Chapter 11 update !
Minna, terima kasih atas dukungannya selama ini.
Dukungan kalian sangat membuat Author bersemangat untuk tetap melanjutkan fic ini.
Kagamine Len, Hatsune Miku, Shion Kaito, Megurine Luka (Kelas XI A)
Gakupo, Gumiya, Ring Suzune (Kelas XI B)
Gumi (Kelas XI C)
Well, Happy Reading~
Fandom :
Vocaloid
Author :
MC Shirayuki
Genre :
Romance / Hurt / Comfort
Rating :
T
Pairing :
Kagamine Len and Hatsune Miku
Warning :
AU, Typo, OOC, Gaje
DON'T LIKE ? DON'T READ !
Kagamine Len : 16 tahun
Hatsune Miku : 15 tahun
Shion Kaito : 17 tahun
Megurine Luka : 16 tahun
Gakupo : 16 tahun
Gumiya : 16 tahun
Ring Suzune : 16 tahun
Gumi : 15 tahun
Leon : 17 tahun
Chapter 11 : Election OSIS
Teng, Teng
Bel berakhirnya istirahat pun berbunyi. 5 menit kemudian, datanglah seorang pemudan yang merupakan ketua OSIS Vocaloid International High School. Seorang pemuda yang memiliki rambut berwarna blonde dan mata yang berwarna emerald. Pemuda tersebut memakai seragamnya. Yaitu, Kemeja putih berlengan panjang, jas berwarna hitam dengan bros dengan lambang khas Vocaloid International High School. Bros itu berada di sebelah kiri jasnya, dasi berwarna merah dengan motif kotak-kotak, celana panjang berwarna hitam dengan motif kotak-kotak, kaos kaki putih dan sepatu pantovel hitam. Pemuda yang di kenal bernama Leon itu, berjalan ke kelas XI A. Setelah sampai tepat di depan kelas XI A, Leon melangkahkan kakinya masuk. Seketika, suasana kelas yang agak ramai menjadi sangat tenang setelah melihat Leon masuk kedalam. Leon berdiri di depan, tepat di tengah-tengah.
"Selamat pagi siswa-siswi sekalian. Saya adalah ketua OSIS, nama saya Leon. Saya disini untuk menggantikan guru yang mengajar. Maaf, guru yang seharusnya mengajar, sekarang sedang rapat karena ada keperluan yang mendadak. Saya ingin memberikan suatu pengumuman. Yaitu, hari ini ada pemilihan anggota OSIS yang baru. Kalian pasti sudah tahu, bahwa seluruh anggota OSIS harus berasal dari kelas XI. Setiap kelas harus memberikan 4 orang untuk menjadi calon anggota OSIS. Sekarang, saya akan membagikan kekalian masing-masing 1 lembar kertas. Tulis 1 nama yang berada di kelas ini yang menjadi pilihan kalian, dan di kumpul ketempat ini." Leon berbicara sambil menunjukkan kertas dan sebuah kotak berwarna hitam yang terbuat dari kayu untuk tempat menaruh hasilnya.
Lalu Leon berjalan berkeliling untuk membagikan kertas kepada seluruh murid. Masing-masing murid menerima 1 lembar. Para murid mulai menulis nama. 15 menit kemudian, semua hasil telah terkumpul. 10 menit berlalu, Hasil pemilihan sudah dicatat di papan tulis.
"Ya, sudah terpilih 4 nama yang mendapat suara terbanyak. Bagi murid yang bernama Kagamine Len, Shion Kaito, Hatsune Miku dan Megurine Luka, segera ikut saya untuk mempersiapkan diri. Karena pemilihan anggota OSIS akan segera dilaksanakan. Dan bagi murid yang lain, harap berkumpul di ruang Auditorium 45 menit lagi. Terima kasih".
Lalu Leon, Len, Kaito, Miku dan Luka, berjalan keluar kelas. 1 jam kemudian, pemilihan OSIS baru pun di mulai. Para calon satu-persatu berpidato di atas panggung. Pidato pun selesai dalam waktu 2 jam, lalu kepala sekolah Vocaloid International High School, memberitahukan pengumuman.
"Selamat pagi para guru dan murid. Saya disini hanya ingin memberitahukan kepada kalian para murid. Kalian akan diberi waktu untuk istirahat selama 40 menit. Setelah itu kembali kesini lagi, karena akan langsung dilaksanakan pemilihan anggota OSIS yang baru. Terima kasih".
Lalu para murid beristirahat. Setelah 40 menit, para murid kembali keruang Auditorium. 40 menit kemudian, seluruh hasil yang telah terkumpul telah dihitung jumlah suaranya. Hasilnya pun sudah didapatkan. Leon, sang ketua OSIS naik kepanggung untuk menyebutkan hasil dari pemilihan OSIS yang baru saja dilaksanakan.
"Selamat siang para guru dan murid. Baru saja telah dilaksanakan pemilihan anggota OSIS yang baru dan telah dihitung jumlah suara untuk masing-masing calon. Hasil yang didapatkan adalah… Kagamine Len sebagai Ketua OSIS, Shion Kaito sebagai Wakil Ketua OSIS, Hatsune Miku sebagai Sekretaris I, Ring Suzune sebagai Sekretaris II, Megurine Luka sebagai Bendahara I, Gumi sebagai Bendahara II, Gakupo sebagai Seksi Acara, dan Gumiya sebagai Seksi Olahraga. Dengan demikian, telah didapat para anggota OSIS yang baru. Untuk para anggota OSIS yang baru, kalian akan menghabiskan waktu kalian sebagian besar di ruang OSIS. Untuk masalah pelajaran, kalian tidak perlu khawatir. Terdapat jadwal pelajaran khusus untuk para anggota OSIS. Kalian bisa mulai keruang OSIS utuk mengerjakan tugas kalian besok. Terima kasih" Leon menunduk 45 derajat lalu melangkahkan kakinya menuruni panggung.
Keesokkan harinya, di ruang OSIS. Sebuah ruangan yang luas dengan benda-benda yang disusun dengan rapi. Di tengah ruangan terdapat sebuah meja berwarna silver berukuran besar yang terbuat dari besi dengan ukiran bergaya Eropa dengan kursi-kursi berwarna silver dengan ukiran bergaya Eropa yang tersusun rapi mengelilingi meja tersebut. Para anggota OSIS yang baru mulai menempati kursi mereka masing-masing. Len duduk di ujung. Di sebelah kanan Len adalah Kaito. Di sebelah kiri Kaito adalah Miku. Suzune berada di sebelah kiri Miku. Luka berada di sebelah kanan Kaito. Gumi berada di sebelah kanan Luka. Gakupo berada di sebelah kiri Suzune dan Gumiya berada di sebelah kanan Gumi.
Gakupo merupakan seorang siswa yang memiliki rambut panjang sepinggang berwarna ungu tua yang diikat satu kebelakang dan mata yang berwarna amethyst. Pemuda tersebut memakai seragamnya. Yaitu, Kemeja putih berlengan panjang, jas berwarna abu-abu dengan bros dengan lambang khas Vocaloid International High School. Bros itu berada di sebelah kiri jasnya, dasi berwarna hitam dengan motif kotak-kotak, celana panjang berwarna abu-abu dengan motif kotak-kotak, kaos kaki putih dan sepatu pantovel hitam. Dia juga membawa tas slempang berwarna Abu-abu.
Gumiya merupakan seorang siswa yang memiliki rambut berwarna hijau tua dan mata yang berwarna emerald. Pemuda tersebut memakai seragamnya. Yaitu, Kemeja putih berlengan panjang, jas berwarna abu-abu dengan bros dengan lambang khas Vocaloid International High School. Bros itu berada di sebelah kiri jasnya, dasi berwarna hitam dengan motif kotak-kotak, celana panjang berwarna abu-abu dengan motif kotak-kotak, kaos kaki putih dan sepatu pantovel hitam. Dia juga membawa tas slempang berwarna hijau.
Ring Suzune merupakan seorang siswi yang mempunyai rambut lurus panjang sepinggang berwarna blue crystal yang digerai danmata berwarna blue crystal yang terlihat seperti pecahan es. Dia memakai sebuah bando berwarna sapphire. Dia memakai baju seragam, berupa kemeja berwarna putih berlengan panjang, jas berwarna abu-abu dengan lambang khas Vocaloid International High School di sebelah kiri, dasi berbentuk pita berwarna hitam dan rok berwarna abu-abu kotak-kotak diatas lutut, kaos kaki putih selutut, dan sepatu hitamnya, dia juga membawa tas slempang berwarna biru.
Gumi merupakan seorang siswi yang mempunyai rambut pendek berwarna hijau dengan rambut bagian depannya yang lebih panjang, mata berwarna emerald. Dia memakai baju seragam, berupa kemeja berwarna putih berlengan panjang, jas berwarna abu-abu dengan lambang khas Vocaloid International High School di sebelah kiri, dasi berbentuk pita berwarna hitam dan rok berwarna abu-abu kotak-kotak diatas lutut, kaos kaki putih selutut, dan sepatu hitamnya, dia juga membawa tas slempang berwarna hijau.
"Semuanya, ayo kita bekerja sama menyelesaikan dokumen-dokumen ini." Len berbicara dengan santai. Di mejanya terdapat sebuah cangkir berwarna peach dengan bertuk dan ukiran bergaya Eropa. cangkir tersebut terisi teh Guan Yin yang merupakan teh oolong dari China dan merupakan golongan teh termahal di dunia.
"Kerja sama ?! atau kami semua yang mengerjakan ini ?!" Kaito berkata dengan nada ketus. Dia menatap Len dengan tetapan kesal.
"Kenapa ? mau protes ?" Len mendelik kearah Kaito.
"Tentu saja ! kami semua punya tugas setumpuk, bahkan tugasku yang paling banyak. Sementara, kau hanya santai sambil minum teh ?! Dasar bocah mata es balok !"
"Apa ?! bocah mata es balok ?!"
"Iya, matamu kan biru ! hahahahahaha." Kaito tertawa puas.
"Kamu ini bodoh ya ?! kalau begitu itu matamu berwarna apa ?" Len menatap tajam Kaito. Bagaimanapun dia merasa sangat kesal karena telah dihina oleh Kaito.
"Ini warnanya biru laut. Indah tahu ! jangan samakan dengan matamu yang jelek itu. Mataku ini limited edition tahu." kata Kaito sambil menunjuk matanya.
"Tidak sekalian kau colok saja matamu itu !"
BRAKK
"Apa ?! kamu ngajak ribut ?!" Kaito bangkit berdiri dan menggebrak mejanya dengan sangat keras.
BRAKK
"Memang kenapa ?!" Len juga bangkit berdiri dan menggebrak mejanya tak kalah keras dari Kaito.
Kaito menggertakan giginya. "Kuhajar kau !"
Len tersenyum meremehkan. "Memangnya bisa ?"
Len dan Kaito pun bertengkar. Mereka pukul-memukul, lempar-melempar dan cekik-mencekik. Tak jarang barang yang mereka lempar justru terlempar ke anggota OSIS yang lain. Anggota OSIS yang lain hanya bisa mengambil benda terdekat yang mampu melindungi mereka dari hujan benda tersebut. Ada yang memakai buku akuntansi, kamus bahasa Inggris, payung dan tas. Karena adanya pertengkaran Len dan Kaito, anggota OSIS yang lain jadi tidak bisa mengerjakan tugas mereka, karena mereka sibuk melindungi diri mereka. Bagi mereka, menyelamatkan nyawalah yang terpenting saat ini. Miku yang bosan melihat pertengkaran bodoh itu, langsung menaruh kamus bahasa Inggris yang dipegangnya sekarang, dan mengambil satu set peralatan teh lengkap dari laci mejanya. Anggota OSIS yang lain kecuali Luka terkejut melihat satu set peralatan minum teh yang dikeluarkan oleh Miku. Yang meliputi, 8 buah cangkir berwarna campuran silver dan gold dengan ukiran bergambar bunga mawar, 8 buah piring kecil berwarna campuran silver sendok dan gold dengan ukiran bergambar bunga mawar 8 sendok kecil berwarna silver dengan ukiran bunga mawar di gagang sendok dan satu buah teko besar yang ramping berwarna campuran silver dan gold dengan ukiran bergambar bunga mawar. Miku juga mengambil sebuah toples kecil yang terbuat dari kaca yang didalamnya terisi bubuk teh Gyokuro , teh eksklusif yang terkenal sebagai 'tetesan embun halus'. Miku juga mengeluarkan sebuah penyaring kecil dan sebuah termos kecil. Kemudian, Miku menuangkan beberapa sendok teh tersebut ke penyaring yang sekarang sudah berada tepat di atas teko. Lalu Miku membuka termos yang berada di sebelah kirinya dan menuangkan isinya ke teko melalui penyaring yang berisi teh.
"Semuanya… daripada bengong memperhatikan hal yang tidak berguna. Ayo, kita minum teh saja" Miku menawarkan.
"Iya, aku mau" Suzune mengambil sebuah cangkir, sebuah piring dan sebuah sendok kecil yang berada di meja Miku. Kemudian Suzune mengambil teko tersebut dan menuangkan isinya ke cangkir miliknya.
Gumi melirik kearah teko yang berisi teh tersebut, kemudian dia mengalihkan perhariannya kearah Miku. "Hm… tehnya enak gak ?"
"Enak kok… ini, untukmu Gumi dan ini untukmu Luka." Miku menuangkan teh kedalan cangkir yang ada di mejanya dan diberikan kepada Gumi dan Luka.
"Para lelaki itu memalukan ya…" Suzune menggelengkan kepalanya pelan.
"Hahahahaha. Benar sekali." Gumi tertawa.
Suzune berkata, "Mereka payah"
Gakupo yang daritadi sedang melihat-lihat dokumen yang ada di tangannya merasa terganggu dengan perkataan Suzune dan langsung melihat kearah Suzune. "Hei, aku ini juga laki-laki tahu !" Protes Gakupo.
"Ya, betul. Kalian perempuan seenaknya saja ya." Gumiya juga mulai protes.
"Apa maksudmu ? kita gak seenaknya kok"
"Iya, tapi ini kan kenyataan. Bahwa cewek lebih baik daripada cowok"
"Apa kamu bilang ?!" Gumiya menatap Gumi.
"Kenapa ? tidak boleh ?" Gumi menatap balik Gumiya.
"Buktinya Ketua dan Wakil OSIS itu cowok."
"Itu karena wajah mereka saja." Suzune menunjuk kearah Len dan Kaito secara bergantian.
"Bukan"
"Iya"
"Apa ?!" Gakupo dan Gumiya berkata secara bersamaan.
Kini anggota OSIS wanita, kecuali Miku dan Luka, bertengkar dengan anggota OSIS laki-laki, sekarang di ruang OSIS hanya ada keributan. Miku hanya tersenyum miris dan berpura-pura tidak melihat peperangan yang berada di depan matanya sekarang dengan meminum tehnya. Sementara Luka hanya memasang wajah datar dan mengerjakan tugas-tugasnya.
Teng, Teng
Jam pulang sekolah berbunyi. Para anggota OSIS pun masih sibuk dengan pekerjaan mereka. Sementara Miku yang sudah selesai mengerjakan pekerjaanya, pergi mengikuti ekskul. Setelah menyelesaikan seluruh tugas, para anggota OSIS pun satu-persatu mulai pulang. Kaito menunggu Miku, sementara Len pergi keluar ruang OSIS entah kemana. 1 jam kemudian.
"Aduh, gawat ! Kaito pasti sudah lama menungguku. Aku harus cepat menemuinya." Miku berkata pelan sambil berlari.
Tapi, langkah Miku terhenti di pertigaan lorong sekolah. Alunan nada yang sangat indah menyapu gendang telinganya. Miku tertegun sejenak untuk menikmati alunan musik tersebut. Lalu dia memutar tubuhnya dan memandang ke sekitarnya.
"Wah… alunan musik yang sangat indah. Dari mana suara ini berasal ? sepertinya dari ruang musik. Tapi, siapa yang memainkannya ? ini sudah sangat sepi di sekolah. Kira-kira siapa ya ?".
Lalu Miku berjalan mengikuti alunan musik dan sesuai dugaannya, alunan musik tersebut berasal dari ruang musik. Dia sampai tepat di depan ruang musik. Dia perlahan melangkahkan kakinya masuk kedalam, dan betapa terkejutnya Miku saat melihat sosok yang didapati sedang bermain alat musik tersebut.
"Len ?" Miku menatap heran Len yang saat ini sedang memainkan sebuah gitar.
Len sangat terkejut ketika ada yang memanggil namanya. Dia menghentikan aktivitasnya sejenak. Dia belum menoleh kearah Miku. Dia masih terbawa suara yang hangat dan lembut tersebut.
"Suara itu… apakah mungkin…" Len menoleh kearah suara itu berasal. "Rin ?" Len melihat sosok Rin yang tengah berdiri di dekat pintu.
"Ri-Rin ?" Miku sangat terkejut ketika Len menyebut nama Rin. Dia heran, mengapa Len tidak mengenali suaranya.
"Ri-Rin ? siapa dia ? ini aku, Miku."
Len terkejut saat melihat sosok yang dilihatnya perlahan berbayang dan menjadi Miku. Len tersadar dari imajinasinya. Lalu dia mengalihkan perhatiannya menuju lantai yang sekarang dipijaknya dan memegang kepalanya dengan tangan kanannya. Dia menghela nafas berat.
"Betul juga… Rin sudah meninggal. Mana mungkin dia bisa berada disini" Len berkata dalam hati lirih.
Len melepaskan pegangan tangannya di kepalanya dan mengalihkan pendangannya kearah Miku. "Sedang apa kamu disini ? kamu belum pulang ?" Len mengalihkan pembicaraan.
"Ah, tadi aku mau pulang, karena Kaito pasti sudah lama menungguku. Tapi saat aku mendengar alunan musik yang indah, aku jadi penasaran siapa yang memainkannya. Jadi aku kesini, dan… ternyata kamu yang memainkannya."
"Oh, begitu… Kamu dekat sekali ya dengan Kaito ? sudah berapa lama dia menjadi pelayanmu ?"
"Sudah 8 tahun."
"Oh… tidak heran kalau kalian sangat akrab."
"Hm… Len. permainan gitarmu bagus sekali. Boleh tidak kamu memainkan sebuah lagu untukku"
"Boleh. Hm… kalau begitu aku akan memainkan lagu 'Till The End' untukmu. Kamu tahu lagunya ?"
"Tentu saja, lagu itu sangat bagus. Len, kamu menyukai lagu itu juga ?" Tanya Miku penasaran.
"Ya. Aku sangat menyukainya" Len melirik kearah kiri bawah dan tersenyum tipis.
Deg
Deg, Deg
Miku merasakan jantungnya berdetak lebih cepat. "Apa ada alasan yang khusus kamu menyukai lagu itu ?"
"Lagu ini mengingatkanku dengan seseorang."
"Siapa ?" Miku semakin penasaran.
"Maaf, aku tidak bisa memberitahumu."
"Tidak apa-apa. Aku bisa mengerti" Miku tersenyum manis.
"Kalau kamu, apakah kamu punya alasan khusus kenapa kamu suka lagu itu ?"
"Dulu, waktu aku berumur 5 tahun. Aku dan saudara kembarku suka sekali menyanyikan lagu itu." Miku tersenyum kecil dengan ekspresi sedih yang tersirat di dalamnya.
"Saudara kembar ? kamu punya saudara kembar ?" Tanya Len dengan cepat.
"Iya, tapi dia dan kedua orang tuaku meninggal dalam suatu kecelakaan."
Len terkejut. "Ma-maafkan aku. Aku tidak bermaksud…"
Belum selesai Len berbicara, Miku memotongnya. "Sudahlah, tidak apa-apa"
Len tertegun sejenak. Detatapnya wanita yang sekarang berada di hadapannya dengan intens. Dia sangat kagum pada Miku. Tatapan mata Miku menunjukkan sesuatu tekad yang bahkan Len belum mempunyainya. "Jadi, sekarang kamu tinggal dengan siapa ?"
"Aku hanya tinggal dengan Kaito, nenekku dan beberapa pelayan."
"Jadi begitu…"
"Nah, sekarang ayo mulai mainkan sebuah lagu" Miku mengalihkan pembicaraan. Dia tidak mau terlarut kedalam masa lalunya lagi. Dia sudah bertekad untuk bisa melupakan masa lalunya itu, bagaimanapun dia harus melajutkan hidupnya tanpa harus di hantui oleh masa lalunya.
"Baiklah… ayo mulai" Tangan Len mulai bersiap untuk memulai memainkan gitarnya.
Where are you now?.
I Want to see you, see your light.
No matter how many letters I send to all people.
If you are only one who responded, that's enough.
You have given me this light.
A small light but warm.
Reff : Wind storm came and took it away.
The dimming light rain.
I kept running till the end.
I hope to again embrace the warm light.
I fell into a deep dark abyss.
Now I'm blind and numb.
I can not see and feel your light again.
I kept walking, even if it is difficult or I'm going to get hurt.
Still hoping. no matter how much I would fall again.
I'll always be up and running again.
Till the end… Till the end…
Lalu, terdengarlah alunan musik yang sangat indah dari ruangan tersebut. Sementara, Kaito yang masih menunggu Miku di gerbang sekolah, mulai menjadi khawatir.
Kaito mengangkat tangan kanannya dan matanya melirik kearah jam tangan berwarna silver dengan model dan ukiran khusus yang melingkar di tangannya. "Kenapa nona belum pulang ya ? harusnya dia sudah pulang 45 menit yang lalu. Aku jadi khawatir padanya, aku harus mencari nona."
Lalu Kaito langsung berlari masuk kedalam sekolahnya untuk mencari Miku di setiap ruangan yang dia lalui. Lalu langkahnya mendadak terhenti. Samar-samar, dia dapat mendengar suara alunan musik. Dia mengikuti alunan musik tersebut, langkahnya terhenti di sebuah ruangan, yaitu ruang musik. Dia melangkahkan kakinya perlahan masuk keruang musik. Ketika Kaito masuk, dia terkejut. Dia melihat Miku dan Len dekat dan akrab sekali, tidak seperti sebelumnya. Kaito mengarahkan tangan kanannya menuju dadanya, lalu perlahan dia mengepalkan tangannya. Entah mengapa dadanya terasa sangat sesak. Lalu Kaito menurunkan kembali tangannya dan bersikap seperti biasanya. Dia melangkahkan kakinya kedalam ruangan dan memulai pembicaraan.
"Um… permisi… maaf mengganggu kalian. Nona, udah waktunya anda pulang."
Miku langsung menoleh kearah Kaito. "Ah, betul juga. Sudah jam 4.30. kalau begitu, aku pulang dulu ya Len." Miku mengambil tasnya yang berada di lantai tepat di sebelah kanan kakinya.
"Iya" Len melihat kearah Miku sejenak. Kemudian perhatiannya teralihkan kearah Kaito. Len menatap lekat-lekat wajah yang terlihat datar itu.
"Ya, sampai jumpa Len." Miku berjalan dengan melihat kearah Len dan tersenyum.
Len mengalihkan perhatiannya kearah Miku kembali. Lalu dia berdiri dan berjalan untuk menaruh gitar yang sedang dipegangnya. Kaito tidak berkata apa-apa. Setelah berada dipintu, sebelum mencapai luar ruang musik, dia menoleh dan menatap Len sekilas.
"Sebenarnya… ada apa denganku ? Perasaan apa ini ? Kenapa rasanya begitu sesak ? Kenapa aku merasa sangat kesal dan marah ketika melihat nona dengan Len ? Mengapa aku menjadi egois seperti ini ? Belum pernah aku merasakan perasaan possessive seperti ini." Kaito berkata dalam hatinya sambil meletakkan tangannya di atas dadanya untuk dapat merasakan detak jantungnya yang tidak beraturan.
Thanks for read
Sekedar untuk tambahan info saja.
Tinggi karakter :
Gakupo (16 tahun) : 177 cm
Gumiya (16 tahun) : 178 cm
Ring Suzune (16 tahun) : 167 cm
Gumi (15 tahun) : 164 cm
Mind to review ?
