.

.

Character © Masashi Kishimoto

Accidentally in Love

Story by Icha-Icha Fairy

Part 11

Love Struck

enjoy

.


.

Sandal hotel

Sakura keluar dari kamar mandi. Bawahan? boxer abu-abu Sasori dengan tulisan 'ROCK' di tengahnya, sungguh tersirat konotasi yang dalam jika pria yang memakainya. Atasan? kaos polos berwarna hijau muda. Tambahan? handuk putih membungkus rambutnya yang basah. Tatapan? ia menatap sandal hotel yang diletakkan di pinggir kaki sofa. Sakura baru saja mandi dan sekarang ia masih berdiri di depan pintu memandang sepasang sandal hotel.

Sandal itu wujudnya sudah tidak layak pakai. Kotor, kecoklatan dan gepeng seperti keripik singkong yang digoreng gosong. Ada sedikit gumpalan tanah yang menempel di balik telapak sandal. Kegiatan berkuda telah menyiksa kepolosan sandal hotel itu. Kasihan, tapi ia harus berakhir di kantung plastik sampah sekarang.

Sakura menuju tempat sampah di dekat wastafel, gerakannya berhenti saat kenangan di balik sandal hotel itu terlintas di kepala. Kuda, Itaru, Kenji, Sasuke. Sasuke yang paling diingatnya. Tarik kembali, Sakura tidak jadi membuang sandal itu, ia memasukkan sandal ke dalam kantung plastik hitam dan diselipkan di bawah wastafel. Aman. Kenangan tentang Sasuke sudah aman.

Tunggu. Sasuke? kenapa harus Sasuke?

Sakura mengambil sandal itu lagi.

Buang, tidak, buang, tidak, buang, tidak, buang, Shannaro! ada apa ini?! kenapa bisa bingung hanya gara-gara sandal?! mungkin tradisi Konan tentang menyimpan 'benda kenangan' sudah mulai terpapar di otaknya.

Tomat

Ada lima buah tomat di dalam kulkas. Tomat itu masih segar, bugar, dan berseri. Sakura lapar, tidak ada bahan makanan selain tomat. Ah benar..., kegiatan berkuda seharian ini membuatnya absen dari jadwal membeli stok bahan makanan. Untung ada sisa tomat... tomat ini menyelamatkannya. Siapa yang membeli tomat-tomat itu?

Sasuke.

Shannaro! sosok maniak tomat kembali terlintas di kepala. Bahkan wajah Sasuke muncul di permukaan tomat sekarang. Sakura membanting pintu kulkas. Malam ini ia akan berdiet.

Converse

Oh man! bau kotoran kuda menyambar hidung saat plastik pembungkus sepatu itu dibuka. Sakura menghabiskan satu bungkus deterjen dua ratus gram untuk merendam sepatu converse-nya. Sepatu itu harus dicuci bersih karena sepatu itu masih baru dan tidak mungkin dibuang, apalagi ini pemberian dari Sasuke.

A-a-a...siapa?

Sasuke.

Daak! Sakura menendang ember cucian dan spontan merintih kesakitan pada ujung jari kakinya. Salah sendiri...

Naruto

"Kemana saja kau seharian ini?" pria jabrik itu mengesekusi jus jeruk di depan kulkas begitu masuk ke dalam apartemen Sakura. Tangan Kirinya masih menggenggam obeng Inggris.

"Pergi berkuda." Sakura kembali merebahkan tubuhnya di sofa, kartun Spongebob sedang disiarkan di layar kaca televisi.

Smitty Werben Jager man Jensen.

Nama itu yang langsung terlintas di kepala Sakura. Sial. Terimakasih Obito. Sakura langsung mengganti saluran menuju MTV dan penampakan Justin Bieber sedang bercinta dengan seorang wanita terlihat dalam MV lagunya berjudul What do you mean. Terserah...

"Kenapa dia berevolusi sangat pesat? bencana apa yang menimpa kepalanya?" Naruto mengeluarkan komentar sarkasme saat melihat MV itu, ia duduk di karpet bersandar pada kaki sofa. Sakura yang terbaring di atasnya hanya memandang layar televisi dengan tatapan malas.

"Setidaknya dia lebih berpengalaman dibanding kau." sahut Sakura.

"Kau seperti sedang meragukanku." Naruto mengangkat sebelah alisnya tidak senang, Sakura malas membahasnya lagi.

"Tadi kau bilang berkuda? sejak kapan kau berkuda? kau bergaul dengan pendekar sekarang?" Sakura mengerti mood Naruto masih belum membaik soal insiden perebutan Hinata oleh Toneri kemarin, pria itu terlihat seperti kakek-kakek ujung usia yang sensitif.

"Apa kau sudah menghabiskan jus jerukku di kulkas?" tanya Sakura.

"Sudah, ini yang terakhir." Naruto mengangkat botol di tangannya. Sakura bersyukur Naruto bukan penggila alkohol, tapi mungkin ia harus melatih dirinya minum bir. Pria yang sedang galau minum jus jeruk? ooh ayolaaaaah...

"Lalu kenapa mood-mu masih belum membaik?" tanya Sakura.

Naruto hanya mengangkat bahu. Wajahnya malas memandang Justin Bieber sedang berguling-guling ria di atas ranjang. "Hei, kau belum menjawab pertanyaanku." tanyanya kemudian.

"Apa? kuda? aku berkuda dengan Sasuke." sial! menyebut nama itu lagi. Sosok Sasuke yang sempat ter-pause di otak kembali ter-play. Domo Arigatou Naruto.

"Sasuke? kenapa kau bisa berkuda dengannya?" timbul tanda tanya besar pada raut wajah Naruto dan suasana menjadi hening.

'What do you mean...'

Lagu Justin Bieber menjadi backsound-nya.

"Pinky! kau tidak pulang semalam kan?!"

"Kau mengagetkanku bodoh!"

"Jangan coba-coba mengalihkan pembicaraan nona. Katakan padaku. Aku disini menghabiskan jus Jeruk..." Naruto menghentikan kalimatnya, ia merebut remot TV di tangan Sakura lalu menekan tombol off. Justin Bieber terlalu berisik.

"Aku di sini menghabiskan jus jeruk sampai jam satu dini hari. Kau bermalam di tempat Sasuke?" wajah naruto serius.

"Ada apa denganmu? apa kau titisan Sasori sekarang?" Sakura sinis menatap Naruto.

"Kau tidak ingin mengatakannya?"

"Tidak."

"Kau yakin?" ekspresi Naruto seperti seorang mentalist ahli hipnotis dan Sakura kalah.

"Ok, ok." Sakura menghela napas lalu menarik nafas lagi,

"Sasuke ingin mengantarku pulang tapi tiba-tiba dia ada urusan penting mendadak jadi aku ikut dengannya dan dia memesan kamar hotel untukku istirahat tapi kami malah bermalam di kamar yang sama dan catat bahwa kami tidak melakukan apa-apa lalu keesokan harinya dia mengajakku berkuda bersama keluarganya." Sakura menjelaskan dalam satu tarikan nafas dan Naruto hanya diam terpaku, a.k.a bengong.

"Wow." hanya itu respon Naruto, ia berbalik lalu menghidupkan televisi kembali. Syukurlah Justin Bieber sudah menghilang dari balik layar.

"Jadi kau bertemu dengan keluarganya?" tanya Naruto.

"Ya begitulah, aku bertamasya di pacuan kuda bersama kakak Sasuke dan keluarganya." entah kenapa Naruto hanya tersenyum tipis mendengarnya.

"Apa kau mengalami rentetan kesialan saat bertemu keponakannya?"

"Kau pernah bertemu keponakan Sasuke?"

"Ya."

"Apa maksudmu dengan rentetan kesialan?" Sakura menautkan alisnya.

"Salah satu di antara mereka sulit dikendalikan. Yang sulung yang seperti Chucky." Sakura tersenyum geli saat Naruto menyebut Itaru dengan julukan Chucky.

"Mereka berdua manis." sahut Sakura. Naruto malas membahasnya lagi.

"Hei, kenapa kau masih saja menggenggam obeng? kau seperti pelajar yang ingin tawuran." sindir Sakura kemudian, Naruto memandang obengnya sejenak dan ekspresinya kembali cemberut.

"Aku memperbaiki mesin mobil." Naruto menghela nafas panjang. Sakura menepuk pundak pria itu, turut simpati. Suara TV lalu menjadi backsound keheningan kembali.

"Naruto, sebenarnya siapa itu Sasuke?" pertanyaan itu lagi. Sial Sasuke lagi. Sakura pun mengurut pelipis matanya.

'Oh otakku, bisakah kau menghentikan ini sejenak? aku butuh instirahat.'

"Besok, pergilah berkeliling studio Gama." ucap naruto. "Jika kau tidak menemukan dimana ruang Sasuke, mungkin dia memang Saint Saiya atau Iron man."

Shannaro!

"Se-selamat pagi Sakura-chan..., Na-Naruto-kun." keesokan harinya, Hinata berpapasan dengan Sakura dan Naruto saat mereka melewati teras gedung utama menuju unit 2D. Hinata gugup, gadis itu hanya memandang Sakura dan tidak berani menatap Naruto. Sakura paham dengan situasinya, ia membalas salam Hinata lalu beranjak meninggalkan mereka berdua dengan alasan ingin mampir ke kafetaria untuk secangkir Kopi. Semua orang membutuhkan itu di pagi hari. Apalagi hari senin. Damn. It's true.

"Selamat pagi Nona merah muda..." seorang petugas kafetaria mempersembahkan senyuman manis ketika Sakura berdiri di depan meja counter. Wajah asing, sepertinya pria itu pegawai baru. Semangatnya melebihi pegawai sebelumnya, maksudnya dia lebih ramah dan attractive ketimbang Genma. Lho kemana Genma, dipecat? Oh itu dia..., sedang melayani pegawai lain.

"Apa yang bisa kuberikan untuk mengisi harimu yang luar biasa ini nona?" tanya petugas kafetaria itu, ia memiliki sedikit jenggot di dagunya, dan wajahnya lemah lembut.

"Emm... berikan aku satu cappuccino." pinta Sakura.

"Segera datang.." petugas itu memetik jemarinya dan melesat pergi, Sakura memperhatikan pria itu sejenak lalu mengeluarkan ponsel dari saku jaket. Ada sepuluh email masuk. Ebay, surat kabar, Utakata, job freelance..., tunggu, periksa ulang. Utakata? dari mana pria itu tahu alamat emailnya yang baru? Sakura langsung menyimpan ponselnya kembali, jangan sekarang. Ia tidak siap untuk membaca email Utakata.

"Satu cappucino..." petugas kafetaria itu benar-benar bergerak cepat, ia menyodorkan kopi Sakura sambil tersenyum manis. Sakura mengulurkan tangan tapi pria itu menarik kopinya kembali. Ulur, tarik, ulur, tarik, ulur, tarik lagi. Shannaro!

"Sebutkan kata magic-nya." pria itu tersenyum, masih menahan kopi Sakura.

"Maaf?" Sakura mengangkat alisnya. Siapa yang menciptakan peraturan konyol untuk mengambil secangkir kopi?

"Terserah anda nona. Kata magic. Aku bahagia..., senin yang indah..., aku jatuh cinta..." pria itu memberikan sederet contoh dan Sakura menangkap kata 'jatuh cinta' dengan jelas.

"Semangat pagi?" Sakura asal berucap dan petugas itu memberikan kopinya. Akhirnya!

"Izumo.." pria itu memperkenalkan namanya saat menyerahkan kopi Sakura. okee...

"Baiklah.., Izumo-san, terimakasih untuk cappucino-nya." Sakura tersenyum lalu pergi meninggalkan kafetaria sementara Izumo mengulangi adegan tadi ke pegawai lain. Semoga Naruto tidak mengunjungi kafetaria pagi ini.

Sakura mengendarai otopet elektrik menuju gedung unit 2D. Menelusuri taman utama, pandangannya fokus ke depan sambil menyeruput cappucino dan berakhir tersedak saat menangkap sosok Sasuke berjalan menuju gedung tiga. Langkah Sasuke cepat seperti biasa. Tentang penampilan? Sasuke akan selalu menjadi pusat perhatian para wanita walau ia hanya mengenakan selembar daun pisang. Pagi ini pria itu tampak fresh mengenakan kemeja biru muda dipadu sweeter biru gelap. Emerald Sakura bergerak mengikuti sosok menawan itu berjalan.

Sasuke, itu Sasuke, dia Sasuke, dia..., ya Sakura, itu Sasuke, lalu apa?

Stop! Sakura menggelengkan kepala dengan cepat, memerintahkan otaknya untuk kembali ke alam sadar, gadis itu meneguk cappucino-nya seperti air putih, entah lidahnya melepuh atau tidak.

.

.

Tips melupakan sese...

Tidak. Sakura menghapus apa yang baru saja diketiknya di mesin pencarian Google.

Cara terhindar dari...

Cara terhindar dari apa? serangan zombie? Sakura menghapusnya lagi, ia harus tahu apa yang sedang terjadi pada dirinya.

Ciri-ciri orang yang sedang jatu...

Hapus lagi? oh ayolah! apa yang sebenarnya ingin kau tulis? Ok. Sepertinya Sakura cukup paham kenapa ia bertingkah aneh belakangan ini. Hanya saja insting sanubarinya sedang tidak peka, atau tidak ingin peka?

"Ciri-ciri orang yang sedang jatuh cinta maksudmu?" bisik Obito. Sakura pun tersentak kaget seperti mahasiswa akhir semester yang ketahuan menyontek saat ujian tengah semester.

"Obitooo..." Sakura mendelik kesal. Sial, lupa kalau ia duduk di samping Obito, pria itu memperhatikan gelagat Sakura yang bolak-balik mengganti jendela Photoshop dan Crome.

"Perlu kubantu?" Konohamu menyeringai, menawarkan jasa baiknya. Benar, Sakura bukan hanya duduk disamping Obito, dia juga duduk di samping Konohamaru. Dia duduk diantara dua moron ini.

"Konohamaru..., bisakah kau membantuku mencari arti jatuh cinta?" sial... Sakura menatap tajam Obito seakan ingin mengatakan 'aku akan menghajarmu nanti. Lihat saja.' Para artist background langsung mengalihkan perhatian mereka.

"Obito, bukankah Rin sudah cukup memahaminya?" sindir Iruka. Hah, rasakan itu. Sakura menyeringai puas.

"Kali ini berbeda. Aku akan membantu Sakura mencari sebuah kebenaran." Shannaro! Sakura mengepalkan tangan dan menggebrak meja. Sedetik kemudian suara ehem-ehem tertuju padanya..

"Ini dia!" Konohamaru menemukan beberapa artikel. Semua telinga di ruangan itu siap mendengar seminar Konohamaru tentang Cinta, kecuali beberapa orang yang hanyut dalam dunia mereka bersama musik, headset dan volume maksimal. Sayang sekali.

"Jatuh cinta adalah sebuah pengalaman ajaib yang terjadi di antara dua insan manusia."

"Wooaaa..." sahut para pendengar seminar secara serempak. Sakura mungkin sebal tapi ia ikut mendengarnya. Ok, mari kita lirik Ino, wanita itu sepertinya juga menyimak secara seksama. Konohamaru lalu melanjutkan seminarnya.

"Penggunaan istilah jatuh menyiratkan tak terelakkan, tak terkendali, beresiko, tak dapat berubah, dan menempatkan kedua insan tersebut dalam keadaan kerentanan yang disebut cinta. Jatuh cinta adalah kecelakaan yang indah. Yang keindahannya hanya bisa diperpanjang dengan persahabatan. Cinta adalah misteri." Konohamaru selesai, Sakura jadi mengingat Utakata dan Ino membanting kertas yang digenggamnya.

"Ok, ada yang mau bertanya?!" seru Obito, matanya menatap Sakura sambil tersenyum jahil.

"Aku!" Tenten mengacungkan jarinya. "Bagaimana teori ekspansi diri menjelaskan proses jatuh cinta?"

"Ok menurut Arthur Aron dari state University of New York, biasanya kita jatuh cinta dengan seseorang yang menarik perhatian kita, atau... mereka yang menunjukkan rasa ketertarikan terhadap kita. Hal itu menciptakan peluang untuk melakukan ekspansi diri. Fakta bahwa mereka saling tertatik akan menawarkan sebuah kesempatan yang penting. Catat itu Tenten!" seru Konohamaru dan Tenten mengangkat jempolnya.

"Baiklah, ada yang lain?" tanya Obito lagi.

"Kondisi apa yang terbaik untuk bertemu dengan seseorang dan jatuh cinta?" tanya Kiba.

"Kondisi terbaiknya adalah saat kita dalam kondisi yang menegangkan. Seperti pertunjukan yang memicu adrenalin. Saat-saat kita bergoncang dan bergairah kita cenderung mengalami daya tarik tingkat tinggi. Efek ini sudah didokumentasikan tapi penjelasannya sangatlah kontroversial."

"Ah! apakah wahana bungee jumping salah satu pertunjukan yang memicu adrenalin Konohamaru? Naruto sudah mendokumentasikannya tapi penjelasannya sangat kontroversial." Obito menyindir aksi bungee jumping Sakura bersama Sasuke.

EHEEEEM...

Suara ehem-ehem terdengar tumpang silir, wajah Sakura mulai memerah, ia hanya bisa membayangkan bagaimana meninju Obito tembus dari lantai dua.

"Yup, benar. Bungge jumping salah satunya." Konohamaru mengangguk-ngangguk diiringi suara cie-cie.Untung saja Naruto tidak lengkap menunjukkan barang bukti pada Obito, ingat kejadian roller coaster kan? cengkraman Sakura pada Sasuke waktu itu sungguh..., raawwrr.

"Baiklah! sebagai penutup seminar cinta hari ini, aku akan memberitahukan reaksi kimia orang yang sedang jatuh cinta." sambung Konohamaru. "Ok, tentu saja hormon estrogen dan testoteron yang berberan penting dalam hasrat seksual. Ehem!" Komohamaru berdeham. "Tapi... ada hormon-hormon kebahagiaan yang bertanggung jawab atas segala kejungkirbalikan manusia ketika jatuh cinta. Catat!" seru Konohamaru dan semuanya pun terkekeh.

"Satu..., Hormon Pherosmones, membuat kita naksir, melamun, membayangkan orang itu terus." Ok, mungkin Pherosmones Sakura sudah terganggu.

"Kedua, Hormon Oxytocin, membuat kita rindu, ingin melihat orang itu walau cuma beberapa detik." eemm..., mungkin hormon ini juga sudah mulai bekerja di tubuh Sakura.

"Selanjutnya hormon Vasopressin, hormon ini membuat kita untuk setia, you know you are the only one..." Konohamaru menatap intens Sakura dan sesaat Sakura ingin menculek mata pemuda itu.

"Terakhir, Norepinephirne, astaga! siapa yang menciptakan nama hormon ini?!" omel Konohamaru, "Hormon ini membuat kita semangat, happy, ceria, bahagia, ingin tersenyum terus, semakin cantik atau tampan." para artist background ragu saat memandang wajah Sakura.

"Ok, cukup Konohamaru. Terimakasih atas penjelasannya. Semoga ini sangat bermanfaat bagi yang mendengarnya." Obito tersenyum manis diiringi tepuk tangan meriah. Sakura memilih keluar ruangan sebelum ia menikam Obito dan Konohamaru menggunakan pen draw.

.

.

Awalnya, Sakura tidak yakin bahwa hari ini adalah hari lelucon untuknya. Setelah pem-bully-an duo moron Obito dan Konohamaru, firasatnya tentang kekonyolan lain sedang menanti saat ia melihat sosok Jugo melintasi taman Myoboku, taman utama studio. Perkataan Naruto semalam yang mengusulkan untuk memastikan bahwa Sasuke bukanlah Saint Saiya atau Iron man terbesit di benak dan akhirnya mengusik ketenangan si Kepo.

Ok, tidak perduli jika Sakura akan menjadi stalker hari ini, kecurigaannya tentang Sasuke sudah tidak bisa terbendung lagi, ia harus mengungkap jati diri pria yang sudah menghantuinya akhir-akhir ini. Baiklah, Sakura siap mengadakan misi penyelidikan Uchiha Sasuke.

Setelah meremas kemasan mineral, melemparnya ke tempat sampah dan mencetak three point, Sakura bergegas menguntit Jugo. Tentu saja tidak ada waktu baginya untuk mengelilingi satu studio yang sangat besar ini hanya untuk mencari di mana ruang kerja Sasuke. Itu sangat menguras tenaga dan sangat kurang kerjaan.

Sakura mengikuti Jugo menuju kafetaria, pria itu mengambil dua kopi setelah mengucapkan kata magic. (Izumo's rule) Kemudian Jugo pergi menuju toilet pria. Sakura tidak mengerti mengapa Jugo menghabiskan dua kopi untuk buang air besar, gadis itu sudah menghabiskan dua puluh menit menunggu Jugo di taman kecil di dekat area toilet seperti orang bodoh.

"Sakura apa yang kau lakukan disini?"

Shannaro! Sakura langsung menarik Sai dan bersembunyi di balik bangku taman ketika Jugo keluar dari toilet dengan pandangan mengarah ke taman.

"Kau sedang menguntit seseorang? atau berniat mengintip seseorang di toilet? Sai pria yang to the point.

"A-aku sedang ingin menikmati angin segar." Sakura mengutarakan alasan yang tidak masuk akal.

"Lalu kenapa kau menarikku? untung aku keluar dari toilet sebelum kau kesini." Ok, apa maksudnya?

"Sasuke tidak akan keluar dari toilet umum Sakura..." sial.. Sai ahli membaca pikiran walau sedikit meleset. "Dia punya toiletnya sendiri, jika kau ingin mengintip datanglah ke ruangannya." Sai mengucapkan kalimat itu sambil tersenyum, Sakura jadi penasaran kenapa dulu Ino mencampakkannya.

Aksi dilanjutkan. Radar Jugo sempat lepas dari pantauan Sakura akibat ganguan Sai. Setelah Sakura mencari dengan insting primitifnya, arah angin menunjukkan kemana pria berperawakan besar itu pergi. Jugo masuk ke gedung unit 3D dan Sakura mulai berpikir apakah Sasuke sebenarnya artist 3D, tapi artist mana yang mempunyai bawahan semacam sekretaris pribadi? ya kecuali seorang art director, tapi Sakura tidak yakin dan ia tetap mengikuti Jugo.

Tidak ada patung Gamakichi sepanjang mata memandang di gedung unit 3D. Langkah Sakura berhenti ketika Jugo masuk ke sebuah ruang dimana ada patung katak berwarna hijau toska duduk bersila di atas batu pelangi di samping pintu masuk. Siapa lagi katak ini?

Sakura mendekat dan berdiri di depan ruang yang bertuliskan concept art 3D pada board petunjuk devisi. Sakura ragu masuk ke dalam karena ia memang tidak punya keperluan untuk masuk ke sana, lalu bagaimana? bagaimana memastikan bahwa ini ruangan Sasuke?

"Sakura?"

Gaara muncul di saat-saat yang... tidak, Sakura tidak akan menggunakan pria itu sebagai alasan masuk ke ruangan concept art 3D.

"Gaara-san..." sapa Sakura, rasanya masih canggung jika memanggil Gaara tanpa embel-embel, entah kenapa, pria ini mempunyai pesonanya sendiri.

"Sedang apa kau disini?" tanya Gaara.

"A-aku..., penasaran seperti apa ruang concept art 3D." Nice. alasan yang masuk akal.

"Benarkah? kau ingin masuk?" Gaara menawarkan sesuatu yang sangat diharapkan.

"Memangnya aku boleh masuk?"

"Tentu saja, siapa yang melarangmu? selama kau punya itu kau bisa mengakses semua pintu devisi." Gaara menunjuk ID card Sakura, ya setiap pegawai punya ID card untuk mengakses semua pintu devisi produksi 2D maupun 3D, kecuali ruang IT, karena mereka menyimpan harta karun disana.

"Garaa-san...sebelumnya apa aku boleh bertanya?"

"Ya tentu saja..."

"Siapa nama katak ini?" Sakura menunjuk patung katak disebelahnya dan Gaara tersenyum simpul.

"Gamahiro."

.

.

Kesan yang muncul di benak Sakura saat masuk ke ruang concept art 3D adalah..., gugup.

Sekitar ada lima belas meja kerja lengkap dengan komputer dan pen draw di dalam, ruangan itu tidak jauh beda dari ruang devisi Sakura. Yang membedakaannya adalah auranya yang tenang. Dinding-dinding mereka dipenuhi gambar concept art animasi 3D. Devisi concept art bertugas membuat concept desain meliputi, karakter tokoh, tema, dan style animasi yang akan dibuat. Mereka mengillustrasikan melalui gambar-gambar berwarna yang menceritakan alur cerita seperti gambar dongeng untuk menyampaikan representasi ide dari devisi story.

"Woa, woaa, woaa, Gaara..., mungkin kau bisa memperkenalkan si Pinky ini pada kami." sambut Deidara. Sakura pernah melihat pria ini di pertandingan bisbol.

"Haruno Sakura." gadis itu menjabat tangan Deidara, dua pria bertindik dan satu pria berttato di pipi. Sakura merasa ruangan ini seperti ruangan gengster Yakuza. Gaara bahkan mempunyai tatto di keningnya.

Pain Nagato, Pain Yakiho, mungkin mereka berdua adik kakak, lalu Kankuro dan Deidara. Ok Sakura mengingat nama mereka dengan jelas. Hanya ada lima orang di sini, yang lain mungkin sedang makan siang.

"Jadi sudah sejauh mana perkembangan kalian berdua?" Deidara tersenyum penuh arti dan Sakura bingung dengan perkembangan yang dimaksud pria itu.

"Deidara, berhenti mengganggunya." tegur Gaara.

"Baiklah, kita beri mereka privasi." Deidara mundur lalu menuju meja kerjanya di samping meja kerja Yakiho. Entah kenapa Sakura mengingat Naruto saat melihat Yakiho.

"Sakura ke sini mau melihat-lihat." ujar Gaara sambil duduk di pinggir meja kerja Kankuro.

"Boleh aku melihat-lihat?" Sakura menunjuk dinding yang dipenuhi tempelan concept art film Greenoch yang akan rilis tahun ini.

"Tentu saja, bukankah Gaara baru saja bilang kau datang untuk melihat-lihat?" sahut Deidara.

Sakura mengamati satu persatu concept art yang ditempel pada beberapa sisi dinding, ilustrasi mereka sangat mengesankan, dimulai dari pemilihan warna, peletakan cahaya dan mood-nya. Sakura seorang background artist dan ia mengagumi style concept art mengilustrasikan cerita dalam bentuk gambar. Sakura yakin orang-orang di dalam ruangan ini adalah dewanya painting.

Balik ke misi awal. Sakura mengedarkan pandangan, mencari sosok Jugo yang penampakaannya tidak terlihat, kemana perginya pria itu?

"Apakah ini ruang art director?" Sakura menunjuk ruang bersekat kaca yang tertutup tirai.

"Ya." Gaara mengangguk. '

'Apa?! Sasuke seorang art director 3D?!' batin Sakura terkejut.

"Siapa art director-nya?" tanya Sakura.

NGUUUWWWRRRRRAAAA... (Suara gajah) aku tidak tau cara penulisannya.

Suasana hening saat semua perhatian di ruangan tertuju pada Sakura. Gaara hanya menyeringai tipis.

"Pinky head." Deidara berdiri. "Perlu kau ketahui. Art directornya adalah..., Gaara."

"Nona?" di saat bersamaan Jugo keluar dari ruang bersekat kaca, mengiringi perasaan bodoh yang menjalar di kepala Sakura.

"Ju-jugo-san.." Sakura terkejut. Gadis itu masih berdiri di tempat sambil meringis ke arah Gaara dan teman-temannya. Bodohnya aku...

"Sedang apa kau tempat ini? kau bekerja disini?" tanya Jugo, semua mata pun kembali tertuju pada Sakura.

"Iya Jugo-san, aku bekerja di devisi background 2D." Sakura ingin keluar dari ruangan itu secepatnya. Seakan terjebak di dalam kandang macan.

"Kau mencariku Jugo?" tanya Gaara.

"Ya, aku menunggumu di dalam. Kukira kau sedang ada tamu di luar sini."

"Ya. Tamunya si nona merah muda ini." sahut Deidara. Satu kesan dari Sakura... Deidara pria yang banyak bicara, mungkin dia cocok disandingkan dengan Obito.

"Maaf Sakura, aku ada urusan, kau tidak keberatan kutinggal?" pertanyaan Gaara ini menambah kesalah pahaman saja.

"Tidak Gaara-san. Aku juga harus kembali sekarang."

"Oh ayolah, kau baru lima belas menit di sini." tahan Deidara.

"Ya, aku harus kembali sebelum koordinator background 2D menelpon semua devisi untuk mencariku." Sakura tersenyum, ia melambaikan tangan dan mengambil langkah mundur, sosoknya lenyap setelah keluar dari pintu.

Sakura beranjak dari ruang concept art 3D, ia mencari otopet ngangur di depan gedung 3D tapi hanya ada dua sepeda yang tersisa di sana, Sakura pun menggunakan salah satu otopet itu menuju ke gedung 2D yang berjarak tujuh puluh meter dari unit 3D. Sakura memastikan jam tanganya, tersisa setengah jam lagi sebelum jam istirahat berakhir, lupakan Jugo, sepertinya misi pengungkapan Sasuke ditunda sampai besok.

Tungu!

Mendadak Sakura menarik rem saat emerald-nya menangkap sosok pangeran tampan melintas di sepanjang teras gedung utama. Keberuntungan di pihaknya. Gotcha! Itu Sasuke!

Bukan saatnya berpikir bahwa dirinya terlihat seperti seorang maniak ketika posisi sudah di ujung pintu kebenaran, sudah setengah perjalanan Sakura mengendap-ngendap, menguntit Sasuke dari belakang. Gadis itu terlihat benar-benar seperti seorang stalker, ia bersembunyi dari satu Gamakichi ke Gamakichi lain seperti ninja. Jantungnya berdegup kencang mengikuti langkah kaki Sasuke saat berbelok ke kiri di persimpangan koridor. Sakura terus mengikutinya.

"Kenapa kau mengikutiku?"

"HIYAAA!"

Sakura syok, tiba-tiba Sasuke sudah bersandar di balik tembok tikungan. Kaget. Kaget sekali... suara Sakura sampai bergema di lorong gedung mengagetkan clening servis yang melintas, untung jantungnya sehat.

"Kemari." Sasuke menggerakkan kedua jarinya, memerintahkan Sakura untuk mendekat.

"Kenapa kau mengikutiku?" Sasuke mengulang pertanyaan, Sakura berdiri satu meter di hadapannya.

"Aku tidak mengikutimu Sasuke-san." Sakura bertahan menatap onyx kelam itu delapan detik. Aku bersumpah, dia harus segera memeriksakan matanya setelah ini.

"Bahkan kau turun dari sepeda setelah melihatku." Sial... apa Sasuke punya indera keenam? Sakura mulai gugup. Keringat membanjiri telapak tangannya, gadis itu melirik sekeliling, tidak ada orang, sepi, Aman.

"Mendekat." perintah Sasuke, Sakura pun maju selangkah.

"Lebih mendekat." kau bercanda? Sakura bisa mati berdiri pada jarak sedekat itu.

Tatapan Sasuke intens. Sakura mengalihkan pandangan ke arah lain, tidak tahan menatap onyx itu. Jika bisa, Sakura ingin melambaikan tangan ke arah kamera sisi TV yang dipasang pada salah sudut tak jauh dari tempat mereka berdiri.

'Tenang..., Tenang Sakura..., tarik nafas..., oh sial! aroma tubuh Sasuke!'

"Sasuke-san-apa-aku-boleh-pergi-sekarang?" Sakura mengucapkan kalimat ini sangat cepat. Cepat sekali tanpa jeda, sudah tidak tahan, tatapan Sasuke sangat mengintimidasi.

Sasuke pun membungkukkan badan, wajahnya setara dengan wajah Sakura dalam jarak duapuluh centi. Sakura tidak berani sedikitpun menatap wajah Sasuke, emerald-nya bersembunyi di balik kelopak matanya yang mengadah kebawah.

Satu detik...

Dua detik...

Tiga detik...

Gadis itu langsung berlari menyelamatkan jantungnya. Tidak! Tidak kuat! Sakura menyerah..., ia berlari dan berhenti di dekat tong sampah sambil memegang dada, jantungnya bergemuruh hebat seperti gendang festival akhir tahun. Shannaro!

"Kau kenapa?" Naruto kebetulan melintas, heran melihat Sakura yang ngos-ngosan seperti dikejar anjing pitbull. Sakura langsung menyaut air mineral Naruto, ia meneguk habis isinya tanpa ampun. Naruto hanya menautkan alisnya.

"Cukup Omong kosong ini!" Sakura meremas botol air mineral dan menghujamnya ke dalam tong sampah, gadis itu pergi meninggalkan Naruto begitu saja seakan Naruto adalah mesin pengantar air mineral.

Entah siapa nenek moyang Sakura... semangat gadis ini sungguh pantang menyerah, ia kembali mengejar Sasuke. Sakura memperkirakan kemana arah perginya pria itu dari tempat uji nyali sebelumnya. Kanan atau kiri? kalau kanan searah dengan jalur evakuasi jantungnya tadi, kalau kiri..., ok kiri. Sakura berlari ke koridor kiri dan bertemu pertigaan, Holly Shit! Kenapa studio ini begitu besar dan berkelok-kelok?!

"Permisi nona. Uhuk..uhuk...uhuk..." seorang clening service meminta Sakura untuk menyingkir dari tengah koridor, ia membawa tong sampah sangat besar, menggeretnya dengan penggerek barang.

"Tunggu!" Sakura menghalangi jalan clening service berwajah seperti pecandu itu. Diperhatikan... matanya setengah mengantuk seperti usai menghisap satu gram kokain, pria itu terus batuk-batuk, tatapannya seperti sedang fly, dan... Hei! kenapa jadi membahas clening service itu? tidak penting, masa bodoh dia pecandu atau tidak, saat ini tujuanmu adalah Sasuke!

"Apa kau melihat seorang pria? kira-kira tingginya 180, rambutnya pendek seleher sedikit mencuat , dan..., tampan..., berjalan di koridor ini?" akhirnya Sakura mengakui secara lisan bahwa Sasuke itu tampan.

"Maksudmu Sasuke-san?" seharusnya Sakura tidak perlu repot-repot mendeskripsikan sosok Sasuke.

"Iya Sasuke-san. Tunggu, kau mengenalnya?"

"Tentu saja, hanya orang bodoh yang tidak mengenal Sasuke-san." kau dengar itu Sakura?

"Lalu kemana Sasuke-san pergi?"

"Dia pergi ke sana" clening service itu menunjuk arah ruang meeting dan di saat bersamaan Sasuke keluar dari sana. Shannaro! Sakura langsung bersembunyi di balik tong sampah, mengisyaratkan clening service untuk tidak beranjak sampai Sasuke menghilang dari koridor. Beberapa saat kemudian Sakura berdiri setelah sosok Sasuke menjauh. Sakura ingin bertanya pada clening service tentang siapa identitas Sasuke tapi ia tidak mau dibilang bodoh. Sakura akan memastikannya sendiri.

"Apa isi di dalamnya?" Sakura menunjuk tong sampah dan clening service itu punya firasat tidak baik.

"Ya..., isinya kosong..., uhuk... Uhuk.., tapi aku tidak akan membiarkanmu masuk kedalam."

"Oh ayolah! siapa namamu?"

"Hayate."

"Ok Hayate-san, untuk hari ini saja kau berbuat amal." Sakura membuka penutup tong sampah dan belum ada dua detik ia langsung menutupnya kembali.

"Sudah kubilang kan..." ucap Hayate dengan wajah datar.

"Baiklah, mungkin dengan cara lain saja. Ikuti Sasuke-san."

"Apa kau seorang stalker?" Hayate menatap Sakura curiga walau tatapannya masih seperti orang pecandu.

"Bukan, aku seorang ditective. Cepat jalan." dan Hayate pun jalan menggeret tong sampahnya, diikuti dengan Sakura yang mengendap-endap di balik tong sampah Hayate.

"Jadi..., apakah Saskuke-san terlibat kasus pembunuhan atau penculikan?" tanya Hayate, mereka mengikuti Sasuke duapuluh meter di belakang.

"Tidak. Dia terlibat dalam kasus ekspansi terhadap seseorang." jawab Sakura. Hayate menyerngitkan dahi tidak mengerti. Mungkin yang dimaksud ekspansi Sakura adalah penjajahan Sasuke terhadap dirinya. Hatinya.

Hayate menghentikan langkah saat sosok pria yang baru saja menguji ketangkasan jantung dan mental Sakura itu berjalan masuk ke dalam suatu ruangan.

"Ok Hayate-san. Aku berhutang satu cappucino padamu." Sakura muncul di balik tong sampah.

"Maksudmu cappucino di kafetaria? bahkan aku bisa mengambil sepuluh cappucino dari sana tanpa membayar." protes Hayate. Sakura hanya menampakkan deretan giginya.

"Ok. Misi selesai. Kau harus melanjutkan tugasmu Hayate-san.." Sakura mengisyaratkan Hayate untuk pergi. Kau pikir siapa yang mengganggu tugas cleaning servis itu huh...

"Apa yang akan kau lakukan?" Hayate jadi penasaran. "Hei! kau bukan seorang ditective..." ia baru menyadari ID Card yang tergantung di leher Sakura. Maklum saja..

"Kubilang aku sedang menyamar..." elak Sakura.

"Terserah kau saja." Hayate menyeret tong sampahnya pergi sambil membatin 'membuang-buang waktuku saja...'

"Hei Hayate-san.." panggil Sakura dan Hayate menoleh ke belakang. "Sebaiknya kau beristirahat. Kau terlihat tidak sehat." pesan gadis itu. Hayate menatap datar Sakura dua detik lalu pergi tanpa mengatakan apapun.

.

.

'kenapa ruangan ini tidak ada board keterangannya?'

Sakura berdiri di depan pintu sebuah ruangan, di sampingnya terdapat patung Gamakichi yang berdiri tampan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Posenya itu mirip dengan Sasuke dan Sakura yang melirik patung itu mulai illfeel pada Gamakichi.

Tidak ada board keterangan atau apapun yang dapat menunjukkan ruang apa yang baru saja dimasuki oleh Sasuke. Sakura berdiri seperti orang bodong di depan pintu itu sampai seseorang muncul dan mendekatinya.

"Sakura."

Gadis itu meloncat kaget saat Kakashi entah darimana sudah berdiri tepat di belakangnya.

"Kakashi-san..." Sakura mengelus dada.

"Sedang apa kau disini?" Kakashi tersenyum di balik maskernya. Sakura heran kenapa pria itu selalu memakai masker.

"A-aku sedang lewat saja..." gadis itu menggaruk belakang kepala sambil tersenyum canggung. "Ah.. bukankah seharusnya anda berbulan madu Kakashi-san?"

"Ya, mungkin tidak untuk waktu dekat ini, Yukie sedang ada syuting layar lebar."

"Aa.., ya... puteri Fuun harus menumpas kejahatan." timpal Sakura.

"Hahaha... begitulah..." kekeh Kakashi. Pahit rasanya kan?

"Em.., ok aku harus pergi sekarang." Sakura pun pamit sebelum obrolan menjadi panjang. Apalagi jika Sasuke keluar dari ruangan itu, tamatlah...

"Kukira kau akan menemui Sasuke." Kakashi menyeringai. Sialan, Gawat!

"A-aku..., ya tadi aku..., aku hanya kebetulan lewat sini. Hihi..."

"Maksudmu mengendap-ngendap di balik tong sampah?" Shannaro! Kakashi melihatnya!

Sakura pun lelah berbasa-basi lagi. Takut bertanya sesat di jalan. "Sebenarnya aku hanya ingin tahu siapa yang menempati ruangan ini?"

"Oh..., Sasuke yang menempatinya." jawab Kakashi, ayolah, Sakura juga tahu itu ruangan Sasuke. Pria itu tadi masuk ke dalam sini..

"Maksudku Kakashi-san. Sasuke itu..., maksudku ini ruangan siapa?" Sakura bingung mengutarakan "Ok, aku di ruang background artist, kau di ruang manager unit 2D, lalu Sasuke?"

"Bagaimana jika kita masuk saja?" ajakan Kakashi adalah ide yang gila.

.

.

"Tidak-tidak-tidak.. Kakashi-san... mungkin aku akan kembali sekarang... lupakan pertanyaanku tadi..." Sakura berusaha mengelak namun Kakashi menahannya, pria itu menggiring Sakura masuk ke dalam ruang kerja Sasuke.

"Sudah kubilang Kakashi-san, aku harus..." serontak Sakura terdiam saat menangkap sosok Sasuke tengah duduk di meja kerja dan..., memasang wajah datar.

"Sasuke kita kedatangan tamu." ucap Kakashi. Sakura bersumpah Kakashi sama menyebalkannya seperti Obito. Ralat, mungkin sedikit menyebalkan. Karena pria perak itu, Sakura dapat masuk ke dalam ruang kerja Sasuke, membuat kerja jantung Sakura tidak terkendali lagi.

"Aa..." Sasuke bersandar pada kursi kerjanya, menatap Sakura yang berdiri tegak seperti peserta upacara. "Kukira kau kembali ke ruanganmu. Kau melanjutkannya?" Sasuke berdiri lalu duduk di sudut meja kerja. Sakura mengedarkan pandangan ke penjuru ruangan yang elegan itu. Ada TV, kulkas, satu set sofa, apa? jangan bilang itu satu piring kue pai dan buah-buahan!

"Ku-kukira kau artist 2D Sasuke-san. Selama ini kau..." Sakura menggantungkan kalimatnya sementara Kakashi menulusuri situasinya dengan tenang.

"Selama ini aku apa?" tanya Sasuke.

"Selama ini kau bukan artist 2D." Sakura menatap onyx itu lagi. Cuma dua detik, karena ia langsung mengalihkan pandangannya ke piring pai.

"Kau mau kue pai?" tanya Kakashi.

"Tidak. Aku ingin tahu siapa dia sebenarnya."

CEKLEK

Pintu terbuka. Seseorang masuk ke dalam ruangan Sasuke, serempak pandangan mereka tertuju ke arah Ayame, wanita cantik itu berpenampilan santai, mengenakan celana jeans dipadu kemeja putih, ia tersenyum, datang bersama seorang wanita setengah baya.

"Kakashi-san..." ia tersenyum sambil menjabat tangan Kakashi, begitu juga wanita paruh baya yang datang bersamanya, mungkin wanita itu adalah manager Ayame.

"Sasuke..." Ayame berjalan mendekati Sasuke setelah mengangguk dan tersenyum pada Sakura.

"Hei.." Sasuke berdiri dan mereka berpelukan. Sakura hanya diam di tempat saat melihat adegan singkat itu, tidak tau harus berekspresi bagaimana saat timbul rasa aneh yang...

'Tidak. Aku baik-baik saja.'

"Aku menghubungimu kemarin. Tapi sepertinya kau sedang sibuk." ucap Ayame saat Sasuke menjabat tangan managernya.

"Aa, aku ada acara." Sasuke melirik ke arah Sakura.

"Emm.., permisi Kakashi-san. Aku harus kembali ke ruanganku." bisik Sakura, Kakashi pun mengangguk.

"Permisi.." Sakura mengangguk pada semua orang dan keluar dari ruangan. Blam! Ia berdiri sejenak di depan pintu seperti orang ling-lung. Pandangan gadis itu kosong ke depan, tidak mengerti apa yang ia rasakan saat ini.

"Hei... tunggu." Sakura menghentikan seorang pegawai yang melintas.

"Ya?" pegawai itu menoleh.

"Aku ingin bertanya sesuatu." Sakura mendekati pria berkacamata itu. "Apa kau tau ini ruangan siapa?" Sakura menunjuk ruangan Sasuke.

"Itu ruangan Sasuke-san."

"Iya, aku tau itu ruangannya. Maksudku Sasuke-san menjabat apa di studio ini?"

Pria itu menatap Sakura seakan mengatakan 'kau pasti bercanda'. Sakura tidak perduli. Sudah cukup main-mainnya.

"Sasuke-san, dia produser di studio ini."

"Kau pasti bercanda..."

Pikiran Sakura berkutat saat ia berjalan menuju gedung unit 2D. Ya, Sakura sedikit tidak percaya setelah mengetahui identidas Sasuke sebenarnya, maksudnya... seorang pria dengan umur tergolong masih muda menjabat sebagai produser? memang siapa saja bisa menjadi seorang produser tapi Sasuke adalah produser studio animasi terbesar di Jepang. Dengan umur semuda itu? lalu kenapa? Sasori bahkan menjadi astronot di umur 24 tahun. Seorang produser muda bisa saja terjadi.

Ok, Sakura menerima kenyataan itu. Lalu siapa Ayame? kekasih? calon tunangan? teman dekat? tidak..tidak..., Sakura tidak mau memasuki wilayah aneh sebuah romansa. Menebak-nebak, menyimpulkan, dan merana? tidak... cukup...

'Aku tidak perduli.'

Sakura mempercepat langkahnya menelusuri teras gedung satu.

'Aku baik-baik saja...''

Ia semakin mempercepat langkahnya.

'Aku sedang tidak jatuh cinta...'

Langkah gadis itu semakin cepat.

'Tuhan jangan buat aku jatuh cinta...'

Sakura pun berlari.

'Aku belum siap jatuh cinta.'