FFN. CODE 3 黒子のバスケ。
"PERSEMBAHAN SETAN"
Disclaimer : TADATOSHI FUJIMAKI
Story by : YUZU YUKIHIRA
WARNING : THE SURPRISING PLOT! bloody, Horror, ect
EULOGI 44.1 : PESAN DARI KUBUR
"DIPERSEMBAHKAN UNTUK YANG TERKASIH. UNTUK YANG TELAH PERGI, SEMOGA TIDAK KEMBALI"
Ucapan Terimakasih untuk para malaikat pencabut nyawa, ucapan bela sungkawa untuk yang ditinggalkan. Kutuk Kubur diperdendangkan untuk para pendosa di dunia, termulialah dia yang berada di dalam kebahagiaan.
Persembahan terakhir ; UNTUK TEMAN-TEMAN YANG TELAH MENYEBARKAN KUTUKAN PARA PENDOSA DARI LIANG KUBURUKU.
-Dibacakan oleh : KINAKO YUKIHIRA-
KINAKO YUKIHIRA
Rumah Sakit Pusat. 21.00 p.m –semalam sebelumnya—
Malam itu, yang kuingat hanyalah 'kehampaan'.
Setelah hampir tiga bulan aku koma membuatku nyaris seperti terbang ke langit. Begitu dingin, kosong, ringan, dan tidak ada sensasi apapun. Mataku sudah terbuka beberapa menit lalu, tapi aku tahu ada sesuatu yang berbeda….
Tangan kiriku putus, tubuhku mati rasa, badanku nyaris lumpuh—kupikir karena obat bius yang disuntikan rutin masa pengobatan—selain itu masih ada lagi yang salah dengan diriku .yaitu,…. Ah,ya, aku tidak begitu kaget ini memang terjadi. Akibat aku diterjang oleh Shinkansen. Kurasa mereka bakal shock berat jika tahu apa yang terjadi padaku.
Aku sengaja tidak mengirim bel untuk memanggil suster jaga, yang kulakukan sekarang hanya terbaring menatap langit-langit. Ah, Ryouta? Bagaimana kabarnya, apa yang terjadi, Kohane? Adik kembarku pasti histeris melihatku begini. Kuro-nii, Kagami-nii,Midori-nii….. sudahlah, sepertinya nasibku memang sedikit beruntung(setidaknya aku tidak mati.
Kulirik kea rah jendela, terang bulan terlihat tenang dan selaras dengan malam yang dingin ini. Tapi aku teringat sesuatu, aku tak begitu mengerti tapi semenjak ditabrak oleh Shinkansen bersama dengan 'mayat' Azumi aku mendapat KEBENARAN di balik semua ini.
Baru kusadari ada seekor gagak hinggap di jendelaku.
Beberapa menit kemudian, gagak itu sudah mati, terkapar di lantai. Darahnya mengotori piyamaku, beberapa bulunya bertebaran di kasur lalu dengan gontai aku mencabut semua slang infus dan slang lainnya kemudian merobek secarik kertas. Aku tak punya bolpoin terpaksa aku menulisnya dengan darah- darah gagak yang mati. Dengan begini sempurna.
Malam masih panjang. Tak ada yang berkeliaran di lorong, masih dengan berbalut piyama berwarna pastel pink kudobrak paksa jendela hingga kacanya pecah sebagian. Aku berdiri di muka jendela, memperhatikan Tuan Purnama di ambang langit hitam kusam tanpa bintang di sana.
"….." perban ini memang mengganggu tapi kalau kubuka lukaku akan semakin parah. Di ambang jendela aku melirik kea rah kasur, mungkin aku bakal di marahi habis-habisan. Aku bahagia dengan segala pengalaman yang telah kudapatkan di Teikou, Seirin maupun di Klub Basket lain. Tapi aku masih memiliki kepentingan lain dan sebisa mungkin tak akan pernah melibatkan 'MEREKA' bahkan Adik kembarku. Namun, itu harus diakhiri.
Sekumpulan Gagak memerhatikan dari seberang pohon. Kukeluarkan Katana dari telapak tangan kananku yang tersisa. Kuhabisi gagak-gagak keparat itu.
Mulai detik ini, taka da hasrat lain yang kutanamkan di dalam hatiku. SELAIN HASRAT UNTUK MEMBUNUH. Malam pun menua, purnama tetap mengambang di langit.
…. The Lullaby started to played itself. The Evil and Sadistic Melody Will Begin….
...
...
...
KISE RYOUTA
SMA KAIJOU –3 bulan kemudian— 07.00 a. m
Hari ini sepertinya latihan bakal molor setengah jam.
Taka da tanda-tanda kehadiran siapapun, baik itu anak kelas satu atau para senior. Decit sepatu bahkan tak terdengar, ya keadaan masih sangat lengang dan sepi.
Hai, aku Kise Ryouta, sudah enam bulan semenjak kejadian mengerikan itu dan sudah tiga bulan semenjak aku keluar dari rumah sakit. Dokter mengatakan aku menderita Amnesia jangka pendek, aneh memang karena aku tidak bisa mengingat kronologi dari malam berdarah di Teikou enam bulan lalu. Bapak berwajah welas asih itu mengatakan kalau itu demi menyelamatkan kondisi fisik, jiwa, maupun batinku jadilah aku kena amnesia meski ingatan itu tetap akan kembali entah kapan.
Meski aku tidak ingat persis kejadiannya, aku masih ingat kata terakhir yang diucapkan anak itu padaku.
"Aku benci padamu. Selamanya RYOUTA.,. aku benci padamu...".
Aah, beginikah rasanya menjadi korban? Peran yang tidak menyenangkan.
"Sudah kubilang berapa puluh kali kalau kau harus istirahat dasar anak bodoh!" seseorang menggampar kepalaku(meski sangat pelan) dengan buku dari belakang.
"Ittaissu*(Sakit)! Apa sih yang senpai lakukan?! Senpai mau kepalaku tambah rusak?" rengekku. "Aku tidak peduli dengan kepalamu, aku hanya minta kau istirahat" cecarnya.
"Kalau kepalaku rusak aku tidak bisa main basket!" kilahku sembari menggembungkan pipi tanda kesal.
"Diam, menyebalkan sekali kau inil! Orang sakit harusnya duduk diam sambil menonton!" bentak senpaiku yang dinobatkan sebagai senior tergalak di Kaijou—Kasamatsu-senpai tentu saja.
"Jahaat! Kau mau merusak masa depan Ace-mu ini,ya?" tudingku bercanda.
"Aku bersyukur ternyata Kise masih bisa bertengkar dengan Kasamatsu" sapa Moriyama-senpai bersama Oboro-senpai tentu saja dengan Hayakawa-senpai dengan suaranya yang tetap saja keras bahkan di pagi hari.
"Ahn, kurasa kecemasan kita selama tiga bulan pasca kau keluar dari rumah sakit tak perlu diperdebatkan lagi" Oboro-senpai menepuk-nepuk pundakku hangat.
"Tentu saja! Kalau Kise tidak bisa bersemangat seperti ini kita dipastikan akan dibunuh oleh pelatih lalu kita yang bakal menyusul masuk ICU atau mungkin UGD!" teriak Hayakawa-senpai.
"Candaanmu sama sekali tidak lucu!" seru Kasamatsu-senpai bak seorang Tsukkomi yang menasihati Boke-nya *(si pintar yang menasihati si bodoh—Komedi ala Jepang yang diperankan oleh dua orang). Aku spontan tertawa melihat tingkah laku mereka semua, astaga sejak keluar rumah sakit mungkin yang ada di pikiran mereka adalah bagaimana cara membuatku bisa tertawa dengan candaan mereka seperti dulu.
"Kise tampak menikmatinya" bisik Moriyama-senpai tentu tanpa sependengaranku.
"Yah, begini saja sudah cukup. Aku tidak mengizinkannya untuk latihan mungkin sampai dua atau empat bulan kedepan karena lukanya, tapi kalau memang dia bisa sembuh lebih cepat mungkin dua bulan sudah cukup" Kasamatsu-senpai memperhatikanku yang sibuk melerai Hayakawa-senpai dengan Oboro-senpai.
"Lalu, selanjutnya tinggal…, 'itu' kan? Kau akan datang?" Tanya Moriyama-senpai.
"Aku merasa ikut bertanggung jawab, setidaknya untuk mendampingi Kise. Oi Kise! Kemari sebentar"
"Ya? Ada apa Kasamatsu-senpai?" sahutku menghampirinya.
"…Kau yakin akan datang ke Seirin?" tanyanya, kaptenku melihat dengan tatapan tajam antara khawatir dantakut(meski tidak diperlihatkannya secara terang-terangan).
"Un. Aku datang" jawabku singkat.
"Aku bukannya menghalangimu untuk mendapatkan kebenaran, hanya saja—".
"Tenanglah Senpai! Aku tahu apa yang akan kuhadapi dan kudengar, aku tahu kau merasa bertanggung jawab atas ini karena aku adalah salah satu anggota Klub Basket Kaijou. Tapi.., sebagai pribadi yang lain aku adalah mantan anggota Tim Basket Teikou, masalah teman-teman lamaku adalah masalahku juga, aku terlibat di sini. Mereka mungkin menobatkanku sebagai korban tapi yang paling tepat menjadi korban dari semua ini adalah…. Anak itu…"
"Kise…"
Benar, meski aku tersenyum seperti ini rasa pahit masih tertinggal di tenggorokanku. Beribu pertanyaan tersimpan rapih di sudut otak yang akan kucari jawabannya satu persatu. Tak perlu tergesa-gesa. Aku ingin memastikan satu jawaban yang selama ini ingin kuketahui. Agar aku bisa memperbaiki hubungan ini, agar aku bisa menjalin kembali tali yang putus di tengah jalan itu.
"Jadi, kita pergi sekarang?" Kasamatsu-senpai menggedikkan kepalanya.
"Ya! Ayo kita berangkat"
Aku paham, aku sadar. Jauh di dalam diriku ada sebuah ketakutan menyeruak kalau aku lemah, kalau aku tidak bisa bertahan dalam kondisi seperti ini hal itu bisa menghancurkan diriku. Sekarang yang harus kulakukan adalah kembali pada teman-temanku, membantu mereka lalu membayar semua kesalahanku di masa lalu atau di masa sekarang.
Kami adalah pendosa, pendosa yang tak akan menyadari apa dosa kami sendiri. Para pendosa tak akan diberikan kesempatan kedua bila pendosa-pendosa itu tak segera membayar dosanya. Aku bukan orang yang baik, dengan tangan ini aku menghancurkan segalanya, dengan tangan ini juga aku akan memperbaikinya.
Sekalipun aku harus bertaruh nyawa, ada keberadaan yang lebih penting yang harus kuselamatkan. Sebelum terjatuh lebih dalam ke jurang kegelapan itu.
Kabut di jalanan menebal, suasana terlihat amat lengang tanpa keberadaan manusia di sini. Perjalanan menuju Seirin memakan waktu tapi aku menikmatinya. Rasa was-was, khawatir, takut, bersalah, semua sudah kusimpan rapat-rapat. Kepalaku harus dingin, semua harus kulakukan pelan-pelan atau aku tidak mendapat apa-apa(itulah yang kupelajari dari Akashi cchi). Kupikir berjalan di sepanjang jalan di sini mengingatkanku akan sesuatu…,
"Ryouta!" Hah? Astaga apa aku terkena efek obat bius selama di rumah sakit?
"Kau kenapa Kise, kepalamu sakit?" Tanya Kasamatsu-senpai.
"Eh, tidak. Tidak ada apa-apa, aku hanya tersandung kerikil tadi" jawabku sekenanya.
"Tch, kau ini tidak bisakah membuat orang lain berhenti untuk mengkhawatirkanmu. Ck, jantungku akhir-akhir ini sering lemah padahal hanya melihatmu berjalan di depanku. Sial, mengesalkan sekali!" aku tidak mengerti, tapi mataku mengerjap seketika kala aku menyadari kalau ternyata seniorku ini sangat mengkhawatirkanku.
"Jadi, Senpai mengkhawatirkanku?" senyum merekah di wajahku.
"Kuuh! Diam, aku tidak pernah mau mengkhawatirkan adik kelas merepotkan sepertimu!"
"Ghuuaa, sakit! Senpai, kau melukai orang yang baru keluar dari rumah sakit? Memangnya kau mau bayar biaya pengobatanku nanti?" seruku sembari menerima tendangan maut sang kapten Kaijou.
"Berisik, cepatlah kita ditunggu!" samar kulihat semburat garis merah di pipinya yang berjalan membelakangiku, aku tertawa melihatnya. Ternyata, dari semua orang dialah yang paling mencemaskanku. Di relung hati ini, perasaan bahagia muncul begitu besar andaikan aku bisa membaginya dengan 'anak itu' pasti akan lebih membahagiakan lagi.
Kami menaiki kereta pertama dan langsung sampai di tempat yang kami tuju, SMA SEIRIN. Suasana sekolah itu mencekam sekali karena tentu saja hari ini hari peringatan sekolah mereka dan hari ini Libur, kebetulan sekolahku hanya ada Homeroom persiapan natal nanti jadi kami punya banyak waktu bebas.
"Tidak ada siapapun? Coba kucek ponsel, hm.. kita di suruh langsung ke Gym" ucap Kasamatsu -senpai kemudian kami melenggang pergi menyusuri sekolah tak berpenghuni ini. Aroma musim dingin sudah menyeruak di seluruh penjuru Tokyo, Pohon-pohon Sakura yang biasanya bermekaran cantik di musim semi pun hanya menyisakan batang bertumpuk dengan salju tipis di atasnya, sebagian batangnya ada yang menjadi es akibat hujan kemarin. Suhu dingin membuatku menghembuskan napas yang terlihat membeku, kurasa matahari bakal jarang menampakkan sosoknya untuk seminggu kedepan.
"Sepi,ya? Apa mereka benar-benar ada di Gym?" tanyaku seraya menjajarkan diri di samping senpai.
"Saa na, kita hanya perlu masuk" jawab Kasamatsu-senpai seadanya. Aku menemukan ada bagian pintu yang sepertinya baru saja diperbaiki—apa yang terjadi sampai pintu Gym sekolah bisa rubuh seperti itu?—perasaanku tidak enak, sepanjang perjalanan aku merasa ada yang mengawasi kami tapi aku mencoba agar menghilangkan perasaan itu(aku takut didiagnosis terkena delusi berat akibat koma di rumah sakit). Pintupun kami buka perlahan, di dalamnya terbentang lapangan berlapis kayu yang telah dipernis indah, dan di ujung lapangan basket aku menemukan sosok-sosok yang amat kukenal.
"Ohayou Gozaimasu*(selamat pagi), Kise-kun"
"Yo, Kise. Kau sudah baikan?"
"Kise-kun! Syukurlah kau datang, bagaimana dengan lukamu?"
"Kisecchin, mau cemilan?"
Kurokocchi, Kagamicchi, Murasakibaracchi, Himurocchi, semuanya menyapaku dengan hangat.
"Kau sudah segar ya, Kise?" Akashicchi menyapaku dari pintu, dia baru datang bersama Hayamacchi.
"Woah, aku baru tahu ternyata kalian mendapat pengalaman seheboh itu! Sayang aku tidak itu" sahutnya riang.
"Sayangnya itu bukan sesuatu yang patut aku banggakan, menjadi korban sama sekali tidak enak" ucapku.
"Setidaknya kau selamat kan?" sahut Takaocchi sembari menepuk pundakku.
"Ano, Midorimacchi bagaimana kabarnya?" raut wajah Takaocchi berubah sedikit muram namun masih menyunggingkan senyum terpaksa, ya, aku juga mendengar kalau Midorimacchi menghilang atau lebih tepatnya pergi entah kemana.
"Kata Shin-chan dia ingin membayar semua kesalahannya, dia merasa kalau ini akibat dirinya yang berbuat kesalahan besar. Ah, aku juga tidak begitu paham tapi begitulah mungkin yang ingin disampaikan Shin-chan, soal kapan dia kembali aku tak tahu karena ponselnya benar-benar off" penjelasan itu cukup memberiku jawaban. Aku juga merasa Midorimacchi sama sepertiku hanya saja jalan yang kami tempuh berbeda, aku ingin bicara padanya, meluruskan kesalahpahaman ini sesegera mungkin.
"Lho, Kohane-chan dan Aomine kemana?" Tanya Himurocchi membuyarkan pikiranku.
"Seperti biasa mungkin dia terlambat" cibir Kagamicchi. Tepat 5 menit kemudian sosok berambut biru donker itu muncul bersama gadis mungil di sebelahnya, wajah anak kecil itu terlihat muram, kuyu, dan letih, matanya yang selalu cerah dan bersinar sekarang kehilangan cahayanya—lenyap begitu saja.
"Kau lama sekali sih, Aomine?" protes Kagamicchi seperti biasa yang paling tak sabaran.
"Uruse, baka! Telat lima menit saja sudah mengoceh begitu, kau sama saja seperti Satsuki" tampik Aominecchi.
"Momoi-san mana? Tidak ikut?" Tanya Kurokocchi.
"Dia sedang sibuk mempersiapkan acara natal di sekolah bersama Ryou" jawab Aominecchi angina-anginan.
Sementara kedua orang itu berkelahi layaknya anak kecil aku mendekati Kohanecchi yang tetap tidak bergeming di tempatnya, pandangannya kosong, sekeliling kelopak matanya sedikit bengkak mungkin dia habis menangis, dan aku melihat luka di pergelangan tangannya. Yaampun, sebenarnya seberapa berat penderitaan anak ini sampai tega mengiris-iris tangannya sendiri?
"Kohanecchi..?" panggilku, dia tidak merespon. Kuelus kepalanya pelan sambil menjajarkan tinggiku dengan tingginya, dia menatapku kosong sesaat.
"Hei? Ini aku, Kise. Kau tidak apa-apa Kohanecchi?" tanyaku lembut.
"Kise…chan". "Ya, aku di sini?" entah apa yang merasuki anak ini tapi tiba-tiba Kohanecchi menyerbuku dan memeluk(lebih tepatnya nyaris mencekikku seketika) begitu saja. Aku bisa mendengar isakannya yang kecil tertahan di belakang telingaku, ada sesuatu seperti menyusup ke hati juga pikiranku.
"Kinako tak pernah memeluk atau menyapaku sejak masuk SMA. Seolah-olah dia sibuk dengan dunianya, sementara aku tak memperdulikan anak itu. Sikapnya yang kasar, apakah benar sikapnya yang sebenarnya?"
"Kohanecchi, terima kasih sudah menolongku. Terima kasih ya sudah menangis untukku juga. Itu membuatku senang" kataku, aku ingin membuatnya senang meski sedikit—kau tahu pemandangan di depanku ini lebih menyakitkan dibanding pengalaman kalah oleh Seirin—dia tidak melepaskan rangkulannya padaku sementara banyak tatapan cemburu dari berbagai sudut.
"E, Ehem. Baiklah, aku tahu ini sangat mengharukan tapi bisakah kita kembali pada topic kenapa kita ada di sini?" sahut Aominecchi.
"Bilang saja kau cemburu melihatnya, yak an?" cibir Hayamacchi.
"Siapa yang cemburu gegara di peluk oleh seorang anak kecil?" elak Aominecchi lagi meski jelas bahwa wajahnya itu tidak bisa berbohong—dasar Aominecchi Hentai*(Aomine si Mesum).
"Lagian yang harusnya dipertanyakan adalah si bodoh(Kise) ini mungkin sudah jadi Lolicon*(penyuka anak-anak)" sekarang aku mulai kesal dengan semua cacian kurang ajar yang tidak hanya meluncur dari Ahominecchi bahkan Bakagamicchi juga ikutan.
Kami termangu sebentar, suasana mendadak kaku dan tidak menyenangkan.
"Nee, sebenarnya kemana anak itu pergi?" Tanya Hayamacchi membuka suara. Hening sesaat, entah kenapa lidahku mendadak kelu dan tenggorokanku mongering namun aku siap mendengar segala jawaban menyesakkan dari mulut teman-temanku. Aku tetap menunggu.
"Sudah tiga bulan, Kinako tidak ditemukan dimanapun. Dia pergi—atau lebih tepatnya kabur—dari rumah sakit. Kinako hanya meninggalkan sebuah surat. Ya,kan? Kohane" sahut Akashicchi lalu pundak anak berambut hitam itu menegang.
"Apa pesan yang ditinggalkannya, Kohane-chan?" Tanya Kurokocchi. Kohanecchi tidak menyahut, wajahnya berubah ketakutan hanya bisa menutup rapat bibir kecilnya.
Kinakocchi dikabarkan hilang dari rumah sakit ketika aku siuman, Akashicchi dan Kohanecchi yang menemukan kondisi ruangan yang berantakan itu—ruang tempat Kinako di rawat dalam keadaan kosong. Setelah itu kami berusaha mencarinya namun berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan sampai sekarang tidak ada kabar apapun dari si kecil bersurai hitam bermata Ruby tersebut.
Kohanecchi menyimpan pesan yang ditemukan di atas ranjang Kinakocchi lalu dia mendadak murung, pendiam, tidak pernah datang ke klub bahkan jarang masuk sekolah. Aku tak mengerti apa isi pesan yang ditinggalkan Kinakocchi itu. Satu lagi, barang yang menjadi petunjuk penting di ruangan tersebut adalah ;
BULU BURUNG GAGAK.
"Hei, Akacchin. Kau bilang kalau semua ini berhubungan dengan Azumi dan festival itu. Kau belum menjelaskannya secara jelas aku tak paham" sahut Murasakibaracchi.
"Jadi kau mau bilang, kasus PERSEMBAHAN SETAN dan meledaknya Ruang PKK di Teikou tiga tahun lalu itu dipicu oleh Azumi-san yang mengalami sesuatu tragedy di masa lalu dan masih meninggalkan terror sampai sekarang?" Kurokocchi mencoba mengasumsikan segalanya, sampai aku tidak paham dengan apa yang mereka bicarakan—aku sudah koma hampir tiga bulan mana mungkin aku tahu—sementara semua mata tertuju pada Akashicchi, kudengar suara ponsel Kohanecchi berdering dari saku jaketnya.
"Moshi-moshi, oh, Hiro-chan. Un, aku di sekolah.., ng, baiklah. Jyaa…" pembicaraan singkat itu ditutup lalu Kohanecchi berpaling padaku.
"Maaf, aku harus ke Apartemen Hiro-chan…" cicitnya pelan.
"Hiro -chan?"
"Mayuzumi-san" kata Akashicchi.
"Oh! Mau kuantar? Kalau pergi sendirian bisa bahaya,lho" aku menawari tapi anak itu menggeleng cepat.
"Ti, tidak usah! Aku bisa sendiri lagipula Hiro -chan mungkin menghubungi Aka-chan nanti, katanya ada yang ingin dibicarakan. Ng…, terima kasih, aku senang Kise-chan menghiburku lho, aku senang sekali. Kinako…, aku yakin dia tidak pernah ada niat jahat pada siapapun. Aku berharap yang terbaik, aku ingin dia kembali pada Seirin juga"
Aku terbengong-bengong, benarkah kalau rumor mengatakan anak kembar itu memiliki watak yang berbeda? Tapi kenapa bagiku sikap mereka kadang terlihat sama persis satu sama lain. Ajaib, wajah yang sama itu membuatku rindu pada Kinako. "Aku juga ingin Kinako-chan kembali, lho" Himurocchi membalas dengan senyum hangatnya.
"Kalau begitu aku permisi dulu" pamit Kohane-chan.
"Yakin tidak mau diantar?" Tanya Kagamicchi. "Hati-hati, Kohanecchi" sahutku.
"Un. A, ano…! Kuro-chan " sebelum anak itu pergi dia tampak ingin mengatakan sesuatu pada Kurokocchi.
"Ya?"
"Ah, tidak. Bukan apa-apa…., Shitsureshimasu" gadis kecil itu menghilang dibalik pintu, entah perasaanku saja tapi kenapa, hatiku tidak tenang. Kata-katanya itu, ada sesuatu yang belum tersampaikan. Kenapa, aku merasa ada sesuatu…,
SESUATU YANG TIDAK BAIK, SESUATU YANG SANGAT BURUK…
...
MAYUZUMI CHIHIRO
APARTEMEN NO. 44 - KEDIAMAN MAYUZUMI. Lt.7 - 08.30 a.m
Musim dingin kadang membawa banyak berita.
Mulai dari berita baik hingga buruk, semua ada. Apartemen ini tak pernah berubah, sudah berapa tahun aku tidak mengunjunginya? Sejak musim dingin beberapa puluh tahun lalu apartemen ini cukup terlihat usang di mataku.
"Chihiro, cepat bersihkan jendela lalu bantu Ibu menyiapkan makan siang. Kau sudah pasang pemanas?" Ibuku dengan sabar merapikan bantal-bantal di ruang tamu, mengganti tirai yang sudah dipenuhi debu kemudian mengelap meja.
"Segera, bu". Namaku Mayuzumi Chihiro, ini tahun ketigaku di SMA dan sebentar lagi aku harus masuk kuliah. Orang tuaku tidak pernah memermasalahkan dimana perguruan tinggi yang ingin kumasuki, mereka dengan sabar meladeniku yang angin-anginan dan kadang lebih senang duduk di pojok sofa membaca buku Light Novel ketimbang belajar.
"Ibu cukup rindu tempat ini, semenjak ayahmu mendapat pekerjaan tetap yang lebih baik membuat kita harus meninggalkan tempat ini, sayangnya Ibu lebih suka tinggal di Tokyo karena tak perlu sulit berbelanja. Ngomong-ngomong kau sudah menghubungi Kohane-chan?"
pertanyaan terakhir ibuku itu nyaris membuat jantungku lepas, ng, sebenarnya semenjak sepuluh tahun lalu kami sempat memiliki masalah dengan keluarga Yukihira.
Keluarga Yukihira sudah dicap sebagai mafia bawah tanah(meski akhir-akhir ini aku baru tahu mereka adalah keluarga bangsawan tua yang menghilang ditelan zaman), kejadian meninggalnya Adik Ibuku yang tak lain adalah Ayah dari Kohane dan Kinako juga Suami dari Kepala Keluarga Kirishiki—SAYA KIRISHIKI.
Saya Kirishiki, ibu Kohane dan Kinako merupakan konglomerat terpandang. Adik Ibuku lahir di keluarga Yukihira, menjadi salah satu klan terpandang namun pamanku itu tidak pernah mau mengikuti pertalian darah rumit keluarganya jadilah dia masuk ke dunia Rakyat biasa, bermain dan mengajari anak-anak bermain basket sampai bertemu dengan Bibi Saya. Pamanku, kalau tidak salah namanya, SHUUMA YUKIHIRA. Dia special, Ibuku bahkan bilang kalau adiknya sangat beruntung. Beda dengan ibuku yang tidak masuk ke lingkaran keluarga Yukihira, namun Ibu mengakui cukup membanggakan almarhum paman.
"Kalau melihat si kembar aku suka merindukan Shuu dan sifat keras kepala mereka benar-benar diwariskan oleh Saya-san. Gaya basket tentu saja ajaran Shuu. Kau mungkin tidak mengenalnya tapi adikku orang yang cukup cerewet" kelakar Ibu.
"Ibu yakin tidak apa-apa?" tanyaku singkat sembari mengelap jendela yang berembun.
"Ibu sudah sangat salah, ayahmu juga sudah bicara pada ibu. Aku yakin ini yang terbaik, Ibu sudah dengar semua sayangnya aku tidak bisa membantumu mencari anak itu. Yang bisa aku lakukan adalah membiarkan Kohane-chan tinggal di sini sementara bersama Ibu" itu adil, aku tak bisa protes. Sudah hampir sepuluh tahun semenjak meninggalnya Paman Shuu akibat kudeta keluarga Yukihira, Bibi Saya menghilang meninggalkan Kinako dan Kohane. Aku baru menerima kabar mereka ketika masuk SMP, lalu semua semakin jelas setelah aku menemukan mereka di SMA.
"Masalah yang tak bisa diselesaikan oleh anak-anak" Kupikir itu lebih tepat, Kinako menanggung beban demi menghidupi dirinya dan adik kembarnya, tinggal di panti asuhan lalu diadopsi oleh seorang Freelancer yang cukup sukses lalu masuk ke SMA di usia yang amat muda. Korban dari kesalah pahaman tolol keluarga besar, kuharap ayah dan ibuku bisa menerima hasil dari kebodohan mereka sampai tega menelantarkan dua orang balita di masa lalu.
Kalau aku tidak direkrut oleh Akashi mungkin aku tidak akan bisa kembali pada anak-anak itu, maksudku, adik-adikku—adik sepupu lebih tepatnya—takdir benar-benar mengerikan.
TING TONG.
Kudengar bel berdentang, mungkinkah Kohane?
"Chihiro mungkin itu Kohane-chan, coba kau buka" pinta Ibu.
Aku menelusuri ruang tengah, kuintip melalui lubang pengintai. TIDAK ADA SIAPAPUN.
"Huh?" aneh, siapa yang memencet bel? Apa anak-anak di apartemen ini mulai punya hobi mengusili tetangga baru mereka?
"Siapa Chihiro?" sahut ibu."Ng, mungkin salah rumah" jawabku sekenanya.
TING TONG.
Sialan, kali ini apalagi!? Kalau aku tahu siapa yang melakukan perbuatan iseng ini akan kutinju wajahnya dengan bola basket. Untung aku cukup sabar. Tapi kali ini sosok yang memencet bel memiliki wujud, seorang gadis mungil dengan jaket kebesaran yang memakai syal rajutan berwarna pastel pink. "Kohane?"
"Kohane-chan! Selamat datang, kau sudah besar sekarang,ya? Bagaimana dengan sekolahmu? Chihiro bercerita banyak padaku. Ayo, bibi sudah siapkan makanan dan teh hangat. Chihiro antarkan Kohane-chan lalu bantu ibu bawakan nampan!" sambutan Ibuku membuat aku termangu sejenak, perubahan sifatnya yang dulu sangat dingin pada Kohane berubah 180 derajat seketika.
"Ano, nggak perlu repot-repot kok. Aku belum memastikan akan tinggal di sini sementara…"
"Taka pa! Paman sedang kerja di Kyoto, Chihiro juga sedang menunggu tes masuk jadi dia bisa menemanimu, Bibi juga tidak ada pekerjaan jadi anggap saja kita liburan sejenak. Bibi turut prihatin atas apa yang menimpamu, maafkan Bibi Kohane…., ng, mungkin Bibi sudah banyak membuat kalian susah sejak dulu. Chihiro bicara semuanya, kita jalani pelan-pelan ya? Bibi bakal membantumu untuk mencari kakak kembar Kohane. Kohane keluarga kami juga, Kinako pun sama"
Kohane hanya menatap tidak percaya, kulihat dia ingin sekali menangis tapi anak itu menutupinya dengan agak memaksa,
"Terima.. Kasih….." andai saja aku bisa membawa mereka lebih cepat aku bisa menjauhkan keduanya dari malapetaka sialan ini. "Bibi bereskan kamarmu dulu,ya. Chihiro, temani Kohane-chan sebentar" kini suasana kaku sedingin es menyelimutiku, ada satu hal yang kulupakan.
Apa yang harus kukatakan pada adik yang sudah kuabaikan selama lebih dari satu dekade?".
Jam menunjukkan pukul 2 siang, aku menemani Kohane yang membereskan pakaiannya dan membantunya untuk mengerjakan tugas musim dingin. Suasana berangsur-angsur mencair hingga tepat ketika sore hari kami memulai pembicaraan yang sedari tadi kutak ingin menyinggungnya. Aku sangat ingat, pukul 5 sore ketika es mulai datang ke bumi.
"Sudah enam bulan, tiga bulan sebagiannya Kinako tidak ditemukan" desis Kohane.
"Kalau kau tak ingin membahasnya tak perlu kau bahas" ucapku.
"Bibi sudah sangat baik padaku, meski aku tahu perasaan kehilangan tak bisa lenyap begitu saja. Papa tidak seharusnya pergi dengan cara seperti itu…" tengkukku dingin, aku mencoba tetap tenang.
"Paman Shuu dinyatakan tewas akibat 'Kekerasan dan Penganiayaan'. Ibuku sudah mengerti kronologi yang sebenarnya, Kinako dan kau taka da kaitannya atas tuduhan dari semua pihak. Ibumu juga hanya ingin melindungi keluarga yang amat dicintainya" ujarku perlahan.
"Kinako tidak harus berakhir seperti itu juga, aku tidak tahu apakah Mama masih hidup atau tidak. Yang bisa kuandalkan sekarang adalah.., diriku sendiri…" hening.
Paman Shuu meninggal sepuluh tahun lalu, aku tidak mengerti kenapa tapi itu hal yang rumit dan anak-anak sepertiku tidak akan bisa mengerti. Sampai saat pertandingan final aku baru mengerti apa yang sebenarnya ingin dituju oleh si kembar, aku ingin menyudahi penderitaan itu kalau mereka tidak keras kepala untuk menanggungnya sendirian. Aku mengehela napas kemudian menepuk kepala anak mungil itu.
"Kalau ada bajingan yang berani mengganggumu lagi akan kupastikan sekarang aku yang akan membunuhnya untukmu dan menyeret kembali kakakmu untuk memukul bokongnya"
Anak itu tersenyum, senyumnya lepas dan membuatku ikut tersenyum. Aku mendengar ada seseorang lagi yang datang, "Aduh-aduh, sepertinya kita banyak kedatangan tamu" ucap Ibuku.
"Eh? Akashi?" anak bersurai merah Amber itu tersenyum akan keherananku.
"Bukankah aku sudah mengirim e-mail padamu hampir tiga jam yang lalu?" dia menyodorkan ponselnya dan aku baru sadar dia mengirim tiga inbox padaku.
"Maaf, aku sibuk dengan kepindahan sementaraku ke sini".
"Tak masalah, aku pikir Kohane pasti juga ada di sini" anak ini tahu segalanya.
Rumah ini semakin ramai, tapi bagiku ini seperti biasanya. Meski ada tiga orang tetap saja keheningan membunuhku di sini. Cuma ada bunyi pemanas di pojok ruangan dan suara akuarium di buffet. Kenapa aku harus terjebak dalam suasana tidak mengenakan ini? Sofa di ruang tengah malah semakin dingin di belakangku jadi kuputuskan untuk berinisiatif membuka obrolan.
"Aku terkesan kau datang ke sini padahal aku hanya memberimu satu pesan"
"Kalau tidak ada urusan penting Mayuzumi-san tidak akan mengirimku pesan" Akashi memang anak dengan sejuta pesona—baik itu pesona wajahnya atau wataknya yang menyebalkan—aku terpaksa mengiyakan saja omongannya.
"Chihiro! Bisa kau bawa kue ini ke meja?" Ibuku benar-benar sayang padaku hingga memperlakukanku seperti pembantu, aku senang tapi kalau keseringan entah aku bisa jadi apa kelak.
"Biar kubantu" akhirnya Akashi dan aku harus membantu Ibu mengeluarkan kue-kue kering itu dari cetakannya. Lain kali aku pura-pura tidak mendengar saja,ya?
"Lho, kok Kohane-chan tidak di ajak? Ibu antarkan ini dulu ya…"
Sepeninggal Ibuku ke ruang tengah aku dan Akashi kembali melanjutkan obrolan yang sempat terputus,
"Kau mendengar semuanya" tudingnya.
"Kenapa?". "Karena kau pasti merasa kesal padaku akibat kenyataan yang kau dengar"
Memang. Aku ingin sekali melempar pot bunga tepat di wajahnya, meski bukan seratus persen salah Akashi dan akupun turut bersalah tapi bukan berarti Akashi bisa berlaku seenak jidatnya pada adik-adikku. Bagaimanapun meski kami tidak akrab, aku menyayangi mereka hanya kondisi saja yang membuatku tidak bisa mengekspresikan kasih sayang itu pada tempatnya kemudian membuat orang-orang semakin salah paham. Mengesalkan, jadi sekarang aku harus marah pada siapa? Toh sudah terjadi dan terlambat, aku hanya bisa jadi figuran dan kini diburon bak hewan liar yang telah dinobatkan sebagai hewan langka(maaf aku hiperbolis).
"Kau membuatku jengkel, tapi aku juga jengkel pada diriku sendiri" umpatku.
"Aku ingin menyelesaikannya dan aku ingin mengikutsertakan Mayuzumi-san juga" sahutnya, aku tertegun, kue di tanganku nyaris jatuh membentur lantai mendengar kata-kata ajaib itu.
"Aku ingin menyelidiki soal FESTIVAL AKAGOSAI" Festival itu, yang katanya mampu menghapus keberadaan seseorang?
"Untuk apa?" tanyaku.
"Adik-adikmu mungkin akan jadi target berikutnya, Kinako menghilang dan aku tidak memiliki petunjuk lalu sekarang Kohane. Jelas sekali kan ini bakal jadi situasi yang berbahaya, kau mau kehilangan orang yang kau sayangi 'lagi'?" oke penjelasan itu juga kata terakhirnya membuat hatiku nyeri, aku sadar bahwa aku bahkan tidak bisa menyelamatkan Kinako.
"Jadi apa yang kau ingin lakukan?" tanyaku.
"Menyusup ke festival itu" otakku berputar, ada sesuatu yang mengingatkanku soal festival itu. Kalau tidak salah aku menaruhnya di atas buffet lemari makan.
"Hei, aku pernah mendapat Koran yang menjelaskan soal festival itu, mirip sih, coba kau baca saja. Koran dua hari lalu, katanya festival itu akan diselenggarakan dua minggu lagi di suatu perfektur dekat kuil kecil. Festival untuk anak-anak begitulah orang-orang menyebutnya" aku menyerahkan Koran juga selebaran kecil yan terselip di baliknya, mata Akashi membulat dan sepertinya itu yang dia cari.
"Ini dia! Ini festival yang dimaksudkan, bagaimana bisa? Tapi ini Koran yang hanya di dapatkan kalau kita berlangganan kan?" sahut Akashi.
"Kebetulan Ibu dan Ayahku selalu berlangganan Koran, seorang pebisnis gila akan media massa kan?" aku menelengkan kepala.
"Bagaimanapun aku mohon dengan sangat soal festival ini aku mau kau membantuku, demi adik-adikmu juga"
pertama kali aku melihat wajah Akashi seseirus juga selemah ini, meski aku tahu dia orang yang kadang bisa menjadi sangat menakutkan tapi hatinya sangat lembut. Mau tak mau aku tidak bisa mengabaikan permintaan itu, mulai dari sini aku akan bergabung sekali lagi ke dalam dunia itu.
"Baiklah, aku mengerti. Kau mendapatkanku jadi kau bisa meminta bantuan sekali lagi"
"Terima kasih banyak, Mayuzumi-san" aku menepuk pundaknya lalu bersiap mengangkut kue-kue berbentuk beruang lucu ke ruang tamu. Ruang tamu dan dapur dipisahkan oleh dinding kaca dengan tirai biru dan buffet menempel di bagian pojok kanan yang menyimpan akuarium, karena tirainya penuh dengan debu yang sangat tebal akhirnya aku putuskan untuk tetap menutupnya.
"Hei, Akashi. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Festival Akago—"
"KYAAAAA….!"
Sontak aku menjatuhkan kue yang sudah kumasukan ke Setoples itu lalu menghambur kea rah ruang tengah, bersama Akashi yang ikut lari denganku.
Di ruang tengah aku hanya menemukan ibuku yang terduduk di atas lantai kayu dengan wajah histeris, wajah yang penuh kengerian itu menuju kea rah beranda bertirai putih.
Beranda yang dapat diakses dengan membuka pintu kaca itu sekarang dalam kondisi terbuka lebar membuat hawa dingin masuk menyeruak kemana-mana, tidak ada yang aneh di sana namun aku baru menyadari, ada yang kurang di dalam ruang tamu bercat plum tersebut.
"KOHANEE…..!"
Sosok Kohane tidak ada lagi di sofa, gadis mungil itu tidak ada dimanapun. Darahku berdesir hebat lalu dengan langkah perlahan aku mendekati beranda… sebuah syal berwarna pink pastel terbang mengambang di depanku.
Kakiku seperti dipaku, aku gemetaran—bukan karena dingin—tapi dengan pemandangan apa yang akan kutemukan ketika aku menatap ke bawah. Sebuah bulu hitam terbang melintas ke arahku menuju ke dalam ruang tamu, Akashi terbelalak menatap ngeri pemandangan yang sedang terjadi. Di dekat karpet, bulu hitam itu terjatuh.
BULU HITAM,
BULU BURUNG GAGAK.
"..Ko..Ha..Ne?"
tak perlu waktu lama aku mendengar suara sirene ambulans.
SOSOK KOHANE SUDAH TERKAPAR DI BAWAH GEDUNG APARTEMEN…
Di bawah salju basah dan permukaan es itu, Kohane tergeletak bersimbah darah.
Anak itu Terjun bebas dari Lantai tujuh Apartemen… dan tidak BERGERAK…
Bulan XX Tanggal XX
Seorang Anak Perempuan (13) ditemukan TEWAS setelah diketahui Terjun dari Lantai tujuh Apartemen di Kota Tokyo. Tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan, mungkinkah Bunuh Diri? Sekarang pihak keluarga sedang diperiksa oleh petugas kepolisian.
Gadis malang tersebut diketahui Murid SMA TOO, Klub Basket kelas 1.
Ditemukan dalam keadaan mengenaskan, kekurangan darah dan pendarahan otak.
Pihak terkait tidak memberikan komentar. XX/XX—TOKYO—Berita Terkini.
NORMAL STAGE
SMA SEIRIN. 19.30 p.m (Hari yang Sama)
Hujan salju mengguyur hebat, pemuda bersurai biru terang itu tetap bergeming di dalam gedung olahraga sekolahnya. Dia menggenggam erat ponsel yang dirematnya hingga nyaris patah di kegelapan dan temaram cahaya.
Dia memakai seragam hitam formalnya meski hari ini dia tidak pergi ke sekolah, ya, pemuda itu pergi ke sebuah acara paling menyakitkan sepanjang hidupnya. Sahabat baiknya ditemukan meninggal di tempat setelah jatuh dari apartemen.
Nyaris dari ketinggian seratus meter dia melayang hingga membentur tanah dan membunuhnya. Pemuda itu tetap terpekur, terisak, menyesal, tidak menyangka kalau pagi ini adalah terakhir yang akan dilakukan olehnya ketika sosok mungil itu masih hidup.
"Un. A,ano Kuro-chan…"….
Apa? Apa yang ingin dikatakan oleh anak itu? Kenapa harus seperti ini? Harusnya dia bisa mendengar kata-kata tersebut hingga akhir. Tidak bisa, gadis itu baru saja dimakamkan tadi, sebenarnya acara utama dilaksanakan besok tapi berita menyebar terlalu cepat hingga acara dilakukan seadanya sekarang.
Besok adalah acara di altar persembahan, kuatkah dia? Tidak, pemuda itu tidak kuat untuk memberi salam terakhir pada sahabat, keluarga, dan adik kecilnya itu. Dia tidak kuat memberikan setangkai bunga di depan altar. Tidak bisa.
"Kuroko, ayo pulang. Besok ada hal yang harus kita lakukan" partnernya membimbing dirinya untuk melangkah pergi dari kegelapan, dia berusaha menutupi wajah yang sudah capai untuk menangis.
"Kenapa…" desisnya parau.
"Kau dengar,kan? Jangan jadikan ini SIA-SIA" kawan sejawatnya yang berambut merah membara tersebut hanya memasang wajah tegar. Di bawah guyuran hujan salju mereka membelah malam, menanti esok yang menentukan segalanya.
Meyakinkan kalau jiwa mungil itu sudah tidur di sisi yang lebih baik. Ya, Takdir memang mengerikan. Apa yang akan terjadi besok? Salju pun turun, menutup gundukan mungil basah berhias bunga di pemakaman bersama aroma bunga menyeruak menyenandungkan melodi pilu pada insan yang ditinggalkan.
Beristirahatlah dengan tenang, malaikat kecil.
...
...
THE END
...
THERES A SEQUEL
COMING SOON
SEE YOU AGAIN...
...
A/N :
Aahaha, akhirnya Berakhir. terlalu menggangtung,ya? tak apa
silakan menunggu sekuel selanjutnya.
semoga kalian menyukai teror di kisah berikutnya lagi.
cerita ini tak akan sukses tanpa kalian.
selamat siang, selamat menempuh perjalanan panjang.
-Yuzu-
