Chapter 11
lanjut lagi nih mina di fic sahabat aku :)
selamat membaca.
.
.
.
Sasuke dan Sakura sedang duduk (berusaha) tenang didepan seorang wanita yang menatap mereka dengan angkuh.
"Jadi ada angin apa hingga membuat teman lama datang ke gubukku?" ucap wanita itu dingin.
Sakra mendengus 'Gubuk mana yang lantainya terbuat dari marmer' pikirnya.
"Hanya ada beberpa pertanyaan" jawab Sasuke.
Sasuke melirik Sakura. Dan yang dilirik tentu paham. Ia mengambil 2 buah krtu dari dalam tasnya, memperlihatkan benda tersebut kepada 'teman lamanya'
"Kalian kesini hanya untuk menanyakan hal konyol seperti ini?"
"Hal konyol yang kau sebutkan itu menyangkut nyawa Hinata" ucap Sakura geram. Namun masih bisa ditahan oleh Sasuke. Pria berambut raven itu menggenggam erat tangan istrinya berusaha meredam emosi Sakura. Ia tahu, Sakura selalu sensitif dengan keselamatan Hinata. Tapi meledak didepan orang ini bukan sesuatu yang baik.
"Lalu hubungannya denganku?"
"Kau, aku sudah tahu kalau ayahmu terlibat dalam kasus pembunuhan ayah Hinata. Jadi tak menutup kemungkinan kalau kalian tahu tentang kasus penculikan ini"
"Kalaupun aku tahu, untuk apa aku berbagi denganmu?"
Brakk!
Cukup sudah,persetan dengan Sasuke yang menggenggam tangannya. Emosinya sudah diubun-ubun terhadap wanita itu.
"Seharunya kau peduli Shion"
"Kenapa harus?!" Shion berdiri menantang Sakura.
"Setidaknya dulu kita teman Shion"
Tiba-tiba nada bicara Sakura melembut, sorot matanyapun demikian. Menatap Shion, membuat Sakura ingat betapa drastisnya perubahan wanita ini. Shion yang awalnya lembut kini berubah menjadi begitu keras, penuh kebencian.
"Kau menyebutnya dulu bukan? Itu artinya lain dengan sekarang Sakura"
"Dulu atau sekarang tak ada bedanya Shion. Karena teman tak seperti tebing yang tergerus air laut. Kita batu karang yang tetap teguh walau pantai pasang seklipun"
"Karangpun akan hancur jika terus di terpa gelombang"
Sasuke melepaskan genggamannya saat Sakura menghampiri Shion yang berdiri didepannya. Menantu sah Uciha itu menggenggam kedua tangan Shion.
"Tapi itu perlu waktu panjang. Dan sebelum waktu itu tiba, kita masih bisa memperbaikinya"
Sasuke tersenyum walau tipis, mendengar perkataan bijak istrinya. Untung ia tadi tak mengajak pasangan bar-bar _Garaa & Ino_ kalau tidak mungkin suasananya akn tambah panas.
"Tak apa-apa kalaupun kau tak peduli pada Hinata atau Naruto, tapi pedulilah pada anak dalam kandungan Hinata"
Ting!
"Sakura, Naruto meminta kita bertemu. Sepertinya ada hal yang ingin dibicarakan"
Etensi kedua wanita muda itu teralihkan pada Sasuke. Dan Sasuke bergerak menarik tangan Sakura tanpa menghiraukan Shion yang masih diam ditempat. Tatapannya kosong tak tentu arah. Seakan semua pemikirannya lenyap entah kemana. Sedangkan Sakura dan Sasuke telah menghilang.
Nampaknya pesan dari Naruto itu sangat penting.
...
Di dalam mobil Naruto ada Garaa dan Ino, keduanya sama-sama diam tak seperti biasanya. 2 orang ini nampaknya sedang dalam mode serius. Mengingat heningnya suasana mobil. Tadi saat mereka sedang makan siang Naruto datang dengan wajah panik sambil mengacung-ngacungkan kunci.
Sempat ada perdebatan kecil dimana Ino menganggap kalau Konohamaru _si pemeberi kunci_ berusaha untuk menjebak Naruto. Tapi berbekal keyakinan dan kepercayaan Naruto pada Konohamaru Inopun akhirnya ikut. Setidaknya jika kahirnya Konohamaru memang mempermainkan Naruto masih ada Ino dan Garaa yang membantu, pikirnya.
"Sekarang apa?" tanya Ino bosan.
"Kita masih harus menunggu Sasuke dan Sakura" Jawab Naruto.
Kembali hening. Nampaknya untuk saat ini Naruto dkk sangat menyukai keadaa sunyi. Walau sebenarnya Naruto sendiri sedikit terintimidasi dengan kesunyian yang ia buat sendiri ini. Tak lama sebuah audi hitam menghampiri van milik Naruto. Kedua penumpangnya turun dan masuk kedalam van tersebut.
"Jadi bisa kau jelaskan?" Sasuke bertanya to the pont.
"Aku mendapatkan informasi dari Konohamaru soal gedung ini. Dia juga memberiku kunci untuk masuk kedalam_"
"Kau gila, kau percaya begitu saja pada bocah itu?" Sakura menghentikan penjelasan Naruto.
"Kali ini, biarkan aku percaya pada bawahanku. Untuk kali ini saaja. Aku tahu dia tak pernah berbuat salah, tapi untuk kali ini biarkan aku percaya padanya"
Mendengar perkataan Naruto, Sakura benar-benar tak bisa berbuat apa-apa.
Yah inilah Naruto yang ia kenal lama. Seorang yang keras dan sulit mendapatkan kepercayaan darinya. Namun sekali kau mendapatkannya, Naruto selalu percaya padamu sekalipun kau khianati ia berkali-kali.
"Baiklah jadi rencananya apa?" kali ini Garaa yang bicara.
"Kau, Sasuke dan Sakura alihkan semua penjagaan. Aku dan Ino akan masuk kedalam"
"Kenapa hanya kalian berdua?" protes Garaa
"Hanya kami, karena Ino akan meretas sistem keamanan diatas dan mengirimkan koordinat kita ke badan pusat kepolisian. Kalian tinggal tunggu disini, karna setelah koordinat lokasi itu sampai badan pusat akan mengirim bantuan" jelas Naruto detail, hingga Garaa tak berani protes lagi, cukup mengerti. Ini keadaan darurat.
Walau Garaa sadar atau tidak, setelah kejadian dirumah Naruto ia jadi sering protes pada apapun yang berhubungan dengan Ino.
"Baiklah jaga Ino" celetuk Garaa, tak ayal membuat teman-temannya melotot tak percaya, dan Ino sendiri jadi tersipu malu.
"O..oh. oke" ucap Naruto canggung.
2 tim itupun berpisah. Ino dan Naruto bergerak kebelakang gedung. Sedangkan yang lainnya bersiap masuk kegedung utama.
3 orang pria berseragam hitam menghadang mereka, bahkan salah seorang dari mereka hampir menendang Sakura jika Sasuke tak melawan. Namun keadaan tersebut tak berlangsung lama saat 2 buah van berisi anggota khusus berpakaian gelap mengepung mereka dan mengamankan dnegan mudah ke 3 pria tersebut.
Seorang keluar dari dalam van dengan cerutu dimulutnya. Menghampiri mereka dan memerintahkan supaya ke 3 pria itu dimasukan kedalam van.
"Tuan Asuma, bagaimana bisa anda disini?" tanya Garaa heran.
"Dimana Naruto?" suara Konohamaru menyela jawaban yang akan dilontarkan pamannya.
"Ku kira kalian datang karena menerima koordinat lokasi dari Ino dan Naruto" ujar Sasuke.
"Maksudmu Naruto sudah didalam?"
"Sekitar 15 menit yang lalu"
Belum kering Sasuke berbicara, Konohamaru sudah melesat sambil berteriak.
"Tinggalkan kami, kalian bertiga ikut bersama pamanku!"
...
"Ini aneh"
"Kau benar, sama sekali tak ada orang disini"
"Mungkin yang lain sibuk diluar"
2 orang ini masih mengendap-endap, berusaha meminimalisir suara supaya tidak terlalu dicurigai. Naruto dan Ino sudah ada didalam. Namun tak ada sesuatu yang menghambat mereka, bukankah itu sedikit aneh?
"Tak apa, bagaimana kalau kita kirim kodenya dari sini?"
"Kau yakin Naruto? Bagaimana kalau seseorang datang?"
"Aku yang akan menghadapinya"
Akhirnya Ino menurut dan mengeluarkan ponsel pintarnya dan membuka salah satu aplikasi, wanita itu nampak serius dengan pekerjaannya. Tinggal satu tombol sebelum derap kaki menyapa indara pendengaran keduanya.
Naruto sudah siap dengan revolver ditangannya, membacking Ino yang tengah sibuk.
"Cepat selesaikan Ino" pinta Naruto.
"Sele_"
Brakk!
Pintu didepan mereka terbuka secara paksa oleh seseorang, beruntung Naruto belum sempat melepaskan pelurunya, karena yang datang adalah Konohamaru.
"Ketua!" terlihat kelegaan diwajah Konohamaru
"Kenapa kau disini? Sudah ku bilang untuk istirahat"
"Cepat kita keluar dari sini sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan"
"Apa maksudmu?" tanya Ino
"Gedung ini jebakan, mereka tahu kalau kalian kesini. Kalian akan mengirim pesan koordinat, dan sinyal yang dihasilkan oleh pesan itu akan mengaktifkan peledak disin_"
"Kau mengkhianatiku lagi Konohamaru?" sela Naruto
Benar-benar ia merasa kecewa terhadap pemuda tersebut kali ini terlihat jelas dimatanya.
"Aku tahu, aku minta maaf. Tapi untuk yang terakhir kali, kumohon dengarkan aku. Percayalah padaku untuk sekali ini"
"Tapi pesannya sudah kukirim"
"Apa?! Kita harus segera keluar"
Raut wajah Konohamaru yang awalnya lembut kembali mengeras. Ia menarik tangan Ino, membawa gadis itu lari dan Naruto menyusul dibelakang walau masih tak terima dengan pengkhianatan besar bawahannya. Mereka ada dilantai 3 dan harus turun lewat tangga, sangat menguras tenaga. Napas keduanya habis, apalagi Ino seakan tercekik.
Belum sempat mencapai pintu utama, Naruto berhenti.
"Berbalik, pintu dikunci kita lewat jalan belakang"
Layaknya orang gila mereka memacu langkah kaki dengan begitu tergesa-gesa. Tak peduli nafas yang mulai menipis mereka terus berlari. Setibanya diluar gedung ledakan pertama terdengar dari lantai atas, terus berurutan sampai lantai dasar. Mereka ibarat berlari dikejar kematian.
Hingga ledakan terakhir berhasil membuat ketiganya terpental. Ino terlempar paling jauh, sedangkan Konihamaru dan Naruto masih tak terlalu jauh dari gedung. Kesadaran masih didapat Konohamaru ketika melihat reruntuhan bangunan hendak menimpa Naruto. Dan dengan tenaga yang tersisa ia menyeret _atau bahkan terlihat seperti melempar _ tubuh Naruto menjauh.
Namun...
Brukk!
Tbc...
Baiklah, arigato buat yang sudah setia nungguin kelanjutannya. jangan lupa review lagi ya. jaa :)
