Genre : Brothership
Rating : Fiction T
Cast : All Super Junior member and other cast
Disclaimer : All them belong to themselves and GOD.I own only the plot.
Warning : Typos, Gaje , Don't like it? Don't read it please.
Summary: "Hyung, aku ingin pulang ke rumah orang tuaku besok. Boleh?"/ "Aku sendiri tak mengerti, Hyung. Sejak kemarin, perasaanku tak enak. Tapi aku sendiri tak tahu apa yang membuatku merasa seperti itu."/" Eomma bilang, Eomma dan Appa akan berkunjung kemari."/ "Kamsahamnida atas informasinya. Kami akan segera kesana."
Sapphire Blue House
Chapter 11
Suasana di Sapphire Blue House sudah kembali seperti sebelum-sebelumnya. Ryeowook sudah kembali ceria. Tak ada lagi wajah murung yang ditunjukkan namja mungil itu. Satu minggu waktu sudah berlalu sejak konflik antara Ryeowook dan orang tuanya terselesaikan. Terjadi perubahan yang menguntungkan penghuni Sapphire Blue. Karena sejak kedatangan Han Byeol Eomma ke sana, setidaknya sudah dua kali Han Byeol Eomma datang berkunjung lagi. Dan tentunya tidak dengan tangan kosong.
Hal itu tentu saja tidak disia-siakan oleh penghuni yang lain. Kedatangan Han Byeol Eomma bagaikan berkah untuk mereka. Akan selalu tersedia makanan enak di rumah. Seperti malam ini. Kebetulan sore tadi Han Byeol Eomma datang lagi. Membawa banyak makanan untuk mereka.
"Sering-sering saja Eomma mu kemari, Wookie," celetuk Yesung.
Ryeowook mencibir ke arah Yesung.
"Setelah Hyung marah-marah tak jelas padaku waktu itu, sekarang Hyung bisa bicara seperti itu?"
Yesung menghentikan kegiatan makannya. Memandang tak mengerti ke arah Ryeowook.
"Marah-marah tak jelas? Kapan?"
Ryeowook memutar bola matanya malas.
"Kapan? Bukankah beberapa minggu lalu Hyung mendiamkanku tanpa alasan."
"Ah, kejadian waktu itu. Sejujurnya saat itu aku kesal padamu yang menuruti kata-kata Jong Ki-ssi untuk pergi ke bar."
"Hanya karena itu, Hyung?"
Yesung mengarahkan tatapannya pada Donghae lalu menganggukkan kepalanya.
"Aku tak ingin dongsaengku terjerumus hal-hal seperti itu. Alkohol bukanlah penyelesaian masalah. Justru akan menambah masalah lainnya. Kalau sampai kita mabuk, kita tak akan tahu apa yang kita lakukan."
"Yesung benar. Kita adalah sebuah keluarga. Jadi, ceritakan masalah kalian pada siapapun yang kalian percayai. Jangan sampai kalian salah mengambil langkah."
Semua mengangguk paham mendengar penuturan Leeteuk. Semua tahu, memang hal itu yang Leeteuk harapkan. Keterbukaan di antara mereka.
"Sudah, lanjutkan makan kalian."
Mereka pun kembali melanjutkan makan malam mereka. Sesekali terdengar kelakar yang meluncur. Menghangatkan suasana malam itu yang cukup dingin.
~SBH~
"Hyung, aku ingin pulang ke rumah orang tuaku besok. Boleh?"
Leeteuk yang sedang menuangkan jus strawberry ke dalam gelas menghentikan kegiatannya. Ia mengalihkan tatapannya pada Eunhyuk, sosok yang baru saja meminta izin padanya.
"Pulang? Kenapa?"
Pertanyaan itu bukan berarti Leeteuk melarang dongsaengdeulnya menemui orang tuanya. Ia hanya tak ingin dongsaengdeulnya kelelahan dan akhirnya sakit. Maka dari itu Leeteuk mengusahakan agar dongsaengdeulnya pulang jika benar-benar penting dan mendesak.
"Aku merindukan Eomma dan Appa."
"Lalu kuliahmu?"
"Kebetulan hari Senin nanti jadwal kuliahku kosong, Hyung. Jadi aku bisa menggunakan hari itu untuk istirahat."
Leeteuk menganggukkan kepalanya.
"Baiklah. Kau bisa menemui orang tuamu. Kabari aku jika kau sudah sampai disana. Dan sampaikan salamku pada orang tuamu."
Eunhyuk tersenyum senang mendengar izin yang diberikan Leeteuk. Ia menganggukkan kepalanya semangat dan berpamitan pada Leeteuk. Berlalu menuju kamarnya untuk menyiapkan apa saja yang harus ia bawa.
Leeteuk hanya tersenyum kecil melihat kegembiraan Eunhyuk. Ia kembali sibuk dengan jus strawberry miliknya. Baru saja Leeteuk ingin membawa segelas jus itu ke kamarnya, langkahnya terhenti saat melihat Donghae berdiri di hadapannya. Leeteuk mengernyit heran melihat ekspresi yang Donghae tunjukkan.
"Waeyo, Donghae-ah?"
Donghae menggeleng pelan. Ia mendudukkan dirinya di salah satu bangku yang ada di dapur. Leeteuk yang tak mengerti sikap dongsaengnya itu akhirnya memilih untuk ikut mendudukkan dirinya. Mengurungkan niatnya untuk kembali ke kamarnya.
"Hei, kenapa wajahmu seperti itu. Sangat tidak enak untuk dilihat. Kau ada masalah?"
"Aniyo."
"Tidak rela Hyukie pulang ke rumahnya?"
Donghae menggeleng untuk kedua kalinya.
"Lalu?"
Lagi-lagi hanya gelengan kepala yang diberikan Donghae sebagai jawaban. Membuat Leeteuk makin memandangnya tak mengerti. Dan tanpa bicara apa-apa lagi, Donghae berlalu meninggalkan Leeteuk dengan wajah lesu.
"Ada apa dengan anak itu," gumam Leeteuk.
~SBH~
Hingga keesokan harinya sikap Donghae masih belum berubah. Ia masih sering terlihat murung dan lesu. Dan Leeteuk masih tak tahu apa yang menyebabkan dongsaeng manjanya itu bersikap seperti itu.
"Sebenarnya kau kenapa, Donghae-ah? Jika ada yang membebani pikiranmu, kau bisa menceritakannya, kan."
"Yesung Hyung benar, Donghae-ah. Sejak kemarin kau terlihat lesu dan gelisah. Ada apa hmm?"
Donghae mengarahkan pandangannya pada Yesung dan Sungmin. Ia menggeleng pelan.
"Jangan buat Leeteuk Hyung khawatir," sambung Kangin.
Donghae menghela nafas.
"Aku sendiri tak mengerti, Hyung. Sejak kemarin, perasaanku tak enak. Tapi aku sendiri tak tahu apa yang membuatku merasa seperti itu."
Yesung, Kangin dan Sungmin mengernyitkan kening mereka mendengar penuturan Donghae. Saat ini memang hanya mereka yang ada di rumah. Eunhyuk sudah pergi sejak pagi tadi. Heechul pergi menemani Hankyung ke perpustakaan kota. Leeteuk dan Ryeowook sedang berbelanja kebutuhan mereka. Siwon dan Kibum sedang pergi keluar. Kyuhyun sejak tadi malam menginap di tempat Henry. Dan Shindong sedang menemui teman kuliahnya.
"Bagaimana mungkin kau tidak mengerti apa yang sedang kau rasakan."
"Yang saat ini aku rasakan memang seperti itu Hyung. Terasa sesak tanpa aku tahu apa yang membuatku merasa sesak. Ingin menangis tanpa tahu apa yang harus kutangisi."
Yesung mengusap lembut pundak Donghae. Ia mengerti apa yang dirasakan Donghae.
"Kami mengerti, Donghae-ah. Tapi setidaknya jangan kau tunjukkan wajah murungmu itu di hadapan Leeteuk Hyung. Kau juga tahu kan seberapa detailnya Leeteuk Hyung mengenal kita semua."
Donghae mengangguki ucapan Kangin. Ia juga tak ingin membuat Leeteuk khawatir. Ia menunjukkan senyum childishnya pada ketiga Hyungnya itu. Membuat mereka semua ikut tersenyum bersamanya.
"Setidaknya begini jauh lebih baik," celetuk Sungmin.
~SBH~
Leeteuk terlihat begitu sumringah pagi ini. Senyum selalu terkembang di wajahnya. Memang bukan hal yang aneh, mengingat Leeteuk memang selalu mengurai senyumnya. Hanya saja, pagi ini wajah Leeteuk terlihat begitu berbinar. Seperti merasakan sebuah kesenangan yang tak tergantikan.
"Sepertinya Hyung sedang bahagia. Apa Hyung baru saja mendapat yeojachingu?"
Leeteuk hanya tersenyum kecil mendengar ucapan tak beralasan dari Kyuhyun.
"Aniyo. Aku belum berfikir ke sana," sahut Leeteuk santai.
"Lalu, apa yang membuat Hyung sesenang ini?"
Pertanyaan Yesung itu diangguki penghuni Sapphire Blue yang lain. Jujur saja, mereka cukup heran melihat wajah cerah Leeteuk yang terlihat jauh lebih cerah dari biasanya. Siapa yang tidak akan bertanya-tanya melihat hal itu.
"Ah, apa aku terlihat begitu senang?"
Pertanyaan retoris itu hanya mendapat anggukan dari yang lain.
"Ehm, sebenarnya Eomma baru menghubungiku malam tadi. Eomma bilang, Eomma dan Appa akan berkunjung kemari."
"Eoh? Jeongmal, Hyung?" tanya Heechul memastikan.
Leeteuk mengangguk kecil masih dengan senyum di wajahnya. Akhirnya mereka semua mengerti apa yang membuat Hyung tertua mereka itu begitu senang. Yah, sangat wajar Leeteuk begitu senang. Mengingat sejak orang tuanya memutuskan untuk melebarkan sayap usahanya ke Jepang setahun lalu, belum pernah sekalipun mereka mengunjungi Leeteuk.
"Ah, pantas saja Hyung terlihat sangat senang."
Leeteuk hanya tersenyum menanggapi komentar Kangin. Ia sendiri tak tahu jika ternyata dirinya mengekspresikan kedatangan kedua orang tuanya dengan begitu antusias. Sampai seluruh dongsaengnya memandangnya heran.
"Kapan Ahjushi dan Ahjumma datang, Hyung?"
Leeteuk terlihat berfikir sebentar sebelum menjawab pertanyaan Sungmin.
"Hmm, kemungkinan dua atau tiga hari lagi. Eomma bilang masih ada beberapa pekerjaan yang harus diurus Appa."
"Aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan orang tuamu, Hyung. Sepertinya hanya aku yang belum pernah bertatap muka langsung dengan Park Ahjushi dan Ahjumma."
Leeteuk mengusap lembut tangan Kyuhyun yang kebetulan duduk disampingnya.
"Eomma dan Appa pasti senang bertemu denganmu, Kyuhyunie."
Kyuhyun hanya tersenyum mendengarnya. Ia semakin tak sabar bertemu dengan orang tua dari sosok namja istimewa dihadapannya ini. Mengingat dirinya adalah yang paling terakhir menginjakkan kaki di Sapphire Blue House, tentu saja Kyuhyun belum berkesampatan untuk bertemu dengan orang tua Leeteuk.
"Kalau begitu aku akan membuatkan masakan istimewa di hari kedatangan Park Ahjushi dan Ahjumma."
"Gomawo, Ryeowookie."
"Bagaimana kalau kita buat pesta penyambutan untuk kedatangan Park Ahjushi dan Ahjumma? Hanya pesta kecil saja," usul Siwon.
Leeteuk mengernyit mendengar usul Siwon. "Apa tak terlalu berlebihan?"
"Aku setuju dengan usul Siwon, Hyung. Lagipula, ini kedatangan Park Ahjushi dan Ahjumma yang pertama kalinnya setelah satu tahun. Tidak ada salahnya kita mengadakan penyambutan kecil."
"Ne, Hankyung Hyung benar. Lagipula, beberapa waktu belakangan ini kan kita disibukkan dengan sedikit masalah. Anggap saja pesta itu sekaligus untuk perayaan kita. Eotte?"
Leeteuk mengedarkan pandangannya. Terlihat seluruh dongsaengnya memandangnya penuh harap. Setelah menarik nafas sekali, Leeteuk pun menganggukkan kepalanya. Yang langsung disambut teriakan hebih dari Donghae dan Eunhyuk.
Rencana pesta penyambutan itu pun mulai disusun. Beberapa ide, dari yang wajar sampai tidak wajar mulai bermunculan dari mulut para namja tampan tersebut. Leeteuk hanya tersenyum melihat keceriaan dari semua dongsaengnya. Yah, biarlah untuk kali ini Leeteuk mengalah dan menuruti keinginan dari dongsaengdeulnya.
~SBH~
Leeteuk bergerak gelisah dalam tidurnya. Keringat dingin terlihat membasahi wajahnya. Kedua bola matanya pun terlihat bergerak di balik kelopak matanya yang terpejam. Selimut yang menutupi tubuhnya sudah terjatuh.
Leeteuk membuka kedua matanya. Mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamarnya. Setelah beberapa saat, ia mendudukkan dirinya dan meraih segelas air yang berada di nakas samping tempat tidurnya.
"Hah! Kenapa aku bisa bermimpi seperti itu? Dan kenapa mimpi itu terasa begitu nyata?"
Leeteuk melihat jam dinding yang tepat berada di hadapannya. Baru jam 3 pagi. Masih terlalu dini untuk terbangun. Tapi dirinya tak bisa memejamkan matanya kembali. Akhirnya karena tidak tahu ingin melakukan apa, Leeteuk hanya terdiam menatap langit-langit kamarnya. Dan entah kenapa, memorinya memutar kejadian-kejadian yang telah dilaluinya bersama dengan kedua orang tuanya.
Masih segar dalam ingatannya saat kedua orang tuanya mengatakan padanya akan mengembangkan sayap bisnis mereka ke Negeri Sakura. Walau sedikit berat, Leeteuk menyetujui keinginan orang tuanya itu.
Dan sejak kedua orang tuanya sibuk di Jepang, hanya lewat telpon atau video chat saja mereka dapat bertukar kabar. Kedua orang tua Leeteuk memang tetap rutin menghubungi Leeteuk. Mereka tak ingin jarak membuat hubungan mereka pun menjadi berjarak. Setidaknya dalam satu minggu, orang tua Leeteuk akan menghubungi Leeteuk.
"Padahal Eomma dan Appa akan sampai hari ini, tapi kenapa aku sangat ingin bertemu dengan Eomma dan Appa. Aish, Jung Soo, kau ini bukan anak kecil lagi. Jangan bersikap manja," monolog Leeteuk.
Leeteuk kembali melirik jam yang ada di kamarnya. Sudah jam 5 pagi. Setelah berfikir sejenak, akhirnya Leeteuk memutuskan untuk membasuh wajahnya dan menyiapkan sarapan untuk dongsaengdeulnya. Sekaligus mengecek hal-hal yang akan melengkapi pesta penyambutan mereka sore nanti.
~SBH~
"Eoh? Hyung? Sejak kapan Hyung bangun? Kenapa sepagi ini sudah di dapur? Dan ini semua Hyung yang menyiapkan?"
Leeteuk tersenyum dan menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Ryeowook. Satu-satunya dongsaengnya yang selalu bangun paling awal.
"Tumben sekali, Hyung. Ah, aku tahu, Hyung pasti tidak bisa tidur karena tidak sabar bertemu dengan Ahjushi dan Ahjumma ya," goda Ryeowook.
Leeteuk tertawa pelan mendengar godaan yang dilontarkan Ryeowook.
"Aku bukan lagi anak kecil, Ryeowook-ah."
Ryeowook ikut tertawa bersama dengan Leeteuk. Ryeowook pun beralih membuka pintu kulkas. Melihat blackforest berukuran sedang yang kemarin baru mereka hias setengahnya. Ia mengeluarkannya dari kulkas dan bersiap menyelesaikan hiasan untuk kue tersebut. mengingat kegiatan rutinnya untuk membuat sarapan sudah didahului oleh Leeteuk, mau tak mau Ryeowook harus mencari kegiatan lain.
"Ah, kau mau menyelesaikan hiasan untuk kue itu?"
Ryeowook menganggukkan kepalanya.
"Ne, Hyung. Ini masih terlalu pagi untuk membangunkan yang lain sarapan. Jadi lebih baik aku melanjutkan menghias saja."
"Aku bantu, ne?"
Ryeowook menggelengkan kepalanya.
"Aniyo. Hyung sudah menyiapkan sarapan pagi ini, jadi biarkan aku yang menyelesaikan kue ini. Hyung istirahat saja sambil menunggu yang lain bangun."
Dengan sangat terpaksa Leeteuk menganggukkan kepalanya. Ia duduk di hadapan Ryeowook. Memperhatikan dongsaengnya itu menghias kue. Sesekali ia membantu mengambilkan apa yang diperlukan Ryeowook. Yang mau tak mau Ryeowook terima, mengingat Hyung di hadapannya ini cukup keras kepala.
Setengah jam berlalu tanpa mereka berdua sadari. Kini Ryeowook dan Leeteuk tengah menatap puas hasil dari pekerjaan mereka. Senyum tak lepas dari wajah keduanya.
"Sepagi ini kalian sudah senyum-senyum seperti itu. Ada apa?"
Leeteuk dan Ryeowook menoleh bersamaan ke asal suara. Terlihat Heechul berjalan mendekati mereka berdua. Matanya menangkap blackforest yang ada di meja. Ia membulatkan mulutnya, mengerti apa yang membuat kedua orang di hadapannya ini tersenyum seperti tadi.
"Kenapa tidak menunggu kami untuk menyelesaikannya?"
"Aku juga mendadak melakukannya, Hyung. Saat ingin membuat sarapan tadi, ternyata Leeteuk Hyung sudah menyiapkan semua ini. Jadi lebih baik aku menyelesaikan kue ini kan."
Heechul memandang Leeteuk. Leeteuk hanya tersenyum salah tingkah.
"Apa yang membuatmu tak bisa tidur?"
"Eoh?"
Heechul berdecak mendengar respon yang diberikan Leeteuk. Ia mengambil duduk tepat di samping Leeteuk dan memutar tubuh Leeteuk untuk menghadapnya.
"Kau tidak mungkin menyelesaikan membuat sarapan untuk kami sebelum Wookie bangun jika kau tidur dengan baik malam tadi. Jadi, pasti ada yang membuatmu tak bisa tidur dengan baik. Aku benar, kan?"
Leeteuk terdiam. Sampai kapanpun ia tak akan bisa berbohong pada Heechul. Sedangkan Ryeowook hanya memandang tak mengerti kedua Hyungnya.
"Diam berarti 'Ya'," cetus Heechul.
"Gwaenchana, Heechul-ah. Tidak ada hal penting."
Heechul menyipitkan matanya mendengar ucapan Leeteuk. Dirinya tahu, Leeteuk tidak mengatakan yang sebenarnya.
"Hah! Terserah apa yang kau katakan," ucap Heechul pasrah.
Pada akhirnya, hanya keheningan yang menemani ketiga namja itu. Selang beberapa saat kemudian, satu persatu dari penghuni Sapphire Blue muncul di ruang makan. Mereka pun segera melakukan rutinitas pagi mereka.
Setelah selesai sarapan, mereka semua berpencar dan mulai sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Kebetulan sejak dua hari lalu mereka mendapatkan libur untuk satu minggu ke depan.
Leeteuk, Sungmin, Ryeowook dan Donghae tengah duduk menonton televisi di ruang tengah. Kyuhyun sibuk dengan dunia gamenya. Shindong dan Eunhyuk tengah membicarakan gerakan dance yang akan mereka gunakan untuk kompetisi dance 2 bulan lagi.
Yesung, Hankyung dan Heechul tengah mendiskusikan tentang laporan magang milik Yesung dan Hankyung. Siwon dan Kibum sibuk melatih acting mereka. Dan Kangin entah apa yang ia lakukan dengan smartphonenya.
Tiba-tiba saja terdengar dering telpon yang ada di ruang tengah. Bukan hal yang biasa terjadi, mengingat mereka semua memiliki ponsel masing-masing. Setelah dering ketiga, Kangin yang memang kebetulan berada dekat dengan telpon, mengangkat telpon tersebut.
"Yeoboseyo."
"Yeoboseyo, apa benar ini dengan kediaman Park Jung Soo?"
"Nde, benar. Ada yang bisa saya bantu?"
Kangin terdiam begitu mendengar kalimat demi kalimat yang dilontarkan seseorang yang berada di seberang telpon. Lidahnya kelu hanya untuk sekedar menanggapi perkataan sosok yang tak ia ketahui itu.
Prang!
Kangin mengalihkan pandangannya ke asal suara. Begitu juga penghuni Sapphire Blue lainnya yang tidak ada di ruang tengah. Mereka melihat Leeteuk yang baru saja menjatuhkan gelas yang dipegangnya. Di dekat Leeteuk, terlihat Sungmin, Ryeowook dan Donghae yang terpaku menatap layar televisi.
Kangin ikut mengarahkan pandangannya pada layar televisi. Terlihat siaran berita yang menyiarkan mengenai kecelakaan yang terjadi di Bandara Incheon beberapa waktu lalu. Kangin meneguk ludah melihat berita itu.
"Kamsahamnida atas informasinya. Kami akan segera kesana."
Kangin berjalan menghampiri Leeteuk.
"Hyung, kita ke rumah sakit sekarang, nde? Park Ahjushi dan Ahjumma sudah dibawa ke sana. Tadi pihak kepolisian menghubungi dan mengharapkan kehadiran Hyung di rumah sakit."
Kangin berucap dengan sangat hati-hati. Ia tahu, Leeteuk pasti sangat shock saat ini. Begitu juga dengan penghuni Sapphire Blue yang lain. Mereka saling berpandangan sejenak. Seolah dengan itu mereka dapat saling memberi kekuatan.
Yesung menghampiri Leeteuk yang masih terdiam di tempatnya. Tanpa bicara apapun, ia membawa Leeteuk ke dalam dekapannya. Mengusap lembut punggung Leeteuk. Leeteuk sendiri yang mendapat perlakuan langsung dari Yesung tersadar dari keterkejutannya. Tanpa sadar, air matanya mengalir turun membasahi wajahnya.
"Eomma. Appa," lirih Leeteuk dengan suara parau.
"Gwaenchana, Hyung. Semua akan baik-baik saja. Sekarang lebih baik kita segera kesana untuk mengetahui keadaan Park Ahjushi dan Ahjumma."
Yesung mengalihkan pandangannya ke arah yang lain.
"Biar aku, Leeteuk Hyung, Heechul Hyung dan Siwon yang pergi. Yang lain tunggulah di rumah. Aku akan segera mengabari kalian nanti."
Semua mengangguk menyetujui usul Yesung. Dengan dibantu Yesung, Leeteuk bangkit dari duduknya. Berjalan dengan gontai meninggalkan ruang tengah bersama Yesung dan Heechul. Sedangkan Siwon sudah melesat sejak tadi untuk mengeluarkan mobil miliknya.
~SBH~
Suasana Sapphire Blue House hening sejak Leeteuk dan yang lain meninggalkan rumah. Donghae dan Kyuhyun terlihat menundukkan kepala mereka. Eunhyuk dan Sungmin selalu mendampingi mereka.
Donghae meremas pelan celananya. Melampiaskan kekhawatiran yang amat sangat ia rasakan. Eunhyuk yang melihat itu menggenggam lembut tangan Donghae yang terkepal.
"Gwaenchana, Donghae-ah. Kita berdo'a saja agar Park Ahjushi dan Ahjumma baik-baik saja."
"Aku takut, Hyukie. Aku tak ingin kehilangan lagi. Park Ahjushi dan Ahjumma sudah kuanggap seperti orang tuaku sendiri. Aku takut terjadi sesuatu pada mereka," ucap Donghae.
Air matanya mengalir tanpa mampu ia tahan lagi. Hatinya benar-benar tak tenang. Rasa sesak yang memang sejak beberapa hari lalu ia rasakan, makin terasa menghimpitnya. Sejak dirinya tinggal di Sapphire Blue, Donghae memang cukup dekat dengan orang tua Leeteuk. Terutama dengan sosok sang Appa. Mengingat Donghae ditinggal pergi oleh Appanya saat dirinya belum lama menginjakkan kakinya di Seoul.
Sosok Park Ahjushi dapat membuat Donghae kembali menemukan sosok Appa. Yang begitu melindungi serta menyayangi dirinya. Sosok bijaksana yang mampu membuat Donghae merasa nyaman berada di dekatnya.
"Hyung, Ahjushi dan Ahjumma akan baik-baik saja, kan? Tidak ada hal buruk yang akan terjadi, kan?"
Sungmin tersenyum lembut pada Kyuhyun. Walau ia juga tak tahu apakah semua akan baik-baik saja, tapi Sungmin juga tak ingin membuat Kyuhyun makin bersedih.
"Kita hanya mampu berharap dan terus berdo'a, Kyuhyunie. Semoga saja tidak terjadi hal yang buruk pada Park Ahjushi dan Ahjumma."
Kyuhyun memandang Sungmin penuh harap. Namun sepertinya Sungmin tak ingin memberi harapan palsu pada dongsaengnya itu. Karena dirinya juga tak mampu menebak hal apa yang akan ia dengar dari Yesung nanti.
Tiba-tiba dering ponsel terdengar di ruangan itu. Ryeowook sang pemilik ponsel langsung mengambil ponselnya. Ia melihat id caller di layar smartphone-nya itu. Eomma calling. Ia pun langsung mengangkat telpon tersebut.
"Yeoboseo, Eomma."
"Chagi, kau dimana sekarang?"
"Aku di rumah, Eomma. Wae?"
"Eomma tadi melihat berita. Apa benar orang tua Jung Soo mengalami kecelakaan?"
Ryeowook terlihat menarik nafas sebelum menjawab pertanyaan Eommanya itu.
"Ne, Eomma. Saat ini Leeteuk Hyung, Heechul Hyung, Yesung Hyung dan Siwon Hyung sedang menuju rumah sakit."
"Omo! Ah, bolehkah Eomma kesana?"
"Eoh? Maksud Eomma ke rumah?"
"Nde. Jung Soo pasti merasa sangat sedih saat ini. Kalian juga pasti sangat mengkhawatirkan keadaan orang tua Jung Soo, kan? Mungkin ada yang bisa Eomma lakukan disana."
"Apa Eomma tak sibuk?"
"Aniyo, Chagi. Eomma akan meluangkan waktu Eomma untukmu."
Senyum kecil tersungging di bibir Ryeowook saat mendengar ucapan Eommanya.
"Kalau begitu, aku tak bisa melarang Eomma. Gomawo, Eomma."
"Nde. Eomma akan segera kesana."
Sambungan terputus. Ryeowook menggenggam erat smartphonenya. Sama seperti yang lainnya. Saat ini Ryeowook dilanda kekhawatiran yang teramat. Menanti kabar dari Yesung yang sampai saat ini belum juga menghubungi salah satu dari mereka. Belum lagi ketakutan mereka terjadi hal yang tak mereka inginkan nanti. Dan di saat seperti ini, sejujurnya, Ryeowook membutuhkan sosok Eommanya.
"Eomma akan kemari siang nanti."
Ucapan Kibum itu membuat perhatian semua yang ada di ruang tengah teralih padanya.
"Eomma ku juga sedang dalam perjalanan."
Kini perhatian yang lain mengarah pada Ryeowook. Eomma dari dua namja Kim itu sepertinya mengkhawatirkan keadaan putra mereka beserta rekan serumahnya. Hingga mereka kompak berniat mengunjungi putra mereka itu.
"Gomawo, Ryeowookie, Kibumie."
~SBH~
Sementara itu di sebuah rumah sakit yang dijadikan sebagai tempat melarikan korban dari kecelakaan pesawat di bandara Incheon, terlihat keramaian yang berbeda dari biasanya. Di lobi rumah sakit itu telah berkumpul keluarga dari korban yang telah dihubungi oleh pihak kepolisian. Termasuk di sana empat namja yang masih menunjukkan kekhawatiran dan kecemasan.
Yesung berusaha mencari tahu bagaimana keadaan kedua orang tua Leeteuk. Mengingat saat ini Leeteuk masih begitu shock. Yesung memang khawatir dan merasa takut, tapi ia berusaha untuk menekan perasaannya itu. Setidaknya ia harus bersikap tenang disaat kedua Hyung tertuanya itu tengah merasa kalut.
"Chogi, apa ada pasien di rumah sakit ini yang bernama Park Yun Joon dan istrinya? Mereka merupakan korban kecelakaan pesawat di bandara Incheon tadi."
Seorang perawat yang ditanyai Yesung melihat sebentar catatan yang ada di hadapannya. Setelah beberapa saat ia menganggukkan kepalanya.
"Ne, orang yang Anda cari ada di rumah sakit ini. Saat ini korban kecelakaan pesawat itu ada di ruang IGD. Tapi ‒"
"Nde?" Yesung bertanya saat perawat di depannya tak lagi menggantungkan ucapannya.
"Menurut data yang ada pada saya, Tuan Park meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit."
Yesung terdiam mendengar penuturan perawat di hadapannya. Lidahnya terasa kelu. Dengan sangat perlahan, ia mengalihkan pandangannya pada Leeteuk. Dapat dilihatnya wajah Leeteuk berubah pucat mendengar kenyataan itu. Appanya telah tiada. Apa ia tak salah dengar?
Leeteuk terduduk di tempatnya. Kakinya terasa lemas. Seolah tak ada tulang yang menopangnya. Pandangannya kosong. Beberapa saat kemudian, setetes air mata membasahi wajahnya. Disusul tetes-tetes selanjutnya. Hingga kini wajahnya telah dibasahi oleh air mata.
Heechul memandang sayu ke arah Leeteuk. Ia menempatkan dirinya di sisi Leeteuk. Membawa Leeteuk ke dalam dekapannya. Membiarkan Leeteuk menumpahkan semua air matanya dalam dekapannya. Dirinya sendiri tak mampu membendung kesedihan yang ia rasakan. Ia juga menangis. Ia juga merasa kehilangan.
Siwon menatap Yesung. Meminta pendapat pada Hyungnya itu apa yang harus ia lakukan. Yesung yang mengerti maksud tatapan Siwon menghela nafas sebelum bicara.
"Hubungi yang lain di rumah, Siwon-ah. Kita akan secepatnya mengurus pemakaman Park Ahjushi."
Siwon mengangguk. Ia memilih menjauh sejenak dari tempatnya tadi, mengingat kondisi di ruangan itu cukup riuh dengan keberadaan dari keluarga korban yang lain.
Setelah kepergian Siwon, Yesung menolehkan kepalanya ke arah perawat tadi. Ia menanyakan dimana dapat bertemu dengan Park Ahjumma dan juga melihat jenazah dari Park Ahjushi. Perawat itu memanggil perawat yang lain untuk mengantarkan Yesung.
"Hyung, aku pergi sebentar," pamit Yesung.
Heechul hanya menganggukkan kepalanya pelan. Yesung pun berlalu mengikuti seorang perawat.
~SBH~
"MWO!"
Seluruh penghuni Sapphire Blue yang ada di ruang tengah langsung menolehkan kepalanya ketika mendengar pekikan suara Kangin. Termasuk Eomma Kibum dan Ryeowook yang memang telah tiba disana beberapa waktu lalu.
"Ne, kami akan segera mengurus semua yang diperlukan. Kabari lagi jika kalian sudah akan menuju kemari."
Kangin mengakhiri perbincangannya dengan lesu. Ia menatap yang lainnya dengan mata berkabut. Tanpa mendengar penjelasan Kangin, mereka sudah dapat menebak, jika terjadi sesuatu yang buruk.
"Hyung, ada apa?" tanya Donghae parau.
"Kita harus segera menyiapkan ‒ menyiapkan pemakaman untuk ‒ untuk Park ‒ Ahjushi."
Suasana hening sejenak. Sepertinya mereka masih mencoba mencerna apa yang dikatakan oleh Kangin.
"Andwae! Hyung, jangan bercanda. Park Ahjushi pasti baik-baik saja. Park Ahjushi dan Ahjumma tak akan kenapa-napa."
Donghae terlihat sangat terpukul. Walau ia menyangkal, tapi air matanya terus menetes begitu mendengar ucapan Kangin. Ia berlari menuju kamarnya dan Eunhyuk. Menutup pintunya dengan bantingan.
"Hyung, jadi ‒ jadi Park Ahjushi sudah ‒ sudah tiada?" Kyuhyun bertanya dengan terbata. Serasa ada sesuatu yang menyumbat tenggorokannya.
Anggukan kepala Kangin membuat Eunhyuk dan Ryeowook langsung menangis kencang. Kyuhyun sendiri tanpa mampu ditahan meneteskan air matanya dan menangis terisak. Semua yang ada di ruangan itu merasa kehilangan. Merasakan kesedihan yang sama dengan yang dirasakan Leeteuk saat ini.
Mereka kehilangan sosok yang selama ini selalu mendorong mereka. Selalu memberikan mereka petuah dan nasihat. Sosok seorang Appa yang sangat bijaksana.
Suasana duka menyelimuti Sapphire Blue House hari itu.
~TBC~
Mian, fict ini terlantar selama sebulan. Membangun feel sad di tengah suasana hati yang justru ga enak karena dikejar deadline tugas itu ternyata ga bisa dapet dengan baik. Makanya fict ini sempet terlantar. Tapi saya udah berhasil melalui chap ini. Semoga chap depan bisa lebih cepet lagi, soalnya udah ada gambaran mau dibawa kemana chap depan nanti.
Oh ya, berhubung ada isu FFn akan dihapus, saya sudah menyediakan rumah baru untuk posting lanjutan dari Sapphire Blue House dan juga mungkin ff saya yang lainnya. Untuk saat ini emang masih kosong, tapi secara bertahap, saya akan pindahkan arsip ff saya kesana. Silahkan kunjungi angeleeteuk0107 dot wordpress dot com. Tapi selama FFn masih baik-baik aja, saya juga akan tetap posting disini, berbarengan dengan posting di wp. Gomawo ^^
