Hei… gimana kabar kalian? Mudah-mudah baik ya…
Curcol dulu ah sebelum lanjutin ceritanya.
Beberapa kali aku dapat teguran/nasehat atau apalah nama lainnya mengenai tulisanku.
Itu bukan hanya dari ff ini, tapi juga dari beberapa ffku yang lain.
Sedih tau… Biarpun katanya untuk kebaikan ffku…
Memang.
Buat ff bukan hanya persoalan alur ceritanya tapi juga cara penyampainya.
Untuk itu dibutuhkan kecakapan dalam hal menulis.
Membuat pembaca merasakan apa yang tokoh dalam cerita rasakan adalah hal yang sangat penting dan paling dibutuhkan.
TAPI… :'(
Aku susah banget buat itu… Jadi nyesal saat dulu disuruh mengarah selalu niru punya teman.
Mohon maklumi aku ya, kalau tulisannya sangat, sangat dan sangat buruk.
Dah ah dari pada mikirin itu, lebih baik aku lanjutin ceritaku.
SELAMAT MEMBACA YA…
.
.
.
"Apa kau sadar dengan apa yang kau katakan?" Ucapku penuh emosi.
"Ya! Ya! Ya! Aku tau dan aku sadar. Kita lebih baik memba-"
Aku menariknya mendekat padaku, ku hentikan ucapannya dengan menempelkan bibirku pada bibirnya –hanya menempel. Dia sangat terkejut dengan perbuatanku, aku mengetahui dari matanya yang membelalak. Aku benar-benar tidak mau mendengar ucapannya, aku sudah terlanjur menyukainya dan tidak akan ku biarkan kau pergi begitu saja.
"Apa yang kalian lakukan?"
Disclaimer©Masashi Kishimoto
Love From You
Chapter 11
Sakura mendorong tubuh Naruto hingga menjauh darinya. Sakura tidak tau harus menjawab apa pada sensei yang memandang merendahkan.
"Apa yang kalian lakukan?" ulang sensei tersebut.
"Ehh…" Sakura mencari jawaban yang tepat.
Namun sebelum Sakura selesai berpikir Naruto sudah menjawab, "Kami hanya melakukan hal yang biasa remaja lain lakukan Kabuto-sensei. Apakah sensei tidak pernah merasakan masa muda?"
Sakura cengong mendengar perkataan Naruto yang seolah mengejek sensei tersebut.
"Seorang siswa harusnya mengikuti tata tertib yang ada di sekolah. Namun aku tidak heran dengan sikapmu Naruto, tapi saya kecewa denganmu Sakura..." Menghela napas, "Ya, sudahlah itu terserah kalian saja." Setelah berkata begitu Kabuto pergi.
"Naruto." Sakura kini menarik lengan Naruto.
Naruto menatap tangan Sakura yang memegang lengannya, "Ya?"
"Ta-tadi…"
Plukk… Naruto tersenyum lembut dan menepuk pelan kepala Sakura, "Itu asli dari hatiku. Sudah ayo kita ke kelas saja."
Sebuah senyuman terlambir indah di hati Sakura. Dalam tarikan tangan Naruto, Sakura mengeratkan genggamannya dan tersenyum. 'Semoga kehangatan ini tidak akan hilang.'
-0o0o0-
Hari ini Hinata harus pulang menggunakan transportasi umum. Sebelumnya sang kakak sudah menyuruh Hinata untuk menunggu sampai Neji datang menjembutnya, namun ditolak. Hinata beralasan bahwa hari ini dia akan membeli sesuatu di pusat perbelanjaan dan itu pasti menggunakan waktu yang lama. Hinata mengetahui sang kakak yang sedang sibuk mengurus keperluan kuliah, jadi Hinata tidak ingin meropotkannya. Akhirnya sang kakak menyetujuinya.
"Hinata…" Suara itu berasal dari seorang pria yang berdiri di dekat gerbang utama sekolahnya.
"Gaara-san." Hinata mempercepat langkahnya untuk menemui pria itu. "Ada apa Gaara-san?"
"Aku hanya ingin mengembalikan ini." Gaara mengangkat tangannya menunjukkan sebuah gelang.
Hinata memandang dengan seksama gelang itu, terukir sebuah nama di gelang itu, Hyuuga Hinata. Hinata sangat mengenal gelang itu, gelang pemberian ibunya. Darimana Gaara menemukannya. Hinata saja tidak menyadari bahwa gelang itu telah hilang.
"Gelangku." Ucap Hinata dan berniat untuk mengambil gelang itu dari Gaara.
"Tidak semudah itu Hinata." Ucap Gaara dan menjauhkan gelang itu dari jangkauan Hinata.
"Eh?" Hinata menatap heran pada Gaara, bukankah gelang itu milihnya?
"Aku akan menyembalikan ini padamu dengan syarat kau harus menuruti tiga permintaanku." Ucap Gaara sambil menyeluarkan seringainya.
"Ta-tapi…" Hinata bingung harus menjawab apa. Bukankah dia baru mengenal Gaara, apakah ajaran yang diberikan ayahnya kurang jelas? Yakni untuk tidak terlalu percaya terhadap orang yang baru dikenalnya.
"Ya sudah. Kalau kau tidak mau, aku akan membawa gelang ini bersamaku dan menjadi milikku." Gaara berbalik untuk meninggalkan Hinata.
Sebelum Gaara pergi terlalu jauh, Hinata menarik lengan Gaara. "Ba-baiklah Gaara-san."
"Bisakah kau tidak memanggilku dengan suffix san?" Gaara menatap Hinata.
"Kena-?" Ucapannya dipotong oleh Gaara.
"Aku tidak suka." Gaara kini bertingkah seperti seseorang yang sedang merajuk, wajahnya tampak cemberut. Tidak biasanya Gaara dapat bertingkah seperti itu.
"Hahaha…" Hinata tidak dapat menahan tawanya saat memandang tingkah lucu Gaara, "Ba-baiklah Gaara-kun…" Sebuah senyuman menghiasi wajah Hinata. Senyum Hinata seakan dapat menular pada orang-orang di sekitarnya, membuat Gaara ikut tersenyum memandangnya.
"Berikan tanganmu." Perintah Gaara.
Hinata menuruti perintah Gaara, mengulurkan tangannya. Hinata hanya melihat Gaara yang sedang memasangkan gelangnya. Wajahnya merona dengan perlakuan sang Sabaku.
"Cantik." Ucap Gaara.
Hinata menyangka perkataan itu ditujukan untuk gelang yang berada di tangannya. Namun perkataan Gaara saat itu bukan ditujukan pada gelang itu, melainkan pada Hinata yang merona.
"Terima kasih Gaara-kun…"
Senyum itu benar-benar menarik Gaara keluar dari wajah datarnya. Gaara yang seakan terhipnotis, langsung saja memeluk Hinata tanpa persetujuan Gadis itu. Perbuatan Gaara ini menarik perhatian murid-murid yang berjalan di sekitar mereka. Memandang dengan kagum dan tersenyum melihat Hinata dan Gaara yang berpelukan. Bagaikan mengumbar kemesraan hingga membuat beberapa orang juga menatap iri.
"Ga-Gaara-kun…" Hinata sangat gugup di pelukan Gaara, wajahnya kian bertambah merona ketika beberapa siswa-siswi menatapnya dengan berbagai makna, Hinata malu. Ia berusaha melepaskan diri dari pelukan Gaara.
"Biarkan aku memelukmu selama tiga menit, ini adalah permintaanku yang pertama."
Apa Gaara mulai menyukai Hinata atau ini hanya sebagian dari rencananya saja? Dalam pelukan Gaara, Hinata terdiam menuruti apa yang dikatakan Gaara tanpa membalas pelukan Gaara.
-0o0o0-
Sasuke yang baru saja keluar dari ruang Orochimaru segera bergegas pulan, namun langkahnya terhenti melihat pemandangan yang tidak menyenangkan. Pemandangan yang disuguhkan padanya bagai drama romantic yang selalu ditonton oleh Naruto dan Sasuke tidak menyukai itu. Kali ini ia bukan hanya sekedar tidak menyukai tapi ia membenci drama di depan matanya. Bukan karena adegannya yang berlebihan, hanya saja ia tidak menyukai orang yang melakukan adegan itu. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya, tapi Sasuke tidak mengetahui alasan itu semua.
Melihat keseluruh adegan tersebut dari Hinata yang menarik lengan Gaara, sampai Hinata yang berada dipelukan seorang pria yang sama –saat berada di taman. Sasuke mengeratkan genggaman tangannya menahan emosi, saat lelaki yang memeluk Hinata melihat kearahnya dan menunjukkan seringainya. Sasuke sadar bahwa pria itu sedang memanfaatkan Hinata.
Apakah hanya sekedar memanfaatkan? Atau lebih dari itu?
"Sasuke." Ada teman-temannya (Naruto, Shikamaru, Sai dan Sakura) yang berjalan ke arahnya.
"Shikamaru apakah dia yang bernama Gaara?" Tanya Sasuke memastikan, tidak biasanya Sasuke menanyakan orang lain.
"Ya." Jelas Shikamaru yang mengetahui siapa pria yang sedang berpelukan dengan Hinata. Bagaimana bisa ia melupakan pria yang sangat menentang hubungannya saat bersama Temari –kakak Gaara.
"Bagaimana Hinata mengenalnya?" Tanya Naruto namun teman-temannya hanya mengangkat bahu tanda tidak mengetahui hal tersebut.
"Sasuke sepertinya kali ini dia mengincarmu. Dan lihat sekarang, dia sudah melancarkan serangannya dengan mendekati Hinata. Sampai kapan kau akan diam saja? Apa kau sudah mengalah?" Ucap Sai.
'Mengalah apaan sih? Emang mereka sedang berlomba?' batin Sakura.
Pertanyaan Sai benar-benar merendahkan Sasuke. Sasuke adalah bungsu Uchiha, tidak ada kata menyerah pada kamusnya. "Itu bukan urusanku."
Mendengarkan ucapan Sasuke membuat Sakura geram dan berkata, "Kamu bilang ini tidak ada hubungannya denganmu? Tapi sepertinya ini memang sangat berkaitan denganmu." Sakura mendapat pandangan sinis dari Sasuke.
Seolah tidak takut terhadap pandangan itu Sakura melanjutkan perkataanya. " Hinata adalah gadis yang baik pada orang lain, mana mungkin ada yang benci padanya kecuali para fans gilamu itu. Hinata tidak seharusnya masuk ke dalam masalah yang kau perbuat. Jika sesuatu terjadi pada Hinata maka kau adalah penyebab utamanya." Perkataan Sakura benar-benar membuat Sasuke marah. Mendengar Sai berbicara saja sudah membuat api di hati Sasuke, ditambah Sakura yang menyiram minyak ke dalamnya, bahaya.
"Sudahlah Sakura… Sasuke tidak bermaksud seperti itu."
Naruto mencoba meredam amarah Sakura. Ia tidak ingin Sakura mencari masalah dengan salah seorang sahabatnya, bukan bermaksud untuk membela Sasuke. Hanya saja Naruto tahu bahwa Sasuke akan menjaga gadis itu. Ia mengetahui hal itu ketika kakak sasuke –Itachi- menceritakan perihal Sasuke menolong Hinata. Baginya itu sudah menjadi bukti besar bahwa Sasuke memiliki kepedulian terhadap Hinata. Sasuke yang terkenal dingin dan kejam –apa lagi Sasuke adalah ketua, tidak akan pernah menolong seseorang yang tidak dekat dengannya. Namun jika ditanyakan cinta, Naruto tidak mengetahui hal itu. Sangat sulit untuk mengetahui perasaan ketua mereka tersebut.
"Tidak bermaksud bagaimana!? Hinata diincar seperti itu karena Sasuke dan sekarang dia malah berkata seperti itu! Dasar pengecut." Ucap Sakura.
Emosi yang ditahannya sejak telah hancur, ketika mendengarkan kalimat terakhir dari gadis yang belum lama dikenalnya. Sasuke yang memang sudah marah sangatlah berbahaya dibandingkan dengan teman-temannya yang lain. Dia tidak akan menaruh belas kasihan pada orang yang mengusik hidupnya. Ia melayangkan sebuah pukulan ke wajah Sakura.
Perasaan Sakura yang merasakan aura membunuh membuatnya takut. Kenapa mulutnya itu dapat mengeluarkan kata-kata yang luar biasa pedas. Tangan Sakuke yang mengarah kepadanya membuat ia memejamkan mata. Namun sebelum kulit mulus itu menjadi biru, Naruto dapat menahan tangan Sasuke dan balik memukul Sasuke.
"Naruto…" Ucap Sakura yang melihat Naruto melayangkan pukulan ke perut Sasuke dan tepat mengenai sasaran.
"Dengar ya Sasuke, jangan coba-coba melukainya. Jika kau melakukan itu maka aku akan sangat marah padamu." Naruto mengajak Sakura untuk pergi.
Harusnya Sakura lebih berhati-hati berkata kepada empat orang tersebut. Memang sekarang dia dapat selamat karena ada Naruto yang menolongnya. Kalau tidak dia akan berakhir seperti wanita-wanita lainnya, dihajar hingga babak belur. Ingat mereka adalah geng yang sangat ditakuti di sekolah.
"Sebenarnya ada hubungan apa Naruto dan Sakura? Ini baru kali pertama Naruto dengan sukarela menolong seseorang dan malah mengancam kita." tanya Sai.
"Entahlah. Lebih baik kitamengikuti perkataannya." Balas Shikamaru.
"Ya." Ucap Sai.
"Sasuke mau kemana kau?" Ucap Shikamaru.
Namun tidak ada jawaban dari Sasuke.
"Merepotkan."
-o0o0o-
Wajah itu memerah menahan gejolak kesedihan di dirinya, hingga tetes demi tetes air mata jatuh menorekkan bekas di wajah bagai porselen itu. Tangannya menutupi suara tangis yang keluar dari bibir ranumnya. Kemudian sebuah tangan membelai pipi itu, menghapus setiap jejak air itu.
"Gaa-Gaara-kun?" Ucap gadis yang menangis itu.
"Berhentilah menangis Hinata" Gaara menurun tangan Hinata dan menghapus jejak air mata yang kembali turun.
Hinata menggelang, "A-aku sudah men-mencoba hiks… ta-tapi a-aku hiks… terus menangis Gaara-kun."
Kedua tangan Gaara kini menakup kedua pipi Hinata, membuat tatapan mereka saling bertumbrukan. "Aku akan membuatmu berhenti menangis."
"Eh?"
Hinata membelalak melihat Gaara yang mencium bibirnya, hanya menempelkan. Perasaan Hinata bagai disambar petir dan membuatnya hanya diam. Ciuman pertamanya telah hilang sudah.
Gaara dengan gampangnya berkata, "Sudah berhenti bukan?" dengan sebuah senyum. Bagi Gaara ini merupakan ciuman yang sering dilakukannya, tapi entah kenapa perasaannya tidak menunjukkan reaksi seperti biasanya. Gaara tersenyum melepas topengnya, senyum yang tulus.
"Hinata?" Melihat Hinata yang hanya diam membuat Gaara khawatir.
"Y-ya." Hinata gugup.
"Apa kau marah?"
Hinata diam tidak menjawab, tidak tahu bagaimana perasaannya sekarang. Dia hanya terkejut menerima perlakuan seperti itu untuk pertama kalinya. Hinata yang hanya diam, membuat Gaara berpikir bahwa Hinata tidak marah kepadanya.
"Hinata?" panggil Gaara lagi.
"Y-ya Gaara-kun."
"Ku mohon rahasiakan ini dari Shikamaru-san atau pun teman-temanya." Gaara berbicara dengan wajah serius.
"Ta-tapi kenapa Gaara-kun? Bukannya Temari-san adalah kekasih Shikamaru-san?"
"Aku tidak ingin dia bertemu Temari lagi." Gaara mengepalkan tangannya.
"Shikamaru-san harus tahu keadaan Temari-san yang seperti ini Gaara-kun. Aku yakin Shikamaru-san dapat menerima Temari-san." Hinata mencoba merubah pola pikir Gaara.
"Ku bilang tidak!" Gaara berteriak dihadapan Hinata, membuat Hinata mundur selangkah dengan raut takut.
"Ma-maaf Gaara-kun. A-aku ha-hanya merasa i-itu akan baik untuk perkembangan Te-Temari-san." Hinata berkata pelan dengan wajah menunduk.
Melihat Hinata yang ketakutan, membuat Gaara merasa bersalah. Ia berjalan ke hadapan Hinata, memegang kedua bahu Hinata dan berkata, "Aku hanya tidak mau kalau Temari semakin terluka, jika Shikamaru tidak menerima dengan keadaan seperti ini."
Hinata menatap Gaara, ia dapat merasakan Gaara sangatlah menyayangi kakaknya tersebut. Hinata mencoba mengerti perasaan Gaara, walaupun hati kecilnya seakan berkata perbuatan Gaara salah. Sebuah anggukanlah yang menjadi jawaban Hinata.
Mereka kini menatap Temari yang sedang duduk di kursi roda menatap keluar jendela dengan pandangan kosong. Gaara berkata sejak peristiwa kecelakaan yang menimpa kakaknya tersebut kakaknya sempat mengalami masa koma selama tiga bulan dan ketika kakaknya terbangun, ia tidak dapat berjalan dan berbicara. Kakaknya hanya menatap Gaara dan kemudian menanngis. Peristiwa itu benar-benar menyayat hati Gaara, dia benar-benar telah gagal menjaga saudaranya sendiri.
-0o0o0-
"Sedang apa tuan di sini? Kenapa tidak masuk ke dalam saja?" Tanya seorang pelayan di rumah tersebut.
"Tidak perlu. Sepertinya Gaara sedang kedatangan tamu. Kalau begitu aku pulang saja, katakan pada Gaara agar menelponku." Ucap pria itu. Pria itu tersenyum melihat hal tersebut.
"Baiklah tuan." Tutur pelayan itu dan kemudian memasuki ruangan tersebut, sambil membawa nampan dan beberapa obat-obatan.
Di dalam ruangan itu ada Gaara dan Hinata yang sedang berbicara terhadap Temari -kakaknya Gaara.
"Untuk apa kau ke sini?"
"Tenanglah Kankuro. Aku hanya ingin mengunjungi Temari." Pria itu mengeluarkan senyum.
"Cih. Jangan kau kira aku akan membiarkanmu bertindak seenaknya pada kakak dan adikku." Jawab Kankuro.
"Aku tidak ada urusan denganmu." Pria itu melambai dengan seingai.
"Penjaga!" Suaranya terdengar marah.
"Ya tuan."
"Jangan biarkan pria itu masuk sesuka hatinya"
"Maaf tuan itu merupakan keinginan Gaara-sama." Jawab penjaga itu.
"Baiklah. Kalau begitu laporkan setiap gerakannya di rumah ini." Perintah Kankuro.
"Baik tuan."
-0o0o0-
Di dalam kelas, Hinata sedang duduk bersama Sakura. Ini adalah jam istirahat dan mereka memilih untuk memakan bekal yang mereka bawa di dalam kelas.
"Hinata?" Tanya Sakura.
"Ya…" Jawab Hinata.
"Yang kemarin bersamamu siapa?" Tanya Sakura sambil menatap Hinata sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Kemarin?" Hinata masih belum mengetahui maksud Sakura.
"Yang berambut merah itu loh."
"Oh… Dia Gaara, teman baruku Sakura-chan. Apa Sakura-chan mau aku kenalkan?" Hinata hanya tersenyum.
"Ti-tidak perlu Hinata." Entah kenapa kok jadi Sakura yang gugup. Apa karena dia mengetahui maksud tujuan lelaki itu?
"Tidak apa-apa Sakura-chan, Gaara-kun sangat baik."
Sakura makin tercengang melihat temannya yang satu ini. Apa dia tidak bisa merasakan firasat buruk saat berdekatan dengan pria itu? Atau pria itu memang orang yang baik? Atau Naruto dan kawan-kawannya lah yang sebenarnya jahat? Dan kenapa Hinata memanggil lelaki itu dengan suffix –kun? Apa mereka sudah sangat sedekat itu? Semua pertanyaan itu mulai berputar-putar di atas kepalanya.
"A-ada apa Sakura-chan? Kenapa tiba-tiba mematung seperti itu? Jika Sakura-chan tidak ingin ku kenalkan tidak apa-apa." Kata Hinata.
Sakura menghela napas, daripada ia terus memikirkan hal itu lebih baik dia langsung berkenalan dengan lelaki itu dan menilainya. "Baiklah Hinata, kenalkan aku dengannya. Mana tahu kita bertiga dapat menjadi teman baik. Yakan?"
Hinata tersenyum dan mengangguk, "Tapi aku tidak tahu, kapan lagi akan bertemu dengannya."
"Apa kau tidak memiliki nomornya?" Tanya Sakura.
"Ti-tidak."
"Sudahlah, kalau kau bertemu lagi dengannya maka kenalkan ke aku ya."
"OKE." Entah datang dari mana semangat Hinata itu, melihat itu Sakura merasa mungkin saja Gaara itu memang orang baik dan Narutolah yang salah menilai lelaki itu.
"Wah… minumku sudah habis, padahal aku masih kehausan. Hinata temanin aku ke kantin ya."
"hmm." Jawab Hinata.
-0o0o0-
Naruto, Sai dan Shikamaru kini memandang Sasuke yang kini memukul seorang kohai di sekolah mereka. Adik kelas tersebut tidak sengaja menambrak Sasuke yang sedang berjalan menuju tempat duduk di kantin.
"Sudahlah Sasuke. Dia sudah penuh dengan luka." Ucap Naruto sambil menarik Sasuke menjauh dari adik kelasnya itu. Semua orang tidak ada yang berani melerai ataupun memanggil sensei. Jika ada yang mengadukan tindakan mereka, maka sudah jelas anak tersebut akan berakhir di rumah sakit.
"Lepas." Nada dingin Sasuke sangat menakut hingga Naruto memilih melepasnya.
"Ada apa dengannya?" Tanya Sai.
"Ini mungkin ada hubungannya dengan kejadian kemarin." Jawab Shikamaru.
"Bagaimana ini Shikamaru, coba pikirkan cara menghentikannya. Bisa-bisa adik kelas itu mati." Naruto sudah sangat cemas.
"Tumben kau berkata seperti itu. Bukannya kau dan Sasuke memang sering melakukan itu tanpa berpikir dulu?" Sai memanglah orang bermulut tajam.
"Gawat." Ucap Shikamaru.
"Ada apa?" Tanya Sai.
"Lihat siapa yang baru saja masuk kantin." Kata Shikamaru.
"Hinata… Sakura…" Pandangan Naruto kini menatap Shikamaru dan Sai "Cepat hentikan Sasuke." Ucap Naruto panik. Bagaimana jika Sakura melihat ini, maka bisa-bisa Sakura menjauhinya. Tapi terlambat, Kedua gadis itu telah melihat yang dilakukan Sasuke.
"Sasuke…" Ucapan itu keluar dari bibir Hinata, dia tidak percaya Sasuke adalah orang seperti itu.
"Hentikan! Apa-apaan kau ini. Kenapa memukulinya sampai seperti itu." Ucap Sakura marah. Ia melihat sekeliling dan menatap marah pada setiap orang yang hanya memandang. "Kenapa kalian hanya menontonnya saja?" Tatapannya berakhir pada Naruto.
Naruto gelagapan karena ditatap seperti itu.
Sakura kini maju ke arah Naruto dan menunjuk pria itu, "Kau sama saja dengannya, aku benci dengan orang-orang seperti kalian." Ucapan itu terdengar dingin, tapi tetap ada air mata yang menetes.
Sasuke kini sudah berdiri, membiarkan adik kelas tersebut lepas dari maut. Hinata membuang pandangannya ketika Sasuke menatapnya. Hinata menangis melihat tingkah Sasuke. Bagaimana bisa ia sampai berbuat seperti itu? Apa sebuah masalah tidak dapat diselesaikan dengan kepala dingin?
"Sa-Sakura-chan bi-biarkan sa-saja mereka, lebih baik kita bawa dia ke UKS." Ucap Hinata yang kini sudah membantu kohai tersebut berdiri.
"Te-terima kasih…" Ucap kohai tersebut.
"Sudahlah tidak perlu berterima kasih. Jika mereka memang manusia pasti mereka membantumu." Ucap Sakura.
"A-aku sa-salah me-memilih teman." Ucap Hinata yang memandang Sasuke.
Setelah kepergian kedua gadis itu yang membawa kohai terluka itu, keadaan kantin masihlah hening.
Sasuke memukul meja di sebelahnya dan pergi, Naruto sudah pergi entah kemana dan Sai Shikamaru hanya menghela napas melihat tingkah kedua sahabatnya.
-o0o0o-
Sakura dan Hinata meminta ijin kepada sensei yang masuk di jam terakhir untuk tidak masuk karena harus mengobati adik kelas tadi. Sensei tersebut memberi ijin dan menyuruh agar Sakura dan Hinata membawa tas mereka. Saat mengambil tas mereka, Sakura tidak memandang Naruto dan Hinata seakan ketakutan melihat Sasuke. Naruto menarik rambutnya frustasi sedangkan Sasuke memandang datar. Jangan pikir Sasuke tidak merasakan emosi apupun, lihat tangannya yang mengepal kuat.
Seusai pelajaran selesai Sakura dan Hinata melewati Naruto, Sasuke, Sai dan Shikamaru begitu saja. Melihat kelakuan dua gadis tersebut mereka berempat hanya dapat diam saja.
"Hinata."
Lagi-lagi pria itu datang menjemput Hinata, menunggu sambil bersandar pada pintu gerbang, melambaikan tangan ketika melihat Hinata, tersenyum pada Hinata. Hal-hal itu membuat muak pria yang memandang ke arah Hinata –Sasuke. Biasanya Hinata akan datang sendiri menemui lelaki itu, tapi kini Sakura pun menghampiri pria itu. Membuat Naruto menampakkan urat-urat kemarahan di keningnya.
"Gaara-kun… Ada apa sampai datang ke sini?" Tanya Hinata.
"Aku hanya ingin mengajak kau jalan." Ucap Gaara santai dan melirik gadis di sebelah Hinata.
"Gaara-kun kenalkan dia Haruno Sakura, Sakura-chan kenalkan dia Sabaku Gaara." Kata Hinata saling memperkenalkan temannya itu.
Gaara dan Sakura saling bersalaman. Sebenarnya Gaara sendiri sudah mengenal gadis bernama Sakura tersebut. Tapi dari mana?
"Hinata apa kau mau pergi bersamaku ke sekolahku? Hari ini ada acara pentas seni di sekolahku." Ucap Gaara.
"Bolehkah Sakura-chan ikut?" Tanya Hinata pada Gaara.
"Eh? Tidak perlu Hinata." Sakura merasa tidak enak hati jika mengganggu Gaara dan Hinata.
"Boleh. Ayo kita berangkat sekarang, sebentar lagi pentasnya akan dimulai." Gaara melirik jam tangannya.
"Gaara-kun… Apa nanti aku bisa membeli cemilan?" Tanya Hinata.
"Boleh saja." Gaara kini mengusap kepala Hinata.
Sakura heran melihat tingkah Hinata yang sama sekali tidak tergagap di depan Gaara dan menerima perlakuan Gaara begitu saja. Apa Gaara dan Hinata sebenarnya sudah memiliki hubungan?
Sedangkan yang jauh di sana sedang memandang marah pada lelaki itu. Naruto dan Sasuke tidak lagi dapat menyembunyikan kemarahannya.
'Akan ku buat kau terikat denganku secepatnya.' Batin Naruto.
Naruto kini menelpon kedua orang tuanya. "Kaa-san apa pernikahan itu dapat diadakan dalam minggu ini?" Ucapnya pada orang di seberang telepon.
Ketiga temannya menatap Naruto tidak percaya.
"Tidak ada masalah besar, aku hanya tidak ingin direpotkan dengan pembahasan ini lagi." Balasnya dan menutup telepon.
"Naruto kau tidak bercandakan?" Tanya Sai.
"Apa dengan gadis pink itu?" Tanya Shikamaru.
"Ya. Aku akan mengikatnya dan tidak akan membiarkan Gaara mengganggunya apalagi sampai mendapatkannya." Ucap Naruto dan pergi terlebih dahulu menuju mobil yang terparkir tidak jauh dari tempatnya.
"Shikamaru bagaimana menurutmu dengan Gaara?" Tanya Sai.
Shikamaru menjawab jujur, "Dia orang yang sangat sulit untuk dihadapi. Mungkin semua keinginannya adalah MUTLAK."
"Kalau begitu mungkin saja dia menginjar salah satu dari kedua gadis itu. Aku merasa dia menaruh hati pada Hinata." Perkataan Sai mengganggu pikiran Sasuke, sejak kapan dirinya mulai sulit mengontol emosinya? Kini Sasuke hanya menatap kepergian Hinata.
"Sai ikuti mereka." Perintah Sasuke. Ya... biasa sang ketua.
"Kalian sungguh membuatku kerepotan." Balas Sasuke kesal namun kemudian pergi.
"Shikamaru." Panggil Sasuke.
"Ada apa?" Jawab Shikamaru.
"Cari tahu mengenai foto ini." Sasuke memberi sebuah amplop bewarna coklat dan kemudian pergi.
Shikamaru membuka amplop tersebut dan melihat satu persatu. Sebuah foto membuat Shikamaru terkejut.
.
.
.
TBC
.
Makasih udah ngingetin aku untuk lanjutin ini. Aku sempat malas buat nulis lagi, tapi berhubung ada yang ingatin jadi aku lanjut. Maaf ya…
Makasih buat yang sempat Favorite, Follow da Review
.
.
.
Review
Laventa 288, Namikaze Arif, Miss Utun, Yuuki Natalia, Firdaus minato, Eka Hime, Salsabilla12, Aoi, 5, Sasuhina69, Naira86, Unnie, .29, Bucamat, KazukiShin, Oormiwa, hinatachannn2505, Angel821, shiroi tensi, NurmalaPrieska, SR not AUTHOR, Emiiy20, ara dipa, chiwichan, hyacinth uchiha, clarion, HipHipHUraHura, Esya. , Lavienda.
Ini adalah balasan review kalian ya… Angel gak sempat balas satu-satu. Maaf…
Moment SasuHinanya lebih sweet lg dong. Kalau gak ya buat sasuke makin cemburu liat kedekatan gaahina Hahaha… Oke. Oke. Apa chap ini masih blom bisa buat Sasu cemburu? Mungkin sara sama gaara dijadiin pasangan aja kali ya pas end-nya Oke, bakalan aku pikirin dulu ya Hweee! Jgn ada gaasaku yah! :'( pliss...aqu mohon... *_* kalo gaahina itu gk masalah! :) malahan aqu suka bnget! Oke sip :) Wahh makin seru ceritanya Makasih… eh, siapa yang mergokin tuh? iruka? Kamu pasti sudah tahu bukan… apa gaara bener suka sama hinata atau cuma main main doing Kalau ini sih bakalan diungkap di akhir-akhir, jadi masih rahasia ya… :) ada scene gaahina yah, biar cuma slight sasuhina doank gak pa pa, alnya aku suka banget sama gaahina Hahahaha… ketawa aja dech akunya. SHL nanti bakal bantai aku tuh. Pertama kali baca, aku lebih mengharapkan ceritanya fokus ke SasuHina dri pda NaruSaku. Tpi pas Naruto cium Sakura.. mulai tertarik sama mereka Tertarik keduanya aja,, :) penasaran sasuhina Saya juga XD Apakah akan terjadi cinta segitiga? Mungkin saja… *duduk *minum es *berpikir *ketiduran kalau boleh kasih komentar, ada beberapa typo yang agak parah. Istirahat dulu kak sebelum di cek ulang, Iya… Iya… Saya tidur dulu ya *tidur *bangun *lihat kalender, ternyata udah ketiduran dua bulan hahahaha…. Maaf. aku ska banget... sma ceritanya & bkin aku penasaran sma kelanjutannya... trus lanjut ya... jgn lama lama udh gk sbar nih bca kelanjutannya lagi.. Iya ini saya lanjut, biarpun ngaret banget. narusaku nya mana kok gak ada yang romantis kok cuma sasuhina Wah masa sih? Yang lain bilang NaruSakunya lebih dominan dan lebih romantic dibanding SasuHina. Kalau gitu chap 12 saya buat orang itu romantic-romantisan ya… dah bacakan kalau Naru minta pernikahannya di percepat. Jadi sabar ya. XD penasaran nih sama lanjutannya
dan tolong bikinin musuh untuk Naru dong Siapa ya? Kalau Sasori Gimana? Keren! Keren! Keren! Momen shikatema ada nggak? Jadi bingung antara gaahina ato sasuhina! Suka semua sih~ yang terbaik aja dah! Bua sasu cemburu chuseyo~ Makasih… ShikaTema ada tapi pasti gak akan banyak. Pilih saya saja kalau gitu.. :D Sasu dah cemburu tuh. gaara ma hinata, sasuke dah mulai ada rasa ma hinata. aku suka, aku suka. Senang kalau kamu juga senang Setan merah mulai suka kyknya ma hina... Scene gh nya jgn banyak2 thor aku gk suka Aku harus bisa buat Sasu cemburu melalui kedekatannya dengan Gaara. Jadi chap 11 lebih ke GaaHina yg ngeliat NS kiss itu kayaknya hinata kalo saara yaa? Tebakan anda salah. kapan dong thor giliran sasuhina? Chap yg akan datang
