SANG PENCULIK

.

.

.

Chapter 10

.

.

.

CAST KIM JONGIN

OH SEHUN

PARK CHANYEOL

BYUN BAEKHYUN

DO KYUNGSOO

PEMBERITAHUAN : INI ALURNYA NYANTAE JADI BAGI YANG GAK SUKA AMA ALUR NYANTAE MENDING GAK USAH BACA FF INI DEHHH DARIPADA KALIAN MENCAK MENCAK KARENA ALURNYA YANG NYANTAE...

CERITA SEBELUMNYA

Sehun ingin mempercayai Jongin, tapi kenyataannya Jongin pergi untuk melakukan pendekatan terhadap orang lain. Sehun ingin tidak memercayai ucapan Bibi Jongin tapi kenyataannya Jongin memang pergi ke Moscow, tempat banyak wanita dan pria manis yang bisa menarik perhatian Jongin.

Jongin tidak mungkin mencintainya, Jongin hanya menyukai tubuhnya. Setelah menyadari kenyataan itu Sehun berniat untuk pergi. Ia harus pergi dari Jongin sebelum perasaan cintanya menjadi lebih dalam terhadap Jongin. Dan kalau Sehun harus pergi, sebaiknya ia melakukannya ketika Jongin pergi dan Chanyeol tidak ada disana untuk mengawasi setiap gerak gerik Sehun.

.

.

.

.

HAPPY READING

CHAPTER 10

Inilah kesempatannya, mungkin satu satunya kesempatan untuk Sehun. Hari ini desa kosong karena semua orang sedang berkumpul di gereja kecil. Sehun bergerak secara hati hati menghampiri kandang kecil. Ia berharap semoga dengungan suara doa dapat menutupi suara kuda. Semoga saja ia bisa keluar dari estat tanpa terlihat dan semoja saja ia bisa mengingat jalan kembali ke St. Petersbug tanpa tersesat.

Saat tiba di St. Petersbug nanti, ia harus segera mencari komunitas warga Inggris disana.

Sehun tidak keberatan bertemu dengan Jongin lagi, tapi tidak sekarang. Sehun ingin mereka bertemu lagi di saat mereka berada di posisi yang setara. Ia ingin Jongin menatapnya sebagai orang yang setara.

Sehun menjalankan kuda secara perlahan mengelilingi estat untuk tiba dijalan, ototnya terasa sangat sakit. Seumur hidup ia tidak pernah merasakan sakit seperti ini. Begitu tiba di jalan, Sehun langsung memacu kudanya dengan cepat sambil berusaha mengabaikan rasa sakit di tubuhnya tetapi ia tetap mengernyit dan mengerang setiap detiknya.

Sehun terus berkuda selama empat jam, saat ini ia tidak perlu berhenti, ia punya cukup banyak makanan sampai besok dan ia ingin berada sejauh mungkin dari Novii Domik. Ia juga takut berhenti, takut kalau ia turun dari kuda sekarang, ia tidak akan punya tekad ataupun kemampuan menaiki kudanya lagi. Ia akan menunggu sampai malam agar ia bisa beristirahat sedikit.

Beberapa jam kemudian, akhirnya Sehun meninggalkan jalan dan menemukan tempat berteduh yang bisa dijadikan tempat untuk beristirahat. Ia terjatuh dari kuda karena sudah tidak punya stamina lagi lalu ia jatuh pingsan.

.

.

.

.

" Ehmm, sepertinya aku menemukan seorang malaikat yang terjatuh dari surga. "

Kaki Sehun disenggol sedikit untuk menyadarkannya. Sehun membuka mata, kebingungan dan melihat seorang pria berdiri di kakinya dengan sikap sombong.

" Jongin? "

" Ah, jadi kau. " Pria itu tersenyum pada Sehun. " Tadinya aku tidak yakin. Kau tidak terlihat seperti seseorang yang _ ah _ dikenal Jongin. "

Jantung Sehun berdegup lega tapi masih sedikit khawatir. Pria itu hampir mirip seperti Jongin. Tadi ia sempat mengira pria itu adalah Jongin karena pembawaan mereka yang mirip.

" Apa kau Kris? "

" Siap melayanimu, Angel. "

" Sedang apa kau disini. " Tanya Sehun.

" Ehm, bukankah seharusnya pertanyaan itu ditujukan kepadamu? "

" Aku punya alasan yang sangat bagus untuk berada disini. Tapi kau tidak, kecuali kau disuruh untuk mengejarku. " Jelas Sehun.

" Tentu saja. " Ucap Kris.

Mata Sehun menyipit. " Kalau begitu kau membuang buang waktu. Aku tidak akan kembali. " Sehun beranjak berdir. Berbaring di bawah kaki Kris bukan sikap yang tepat untuk berdebat dan Sehun jelas akan berdebat dengan Kris untuk membela diri. Tetapi Sehun melupakan kondisi tubuhnya. Bahunya belum terangkat dua sentimeter dari tanah, rasa sakit menyerangnya, membuat ia mengerang.

" Kaulihat apa yang terjadi kalau kau mencoba tidur di tanah yang keras dan bukannya tempat tidur empuk yang kau tinggalkan, " Ucap Kris sambil mencengkeram pergelangan tangan Sehun lalu menarik Sehun berdiri. Jerita kesakitan Sehun membuat Kris terkejut dan ia langsung melepaskan Sehun. " Demi Tuhan, ada apa denganmu? Apakah kau terjatuh dari kuda? "

" Apa kau bodoh! " Seru Sehun. " Jangan pura pura tidak tahu. Semua orang di Novii Domik sudah tahu. "

" Kalau semua orang tahu, maka mereka berhasil menyembunyikannya dariku, apapun itu yang sedang kau bicarakan. " Ucap Kris.

Mata Sehun menyipit mencoba mencari kebohongan di wajah Kris, tapi Sehun tidak menemukannya. Sepertinya Kris mengatakan yang sebenarnya. " Maafkan aku karena menyebutmu bodoh. Aku hanya sedang sensitif dan sedang menahan rasa sakit karena dipukuli habis habisan dengan tongkat. "

" Jongin tidak mungkin melakukan itu! " Kris terkejut sekaligus marah mendengar Sehun sudah menuduh saudaranya.

" Tentu saja bukan dia yang melakukannya, kau _ " Sehun menghentikan ucapannya, hampir saja ia menyebut Kris dengan kata bodoh lagi. " Dia tidak tahu aku dipukuli dan aku yakin di estat nanti akan ada kehebohan saat dia tahu Bibinya memukuliku. Bibi sialanmu itu yang melakukan ini padaku. "

" Aku tidak percaya, " Kris mendengus. " Bibi Heechul seseorang yang manis dan penurut. "

" Lihat dirimu, aku sudah mengalami cukup banyak keraguan dan fitnahan selama berbulan bulan terakhir ini. Tapi kali ini aku mendapat luka di punggungku untuk membuktikan apa yang kukatakan dan Bibimu yang manis dan penurut itu akan membayar setiap pukulan yang di arahkan ke tubuhku nanti di saat aku sudah tiba di Kedutaan Inggris. Duta Besar Inggris kebetulan adalah teman Ayahku, Earl Of Strafford dan kalau penculikan Jongin atas diriku tidak membuat keadaan kacau, tapi pemukulan Bibimu ini akan membuat semuanya kacau. Aku berencana menuntut Bibimu diasingkan di Siberia!. " Teriak Sehun.

Kris mengatupkan mulut, agak terkejut. Ia tidak pernah mendengar rentetan kata kata seperti itu sebelumnya. Yeah, Jongin kadang kadang melakukannya. Demi Tuhan, mereka mirip sekali, kedua orang ini. Begitu berapi api. Apakah pria ini bersikap seperti ini terhadap Jongin? Kalau ya, sekarang Kris mengerti kenapa Jongin tertarik pada pria ini. Kris sendiri merasa tertarik.

Kris tersenyum. " Kau pintar sekali dalam berkata kata, Angel. Dan juga kau sangat pintar menemukan tempat terpencil seperti ini, sangat terpencil. Kita bisa _ "

" Tidak, kita tidak bisa, " Sela Sehun tajam. Ia tahu maksud Kris.

Kris tidak menyerah. " Tapi tentu saja kita bisa. "

" Tidak, kita tidak bisa! "

" Kau yakin, angel? "

" Sangat. "

" Kau akan memberitahuku kalau kau berubah pikiran? " Kris masih belum menyerah.

" Aku tidak akan berubah pikiran. " Tegas Sehun.

" Ehm, sangat sulik ditaklukkan. " Kris tersenyum lebar.

Sehun lega melihat Kris sama sekali tidak kesal karena penolakannya. Oh, betapa berbeda dengan Jongin! .

" Sebaiknya kita pergi sekarang. " Ajak Kris.

" Kita tidak akan pergi kemanapun bersama sama, Kris. " Tolak Sehun.

" Nah, jangan bersikap menyulitkan, Angel. Disamping kenyataan bahwa aku tidak mungkin meninggalkanmu sendirian disini, aku juga mendapat perintah dari wanita tua itu. Bukannya aku mau menuruti perintahnya tapi dialah yang mengendalikan dompet ketika Jongin sedang pergi, jadi sebaiknya aku tetap berada di sisi baiknya. Dan dia sangat murka karena kau kabur. " Ucap Kris.

" Sudah pasti dia murka. " Balas Sehun. " Tapi dia boleh jungkir balik karena marah. Aku tetap tidak mau kembali kesana untuk menjadi sasaran perlakuan tiran wanita itu. Jongin tidak meninggalkanku disana untuk disiksa. "

" Tentu saja tidak. Dan kau tidak akan disiksa, kalau perlu aku sendiri yang melindungimu. Sungguh, Angel, tidak ada yang perlu kau takutkan di Novii Domik. " Kris masih tidak percaya bahwa Bibinya yang manis itu memerintahkan agar Sehun dipukuli dengan tongkat.

" Aku yakin Jongin akan meluruskan kesalahpahaman ini begitu dia kembali. " Ucap Kris.

" Kalau Jongin yang bisa meluruskan kesalahpahaman ini, seperti katamu, kenapa kau tidak membawaku kepadanya? Aku tidak keberatan bertemu dengan dia. " Ucap Sehun.

Kris tersenyum senang. " Ide bagus, Angel. Aku mau saja membawamu menemui Jongin tapi kau harus menyadari konsekuensi bepergian bersamaku berdua saja menempuh perjalanan jauh. Dan kupastikan padamu aku tidak bisa membawamu ke Moscow tanpa menidurimu, entah kau bersedia atau tidak. Itulah konsekuensi yang akan kau dapatkan. Tapi kalau hanya membawamu kembali ke Novii Domik, aku masih bisa menahannya karena jaraknya tidak terlalu jauh dari sini. "

" Tidak mungkin! " Balas Sehun, marah karena Kris coba mempermainkannya. " Aku pasti sudah berkuda sejauh delapan puluh kilometer kemarin. "

" Lebih tepatnya tiga puluh dua kilometer, Angel, dan bukan kemarin tapi pagi ini. " Jelas Kris.

" Maksudmu _ "

" Sekarang baru menjelang malam. Kita bisa kembali tepat waktu untuk makan malam, kalau kau mau berhenti ribut ribut. "

" Baiklah! " Sehun meledak marah. " Baiklah! Tapi kalau Bibi penyihirmu itu akhirnya membunuhku dalam kegiatannya, itu akan menjadi kesalahanmu, salahmu. Aku akan menghantuimu karena ini, itu juga kalau aku mendapat kesempatan untuk menghantuimu, karena Jongin mungkin akan membunuhmu lebih dulu kalau dia tahu kau yang bertanggung jawab atas kematianku! "

Sebenarnya masih banyak yang ingin dikatakan Sehun, tetapi ia berbalik memunggungi Kris untuk naik ke kudanya tanpa bantuan. Ia akan mencakar wajah Kris kalau ia berani menawarkan bantuan.

Ya Tuhan, ternyata tidak mudah. Setiap gerakan kecil terasa menyakitkan. Tapi tetap saja ia tidak rela minta bantuan pada Kris. Kris hanya berdiri disana menatap Sehun dengan takjub.

Sehun mengerang saat memaksa kudanya untuk maju, ia membungkuk kesakitan, membuat Kris merasa bersalah. " Angel, mungkin _ "

" Aku tidak mau mendengar satu patah kata lagi dari mulutmu. " Kata Sehun dengan kebencian yang begitu besar. " Aku akan kembali menghadapi wanita jalang itu, dan aku tidak mau mendengar omongan tololmu sekarang ini. "

Sehun berderap pergi, dan Kris harus buru buru menyusulnya. Sekarang Kris bingung dengan apa yang harus dilakukannya. Membuat Bibi Heechul senang berbeda dengan membangkitkan amarah saudaranya. Tapi pada akhirnya, Kris memutuskan kalau pria ini benar benar penting bagi Jongin, maka saudaranya itu pasti ingin Sehun ada ditempat ia meninggalkannya.

.

.

.

.

Jongin menatap kamar kosong itu, tempat tidurnya terlihat rapi, tidak berantakan. Jongin berfirasat bahwa tempat tidur itu sudah seperti ini selama berhari hari membuat Jongin langsung berlari menuju ke lemari pakaian dan langsung membuka pintu lemari. Semua pakaian Sehun masih ada di dalam lemari.

Jongin menghembuskan napas tapi dengan cepat kekesalan memenuhi pikirannya. Ia sudah menguatkan diri untuk menemui Sehun. Selama berjam jam, ia berpacu cepat menuju Novii Domik. Ia berharap menemukan Sehun di Kamar putih, mungkin sedang membaca buku, sedang mengerjakan pembukuan atau bahkan sedang meringkuk di ranjang sambil memakan buah atau bahkan Jongin mengira ia akan menemukan Sehun sedang mondar mandir dikamar karena bosan.

Jongin menyesal telah pergi, alasan dia pergi pagi itu adalah ia ingin menjauh dari Sehun, ia ingin berada jauh saat Sehun terbangun, ia ingin menghindari kejijikan dan kebencian yang akan dirasakan Sehun padanya saat ia terbangun, walaupun Sehun mengatakan hal yang sebaliknya saat Sehun masih berada di bawah pengaruh obat.

Saat ditengah perjalanan menuju Moscow, ia sadar bahwa ia sudah melakukan kesalahan dengan pergi meninggalkan Sehun tanpa penjelasan. Ini bukan kesalahan pertama kalinya. Well, ini mungkin kesalahan terburuknya. Tapi ia yakin Sehun pasti akan memaafkannya. Sehun pernah marah padanya dan Jongin berhasil mengatasi kemarahan Sehun atau lebih tepatnya Sehun tenang sendiri. Sehun seorang pria yang bijak menurut Jongin. Sehun tidak suka menyimpan dendam. Itu merupakan salah satu hal yang disukai Jongin dari Sehun, disamping semangat, pertahanan diri yang teguh, gairah, serta belasan sifat lain Sehun.

Jongin yakin Sehun akan memaafkannya. Ia bahkan ingin membujuk Sehun untuk tetap tinggal di Rusia. Ia akan membelikan rumah mewah untuk Sehun, mengisinya dengan pelayan yang terbaik, membanjirinya dengan perhiasan dan pakaian yang paling mahal. Tapi ia akan tetap menikahi Krystal, Krystal hanya berfungsi sebagai pemberi keturunan baginya, sedangkan Sehun untuk dicintai dan dikasihinya.

Jongin merasakan keinginan yang besar untuk bertemu dengan Sehun lagi. Ia sudah pergi selama lima hari dan ia benar benar merindukan Sehun. Jongin beranjak meninggalkan kamar putih lalu menuruni tangga menuju aula. Ia melihat seorang pelayan yang sedang menaiki tangga.

" Dimana pria itu? " Tanya Jongin pada si pelayan.

" Siapa, My Lord? "

" Pria inggris itu, " Sahut Jongin dengan tidak sabar.

Pelayan itu terlihat ketakutan saat menjawab. " Saya _ saya tidak tahu, My Lord. "

Jongin berjalan melewati pelayan itu, lalu ia memanggil pelayan yang lain. " Dimana Pria Inggris itu? "

" Saya belum melihatnya, Pangeran. "

" Dan kau? " Jongin berpaling ke arah Leroy, salah satu pelayan kepercayaannya.

Leroy terdiam ketakutan, ia takut amarah Pangeran akan meledak saat mengetahui kalau ia sudah mencambuk pria Inggris itu.

" Dimana lidahmu, Leroy? " Bentak Jongin.

" Saya _ yakin dia terlihat didapur _ tadi. " Leroy terdiam saat melihat tatapan tajam Jongin. " Tapi _ tapi saat ini saya tidak _ tahu dimana pria Inggris itu berada, Pangeran. "

" Siapa yang tahu? " Pertanyaan itu hanya dijawab dengan kesunyian.

Jongin menggeram marah, ia berbalik ingin kembali ke dalam kamar putih sambil berteriak. " Sehun! "

" Untuk apa kau berteriak teriak, Jongin? " Tanya Heechul, keluar dari ruang duduk. " Kau tidak perlu berteriak untuk memberitahu kami kalau kau sudah kembali. Tapi kenapa kau kembali secepat ini _ "

Jongin berputar menatap Bibinya. " Dimana dia? Dan kalau kau menghargai kedamaian dan ketenangan, jangan bertanya padaku siapa dia. Kau tahu benar siapa yang sedang kubicarakan. "

" Pria Inggris itu, kan. " Sahut Heechul dengan tenang. " Kami menempatkannya ditempat seharusnya ia berada, dia pernah kabur satu kali, mencuri salah satu kuda orang desa. Untunglah Kris ada disini saat itu, jadi Kris bisa membawa pria Inggris itu kembali. "

Berbagai emosi berkecamuk dalam diri Jongin. Ia terkejut karena Sehun mencoba melarikan diri dan merasa lega karena ia tidak berhasil. Lalu ia merasa cemburu saat mendengar Sehun sudah bertemu dengan saudara tirinya yang tampan dan seorang perayu ulung.

" Dimana dia? " Tanya Jongin dengan ketus.

" Aku benar benar berharap kau lebih spesifik, Sayangku. Kalau yang kau maksud Kris, dia tidak berlama lama disini. Dia pergi ke Moscow untuk menemuimu, apa kalian tidak berpapasan saat dijalan?. "

Jongin berjalan melewati Bibinya menuju ruang duduk, ia langsung berjalan menuju ke lemari minuman. Sikap posesif adalah pengalaman baru bagi Jongin. Ia merasa kesal mendengar Sehunnya pernah berada di desa bersama Kris. Saudara tirinya itu bisa saja merayu Sehun dan melakukan hal yang tidak tidak pada Sehun.

" Kurasa kau lelah, itulah sebabnya kau bersikap sekasar ini. Bagaimana kalau kau tidur dan kita bicara besok pagi tentang kenapa kau kembali secepat ini. " Ucap Heechul.

Jongin menenggeka segelas vodka sebelum menatap Bibinya dengan tajam. " Bibi Heechul, kalau aku tidak segera mendapatkan jawaban, kau pasti akan menyesal. Aku datang kesini untuk menemui Sehun dan untuk alasan lain. Sekarang katakan dimana dia? "

Heechul terkejut mendengar nada ancaman dalam suara Jongin. " Kurasa dia sudah tidur sekarang. "

" Aku sudah memeriksa kamarnya. Dimana dia tidur, kalau begitu? " Tanya Jongin.

" Bersama pelayan. "

Jongin memejamkan mata mendengar ucapan Bibinya. " Sialan dia, seharusnya aku tahu dia akan melakukan sesuatu seperti ini, begitu aku pergi. "

Heechul mengerjap terkejut. Jongin marah pada pria itu, bukan padanya. Heechul tersenyum senang, mungkin ia bisa membuat Jongin tambah marah pada pria itu. " Dia pria yang sangat sombong dan sangat hina yang pernah kutemui, Jongin. Aku menyuruhnya menggosok lantai untuk melihat apakah hal itu bisa membuatnya sedikit lebih patuh, tapi sepertinya hal itu tidak akan membuatnya patuh. "

" Apa dia bersedia? " Tanya Jongin tidak percaya.

" Dia tidak keberatan. "

" Kalau begitu sepertinya aku sudah membuang buang waktu karena kembali kesini, " Kata Jongin dengan tajam tanpa memandang Bibinya. " Jadi dia ingin menggosok lantai sekarang! Well, kalau dia pikir taktik kecil itu akan membuatku merasa lebih bersalah lagi, dia sudah salah besar. "

Jongin merenggut botol vodka sebelum berjalan keluar dari ruangan dengan marah. Para pelayan yang menguping diluar pintu, segera menghambur pergi sebelum Jongin menyerbu keluar ruangan lalu berlari menaiki tangga.

Heechul menuangkan segelas minuman untuk dirinya sendiri dan tersenyum sambil menyesap minumannya. Ia tidak mengerti dengan komentar terakhir Jongin, tetapi itu tidak penting. Jongin akan kembali ke Moscow dan menemui Krystal, dan bisa jadi Jongin akan pergi selama berbulan bulan dan Jongin pasti akan melupakan pria Inggris itu selamanya.

.

.

.

.

Sehun berhenti berjalan saat mendengar obrolan para pelayan. Ekspresinya berubah gembira saat mendengar Jongin kembali. " Jongin sudah kembali? Kapan? "

" Kemarin sore. " Jawab salah satu pelayan.

Kemarin sore Sehun jatuh tertidur setelah dua belas jam bekerja keras. Tapi kenapa Jongin tidak mencariku? Sekarang sudah menjelang siang. Kenapa Jongin tidak mencariku juga?. Pikir Sehun. " Kau bohong. "

" Aku tidak berbohong. Tanya saja pada pelayan yang lain. Oh, tapi mungkin mereka tidak akan memberitahumu, mereka semua ingin merahasiakan kedatangan Pangeran darimu karena kau berkeras bahwa Pangeran akan marah besar kalau dia tahu apa yang terjadi. Well, tapi seperti yang kulihat kemarin, Pangeran malah marah padamu. "

" Kalau begitu Bibinya tidak mengatakan yang sebenarnya. " Lirih Sehun.

" Tidak, Nyonya Heechul menceritakan segalanya pada Pangeran, ada yang mendengar pembicaraan mereka. Sang Pangeran tahu kau menggosok lantai disini dan dia tidak peduli. " Cemooh pelayan wanita itu. " Apakah kau benar berpikir dia akan berpihak padamu untuk melawan Bibinya? Dia sudah bangun selama berjam jam, dan ia bersiap siap untuk pergi lagi hari ini. "

Sehun tidak percaya pada ucapan pelayan itu. Ia tidak mau mempercayainya, karena ia tahu gadis pelayan itu benci padanya, walaupun Sehun tidak tahu apa yang sudah dilakukannya sampai pelayan itu membencinya.

Sehun berpaling saat melihat Rodion sedang memasuki dapur. Sehun yakin Rodion tidak akan membohonginya. Rodion selalu bersikap baik padanya sejak ia kembali kesini. " Rodion, apakah Jongin benar benar ada disini? "

Rodion menunduk tidak mau memandang Sehun. " Ya. "

Sehun terdiam selama beberapa saat. " Dan dia tahu dimana dia bisa menemukanku? "

" Ya. " Rodion melirik Sehun. Ia melihat kesedihan terpancar di wajah Sehun. " Maaf. " Ucap Rodion.

Sepertinya Sehun tidak mendengar perkataan Rodion. Sehun berjalan mengambil sikat lalu menunduk dan memulai gerakan otomatis dengan mendorong sikat itu maju mundur di lantai.

Sehun terus menggosok tempat yang sama, berulang ulang. Sehun menangis dalam diam. Aku sudah tahu sejak awal Jongin pasti tidak akan peduli. Pikir Sehun. Jongin sudah bermalam disini, pergi tidur dengan kesadaran bahwa Bibinya sudah menjadikan Sehun sebagai budak di dapur, dan Jongin tidak melakukan apapun untuk mengubah kenyataan itu. Tidak ada permintaan maaf. Tidak memperjuangkan nasib Sehun. Dan sekarang pria itu akan pergi lagi. Inikah gagasan Jongin untuk membuatku tetap sibuk selama disini? Bajingan. Pikir Sehun.

Tapi kenapa aku tetap mencintainya? Walaupun aku tahu ini adalah sesuatu hal yang sangat bodoh. Pikir Sehun.

.

.

.

.

" Mana sepatu botku! " teriak Jongin.

Leroy bergegas maju dengan sepatu bot yang baru disemir separo. Leroy takut bertemu dengan Jongin, ia takut kalau kalau pria Inggris itu akan muncul dihadapan Pangeran dan akan menceritakan keseluruhan kisahnya kepada Jongin, bukan setengah kebenaran yang diceritakan oleh Putri Heechul. Tapi Leroy senang saat mendengar Pangeran akan pergi lagi. Itu berarti dia bisa lolos dari ketakutan ini.

Jongin mengucapkan kata " Masuk! " saat mendengar ketukan pintu.

Leroy berlari menuju pintu, setelah pintu terbuka Rodion mulai memasuki kamar, Rodion terlihat tidak nyaman ketika melihat wajah Jongin yang memberengut marah.

" Apa? " Bentak Jongin.

" Saya _ saya rasa ada sesuatu yang harus Anda ketahui _ tentang pria Inggris itu _ sebelum Anda pergi, My Lord. " Ucap Rodion gugup.

" Sehun. Namanya Sehun, " Geram Jongin. " Dan tidak ada yang bisa kaukatakan padaku tentang dia yang akan membuatku terkejut, jadi tidak usah repot repot. Malah, sebenarnya aku tidak ingin mendengar tentang dirinya sekarang! "

" Baik, My Lord. " Rodion berbalik hendak pergi, sekaligus kecewa.

Leroy menghembuskan napas lega. Tapi ia kembali menahan napas lagi saat mendengar Pangeran memanggil Rodion untuk kembali.

" Maafkan aku, Rodion. " Jongin menggerakkan tangannya menyuruh Rodion kembali sambil mendesah. " Apa yang ingin kaukatakan padaku tentang Sehun? "

" Hanya saja _ " Rodion bertukar pandang dengan Leroy, tetapi Rodion menguatkan tekad lalu mulai melanjutkan. " Bibi Anda memerintahkan supaya dia dipukuli dengan tongkat, My Lord, sangat parah sampai Sehun tidak sadarkan diri selama hampir dua hari. Dia sekarang bekerja di dapur, tetapi itu bukan keinginannya sendiri. Dia pasti akan dipukul lagi kalau membantah. "

Jongin tidak mengatakan apa apa. Untuk waktu yang lama ia hanya berdiri disana dan menatap Rodion, lalu keluar dari kamar begitu cepat sampai Rodion harus melompat menyingkir.

" Kenapa kau melakukannya, bodoh? " Tuntut Leroy. " Apa kau tidak melihat wajahnya? "

Rodion sama sekali tidak menyesal. " Pria itu benar, Leroy. Dan keadaan akan jauh lebih buruk kalau Sang Pangeran mengetahuinya nanti, setelah dia pergi. Aku yakin Pangeran orang yang adil, dia tidak akan menyalahkan kita karena menuruti perintah Putri. Bukan orang yang mengayunkan tongkat yang penting bagi Pangeran, tetapi alasan hal itu dilakukan, dan itulah yang harus dijelaskan Bibinya. "

Dari lantai bawah terdengar bunyi pintu dapur yang hancur. Lalu tiga bunyi keras menyusul, walaupun tidak sekeras bunyi awal. Para pelayan didapur sangat terkejut sampai menjatuhkan apapun yang sedang mereka pegang.

Semua mata menatap Pangeran, yang berdiri di ambang pintu. Setiap mata, kecuali mata Sehun. Sehun tidak mendongak, tidak juga saat Jongin berdiri dihadapannya. Ia tahu Jongin ada disana. Keberadaan pria itu selalu bisa dirasakan Sehun. Tapi Sehun tidak perduli. Kalau Jongin datang semalam, Sehun mungkin akan berlari memeluk Jongin tapi sekarang ia sudah tidak perduli lagi.

" Sayang? "

" Pergilah, Jongin. "

" Sayang, tolonglah _ aku tidak tahu. " Jelas Jongin.

" Tidak tahu apa? Bahwa aku ada disini? Kebetulan yang aku tahu adalah sebaliknya. Kebetulan aku tahu bahwa kerabatmu si nenek sihir itu sudah menceritakan semuanya padamu. " Sehun masih tidak mendongak menatap Jongin. Ia tetap menggosok lantai.

" Katanya kau tidur dengan para pelayan, bukannya dia yang menempatkanmu disana. Kukira itu pilihanmu, Sayang, sama seperti sebelumnya, bahwa kau lagi lagi menolak kenyamanan yang kutawarkan kepadamu disini. Katanya kau tidak menolak pekerjaan yang dia perintahkan. Lagi lagi kukira itu pilihanmu. " Jelas Jongin.

" Yang menunjukkan saat kau berpikir, Jongin, itu hanya membuang buang waktumu. " Ucap Sehun.

" Setidaknya tatap aku saat kau menghinaku. "

" Pergilah ke neraka! " Geram Sehun.

" Sehun, aku tidak tahu kau dipukul! " Kata Jongin putus asa.

" Aku baik baik saja. "

" Apa aku harus menelanjangimu untuk melihatnya sendiri? " Ancam Jongin.

" Baiklah! Aku memang punya beberapa luka lebam, tapi sudah tidak sakit lagi. Jadi kekhawatiranmu sudah sangat terlambat. " Jawab Sehun.

" Kau pikir aku ingin hal ini terjadi? "

" Kupikir kekhawatiranmu sudah ditunjukkan dengan jelas ketika kau tidak menjelaskan kepada Bibimu kenapa kau membawaku kesini. "

" Pandang aku! " Seru Jongin.

Sehun mendongak, matanya menatap tajam Jongin, Sehun berusaha menahan air matanya. " Kau senang? Katakan padaku kau sudah cukup puas melihat aku seperti ini. Ayo cepat katakan, aku harus bekerja. "

" Kau akan ikut denganku. " Jongin mengulurkan tangan mencoba menarik Sehun.

" Tidak. " Sehun tidak sempat bergerak menghindar dari Jongin. Jongin menariknya berdiri dan dengan cepat menggendongnya. " Oh, punggungku. Dasar bajingan! Jangan sentuh punggungku! " Teriak Sehun.

" Kalau begitu pegang leherku, Hun, kalau kau tidak ingin jatuh. Aku akan tetap menggendongmu. " Ucap Jongin.

Sehun melotot ke arah Jongin, tetapi percuma. Sehun sudah mengalami begitu banyak rasa sakit sampai ia tidak bisa menanggung lebih banyak lagi kalau memang tidak perlu. Sehun merangkul leher Jongin dan Jongin segera menurunkan tangannya ke pinggul Sehun.

" Biar kukatakan padamu ini tidak berarti apa apa. " Sehun mendesis pada Jongin sementara Jongin berjalan keluar dari dapur sambil menggendongnya. " Kalau aku tidak takut akan menyakiti diriku sendiri, aku pasti akan memukulmu. "

" Kalau kau sudah merasa lebih baik, aku pasti akan mengingatkanmu untuk memukulku. Aku bahkan akan menyuruh orang untuk memberikan tongkat padamu dan aku akan berdiri tegak menerima pukulan darimu. Aku pantas menerimannya. " Ucap Jongin.

" Oh, sudah diamlah, diamlah... " Sehun tidak menyelesaikan kata katanya. Ia kesal dengan Jongin, ia ingin marah pada Jongin tapi tidak bisa. Sehun merangkul leher Jongin lebih erat, menyembunyikan wajahnya di lekuk leher Jongin.

Jongin berhenti di pintu yang hancur lalu ia memberikan perintah kepada kedua pelayannya. " Siapkan bak mandi dan brendi di kamarku segera. "

Sehun bergerak memprotes. " Aku tidak sudi terlihat dikamarmu, jadi kalau itu untukku _ "

" Kamar putih, " Jongin mengoreksi tajam. " Dan panggil dokter, suruh dokter untuk datang secepat mungkin. Kau dan kau, " Jongin menatapa kedua pelayan itu dengan tajam. " ikut denganku untuk membantunya. "

" Aku bisa membantu diriku sendiri, Jongin. Aku terbiasa mengerjakan semuanya sendiri sekarang. " Protes Sehun lagi.

Jongin mengabaikan kata kata Sehun, begitu juga kedua pelayan yang mendapat perintah dari Jongin. Setelah Pangeran pergi dari dapur, terdengar desahan secara bersamaan di dapur. Juga banyak yang terlihat berekspresi " sudah kubilang " di wajah mereka yang percaya pada ucapan Sehun tentang Pangeran yang akan membelanya kalau mengetahui cerita sebenarnya.

.

.

.

.

Setelah memasuki kamar putih, Jongin menuju tempat tidur lalu menurunkan Sehun dengan lembut di tempat tidur, ia tidak menerima ucapan terima kasih dari Sehun karena tindakannya itu. Para pelayan buru buru mengisi air mandi untuk Sehun.

" Aku tidak tahu apa yang ingin kau buktikan dengan semua perhatian ini, Jongin. Aku lebih suka kau meninggalkanku sendiri. Bagaimanapun juga, pekerjaan di dapur ku anggap sebagai pengalaman baru bagiku dan kau sudah menyatakan dengan jelas bahwa kaulah yang bertanggung jawab atas semua pengalaman baruku sejak aku bertemu denganmu. Aku benar benar berterima kasih padamu untuk itu. " Ucap Sehun.

Jongin mengernyit. Sekarang ia sadar bahwa dengan suasana hati Sehun yang buruk seperti ini, mencoba bicara dengan Sehun tidak akan berguna. Jongin bisa berkata pada Sehun bahwa sikap pengecutnyalah yang membuatnya tidak ingin menghadapi Sehun dan malah melarikan diri. Tetapi untuk sekarang, Jongin tidak ingin mengingatkan Sehun tentang kebersamaan mereka malam itu. Hal itu hanya akan menambah suasana Sehun tambah buruk padanya, seperti menyiramkan minyak ke api.

" Air mandinya sudah siap, My Lord. " Kata seorang pelayan dengan takut takut.

" Bagus, kalau begitu lepaskan kain rombengan yang dikenakannya dan _ "

" Tidak, aku tidak akan membuka pakaianku selama kau masih ada disini! " Potong Sehun dengan marah.

" Baiklah aku akan pergi. Tapi kau harus membiarkan dokter memeriksamu kalau dia sudah datang. " Ucap Jongin.

" Itu tidak perlu! Aku tidak mau diperiksa. " Tolak Sehun.

" Sehun! " Tegur Jongin

" Oh, baiklah, aku akan menemui dokter sialan itu. Tapi kau tidak usah repot repot kembali kesini, Jongin. Sekarang pergilah, sudah tidak ada lagi yang ingin kubicarakan padamu. " Ucap Sehun.

Jongin pergi ke kamarnya melewati pintu penghubung, tetapi tepat sebelum ia menutup pintu, suara terkesiap salah seorang pelayan membuatnya menoleh, dan ia dihadapkan pada pemandangan kemeja Sehun yang sudah terlepas. Jongin merasa napasnya tertahan di tenggorokan. Punggung Sehun memperlihatkan bilur bilur biru, cokelat dam kuning dengan warna ungu tua dalam garis panjang di bekas tongkat menghantamnya.

Jongin kembali berbalik lalu menutup pintu, ia menyandarkan kepalanya dan memejamkan matanya dengan rapat. Tidak heran Sehun menolak mendengarkannya. Sehun sudah terlalu banyak menderita dan itu semua karena kelalaiannya. Hal ini terjadi karena kebodohannya tapi Sehun membiarkannya lolos dengan mudah. Sehun bahkan tidak meneriakinya. Ya Tuhan, aku berharap Sehun meneriakkan amarahnya padaku. Pikir Jongin. Dengan begitu setidaknya ia mungkin masih punya harapan untuk kembali meraih Sehun.

Ia ingin membuat Sehun mengerti bahwa ia akan melakukan apa saja untuk memutar balik waktu, menghilangkan rasa sakit Sehun dan ia ingin mengatakan pada Sehun bahwa hal terakhir yang diinginkannya adalah menyakitinya. Demi Tuhan, yang ingin dilakukan Jongin hanyalah mencintai Sehun.

Jongin berjalan keluar dari kamarnya menuju perpustakaan. Saat masuk ke dalam perpustakaan ia melihat Bibinya berdiri disamping jendela, menatap kebun buah diluar, punggungnya tegak, tangannya saling mencengkeram didepan tubuhnya. Jongin tahu Bibinya sedang menunggu dirinya. Jongin menduga Bibinya sudah mendengar bahwa ia sudah menemui Sehun dan membawa Sehun kembali ke kamar putih dan Jongin tahu Bibinya pasti menduga ia akan marah. Jongin memang sangat marah tapi kemarahan itu ditujukan kepada dirinya sendiri. Hanya sedikit amarah yang ditujukan pada Bibinya.

Dengan perlahan Jongin mendekati Bibinya, berdiri menatap pemandangan yang sama. Kelelahan meliputi diri Jongin sebelum berucap. " Aku meninggalkan seseorang disini di dalam keamanan rumahku sendiri. Saat aku pulang, aku mendapati dirinya mengalami siksaan. Kenapa, Bibi Heechul? Sehun tidak mungkin melakukan sesuatu yang pantas mendapatkan perlakuan seperti itu. "

Heechul lega mendengar suara lirih Jongin, dan mengira Jongin tidak semarah yang diberitahukan para pelayan kepadanya. " Kau bilang padaku dia tidak penting, Jongin. " Heechul mengingatkan.

Jongin mendesah. " Ya, aku memang mengucapkannya dalam keadaan marah. Tapi apakah itu memberimu hak untuk menyakitinya? Aku juga berkata padamu bahwa ini bukan urusanmu lalu kenapa kau ikut campur? "

" Aku mendapatinya keluar dari kamarmu. Kukira dia mencuri sesuatu. " Elak Heechul.

Jongin berbalik menghadap Bibinya dengan tatapan tidak percaya. " Mencuri dariku? Oh, Tuhan! Mencuri dariku kau bilang! Dia menolak semua yang ingin kuberikan kepadanya. Dia membenci kekayaanku. "

" Bagaimana aku bisa tahu itu? Aku hanya ingin menggeledahnya saja, tapi dia begitu keras kepala. Bagaimana aku bisa mengabaikan sikap kurang ajar seperti itu di depan para pelayan yang lain? " Heechul mencoba membela dirinya.

" Dia seorang pria Inggris. Dia tidak mengerti peraturan dan adat kuno negara ini. " Ucap Jongin.

" Sebenarnya siapa dia bagimu, Jongin. " Tuntut Heechul. " Dia simpananmukan? "

" Dia bukan simpananku. Aku berharap dia simpananku, tapi sayangnya bukan. Aku benar benar tidak tahu siapa dia, mungkin dia anak haram seorang Lord Inggris, tapi itu tidak penting. Aku membiarkan dia memerankan peran seorang bangsawan sewaktu kami berada di kapal. Dia tidak punya alasan untuk merasa harus mengubah sikapnya disini, bahkan untukmu. Yang terpenting disini adalah dia berada di bawah perlindunganku. Demi Tuhan, Bibi Heechul, dia memiliki tubuh yang kurus. Tidakkah terpikir olehmu bahwa pukulan seperti itu akan membuatnya cacat permanen? Bahkan membuatnya lumpuh? " Ucap Jongin lembut tapi tajam.

" Mungkin kalau dia menunjukkan sedikit kelemahan, aku akan memakluminya. Tapi ia tetap bersikeras. Baru tiga hari setelah dipukul, dia sudah melesat melintasi desa dengan menunggang kuda. " Ucap Heechul.

" Itu tindakan putus asa dari dia. " Lirih Jongin.

" Omong kosong, Jongin. Itu hanya pukulan ringan. Kalau dia benar benar terluka, dia tidak akan sanggup _ "

" Tidak terluka! " Amarah Jongin meledak, ia akhirnya menunjukkan emosinya yang sebenarnya pada Bibinya. " Sekujur punggungnya penuh bilur dan lebam! Dan kau masih saja meragukan apakah dia benar benar terluka?! "

Wajah Heechul memucat. Jongin mencengkeram siku Heechul lalu menyeret Heechul keluar dari perpustakaan. " Bibi Heechul, awalnya aku berniat meninggalkan Sehun disini, di Novii Domik selama beberapa minggu sampai _ well, alasannya tidak penting. Tapi niatku masih tetap sama. Dan dalam situasi ini, aku tidak bisa membiarkan kau berada di satu tempat dengan Sehun. Kurasa sebaiknya kau pergi mengunjungi salah satu keponakan perempuanmu untuk sementara. "

" Ya, aku akan pergi hari ini juga... Jongin, aku tidak sadar... Dia kelihatan begitu kuat, walaupun... Aku tahu itu bukan alasan _ " Heechul bergegas pergi, ia tidak bisa menyelesaikan ucapannya, ia tidak mau menghadapi tuduhan dan amarah Jongin lebih lama lagi.

" Tidak, yang kau ucapkan tadi bukanlah alasan, Bibi Heechul. Aku tidak marah padamu, tapi kumohon kau pergilah untuk sementara. " Gumam Jongin.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC / END?

Moga suka ama chapter ini.

Kekeke pada nungguin Sehun hamil yaaa? Sabar yaaa masih prosess.

Ehhh pasti udah pada liat MV Call Me Baby kan? Oh Goshhhh aku teriak2 gaje mulu liat MV nya.. Mereka ganteng plus hot semuaaaaa...

Dan ada yg perhatiin goyang pinggulnya si Jjong... Woowww otakku langsung turn on yadongnya. Menjiwai banget dahh si Jjong goyangnya o

Mohon reviewnya yaaaaa... review kalian bikin aku semangat