuh di bagian pantai yang airnya masih terbilang dangkal.
"Nethere…sialan!" seru Nesia sambil mencipratkan air ke muka Nethere.
"Aww~!" seru Nethere saat air laut yang dicipratkan Nesia mengenai mukanya.
Malay tertawa melihat pertengkaran Nesia dan Nethere. Tapi ikut menjerit kaget saat Aussie menyiramkan air laut padanya.
"Kau juga bersalah tahu! Ayo minta maaf!" seru Aussie dengan nada (sok) galak.
"Aww~itu ide kak Nethere…" kata Malay ngeles.
"Woy Malay, enak saja kau mengkambinghitamkan aku!" seru Nethere kesal. Dia tidak terima seenaknya disalahkan padahal ide itu adalah persetujuan bersama keduanya.
"Ya iyalah kak Nethere…aku ini kan anak baik-baik. Mana mungkin aku melakukan hal tak baik pada kak Nesia dan kak Aussie…jadi pasti kak Nethere memaksaku" kata Malaysia santai.
Nethere mangap sambil memandang adik coughpacarcoughnya itu. Oke, mulai sekarang kita percaya saja kalau si Malay itu memang iblis, seorang manusia bermuka dua.
"Sudahlah. Siapa pun penggagas idenya tidak penting! Sekarang cepat minta maaf!" seru Aussie.
"Cih, baiklah. Aku minta maaf dengan sebesar-besarnya dari lubuk hati yang terdalam" kata Nethere dan Malay pelan.
"Bagus" dengus Nesia sambil berjalan ke arah pantai bersama dengan Aussie, diikuti oleh Malay dan Nethere.
Setelah mereka selesai mandi dan berganti pakaian di villa pribadi milik Nesia, mereka kembali berjalan ke arah pantai.
"Ah, sudah sore? Bagaimana kalau kita cari makan malam? Mau makan apa?" tanya Nesia pada tiga cowok di belakangnya.
"Em apa ya?" tanya Nethere.
"Bagaimana kalau bikin BBQ aja?" usul Aussie tiba-tiba. "Kemarin waktu beres-beres gudang, aku menemukan kotak berisi peralatan BBQ. Lagian kalau ke pantai tuh paling enak bikin BBQ"
"BBQ…boleh. Tapi di rumah gak ada bahan-bahannya…" kata Nesia.
"Kalau begitu kita belanja bahan-bahan BBQnya sama-sama, yuk, kak Nesia…" kata Malay sambil menggandeng tangan kakaknya itu. Biasa, cari-cari kesempatan…
"Woy Malay! Malaysia!" seru Nethere dan Aussie bersamaan.
"Sudahlah, kita belanja berempat aja, ya" kata Nesia sambil tersenyum.
"Ayo!" seru Nethere sambil menggandeng tangan kiri Nesia.
Mereka pun berangkat bersama menuju supermarket.
Di supermarket…
"Hmm…dagingnya bagusnya yang mana?" tanya Nesia pada ketiga lelaki di sebelahnya.
"Bagusnya BBQ itu…daging impor! Soalnya rasanya lebih terasa" kata Nethere sambil memandangi deretan daging di hadapan mereka.
"Kalau begitu…daging impor Australia aja deh!" kata Nesia sambil mengambil dua bungkus daging dan pergi bersama Aussie.
"Kenapa harus daging Australia?" seru Malay dan Nethere bersamaan.
"Soalnya harga daging itu yang paling murah dari daging impor lain" kata Nesia cuek sambil melihat-lihat kol dan bawang bombay.
Nethere dan Malay hanya bisa menghela napas kesal sementara Aussie hanya tertawa kecil.
Selesai belanja, mereka berjalan kembali ke villa sambil tertawa-tawa. Sesampainya di villa, Aussie dan Nethere segera menyiapkan panggangan BBQ sementara Malay dan Nesia menyiapkan bahan-bahan BBQ.
Setelah semuanya selesai dan semua bahan sudah dipanggang…
"Enak lho, kak Aussie!" seru Malay sambil memakan daging di piringnya.
"Kamu harus makan sayurnya juga, Malay!" seru Nesia pada adiknya itu.
"Ih, kak Nesia cerewet, deh" kata Malay yang membuat mulutnya langsung disumpal kol oleh Nesia.
"Lumayan…" kata Nethere sambil memakan bawang bombay panggang di piringnya.
"Tentu saja" kata Aussie sambil melambaikan spatula yang dipegangnya. "Kalau tak bisa masak, kita gak akan bisa bertahan hidup di rumah kak Arthur, tahu!"
Nethere hanya tertawa mendengarnya.
Di saat yang sama, semburat warna orange mulai menghiasi langit. Matahari perlahan-lahan mulai terbenam, kembali ke peraduannya di balik cakrawala. Nesia memandangnya dan berseru kagum. "Lihat deh, matahari terbenam! Indah kan!"
Nethere, Malay, dan Aussie mengikuti pandangan Nesia dan ikut melihat pemandangan matahari yang terbenam itu. Mereka tersenyum saat melihatnya.
"Ya, ini indah sekali, Nesia…" kata mereka bertiga bersamaan.
Nesia memandangi ketiga lelaki yang selalu mendampinginya itu sambil tersenyum. "Terima kasih…" kata Nesia sambil tersenyum.
"Kenapa tiba-tiba berterima kasih?" tanya Aussie bingung.
"Kalian selalu menemaniku. Bagiku hari ini sangat berharga karena aku bisa menghabiskan waktu bersama kalian bertiga. Em…" Nesia menundukkan wajahnya sehingga ketiga cowok itu tidak bisa melihat wajahnya yang kini bersemu merah. "Aku…ingin sekali mengalami hari seperti ini lagi…" gumamnya.
Tiba-tiba dia merasakan tiga pasang lengan memeluknya erat. Dia mengangkat wajahnya dan melihat Nethere, Malay, dan Aussie memeluk tubuhnya.
"Ka…kalian…"
"Dengan senang hati. Selama kau meminta hari ini akan terus terjadi…" kata Nethere.
Nesia tersenyum sambil mencium pipi ketiga pemuda itu. "Terima kasih, kalian bertiga. Aku sayang kalian bertiga…" bisiknya.
Ketiga pemuda itu tersenyum dan balas mencium Nesia di kedua pipi dan dahinya. "Kami juga menyayangimu, Nesia" kata mereka bertiga.
Nesia tersenyum dan kembali memandangi matahari terbenam itu. Kembali memandangi detik-detik ketika sang matahari pergi menuju tempatnya tertidur.
Bersama dengan tiga orang yang paling disayanginya di sampingnya…
Author note:
Chapter selanjutnya akhirnya selesaaaaiiii~~
Buat Nesia…hubungan threesomenya jadi berubah deh jadi hubungan foursome karena kedatangan Aussie. Kenapa? Karena akhir-akhir ini aku agak suka Aussie, makanya aku masukin dalam fanficku. Para reader gak keberatan, kan? Nggak? Oke, makasih! –digampar-
Seperti biasanya, mohon maaf atas keOOCan para karakter.
Sekian. Mohon reviewnya seperti biasa.
Ciaou!
