LOVE IS COMPLICATED

Genre : Romance/Friendship

Pairing : SasuSaku

Naruto copyright MASASHI KISHIMOTO

L.I.C copyright DuWeldenvarden atau The Great SnowFire

Ini dia chapter 11

Balesan review-nya entar-entar yaaa... saya buru-buru buat fic ini juga.


Kecanggungan tingkat tinggi, menyelimuti tempat duduk Sasori dan Sakura dalam pesawat. Saling menghindari kontak mata, saling tidak berbicara, dan mereka seperti orang bisu! Berkomunikasi dengan bahasa isyarat yang juga tak dimengerti, eh? Mengangguk, menggeleng, menggunakan jari tangan atau bahasa tubuh, dan sebangsanya yang lain.

Sakura hanya menatap ke arah jendela pesawat yang menampilkan lautan awan putih yang saling bertumpuk dan mengambang menutupi daratan dibawahnya. Sinar matahari menyinari mereka begitu kuat, seakan hari ini adalah hari paling bahagia bagi matahari itu. Sakura mendengus kesal, matahari itu senang bukan karena kepergiannya, 'kan?!

Sesekali mata Emerald-nya menatap Sasori yang sedang sibuk berkutik dengan smartphone-nya. Terkadang ia hanya menatap layar smartphone-nya, namun tangannya sibuk menggeser-geser layaknya orang lain di sekitarnya yang bahkan jauh lebih hebat. Menggunakan iPhone 5 keluaran terbaru. Apa mereka mau mati, eh? Menyalakan ponsel di pesawat?! Walaupun itu hanya sekedar untuk bermain tapi 'kan... uugh! Sakura depresi. Mungkin ini akhir dari hidupnya.

Sasori bahkan menganggap apa yang dilakukannya tadi sah-sah saja?! Ralat... dia bahkan smaa sekali tak menganggap kejadian itu benar-benar terjadi. Sakura mendengus keras sampai Sasori menyadari mata Sakura yang sedari tadi menatap Sasori.

"Jangan bilang itu yang pertama..." Sasori memecah keheningan di antara mereka.

"Bu.. bukan! Sama sekali bukan yang pertama!" kata Sakura asal jawab dan bahkan tidak tahu apa yang dikatakannya.

"Baiklah, anggap saja tidak ada yang terjadi, kuharap kau..."

" –melupakan apa yang telah terjadi. Iya... pasti.. dan sudah terlaksana sejak tadi." Sakura buru-buru memalingkan wajahnya kembali ke jendela yang sekarang menampilkan lautan luas dengan awan bergumpal yang setia menaungi lautan biru di bawahnya.

"Baguslah..." Sakura hampir tersedak air ludahnya sendiri. Bagaimana bisa selama 16 tahun ia menelan ludah dan masih saja belum lancar. Satu kata yang keluar dari mulut Sasori itu benar-benar memancing emosi sebenarnya. Apa Sasori benar-benar tidak merasa bersalah?! Sakura mendengus, Tahu begitu lebih baik kujawab itu yang pertama...

Keheningan mencekam sedingin es menyelimuti mereka diantara keramaian penumpang pesawat lain yang sibuk dengan urusan mereka masing-masing. "Baik. Kita sepakat untuk melupakan hal itu. Tapi kenapa kita masih bersikap seakan hal itu masih menyangkut kuat di otak?! Aku tidak nyaman dengan keheningan ini. Kecanggungan ini dan sebangsanya!" seru Sakura.

"Kupikir kau marah, eh?"

"Awalnya iya!" Sakura terdiam sejenak, "Tapi sekarang aku mengerti kenapa kau melakukannya.."

"Baguslah.." lagi-lagi kata yang membuat Sakura emosi.

"Kalau begitu jangan biarkan aku seperti orang yang mau dieksekusi! Oh.. orang-orang disini memang akan mengeksekusiku dengan cara yang paling elegan.. jatuh dari pesawat, eh?"

Sasori mengangkat alis sambil menatap Sakura. Mata Emerald Sakura menatap tajam smartphone yang sedang di pegangnya. Sasori tersenyum sambil mematikan smartphone-nya. "Maaf..."

"Kita akan menginap dimana?"

"Eh? Apa?"

"Aku bertanya..." Sakura mengeraskan suaranya, "Kita akan menginap dimana?"

"Mengapa kau bertanya?" Sasori malah balik bertanya.

"Aku berjanji pada Naruto dan Sasuke, akan memberitahukan tempat kita menginap!" jawab Sakura.

"Padahal lebih baik menginap terpisah.." Sasori menyandarkan badannya, "Dengan begitu tidak akan mudah ketahuan.."

"Katakan saja! Dimana kita akan menginap?" Sakura mulai gusar.

"Marina Bay Sands..."

Lagi, Sakura tersedak ludahnya sendiri, "Marina Bay Sands? Kau serius? Apa tidak terlalu mahal? Sungguh... itu berlebihan!"

"Itu hal biasa..." jawab Sasori dengan santai.

"Terlalu mahal! Kau memang boros..." gerutu Sakura, dan Sasori tidak menanggapinya.

"Jangan-jangan..." Sakura seakan menyadari sesuatu, "Kau.. –maksudku kita menginap disana karena... Itachi juga menginap disana?!" Wajahnya menegang.

Mau tak mau Sasori harus mengangguk. Walapupun tetap diam, gadis permen karet di sebelahnya tetap akan mengamuk.

"BODOH! Kau mau membunuhku, hah?! Atau jangan-jangan kau bekerja dengannya?! Cih.. jadi kau memanfaatkan kelemahanku dengan segala kebohongan itu?! Kau benar-benar..."

"Aku tidak membunuhmu! Aku tidak berbohong dan aku tidak memanfaatkan kelemahanmu!" terdengar emosi yang meluap-luap dalam nada bicara Sasori, "Akan jauh lebih mudah kalau kau diam saja sekarang dan biarkan dirimu mengerti sedikit demi sedikit."

Sakura terdiam. Namun ia mengingatkan dirinya tetap waspada, walaupun sebenarnya ia percaya, Sasori akan melindunginya.


"Sampai... akhirnya sampai..." Naruto menghela nafas panjang sambil merebahkan dirinya di tempat penginapan, "Setelah perjalanan panjang dari Konoha ke Tokyo!"

"Cih.. berlebihan.." sikap dingin Sasuke kembali keluar. Kali ini terdengar meluap-luap.

"Kenapa? Tidak suka?" Naruto tidak kalah sinis.

"Tch.. kau tidak cocok sinis seperti itu.." Sasuke tersenyum mengejek.

"Kau juga... tidak cocok cerewet seperti kemarin-kemarin." Naruto membalas, "Jadi kita akan transit sebentar disini?"

"Memangnya kau mau menunggu 3 jam di bandara?" Sasuke balik bertanya.

"Tidak sih." Naruto menghela nafas melihat kelakuan sahabatnya yang sudah berubah 180 derajat dari yang kemarin-kemarin, "Aku senang melihatmu yang sekarang, Teme.."

"Eh?"

"Ya..." Naruto merubah posisi duduknya, "Panik, mudah emosi dan cerewet karena seorang gadis? Waw... benar-benar bukan Sasuke yang biasanya. Semua orang juga menyadarinya." Memang karena seorang gadis atau author yang sengaja membuat Sasuke jadi OOC?

"Terserah apa yang mau kaukatakan.." Sasuke merebahkan dirinya, "Aku mau istirahat.."

"Istirahat begini sih, di bandara juga bisa, Teme!" Naruto mendengus kesal, "Dasar orang kaya!"

"Kau juga orang kaya, bodoh!" balas Sasuke.

Mereka beristirahat di penginapan yang tak jauh dari bandara. Cukup nyaman, dan mereka berdua pasti puas beristirahat disana dibandingkan duduk diam di bandara. Sinar matahari perlahan mulai meredup, tanda mereka harus bangun, dan bersiap pergi bandara, kalau mereka tidak mau ketinggalan pesawat dan mengumpat tidak jelas karena telah beli tiket mahal-mahal. Tunggu, sejak kapan mereka –apalagi Sasuke– memikirkan uang?!

Angin sore menerpa wajah Sasuke yang sedang menunggu di depan penginapan. Lebih tepatnya menunggu Naruto yang sedang mengurusi biaya dan check out.

"Ini.." Naruto menyerahkan kunci mobil kepada Sasuke setelah keluar dari penginapan.

"Aku yang menyetir?"

"Tentu saja, Teme! Kaupikir aku yang akan menyetir selamanya?" gerutu Naruto.

"Cih.. menyebalkan."


Sakura menunggu Sasori yang sekarang entah sedang apa dan dimana, di depan bandara Changi, Singapura. Betapa bersyukurnya ia setelah satu pesawat dengan para pengusaha yang seenak jidat mengeluarkan dan mengaktifkan ponsel mereka dalam pesawat. Setidaknya pesawat itu tidak jatuh dan kemudian mengeksekusi dirinya. Tenggelam? Terbakar? Atau bahkan... terbelah? Sakura tidak mau memikirkannya lagi. Ia tidak akan tinggal diam kalau sampai itu terjadi. Ia pasti akan balas dendam.

"Ayo berangkat.." Sasori tiba-tiba muncul begitu saja sambil mengangkat barang bawaan. Sakura hanya mengangguk dan mengikutinya dari belakang. Memasukkan barang-barangnya ke dalam salah satu taksi yang sepertinya dipesan waktu Sasori menghilang tadi. Kemudian taksi ini membawa mereka menuju jalan raya. Inilah Singapura. Negeri seribu satu larangan.

Tidak banyak yang bisa dilihat Sakura saat ini. Malam, dan matanya sudah tidak kuat menampung cahaya-cahaya yang diterimanya. Harus segera dikirimkan ke kegelapan pekat kalau tidak mau mata ini meledak.

"Sabar... sebentar lagi kita sampai..." kata Sasori.

Sakura mengangguk. Lihat, inilah tempat dimana dia pernah didenda karena tidak sengaja menjatuhkan bungkusan roti yang pastinya dikira sampah yang dibuang sembarangan. Yes.. itu membuatnya trauma. Walaupun hanya sekali, dendanya lumayan. Sakura bahkan sudah bertekad. Aku tidak akan pernah keluar kamar!

Tak lama kemudian ia bisa melihat sebuah bangunan tinggi yang megah sekali. Dengan taman yang cukup luas. Lalu apa itu kapal yang nyangkut di atas gedung kembar 3 itu? Oh.. Sakura harus periksa otak. Kenapa dia seperti orang tolol begini. Arsitek jaman sekarang memang sulit dimengerti.

"Sampai.." Sasori membayar taksi, turun dari mobil, ralat, taksi itu dan pelayan tamu dari MBS pun keluar menyambut hangat sambil membawa troli untuk membawa barang bawaan yang memang termasuk banyak ini. Entah bagaimana Sasori bisa tidak kena denda untuk berat barang yang biasanya diatur harus kurang dari sekian kilogram itu.

Sakura –POV–

Aku melihat kesana kemari selama Sasori check in. Banyak tempat menarik yang bisa kukunjungi. Berhubung posisiku yang tidak tepat, seakan seperti buronan, aku terpaksa tetap pada tekadku. Tidak keluar kamar, heh?

Tiba-tiba saja mataku menemukan sesuatu. Aneh.. 3 orang, bukan.. 4 orang mencurigakan masuk ke dalam sebuah sela-sela bangunan? Untuk apa?

Okay, itu bukan urusanku tapi kenapa kakiku melangkah seakan aku Shinichi Kudo yang sedang menguping pembicaraan dua orang berjubah hitam di taman bermain dan meninggalkan Ran Mouri? Bedanya ini Marina Bay Sands dan yang kulihat 4 orang.

"Hei, bos.. kau yakin dia akan datang kemari membawa gadis itu? Ancamanmu... rasanya kurang menarik.."

"Dia pasti akan datang. Dia tidak akan bisa membalaskan dendamnya padaku tanpa membawa gadis itu. Umpan... dan aku yang akan dijeratnya. Padahal dia tidak tahu seberapa pintar buruannya ini.."

Umpan? Itu sudah pasti aku... Tidak penting lagi. Itu pasti Itachi, yang errr... sedang menggaji orang-orangnya mungkin. Kenapa semua orang kaya minus diriku begitu boros? Aku saja masih berusaha mengejar diskon kalau berbelanja.

Merasa percakapan mereka tidak penting lagi, aku berjalan kembali dan bisa kulihat Sasori sedang mencari-cari diriku.

"Kau kemana saja, bodoh?!" serunya. Aku hanya tersenyum.

"Maaf... aku tadi bosan.." jawabku berbohong. Ya.. setengah berbohong. Aku benar-benar bosan tadi.

"Aku tidak mau mengambil resiko. Kita harus pergi segera ke kamar kita. Oh ya, kau bilang akan mengirim e-mail untuk Sasuke.." Sasori merogoh sakunya, "ini..." dia menyerahkan smartphone-nya padaku. Aku dengan sigap menerimanya dan berjalan ke lift bersamanya.

Yak.. sampai.. kamar nomor 113. Nomor kesukaanku. Bagus sekali. Apa mungkin sekarang hari keberuntunganku?

"Kau pasti lelah... langsung tidur saja..." kata Sasori. Aku mengangguk. Tentu saja aku lelah, Sasori.. mungkin jet lag.

"4 orang.. berjubah hitam.. salah satunya Uchiha brengsek... antara gedung 1 dan 2." gumamku, namun ternyata Sasori masih bisa mendengarnya.

"Kau serius?!" tanya Sasori antusias. Aku bisa melihat pancaran mata hazel-nya. Tapi hanya dendam yang kurasakan. Dendam menusuk, kemudian kehangatan kenangan Rukari-nee. Seharusnya aku tidak perlu mengatakannya.

"Ya.. aku serius.. aku melihatnya sendiri. Menggaji pembantunya mungkin." Jawabku.

"Kau tidur duluan, aku mau menyelidiki sesuatu. Ponselku, kutitipkan padamu." Sasori mengambil jaket buru-buru.

"Mereka terlihat bersenjata.. kau bisa kenapa-kenapa kalau sendirian! Kau mau mati, heh?" Aku mulai gusar. Kenapa mencari mati sih?!

Tapi sialnya kata-kataku tak ditanggapi. Menyebalkan.

Tapi kuharap kau baik-baik saja.

Aku segera berkutik dengan smartphone di tanganku. Mengetikkan deretan angka dan kemudian kata.

MARINA BAY SANDS.


Ponsel Sasuke bergetar saat mereka melakukan Security Check Point 2. Naruto terlihat antusias melihat alat x-ray dan detektor logam.

"Dari siapa?" tanya Naruto.

"Sakura.." jawab Sasuke.

"Wah.. dia sudah sampai?!" Naruto tersenyum puas, "Jadi, dimana dia menginap.."

"Marina Bay Sands."

"Eh?"

Hening. Mereka berdua sama shock-nya.

"Aku tak percaya Sasori benar-benar menyayangi Sakura. Bahkan sampai memberikan pelayanan bintang 5 seperti itu. Fufufu... kau harus berjuang keras sepertinya, Teme.." kata Naruto, "Bayangkan mereka akan menginap bersama di hotel mahal banget seperti itu."

"Terimakasih atas kesimpulannya!" Sasuke menjitak kepala Naruto.

"Ittai!" Naruto meringis.

Mereka selesai dan duduk sambil menunggu 5 menit lagi untuk masuk pesawat. Mereka hanya terdiam. Sasuke sibuk mendengarkan lagu dan Naruto sibuk dengan donat berlumuran cokelat di tangannya.

"Maaf apa anda mengenal gadis ini?"

Tiba-tiba suara berat mengagetkan mereka berdua. Masing-masing berhenti dari kegiatannya.

"Anda siapa?" tanya Naruto.

"Sudah jawab saja!" laki-laki itu geram. Tubuhnya kekar dan besar. Naruto sampai ngeri.

Naruto dan Sasuke memandang foto yang diberikan laki-laki gigantisme itu. Mata emerald, rambut soft pink, kulit porcelen. Tidak salah lagi!

"Kami tidak mengenalnya. Tapi kurasa aku pernah menemuinya.." kata Naruto, membuat Sasuke kaget. O..Oi, Naruto.. kau tidak akan sepolos ini, 'kan?!

"Dimana?" Laki-laki itu makin mengintimidasi.

"Di Negeri Paman Sam, 10 tahun yang lalu.." jawab Naruto asal. "Dan setelah itu tidak melihat lagi. Kabarnya ia sudah meninggal karena kanker.."

Dua laki-laki itu mengangguk serius seakan percaya apa yang dikatakan Naruto. Kemudian mereka pergi begitu saja.

"Naruto.."

"Apa, Teme?"

"Kau memang hebat..."

Naruto membusungkan dadanya bangga.

Sasuke kembali berkutik dengan smartphone-nya.

Mengetikkan deretan huruf dan kata-kata.

Kami akan segera tiba... Dua orang menanyakan kami tentang dirimu. Berhati-hatilah Sakura... –chan.


Sasori masih berusaha mendengarkan kata-kata Itachi, musuh bebuyutannya. Ia menajamkan telinganya seperti serigala yang ingin memangsa seekor kelinci yang tengah cerobohnya keluar dari liang dan bermain-main.

"... Kuro bilang ada dua orang yang mengenali gadis itu, bos. Tapi katanya sudah meninggal di Amerika." Sasori mendengar salah satu bodyguard Itachi berkata.

"Kuro? Cih... dia memang tidak bisa diharapkan. Suruh Hidan melepas pelatuknya tepat di kepalanya. Tak peduli dia dimana." Kali ini dia mendengar Itachi.

Cih.. dasar orang yang tidak tahu hak asasi manusia! Sasori mengejek dalam hatinya.

"Bagaimana dengan Takashi?" tanya bodyguard-nya lagi.

"Tentu saja sekalian di bunuh. Kalau sempat, dua orang itu juga sekalian dibunuh." Dan kata-kata itu benar-benar membuat Sasori goyah dan ceroboh. Menginjak daun kering.

"Hei! Siapa disana?!" Sasori bisa mendengar salah satu bodyguard Itachi melepaskan senjata berperedam dari balik jasnya.

Kalau begini sih.. terpaksa lari! Sasori akhirnya berjalan perlahan, sampai di depan lobi, ia lari. Tanpa menimbulkan suara.


"Tidak ada apa-apa.. bos.." bodyguard Itachi kembali.

"Kau yakin?" Itachi tampak ragu.

"Ya..."

Senyum sarkastik, tampang aura membunuh, mata burung gagak yang tajam itu.

Kau sudah sampai ternyata, Sasori..


Aku terbangun dari tidur tercepat yang pernah kualami dan mendapati pesan masuk di smartphone Sasori. Sudah pasti dari Sasuke. Ia membuka pesan, bersamaan dengan Sasori yang membuka.. ralat, mendobrak pintu seperti sedang ada penggeledahan.

"Kenapa, Sasori?" tanyaku dan menaruh ponsel itu di atas meja makan.

"Hah... aku hampir ketahuan. Sial, padahal mungkin obrolan selanjutnya akan sangat penting!" umpat Sasori.

"Kau perlu istirahat. Tidurlah... eit.. sebelum itu mandi dulu!" kataku. Dia hanya mengangguk dengan masih diselimuti rasa kesal, "Oh ya.. tadi Sasuke membalas e-mailku. Dua orang yang mungkin waktu itu kaucurigai menanyakan tentangku pada Naruto dan Sasuke. Aku mesti berhati-hati katanya."

"Balas e-mail itu!" Sasori berseru setengah membentak, "Justru mereka yang harus berhati-hati! Dasar bodoh!"


Sasuke dan Naruto telah duduk di tempat mereka. Sebentar lagi pesawat ini akan melayang dan meninggalkan Jepang. Yeah, sangat jarang bagi Sasuke dan Naruto berpergian seperti ini, walaupun kaya.

Pesawat ini perlahan mulai berjalan, mengambil ancang-ancang sebelum terbang. Ketika hendak lepas landas. Sasuke dan Naruto mendengar teriakan dari bandara yang cetar membahana.

"Teriakan?" Sasuke bergumam.

"Pasti terjadi sesuatu.." Naruto menebak-nebak.

"Apa dua orang yang tadi?"

"Bisa jadi."

Dan Sasuke kaget ketika menerima pesan dari Sakura, "Memang dua orang itu..."


Aku terbangun dari tidurku yang bisa dibilang sebentar. Hanya 30 menit. Yeah, menyebalkan sekali, dan Sasori tidak ada dimanapun. Menyebalkan, kenapa aku harus ditinggal sendiri sih? Apa dia mau aku tertangkap?!

Bahkan belum ada tanda-tanda bahwa Sasuke dan Naruto sudah sampai. Aku sangat mengharapkan kehadiran Sasuke disini. Aih.. aku sudah tidak tahan dengan aura membunuh Sasori yang selalu mencekam, bahkan sewaktu makan?

End of Sakura's POV

Sakura hanya menghela nafas sambil minum jus jeruk yang barusan dibuatnya dengan cepat. Bagaimana bisa Sasori meninggalkannya tanpa makanan? Aih, obsesi balas dendam sepertinya telah menggerogoti Sasori.

Walaupun sebenarnya ia lebih dendam dibandingkan Sasori, karena dirinya ada korban secara langsung.

Pintu tiba-tiba berbunyi. Handle-nya hendak dibuka tapi seperti tidak bisa. Setelah sedikit paksaan akhirnya terbuka dan Sakura langsung menyambutnya.

"Sasori, kau dari mana sa..." Sakura segera mengenali orang di depannya. Shit, ternyata ini hari kesialannya. Dan hanya kemarin saja hari keberuntungannya.

"Halo.. lama tak berjumpa ya, sayang?" Itachi masuk sambil membunguk.

"Mau apa kau?! Cepat keluar atau kupanggil security untuk mengusirmu!" Geram Sakura.

"Hey.. hey.. tidak perlu segalak itu sayang..." Itachi tersenyum. Senyum menjijikan di mata Sakura, "Security pun tunduk padaku."

"Cih! Apa maumu?! Lebih baik kau keluar! Kau bahkan telah membunuh banyak orang selain kakakku, heh?! MANUSIA MACAM APA KAU!" Bentak Sakura.

"Sssst.. kau akan diusir security kalau kau menganggu tamu hotel yang lain..." Itachi masih tetap tersenyum dan tetap lembut.

BUGH!

Sebuah pukulan kencang dengan sempurna mendarat di pipi kiri Itachi.

"DASAR MAKHLUK MENYEDIHKAN! KOTOR DAN RENDAHAN! PERGI KAU DARI SINI!" Sakura terengah-engah, namun tetap berteriak dan tatapan matanya tajam dan dingin.

"Whoa... ternyata kau tidak mau dengan cara yang lembut?" Itachi menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya. "Bereskan itu.."

Tiba-tiba dua orang kekar masuk dengan jas hitam dan kemudian mendekat ke arah Sakura. Sakura berusaha melawan dengan jurus karate yang pernah diajarkan ayahnya dulu. Pertama, serangan itu cukup ampuh, terlebih setelah ia berusaha meniru jurus tendangan berputar Ran Mouri.

"Kau tidak akan mampu melawan mereka. Menyerahlah.." Itachi mendekati Sakura yang kedua tangannya ditahan di belakang, "Lalu kita bersenang-senang... Oh ya, mana bocah berambut merah itu? Menyerah untuk melindungimu, eh?"

"DIA AKAN MEMBUNUHMU, ITACHI!" Seru Sakura.

"Mana mungkin.." Itachi tersenyum, lebih tepat disebut seringai. Kemudian tiba-tiba memeluk Sakura, "Aku merindukanmu. Tapi sayang aku masih harus memikirkan keluargaku. Aku harus menyelesaikan urusan Uchiha dengan Haruno. Padahal aku menyayangimu. Tapi, apa boleh buat... Kita bersenang-senang saja sebelum kau... mati.." Sakura tersentak kaget dan menjerit keras ketika sesuatu yang tajam memasuki pembuluh lehernya, memasukkan cairan aneh yang segera mengalir dalam tubuhnya, dan membuat tubuhnya lemas seketika.

"Bawa dia ke kamarku.." titah Itachi pada kedua bodyguard-nya, "Siapkan mobil! kita akan pergi dari sini!"


"I.. Inikah Marina Bay Sands?!" Naruto tercengang melihat bangunan megah itu.

"Iya.. dan itu... Sasori.." kata Sasuke degan ketus.

"Kau cemburu, heh? Yang selama ini disamping Sakura adalah Sasori.." kata Naruto.

"Tidak! Aku tidak cemburu, bodoh!" Sasuke segera turun dari mobil dan mengeluarkan barang-barangnya dari bagasi mobil, ralat.. taksi.

"Sasuke..." Sasori menyapanya, "Sakura menunggumu di kamar 113..."

"Aku tahu dia menungguku.." kata Sasuke, "Ayo.."

Mereka mengangguk dan segera pergi ke kamar 113. Dan yang mereka lihat adalah.. kamar yang terbuka, dan tetesan darah di lantai.

"Apa yang terjadi, Sasori?!" Seru Sasuke, "Dimana Sakura?!"

"Aku tidak tahu! Dia di kamar ini ketika aku pergi tadi!"

"Berpencar! Cari Sakura ke seluruh sudut ruangan!" titah Sasuke. Dan mereka mencari, namun nihil.

"Ini salahku!" Sasori meremas rambut merahnya, "Dia pasti sudah tahu."

"Siapa?" tanya Sasuke.

"Itachi.. dia tinggal disini.. dan dia tahu aku sudah datang dan kemudian menyelidiku, pasti.. karena kemarin aku menguping pembicaraannya.." kata Sasori.

BUGH!

"KECEROBOHANMU MENCELAKAKAN ORANG, BODOH!" Bentak Sasuke. Yap, dia telah memukul keras Sasori.

"Ya.. memang salahku..." kata Sasori, "Kau tidak perlu memukulku!"

"Tentu saja perlu! Menyadarkanmu!" Sasuke frustasi, "Yeah.. kita tidak mungkin menggebraknya sendirian sementara Nadia dan polisi Jepang belum sampai."

"Apa yang harus kita lakukan?! Kita akan mencarinya?" tanya Naruto.

Ponsel Sasori bebunyi.

You got one message

From : Private Number

Nyawanya takkan bertahan lama... dia akan berakhir sama seperti pacar malangmu...

"Itachi!" Sasori mulai frustasi, "Sial! Aku tidak bisa menjaganya.."

"Laporkan saja pada kepolisian! Mau bagaimanapun, kita tidak bisa diam saja..." kata Naruto, kemudian turun ke lobi.

"Sial!" umpat Sasuke

Hei, Sakura...

Kapan kita bisa bertemu dengan damai, sih?

Kau tahu... sampai Itachi melakukan sesuatu padamu.

Aku tidak akan segan-segan menarik pelatuk untu membunuhnya.


TO BE CONTINUED


Ini dia Chapter... 11..

Sepertinya aku akan membuatnya sampai chapter 13.

Ah, padahal sedang bahagia-bahagianya Sasuke bisa bertemu Sakura, tapi Itachi lagi-lagi penghalang..

Readers : yang buat ficnya siapa?

Welden : Saya!

#GUBRAK!

RnR yaaa!

Terima kasih bagi para readers, senpa, dan lain-lain yang setia membaca fic aneh ini.. terimakasih atas review –nya... terimakasih telahmenjadikan fic ini favorite story. Terimakasih sebanyak-banyaknya untuk kalian deh~!

RnR plis!