Waktu menunjukan pukul sepuluh malam. Jalan yang Sasuke lalui tidak terlalu ramai mengingat sekarang sudah cukup malam. Gadis yang berada di punggungnya pun masih menyandarkan kepala di bahunya, tangannya melingkar di lehernya menandakan gadis itu masih tertidur pulas. Sasuke senang menikmati momen-momen seperti ini, hanya berduaan dengan Sakura -walaupun dia tidur-. Rasanya ingin sekali waktu terhenti saat itu juga, menikmati momen bersama Sakura lebih lama dan tak ada yang mengganggunya.

"Kau tidak merasa berat?" Suara yang setengah bergumam karena pipinya yang menyandar di bahu Sasuke itu membuat pria yang menggendongnya berhenti karena terkejut, suara tadi menariknya dari lamunan indah bersama Sakura. Kemudian menoleh kepinggir -melihatnya-.

"Kau tidak tidur?" Kata Sasuke. Nada suaranya terdengar datar, seperti tidak terkejut. Tapi Sakura cukup tau kalau pria itu terkejut, dari degupan jantungnya yang dapat ia rasakan.

"Aku hanya nyaman berada di punggungmu." Katanya. Dan Sasuke kembali melanjutkan jalannya. Dia pikir selama berjam-jam menggendong Sakura, gadis itu tertidur. Ternyata dia hanya diam dan menikmatinya.

"Kau benar-benar ingin mengerjaiku ya? Kau itu berat tahu!" Nadanya masih terdengar dibuat-buat seperti kesal, tapi menurut Sakura itu malah sebaliknya bahkan seperti tak keberatan kalau dia lebih lama berada di punggungnya. Tapi Sakura tak peduli, perasaannya merasa lebih baik sekarang, daripada sebelumnya. Dan mendengar perkataan Sasuke, Sakura hanya mendengus.

Tidak lama kemudian mereka telah Sampai di apartemen Sasuke. Pria itu membuka kunci pintunya menggunakan sebuah kartu dan bunyi klik membuka pintu itu. Sasuke meletakan Sakura di atas sofa dan dia bergegas ke kamar mandi untuk mencuci muka. Setelah itu kembali lagi ke ruang tengah dan melihat Sakura masih melamun dengan posisi telentang di atas sofa.

"Kau baik-baik saja?" Sasuke hanya penasaran dengan suasana hati gadis merah muda itu, soalnya tadi sore dia mengalami patah hati dengan cinta monyetnya -menurut Sasuke-.

"Hm, kurasa sedikit." Katanya. Bibirnya mengerut dan pipinya mengembung, kemudian menghembuskan nafasnya secara perlahan. "Sasuke, apa aku tidak menarik?" Katanya lagi membuat Sasuke manaikkan alisnya sebelah. "Kau tau, Naruto-kun lebih memilihnya daripada aku." Suaranya terdengar sangat putus asa.

"Kau bercanda?" Sasuke setengah tertawa pelan. "Kau adalah obsesiku. Menurutku si Dobe bakka itu memang tidak pantas memilikimu." Sasuke menggebu-gebu, merasa puas karena satu masalahnya tersingkirkan ha ha.

Sakura melirik Sasuke. "Aku tidak yakin kalau kau tidak akan sama seperti Naruto-kun." Mata hijaunya yang tajam sangat mengintimidasi Sasuke. Tapi pria itu tetap tenang dan membalas tatapannya dengan sebuah seringaian.

"Setidaknya perasaanku tidak berubah selama bertahun-tahun, kau masih ragu padaku?" Meyakinkan Sakura.

"Y-Ya, memang, mungkin, seharusnya kau membuatku menyukaimu dan meyakinkanku untuk memilihmu, dari kelima Uchiha lainnya." Sakura tersenyum dan memalingkan wajahnya dari Sasuke.

"Aku tidak yakin kau menyukai mereka sebanyak kau menyukaiku." Celetuk Sasuke. Kini pria itu yang menyunggingkan senyumnya menahan tawa.

"Hei!" Teriak Sakura seraya melemparkan bantalan sofa pada Sasuke dan berhasil ia tangkap.

"Benarkan?" Goda Sasuke yang mulai tertawa. Wajah Sakura memerah karena malu dan di balik raut wajah cemberutnya ada sebuah senyum yang coba Sakura sembunyikan.

"Baiklah ini sudah malam, besok kau sekolah dan sekarang tidurlah di kamarku." Kata Sasuke sambil menunjuk kamar yang berada di belakangnya menggunakan jempol.

"Tidak, aku tidak mau sekolah! Setidaknya sampai hatiku membaik." Tolak Sakura.

"Jadi kau mau bolos lagi?" Tatapan Sasuke mulai menajam menatap Sakura tak suka. Maksud Sasuke, hanya karena patah hati dengan cinta monyetnya, Sakura mengabaikan sekolah. Ya, ini pertama kalinya Sasuke berpikiran sedewasa ini, masa depan Sakura itu lebih penting dari egonya.

"Ayolah Sasuke, sehari saja." Pintanya manja. Sasuke menghela nafas dan menghembuskannya.

"Oke, hanya untuk besok, dan setelahnya kau harus sekolah." Sakura mengangguk senang seperti anak kecil yang di beri permen.

"Baiklah, aku akan tidur." Sakura menguap dan ia tutupi dengan telapak tangannya. "Awas saja jika kau berani-beraninya menyentuhku saat tidur." Ancam Sakura.

"Kau seperti, mengharapkanku untuk melakukannya." Dengus Sasuke. Sakura berteriak dari dalam kamar seraya membanting pintu dengan keras. Kemudian Sasuke kembali tertawa, merasa sangat puas dan senang karena ia bisa menggodanya seperti ini.

Sasuke harap semuanya berjalan seperti yang ia inginkan. Sakura cukup memberi banyak respon untuknya. Ya, sejak kejadian itu, Sakura sering sekali datang ke apartemennya. Meskipun tidak menunjukan kalau dia ingin terus bersamanya, paling tidak Sasuke cukup banyak menghabiskan waktu dengan Sakura.

Sasuke pun tertidur dengan segala angan-angan indahnya bersama Sakura. Gadis itu, selalu datang menjadi mimpi indah untuk Sasuke. Sasuke tak keberatan jika ia harus menjadi penghibur hati Sakura karena patah hati dengan pria lain, Sasuke tak keberatan jika harus mendengar ocehan gadisnya yang menceritakan tentang pria lain, Sasuke tak keberatan jika dirinya menjadi sandaran saat Sakura sedih. Sungguh, Sasuke tak pernah keberatan. Asalkan hanya dirinya, hanya Sasuke yang bisa membuat Sakura tersenyum kembali, hanya Sasuke yang selalu ada untuknya disaat Sakura butuh, hanya Sasuke, dialah yang Sakura butuhkan untuk selamanya.

"Sasuke,"

Bahkan suara-suara yang berada di mimpinya pun terdengar sama dengan suara manisnya.

"Sasuke,"

Suaranya mengalun indah bagai suara malaikat yang ingin membawanya ke surga. Sasuke semakin enggan untuk membuka matanya.

"Sasuke!"

Byur!

Sasuke tersentak dan terbangun dari tidurnya seketika. Tubuhnya basah kuyup karena siraman air yang Sakura lakukan, gadis itu setengah menahan tawa melihat Sasuke yang melotot karena kaget.

"Apa kau sudah gila?!" Teriak Sasuke tak terima. Belum pernah ada orang yang membangunkannya dengan cara seperti ini.

"Kau tidur nyenyak sekali, ku panggil-panggil tidak bangun juga," Sakura tersenyum dan duduk di sampingnya. Semalaman Sasuke tidur di sofa.

"Ah, memangnya ada apa sih?" Tanyanya kesal. Kepala dan tubuhnya sudah basah kuyup. Membuatnya semakin dingin di pagi hari.

"Itu," Sakura mengangkat dagunya menunjuk sesuatu. Kelima jari kirinya menutupi wajahnya jarang-jarang. Sasuke menaikkan alisnya sebelah dan mengikuti arah pandang Sakura.

Astaga! Teriak batin Sasuke. Kejantannya berdiri tegap, ini memang sudah menjadi aktifitas rutin di pagi hati, di tambah guyuran air yang Sakura berikan memperjelas bentuknya.Mencoba bersikap tenang. Wajahnya memerah -tentu saja- tapi seringai jahil mulai muncul di wajah tampannya itu.

"Kau mau?" katanya. Sakura melepaskan tangannya yang menutupi wajahnya dan melotot pada Sasuke. Wajahnya memerah.

"Jangan main-main denganku Sasuke!" Peringatannya. Sasuke malah semakin suka dengan ketakutan Sakuraģ. Menurut Sasuke saat Sakura ketakutan seperti ini sangat terlihat manis.

Sakura berteriak keras, saat Sasuke menghampirinya dan hendak memeluknya. Kemudian gadis itu berlari menuju kamar yang -tentunya Sasuke ikuti- dan melemparkan beberapa bantal ke arah pria itu. Sasuke tertawa dan melemparkan kembali bantalnya pada Sakura dan akhirnya terjadilah perang bantal.

Sementara itu.

"Kaa-chan," Shisui mulai pusing melihat ibunya mondar-mandir karena Sakura tidak pulang semalaman. Bahkan sampai sekarang, pukul tujuh pagi.

"Oke, oke, Kaa-chan tenang." Mikoto menghela nafas dan menghembuskannya perlahan. Kemudian duduk di sofa bersama anak-anaknya.

"Sepulang sekolah nanti aku akan ke apartemen Sasuke." Kata Izuna. Dia juga sangat khawatir dengan keadaan Sakura. Bagaimana jika gadis itu di culik? Atau tersesat, atau yang lainnya. Tentu saja, bayangan-bayangan aneh mulai muncul di kepalanya dan tak bisa membayangkan jika Sakura menginap bersama Sasuke dan tidur satu ranjang dengan kembarannya itu. Memikirkannya saja kepala Izuna rasanya ingin meledak.

"Oke, kita sama-sama ke sana nanti." Sahut Obito. Izuna mengangguk dan mereka semua berangkat menuju sekolah.

Mikoto mulai merasa tenang sekarang, para anak-anaknya yang tampan bisa diandalkan dalam hal urusan Sakura. Mikoto benar-benar tidak rela jika gadisnya itu benar-benar hilang atau semacamnya. Akan menjadi seperti apa hidupnya tanpa Sakura.

"Bagaimana kalau kita bolos hari ini?" Shisui melakukan panggilan telepon dengan Izuna, karena mereka tidak satu mobil.

"Baiklah aku setuju!" Izuna menjawab dari seberang sana.

"Kita ke apartemen Sasuke." Sambung Obito, yang sedang bersama Shisui.

"Oke!" Izuna mengakhiri panggilan bersama kakak-kakaknya itu dan mulai mengikuti mobil berwarna biru tua yang melaju di depannya menuju pusat kota.

Tidak membutuhkan waktu lama -mengingat mereka memakai mobil- untuk sampai di apartemen Sasuke. Tepatnya apartemen Uchiha. Sasuke tinggal di lantai tiga apartemen, yang memiliki banyak lantai itu. Shisui dan Izuna sudah memarkirkan mobilnya di baseman dan memasuki sebuah pintu menuju lantai utama apartemen itu. Memasuki sebuah lift dan akhirnya sampai di lantai tiga tujuan mereka. Apartemen ini seperti hotel, memiliki pintu yang berada di dalam ruangan. Satu lantai memiliki dua buah ruamah apartemen.

Treet!

"Sasuke!" Teriak Izuna setelah memencet bel.

"Hei, keluarlah!" Sambung Shisui dan kembali memencet bel. Suara klik kembali membuka pintu apartemen itu. Tidak lama kemudian Sasuke pun keluar dengan rambut acak-acakan dan tubuh yang basah kuyup.

"Siapa?" Teriak Sakura dari dalam. Sasuke terbelalak dan ketiga saudaranya nyelonong masuk tanpa perintah Sasuke.

Izuna, Obito dan Shisui semakin terbelalak melihat keadaan Sakura dan apartemen. Rambutnya sama berantakannyan seperti Sasuke, bulu angsa berserakan di mana-mana dan yang lebih parah adalah Sakura baru keluar dari dalam kamar dengan kondisi seperti itu. Sudah pasti bayangan-bayangan di kepala ketiga Uchiha itu aneh-aneh seperti, mereka habis bercinta, atau mungkin bercinta sambil lari-larian, bahkan mungkin bercinta sambil basah-basahan. Yang pasti ada adegan anu nya.

Tatapan menyelidik mereka layangkan kepada Sasuke dan Sakura bergantian.

"Apa?" Sakura mengangkat dagunya. Izuna menatap perutnya dengan mata melotot. Sakura mengerutkan keningnya dan melirik Sasuke yang berada di belakang Izuna, dia melotot ke arah Sakura seperti menyiratkan sesuatu. Sakura semakin tak mengerti dan mengikuti arah pandang Sasuke dan Izuna yang tertuju pada perutnya.

Shit! Mungkin karena perang bantal tadi, membuat baju Sakura tersingkap dan menampakkan pusarnya yang indah bak berlian itu. Setelah Sadar dengan keadaannya Sakura segera menurunkan bajunya yang terangkat dan menutupinya dengan tangannya.

"Hei! Jangan dilihat!" Teriak Sakura tak terima.

Izuna berkedip dan kembali menatap Sakura sedangkan Obito dan Shisui mulai mengintrogasi.

"Apa yang kalian lakukan?" Matanya yang hitam bulat besar itu menatap tajam pada Sasuke.

"Aku hanya bermain perang bantal 'kan?" Sasuke menaikkan alisnya menatap Sakura, berharap gadis itu memiliki pemikiran yang sama dengannya. Kemudian Obito menatap Sakura, dan gadis itu mengangguk kaku.

"Bermain perang bantal, atau bermain kuda-kudaan?" Celetuk Shisui sinis. Sakura merengut tak suka. Dan si brengsek Sasuke malah memanfaatkan keadaan itu untuk keuntungan dirinya sendiri. Sifatnya berubah drastis ketika bersama saudaranya, menjadi Sasuke yang konyol dan menyebalkan. Mungkin pikirnya karena ia takut posisinya terancam, dan tergeser dari hati gadisnya. Dengan secepat kilat dia mendekati Sakura dan merangkul bahu gadis itu seraya menunjukan seringaiannya.

"Ah, sepertinya kita tidak pandai berbohong." Celetuknya membuat Sakura menyiku perutnya cukup keras. "Auk!" Pekik Sasuke sambil memegang pinggangnya. "Sayang!" Nada bicaranya terdengar di buat-buat.

"Kita tidak melakukan itu!" Teriak Sakura tak terima. Dan ketiga Uchiha lainnya menahan tawa melihat Sasuke yang di tolak secara tidak hormat.

"Kalian mau apa kemari?" Tanya Sasuke ketus. Pria itu masih nyengir kesakitan.

"Kami hanya memastikan Sakura-chan, baik-baik saja," Shisui merangkul bahu Sakura dan mengajaknya duduk bersama di sofa. Sakura mengikutinya. Tapi Sasuke tidak tinggal diam, dengan tubuhnya yang basah, dia segera menyerobot, ketengah-tengah memisahkan Shisui dan Sakura yang duduk berdampingan.

"Ah, seharusnya kau tak sekhawatir itu." Kata Obito seraya duduk di sofa yang lain. "Aku jadi iri padamu," lanjutnya masih menatap Sasuke penuh makna tersirat. Sasuke mengerutkan keningnya tak mengerti.

"Maksudmu?" Sasuke penasaran apa maksudnya perkataan Obito itu. Itu seperti sesuatu yang aneh, maksudnya, memangnya Sasuke mengkhawatirkan apa?

Buagh!Tiba-tiba Izuna memukul kepala Obito cukup keras sehingga kakaknya itu meringis kesakitan.

"Diamlah!" Geram Izuna, Shisui pun memelototinya penuh ancaman. Obito nyengir sambil mendengus kesal sedangkan Sakura dan Sasuke saling melirik tak mengerti dengan kelakuan mereka.

"Kenapa?" Bisik Sakura pada Sasuke sambil menaikkan dagunya. Sasuke hanya mengangkat kedua tangannya sambil mengedikkan bahu, tanda tak mengerti.

.

.

.

.

.

.

TBC

An

Maaf, publishnya agak lamaan dari sebelumnya dan key infokan XD

sambil menunggu endingnya -yang entah kapan- jadi karena ide di kepala lagi numpuk dan kalau gak di tuangin sayang, jadi setelah ini key bakalan publish cerita baru yang berjudul UCHIHA sebenernya ceritanya aneh dengan rated M tapi ya, sekedar untuk memperlancar tulisan dan untuk menghibur jadi key bakalan coba publish.

oke terimakasih atas semuanya dan seperti biasa semoga selalu terhibur dan suka sama ceritanya. Kritik dan Saran yang sopan dan membangun selalu key nantikan.

Jadi selamat membaca dan menunggu publishnya UCHIHA

see u

20 September 2018