Link of Us

Disclaimer : Masashi Kishimoto


Chapter 11

Warning : Gaje, ooc, alur kecepatan, misstypo, Sinetron haha ,dll

Don't read if you don't like this pair!

.

.

So, yeah~ this is the last Chapter guys! Terimakasih banyak sudah mengikuti fic ini

dari author yang masih ooc, typo banyak (sekarang juga sih), kesalahan EYD (sekarangjugakok), dan berbagai banyak kesalahan lain

Pokoknya, fic pertama yang updatenya lama banget ini bikin Author senang banget karena dapet review membahagiakan dari kalian semua

Semoga kedepanya Author masih bisa menulis Fic-Fic lainnya! ^^

Silahkan membaca! ^^


.

.

"Ini, untung saja toko yang ini punya." ujar Gaara sembari menyerahkan sebuah kotak kertas ke arah Hinata sebelum akhirnya menutup pintu mobil. Dengan cepat Gaara kembali menekan pedal gas ke arah jalanan setelah sempat parkir di sebuah toko roti di pinggir jalan.

"Arigatou, Gaara-kun" Hinata tersenyum senang saat melihat 2 buah roti melon di dalamnya. "Maaf, entah mengapa dari kemarin aku mau makan ini."

Hinata menatap wajah Gaara tak enak hati mengingat Gaara sudah lebih dari 5 toko roti Ia putari demi mencari roti tersebut.

"Yah lagipula aku sudah janji akan membelikannya hari ini, 'kan?" Gaara menaruh tangannya di atas kepala Hinata pelan, sementara tangan lainnya tetap fokus mengendalikan setir.

"Tou-sama sudah menunggu bersama Neji-niisan juga dirumah, aku khawatir kalau berita yang akan kita dengar nanti"

"-Bisakah kau tidak berpikir negatif dulu? Lagipula semua masalahnya akan jelas."

"I-iya. Aku akan sangat senang mengetahui alasan mengapa Ibuku seperti itu dulu."

"..." Gaara melirik Hinata yang sedang membuka plastik roti melalui sudut matanya. "Lebih baik kau tidur dulu setelah makan, istirahatlah yang cukup."

"Aku mengerti.. Terimakasih, Gaara-kun."

.

.

.

.


Malam hari, Gaara dan Hinata akhirnya sampai di depan kediaman Hyuuga. Hinata yang sudah terbangun dari tidurnya beberapa menit sebelum sampai, segera bersiap-siap dan membuka pintunya mantap. Sembari menunggu Gaara diluar, Hinata segera berjalan menuju pintu depan hendak menyalakan bel rumahnya.

"Ada apa? Nyalakan bel-nya." ujar Gaara yang baru keluar dari dalam mobil.

"U-uhm.." dengan segera Hinata memencet tombol putih di depannya. Beberapa detik setelahnya, Hanabi sang adik sudah menampakkan batang hidungnya seraya membuka pintu lebar.

"Nee-chan! Akhirnya kau datang. Perjalanan kalian jauh, 'kan? Istirahatlah dulu." seru Hanabi melihat kedatangan Kakak semata wayangnya beserta Kakak iparnya. Ia memang sudah menunggu dari sore tadi saat mendengar bahwa Kakak perempuannya akan pulang, bahkan makan malam hari ini pun Ia persiapkan.

"Terimakasih, Hanabi. Dimana Tou-sama dan Neji-niisan?"

"Di ruang tengah. Mereka meminta kalian langsung kesana." Hanabi tersenyum simpul. "Baiklah, aku akan menyiapkan makan malam dulu. Jaa-"

Setelah Hanabi pergi, Hinata dan Gaara yang masih berada di lorong rumah, segera beranjak ke ruang tengah. Dengan senang, Hinata melihat Ayahnya sudah duduk seraya menatapnya penuh cemas. "Tou-sama.. Maaf, aku baru bisa datang lagi."

"Tidak apa, duduklah. Gaara-san, terimakasih sudah jauh-jauh kemari." Hiashi memandang Gaara yang ikut duduk di sebelah Hinata.

"Bukan masalah."

Neji yang berada di sebelah Gaara lalu mulai mengangkat suaranya. "Hinata-sama, kami akan langsung saja ke inti permasalahannya. Seperti yang kukatakan di telepon, orang yang terbunuh oleh Ibumu.. masih hidup."

"..I-iya, lalu─apa Nii-san tahu siapa orangnya?" tanya Hinata ragu-ragu.

"Sayang sekali, tidak."

"Lalu darimana kau tahu dia masih hidup?" Gaara memandang Neji tajam. Ia terlihat jengkel dengan kenyataan yang tidak memiliki bukti di hadapannya kini.

"Dengarkan dulu, tuan Sabaku." Kesal, Neji segera mengambil koran di sebelahnya dan melemparnya ke atas meja. "Baca itu. Itu adalah berita dimana kejadian saat itu terjadi. Kami meminta surat kabar manapun, dan hasilnya sama. Tidak ditemukan mayat wanita, hanya ada satu anak kecil."

"I-itu Naruto-san, bukan?" Hinata menatap Gaara bingung.

"Betul. Naruto sendiri bilang dia sadar saat sudah di RS." Gaara kembali menatap surat kabar tersebut. "Lalu, kemana wanita itu?"

"Entahlah, yang pasti tidak mungkin mayat itu jalan sendiri bukan?"

"Ah!" tersadar akan sesuatu, Hinata buru-buru menarik lengan baju Gaara. "Anu, Gaara-kun.. Sasuke-san mengatakan dia menemukanku saat kabur dari Uchiha, jadi, dia pasti melewati jalanan itu 'kan?"

"Tepat. Tapi, seingatku dia bilang bahwa yang Ia lihat hanya seorang anak kecil yaitu Naruto, dan darah yang sudah berlumuran dijalanan. Aku tidak ingat bahwa dia mengatakan kalau dia menemukan mayat wanita di jalanan tersebut."

"Jadi, wanita itu tidak mati.." Hinata menundukkan wajahnya dalam.

"Tampaknya aku butuh otak seseorang untuk hal ini." Gaara lalu mengambil ponsel di kantungnya dan memencet nomor telepon di dalamnya.

"G-Gaara-kun.. dia?"

"Ya, Shikamaru─" Gaara tersenyum tipis. "Halo-?"

"Ah? Gaara? Lagi-lagi kau memanggilku di jam segini, merepo─"

"Dengarkan ceritaku, ini penting."

.

.

.


"─Hee.. Jadi begitu ceritanya? Wanita itu hilang begitu saja?" tanya Shikamaru saat mendengar cerita dari Gaara lengkap.

"Ya, bagaimana menurutmu?"

"Hmm─"

.

.

"Jawablah, Shikamaru." ujar Gaara kesal.

"Sabarlah, aku juga butuh waktu berpikir." Shikamaru menghela nafasnya panjang. "Bukankah hal itu sudah jelas? Pembunuhan yang direncanakan."

"Apa maksudmu?"

"Yah, bukankah menurutmu aneh? Kejadian itu terjadi dini hari 'kan?"

"Ya, sekitar jam 2 pagi."

"Menurutmu untuk apa dia dan anaknya berada di sana? Lalu, perbandingan adanya kendaraan di jalan tersebut pada jam tadi adalah 1 banding 10. Pikir lagi, Kendaraan yang lewat menyangkut pautkan wanita tersebut. Yang pertama, sebuah mobil yang menabrak Ibu Hinata, lalu mobil kedua yang datang, mencoba menabrak Hinata, tapi dalam logika, buat apa si bocah lelaki itu menolong Hinata dan menggantikkannya? Saat Ia tertabrak, buru-buru sang pengemudi mengambil lelaki itu ke dalam mobilnya. Aneh─"

"Benar juga.." Otak Gaara yang ikut berpikir lalu tersenyum tipis. "Tampaknya aku mulai mengerti permainan orang-orang tersebut, Shikamaru─"

"Baguslah. Jadi aku tidak perlu melanjutkan kejadian berikutnya, 'kan?"

"Yah, terimakasih." Gaara lalu menutup teleponnya dan menopang dagunya dengan tangan kanan. Ia lalu tersenyum tipis ke arah Hiashi. "Hiashi-san, tampaknya kau lebih mengerti hal ini, betul?"

"A-apa maksudmu?" Hiashi menatap Gaara bingung. Hinata yang melihatnya juga hanya bisa diam. Ia ragu untuk memasuki pembicaraan Gaara kali ini.

"Hiashi-san, pada kenyataannya kau tidak bisa selalu menutupi rahasia kepada anakmu yang manis ini." Gaara menatap Hiashi dengan mata hijaunya yang terlihat dingin seraya melingkarkan tangannya ke arah Hinata. "Anakmu ini harus tahu kenyataannya."

Hiashi menatap Gaara penuh ragu. Ia lalu menundukkan kepalanya dalam dan membuka suaranya dengan berat hati.

.

.

.


"Apa maksudmu kau menyerahkan Hinata?!" seorang wanita berambut panjang dengan kulit putihnya menatap lelaki di hadapannya geram.

"Tidak ada pilihan lain, mereka sudah mulai bergerak. Kau tahu artinya 'kan? Mereka mengincar keluarga ini. Tapi, dia bilang padaku bahwa Ia akan berhenti mengincar Hyuuga apabila Hinata kita serahkan padanya."

''Kenapa harus Hinata?! Bukankah, dikeluarga Hyuuga lain masih ada berpuluh-puluh anak yang seumuran dengan Hinata?''

"Ya, tapi... Kitalah sang kepala dari Hyuuga. Tenang saja, aku yakin Hinata akan baik-baik saja."

"Apa kau yakin?! Mereka pasti merencanakan semuanya! Mereka akan berkata bahwa Hinata baik-baik saja, tapi selanjutnya mereka akan menipu kita dan mengancam akan membunuh anak itu! Sama saja, Hyuuga akan diserang!" wanita berambut panjang itu lalu berdiri dan menatap suaminya yang sedikit kaget melihat sang istri yang biasa lemah lembut itu mengamuk di depan matanya. "Aku kecewa padamu. Kau mengorbankan anakmu sendiri hanya untuk kebaikanmu. Biar aku yang menjaga Hinata."

.

.

"Hinata! Kau dari mana?!" seru Ibu Hinata keras saat melihat Hinata baru saja kembali ke rumah.

"A-aku habis pergi bermain dengan Neji-niisan." jawab Hinata takut.

"Sudah Kaa-chan bilang, kau tidak boleh keluar dari rumah ini tanpa Kaa-chan, mengerti?!" Ibunya mengguncang tubuh mungil Hinata, tangannya gemetar di pundak bocah berusia 6 tahun itu.

"A-aku mengerti, Kaa-chan.."

Belum sempat sang Ibu membuka kembali suaranya, tiba-tiba telepon rumah mulai berbunyi. Menggema di seluruh ruangan rumah Hyuuga yang sepi. Merasa tak ada yang mengangkatnya, buru-buru Ibu Hinata berlari untuk menjawab panggilan telepon yang masih asik berbunyi.

"Ha-halo?"

"Hyuuga-san, tampaknya anakmu sudah besar sekarang. Kenapa kau tidak mau menyerahkannya pada kami? Dengan begitu, keluarga Hyuuga bisa hidup tenang." jawab sang penelepon, membuat wanita dengan mata lavender ini langsung tercengang. Ia tampak membeku sesaat mendengar kalimat tersebut.

"Kenapa kau memilih anak kami?! Aku tidak akan menyerahkan anak itu! Tidak akan!"

BRAK

Ibu Hinata menutup telepon tersebut kencang dan segera melemparnya kelantai. Ia merasa takut mendengar lagi suara dering telepon yang berniat mengambil anak sulungnya tersebut. Melihat Hinata yang hanya terdiam, sang Ibu segera berlari dan memeluknya erat.

"Hinata, Kaa-chan akan menjagamu. Karena itu, turuti semua perkataanku, ya?"

"Ke-kenapa?"

"Karena, Kaa-chan sayang padamu. Jadi Kaa-chan ingin Hinata selalu ada di sisi Kaa-chan setiap detik."

"..Ba-baik, Kaa-chan."

.

.

"Hyuuga-san, anakmu ada pada Uchiha." ujar seorang wanita di balik telepon. Ibu Hinata yang baru saja syok akan berita bahwa anaknya diculik kini semakin menegang dengan kalimat tersebut.

"Kau! Apa yang kau lakukan dengan anakku!?" seru wanita Hyuuga itu kencang.

"Sabar dulu, bahkan kami tak ada hubungan sedikitpun dengan sang Uchiha. Malah, dia menghancurkan rencana kami. Tampaknya kami keduluan menculik anakmu."

"Kembalikan! Kumohon! Anak itu, dia anak berhargaku- ambil nyawaku jika kau mau, tapi kembalikan anak itu─!"

"Ah, benarkah?"

"Pegang ucapanku."

"Kalau begitu, keluarlah─kau bisa bertemu dengan anakmu setelahnya."

Ibu Hinata segera menutup teleponnya buru-buru. Tanpa diketahui Hiashi yang masih mencari keberadaan Hinata bersama para Hyuuga lainnya, Ia keluar dari kediaman Hyuuga. Dengan langkah cepat, Ia membuka pintu gerbang Hyuuga dan menemukan seorang wanita berambut panjang sedang tersenyum tipis.

"Apa maumu, Inuzuka?!" seru Ibu Hinata melihat wanita di depannya hanya tertawa-tawa kecil.

"Hei, jangan emosi seperti itu. Apa kau lupa siapa yang menjadi dalang pembunuhan suamiku?" wanita berambut coklat itu mendekat ke arah sang Hyuuga dan menatapnya tajam. "Jangan lupakan hal ini. Suamiku mati di tangan Hyuuga."

"Apa buktinya?! Suamimu mati saat penembakan mafia besar-besaran! Tidak ada yang tahu siapa yang menembak suamimu!"

"Betul, tapi Perusahaan Hyuuga melambung besar setelah kejadian tersebut. Dan ada yang mengatakan bahwa informasi tempat suamiku di dapat dari salah satu orang Hyuuga! Kalian membunuh suamiku!" wanita dengan taring kecil itu menarik kerah baju sang Hyuuga dan menatap lelaki di sebelahnya. "Suntik dia sekarang!"

"Baik!" dua orang lelaki bertubuh besar segera menahan lengan Hyuuga dan mengeluarkan sebuah jarum suntik, entah obat apa tapi tampaknya sangat kuat hingga membuat wanita bekulit pucat itu langsung tumbang.

"Bawa dia dan kirim ke Uchiha. Dengan obat itu, otaknya akan mengalami kerusakan. Biar kita lihat bagaimana kematiannya nanti."

.

.

.

"Kaa-chan─, Kaa-chan.."

Hinata yang melihat Ibunya tergeletak di jalanan dengan bersimbah darah terdiam. Ia mematung dengan matanya yang terbuka lebar.

"Hinata, sedang apa aku disini─? Kenapa kau menangis?" ujar sang Ibu dalam hati. "Tubuhku tidak bisa bergerak. Tubuhku mati rasa. Ada apa ini?"

Sang Ibu yang sudah tak bisa lagi bergerak hanya bisa samar-samar melihat Hinata yang masih mematung di depan matanya.

"Maafkan aku, tidak bisa lagi menjagamu. Hinata, tumbuhlah dengan baik. Kau akan menemukan jawaban yang sebenarnya. Maafkan Ibu, Hinata." dengan perlahan, mata sang Ibu akhirnya tertutup. Ia benar-benar sudah tak bisa lagi bergerak ataupun bernafas. Hantaman dari mobil yang menabraknya membuat tubuhnya hancur dalam sekejap. Sama dengan hati Hinata yang melihat apa yang ada di depan matanya sekarang.

.

.


Tubuh Hinata langsung lemas mendengarnya. Ia jatuhkan tubuhnya di dada Gaara yang hanya bisa terdiam mendengar cerita dari Hiashi. Hiashi sendiri terlihat menahan kesedihannya saat menceritakannya.

"I-Inu..zuka? Kiba-kun?" ucap Hinata sembari mengontrol nafasnya yang tersenggal-senggal. "Ga-Gaara-kun.. itu─"

"Iya, aku tahu. Tenangkan dirimu." Gaara mengelus kepala Hinata pelan dan kembali menatap Hiashi. "Hiashi-san, apa semua bukti yang kau punya cukup kuat? Apa kau yakin Hyuuga yang membunuh Inuzuka?"

"Tidak. Hyuuga benar-benar tak terlibat. Ada kesalah pahaman, Inuzuka adalah mafia besar saat itu. Saat terjadi kasus penembakan itu, Polisi serta para Detektif dalam negeri yang mengetahuinya dari penyelidikan mereka sendiri. Tapi, saat berita itu tersebar, perusahaan Hyuuga sedang sangat maju. Jadi, berita itu seakan tercampur. Entah bagaimana sang Inuzuka mendengar hingga mereka mengira seperti ini. Karena itu, sebagai kompensasi mereka meminta Hinata. Dan, saat itu aku tidak sekuat Ibu Hinata. Aku malah berniat menyerahkanmu demi kesuksesan Hyuuga, Maafkan aku, Hinata.."

"Tou-sama.." Hinata hanya bisa menggeleng. Tubuh serta mentalnya masih lemas mendengar berita yang baru Ia ketahui tadi.

"Aku akan bicara langsung dengan Inuzuka. Tentunya dengan bukti-bukti akurat yang kalian dapatkan, sisanya aku akan menyelidikinya lagi. Dengan begitu, mereka bisa di hukum atas kejadian itu." ujar Gaara serius.

"Jangan─! Jangan lagi kau terlibat dengan keluargaku!" seru Hinata pelan.

"Jika itu menyangkut keluargamu, maka itu menyangkut diriku juga! Aku adalah keluargamu, 'kan?!" Gaara membalasnya kencang. Ia menatap Hinata tajam dan kembali mengangkat wajahnya menatap Hiashi. "Hiashi-san, aku sedikit kecewa mendengar keegoisanmu. Jadi, aku harap jangan buat aku kecewa dengan bukti-bukti yang kau dapatkan."

.

.

.


Gaara dan Hinata yang menginap di kediaman Hyuuga hanya terdiam saat memasuki kamar. Hinata yang masih belum bisa setuju dengan pilihan Gaara untuk menemui Inuzuka membuatnya hanya bisa diam dengan memunggungi Gaara yang ikut tak bicara. Keduanya hanya bisa sibuk bermain di dalam pikiran masing-masing. Menentukan kata apa yang cocok untuk memulai pembicaraan sunyi mereka. Hinata yang biasanya mengalah dengan mulai berbicara duluan, tampak mendahului ego-nya untuk tetap mengunci mulutnya. Ia terlihat sulit membuka bibir mungilnya untuk membuka topik yang tabu ini.

"Kenapa kau melarangku?" tanya Gaara membuka kesunyian di kamar tersebut. Hinata yang mendengarnya berbalik dan melihat Gaara yang sedang duduk di pinggir kasur.

"Ka-karena ini bukan masalahmu.." jawab Hinata pelan, takut membuat amarah sang Sabaku memuncak lagi.

"Yah, ini bukan masalahku. Lalu kenapa kau takut akan hal itu?"

"Karena, aku...takut kalau Gaara-kun akan meninggalkanku karena masalah keluargaku yang banyak." suara Hinata bergetar. Ia kembali memutar badannya dan memunggungi Gaara. Ia terlihat tak sanggup menatap wajah Gaara sekarang.

"Aku berjanji akan mencintaimu di saat senang dan susah, miskin atau kaya, sakit maupun sehat, sampai maut memisahkan kita." Ucap Gaara membuat Hinata segera membalikkan tubuhnya menatap Gaara yang melihat matanya lurus. "Aku sudah berjanji seperti itu, bukan? Memang saat aku menikah denganmu, hubungan kita layaknya orang asing. Tapi, aku tidak main-main. Saat itu aku sungguh-sungguh berjanji di hadapan Tuhan dalam hatiku. Kau istriku."

Mendengar perkataan Gaara, wajah Hinata mulai memerah. Ia lalu tersenyum simpul, dan mendekat ke arah Gaara. Ia peluk erat tubuh Gaara yang duduk di pinggir kasur itu dari belakang. "Ung, maafkan aku Gaara-kun. Aku tahu, aku akan mempercayaimu."

"Besok, kita langsung berangkat menemui Naruto terlebih dahulu untuk menanyakan bukti-bukti yang di dapat dari Ayahmu. Setelah mendapat bukti-bukti jelas, baru kita bisa menemui Kiba."

"Y-yah.. anu, Gaara-kun, aku ingin bertanya─Apa kau mengenal Kiba dekat?" tanya Hinata seraya melihat mata Gaara serius.

"...Tidak begitu. Kami memang sering berkumpul bersama sejak sekolah, tapi karena Kiba adalah anak pindahan saat itu, aku tidak terlalu mendekat padanya. Ia lebih dekat dengan Naruto maupun Shikamaru. Mungkin, karena waktu itu mereka teman sekelasnya."

"Benar juga, pantas saja mereka dekat" Hinata yang masih menggelayuti lengan Gaara segera terdiam, Ia terlihat sedikit kaget sembari menatap Gaara. "Anu, aku baru ingat. Aku pernah tak sengaja bertemu Kiba saat di perpustakaan. Disaat itu, aku melihat koran mengenai kasus 17 tahun itu dan tiba-tiba Kiba datang.."

"Benarkah? Bisa saja dia sudah tahu kalau ingatanmu kembali. Apa kau pernah bicara tentang hal itu padanya?"

"T-tidak, aku bahkan tidak pernah mengatakan pada Kiba bahwa aku hilang ingatan."

"Begitu? Baiklah, tidurlah dulu. Besok kita langsung pulang, dan aku akan segera mengecek seluruh hal menyangkut Kiba." Gaara menaiki kasurnya dan menarik lengan Hinata perlahan. Ia lalu menatap mata indigo di hadapannya cemas. "Sebaiknya kau kurangi pikiran-pikiranmu. Aku tidak pernah memperlihatkannya, mungkin- Tapi, aku sangat khawatir dengan keadaan anak ini jika kau dibebani pikiran-pikiran yang berat seperti ini."

Hinata tertawa kecil melihat Gaara yang menatapnya. "Benar juga, kalau begitu─Aku percayakan padamu, anata."


Pagi ini Hinata mulai menyiapkan barang bawaannya dan bergegas menuju ruang makan. Dilihatnya Ayah dan adik semata wayangnya sedang duduk menayntap makanan pagi ini.

"Selamat pagi, Tou-sama, Hanabi."

"Selamat pagi, Nee-chan. Mana Gaara-nii?" tanya Hanabi setelah meneguk segelas susu di tangannya.

"Masih tertidur. Dia memang sedang sibuk-sibuknya." Hinata tersenyum simpul dan ikut duduk di sebelah Hanabi. "Tou-sama, maaf aku baru pulang lagi. Ka-karena perjalanan kesini butuh waktu berjam-jam..Jadi, aku tidak bisa keluar ke tempat yang jauh. Karena aku takut bayiku kenapa-kenapa."

"Yah, aku tahu. Kenapa kau sangat merasa bersalah begitu?" Hiashi yang selesai meminum kopinya menatap Hinata bingung.

"Karena, aku sampai tidak datang Minggu lalu, padahal itu adalah ulangtahun Tou-sama, 'kan?"

"Kalau kau datang, aku malah akan menyalahkan diriku sendiri karena membahayakanmu, jadi jangan berpikir seperti itu. "

"Tou-sama.. anu, a-anu.. Mungkin ini tiba-tiba, a-aku tidak pernah mengatakannya─Tapi, aku sangat sayang padamu. Terimakasih sudah merawatku selama ini." ujar Hinata dengan wajahnya yang memerah. Ia sedikit malu berkata seperti itu pada Ayahnya. Hinata memang tak terlalu dekat dengan sang Ayah karena tegasnya sifat Hiashi. Tapi, kata-kata barusan jujur dari lubuk hati Hinata yang terdalam.

"..Kau sudah dewasa, Hinata. Harusnya kata-kata tersebut kuterima saat kau mau menikah 'kan? Aku seperti akan melepasmu untuk kedua kalinya." Hiashi tersenyum tipis. "Aku bersyukur laki-laki itu yang mengambilmu dari tanganku."

"Tou-sama.." Hinata lalu tersenyum senang melihat wajah Hiashi begitu pula Hanabi yang sedari tadi hanya menonton. Gaara sendiri hanya bisa terdiam di balik pintu mendengarnya. Rasanya Ia masih ingin berada di dalam kamar, membiarkan Hinata memiliki banyak waktu untuk bicara bersama sang Ayah.


.

.

Gaara dan Hinata hampir seminggu tak bertemu, jika bertemu hanya pada malam hari saja. Itupun jika Hinata belum tertidur. Gaara memang sedang sibuk-sibuknya bolak-balik kantor dan ke tempat Naruto. Ia sedang menyelidiki kasus Inuzuka. Bahkan sesekali Gaara harus ke rumah Hiashi untuk mengurus dokumen terkait kematian Ibu Hinata. Semuanya lengkap Gaara kumpulkan, dengan bantuan Naruto yang juga susah payah mencari-cari data di seluruh tempat. Tapi bagaimanapun, hal ini membuat Hinata sedikit sedih. Ia tak tega melihat Gaara harus membagi-bagi waktu antara pekerjaan dan masalah Hinata.

"Gaara-kun, lagi-lagi kau membaca dokumenmu?" seru Hinata pelan saat berada di meja makan. Hari Minggu, Gaara lagi-lagi berkutat dengan laptop dan tumpukan dokumen di atasnya. Mencari segala informasi mengenai Inuzuka sekonkrit-konkritnya.

"Yah, hanya tinggal ini yang harus kuteliti dan aku baru bisa menemui Kiba. Aku harus tahu dulu tentang dia." Gaara menatap dokumen di depannya serius. Kacamata baca yang Ia kenakan segera Ia posisikan kembali. "Aku baru tahu keluarganya Mafia yang disegani dulu. Salah jalan , mungkin aku bisa dibunuh olehnya."

"Jangan bercanda seperti itu. A-aku rasa lebih baik kita hentikan hal ini.."

"Membiarkan seperti itu? Ibumu melindungi dirimu dengan segenap jiwanya. Apa kau tidak mau melakukan hal yang sama? Kau menyuruhku berhenti?" Gaara melepas kacamatanya dan memukul meja makan dengan tangannya kencang. Para pelayan yang awalnya berada di sana segera menjauh ke ruangan lain, tahu bahwa sang tuan sedang di ambang amarah.

"Ke-kenapa Gaara-kun marah?"

"Karena di mataku, kau tampak ingin melarikan diri. "

"Bukan begitu─! Kau tahu yang kita hadapi kan? Seperti katamu, salah langkah kau bisa mati!" Hinata ikut berdiri dari duduknya dan segera menatap Gaara tajam. "Aku juga manusia, Aku punya rasa takut─"

"Kalau begitu, jangan ganggu jalanku. Ini pilihanku, melindungimu. Jangan lagi-lagi mengatakan untuk menghentikkannya."


.

.

.

"Gaara! Untuk apa kau datang ke rumahku?" ujar seorang lelaki berambut coklat riang. Ia memang sudah membuat janji dengan Gaara untuk bertemu sore ini. Gaara sendiri hanya datang dengan mobil tanpa membawa apapun. Ia memang jauh-jauh dari perusahaannya menemui Kiba yang berada di kota sebelah. "Kau datang kemari pasti ada sesuatu, 'kan?"

"Apa maksudmu? Aku kemari untuk memberi salam saja, dan memberi tahu padamu kalau Sasuke─"

"Ah, aku sudah dengar tentang anak itu. Bukankah keterlaluan? Membiarkan sahabatmu sendiri masuk penjara?" Kiba lalu menyeringai kecil. "Apa kau mau melakukan hal yang sama padaku?"

"Jangan bicara yang aneh-aneh. O,ya─Orangtuamu di rumah? Mau pergi keluar?"

"Ah, tidak bisa. Ibuku sedang di luar Kota."

Gaara tersenyum tipis dengan wajah dinginnya. "Hn─ jadi benar-benar masih hidup, ya?" bisik Gaara pelan. "Baiklah, karena kau sudah tahu tentang Sasuke aku akan kembali. Sampai jumpa."

"Hoi, kau sungguh-sungguh hanya seperti ini? Kau kesini jauh-jauh bukan untuk hal yang bahkan bisa di diskusikan lewat telepon ini, 'kan?" tanya Kiba tajam.

"Yah benar juga, aku tak punya urusan apa-apa lagi. Aku kemari karena rasanya tidak pantas membicarakan Sasuke lewat telepon. Itu saja."

"Hmm─" Kiba lalu tersenyum simpul dan menjentikkan jarinya kencang. Beberapa detik kemudian, datanglah para lelaki berjas hitam dari dalam rumahnya. "Hey, Gaara.. bagaimana kalau kita bermain dulu?"

Gaara yang tampaknya tahu tujuan Kiba segera menyeringai dan menatap Kiba tajam. "Bukankah ini sedikit tidak adil? Sepuluh lawan satu. Dan lagi─kalian semua Mafia."

"Seperti yang kukira. Kau menyelidiki diriku ,'kan Gaara? Aku tidak akan membiarkanmu meninggalkan tempat ini ."

"Yah, sebenarnya aku mau menyerang besok, tapi tampaknya kau sudah tidak tahan ya?" Gaara lalu membuka jasnya dan melempar ke arah mobilnya. "Baiklah, akan kutemani kau bermain-main."

.

.

.


"Gaara tidak berada di rumah?" Temari yang menelepon kediaman Hinata segera menatap Kankurou diaebelahnya cemas. "Padahal sudah kubilang dia harusnya menunggu kami sebelum ke tempat itu sendiri. Kami rencananya mau menemani Gaara menemui Kiba besok."

"Bagaimana ini, Temari-nee? Inuzuka itu adalah mafia terkenal. Bisa-bisa Gaara-kun.."

"Hinata, tenanglah!"

"Tapi, dia pergi sendiri, dan jika terjadi sesuatu.. Nyawaku sendiri tak cukup untuk mnggantikannya─!"

"Hinata! Tenanglah! Kau tahu kan? Gaara itu─"

"eh?"

.

.

"Monster."


"Huwaaa!"

BRUGH

Semua sudah lumpuh di hadapan Gaara yang tadi ditarik masuk ke dalam kediaman Inuzuka. Sepuluh orang dihadapannya sudah hilang kesadaran kecuali Kiba yang masih berdiri di hadapan Gaara, sedari tadi Ia memang hanya menonton pertarungan antar Gaara dan pesuruhnya.

"Aku lupa kau ini mesin pembunuh." Kiba tertawa kecil. Gaara sendiri hanya bisa diam, kemeja putihnya kini penuh dengan darah, sama dengan sudut bibirnya yang sudah robek akan pukulan dari beberapa orang tersebut. Tapi Gaara menekankan dirinya untuk tidak membunuh satu orangpun. Hal inilah yang membuatnya sedikit sulit menahan kekuatannya yang gila.

"Kalau lewat kekuatan, aku sudah pasti bisa mati ditanganmu." Kiba tersenyum lebar dan menarik pistol dari balik celananya. "Biar adil, aku akan menggunakan ini."

"Kau mau membunuhku?"

"Memang begitu rencanaku. Kau kesini karena akhirnya sudah sadar kan? Kalau keluargaku yang membunuh Ibu Hinata."

"Kau pintar disaat yang tepat, Inu." ujar Gaara dengan nada terkesan mengejek. Mendengar hal tersebut, Kiba segera memasukkan peluru ke dalam pistolnya dan menatap Gaara tajam.

"Sayang sekali, meski kami membunuh Ibu Hinata, tapi dia juga membunuh Ibuku! Kalian tidak bisa melaporkannya, karena kalian juga berada di posisi yang salah! Hyuuga membunuh Ayahku!"

"Mati? Ibumu?" Gaara lalu tertawa kecil, ya tertawa dengan segenap aura setannya yang mengelilingi tubuhnya. "Memang kalian Mafia pinggiran."

Mendengar kalimat Gaara, Kiba segera menekan pelacu pistol dan mengarahkannya ke Gaara yang hanya diam di tempat. Entah karena gemetar atau beruntung, tembakannya meleset. Peluru tersebut melesat ke arah tembok meski mengenai sedikit lengan Gaara yang langsung mengeluarkan darah. Darah segar dari lengan Gaara mengucur tanpa di pedulikkan oleh sang pemilik tangan sendiri.

"Kenapa kau tidak melawan?!" Seru Kiba kencang. "Kalian semua! Keluarlah, habisi dia!"

Tepat dengan seruan Kiba yang menggema di rumah besar dengan model tradisional tersebut, keluarlah beberapa lelaki bertubuh besar menghampiri Kiba. Mereka segera melindungi Kiba dan menjadikkan diri mereka sebagai tameng sang tuan muda dari Inuzuka tersebut.

"Aku sebenarnya tidak mau main kasar, aku kemari hanya untuk memberitahukanmu hal yang menarik." Gaara mengeluarkan sebuah amplop dari saku celananya. "Aku mencari tahu tentang kasus Inuzuka, penembakkan Ayahmu dulu."

"Apa maksudmu?!" Kiba yang masih mengarahkan mulut pistol ke arah Gaara, melebarkan matanya mendengar apa yang Gaara sebut barusan.

"Ayahmu mati bukan di tangan Hyuuga. Dia mati di tangan salah satu penembak kepolisian yang akhirnya bunuh diri karena takut akan pembalasan dari Inuzuka." Gaara lalu membuka amplop tersebut dan menunjukkan sebuah surat resmi dari Kepolisian mengenai penembakkan yang ditutup-tutupi saat itu. "Lalu, tabrak lari sang Hyuuga yang mati 17 tahun lalu itu─Ibu Hinata─ Semua direncanakan oleh Inuzuka. Ibumu masih hidup, 'kan?"

"A-apa yang kau katakan?! Hyuuga yang membunuh Ayahku!" Kiba yang hendak berlari ke arah Gaara segera di tahan oleh penjaganya yang masih mengutamakan keselamatan Kiba. "Ibuku sudah─"

"Sudah mati? Kalau begitu bagaimana dengan bukti-bukti ini? Apa yang kulihat ini hantu atau mayat berjalan?" Gaara melempar sebuah foto-foto yang terpampang foto-foto keseharian Ibunya seminggu ini. "Hyuuga tidak bersalah apapun. Kau, Inuzuka─ yang membunuh Ibu Hinata tanpa ada alasan yang sebenarnya."

Kiba yang melihat foto-foto bertebaran di atas tataminya segera terdiam. Ia lalu tertawa tanpa suara, dengan seketika Kiba segera tertawa kencang. "Ahahahaha! Aduh, kau bisa mendapat informasi sekuat ini─Nyalimu besar juga."

Gaara hanya diam dengan wajah datarnya. Gaara sendiri hanya bisa merasa sedikit lega menemukan siapa pelaku pembunuhan Ibu Hinata.

"Bajingan─! Bunuh dia! Simpan mayatnya di sini!" Kiba berteriak kencang seraya menatap para penjaganya yang segera bergegas mengepung Gaara. Gaara lihat ada hampir 20-an yang berada di hadapannya. Dia tidak bisa bertindak ceroboh kali ini, terutama dengan tangan kirinya yang mati rasa karena tembakan tadi. Merasa waktunya pas, Gaara segera meninju orang di hadapannya kencang dan berlari menuju pekarangan rumah tersebut. Bersamaan dengan Gaara, para lelaki disertai Kiba ikut mengejarnya dan memojokkan Gaara yang terlihat semakin liar.

"Dengan begini, sayonara─"

DOR! DOR!

Suara tembakan itu terdengar jelas, memilukan telinga. Kiba yang belum sempat menarik pelacu pistol segera mengangkat kepalanya dan melihat seorang lelaki berada di atas tembok pekarangannya. Ia lalu melompat memasuki pekarangan tersebut dan berdiri tepat di depan Gaara.

"Untung saja aku keburu memanjat tembok tinggi sialan itu, Gaara!"

"Naruto─" Gaara yang melihat sahabat dekatnya itu tersenyum di depannya hanya bisa terdiam.

"Kau! Habisi mereka! Mereka hanya berdua!" Teriak Kiba kencang.

"Inspektor, mereka ada di dalam pekarangan!" Seru Naruto cepat melalui Interphone yang terpasang di telinganya. Dengan hanya kalimat tersebut, suara sirine mobil kepolisian segera berbunyi dengan nyaring hingga terdengar ke pekarangan. "Jangan lupa kalau aku ini Detektif Kepolisian, Kiba!"

"Sialan, Naruto─!" Kiba lalu kembali mengacungkan pistolnya dan segera menembakkannya ke arah Naruto. Tanpa pikir-pikir, Naruto langsung menarik Gaara dan melompat ke sampingnya meghindari peluru yang melesat cepat. Meleset, Kiba segera menatap bawahannya kesal. "Kalian, gunakan pistol kalian!"

Naruto sendiri segera mengeluarkan pistol FN-57 yang sedari tadi di kantungnya. Dengan pistol di kedua tangannya, Naruto segera maju membiarkan Gaara tetap berada di posisinya. Naruto lalu menghadap Gaara dan tersenyum. "Gaara─! Mereka mafia, kau tidak mau meminjam salah satu pistol ini?"

"Tidak, terimakasih." Gaara menatap ke arah pintu pekarangan yang mulai dimasuki para polisi. "Sudah cukup aku bermasalah dengan kawananmu itu."

Mendengar jawaban Gaara, Naruto hanya tertawa dan segera meninggalkan Gaara melawan para Mafia di hadapannya.

.

.


Temari, Shikamaru, dan Hinata yang berada di dalam perjalanan menuju ke tempat Kiba hanya bisa berharap Gaara akan baik-baik saja. Memang tampaknya Temari dan Shikamaru sendiri tak di beritahu oleh Gaara bahwa Naruto menjadi penjaganya. Hinata sendiri hanya bisa terdiam dengan doa yang selalu terucap dalam hatinya.

"Hinata, cepat turun!" Temari yang ikut turun dari mobil segera menatap ke arah kerumunan mobil-mobil polisi. "Ada apa itu?"

"Mungkin, Naruto sudah bertindak." jelas Shikamaru yang juga turun dari mobilnya.

"Jadi, Gaara-kun akan baik-baik saja?" tanya Hinata sedikit lega seraya menutup pintu mobil.

"Berdoa saja."

Hinata diikuti Shikamaru dan Temari segera berlari kecil menuju ke arah kerumunan tersebut. Para mafia yang berada di tangan polisi, satu demi satu memasuki mobil polisi yang besar dengan borgolan di tangannya.

"Gaara-kun!" seru Hinata saat melihat Gaara yang keluar dari kediaman Inuzuka. Dengan segera Hinata berlari cepat ke arah Gaara yang juga kaget dengan apa yang dilihatnya.

"Sedang apa kau disini?!"

"Jangan pedulikan hal itu! Lenganmu─ Ga-gaara-kun?" Hinata menatap Gaara lekat. Pandangannya terlihat histeris dengan apa yang ada di depan matanya. Mulai gemetar, buru-buru Gaara menarik wajah Hinata dengan kedua tangannya.

"Bukan salahmu─! Jangan berpikir yang aneh-aneh."

"Ta-tapi.."

"Tenang saja, Hinata! Dia hanya sedikit ceroboh, kau tahu sifat tak sabarannya, 'kan?" Naruto yang datang dari belakang tersenyum simpul ke arah Hinata. "Baiklah, semua sudah di masukkan, 'kan?"

"Sudah, Pak Kepala─!" seru anak buah Naruto. Naruto lalu melihat Kiba yang baru keluar dengan tangan yang masih di tahan oleh Inspektornya.

"Maaf, Kiba─"

"Jangan pernah bicara denganku lagi─" Kiba menundukkan wajahnya dalam. Ia lalu melihat Hinata dan membuka matanya lebar. "Kau! Gara-gara kau─!"

Kiba lalu segera memberontak dari genggaman Inspektor dan berhasil melepaskan diri. Dengan segera Ia mengambil pistol yang berada di genggaman sang polisi dan menembakkannya ke arah Hinata.

DOR!

.

.

.

BRUGH!

Dengan sigap tubuh Kiba segera dijatuhkan oleh Naruto dan dua polisi lainnya. Buru-buru borgol di pasang di kedua tangannya dan menahan tubuhnya yang masih memberontak. Lain halnya dengan para polisi yang sibuk menahan Kiba, Temari dan Shikamaru hanya bisa memandang keadaan di hadapannya tak percaya.

"...Hinata─" Temari menatap Hinata di hadapannya.

Hinata sendiri hanya bisa terdiam, membeku di tempatnya melihat Gaara yang membelakanginya. Gaara melindunginya, dari tembakkan Kiba. Gaara yang masih diam berdiri, tak kunjung membalikkan badannya.

"G-Gaara-kun─!" seru Hinata seraya memeluk tubuh Gaara dari belakang. "Lagi-lagi...Lagi-lagi semua ini karena─"

"Cerewet." bisik Gaara pelan. Ia lalu membalikkan tubuhnya, tak keluar sedikitpun darah dari tubuhnya. Padahal Hinata ingat bahwa peluru tadi tepat berada di dada Gaara.

"K-kenapa?"

Gaara lalu segera membuka kemeja putihnya. Menampakkan pakaian yang dikenakan di baliknya. Sebuah baju anti peluru yang sudah terpampang di dada bidangnya. "Kau kira ada berapa orang yang mau membunuhku? Selain Kiba, banyak yang ingin membunuhku. Karena itu, aku selalu memakainya saat keluar."

Hinata menatap Gaara tak percaya. Ia hanya bisa menghela nafasnya panjang dan memukul dada Gaara kencang. Tangisannya tampak tertahan bersama emosinya. "─Jangan lakukan hal bodoh! Jantungku hampir─"

Gaara tersenyum tipis dan segera menatap Hinata serius. "Hinata, sudah berakhir. Dengan ini, nama Hyuuga bisa bersih kembali."

Mendengar perkataan Gaara, air mata Hinata segera pecah. Ia lalu memeluk tubuh Gaara erat. "Terimakasih─Terimakasih, Gaara-kun!"

"Hn, lalu.. Naruto─Terimakasih.." Gaaara menatap Naruto sembari tersenyum. Ia benar-benar berterimakasih atas pertolongan Naruto yang terlalu besar.

"Kapanpun, Gaara!" balas Naruto dengan senyum khas-nya.

.

.

Kiba dan Ibu-nya akhirnya ditangkap dan Inuzuka dibubarkan. Akhirnya, kejadian Hyuuga dan Inuzuka dibeberkan secara terbuka tanpa ada lagi yang ditutupi. Berkat pemberitaan tersebut, nama Hyuuga tidak lagi tercoreng. Hiashi juga akhirnya bisa dengan tenang mengetahui kebenaran yang terungkap. Ia benar-benar berterimakasih pada Gaara serta semua yang turut membantu dalam kasus tersebut.

Berbeda dengan kasus Hyuuga, Gaara tak mau mencari tahu lebih dalam mengenai keluarganya. Ia lebih memilih bisu. Beruntung Hinata berada di sisinya, lambat-laun ketegangan antara Gaara dan Ayahnya mulai mencair.

.

.

.


"Apa Gaara-kun yakin tidak mau menemui Ayahnya, tahun baru ini? Ini sudah 2 tahun berturut-turut semenjak kita menikah, dia tidak mau mendatangi Ayahnya."

"Entahlah, dia kan keras kepala. Bagaimana kalau kau paksa dia? Lagipula tahun ini kan berbeda dari biasanya." Temari yang kebetulan lewat di depan rumah Hinata menyeringai jahil.

"B-benar juga─" jawab Hinata malu-malu.

"Baiklah, aku pergi dulu. Kalau ada yang kau butuhkan telepon aku, ya!" Temari lalu segera kembali berjalan. Hinata yang melihatnya langsung membungkukkan tubuhnya sopan dan kembali memasuki rumahnya. Ia lalu melihat kamar di lantai satu sudah berantakkan padahal baru 1 jam lalu Hinata membereskannya.

"Hah─lagi-lagi.." keluh Hinata pelan.

"Nyonya, biar saya yang membereskan." ucap salah satu pelayan di sebelah Hinata.

"Tidak perlu. Bagaimana kalau kau menyiapkan makan malam sekarang, dan aku yang membereskan ini? Gaara-kun tampaknya pulang lebih cepat." tanya Hinata dengan senyum manisnya. Sang pelayan langsung setuju dan bergegas ke ruang makan.

Hinata yang ditinggalkan sendiri lalu segera menarik nafasnya dalam. "Kaze-kun! Rapihkan mainanmu─"

Yang dipanggil hanya tetap diam dan asik bermain dengan mainan di tangannya tanpa peduli Hinata yang sibuk mulai membereskan mainan miliknya. Belum sempat Hinata beres, tiba-tiba terdengar suara dari luar kamar.

"Tadaima, Hinata─"

"Ah! Gaara-kun sudah pu─" belum sempat Hinata menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba kata-katanya terpotong karena anak kecil lelaki berusia 2 Tahun itu langsung berlari kencang keluar kamar. "Kaze-kun! Pelan-pelan─!"

Gaara yang baru saja melangkahkan kakinya hanya bisa tersenyum senang melihat siapa yang menyambutnya. Sudah beberapa bulan ini, bukan Hinata yang pertama menyambutnya, tapi anak di hadapannya kini. Tak tahan dengan wajah yang menyambutnya, buru-buru Gaara mendekat dan membungkukkan tubuhnya, berjongkok di hadapan lelaki mungil ini.

"Lagi-lagi aku keduluan.." Hinata yang keluar dari kamar tersenyum pasrah dan segera berdiri di sebelah Gaara yang mengangkat anak tersebut di lengannya.

"Hn─ Kau bisa puas bersamaku saat malam hari, Nyonya Sabaku." ujar Gaara membuat wajah Hinata langsung merah padam. Kembali ke dekapannya, Gaara segera menatap mata indigo di depannya dan tersenyum.

"Kaze, Tadaima─"

"Okaeri─Papa!"

.

.

.


ENDING


Terimakasih banyak kepada seluruh readers yang sudah mau meluangkan waktunya untuk membaca Fic ini! Time-skipnya banyak, gomen. heheu

Dan, yeah, this is the end! Niatnya sih mau ada chapter 12, buat Extra aja. Kira-kira kalian mau apa yang kumasukkin di Extra chapter?

Lalu, i know this is really short! Tapi memang gabisa dibuat panjang-panjang karena akan jadi bertele-tele, dan memutar-mutar. Jadi, maaf kalau ga sesuai keinginan kalian/nangis/

So, aku benar-benar senang banget karena ini Fic pertama aku /kyaah/dilempar/

Jadi, untuk seterusnya, aku tetap minta bantuan kalian semua~ Yoroshiku ne~

Semoga di Fic berikutnya, Author kura-kura lamban ini bisa lebih cepat dan ga ada typo lagi /gamungkin/

Terimakasih banyak semua! Terimakasih review kalian! Review kalianlah yang membuat Fic ini bisa selesai/ serius/ XD

Fic selanjutnya tetap Chara Hinata dengan Pair berbeda ;'D Silahkan dibaca jika mau, akan kupublish hari ini juga ^^

Sampai ketemu di Story berikutnya, ya! :D

~Ageha Shiroi~