SAKURA
Warning:GAJE, OOC, [miss]TYPO, AU, adegan kekerasaan, dll.
Flame jangan tapi kalau concrit sangat boleh^^
Disclaimer:Naruto © Masashi Kishimoto
Rated:M
Pairing:SasuSaku
Genre:Hurt/comfort & Romance
•
•
•
Chapter 11: Lose
Ketika terbangun Sakura melihat cahaya putih terang. Dia berada di ruangan yang asing, putih panjang. Sakura dibaringkan ditempat tidur yang keras dengan besi penyangga. Bantal-bantal kempis dan kasar. Ada bunyi bib yang mengganggu, terdengar tidak jauh dari tempatnya terbaring.
Tangannya dipenuhi oleh selang-selang infus, dan ada sesuatu yang direkatkan di wajahnya, di bawah hidung. Saat berhasil menyesuaikan matanya, yang pertama kali menyambut indera penglihatannya adalah wajah datar Sasuke yang sedang menatapnya dengan intens, tapi kalau diperhatikan lagi ada setitik penyesalan di wajah rupawan itu.
"Aku ada di mana?" Sakura bertanya.
"Kau ada di rumah sakit." Sasuke menimpali.
Sakura meringis saat mendengar kata rumah sakit, pasalnya selama hidupnya, bahkan saat sakit keras sekali pun dia tidak pernah dibawa ke rumah sakit dan jujur saja dia memang tidak terlalu menyukai tempat yang selalu berbau obat-obatan yang menyengat. Ralat, dia sangat tidak menyukai rumah sakit. Entah kenap dia memiliki semacam perasaan yang tidak lazim saat melihat tulisan HOSPITAL dengan tanda plus berwarna merah di hadapan matanya apalagi sampai menginjakkan kaki di dalam nya.
Ngomong-ngomong tentang obat-obatan, dia jadi teringat pada tugas Anko-Sensei yang harus dia dan Sasuke selesaikan. Berkat hal itulah Sakura sekarang berada ditempat ini bersama Sasuke, entah Sakura harus bershukur atau merasa sangat sial atas apa yang menimpanya.
"Ano… Sasuke-kun?
"Hn."
"Bagaimana dengan tugas Anko-Sensei. Kita belum mengerjakannya lagi sampai sekarang?" Sakura bertanya takut-takut. Napasnya tersengal-sengal, sesuatu seperti sedang berusaha menekan dadanya.
"Aku sudah menyuruh orang untuk mengerjakannya," jawab Sasuke enteng
"Tapi bukankah itu curang…"
"Memangnya siapa yang perduli."
"Tapi aku perduli." ujar Sakura lirih.
"Akan kupastikan kau mendapatkan nilai yang terbaik Sakura. Kau tidak perlu cemas."
Sasuke mengerti kalau Sakura harus bersusah payah untuk mempertahankan nilainya karena sudah jelas gadis itu berpikir kalau dia masuk ke KHS dengan beasiswa murni yang diperjuangkannya. Sasuke akui, Sakura memang gadis yang pintar, dia cerdas, memiliki kemampuan otak di atas rata-rata. Sejauh ini Sakura selalu berhasil menempati peringkat Lima besar juara umum, walaupun selalu kalah bersaing dari dirinya dan ke-empat temann nya yang jenius, terutama Shikamaru.
Tapi kalau kau menelusuri lebih jauh lagi, maka kau akan tahu dalang sekaligus biang kerok dari tipu muslihat itu. Bagaimana Sasuke telah merencanakan dengan sangat matang untuk melibatkan Sakura di dalam kehidupannya. Sewaktu berada di Junior High Scool, Sakura bersekolah di sebuah sekolah yang berada di ujung kompleks perumahan kelas menengah ke bawah yang bisa dibilang sangat tidak layak disebut sebagai tempat untuk menuntut ilmu.
Jenis tempat yang bahkan tidak akan pernah terlintas di kepala Sasuke untuk didatangi, tetapi demi gadis itu, Sasuke rela menurunkan sedikit egonya. Walaupun pada akhirnya, pemuda itu tidak mau turun dari dalam mobilnya begitu mendapati kubangan yang dipenuhi Lumpur berada persis di bawah pintu mobilnya. Jadi jangan heran bagaimana Sakura bisa berada satu kelas dengan Sasuke setiap tahun ajaran baru.
Setelahnya Sasuke ataupun Sakura tidak tahu kenapa tiba-tiba suasana menjadi semakin canggung dari sebelumnya. Sasuke tampak sangat lelah, pria muda itu tidak bisa mengalihkan pikirannya dari kata-kata Kabuto saat datang ke ruangan dokter muda berambut putih itu.
"Ini adalah foto hasil rongsen otak Sakura." Kabuto mulai menjelaskan. "Di sini menunjukan adanya indikasi kelainan pembuluh darah di otak. Hal ini menyebabkan suplai darah dari jantung keotak mengalami hambatan yang cukup serius. Kemungkinan besar dia akan sering pingsan.,"
Kabuto menghela nafas panjang sebelum melanjutkan. "Sakura menderita aneurisma."
Rasanya seperti seluruh bumi yang dipijaknya saat itu hancur berkeping-keping. "Apakah tidak ada yang bisa dilakukan." Sasuke mengerang. Suaranya terdengar putus asa.
"Bisa saja dilakukan operasi. Tapi kemungkinan berhasil hanya 50%. Kalau gagal. Dia bisa lumpuh. Atau mungkin mati."
Sasuke tersentak dari lamunannya saat mendengar suara Sakura memanggil namanya.
"Sasuke-kun. Kau tidak apa-apa?"
"Hn. Bagaimana perasaanmu?" Sasuke malah balik bertanya.
"Sudah lebih baik. Tapi aku tidak suka ada di sini. Lebih baik kita pulang saja." Sakura menyuarakan isi pikirannya.
"Kita akan pulang kalau kau sudah pulih Sakura." ucap Sasuke tegas. Terdengar jelas kalau Sasuke tidak ingin dibantah.
"Tapi aku baik-baik saja. Nanti juga sembuh sendiri. Aku hanya butuh istirahat." jelas Sakura. Masih berusaha mengutarakan keinginannya.
Dahi Sasuke mengernyit. Menangkap sesuatu yang ganjil dari kata-kata gadis itu. "Apa maksudnya itu. Kau sering seperti ini?"
Sakura tergagap. Tidak tahu harus menjawab apa, "eumm….." Sakura menggigit bibir bawahnya. "Tidak….iya… memang pernah. Tapi tidak terlalu sering. Hanya sakit sebentar saja kok."
Wajah Sasuke mendadak jadi kaku. Rahangnya menegang. Kedua mata pemuda itu berkilat menatap kedua bola mata emerald miliknya. Sedetik kemudian kilatan marah di kedua bola mata onyx itu berubah menjadi sesuatu yang tidak pernah Sakura lihat sebelumnya, rasa marah, kecewa dan menyesal yang bercampur menjadi satu. Sasuke tidak menatapnya, pemuda itu hanya menatap kosong dinding yang ada di seberang.
Untungnya suara ketukan di pintu menyelamatkan situasi yang terasa aneh.
"Neji,"
Neji memberikan senyuman tipis saat mendengar Sasuke menyapanya dengan nada suara yang sedikit aneh.
"Well… aku datang untuk menjenguk." Neji memberikan sebuket bunga mawar merah muda itu ke tangan Sakura yang terbalut infuse. Gadis itu menghirup aromanya sesaat.
"Terima kasih." ucapnya tulus.
Tenten memperhatikan Sakura yang berbaring di atas kasur dengan wajah pucat napasnya naik turun dengan tempo yang tidak teratur, tidak heran kalau gadis itu membutuhkan suplai oksigen untuk bernapas.
"Hai Sakura…" sapa Tenten sambil menyunggingkan senyumannya.
"Hai….." Sakura tersenyum tipis menanggapi sapaan Tenten. Dia tidak menyangka kalau Neji dan Tenten akan datang untuk menjenguk.
Sasuke beranjak dari kursinya dan mengekori Neji yang keluar dari dalam ruang perawatan Sakura, sengaja ingin memberikan waktu untuk para gadis bicara. Sekarang hanya ada Tenten dan Sakura. Suasana terasa sedikit kaku. Tenten menatap Neji yang menghilang di balik pintu dengan semburat merah tipis di pipinya.
Tenten mengembalikan tatapannya pada Sakura. "Bagaimana keadaanmu?"
"Sudah membaik,"
"Sebenarnya kau sakit apa?"
Sakura meringis. "Aku sendiri tidak tahu. Kurasa Sasuke hanya melebih-lebihkan. Aku tidak apa-apa."
"Aku cukup kaget juga. Ternyata Neji membawaku kemari. Kalau tahu begitu akan membelikanmu makanan tadi." kata Tenten sambil duduk di tempat Sasuke tadi duduk.
"Tidak perlu. Ini saja sudah cukup. Aku senang kau dan Neji datang. Sepertinya dia pria yang baik." Sakura berkomentar sambil tersenyum menggoda.
Semburat warna merah itu kembali menjalar di permukaan wajah putih Tenten. Gadis itu memalingkan wajahnya ke arah lain. Tapi terlambat, Sakura sudah lebih dulu menyadarinya. "Kau tidak tahu saja bagaimana dia."
Sakura tersenyum melihat raut wajah Tenten yang bersemu merah. "Aku rasa aku tahu. Kau menyukainya." cetus Sakura gamblang.
Wajah Tenten sekarang sudah lebih merah daripada apel. "Aa..a..apa maksudmu? Mana mungkin aku… menyukai pemuda seperti dia. Dia itu menyebalkan."
"Benarkah?" rasanya menyenangkan sekali bisa menggoda gadis tomboy yang sedang kasmaran. "Kalau begitu biar kutanya. Apakah wajahmu memerah saat menatapnya?"
"Kadang-kadang," jawab Tenten jujur. Gadis itu menggigit bibirnya, tidak berani menatap wajah Sakura yang justru malah terlihat senang sekali karena bisa menggodanya.
"Apakah kau merasa berdebar-debar saat dia ada didekatmu?"
"Ehhh… tidak juga,"
"Dan yang terakhir. Apakah kau merasa seperti ada yang hilang saat dia tidak ada. Apakah kau merindukannya?"
Tenten hanya mengangguk membenarkan. Membuat wajah Sakura semakin cerah karena dipenuhi oleh senyuman.
"Kalau begitu kau menyukainya."
"Ah.. kau ini. Jangan menggodaku. Aku tidak sudi jatuh cinta pada pria seperti itu. Dia sangat menyebalkan."
Sakura hanya terkekeh geli melihat tingkah Tenten, membuat gadis itu semakin gemas mengerjai. Segala kekakuan meluruh dengan cepat diantara mereka, Tenten tidak menyangka ternyata Sakura adalah gadis yang sangat menyenangkan dan seru untuk diajak bicara.
"Kau tenang saja. Aku akan menjaga rahasiamu." ucap Sakura.
"Kau sendiri bagaimana dengan Sasuke?"
Seketika raut kegembiraan di wajah Sakura berganti menjadi mimik terluka yang selalu telihat dimatanya.
"Aku tidak tahu," jawabnya lirih.
"Apa maksudmu? Kupikir kau dan dia sudah jadian."
Sakura menggeleng. "Aku terbangun di rumah Sasuke. Dan semenjak itu aku tidak bisa keluar lagi."
"Kalau kau tidak keberatan. Kau bisa menceritakannya padaku." ucapnya sambil tersenyum pada Sakura, berusaha memberikan dukungan pada gadis itu.
"Maaf Tenten. Kurasa aku belum siap untuk itu."
Tenten tersenyum. "Tidak masalah. Aku juga tidak ingin memaksamu."
Tidak berselang terlalu lama, terdengar suara gaduh yang sangat mengganggu pendengaran dari luar, tepatnya di depan pintu rawat kamar Sakura. Dibarengi dengan munculnya kepala yang dipenuhi seonggok rambut berwarna pirang terang dari balik pintu.
"Hai... Sakura…" sapa Ino dengan wajah yang ceria. "Hai Tenten….!" Tatapan gadis itu beralih pada teman dicepol duanya.
"Untuk apa kau datang ke sini?" tanya Tenten ketus.
"Kau itu jahat sekali. Aku 'kan datang khusus untuk menjenguk Sakura, kudengar dari Neji dia sakit. Iya kan Sai-kun?" Ino menatap kekasihnya, meminta bantuan.
Pria dengan rambut kelimis itu hanya mengangguk sambil memberikan seulas senyuman yang menawan. "Kebetulan, Hinata dan Naruto juga dirawat di sini."
"Sebenarnya aku masih tidak mengerti. Memangnya apa yang terjadi, Hinata dan Naruto sakit apa?" Tenten yang masih buta akan keadaan memberondong teman pirangnya dengan serentetan pertanyaan. Dia yakin Ino tahu sesuatu yang dia tidak tahu.
"Memangnya Neji tidak memberitahumu?" Ino malah balik bertanya.
Tenten menggeleng.
Ino lantas menceritakan semua yang diketahuinya perihal kecelakaan yang menimpa Naruto dan sahabatnya yang terjadi kemarin sore dengan mimik wajah menyesal. Selain itu dia juga sangat bershukur karena kedua orang itu berada dalam kondisi selamat walaupun kepala Naruto bocor di bagian kening.
Setelah ketiga orang itu pergi, Sakura kembali memikirkan percakapannya dengan Tenten tadi siang. Entah kenapa tiba-tiba Sakura merasa dia harus pergi, tapi sepertinya itu sangat sulit dilakukan, mengingat Sasuke yang selalu mengawasi gerak-geriknya dengan waspada. Neji kembali bersama Sasuke yang setelahnya segera saja mengajak Tenten pergi entah ke mana sementara dia hanya tinggal berdua dengan Sasuke sedangkan pria muda itu sepertinya tengah tenggelam dengan pikirannya sendiri. Dan tidak berapa lama setelah itu, Sakura kembali sendirian saat Sasuke ditelephon oleh sekretarisnya untuk menghadiri rapat dengan klien, pemuda itupun pergi dengan tatapan tidak ikhlas setelah menghadiahi kecupan singkat di bibirnya.
Sakura meraba lehernya. Tidak ada apa-apa di sana, tidak ada kalung yang seharusnya menggantung di leher jenjangnya. Sakura benar-benar panik. Bagaimana bisa dia tidak menyadari kalung itu tidak ada di dirinya selama ini, kalung yang menjadi miliknya satu-satunya. Yang mungkin saja petunjuk terakhir dari kedua orang tuanya.
Gadis itu menghela napas berat, percuma saja dicari. Kalung itu tidaklah jatuh atau semacamnya. Karena Sakura ingat dia meninggalkan kalung itu di kamarnya di panti asuhan. Diletakkan di dalam sebuah kotak kayu jati berukiran bunga Sakura yang sangat antik. Ketakutan menjalar di dadanya. Bagaimana kalau ada yang menemukan dan menyerahkannya pada Mei? Atau yang lebih parah lagi kalau kalung itu sudah ada di tangan Mei dan entah apa yang akan dilakukan Mei pada kalung nya.
Sakura menjadi gelisah, dia ingin segera kembali ke Panti dan memastikan kalau ketakutan nya tidak beralasan. Dia ingin berpikir kalau kalung itu masih berada di tempatnya semula hingga dia bisa mendapatkan kesempatan untuk pergi mengambil kalung itu kembali. Sakura berusaha menenangkan dirinya dengan tidak memikirkan kemungkinan terburuk, dia tidak boleh panik di saat seperti ini. Dia harus mencari cara untuk pergi, tidak perduli apakah Sasuke akan sangat marah nantinya. Dia harus pergi, kalung itu sangat penting baginya. Karena itu dia harus tenang, jangan sampai Sasuke mendapati raut mukanya yang sedang gelisah, itu akan menimbulkan kecurigaan.
Menjelang makan malam Sasuke kembali dengan membawakan sekotak takoyaki yang pernah Sakura ceritakan bahwa dia sangat ingin bisa memakan makanan itu lagi kalau ada kesempatan.
"Sasuke-kun… apa besok aku sudah boleh masuk sekolah?"
Sasuke mengalihkan tatapan nya dari layar computer tablet yang berada di genggaman tangannya. "Akan ku tanyakan pada Kabuto." Setelahnya Sasuke kembali menyibukkan dirinya.
Sasuke diam-diam melirik ke arah Sakura yang terlihat sedang menatap layar televise yang memang disediakan di kamar VVIP-nya dengan tatapan tidak fokus, Sasuke memang tidak melihat ada sesuatu yang ganjil dalam diri gadis itu, tetapi justru hal itulah yang membuat Sasuke tanpa sadar menjadi waspada. Firasat nya mengatakan akan ada sesuatu hanya saja dia tidak ingin terlalu memikirkannya.
- SAKURA-
Sakura mengerjap-ngerjapkan matanya yang masih terasa berat. Hari ternyata sudah pagi lagi, dan lagi-lagi dia terbangun bukan di kamarnya melainkan di sebuah kamar asing yang penuh dengan bau yang tidak menyenangkan.
Matanya melirik ke arah sofa panjang berwarna coklat muda yang sudah dua hari ini menjadi tempat tidur Sasuke, pemuda itu tidak ada di tempatnya. Mungkin sedang di kamar mandi, karena seharusnya Sasuke baru saja bangun karena tempat yang menjadi pelabuhan mimpi Sasuke tadi malam masih terlihat berantakan dengan selimut yang belum dirapikan.
Kakinya bergerak turun dari tempat tidur yang berpenyangga, sambil membawa selang infus yang direkatkan pada lengan kirinya. Sakura bergerak menuju kamar mandi, namun saat melongokkan kepala ke dalam, ternyata Sasuke tidak ditemukan di mana pun. Segera saja otaknya mencerna situasi yang sejak sedari malam ditunggunya.
Sakura mencabut paksa jarum infus yang ditanamkan di salah satu urat nadinya dengan paksa hingga menyebabkan tangannya terluka, ada darah yang merembes pelan dari tangannya dan jatuh ke lantai yang putih. Gadis itu kemudian segera mengganti pakaiannya dengan baju berupa celana jeans panjang dan sweter disertai jaket berwarna biru muda yang membalut tubuh mungil nya dengan sangat pas.
Sakura menarik napas sebelum membuka pintu ruang rawatnya dengan hati-hati. Gadis itu menghela napas lega saat mendapati lorong kosong, bebas dari orang-orang atau pun para suster yang berseliweran—maklum saja, sekarang masih terlalu pagi untuk orang-orang beraktifitas—dan juga tidak ada penjaga yang biasanya selalu ditempatkan Sasuke di depan pintu kamarnya untuk mengantisipasi Sakura keluar dari dalam kamar tanpa sepengetahuannya.
Gadis yang mempunyai warna rambut softpink itu berjalan dengan tenang agar perawat yang berjaga didepan meja resepsionis tidak curiga kalau dia adalah salah satu pasien yang sedang berusaha untuk melarikan diri. Gadis itu seperti sedang dikejar oleh waktu, pasalnya sebentar lagi akan ada perawat yang datang untuk mengecek keadaannya setiap beberapa jam sekali, namun dia juga tidak bisa bertindak gegabah dan ketahuan.
Dia memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar sebelum ke Panti, menikmati kebebasannya yang terasa sangat singkat. Sakura melangkahkan kakinya di jalan setapak yang sekarang terasa sangat lengang, tidak ada lagi orang-orang yang berlalu lalang, sekedar hanya untuk berjalan-jalan atau pun melakukan aktivitas pagi seperti lari pagi.
Karena hari ini sangat dingin, jalanan yang masih tertutup salju tebal membuat orang-orang malas untuk beranjak dari balik selimut yang menawarkan kehangatan kecuali terpaksa, lagi pula sekarang bukan hari libur. Jadi pasti orang-orang sedang sibuk menyiapkan diri untuk pergi bekerja atau berangkat ke sekolah.
Ngomong-ngomong tentang sekolah, Sakura jadi ingat saat pertama kali bertemu dengan Sasuke, sekitar dua tahun yang lalu. Mereka bertemu di atap sekolah yang saat itu telah sepi karena seluruh murid telah berada di rumah mereka yang hangat. Keadaan saat itu sama dengan hari ini. Hari yang bersalju.
Flashback
Sakura terkunci disana sendirian dan tidak bisa pergi, entah terkunci atau memang senggaja dikunci oleh seseorang. Suasana sekolah yang mulai terlihat gelap dengan kembalinya sang surya keperaduaan seketika membuat bulu kuduk Sakura meremang, membayangkan akan bermalam ditempat dimana sepuluh tahun yang lalu ada seorang sisiwi yang bunuh diri karena dihamili oleh guru yang tidak bertanggung jawab. Tiba-tiba saja gadis itu terpekik kaget saat ada tangan yang menyentuhnya dan refleks memukulkan buku yang ada di genggaman tangannya secara membabi buta dengan kondisi mata tertutup.
"Hei… hentikan! Apa-apaan kau?"
Sakura membuka matanya dan terkejut saat mendapati Sasuke berdiri di hadapan nya dengan wajah ditekuk, shukurlah pria muda itu tidak cidera.
"Uchiha-san…. Maafkan aku, aku tidak sengaja." ucapnya sambil membungkukkan tubuh dalam-dalam.
"Hn." Sakura cengok mendapati jawaban Sasuke yang terkesan sangat enteng.
"Apa yang kau lakukan disini sendirian?" Sasuke bertanya sambil memasukan tangan kirinya kesaku celana.
"Aku terkunci." jawab Sakura lemas. "Dan sekarang kita terkunci." Suara Sakura semakin lirih saat menyadari dirinya terkunci bersama pentolan sekolah yang bahkan meskipun mereka baru bersekolah satu bulan ini. Sasuke dan teman-temannya sudah membuat sekolah heboh dengan menumbangkan kelima preman sekolah yang bertubuh dua kali lebih besar dari mereka yang merupakan gabungan dari anak klub Judo dan Foodball masuk rumah sakit dengan keadaan luka parah, patah tulang, dan lebam di sekujur tubuh bahkan sampai masuk UGD.
Sasuke meraih handphone-nya yang diletakan dibalik saku jas sekolahnya dan berbica dengan cepat. Sambil menunggu, mereka duduk dengan diam sambil menikmati hembusan angin, Sakura merasa jenuh sementara Sasuke sepertinya tengah sibuk bergelut dengan pikirannya sendiri.
"Maafkan aku. Aku tidak sengaja, kau tidak apa-apa 'kan? Apa ada yang luka?" tanya Sakura sekali lagi untuk memastikan perbuatannya tidak berakibat fatal.
Sasuke mengalihkan tatapannya pada Sakura, melihat dengan jelas raut wajah Sakura yang terlihat sangat menyesal dan sarat akan kecemasan.
"Aku tidak apa-apa."
Sakura mendengar suara pintu yang terbuka, orang-orang yang mengenakan setelan jas formal seperti bodyguard pejabat tinggi Negara berdiri berjejer sambil membungkuk hormat saat Sasuke lewat. Sasuke menawarinya untuk diantarkan, tapi Sakura dengan halus menolak bahwa dia lebih memilih naik bus.
End of flashback.
Sakura tersenyum kecil setip kali memori lucu itu teringat olehnya. Tanpa disadari sekarang Sakura telah beridiri di depan disebuah gedung tua yang masih tampak terawat. Sepintas bangunan tua ini seperti rumat sakit yang telah lama tidak terpakai, namun disinilah Sakura selama seumur hidupnya menghabiskan waktu dan tumbuh berkembang hingga seperti sekarang ini. Perutnya mulai berbunyi. Tidak terasa ternyata sekarang sudah hampir menjelang sore, ternyata tanpa sadar dia telah berkeliling Kota hampir seharian, menikmati pemandangan hanya dengan berjalan kaki. Pantas saja kalau dia merasa sangat lapar.
Tiba-tiba Mei melongok muncul dari balik pintu, Sakura panik tapi dia sudah terlanjur tertangkap basah dan sudah tidak bisa bersembunyi lagi.
"Sakura…" pekik Mei riang.
Sakura terlalu shock untuk menyadari nada ganjil yang keluar sebagai huruf konsonan dari mulut Mei, bukankan seharusnya gadis itu sekarang sedang meneriakinya dengan makian kasar dan mengadukannya pada kepala panti, dan bukannya justru malah menyerat Sakura melangkah kedalam ruangan ibunya yang merangkap sebagai kepala panti dengan wajah yang dipenuhi kegembiraan.
"Tuan… dia sudah datang." ucap Mei riang.
Tuan? Sejak kapan Mei memanggil ibunya dengan sebutan Tuan.
Saat kursi bersandaran tinggi itu membalik, barulah Sakura sadar kalau yang duduk disana dengan wajah angkuh bukanlah wajah ibu panti yang biasa Sakura lihat melainkan Uchiha Sasuke yang sedang menatapnya dengan sorot kemarahan yang terpancar jelas dikedua bola matanya yang sekelam malam.
Ibunya Mei masuk kedalam ruangannya dan menyerahkan selembar kertas yang ditandatangani Sasuke denggan cepat, entah kertas itu berisi apa, Sakura tidak mau terlalu memusingkan hal itu. Sasuke beranjak dari kursinya tanpa sedikitpun mengalihkan tatapannya dari sepasang emerald Sakura yang sekarang bercahaya redup. Dicengkramnya lengan Sakura dengan sedikit kasar dan dipaksanya Sakura melangkah disampingnya menuju ke mobil yang sudah siap didepan pintu panti.
Sakura tidak bisa mengendalikan kegelisahannya yang terbaca jelas diraut wajahnya, gadis itu terus menengokan kepalanya kebelakang, menatap tempatnya dibesarkan yang telah menghilang ditelan jarak.
Mobil sedan yang dikawal oleh dua mobil, masing-masing didepan dan dibelakang berhenti bergerak saat rambu lalu lintas berganti menjadi merah, Sakura melihat itu sebagai kesempatan dan tanpa aba-aba Sakura membuka pintu mobil dan berlari mengerahkan kekuatan kakinya hingga batas maksimal. Tidak diperdulikannya teriakan frustasi Sasuke yang memanggilnya dengan keras.
"Sakura…" Sasuke berteriak, tapi tidak berusaha mengejar. Dia tahu Sakura kembali.
"Apa perlu kami kejar Tuan?" salah satu bodyguard Sasuke bertanya pada tuannya, mereka keluar dari dalam mobil yang berada dibarisan belakang saat mendengar terikan Sasuke.
"Tidak perlu."
"Sial…"Sasuke membanting pintu mobil dengan kekuatan penuh. "Putar balik." Perintah Sasuke tajam.
Sakura masuk kedalam panti dengan menyelinap melalui pintu belakang yang menuju kearah dapur dan berdekatan dengan kamarnya. Saat telah sampai ditempat yang dia tuju, tanpa membuang waktu lagi Sakura segera membongkar isi lemari. Dia menyimpan kotak itu dibagian belakang lemarinya, gadis itu belum bisa menghela nafas lega saat mendapati kotak berukiran unik itu ditangannya.
Tanpa terasa air mata menggenang dipelipuk matanya saat mendapati isi kotak telah kosong. Kalung itu tidak ada seperti seharusnya. Tubuh Sakura merosot luruh di lantai. Satu-satunya kenangan sekaligus petunjuk mengenai keluarganya lenyap sudah.
Sasuke melihat Sakura yang menangis terisak tanpa suara sambil menutupi permukaan wajahnya yang dipenuhi airmata dengan menggunakan kedua telapak tangannya didekat tempat tidur. Bahu gadis itu bergetar hebat. Ini pertama kalinya Sasuke melihat Sakura memangis didepan matanya dan itu cukup membuatnya merasa sedikit bersalah.
"Sudahlah. Ayo pulang."
-SAKURA-
Sejak kembali dari kunjungannya kepanti Sakura menjadi semakin pendiam, gadis itu hanya menyembunyikan wajahnya yang penuh dengan lelehan air mata dibalik bantal, terisak tanpa ada suara yang keluar. Suasana yang sudah sempat tercipta diantara mereka mendadak jadi canggung kembali.
"Kau harus makan Sakura. Kau sudah tidak makan apa-apa sejak kemarin sore." bujuk Sasuke halus sambil membelai rambut softpink Sakura.
Gadis itu menggeleng pelan. Menolak untuk membalikkan wajahnya menatap Sasuke, dia tidak ingin Sasuke melihat matanya yang pasti sekarang sudah membengkak maksimal.
"Baiklah. Ini bukan yang kau cari?" ucap Sasuke sambil menunjukan sebuah kalung cantik yang berhiaskan batu rubi merah dengan hiasan bunga Sakura ditengah-tengahnya.
Sakura serta-merta langsung menegakkan tubuhnya manatap wajah Sasuke. "Dari mana kau mendapatkannya?"
"Dari gadis itu." Ternyata benar, Mei telah mengambilnya.
Sasuke menyerahkan kembali kalung itu ke tangan Sakura. Matanya menatap kalung itu tanpa berkedip. Sakura meneliti kalung itu, terdapat ukiran nama Sakura dibalik pengait kalung itu. Tidak salah lagi, ini memang kalung yang dia cari. Kalung miliknya.
"Terimakasih." Sakura memeluk Sasuke, gadis itu kembali terisak, membuat kemeja yang Sasuke kenakan menjadi basah karena terkena tangisan. Dibelainya lembut rambut Sakura sambil mengetatkan pelukannya. Meletakan dagunya dipuncak kepala gadis itu.
"Sebegitu pentingnya 'kah? Sampai kau menangisinya hingga seperti ini."
Sakura mendengar Sasuke berucap pelan persis disamping telinganya. "Itu kalung peninggalan kedua orang tuaku. Kalung itu sudah ada bersamaku saat aku dibuang."
"Bagaimana kau bisa begitu yakin?" pertanyaan Sasuke membuat Sakura mengangkat wajahnya dari dada Sasuke.
"Apa maksudmu?"
"Bagaimana kalau kalung itu tidak berarti apa-apa dan hanya kebetulan ada bersamamu saat itu."
Sakura menundukan wajahnya, dia memang pernah berpikir seperti itu. Air mata semakin deras menggenang dikedua pipinya yang sekarang berwarna semakin pucat. "Aku tidak tahu. Itu satu-satunya yang tersisa."
To be continued.
Author note : Anuerisma adalah penyakit kelainan pembuluh darah karena lemahnya dinding pembuluh darah yang bisa terjadi dimanapun diseluruh tubuh, terutama otak dan biasanya disebabkan karena adanya beturan atau pun trauma pada kepala. Gejalanya seperti sakit kepala, muntah-muntah, nyeri dan kaku pada leher, pandangan kabur, semua itu terjadi karena adanya kebocoran pada pembuluh darah otak hingga menyebabkan rembesan darah setetes demi setetes dan kemudian jatuh pingsan dan bisa menyebabkan kematian.
spesial thanks.
Animea Lover Ya-Ha. Poetri Chan. Eet gitu. Naomi azurania belle. Yue-chan. Uchiha elfsparyo. Uchiharuno proper. SS SK. Uchiha Hime is poetry celemot. Sandy si kucing pink. Eunike Yuen. Me. Sung rae ki. Hasni kazuyakamenashi stareel. Vanilla yummy. Riestiyani aurora. silent reader. Huicergo montidiesberg. Rei Fujisaki27. cherry. FhyyLvHyYELF. Dan juga untuk semua silent reader.
Mohon maaf atas keterlambatan update. mohon maaf apabila ada kesalahan dalam penulisan nama.
R
E
V
I
E
W
