Love Letter

.

.

.

Remake dari Lisa Kleypas 'Love in the afternoon', novel berseri tentang perjalanan cinta anak-anak Hathaway

_Semua hanya pinjaman, nama tokoh dan cerita. Latar belakang victoria era.

.

.

Huntao gs...gk suka gk usah baca! Thanks, lets read!

.

.

Chapter 11

.

.

.

Zitao kabur ke satu tempat yang ia tahu tidak akan bisa ditemukan Sehun.

Ironi kejadian ini sangat disadarinya, ia bersembunyi dari Sehun ditempat yang paling ingin ia bagi bersama pria itu. Ia juga sangat menyadari tidak bisa bersembunyi dari pria itu selamanya. Akan ada hukuman.

Namun melihat wajah Sehun saat menyadari ialah yang menipu pria itu, Zitao ingin menunda hukuman itu selama mungkin.

Ia berkuda dengan kecepatan tinggi menuju rumah rahasia di estat Tuan Kwon, menambatkan kuda , dan naik ke kamar menara. Kamar itu dilengkapi perabotan seadanya dengan sepasang kursi usang, sofa kuno bersandaran rendah, meja reyot, dan rangka tempat tidur yang disandarkan disalah satu dinding. Zitao menjaga kamar itu disapu bersih dan dilap, dan menghias dindingnya dengan sketsa tanpa bingkai bergambar lanskap dan hewan.

Sebuah cawan berisi batang lilin yang sudah terbakar diletakkan dijendela. Setelah membiarkan udara segar masuk ke kamar, Zitao mondar-mandir, bergumam kacau pada diri sendiri.

"Dia mungkin akan membunuhku. Bagus, itu lebih baik daripada dia membenciku. Cekikan cepat, dan ini selesai. Andai aku bisa mencekik diriku sendiri dan membebaskan dia dari kesulitan itu. Mungkin sebaiknya aku melemparkan diri ke luar jendela. Andai saja aku tidak pernah menulis surat-surat itu. Oh, bagaimana jika dia pergi kerumahku dan menungguku disana? Bagaimana jika—"

Ia berhenti mendadak mendengar suara dari luar. Salak anjing. Mendekati jendela dengan hati-hati, ia melihat kebawah, dan tampak sosok Janggu yang riang berjalan mengitari bangunan. Juga Sehun, menambatkan kuda didekat kudanya.

Pria itu menemukannya.

"Ya Tuhan," bisik Zitao, pucat pasi. Ia berbalik dan merapatkan punggung ke dinding, merasa seperti narapidana menghadapi eksekusi. Ini salah satu momen terburuk dari seluruh hidupnya...dan menimbang beberapa kesulitan yang menimpa keluarganya Huang, pernyataan itu bukan main-main.

Dalam beberapa saat saja, Janggu masuk kamar dan menghampirinya.

"Kau memandunya ke sini, ya kan?" tuduh Zitao berbisik marah. "Pengkhianat!"

Tampak bersalah, Janggu pergi ke kursi, melompat naik, dan mengistirahatkan dagu ditapak depan. Telinga anjing itu berkedut mendengar suara langkah penuh perhitungan ditangga.

Sehun memasuki ruangan itu, harus menunduk agar bisa melewati ambang pintu abad pertengahan yang kecil. Menegakkan tubuh, pria itu mengamati sekelilingnya sejenak sebelum tatapan menusuknya menemukan Zitao. Pria itu menatapnya dengan kemurkaan nyaris tak tertahankan.

Zitao berharap dirinya jenis wanita yang mudah pingsan. Sepertinya itu satu-satunya respons yang tepat untuk situasi ini.

Sayangnya, betapapun ia berusaha pingsan, pikirannya kukuh tetap sadar.

"Aku sungguh minta maaf," suara Zitao serak.

Pria itu mendekatinya perlahan, seolah-olah mengira ia akan mencoba kabur lagi. Meraihnya, Sehun memegang lengan atas Zitao dengan cengkraman kuat yang tak memberi kesempatan lolos sedikitpun. "Katakan kenapa kau melakukannya," kata Pria itu, suaranya rendah dan bergetar oleh...kebencian? kemarahan? "Tidak, keparat kau, jangan menangis. Apa itu permainan? Apa itu hanya untuk membantu Seulgi?"

Zitao memalingkan wajah dengan isak mengoyak.

"Bukan, itu bukan permainan...Seulgi menunjukkan suratmu padaku, dan mengatakan tidak akan membalasnya. Aku harus membalasnya. Aku merasa seolah-olah surat itu ditulis untukku. Semestinya hanya untuk satu kali. Tapi kemudian kau membalasnya, dan aku biarkan diriku membalasnya satu kali lagi saja...lalu satu kali lagi, dan lagi..."

"Berapa banyak kebenaran dalam surat itu?"

"Semuanya," sembur Zitao. "Kecuali menuliskan nama Seulgi. Sisanya nyata. Jika kau tidak percaya yang lain, tolong percayai itu."

Sehun diam lama. Napas pria itu mulai berat. "Kenapa kau berhenti?"

Zitao merasakan betapa sulit bagi Sehun untuk bertanya. Tapi demi Tuhan, jauh lebih buruk harus menjawabnya.

"Karena terlalu menyakitkan. Kata-kata itu terlalu berarti." Ia memaksa diri melanjutkan, meskipun menangis. "Aku jatuh cinta padamu, dan tahu tidak akan pernah bisa memilikimu. Aku tidak bisa lebih lama lagi berpura-pura menjadi Seulgi. Aku waktu itu begitu mencintaimu, dan tak sanggup—"

Kalimatnya berhenti tiba-tiba.

Sehun menciumnya, Zitao terkesima. Apa artinya ini? Apa yang diinginkan pria itu? Apa...tapi pikirannya larut, dan ia berhenti berusaha mencari penjelasan apapun.

Lengan pria itu telah melingkari tubuhnya, sebelah tangan memegang tengkuknya. Terguncang hingga ke jiwa, ia merapat ke pria itu. Melahap isak Zitao, Sehun menjilat dalam, ciumannya kuat dan ganas. Ini pasti mimpi, akan tetapi indra Zitao berkeras ini nyata, aroma, kehangatan, dan kekuatan pria itu melingkupinya. Sehun menariknya lebih erat lagi, membuatnya sulit bernapas. Ia tidak peduli. Kenikmatan ciuman mengalirinya, membiusnya, dan saat pria itu menarik kepala ke belakang, Zitao protes dengan erangan bingung.

Sehun memaksa Zitao membalas tatapannya. "Mencintai?" tanya pria itu serak. "Waktu itu?"

"Sekarangpun begitu," Zitao berhasil menjawab.

"Kau menyuruhku mencarimu."

"Aku tidak bermaksud mengirim pesan itu padamu."

"Tapi kau melakukannya. Kau menginginkanku."

"Ya." Lebih banyak lagi air mata jatuh dari matanya yang perih. Sehun membungkuk dan menekankan mulut dimata Zitao, merasakan garam kesedihan.

Mata pria itu menatap matanya, tak lagi terang seperti salju neraka tapi lembut seperti asap. "Aku mencintai, Zi."

Mungkin ternyata ia memang bisa pingsan.

Rasanya jelas seperti pingsan, lututnya lemas, dan kepalanya bersandar lunglai dipundak Sehun saat pria itu merendahkan mereka berdua ke karpet usang. Menempatkan lengan dibawah leher Zitao, Sehun menutup lagi mulut gadis itu dengan mulutnya. Zitao menyambut tanpa daya, tak kuasa menahan apapun.

"Ku-kukira kau akan membenciku..." suara tercengang Zitao seolah datang dari jauh.

"Tidak pernah. Kau bisa lari ke sudut bumi yang paling jauh. Tak ada tempat yang bisa kau datangi yang bisa membuatku berhenti mencintaimu. Tak ada yang bisa kaulakukan untuk menghentikanku."

Zitao gemetar merasakan apa yang dilakukan Sehun, tangan pria itu membuka bajunya, menyelinap masuk. Dadanya terasa panas, ujungnya mengencang saat pria itu menyentuhnya. "Kukira kau akan membunuhku," ujarnya sulit.

Semburat senyum tampak dibibir Sehun.

"Tidak. Bukan itu yang ingin kulakukan." Ia mendekatkan mulut ke mulut Zitao, mencium gadis itu dengan hasrat kasar dan lapar. Melonggarkan celana panjang Zitao, Sehun mendapati permukaan kencang perut gadis itu. Tangannya meliuk lebih jauh ke dalam pakaian, melekuk melingkari pinggang. Jari Sehun menjelajah dengan rasa ingin tahu yang lembut tapi kukuh yang membuat Zitao menggeliat, meremang.

"Sehun," ucap Zitao terbata, berkutat dengan bagian muka celana panjang pria itu, tapi Sehun menangkap pergelangan tangannya dan menariknya.

"Sudah terlalu lama. Aku tidak yakin bisa mengendalikan diri jika bersamamu."

Menekan wajahnya yang membara di leher pria itu, ditempat kemeja Sehun terbuka, Zitao merasakan gerakan pria itu menelan ludah dibibirnya yang terkuak. "Aku ingin jadi milikmu."

"Celakanya kau memang milikku."

"Kalau begitu cintai aku." Penuh gairah, diciumnya leher pria itu. "Cintai aku—"

"Sst," bisik Sehun. "Seperti ini saja aku sudah tidak terlalu bisa mengendalikan diri. Aku tidak bisa bercinta denganmu disini. Tidak akan pantas bagimu." Diciumnya rambut Zitao yang kusut, sementara tangannya mengelus pinggul gadis itu dengan belaian gemetar. "Bicaralah padaku. Apa kau sungguh-sungguh akan membiarkanku menikahi Seulgi?"

"Jika kau tampak bahagia bersamanya. Jika dialah yang kau inginkan."

"Aku menginginkan kau." Sehun menciumnya, mulut pria itu kuat dan menghukum. "Rasanya hampir membuatku gila, mencari hal-hal yang kucintai dalam dirinya dan tidak menemukannya. Lalu mulai melihat semua hal itu ada dalam dirimu."

"Awalnya kenapa kau menulis surat untuk Seulgi?"

"Aku kesepian. Aku tidak terlalu mengenalnya. Tapi aku membutuhkan...seseorang. saat menerima balasan, tentang keledai milik Tuan Shin, aroma setiap bulan, juga sisa isi surat selanjutnya ...aku langsung jatuh cinta. Kupikir itu sisi lain dari Seulgi yang belum ku lihat. Tidak pernah terlintas dalam pikiranku surat-surat itu sepenuhnya ditulis oleh orang lain." Pria itu menatap Zitao muram.

Zitao membalas dengan tatapan menyesal. "Aku tahu kau tidak akan menginginkan surat dariku. Aku tahu aku bukan jenis wanita yang kau inginkan."

Menggulingkan Zitao hingga berbaring miring, Sehun merapatkan gadis itu ke tubuhnya yang bergairah. "Apa ini terasa seperti aku tidak menginginkanmu?"

Tekanan keras dan panas berkobar dari tubuh pria itu memukau indranya...rasanya seperti mabuk...seperti meneguk cahaya bintang. Memejam, Zitao menyandarkan wajah ke pundak Sehun. "Kau menganggap aku aneh," katanya dengan suara teredam.

Mulut pria itu mengusap tepi telinga Zitao dan berhenti dileher. Zitao merasakan Sehun tersenyum. "Cintaku, sayang...kau memang begitu."

Respon berupa senyum lebar melengkungkan bibir Zitao. Ia bergidik saat Sehun bergerak naik ke atasnya, mendorong punggungnya, menggunakan tungkai atas untuk merenggangkan tungkainya. Pria itu melahap bibirnya dengan ciuman tanpa akhir, dalam dan tak sabar, mengubah darah Zitao menjadi api. Sehun mulai membelainya dengan tangan kuat yang kulitnya menebal, tangan serdadu. Celana panjang Zitao ditarik dari pinggulnya.

Keduanya terkesiap, napas tersendat, saat telapak tangan Sehun menangkupnya intim. Pria itu mengelus kehangatan yang lembab, memisahkan dan merenggangkannya, mengelus gerbang tubuhnya.

Zitao berbaring diam dan tak menolak, detak jantung liar menggema disemua tempat. Sehun menyentuhnya, jari pria itu menekan lembut melewati penghalang yang lugu. Merendahkan kepala, pria itu menekan mulut ke lekuk lembut dada Zitao. Erangan lolos dari mulut gadis itu saat merasakan bibir Sehun mengapit puncak dadanya. Pria itu mulai menyesap, lidahnya meletik diantara setiap tarikan berirama. Jari pria itu bergerak lebih dalam, pangkal tangannya menggoda ditempat yang peka tak terkira.

Zitao merintih, tak melihat apapun. Ketegangan tanpa daya melipat diri sendiri, lalu lagi, mengumpul rendah dan kencang. Rengek lolos dari mulutnya saat gelombang kenikmatan yang tak terbayangkan menangkapnya, dan pria itu memandunya masuk lebih jauh. Zitao berhasil bicara melalui bibir yang kering, suaranya terkesima dan gemetar. "Sehun—aku tak bisa—"

"Biarkan terjadi," bisik pria itu dikulit Zitao yang merona. "Biarkan datang."

Sehun mengelusnya dengan irama sensual licik, mendorongnya lebih tinggi. Otot Zitao ,merespons deru sensasi yang mengkhawatirkan, kemungkinan tubuhnya mulai menarik semua ke dalam, pembuluh darahnya melebar, panas mendesak. Menggapai kepala Sehun, Zitao menenggelamkan tangan dirambut pria itu dan menggiring mulut pria itu ke mulutnya. Sehun patuh seketika, mereguk erang dan kesiap gadis itu, tangannya yang menggoda menentramkan kejut yang mengoyak.

Kenikmatan itu memudar dalam gelombang surut yang lamban, meninggalkan Zitao dalam keadaan lunglai dan gemetar. Ia bergerak sedikit dan membuka mata, mendapati diri berada dilantai, setengah telanjang, berada dalam buaian lengan pria yang ia cintai. Ini momen yang ganjil, nikmat dan rapuh. Kepalanya menoleh di lekuk lengan Sehun. Dilihatnya Janggu, yang tertidur di kursi, sepenuhnya tidak tertarik dengan tingkah aneh mereka.

Sehun membelainya perlahan, buku jarinya bergerak mengikuti lembah diantara dadanya.

Zitao mendongak memandang pria itu. Terpukau dengan wajah Sehun yang kuat maskulin dan berkilau karena keringat. Zitao merasakan kejutan panas lembut napas pria itu saat Sehun membungkam mencium bagian dalam pergelangan tangannya. Pria itu membiarkan ujung lidahnya berhenti diatas denyut lirih nadi. Keintiman bersama pria itu begitu baru, akan tetapi pentingnya terasa sama seperti detak jantungnya sendiri.

Zitao selamanya tak ingin berada diluar pelukan pria itu lagi. Ia ingin selalu bersamanya.

"Kapan kita menikah?" tanya Zitao, suara berat, malas.

Sehun mengusapkan bibir di pipi Zitao. Pria itu memeluknya sedikit lebih erat.

Lalu diam.

Zitao berkedip terkejut. Keraguan pria itu memengaruhinya seperti cipratan air dingin. "Kita akan menikah, ya kan?"

Sehun memandang wajah Zitao yang merona. "Itu pertanyaan yang sulit."

"Sama sekali tidak. Itu pertanyaan ya-atau-tidak yang sederhana!"

"Aku tidak bisa menikahimu," ujar pria itu lirih. "Sampai yakin itu akan baik untukmu."

"Kenapa bisa ada keraguan seperti itu?"

"Kau tahu kenapa."

"Aku tidak tahu!"

Mulut Sehun menekuk. "Kalap tiba-tiba, mimpi buruk, bayangan aneh, minum berlebihan...apa itu terdengar seperti pria yang cocok untuk menikah?"

"Tadinya kau akan menikahi Seulgi," kata Zitao tersinggung.

"Tidak. Aku tidak akan melakukan ini pada wanita manapun. Apalagi pada wanita yang ku cintai lebih dari hidupku sendiri."

Zitao berguling menjauh dan duduk, menarik pakaiannya yang tadi dilonggarkan menyelimuti tubuh. "Berapa lama kau ingin kita menunggu? Jelas kau tidak sempurna, tapi—"

"'Tidak sempurna' adalah punya titik botak atau bekas cacar. Masalahku sedikit lebih signifikan daripada itu."

Zitao menjawab dengan rentetan kata-kata gelisah. "Aku datang dari keluarga orang-orang tak sempurna yang menikahi orang tak sempurna lainnya. Semua orang dikeluarga kami mengambil resiko dalam cinta."

"Aku terlalu mencintaimu untuk mempertaruhkan keselamatanmu."

"Cintai aku lebih banyak lagi, kalau begitu," pinta Zitao. "Cukup untuk menikahiku apapun halangannya."

Sehun mengernyit. "Menurutmu apa itu mudah untukku, tanpa memedulikan konsekuensinya? Aku ingin kau bersamaku setiap saat. Aku ingin memelukmu setiap malam. Aku sangat ingin bercinta denganmu hingga bahkan tidak bisa bernapas. Tapi aku tidak akan membiarkan bahaya apapun menimpamu, terutama dari tanganku."

"Kau tidak akan menyakitiku. Instingmu tidak akan mengizinkan kau begitu."

"Instingku insting orang gila."

Zitao memeluk lututnya yang ditekuk. "Kau bersedia menerima masalahku," ujarnya sedih. "Tapi tidak mengizinkan aku menerima masalahmu." Ia mengubur wajah dilengan. "kau tidak memercayaiku."

"Kau tahu bukan itu masalahnya. Aku tidak memercayai diriku sendiri."

Dalam kondisinya yang rapuh, sulit untuk tidak menangis. Situasinya begitu tidak adil. Membuat gila.

"Zitao." Sehun berlutut disampingnya, merengkuhnya. Zitao menegang. "Biar kupeluk dirimu," ujar pria itu di dekat telinganya.

"Kalau kita tidak menikah, kapan aku bisa bertemu denganmu?" tanya Zitao merana. "Saat kunjungan disertai pendamping? Saat jalan-jalan naik kereta kuda? Curi-curi kesempatan"

Sehun mengelus rambutnya dan menatap matanya yang berkaca-kaca. "Itu sudah lebih dari yang kita punyai sampai sekarang."

"Itu tidak cukup." Zitao melingkarkan lengan ditubuh Sehun. "Aku tidak takut padamu." Mencengkeram bagian punggung kemeja pria itu, ia mengguncangnya sedikit untuk menekankan. "Aku menginginkanmu, dan kau bilang kau menginginkanku, dan satu-satunya yang menghalangi kita adalah kau. Jangan katakan padaku kau selamat dari semua pertempuran itu, menderita menjalani begitu banyak hal, dan pulang hanya demi ini—"

Sehun meletakkan jari dimulut Zitao. "Diam. Biarakan aku berpikir."

"Apa lagi yang bisa dipi—"

"Zitao," ujar pria itu memperingatkan.

Zitao terdiam, tatapannya terkunci pada wajah Sehun yang tegas.

Sehun mengernyit, menimbang beragam kemungkinan, memperdebatkan masalah itu, tampak seolah tidak mendapat kesimpulan yang memuaskan.

Dalam keheningan itu, Zitao menyandarkan kepala dipundak Sehun. Tubuh pria itu hangat dan menenangkan, otot yang lentur dengan mudah menerima beratnya. Ia menyuruk menekan diri lebih dekat, hingga merasakan kekokohan memuaskan dada pria itu didadanya. Dan ia merapatkan posisi saat merasakan tekanan mantap tubuh pria itu dibawah. Tubuhnya haus untuk merengkuhnya. Diam-diam diusapkannya bibir dikulit leher pria itu yang beraroma garam.

Sehun menahan pinggul Zitao. Rasa terhibur membayang disuara pria itu. "Berhenti menggeliat. Mustahil seorang pria bisa berpikir jika kau melakukan itu."

"Apa kau belum selesai berpikir."

"Belum." Tapi ia merasakan Sehun tersenyum saat mencium keningnya. "Jika kau dan aku menikah," akhirnya pria itu berkata, "Aku akan ditempatkan pada posisi harus melindungi istriku dari diriku. Kesejahteraan dan kebahagianmu adalah segalanya bagiku."

Jika...jantung Zitao serasa melompat naik ke leher. Ia mulai bicara, tapi Sehun menyinggung lembut bawah dagunya dengan buku jari, lembut menutup mulutnya. "Dan apapun gagasan menakjubkan yang mungkin dimiliki keluargamu mengenai hubungan dalam pernikahan," lanjutnya, "Aku memiliki pandangan tradisional. Suami adalah kepala rumah tangga."

"Oh, pastinya." Kata Zitao, sedikit terlalu cepat. "Itu juga yang dipercayai keluargaku."

Mata pria itu menyipit skeptis.

Mungkin itu terlalu berlebihan. Berharap bisa mengalihkan perhatian pria itu, Zitao menyurukkan pipi ke tangan Sehun. "Bolehkah aku tetap memelihara hewan-hewanku?"

"Tentu saja." Suara pria itu melunak. "Aku tidak akan pernah melarang hal yang begitu penting bagimu. Meskipun tidak bisa tidak bertanya...apakah landaknya bisa dinegosiasikan?"

"medusa? Jangan. Dia tidak bisa bertahan hidup sendiri. Dia ditinggal ibunya sejak kecil, dan aku merawatnya sejak saat itu. Kurasa aku bisa mencarikan rumah baru untuknya, tapi entah mengapa orang tidak langsung menerima gagasan landak sebagai peliharaan."

"Aneh sekali mereka," kata Sehun. "Baiklah, medusa bisa tetap tinggal."

"Apa kau melamarku?" tanya Zitao penuh harapan.

"Tidak." Memejam, Sehun mengembuskan napas. "Tapi aku mempertimbangkannya meskipun sama sekali bertentangan dengan akal sehat."

.

.

.

Mereka berkuda langsung ke rumah keluarga Huang, bersama Janggu yang berlari kecil gembira mengikuti. Sudah hampir waktunya makan malam, jadi kemungkinan baik Luhan maupun Chanyeol sudah merampungkan pekerjaan mereka hari itu. Zitao berharap punya waktu untuk mempersiapkan keluarganya menghadapi situasi ini. Ia sangat bersyukur Kris masih di Cina, karena pria itu cenderung curiga pada semua orang luar, dan tidak akan membuat situasi jadi lebih mudah bagi Sehun. Luhan mungkin keberatan. Pilihan terbaik adalah mendekati Chanyeol, yang merupakan pria paling rasional dikeluarga, jauh melampaui Luhan dan Kris.

Meskipun begitu, saat Zitao mencoba menyarankan kepada Sehun tentang siapa yang harus didekati dan apa yang harus dikatakan, pria itu menyelanya dengan ciuman dan mengatakan akan mengatasinya sendiri.

Mereka masuk rumah dan menuju ruang duduk keluarga, tempat Chanyeol dan Luhan sedang terlibat percakapan, dan Minseok sedang duduk dimeja tulis kecil.

"Sehun," sapa Chanyeol, mendongak dengan senyum santai. "Kau datang untuk melihat gudang kayu?"

"Terima kasih, tapi saya disini untuk alasan lain."

Luhan, yang berdiri didekat jendela, melirik dari pakaian Sehun yang kusut ke kondisi Zitao yang acak-acakan. "Zi, apa kau pergi ke luar dengan pakaian seperti itu?"

"Aku tadi terburu-buru." Jawab Zitao merasa bersalah.

"Terburu-buru yang melibatkan Kapten Oh?" tatapan tajam Luhan beralih ke Sehun. "Apa yang ingin kau bicarakan?"

"Ini bersifat pribadi," sahut Sehun pelan. "Dan melibatkan adik anda." Ia memandang dari Chanyeol ke Luhan. Biasanya tidak akan ada keraguan mengenai siapa dari mereka yang harus diajak bicara. Sebagai tuan pemilik rumah, Luhan merupakan pilihan pertama. Meskipun begitu, keluarga Huang sepertinya menyepakati pembagian peran yang tidak konvensional.

"Dari kalian berdua, dengan siapa seharusnya saya bicara?" tanya Sehun.

Chanyeol dan Luhan saling menunjuk dan menjawab pada saat yang sama.

"Dia."

Chanyeol berkata pada Luhan. "Kau kepala keluarga Huang-nya, hyung."

"Kau yang biasanya berurusan dengan masalah seperti ini," protes Luhan.

"Ya. Tapi kau tidak akan suka pendapatku mengenai yang satu ini."

"Kau tidak sungguh-sungguh mempertimbangkan untuk merestui mereka, ya kan?"

"Dari semua gadis Huang," ujar Chanyeol tenang, "Zitao yang paling sesuai untuk memilih suami sendiri. Aku memercayai penilaiannya."

Zitao tersenyum cerah pada pria itu. "Terima kasih, Chan Oppa."

"Apa yang kau pikirkan?" tandas Luhan kepada adik iparnya. "Kau tidak bisa memercayai penilain Zitao."

"Kenapa tidak?"

"Dia terlalu muda," jawab Luhan.

"Umurku 23," protes Zitao. "Dalam hitungan umur anjing, aku pasti sudah mati."

"Dan kau perempuan," Luhan berkeras.

"Maaf?" sela Minseok. "Apa kau menyiratkan wanita memiliki penilaian yang buruk?"

"Dalam hal-hal semacam ini, ya." Luhan memberi isyarat ke arah Sehun. "Lihat saja orang itu, berdiri disana seperti dewa Yunani sialan. Apa menurutmu Zitao memilih dia karena kecerdasannya?"

"Saya lulus dari Sungkyunkwan," ujar Sehun masam. "Apa semestinya saya membawa ijazah saya?"

"Dikeluarga ini," sela Chanyeol. "Tidak dibutuhkan gelar dari universitas untuk membuktikan kecerdasan seseorang. "

"Sehun," kata Luhan. "Aku tidak bermaksud menyinggung, tetapi—"

"Itu sifat alami yang dimiliki suamiku," sela Minseok manis.

Luhan mengernyit memandang istrinya lalu mengembalikan perhatian ke Sehun. "Kau dan Zitao belum cukup lama saling mengenal untuk mempertimbangkan pernikahan. Baru beberapa minggu, setahuku. Dan bagaimana dengan Seulgi? Kalian praktis sudah bertunangan, ya kan?"

"Semua itu poin yang kuat," jawab Sehun. "Dan saya akan menjawabnya. Tapi anda semestinya tahu bahwa saya menentang pertunangan itu."

Luhan berkedip bingung. "Maksudnya kau tidak menyetujui pertunanganmu dengan Seulgi?"

"Yah...betul. tapi saya juga tidak menyetujui soal perjodohan dengan Zitao."

Hening menerpa ruangan.

"Ini semacam tipu muslihat," kata Luhan.

"Sayangnya, bukan," sahut Sehun.

Hening kembali.

"Kapten Oh," tanya Chanyeol, hati-hati memilih kata. "Apa kau datang untuk meminta persetujuan kami untuk menikahi Zitao?"

Sehun menggeleng. "Jika sudah memutuskan menikahi Zitao, saya akan melakukannya dengan atau tanpa persetujuan kalian."

Luhan memandang Chanyeol. "Ya ampun," ujarnya jijik. "Yang ini lebih parah daripada Jongin."

Chanyeol menampakkan air muka sabar yang dipaksakan. "Mungkin kita berdua harus bicara dengan kapten Oh diperpustakaan. Ditemani brendi."

"Aku menginginkan botolku sendiri." Ujar Luhan sepenuh hati, mendahului pergi.

.

.

.

TBC

.

.

.

Gimana, yang ini TBCnya gk bikin empet pan :3 sorry ya dikit dikit updatenya daripada gk update kan #ngeles soalnya waktunya itu loh dan ini udah disempet2in jadi maap ya jgn kecewa diusahain kok cepet update.

_Lily levia: masa sih :/ gk nyadar loh kalo ada jadwalnya...uhm yang kemaren2 ada yang 1 chapter 3 bab loh, tapi chap 10 kemaren setengah bab sih :v maap ye...ntar deh diusahin lebih panjang. Gmn klo pilih lebih lama tp panjang ato sering update tapi segini2 :3

_Guest 1: sip (y)

_Zitaooneheart: njirrr ahjussi -_- gk sekalian panggil haraboji ngapa...panggil aku cantik aku panjangin chap depan deh :v

_Dasya: iya udah tau, ini udah cepet :3

_Oow: ini ini dah update kok diusahain cepet pokoknya nih. Lumin blom nemu chanbaek gk punya novelnya T.T ottoke coba.

_Ariyanindud aya: yg benar disamain sama anjing kyknya #plaks salpok gaya...iya segitu ajah dulu blom ada ikatan ntar tetangga tau pan kgk enak yah...iya sehun sampe hapal isi suratnya dan itu aku cetak tebal buat clue kalian biar mudah ajah :3 link apa ya :o

_Dande Liona: hum ini...ditunggu lagi next chap y.

_Guest 2: iya kok kamu bener jangan2 kamu cenayang ya? Ramalin dong Zitao bakal reunian gk ma Sehun T.T

_Nana Huang: ini :3 kadang suka liat mereka juga sih..tapi suka sama Yunhyeongnya ^^ aku liat mereka dari WIN tapi gk rutin kadang2 ajah.

_AmeChan95: sabar ya :3

_Sayakanoicinoe: ntar kalo sehun dah nglamar pastinya hehe dag dig dug nih

_Ko Chen Teung: gk ular sekalian say, biar dipatok ularnya Sehun sekalian dia :v nyicip bayar

_Firdha858: neeee~~~

_Switcheey: hari ini :3

_Ammi gummy: anggap ajah ini udah ngilat hehe

_AulChan12: iya udh tau ^^

_Lvenge: hooh hooh Sehun masih sabar kok tenang ajah

_Ciandys: iya menurutku lucu, eh tapi menurutmu lucu gk sih -_- serah deh, ntar gk humor tapi Sehun tambah geli ajah ma kelakuan ajaib Zitao.

_Aiko Vallery: Thank You :*

_Nindyarista: Ini udah ngantuk ntar lagi chap depan tp gk janji :* ...yah pan si sehun masih rada emosi blom ketemu, dan harus ngasih cinta tulusnya ke si penulis aslinya.

_Baby niz 137: hum (y)

_Sweetykamjong: sabar dong ntar ditahan dulu, Sehun ajah sabar,,,sabar sabar :3

_Kisskris: #tutupmuka Zitao agresif ya :3

_Annisakkamjong: cuma mo bilang maaf dan sabar...kaka berusaha disini hehe

_Marchtaotao: sibuk chingu dah diusahain cepet kok mian~~

_Jeon hyeun: sabar yeth ntar da saatnya NC kok, sehun ajah sabar kok :3 bukannya seminggu emang 7 hari ya -_-

_Dumb-baby-lion: nyoook Rhythm taa rhythm taa aummm~~~aku suka siapa ajah asal enjoy ma lagunya :3 palagi da lagu2 bapernya #eyeh, dan akhir2 ini sering ndengerin lagu mereka, ehm itu si Junhae kok nyebelin tp gemesin ya :3 ...takut digigit ma sehunie~~

Thanks yg udah ninggalin jejaknya :* yang fav dan foll juga ;) thank u juga.