Boyfriend Tsun!
Monsta X's fanfic
Wonho (Shin Hoseok) x I.M (Im Changkyun)
Changkyun sudah menapaki lahan parkir saat Wonho mencekal tangannya.
"Ada a-"
"Hujan."
Changkyun masih mencerna apa yang dikatakan oleh Wonho tetapi pemuda itu lebih cepat bergerak, terlalu cepat untuk membuat Changkyun terkesiap.
Dan membuat pipinya bersemu tanpa diminta.
"Lainkali kau harus berhati-hati, masa saat ada klien dan kamu tidak sadar hujan bukannya melindunginya, kalian malah kehujanan."
Changkyun mengangguk canggung seraya melirik tangan kanan Wonho yang masih melingkar di pinggangnya dan tangan kirinya masih mencekal pergelangan tangan pemuda Im ini.
"Da-dasar..."
Wonho mengerutkan keningnya. "Apa?"
Changkyun mengerucutkan kecil bibirnya sebelum menepis tangan Wonho di pinggangnya.
"Modus. Memangnya dikira aku tidak bisa melakukannya sendiri."
"Kenyataannya memang kamu tidak meliha-Ya! Masih hujan! Jangan nekat begitu! A-aish..."
"Kau marah karena aku perlakukan lebih?" Wonho baru berhasil bertanya saat mereka berdua sudah berada di depan mobil Changkyun.
"Ani."
"Lalu kenapa?" Wonho memperhatikan Changkyun yang sibuk bolak-balik untuk memasukkan barang-barang ke bagasi.
Ah, tentu saja dia tak lupa memayungi yang lebih muda dengan payung yang ada di dalam bagasi mobilnya.
"Changkyun -ah, ayo bicara. Kau bisanya berisik juga."
"Tolong berkaca, Shin Hoseok. Kau yang berisik," sahut Changkyun sarkasme.
"Kau yakin tak apa?"
"Sana pulang duluan, mesin mobilmu sudah kelewat panas."
Wonho menghela nafas berat.
Setidaknya ada satu hal yang membuat Changkyun sama dengan submissive lain.
Bilang tidak tapi mau.
Disuruh pergi tapi sebenarnya minta tinggal.
Hah, terserah.
"Aku melakukannya pada semua orang kok. Nenek-nenek yang kutemui beberapa minggu lalu saat hujan juga kutolong, anak kecil juga, apalagi ibu-ibu-"
"Dengan tatapan seperti itu?"
"Ya, dengan tatapan seperti..." Wonho berpikir sejenak. "Heeh?"
"Sudah kubilanga aku tidak marah!"
"Tapi kau berteriak!" protes Wonho tak kalah keras. Beruntungnya, lahan parkir masih sangat sepi karena hujan terus turun.
Ini bukan karenamu.
Changkyun menggerutu sebelum menutup keras pintu bagasinya.
Aku tidak suka dengan diriku yang aneh ini.
"Terserah."
Wonho mengerutkan keningnya. Terserah apanya, ini permainan teka-teka?!
"Aku tidak mau pulang. Kau juga terserah mau kemana sa-"
Changkyun hendak membuka pintu mobilnya saat Wonho mencekal tangannya (lagi).
Tiba-tiba pemuda Im ini jadi merasa lebih sensitif jika sudah berhubungan dengan 'mencekal' dan 'Wonho'.
"Memangnya mau kemana? Rumahmu sekarang hanya apartementku. Dan ini lagi hu-"
"Bukan urusanmu. Bisa menginap. Lalu kenapa kalau hujan?" Changkyun menjawabnya begitu lancar seperti sudah telah dipersiapkan dan...terdengar jengah?
Apa aku dianggap tidak bisa mengisi kekosongan hatinya?
Berharap saja pemikiran Wonho salah.
Jujur saja, Wonho tidak mau mereka berakhir saat ini dan secepat ini.
Dia kan tidak mau membayar Changkyun sesuai perjanjian karena kesepakatan gagal ini:(
"Aku kan sudah minta ma-"
"Hyung tidak salah kok."
Wonho menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ini bukan berarti kesepatan mereka gagal kan?
"Memangnya mau kemana?"
"Jalan-jalan dengan klien...mungkin?"
"Tapi kau itu tanggung jawabku."
Changkyun mengerutkan keningnya.
"Tapi di dalam perjanjian tidak tertulis kalau aku tidak boleh berhubungan dengan orang lain atau tidak menerima klien lagi...?"
"Dan satu lagi, posisinya disini kau adalah boyfriend experiencenya sedangkan aku klien. Aku tidak puas, ya semuanya selesain jadi tidak semudah itu mencampuri urusanku, hyung."
Wonho berdecak keras.
Mungkin ini akan menjadi sebuah pelajaran baru untuknya; pelajaran agar lain kali membaca baik-baik hitam di atas putih.
Tiba-tiba saja dia teringat sesuatu.
Besok itu hari Senin berarti...
"Shin Hoseok...? Halo? Bukan makhluk mati kan?"
...d dalam perjanjian juga tidak tertulis larangan untukku kan?
Changkyun mendengus keras sebelum menghempaskan tangan yang lebih tua dari tangannya dan bersiap duduk di kursi pengendara.
Dan besok itu Senin astaga!
Mobil sudah berhasil ia hidupkan saat Wonho bersuara.
"Kalau begitu...pergilah. Kalau kau pergi, aku juga bisa pergi kan?" Senyum di bibir agak tebalnya terulas lebar. "Besok itu hari Senin, sudah jadwalnya aku akan menemui Jooheon-"
"Tidak jadi."
Senyumnya semakin lebar tetapi karena Changkyun berada beberapa senti di bawahnya, akan sulit untuk melihat senyumnya.
"Apa? Aku tidak bisa mendengarmu, Changkyunnie."
"Kubilang tidak jadi."
"Apa? Suaramu kalah dengan hu-"
"Jangan pura-pura tuli, Shin Hoseok. Aku tidak akan mengulanginya lagi."
Wonho tertawa keras, mengalahkan kerasnya suara rintikkan hujan yang bertemu dengan aspal jalanan.
"Ayo pulang."
"Hah?"
Buru-buru Changkyun memalingkan wajahnya.
Telinganya sudah memerah dan Wonho sudah menundukkan sedikit tubuhnya untuk menggodanya.
"Aku sudah mau pulang jadi hyung juga ya? Dan stop ke club, aku juga berhenti dengan klien."
"Apa? Aku tidak salah dengar nih?"
Changkyun tak sadar mengerucutkan bibirnya dan Wonho bisa melihat itu.
"Yasudah, aku akan pergi duluan. Bye."
Wonho kembali tertawa saat Changkyun benar-benar menjalankan mobilnya dan meninggalkannya sendirian di lahan parkir yang sepi itu.
"Astaga! Ya! Im Changkyun, aku hanya bercanda saja. Astaga, kau ini serius tapi manis ya~"
Sepanjang perjalanan, pemuda Shin ini tidak bisa berhenti bersenandung.
"Ayo mari~ kita pulang~ ke apartement kita~"
Dan tidak bisa berhenti mengatakan kata 'kita' ketimbang 'aku' dan 'kamu'.
Sepertinya sudah tak akan ada insiden 'takut mimisan' lagi ya? Hehe.
"Haha! Aku satu lebih cepat darimu!"
"Dasar childish."
Wonho tidak peduli pada apapun lagi.
Sekarang hanya ada dia dan Changkyun saja.
Itu sudah lebih dari cukup.
Suasana hatinya juga sedang senang.
Benar-benar mood baik.
Biasanya malam minggu, aku akan jalan dengan gadis di club tapi kemarin, aku berhasil tidur secara makna sebenarnya bersama Changkyun. Malam senin biasanya aku akan sibuk bermain game online di PC karena tidak mau bersiap kuliah tapi sekarang...kkkk~
"Orang-orang biasanya berkencan malam minggu ya, sepertinya malam senin untuk berkencan tidak buruk juga."
"Hyung bicara apa?"
Wonho masih mempertahankan senyumnya. "Bukan apa-apa hehe."
"Ah, malam ini kita makan apa? Makan di luar? Restoran atau..."
Changkyun berkedip berkali-kali.
"Oh ya, makan malam. Ayo hyung."
Kali ini Wonho yang berkedip.
Kedip genit .g
"Hah?"
"Hah katamu? Ayo temani aku, aku tidak mau hyung asik menganggur sendirian sementara aku capek."
Kebahagiaan Wonho berkali-kali lipat bertambah dalam hitungan detik.
Wonho kira dia akan ikut membantu –meskipun hanya merebus air saja.
Tapi tugasnya ternyata hanya menyediakan bahan makanan dan memperhatikan.
Tapi tidak mungkin juga dia menolong; yang bisa dilakukannya hanyalah memasak ramyun yang kebetulan stoknya masih banyak di lemari rahasianya.
Ngomong-ngomong...
...
...
...
...
..
.
Punggung Changkyun terlihat indah juga ya, apalagi dari belakang. Apalagi kalau telan-
"Hyung."
"Y-ya?" Oke, Wonho kehilangan fokus dan ini tidak baik untuk kesehatan serta stok sabunnya.
"Besok..."
Changkyun nampak ragu-ragu jadi Wonho bergerak untuk membantunya dengan baik –tanpa niat modus maksudnya.
"Ya? Ada apa? Kau ada acara? Atau jam kuliah? Tenang saja, aku besok-"
"Tidak jadi pergi kan besok?"
Manik mata Wonho membesar beberapa senti.
"Te-tentu saja! Untuk apa aku pergi kalau besok aku libur? Apalagi kalau kau juga tidak pergi," Wonho berusaha mengulas senyum terbaiknya saat menyadari satu hal. "Kau tidak kemana-mana kan besok?"
"Kalau hyung tidak pergi...aku tidak akan pergi."
Wonho tertawa renyah sebelum mencubit kecil pipi berisi Changkyun.
"Kalau kau pergi untuk menemui sesuatu selain klien atau laki-laki lain, tak apa kok."
"Astaga, kau ini sangat manis ya?"
"Rasanya kita benar-benar pacar-"
"Hyung, masakkannya jadi gosong karenamu."
"Heh? Benarkah?"
"Ah iya, bau gosong..."
"AIR MANA AIR?"
"Aigoo;;;"
"CHANGKYUNNIE JANGAN PERGI!"
"Terserah."
"Pokoknya makananku sudah matang saja."
"Ngomong-ngomong, itu punya hyung."
"Astaga;;"
"Changkyun."
"Hm," Wonho menggerutu kecil saat melihat Changkyun membelakangi dirinya dan sibuk merapikan sisi ranjang miliknya.
"Pakai sweater dariku coba."
Changkyun berhenti sejenak dari kegiataan yang dilakukannya sebelum akhirnya menghela nafas.
"Kan tadi sudah dicoba sebelum membeli."
"Maksudku jadi kan itu piayamamu," ralat Wonho tanggap. "Malam ini akan sangat dingin dan kau tadi kena hujan. Aku tidak mau kau kena demam. Jangan lupa memakai selimut juga, atau kau perlu dua selimut? Aku tidak keberatan tidak mema-"
"Hentikan."
"Hah?" Posisi Wonho saat ini tidur terlentang menatap langit-langit kamarnya jadi saat dia memiringkan sedikit tubuhnya, Changkyun terlihat sudah sepenuhnya berhenti melakukan 'kegiatan'nya dan kali ini kedua tangannya menutup rapat-rapat sepasang telinganya.
"Kenapa?"
"Berhenti bicara."
"Kenapa?"
"Hyung berisik."
"Aku tidur di sofa saja kalau begitu."
"E-eh eh!"
"Changkyunnie!"
"Jangan marah lagi dong!"
"Sebenarnya kau itu mau kuperlakukan sama rata dengan wanita beragam usia lainnya atau lebih manis sih?"
"Ya! Im Changkyun!"
"Aku akan sangat kedinginan tau karena tidur sendirian."
"Aku tidak peduli."
"Sana tidur."
"Selamat malam."
"YA!"
Brak!
...tbc
Bah.
Kok pisah ranjang jadinya .g
Btw kok ini panjang ya.
Hm
Hmmmmmhmmmm
Soalnya mau hiatus hehe. Musim ujian tolong, gemes.
Btw wonho lagi suka ke kafe ya:3
