.
.
Taiyou no Uta
(A Song to the Sun)
.
.
Disclaimer : The characters inside are belongs to God and themselves.
Warning : Chaptered, Boys Love, gajeness, OOC, typos, etc, KyuMin!
Music: INNOCENCE – Aoi Eir
Ke Xi Bu Shi Ni [Unfortunately It's Not You] – Cover by Super Junior's Sungmin
.
"The first time my shaking hand was touched by you, I finally realized the warmth of a gentle feeling."
"Laughing, crying, meeting you. The continuing future was shining beneath the sun where sunflowers sway. I remain my self and sing of tomorrow."
"Now, our love just become memories for us. Like your song, that became a song to the sun."
.
Kiseki dake o motome, kienai yami o samayou
[Kurasa kegelapan yang tak kan pernah menghilang, hanya mencari sebuah keajaiban]
Koko ni ireba nidoto, mirai miru koto dekinai
[Saat kau berada di sini, kau tak kan pernah lagi melihat masa depan]
.
.
"Kyuhyunnie benar, maksudku bukan begitu Sungmin-ah, kau sama sekali tidak merepotkan. Kita hanya sedang mencari konsep yang lebih bagus, tapi tidak perlu merugikan siapa pun. Lalu, apa kau punya ide?" sang manager menjawab sabar, tampak bijak saat menghadapi temperamen labil dongsaeng barunya ini.
"Eung.. dikepalaku, hanya ada.. Lilin."
Lima orang lain di ruangan itu mengerjap. "Lilin?" Heechul yang pertama buka suara untuk ini. "Memang apa yang bisa dilakukan dengan 'lilin' jika kita akan mengadakan konser di panggung besar penuh lampu?" tambahnya tak paham.
Sungmin ―si pencetus ide, hanya tertawa saat ocehan sarkastis Heechul menyapa telinganya. "Aku sering menggunakan lilin saat melakukan street concert di Tokyo dulu, hyungnim. Dan hingga sekarang, aku selalu suka jika saat menyanyi dikelilingi oleh lilin, seolah.. ada matahari yang tengah terbit saat itu." Dia tertawa ringan, walau yang lain masih menatap tak paham. "Tapi itu hanya sebatas argument, aku tahu konsep yang seperti itu tidak akan cocok dipakai untuk konser besar." Tambahnya ringan.
Heechul tampak menimbang saat mendengar ini, begitu pun mereka yang lain. Hening mulai melingkupi, menjadikan senja dan kilau matahari sore benar – benar habis dimakan waktu. Ruangan sudah mulai gelap saat akhirnya diskusi yang terpotong kembali berlanjut.
"Menurutku, ide Sungmin tidak buruk hyung. Lilin.. bukankah kita butuh sesuatu yang lain untuk comeback kali ini?" Yesung mulai menyuarakan pendapatnya, menatap dua seniornya dengan kilau mata yang tak pudar. Namja tampan ini tampak mulai menikmati diskusinya. Bersemangat, sekaligus mulai tak sabar saat bayang megah panggung dan sorak penonton akan kembali direngguknya. "Mungkin memang agak sulit menata lilin di panggung besar SMtown, tapi jika kita sedikit lebih bekerja keras, aku rasa penampilan kita akan menjadi 'special' daripada para sunbae."
"Kau benar Jongwoon-ah," angguk Leeteuk setuju. Manager muda itu mulai membuka laptop putih yang sejak tadi tergeletak disampingnya. Mulai mengutak – atik benda tipis itu dan terlihat mengulum senyum puas setelahnya. "Ne.. Lilin. Mungkin akan banyak staff yang mengeluh setelah ini. Dibayanganku pun panggung penuh lilin merupakan sesuatu yang sulit untuk diwujudkan. Meski begitu konser penuh lilin terdengar indah, sekaligus megah dalam kesederhanaan, seperti kalian image kalian."
Dia tersenyum puas. Menatap satu persatu empat pasang mata yang balas menatapnya penuh harap. Tatapan mata yang penuh impian dari mereka yang berani bermimpi. Sekaligus berani merasakan sakitnya 'pengamplasan' guna memperlihatkan seberapa berkilaunya berlian yang ada pada diri masing – masing. "Nah berhubung ide sudah didapat, dan tidak main – main, seperti kata Jongwoon tadi, kita harus benar – benar bekerja keras untuk ini. Apa kalian siap?"
Empat dongsaengnya tentu mengangguk antusias. Terlihat tak gentar dibalik raut lelah yang sejak tadi membayang. "Tentu saja hyung!"
"Bagus!" tanggap Leeteuk tak kalah keras. Raut lembut itu segera beralih pada Heechul yang mendengus kesal, paham jika dia akan menjadi yang sangat direpotkan beberapa waktu kedepan. "Aku benar – benar butuh bantuanmu, Chullie-ya. Kau tenang saja akan ada hadiah special jika kita sukses kali ini, karena kuakui "The Midnight Sun" bukan sesuatu yang bisa kuwujudkan sendiri."
.
.
Gelap, malam, dan hitam.
Lee Sungmin sudah biasa merasakan itu. Terlalu biasa malah, hingga perasaan rindu akan rengkuhan sinar hangat mentari yang selalu didambanya sudah terasa kebas dihati. Rasa itu masih ada memang, tapi Sungmin sudah mendorongnya dalam sisi terdalam hatinya. Menguncinya erat, hingga yang tertinggal hanya senyum pasrah saat lagi – lagi bias keemasan matahari menolaknya. Mengancam untuk merusak setiap inchi dari kulit tipis ditubuh jika dia berani sedikit saja mencoba untuk melepas rindu pada matahari.
Lee Sungmin yang sekarang sudah cukup dewasa, tentu. Sudah bukan lagi Sungmin kecil yang akan menatap sedih pada anak – anak lain yang bisa berlari bebas untuk bermain bola atau bersepeda saat liburan musim panas. Dua puluh satu tahun lebih enam bulan sudah digunakannya untuk membiasakan diri dengan gelap, mencoba akrab dengan si malam yang baik hati dan memilih bermain bersama gitar pink-nya untuk menyenandungkan lagu – lagu pada mentari. Sudah tidak lagi ingin, dia cukup sadar diri jika matahari hangat diluar sana tidak sudi melihatnya. Hanya mengintip dari jendela bergorden tebal guna turut merasakan yang namanya siang.
"Ke xi bu shi ni, pei wo dao zui hou zeng yi qi zou que zou shi na lu kou
gan xie na shi ni, qian guo wo de shou hai neng gan shou na wen rou…"
―Petik gitar akustiknya terhenti saat sepasang lengan besar lain melingkari pundaknya. Dia sedikit mengerjap kaget, terkejut. Tapi langsung mengukir senyum manis begitu wangi khas si pelaku pemelukan tercium. Namja berambut pirang itu mencoba menoleh, sedikit kesulitan saat menyadari rengkuhan dari belakang yang mendekapnya terlalu erat dijalankan oleh si pelaku.
"Kyuhyun-ah?" panggilnya. Dia yang dibelakang masih diam, hanya mulai menggerakan kepala berambut cokelatnya untuk menyesap wangi khas yang melekat di leher putih hyungnya. "Hey, kenapa?"
"Tidak apa – apa. Hanya ingin memeluk hyung sebelum berangkat." Sahut Kyuhyun akhirnya. Hal itu tak urung membuat Sungmin mengernyit bingung. Tapi Kyuhyun tak peduli, hanya kembali membuka suaranya untuk bertanya yang lain "Hyung bisa bahasa mandarin juga?"
"Tidak," balas Sungmin. "Aku tahu lagu itu dari televisi, dan karena terdengar nyaman di telingaku, aku jadi suka memainkannya."
"Hm.. begitukah?" sahut Kyuhyun sambil meneruskan hidungnya untuk menyesap wangi khas hyungnya. Menyusuri dari leher putih yang tak tertutup sempurna dengan kaos V-neck, turun ke tulang selangka, hingga berakhir dengan kecupan lembut di pundak kanan.
"Kyu..."
"Hyung mau aku menerjemahkan artinya?"
"Kau bisa?"
Kyuhyun tersenyum, merubah posisinya yang dibelakang Sungmin dan menyamankan dirinya disamping sang hyung. Dia tampak mengamati langit – langit putih di kamar Sungmin sebelum kembali menatap penuh padanya, tersenyum singkat. "Tentu saja. Kau bernyanyilah, dan aku akan menerjemahkan tiap liriknya untukmu."
Sungmin mengangguk, mulai melagukan tiap lagu berbahasa mandarin tadi. "Ke xi bu shi ni, pei wo dao zui hou…"
"Itu tidak beruntung karena bukan kau yang akan menemaniku hingga akhir"
"Zeng yi qi zou que zou shi na lu kou"
"Kita berjalan bersama tapi dipisahkan di persimpangan itu"
Dia diam sesaat, menatap Kyuhyun penuh dengan sepasang hazel yang menyorot gelisah ―antara terkejut, dan kekosongan yang pasrah, sebelum kembali melagukan bait selanjutnya, terdengar lebih lirih. "…Gan xie na shi ni, qian guo wo de shou"
"Terimakasih padamu bahwa itu kau yang menggenggam tanganku"
Kyuhyun meraih tangan Sungmin, menyatukannya dalam genggaman dan membawanya dalam kecupan lama dipunggung tangan. Bibirnya terbuka perlahan, mulai melagukan bait yang belum sanggup dilanjutkan hyungnya. Memenuhi kamar yang berperangan redup ini dengan suara merdunya yang mengalun lembut "Hai neng gan shou na wen rou… Aku masih bisa merasakan kehangatan itu."
"Ck.. tahu begitu aku tidak akan menanyakan artinya padamu."
"Kenapa?"
Sungmin tersenyum hangat. "Kau pasti sedih."
"Tahu dari mana aku sedih, hyung?"
"Bukankah kau sendiri yang bilang jika aku yang selalu membuatmu menangis?" tanyanya (terdengar) riang. "Kau pasti sedih. Hah.. kenapa kau cengeng sekali, Kyuhyun-ah?"
Kyuhyun tertawa miris, terlihat sekali jika dia sedang menyembunyikan sedihnya. "Aku 'kan magnae, kenapa tidak boleh cengeng?"
"Tapi kau namja. Dan seorang namja sudah seharusnya kuat, tidak boleh menangis, mengerti?"
"Kalau hyung disisiku terus, aku janji tidak akan menangis."
Sang hyung mengatupkan mulutnya yang akan terbuka. Menelan mentah – mentah kalimat terakhirnya tadi dalam satu tegukan yang menyakitkan, lehernya tercekat. Sungmin kembali memalingkan wajahnya, selalu enggan untuk menatap Kyuhyun jika namja ini kembali menarik bahasan 'favorit'nya. "Kenapa kau suka sekali membicarakan hal ini? Tidak bisakah kita hanya menjalani ini semua tanpa memikirkan apa yang terjadi selanjutnya?
Aku selalu mencoba menjadi seperti yang kau inginkan, kalau kau lupa. Hanya menjani, tanpa perlu takut atau berfikir apapun tentang masa depan. Berhentilah membahasnya, Kyu. Bukankah kau yang menjanjikan padaku jika kita akan baik – baik saja? Kita akan bahagia bukan?"
"Aku orang yang serakah, hyung." tanggap Kyuhyun setelah diamnya yang lama. "Aku juga ingin mencoba berfikir sederhana dan melihat semua baik – baik saja. Tapi otakku selalu bekerja lebih cepat, memikirkan berbagai kejadian entah apa yang akan terjadi nanti. Aku ingin bahagia, aku ingin menggapai mimpiku, aku ingin berdiri di puncak―"
Dia menatap Sungmin tajam. Mencoba menyampaikan berjuta perasaannya dalam sepasang pusara obsidian gelap yang menyorot penuh harap. "―dan aku ingin bersamamu, lebih lama."
"Kau membuatku terdengar seolah – olah aku besok akan mati." Tawa Sungmin, Kyuhyun diam. masih dengan wajah datar yang menatap tajam. Membuat tawa sang hyung surut.
"Lalu kau mau aku bagaimana?" ujar hyungnya lagi, kali ini dengan satu seringai putus asa yang tergambar di wajah. "Kupastikan satu hal, aku bukan orang yang bisa menemanimu sampai akhir. Aku ingin, ingin sekali jika bisa. Tapi yah.. nyatanya aku tidak bisa. Aku sudah berulang kali memperingatkanmu tentang ini, bukan?"
Sungmin menelan ludahnya gelisah, sedikit ragu dengan ucapannya yang ini. "Apa kau ingin kita berakhir sampai sini saja? Kau tidak perlu kesusahan jika tidak bersamaku."
"Hyung ingin seperti itu?" tantang Kyuhyun balik. Dapat dirasakannya, tangan putih Sungmin digenggamannya mendingin, berkeringat, tanda sang pemilik tengah gelisah ―dan ketakutan. "Kau ingin semua ini selesai? Melihatku bersama yeoja lain?"
Mata hazel Lee Sungmin mengerjap berulang kali, kilau tegar yang sejak tadi diperlihatkannya tampak goyah. Lapisan kaca bening mulai memenuhi sepasang foxy eyes menawan itu, menyuarakan perasaan yang tengah ditekannya sejak awal. Dia butuh diam yang lama hingga berani membuka suara, balas menggenggam tangan hangat Cho Kyuhyun dalam tautan kencang sebelum menjawab lirih. "Tidak, tidak. Aku bohong.. aku tidak ingin."
"Kau memang akan kesusahan jika bersamaku, akan terus sedih dan pasti kerepotan karenaku. Tapi ku mohon bertahanlah, aku tahu ini egois tapi aku benar – benar ingin kau tetap disampingku." Rentetan kalimat itu terlontar bersama setitik air mata yang lolos, hanya setitik karena Kyuhyun segera melayangkan tangannya. Menghapus bulir bening itu dengan tangannya yang hangat. "Kau mungkin lebih bahagia jika bersama yeoja lain, karena pasti tidak akan ada masalah dengan karirmu. Kau tidak akan dihujat karena menjadi gay, dan akan bahagia selamanya. Bersama anak – anak yang lucu, dan istri yang sehat. Tapi ku mohon jangan, aku hanya punya kau―"
Kyuhyun membawa Sungmin dalam pelukan lembut segera. Mendekapnya dalam rengkuhan hangat yang mengusir sedih. Dia tersenyum, tampak puas dengan jawaban dan respon terakhir sang hyung. "Terimakasih,"
Namja itu melepas rengkuhannya, ganti mengecup lembut sepasang kelopak mata putih yang reflex menutup saat bibir Kyuhyun menyapanya. Dia melanjutkan ciumannya ke dahinya yang tertutup poni pirang, pelipis kanannya yang tertutup kulit halus, dan dengan perlahan merambat hingga bibir pinkish Sungmin terasa. Menyapanya singkat, hanya sarana untuk menyampaikan perasaannya saat ini.
"Aku selalu berfikir jika hanya aku yang ingin menjalani ini." jelasnya akhirnya. "Aku takut jika ternyata kau tak nyaman dengan semua ini hyung. Kau.. selalu terlihat rapuh di mataku, hingga aku seringkali bingung harus bagaimana untuk menggenggammu. Membuatmu tahu jika aku benar – benar jatuh padamu. Aku selalu takut.. jika kau akan semudah itu melepasku."
"Cho Kyuhyun yang bodoh." Balas Sungmin dengan suaranya yang parau. Namja itu mulai menarik Kyuhyun mendekat, mencengkeram kerah kaos biru tua yang dikenakannya dan menyamankan kepala di dada sang magnae. "Kalau aku bilang aku mencintaimu, itu hal paling jujur yang pernah kukatakan. Cukup percaya itu saja."
Kakushite kanjou ga himei o ageteru
[Perasaan yang tersembunyi menimbulkan sebuah jeritan]
Tashikana chikai o te ni
[Mendapatkan janji yang pasti]
Ato honno sukhosidake tsuyoku naretanara
[Jika saja aku lebih kuat walaupun hanya sedikit]
Me no mae ni aru kono sora koete yuku kara
[Aku akan menyebrangi langit yang belum pernah kulihat sebelumnya]
Hari yang lain kembali datang, membawa mereka yang tengah bersiap dengan konser akbar pada latihan dan persiapan yang matang. Saat senja kembali mengecup cakrawala diujung sana, latihan melelahkan bagi Sungmin, Yesung, dan Ryeowook turut berakhir. Hanya bertiga, karena Cho Kyuhyun sang bintang kembali disibukkan oleh schedule yang tak kunjung usai. Penyanyi muda itu pun turut kalang kabut dengan persiapan kuliahnya ke Negeri Sakura sana, mengurus berbagai persiapan kesana kemari dan perijinan ―terutama dengan management yang menaunginya kini.
".. Pulang dan langsung tidur. Istirahat yang cukup, karena besok pagi kita akan berangkat ke Jepang, mengerti?"
"Besok? Bukankah SMtown masih dua hari lagi hyung?" Ryeowook bertanya heran, tangannya masih bekerja memasukan berbagai peralatan latihannya ke ransel cokelat gelapnya.
"Ada yang harus diurus disana Wookie-ya, dan aku berhasil mendapat kelonggaran ini dari seongsaengnim, anggap ini liburan penutup sebelum jadwal mencekik yang akan kau dapat setelah comeback nanti." Balas Leeteuk, matanya mengedip jenaka, membuat Ryeowook tertawa dengan "jadwal mencekik" yang memang berarti harfiah ini. "Nah.. kalian cepatlah kembali, dan Sungmin-ah, kau masih ada urusan denganku disini."
Sungmin mengangguk patuh. Menunggu dalam diam hingga Leeteuk kembali dengan berbagai buku not dan catatan kecil yang tadi terletak disudut. Ruangan cokelat muda yang penuh cermin ini telah sepi, pertanda Yesung dan Ryeowook telah melesat pergi ―tidak mau membuang – buang waktu istirahatnya yang berharga. "Apa ada masalah, hyungnim?"
"Aniyo," tanggap sang hyung ringan. Dia kini berdiri tepat didepan Sungmin, menatap langsung pada sepasang mata caramel dongsaengnya. "hanya saja, aku ingin kau check up ke doktermu malam ini."
"Hyung aku baik – baik saja―"
"Kau tidak ingin merepotkan kami, benar?" Namja manis itu mendesah kalah saat kata 'tidak ingin merepotkan' menyapa telinganya. "Turuti perkataan hyung, kalau begitu. Aku hanya tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu. Kau tahu aku menyayangimu, 'kan?"
"Arrasseo, hyungnim." Angguknya setuju.
Leeteuk tersenyum puas, mengecup pelan dahi dongsaengnya yang tertutup poni sebelum kembali berujar. "Good boy, Kyuhyun tadi mengirim e-mail, schedulenya sudah selesai satu jam lalu. Pergilah dengannya, dan pastikan kau baik – baik saja."
"Dokter itu pasti terkejut saat melihatku masih hidup hingga sekarang."
"Tidak lucu, Sungminnie." Tegur sang manager tegas. Namja berambut hazel itu mengacak lembut helai pirang dongsaengnya, menarik tangannya dan membawa keduanya menuju basement. Yang lebih tua masih menarik Sungmin yang tampak enggan melangkah, terlihat sekali jika si manis ini benar – benar setengah hati saat menuruti ide ―yang menurutnya tidak penting, dari sang hyung.
"Kyuhyunnie!"
Cho Kyuhyun, yang baru saja berniat memasuki lift menoleh saat melihat Leeteuk yang datang bersama Sungmin. Namja yang kini memakai jaket hitam dengan topi dan masker yang menutup wajah itu menoleh, menatap heran sekaligus melepas berbagai atribut penyamaran di wajahnya. "Latihannya sudah selesai? Hyungdeul mau kemana?"
Leeteuk mengangguk, membawa Sungmin yang kekeuh memasang raut enggannya kehadapan Kyuhyun. "Baru saja selesai, aku sengaja memberi latihan ringan hari ini. Hanya preview lagu, daripada itu, kau bisa 'kan mengantar Sungminnie ke dokter?"
"Hyung kenapa?" tanggapnya cepat. Matanya segera menatap khawatir pada sosok mungil Lee Sungmin disamping Leeteuk. Bukankah dia terlihat baik – baik saja?
"Tidak apa – apa, aku hanya menyuruhnya check up ke dokter. Kau tahu sendiri 'kan kita harus berangkat besok?"
"Hyung aku sungguh baik – baik saja," protes Sungmin ―lagi. Sang manager menggeleng lelah melihat ke-keras kepala-an dongsaengnya ini, ujarnya "Aku tidak bilang kau sakit, aku hanya ingin kau―"
"Dokter itu tidak akan mengatakan apapun! Dia pasti hanya bilang hidupku tak akan lama lagi, atau umurku tinggal beberapa tahun atau bahkan bulan―"
"Hey! Apa aku pernah mengajarimu seperti itu Lee Sungmin?" sang hyung tertua mulai mendesis marah sekarang, sebelah tangannya terangkat dan mencengkeram pipi putih dongsaengnya kasar. "Kau tahu aku tidak suka dengan ucapan seperti itu. Dokter bukan Tuhan yang bisa menentukan usia seseorang! Kenapa kau setakut itu, huh?!"
Mereka terdiam, bahkan Kyuhyun sekalipun harus berpikir ribuan kali jika ingin menyela Leeteuk yang marah, dan tampaknya kali ini diam menjadi keputusan terbaiknya. Membiarkan dan tak mau ikut campur dalam ucapan perang kalimat panas ini. "Hyung tidak tahu apapun."
"Buat aku tahu kalau begitu," kejarnya. Yang lebih tua kembali menambahkan, "Kau tidak pernah bercerita tentang kondisimu, lalu bagaimana aku bisa tahu porsi seperti apa yang tepat untukmu? Aku menyuruhmu ke dokter juga demi kebaikanmu, berkali – kali kubilang aku ingin memberimu porsi yang tepat tanpa memberatkanmu, bukan? Kalau kau menolak untuk memberitahuku, dan kembali menolak saat disuruh ke dokter, apa yang bisa ku lakukan untuk tahu?"
Leeteuk melepas tangannya, menghela nafas panjang dan menatap sendu pada Sungmin. "Kau yang seperti ini selalu membuat hyung sedih, Sungminnie."
Sang dongsaeng mengerjap kaget, sebelum merubah tatapan keras kepalanya dalam satu sorotan penuh sesal. "Ma'af.."
"Hah.." ditariknya Sungmin dalam pelukan. Singkat, hanya untuk menunjukan kepeduliannya dan rasa kecewa yang masih membayang. "Ma'afkan hyung juga jika hyung terlalu ikut campur."
"Teuki hyung, bukan seperti itu sungguh. Ma'af hyung," dia menatap hyungnya dalam. Ragu untuk melontarkan apapun lagi, Lee Sungmin ini tidak terlalu baik dalam mengeskpresikan perasaannya, kalau kau lupa. "bukan maksudku seperti itu."
"Lupakan saja," putus Leeteuk akhirnya. Namja itu tersenyum lembut, benar – benar menghapus marah dan sendunya barusan. "Jangan buat hyung khawatir lagi, dan jadilah anak baik, mengerti? Pergilah sekarang."
Sungmin langsung mengangguk patuh, membungkuk hormat padanya dan menarik Kyuhyun pergi. Si magnae hanya menurut, menatap sekilas pada hyung tertuanya sebelum beralih ke Sungmin. Hyung tercintanya ini terlihat kacau, "Hey, gwaenchanha?"
"Nan gwaenchanha."
Kyuhyun mengangguk mengerti, hanya membawa mereka pada mobilnya yang terparkir di depan sana. Diam masih akrab menemani, karena terlihat baik Kyuhyun maupun Sungmin tidak berniat untuk membuka percakapan yang lain. Keduanya hanya sibuk mengamati malam yang menyambut, bias rembulan yang berpendar lembut, juga angin malam yang mengawang. Mereka masih berjalan perlahan, dengan dua tangan yang sesekali terjamah.
"Kyu, aku tidak ingin pergi ke rumah sakit, bisakah kau mengantarku ke Ilsan? Aku punya seorang dokter pribadi disana."
"Tentu saja," sanggup Kyuhyun cepat. Namja itu menutup pintu mobil begitu hyungnya sudah terduduk nyaman di dalam, beralih menuju kursi pengemudi sebelum kemabali berujar. "Kau tidak harus ke dokter jika tidak ingin, hyung." tambahnya hati – hati, sebelah tangannya memutar kunci, menstarter mobilnya dan mulai menjalankannya cepat.
"Mana boleh seperti itu? Aku sudah berjanji pada Teuki hyung tadi, mana berani aku membohongi beliau?"
"Kau benar – benar anak baik, ternyata." Tawa si magnae. Sungmin turut terkekeh, "Aku hanya tidak suka rumah sakit."
Kyuhyun mengernyit, membagi konsentrasi antara jalanan Seoul yang selalu ramai dengan si manis yang di sebelahnya. "Kenapa?"
"Mungkin bosan lebih tepat, seumur hidup aku sering sekali berada disana ―dan itu sangat tidak nyaman, kau tahu?" jawabnya pelan. Dia mengalihkan wajah pada pemandangan di luar sana, memilih melihat berbagai kilasan cepat bangunan megah nan modern dari jantung South Korea ini.
Si magnae terdiam, bingung akan menyahut apa perihal kisah hyungnya yang lain. Karenanya, 90 menit kedepan dihabiskan oleh diam dari mereka. Hanya menikmati perjalanan bersama terang lampu jalan atau kilau bangunan yang tak pernah redup. Saling berdiam, membiarkan otak mengisi apapun yang ingin di pikirkannya. Entah apa, entah kesedihan, entah itu mimpi, atau apapun. Random, selagi mobil hitam itu melaju stabil.
Sungmin memberi arahan pada magnaenya, membuat Hyundai Elantra Kyuhyun berbelok dan akhirnya berhenti total didepan parkiran sebuah klinik megah. Bukan rumah sakit, karena tempat mewah ini merupakan areal praktik pribadi sang dokter, hanya tempatnya yang ditata apik lagi besarlah yang membawa kesan miniature rumah sakit terasa disini.
"Disini?"
Sungmin mengangguk, membuka pintu disampingnya dan segera melangkah masuk. Tanpa menunggu Kyuhyun dibelakang, namja manis itu segera melangkah ke meja receptionist berwarna cokelat muda, berbicara pada seorang yeoja paruh baya yang terlihat terkejut saat melihatnya.
"Lee.. Sungmin?"
"Ne, ahjumma, seongsaengnim ada?" jawabnya sambil tersenyum. Yeoja itu mengerjap beberapa kali sebelum bangkit dari kursinya, melangkah cepat melewati meja kerjanya dan memeluk Sungmin erat.
"Ya Tuhan, nak.." sambil tetap merengkuh Sungmin, yeoja yang juga mengenakan pakaian suster itu terus bergumam lirih, tak jarang menyampaikan pujian dan melafalkan nama Tuhan disela pelukannya. "Puji Tuhan.. kau baik – baik saja bukan?"
Sungmin terkekeh "Tentu saja, Han ahjumma, aku masih hidup hingga sekarang, seperti yang anda lihat."
Wanita paruh baya itu menggelang kesal, ganti menepuk lembut pundak namja yang kini lebih tinggi darinya. Berbeda dengan si bocah Lee Sungmin yang dulu selalu menangis saat harus kemari. "Kau ini.. Kau tadi bertanya tentang Kim seongsaengnim, bukan? Masuklah, beliau ada di dalam, dan kebetulan pasien terakhirnya sudah pulang beberapa menit lalu."
"Terimakasih, ahjumma." Dia membungkuk hormat, ganti beralih pada Kyuhyun yang sejak tadi diam dibelakang. "Kau ingin ikut atau menungguku disini?"
"Aku boleh?"
Hyungnya tertawa mendengar ini, "Aku pernah berjanji untuk bercerita apapun padamu, tentu saja boleh."
"Aku ikut." Putusnya cepat. Lagi, membuat kekehan geli terdengar dari Sungmin. Dia kembali melempar senyum pada sang ahjumma, dan kembali melangkah menyusuri ruangan familiar yang sudah sejak kecil dihafalnya. Ruangan sang Dermatologist 'favoritnya', Kim Jaejoong.
"Annyeong hasimnika, Kim seongsaengnim."
Namja yang tengah berkutat dengan beberapa buku di mejanya sontak mengalihkan pandangannya ke pintu. Tampak tertegun sejenak, sebelum akhirnya mengulas senyum lembut di wajah. "Bocah kecilku yang manis, eoh?"
Sungmin mendengus, melangkah masuk diikuti Kyuhyun dibelakangnya. "Ma'af mengecewakan anda seongsaengnim, tapi aku masih hidup hingga sekarang." Tambahnya sarkastik. Rautnya yang mengkeruh imut membuat Jaejoong terkekeh. Dokter yang masih terlihat tampan sekaligus cantik di usianya yang tidak lagi muda itu bangkit dari kursinya, menghampiri Lee Sungmin dan membawanya dalam pelukan.
"Kau masih saja nakal, ternyata. Aku benar – benar senang kau masih ingat dengan tempat ini." tanggapnya ramah. "Kau datang bersama siapa? Appa atau Umma?"
"Mereka tidak ikut," geleng Sungmin. Namja yang tengah memakai kaos biru terang ini menurut saat sang dokter menariknya duduk. Turut mempersilahkan Kyuhyun untuk duduk di sofa yang terletak disudut ruangan luas ini. "Aku datang bersama Kyuhyun." Jawabnya sambil menunjuk Kyuhyun.
"Oh? Teman barumu?"
Kali ini Sungmin menyeringai, menatap seolah menantang pada sang dokter yang telah kembali duduk dibalik meja kerjanya ―dan berujar berani "Bukan, tapi kekasihku, seongsaengnim."
Jaejoong terdiam sesaat ―terkejut, sebelum larut dalam tawa. "Kekasihmu, eoh? Lihat bagaimana Lee Sungminku yang sekarang. Kembali kesini setelah lima tahun di Jepang dan sekarang datang bersama seorang namja sebagai kekasih. Kau benar – benar bocah kecilku yang nakal." Ujarnya sambil beralih menatap Kyuhyun, mendapati jika dia yang disebut namanya tengah (sok) sibuk dengan PSP hitam yang baru saja dikeluarkannya dari saku jaket.
"Nah, sekarang apa ada yang salah dengan tubuhmu?"
Sungmin mendengus, dokter ini tidak berniat berbasa basi lebih jauh ternyata. "Tidak ada yang salah dengan tubuhku, seongsaengnim."
Sang dokter mendecak kesal, menarik tangan kanan sang pasien dan menatapnya intens, mengamati kulit putihnya yang tipis dan sedikit merabanya. "Kau pasti kemari bukan untuk minum the, Sungminnie jujur padaku tidak akan membuatmu rugi," ujarnya kesal. Jaejoong kembali melanjutkan. "dr Yamada merawatmu dengan baik, ternyata." Angguknya puas. Dokter itu meneruskan dengan meraih tangannya yang lain, membawanya dengan perlakuan yang sama, sebelum berdiri dan ganti mengamati raut Sungmin yang pasrah. Menelisik pipi putih juga leher yang tidak tertutup jaket, dia tampak lega sebelum berakhir mengernyit "Apa ada yang telah terjadi sebelum ini, Sungmin?"
"Aku.. sedikit terkena matahari beberapa waktu lalu."
Mata doe sang dokter terbelalak, "Apa katamu? Kau tidak sedang berusaha bunuh diri 'kan?"
"Ck.. aku tidak, seongsaengnim. Anda tidak perlu bersikap berlebihan seperti itu." Sungmin memprotes cepat. Menyingkirkan tangan Jaejoong yang masih betah di lehernya, pun memalingkan wajah dari tatap penuh selidik dokternya.
"Kau harus menurut jika tidak ingin direcoki, harusnya kau tahu serapa berbahaya sinar matahari untukmu." tanggapnya kemudian. Dia melipat tangannya di dada, mengamati jemari pasiennya yang terkepal dan kembali bertanya. "Lalu, tangan atau kakimu?" lanjut Jaejoong hati – hati.
Namja berambut cokelat terang itu menatap Sungmin penuh selidik, mengantipasi jika jawaban yang akan dikeluarkan sang pasien adalah elakan yang lain. "Lee Sungmin?" kejar sang dokter saat pasiennya ini masih diam.
"Kakiku sedikit tak nyaman beberapa waktu lalu, kaku. Sulit digerakan tetapi sudah terasa lebih baik beberapa hari ini, tanganku kadang seperti itu juga, seoangsaengnim."
Sang dokter bermarga Kim tertegun sesaat. Meneguk ludahnya susah sebelum menghela nafas panjang, dia mengelus lembut rambut pirang Sungmin sekilas sebelum menanggapi dengan suara yang lebih lembut, "Tidak apa – apa, semua akan baik – baik saja. Sekarang pergilah ke Suster Han, suruh dia mengantarmu keruang periksa."
Sungmin menatap Jaeojoong lama sebelum memutuskan mengangguk. Berjalan keluar tanpa menatap Kyuhyun yang sejak tadi menatapnya khawatir. Sang dokter disana berdiri diam di pintu masuk ruangannya setelah mengantar pasiennya keluar, menatap punggung mungil itu lama, sebelum menoleh saat suara lain terdengar di ruangan ini.
"Seongsaengnim sangat dekat dengannya?"
Dia menoleh, tersenyum ke arah Kyuhyun yang kini berdiri. "Tentu saja, aku yang merawatnya sejak kecil, aku juga yang―" dia berdehem singkat sebelum melanjutkan. "aku juga yang telah momvonisnya tidak dapat bertahan hidup lebih lama, dulu." Senyumnya menyesal.
Kyuhyun menoleh, menatap penuh mata doe dokter dengan tatap penuh harap "Apa.. apa dia akan baik – baik saja?"
Kim Jaejoong tampak menimang sesaat sebelum membawa Kyuhyun untuk duduk nyaman di sofa tadi, menatap dalam ke obsidian gelapnya dan memulai "Kau benar kekasih Sungmin?"
Kyuhyun mengangguk dalam diam. "Baiklah, Kyuhyun-sshi.. yang akan kukatakan ini hanya analisa, bagian dari ilmu kedokteran, dan bukannya takdir atau apapun itu namanya. Lee Sungmin, menderita syndrome XP. Aku yakin kau sudah tahu itu, benar?"
Penyanyi muda itu kembali mengangguk. Hanya mendengarkan, tanpa bisa menyahuti apapun.
"Yang kumaksud tadi adalah.. bagian otaknya mungkin saja sudah bereaksi, hal ini akan menyebabkan kekacauan saraf yang dipicu oleh XP. Tangan dan kakinya akan mulai kaku, dan akhirnya lumpuh, sebelum… ah, tapi ini belum bisa dipastikan, karena itu aku harus memeriksanya lebih jauh ―"
"Seongsaengnim," potong Kyuhyun pelan. "… Apa dia akan baik – baik saja?"
Jaejoong terdiam lama, mengamati bagaimana obsidian gelap milik pemuda ini benar – benar larut dalam takut dan putus asa yang dalam. Sebagai dokter, seperti yang dikatakannya tadi, dia hanya bisa menyampaikan apa yang dipelajarinya dalam ilmu kedokteran, bagian dari penelitian. Dan bukan takdir atau semacamnya.
Tapi walau bagaimana pun, melihat pemuda ini atau pun Lee Sungmin yang terus menatapnya dengan mata 'melawan', raut yang tak pernah gentar menghadapi takdir, sungguh mampu mematahkan berbagai analisis yang telah dibuat oleh seorang dokter sepertinya. Karena itu, senyum tulus lagi hangat pun akhirnya dibentuk oleh sang Dermatologist terkenal di South Korea ini. Memberi satu keyakinan yang lain bagi dua insane yang mau tak mau membuatnya kagum.
"Kau tenang saja, dia bahkan berhasil melewati jauh vonis yang pernah ku berikan," ujarnya akhirnya. Sebelah tangannya menepuk pelan pundak Kyuhyun, mencoba menyakinkan sang penyanyi muda ini dalam harap. "Karena itu, percayalah pada Sungminnie, Kyuhyun-sshi, dia namja yang kuat.
―dia akan baik – baik saja."
Nakusu mono wa nani mo nai, furueru yubi nigirishime
[Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, menggenggam jemarimu yang gemetar]
Kimi no muku na egao dake o yakitsuke
[Hanya senyum tulusmu yang terukir dalam ingatanku]
Owaranai episoodo no hate ni tsukametara
[Jika terperangkap dalam kegelapan yang tak berujung]
Kimi to no omoi ga ima osanaki hino kakera o tsunagi irotte
[Perasaanku padamu kan terlukis bersama pecahan hari – hari akan masa kecil kita dan akan..]
Futari de kaita kokoro no kiseki todoru kara
[Mengikuti jalan kedua hati kita yang telah di gambarkan]
Menunggu, menanti, dan berharap akan datangnya sesuatu ―apalagi itu adalah impian yang besar, bukanlah hal yang menyenangkan. Terlebih jika kita harus melalui hari yang berat dalam masa – masa penantian itu. Mungkin tidak sedikit orang yang memilih menyerah dan berbalik, melepas benang impian yang tinggal sedikit lagi tergenggam, kerena tidak tahan dengan sakitnya ujian yang disiapkan Tuhan untuk itu.
Tapi tidak menutup kemungkinan juga, ada segelintir orang yang mau bersabar. Menanti lebih lama, merasakan kesakitan yang lebih, bahkan harus berulang kali jatuh dalam keputus asaan karena penantian yang melelahkan itu. Segelintir orang yang sering kali mengecap pahitnya penolakan, menelan sejuta pil kekecewaan dan beragam tindakan yang menuntut untuk menguras tenaga dan keringat hingga titik maksimal. Mereka yang berani sakit, dan berani menangis untuk menggapai apa itu cita – cita.
Bagi Kyuhyun, cita – cita adalah saat dia berdiri diatas panggung megah. Membawa michrophone dalam genggaman, dan melantunkan nada – nada menyenangkan yang akan membawa jutaan orang yang mencintai bersorak. Menyuarakan namanya dengan bangga, dan tak lupa menyambutnya bak seorang bintang. Bagi Yesung, impiannya tidak setinggi itu, dia hanya ingin terus menyanyi, menyanyi, dan menyuarakan lagunya hingga kemana pun dia bisa. Namja tampan itu hanya ingin mendedikasikan hidupnya untuk music. Menlantunkan, juga menulis lirik – lirik yang disukai semua orang. Untuk Kim Ryeowook, bocah polos ini bukan orang yang ruwet. Asal dia bisa menyanyi dan dikenal, berdiri diatas panggung dan membuat dua orang tuanya di Incheon sana tersenyum bangga, itu sudah lebih dari cukup.
Lalu, apa itu cita – cita untuk Lee Sungmin?
Ahh.. jika boleh kukatakan, dia hanya punya sebuah keinginan. Satu yang sangat sederhana, karena Lee Sungmin ini tidak biasa bermimpi. Dia ―hanya ingin menyanyikan lagunya dihadapan orang banyak. Sekali saja, kalau boleh. Sungmin tidak pernah berpikiran muluk dan membayangkan dirinya berdiri sebagai seorang bintang dipanggung luas nan megah. Namja itu cukup sadar diri dalam melukis asa. Bukankah itu satu impian yang kecil?
Tapi Tuhan tidak pernah tidur. Dia selalu mendengar dan melihat apapun yang telah diusahakan makhluk-Nya ―dan tidak lupa untuk menyiapakan hadiah manis yang dulu dijanjikan.
Kado istimewa bagi mereka yang sanggup membayar mahal akan mimpi yang berani dilukisnya.
Bagi Cho Kyuhyun, Kim Jongwoon, Kim Ryeowook, dan tidak lupa Lee Sungmin yang manis ini, kado istimewa bagi mereka telah sampai sekarang. Hadiah dari kerja keras dan penantian yang tidak sebentar, juga air mata dan keringat yang tidak sedikit. Saat ini, saat mereka berempat tengah menatap kagum dan tersenyum bangga di dalam venue megah International Stadium Yokohama.
―Atau lebih dikenal sebagai Nissan Stadium.
TBC or End?
Entah apa yang saya tulis, tapi bagi yang mereview sejak awal, yang baru mereview belakangan, juga yang tidak pernah mereview sejak awal, terimakasih banyak.. dukungan dan semangat dari kalian yang terus membuat saya semangat menulis dan mengupdate disini..
Saya kembali minta ma'af kerena untuk yg kesekian kalinya saya hanya bisa membaca review kalian, tanpa sempat membalasnya, ma'af dan terimakasih, saya juga minta do'anya, karena minggu depan ujian sekolah, ujian praktik, juga ujian nasional mulai dilaksanakan, mohon do'a agar saya lancar maghadapinya dan segera bisa mengupdate chapter selanjutnya yaaa~~ xD
Cerita ini akan berakhir di chapter 13, masalah ending sudah saya siapkan, kok.. saya juga usahakan tidak akan mengecewakan kalian dengan ending yg tidak sesuai harapan~ dan saya masih menunggu pendapat readerdeul semua untuk itu.. :)
Last,, Arigato gozaimasu, minna-saaaannn~~ #bowbow
