Author Note: Update! XD aku cepat-cepat update biar besok bisa enjoy my own holidays! Break sehari dulu! Ini sakit kepala dan demam kambuh lagi! Huuh! Kesalnya minta ampun! Read n review reader! Kalau bingung mau berkata apa di review, kasih kritikan saja~
Oh! ini masih tentang Sora! biasanya aku menceritakan secara bergantian n seharusnya kali ini bagian Roxas! tetapi karena dua chapy sebelumnya panjang, jadi Sora harus mendapatkan extra chapy untuk menyaingi chapter 8! XP

To a reviewer name Nophie-Chan: Makasih banyak atas idenya! ^^ Riku nanti masih akan muncul, hanya saja masih beberapa chapter kedepan. di chapy ini dia benar-benar kubuat mati...

To a reviewer name 9x'y yang mengreview di chapter 9: maaf baru di balas reviewnya, lupa kalau ingin membalas review anda... begini, untuk peran Kadaj n his two brothers, mereka akan muncul lagi beberapa chapter kedepan setelah tidak pernah kumunculkan lagi selain di prologue...

The Half Blood

Chapter 10

Ketika Sora membuka matanya, yang pertama kali ditangkap oleh matanya adalah ruangan asing yang sama sekali tidak dia kenal. Dia berharap, bahwa begitu dia membuka matanya, yang pertama kali dia lihat adalah ruangan yang dia kenal, yaitu kamarnya. Sora juga berharap, bahwa ketika dia membuka matanya, dia akan melihat wajah Riku yang sedang menatapinya dengan senyum ketika dia bangun kesiangan seperti biasanya. Di ruangan asing ini, Sora tidak dapat menemukan siapa pun ketika dia menatap sekeliling ruangan ini…

Sora mencoba bangun dari kasur dan berjalan keluar dari ruangan asing ini. Ketika dia keluar, dia mencium bau asap dari rokok. Axel terlihat sedang berdiri di samping jendela sambil menghisap rokok di sana. Sora lalu berjalan mendekatinya dan Axel langsung menyadari kehadirannya, dia segera mematikan rokoknya dan melemparnya keluar dari jendela.

"Axel, kurasa aku harus pergi…," Kata Sora sambil menunduk, dari nadanya, dia terlihat masih sedih.

"Mengapa kau ingin bergegas pergi, Sora?" Tanya Axel dengan cemas dan bingung, dia cemas karena berpikir bahwa Sora merasa tidak nyaman tinggal di sini.

"Aku ingin mencari Riku…" jawab Sora yang langsung menatap mata Axel dengan ekspresi sedih. "…Dia pasti dibiarkan tergeletak di sana dan aku ingin menguburnya," jelasnya dengan sedih.

"Kalau begitu, izinkan aku ikut membantu," kata Axel yang menawarkan bantuan.

"Thanks…."

Maka Axel mengantar Sora ke Twilight Town. Ketika mereka tiba di sana, cuaca terlihat sangat cerah dan panasnya sinar matahari terasa menusuk kulit. Sora segera membawa Axel pergi ketempat di mana mayat Riku berada dan ketika mereka sampai di tempat itu, tentu saja Axel sangat terkejut ketika melihatnya.

Sora yang berada di samping Axel terlihat gemetaran melihat mayat Riku dan dia melangkah secara perlahan, mendekati Riku yang terbujur kaku di tanah…

'Ini bukan mimpi, ini bukanlah mimpi dan juga bukanlah mimpi buruk yang bisa kuhindari…' Pikir Sora dengan tubuh yang gemetaran. '…Ini kenyataan dan aku tidak boleh lari dari kenyataan…,' Pikirnya sambil menatap Riku yang sudah ada di depannya dengan tubuh yang bermandi darah yang telah menghitam dan mengotori bajunya. Dengan tangan yang gemetaran, Sora lalu mencoba menyentuhnya. 'Dingin…,' Pikirnya begitu tangannya menyentuh badannya. 'Dia telah tewas beberapa jam yang lalu…,' pikirnya sambil menatapnya dengan mata sembab. Sora lalu menyadari terdapat dua buah lubang kecil di lehernya. 'I…ini…' Pikirnya tidak percaya ketika melihat dua lubang kecil itu.

"Sora…" kata Axel yang mendadak menyentuh bahu Sora dan itu membuatnya sangat terkejut. "…Kau ingin menguburnya di mana?" Tanyanya.

"Aku tidak tahu, tetapi aku berniat menguburnya di sini sebagai pengingat agar aku tidak melupakan siapa yang telah membunuhnya," Jawab Sora dengan sedih sekaligus marah.

'Kuharap dia tidak ingin membalaskan kematian Riku,' Pikir Axel yang cemas sambil menatap Sora. "Kalau begitu, mari kita menguburnya di sini…."

Sora hanya mengangguk setelah Axel mengatakannya. Maka keduanya menggali liang kubur untuk mengubur Riku di tempat yang tidak terlalu jauh dari tempat di mana mereka menemukan mayat Riku. Setelah selesai menggali, Sora dan Axel mengangkat mayat Riku perlahan-lahan dan memasukkannya kedalam liang kubur secara perlahan. Sebelum menguburnya, Sora terlihat hendak menangis, tetapi dia menahan air matanya supaya tidak terjatuh.

'Selamat tinggal, Riku. Terima kasih banyak karena selama ini kau telah menjagaku, menggantikan ibuku yang tewas, aku tidak akan pernah melupakanmu dan mulai saat ini, aku akan berjalan sendiri tanpa bantuan darimu ataupun dari orang lain…,' pikir Sora sambil menatapi Riku yang berada di liang kubur itu dengan wajah sedih. 'Setelah ini semua selesai, aku janji, bahwa kita akan bertemu lagi….'

Axel terlihat menghela napas sambil menatapi liang kubur di mana Riku berada. 'Man…' pikir Axel sambil mengeluh dalam hati sambil mengacak-acak rambutnya sedikit. '…Aku sungguh tidak mengira bahwa kau akan pergi secepat ini, kawan. Mana lagi kau meninggalkan sebuah tugas yang berat padaku, yaitu menjaga Sora sesuai perjanjian kita,' Pikirnya mengeluh dalam hati sambil menatapi Sora yang terlihat sedih dengan dahi mengkerut. 'Aku… pasti akan merindukanmu, kawan. Sebagai teman, kau terkadang memberikan informasi yang penting dan banyak padaku secara cuma-cuma padaku. Yah, meski sebagai gantinya kau membuatku mengucapkan janji bahwa akan menjaga Sora jika suatu saat kau tidak ada lagi di sampingnya…,' Pikirnya sambil tersenyum sedih.

Mereka berdua terlihat mendoakan Riku selama beberapa menit, lalu mereka berdua menguburnya bersama-sama setelah mendoakannya agar tenang di atas sana, mereka menguburnya dengan wajah sedih.

Di atas liang kubur, Sora meletakan sebuah batu nisan yang tertuliskan nama Riku dan tanggal kematiannya. Dia lalu meletakan seikat bunga berwarna putih polos yang indah, begitu pula Axel, mereka meletakan bunga itu di atas liang kubur.

Axel lalu menatap Sora yang sedang menatapi makam Riku terus menerus dengan wajah yang sedih tanpa menoleh sedikit pun. Di saat suasana sedih seperti ini, tiba-tiba perut Axel protes karena dia tidak sarapan sedikit pun dari tadi pagi…

'Damn, dasar perut yang tidak bisa kompromi! Mengapa kau harus mengeluh di saat yang salah!' pikir Axel dengan heran sambil menghela napas, dia terlihat menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Sora lalu menatap Axel dan tersenyum kecil, Axel tersipu malu ketika dia menatapnya. "Kurasa aku telah membuatmu menungguku terlalu lama sehingga membuatmu lapar, Axel…" katanya sambil menatapnya. "…Mari kita pergi."

"Ya…."

Maka Sora dan Axel berjalan pergi meninggalkan makam itu bersama-sama. Ketika keduanya berjalan pergi, sesekali Sora menoleh kembali kearah makam itu dengan wajah sedih hingga mereka meninggalkan lokasi itu dan menuju Twilight Town. Selama perjalanan kesana, Sora terlihat kembali seperti normal dan tidak terlihat sedih lagi…

'Memulai lembaran baru tanpa bantuan siapa pun…,' Pikir Sora sambil menatap kedepan. 'Riku, kau akan selalu ada di hatiku dan aku akan membalaskan kematianmu pada orang yang membunuhmu, pasti…,' pikirnya dengan marah.

Axel yang berada di sampingnya dapat merasakan amarahnya yang begitu kuat. "Sora…,"

"Hm?" jawab Sora dengan cepat. Amarahnya tadi menghilang dengan cepat ketika Axel memanggilnya. "Kenapa?" tanyanya.

'Cepat sekali amarahnya menghilang,' Pikir Axel dengan heran. "Kau ingin makan apa?" Tanyanya.

"Apa saja," Jawab Sora.

"Kau tidak ingin makan sesuatu?"

"Tidak…."

"Chocolate?"

"Tidak…"

"Cake?"

"Tidak…"

"Bagaimana kalau ice cream?" Tanya Axel sambil menatap Sora.

Sora langsung terdiam sejenak sambil menatap Axel, wajahnya terlihat sedih sekilas ketika Axel menyebut kata 'Ice cream'. "Kurasa boleh…," Kata Sora yang langsung tersenyum.

'Tadi, dia terlihat sedih sekilas, apa hanya perasaanku saja?' Pikir Axel sambil menatap Sora dengan heran.

Maka keduanya berjalan ke restoran terdekat, kedua memilih restoran yang berada dekat dengan gerbang masuk Twilight Town karena Axel sudah sangat lapar, dia terlihat pucat pasi akibat kurang tidur dan juga karena lapar.

Axel lalu memilih asal makanan yang terdapat di menu karena Sora selalu berkata 'apa saja' ketika Axel bertanya dia ingin makan apa. Ketika makanan yang mereka pesan datang, Sora terlihat tidak nafsu makan, dia terlihat lebih sering memainkan makanannya dibandingkan memakannya. Akhirnya dia tidak menghabiskan makanannya, dia hanya memakannya setengahnya saja…

Ketika makanan penutup -ice cream- yang kami pesan datang, wajah Sora terlihat sangat sedih ketika melihat ice cream itu. Sora segera memakan habis ice cream itu dengan cepat.

"Ngomong-ngomong, Sora, apa yang hendak kau lakukan sekarang?" Tanya Axel yang masih memakan ice creamnya dengan wajah cemas.

"Aku tidak tahu, kurasa aku akan menjadi hunter untuk menyambung hidup. Riku selalu mengajarkanku bagaimana caranya hidup sebagai hunter karena menurutnya suatu saat akan berguna dan dugaannya tepat..." kata Sora dengan sedih. "...sesungguhnya, dia juga memiliki alasan lain mengapa dia mengajarkannya, dia ingin suatu saat aku melangkah sendiri tanpa bantuannya lagi," jelasnya sambil mengalihkan pandangannya dari Axel.

"Bagaimana dengan kematian Riku? Apakah kau ingin membalaskannya?" Axel bertanya pada Sora dengan wajah serius dan juga cemas.

"Ya."

"…" Axel langsung terdiam dan tidak dapat berkata apa-apa setelah mendengar jawaban Sora. Dia lalu menghela napas dalam. 'Kurasa, dia akan sangat dendam dengan vampire yang membunuh Riku. Siapa pun vampire yang membunuh Riku, pastinya sangat kuat dan ada kemungkinan itu akan membahayakan nyawa Sora sendiri karena dia memburu vampire yang membunuh Riku itu sendirian,' Pikir Axel dengan cemas. 'kuharap aku mengenal vampire yang membunuh Riku, sehingga aku bisa membantu Sora, meski hanya sedikit,' pikir Axel.

"Axel…" Mendadak Sora memanggilnya ketika dia sedang dalam lamunannya. "…Jika nanti aku bertemu dengan vampire itu, kumohon agar kau tidak mencoba melibatkan dirimu dan membahayakan dirimu," Katanya memohon.

"Sora, apakah kau mengenal identitas vampire itu?" Tanya Axel.

"Kau… juga mengenalnya, Axel. Nanti malam, kita akan bertemu dengannya di barmu," Kata Sora memberitahukannya.

'Malam ini akan bertemu dengan vampire yang membunuh Riku?' pikir Axel terkejut. 'Semoga tidak terjadi keributan di dalam barku sehingga tidak ada barang-barang yang rusak,'Pikir Axel dengan cemas. "Sora, usahakan agar tidak terjadi keributan di bar milikku, kumohon…," katanya yang gantian memohon.

Sora lalu tersenyum mendengar permintaannya. "Tidak usah khawatir, Axel, tidak akan ada perkelahian nanti malam. Mereka hanya akan menemuiku di sana karena mereka tahu aku akan berada di sana…" katanya memberitahukannya. "…mereka tahu keberadaanku di sana karena ada seorang vampire yang dapat melihat masa depan dan mereka mencari keberadaanku dengan kemampuannya itu," Kata Sora menjelaskan.

"Oh…."

Mereka berdua membisu karena sudah tidak ada pertanyaan yang ingin Axel tanyakan pada Sora. Maka Axel membayar tagihannya dan mereka berdua memutuskan untuk kembali ke Hollow Bastion. Ketika mereka berdua kembali kesana, Axel tidak langsung membawa Sora kembali ke apartemennya, dia mengajak Sora pergi kesebuah mall untuk membelikannya beberapa pasang pakaian karena Sora tidak mungkin kembali ke Castle Hollow Bastion untuk mengambil pakaian yang selama ini dikenakan.

Awalnya, Sora menolak untuk dibelikan beberapa pasang pakaian oleh Axel karena dia yang akan membayarkannya untuknya. Tetapi Axel sama sekali tidak keberatan mengeluarkan uang yang jumlahnya tidak sedikit untuk membelikan pakaian untuk Sora karena dulu Riku sudah banyak membantunya dan dia ingin membalas kebaikannya sedikit saja dengan cara membelikan Sora beberapa pasang pakaian. Akhirnya Sora setuju dibelikan beberapa pasang pakaian setelah Axel menjelaskannya…

"Uh, apakah ini tidak kebanyakan, Axel?" Tanya Sora dengan cemas setelah Axel membelikannya beberapa puluh pakaian untuknya.

"Tidak sama sekali," jawab Axel sambil tersenyum sinis. "Kau tidak perlu memasang wajah cemas begitu, Sora,"Katanya sambil mencubit kedua pipi Sora. "Tersenyumlah…," katanya melepaskan cubitannya dan terdapat bekas kemerahan pada pipi Sora akibat cubitannya. Sora lalu memegang kedua pipinya yang memerah lalu tersenyum. "Nah, begitu dong!" kata Axel yang langsung tersenyum. 'Sebenarnya, keuanganku lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhanku sehari-hari karena aku menjual informasi dari Riku dengan harga yang cukup tinggi. Berkat dia pula, kehidupanku yang dulu membosankan menjadi menyenangkan karena aku dapat lepas dari pekerjaan sebagai penjaga toko buku yang sangat membosankan itu. Dia telah mengubah hidupku.' Pikir Axel sambil tersenyum menatap Sora yang akhirnya tersenyum. 'Setidaknya, aku bisa membalas kebaikan Riku sedikit dan itu membuat beban di pundakku sedikit berkurang.'

Ketika mereka berdua selesai belanja, Axel mengajak Sora kembali ke apartemennya. Keduanya segera memasuki apartemen, Axel terlihat sangat lelah dan mengantuk ketika dia masuk…

"Jika kau lelah, sebaiknya kau istirahat saja, Axel…"kata Sora sambil menatapnya. "…Aku tahu kau tidak istirahat sedikit pun sejak kau menjemputku."

"…Baiklah, lagipula aku harus membuka barku nanti sore. Di dalam lemari pendingin, terdapat beberapa minuman kaleng dan makanan ringan, ambil saja jika kau bosan atau pun lapar," Kata Axel sambil berjalan memasuki kamarnya untuk tidur.

"Kay~" jawab Sora sambil tersenyum.

Ketika Axel masuk kedalam kamarnya, Sora lalu menghela napas yang dalam. Dia berjalan mendekati sofa dan duduk di sana. Dia lalu memejamkan matanya, bukan karena dia ingin tidur, melainkan karena dia ingin melihat masa depan…

Setelah beberapa menit memejamkan matanya, dia membuka matanya dan menatap kearah langit-langit dengan wajah sedih sambil memegang dadanya dengan pelan. 'Apakah aku sanggup membunuhnya?' pikir Sora yang memegang dadanya lebih erat dari sebelumnya. 'Setiap kali aku menatapnya, dadaku ini terasa sakit dan perasaan ini sangatlah berbeda ketika aku menatap Riku. Riku selalu membuatku nyaman dan aman jika berada di sampingnya mau pun ketika aku menatapnya, tetapi dia sudah tidak ada lagi, tidak ada…,'Pikirnya dengan wajah sedih. 'Roxas, mengapa sepertinya takdir selalu mempertemukan kita? Apakah takdir mempermainkanku? apakah takdir juga yang selalu mempertemukan kita meski aku tidak ingin menemuimu? jika ini memanglah takdirku dan takdirmu untuk selalu bertemu, maka aku akan mencoba mengubah takdir itu...' pikirnya sambil menutup matanya.

Sora terus menerus duduk di sofa sambil menutup matanya hingga siang menjelang sore hari. Ketika sore tiba, Axel keluar dari kamarnya karena terbangun oleh alaramnya, dia hendak bersiap-siap membuka barnya. Ketika keluar, Axel melihat Sora yang duduk di sofa dengan mata yang tertutup…

'Dia tertidur di sofa?' pikir Axel sambil menatap kearah Sora.

Axel lalu mendekati Sora dan hendak menyentuh wajahnya untuk memastikan apakah Sora tertidur ataukah tidak. Ketika tangannya hendak menyentuh pipinya, mata Sora terlihat terbuka secara perlahan dan tatapannya langsung tertuju pada Axel. Axel pun membatalkan niatnya untuk menyentuh Sora ketika melihat matanya terbuka…

"Kenapa, Axel?" Tanya Sora sambil menatapnya.

"Tidak apa-apa. Kukira kau tertidur, aku hanya ingin memastikan apakah kau tertidur ataukah tidak…"Kata Axel menjelaskan. "… jika tadi kau memang tertidur, aku berniat memindahkanmu kedalam kamarku karena udara di sini dingin dan kau bisa sakit," Katanya memberitahukan dengan senyum kecil.

"Aku tidak tertidur, hanya saja aku mencoba melihat apa yang terjadi nanti malam…," Kata Sora menjelaskan dengan senyum kecil.

"Oh…," Kata Axel sambil menatapnya. "Hey, apakah kau ingin ikut membantuku membuka bar?"Tanyanya.

"Yeah, aku mau, jika kau meninggalkanku di apartemenmu, Axel, maka aku akan merasa bosan di sini," Jawab Sora dengan senyum.

"Thanks…"

Maka keduanya berjalan pergi meninggalkan apartemen Axel dan menuju ke tempat di mana bar milik Axel berada. Hanya beberapa puluh menit setelah bar itu di buka, pengunjung setia bar ini mulai berdatangan dan bar ini langsung ramai dengan cepat…

"Axel, siapa bocah itu? Aku baru pertama kali melihatnya…," Tanya salah seorang pelanggan setia Axel sambil menatap Sora yang duduk tidak jauh darinya, dia adalah seorang hunter.

"Memangnya ada apa dengannya, Marluxia?" Axel bertanya balik dengan heran.

"Bukan apa-apa. Aku hanya heran saja, karena jarang ada bocah seusianya berada di tempat seperti ini, apakah tidak berbahaya dia berada di sini? Di sini banyak sekali werewolf mau pun vampire, bisa-bisa dia menjadi mangsa mereka…," Tanya hunter yang bernama Marluxia itu.

Axel lalu tersenyum sinis. "Sepertinya kau masih belum dapat membedakan manusia yang memiliki darah setengah vampire atau tidak, Marluxia. Kau tidak perlu mengkhawatirkannya, karena dia sama kuatnya denganmu dan dia sedang menunggu seseorang saat ini…,"jelasnya pada Marluxia.

"…" Marluxia hanya terdiam mendengar kata-kata Axel.

Sora -yang sedang duduk di salah satu kursi di meja bar Axel- sedang menatap kearah pintu masuk dan dia tidak pernah melepaskan padangannya sedikit pun dari pintu masuk itu. Beberapa jam kemudian, dia menangkap sosok yang ditunggunya dari tadi di pintu masuk bar ini dan dia adalah…

To Be Continued…

Author Note: Chapter 10 selesai… wew! Aku tidak menyangka bakalan sampai di chapter 10 tanpa ada kata writer block! Horeeeeeeeee~ -menebarkan kelopak bunga mawar seperti yang biasa lakukan oleh Marluxia- (Teplak! -Di pukul Marluxia karena menirunya-) Ouch! TT_TT
Please review guys! Kritikan juga ga apa-apa! Asal kritik membangun! Sekarang author lebih mengharapkan kritikan supaya cerita kedepannya lebih baik…