Take Me To The Beginning
Chapter 11
[Pomed]
Warning : YAOI, BL, SEMI RATED M, MPREG!
Story : Chanbaek – Other cast SM
{CB}
Seyakin itu Yixing merasakan besar cintanya seolah tak terpatahkan. Sekalipun pada kenyataan yang ada, pemilik hati Joonmyeon yang sesungguhnya sudah kembali. Tentang depresi yang dialami Joonmyeon memang puncaknya adalah ketika ia pingsan di toko buku milik Baekhyun. Selama seminggu ini Yixing hanya datang ke rumah sakit, namun duduk dalam diam di salah satu kursi di tengah taman. Bunga yang ia bawa cukup di berikan kepada perawat, sebagai wakil dirinya. Logika nya masih berjalan, karena memang cinta selalu seperti ini. Tidak pernah bisa di paksakan, dan tidak pernah bisa dipilih akan jatuh kepada siapa.
"Terimakasih untuk tujuh mawar merah indah dari mu selama tujuh hari ini." Joonmyeon datang entah dari mana dan sejak kapan sudah duduk disisi Yixing. Tangan kirinya memegang tiang infus beroda itu agar tetap berada di dekatnya. Sedangkan pakaian rumah sakit berwarna baby pink itu tampak sangat indah saat dikenakannya. Yixing kembali goyah dan bimbang saat menatap senyum itu lagi.
"Kau seharusnya berada di kamarmu dan istirahat." Yixing sedikit menggeser duduknya agar Joonmyeon lebih nyaman.
"Aku ada disana selama ini…" Telunjuk Joonmyeon di bawa menuju salah satu jendela bangsal yang menghadap langsung ke taman rumah sakit.
"Saat bunga itu sampai pada ku, aku langsung berdiri menuju jendela. Berharap kau akan bangkit dari bangku ini dan menjenguk ku." Joonmyeon merajuk pura-pura untuk mencairkan suasana yang kaku saat ini.
"Aku hanya ingin menjadi realistis dan berlogika. Chanyeol benar, bagaimanapun mengambil milik orang lain adalah kesalahan." Joonmyeon memutar posisi duduknya menghadap Yixing, mengamati lelaki berlesung pipi itu sangat dalam.
"Tuang Zhang kau tau aku menjadi orang yang sangat beruntung karena di cintai oleh mu. Sekaligus aku menjadi orang yang paling menyesal karena tidak dapat membalas cinta itu." Yixing masih menunduk, seperti menghindari adu pandang dengan seseorang yang amat dicintai nya itu.
"Kesalahanku adalah membuatmu jatuh cinta, katakan apa yang harus aku lakukan untuk menebus semua selain menerima cinta mu ? Ak-aku minta maaf…. Hiks" Joonmyeon menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangan, mengabaikan selang infus yang bergoyang bebas terkena hembusan angin. Isakannya menjadi lagu pengiring keterdiaman dua anak adam itu. Taman rumah sakit berubah menjadi sendu, sangat sendu seperti airmata Joonmyeon yang tidak kunjung berhenti karena rasa menyesal dan bersalah.
"Hei… jangan menangis kau tidak salah. Tidak ada yang salah disini, aku tidak bisa merencanakan akan menjatuhkan cintaku pada siapa. Dan begitupun aku tidak bisa memaksamu untuk menjadi milikku dan mencintai aku juga." Joonmyeon mengusap ingusnya pelan, kembali menatap Yixing. Semakin merasa bersalah kala melihat bibir itu nyatanya masih bisa tersenyum sedang ia sendiri tau bahwa hatinya tidak sedang baik-baik saja.
"Mari berteman ?" Yixing mengulurkan kelingking kanan nya, semakin gemas melihat Joonmyeon yang menatap bingung tanpa berkedip.
"Mari berteman…" kelingking mereka bertaut, Yixing sudah menjadi lebih baik saat melihat tawa itu berderai indah karena dirinya. Tak apa mereka hanya berteman asal Joonmyeon bahagia, maka Yixing akan menjadi bahagia pula. Bukankah cinta yang sesungguhnya seperti itu ?
{CB}
"Astaga cucu oma.. Kenapa sudah secerdas ini, uhhhh. Oma merindukan mu Sehunie..." Boyoung sedang bermain bersama Sehun hari ini. Setelah tiga hari berlibur di Jeju bersama Hyungsik ia kehilangan akses karena jaringan ponsel yang sangat buruk. Padahal biasanya paling tidak dalam sehari ia akan melakukan panggilan video sebanyak tiga kali dengan cucunya.
"Tidak merindukan ku juga ?" Chanyeol bergabung memberi ciuman singkat di pipi kiri ibu nya.
"Sepertinya tidak Chanyeol, kau sudah terlalu tua untuk ku rindukan." Boyoung mengabaikan anak tunggalnya yang tidak berhenti mencibir. Ia sudah tidak peduli karena fokusnya saat ini hanya untuk Sehun.
"Mami kentut ya ? bau sekali ishh…" Boyoung membulatkan mata saat mendapati Chanyeol mengernyitkan hidung dan dengan terburu menutup menggunakan punggung tangan nya.
"Mami tidak kentut Chanyeol… Oh astaga Sehunie sedang pup ternyata." Boyoung baru menyadari saat Sehun mulai bergerak tidak nyaman.
"Ganti pampers dengan oma ya ?" Sehun menggeleng dan mulai berkaca-kaca. Mata lucunya terus menatap ke arah Chanyeol seolah memberikan isyarat ingin segera di tolong.
"Nyol… Nyol… Nyol…" tangan gembul Sehun di rentangkan ke udara, terus mengais untuk menjangkau ayah nya.
"Sepertinya Sehun ingin ganti pampers dengan mu Yeol ?"
"Tidak mami, aku bisa pingsan melihat isi pampers nya." selama enam bulan menjadi ayah, Chanyeol memang ikut membantu dalam mengasuh Sehun. Tapi untuk urusan mengganti pampers, atau membersihkan saat Sehun pup sama sekali tidak pernah.
"Nyol… Hikss… Huwaaa" akhirnya lengkingan ditambah jeritan membahana itu keluar dari bibir Sehun, seolah menyadari penolakan dari ayahnya.
"Oke oke, aku akan mengganti nya. Tapi panggil daddy sekarang, ayoo.. Panggil DA-DDY."
"Nyol…" Sehun mengangguk matanya masih basah oleh sisa air mata, tampak menggemaskan dengan pipi bulat yang merona kemerahan.
"Hhhhh, untung kau sangat lucu nak. Jika tidak, sudah daddy lempar ke Zimbabwe." Chanyeol membaringkan tubuh anaknya di dalam box. Mulai membuka celana pendek Sehun.
"Nyolll… Kyaa.."
"Sebenarnya apa yang kau makan hm ? Baunyaaa…" setelah berhasil menarik pampers milik Sehun, Chanyeol menenteng dengan jijik.
"Jika saja mami tidak bertemu Yoona mungkin sampai sekarang kau masih betah sendiri." Boyoung ikut membantu Chanyeol berkutat dengan semua perlengkapan kebersihan milik Sehun yang sudah disiapkan di ujung ruangan oleh Baekhyun.
"Yang berlalu biarlah berlalu mi…"
"Itulah sebabnya mami sangat berterimakasih pada Baekhyun. Karena telah memberikanmu kehidupan yang lain. Jauh lebih baik tentunya. Setidaknya biarkan wanita brengsek itu iri melihat keluargamu." Chanyeol menghentikan tangannya. Menatap tajam ke arah wanita yang sudah melahirkannya itu.
"Jangan di bahas mami, cukup!"
"Mami hanya ingin mengingatkan mu, jikapun suatu hari ia datang menjanjikan banyak hal, atau bahkan meminta maaf padamu jangan kau hiraukan."
"MAMI !" bentakan itu tak benar dimaksudkan untuk ibunya. Tapi karena saat ini mereka sedang berada pada topik kritis, Chanyeol tiba-tiba saja berubah menjadi sensitif.
Boyoung membuka mulut nya tak seberapa lebar. Ia ingin marah, tapi pada akhirnya kembali sadar jika memang Chanyeol masih berusaha keras melupakan masa lalunya yang amat buruk.
"M-maafkan aku, tapi aku sudah berjanji pada Baekhyun untuk menutup semua mi.. Tolong mengerti lah." Chanyeol mencicit takut melihat pandangan Boyoung yang cukup tajam.
"Tutuplah dan mami akan bersyukur. Tapi jangan ada satu hal pun yang terlewat." Chanyeol terdiam merasakan seluruh ruangan seolah menelan dirinya mentah. Sangat hampa sampai menusuk telinganya. Yang terus mendengung hanya ucapan Boyoung.
{CB}
"Mama.. Hannie rindu adik Sehun." Kyungsoo meletakkan vacum cleaner nya di lantai. Mengalihkan seluruh atensinya untuk Luhan. Bocah manis itu sedang membawa puzzle yang masih terbungkus rapi pemberian Kai kemarin.
"Lusa kita ke rumah adik Sehun. Dan kenapa puzzle nya tidak dibuka ?" Luhan hanya menggeleng, memeluk erat mainan favoritnya itu.
"Ini untuk adik Sehun, karena adik Sehun suka ayam. Hannie masih punya pucel yang lain." Kyungsoo mengangkat alis nya tinggi. Mengamati cover depan yang tercetak di kemasan luar nya. Memang bergambar ayam.
"Adik Sehun suka ayam ?" Luhan mengangguk sekali lagi dengan kerjapan mata polos menggemaskan.
"Adik Sehun sangat menyukai bentuk ayam ma, ini untuk adik Sehun saja. Hannie masih punya banyak pucel." Kyungsoo tersenyum tulus menatap Luhan yang semakin hari mengapa terlihat semakin cantik ? Padahal dia lelaki.
"Baiklah itu untuk adik Sehun, Luhannie pakai puzzle yang sudah ada."
Kyungsoo dan Luhan menoleh bersamaan ke arah pintu utama. Saat bel berbunyi, menandakan ada tamu yang sedang berkunjung. Kyungsoo sangat enggan membukanya entah kenapa. Perasaannya tiba-tiba berubah menjadi sangat muak dengan bunyi bel pintu itu, mungkin nanti Jongin harus merubah nadanya menjadi lebih indah dan enak di dengar.
"Mama…" Luhan menarik bagian bawah kaos Kyungsoo. Seolah ikut merasakan perasaan enggan yang di rasakan ibu nya. Binar matanya membawa keyakinan untuk Kyungsoo bahwa tidak ada hal buruk pun yang akan terjadi.
Tapi ia salah, salah besar. Perasaan buruknya bukan berasal dari suara bel yang mulai memuakkan. Bukan pula perasaan tak berdasar tanpa alasan. Ini semua terjawab saat pintu utama rumah nya terbuka sedikit lebar dengan dua pria berbeda tinggi badan sudah berdiri disana.
Kyungsoo merasa sendinya melemah, seperti jelly yang tak bertulang. Anak nya di peluk orang asing. Luhan nya di rengkuh oleh seseorang yang lain. Tidak ada perlawanan, atau setidak nya usaha untuk melindungi miliknya. Yang ada malah Kyungsoo ikut berjongkok disana. Menyaksikan tangisan lelaki menawan dan raut bingung anaknya dalam tangis juga.
Kris ada di sini dengan mata berkaca sedang hatinya sibuk mendobrak keluar atas seluruh perasaan yang mewakili. Ia senang, sedih, terharu, masih dibungkus rapi dalam rasa menyesal. Melihat Joonmyeon memeluk anaknya erat, sangat erat tanpa ingin melepas.
Rindu seorang ibu kepada anaknya yang selama ini di ketahui telah mati. Dua tahun seorang ibu yang sia-sia karena egoisnya seorang ayah. Joonmyeon menjelajahi wajah Luhan amat teliti, air matanya menggambarkan segala emosi. Perasaan seorang ibu memang selalu tepat, tidak pernah salah jika menyangkut anaknya.
"Anak ku…." di peluknya lagi tubuh mungil Luhan. Menyampaikan betapa banyak waktu yang terbuang hingga anaknya sudah bisa melakukan banyak hal.
"Mamaaa….. Hiks.." Luhan lari ke arah Kyungsoo yang masih berjongkok dengan segala keling-lungannya.
"Mamaaa…." tepukan pada pipinya membuat Kyungsoo tersadar. Ketakutannya kini terjadi, ia akan kembali sendiri.
{CB}
"Telur, tepung, buah, sayur, frozenfood, ada yang kurang kah ?" Baekhyun meneliti satu per satu isi troli nya. Setaunya semua sudah lengkap, tapi mengapa ada perasaan mengganjal. Seolah ada yang tertinggal tapi ia tidak tau kiranya barang apa yang belum terbeli.
"Ice cream stroberi…" Baekhyun menoleh pada sumber suara di antara rak-rak yang berbaris rapi di dalam supermarket. Berdiri di sana Changmin dengan troli miliknya sendiri yang berisi tak seberapa banyak.
"Changmin ?" Changmin hanya mengangguk dan mendorong trolinya menuju sisi Baekhyun.
"Ku dengar kau sudah melahirkan dan jarang ke toko ?" Baekhyun tertawa kecil mendengar pertanyaan Changmin yang justru terdengar seperti pernyataan.
"Ya… Aku masih fokus mengurus anakku. Bagaimana kabarmu ?"
"SAYANG !" Baekhyun dan Changmin menoleh bersamaan. Itu suara berat Chanyeol dengan Sehun dalam gendongannya. Awalnya Chanyeol memutuskan menemani Sehun untuk bermain, sedangkan Baekhyun yang berbelanja. Namun perasaan tidak enak menyergapi tiba-tiba.
"Oh… Kau…" Chanyeol memberi senyum miring yang mengejek.
"Hai, Chanyeol-ssi… Senang bertemu denganmu." Chanyeol menahan emosinya sepersekian detik. Tapi gagal dan meluncur juga kata pedas berikut nya "Tapi aku tidak senang bertemu denganmu." Baekhyun membolakan matanya tajam, menatap Changmin dengan rasa tak enak. Chanyeol yang cemburu adalah hal paling idiot.
"Chanyeol…" Baekhyun menggeram memberi peringatan, tapi tidak di gubris Chanyeol sama sekali.
"Sayang, ANAK MU rewel. Jadi ayo segera pergi jika sudah selesai !" Changmin menatap Sehun dengan geli. Anak lucu itu bahkan tidak berceloteh apapun. Hanya memainkan tangan nya dalam diam. Jadi dari segi mana Chanyeol menyebut anaknya sedang rewel ?
"Changmin-ssi kami pamit dahulu. Maafkan suami ku yang menyebalkan ini."
"Jika ada waktu mampirlah ke kantor penerbit ku, kita bisa berbicara panjang lebar dengan segelas kopi." Changmin tersenyum tulus lagi.
"Tapi Baekhyun menyusui, jadi tidak meminum apapun yang membahayakan ANAK KITA !"
"Aku bisa memberinya jus…" jika tidak ada Sehun dalam gendongan nya. Mungkin Chanyeol akan menghajar Changmin.
"Ayo kita pergiiii…" Baekhyun membungkuk pada Changmin dengan tangan mungilnya menyeret Chanyeol untuk menjauh.
{CB}
Jongin duduk di sofa ruang tamu nya dengan pandangan sengit. Menatap ke arah Yifan tanpa sungkan dan tajam. Meneliti setiap inci garis yang tercipta pada wajah Yifan tanpa terlewat. Sedang Kyungsoo yang ada di sisi nya sudah sedikit tenang daripada beberapa waktu lalu saat membuka pintu.
"Kau membuang, kemudian meminta kembali ? Aku bisa menuntut mu karena aku memiliki berkas resmi pengangkatan Luhan !" Jongin membuka suara penuh ancaman.
Joonmyeon merasa teriris mendengar penuturan Jongin. Ini memang kenyataan yang ada, bahwa nyatanya Yifan telah membuang Luhan. Dari segi manapun, sekalipun segi hukum mereka tetap salah dan kalah. Tapi Joonmyeon adalah seorang ibu, ia menginginkan anaknya.
"Aku mengandung nya selama 9 bulan. Aku lelaki dan kesakitan yang ku alami berkali lipat lebih berbahaya dari pada wanita yang mengandung. Aku melahirkan dengan taruhan nyawa meskipun pada akhirnya, kenyataan palsu yang ku dapat hampir membuat ku mati. Aku seorang ibu… seseorang yang paling terpukul saat mendapati anak nya bahkan tidak mengenali nya. Hiks…" derai tangis Joonmyeon menusuk sampai ke hati Kyungsoo. Ia juga seorang ibu, merasakan kepedihan yang sama saat bayangan Luhan pergi dari nya. Kyungsoo bangkit dari posisi duduk nya, berpindah ke samping Joonmyeon, memeluk tubuh yang sama mungil dengan nya erat.
"Hyung… Aku dan kau adalah ibu untuk Luhan. Beda nya kau yang melahirkan sedangkan aku yang merawat. Aku pernah merasa hidup saat Luhan ada bersama ku, dan bayangkan betapa suram hidup ku jika tak ada dia ?" kedua ibu itu menangis pelan, menyelami perasaan masing-masing. Dilema pada akhirnya tidak terhindar, mereka sama tidak ingin menjadi egois.
"Tapi-" Kyungsoo mengelus rambut Joonmyeon lembut.
"Kita bisa membesarkan nya bersama. Kita bisa merawat Luhan bersama. Dia memiliki 2 ibu dan 2 ayah." semua orang terkejut dengan keputusan yang di ambil Kyungsoo, termasuk Joonmyeon.
"Bawa dia kembali ke China bersama mu. Perbaiki hubungan kalian dengan Luhan sebagai media nya. Aku akan sering berkunjung, atau antar Luhan kemari jika ia merindukan ku." Kyungsoo memutuskan, tapi ia sendiri yang merasa kesakitan. Ia ingin egois, tapi hati nya terlalu baik untuk menjadi jahat. Bagaimana pun ibu memiliki cara nya sendiri untuk memberikan kasih sayang pada anak nya. Seperti Kyungsoo yang memilih mengembalikan Luhan pada orang tua nya.
"Mamaa…" Luhan yang sedari tadi diam dalam pangkuan Jongin ikut menangis juga. Terus menatap Kyungsoo dengan mata berkaca-kaca. Sebelum akhirnya melompat turun dan memeluk Kyungsoo erat.
"Mama… hannie ingin bersama mama. Hannie tidak mau pergi. Hiks.. Hiks.. Hiks."
"Luhannie sudah besar kan ? Saat nya Luhannie pulang dengan mama dan baba. Mama dan papa akan sering berkunjung ke sana.." Luhan mengangkat tangan mungil nya untuk menyapu air mata Kyungsoo.
"Hannie ikut mama dan papa.. Hannie tidak mau ikut… Mama dan baba"
"Luhannie ingat tidak jika menjadi anak baik dan penurut itu salah satunya membuat mama bahagia. Dan mama akan bahagia jika kau ikut dengan mama dan baba ke China." Luhan masih menggeleng keras dan menangis tanpa henti. Berjauhan dengan Kyungsoo adalah mimpi buruk. Hampir 24 jam waktu yang di lalui bersama membuat nya sangat bergantung pada lelaki yang sudah di anggap sebagai ibu kandung itu.
"Pergilah nak, mama akan baik-baik saja. Kita akan saling mengunjungi dan berkomunikasi." Kyungsoo memecahkan tangis nya dengan Luhan yang di dekap erat. Hati nya luluh lantak, ia mengambil keputusan yang pada akhirnya menyakiti diri sendiri.
"Luhan…." Joonmyeon membuka suara nya penuh getaran.
"Jika kau rindu mama Kyungsoo, kami akan mengantar mu kemari dan menginap selama yang kau mau." mereka tidak saling mengambil satu sama lain. Mereka memilih berjalan bersama meskipun pada akhirnya yang lain akan terluka saat mendapat giliran berjauhan dari Luhan. Perasaan seorang ibu akan menyatu dengan perasaan ibu yang lainnya.
{CB}
5 Years letter….
Hiruk pikuk kota Seoul tak merubah apapun kecuali teriakan lelaki mungil dengan apron yang melilit pinggang nya.
"SEHUUUNNN BANGUUUNN !" hari pertama masuk sekolah setrlsh liburan semester, dan ini membuat darah Baekhyun naik.
2 lelaki berbeda usia itu berjalan beriringan dari arah kamar masih dengan piyama lengkap.
"Mom… Selamat pagi." Sehun naik ke atas kursi meja makan untuk memberi kecupan pada pipi ibu nya.
"Daddy tidak kau beri ciuman juga ?" Sehun mengernyit jijik melihat penampilan ayah nya yang sangat berantakan.
"No dad… Kau masih bau dan jelek."
"Cepat mandi kalian berdua ! Mommy hari ini ada acara di toko buku. Jadi kau di jemput Daddy, entah nenek atau oma, entah kakek atau opa ? Kau pilih di jemput siapa ?" Sehun merengut lagi.
"Aku tidak ingin di jemput siapapun kecuali mommy !" Sehun bersedekap dada masih di atas kursi.
"Hhmmm, baiklah. Nanti kau tunggu saja dengan bu guru. Jangan bermain kemanapun tanpa pengawasan bu guru. Tunggu sampai mom datang." Sehun mengangguk kemudian melompat dalam pelukan Chanyeol dan pergi mandi.
Chanyeol bersiul menatap pantulan dirinya di cermin. Seperti mendengar siulan juga tapi siulan yang sangat buruk. Saat menunduk, ia mendapati Sehun berdiri dengan cengiran. Mengikuti semua gerakan nya. Mulai dari menyisir rambut, hingga bersiul-siul acak.
"Daddy… Aku minta pomed nya." Chanyeol membolakan mata, untuk apa bocah 6 tahun menggunakan pomed ?
"Kau memakai minyak rambut bayi saja. Pomed hanya untuk orang dewasa." Chanyeol berjalan menuju meja rias mini milik Sehun di sudut lain. Mengambil minyak rambut khusus anak-anak yang sudah di sediakan Baekhyun.
"Minyak rambut itu tidak bisa menaikkan rambut ku ke atas seperti mu dad. Jidat seksi ku tidak terlihat. Aku malah memiliki poni." bisa di tebak sifat genit Sehun turunan dari mana ?
"Baiklah… Biar daddy saja yang merapikan rambut mu. Anak daddy harus tampil keren dan mempesona." dua pasang anak dan ayah itu terkikik bersama. Sehun menyamankan duduk nya di atas paha Chanyeol. Menurut saja saat ayah nya dengan mahir membentuk rambut milik nya.
"ASTAGAA ! Kau apakan anak mu itu huh ?" Baekhyun masuk ke dalam kamar tiba-tiba. Menyaksikan anak dan suami nya sedang akur. Rambut Sehun nampak di sisir ke atas persis seperti milik Chanyeol. Kaku karena pomed yang teroles, menambah murka Baekhyun.
"Dia masih kecil, belum saat nya menggunakan pomed. Rambutnya bisa rusak Chanyeol !" Chanyeol menurunkan Sehun dari atas pangkuan nya. Untuk menghampiri suami mungil nya yang sangat cerewet.
"Tanya pada anakmu sendiri…" Baekhyun mengalihkan tatapan tajamnya pada Sehun.
"Mom… aku bukan anak-anak lagi yang harus menggunakan minyak rambut itu." Baekhyun bersedekap dada masih mentap tajam.
"Bukan anak-anak ? Orang dewasa mana yang masih merengek meminta susu padahal sudah berusia 6 tahun."
"Tapi daddy juga masih menyusu pada mommy, padahal daddy sudah tua !" Baekhyun dan Chanyeol saling bertukar pandangan. Dengan geram Baekhyun menginjak ujung sepatu Chanyeol. Berlalu pergi dengan muka memerah.
"Mom kenapa dad ?" Chanyeol hanya mengedikkan bahu. Mengulurkan tangan pada Sehun, mengajak pergi sarapan sebelum memulai aktivitas.
{CB}
Sehun menjadi anak baik menunggu ibunya menjemput. Tidak bermain kemanapun, hanya menunggu bersama bu guru.
"Sehun…." Irene adalah teman sekelas nya. Selama libur semester, selama itu pula mereka tidak saling bertemu. Bocah perempuan yang terlihat cantik itu memang selalu kagum dengan apapun yang di lakukan Sehun. Selalu tampak menawan dan membuat nya tersenyum sendiri dengan tersipu malu.
"Iya…" Sehun meletakkan lego nya, mengalihkan perhatian kepada Irene.
"Sehun…. Ini untukmu." beberapa permen yang di bungkus tak beraturan dengan kertas kado di terima Sehun dengan senyum manis.
"Terimakasih, tapi aku hanya ingin menerima hadiah dari Luhan hyung saja.." Irene hanya menunduk, mata nya berkaca-kaca saat mendapat penolakan halus dari Sehun.
"Irene… Jangan menangis. Kali ini aku terima, tapi jangan membuang uang saku mu untuk memberiku hadiah." Chanyeol benar mewariskan pesona nya untuk satu-satu nya putra yang dimiliki. Terbukti dengan satu kalimat penenang yang meluncur dari bibir Sehun, dapat sekejap membuat Irene berubah lega.
"Nanti akan ku kenalkan kau dengan Luhan hyung ku. Tapi saat ini dia sedang berada di China. Kita bisa berteman bertiga. Okay Irene ?" Irene tidak tau bagaiman sosok Luhan Hyung sebenarnya. Irene cukup senang hanya karena ajakam bertemen dari Sehun.
"Sehunnie…." kedua bocah berusia sama itu menoleh ke ambang pintu. Berdiri Baekhyun dengan senyum mengembang. Ibu Sehun itu selalu nampak cantik dengan perpaduan pakaian apapun. Kacamata berwarna cokelat yang tergantung di hidung mungil nya menambah kesan elegan.
"Mommy !" Sehun berlari memeluk ibu nya yang hanya mampu di jangkau sampai paha. Karena tinggi nya yang belum seberapa.
"Irene…. Sudah dijemput ?" Baekhyun bertanya pada Irene, dan di jawab anggukan.
"Hari ini kita pergi ke rumah nenek dulu ya.. Mommy akan membuat kue di sana untuk menyambut Luhan hyung besok di rumah paman Soo." Sehun menahan gandengan tangan Baekhyun dan berhenti di lorong sekolah nya.
"L-Luhan hyung ? Besok ?" Baekhyun mengangguk lagi. "Tapi aku tidak memiliki baju yang pas untuk bertemu Luhan hyung Mom !"
"Nanti kita beli bersama dad. Kenapa kau jadi genit sekali ?" cengiran lucu Sehun menciptakan mata bulan sabit mirip seperti milik Baekhyun. Ibu dan anak itu bergandengan menuju tempat parkir. Sehun selalu saja menceritakan apapun yang di alami mulai dari bangun tidur hingga akan pergi tidur lagi. Bagi Sehun, ibu nya adalah dunia nya. Tempat paling menyenangkan untuk berbagi apapun. Tidak pernah mendapat penolakan sekalipun ia melakukan kesalahan.
{CB}
"NENEK !" Sehun berlari tanpa melepas tas atau sepatu nya terlebih dahulu. Wanita yang sudah tampak rapuh itu tidak sedikit pun terganggu atas kegaduhan yang diciptakan cucu nya.
"Lepas tas mu dulu hunnie…" Baekhyun juga meletakkan tas jinjing nya di atas sofa. Melepas kacamata nya kemudian duduk tenang di sisi Yoona.
"Mama sehat ?" Yoona mengangguk dan tersenyum, mengelus rambut Sehun yang sudah duduk di atas pangkuan nya.
"Mama nampak pucat, apa jantung nya bermasalah lagi ?" Yoona mengalami sakit jantung sejak 2 tahun lalu. Kondisi nya sempat drop dan dilarikan ke rumah sakit. Setelah itu, dokter memberi saran agar ia tidak melakukan aktivitas berat apapun kecuali olahraga.
"Jantungku baik-baik saja. Aku hanya merindukan kalian. Kenapa lama sekali tidak kemari ?" Baekhyun mencium kening ibu nya lembut. Sebelum akhirnya meminta maaf atas terbatas nya waktu berkunjung mereka.
"Maafkan kami ma… Aku sangat sibuk di toko, dan Chanyeol dengan kantor nya. Menginaplah di rumah jika mama merindukan kami ?" Yoona menggeleng.
"Papa mu akan sendirian… Lagipula setiap hari kita sudah berkomunikasi, itu sudah cukup."
"Nenek…." fokus Baekhyun dan Yoona teralih pada Sehun.
"Jangan sakit, nenek harus selalu sehat. Tunggu sehunnie dewasa. Okay ? Nenek harus seperti chikini yang akan selalu menemaniku." kedua orang dewasa itu tertawa gemas. Melanjutkan kegiatan bercengkrama sebelum mulai membuat kue seperti tujuan awal Baekhyun.
{CB}
"Park Chanyeol ada ?" suara mendayu merdu itu membuyarkan konsentrasi Yeri, receptionist 'sunbright&co.'
"Apa anda sudah membuat janji ?"
"Katakan saja dimana ruangannya, Chanyeol tidak akan menolakku." Seperti sihir, suara sedikit serak namun menggoda. Yeri hanya mengangguk di buat terpana dengan pesona seseorang di depannya itu.
"Ruangan tuan Chanyeol ada di lantai lima, sebelah kiri lift."
"Terimakasih cantik, oh… Yeri-ssi." Senyumnya terlampau menawan, sehingga sulit bagi Yeri untuk tidak membalas.
-tbc-
* Mau promo sebentar, mampir ke instagram ku yuk. buat yang berkenan. heheh ( metibyun)
* Dan pada akhir nya Kyungsoo mengalah, proud of you paman Soo
* Sehun masih teteup yaaa, nyebelin+gemesin jugaa.
* Do'akan supaya sllu di kasih waktu buat up tepat waktu, jgn lupa intip juga ff BLACKZONE ku :)
* Terimakasih untk yg sdh FAV, FOLL, REVIEW :* KU CINTA KALIAAAANN.
Thankseu - Salam CBHS
