Fated to Me

YUNJAE

Main Cast :

Jung Yunho

Kim Jaejoong

Kim Soo Hyun

Cast :

Park Yoochun

Kim Junsu

Shim Changmin

Disclaimer :They are belongs to them selves, family, Elite Minority Cassiopeia, and shipper.

Author : Alyse Shanidas

Genre : AU, OOC, BL, Urban-life, Love-Hate, Love Triangle, Crack Pairing, Mpreg.

Rating : M

Warning : DON'T LIKE DON'T READ. Author Newbie, Typos *ngacir dimana-mana* , Amburadul tidak sesuai EYD, Slash.

Previous Chapter

Dan sekarang, orang yang sangat di cintainya ada di depannya, dalam jangkauannya. Justru pada saat ia hampir menyerah, lelaki cantik impiannya itu datang padanya. Bayangkan! Apa yang terlintas dalam pikiranmu saat itu?. Membiarkannya pergi dengan sia-sia? Atau menghabiskan waktu sebisa mungkin hanya berdua dengannya?.

"Duduklah disana." Yunho lalu berjalan ke counter Mini bar dan mulai mengambil orange juice. "Bagaimana kalau orange juice dengan campuran vodka? Kau mau?" Tanyanya tanpa menoleh ke arah Jaejoong.

"Iya, aku mau." Jaejoong menjawabnya dengan antusias. Kakinya segera melangkah mendekati kursi stool dan menatap punggung Yunho yang sedang meracik minuman sendiri. Jaejoong tersenyum, setidaknya ia tidak akan mabuk kalau hanya meminum orange juice bukan? Begitu yang ada di dalam benaknya saat itu.

Yunho tersenyum kecil. Jaejoong benar-benar sangat polos. Dia tidak tahu sama sekali tentang minuman beralkohol. Dan ini suatu keuntungan baginya. Ia mencampurkan setengah gelas kecil vodka ke dalam orange juice milik Jaejoong. Well, Vodka sendiri merupakan salah satu minuman beralkohol dengan kadar yang cukup tinggi,yaitu sekitar 40%. Dan tujuannya saat ini hanya satu. Ia ingin membuat Jaejoong mabuk. Dengan begitu ia bisa memilikinya. Licik? Ia bahkan tidak peduli. Biarkan saja ia licik. Untuk malam ini. Hanya malam ini saja.

Chapter 11

"Sesuatu yang kau benci bisa jadi adalah yang terbaik untukmu, tetapi sesuatu yang kau sukai belum tentu menjadi yang terbaik untukmu." Yunho mengucapkannya sambil menatap ke dalam mata bulat Jaejoong yang semakin sayu. Kalau dilihat dari gerak-gerik Jaejoong, sepertinya lelaki cantik itu mulai mabuk.

Sedangkan Jaejoong hanya membalas perkataan Yunho tadi dengan sebuah senyum simpul yang tampak manis. Kepalanya mulai terasa berat,dan tubuhnya seperti melayang. Begitu ringan, sangat ringan. Seperti tidak ada beban masalah kehidupan sekecil apapun yang sedang di pikulnya. Seolah hatinya hanya dipenuhi oleh perasaan senang, perasaan bebas.

"Kau baik-baik saja?" Yunho mengusap pelan punggung tangan Jaejoong yang berada di atas meja. Tubuhnya sedikit dicondongkan ke arah Jaejoong. Mencoba memperhatikan lebih dekat wajah cantiknya yang mulai memerah.

"Umm?... Mhhh, aku tidak cukup baik." Jaejoong memandang Yunho dengan tatapan yang terlihat menggemaskan. Kedua mata bulatnya mengerjab imut dengan bibir yang sedikit mengerucut. "Kepalaku terasa sedikit pusing." Ia lalu memijat pelan keningnya yang terasa berdenyut.

Yunho tertawa kecil. "Sepertinya kau mabuk Jae." Ia berucap pelan. Mata musangnya sejak tadi tak lepas memandang wajah cantik Jaejoong yang semakin merona -efek mabuk-. Dia berkali lipat lebih cantik dan... menggairahkan.

"Benarkah? Sebelumnya kau tidak berencana untuk membuatku mabuk kan?" Jaejoong bertanya dengan tubuh yang juga dicondongkan ke depan. Memperhatikan dengan seksama wajah tampan Yunho yang entah kenapa terlihat sangat mempesona di matanya.

Yunho tersenyum. Senyum yang cukup misterius. Jaejoong, ketika mabuk jadi terlihat sangat menggoda. Bibir plumnya digigit dengan sensual. Yang mana hal itu hanya semakin menambah kesan basah dan merah di bibirnya. Sebelah tangannya digunakan untuk menopang dagu. Jadi terlihat seperti sedang berpose menggoda. Menantangnya.

Uhh. Yunho suka yang seperti ini. Keadaan dimana Jaejoong yang berani, tidak pemalu dan terlihat sedikit lebih agresif dalam menggodanya. "Kenapa? Kau takut?" Ia menyeringai. Menggoda.

"Kenapa aku harus takut?" Jaejoong balas bertanya. Terlihat kalau ia semakin berani.

"Apa kau sedang mencoba untuk menantangku?"

"Apa terlihat seperti itu?"

"Kim Jaejoong..." Yunho mendesis pelan sambil bergerak memajukan tubuhnya. Sudah siap menggigit hidung mancung Jaejoong jika saja lelaki cantik itu tidak mengelak. Disaat ia semakin memajukan tubuhnya, dengan gesit Jaejoong mengelak dari jangkauannya. Entah berpaling ke samping ataupun memundurkan tubuhnya. Setelah itu dia akan tertawa sambil menutup bibirnya. Tawa yang sangat cantik.

"Boleh aku memelukmu?"

Ucapan Yunho menghentikan tawa itu.

Jaejoong sempat terdiam sebentar, sebelum kemudian merentangkan tangannya agar terbuka lebar. Bersiap menerima dan menyambut Yunho dalam pelukannya. Namun ia mengernyit heran saat Yunho membalasnya dengan gelengan pelan. "Kenapa?" Tanyanya heran.

"Ini." Yunho menepuk meja yang ada dihadapan mereka. "Menghalangiku untuk menjangkau mu." Lanjutnya dengan mimik wajah serius.

"Hihihi... Kau bisa berputar kesana." Jaejoong menunjuk ujung meja panjang yang memisahkan mereka sambil terkikik geli. Namun hal itu juga hanya dijawab Yunho dengan gelengan pelan dan senyum simpul yang tampak misterius.

"Aku tidak ingin menjauh darimu walau hanya sebentar saja."

"Lalu apa yang harus ku lakukan?" Jaejoong mendesah kesal. Ucapan Yunho yang sejak tadi hanya bertele-tele membuatnya semakin bertambah pusing.

"Naik kesini." Yunho menepuk meja yang ada di hadapannya -lagi- . Mengisyaratkan kepada Jaejoong agar mau melakukan seperti apa yang di inginkannya.

Jaejoong terkikik geli. Sebelum kemudian beranjak menaiki meja dan menjulurkan kakinya di samping tubuh Yunho. Ingat? Jaejoong sedang tidak cukup waras dalam melakukan hal itu. Dia sedang dalam pengaruh alkohol yang membuatnya mulai mabuk.

Melihat itu Yunho menyeringai kecil. Ia langsung menahan tubuh Jaejoong yang ingin turun dari meja. Mencekal paha lelaki cantik itu dan sedikit melebarkannya. Dan seperti inilah posisinya sekarang. Berada di antara kedua kaki Jaejoong yang terbuka lebar. "Begini lebih nyaman." Ia lalu memeluk pinggang ramping itu dan menyandarkan kepalanya di dada Jaejoong. Mencoba menikmati irama detak jantung Jaejoong yang teratur.

"Kau seperti anak kecil." Jaejoong menepuk pelan kepala Yunho. Terkikik sendiri seolah sedang menimang Yunho dalam pelukan hangatnya.

"Biarkan aku bercinta denganmu untuk malam ini." Begitu telak dan sangat dingin. Yunho memang tidak pernah meminta sesuatu. Baginya kata-katanya adalah perintah yang harus dilakukan.

Setelahnya suasana hening hingga beberapa menit. Yunho mendesah pelan, ia merasa mungkin saja Jaejoong akan menolak keinginannya tadi. Dalam benaknya bermunculan fikiran negatif akan reaksi yang akan Jaejoong tunjukkan. Apa ia akan ditampar karena meminta hal itu pada Jaejoong? Ia hanya sedikit sangsi pada dirinya sendiri. Meski Jaejoong mabuk mungkin saja tubuh dan logikanya masih mampu untuk menolaknya. Tanpa sadar liquid bening menetes dari mata musangnya yang terpejam.

"Yunho-ah..." Jaejoong segera meraih wajah Yunho dan menengadahkan ke arahnya. "Aku tidak suka melihatmu menangis. Kau jadi sangat jelek." Ucapan Jaejoong memang terkesan mengejek. Akan tetapi dari nada suaranya yang terdengar bergetar, siapapun pasti akan tahu kalau dia sedang mencoba menahan tangis. Jaejoong tersenyum meski kedua matanya memancarkan binar yang berbeda. Ia mengusap air mata yang mengalir di pipi Yunho.

Mendengar itu Yunho pun tersenyum. Dengan perlahan ia mulai bangkit berdiri. Kedua matanya menatap ke dalam mata indah Jaejoong yang mengerjab sayu. Wajah cantiknya sudah merona merah karena mabuk. Bibir plumnya pun semakin basah. Sejauh ini Jaejoong menunjukkan reaksi yang cukup positif ketika ia dengan berani mulai berinteraksi secara langsung dalam sebuah sentuhan.

Tak ada hal lain yang ada di dalam fikirannya saat ini kecuali mencium bibir merah itu dengan sangat dalam. Menciumnya tanpa jeda. Mencium sesukanya. Semaunya ia menandai ciuman itu. Dan sepuasnya ia melumat bagian yang manapun. Dorongan dari dalam hatinya itu sudah tidak bisa ditahannya lagi. Layaknya kembang api yang ingin meledak dengan percikan cahaya di langit luas. Yunho menyerah atas pertahanannya.

Yunho mulai mencumbu Jaejoong dengan cukup intens. Mencecap rasa manis dari orange juice - vodka yang masih terasa di bibir dalam Jaejoong dengan penuh penekanan. Sangat menuntut. Hingga membuat tubuh Jaejoong sedikit tersentak ke belakang. Sebelum kemudian tangan ramping itu melingkar di lehernya dan ia merasakan bibir Jaejoong yang mulai membalas ciumannya dengan cukup agresif.

Inilah yang Yunho sukai. Hal yang selama ini selalu dinanti-nanti dan ia harapkan untuk menjadi nyata. Dimana sikap agresif Jaejoong mulai keluar. Semakin mendominasi tubuh dan logikanya. Mengubur jauh-jauh penolakan dan sikap pemberontaknya selama ini.

Yunho tersenyum kecil di sela-sela ciuman basah mereka ketika Jaejoong menggigit pelan bibir bawahnya. Ada denyutan kecil ketika Jaejoong menggigitnya kembali dan kemudian menghisapnya. Yunho semakin terpacu untuk mendominasi bibir itu. Ia kembali memagutnya dengan kasar dan menyatukan lidah mereka. Menghisap dan menggigitnya dengan gemas hingga membuat Jaejoong melenguh sakit dalam ciuman mereka.

Ketika ciuman itu semakin membuat keduanya terbakar gairah, Yunho menghela Jaejoong menuju kamar yang ada di sudut ruangan ini. Sebuah kamar yang akan menjadi saksi bisu percintaannya dengan Kim Jaejoong. Berdua, bergerak dan melebur menjadi satu dalam kesunyian malam. Menyatukan gairah mereka yang semakin menggebu. Bersama merajut surga dunia di bawah desahan dan teriakan kepuasan mereka.

Jaejoong menjerit, mencakar lengan Yunho dan meminta lelaki itu untuk berhenti. Tetapi Yunho tetap melakukannya. Hingga beberapa saat setelah rasa sakit itu tubuhnya bagaikan melayang. Ketika Yunho semakin dalam melumat bibirnya. Perasaan ringan karena mabuk dan juga rasa nikmat karena sentuhan Yunho, bertubi-tubi mendera tubuhnya. Lelaki tampan di atasnya itu sedang mencumbu liar setiap jengkal kulitnya yang terasa basah dan semakin sensitif. Telinga hingga lehernya yang sangat sensitif pun tak luput dari gigitan dan hisapan bibir hati itu. Begitu nikmat. Begitu bergairah. Dan begitu menegangkan.

"Akhhh... Yunhooo-ahhh..." Jaejoong mendesah nikmat ketika bagian tersensitif di dalam tubuhnya terjamah oleh bagian tubuh Yunho yang menegang keras. Ia mendongakkan wajahnya ketika kenikmatan yang tak terkira itu semakin menggelenyar di sekujur tubuhnya. Tubuhnya sampai bergetar kecil dan menggelinjang nikmat karena gelombang kepuasan itu. Ia membuka lebar pahanya bersiap untuk menerima hantaman tubuh Yunho yang bergerak liar dan kasar tetapi mampu menghujamnya di bagian yang tepat.

Melihat itu Yunho semakin mendesakkan tubuh bawahnya untuk menyentuh titik sensitif Jaejoong lagi dan lagi. Menghujamnya berkali-kali. Hingga membuat lelaki cantik di bawahnya menggerang nikmat dan memekik tertahan. Panasnya gairah yang membakar mereka membuat keduanya semakin terhanyut dalam penyatuan itu.

Yunho memejamkan matanya ketika tubuhnya mulai terbakar oleh percikan gairah yang menghadirkan puncak gelombang dari kenikmatan dan kepuasan itu. Tubuhnya terasa panas dan mendamba. Sangat mendamba sentuhan ini. Sentuhan yang selama ini hanya ada di dalam fantasi liarnya ketika ia sedang berendam di Jacuzzi. Yang tentunya terasa sangat berbeda karena sekarang ia bisa menikmati langsung dan mendengar sendiri alunan desahan Jaejoong yang merdu. Terasa menggelitik tubuhnya hingga semakin meremang sensitif.

"Nghhhh..." Yunho mengeram nikmat. Ia sungguh tidak mampu menahan desahannya. Kecupan kecil Jaejoong di dagu dan lehernya menimbulkan jejak basah yang menyatu dengan keringat yang mengucur di setiap pori-pori kulitnya. Usapan Jaejoong di bagian lengan, punggung, lalu ke depan mengusap dada bidangnya hingga usapan sensual di bagian tengkuk disertai remasan di rambutnya hanya semakin memacu staminanya untuk bergerak lebih cepat. Menambah intensitas dorongan miliknya agar semakin menghujam lebih dalam.

Berciuman. Berpelukan. Dan bercinta.

Soo Hyun semakin tertunduk dalam keheningan malam. Entah kenapa perasaan sesak mulai menghantuinya. Ia tidak bisa memejamkan mata barang semenit saja. Dan sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 3 dini hari. Ia merasa waktu seolah sedang mengejeknya dengan membiarkan hari begitu lama bergulir.

Rasa tanggung jawab untuk menyelesaikan pekerjaannya disini jelas harus ia lakukan. Karena ini memang resiko yang harus di ambilnya ketika ia sudah memutuskan untuk menjadi seorang arsitek yang profesional. Tapi hal ini juga yang selama ini ia hindari. Jauh dari Jaejoong. Jauh dari orang terkasihnya.

Puncaknya adalah hari ini. Apa gerangan yang membuat Jaejoong sampai tidak mau mengangkat telfonnya sama sekali? Sibukkah dia?. Rasanya ia memang ingin menanamkan pemikiran seperti itu di dalam benaknya. Hanya saja hatinya selalu menyangkal akan hal itu. Sejak seminggu setelah ia menginjakkan kakinya di Jeju, sikap Jaejoong mulai berubah.

Tapi apa memang cinta bisa kendur karena jarak? Soo Hyun yakin inti dari cinta itu sendiri tentu tidak rusak. Tapi jarak dan tempat tidak bisa berdusta. Berpisah secara fisik bisa merenggangkan keintiman percintaan karena tidak lagi di pupuk oleh pertemuan, canda tawa, dan kemesraan.

"Jaejoong-ah... Sebenarnya apa yang terjadi padamu sayang?" Desahnya frustasi di antara tangis tertahannya yang berderai. Dalam bayangan Soo Hyun, mereka sudah seperti putus secara perlahan. Tinggal menunggu sampai tali asmara mereka benar-benar putus se-utuhnya. "Ku mohon jangan lakukan ini..." Ia memijat pelan pangkal hidungnya. Air matanya yang terjatuh mulai membasahi bingkai foto seseorang. Seseorang yang tersenyum dengan sangat cantik. Kebahagiaan terpancar jelas di kedua bola matanya saat itu. Ingat? Saat itu.

Changmin menghela nafas berat ketika Soo Hyun kembali menghubungi ponsel Jaejoong. Ia kasihan, teramat sangat kasihan dan tidak enak hati. Tapi mau bagaimana lagi? Apa yang harus di katakannya nanti? Bisa saja ia berbohong dengan mengatakan jika Jaejoong sudah tidur ataupun alasan logis lainnya. Hanya saja bagaimana dengan pengakuan Kyuhyun nanti?. Jika ia dan Kyuhyun memberikan keterangan yang berbeda jelas saja akan menimbulkan keributan baru. Hell no! Ia tidak mau ada masalah lagi.

"Hei... Kyuhyun-ah...? Kita sudah sampai." Changmin mengguncang pelan bahu Kyuhyun yang sudah tertidur pulas. Namun nihil, tak ada reaksi yang menunjukkan tanda-tanda akan bangun dari Kyuhyun. Sepertinya lelaki manis itu sangat lelah. Ya. Sepertinya memang begitu, lelah hati dan juga lelah fikiran.

"Tidak seharusnya kau terjebak dalam masalah yang menyusahkan mu dan Hyungmu seperti ini, My best friend forever..." Desah Changmin. Ia tidak pernah menduga jika di balik sifat ceria Kyuhyun tersimpan masalah besar seperti ini. Ia mengenal Kyuhyun sebagai pribadi yang murah senyum. Seperti mottonya yang pernah dia ucapkan. "Smile, always smiling, give a smile, share a smile, and smile." . Ia sampai meringis sedih tadi, ketika Kyuhyun berteriak mengungkapkan semua rasa sayangnya kepada keluarganya dengan senyuman meski matanya berderai air mata. Miris.

Changmin menguap pelan ketika rasa kantuk juga melandanya. Ia sedang malas membawa Kyuhyun masuk ke apartemen. Jadi bermalam di dalam mobil sepertinya tak masalah, toh beberapa jam lagi hari akan berganti pagi. Namun belum sampai ia terbang ke alam mimpi, ponsel miliknya bergetar pelan. Menandakan ada pesan masuk.

"Yunho Hyung?..." Changmin berucap pelan. Ia melirik ke arah Kyuhyun yang masih tertidur pulas sebelum kemudian membuka pesan dari Yunho.

"Changmin-ah... Terima kasih atas semua bantuanmu. Rasanya aku ingin memaki diriku sendiri ketika aku tidak bisa memerankan peranku sebagai seorang kakak yang baik untuk Kyuhyun. Aku titipkan Kyuhyun padamu, karena ku rasa aku telah mempercayakannya kepada orang yang tepat, kau sudah seperti adikku sendiri. Dan... Selalu ingatkan Kyuhyun untuk makan teratur, karena saat sedang ada masalah dia tidak peduli dengan kesehatannya. Terakhir... Sampaikan padanya kalau aku sangat menyayanginya."

Tanpa sadar Changmin meneteskan air matanya. Entah kenapa ia merasa kalau Yunho akan pergi jauh. Entah kemana. Dan ketika Changmin memutuskan untuk menelfon Yunho dan menanyakan maksud dari pesannya tadi, sambungan telfonnya hanya di jawab oleh dengungan operator yang mengatakan jika nomor yang ditujunya sedang tidak aktif.

Yunho tetap terjaga meski jam dinding sudah menunjukkan pukul 3 pagi lewat. Tubuhnya bersandar pada headboard sambil mengamati deru nafas Jaejoong yang berhembus teratur. Lelaki cantik itu tertidur pulas. Dengan posisi menghadap ke arahnya dan memeluk perutnya. Dengan perlahan ia melepas pelukan Jaejoong. Mengubah posisi Jaejoong menjadi telentang agar ia bisa menatap wajah cantik yang tidak pernah bosan berlarian di dalam benaknya.

Yunho merendahkan tubuhnya untuk mengecup kening Jaejoong. Lalu turun untuk mencium bibirnya dengan sangat lembut dan pelan, takut jika perbuatannya itu mengganggu tidur lelap Jaejoong. Dan ciuman lembut Yunho terus turun di bagian belahan dadanya. Kemudian ke perut rampingnya untuk memberikan kecupan lembut yang sedikit lebih lama di bagian itu. Setelahnya ia mencium paha hingga ujung kaki Jaejoong.

Ia lalu menaikkan selimut tebalnya hingga sebatas leher Jaejoong. Yunho menghela nafas pelan sebelum kemudian bangkit berdiri menuju kamar mandi. Ia menyempatkan diri untuk menengok ke arah Jaejoong yang masih terlelap damai. Inilah pada akhirnya. Ia benar-benar menerapkan kata-kata Julius Caesar yang tertanam di dalam hati dan benaknya. Veni, Vidi, Vici. Saya datang, saya lihat, dan saya menang.

Jaejoong mulai terbangun dari tidur nyamannya ketika hantaman pening di kepalanya semakin menjadi. Kepalanya terasa berputar-putar seperti di kelilingi bintang. Bintang yang sangat banyak hingga membuatnya berkunang-kunang. Ia mengerjabkan matanya beberapa kali sebelum menengok ke sekitarnya.

Seingatnya, semalam ia menemani Yunho minum dan kemudian mabuk. Di tengah kesadarannya yang menipis ia membalas pelukan dan ciuman basah lelaki itu. Lalu... "Ughh..." Jaejoong memegangi kepalanya yang kembali berdentam pusing. Ketika memaksa bangun-pun ia merasakan denyutan nyeri di tubuh bagian bawahnya. Terasa panas, perih, sedikit basah dan lembab.

Tidak salah lagi. Mimpi bercinta dengan Yunho di angan-angannya semalam bukanlah mimpi belaka. Hal itu adalah nyata. Mereka telah bercinta. Ya. Bercinta, bukan sekedar sex. Karena ia yakin hatinya pun ikut merasakan kepuasan tersendiri yang tidak bisa ia jabarkan.

Dan sejauh ini, Jaejoong tidak menyesal. Sungguh. Entah kenapa rasa senang karena melakukan hal itu dengan Yunho terasa lebih mendominasi hatinya. Meski tidak bisa di pungkiri kalau logikanya sedikit memaki perbuatannya ini. Ia merasa sudah menodai cinta suci yang selalu di jaga Soo Hyun sampai sejauh ini. Rasa sedih bercampur kasihan tiba-tiba menelusup ke dalam hatinya. Ia merasa sangat yakin kalau dirinya sudah terjatuh. Terjatuh dalam pesona Jung Yunho.

Tapi...? Dimana Yunho?.

"Yunho-ah?... Kau dimana?"

Hening. Tidak ada jawaban atas pertanyaannya tadi. Jaejoong mulai mengedarkan pandangannya untuk menatap ke sekitar kamar megah ini. Sepertinya ini kamar Yunho, bukan kamar yang mereka gunakan untuk melakukan hal itu. Pipi Jaejoong kembali bersemu merah ketika sedikit kilasan akan penyatuan mereka semalam mulai membayanginya. Ia lalu menggelengkan kepalanya demi mengusir bayangan liar itu.

Kamar Yunho sangat luas. Karena terdiri dari beberapa sekat ruangan di dalamnya. Mungkin luas kamar Yunho sama dengan luas apartemennya atau mungkin lebih. Karena tidak ada kata sempit untuk menggambarkan kamar ini. Gordennya yang berwarna gold terbentang lebar di sebelah kanan ranjang. Jaejoong yakin di balik gorden itu pastinya jendela kaca yang besar karena Mansion Yunho memang di dominasi oleh jendela besar.

Jaejoong tersenyum kecil ketika tubuhnya sudah di balut oleh piyama sutra berjenis Mulberry Silk yang sedikit kebesaran. Yunho sangat perhatian dengan tidak membiarkannya telanjang semalaman. Ia lalu menyibakkan selimutnya untuk turun dari ranjang. Mungkin saja Yunho ada di kamar mandi dan tidak mendengar suaranya.

"Yunho-ah? Kau-..." Suara Jaejoong terhenti ketika sebuah memo kecil tertempel di pintu kamar mandi. Ia mengernyit heran sebelum mengambilnya.

"Aku sudah menyiapkan pakaian untuk mu di ruang ganti. Dan... Jangan cari bajumu! Karena aku sudah membuangnya."

Jaejoong tertawa kecil. Nada Yunho yang dingin tapi juga perhatian membuatnya tidak bisa menahan tawa. Well, ia ingat semalam ketika mendengar suara robekan yang cukup menyayat telinga. Khh, suara bajunya yang terbelah.

Ia lalu berjalan ke ruangan yang berada di sebelah kamar mandi. Ruang ganti yang memiliki tirai lembut berwarna hitam dan putih. Ahh ya, ia baru menyadari jika kamar Yunho lebih di dominasi oleh warna coklat muda, hitam dan putih. Perpaduan antara Warm dan Cool color. Hitam yang berarti konservatif, misterius, pintar. Sama seperti sifat Yunho. Sedangkan putih berarti murni, polos, kelembutan. Emm, ia sedikit sangsi kalau yang ini. Dan coklat yang berarti membumi, simple, friendly dan sehat. Begitu juga dengan arti dari warna ini.

Jaejoong menganga takjub ketika melihat foto Yunho dalam lukisan besar ber-ukuran 2x4 meter yang terpajang indah di ruang santai di dalam kamar itu dan hanya di pisahkan oleh sekat dalam bentuk rak buku besar. Lukisan setengah tubuh Yunho yang sedang memakai jas berwarna maroon dengan kemeja putih. Wajahnya sangat dingin dengan tatapan mata yang memicing tajam. Ia sampai di buat bergidik melihat tatapan itu.

Beberapa menit setelahnya Jaejoong sudah terlihat lebih segar dan berpakaian rapi. Ia menemukan memo kecil yang tertempel di cermin rias ketika ia ingin menyisir rambutnya.

"Ku harap kau tidak menyesal dengan apa yang telah terjadi semalam. Jaejoong-ah, maaf aku harus meninggalkanmu. Satu yang harus kau ingat, aku mencintaimu...my Boo."

"A-apa maksudnya? Jung Yunho jangan main-main. Kau dimana?" Jaejoong berteriak kencang. Dari suaranya sangat kentara oleh perasaan takut dan khawatir. Air mata mulai mengenang di pelupuk matanya. Buru-buru ia berjalan menuju pintu kamar Yunho. Jaejoong mempunyai firasat buruk. Dan ia ingin menanyakan keberadaan Yunho kepada Shin ahjushi.

Jaejoong berjalan tergesa menyusuri lorong-lorong panjang demi mencari tangga untuk turun ke lantai bawah. Rasa panik membuatnya berjalan tanpa arah yang jelas. Jelas saja kalau ia di landa kebingungan. Ini adalah kali pertama bagi Jaejoong untuk menjelajahi Mansion Yunho.

"Jaejoong-shi?..."

Itu suara Shin ahjushi. Diam-diam Jaejoong menghembuskan nafas lega mendengar suara orang yang saat ini memang ingin di temuinya. Ia tersenyum mendapati sosok lelaki paruh baya yang baru saja keluar dari salah satu ruangan di sepanjang lorong itu. Cepat-cepat ia menghampirinya. "Shin ahjushi... A-anda tahu dimana Yunho? Aku tidak mendapatinya di dalam kamar ketika terbangun tadi. Dan-..."

"Tuan muda sudah pergi sedari pukul 5 dini hari tadi." Shin ahjushi mengucapkannya dengan sangat lirih. Raut kesedihan bercampur rasa simpati terpancar jelas dari kedua matanya.

"A-apa?" Jaejoong tergagap. Semua kata-kata yang ingin di ucapkannya tercekat di tenggorokan. Tubuhnya terasa lunglai dan sedikit terhuyung. Kenyataan ini membuatnya sesak. Apa Yunho hanya mempermainkan perasaannya? Dia pergi setelah berhasil melakukan hal itu padanya. Pemikiran seperti itu berkelebat di dalam benaknya. Sakit. Hatinya bagai di tikam benda tajam yang menyakitkan. "Jung Yunho brengsek. Kau pengecut." Teriaknya murka.

"Jaejoong-shi, saya mohon tenanglah. Ketahuilah bahwa Tuan muda teramat mencintai anda."

Jaejoong mengernyit. Ucapan lembut Shin ahjushi mengingatkannya pada memo kecil yang masih ada di dalam genggamannya. Dengan perlahan ia melirik tangannya yang mengepal kuat hingga buku jarinya memutih. Kertas kecil itu kini sudah kusut karena remasan tangannya.

Shin ahjushi melanjutkan. "Bisa kita berbicara berdua Jaejoong-shi? Ada yang ingin saya sampaikan kepada anda."

Jaejoong mengangguk pelan. Ia lalu mengikuti langkah Shin ahjushi yang membawanya menuju sebuah ruangan berpintu coklat muda yang ternyata di dalamnya adalah sebuah perpustakaan. Terdapat banyak rak buku yang terintegrasi dengan dinding, di depan rak buku ada tangga yang di gunakan sebagai pijakan untuk menjangkau buku yang ada di rak teratas. Di ruangan ini juga tersedia satu set sofa berwarna krem lembut yang sesuai dengan warna cat dinding. Tepat di depan sofa terdapat dinding kaca besar yang menghadap langsung ke halaman belakang Mansion ini. Mansion keluarga Jung memang menakjubkan. Itulah yang ada di dalam benak Jaejoong.

"Ini untuk anda Jaejoong-shi?" Shin ahjushi mengulurkan remote control berwarna hitam ke arah Jaejoong ketika mereka sudah duduk di atas sofa. Melihat Jaejoong yang hanya terdiam dengan raut wajah bingung, Shin ahjushi pun menambahkan. "Ini perintah langsung dari Tuan Muda untuk anda Jaejoong-shi. Tuan Muda ingin anda mendapatkan akses bebas keluar masuk Mansion ini. Dan Tuan Muda juga meminta anda untuk menempati Mansion ini selama beliau pergi. Anggap saja ini rumah ke dua anda." Lelaki paruh baya itu kemudian tersenyum lembut.

"Apa alasan Yunho memintaku untuk menempati Mansionnya?" Jaejoong masih ragu untuk menerima benda itu. Rasanya ia tidak pantas menerima kepercayaan itu. Ia bahkan baru beberapa kali berkunjung ke Mansion ini. Berbeda lagi jika Yunho menyuruhnya untuk menyerahkan benda itu kepada Kyuhyun. Dengan senang hati ia pasti akan menyampaikannya.

"Maaf, tapi saya kurang tahu tentang hal itu Jaejoong-shi. Tapi kalau boleh jujur, anda adalah satu-satunya orang terdekat Tuan Muda selain Yoochun-shi. Dan selama tinggal disini saya belum pernah mendapati Tuan Muda membawa kekasihnya kesini selain anda."

Jaejoong bersemu merah ketika mendengarnya. Perasaannya seperti sedang melambung tinggi mendengar kenyataan itu. Bolehkah ia beranggapan bahwa dirinya adalah orang spesial bagi Yunho? Terlepas dari kenyataan bahwa ia bukanlah kekasih Yunho. Dan ia dengan sukarela telah menyerahkan tubuhnya tanpa ada sebuah ikatan pasti. Ia hanyalah seorang sekretaris dan teman semalam bagi Yunho. Pemikiran seperti itu membuat Jaejoong mendesah berat. Rasa sakit kian menghantam hatinya.

Jaejoong mengubah raut wajahnya menjadi lebih serius. "Umm... Bisa anda ceritakan padaku tentang kehidupan Yunho dan juga tentang Ji Hyun?"

Hening hingga beberapa saat. Jaejoong dapat menangkap dengan jelas raut keterkejutan di wajah lelaki paruh baya di depannya. Hal itu hanya semakin membuatnya penasaran dengan kejadian apa yang terjadi di dalam kehidupan Yunho.

"Mungkin Tuan Muda tidak akan senang jika saya mengungkit kembali tentang keluarganya dan juga Nona Ji Hyun. Saya tahu anda orang yang sangat baik Jaejoong-shi, saya harap anda dapat menjaga rahasia ini. Karena ini menyangkut tentang nama besar keluarga Jung untuk ke depannya."

Jaejoong mengangguk dengan antusias. Kedua mata bulatnya menatap lekat lelaki paruh baya yang sedang menerawang ke depan dengan tatapan kosong. Ia melihat sebuah tarikan nafas berat sebelum Shin ahjushi memaparkan sebuah rahasia kepadanya.

"Tuan Besar berencana untuk menjodohkan Tuan Ji Hoon dengan salah satu putri kembar dari keluarga Kim, Kim Hee Sun dan Kim Tae Hee. Awalnya kedua keluarga sudah sepakat untuk menikahkan Tuan Ji Hoon dengan Nona Kim Hee Sun, sang kakak. Akan tetapi beberapa hari sebelum pernikahan itu dilaksanakan Nona Kim Tae Hee bersedia menggantikan peran kakaknya untuk menikah dengan Tuan Ji Hoon. Hal itu membuat Tuan Ji Hoon bingung. Beliau menyuruh saya untuk menyelidiki hal itu, dan dari informasi yang saya dapat Nona Kim Hee Sun tidak menginginkan pernikahan itu karena dia sudah memiliki seorang kekasih."

Jaejoong tetap diam menyimak. Ia bahkan tidak bergerak sedikitpun dari tempat duduknya.

"Akhirnya Tuan Ji Hoon melangsungkan pernikahan dengan Nona Kim Tae Hee. Dan dari pernikahan mereka lahir dua putra, Jung Yunho dan Jung Kyuhyun. Tuan Ji Hoon adalah sosok seorang ayah yang sangat menyayangi kedua putranya. Beliau sangat mementingkan kebahagiaan dan keinginan putra-putranya. Suatu sifat yang sangat bertolak belakang dengan Tuan Besar, ayah dari Tuan Ji Hoon. Tuan Besar berambisi untuk menjadikan Tuan Muda sebagai seorang pebisnis sepertinya. Mengelola Jung Corp dan bertangan dingin. Tetapi hal itu di bantah keras oleh Tuan Ji Hoon. Beliau tidak ingin putranya tumbuh dalam kehidupan penuh tekanan. Persepsi yang berbeda itu membuat mereka bertengkar hebat."

Jaejoong menarik nafas dalam. Ia meremat kedua tangannya dengan gelisah. Entah kenapa ia ikut tegang mendengarnya.

"Malangnya pertengkaran itu di saksikan langsung oleh Tuan Kyuhyun yang saat itu masih kecil. Dan sejak saat itu ia mensugesti dirinya sendiri untuk membenci sang kakek. Sebuah kehidupan miris yang tak bisa terelakkan. Tuan Kyuhyun semakin membenci kakeknya ketika kecelakaan maut itu terjadi. Ia bahkan menolak untuk tinggal di dalam Mansion Jung. Ia memilih tinggal di rumah ibunya bersama pengasuhnya, pasangan keluarga Cho."

Jaejoong terbelalak. Kasihan Kyuhyun, sejak kecil pemuda itu sudah mengalami trauma yang membuatnya memandang kakeknya sendiri seperti sebuah ancaman besar. Lebih kasarnya lagi dia sudah menganggap kakeknya sendiri sebagai musuhnya. "Tapi kenapa Kyuhyun membenci Yunho?"

"Hal itu karena Tuan Kyuhyun mengetahui jika Tuan Yunho memutuskan untuk meninggalkan sekolah kedokterannya di Amerika dan memilih untuk menuruti Tuan Besar. Kurang lebih kenyataan itu membuatnya kecewa, Tuan Kyuhyun menganggap jika kakaknya lebih memihak Tuan Besar yang merupakan monster jahat baginya daripada mendiang ayah mereka."

"Yunho pernah masuk dalam fakultas kedokteran?"

"Ya. Lebih tepatnya di Universitas Harvard, Amerika. Menjadi dokter adalah cita-cita Tuan Muda sejak ia masih kecil. Mengetahui itu Tuan Ji Hoon sudah mempersiapkan sebuah Universitas ternama di Amerika. Melengkapi semua kebutuhan Tuan Muda disana dan juga sudah membiayai semua biaya kuliahnya. Tuan Muda hanya tinggal belajar disana sampai mendapat gelar Doktor. Karena itulah Tuan Muda menyelesaikan sekolahnya lebih cepat dari waktu yang seharusnya."

"Lalu bagaimana dengan hubungan Yunho dan Ji Hyun?" Jaejoong sudah mengajukan sebuah pertanyaan lagi.

Yang mana hal itu membuat Shin ahjushi tersenyum geli. "Anda sudah seperti seorang detektif yang sedang menginterogasi saya, Jaejoong-shi." Kelakarnya untuk menghilangkan hawa tegang di antara mereka.

Jaejoong yang mendengarnya jadi tersenyum malu. Ia merasa dirinya sudah seperti seorang kekasih yang memiliki tipe posesif dan pecemburu. Dirinya seperti sedang mencari tahu tentang hubungan asmara masa lalu milik kekasihnya. Hahh, konyol memang.

"Mereka resmi menjadi sepasang kekasih ketika Tuan Muda memutuskan untuk melanjutkan kuliah di Amerika. Saat itu hubungan mereka di rahasiakan dari Tuan Besar. Hingga sampai dua tahun lebih hubungan mereka masih terjalin dengan sangat baik. Sampai ketika Tuan Muda mendapat ancaman dari kakeknya sendiri. Tuan Besar memang berhati dingin, beliau mengancam akan mencelakai Nona Ji Hyun jika Tuan Muda tidak mau mengambil alih perusahaan Jung Corp."

Jaejoong terbelalak tidak percaya mendengar itu. Astaga. Apakah?...

"Tuan Muda memilih mengalah dan melepaskan cita-citanya sejak kecil. Ia memutuskan kembali ke Korea dan mengambil fakultas bisnis. Tetapi dengan syarat ia ingin menikahi Nona Ji Hyun terlebih dahulu. Maksud Tuan Muda sebenarnya adalah ia tidak ingin jika Tuan Besar melakukan segala cara kotor untuk mencelakai Nona Ji Hyun. Dengan menikah mungkin Tuan Besar tidak akan berani menyakiti Nona Ji Hyun sedikitpun. Tapi Tuan Besar tetaplah Tuan Besar yang berhati dingin dan tidak berperasaan. Beliau menyuruh sopir pribadinya untuk mencelakai Nona Ji Hyun tepat di depan cucunya sendiri sebelum kemudian mobilnya menghantam pembatas jalan."

Jaejoong tercekat. Tanpa sadar air mata mengalir membasahi kedua pipinya. Kisah cinta Yunho teramat sangat tragis dan terjadi tepat di hadapan lelaki itu sendiri. Membayangkan bagaimana terlukanya hati Yunho saat itu dan rasa trauma yang pastinya membayanginya sampai sekarang.

"Sebuah tragedi yang sangat miris dan menyayat hati ketika Tuan Muda harus melakukan upacara pemakaman untuk kakeknya dan juga kekasihnya. Sejak saat itulah Tuan Muda berubah menjadi pribadi yang tertutup dan dingin. Tapi suatu keajaiban karena sejak mengenal anda, Tuan Muda sedikit demi sedikit lebih ekspresif." Shin ahjushi tersenyum lembut menatap Jaejoong yang menangis haru.

"B-bagaimana dengan keluarga Ji Hyun?"

"Nona Ji Hyun merupakan putri kandung dari sopir pribadi Tuan Besar. Kenyataan yang sangat miris karena Tuan Besar menyuruhnya untuk mencelakai putrinya sendiri. Kasus itu ditutup dengan kesimpulan bahwa Tuan Jun, ayah Nona Ji Hyun melakukan bunuh diri karena terlilit hutang dengan menabrak putrinya terlebih dahulu sebelum kemudian menghantamkan mobil keluarga Jung ke pembatas jalan, yang mana Tuan Besar ikut serta di dalamnya. Kesimpulan yang salah karena Tuan Jun melakukannya atas dasar perintah Tuan Besar. Kenyataan hidup yang teramat tragis."

Hilang sudah rasa cemburu dan iri yang terkadang selalu muncul di dalam hati Jaejoong. Tergantikan oleh rasa empati yang teramat menyesakkan. Jaejoong hanya menunduk diam sambil mengusap perlahan lelehan air matanya. Rasanya ia sudah menemukan beberapa potongan puzle kehidupan misterius Yunho. Sebuah awal manis yang berubah menjadi tragedi yang menyayat hati. Kehidupan fana yang memang sudah dijanjikan oleh Sang Pencipta.

Yunho menatap ragu pintu rumah berwarna gading yang ada di hadapannya saat ini. Sebuah rumah minimalis yang terlihat elegan. Di halaman depannya terdapat hamparan rumput hijau yang tumbuh subur dengan beberapa pohon di sekelilingnya. Membuat suasana rumah ini kian asri dan damai.

Dengan memantapkan hatinya, Yunho mulai mengetuk pintu itu beberapa kali. Sampai suara seorang wanita dari dalam rumah menghentikan ketukannya. Ia mulai menegang gugup ketika pintu di depannya dengan perlahan mulai terbuka. Menampilkan sosok cantik dengan rambut indah yang terurai panjang. Postur tubuhnya yang tinggi semampai mengingatkannya pada seseorang.

Raut keterkejutan tergambar jelas di wajah wanita itu. Dia menutup bibirnya dengan kedua tangan karena masih tidak percaya dengan orang yang saat ini ada di hadapannya. "Yu-Yunho?..." Ucapnya terbata. "Kaukah itu?"

Yunho hanya menjawabnya dengan senyuman tulus dan anggukan kelewat antusias layaknya anak kecil. Ia hanya diam ketika tubuhnya mendapat hantaman cukup keras karena pelukan teramat semangat dari wanita di depannya saat ini. Yunho pun membalas pelukan itu tak kalah erat. Air mata ikut mengalir ketika ia mendengar tangis haru dan umpatan kecil dari wanita di depannya saat ini.

"Bolehkah aku tinggal disini?"

TBC.

Note : Ada yang masih ingat tentang perjanjian rahasia antara Yunpa dan Jaema? Nahh.. Saya janji akan membahasnya secara tuntas di chapter depan.

Fiuhhh... Chapter ini teramat panjang. Maaf untuk keterlambatan update-nya karena saya beberapa hari harus mengalami 'penyakit' , yaitu Ide mengalir mendekat tapi mood menulis so far away. Huahhh...

Saya harap chapter ini sudah menjawab rasa penasaran dan juga kebingungan para readers tentang masa lalu Yunpa. So, udah taukan kenapa kyu benci banget sama kakeknya waktu ngamuk dulu.. Ngahaahaa..

Semoga readers semua puuasss... Eits... Maksud saya puas dengan chap ini yaa.. Bukan puas dalam konotasi negatif.. Hweheehee..

Dan... Mianhae karena tidak bisa membalas satu persatu review kalian. Tapi jujur, saya sangat antusias membaca review dari kalian semua. Rasanya sudah seperti percikan api semangat untuk saya... *ahh lebay* .. Tapi bneran dah saya jujur, *ketjup*

Ahh ... Untuk reviewers baru selamat datang *bow* ... Sebelumnya terimakasih untuk readers yang berkenan membaca, para reviewers yang berkenan meninggalkan jejak, dan semua yang sudah memfollow dan memfavoritkannya, jeongmal gamsahamnida *bow*.

*Ketjup banjir* untuk reviewers tercintahh.. Gamsahamnida dear untuk semangat dan reviewnya.

Spesial thanks for :

irna lee 96 √ Lia √ akiramia44 √ Vivi √ zuzydelya √ dienha √ Yanie √ JonginDO √ kimmy ranaomi √ Minozme √ GreanTea √ 5351 √ Cherry YunJae √ alby chun √ kim anna shinotsuke √ MinnaYeong √ Selena Jung √ DahsyatNyaff √ dheaniyuu √ rinayunjaerina √ jaena √ tinaYJS √ ShinJiWoo920202 √ Yunholic √ YoonJae100604 √ yuu √ echacheon √ NanaShe √ cha yeoja hongki √ Ai Rin Lee √ aismamangkona √ jingle bubble √ yoon HyunWoon √ msLeeana √ Jiyeon park √ Saki √ Dream Girls √ yunjae q √ Najiha Hizaki Anzu √ nabratz √ Shim Chwang √ Dewi15 √ Delulu √ nimahnurun √ Elis √ kim wiwin 9 √ BaBYunJae √ Jung Jaehyun √ YunjaeDDiction √ fanny kimiel √ MyBabyWonKyu √ Florent √ meirah 1111 √ quinniee √ azahra88 √ ClouDyRyeoRez √ herojaejae √ Jerin √ rizkyhandayani89 √ boobearchangkyu √ juan kwon 9 √ NaeAizawa √ My beauty jeje √ bambielulu √ septiJOY √ vianashim √ puji √ Mickeyrang √ misschokyulate2 √ whirlwind27 √ minminkyu √ rsza √ aiska jung √ yunjaeboo √ tobie15 √ Himura Hana √ Safitri676 √ jj √ littlecupcake noona √ diahmiftachulningtyas √ Minkyu √ Park July √ shipper89 √ Yikyung √ yunjaeboo √ ifa p arunda √ Dhea Kim √ Lilin Sarang Kyumin √ vermilion √ simba yeu203 √ ms R √ shim jaecho √ yola yaoi √ cminsa √ anakyunjae √ Yunjae Shipper √ dokbealamo √ choikim1310 √ hyejinpark √ Youleebitha √ cuwon √ silviaafufu √ akira lia √ JJorien √ Kirena-chi √ nickeYJcassie √voldemin √min √ liangie √ CheonsaXia √ minminkyu √ mimi2608 √ sukhyu √haesyah elfishy √ momo chan √ MyeolchiHaru137 √ Princessintaan √ aka Mrs Jang √ amora amora 94043 √ kimjaejoong309 √ redskylar √ Jaejoongiewife √ Akishi Aki √ oom komariah 921 √ ranum92 √ miu sara √ chantycassie √ maharanisafitri91 ms√ Lee Muti √ YunjaeKyuWookLover √ jung hyunmi √ sequinn jung √ minjaeboo √ Jungyunjae13 √ beserta para guest.

Adakah yang belum kesebut? Atau malah penname nya kesebut double? Tell me..

Cukup sekian.. terimakasih sebelumnya untuk antusiasme para readers *bow*

Keep RnR ... And last... Wanna tell me what do you feel about this chapter?...