Lala Chastela: Valentine itu bukan budaya kita, jadi nggak masalah. Sip deh :Db
.
.
.
Title: Tredici
Genre: Romance
Rating: T
Summary: Tiga belas tahun. Tiga belas tanggal penting. Tiga belas pengalaman pertama Byakuran dan Mukuro Rokudou. 10069.
Prompt(s): Taktik.
Warnings: kemungkinan OOC, gay marriage, kemungkinan typo.
Disclaimer: Kateikyoushi Hitman Reborn © Amano Akira
.
.
.
.: 1 April, usia 21 tahun :.
~ First Union ~
.
.
.
"Byakuran-sama?"
"Mm?"
"Bisa berhenti memandangi ponsel Anda?"
Byakuran mengerling ke arah orang yang mengajaknya bicara—Kikyou. Pria dengan penampilan bak seorang rocker itu menatapnya seolah mencemaskan sesuatu. Sebenarnya, 'sih, tidak hanya Kikyou saja. Bluebell dan Daisy juga ikut menatapnya seolah-olah khawatir. Hanya Zakuro yang tetap terlihat santai.
"Kenapa kalian menatapku seperti itu?"
"Karena daritadi kau memelototi layar ponselmu terus!" sahut Bluebell, sedikit jengkel. "Kenapa memangnya, kau menunggu sms atau telepon dari seseorang?"
"Bukan, Bluebell," Zakuro, yang duduk di sebelah Byakuran, menyeringai tipis. "Byakuran-sama sedang memandangi wajah kekasihnya. Sepertinya dia kangen berat."
"Ah. Kau tidak bertemu dengannya akhir-akhir ini, ya?" Kikyou mencoba bertanya.
"Bukan hanya akhir-akhir ini saja!" Byakuran menggebrak meja yang mereka kelilingi—beruntung mereka sedang berkumpul di rumah Zakuro dan bukannya di kafe, seperti yang biasa mereka lakukan—dan membuat kaget kawan-kawannya. Dengan nada merajuk, ia melanjutkan, "Sejak setahun yang lalu, Mukuro-kun tidak mau kuhubungi sama sekali~~~"
…
Bluebell menepuk jidatnya sendiri. "Boo! Kau ini diguna-guna olehnya, ya, sampai-sampai sebegitu cintanya..."
"Yah, jomblo seperti Bluebell tidak akan mengerti, hahaha—ouch! Hei!" Zakuro mengelus pipinya yang terkena lemparan kulit Dekopon[1] yang dikupas oleh Bluebell tadi.
"Jadi... Anda memanggil kami untuk berkumpul karena ingin kami membantu Anda menemukan cara untuk menemui pacar Anda itu lagi?" Daisy menebak.
Namun Byakuran menggeleng. "Aku tahu alasannya, 'sih..."
Pria dengan rambut putih jingkrak itu mengeluarkan sebuah kartu dari dalam saku kemejanya. Kartu ucapan yang penampilan luarnya tampak sederhana. Ia meletakkannya di tengah-tengah meja supaya teman-temannya itu bisa melihatnya dengan lebih jelas. Karena sepertinya Byakuran tidak berminat untuk memberitahu apa isinya, Kikyou mengambil inisiatif untuk mengambil dan membaca isi kartu ucapan tersebut.
"Ini... surat tantangan untuk pemilik merek pakaian Monochrome?"
Byakuran mengangguk. "Kukirimkan pada Mukuro-kun setahun yang lalu."
"Tunggu. Monochrome?" Daisy mengerutkan dahinya, tampak tak senang. "Monochrome yang tahun lalu nyaris membuat Hinagiku milik keluargaku bangkrut karena merebut semua pelanggan dan penggrosir dari kami? Kekasihmu pemilik Monochrome, Byakuran-sama?"
"Begitulah."
"Bagaimana perasaanmu saat mengetahui bahwa pacar sahabatmu pernah berniat menghancurkan usaha keluargamu, Daisy?" Zakuro menyeringai lebar, senang karena jarang-jarang Daisy menampakkan ekspresi horor.
"Hei, Mukuro-kun itu baik, 'kok!" Byakuran mengerucutkan bibirnya. "Setelah kukirim surat tantangan itu, ia langsung mengurangi tekanannya pada perusahaan-perusaahan yang menjual busana bertema gothic, tahu."
"Oh, jadi itu karena surat itu?" Bluebell mendengus. "Pantas saja, Monochrome yang biasanya rajin mengeluarkan desain baru tiap bulan seperti mulai malas membuat busana gothic. Mereka seperti kehilangan minat pada dunia goth dan mulai mencoba untuk membuat jaket dan pakaian kasual lainnya, meskipun buatan mereka tidak lebih baik dari buatan perusahaan-perusahaan lain."
"Lalu... tanggal 1 April ini maksudnya apa?" Kikyou menunjuk ke arah barisan tanggal yang ditulis dengan pena tinta di pojok kanan bawah kartu.
"Itu deadline yang diajukan oleh Mukuro-kun. Kalau sampai tanggal segitu aku tidak bisa memenuhi syarat yang kuajukan sendiri, maka aku akan kalah dan dia boleh meminta apa saja dariku, termasuk membuat Mille Fiori tutup usaha."
Iris sebiru langit milik Bluebell membelalak lebar. "Kau gila!"
Byakuran hanya tertawa untuk menanggapi olokan Bluebell tersebut. Namun ia hanya tertawa sebentar, karena pertanyaan Kikyou kembali menginterupsi. "Lalu? Apa kau bisa memenangkan pertaruhan ini?"
"Kalau aku tetap diam saja seperti sekarang, 'sih... tidak. Berdasarkan survei yang dilakukan anak buahku, Monochrome sedikit lebih unggu karena produk mereka lebih banyak dibeli oleh masyarakat. Sebenarnya, kalau ada setidaknya 500 orang yang membeli produk kami hari ini, aku bisa menang walaupun pas-pasan, tapi..."
"Tapi, mendapat 500 pelanggan dalam sehari itu agak tidak mungkin, meski untuk ukuranmu, Byakuran-sama."
"Memang, karena itu..." Byakuran tersenyum. Kali ini sorot matanya berubah serius. "... aku perlu bantuan kalian."
.
.
.
"Nagi, kau bilang siang tadi Byakuran menelepon dan mengatakan kalau ia akan memberi laporan penjualannya yang terakhir malam ini, pukul delapan, 'kan?"
"Ya, Onii-sama."
"Jadi, kenapa dia belum datang padahal sekarang sudah hampir pukul sembilan?"
"... Tidak tahu, Onii-sama."
Mukuro menghela napas, jengkel. Ia dan Nagi sekarang berada di sebuah sebuah restoran yang malam itu di-booking oleh Byakuran untuk pertemuan pertama mereka setelah sekian lama. Kakak beradik itu tiba tepat pada waktunya, namun terpaksa menunggu karena menurut staf restoran Byakuran akan datang terlambat. Mukuro tidak keberatan menunggu pada awalnya karena mengira Byakuran hanya akan terlambat selama beberapa menit dan bukannya nyaris sejam. Bayangkan saja, ia sampai memesan kopi tiga kali!
Mengecek jam tangannya, Mukuro mulai menimang-nimang untuk pergi. Ia berpikir bahwa mungkin Byakuran tidak sanggup memenuhi syarat pertaruhan mereka sehingga ia menemui Mukuro karena malu. Tapi kalau begitu, kenapa ia menelepon untuk membuat janji tadi siang?
Selagi pengusaha muda itu berpikir, pintu depan restoran menjeblak membuka. Staf restoran yang bertugas menyambut tamu bergegas menghampiri—siapa lagi kalau bukan—Byakuran. Ia tidak sendiri, melainkan ditemani anak buahnya yang berambut merah dan berkacamata.
"Mukuro-kun! Maaf terlambat!" Pria yang lebih muda itu tersenyum seolah-olah tidak merasa bersalah sama sekali.
"Kau beruntung aku belum menghabiskan kopi ke-tiga ini, atau aku akan langsung pergi dari sini," Mukuro menghela napas, lagi. "Jadi? Tunjukkan laporan milikmu. Kau sudah tahu laporan milikku, toh?"
Byakuran mengangguk dan memberi isyarat pada anak buahnya untuk menyerahkan sebuah map. Mukuro menerima map tersebut dan mengecek dokumen-dokumen yang tercantum di dalamnya. Sementara pria dengan surai biru indigo itu membaca apa-apa saja yang tertera pada dokumennya, Byakuran memesan sweet parfait ukuran super besar.
"Byakuran."
"Mm?"
"Kau tahu kalau berdasarkan tabel data yang kau berikan maka persentase popularitas produkmu sedikit lebih rendah dari produk kami?"
"Ya, aku tahu. Shou-chan berulang kali mengatakannya padaku."
"Jadi, tidak masalah jika kau kalah dalam pertaruhan ini?"
Byakuran menyunggingkan senyum licik, yang membuatnya terlihat seperti seekor rubah di mata Mukuro. "Mukuro-kun." Ia menggoyangkan sendok di tangannya. "Persyaratannya adalah aku harus bisa melebihi persentase popularitas Monochrome sebelum tanggal 1 April berakhir. Ini belum tengah malam, jadi kau tidak bisa seenaknya mengambil kesimpulan bahwa aku akan kalah~"
Dahi Mukuro berkerut seraya berkata, "Meskipun begitu, hari sudah malam. Kau berharap ada yang mau membeli produk Mille Fiori dalam jumlah besar di saat seperti ini?"
"Tentu, dan kau akan kaget, Mukuro-kun."
Mukuro tidak mengerti maksud ucapan Byakuran. Ia menganggap bahwa tidak mungkin ada banyak orang yang mau berbelanja pakaian dari pukul sembilan ke atas. Namun kemudian ia mendengar bunyi 'kletak-kletek' saat anak buah Byakuran, Irie Shouichi, mengetik sesuatu pada laptop yang dibawanya.
"Byakuran-sama, koneksinya sudah terpasang," ujar pria berambut merah menyala itu saat jarinya berhenti menari di atas keyboard laptop.
Byakuran menelan potongan buah stroberi yang tadinya ia kunyah sebelum berbicara, "Bagus. Tunjukkan pada Mukuro-kun."
Shouichi bergerak mendekati Mukuro dan meletakkan laptopnya di hadapan pemilik mata heterochromic itu. Mukuro sedikit mencondongkan tubuhnya untuk melihat apa yang ditampilkan layar monitor laptop tersebut. Sepertinya Shouichi membuka saluran siaran langsung sebuah konser band rock. Suara musik dan jeritan fans dengan segera memenuhi restoran tersebut saat volume speaker laptop dibesarkan.
Awalnya, Mukuro tetap tidak mengerti maksud Byakuran menunjukkan siaran tersebut padanya. Namun setelah ia amati lebih lama, rupanya para penggemar yang menonton acara konser tersebut mengenakkan t-shirt yang sama. Sebuah t-shirt di mana lambang Mille Fiori terpampang di bagian punggung, disertai bordiran bertuliskan 'Hanakotoba'[2].
"Ini..."
"Konser band bergenre rock, Hanakotoba, yang sedang berlangsung di Bunkamura[3]," Byakuran menyendoki es krimnya, "konser itu tidak memerlukan tiket masuk atau apa. Para penggemar yang hendak menonton hanya perlu membeli kaos buatan Mille Fiori yang khusus dibuat untuk hari ini. Bisa dibilang, kaos itu barang limited edition karena memiliki tanda tangan dari anggota band tersebut. Harga kaos memang sedikit lebih mahal daripada harga tiket konser biasa, tapi... jika kau bisa menonton konser sekaligus mendapat tanda tangan hanya dengan membeli sebuah kaos, kau tidak akan merasa sungkan merogoh saku lebih dalam, 'kan?"
Mukuro menatap Byakuran, tak percaya. "Kau sudah merencanakan hal ini sejak lama?"
Lawan bicaranya itu menggeleng. "Baru siang tadi, karena aku baru berhasil membujuk Kikyou-chan. Kau tahu kalau dia vokalis utama Hanakotoba? Ia setuju untuk membantuku dan segera mengontak anggota band-nya bahwa mereka akan melakukan konser dadakan sehingga mereka langsung bersiap-siap, termasuk memesan tempat konser dan menyebarkan info kepada fans mereka.
"Anak buahku langsung kalang kabut waktu kuberitahu untuk membuat banyak t-shirt dalam waktu singkat. Produksinya selesai saat sore, dan para anggota band juga kewalahan menandatangani kaos sebanyak itu, tapi," ia meletakkan sendoknya dan menopang dagu dengan kedua tangannya sambil tersenyum jenaka, "dengan terjualnya lebih dari seribu kaos, aku berhasil memenangkan taruhan kita karena ini, jadi tidak masalah."
Dua bos dari perusahaan pakaian ternama itu saling menatap dalam diam setelahnya. Mukuro menatap Byakuran seolah lelaki yang lebih muda darinya itu gila. Byakuran menganggap ekspresi di wajah Mukuro saat itu sangat manis. Tapi, seperti biasanya, keheningan di antara keduanya tidak berlangsung lama.
"Kau tahu apa artinya, Mukuro-kun~"
Mukuro memutar bola matanya secara imajinatif dan bersandar pada kursinya. "Sesuai perjanjian, kau dapat apapun yang kau mau."
"Kalau begitu, ayo kita ke love hotel!"
Map laporan hasil penjualan milik Mille Fiori nyaris terbang ke kepala Byakuran. Nyaris, karena Nagi keburu memegangi lengan abangnya sebelum pria itu dapat melakukan gerakan melempar.
Byakuran tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi gusar bercampur jengkel di wajah kekasihnya. "Bercanda, bercanda!" Ia berhenti tertawa setelah beberapa saat, dan ganti menunjukkan cengiran khasnya. "Aku mau Monochrome bersatu dengan Mille Fiori milikku. Kita joint-partnership, tapi kau harus bekerja sebagai bawahanku."
"Sudah kuduga."
Mukuro melirik ke arah adiknya, yang tak lagi memegangi lengannya. Nagi mengangkat bahu sambil tersenyum kecil, mengekspresikan bahwa ia tidak ada masalah jika kakaknya menerima proposal kerja sama tersebut. Ia seharusnya juga meminta pendapat wakil dan petinggi-petinggi lain dari perusahaannya, tapi... persetan dengan mereka.
"Asal Monochrome tetap bisa bekerja di industri fashion dan tidak ditekan oleh pihakmu, tidak masalah."
"Bagus! Negosiasi bisnis sudah selesai! Sekarang kita bicara sebagai orang biasa saja, jadi..." Byakuran tersenyum hangat. Tangannya terulur untuk menyentuh tangan Mukuro yang terletak di atas meja. "... aku kangen, Mukuro-kun. Kau jahat sekali tidak mengijinkanku untuk menemui maupun mengontakmu."
Mukuro melirik tangan Byakuran yang berada di atas tangannya, lalu menautkan jari-jari mereka. Sambil tersenyum, ia membalas. "Aku juga."
Byakuran mengerjap tak percaya. Mukuro mengaku bahwa ia rindu padanya itu sesuatu yang tak mungkin terjadi. Tsundere sepertinya mana mungkin mau terang-terangan mengakui perasaan mereka, bukan? Tapi mendengar dua kata tersebut, Byakuran merasa terharu dan hendak memeluk Mukuro. Namun niatnya itu dibatalkan karena kekasihnya itu tiba-tiba saja tertawa.
"Kau percaya begitu saja?" Mukuro terkekeh pelan, menyuarakan 'kufufu' yang sudah menjadi ciri khasnya. "Selamat Hari Berbohong Sedunia, Byakuran."
Setelahnya, restoran itu dipenuhi suara gelak tawa Mukuro dan teriakan depresi "Mukuro-kun jahat!" Byakuran. Benar-benar reuni yang indah, 'kan?
.
.
.
Bersambung...
.
.
.
Glosarium:
[1] Dekopon: buah sitrus tanpa biji yang sangat manis.
[2] Hanakotoba: bahasa bunga versi Jepang.
[3] Bunkamura: nama sebuah concert hall di Shibuya.
[*] Semua merek / nama perusahaan / grup yang ada dalam chapter ini berkaitan dengan karakter yang memilikinya.
Hinagiku adalah bahasa Jepang dari daisy flower.
Mille Fiori adalah terjemahan bahasa Italia dari thousand flowers.
Monochrome adalah judul bab pertama dari X-Fiamma, yang menceritakan tentang pertemuan Chrome dengan Kokuyou Gang.
.
.
.
Komentar?
