Minna san ^^

Masih ada yang baca kan? o.O

Hehehe datang lagi chapter yang mendebarkan! ( sama sekali nggak XD- Killua says-)

Sebelumnya gomen sekali yaaa.. author baru kali ini bikin adegan pertarungan. Jadi kalau kurang greget dan berantakan, maafkan saya. Hehehe.. bagaimanapun, bayangkan saja kalau mereka bertarung. Biar memuaskan. Hehehe… kita lanjut ya ^^

Seperti biasa, author mau mengingatkan kita untuk mendoakan om Yoshihiro Togashi, sang pemilik hunter x hunter. Semoga beliau ternyata sudah nyiapin surprise dengan langsung ngeluarin chapter barunya yang bejibun * hasil hiatus segini lamanya om! XD

Amaya's style. Don't like, still read ya XD*plak

Chapter 11: Wing x Duet x Illumi

Lagi-lagi peluru beruntun itu menumbangkan pohon tempat mereka berlindung. Knov berdecak kesal dan dengan cepat melompat kedalam dimensi yang dibukanya. Dibelakangnya, Wing dan Illumi ikut melompat. Mereka menghilang bersamaan dengan pohon yang berdebum keras.

" Haaah! Aku sudah mulai bosan melawan mereka." Keluh Illumi dengan ekspresi datarnya.

" Kita tak bisa mendekat jika raksasa itu tak menghentikan tembakannya." Gerutu Knov. " dan lagi, si rambut pirang itu. Kita tak akan bisa maju jika kita tak tahu apa kekuatannya." Lanjutnya. Tangannya meraih botol air mineral.

" Sepertinya dia manipulator. Kuperhatikan, dia tak melepaskan handphonenya satu detik pun." Jawab Wing. Kemudian ia menoleh kearah Illumi.

" Kau juga manipulator bukan?" Tanyanya. Illumi terdiam beberapa detik. Kemudian ia menatap Wing dengan datar.

" Kau pikir begitu?" ia balik bertanya. Wing menggeleng.

" Lebih tepatnya Killua yang memberitahuku." Jawabnya santai.

" Sou.." Illumi mengangguk-anggukkan kepalanya. Wing meliriknya sekilas, kemudian menengadahkan kepalanya. Ia kembali mengingat percakapan singkatnya dengan Killua.

" Ano.. wing-san! Kemari sebentar." Killua menarik Wing menjauh dari keramaian.

" Doushite, Killua-kun?" Tanyanya saat mereka sudah terpisah dari teman-temannya.

" Betsuni..aku hanya ingin memberikanmu peringatan. Mengingat kau akan satu tim dengan Aniki." Ujar Killua sambil melirik Illumi yang tengah berbicara dengan Hisoka. Wing mengikuti arah pandang killua.

" Jadi.. dia seorang manipulator. Dia sangat mahir mengendalikan apapun untuk apapun…." Killua menceritakan hal yang ia ketahui tentang Illumi. Bagaimanapun, Illumi adalah orang yang tak terduga. Killua sendiri kadang tak tahu apa yang tengah direncanakan anikinya itu. Ia menceritakan bagaimana Illumi mengontrolnya dengan sebuah jarum yang ia sendiri tak tahu kapan Illumi menancapkannya dikepala killua.

" Hmm.. sou.. sepertinya dia sangat berbakat." Wing kembali menoleh kearah Illumi. Wing bahkan cukup terkejut dengan fakta bahwa selama ini, Killua sudah di 'manipulasi'. Termasuk saat ia belajar nen dengannya. Ia bukan tak tahu tentang Illumi. Tapi dalam situasi ini, ia harus bekerjasama dengan Illumi. Mau, atau tidak.

" Hmm.. sebaiknya kita selesaikan sekarang juga. Aku tak sabar ingin melihat Kill bertarung. Sudah lama sejak terakhir kali aku melihatnya membunuh." Usul Illumi.

" Ya, aku setuju – tentu tidak dengan idemu tentang melihat Killua membunuh- dan kabar baiknya, aku punya rencana yang bagus. Target pertama kita, Raksasa itu." Knov membenarkan letak kacamatanya sambil tersenyum licik.

666666666666666666666666666666666666666666666666666666666666666666666666666666

" Yak! Lima menit!" Seru Shalnark.

" Sepertinya mereka tidak berniat kembali." Franklin mengendurkan penjagaannya. Auranya perlahan menghilang.

" Sepertinya. Ne, menurutmu apa yang lain akan bertemu dengan orang-orang seperti tadi?" Shalnark meminta pendapat Franklin.

" Entahlah. Tapi yang pasti, kita harus waspada. Sebenarnya mereka bertiga cukup kuat. aku bisa merasakannya." Franklin mengingatkan. Shalnark mengangguk setuju. Aura mereka memang terlihat kuat. Tapi Shalnark yakin selama Franklin bersamanya, mereka tak akan bisa mendekatinya. Bagaimanapun, peluru Franklin bukan hal yang mudah dihindari. Shalnark mengakui bahwa kemampuan mereka menghindari peluru nen milik Franklin bisa terbilang menakjubkan. Buktinya tak satupun peluru Franklin yang menembus kepala mereka.

" Tapi, Kurasa dibandingkan dirimu, mereka belum ada apa- ap..-"

" Universe Bang!" Shalnark yang belum sempat menyelesaikan ucapannya, dengan cepat melompat mundur saat melihat cahaya biru menyentuh punggung Franklin. Franklin terbatuk dan berguling menabrak pepohonan. Membuat dirinya dan pohon yang ditabraknya terseret beberapa meter.

" Franklin!" Teriak Shalnark. Sebuah langkah yang terdengar membuatnya dengan cepat menoleh. Menangkap sosok Wing yang sedang berjalan kearahnya. Shalnark menatapnya kesal.

" Kau yang membuatnya terseret sejauh itu?" Nada suara shalnark terdengar aneh. Ia kesal. Namun ekspresinya tetap menunjukkan wajah innocence.

" Bisa dibilang begitu." Wing tersenyum ramah kearahnya.

" Huft… sepertinya dia enhancher. Aku sangat tidak berniat melawannya." Rutuk shalnark dalam hati. Ia kemudian melihat sekeliling.

" Mana teman-temanmu?" Tanya Shalnark. Wing memandangnya dengan bingung lalu tersenyum.

" Wah, kau berharap melawan kami bertiga secara bersamaan?" Tanya wing.

" Mungkin." Jawab Shalnark sekenanya. Ia sendiri sedang berfikir. Bagaimana harusnya ia melawan Wing. Tidak ada yang bisa ia beri antenanya disini. Hanya dua pilihan. Pertama, ia harus menancapkan antenanya pada Wing, yang kedua pada dirinya sendiri. Ia benci pilihan kedua. Tapi sangat tak mungkin mendekati si kacamata itu sedang ia tak memiliki back up yang bisa mengalihkan perhatian Wing.

" Hh.. baiklah.." Shalnark menghela nafas berat. Bagaimanapun, ini jalan satu-satunya. Shalnark mengeluarkan antenanya dan mengotak-atik handphonenya.

" Kau nampak tak bersemangat." Tanya Wing. Shalnark mengangkat antenanya.

" Ya. Aku harusnya menggunakan ini padamu. Tapi sepertinya aku tak punya celah sama sekali. Dan berkat itu aku harus menggunakan pilihan yang sangat kubenci." Jawab Shalnark sambil tersenyum.

" Jadi, apa kau marah padaku?" Tanya Wing lagi. Shalnark diam sebentar lalu mengangguk sambil tersenyum ramah.

" Kurasa iya. Jadi.." Shalnark menancapkan antenna itu di kakinya. " aku akan menyelesaikan ini secepatnya." Shalnark memencet handphonenya. Aura Shalnark langsung menyeruak bagaikan air yang diisi terlalu penuh. Wing memundurkan kakinya.

" Tepat seperti dugaan Illumi." Wing menghela nafas lalu meraih ujung kemejanya yang memang tak pernah rapi itu. Ia memasukkan kemejanya dan merapikannya. Kemudian ia mendoongakkan kepalanya. Shalnark dapat melihat perubahan pada raut wajah Wing setelah laki-laki berkacamata it merapikan kemejanya. Matanya nampak bekilat antusias. Wajahnya yang dari awal berhiaskan senyuman ramah – meski untuk Shalnark sekalipun- kini terlihat mengerikan dengan senyum liciknya. Auranya yang tadi bagaikan tesan gerimis kini sudah . berganti. Shalnark menyilangkan tangannya untuk menepis angina kencang akibat perubahan aura Wing.

" Su.. Sugoi.. rasanya seperti melihat Uvo sedang bertarung. Tentu saja karena aku hanya pernah melihatnya. Bukan bertarung dengannya." Shalnark menyipitkan matanya. Mencoba menangkap sosok Wing dengan matanya. Namun debu yang berterbangan membuatnya kesulitan melihat. Perlahan kabut debu itu menghilang. Namun Shalnark tak dapat menemukan sosok Wing. Ia memutar badannya dan mendapati sosok lain di belakangnya. Sosok raksasa yang dikenalnya. Shalnark memencet handphonenya. Menonaktifkan autopilotnya.

" Franklin! Yokatta.. kukira kau tak akan kembali dalam waktu yang lama." Shalnark berjalan santai kearahnya. Franklin hanya menatapnya datar. Ia mengulurkan kedua tangannya.

" Mm? Doushite?" Tanya Shalnark heran.

" Double Machine Gun." Shalnark membelalakkan matanya. Ia menoleh mencari sosok target Franklin. Namun matanya membulat sempurna saat ia merasakan panas dilengannya.

666666666666666666666666666666666666666666666666666666666666666666666666666666

"Gluk..gluk..gluk.. ah! Tidak kusangka akan secepat ini." Gumam Illumi. Knov disampingnya tengah sibuk memeriksa lengan Wing.

" Jadi kita apakan mereka?" Wing bertanya kepada Illumi.

" Mereka? Si rambut pirang maksudmu? Aku sudah menancapkan jarum yang serupa dengan yang kugunakan padamu tadi, Wing-san. Jadi dia tak akan bebas sebelum aku mencabutnya." Illumi memandang Shalnark yang kiniberbaring tak sadarkan diri di sudut ruangan dimensi knov.

" Jadi, kau mau bilang jika raksasa itu sudah mati?" Knov beranjak dari duduknya dan berjalan menuju tubuh besar Franklin. Illumi mengangguk dengan ekspresi datarnya. Wing menghela nafas.

" Padahal menurutku, kita tak perlu membunuh mereka. Bagaimanapun, semua akan menjadi keputusan Kurapika-kun nanti." Wing memperhatikan perban dilengannya. Perban itu sedikit memerah karena darah di lengan kanannya. Sebelum melawan Shalnark dan Franklin di ronde kedua tadi, Knov memang mengusulkan taktik bertarung yang mereka gunakan tadi. Dan harus membuat Wing dengan terpaksa manjadi objek Manipulasi Illumi. Meskipun Illumi hanya menancapkan jarumnya dengan tujuan agar Wing tak menjadi objek milik Shalnark. Ia tak menaruh control penuh atas Wing. Lebih tepatnya jika menggunakan istilah Shalnark, autopilot yang dinonaktifkan. Illumi- yang entah dengan jeniusnya- menggunakan jarumnya dengan dua perintah. Gerak reflek untuk menghindari serangan apapun, dan hanya terfokus dengan target yang dipasangkan. Sementara Wing sibuk melawan Shalnark, Illumi dan Knov sudah menunggu Franklin yang terpental akibat pukulan Wing ditempat yang diperkirakan. Begitu bunyi berdebum akibat benturan tubuh Franklin dan tebing menggema, dengan tangkas, Knov membuka pintu dimensinya dan Illumipun melompat keluar dengan jarum yang sudah disiapkannya. Namun jarum itu lain dengan yang ditancapkannya pada Wing. Jarum yang dipegangnya akan membuat orang yang dimanipulasi olehnya akan 100% mati.

" Huh.. mau bagaimana lagi, aku hanya membawa dua jarum yang seperti itu." Illumi mengangkat bahunya. Mereka terdiam cukup lama sampai akhirnya Knov berbalik menatap kedua 'partner'nya bergantian.

" Sudah cukup istirahatnya. Kita lanjutkan perjalanannya." Ajak Knov. Wing mengangguk dan Illumi segera bangkit dari duduknya. Mereka berjalan menuju sebuah pintu. Knov mengeluarkan kunci dari sakunya dan membuka pintu itu. Mereka pun memasuki pintu itu. Meninggalkan Shalnark yang terduduk diam disudut ruang.

666666666666666666666666666666666666666666666666666666666666666666666666666666

Kurapika memegang pelipisnya. Entah kenapa barusan kepalanya seperti ditusuk jarum. Namun itu hanyasekilas saja. Meski hanya sekilas, Gon masih sempat menangkap kernyitan Kurapika.

" Kurapika, doushite?" Tanya Gon. Kurapika menoleh dan tersenyum.

" iiee.. betsuni." Jawab Kurapika. Disebelahnya, Killua memperhatikan Kurapika.

" Uso!" ejeknya dalam hati. Entah mungkin ia bangga karena diantara teman-temannya ia yang paling pintar berbohong. Meskipun Kurapika jauh lebih pintar mempertahankan kebohongannya.

" Kalau kau merasakan sesuatu, katakana saja. Dalam situasi seperti ini tidak perlu menyembunyikan sesuatu. Karena itu justru akan membahayakan kita semua." Ucap Killua. Kurapika tertegun mendengarnya. Kemudian ia tersenyum kecil.

" Aku setuju denganmu. Tapi aku benar-benar tak apa. Hanya.. sedikit khawatir dengan keadaan yang lain." Jawab Kurapika. Killua tak melanjutkan opininya. Ia memilihterus berlari dalam diam. Bergelut dengan pikirannya tentang apa yang dipikirkan Kurapika. Sampai akhirnya, Bisuke – yang ada di barisan terdepan- berhenti melangkah. Tangannya terulur kesamping.

" Semuanya, Gunakan Gyo!" Perintah Bisuke. Mereka menurut dan menggunakan Gyonya.

" A..ap.. ini.." Morel menatap pepohonan didepannya tak percaya. Gon dan Killua menggertakkan giginya. Kurapika hanya menatap jalan didepannya tajam. Hisoka tersenyum dan bersiul pendek.

" Kurasa, sebaiknya mereka menambahkan papan sambutan disini.. selamat datang di arena laba-laba~" Gumam Hisoka. Mereka masih tak bergerak. Lebih tepatnya bingung dengan cara yang akan mereka gunakan untuk melewati pepohonan yang kini sudah dihiasi dengan benang yang membentuk jaring laba-laba disetiap celah. Killua mencari-cari celah diantara benang itu. Namun ia segera menyadari sebuah langkah samar diatas mereka.

" Gon!" Killua melempar tubuhnya kearah Gon tepat saat sosok wanitaberambut keunguan itu melompat kearah Gon dengan benang dikedua tangannya. Hisoka melihat kesempatan itu dan melempar kartunya kearah 'hutan jarring laba-laba' buatan Machi.

" Jalan keluar siap~" Seru Hisoka. Kurapika dengan sigap mengarahkan Chain jailnya kearah Machi. Machi mendecak kesal dan menghindarinya.

" Baiklah.." Machi menunjuk Hisoka " Kau akan kuurus lebih dulu." Ucapnya sarkastik.

" Ho.. aku merasa tersanjung mendengarnya darimu." Hisoka membungkuk hormat kearah Machi.

" Tunggu Machi!" Sebuah suara berat terdengar diantara pepohonan. Kemudian sosok samurai yang sudah taka sing muncul dihadapan mereka.

" Biar aku saja yang mengurus badut pengkhianat ini." Nobunaga memegang gagang katananya. Hisoka menatapnya dengan tatapan berminat.

"BUM" Suara berdebum membuat semuanya mencari sumber suara. Morel berdiri dengan cerutu raksasanya.

" Kurasa aku yang akan menjadi lawanmu, My Lady?" Morel menatap Machi dengan senyuman mengejeknya.

" Hati-hati, Morel-san. Dia berbahaya untuk ukuran 'remaja' wanita." Timpal Hisoka. Machi melempar tatapan membunuhnya kearah Hisoka.

" Yosh.. kalau begitu, aku akan tinggal disini." Gon bangkit dari duduknya.

" Kau gila?" Ujar Killua.

" Killua.. kalaupun aku tidak berhenti disini, aku masih akan bertarung dengan laba-laba lainnya. Mengingat mereka berdua disini sekarang. Lagipula, aku yang tau kemampuan mereka. Hisoka pasti akan sibuk sendiri bukan? Aku harus membantu Morel-san." Jelas Gon. Killua menatapnya khawatir. Sebelum akhirnya ia menghela nafas berat. Ia menyerah dengan sikap Gon.

"OK! Tapi, jangan bertindak ceroboh. Kau mengerti?" Killua mengingatkan. Gon mengangguk.

" Kau juga. Tolong jaga Kurapika agar tak bertindak bodoh." Pinta Gon. Killua mengacungkan jempolnya.

" Makasete." Killua segera berlari melewati 'jalan' yang sudah dibuat Hisoka.

" Kalian, jangan gegabah! Jangan sampai aku tidak melihat kalian ditempat tujuan nanti!" Ancam Bisuke lalu menyusul Killua. Gon mengangguk semangat. Sementara Morel mengacungkan jempolnya. Hisoka? Jangan tanyakan badut itu. Ia tentu saja sudah sangat tak sabar memulai pertarungannya dengan Nobunaga.

" Gon.." Kurapika menatapnya khawatir.

" Daijobu, Kurapika! Kami akan menyusul kalian." Gon mencoba meyakinkan. Kurapika tersenyum tipis dan segera mengikuti Bisuke dan Killua.

" Kurapika.. jangan gegabah." Gon berharap dalam hati. Ditatapnya punggung Kurapika yang semakin menjauh.

" Jadi, siapa yang akan kumutilasi lebih dulu? Kau? Atau.. kau, nak?" Machi berjalan mendekati mereka. Aura pertempuran mulai terasa disekitar mereka. Masing-masing dengan aura membunuh yang kuat. Bagaimanapun, ini akan menjadi kemenangan. Tekad itulah yang kini ada dimasing-masing pribadi. Tekad kompetitif yang akan berdampak buruk. Membunuh, atau dibunuh!

666666666666666666666666666666666666666666666666666666666666666666666666666666

TBC

Hwa~ pertarungan lainnya. Jujur ini sangat melelahkan.. karena Amaya cinta damai XD*plak

Sekali lagi gomen kalau kurang greget. Soalnya ini first time bikin cerita perang-perangan gini. Pernahnya perang lempar tomat(?)

Gomen juga kalau chapter kali ini ga panjang-panjang.. Yah, Amaya sedang terserang virus ngadat. Ngadat otaknya XD

Rianthi Risma-san: hai juga! Lama tak jumpa*plak

Senritsu? Oh.. Cuma capek aja abis lomba marathon sama Bonolenov XD( seketika termutilasi) iya bentar lagi Kuropika fight^^ - ngomongnya udah dari kapan- hohoho tenang saja.. illumi dan Hisoka kan selalu ada(?) dalam cerita ini. eits.. kadang banyak mau menimbulkan inspirasi XD arigatou sudah mampir ^^/

Kanar Sasku-san: Senritsu kenapa ya? Dia kenapa emang?*Plak* yah.. masih misteri tentang senritsu XD. Hehehe.. no problem. Emang Amaya juga ngerasa gimanaa gitu. Pas bikin chapter sebelumnya emang agak jenuh. Soalnya isinya mereka bertiga (?). mungkin emang itu penyebabnya kali ya? Hehehe.. yah, seperti yang Amaya jelaskan.. Amaya yang cinta damai ini suka bingung bikin adegan pertempuran. Kecuali pertempuran antar kekasih*plak. Arigatou gozaimasu * bungkukin badan

Untuk readers yang setia membaca *kriik kriik* semoga semakin meningkatkan minat membaca-serasa petugas perpustakaan- tulisan ini masih banyak salahnya.. jadi Amaya mohon reviewnya ya ^^ yang berisi kritik, saran, atau sekedar surat fans, silahkan.. Amaya akan terima dengan senang gegap gempita XD* dipanggang.

Sekali lagi, arigatou Gozaimasu!