Disclaimer: Axis Powers Hetalia © Hidekaz Himaruya
On this fic: OC, OOC, hal-hal yang berhubungan dengan dunia akhirat (?), lebay –plak-, dan lain-lainnya~ :P
Show Yourself Lady
Chapter 11 – White light that I find
Setelah mendapat pesan dari Alice bahwa dia harus pergi ke rumah sakit, Alfred kemudian bersiap untuk pergi. Dia tidak tahu jam berapa dia harus datang, karena Alice hanya memintanya datang malam ini. Dengan jaket bombernya, Alfred bergegas keluar dari kamar asrama. Meninggalkan teman-teman sekamarnya yang sedang melakukan kegiatannya masing-masing.
Sedangkan di tempat Tino, Tino sudah bersiap-siap dan telah dijemput oleh Berwald. Namun, dia juga sedang menunggu seorang lagi yang akan ikut dengan mereka. Karena waktunya sudah telat, Tino menelepon orang tersebut. Kemudian, mereke berdua berjalan menuju pintu gerbang sekolah.
Ya. Malam ini akan menjadi malam yang penuh dengan kejutan.
Alfred sudah datang lebih dulu di kamar rawat Arthur. Tetap saja, dia melihat Arthur terbaring di tempat tidur tanpa ada tanda-tanda dia akan bangun. Alfred duduk disamping tempat tidur sahabatnya itu. Dia menghela nafas, menatap wajah Arthur. Wajah itu terlihat damai dan tenang sekali, gerak badan yang menandakan Arthur masih bernafas bergerak secara beraturan.
Kemudian, Alfred menggengam tangannya. Dingin. Alfred berpikir, mungkin Arthur sedang bermimpi berada di kawasan bersalju yang sangat dingin dan sunyi. Ah, entah kenapa perasaannya bercampur aduk saat melihat sahabatnya terbaring lemah seperti ini. Di mata Alfred, biasanya Arthur selalu aktif dalam berbagai kegiatan. Tidak pernah mengeluh, tidak pernah lelah. Selalu ceria, meskipun kata-kata cerewetnya keluar dengan liar.
"Art, aku mohon. Bangunlah, sadarlah dari alam mimpimu." gumam Alfred pelan.
Tiba-tiba, dia jadi teringat dengan rahasia tentang Alice. Ternyata dugaannya bahwa yang menyamar sebagai Alice adalah Arthur merupakan kesalahan besar. Kalau mengingat hal itu, dia merasa bersalah telah membawa-bawa Peter dalam masalah ini. Malah bisa dibilang semua keluarga Arthur. Sekarang, Alfred benar-benar menyesal.
"Arthur, kumohon cepat bangun. Aku ingin minta maaf kepadamu atas masalah yang kita perdebatkan dan sampai membuatmu berada di sini. Art, bangunlah.." harapnya sambil terus menggengam tangan Arthur.
Tak lama kemudian, pintu kamar rawat Arthur bergerak. Alfred segera berlari untuk melihat siapa yang datang. Ternyata Tino dan Berwald. Alfred menatap mereka heran.
"Kalian.. ada perlu apa kalian kemari?" tanya Alfred.
"Wah, ternyata ada Alfred ya? Hehe.. aku ingin menjenguk Arthur kok, rasanya tidak setia kawan kalau teman sekamar pun tidak menjenguk." jawab Tino dengan senyuman khasnya.
"Lalu dia?" tanya Alfred lagi sambil menunjuk Berwald.
"Ah, ini temanku, namanya Berwald. Dia berasal dari Sweden. Dia menemaniku untuk menjenguk Arthur kemari." balas Tino.
"Oh.."
Tino dan Berwald yang masih berada didekat pintu kemudian berjalan sedikit untuk bisa melihat keadaan Arthur. Tino duduk di kursi yang berada di sisi kiri tempat tidur Arthur, dia merasa iba dan prihatin melihat keadaan temannya seperti ini. Namun, sekarang bukan saatnya untuk bersendu dalam kesedihan. Sekarang, saatnya untuk membongkar rahasia itu.
"Alfred, seandainya Arthur sudah bangun, kau ingin melakukan apa?" tanya Tino, tanpa menatap Alfred.
Alfred menaikkan alisnya, "Buat apa kau bertanya seperti itu?"
"Ah, tidak apa-apa. Hehe.." balas Tino tertawa kecil lalu tersenyum.
Entah kenapa, Alfred mulai curiga dengan Tino. Apakah Tino adalah Alice? Atau bukan? Alfred menelan ludahnya, ingin bertanya sesuatu yang agak frontal pada Tino.
"Hei, apakah kau yang menyamar sebagai.. Alice? Alicia Clara Cavendish?" tanya Alfred, jantungnya berdetak kencang.
Tino memiringkan kepalanya, "Alice? Oh, bukan kok. Tapi aku tahu siapa orangnya."
"Kau benar-benar tahu?" seru Alfred terkejut.
"Hu'um, kau mau mendengar ceritaku?" kata Tino.
Alfred mengangguk, "Tentu saja!"
Hening. Tino menghela nafasnya, mulai bercerita. Sedangkan Alfred menyimak dengan seksama.
"Alicia Clara Cavendish atau Alice, mungkin pernah saling berkomunikasi denganmu lewat internet kan? Dan mungkin saja kau tahu, Alice pernah mengaku bahwa dirinya adalah teman Arthur. Alice yang sekarang kau ketahui, disuruh oleh Arthur untuk berkomunikasi denganmu. Dengan tujuan, Arthur ingin tahu bagaimana rupamu di internet walau hanya sebuah tulisan. Jadi, jika diandaikan sebagai sebuah sandiwara, Arthur yang membuat skenarionya sedangkan Alice adalah seorang tokoh yang harus diperankan di atas panggung." cerita Tino panjang lebar.
Alfred diam sejenak, menyerap kata-kata dalam cerita yang dikatakan Tino tadi. Dan ada sebuah kalimat yang mengganjal dipikirannya..
Alice adalah seorang tokoh yang harus diperankan di atas panggung.
Alfred berpikir, jika Alice adalah seorang tokoh dalam skenario, maka diperlukan seseorang untuk memerankannya dalam pementasan di panggung. Jika dikaitkan dengan masalah sekarang ini, berarti..
"Kalau begitu, Alice yang kukenal itu bukan manusia kan? Berarti ada seseorang yang menyamar sebagai Alice kan? Kau tadi bilang, Alice adalah seorang tokoh yang harus diperankan. Itu berarti, Alice di dunia ini benar-benar tidak ada. Ada seseorang yang memerankannya di panggung yang bernama internet!" ujar Alfred menyimpulkan.
Tino mengangguk mendengar kesimpulan Alfred, "Betul sekali. Lalu, kau ingin tahu siapa pemeran Alice?"
"Iya! Aku sangat ingin tahu!" balas Alfred.
Tiba-tiba, pintu kamar pun terbuka. Bertanda bahwa ada seseorang yang datang kemari.
"Wah.. waktunya tepat sekali! Alfred, inilah dia pemeran Alice." kata Tino.
Dan Alfred pun terkejut bukan kepalang melihat siapa yang berpura-pura menjadi Alice.
-x-
Mata Alfred terbelalak lebar, tidak menyangka bahwa orang itu adalah orang yang berperan sebagai Alice.
"Francis.." lirih Alfred, masih terkejut.
"Ya, aku yang berperan sebagai Alice dalam skenario Arthur."
Francis Bonnefoy. Ya, Alfred sudah tahu dengan orang ini. Pemuda berkebangsaan France yang sekelas dengannya. Dan juga, Alfred tahu bahwa Francis adalah teman masa kecil Arthur. Dengan perihal tersebut, tentu saja Francis tahu apa kebiasaan dan sifat sahabatnya. Oh, betapa kagetnya dia mengetahui rahasia ini.
Alfred berdiri dengan raut wajah kesal, "Jadi selama ini kau yang menjadi Alice, hah?"
"Tenangkan dirimu, aku tidak mau ada ribut-ribut di rumah sakit. Ya, akulah Alice yang sering chatting denganmu. Aku melakukan ini atas permintaan Arthur." jawab Francis tenang, namun serius.
"Permintaan? Permintaan apa?" tanya Alfred masih kesal.
"Alfred, mungkin ini akan mengejutkanmu. Tapi kau harus mengetahui hal ini, ada sesuatu dibalik permintaan Arthur." Tino ikut ke dalam pembicaraan.
Alfred berdecak, "Apa lagi?"
"Dengarkan. Arthur sering bercerita padaku tentang keluh kesahnya, dia juga selalu menceritakan perasaannya. Bisa dibilang, aku menjadi tempat di mana dia sedang ada masalah." kata Tino dengan tenang, Berwald yang disampingnya mengangguk.
Tino kembali melanjutkan penjelasannya, "Kau tahu? Aku yakin kau akan berpikir bahwa ini mustahil dan aneh, tapi ini adalah kenyataan. Alfred, aku ingin menyampaikan perasaan Arthur padamu."
Alfred diam, entah kenapa dadanya berdegup kencang. Kejutan apa lagi yang akan diketahuinya? Perasaan apa yang ingin Arthur sampaikan padanya? Sekaranglah saatnya.
"Arthur.. dia menyukai dirimu." kata Francis, melanjutkan cerita Tino.
Mendengar itu, Alfred tidak bisa lagi menyembunyikan perasaan terkejutnya yang menggebu-gebu. Mulutnya ternganga, diikuti tangannya yang menutup mulut ternganga itu. Alfred duduk kembali di kursinya, kemudian menatap wajah Arthur yang masih tertidur lelap. Dia tidak menyangka hal ini. Ternyata, Arthur telah menyembunyikan sesuatu darinya.
"A-apa? Arthur.. menyukai diriku? Menyukai sahabatnya sendiri?" tanya Alfred terbata-bata, masih melihat wajah sang sahabat.
"Itu tujuan dia menyuruhku berpura-pura sebagai Alice, dia ingin tahu perasaanmu yang sesungguhnya. Ketahuilah, perasaan itu ada sejak Arthur sudah setahun bersahabat denganmu. Dia hanya menceritakan hal itu kepadaku dan Tino, agar tidak dianggap aneh oleh semua orang. Karena masih banyak yang menganggap bahwa perasaan suka terhadap sesama gender itu terlarang." jelas Francis pada Alfred.
Tino mengangguk, "Aku setuju dengan Francis. Masih banyak yang menganggap bahwa hal itu dilarang. Tapi, perasaan suka dan cinta tidak bisa dipaksakan dan perasaan itu datang dengan sendirinya. Alfred, asal kau tahu saja. Aku dan Berwald adalah kekasih. Ya.. walaupun kami merahasiakan hubungan kami dari publik, tapi ada beberapa orang yang tahu termasuk Francis. Masa bodoh orang mau bilang apa, yang penting kami merasa senang dan saling mengerti. Itu saja."
Setalah mendengar penjelasan dari Francis dan Tino, Alfred hanya diam termangu. Tidak bisa berkata apa-apa.
"Di.. di mana ini?"
Arthur mengerjapkan kedua matanya, entah rasanya dia seperti terbangun dari tidur panjang. Namun dia bingung ketika melihat ke sekelilingnya, padang bungalah yang dia lihat dari mata hijaunya. Padang bunga tersebut ditumbuhi oleh rumput-rumput hijau dan berbagai jenis bunga yang berwarna-warni.
Arthur bertanya-tanya, "Sebenarnya di mana aku? Tempat apa ini?"
Dia mengingat-ingat kembali di mana terakhir kali dia berada. Terakhir kali, terakhir kali.. tiba-tiba saja mata Arthur melebar. Terakhir kali dia berada di trotoar, bersandar di tiang lampu. Melihat seorang anak kecil yang berlari ke tengah jalan untuk mengambil bola yang dimainkannya, kemudian dirinya berlari untuk menolong anak itu. Dan..
"AAARGH!" Arthur berteriak sambil memegangi kepalanya. Kepalanya terasa sakit ketika ingin mengingat kejadian setelah itu.
Angin berdesir kencang, membuat kelopak-kelopak bunga berterbangan. Lalu, tiba-tiba saja ada seseorang yang memeluk Arthur dari depan.
"Arthur Kirkland.. tak disangka kau berada di sini, nak."
Suara itu.. Arthur mendorong perlahan tubuh seseorang yang memeluknya itu. Betapa kaget dirinya, melihat bahwa orang yang memeluknya adalah..
Ibu kandungnya.
"I-ibu.. kau benar-benar ibuku kan?" tanya Arthur terbata-bata.
Wanita itu tersenyum, "Iya sayang, kau bisa merasakan aura ibu kan?"
Arthur masih ragu, "L-lalu.. kenapa ibu ada di sini?"
"Justru ibu yang ingin menanyakan hal itu, sepertinya kau terlempar ke tempat ini ya? Tapi jiwamu belum berpindah semuanya ke sini." jawab ibunya.
Arthur pun bingung. Terlempar? Jiwa yang berpindah? Apa maksudnya?
"Arthur, ayo kita ke sana. Walaupun ibu belum menanyakan hal itu kepadamu, mungkin ibu sudah punya jawabannya." ajak sang ibu, menarik tangan Arthur dan berjalan ke tempat yang dituju ibunya.
Sambil berjalan, Arthur terus memikirkan apa yang sebenarnya terjadi. Namun mengingat dirinya yang entah dihantam atau ditekan sesuatu, sepertinya dia masih hidup. Atau malah dirinya sudah mati? Karena mengherankan baginya bisa bertemu ibu kandungnya yang sudah meninggal semenjak dia masih kecil. Dia mencoba mengingat kejadian di mana dia menolong anak kecil itu, tetapi kepalanya langsung berdenyut dan membuatnya kesakitan.
"Nah, kita sudah sampai. Ayo kita duduk di tepi."
Arthur dan ibunya sampai di sebuah kolam kecil di tengah-tengah padang bunga itu. Dia pun langsung menuruti ibunya, dia duduk di tepi kolam. Kolam itu tak berisi apa-apa, yang ada hanyalah air yang jernih.
"Ehm.. mau apa kita di sini?" tanya Arthur yang masih menampakkan wajah bingung.
"Ibu akan menceritakan semuanya, kau mau dengar?" balas sang ibu, balik bertanya.
Arthur mengangguk, lagipula dia juga ingin tahu apa yang telah terjadi. Kira-kira apa yang akan diceritakan ibunya?
Ibu pun mulai bercerita, "Kau pasti tahu, ayah dan ibu sudah meninggal ketika dirimu masih kecil karena kecelakaan. Sebenarnya, saat itu, kami berdua merasa belum memberikan sesuatu yang berharga bagimu dan juga adikmu. Kami berharap ingin bisa hidup kembali, tapi itu tidak mungkin. Namun penjaga pintu surga berkata kepada ayah dan ibu, bahwa kami bisa bertemu denganmu suatu saat nanti."
Arthur menaikkan alisnya, penjaga pintu surga?
"Tapi si penjaga juga berkata bahwa hanya boleh satu orang saja yang bisa bertemu denganmu, dan sudah diputuskan bahwa ibu yang akan menemuimu. Lalu si penjaga juga memberitahu kami. Di suatu saat nanti, di mana ibu bisa bertemu denganmu, kau ada diantara hidup dan mati." cerita ibunya.
Mata Arthur melebar, "Apa maksudnya aku ada diantara hidup dan mati?"
Sang ibu melanjutkan, "Hem.. ibu yakin kau pasti akan menanyakan hal itu. Sampai saat itu tiba, sekarang, ternyata apa yang dikatakan penjaga pintu surga benar. Jiwamu berada diantara hidup dan mati. Dalam dunia nyata, berarti kau sedang tidak sadarkan diri dalam waktu yang lama atau bisa saja kau mengalami mati suri."
Terkejut, pemuda bermata hijau itu terkejut bukan main. Pantas saja dia bisa bertemu dengan ibunya yang sudah meninggal beberapa tahun lalu, ternyata..
"Ibu bisa jelaskan maksudnya? A-aku masih tidak mengerti. Mungkin aku bisa menerima kalau di dunia nyata sekarang aku sedang tidak sadarkan diri, tapi kenapa? Apa ibu tahu penyebab aku bisa berada di sini? Aku ingin mengingat-ingat kejadian sebelum itu, tapi.. kepalaku terasa sakit kalau ingin mengingatnya." ujar Arthur bertanya-tanya, dia benar-benar ingin tahu.
Ibunya pun tersenyum. Sebenarnya dia tidak ingin hal tragis itu diketahui oleh anaknya, tapi apa boleh buat. Ini adalah takdir Arthur.
"Kalau tentang hal itu, sebenarnya ibu tidak ingin memberitahumu. Tapi.. ini agar kau tahu terlebih dahulu sebelum kau sadar di dunia nyata nanti. Dari yang diberitakan oleh pembawa berita, seseorang yang bernama Arthur Kirkland, telah ditabrak oleh truk container saat menolong seorang anak kecil. Dia diterobos oleh truk tersebut sambil memeluk anak kecil yang ditolonginya. Namun sangat disayangkan, dirinya terluka cukup parah. Dia terlempar dan kepalanya berlumuran darah karena terbentur aspal dengan keras. Lalu.."
"HENTIKAN!"
Ibunya berhenti bicara. Arthur menatap kolam tersebut sambil memegangi kepalanya. Matanya melebar, nafasnya memburu. Terlihat seperti seseorang yang ketakutan dan tersesat. Arthur tidak percaya bahwa kejadian itu telah menimpa dirinya. Melihat anaknya seperti itu, ibu pun melanjutkan ceritanya kembali dengan tenang.
"Arthur, ibu tahu kau pasti tidak akan percaya. Tapi itulah takdir manusia, kau harus menerimanya." kata sang ibu menenangkan.
Arthur yang masih ketakutan menggelengkan kepalanya, "Tapi bagaimana kalau aku sudah meninggal dunia nanti? Aku takut.. aku takut tidak bisa menyampaikan perasaanku padanya!"
Ibunya terdiam. Perasaan? Oh, dia tahu. Seluruh kehidupan anaknya dia ketahui dengan baik, sampai dalam urusan percintaan pun dia tahu.
"Alfred F. Jones, sahabatmu? Kau takut tidak bisa menyampaikan perasaanmu pada sahabat.. ah bukan, orang yang kau sukai itu?" tebak ibunya.
Arthur terdiam, melihat ibunya dengan tatapan heran, "Bagaimana ibu bisa tahu kalau aku.."
Sang ibu tersenyum, "Tentu saja, ibu tahu apa yang kau dan adikmu lakukan. Dengarkan baik-baik nasihat dan.. mungkin ini bantuan untuk bisa membuatmu bangun di dunia nyata. Jika kau ingin menyampaikan perasaanmu padanya, percayalah pada hatimu bahwa dia akan menerima perasaanmu. Ibu yakin, dia orang yang baik dan jujur. Hilangkan perasaan buruk dan amarah yang kau rasakan sebelum itu, isilah hatimu dengan cahaya putih. Cahaya putih itu bisa kau dapatkan dengan keyakinan dan ketulusan."
Arthur merasakan sesuatu yang berbeda di hatinya. Ada rasa tenang dan tenteram. Arthur menutup mata dan menghela nafasnya, merasakan ketenangan itu lebih dalam.
Ibu pun bertanya, "Arthur, apa kau masih ingat ketika kau bertanya arti cinta pada ibu?"
"Ehm.. ah iya, aku ingat. Kenapa?" balas Arthur.
"Apa kau masih ingat apa arti cinta yang pernah ibu katakan padamu?" tanya ibunya lagi.
Dengan tenang Arthur menjawab, "Cinta itu adalah sebuah perasaan yang ingin membagi bersama terhadap seseorang. Cinta itu adalah sebuah perasaan yang berharga dan harus dijaga agar perasaan itu semakin indah. Cinta itu adalah perasaan yang tidak bisa dipaksakan. Jika kau mencintai sesuatu, jagalah cinta itu agar selalu terasa indah. Jika tidak, maka akan bisa terjadi sesuatu yang buruk. Cinta itu adalah perasaan yang harus kau hargai."
"Hebat! Kau masih ingat rupanya!" kata ibunya sambil bertepuk tangan.
Arthur hanya bisa tersenyum lebar. Tentu saja dia ingat, pengertian cinta itu sangat berharga baginya dan akan selalu diingat.
Tiba-tiba, ada sebuah kereta kuda putih yang terbang dan mendekati mereka berdua. Lalu kereta kuda tersebut mendarat di dekat kolam. Kusir pun turun dan memberi hormat kepada mereka berdua.
"Nyonya, maaf menganggu pertemuan anda. Tapi sudah waktunya untuk pergi." kata kusir kereta.
"Oh iya, baiklah. Sebentar ya." balas Ibu Arthur mengangguk.
Arthur bertambah bingung, kemana ibunya akan pergi? Ah, mungkin ini akan menjadi hari yang penuh kebingungan yang pernah dialaminya.
Sang ibu mendekati Arthur dan memegang kedua pundaknya, "Arthur, saatnya kita berpisah, waktu ibu untuk bertemu denganmu sudah habis. Mungkin ibu tidak bisa sepenuhnya memberimu bimbingan, tapi ibu berharap agar kau tetap tegar dan kuat dalam menjalani hidup. Dan satu lagi, maafkan ayah dan ibu karena sudah meninggalkanmu dan adikmu sewaktu masih kecil."
Tidak bisa menahan pedih dimatanya, air mata Arthur pun akhirnya mengalir. Dia langsung memeluk ibunya yang tersayang itu.
"Ah, dan juga titipkan salam ayah dan ibu untuk Peter dan Anna. Bilang pada adikmu, bahwa ayah dan ibu selalu menjaganya dari surga. Dan bilang pada Anna, ibu sangat berterima kasih padanya karena telah merawatmu dan adikmu. Lalu satu lagi.." kata-kata ibu terputus.
Arthur bertanya, "Satu lagi?"
"Bilang pada Alfred, ibu sangat senang dia bisa menjadi sahabat yang baik untukmu." Lanjut ibunya sambil mengelus-elus rambut Arthur.
"Hu'um, baiklah. Akan kusampaikan pada semuanya." ujar Arthur dengan anggukan, air matanya pun terhenti.
Sang ibu pun tersenyum, "Terima kasih ya, nak. Baiklah, sudah saatnya ibu pergi. Ingatlah apa yang terjadi hari ini, ingatlah nasihat-nasihat ibu. Semoga hari ini bisa jadi panutan untukmu dalam menjalani hidup."
Arthur mengangguk kembali. Oh, rasanya dia tidak ingin berpisah lagi dengan ibunya..
"Satu lagi, cara untuk membawamu kembali ke alam sadarmu. Basuhlah wajahmu di kolam itu dan kau akan pergi dari tempat ini, kemudian kau akan kembali ke dunia nyata dengan cahaya putih itu. Mengerti? Sudah waktunya, ibu harus cepat pergi. Sampai jumpa, Arthur!" pesan Ibu Arthur lalu berlari kecil menaiki kereta kuda tersebut.
Kereta kuda itu pun terbang kembali, Arthur melambaikan tangannya. Sekarang, dia sendirian lagi di padang bunga itu. Sebenarnya ada rasa enggan yang membuat dia betah di padang bunga, namun jika dia tidak segera pergi dia tidak akan bisa kembali ke dunia nyata.
"Basuhlah wajahmu dengan air kolam ini. Hem.. baiklah." kata Arthur mantap.
Dia mengambil air dari kolam yang jernih itu dan membasuh wajahnya hingga terasa bersih dan segar. Tiba-tiba saja, angin pun berdesir dengan sangat kencang. Membuat kelopak-kelopak bunga yang berada di situ berterbangan. Arthur menutupi wajah dengan lengan agar terhindar dari angin kencang itu. Namun dia masih ingin membasuh wajahnya sekali lagi. Sambil menahan angin kencang itu, Arthur membasuh wajahnya lagi dan..
"Alfred?"
Bayangan wajah Alfred muncul di kolam itu, tetapi bayangan itu hilang dengan cepat karena angin. Arthur sudah tidak kuat dengan angin kencang itu hingga akhirnya..
Padang bunga itu kembali tenang dan tidak ada seorang pun berada di sana.
Next Chapter…
"Alfred!"
"Suara siapa itu?"
"Alfred! Kumohon.. bangunkan aku!"
"Bangun.. siapa itu?"
"Jika kau tidak bangunkan aku, aku tidak bisa menceritakan hal yang sebenarnya padamu!"
"Siapa..?"
"Bangunkan aku dari tidur panjangku! Kumohon!"
"A-Arthur!"
"Alfred-san, bangun!" Kiku menggoyang-goyangkan badan Alfred.
Alfred langsung bangun dari tidurnya. Tubuhnya berkeringat, nafasnya terengah-terengah. Mimpi apa dia tadi?
"Alfred-san, kau mengigau. Kau mimpi apa?" tanya Kiku ingin tahu.
Alfred mengusap wajahnya, "Aku.. bermimpi tentang.. Arthur."
"Apa? Arthur-san?" tanya Kiku lagi.
Alfred mengangguk, "Iya, dan dia memintaku untuk.. membangunkannya.."
#nowplaying Juju feat Jay'ed – Ashita ga Kuru Nara
Ayey~ target yang ingin aku capai kalo chapter ini bakal selesai abis UAS pun terwujud! Selesainya sehari abis UAS pula, kesesesese~ walaupun setengahnya udah diketik duluan sebelum UAS sih, hehe.. xD
Oke, akhirnya identitas Alice terbongkar juga. Gak nyangka kan kalo yang meranin Alice itu Francis? Wkwkwk! –digeplak- dan sepertinya scene di mana Arthur ketemu sama ibunya terinspirasi dari manga Lady Victorian (by: Moto Naoko). Lagi-lagi gegara manga itu jadi dapet ide tambahan deh, abisnya zaman Victoria itu awesome! X3 dan hubungan tentang surga itu hanya khayalan belaka, jadi jangan dianggap serius. Oke? (^o^)b
Oh ya, kayaknya kerjaanku di FFN cuma update fanfic doang ya? Huhu.. antara hiatus atau aktif, nggak jelas. Meskipun sekarang gak terlalu aktif, aslinya aku sering ngebacot di Twitter atau nggak ngespam di Tumblr. Wkwkwk~ 8D -kok malah curhat sih?-
Yosh, bagaimana dengan chapter ini? Seru? Ngebetein gegara banyak dialog? Atau yang lain? Silakan sampaikan pesan dan kesan kalian lewat review ya~ dan terima kasih banyak udah setia baca fanfic ini sampe chapter 11 ini. Karena ini pertama kalinya aku bikin multichapter lebih dari 10 chapter lho~ XD –plak-
Thanks for RnR!
Mizuhashi Azumi
