Light On My Darkness
Chapter 10
.
.
Author : Clou3elf
Main Cast : Jeon Jungkook, Kim Taehyung and others
Pairing : KookV slight!YoonV, NamV
Genre : Drama, Hurt & Comfort
Rate : T-M (sesuai kebutuhan)
Warning : BxB, Seme!Kook, typo, membosankan, dll
A/N : Sesuai kesepakatan *ceileh* saya publish yang cerita satu. Maapkeun saya karena buat bang JK disini jadi gila #ditabok. Maafkan juga kalau ini bener-bener ancur. Saya bukan anak psikologi, kedokteran atau apapun itu. Jadi semua isi cerita ini bener-bener ngarang tingkat dewa kecuali nama penyakitnya xD
Awas! 5k+
.
.
Hope U Like
.
.
Happy Reading
.
.
~Previous Chapter~~
.
.
.
"Ibu Jungkook juga pengidap penyakit Skizofrenia. Jadi ibunya lah pembawa gen itu bagi Jungkook,"
Taehyung shock. Dia sungguh tak menyangka jika Ibu Jungkook juga pengidap.
"Dan satu lagi, pembunuhan yang Jungkook lihat di usianya yang ke lima tahun adalah pembunuhan sang kakak."
Entah untuk yang ke berapa kali Taehyung terkejut, "Jungkook memiliki kakak?"
Sang dokter mengangguk. Menghentikan langkahnya hanya untuk memandang Taehyung. "Jungkook memiliki kakak yang selisih usianya 3 tahun. Seingatku mereka sangat akur. Bahkan Junghyun sering mengajak Jungkook bermain."
"La-lalu?"
"Seperti yang kubilang tadi, Jungkook melihat pembunuhan sang kakak saat dia pulang bermain."
Taehyung seketika bergidik. Membayangkan anak yang masih berusia lima tahun harus melihat hal seperti itu.
"Apa Jungkook juga melihat pembunuhnya?"
"Tentu saja. Jungkook sangat mengenal pembunuh kakaknya."
"Siapa?"
"Ibunya sendiri."
.
.
.
Chapter Ten
.
.
.
Hari ini Taehyung meminta giliran berjaga di ruangan saja. Setengah mati memohon agar tugasnya digantikan selama satu hari ini. Kepalanya pening. Selama satu minggu ini tidurnya sangat tidak teratur. Otaknya selalu dipaksa berpikir.
Ucapan dokter pribadi Jungkook membuat Taehyung jadi kembali memikirkan banyak hal. Termasuk keputusan untuk membawa Jungkook tinggal bersama ibunya. Semuanya terjawab sudah, alasan Jungkook selalu menolak bertemu dan tinggal dengan ibunya.
"Kau oke?" tanya salah satu rekannya.
"Ne, aku hanya perlu beristirahat sebentar. Maaf merepotkanmu untuk satu hari ini noona." ucap Taehyung.
Rekan kerjanya hanya mendengus kemudian mengacak rambut Taehyung. "Santai saja. Buat dirimu nyaman."
Taehyung hanya mengeluarkan cengirannya sebelum rekan kerjanya pergi melakukan patroli. Setelahnya, Taehyung membuka berkas yang didapatnya dari dokter yang menangani Jungkook. Dengan cermat perawat itu mempelajari apa saja yang sudah dilalui Jungkook selama ini, bagaimana perkembangan pemuda itu selama ini, dan apa yang bisa Taehyung lakukan ke depannya.
Sedang asyik membaca berkas yang berada di tangannya, Taehyung dikejutkan dengan seseorang yang mendadak memasuki ruangan. Itu Mingyu. Psikiater yang rencananya akan membantu Jungkook mengatasi psikisnya.
"Oh, Mingyu-sshi, kenapa mendadak sekali kemari?." tanya Taehyung ramah.
Dan entah perasaannya saja atau memang Mingyu memandangnya dengan tatapan dingin luar biasa. Pemuda itu tersenyum namun tak sampai ke matanya yang menyorot dingin. Taehyung jadi sedikit merasakan hawa dingin yang tak biasa disini.
"Dimana Jungkook?" tanya Mingyu tanpa basa-basi.
"Ah, Jungkook sedang beristirahat. Kau … Mau menemuinya?" Taehyung bertanya lagi.
Mingyu mengangguk kalem. "Hanya tunjukkan dimana ruangan Jungkook dan aku akan kesana sendiri. Kau tak perlu repot mengantarku. Karena kau akan membuat Jungkook tak mau melihatku." kalimat terakhir diucapkan seperti desisan berbahaya di telinga Taehyung.
Taehyung mengangguk ragu. Ragu antara memberitahu atau tidak. Ragu antara membiarkan Jungkook dan Mingyu berdua atau tidak. Karena terakhir kali mereka bertemu, Jungkook hampir saja menyakiti Mingyu.
"Jadi Kim. Tae. Hyung. –sshi, apa kau tetap akan berdiam disana atau memberitahuku dimana kamar Jungkook?"
"A-ah. Ruangan Jungkook paling ujung." Taehyung akhirnya memutuskan memberitahu Mingyu.
Tanpa mengatakan apapun, Mingyu langsung pergi menuju tempat tujuan utamanya. Menemui Jungkook, tentu saja. Tujuannya kemari dan melakukan semua ini adalah untuk Jungkook. Untuk memiliki pemuda dengan tubuh atletis itu.
Well, memang benar. Rasanya dia jauh lebih berbahaya dan lebih parah dari orang itu. Siapa yang peduli.
Yang dia tau dan dia perdulikan adalah bagaimana Jungkook bisa jatuh padanya. Sudah selama bertahun-tahun Mingyu mendambakan Jungkook. Entahlah. Semenjak mengetahui fakta pemuda itu bisa sebegitu berbahayanya membuat adrenalinnya terpacu.
Psikiater itu menyeringai begitu melihat sosok Jungkook yang sedang berbaring dan memejamkan matanya. Entah tertidur atau tidak. Yang jelas pemandangan Jungkook yang tertidur adalah pemandangan yang menyenangkan bagi Mingyu. Sangat menyenangkan.
Ah, Mingyu lupa meminta kunci pintu kamar Jungkook. Dia sedikit kesal begitu mengetahui Jungkook diperlakukan seperti ini oleh Kim jalang Taehyung. Tapi sedikit lebih banyak dia merasa berterima kasih. Jungkook terlihat menggairahkan.
Mingyu jadi berfantasi liar dengan Jungkook sebagai obyeknya.
Seakan merasa seseorang sedang mengamatinya, Jungkook membuka mata. Matanya semakin menyorot dingin saat melihat sosok Mingyu berada di depan kamarnya. Jungkook hanya memandang datar ke arah orang itu.
"Kau tak mau menemuiku, Jungkookie?" tanya Mingyu dengan nada dibuat menggoda.
"Enyah dari hadapanku." tegas Jungkook dengan aura berbahaya.
"Oho~ kau tidak merindukanku?" Mingyu semakin bersemangat menggoda Jungkook.
Jungkook lebih memilih mengubah posisinya menjadi berbaring memunggungi Mingyu. Sebenarnya Jungkook sekuat tenaga menahan dirinya tidak menghampiri Mingyu dan memberi satu dua pukulan untuk orang itu karena mengusik ketenangannya. Hanya saja Jungkook tidak ingin membuat Taehyung dapat masalah.
Tubuh Jungkook bergetar menahan luapan emosi yang berkecamuk dalam dadanya. Marah, tertekan, dan takut. Marah karena dia mendengar Mingyu mengoceh tentang banyak hal yang menurutnya hanya omong kosong. Tertekan karena bisikan lain yang menyebut Mingyu berbahaya untuknya dan pria itu memiliki banyak rencana busuk untuknya. Dan takut, takut dirinya akan kelepasan atau takut Mingyu akan menyakiti Taehyung.
Entah kenapa Jungkook selalu berpikiran Taehyung akan celaka jika ada Mingyu disekitar mereka. Dan satu hal yang sedikit membuatnya semakin murka. Jungkook tak bisa melakukan apapun jika seandainya Mingyu melakukan hal buruk pada Taehyung.
Mingyu semakin menyeringai begitu melihat getaran samar dari tubuh Jungkook yang memunggunginya. Dia sangat menunggu bagaimana respon Jungkook selanjutnya. Entah tetap mengabaikannya seperti ini atau akan menerjangnya seperti waktu dulu.
Pemuda itu menjilat bibirnya yang mendadak kering. Matanya masih memaku Jungkook. Dalam hati berpikir bagaimana caranya agar Jungkook mau memandangnya. Oh juga memikirkan bagaimana Jungkook agar mau bicara dengannya. Kata-kata sarkas yang keluar dari mulut Jungkook pun tak menjadi masalah. Mingyu suka mendengarnya.
"Ah, bagaimana ini? Apa aku harus menemui Taehyung saja?" Mingyu sengaja bermonolog dengan suara keras dan menekankan nama Taehyung. Dia ingin lihat bagaimana reaksi Jungkook.
Matanya berkilat saat Jungkook menegang. Sepertinya Taehyung memang menempati posisi khusus bagi Jungkook hingga menyebut nama perawat itu saja Jungkook sudah bereaksi. Dan ini jadi menarik bagi Mingyu.
"Baiklah-baiklah kalau kau tak mau menemuiku, aku akan menemui Taehyung saja." usai mengatakan hal itu, Mingyu beranjak dari posisinya.
Jungkook hanya memejamkan matanya rapat-rapat. Berusaha menghalau setiap halusinasi yang berputar di depan matanya. Meyakinkan diri jika Taehyung tidak apa-apa. Taehyung aman dari jangkauan orang itu.
Nyatanya itu tidak berguna. Jungkook kembali berhalusinasi jika Mingyu datang ke tempat Taehyung dan melakukan sesuatu pada pemuda itu. Belum lagi Jungkook mendengar Taehyung berteriak. Teriakannya terdengar memilukan.
Jungkook bangkit dari posisinya kemudian mencengkeram jeruji yang menjadi pintu kamarnya. Menggeram marah saat melihat beberapa suster lalu lalang di depannya sambil bergidik takut. Tatapan Jungkook saat ini memang benar-benar menakutkan. Mata hitamnya menyorot tajam.
"Ju-Jungkook-sshi, apa kau mau bertemu Taehyung?" seorang perawat yang Jungkook tak tau namanya bertanya pelan.
Jungkook memandangi perawat itu lurus. Sebelum semenit kemudian dia mengangguk. Jungkook harus bertemu Taehyung.
"Tunggulah sebentar. A-akan kupanggilkan Taehyung."
Jungkook masih tetap pada posisinya, mencengkeram jeruji sambil menunggu dengan tidak sabar. Pemuda itu bukanlah orang yang sabar. Terutama jika menyangkut sesuatu yang menurutnya penting. Kim Taehyung contohnya.
Hampir saja Jungkook mendobrak pintu jeruji besi itu jika tidak mendengar Taehyung memanggilnya. "Jungkook-ah? Ada apa?" tanya perawat itu.
"Buka. Kumohon." ucapan Jungkook sudah terdengar kacau. Banyak hal ingin dibicarakan Jungkook tapi hanya itu yang mampu keluar dari mulutnya.
Taehyung dengan sigap membuka gembok pintu jeruji kamar Jungkook. Mendorongnya pelan kemudian membawa Jungkook kembali ke ranjang. Jungkook menurut karena tak ada lagi yang bisa dia lakukan sekarang selain menuruti Taehyung.
Tangan kekarnya mencengkeram tangan Taehyung. Memintanya dengan lembut agar duduk di sampingnya alih-alih duduk di kursi. Taehyung menurut. Dia tak tau apa yang sudah dialami Jungkook tadi. Yang dia tau adalah raut panik temannya saat berkata Jungkook membutuhkannya. Itu saja.
"Jadi, ada apa? Kenapa kau terlihat ketakutan begini?" tanya Taehyung. Tangannya menggenggam tangan Jungkook dengan lembut. Menyalurkan ketenangan yang dibutuhkan pemuda itu.
Jungkook masih enggan menjawab. Telinganya masih menangkap jeritan-jeritan Taehyung padahal pemuda itu ada di depannya. Matanya juga merefleksikan Mingyu yang sedang memandangi mereka dari pintu. Alhasil Jungkook berulangkali melirik pintu dan jendela kamarnya. Memastikan sendiri Mingyu tidak ada disana.
Taehyung yang melihat gelagat aneh dari Jungkook pun menghela nafas. Kemudian dia melirik jam yang bertengger di atas meja. Saatnya makan siang. Jika begini Jungkook harus segera makan dan meminum obatnya.
"Kau tunggu disini sebentar. Aku akan mengambilkan makan siang untukmu." Taehyung beranjak.
Dan secepat itu juga Jungkook memegangi tangannya. Menahannya agar tidak pergi kemanapun. Taehyung berusaha melepas tangan Jungkook darinya dengan lembut. Namun ternyata itu membuat Jungkook salah paham.
"Apa kau sudah membenciku? Tak ingin menemaniku?" tanya Jungkook pelan dengan tatapan kosong.
"Tidak tidak. Bukan begitu. Aku hanya ingin mengambil makan siangmu," Taehyung berusaha memberi pengertian pada Jungkook. "Tunggu disini ya. Aku janji hanya sebentar." bujuknya.
Jungkook menggeleng. Tangannya menggenggam erat tangan Taehyung. Enggan ditinggalkan.
"Baiklah-baiklah ayo ikut." ucap Taehyung akhirnya.
Jungkook tersenyum. Taehyung sedikit mencibir kelakuan pasien yang harus dia rawat itu. Membuat Jungkook melarikan tangannya mengacak rambut Taehyung yang lembut. Taehyung sedikit melotot sambil merapikan rambutnya. Jungkook kembali mengacak rambutnya. Begitu seterusnya. Setiap Taehyung merapikan rambutnya maka Jungkook akan mengacaknya lagi.
"Jangan terlalu terlihat cantik, Taehyungie."
"Hah?" Taehyung blank. Apa Jungkook baru saja menggombalinya?
.
.
Light On My Darkness
.
.
Dan seperti yang sudah-sudah. Setiap Taehyung pulang bekerja, pemuda itu mengajak Jungkook sedikit berjalan-jalan. Melatih Jungkook agar terbiasa dengan lingkungan luar, terbiasa bersosialisasi. Karena berdasarkan apa yang Taehyung dapat dari dokter yang menangani Jungkook, anak itu harus sering dilatih bersosialisasi dengan lingkungan sekitar.
"Kenapa tidak langsung pulang saja?" tanya Jungkook sambil menggenggam tangan Taehyung.
Taehyung menoleh kemudian cemberut, sengaja, "Aku lapar Jungkookie dan sedang malas memasak. Atau kau mau ke asrama dulu dan biarkan aku mencari makanan sendiri?"
"Tidak. Kita pergi bersama." putus Jungkook final.
Taehyung tersenyum menang. Semenjak dia mengetahui kelemahan Jungkook yang pasti akan menurutinya jika sedang cemberut, Taehyung memanfaatkannya dengan baik. Sedikit bumbu pergi sendiri dan wajah cemberut, maka dipastikan Jungkook akan menuruti keinginannya. Licik? Biar saja. Yang penting Taehyung bisa membiasakan Jungkook untuk bersosialisasi.
Perawat asal Daegu itu mengajak Jungkook ke festival makanan yang terletak sekitar limaratus meter dari tempat tinggal mereka. Festival itu tidak terlalu ramai makanya Taehyung berani membawa pemuda itu kesana. Sedikit meminimalisir kambuhnya Jungkook seperti waktu itu. Jungkook yang kambuh juga bisa membahayakan mereka.
Sejauh ini tidak ada masalah yang terjadi. Jungkook tampak rileks walau sesekali dia akan meremas tangan Taehyung yang berada di genggamannya saat halusinasinya mulai. Saat dia mulai merasakan bisikan halus yang terancam mempengaruhinya. Dan Taehyung yang sudah sangat mengerti akan mengeratkan genggaman mereka dan mengusap lengan berotot Jungkook dengan lembut. Memberitahu Jungkook jika semua akan baik-baik saja.
"Aku ingin membeli itu," ucap Jungkook kemudian menarik tangan Taehyung ke penjual baso ikan.
Taehyung hanya menurut. Karena tidak ada gunanya menolak ajakan Jungkook bukan.
"Bibi, kami pesan sepuluh tusuk," ucap Jungkook. Taehyung tersenyum lebar saat mendengar Jungkook memesan dengan suara yang terdengar ceria. Tidak lagi dingin atau terbata.
Biasanya, Taehyung yang akan memesan. Selama mereka jalan-jalan, Taehyung yang akan berinteraksi dengan orang lain. Membeli barang yang diinginkan Jungkook pun Taehyung yang melakukan. Jungkook hanya akan memberikan dompetnya kemudian mendampingi sembari menggenggam tangan Taehyung erat tanpa mengucapkan sepatah kata pun sampai akhirnya mereka berdua.
Melihat dan mendengar Jungkook yang memesan membuat Taehyung senang. Itu satu kemajuan yang berarti baginya. Setidaknya Jungkook akhirnya membuka diri dan belajar berbicara dengan orang lain selain Taehyung.
Karenanya, Taehyung jadi refleks memeluk lengan Jungkook dan sedikit menyandarkan kepalanya di bahu pemuda itu. Membuat Jungkook menoleh dan bibi penjual baso ikan tersenyum simpul. Mereka menggemaskan omong-omong.
"Apa dia kekasihmu? Kalian lucu sekali." ucap wanita yang Taehyung taksir seumuran dengan ibunya itu.
Mendengar ucapan bibi penjual baso ikan membuat Jungkook kembali menatap Taehyung lama. Taehyung tidak sadar karena dia sibuk berbincang dengan bibi itu. Sejurus kemudian Jungkook tersenyum sangat lembut.
"Terima kasih, bibi." ucap Jungkook sambil menerima baso ikan pesanan mereka. Tak lupa pemuda itu tersenyum simpul.
Taehyung semakin senang dibuatnya. Pemuda manis itu mengacungkan jempolnya di depan Jungkook yang hanya tertawa melihat kelakuan Taehyung.
"Itu bagus, Jungkookie. Ucapan terima kasih harus disertai dengan senyuman. Itu baru namanya orang baik." ucapnya kemudian mengambil satu tusuk baso ikan dan menyodorkannya di depan Jungkook.
Jungkook tentu saja tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia membuka mulutnya menyambut suapan Taehyung. Menggigit kecil dengan mata yang tak lepas dari wajah ceria perawat manisnya.
Taehyung tidak tahu saja jika Jungkook tadi mengucapkan terima kasih atas dua hal yang dilakukan bibi penjual itu. Terima kasih pertama karena baso ikan yang dijual tadi. Dan terima kasih kedua karena ucapan tulusnya yang menyebut Taehyung sebagai kekasihnya. Jujur saja Jungkook menyukai pemikiran itu. Memikirkan Taehyung sebagai kekasihnya sungguh membuatnya semangat dan senang. Jungkook tak tau kenapa.
Jika tadinya Taehyung hanya berniat membeli makanan kemudian pulang, maka sekarang Jungkook yang menolak pulang. Dia masih ingin berada disini. Lambat laun namun pasti Jungkook mulai menunjukkan senyum lebar dan tawanya. Dia sudah tidak canggung lagi mengajak seorang pedagang gula-gula berbincang sedikit. Bahkan Jungkook juga sempat bercanda dan tertawa bersama pedagang minuman disana.
Walau acara mereka sempat terganggu dengan insiden Jungkook yang gemetar dan hampir marah, tapi jalan-jalan mereka tetap terasa menyenangkan. Jungkook sedikit gemetar karena Taehyung tadi sempat meninggalkannya untuk membeli sosis saat Jungkook antri membeli es krim. Dia sudah berpikir buruk Taehyung diculik atau Taehyung meninggalkannya. Untung saja Taehyung segera kembali dengan senyuman menenangkannya.
Sedangkan saat Jungkook hampir marah adalah dikarenakan seseorang menyenggol Taehyung terlampau keras hingga membuat perawat itu limbung nyaris jatuh dan refleks mengaduh. Jungkook hampir saja mengejar orang yang menabrak Taehyung namun Taehyung melarangnya. Taehyung bilang dia hanya terkejut, tidak terluka sama sekali.
Setelah itu mereka kembali sibuk berkeliling dan mencoba segala jenis makanan sampai kekenyangan. Tak lupa sedikit menjauh agar Jungkook memiliki kesempatan untuk meminum obatnya setelah makan. Mereka memutuskan pulang saat waktu menunjukkan pukul satu malam dan beberapa pedagang mulai mengemasi dagangan mereka.
Jungkook dan Taehyung begitu senang hingga membuat mereka tidak sadar jika sejak mereka memasuki festival tadi seseorang mengawasi mereka dari balik salah satu tenda penjual makanan. Tatapannya lurus memperhatikan keduanya dengan wajah datar tanpa emosi yang terlihat.
Bahkan saat orang itu dengan sengaja menabrak Taehyung dengan keras pun mereka berdua tetap tidak peduli. Orang itu sedikit merutuki Taehyung yang melarang Jungkook mengejarnya. Jika saja Jungkook mengejar dan menangkapnya, maka bisa dipastikan Taehyung akan terkejut dengan kehadirannya.
Ah, orang itu jadi menjilat bibirnya dan menyeringai tipis. Membayangkan raut terkejut Taehyung membuatnya senang. Raut terkejut Taehyung pasti menggemaskan. Dan menggairahkan. Sebenarnya semua yang dilakukan Taehyung membuatnya bergairah.
"Baiklah, tunggu saja. Cepat atau lambat kau akan melihatku, Taehyungie." gumamnya penuh racun.
.
.
Light On My Darkness
.
.
Hari ini Taehyung masuk malam setelah selama satu bulan dia dapat shift pagi. Tandanya Jungkook akan berdiam diri di kamar asrama Taehyung sampai Taehyung pulang di pagi hari. Tidak akan ada masalah sebenarnya karena Jungkook sudah terbiasa dengan hal itu. Dia sudah banyak belajar membiasakan diri tanpa Taehyung.
Sejauh ini Jungkook sudah terbiasa menanti Taehyung di kamar asramanya sendirian. Jungkook juga sudah biasa berada di taman samping asrama Taehyung sendirian jika dia sedang bosan di kamar. Kemajuan itu membuat Taehyung lega. Perlahan namun pasti pemuda itu terbiasa bersosialisasi.
Seperti sekarang ini, mereka baru saja melakukan pemeriksaan rutin ke dokter yang menangani Jungkook. Sudah menjadi rutinitas bulanan bagi Taehyung untuk menemani Jungkook. Hanya menemani karena Jungkook sudah tidak terlalu memberontak saat diperiksa.
"Tae, aku ingin bertemu dengan ibuku." ucapan Jungkook membuat Taehyung blank saking terkejutnya.
"Kau ingin apa?" tanya Taehyung memastikan.
Jungkook terkekeh, "Aku ingin bertemu dengan ibuku. Kata Dokter Shin, kondisi ibuku semakin baik. Ibuku bahkan sudah bisa mengurus perusahaan peninggalan ayah yang selama ini diurus paman." terangnya.
"Baguslah. Kau ingin bertemu dimana? Apa perlu kutemani?" tanya Taehyung memastikan.
"Sore ini kami akan bertemu. Kau tentu saja ikut, harus ikut," pinta Jungkook. "Aku mana bisa jika kau tidak ikut."
Taehyung mencebik, "Baiklah, tapi aku tidak akan berada satu meja dengan kalian. Aku akan ambil posisi sedikit menjauh,"
"Kenapa begitu?" protes Jungkook.
"Hey, ini waktumu dan ibumu. Katakan padaku, kapan terakhir kali kau mengobrol berdua dengan ibumu tanpa aku di sekitar kalian?" tantang Taehyung.
Jungkook hanya menggeleng. Karena memang tidak sekalipun Jungkook bertemu ibunya tanpa membawa Taehyung. Taehyung selalu jadi perantara diantara mereka. Seperti tukang pos yang menyampaikan pesan. Termasuk saat ibu Jungkook datang dan memberikan tas ransel yang berisi pakaian, ponsel dan dompet beserta isinya untuk Jungkook. Taehyung ada disana dan dia yang menerima kemudian memberikan ke Jungkook. Merepotkan sekali.
Dan biasanya pun, Taehyung yang setengah mati membujuk pria itu agar mau bertemu dengan ibunya. Jungkook selalu menolak dengan berbagai macam alasan. Taehyung heran darimana Jungkook membuat alasan-alasan konyol seperti itu. Maka dari itu, saat Jungkook sendiri yang bilang dia ingin bertemu ibunya, Taehyung merasa begitu senang.
Mereka bertemu di sebuah café yang terletak di kawasan Gwangbok-dong. Tak jauh dari rumah Jungkook yang letaknya di pusat kota. Jungkook yang meminta sebenarnya. Dia ingin sedikit mengenang Taman Yangdusan yang menjadi tempat wisata favoritnya semasa kecil dulu.
"Taehyung," panggilnya.
"Hm?"
"Kau pernah mengenalkan Daegu padaku, kan. Suatu saat nanti aku akan mengenalkan Busan padamu. Mungkin tidak semenarik dirimu yang membawaku ke tempat favoritmu, tapi aku bisa tunjukan tempat-tempat yang indah di Busan padamu." Jungkook berucap seperti itu dengan mata yang menatap lurus ke arah Taehyung dan senyum manis.
Taehyung juga tersenyum kemudian menepuk pundak Jungkook main-main, "Aku akan menunggu suatu saat itu. Kau harus mengajakku jalan-jalan keliling Busan." Taehyung menyipitkan matanya jahil.
"Deal. Tunggu saja. Saat aku benar-benar terbiasa dengan dunia luar, aku akan mengajakmu. Kau mau menungguku, kan?" tanyanya harap-harap cemas.
Taehyung tersenyum, "Aku tidak akan menunggu," ucapnya kalem.
Sorot mata Jungkook berubah. Dan sebelum Jungkook mengatakan apapun, Taehyung sudah menyelanya, "Aku tidak akan menunggu karena aku juga akan berjuang bersamamu. Membuatmu benar-benar terbiasa dengan dunia luar."
Ucapan Taehyung membuat Jungkook terkekeh. Jungkook ingin sekali memeluk Taehyung gemas. Namun ibunya yang ditunggu sejak tadi sudah datang. Begitu Nyonya Jeon datang, Taehyung langsung berdiri. Membungkuk hormat kemudian berpamitan pergi.
Jungkook sempat menahannya. Memasang wajah memelas agar Taehyung tetap disini bersama mereka. Pemuda itu hanya takut suasana akan terasa awkward dan berakhir menegangkan. Sekali melihat raut dan sorot mata Jungkook saja Taehyung sudah paham. Dia hanya tersenyum sambil menggenggam tangan Jungkook erat. Meyakinkan pemuda itu jika semua akan baik-baik saja.
"Jadi, bagaimana kabarmu?" tanya wanita yang berstatus sebagai ibu kandung Jungkook itu.
"Jauh lebih baik dari beberapa tahun lalu. Ibu sendiri? Kudengar dari Dokter Shin ibu sudah bisa mengatur perusahaan." ucap Jungkook pelan.
Sang ibu tersenyum, "Yah, seharusnya kau yang melakukan semua itu. Tapi tentu tidak secepat itu. Kau harus belajar banyak hal terlebih dahulu,"
'Kau tidak perlu mengurus itu. Biar ibu saja. Diam dan jadi anak manis, Jungkook-ah'
Jungkook mengalihkan pandangan kemudian memejamkan mata seraya menarik nafas panjang. Suara-suara itu memenuhi pikirannya. Dibarengi dengan bayangan ibunya yang menatapnya begitu angkuh.
'Butuh beberapa tahun lagi untukmu bisa memegang kendali perusahaan, Jeon Jungkook.'
Kedua tangan Jungkook saling meremat di bawah meja. Meremat begitu kuatnya untuk mengendalikan diri. Berusaha menahan dirinya dari segala jenis halusinasi yang menyerangnya tanpa ampun.
Ibunya paham dengan apa yang terjadi pada putranya, "Kau sudah meminum obatmu?"
Jungkook mengangguk kaku. Teramat kaku hingga sekilas terlihat seperti robot. Sang ibu tersenyum.
"Kau bisa mengatasinya?" gelengan yang diberikan Jungkook. "Panggil Taehyung kalau begitu,"
Sementara itu….
Taehyung sama sekali tidak memperhatikan Jungkook. Fokusnya saat ini sedang memperhatikan sosok yang terlihat mirip dengan seseorang yang sangat dia hindari. Taehyung tidak beranjak dari tempatnya. Mata kucingnya yang sibuk memicing.
"Apa itu Min Yoongi? Eiy, tidak mungkin. Dia tidak mungkin ada di Busan." gumamnya.
"Taehyung-sshi." Taehyung terlonjak saat seseorang memanggilnya.
"O-Oh….ya?"
"Tuan Muda membutuhkan anda." ucapan pengawal Nyonya Jeon membuat Taehyung langsung berdiri.
Mereka berjalan berdampingan menuju meja Jungkook dan ibunya. Benar saja, begitu melihat Taehyung datang bersama seseorang bertubuh kekar dan beraura menyeramkan, Jungkook langsung berdiri dengan mata menyorot tajam.
"Hey, tenanglah." Taehyung langsung mengambil posisi di samping Jungkook.
Jungkook menyandarkan kepalanya lemah di bahu Taehyung. "Tolong, Tae." lirihnya.
Taehyung dengan sigap mengambil diazepam yang selalu sedia di dalam tasnya. Memberikan pada Jungkook kemudian membiarkan pemuda itu meminumnya rakus. Sebenarnya terakhir kali Jungkook meminum obatnya adalah tadi siang.
"Maafkan Jungkook, Taehyungie. Dia sering merepotkan." ucap ibu Jungkook.
Jungkook menyandarkan keningnya di bahu Taehyung yang kini tengah berbincang dengan ibunya. Nafasnya masih berusaha dia atur perlahan. Matanya mengedar sebentar dan berhenti di satu titik. Titik dimana seseorang mengawasi mereka dengan tatapan datar, dingin dan menusuk.
.
.
.
"Taehyung, boleh aku ke taman?" tanya Jungkook begitu Taehyung bersiap akan pergi bekerja.
Taehyung mengangguk sambil tersenyum. "Aku berangkat. Jaga dirimu." pesannya.
"Kau juga jaga diri baik-baik. Segera pulang." suara Jungkook bergetar. Firasatnya buruk dan dia khawatir akan terjadi sesuatu pada Taehyung.
Sebisa mungkin dia mengenyahkan semua pikiran buruk yang seliweran. Dia tak ingin membuat Taehyung khawatir. Dia ingin membuat Taehyung senang dengan perkembangannya yang mampu mengendalikan diri dari semua halusinasi dan delusinya. Jungkook ingin Taehyung tersenyum melihat kemajuannya seperti biasa.
"Kau yakin?" nyatanya bukan hanya Jungkook yang merasakan firasat buruk. Taehyung juga merasa ada sedikit ganjalan yang memintanya untuk tidak meninggalkan Jungkook sendirian hari ini.
Taehyung sempat berpikir dia sedang berhalusinasi juga saat merasakan seseorang mengawasi kamarnya. Kemudian ditepisnya jauh-jauh perasaan itu. Kamarnya berada di lantai tiga. Tidak mungkin ada yang mau rela-rela memperhatikan kamarnya.
"Jungkook, hanya di taman ya? Jangan pergi terlalu jauh." ucap Taehyung. Setengah berharap Jungkook tidak menyadari raut cemasnya.
Jungkook mengangguk. Dia menghampiri Taehyung kemudian memeluk pemuda berseragam warna kuning gading itu erat. Menenangkan dirinya dan juga menenangkan Taehyung. Tubuh Taehyung tegang sekali saat Jungkook meraihnya tadi. Mereka menghabiskan banyak waktu untuk berpelukan. Sampai Taehyung mulai rileks.
"Baiklah aku pergi."
Sebelum Taehyung menjauh, Jungkook lebih dulu meraihnya. Memerangkap untuk dicium keningnya dengan lembut. Taehyung blank. Tak tau kenapa Jungkook harus mencium keningnya. Juga tak tau kenapa hatinya menghangat dan perasaannya jauh lebih tenang. Seajaib itu.
"Hati-hati. Bekerja yang baik. Dan segera pulang." bisik Jungkook di depan bibir Taehyung. Taehyung mengangguk kemudian cepat-cepat keluar.
Jungkook terkekeh pelan. Wajah Taehyung yang memerah tadi beruntung berhasil dia tangkap. Perawatnya luar biasa menggemaskan. Jungkook tak mengerti apa ini, tapi yang jelas dia ingin terus menjaga Taehyung. Menjaga senyum itu tetap berada pada wajah manis Taehyung.
Sekitar limabelas menit setelah Jungkook minum obat, dia mulai melangkah keluar rumah. Berkali-kali dia mensugestikan diri jika tidak akan terjadi apa-apa selama dia berada di taman. Dia hanya akan merenung disana selama sekitar satu jam kemudian kembali ke kamar dan tidur sampai Taehyung datang. Semudah itu.
Seharusnya…..
Nyatanya limabelas menit pertama dia duduk di ayunan taman, seseorang mendatanginya. Pria berkulit pucat dengan wajah datar dan tatapan yang tak dapat didefinisikan. Jungkook refleks berdiri dan balas menatap orang itu dengan tatapan sama datarnya. Hell, Jungkook tak mengenalnya dan tak berminat mengenal pria di depannya.
"Jungkook. Jeon Jungkook," orang itu berucap lamat-lamat. Terdengar dingin dan menyimpan banyak rahasia di dalamnya.
Jungkook tetap bergeming di tempatnya. Tak berniat membuka mulut menanggapi pria pucat itu. Hingga akhirnya orang itu jalan menghampirinya. Memberikan tatapan tajam yang Jungkook tau dengan pasti artinya. Ancaman.
"Menjauhlah dari Taehyung," Jungkook menegang mendengarnya menyebut nama Taehyung. "Aku masih berbaik hati memperingatkanmu untuk menjauhi kekasihku." ucapnya.
Secara refleks Jungkook mendengus. Kemudian berdecih meremehkan sebelum balas memberi tatapan tak kalah dinginnya pada pemuda di depannya. Mata hitamnya memindai dari atas hingga bawah kemudian kembali menatap orang di depannya.
Menyeringai tipis sebelum berkata, "Taehyung tak memiliki kekasih. Jangan melucu di depanku. Tidak berguna."
"Taehyung punya kekasih. Dan itu aku. Ini peringatan terakhir dariku. Jauhi. Kim. Taehyung." ucapnya penuh penekanan.
"Ah, kau pasti Min Yoongi," gumam Jungkook tiba-tiba saat memorinya mengingat percakapan Taehyung dengan teman –siapapun itu namanya- yang didengarnya di rumah sakit. "Seseorang yang terobsesi pada Taehyungie-ku. Peringatan terakhirku untukmu juga, jangan berkhayal Taehyung milikmu. Itu menjijikkan." desisnya di kalimat terakhir.
Yoongi mendadak tertawa kemudian bertepuk tangan dua kali. "Ternyata aku salah menilaimu. Orang dengan gangguan jiwa sepertimu cukup waras untuk menantangku," pancingnya.
Jungkook tersenyum datar. Sekuat mungkin menahan diri untuk tidak lepas kendali. Firasatnya mengatakan jika dia harus menahan diri dan tidak menunjukkan kelemahannya di depan orang ini. Di matanya sekarang, Min Yoongi seolah sedang memancingnya dan memainkan pikirannya.
"Dan aku juga salah menilaimu. Kau cukup berani untuk datang menyusul Taehyungie kemari. Bersiaplah menerima kebencian Taehyung karena dia luar biasa membencimu." tekan Jungkook.
Yoongi senang. Ternyata lawannya tidak selemah itu. Dia semakin ingin melakukan sesuatu pada Jungkook. Ingin tau sejauh mana Jungkook mampu mempertahankan arogansinya di tengah gempuran penyakit menggelikan yang diidapnya. Ingin tau sejauh mana Jungkook bisa bertahan.
Ah, memikirkannya saja Yoongi sudah bergelora.
"Kita lihat saja nanti. Siapa yang akan menemani Taehyung berkunjung di pemakaman. Kau atau aku," Yoongi menyeringai tipis kemudian berbalik meninggalkan Jungkook.
Otaknya berpikir cepat merangkai apa saja yang akan dilakukannya pada Jeon Jungkook setelah ini. Setelah dipikirkan lagi, langsung memusnahkan Jungkook tidak akan memberi kesenangan padanya. Setidaknya dia harus mendapatkan kesenangan dari penantiannya dan hibernasinya selama ini.
Yoongi jadi tidak sabar.
Sementara Jungkook sendiri memilih kembali duduk di ayunan. Ekspresinya masih datar dan tak terbaca. Namun pikirannya kalut bukan main. Jungkook tau siapa Yoongi. Percakapan Taehyung dan temannya beberapa bulan lalu serta penjelasan Taehyung yang detail tentang pemuda itu membuat Jungkook sedikit khawatir.
Jungkook memastikan jika pemuda itu akan membuat Taehyung menderita. Dia akan menyiksa Taehyung dan dirinya. Membuat mereka berdua merasakan neraka dunia hingga bahkan mati pun akan jauh terdengar lebih indah.
Jungkook tak tau pasti. Tapi secara otomatis pikirannya mempercayai itu dan memutar segala kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan menimpa Taehyung juga dirinya karena pemuda gangguan jiwa itu. Jungkook menyebutnya gangguan jiwa juga.
.
.
Light On My Darkness
.
.
Taehyung sedikit heran. Tidak biasanya Jungkook jadi lebih sering menempel padanya. Jika biasanya Jungkook akan dengan senang hati ditinggal bekerja, namun kini dia selalu mengekor kemanapun. Bukannya Taehyung keberatan tapi dia hanya heran. Jungkook lebih banyak diam dengan wajah mengeras.
Jika biasanya saja Jungkook sudah membuat hampir semua perawat di sana ketakutan dan bergidik ngeri, maka ini jadi berkali lipat membuat mereka bergidik tiap melihat Jungkook yang berdiam diri dengan raut datar, rahang mengeras, mata menyorot tajam, dan aura hitam yang entah bagaimana begitu terasa mendominasi sekaligus mengintimidasi.
Taehyung sudah tidak tahan. Saat istirahat makan siang Taehyung membawa Jungkook ke taman rumah sakit. Mendudukkan pemuda itu dan memandangnya lekat. Memindai apa yang terasa aneh dari diri Jeon Jungkook.
"Sebenarnya kau kenapa?" tanya Taehyung langsung. Dia bukan tipe orang yang suka basa-basi. Itu akan membuang waktu yang bisa digunakan untuk mengerjakan hal lain.
Jungkook hanya memandangi Taehyung. Tak berniat menjawab pertanyaan pemuda itu. Karena ini menyangkut perawat di depannya dengan orang gila yang sialnya sukses membuat Jungkook jadi lebih sering berhalusinasi. Jungkook tidak berbohong saat berkata dia takut terjadi sesuatu pada Taehyung selagi dia tak berada dalam jarak pandangnya. Karena alasan itu pula Jungkook selalu menempeli Taehyung.
Melihat Jungkook yang hanya diam sambil menatapnya, Taehyung hanya bisa menghela nafas. Sepenuhnya mengerti jika Jungkook tidak akan bicara dalam waktu dekat. Taehyung memakluminya. Walau sudah kurang lebih satu tahun mereka bersama namun ada kalanya Jungkook masih memilah-milah apa yang akan dia ceritakan pada Taehyung.
"Baiklah terserah tapi kumohon dengan sangat Jungkookie, jangan tegang begitu. Akhir-akhir ini aku melihat kau tampak luar biasa tegang. Santai saja," ucap Taehyung sambil memegang pundak Jungkook.
Jungkook mengangguk kemudian memposisikan dirinya berbaring dengan menggunakan paha Taehyung sebagai bantal. Taehyung berkedip sebentar sebelum akhirnya protes.
"Ya! Kau bisa berbaring di ruanganmu,"
"Sebentar saja. Setelah itu aku janji tidak akan menganggumu bekerja," gumam Jungkook.
Taehyung diam. Dari suaranya sepertinya Jungkook sedang lelah. Entah karena apa. Yang jelas itu cukup membuat Taehyung khawatir. Dia hanya tidak ingin Jungkook terlalu memaksakan diri.
Sayup-sayup Taehyung mendengar Jungkook bernyanyi. Suaranya merdu dan Taehyung suka. Selama mereka bersama Jungkook memang cukup sering bernyanyi. Terkadang dia akan bernyanyi mengikuti lagu yang dia dengarkan. Terkadang saat sedang hening pun Jungkook tiba-tiba bernyanyi.
Taehyung pernah menanyakan pada Jungkook dan ibunya tentang cita-cita bungsu keluarga Jeon itu. Mereka menjawab Jungkook tertarik menjadi penyanyi atau arsitek. Dirinya juga pernah main ke rumah Jungkook dan melihat hasil gambaran pemuda itu. Jungkook sangat berbakat dalam menggambar. Diusianya yang saat itu masih limabelas tahun saja Jungkook sudah bisa membuat rancangan dalam ruangan.
Menggambar dan bernyanyi adalah dua dari sekian banyak bakat terpendam yang dimiliki Jungkook. Dari penuturan ibunya, Jungkook termasuk orang yang berprestasi andai saja Skizofrenia tidak menghambatnya.
Taehyung bersyukur akhir-akhir ini Jungkook sudah mulai kembali menekuni apa yang menjadi hobinya dulu. Bernyanyi dan menggambar. Jungkook juga mulai sering membaca buku untuk mengatasi kebosanannya menunggu Taehyung. Itu cukup membantu.
Suara nyanyian Jungkook makin lama makin mengecil hingga kemudian hilang tak bersisa. Begitu Taehyung menengok ternyata pemuda ini sedang tertidur. Senyum menggemaskan muncul di wajah manis Taehyung. Melihat raut damai dan kelelahan di wajah Jungkook membuat Taehyung jadi tidak tega membangunkannya hanya untuk meminta pindah ke ruangannya.
"Seharusnya kau cukup rutin melakukan pemeriksaan. Tidak perlu menghabiskan waktu dua tahun terkurung di dalam rumah sakit jiwa yang bahkan tidak berpengaruh pada perkembanganmu," tanpa sadar Taehyung jadi merutuk pelan.
Taehyung berpikir, jika saja dia lebih dahulu bertemu dan mengurus Jungkook mungkin pemuda ini akan lebih cepat pulih. Jungkook bisa menghabiskan masa remajanya, menikmati moment Coming of Age-nya dan banyak lagi. Dan Taehyung tidak perlu mengalami tekanan karena merawat Min Yoongi yang bahkan lebih bahaya dari apapun.
Sebenarnya Taehyung tahu jika Yoongi hanya berpura-pura mengalami gangguan jiwa untuk mengelabui petugas kepolisian dan lari dari hukum. Hanya saja yang Taehyung tak begitu tahu, bagaimana cara Yoongi bersekongkol dengan dokter yang memberinya hasil pemeriksaan. Taehyung merasa ada yang mengganjal namun dia tak tau apa itu.
.
.
.
Selama satu minggu Min Yoongi selalu menanti. Selama satu minggu Yoongi selalu memantau. Melihat dengan sorot penuh dendam saat Jungkook dan Taehyung yang bergandengan tangan. Menggeram penuh amarah saat Jungkook tidur dengan berbantalkan paha Taehyung. Mengepalkan tangan kuat-kuat saat Taehyung bahkan mengelus kepala Jungkook dan tersenyum pada pemuda berpenyakit itu.
Jeon Jungkook. Rupanya pemuda itu ingin benar-benar bermain dengannya. Dengan berani Jungkook mengabaikan semua peringatannya dan makin menempeli Taehyung seperti parasit menjijikkan. Dan Min Yoongi bukan orang baik yang akan memberikan peringatan kedua, ketiga, atau berkali-kali.
Selama satu minggu ini Yoongi berusaha mencari celah diantara mereka. Mencari celah kapan Jungkook dan Taehyung akan sendirian. Yoongi sudah melakukan persiapan yang luar biasa matang. Dia tak sabar melihat hasilnya.
'Tuhan akan mempermudah jalan bagi orang baik,' gumamnya dalam hati seraya menyeringai saat melihat Jungkook keluar dari asrama yang ditinggali Taehyung.
Berjalan pelan dan menjadi tidak terdeteksi adalah keahlian terselubungnya. Yoongi dengan mudah melakukan semua itu untuk mendekati Jungkook yang sepertinya sedang melamun entah memikirkan apa. Yoongi tak tau dan tak mau tau. Tidak mau peduli tepatnya.
Dengan tepat dan keras Yoongi memukul tengkuk Jungkook. Tepat pada titik akupuntur yang menjadi kelemahan orang-orang. Membuat Jungkook tersungkur dan tak sadarkan diri begitu saja.
"Cih, apanya yang akan melindungi Taehyung jika begini saja sudah tumbang. Dasar payah," Yoongi menginjak sisi wajah Jungkook. Memainkan wajah itu di bawah kakinya kemudian menghempaskan begitu saja.
"Pantas saja dia tergila-gila padamu sampai melenyapkan psikiater itu. Ck, lucu sekali." gumam Yoongi.
Yoongi menyetop taksi yang lewat kemudian menyeret tubuh besar Jungkook memasuki taksi tersebut. Mengancam sang sopir agar mengabaikan mereka kemudian mengambil ponsel Jungkook. Mengetik beberapa kata yang ditujukan pada seseorang. Menunggu balasan orang itu kemudian mematahkan ponsel Jungkook menjadi dua bagian dan melemparnya ke luar.
"Kubilang abaikan kami. Kecuali kalau kau sudah tak menyayangi nyawamu," ucap Yoongi enteng. Membuat sang sopir hanya bisa mengangguk kaku kemudian bungkam dan mengantar Yoongi ke tempat tujuannya.
To : Taehyungie
'Hyung aku pergi ke rumah ibuku. Mungkin menginap beberapa hari disana. Tidak perlu dicari'
From : Taehyungie
'Eh? Mendadak sekali. Baiklah'
Yoongi kembali menyeringai. Ini akan menyenangkan.
.
.
.
TBC
HUAHAHAHAHAHA….
Lega rasanya bisa ngelanjutin ini ya ampun. Aku terharu sekali. Setelah sekian lama kuanggurin tanpa ada niatan nyentuh sama sekali. uhuuuu
Sebelumnya maafin kalo chapter ini sangat ngga banget kalo dibaca. Aku berusaha semampuku buat nampilin sesuatu yang bagus buat kalian, cuman yaaaaaaa dengan kemampuan yang begini begini aja, aku sadar ini ancur banget. Oh maaf juga karena ini sooooooooo latee updatenya.
Dan terima kasih banyak buat yang udah merelakan diri meneror, nagihin, dan sabar nungguin ini ff update. Asli aku terharu sekaligus ngenes. Ngenes karena belum bisa update cepet dan nampilin chapter yang bagus dan pantes ditunggu /seketika dirajam/
Makasih banget juga buat yang udah sempetin baca ini ff absurd muehehe. Kalian kesayanganku.
You are the cause of my euphoria *nyanyi sama jeka* /disambit/
Biglove, clou3elf
