Konoha Gakuen no Akuma © HanRiver

.

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

.

.

.

SasukexSakura Alternate Universe Fanfiction

.

.

.

OOC, chara labil seperti author-nya, bad diction.

.

.

.

If you don't like, don't ever try to read.

.

.

.

Enjoy.

.

.

.

Chapter 11 : Festival

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Sekian pelajaran dariku. Semoga bermanfaat." Kakashi menatap malas para murid yang tadinya menunjukkan tanda mengantuk, namun setelah bel berbunyi menunjukkan semangat empat lima melebihi guru Guy.

Sakura menyelesaikan catatan terakhirnya sebelum menutup buku tulisnya, merapihkannya kemudian bersiap-siap ke ruang dewan murid. Ia harus memastikan bahwa persiapan yang dilakukan untuk festival sekolah yang akan dilaksanakan besok lusa sudah matang.

Saat melangkahkan kaki menuju pintu kelasnya, ia telah disambut oleh trio Naruto, Gaara dan Sai yang berdiri seraya memamerkan senyum khas mereka masing-masing. Naruto dengan senyum lima jarinya, Sai dengan senyum palsunya, dan Gaara dengan senyum tarikan lengkungan tipis pada bibirnya.

"Hai, istri ketua. Mau ke mana?" Naruto membuka suara, persis seperti om-om yang sedang menggoda seorang gadis.

"Apa-apaan ini?" tanya Sakura dengan nada sweatdrop, namun juga merona saat disebut sebagai 'istri ketua'.

"Seperti kami berbakti pada ketua kami, maka kami juga akan berbakti padamu, Sakura-sama." Sai memasang senyum menawannya, senyum ala butleryang memang sangat cocok untuknya.

Perkataan itu menimbulkan lengkingan dari suara Sakura. "Permainan macam apa lagi ini!" timpal gadis itu dengan pandangan protes.

"Ini bukan permainan, ketua dewan murid." Gaara ikut berbicara tegas yang menurut Sakura menambah lelucon yang sedang mereka buat.

Seraya mendengus, Sakura tetap berjalan diikuti ketiga pemuda itu di belakangnya. Gadis itu mencoba cuek, tapi tetap saja tak berhasil. Sepanjang koridor mereka berempat ditatap aneh oleh orang-orang dan tentu saja hal itu membuat Sakura risih. Yang benar saja! Bahkan para anggota dewan murid tak pernah mengikuti Sakura dengan tampang body guard seperti mereka!

"Hentikan ini!" pekik Sakura di batas kesabarannya. "Aku punya pekerjaan penting yang harus kulakukan. Jangan ganggu aku."

"Kami tidak menganggumu. Kami hanya menjagamu, istri ketua," balas Gaara dengan tampang datarnya yang membuat Sakura ingin sekali menambah lingkaran hitam pada sekeliling mata pemuda itu.

"Hhh …" Sakura menggeram kesal. Ia raih ponselnya dan menghubungi nomor Sasuke. Tak butuh waktu lama sampai Sasuke menjawab telponnya.

"Ada apa?" tanya pemuda itu langsung pada intinya.

"Aku yang seharusnya bertanya. Ada apa dengan tiga pengikut setiamu yang menyelingkuhi dirimu dan malah menjadi body guard dadakanku?" Sakura dapat mendengar kekehan kekasihnya pada telpon.

"Mereka bertiga berbakat melakukannya."

"Sangat berbakat," ucap Sakura dengan penuh penekanan. "Bisa kau suruh mereka menghentikan ini? Aku risih pada mereka dan pada orang-orang yang menatap kami."

"Baiklah. Tapi berjanjilah bahwa kau akan menemuiku di atap."

Sakura terdiam untuk memasang senyum malu pada wajahnya. "Hm. Baiklah."

"Serahkan ponsel ini pada Naruto."

Sakura menyerahkan ponselnya pada Naruto yang nampak berbicara pada Sasuke. Setelah selesai, Naruto menyerahkan kembali ponsel Sakura seraya berkata pada Sai dan Gaara, "ketua menyuruh kita ke atap."

Sai dan Gaara mengangguk. Ketiga pemuda itu membalikkan badannya setelah berpamitan pada Sakura. Saat mereka mengambil langkah ketiga, Sakura berucap dengan nada tak enak hati, "jangan salah sangka kepadaku. Bukan berarti aku tidak menyukai kalian."

"Hahaha! Kami mengerti, Sakura-chan!" Naruto tertawa renyah. "Jaa nee~"

Sakura tersenyum. Walau berandalan, mereka bertiga sesungguhnya mempunyai hati yang baik.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Aku baru saja pulang dari luar kota. Dan banyak hal yang terjadi selama aku pergi!" Temari terus mengoceh di hadapan keempat pemuda yang duduk di hadapannya dengan tampang malas. "Pertama Sakura dan Sasuke resmi berpacaran. Kedua, Shion si bule datang ke sini dan hendak merebut kekuasaan Sakura. Ketiga, Sakura didemo oleh para murid yang menyuruhnya menurunkan diri dari jabatannya. Keempat, kalian menunjukkan aksi kalian di aula!" Temari menghitung menggunakan jarinya dengan pandangan menyesal.

"Untuk hal pertama, aku senang mendengarnya. Tapi untuk yang kedua dan ketiga … cih. Kalau aku ada di sini, aku akan menghajar mulut siapa saja yang berani protes pada Sakura serta memberi bule itu pelajaran! Dan yang keempat … aku tidak ikut dalam aksi kaliaann! Huweee! Kalian jahat! Apakah kalian tak menganggapku anggota kalian lagiii?! Aku juga pengikut Sasukeeee!"

Naruto, Gaara, Sai dan bahkan Sasuke bingung dalam memberi respon pada Temari yang tampak menyesali kepergiannya ke Suna dalam beberapa hari.

"T—Temari, kau sangat sibuk dengan berbagai hal. Pertunanganmu, ujian akhir sekolah, dan urusan keluarga sebagai anak sulung. Sadari lah hal itu. Kau tak bisa menghabiskan waktu bersama kami lagi seperti dulu." Ucapan Naruto malah membuat Temari menjambak rambut jabrik pemuda itu.

"Jangan ingatkan aku dengan urusan-urusan sialan itu, Narutooo!"

"Ittaiiiiiii!" Naruto memegang kepalanya yang sedang dijambak dengan wajah penuh kesakitan.

"Bule yang ingin kau beri pelajaran itu malah menjalin hubungan terlarang dengan adikmu, Temari-san," tukas Sai yang membuat Temari menoleh dengan cepat dan melepas rambut Naruto.

"—hah?!" pekiknya kaget, kemudian mengalihkan pandangannya pada Gaara.

"Tidak, Kakak. Aku tidak punya hubungan apapun dengannya," elak Gaara dengan cepat.

Ceklek!

Pintu atap yang terbuka membuat kelima orang itu menatap Sakura yang terbengong di sana. "Ah, Temari-san, lama tak jumpa."

"Haiiii~ istri ketua~" Sakura memasang wajah sweatdrop. Lama tak jumpa tak membuat Temari merubah perilakunya yang selalu saja menggoda Sakura. "Apa kabar? Oh ya, apakah kau mengingat nama-nama siswa-siswi yang demo terhadapmu?"

"K—kau mau apa, Temari-san?" tanya Sakura curiga.

"Tentu saja memberi mereka pelajaran!" Temari meninju telapak tangannya sendiri dengan senyum yang memperlihatkan deretan gigi putihnya. "Aku sudah lama sekali tidak meregangkan otot-ototku."

"Pikirkan ujianmu dulu, Temari-san." Ucapan Sakura membuat Temari sedikit tertohok.

"Sudahlah, sudahlah. Sakura-sama berada di sini untuk bertemu ketua, bukan kita. Sebaiknya kita jangan menganggu mereka." Sai berdiri, diikuti Naruto dan Gaara yang menatap penuh arti pada Sasuke dan Sakura.

Hal itu membuat Temari mengulum senyumnya serta merangkul Sakura dengan semangat. "Heehhh~ selamat menikmati waktu berdua kalian!" Sedetik kemudian, gadis bercepol empat tersebut melepas rangkulannya dan menatap Gaara seraya berucap, "hei, Adik, pertemukan aku dengan calon adik iparku itu."

Gaara mendengus seraya mengambil langkah. "Sudah kubilang aku tak punya hubungan apapun dengannya."

Langkah ketiganya perlahan menjauh dan menghilang di balik pintu atap. Sakura terkikik geli. Kepulangan Temari semakin menghebohkan mereka.

Gadis itu kemudian membalikkan badannya, menatap kekasihnya yang terduduk seraya menatap balik dirinya. "Jadi, kenapa kau memanggilku?"

"Kenapa aku tidak boleh memanggilmu?" Sasuke tersenyum tipis. Pemuda itu menepuk-nepuk lantai di sampingnya, menyuruh Sakura untuk ikut duduk di sana.

Sakura menurut. Gadis itu langsung duduk di samping Sasuke seraya berkata, "bukan begitu. Aku tidak melarangmu."

"Hmm."

"Hari ini, Ayahku akan pindah. Dia melarangku serta Ibu untuk ikut pindah." Sakura menundukkan kepalanya. "Aku sangat sedih saat berpikir bahwa aku akan berpisah darinya."

"Sakura, maafkan aku." Sasuke meraih tangan Sakura, menggenggamnya dengan erat yang disambut tatapan heran dari gadis itu. "Aku tahu bahwa masalah yang datang pada Ayahmu adalah hal yang sudah direncanakan oleh kakakku."

"Eh?" Emerald Sakura membulat.

"Orang itu akan berbuat apa saja untuk mencapai keinginannya." Sakura tahu bahwa kini onyx Sasuke memancarkan luka yang kembali terbuka. Topik tentang kakaknya adalah hal tersensitif bagi pemuda itu. "Bukan hanya aku, tapi dia juga akan mengincar orang-orang yang aku sayangi."

"Kenapa … dia setega itu padamu …" lirih Sakura dengan nada sedih. Ia tahu bahwa Sasuke sangat menyayangi kakaknya. Tapi kenapa kakaknya bersikap seperti itu padanya? Kenapa dunia tak adil bagi kekasihnya itu?

Tanpa sadar air mata Sakura terjatuh. Hatinya sungguh sakit saat membayangkan penderitaan Sasuke. Sasuke juga kehilangan kedua orang tuanya, sama seperti kakaknya. Dan sekarang Sasuke bahkan kehilangan sosok seorang kakak.

"Dasar bodoh. Kenapa kau malah menangis?" Sasuke mengusap air mata Sakura dengan lembut. "Kalau air mata ini untukku, maka segera hentikan tangisanmu, Sakura."

Gadis itu memeluk Sasuke degan erat. "Bukan salahmu, Sasuke. Semua bukan salahmu." Sakura menegaskan itu beberapa kali, mencoba meredakan luka di hati Sasuke walau kemungkinannya sangat tipis.

Sasuke balas memeluk Sakura, menarik gadis itu dalam ringkihannya. "Terima kasih."

"Aku belum pernah mengatakan hal ini. Tapi aku akan mengatakannya sekarang. Aku mencintaimu." Mendengar perkataan Sakura, membuat Sasuke tersenyum tipis.

"Itu adalah hiburan terbaik yang pernah kudapatkan."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Festival sekolah berlangsung dengan meriah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Tentu saja, hal itu diakibatkan hasil kerja keras para anggota dewan murid yang telah berusaha membanting otak agar membuat festival lebih menarik.

Sakura tersenyum bangga di tengah keramaian. Di samping kiri dan kanannya terdapat Ino dan Hinata yang juga tampak menikmati festival.

"Waahhh … lihat, para adik kelas sangat kreatif dalam menghias kelasnya. Tema yang mereka gunakan berbeda-beda sehingga tidak terkesan monoton," komentar Ino saat mereka melewati koridor adik kelas.

"Hum! Aku suka! Aku senaaang!" Hinata ikut menimpali dengan komentar tak kreatifnya. Tapi hari ini gadis itu memang terlihat lebih ceria dibanding biasanya.

"Tentu saja mereka harus lebih kretif dibandingkan kakak kelas mereka," sambung Sakura dengan semangat. "Mereka yang akan menggantikan kita, dengan inovasi yang membuat sekolah menjadi lebih maju."

"Hmm … komentar dari sang ketua dewan murid memang sungguh menyentuh," ucap Ino dengan nada meledek yang langsung disambut tatapan menyipit dari Sakura.

"Ya. Itu menyentuh sekali, Sakura-chan … hiks …"

Ino dan Sakura kompak sweatdrop kala melihat Hinata yang bahkan telah mengeluarkan setitik air mata. Gadis violet itu mengambil tisunya dan mengusap air mata di sudut matanya, tak memedulikan tatapan dari Ino dan Sakura. Yah, Sakura dan Ino seharusnya terbiasa dengan sikap Hinata yang kadang-kadang menjadi aneh di balik wajah lugunya. Dasar.

"Me-nyen-tuh."

Ketiga gadis itu berbalik, menatap Shion yang balas menatap mereka dengan tatapan malas. 'Sejak kapan dia ada di sana?!' batin ketiganya dengan pandangan terperanjat kaget.

"Apa? Kenapa kalian menatapku seperti itu?" Shion membuang pandangannya, memasang wajah jutek khasnya dan menyambung kalimatnya, "aku hanya tak punya teman untuk menikmati festival. Jadi, kurasa mengikuti sekelompok orang bodoh seperti kalian akan membuatku terhibur."

"Dasar nenek lampir," timpal Ino dengan geraman kesal. Tapi sudahlah. Toh keberadaan Shion tak merugikan mereka. Lagipula, menjalin hubungan lebih akrab dengan Shion tak akan membawa dampak buruk. Mereka tak bermusuhan sekarang.

"Ah, Shion, bagaimana kabarmu?" tanya Sakura basa-basi. Ia tahu gadis itu baik-baik saja.

"Sungguh baik, Haruno Sakura. Aku bahkan menjadi lebih baik setelah dimarahi habis-habisan oleh keluargaku yang gagal melaksanakan perintah Uchiha-sama." Wajah Shion semakin memberengut kesal. Mungkin hal yang dilakukannya adalah kebaikan, tapi tidak bagi keluarganya yang selalu patuh pada perintah Uchiha Itachi.

Ino dan Hinata mengernyit bingung. Namun Sakura yang mengerti segera tertawa renyah, "ahahaha! Tapi seharusnya kau tak menerima perintah yang berlawanan dengan hatimu. Aku tahu kau gadis yang baik, Shion."

"Terima kasih atas pujiannya, aku memang baik."

Ino, Hinata dan Sakura menatap kasihan pada gadis itu.

"Apa maksud tatapan kalian?!" amuk Shion saat menyadari tatapan ketiganya. Tapi sedetik kemudian, ia menghela napas. "Sudahlah. Lagipula aku mengikuti kalian untuk meminta tolong pada Sakura. Kau ketua dewan murid yang selalu menolong para murid jika sedang mengalami kesulitan, bukan?"

"Y—ya," jawab Sakura heran. Baru kali ini Shion meminta tolong pada dirinya.

"Kalau begitu … katakan pada orang bernama Rei Temari agar berhenti melakukan terror padaku tiap malam!" Shion mengangkat ponselnya, memperlihatkan dua ratus panggilan masuk dan tiga ratus pesan belum dibaca yang berasal dari orang yang sama, Temari. "Selama tiga hari ini, dia terus menghubungiku. Menanyakan siapa sebenarnya diriku, apa yang sedang aku lakukan, dan menanyakan kepantasanku. Aku muak dengannyaaa!"

Sakura meneguk ludah. Ia tahu bahwa Rei Temari memang orang yang cukup membahayakan.

"Rei Temari? Ah, dia kakak Gaara yang pernah berkelahi denganmu, bukan?" tanya Ino seraya menatap layar ponsel Shion dan Sakura secara bergantian. "Ahahaha! Dia ternyata seorang brother-complex."

"Kenapa kau tidak ganti saja nomormu, Shion-san?" usul Hinata.

"Ya. Aku pasti akan melakukan itu, Hyuuga. Tapi aku takut dia akan mendapatkan nomorku lagi. Aku bahkan tak tahu dari mana dia mendapat nomorku." Shion mendengus. "Dia wanita liar! Maka dari itu kau harus menolongku, Sakuraa!"

"A—ah, baiklah. Aku akan bicara pada Temari-san. Tapi aku tak janji hal itu akan membuatnya berhenti." Sakura tersenyum canggung. Shion hendak membalas, namun vibrasi ponsel Sakura menghentikan niatnya. Sakura segera meraih ponselnya dan membaca pesan yang membuatnya merona.

From : Uchiha Sasuke

Apakah kekasihku terlalu sibuk dengan festival sehingga tak bisa meluangkan waktu untukku?

Today, 09.45 a.m

"Mmm … aku ada urusan." Sakura tersenyum malu yang mengundang tatapan heran dari Ino, Hinata dan Shion. "Kalian nikmati saja festivalnya. Jaa~"

Sakura melarikan dirinya seraya mengetikkan balasan kepada Sasuke.

To : Uchiha Sasuke

Baka :p

Today, 09.48 a.m

Bruuk!

"Ah!" Sakura dengan sigap menangkap ponsel yang hampir terjatuh. Dengan rasa bersalah, gadis itu mendongak meminta maaf, "maafkan aku!"

Pemuda yang baru saja ditabraknya tersenyum dan berkata, "tidak apa-apa. Aku juga salah."

Wajah Sakura merona melihat pemuda itu. Dia sangat tampan, dengan senyuman lembut yang menghiasi wajahnya. "S—silahkan nikmati festivalnya."

"Festival, ya? Aku sempat heran kenapa sekolah ini menjadi ramai." Pemuda tadi melihat sekeliling. "Sebenarnya aku datang untuk mencari seseorang."

"Kalau begitu, anggap saja kau sedang beruntung karena kebetulan datang ketika festival sedang diadakan," ucap Sakura dengan senyuman ala ketua dewan muridnya. "Apakah seseorang yang kau cari tak memberitahumu?"

Entah mengapa, perkataan Sakura membuat pemuda itu tertawa. Tawanya pun terasa sangat aneh di mata Sakura. "Itu tidak mungkin," jawabnya. "Hubungan kami tak sebagus itu untuk berbasa-basi."

Sakura mengernyitkan alisnya. "Tak sebagus itu?"

Pemuda tadi hanya tersenyum tipis. Senyuman yang mengingatkannya akan wajah Sasuke. Ah, Sakura lupa kalau dia hendak bertemu Sasuke saat ini. "Ah, kalau begitu, nikmati festivalnya dengan seseorang yang kau cari itu dan buat hubungan kalian menjadi 'sebagus itu'."

"Tentu saja. Aku akan menikmatifestival ini dengannya."

"Hum! Kalau begitu, aku permisi! Jika kau ada masalah, segera cari aku."

"Hm? Kenapa harus mencarimu?" Pemuda tadi sedikit mengerutkan keningnya.

"Karena aku yang bertanggung jawab atas festival ini. Jadi jika ada masalah, aku akan berusaha mengatasinya," jawab Sakura dengan senyum yang memperlihatkan deretan giginya.

Pandangan pemuda tadi berubah. Ia pancarkan senyum yang lagi-lagi terasa aneh di mata Sakura. "Kau ketua dewan murid, heh?"

"Ya. Begitulah." Sakura melirik arlojinya. "Aku harus pergi sekarang. Sampai jumpa!"

Pemuda tadi hanya menatap punggung Sakura yang terus menjauh seraya masih memasang senyum anehnya. Dengan nada kecil, ia bergumam, "tak kusangka kita bertemu lebih cepat, Haruno Sakura."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"—jadi, dia memintamu untuk berhenti melakukannya."

Temari tertawa terbahak-bahak, disambut tatapan sweatdrop dari Naruto, Gaara dan Sai. Apalagi Gaara, dia tak menyangka kakaknya akan melakukan tindakan bodoh seperti itu. Ah, tapi dia sadar kakaknya memang bodoh.

"Baiklah, baiklah. Aku akan berhenti. Sebagai gantinya, mulai sekarang aku akan melakukan terror pada Hinata," ucap Temari tanpa rasa bersalah sedikit pun pada raut wajahnya.

"Oi, oi!" Naruto menyipitkan matanya, protes. "Kenapa sekarang kau malah ingin menganggu tunanganku?"

"Hei, jahat sekali kau! Aku ini tidak berniat untuk menganggu! Aku hanya ingin tahu apakah wanita itu pantas untukmu atau tidak." Temari membela diri, namun dengan wajahnya yang menahan tawa. "Lagipula kau pernah berkata bahwa kau tak suka dengan tunanganmu itu! Jadi kenapa kau keberatan jika aku menganggunya?"

Naruto mengerucutkan bibirnya. Sakura cengo, namun sedetik kemudian ia baru tersadar. Benar juga, Hinata adalah tunangan Naruto. Hinata yang awalnya menyembunyikan siapa tunangannya lama-lama ketahuan akibat kejadian di dekat planetarium dulu. Tentu saja, besoknya Sakura dan Ino kompak menggoda gadis itu habis-habisan.

"Awalnya begitu." Pemuda berambut blonde tersebut kembali membuka suara. "Tapi lama-kelamaan aku menyadari kebaikannya, dan jatuh cinta padanya."

"Aw. Jujur sekali. Hatiku tersentuh." Temari menunjukkan ekspresi tersentuh buatannya yang tentu saja ia niatkan untuk meledek Naruto. "Lalu, kau sudah mengatakan padanya?"

Naruto mengangguk. "Tentu saja. Tadi malam kami bertemu dan aku mengutarakan isi hatiku padanya. Aku bukan Sai yang terus-terusan menggantung Ino atau Gaara yang menunggu Shion untuk menembaknya."

Sai dan Gaara mendengus, menatap Naruto dengan pandangan 'ayo lawan aku sekarang'. Sedangkan Sakura tersenyum. Pantas saja bendahara dewan murid itu terlihat ceria hari ini.

"Atau," Naruto memberi jeda, kemudian melanjutkan seraya menatap Sasuke, "—Teme yang dulunya selalu memberi harapan palsu pada Sakura-chan."

Sakura tertohok. Sasuke mendelik seraya berkata, "Gaara, Sai, sepertinya dia sudah lama tak diberi pelajaran."

"Ya, aku sangat setuju denganmu, Ketua," timpal Sai seraya tersenyum palsu disusul anggukan setuju dari Gaara. Kedua pemuda itu langsung mengambil tindakan untuk mengunci kedua tangan Naruto di belakang.

"Heiii! Aku hanya berkata jujur!" Naruto mulai khawatir. Ayolah, diborongi itu terasa tidak enak, apalagi jika sang pelaku adalah Sai, Gaara, Sasuke dan—Temari yang bahkan sudah membunyikan seluruh jari-jarinya. "Sakura-chaaaannnnn~!" Kali ini shappire-nya menggerling pada Sakura dengan tatapan meminta tolong.

"K—kalian, hentikan!" Sakura mulai khawatir. Walau ia agak tertohok dengan ucapan Naruto, tapi kasihan juga jika pemuda itu malah babak belur di hari festival. Tega sekali teman-temannya pada pemuda itu. Ketiganya bahkan sudah berada di depan Naruto yang semakin berteriak dan—

-menggelitik Naruto.

"—hah?"

Sakura cengo.

"Heiii—hahahahaha! Aku tidak tahan! Ini sungguh geli! Hahahahaha Sakura-chwaannn~ haha—tolong—hahahahaha!"

Teriakan Naruto yang meminta tolong semakin membuat Sakura menyipitkan matanya.

Sakura merasa tertipu.

Sakura merasa telah dibodohi.

Sakura merasa kekhawatirannya terbuang sia-sia.

Dengan geraman kesal, gadis itu berteriak, "DASAR PERKUMPULAN BODOOHHH!"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Ino, Hinata dan Shion sweatdrop melihat pemandangan di depan mereka. Naruto yang digelitiki oleh empat orang, dan Sakura yang terlihat marah-marah sendiri di samping mereka.

"H—hentikaaaannnn!" Hinata berteriak dengan nada dramatis seraya langsung lari ke tengah-tengah mereka, melindungi Naruto yang sedari tadi berteriak minta tolong. Akhirnya, keempat remaja itu pun berhenti, membuat Naruto langsung jatuh terduduk di lantai atap.

"Haahh … haaahh … kupikir aku akan mati ketawa," ucapnya dengan nada panik serta keringat yang bercucuran.

"K—kau tidak apa-apa, Naruto-kun?" tanya Hinata khawatir seraya mengelap keringat Naruto menggunakan sapu tangannya.

"Hum. Terima kasih, Hinata …" ucap Naruto terharu. Hinata benar-benar menyelamatkan hidupnya dari empat singa yang sedang menerkamnya.

"Kami sedari tadi mencarimu, Sakura. Ternyata kau ada di atap bersama mereka." Ino menghampiri Sakura dengan senyuman penuh arti. "Aku yakin kau hanya ingin menemui Sasuke saja, 'kan?"

Dengusan Sakura menjawab pertanyaan Ino. Gadis itu masih kesal dengan lima orang anggota perkumpulan aneh di depannya.

"Shion!" Temari mengembangkan senyumnya.

Shion memasang pandangan was-was dengan cepat. "Rei Temari!"

"Hahahahaha! Kita bertemu di sini!" Tawa Temari terdengar puas. Shion bergidik ngeri dan langsung mengambil posisi di belakang Gaara, berhara pemuda itu bisa melindungi Shion dari kakak setengah gilanya itu.

"Kakak, dia ketakutan." Gaara menghela napas. "Jangan membuat dirimu terlihat bodoh di depan adik kelasmu," tegur pemuda itu lagi.

"Apa?!"

"Sudahlah, sudahlah." Ino menengahi. "Kami membawa jagung bakar. Ayo makan bersama."

"Kau selalu tahu apa yang kuinginkan, Ino." Sai tersenyum.

"Tentu saja! Aku ini hebat." Ino menyerahkan satu jagung bakar pada Sai yang langsung diterima pemuda itu dengan senyum tulusnya, membuat Sakura sekali lagi mendengus. Si kutu kupret memang hanya berbeda di depan Ino.

"Ittadakimasu~" Naruto menyantap jagung bakar tersebut dengan semangat.

"Delicious," komentar Shion dengan senyuman yang merekah.

"Tentu saja enak. Ini buatan kelasku." Ino tersenyum bangga. "Lihat saja. Yang akan mencapai penghasilan tertinggi di festival adalah kelasku," lanjutnya yakin seraya menyantap jagung bakarnya.

"Sasuke, ini." Sakura menyerahkan jagung bakar pada Sasuke, namun pemuda itu menolak dengan halus.

"Tidak. Aku tidak berselera."

"Ehh? Kenapa?" tanya Sakura heran dengan kepala yang dimiringkan.

"Entahlah. Hari ini terasa aneh untukku."

"Aneh?" Sakura semakin mengernyit. "Ah, mungkin kau harus berjalan-jalan. Nikmati festivalnya, Sasuke. Jangan hanya berdiam diri di atap."

"Ya. Kalian jangan di sini saja," tambah Hinata. "Setelah makan, berjalan-jalan lah dengan kami."

"Ahh … aku ingin sekali ikut berjalan-jalan dengan kalian, tapi setelah ini adalah jadwalku untuk menjaga stand." Temari berucap dengan nada malas.

"Setelah menjaga stand, susul lah kami," ucap Sakura dengan senyum semangat.

Temari mengangguk. "Ya! Tentu saja!"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Ayo ke sanaa! Kelas di sana membuka stand ramen!" Naruto menarik Gaara yang juga menarik Sai menuju stand ramen, sedangkan yang lainnya hanya menghela napas maklum seraya mengikuti langkah Naruto.

"Dasar perut karet," tukas Shion malas. Mereka sudah beberapa kali singgah di stand makanan. Tak ada yang mengerti bahwa gadis itu sekali-kali ingin singgah di stand aksesoris yang menurutnya cukup bagus.

"Cih. Makanan lagi. Padahal aku ingin ke stand aksesoris," ucap Ino yang sungguh mewakili hati Shion.

"Hehe … maaf." Entah mengapa, Hinata malah meminta maaf dengan sendirinya. Ah, mungkin karena Naruto yang tiba-tiba mengajak mereka singgah ke stand itu.

Sakura menoleh pada Sasuke dengan tatapan bertanya, "kau mau makan juga?" Pertanyaan itu dijawab sebuah gelengan dari Sasuke yang membuat gadis itu mengerutkan keningnya seraya berkata, "tapi kau tak makan apapun sejak tadi. Ini sudah jam dua siang. Aku sudah berkata padamu untuk menikmati festivalnya, Sasuke."

"Tenang saja. Aku menikmati festivalnya." Sasuke tersenyum tipis dan meraih tangan Sakura, menggenggamnya dengan hangat yang langsung mendapat deheman keras dari Yamanaka Ino.

"Aku tahu kalian sedang kasmaran. Tapi ini depan umum. Ingatlah statusmu, Haruno Sakura," tegur gadis berkucir itu yang langsung membuat wajah Sakura memerah.

"Diamlah, Gadis Pesek Kesayangan Sai."

"Baiklah. Aku hanya menegur. Sialan." Ino mendecak kesal. Pasalnya, perkataan Sasuke sungguh menohok dirinya.

Tak lama kemudian, Naruto, Sai dan Gaara kembali dengan Naruto yang memasang wajah sedihnya. "Ramennya sudah habis …" jelasnya saat melihat wajah bingung teman-temannya.

"Bagaimana kalau kita memberi mereka sedikit 'paksaan' agar mencari ramen untuk kita?" Gaara memberi usul, masih dengan wajah datarnya. Sepertinya pemuda itu berciri khas memberi saran ekstrim dengan wajah datar.

"Jangan berani-berani membuat kekacauan di festival ini atau aku akan memberi kalian seratus soal matematika," ancam Sakura saat wajah Naruto dan Sai telah mengambil ancang-ancang untuk menyetujui ucapan Gaara, yang langsung luntur sedetik kemudian.

Setelah rasa kecewa yang diterima Naruto, akhirnya mereka memutuskan untuk beristirahat di taman belakang yang sepi dari keramaian festival. Sebenarnya mereka ingin kembali ke atap, namun jika ke sana akan membutuhkan tenaga ekstra untuk menaiki tangga, sementara mereka telah lelah berkeliling tidak jelas selama beberapa jam.

"Ketua?" Sakura dan Sasuke sama-sama menolehkan kepalanya pada Sai yang langsung tersenyum. "Ah, maaf, Sakura-sama. Aku berbicara pada ketuaku."

"Oh." Perkataan Sai membuat Sakura kembali menggulirkan emerald-nya ke objek lain.

"Apakah nanti malam kita akan melawan tikus-tikus kota sebelah?" tanya Sai yang langsung membuat Naruto dan Gaara memandang Sasuke di saat yang bersamaan.

"Kalian ingin berkelahi nanti malam?!" Sakura kembali menoleh pada Sai dengan wajah marahnya. "Kenapa kalian suka sekali melakukan hal tak berguna seperti itu? Huh."

"Istrimu marah, Teme. Bagaimana ini?" timpal Naruto dengan wajah pura-pura khawatirnya.

Sasuke menghela napasnya. "Entahlah. Aku sedang tidak mood untuk berkelahi. Kalau kalian mau, kalian saja yang membereskannya."

"Tumben." Ino dan Hinata berucap serempak, sedangkan Sakura mengembangkan senyum leganya.

"Wah, wah. Taman belakang sekolah ini mempunyai pemandangan yang indah."

Para remaja tersebut sontak menoleh pada seorang pemuda berumur dua puluhan yang memandang mereka seraya melangkahkan kakinya mendekati mereka.

Onyx Sasuke melebar. Naruto, Sai dan Gaara yang tadinya duduk di rerumputan segera berdiri dan memasang tatapan tajam mereka. Shion pun terkejut dan langsung menunduk hormat pada pemuda tersebut.

"Eh? Kau? Apakah kau menikmati festivalnya?" tanya Sakura dengan senyumannya saat melihat orang itu adalah pemuda yang ditabraknya tadi. Baru saja ia hendak menghampiri pemuda itu, Sasuke langsung menahan lengannya dengan tekanan yang agak keras.

"Tidak usah menatapku seolah aku adalah musuh kalian, Namikaze, Shimura, Rei." Pemuda itu tersenyum. "Dan tentu saja aku menikmati festivalnya, Haruno Sakura."

Ino mengernyitkan alisnya, bingung saat melihat ekspresi keempat pemuda serta Shion seketika berubah. Hinata hanya terdiam, karena ia tahu pemuda itu dan sudah beberapa kali bertemu dengannya di beberapa pesta.

"Mr. Uchiha … kau … di sini?" Gumaman Shion terdengar di indra pendengaran semua orang, membuat Sakura terkejut.

'Uchiha? Berarti—'

Pertanyaan di benak Sakura terjawab saat pemuda itu masih melempar senyum yang sama seraya berucap, "ya. Aku di sini. Tentu saja, untuk menemui satu-satunya adikku." Pandangan pemuda itu bergulir, menatap Sasuke dengan pandangan yang menajam. "Mari kita menikmatifestivalnya, Adik."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

To be Continued

Holaaa

Udah setengah tahun. Ga kerasa yah? Haha #plak

Btw aku mau rangkum tanggapan dan pertanyaan reviewers chap kemarin yah #tumbenrajin

"Berapa chapter lagi kira-kira?" Hmm … mungkin dua chapter lagi. Entahlah, saya juga ga bisa prediksi huhu T.T

"Ada adegan berantem antara Itachi dan Sasuke gak?" Yaudah kuspoiler deh. Ada adegan ginian. Habis-habisan. Chapter depan.

"Sakura sama Ino tahu ga kalau Naruto dan Hinata tunangan?" Iya. Udah dijelasin di chapter ini wkwkwk sebenarnya dari pas chapter enam sih yang arc (?) Naruto tapi ga dijelasin yah. Kulupa huhu. Habis masalah Saskey bikin lupa sih :'( #plak

"Itachi bakalan suka sama Sakura gak?" Itachi kan suka sama aku. Gak mungkin lah O.o #kicked

Dan jika ada pertanyaan yang kira-kira bunyinya gini "Gaara, Naruto dan Sai kan ga tau permasalahan Sasuke, tapi kok ngikut natap tajam Itachi?" Nah. Mereka bertiga ga tau apa yang terjadi di masa lalu Sasuke. Tapi mereka tahu kalau Itachi dan Sasuke hubungannya ga bagus. Getoh.

Yaudah gitu aja deh dulu. Makasih yah yang masih mau nunggu fic ini hehe …

Sign,

HanRiver