Don't like, don't read, u can click "back" icon if u don't like this fanfic

Disclaimer:

Naruto © Masashi Kishimoto

Warning!

Sekali lagi saya ingatkan kalau tokoh dalam fic ini OOC sangat.

Apapun pairingnya yang penting jalan ceritanya :P

She is Mine © YoruChan Kuchiki

Sai memangku sebelah tangannya sambil memandangi bias air di jendela kelas. Sudah dua hari ini, hujan turun dengan derasnya setiap pagi sehingga membuat siswa-siswa harus menggunakan payung untuk mencapai sekolah. Lingkaran bewarna-warni terlihat begitu jelas dari jendela lantai dua sedang memadati gerbang masuk sekolah. Menandakan walaupun hujan turun dengan lebat, tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk tetap pergi ke sekolah.

Sai masih terpaku di tempatnya, masih dengan pandangannya yang menerawang jauh. Entah apa yang sedang ia pikirkan. Pemuda berkulit pucat itu kemudian menghela napas panjang. Atensinya teralihkan ketika terdengar suara gesekan pintu bersamaan dengan suara gadis yang begitu familiar di telinganya. Tanpa ia sadari sebuah lengkungan tipis tercipta dari wajah Sai begitu gadis bersurai merah muda itu masuk ke kelas.

"Pagi, Sai!" Sakura melambaikan tangannya ketika ia sudah berada di depan meja Sai.

Sai menganggukkan kepalanya, "Pagi juga, Sakura!"

Ada yang sedikit berbeda dari wajah Sakura pagi ini. Tampak lebih pucat dan—

"HATCIIIM!" Sai terlonjak kaget ketika Sakura tiba-tiba bersin di hadapannya. Raut wajahnya berubah semakin cemas. Ia sudah menduga kalau gadis itu tidak sedang dalam kondisi yang baik-baik saja.

Refleks, Sai langsung menghampiri Sakura dan merangkul sebelah pundaknya. "Kau tidak apa-apa, Sakura? Wajahmu tampak pucat."

Sakura mengelap hidungnya yang sedikit basah kemudian memberikan cengiran lima jari kepada Sai. "Tidak apa-apa, aku hanya pilek biasa saja kok,"

Sakura bohong. Sai tahu itu. Ia sudah menyukai Sakura sejak setahun belakangan ini. Mudah bagi Sai untuk menerka gerak-gerik Sakura yang terlihat tidak seperti biasanya. Sebelah tangan Sai hampir saja naik untuk menyentuh wajah Sakura kalau saja tangan gadis itu tidak ditarik paksa oleh sesorang dari belakang. Kedua alis Sai langsung berkerut, begitu juga dengan orang itu yang langsung memberikan tatapan tajam kepada Sai.

Dia. Ya, Sasuke Uchiha. Pemuda bermata onyx yang sudah resmi menjadi tunangan Sakura Hatake. Tentu saja hal ini membuat Sasuke menempati posisi sebagai saingan utama Sai.

Sasuke kemudian menarik Sakura melewati Sai tanpa sedikitpun menoleh kepadanya. Hanya suara gerutuan-gerutuan Sakura yang terdengar melewati Sai.

"Diamlah, Sakura. Sebentar lagi guru akan masuk, kau harus kembali ke tempat dudukmu."

Cih! Sai tahu itu hanya alasan Sasuke untuk menjauhkan Sakura darinya. Pemuda itu cemburu? Mungkin saja. Mereka memang dijodohkan oleh kedua orang tua mereka. Tapi tidak bisa dipungkiri kalau nantinya akan ada benih - benih cinta di antara mereka. Kebersamaan yang hampir setiap hari mereka lalui tentu akan menimbulkan kesan tersendiri untuk mereka.

Sai begitu membenci Sasuke. Pemuda itu dengan mudah dapat masuk ke dalam kehidupan Sakura bahkan telah merebut hati gadis itu. Padahal selama ini, Sai duluanlah yang mengenal Sakura. Sai yang pertama kali memendam rasa kepada gadis itu.

Ada sedikit penyesalan. Dulu, kenapa Sai tidak mau jujur terhadap perasaannya sendiri? Seandainya, Sai punya keberanian lebih untuk mengatakan perasaan yang sesungguhnya kepada gadis itu. Mungkin Sai yang akan memenangkan hati Sakura. Bukan Sasuke Uchiha.

Sai terus memandangi Sakura dan Sasuke yang berjalan semakin menjauh darinya. Ada perasaan cemburu, kesal dan marah yang bercampur menjadi satu. Ya, kejadian pagi ini sudah cukup membuat mood-nya kembali berantakan dan jatuh ke level terendah.

Pemuda itu kembali duduk di bangkunya—kembali memandangi bias air hujan sambil mencoba menetralisir perasaannya. Tangannya mengepal kuat. Ia masih tidak bisa terima. Otaknya sudah tidak lagi bisa berpikir jernih seperti biasa. Apapun akan ia lakukan—demi mendapatkan Sakura Hatake.

oOo

Sasuke memang merupakan tipikal pemuda yang cuek. Tapi bukan berarti ia tidak peka terhadap keadaan sekitarnya. Apalagi terhadap lelaki yang sudah ia nobatkan menjadi pengganggu paling berbahaya dalam hubungannya dengan Sakura.

Sai Himura. Sejak awal, Sasuke tahu betul kalau pemuda itu juga menyukai Sakura. Sasuke muak melihat Sai yang tanpa ragu - ragu selalu mendekati Sakura dengan tampang sok polos dan tanpa berdosa. Sasuke bisa menangkap kalau Sai memiliki karakter yang licik dan berhati - hati di setiap tindakannya.

Seperti tadi, kalau saja Sasuke datang teralmbat satu detik saja. Entah apa lagi yang akan dilakukan Sai setelah menyentuh wajah Sakura. Parahnya lagi, gadis bodoh yang menjadi pujaan hati mereka selalu tidak pernah peka terhadap situasi dan keadaan yang ada. Membuat Sasuke harus bekerja lebih ekstra lagi untuk menjauhkannya dari jangkauan Sai.

"Kau menggangguku, Sasuke! Bel masuk belum berbunyi, mana mungkin ada guru yang datang!" Sejak tadi Sakura terus mengomeli Sasuke yang dianggapnya mengganggu kesenangannya.

Sasuke sama sekali tidak mengindahkan kicauan-kicauan manis dari Sakura. Ia justru menyibukkan dirinya dengan hal lain yang tentu saja membuat Sakura semakin sebal.

Sakura menggembungkan pipinya—kesal. "Kau mendengarkanku atau tidak sih, Sasuke?"

Sasuke menghentikan gerakan jemarinya yang tengah membuka halaman buku pelajaran. Sebenarnya ia sendiri juga malas untuk membaca buku tersebut. Tapi dia lebih malas lagi kalau harus mendengar suara nyaring Sakura yang tidak kunjung berhenti.

"Diamlah sedikit, Sakura." Sasuke menatap Sakura sebentar kemudian kembali mengalihkan perhatiannya ke buku yang ia baca.

Sakura melipat kedua tangannya. Emosinya sudah agak turun kali ini. "Aku tidak mengerti dengan sikapmu." Ia kemudian memalingkan wajahnya.

Sasuke menghela napas panjang kemudian memutuskan untuk menutup bukunya. Gadis bodoh itu memang tidak akan mengerti bagaimana kacau dan takutnya perasaan Sasuke saat ini.

Sasuke memang seharusnya tidak perlu takut. Baginya Sai bukanlah apa-apa dan tidak bisa dibandingkan dengan dirinya. Satu-satunya yang membuat pemuda itu menjadi takut sekarang adalah Sakura. Gadis itu terlalu bebas. Sasuke takut kalau ia menggenggamnya terlalu erat suatu saat Sakura akan terlepas. Pergi dari genggamannya.

"Jangan dekat-dekat dengan Sai."

Kalimat itu meluncur bebas dari bibir Sasuke. Seperti dugaan Sasuke, ekspresi Sakura bahkan lebih kaget dari yang ia bayangkan.

"Maksudmu?" Dahi gadis itu berkerut, menuntut jawaban dari pernyataan Sasuke tadi.

Sasuke menghela napas panjang. Kebodohan Sakura sepertinya sudah mencapai batas maksimal. "Aku ini tunanganmu. Wajar saja kalau aku menyuruhmu untuk menjauh dari lelaki lain."

Sakura masih terbengong di tempat. Tapi sejurus kemudian kerlingan mata nakal dan senyuman jahil terpancar jelas dari wajahnya. "Katakan saja kalau kau cemburu pada Sai, Sasuke."

Pemuda itu memalingkan wajahnya. Menahan rasa malu yang mulai menjalar. "Bodoh!" umpatnya pelan.

Setidaknya Sakura tahu apa itu cemburu dan bagaimana rasanya semenjak kedatangan Karin pertama kali ke Jepang seminggu yang lalu. Walaupun Sasuke tidak yakin kalau Sakura benar-benar paham. Namun paling tidak, Sakura akan lebih menggunakan insting liarnya.

"Kau tenang saja. Aku dan dia sudah sejak lama berteman. Jadi tidak akan mungkin terjadi sesuatu yang macam-macam." Sakura menepuk sebelah pundak Sasuke lengkap dengan cengiran khasnya.

Sasuke menatap gadis itu pasrah. Helaan napas kembali meluncur dari bibirnya. Pemuda itu tahu—sangat tahu. Justru Sakura yang seperti inilah yang semakin perlu dikhawatirkan.

oOo

Sakura membuka kunci lokernya untuk mengambil beberapa barang ia letakkan di dalamnya tadi pagi. Suasana sekolah benar - benar sepi saat itu. Sasuke yang tiba-tiba menghilang dan ketiga kakaknya yang mendadak memiliki urusan lain membuatnya harus sendirian sekarang. Setelah kotak lokernya kosong, ia kembali menutup dan mengunci loker tersebut. Sakura berjalan keluar pintu masuk sekolah. Kakinya berhenti tepat di depan pintu masuk. Emerald-nya menatap pemandangan di depannya yang masih penuh dengan tetesan-tetesan air yang jatuh. Hujan masih turun dengan lebatnya sejak tadi.

Sakura menghela napas panjang. Juugo juga belum kunjung datang sehingga membuat gadis itu sepertinya harus menunggu lebih lama lagi. Sayangnya, Sakura tidak membawa payung sehingga mau tak mau ia harus tetap menunggu jemputannya.

"Mau kuantar pulang?" Suara baritone di belakang membuat Sakura menoleh.

Gadis itu menelengkan kepalanya. "Sai?"

Pemuda itu hanya membalas dengan senyuman tipis kemudian berdiri di samping Sakura. "Menunggu jemputan?"

"Ah, i—iya." Sakura sedikit kikuk akibat teringat dengan ucapan Sasuke tadi pagi. Sekarang Sai ada di dekatnya dan ia sendiri bingung harus melakukan apa agar menjauh dari pemuda itu.

Sakura menggaruk belakang kepalanya. Berharap Juugo segera datang atau hujan tiba-tiba reda. Karena dengan begitu, ia bisa pergi dari Sai.

Bola mata kelam Sai beralih kepada langit hitam yang tak kunjung berganti sejak pagi. "Hujan nampaknya masih belum mau reda," ujarnya kemudian.

Sakura ikut menengadah—memandangi bulir-bulir air yang terus turun tanpa henti. "Sepertinya begitu."

"Mau pulang bersamaku? Jemputanmu juga sepertinya masih lama datang." Sai menyodorkan payung berwarna biru tua yang ia tenteng.

Sakura menoleh, sedetik kemudian ia menggeleng - gelengkan kepalanya ke kiri dan kanan. "Ah, tidak perlu, Sai. Aku menunggu Juugo saja." Sakura mencoba menolak sehalus mungkin.

Ada terbesit raut kekecewaan dari Sai walaupun Sai sebenarnya sudah tahu pasti dengan jawaban yang akan diberikan Sakura. "Kalau begitu aku akan disini menemani Sakura." Sai memasang senyuman khasnya.

"Aku tidak apa sendirian disini, Sai. Lagipula sebentra lagi Juugo pasti akan datang." Sai bisa menebak kalau setelah ini Sakura juga akan menolak dan menyuruhnya untuk pulang duluan. Tapi Sai tidak akan menyerah. Seberapa keras Sakura menolak, Sai tidak akan peduli. Sudah lama ia tidak berada di samping gadis ini. Egois memang. Tapi boleh 'kan?

"Aku juga tidak keberatan menemanimu disini. Boleh 'kan?" Agak memaksa memang. Tapi dengan begitu, mungkin setelah ini Sakura tidak lagi menolak.

Sakura membalas tatapan Sai. Pemuda itu masih menyunggingkan senyumnya seakan ia tahu kalau Sakura tidak bisa menolak permintaannya. Sakura memicingkan mata, walaupun Sasuke sudah melarangnya untuk dekat dengan Sai. Tapi dengan kondisi seprti ini rasanya mustahil. Terlebih lagi kali ini Sai benar – benar jadi pemaksa—tidak seperti biasanya. Hanya dengan satu anggukan dari Sakura, senyum di wajah putih Sai semakin lebar.

Hening merayap, yang terdengar hanya suara gemericik air yang terus jatuh ke permukaan tanah. Sakura sedikit kikuk dengan situasi seperti ini. Seolah ia dan Sai belum pernah kenal satu sama lain.

"Sudah lama ya?" Sai mengeluarkan suaranya untuk memulai pembicaraan. "Rasanya sudah lama sekali, aku tidak pernah bicara berdua lagi dengan Sakura."

Gadis beriris klorofil itu terkikik pelan kemudian bergumam, "Maaf."

Sai lantas menoleh, alisnya sedikit mengkerut, "Untuk apa?"

"Untuk yang kau katakan tadi." Sakura menatap pemuda itu, memberikan cengiran khasnya serta memajukan sebelah tangannya yang jemarinya sudah membentuk tanda "peace".

Sai ikut terkekeh, "Sakura tidak perlu minta maaf. Lagipula aku mengerti dengan statusmu yang sudah mempunyai tunangan." Ia kemudian menggedikkan bahunya, "Kalau aku yang berada di posisi Sasuke pun, aku tidak akan membiarkan gadis yang kusukai dekat – dekat dengan lelaki lain."

Sakura menelengkan kepalanya. Barusan apa yang Sai bicarakan? Kenapa dia tiba – tiba mengatakan hal seperti itu? Sakura tidak mengerti maksud ucapan Sai. "Apa maksudmu, Sai?"

Sai menoleh, tatapannya lurus dan berubah serius ke arah Sakura. Bayangan Sakura telah mengisi penuh kedua onyx hitamnya. Pemuda itu mendekatkan diri—lebih dekat lagi ke arah Sakura kemudian menggenggam tangan gadis bersurai merah muda itu.

"Aku menyukaimu, Sakura. Sejak dulu hingga sekarang aku selalu menyukaimu."

Penuturan Sai yang begitu mendadak membuat Sakura terkejut bukan main. Gadis itu berusaha untuk melepas genggaman tangan Sai namun gagal. Sai menggenggam tangannya terlalu kuat—sangat kuat.

Detik selanjutnya, Sakura merasakan sesuatu yang basah dan lembut sudah menempel di bibirnya. Dengan kekuatan penuh, Sakura mendorong tubuh Sai. Berusaha menjauhkan pemuda itu dari jangkauannya. Ia kemudian mengusap kasar bibirnya. Iris emerald itu berubah menatap Sai nanar. Apa yang dilakukan pemuda itu? Bagaimana bisa Sai berani melakukannya?

"Apa yang kau laku—"

Tapi kali ini emerald itu semakin membulat ketika yang ia tangkap adalah sosok Sasuke yang menyaksikan mereka berdua. Wajah pemuda itu memerah akibat menahan luapan emosi yang hampir membuncah.

"S—sasuke..." Bahkan bibir Sakura terasa berat untuk sekedar memanggil nama tunangannya.

"Sasuke, tunggu!" Gadis itu berhasil menahan tangan Sasuke agar pemuda itu urung melangkah lebih jauh meninggalkannya.

"Lepaskan!"

Sakura terkejut bukan main ketika Sasuke dengan kasar menepis tangannya. Telapak tangannya terasa sakit tapi tidak sebanding dengan rasa sakit yang bersamaan ia rasakan di hatinya.

"Ini tidak seperti yang kau kira, Sasuke. Kau harus mendengarkan penjelasanaku!"

"Kau menyukainya 'kan?"

Satu kalimat yang membuat Sakura tersentak. Tidak percaya kalau pernyataan yang lebih terdengar seperti sindiran itu keluar langsung dari bibir pemuda itu. Pemuda yang sudah berhasil membobol pertahanan hatinya dan masuk mengisi kekosongan itu.

"Sasuke kau—"

"Dari awal kau memang menyukainya juga 'kan?"

"Sasuke!"

"Terima saja. Lagipula dari awal pertunangan kita adalah hasil dari keegoisan orang tua kita yang asal menjodohkan. Kalau berakhir pun tidak akan ma—"

PLAAAAKK

Satu tamparan keras mendarat dengan mulus di wajah Sasuke. Pemuda berambut raven itu terpaku di tempat. Terkejut—tidak menyangka kalau Sakura akan memberikan tamparan di wajahnya. Namun yang membuat Sasuke lebih terkejut lagi adalah air mata yang mengalir dari sepasang klorofil indah tersebut.

"Saku—"

"Aku tidak menyangka kalau pikiranmu sedangkal itu. Kau bahkan sama sekali tidak percaya padaku."

Sasuke bungkam, pemuda itu kehabisan kata – kata. Ia tidak bermaksud untuk melukai perasaan gadis itu. Salahnya yang tidak mau mendengarkan penjelasan Sakura terlebih dahulu dan malah mengatakan hal yang tidak sepantasnya.

"Kalau aku tidak menyukaimu, kalau aku tidak jatuh cinta padamu, aku tidak akan bertahan pada ikatan ini!"

Mendengar pengakuan Sakura barusan membuat Sasuke terpekur. Suka? Cinta? Jadi selama ini, Sakura juga menyukainya? Sakura juga membalas perasaannya?

Sakura menghapus jejak air mata di wajahnya. Gadis itu menghela napas panjang. "Aku kecewa padamu."

Tidak ada satu pun kata yang bisa keluar dari bibir Sasuke. Mulutnya hanya bisa bergerak kosong tanpa bisa mengucapkan sepatah kata pun. Rasa sesal menyergah ke hatinya. Seharusnya ia memberikan kesempatan pada Sakura untuk menjelaskan terlebih dahulu tadi. Seharusnya ia percaya pada gadis itu. Seharusnya emosinya tidak langsung tersulut tadi.

"SASUKE BODOOOH!"

"SAKURAAAA!"

Gadis itu berlari meninggalkan Sasuke juga Sai yang sejak tadi masih berdiri di tempatnya. Menerabas derasmya hujan yang masih mengguyur Konoha saat itu. Langkah Sasuke terhenti, kakinya serasa kaku untuk mengejar gadis itu. Ditambah lagi ketika Sai berbalik menatapnya dengan tatapan benci dan tidak suka. Tanpa pikir panjang, Sai langsung mengejar Sakura dan meninggalkan Sasuke yang masih bergeming.

Sasuke tidak bisa mengejar tunangannya. Ini semua kesalahannya. Ia telah mencampakkan Sakura—melukai hati gadis itu. Tidak sepantasnya kalau sekarang ia yang meminta gadis itu untuk kembali. Sasuke menggeram kesal, buku – buku kukunya kini memutih, rahangnya pun mengeras.

"Sialan!"

oOo

Hujan yang turun makin deras tidak menghentikan langkah Sai untuk mengejar Sakura. Jalanan yang becek membuat ujung celana dan baju Sai kotor akibat cipratan sepatu dengan tanah akibat berlari mengejar gadis di depannya. Berkali – kali dipanggil pun, Sakura tidak mengindahkan dan terus berlari tanpa menoleh ke belakang. Sai mengangkat sebelah lengannya untuk menghalang hujan yang jatuh membasahi kepala dan wajahnya. Langkah Sai memelan ketika Sakura akhirnya berhenti namun sedetik kemudian secepat kilat Sai langsung memacu lagi langkahnya agar tidak kehilangan Sakura.

"Sakura?" Sai nampak cemas melihat wajah Sakura yang sedikit pucat. Mukanya basah, entah akibat air hujan atau air mata yang juga membanjirinya.

Sai membuka payung biru dongkernya kemudian menyodorkannya tepat di atas kepala Sakura sehingga menghalau hujan mengenai gadis itu. "Aku antar kau pulang ya?"

Ada sedikit perasaan bersalah yang menghinggapi Sai. Secara tidak langsung Sai juga ikut menyakiti Sakura. Tapi egonya yang besar menghapus sekejap semua perasaan itu. Meninggalkan perasaan bahwa ia telah memenangkan gadis itu. Bahwa ia memiliki kesempatan besar untuk masuk ke dalam relung gadis itu lebih dalam lagi.

"Aku menyukainya."

Satu ucapan itu membuat semua pergerakan Sai terhenti.

Sakura mendongak kemudian menatap Sai. "Aku jatuh cinta pada Sasuke, Sai." Air matany kembali mengalir.

"Kau tahu, kalau aku tidak akan mungkin menerimamu."

Sakura benar, gadis itu sudah memiliki Sasuke. Seharusnya Sai tidak memaksakan perasaannya kepada gadis itu. Seharusnya Sai bisa belajar untuk melepaskan gadis itu dan membiarkannya bahagia. Bukan malah membuatnya semakin terluka seperti ini.

"Sakura," Sai kembali dihantui perasaan bersalah. Tidak seharusnya ia melakukan ini. Tidak seharusnya ia bahagia dengan cara seperti ini. Sai merasa menjadi lelaki terlicik dengan caranya.

"Kau seharusnya bisa mengerti, Sai."

Suara Sakura semakin tedengar lirih. Menandakan betapa perih dan terlukanya gadis itu. "Maafkan aku, Sakura..." Sai memegang sebelah tangan Sakura. "Kita pulang, ya. Kau bisa sakit kalau terus – terusan terkena hujan." Sai mencoba membujuk gadia itu.

Tidak ada jawaban dari Sakura. Gadis itu malah memegangi kepalanya. Kepalanya mendadak terasa begitu berat dan sakit. Hingga akhirnya pandangannya mengabur dan kakinya sudah tidak sanggup lagi untuk menopang berat tubuhnya.

Sai terkejut bukan main. Dengan sigap pemuda itu langsung menangkap tubuh Sakura yang limbung. Yang terakhir kali Sakura dengar adalah teriakan kencang Sai memanggil namanya dengan penuh kecemasan. Sampai akhirnya semua menghitam dan tak ada lagi yang dapat Sakura rasakan.

~TBC~

Author's Note :

Maaf untuk keterlambatan update. Maaf mungkin fict - fict ini terlihat terbengkalai. Maaf untuk semuanya juga terima kasih : )