Anata

HARD WARNING:

Pair: Sasuke Uchiha X Hinata Hyuuga slight (NaruSaku)

Rate: T+

Disclaimer: Naruto punyanya Masashi Kishimotto-san ^_^

Typo(s), EYD salah, alur Kecepetan dan Nebras kemana-mana -_-'a, OOC, lebay, Gaje, TYPOS, GARING, aneh, dll!

Yang ga suka SasuHina, Mohon tekan Tombol "Back!"

REMEMBER: YOU'VE BEEN WARNED!

DON'T LIKE, DON'T READ, DON'T FLAME!

Special for: Dhea-san, Anisa-san, Nuraliza-san, Intan-san, Mei-san, Nurul-san, Hasna-san, Kimi-san,Tiya-san, Mia-san, Dwi-san, Mahyani-san, Ifa-san, Adini-san, Allen-san, Maulidiah-san dan semuanya yang sudah menunggu Anata II dengan semangat! ^^ sebelumnya maaf telat sehari, kenapa? Kerjaan di toko numpuk :'( meski hika membiasakan diri agar tidak menggunakan alasan. Demo... harap maafin Hika ya, puasa loh! Ga boleh emosi ^_~ #PLAK#

.

.

.

Terimakasih banyak Untuk: Guest, Linevy Hime-chan, Triwik97, Nyonya Besar Gaara, Keita Uchiha, Byun Aeree, Geminisayank. sayank, Akito Brzenska, Tiya Gustiyanti, Nurul851, Virgo24, Tiasiambaton, Dindachan06, Sasuhinalemonxx, Bebek Kuning, Arihyoshi Arisa, Sakurauzumaki123, NaruDEmi, Miss Utun, Virgo Shaka Mia, ATsukiko, Rhu Raven, Uzumaki NaMa, Alicia Uchiha, Vii Violetta Anais, Aindri961, Reikan, Sukenata, Lavender, Cahya Uchiha, AyuTri Darkviolets482, SasuHina L, Natsumidouri, Okizawa Tsu Rara, Kiroy123, Hanalu93, Lady Hyuuga, Yuka, Mikyu Chan, LeaHarrold, , Hana, Chintya Lie, Guest, Mey, Guest, Lalallalala, Itory Miaw, HyugaRara, UchihaRahmachan, Flo, SasuHinaLavOnix, Bofitchan, Guest, Guest, Yumi No Park, Clareon.

Juga para Silent Reader semua! ^_^

Terimakasih banyak atas dukungan dan semangatnya ya! ^^ maaf banyak Typo karena Hika ga sempat ngedit T_T #sujud#

Selamat membaca! :")

Untuk Nurul maulidia-san, selamat ulang tahun ya! ^_^ happy birthday! wih u all the best dan semoga apa yang do cita-citakan dapat terwujud yaaa! Aammiinnn! ^_^ otanjoubi omendetou!

.

.

.

Anata II

.

.

.

Sasuke baru saja terbangun. Namun ia masih memejamkan matanya dan enggan untuk beranjak dari futon tipis di atas tatami lusuh ini. Meski badai telah mereda, namun kehangatan yang ia dapatkan dari Hinata membuatnya ingin bermalas-malasan lebih lama lagi.

Tanpa di beritahupun, pemuda Uchiha itu sudah paham jika sekarang hari sudah sudah malam. Tapi masalahnya, jam berapa sekarang? Juga, Perasaan aneh yang merayap di dadanya membuat Sasuke menyerah, ia akhirnya membuka mata dan memandang ke arah Hinata yang kini tengah menangis dalam diam. Dia kenapa?

"Kau sudah bangun?" Sasuke mengusap rambut Hinata dengan lembut. Kemudian, bungsu Uchiha itu membawa sang souke Hyuuga ke dalam pelukannya dengan lebih erat. "Kenapa kau menangis?"

Balas memeluk Sasuke, Hinata merasa ada perasaan hangat di dalam dadanya saat suara berat pemuda itu bertanya dengan lembut. Sejak kapan Sasuke-kun berubah menjadi pribadi yang ramah seperti ini? "Ukh... Yu-Yumeko-san."

Alis Sasuke langsung mengernyit. karena baru bangun tidur, ia memerlukan waktu sedikit lebih lama untuk mengingat-ingat nama asing yang ada di dalam memori otaknya. Yumeko?

"Lalu bagaimana dengan Yumeko? Apa dia juga baik-baik saja?"

"Yumeko-sama bersedia melindungi nona Hinata, beliau sudah memberikan beberapa jebakan. Terutama di jalan dekat sungai, dan sekitar rumah."

"Wanita tua yang menjadi 'wadah'nya juga sudah menjadi santapan utamaku."

Berfikir sebentar, Sasuke kemudian bertanya untuk memastikan. "Maksudmu wanita yang sudah diperalat Sayaka untuk membunuhmu?"

Hinata mendangak, menatap Sasuke dengan tatapan yang penuh dengan luka di sana. Setiap orang yang berhubungan dengan Hinata, pasti akan berakhir dengan kesialan dalam hidup mereka. Karena itulah... bungsu Hyuuga ini selalu memberi sekat pada teman-temannya, agar mereka tak bernasib sama. "D-dia dirasuki! Yumeko-san t-tidak diperalat."

Sasuke hanya mengangguk pelan, setelah itu ia malah menutup kedua matanya lagi.
"Iya, wanita bernama Sayaka itu mempunyai jurus yang hampir sama dengan Ino." Ujarnya kemudian.

Menghapus airmatanya cepat, Hinata kemudian menatap Sasuke lekat-lekat. "Da-darimana kau tahu?"

"Huh?"

Menuntut jawaban, Gadis bersurai indigo panjang itu lalu menangkup wajah Sasuke dengan kedua tangannya. "Da-darimana Sasuke-kun tahu semua ini?"

Bungsu Uchiha itu hanya bisa menghela nafas lelah sebelum akhirnya menyerah dan balas menatap Hinata. Tumben sekali dia tidak menangis hingga matanya membengkak, huh? "Memang kenapa?"

"K-kau tidak boleh menemukanku."

"Aku sudah menemukanmu."

Hinata melempar pandangan matanya, ia kemudian menunduk. "Ka-kalau begitu aku harus bersembunyi lagi." Lirihnya.

"Aku akan tetap menemukanmu." Ujar Sasuke cepat. Pemuda berambut raven itu lalu memegang dagu Hinata agar bisa menatapnya. "Hentikan permainan bodoh ini."

Hinata terkesiap. Iris lavendernya seketika melebar dengan kalimat Sasuke barusan. Mana bisa? Ia sudah melangkah sejauh ini demi kebaikan mereka! Jika Hinata kembali... maka pengorbanan Yumeko-san dan Byakushiki-sama akan sia-sia.

Ia tidak bisa egois dan mementingkan perasaanya sendiri!

Menggigit bibir bawahnya sebentar, Hinata tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. "S-sebaiknya kita makan mala-"

Cup!

Sebuah ciuman ringan Sasuke berikan untuk membungkam bibir Hinata yang ingin melarikan diri. Pemuda dari klan Uchiha itu tahu betul gelagat heiress ini saat ia terpojok atau tak bisa menjawab. Biasanya, Hinata akan memilih untuk mengalihkan pembicaraan atau melarikan diri seperti saat ini. Licik, kan?

Menyudahi kecupan singkatnya, Sasuke kemudian menyingkap selimut yang menutupi tubuh mereka. Niatnya memang Sasuke ingin tahu lebih dalam lagi. Namun, perkataan Hinata ada benarnya. "Yaahh, mandi dulu sepertinya bagus juga." Ujarnya santai.

Sementara itu si gadis yang mendapat 'kejadian tak di duga-duga' hanya bisa mematung di tempatnya, tak bisa berbuat apa-apa selain memasang wajah shock. Sasuke baru saja menciumnya! Sejak kapan Sasuke-kun berubah menjadi lebih err... lembut begitu, kami-sama? Lalu kenapa ia tidak sempat menghindar? Bagaimana jika Sakura-chan tahu-

Seketika, Hinata tersadar dari keterkejutannya begitu mendengar nama Sakura. Ada banyak sekali pertanyaan yang ingin ia tanyakan pada Sasuke sekarang! Benar juga, apa mereka berdua baik-baik saja?

Mencoba untuk tak menghiraukan debaran jantungnya yang menggila, Hinata mencoba untuk bertanya. "S-Sasuke-kun, bagaimana dengan Sa-"

"Hinata, kau bisa masak bubur?" Kalimat langka pemuda di hadapannya ini sukses membuat Hinata kembali terperangah. Apa saja kejadian yang sudah merubah Sasuke-kun hingga menjadi seperti ini?!

Kami-sama... Dia sangat berbeda!

"K-kenapa?" Tanya sulung Hyuuga tersebut heran.

Mengangkat bahunya acuh, Sasuke lalu membuka pintu fusuma kamar. "Entah, aku tiba-tiba ingin makan bubur panas."

Sasuke ngidam?!

Anata II

Saat makan malam, Hinata tak mampu lagi untuk menghindar. Sasuke yang menuntut jawaban akan alasan mengapa ia sampai melakukan semua ini, membuat gadis bermata gading itu akhirnya menyerah juga.

Ia kemudian menceritakan semuanya dari awal. Tentang rencana pertunanganya, siapa Byakushiki-sama, siapa Yumeko-sama, dan bagaimana penyerangan yang di lakukan Menma padanya satu bulan yang lalu, Semua itu Hinata ceritakan dengan jujur. Hanya saja, masih ada satu hal yang Hinata sembunyikan, dan ia harap... Sasuke tidak menyadarinya.

"La-lalu bagaimana dengan pertunanganmu sendiri, S-Sasuke-kun?" Menyuapi bubur kacang hijau hangat ke dalam mulutnya, Hinata mencuri pandang pada pemuda itu sesekali. Kalau tidak salah, bubur yang sedang di makan Sasuke itu sudah mangkuk yang ke dua.

"Aku tidak berminat." Jawaban santai pemuda Uchiha tersebut sontak membuat Hinata menghentikan aktivitas mengunyahnya. Sasuke? Tidak jadi bertunangan dengan Sakura?

"Ke-kenapa? Kau sudah janji membahagiakan Sakura-chan!" ujar Hinata kesal. "Ke-kenapa kalian tidak bertunangan?!"

Dahi Sasuke mengernyit, ia kemudian memandang Hinata heran. "Hn? Aku tidak ingat pernah bilang; 'aku janji membahagiakan Sakura.'" Balasnya cepat. "Lagipula aku juga tidak pacaran dengannya."

Hinata terkesiap, Ia buru-buru menyangkal kalimat Sasuke barusan. "T-tapi saat di kedai itu- la-lalu waktu aku pamitan, ka-kau bilang-"

Sayangnya, Sasuke balas memutus kalimat Hinata lebih cepat. "Itu karena kau seenaknya saja menyela pembicaraanku!"

"A-aku tidak ingat kau pernah bilang begitu," Ujar Hinata cemberut, ia kemudian menaruh mangkuk yang isinya tinggal setengah di atas meja. "Pokoknya, b-besok kau harus kembali ke Konoha."

"Kenapa? Kau juga harus kembali denganku." kata pemuda berambut raven itu sambil menyuapkan kembali bubur buatan Hinata ke dalam mulutnya. Entah mengapa ia sangat kelaparan sekali saat ini. Mungkinkah karena perjalanan yang menguras tenaga kemarin hingga Sasuke memerlukan banyak energi pengganti? Atau karena masakan Hinata yang enak sehingga membuatnya susah untuk berhenti? Entahlah. "Punyamu kau makan tidak?"

"A-aku tidak bisa pu-pulang-hah?" kembali, Hinata mengernyit untuk kesekian kalinya dengan pertanyaan Sasuke yang sangat 'ajaib'. "S-Sasuke-kun mau nambah?"

Adik Itachi itu hanya mengangguk sekali sebagai jawaban. "Aku sangat lapar."

Mengambilkan bubur dalam panci, Hinata kemudian meminta mangkuk Sasuke. "S-sini, aku tambah lagi?"

"Tidak, aku mau punyamu."

"H-hah?"

"Yang ada di mangkukmu." Jelas Sasuke sekali lagi. Permintaan pemuda itu sontak membuat Hinata kembali tersentak. Ya Tuhan... apa yang sebenarnya sudah terjadi dengan kepribadian Sasuke?

"Ta-tapi ini sisaku, da-dan itu tidak sopan!" Cegah sang heiress Hyuuga, gadis berusia sembilan belas tahun itu kemudian menjauhkan mangkuknya. "A-aku masih mau memakannya."

Sasuke mengernyitkan kening. Entah mengapa sikap Hinata yang menolak permintaannya ini membuat perasaan Sasuke merasa benar-benar kesal sekarang. "Kalau aku minta, ya berikan!" katanya menuntut.

"Ti-tidak bisa!" Hinata menjauh, ia mendekap mangkuknya erat-erat. "S-Sasuke-kun ambil di panci saja, la-lagi pula di sana ma-masih banyak!"

"Ck! Kau ini menyebalkan, Hinata!"

Menatap buburnya yang mulai mendingin, Hinata kemudian merasakan ada yang menggelitik perutnya. Jika di perhatikan, bubur itu terlihat lembek dengan kacangnya yang saling melekat seperti di lem. Belum lagi warnanya yang aneh (hijau pudar) seperti lendir membuat Hinata merasa mual.

Tidak, jangan sekarang!

"Berikan padaku, Hinata!" Tangan Sasuke yang entah sejak kapan meraih mangkuknya, membuat Hinata kembali terkesiap. Ka-kapan dia bergerak? "Aku lapar!"

Mempertahankan mangkuknya dengan rasa mual yang semakin menjadi, Hinata mencoba untuk lari. "Ti-tidak, ini tidak sopan!"

"Kau ini cerewet!" masih berusaha merebut, Sasuke tak perduli jika sekarang bubur itu tumpah sedikit dan mengotori baju Hinata. "Berikan padaku!"

Hinata menahan nafas untuk mengurangi rasa mualnya. Sayang, cipratan bubur yang tepat berada di lengannya malah membuat rasa ingin muntah semakin kuat.

Kami-sama...

"A-aku-ugh... ja-jangan, ini menjijikkan!"

Seketika, Sasuke berhenti. Entah kenapa perkataan Hinata barusan membuatnya sakit hati. Mengapa bubur yang ingin ia makan dikatai dengan 'jijik'? atau jangan-jangan Hinata memang tidak suka dengan kehadiran Sasuke di sini?

"Apa katamu?" Desisnya tajam. Duh Sasuke, kamu salah paham! "Aku tidak perduli, cepat berikan!"

Hinata mengerang, ia akhirnya menyerah dan membiarkan Sasuke mendapatkan mangkuk miliknya. Dari pada memperdebatkan masalah seperti itu, Hinata sekarang lebih memilih untuk kabur ke belakang rumah dan mengeluarkan makan malamnya di sana.

"Hoekkk!"

Perilaku janggal si kunoichi Hyuuga membuat Sasuke mengernyit heran. Apa yang terjadi dengannya? Apakah ini efek pil Manda, atau apa?

"Hinata?"

.

.

.

Anata II

.

.

.

Konoha, 2 Hari kemudian.

Duduk di sebrang saudarinya, Byakushaki-sama terlihat menikmati sekali jamuan makan malam ini. Wajahnya yang terlihat tenang, sama sekali tak mencerminkan bahwa ia akan membawa berita yang bisa menabuh genderang perang. Namun Byakushiki tahu, semua itu palsu.

"Hm, ada apa saudariku? Kau tidak menyentuh makananmu." Katanya santai. Tetua dari kelas souke itu kemudian tersenyum, lalu mengambilkan sepotong roti untuk Byakushiki. "Jangan menatapku begitu."

Meremas kedua lututnya, wanita berambut coklat itu memilih untuk diam sejenak dan mengartikan kedatangan sang kakak ke sini. "Apa semua ini menyangkut klan kita-"

Terkekeh pelan, Byakushaki kemudian beranjak dari tempatnya. Ia selalu berhasil membuat kalimat lawan bicaranya terpotong sendiri. "Kau memang pandai membuat selera makanku hilang, saudariku."

Mata Byakushiki-sama menajam, ia terus memandangi sang kakak yang kini berbalik memunggunginya. "Siapapun pasti curiga pada sesorang yang telah 'mengurung' adiknya seperti ini, dan ia datang dengan wajah yang ramah sekali."

"Tentu saja, saudara yang membangkang itu pantas untuk di hukum, kan?" Balas Byakushaki-sama sengit. "Ini bukan lagi tentang Hinata, tapi pembalasan karena kau telah berani melawanku, Byakushiki."

Bangkit dari duduknya, wanita yang rambutnya di sanggul rapi itu kemudian mulai mencium sesuatu yang tidak beres. "Lalu apa artinya makan malam ini?" katanya mendesak. "Apa ini semacam bentuk hukumanku juga, kakak?"

Byakushaki-sama berbalik, tetua dari kelas atas itu kemudian menatap adik kandungnya tajam. "Ini peringatan." Desisnya mengancam. "Aku menemukan bukti bahwa kau ikut campur dengan kematian Hinata, saudariku."

Seketika, Amethyst wanita beryukata putih itu terbelalak lebar. Ke-kenapa kakaknya bisa tahu- ya Tuhan, bagaimana keadaan Hinata sekarang? Bagaimana juga dengan Yumeko-san?

Mampukah mereka semua bertahan?!

"Cih, kau memang seorang penghianat, saudariku."

Tubuh Byakushiki-sama gemetar hebat, ia bahkan mulai rubuh dan jatuh terduduk di hadapan kakaknya. Jika Byakushaki sudah mengetahui tentang Hinata, berarti dia akan sungguh-sugguh mengejar heiress itu untuk di bunuh!

Tuhan... apa yang bisa ia lakukan untuk menolongnya?

Berlutut di depan adiknya yang tengah terguncang, laki-laki berambut putih itu kemudian mendesis tajam. "Kau akan di asingkan. Tahtamu akan ku gulirkan." Ancamnya keras. "Jika kau berani mencegahku untuk membunuh para penghianat, ku pastikan aku juga akan membunuhmu, saudariku."

Seketika, Byakushiki-sama benar-benar telah kehilangan tumpuan. Semua tiang kuat yang menyokongnya, seakan rubuh menjadi puing-puing begitu saja hanya dengan kata-kata.

Kakaknya ini... terlalu kuat.

"Camkan itu, saudariku." Ujar sang tetua souke yang kini telah berjalan menjauh, meninggalkan Byakushiki-sama yang terpuruk di lantai tatami kamarnya. "Kau akan pergi besok."

Hinata-sama...

Siapapun, tolonglah Hinata-sama...

Anata II

Hanabi baru saja selesai rapat, agenda padat yang harus di hadiri benar-benar membuatnya lelah. Tentang politik klanlah, tentang hubungan antar kelas (souke-bunke)lah, keseimbangan dengan klan lainlah, bah! Hyuuga itu masih menggunakan aturan yang kolot! Sampai kapan klan ini akan terus berada di bawah kungkungan menyebalkan seperti ini hah?

Mengusap batu nisan kakaknya yang tertutup salju, gadis berambut cokelat itu kemudian duduk di samping makam Hinata. "Nee-sama, menjadi heiress itu menyebalkan!" katanya jengkel.

Tidak ada jawaban atas kalimatnya barusan. Beberapa detik kemudian Hanabi Mendesah pelan, gadis yang baru berusia tujuh belas tahun itu lalu menceritakan semua uneg-unegnya di depan pusara sang kakak. Meski ia tahu, Hinata-nee hanya bisa mendengarkan semua keluh-kesahnya sekarang. Namun... bukankah itu lebih baik daripada tidak sama sekali?

"Mereka semua itu kuno, pantas kakak sangat tertekan." Ujarnya kesal. "Aku sekarang mengerti kenapa ayah begitu tegas dengan kita, maka dari itu aku akan membuat revoulusi klan Hyuuga!"

Hanabi kemudian berfikir, langkah awal apa yang akan ia ambil?

Mengganti bunga yang layu di makam kakaknya, adik Hinata itu kemudian menaburkan beberapa kelopak bunga ume (plum) di atas pusara Hinata. "Ah ngomong-ngomong, musim akan segera berganti loh, nee." Ujar Hanabi sambil tersenyum hangat. "Bunga yang kubawakan sekarang, adalah buktinya. Tapi... apa bunganya cocok untuk berziarah ya?"

"Bunga Ume sudah mekar ya? Padahal baru awal februari." Sontak, Hanabi berjengit. Ada orang lain di belakangnya!

"Siapa kau!" Memasang kuda-kuda dengan cepat, bungsu Hyuuga itu kemudian mengaktifkan Byakugannya untuk menganalisa laki-laki asing yang ada di hadapannya sekarang. Kenapa ia bisa masuk ke manison Hyuuga dengan mudah? Apakah dia penyusup? "Apa maumu?"

Terkekeh pelan, laki-laki itu kemudian melepaskan topengnya. "Yo, apa kabar, Hanabi-san?"

Heiress itu sontak terkesiap. Manik gadingnya terbelalak dengan lebar. Sungguh, Hanabi tak mampu menyembunyikan keterkejutannya dengan kedatangan orang ini di pemakaman klan Hyuuga. Karena, dia adalah... "K-kau..."

"Sedang mengunjungi Hinata-san, ya?"

"K-K-K-Ka-Ka-Kakashi-sama!?"

.

.

.

Anata II

.

.

.

Gadis berambut indigo itu menyandarkan punggungnya pada tiang di teras rumah. Salju yang kini mulai menipis membuatnya berani untuk keluar dan sedikit memanjakan diri menikmati pemandangan di sekitar. Selain karena bosan di rumah terus, Hinata juga ingin bayinya mendapatkan udara segar untuk bernafas. Yah, meski Hinata tahu usia kandungannya baru akan menginjak empat bulan, tapi kalau ibunya senang, bagus juga untuk janin kan?

Memejamkan kedua matanya, Hinata kemudian mengambil nafas dalam untuk membuat tubuhnya semakin rileks. Usapan lembut pada perutnya juga berpengaruh untuk psikologis sang ibu agar berdampak baik pada bayinya.

Ahh... bukankah semua ini sangat damai, kami-sama?

Sayangnya, derap langkah Sasuke yang mendekat membuat Hinata tersadar dan buru-buru menghentikan aktivitasnya. Ia tidak ingin pemuda itu tahu tentang apa yang ia lakukan untuk bayi mereka-uhm, bayinya. Karena memang, Hinata belum mengatakan hal ini pada Sasuke. Akan lebih baik jika ia tidak tahu...

"Sedang apa di sini?" duduk di samping sulung Hyuuga, bungsu Uchiha itu lalu menyerahkan segelas minuman berwarna hitam pekat yang baunya menyengat pada Hinata. "Minum." Perintahnya kemudian.

Souke berambut indigo itu mengerjab beberapa kali. Tangannya yang sempat terulur untuk mengambil gelas itu, urung di lakukan saat indra penciumannya menghirup sesuatu yang sangat amis. S-sebenarnya apa ini?

"Uhm, i-ini amis." Ujar Hinata pelan, ia kemudian membekap mulutnya sendiri yang kini mulai merasa mual. "S-sebenarnya apa itu, Sasuke-kun?"

Pemuda itu tak langsung menjawab, ia malah menyodorkan gelas itu tepat di depan wajah Hinata dan memaksanya. "Minumlah, ini agar kau bisa cepat pulih."

Menggeleng pelan, gadis beryukata ungu itu memilih untuk mundur pelan-pelan. "A-aku tidak mau." Ujar Hinata lirih. Rasa mualnya semakin menjadi sekarang. "A-amis."

Sasuke mengernyit. "Memang ini amis, lalu kenapa?"

Mengerang pelan, Hinata kemudian mencengkram perutnya yang semakin bergejolak akibat ulah Sasuke. Duh, tidakkah dia paham jika Hinata sedikit bermasalah dengan yang amis-amis, huh? "To-tolong jauhkan."

"Ini hanya darah ular, Hinata. kau-"

Seketika, souke Hyuuga itu sudah lari ke belakang rumah untuk mengeluarkan sarapan paginya.

Sasuke mengernyit lagi. Bagian mananya yang salah? Sasuke hanya ingin Hinata sembuh agar bisa membawanya kembali ke Konoha, namun selalu saja apa yang di lakukannya malah membuat Hinata lari ke belakang rumah.

"Dia selalu saja muntah." Ujar pemuda berambut raven itu pada dirinya sendiri. Apa Hinata mengalami tukak lambung, ya?

Baru saja ia akan beranjak untuk menyusul Hinata, Sasuke di kejutkan dengan aura yang tak asing lagi-tengah menuju ke rumah ini.

Satu, tiga, empat, delapan, sepuluh, tiga belas, lima belas, astaga... ada dua puluh lima orang! Apakah mereka berniat untuk melukai Hinata?

Memejamkan kedua matanya, Sasuke memfokuskan diri pada Manda yang kini bertarung melawan mereka di tebing tempat Hinata terjatuh. Chakra ini... Gaya bertarung ini... tidak salah lagi.

Klan Hyuuga!

"Hinata!"

.

Anata II

.

Nafas Hinata terengah. Ia dan Sasuke sudah berlari sangat jauh meninggalkan rumah Yumeko-san. Mengapa dan kenapa mereka berlaripun, Hinata masih belum tahu jawabannya karena Sasuke tak mau mengatakan apa-apa. Namun satu yang Hinata tahu... tatapan Sasuke itu pasti ia tahu bahwa telah terjadi sesuatu.

Mencengkram tangan pemuda itu lebih kuat, Hinata berharap agar Sasuke lebih peka dan memperhatikan keadaannya. "S-Sasu-kunhh... a-aku su-sudah kelelahan-hosh, hosh!"

Sayangnya, Sasuke malah balas mencengkram tangan Hinata dan berlari semakin cepat. A-apa?! apa dia tidak paham maksud Hinata?

"Kau harus selamat." Meski samar, sulung Hyuuga tersebut tetap bisa mendengar suara Sasuke yang begitu tajam. Kenapa ia sekarang di selamatkan oleh Sasuke? Sebenarnya apa yang terjadi?

Melemaskan tautan tangan mereka, Hinata lalu menarik tangannya agar terlepas. Sebenarnya tidak masalah jika ia berada dalam kondisi 'yang biasanya' dalam keadaan seperti ini. Sejauh apapun, ia tidak akan menyerah untuk terus berlari demi menyelamatkan diri.

Tapi, sekarang...

"A-aku sudah tidak kuat-hosh!"

Sasuke kemudian berhenti. Ia menatap Hinata yang tengah membungkuk untuk mengambil nafas banyak-banyak. Ada apa? padahal Hinata dulu lebih kuat dari sekarang. "Kau sudah kelelahan?"

Memegang batang pohon di sebelahnya, Hinata mulai mati rasa pada kakinya sekarang. Sial, ia hanya bertelanjang kaki dan berlari-lari di atas salju begini. "T-tunggu sebentar-hah... hah," menelan ludanya dengan agak susah, Hinata kemudian melanjutkan. "Ke-kenapa kita berlari, Sasuke-kun?"

Pemuda Uchiha itu melepas genggaman tangannya. Ia kemudian mendekati Hinata dan berdiri tepat di samping gadis itu. "Apa klan Hyuuga melakukan kudeta?"

"H-huh?"

"Kenapa sesama klan, mereka mengicarmu?" Desak Sasuke. "Mereka sekarang tengah mencarimu."

"Mereka? S-siapa?" Gadis berusia sembilan belas tahun itu mengernyit. "M-maksud Sasuke-kun ap-KYAAAA!"

Membawa Hinata untuk segera pergi, Sasuke tidak mau membuang waktu lagi sekarang. Maka dari itu ia berinisiatif menggendong sulung Hyuuga itu dengan gaya bridal style untuk menghemat waktu. Karena yang terpenting untuk saat ini... adalah keselamatan Hinata sendiri.

"S-Sasuke-kun, le-lepaskan! A-aku... tu-tu-tu-turunkan aku-"

"Katakan padaku." Nada Sasuke yang terkesan menusuk sukses membuat Hinata terdiam. Tatapan matanya yang tajam juga membuat Hinata merasa bahwa Pemuda itu... apakah ia sudah kembali lagi menjadi Sasuke yang dingin seperti dahulu?

Sasuke yang membencinya.

"H-huh?"

"Kau hamil anakku?"

DEG!

.

.

.

Anata II

.

.

.

Berjalan dengan tergesa-gesa, Hanabi Hyuuga kemudian menoleh kebelakang sesekali. Ini adalah kawasan pengasingan yang sangat di awasi, tidak sembarangan orang yang bisa masuk kesini. Jika ia sampai ketahuan datang untuk menjenguk Byakushiki-sama, tamatlah sudah riwayatnya.

"Masuklah Hanabi-sama." Bungsu Hyuuga itu sedikit terperanjat. Ia bahkan belum sempat mengetuk pintu sebagai tanda kehadirannya-ah benar, Byakugan.

Membuka pintu reyot itu tanpa ada keraguan, Hanabi kemudian masuk ke dalam ruangan yang cukup gelap dan lumayan pengap. Apakah... tempat pengasingan harus menyesakkan seperti ini?

"Tidak apa-apa, nanti anda akan terbiasa." Ujar Byakushiki-sama hangat. "Wataru, bisa buka jendelanya sedikit?"

Sosok pemuda kelas bawah yang ada di samping tetua itu kemudian berjalan di atas tatami yang lusuh, menjalankan perintah atasannya dengan patuh. "Sudah, Byakushiki-sama."

Mengangguk pelan, wanita beryukata putih itu kemudian berterimakasih sebelum akhirnya kembali menatap Hanabi. "Ada apa Heiress-sama sampai datang kemari?" Tanyanya ramah.

"Apa panggilan Hime-sama hanya untuk nee?" Tanya adik Hinata itu pada Byakushiki. Namun, buru-buru ia segera menambahkan. "Tidak, aku tidak mengurus masalah seperti itu."

Menunjuk tempat kosong di depannya dengan sopan, Byakushiki-sama mempersilahkan sang pemimpin baru untuk duduk dan mengobrol empat mata dengannya. "Maaf jika kotor, Hanabi-sama."

Menajamkan kedua matanya, gadis berusia tujuh belas tahun itu sekarang harus bisa menahan emosi. Ia memang sangat kesal dengan rencana bodoh yang Byakushiki-sama lakukan (yakni tentang kematian palsu Hinata). Namun di sisi lain, ia juga merasa harus berterima kasih karena Byakushiki-sama hanya ingin melindungi nyawa kakaknya agar selamat. Meski begitu... ia tetap tidak bisa membiarkan masalah ini begitu saja, bagaimana jika Byakushaki-sama sampai tahu yang sebenarnya?!

"Apa Kakashi-sama yang memberitahu anda?" Tanya tetua kelas bunke itu halus. "Jika benar, maka saya akan menjelaskan semuanya."

Mengepalkan telapak tangannya, Hanabi sudah bertekad untuk tidak terpengaruh dengan suasana. "Ya, aku tahu bahwa kau yang sudah merencanakan kematian palsu ini." Jawabnya lantang. "Meski niatmu baik, aku tidak akan berterimakasih."

Tidak, ia harus adil. Ia adalah pemimpin sekarang.

Byakushiki-sama hanya tersenyum kecut. Ia lalu memandang kosong lantai tatami di ruangan kecil ini. Tidak ada lagi yang bisa ia lakukan karena Wataru juga sudah di kurung bersamanya, lalu apa lagi yang bisa ia lakukan untuk melindungi Hinata?

"Apakah... saya bisa meminta bantuan padamu, Hanabi-sama?"

"A-apa yang kalian lakukan?" Mata mutiara sang bungsu Hyuuga sontak terbelalak. Karena, kini Byakushiki-sama bersama pemuda di belakangnya malah bersujud dan memohon kepadanya. Meski ia memang marah dengan tindakan tetua bunke ini, namun bukan berarti Hanabi suka jika ia di puja-puja sampai sejauh ini. "Ba-bangunlah!"

Membenamkan wajah pada kedua lengannya, Byakushiki-sama membiarkan air mata menetes hingga heiress baru itu mendengarnya terisak. Sungguh, ia melakukan semua ini dengan tulus! Ia hanya ingin menyelamatkan Hinata dari kakaknya karena memang ia tidak salah apa-apa!

Ia sangat percaya pada Hinata. Karena... dia adalah putri yang sangat kuat.

"Hen-hentikan semua ini, cepat bangun-"

"Hiks, Tolonglah Hinata-sama..."

.

.

.

Anata II

.

.

.

Sakura Haruno mengerang. Ia memang meminta misi untuk sekedar menghibur diri, namun jika menjadi sekretaris Hokage seperti ini maka ceritanya lain lagi!

"Na. ru. to!" Teriaknya kesal. "Apa-apaan kau ini!"

"Hm? Sudah selesai?" Menandatangani dokumen perjanjian dengan tenang, pemuda Uzumaki itu bersikap seolah-olah semuanya baik-baik saja. Dan Karena kelakuan 'super tenang' nanadaime itulah Sakura semakin geram sekarang.

"Mouu, ini bukan keahlianku!" Ujar gadis berambut merah muda itu frustasi, ia kemudian menyandarkan wajahnya di atas meja. "Kenapa kau betah seperti ini, Naruto?"

Tersenyum simpul, putra semata wayang Kushina Uzumaki itu kembali menanggapi jeritan keputusasaan Sakura dengan tenang. "Yah, aku dulu juga sepertimu sewaktu ikut dengan Gaara."

"Tak kusangka kau betah."

"Sudah terbiasa lebih tepatnya." Ralat Naruto. Ia lalu menghentikan aktivitasnya sejenak untuk menatap kunoichi Haruno tersebut. "Kau lelah?"

Sakura mengangguk lemas. "Bolehkah istirahat sekarang? Aku lapar."

Meraih tangan Sakura cepat, Jinchuriki Kyuubi itu kemudian menggenggamnya erat-erat. "Bisa bicara sebentar?"

"E-eh? Kenapa tiba-tiba-"

"Ini... Mengenai Teme saat itu." lirih Naruto.

Sakura segera bangkit. Emeraldnya menatap dengan serius sosok Naruto yang sedang mengalihkan pandangan matanya ke arah lain. "A-ada apa? dia sudah ketemu?"

Menggeleng pelan, pemuda bersurai pirang itu lalu menunduk dalam-dalam. Ia terlihat mengambil jeda sebentar sebelum menjawab. "Bi-bisakah... kau melepaskannya, Sakura-chan?"

"Eh?"

Menggenggam tangan itu lebih erat, Naruto lalu memberanikan diri untuk menatap gadis yang sudah mencuri hatinya itu. sampai kapanpun, Sakura akan selalu sama di matanya; begitu berarti dalam hidupnya. Oleh karena itu, ia benar-benar akan merelakan Sakura jika ia bahagia bersama orang selain dirinya. tapi, jika tidak... ia akan melindungi Sakura sampai mati.

"Kau... benar-benar menyukai Sasuke?" ujar Naruto lirih.

Gadis berambut sebahu itu terkesiap, ia buru-buru menarik tangannya. "A-apa maksudmu?"

"Sakura... bagaimana jika teme sudah bahagia?"

Emerald itu semakin terbelalak. A-apa yang sebenarnya ingin dikatakan oleh Naruto? Mengapa semua ini... begitu tiba-tiba? Bukankah tiga hari yang lalu mereka sudah berjanji untuk tidak lagi membahas hal ini?

"Aku pergi, mencari jati diri. Entah kapan aku akan kembali, namun kau harus tahu bahwa aku tidak pernah mengingkari janjiku pada Aniki. Jika memang takdir, kita pasti akan bertemu lagi dobe. Kejarlah impianmu." Ujar Kotetsu ragu. "Yah... mungkin kira-kira pesannya seperti itu."

"Kau boleh kembali."

"H-hah?" Kotetsu menggaruk telinga, entah kenapa nada Naruto terdengar sangat dingin padanya sekarang. "M-maaf?"

"Kau boleh kembali." Ujar Naruto lagi. Dari nada bicaranya yang naik satu oktaf, Kotetsu bisa menyimpulkan bahwa mereka memiliki 'sesuatu' yang harus di bicarakan secara pribadi tentang 'pesan' Sasuke saat ini. Ada apa?

Tidak mengerti dengan atmosfer ruangan ini yang tiba-tiba mulai berubah, penjaga gerbang itu kemudian memilih untuk keluar dan meneruskan pekerjaannya.

Bukankah lebih baik jika tidak memperkeruh air yang sudah keruh?"B-baik, saya permisi, Hokage-sama."

Blam!

Begitu Kotetsu telah menghilang di balik pintu ini, Naruto segera mengarahkan pandangannya pada Sakura. Apakah... dia baik-baik saja?

"S-Sakura-chan-"

"Daijoubu." Sergah gadis itu cepat. "Daijoubu."

Naruto mematung. Ia bahkan menjadi orang linglung yang tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Padahal tadi ia bisa dengan baik memerankan 'keadaan baik-baik saja' pada Kotetsu, namun sekarang... untuk menenangkan Sakura-chan saja Naruto tidak bisa.

Cih, ia memang payah.

"Jangan..."

Menatap Sakura lebih dalam, Kalimat gadis berambut pink itu barusan sukses membuatnya mengernyitkan alis."Jangan?"

"Jangan membahas Sasuke lagi, ya?"

"Jawablah Sakura-chan." Kata Naruto lembut. "Bisakah kau mengatakan padaku, apa yang akan kau lakukan kedepannya?"

Menatap Naruto dalam, kunoichi Haruno itu lalu menautkan kedua tangannya. Ia akan Memantapkan hati dengan keputusannya saat ini. "A-aku memang menyukainya." Jawabnya mantap. "Ta-tapi... aku tetap akan membatalkan pertunanganku Sasuke-kun."

Jawaban tegas dari gadis di hadapannya ini sontak membuat Naruto mendangak, pemuda berkulit tan itu bahkan memelototi Sakura tanpa sadar.

"S-secepat itukah?" Ujarnya tak percaya. "K-Kau benar-benar akan membatalkannya?"

"Ma-matamu mau keluar." Kata Sakura mengingatkan. "Tapi, jangan bertanya mengapa aku melakukan hal ini. Meski aku memang menyukainya, tapi... aku sadar bahwa perasaanku ini memang tidak bisa di paksakan." Sambung Sakura jujur.

"Aku tahu." kata Naruto cepat. "Jangan tanya kenapa aku tahu."

"Kau membalik omonganku?" kening Sakura mengernyit.

Nanadaime itu hanya meringis. "Tidak, 'ttebayo."

"Tapi Naruto..." Menatap lembut sang Hokage ketujuh di depannya, Sakura kemudian meraih tangan Naruto dengan gerakan yang agak kikuk, lalu menggenggamnya. Ia terlihat sangat serius. "Jika Sasuke memang bahagia dengan jati dirinya yang sekarang, ma-maka aku juga akan mencari kebahagiaanku sendiri."

Pemuda Uzumaki itu sontak terperangah dengan kalimat Sakura barusan. A-apa maksud putri semata wayang Haruno itu? dari caranya menggenggam tangan Naruto... Apakah Sakura bermaksud untuk membantunya melewati masa sulit ini bersama-sama, atau justru... Meminta tolong untuk mencari pengganti Sasuke? "H-hah? Kau menembakku, Sakura-chan?"

Ting!

"..."

BUAGHH!

"DASAR TIDAK PEKA! AKU SEDANG BERUSAHA MOVE ON, BODOH!"

"A-ACK, ITAI SAKURA-CHAN!"

"KAU ITU YANG TIDAK MENGERTI PERASAAN PEREMPUAN!"

BRUAKKHHHH!
"AAAWWW! SALAHKU APA?"

Hanabi yang mendengar semua percakapan itu hanya tersenyum simpul. Sepertinya Naruto dan Sakura tidak perlu mengetahui kebenaran yang sebenarnya.

Bahwa Sasuke, pemuda Uchiha yang menjadi kakak iparnya itu kini tengah bersama Hinata untuk melindunginya. Dan jika Hokage bisa menangkap 'Pesan Sasuke yang sebenarnya' maka Hanabi tak perlu cemas bahwa ayah dari keponakannya itu sudah mengamanatkan Sakura pada Naruto untuk menjaganya. Semoga saja, Hokage berkumis kucing itu peka dan bisa memenangkan hati Sakura.

Semoga.

Berjalan menuju kembali ke Mansion Hyuuga, Hanabi kemudian mulai menyusun rencana untuk menghadapi Byakushaki-sama. Tetua itu... sesekali perlu diberikan kejutan heheheh.

Dan untuk Byakushiki-sama, Hanabi sebenarnya ingin mengembalikannya ke mansion Hyuuga. Namun... ia juga telah melakukan kesalahan yang dianggap klan sebagai pengkhianat. Melihat dari sudut pemimpin yang harus adil, maka Hanabi akan membiarkan Byakushiki-sama menebus kesalahannya di dalam pengasingan. Namun, jika melihat dari sudut adik Hinata... tentu ia akan merenovasi bangunan lapuk itu agar layak di sebut dengan rumah!

Apa keputusannya salah? Menurutnya sih tidak, Jika seseorang bersalah... maka ia layak mempertanggung jawabkan perbuatannya dalam artian positif, kan?

"Nee-sama..." membayangkan wajah kakaknya bersama pemuda dingin dengan putra kembarnya, sukses membuat Hanabi merona. Seperti apa ya, keponakannya kelak?

Tapi demi nama kami-sama, Hanabi bersumpah akan melindungi kebahagiaan kecil itu apapun yang terjadi! Dan dengan kekuatannya sebagai heiress Hyuuga yang ia miliki, Hanabi akan melindungi mereka berdua dengan seluruh jiwa dan raganya.

Bersama seluruh ikatan dengan teman-teman mereka, dan juga desa. Hanabi akan... melindungi kakaknya seperti yang pernah ia janjikan pada Hinata.

Mengusap airmata yang mulai menggenang, bungsu Hyuuga itu kemudian berdoa dalam hati. Semoga kelak, ia bisa bertemu dengan Nee-san dan keluarga kecilnya nanti.

"Bahagia selalu ya, Nee..."

.

.

.

Bersambung

.

.

.

PENTING!: Gimana Sasuke bisa tahu Hinata hamil? Gimana hubungan NaruSaku kedepannya? Gimana dengan Hanabi melawan Byakushaki-sama? gimana dengan hmpp- #dibekep readers# oke, oke Hika jelaskan! :D Hanabi sudah di beritahu yang sebenarnya oleh Kakashi, lalu dia akan melindungi SasuHina dari dalam klan Hyuuga sendiri. Terus gimana 25 orang tadi? '_' ada di chap depan nanti ya? #digaplok#

Tadinya mau buat chap 11 END, tapi ternyata masih kepanjangan kalau dibuat jadi satu. Jadi besok aja endnya ^^ ya? Ya? End ya? #dihajar# oke, sudah di putuskan chap 12 adalah End, lalu sequelnya 3 hari kemudian. Gimana? ;3 jadi 10 hari lagi anata udah tamat :') jangan nangis ya... #siapa yang nangis thorrrr!# semoga humor SH garing di chap ini agak menghibur, maaf kalau masih gantung :') demo... alasan sebenarnya Anata gak sampai 25 chap adalah: tadinya aku mau buat SS nikah dan punya anak Sarada, lalu akur deh sama anak SasuHina, tapi dapat peringatan keras T_T #dihajar# aku juga ga mau minna terluka :') jadi sampai segini aja ya ceritanya? ^^ apabila banyak kekurangan (banyak banget!) mohon di maafkan :')

Don't Read and Run please?

I'll be pleased if you leave a review for me ^_^

Salam hangat, Hikari No Aoi