Another Destiny : ZERO

Disclaim : M. Kishimoto

Warning : Typo, OOC, Alur Kecepetan + berantakan, Banyak kekurangan

Genre : Adventure - Family - Romance (sedikit)

Rate : T (semi M)

Pair : ?

Summary : Bagaimana jika Naruto bukan anak dari Minato dan Kushina. Dan juga warga biasa yang memiliki sedikit chakra. Tapi ramalan menyebutkan dia akan membawa perdamaian untuk dunia Shinobi. Bagaimana kisah perjalanan Naruto untuk mencapai perdamaian tersebut … Check This Out

.

.

.

.

Seekor burung falcon terbang beranjak diri dari salah satu pohon di tepi padang rumput. Sayap berwarna cokelat yang mengepak di angkasa sangat kontras dengan warna langit yang cerah. Awan terbang mengikuti arus, juga matahari yang bersinar terang. Menghias udara dengan nuansa kuning yang sama. Siang yang terik ... tapi tidak menyulut warga Desa Daun Tersembunyi untuk menghentikan aktivitasnya. Terbukti masih banyak orang yang berlalu lalang, toko dan destinasi yang tak pernah sepi pengunjung.

Pemuda bersurai salju terlihat membuka pintu sebuah rumah kecil bertingkat. Dia melepas sepatu Shinobi-nya dan menaruh di rak semestinya. Dia menginjakkan kakinya di lantai kayu yang lebih tinggi di sebelah kanan. Berjalan dua langkah dan berbelok ke kiri menuju lorong pendek yang menghubungkannya dengan ruang tamu.

Pemuda bernama Naruto tersebut mengedarkan pandangan sejenak. Melihat ruangan minimalis bernuansa putih biru. Ruang tamu secara langsung terhubung dengan dapur, tapi tidak sepenuhnya. Terdapat dinding kayu yang memisahkan sebagian, yang ia ketahui dinding dari kamar ibunya. Di belakangnya (jika di lihat dari pintu kamar) terdapat tangga yang menuju lantai dua. Di mana tempat kamarnya berada. Dia berjalan menaikinya.

Naruto membuka pintu dari satu-satunya kamar di lantai atas. Kamarnya menghadap ke selatan. Terdapat ranjang berukuran sedang dengan kasur putih dan selimut biru, di sisi barat. Meja kecil di sampingnya dan satu lemari besar. Satu meja besar di sudut berlawanan, yang ia gunakan sebagai meja belajar. Dua jendela di sampingnya, dengan gorden putih terbuka. Dan satu pintu di samping jendela yang menghubungkan dengan balkon. Satu pintu lagi di sudut barat, berlawanan dengan ranjang yang di gunakan sebagai kamar mandi. Rumahnya tidaklah besar, hanya bertingkat. Di dalamnya ada tiga kamar, kamarnya dan kamar ibunya yang terpakai. Satu kamar tamu, mungkin.

Naruto melangkah tanpa bersuara menuju pintu balkon yang terbuka. Senyumnya mengembang mengetahui ada orang di sana. Dia menggeser tubuhnya di belakang kursi kayu panjang berbantal. Memandang wanita yang sedang duduk manis tengah merajut. Balkonnya cukup luas, seluas kamarnya di bagi dua bisa dikatakan. Dulu ia lebih sering menghabiskan waktu di sini bersama ibunya ... dulu. Rumahnya membelakangi padang rumput dan pepohonan, jadi balkonnya menghadap ke sana.

Naruto melingkarkan kedua tangannya di leher ibunya ... lembut. Bagaimanapun ibunya itu sedang merajut. Dia tidak akan mengambil konsekuensi akan melukai ibunya jika membuat wanita itu terkejut. "Tadaima ..." Ujarnya ceria dan mengecup pipi ibunya dari samping.

Rika terkesiap menghentikan kegiatannya. Matanya mengerjap ... mencerna sesaat. Sebelum menghela nafasnya perlahan, dan tersenyum. Dia memang menghetahui ... ralat, merasakan jika putranya itu sudah pulang. Tapi itu tidak memastikan jika Naruto pulang ke rumah. Lagi pula putranya itu selalu mengucapkan salam sebelum masuk ... ini pertama kalinya. Jadi cukup membuatnya terkejut. "Okaerinasai Naru ..." Balasnya sedikit menolehkan kepalanya. Menaruh rajutannya di pangkuan, tidak berniat melanjutkannya kembali.

Naruto tertawa geli. Sedikit memundurkan kepalanya, dan membenamkan wajahnya di relung leher ibunya. Menghirup dalam-dalam wangi surai sejuk yang menutupinya. Hahh ... dia sempat berpikir tidak akan bertemu wanita ini lagi. Betapa bodohnya, rutuk Naruto. Bagaimana bisa dirinya meninggalkan wanita ini, terlebih dia tidak akan bisa hidup tanpanya meski dalam surga sekalipun. Jika boleh jujur ... dia begitu merindukan ibunya saat ini. Padahal misinya kemarin hanya lebih dari dua minggu. Sebelumnya bahkan bisa sampai tiga bulan. Apa seperti itu yang dirasakan ibunya selama ini ... entahlah, dia tidak benar-benar mengerti. Yang jelas itu sedikit ... menyakitkan. Dia jadi berpikir, apa yang akan terjadi jika nanti ia akan bermisi lagi. Apa sebaiknya dia berhenti menjadi Shinobi? Ohh ... kau semakin bodoh Naruto.

"Kaa-san, Naru punya kabar baik ... dan buruk." Ujar Naruto mengangkat kepalanya, tanpa beranjak dari posisinya. Kepala mereka masih beradu.

"Benarkah ..." Rika menolehkan kepalanya, tidak sepenuhnya jelas. Hanya sebagai reaksi. "Apa boleh Kaa-san mengetahuinya?"

"Umm ..." Naruto melirikkan matanya ke samping atas, tampak menimang. "Kaa-san harus memilih salah satu?" Dia kembali menatap wajah ibunya.

Rika mengernyit, sedikit kesal. Apa harus seperti itu? Pikirnya merujuk maksud putranya tersebut. "Baiklah ..." Dia toh menyetujui, yakin jika putranya tidak akan macam-macam. "Kaa-san memilih kabar baik." putusnya.

Sekarang ganti Naruto yang mengernyitkan alis, bingung jelas. Bukannya kabar buruk lebih tampak mengkhawatirkan, "Kenapa?"

"Karena kau tidak pernah membawa kabar baik." Jawab Rika tanpa menyinggung perasaan putranya.

Ahh ... Naruto meringis. Apa itu artinya ia hanya membawa kabar buruk selama ini ... oh tuhan. "Umm ... kabar baiknya," Naruto mendekatkan sekali lagi wajahnya. Dia memejamkan mata, "... anata ni aitai." Suaranya berupa lirihan tulus. Dia tidak cukup kesulitan untuk mencium pipi ibunya saat ini. Dan lebih lama dari tadi.

Rika membeku ... mengerjap sekali lagi. Citra antara anak kepada ibu tidak cukup membuatnya merona. Tapi ia lupa ... kapan terakhir kali jantungnya berdetak sekeras ini. Tidak lama ekspreainya kembali normal, lembut. Semuanya terkendali, juga jantungnya. Dan semua tetap kembali lagi ... ibu dan anak. Akan selalu seperti itu. Karena memang untuk itu cintanya diciptakan. Dia menolehkan kepalanya lagi ke depan, "Ecchi ..." gumamnya tapi menekan. Matanya tetap lurus, bibirnya tertarik, menyembunyikan nada gelinya.

Naruto tersentak. Raut wajahnya tampak seperti tertampar keras. "Ouh ..." Lenguhnya mempermalukan diri. "Sangat membantu Kaa-san." Dia melepaskan rengkuhannya enggan. Wajahnya merengut dan melangkah masuk.

Rika tidak bisa menahan tawa gelinya. "Apa kau sudah makan?" Serunya dan melanjutkan kegiatan tertundanya.

"Belum." Jawab Naruto terdengar normal. Cukup tahu jika tadi tidak sungguhan. Tapi bagaimanapun ... disebut mesum oleh ibumu sendiri tetap bukan sesuatu yang baik. Dia menanggalkan ikat kepala dan kaosnya.

"Apa perlu Kaa-san buatkan makanan?" Rika menghentikan kegiatannya sejenak mengkonfirmasi.

"Tidak perlu Kaa-san ..." Naruto berseru dari kamar mandi. "Naru hanya ingin membersihkan diri, dan istirahat ... mungkin." Dia menutup pintu dan berjalan kearah kaca. Memandangi safirnya yang berbinar, meski terdapat garis keunguan di bawahnya. Dia tampak lelah. Sebenarnya, kabar buruk yang dimilikinya hanyalah ... insomnia. Dirinya benar-benar kacau empat hari terakhir di Kirigakure. Irisnya meredup kembali saat teringat hal itu.

Falshback On

Naruto melenguh pelan dengan nafas tenang. Matanya melihat ruangan dengan gradiasi putih. Dia merasakan bau asing saat menarik nafas. Tangannya terangkat menyentuh oksigen cannula yang berada di hidungnya. Dia menarik dan melepaskan alat itu dari kepala. Menarik nafasnya pelan dan panjang, dia bangkit duduk dan menyibak selimut yang menutupinya. Kakinya jatuh bebas di sisi ranjang. Dia menolehkan kepalanya melihat jendela, gelap ... mungkin malam.

Naruto tetap seperti itu dalam waktu lama. Perasaanya tidak enak, meski dalam ketenangan. Cukup tahu jika terjadi sesuatu ... dan dia tidak tahu. Dia menoleh kearah pintu melihat seseorang masuk. Senseinya ... masih mengenakan baju Shinobinya, hanya tanpa rompi. Dan rambutnya tergerai.

"Ah ... kau sudah bangun," Kushina sedikit terjengit dan melangkah masuk. "Bagaimana keadaanmu?" Dia memutuskan duduk di samping Naruto.

Naruto tersenyum lemah, namun ramah. "Sudah baik ... berapa hari aku pingsan?"

"Dua hari. Aku tidak menyangkanya, padahal kondisimu kritis saat itu."

"Syukurlah kalau begitu ..." Naruto menanggapi ceria. Mencoba mengenyahkan perasaan resahnya yang tidak jelas.

Cukup lama terjadi keheningan di antara mereka. Membuat Kushina tidak nyaman. Dia bukan orang yang suka keheningan. Tapi alasan sebenarnya ... karena dia gelisah untuk suatu alasan. "Naruto-kun ..." Dia berujar ragu.

"Dimana Haku?" Naruto langsung menyela. Nadanya getir meski ceria. Satu kejelasan yang ia dapat ... perasaan resah itu anehnya tertuju pada Haku. Dia mempunyai asumsi ... yang sangat ditentangnya saat ini. Seharusnya temannya itu ada di sini, menungguinya. Bukannya ia egois ... hanya dia benci mengakuinya. Dia berharap mungkin temannya itu sedang pergi, atau tidur mengingat sekarang sudah malam. Yang pasti akan kembali.

Kushina menunduk. "Haku, dan Zabuza ..." Dia hanya menggumam tanpa melanjutkan.

Meski menolaknya, Naruto tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Matanya terbelalak menatap Kushina. Tapi hanya sesaat, dan dia membawa kembali pandangannya kearah jendela.

Kushina menatap nanar, tahu jelas yang tengah dirasakan Naruto. Dan muridnya itu sedang menahannya. Pengendalian diri yang mengagumkan. Tapi tidak di matanya ... ia tahu muridnya tidak akan sekuat itu. Menarik nafasnya, "Dia mencoba melindungi Zabuza. Dan karena dikuasai rasa marah, Zabuza membantai sebagian besar musuh seorang diri. Membuatnya juga terluka fatal. Hal itu yang membuat kita mengambul alih saat itu. Semua terjadi secara tiba-tiba. Bagaimanapun itu peperangan." Dia menjelaskan tanpa mengalihkan pandangannya.

Tidak tahan ... Kushina menarik kepala Naruto, menyandarkan di dadanya. "Kau tidak perlu menahannya bodoh," ujarnya memeluk muridnya itu. "Kau tidak harus menyandang nama Shinobi stiap saat." Erangnya parau. "... Kau tidak perlu membunuh perasaanmu saat ini. Hal itu perlu, kau tahu."

Naruto yang memang sedari tadi menahan emosinya, sekarang terisak di pelukan Kushina. Isakannya tertahan, tidak cukup yakin jika menangis akan memperbaiki keadaan. Walau toh perasaanya sudah pecah lewat isakan itu. Ini pertama kalinya ... dia kehilangan orang secara langsung. Terlebih ia menganggap itu semua karena dirinya. Firasat Haku sepenuhnya salah ... Bukan dia yang meninggalkannya, tapi Haku-lah yang akan meninggalkan dirinya. Dan semua itu benar.

"Kata-kata terakhirnya ..." Sela Kushina menenangkan muridnya. "Aku memaafkanmu."

Sekali lagi mata Naruto membulat. Sadar apa maksud kata-kata itu. "Bodoh ..." Dia merutuki temannya tersebut, meski tepatnya dia merutuki dirinya sendiri. Bisa-bisanya disaat terakhir, justru hal itu yang terpikirkan olehnya. Kami-sama …

Flashback Off

Naruto memakai handuk sekenanya di rambutnya. Dia memakai kaos putih polos berkancing atas dan celana abu-abu selutut. Menghela nafasnya panjang, mencoba mengalihkan pikiran suramnya. Empat hari tanpa tidur seharusnya mampu membuatnya menerima kenyataan. Seandainya memang ... jika Haku melihatnya saat ini, pasti tidak akan senang. Dan dia tidak menginginkan hal itu. Barangkali memang hal itu yang diingankan temannya tersebut. Bisa menjadi sosok yang berguna bagi ayahnya. Satu-satunya hal yang ia sesali ... kenapa bukan dia yang mengulurkan tangan pertama kali padanya. Dia sudah berjanji ... tidak akan melupakannya sampai kapanpun. Setidaknya dia tulus, dan itu menjadi persembahan terakhirnya. Tidak ... itu memang yang akan dilakukannya meski Haku tidak di sisinya.

Naruto membiarkan kancing atasnya terbuka dan berjalan keluar balkon. Wajahnya tampak berseri kembali. Tentu saja ... ada ibunya yang ia yakin tidak akan pernah meninggalkannya. Wanita itu selalu saja bisa membuat segalanya menjadi normal kembali, lebih baik. Seperti itulah rumah tempatnya pulang. "Apa Naru menganggu?" Tanyanya melangkah ke sisi ibunya.

Rika menolehkan kepalanya melihat Naruto. Dia menggesar duduknya menepi dan meletakkan rajutannya di dalam kotak di atas meja. Dia tersenyum manis, "Tentu tidak sayang ..." dan merentangkan satu tangannya.

Narto tersenyum lebar dan membaringkan tubuhnya. Mengambil posisi nyaman. Dia membalikkan wajahnya dan melingkarkan tangannya di pinggang ibunya. Membenamkan wajahnya di perut ramping ibunya itu. Wangi yang tidak pernah berubah ataupun berkurang. Bahkan semakin pekat saat sedekat ini. Dia bingung ... rambut dan tubuh ibunya selalu berwangi sama, jenis maupun banyaknya.

Rika tersenyum geli melihat tingkah putranya. Dia menegakkan badannya memberi posisi nyaman. "Kau baik-baik saja?" Tanyanya lembut namun cemas. Naluri seorang ibu membuatnya merasakan kesedihan putranya sekecil apapun itu.

Naruto bergeming masih beringsut. Kagum dengan kenyamanan yang amat sangat familiar, namun tidak pernah membuatnya bosan. Sebaliknya dia selalu menginginkan setiap waktu. Sejuk, hangat, harum ... segala apapun yang dimiliki ibunya begitu menenangkan serta mengundang. Ia yakin insomnianya akan terobati hanya dengan beberapa jam tidur siang.

"Naru ..." Kini Rika tidak bisa menyembunyikan nada cemasnya. Tagannya berada di bahu Naruto.

Naruto melepaskan rengkuhannya dan memundurkan wajah. Tangan kanannya kini ikut diletakkan di pangkuan ibunya. Dia menatap keatas, ke wajah cemas ibunya. Dia tersenyum, namun matanya sulit diartikan. "Apa suatu saat ... Kaa-san akan pergi?" gumamnya berat.

Rika menyipitkan matanya sesaat. Lalu tersenyum dan menyentuhkan tangannya di kepala Naruto. Ibu jarinya bergerak pelan, "Kaa-san tidak bisa melawan takdir ..." dia menatap iris putranya yang bergetar saat ia mengatakan itu. "Tidurlah ... Kaa-san akan selalu di sisimu. Kaa-san berjanji." Bujukya mengisyaratkan bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Naruto tampak melembut kembali. Dia memejamkan pelan matanya serta memiringkan kepalanya sedikit. Mengambil nafas panjang dan menghembuskannya. Dibandingkan dengannya ... ibunya lebih tahu apa yang terbaik. Ia yakin.

Senyum Rika perlahan memudar. Kini hanya digantikan kuluman pelan di bibirnya. Sudut matanya kembali ke dalam. Iris violetnya tampak putus asa ... seharusnya dia tidak boleh seperti ini. Meskipun putranya tidak melihatnya tapi itu bukanlah hal benar. Dia tahu, suatu waktu Kami-sama pasti akan mengambilnya terlebih dahulu. Dan itu sudah takdir. Tapi ia yakin ... apapun yang terjadi dia dan putranya akan selalu bersama, dia cukup yakin. Tidak ada hal yang terlihat mampu memisahkan ibu dan anak, satupun itu.

Rika tersenyum kembali. Dia sendiri yang mengingatkan ... jika tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Matanya menatap lembut, ia menyusupkan jemarinya di rambut Naruto yang masih basah. Apa tidak apa-apa putranya tidur seperti ini? batinnya sedikit khawatir. Toh dia tahu jawabannya. Dia menyisir kembali rambut Naruto dengan jarinya. Kini dia berpindah ke wajah putranya. Ibu jari dan telunjuknya menyusuri sudut kening hingga pipi putranya yang dingin ... mungkin seusai mandi. Jemari lentiknya Itu berwarna senada dengan kulit pualam Naruto.

Rika tertawa kecil dengan raut senang. Matanya mengaman wajah polos Naruto yang lelap, bernafas lembut dan teratur. Kenapa ia harus menyurami hal yang tidak perlu ... jika dengan hanya keberadaan putranya ini dia bisa bahagia. Sungguh bodoh bisa melupakan hal penting. Dia mengacak rambut Naruto pelan dan tertata. Menghela nafasnya ... kebiasaan buruk buah hatinya tidak pernah serius saat mengeringkan rambut.

Suasana hatinya kembali normal. Yang jelas ... pangkuannya akan sedikit basah setelah ini.

.

"Sejauh yang kita dapat ... Akatsuki tidak mempunyai niat mengumpulkan biju." Minato berujar tenang menopang dagu. Tatapannya menerawang.

"Yang jelas itu masalah besar Minato." Hiruzen menyahuti yang berdiri di belakang. "Lebih baik ... Naruko tidak keluar desa." Peringatnya bersungguh-sungguh.

"Tidak ..." Perkataan Minato sukses membuat dua orang lain menoleh kearahnya. "Kita tidak punya cukup alasan untuk menahannya. Naruko bukan anak yang akan menuruti larangan tanpa alasan yang masuk akal."

"Itu alasan yang masuk akal ttebane ..." Kushina berseru marah. Dia bersandar di bahu jendela sisi lain. "Aku tidak akan membiarkan putriku dalam bahaya."

"Kumohon percayalah padanya Kushina ..." Minato meyakinkan. "Aku tidak akan melakukan ini tanpa pertimbangan. Aku akan menyerahkannya pada Sensei ... sudah waktunya baginya." Imbuhnya menyandarkan sikunya di sisi kursi.

"Ini terlalu dini Minato." Kushina masih bersikeras.

Minato menghela nafas pelan. "Mengendalikan chakra Kyuubi bukan masalah yang mudah. Jika tidak memulainya dari sekarang, itu hanya akan menambah tingkat bahayanya."

"Kita akan melindunginya Minato." Hiruzen juga menacoba meyakinkan.

"Akan lebih baik jika dia sanggup melindungi dirinya sendiri." Minato juga kokoh dengan keputusannya. Setidaknya dia yakin. "Kalau begitu ... kita akan membahas ini lain kali." Helanya mengalihkan pembicaraan. Dia menatap Kushina, "Bagaimana ... apa kau akan merekomendasikan Naruto?" Tanyanya.

Kushina mengambil nafas panjang. Sedikit menyesal telah memberikan informasi lebih sepesifik kepada suaminya. Mungkin benar kata suaminya tersebut ... dia hanya tidak bisa mempercayai putrinya. Seharusnya dia ingat ... jika mereka telah mempercayakan beban besar kepada putrinya itu. Tapi bagaimanapun sebagai seorang ibu, dia tidak bisa benar-benar rela Naruko akan menanggung itu semua. Kasih sayangnya melebihi apapun.

"Mungkin iya ..." Kushina melangkah ke pintu. "Aku akan mencoba meyakinkannya." Dia keluar ruangan dan menyusuri lorong. Satu tangannya terangkat mengusap sudut keningnya. Dia harus berupaya agar lebih tenang. Terlalu bergelut dengan pikirannya hanya akan memperburuk diri. Semua ini ... terjadi semenjak bertemu orang bertopeng itu. Terlebih dengan mengetahui jika orang tersebut anggota Akatsuki ... dan mengincar biju. Dia bukanlah orang yang pendendam. Tapi dalam dirinya sungguh ingin membalas perbuatannya 13 tahun lalu. Hal itu juga membuat temannya ... Mikoto Uchiha, harus menjadi korban ketidakadilan.

Kushina mengepal erat tanpa sadar. Saat mengangkat kepalanya ... tidak pasti tahu, tapi seluruh kegundahannya lenyap perlahan. Dia melihat dua orang, ibu dan anak, sedang berjalan tenang diselingi obrolan. Hah ... entah sihir apa yang dipakai muridnya tersebut. Meski menyebalkan dan selalu membuatnya panik, tapi muridnya itu satu-satunya orang yang lebih mengisi harinya dengan warna. Kesibukan suaminya, kehidupan putrinya sebagai Shinobi ... membuatnya lebih sedikit menghabiskan waktu dengan keluarga. Mungkin dulu, saat kecil ... dia tidak merasa keberatan meski tidak mempunyai keluarga. Hanya dengan cinta dan mencintai seorang Mintao dia sudah merasa cukup. Tapi sekarang ... dia seorang ibu, juga ibu rumah tangga. Bukan kesalahan jika dia ingin lebih banyak waktu dengan putri dan suaminya.

Kushina tertawa ... dia sangat tidak menyesali keputasannya untuk menjadi Kunoichi lagi. Kenyataan hal itu mampu mengalihkan hari sendirinya menjadi lebih berarti. Ditambah dengan Naruto yang menjadi timnya. Walau hari-harinya dipenuhi bahaya ... justru hal itu yang membuatnya lebih berwarna. Tingkah dan kepolosan muridnya menjadi hal tersendiri baginya. Naruto lebih bersikap seperti anak kecil di balik kedewasaannya. Dia tidak sepenuhnya tahu ... tapi muridnya itu benar-benar polos menurutnya. Sangat menyenangkan menghabiskan hari bersamanya. Bukan berarti Kushina melupakan keluarganya, itu tidak mungkin. Bagaimanapun keluarganya darah dagingnya, cintanya. Tapi ... bisa dibilang Naruto ia anggap sebagai putranya juga. Ohh ... dia tidak yakin jika Rika akan mengizinkan hal itu.

Kushina ganti menyeringai melihat Naruto berjengit. Dia tidak bisa meremehkan Sensor muridnya itu. Tanpa membuang waktu dia mempercepat langkahnya. Langsung mencekal tangan Naruto saat sudah sampai. Ara ... muridnya itu mencoba kabur ternyata. Sontak saja perbuatannya membuat Naruto dan Rika berjingkat kearahnya.

"Sensei ..." Ujar Naruto terbata dengan keringat dingin. Dia tersenyum canggung menatap Kushina.

"Owh ... aku harap kau tidak melupakannya Naruto-kun." Kushina membungkuk dan berbisik saat mengatakannya. "Aku belum memberi hukuman padamu ttebane." Lanjutnya penuh penekanan.

"Ne, Rika-chan ... bolehkah aku meminjam putramu sebentar?" Kushina menatap lembut kearah Rika.

"Asal kau mengembalikannya Kushi-chan." Rika menggerling kepada putranya.

Kontan saja Kushina menarik Naruto. "Aku bukan barang," Naruto hanya mampu menggerutu berjalan terseret.

Rika tersenyum penuh arti, sedikit geli melihat tingkah dua sosok itu. "Tentu saja ... kau putraku." Gumamnya pelan dan berbalik melanjutkan langkahnya. Setidaknya … putranya mempunyai kesenangan lain.

.

Dan di sinilah mereka. Duduk di salah satu kursi yang tersedia di pinggiran Konoha. Menghadap langit sore. Ditemani angin lembut yang menerpa dedaunan juga menggerakkan rambut merah dan silver mereka.

Naruto melahap es krim terakhir di tangannya. Menyisahkan batang kayu yang ia mainkan di jarinya. Dia melirik kearah Kushina ... yang masih menikmati es krim, masih utuh bahkan. Heh ... jangan salahkan jika dia tidak begitu menyukai es krim. Jadi dia memakannya besar-besar hingga cepat habis. Dan, hampir saja ia mati ketakutan hukuman apa yang akan diberikan Kushina ... mengingat Senseinya itu kelewat jahil. Ternyata cuman kencan toh. Begitulah Senseinya menyebutnya tadi.

Kushina terlihat mengeluarkan sesuatu di balik gaunya. Tiga kertas persegi berwarna cokelat, yang ia angkat tinggi-tinggi di depan Naruto.

Naruto mengerutkan alis bingung. Mengambil salah satu kertas yang digenggam Kushina. "Apa ini Sensei?" Tanyanya memandangi kertas di tangannya.

"Formulir pendaftaran ..." Kushina berkata tanpa menolehkan kepala. Sesekali mengulum es krimnya. "Ujian Chūnin ... Aku merekomendasikanmu. Tapi kau berhak memilih ikut atau tidak. Sebenarnya aku juga tidak terlalu menginginkannya, tidak yakin dengan kondisimu setelah kemarin. Tapi aku tidak ingin kau menjadi Genin ... sementara teman setingkatmu naik pangkat. Tidak hanya murid junior yang ikut, bahkan kebanyakan orang dewasa. Desa lain juga berpatisipasi. Tapi kau tahu ... bukan itu yang aku khawatirkan."

Naruto melemparkan asal batang es krim di tangannya. "Bukannya persyaratannya harus tiga Genin dalam satu tim?" Dia mengangkat alisnya menatap Kushina.

"Benar ... Minato sudah mengurus hal itu. Jika kau memutuskan ikut, kau tinggal mengisi formulirnya dan mengantarnya ke ruang 301 jam 3 sore dua hari lagi. Semua tim sudah mendapatkannya lima hari yang lalu. Kau bisa melihat banyak Ninja lain berada di Konoha saat ini."

Naruto mengangguk mengerti. Dia juga beberapa kali berpapasan dengan orang asing. "Apa boleh aku tidak ikut?"

"Tentu saja ..." Kushina mengernyitkan alis. "Sudah kubilang kau berhak memilihnya. Tapi kau harus memiliki alasan yang jelas."

"Aku ... hanya suka jika Sensei tetap menjadi pembimbingku." Jawab Naruto ringan. Namun sungguhan.

Kushina terdiam. Tangannya masih memegang es krim yang sekarang berada di mulutnya, membuatnya tampak penuh. Matanya melirik kearah Naruto yang tersenyum lebar. Perlahan dia menarik es krimnya, mulutnya terasa keluh setelah es batangan itu bersarang lama di dalamnya. Berbeda dengan pipinya yang memanas. "Aish kau ini ..." Desisnya mengalihkan pandangannya ke depan. "Lagi pula ... meski kau menjadi Jounin aku tidak yakin akan melepaskanmu."

Naruto tertawa. "Begitu lebih baik."

"Tapi ... sepertinya ini termasuk misi rahasia. Aku tidak terlalu mengerti, Minato mengatakannya begitu." Kushina terdengar muram.

Wajah Naruto berbubah serius. "Orochimaru ya ..." Gumamnya yang hanya mampu terdengar dirinya. "Baiklah ... aku akan ikut." Dia kembali ceria. Melipat dan memasukkan kertas tadi di sakunya.

"Kau tidak perlu memaksanya ttebane ..." Ujar Kushina kesal. "Minato masih bisa menyuruh orang lain untuk melakukannya." Meski dia tidak tahu misi apa sebenarnya yang dimaksud suaminya. Yang jelas ia hanya khawatir dengan muridnya.

Naruto bangkit berdiri dan melangkah ke depan Kushina. "Sensei tidak perlu khawatir ... aku akan baik-baik saja." Dia tersenyum dan merundukkan kepalanya.

Kushina was-was. Dia mencengkram erat batang es krim di tangannya, berada tepat di depan wajahnya.

Naruto nyengir dan membuka mulut. Melahap es krim terakhir di tangan Senseinya. Menariknya dengan satu katupan gigi, hingga menyisahkan batangnya saja. Dia tertawa lebar dan berlari. "Jaa ... Habanero-Sensei"

Meninggalkan Kushina yang mematung. Matanya kosong ... hingga berkilat marah setelah itu. Wajahnya memerah padam. "Murid sialan ..." Teriaknya menggema di pepohonan.

Dia memandang batang kayu di tangannya. Seulas garis melengkung keatas terbentuk di bibirnya yang masih basah.

"Apa iya aku menganggapnya putraku ..." Batinnya memandang surya.

.


Konohagakure, 1 Juni 02.40 PM

Naruto berjalan pelan sesekali menggeluti pikirannya. Tanpa menghilangkan fokus. Dia berbelok pada simpangan di depannya. Terdapat gang kecil yang menghubungkan dengan sisi jalan lain. Terapit oleh dua bangunan. "Kata Sensei di sini." Batinnya mengelilingkan pandangan.

Sekelebat bayangan muncul di tempat itu, di depan Naruto. Terlihat seorang pemuda setinggi Naruto, berambut cokelat lebat sedikit ikal. Memakai kemeja hitam dengan rompi putih tipis yang membungkusnya. Celana panjang hitam yang terlilit tempat Shuriken di sebelah kanan. Kulitnya cerah dan mempunyai iris hitam. Senyumnya hangat.

Dan satu orang lagi ... Gadis berperawakan mungil bersurai orange gelap, lebih ke brown, tapi masih emas. Yang tergerai sepunggung. Poninya terurai ke tiga sisi. Dua sisi membingkai sisi tengahnya. Menutupi ikat kepalanya. Memakai dress berwarna lilac sepanjang paha. Sepatu hitam panjang menutupi betis. Berkulit cerah, lebih cokelat ketimbang dua laki-laki di dekatnya. Irisnya berwarna jade lembut. Dia mengulum permen stick di mulutnya. Wajahnya ceria.

"Sashiburi desu ... Zero." Sapa hangat pemuda tadi kepada Naruto.

Naruto tersenyum ramah. Mampu menyembunyikan keterkejutannya. Bagaimanapun ... anak di depannya memanggilnya Zero dalam wujud ini. Tapi berselang singkat ... dia tersentak. "Kuma ... Risu," Ujarnya terbata menatap mereka bergantian.

Pemuda tadi tertawa pelan. "Sensor Zero memang tidak bisa dikelabuhi."

Naruto menghela nafas dan tersenyum. Bagaimana dia tidak mengenali mereka, sesama Anbu. Jelas saja ... karena itu bukan wujud mereka sebenarnya. Setahunya, Anbu berkode Kuma dan Risu tersebut adalah dua orang dewasa, seniornya. Dia mengerti sekarang, Yondaime pasti mengutus mereka untuk menjadi timnya. Dan tentu saja tidak mungkin mereka berada dalam wujud dewasa. Dia sudah sempat menduganya ... Yondaime akan mengutus seorang Anbu juga.

Naruto tersentak mengingat dan membungkukkan badan. "Sumimasen ..." Bagaimanapun mereka adalah senior, dan jangan lupakan umurnya yang berpaut jauh dengannya. Sedikit cerita ... di dalam Anbu, Naruto sangat jarang bergaul dengan rekan seprofesinya. Nyaris tidak pernah bahkan. Yondaime benar-benar merahasiakan identitasnya, meski itu sesama Anbu. Dan hampir semua misinya adalah solo. Hanya dua misi yang tidak. Dan kedua-duanya ia dipartnerkan dengan dua Anbu di depannya kini. Mereka orang-orang yang menyenangkan menurutnya ... Lelaki berkode Kuma tersebut orang yang hangat. Dan si Risu wanita yang semangat di manapun.

"Mah mah ... jangan formal begitu." Pemuda tadi mengulurkan tangannya. "Aku diberi nama Haru."

Naruto menjabat dan tersenyum sopan. "Naruto ... Yoroshiku onegaishimasu."

"Sudahlah ... jangan kaku begitu. Kita sekarang se-tim kan? Jadi anggap kita seumuran. Lagi pula, dulu bahkan kau menjadi ketua kami. Seharusnya kami yang merasa begitu saat ini." Ujar pemuda bernama Haru tidak suka dengan perlakuan Naruto.

Naruto hanya menggaruk kepalanya canggung. Dan tersenyum ... mencoba akrab. Setidaknya sifat dua orang di depannya ini akan mempermudahnya.

Gadis mungil yang sedari tadi diam, dia melepaskan permennya dan tersenyum lebar. "Aku Yuri ..." Ujarnya ceria mengulurkan tangan. "Tidak kusangka Zero benarlah anak kecil. Tapi kau tampan juga ... andai aku seumuranmu," gerutunya di bagian akhir.

Wajah Naruto kontan memerah meski sesaat. Dia membalas uluran tangan gadis tadi, dan tersenyum ceria. Sudah dia bilang ... akan mudah.

"Kau jangan menggodanya Yuri." Peringat Haru sarkatis. Kuwalahan dengan sikap rekannya yang kelewat ceria itu.

Yuri hanya mengerucutkan bibirnya sebal. Tampak imut di wujudnya yang sekarang.

"Kau tenang saja ... hanya kami yang mengetahui identitasmu. Dan kami akan menjaga rahasia, tentu."

Naruto membalas ramah kearah Haru. "Aku tidak mengkhawatirkan hal itu," Balasnya menerangkan. "Aku harap kita bekerja sama." Dia tahu Yodaime pasti terpaksa memberitahu mereka. Dan dia cukup percaya dengan mereka.

"Tentu saja ... tapi ini akan sulit." Wajah Haru berubah serius.

Naruto mengangguk. "Bagaimanapun dia buronan kelas S. Gelar Sanninnya tidak bisa di anggap sembarangan. Aku rasa tidak ada Ninja yang mampu menandingi kejeliannya sampai saat ini." Ujarnya memperjelas. Tetap memperhatikan sekeliling. "Baiklah ... ini bukan tempat yang tepat untuk membahas strategi. Lebih baik kita berangkat ... kita akan terlambat."

Mereka mengangguk dan berjalan keluar jalan. Sepanjang perjalanan hanya berisi pertengkaran kecil antara Haru dan Yuri. Naruto hanya dibuat tertawa melihatnya.

Saat mereka memasuki sebuah gedung besar bertingkat, terlihat semua pasang mata mengarah kepada mereka. Lebih banyak kearah Yuri, terutama kaum adam. Dengan pandangan tertarik.

"Sudah kubilang jangan Henge terlalu mencolok," desis Haru pelan.

"Ini memang diriku saat kecil Baka." Yuri balas berbisik penuh penekanan dengan mendekatkan kepala.

"Aku tidak percaya kau secantik ini." Haru mencibir bersedekap dada.

Yuri semakin memberengut sebal. Tidak lama seringai jahil terpapang di bibirnya. "Bilang saja jika kau cemburu ne ... Ha-kun." Dia menggoda.

Haru menoleh tajam menatap Yuri. "Tentu saja ... siapa yang tidak cemburu jika kekasihnya dipandang seperti itu oleh lelaki lain."

Yuri tersentak menjauhkan badannya. Wajahnya memerah. Tapi tidak lama kembali sinis. Dia mundur selangkah ke sisi Naruto. "Dengan Naruto-kun lebih asyik." Dia mengait lengan Naruto, menempelkan tubuhnya.

Naruto bergerak gusar, tidak nyaman. Dia mendorong dahi Yuri dengan jarinya. Menjauhkan gadis itu. "Tidak ... aku tidak ingin Haru-senpai membunuhku nanti."

Yuri semaikin cemberut dibuatnya. Berjalan mendahului mereka berdua dengan menyentakkan kaki. "Kalian ... para lelaki menyebalkan." Teriaknya.

Naruto tertawa pelan melihat tingkah kedua pasangan Anbu sehidup semati tersebut. Dia melangkah bersisihan dengan Haru, menyusul Yuri. Sesampainya di ruangan 301 mereka duduk di salah satu bangku paling kanan. Naruto dengan Yuri, sementara Haru berada di atas meja. Yuri masih bersdekap dengan wajah tertekuk. Alisnya nyaris bersatu tidak memandang satupun rekannya.

Menit-menit berlalu hingga ruangan tersebut dipenuhi banyak orang. Tidak banyak yang bercengkrama, beberapa menatap satu persatu para pesaing dengan sorot menantang. Tidak sedikit juga yang tegang. Hingga terjadi keributan kecil di depan membuat semua orang menoleh ke sana.

"Dasar Imotou ..." Naruto tersenyum geli melihat siapa akar keributan tersebut.

"Naruko-sama itu ..." Tidak jauh berbeda dengan Haru.

"Aku harap jangan sampai Naruko mendengar itu." Naruto memperingati tertawa. Tahu betul yang terjadi jika adiknya mendapat panggilan seperti itu.

"Kau tidak kesana," Yuri bersuara setelah sekian lama terdiam. Dengan sifatnya yang seperti itu tidak mungkin tahan terlebih diabaikan. "... kulihat para rookie berkumpul."

Naruto hanya balas tersenyum miring. Tangannya saling mengait di atas meja. "Aku tidak cukup dikenal di antara mereka."

Yuri menaikkan alisnya, menatap tidak percaya. "Benarkah ... bukannya kau ROTY tahun ini?"

"Tidak banyak menjamin dengan sifatku." Naruto hanya memandang simpul interaksi teman-teman sekelasnya itu. Cukup mengenali kepribadiannya sendiri. Tidak pandai bersosialisasi, mudah kaku, mungkin membosankan. Terlebih tidak suka perhatian. Tidak berisik seperti Naruko, atau misterius seperti Sasuke. Tidak juga di antara keduanya.

Terlihat pergerakan, hanya beruba bayangan hitam yang melesat cepat melintasi semua orang di ruangan tersebut. Hingga terjadi ketegangan yang mencekam, saat seseorang memukul telak satu Ninja berambut putih yang diikat ke belakang, memakai kacamata. Tidak bisa diartikan memukul, karena dia mampu menghindarinya. Tapi kacamatanya pecah, juga jatuh tertunduk memuntahkan darah.

"Ninja Desa Bunyi …" Gumam Naruto melihat siapa yang menyerang orang itu.

"Otogakure … Desa yang dibentuknya akhir-akhir ini." Haru balas menggumam, dia hanya melirik.

"Benar … mereka berbahaya." Naruto mengangguk. "Aku juga menyinggung beberapa orang mencurigakan. Arah jam 2"

Haru melirikkan matanya sejenak. "Tim Suna … Jinchuriki,"

Naruto mengangguk. Matanya masih lurus kearah kericuhan. "Dia ancaman terbesarnya." Ujarnya skeptis. Meski kenyataan dia membenarkan. Cukup tahu … seberapa bahaya anak itu. Tentu dia tidak akan lupa pertemuan pertama kalinya di Suna saat itu. Dan mungkin … dia akan berusaha menghindarinya. Dia tidak akan mengambil bahaya Bijuu di dalamnya akan mengamuk jika bertemu dirinya. Dia tidak benar-benar tahu, apa alasannya. Dia ingat … saat Naruko hampir lepas kendali karena Kyuubi menyadari kehadirannya. Dan jangan lupakan kejadian tempo hari di Kirigakure. Mungkin dia bersyukur, Kyuubi sudah terbiasa dan sanggup mengendalikan emosinya saat ini. Tentu tidak dengan bocah Suna itu.

"Diamlah kalian orang tdiak berguna," ledakan asap terjadi diselingi teriakan seseorang. Selang lama terajdi suasana mencekam, asap tersebut menghilang. Menampakkan beberapa orang dewasa berpakaian kuhusus. "Maaf membuat kalian menunggu …" Suara yang sama, berat dan mengimintidasi. Pria berperawakan besar, mengenakan coat hitam panjang dan penutup kepala. Terdapat dua sayatan meilntang di wajahnya. Matanya santai, namun mengerikan. "Aku penguji seleksi pertama Ujian Chūnin … Morino Ibiki."

.

.

.

.

TBC

NOTE : Ummm, gimana bilangnya ya … pertama, saya sangat berterimah kasih kepada semua readers terutama yang review memberi pelajaran penting untuk saya. Saya ucapkan banyak terima kasih. Saya memang bena-benar pemula. Dan kebanyakan arogansi seorang pemula, ingin langsung hebat tidak memperdulikan hal dasar. Jadi ya umm … pengetahuan saya tentang FFN sangatlah sedikit. Saya akan berusaha memperbaiki fic ini dan juga diri saya. Maaf atas segala kekurangan :-D.

Dan perihal Godlike, awalnya itu hanya sebagai alibi saya jujur. Tapi akhirnya itu salah :-D Gomen. Jadi saya akan memperjelas kekuatan Naruto. Saya harap mampu memperbaiki.

Kekuatan utama Naruto, mampu menekan chakra ke titik nol (soal ini akan diperjelas lagi dalam ujian Chūnin). Tapi ini hanya karangan, jadi jangan heran jika tidak masuk akal. Dan kedua, Naruto mampu mengendalikan chakra alam, tidak menyerapnya : tidak bisa sage mode, jadi Naruto tidak bisa Senjutsu seperti Jiraya atau Hashirama. Hanya memanipulasi. Contoh : Kaze Rokō (Tekhnik Sapuan angin), pada dasarnya dia hanya menggerakkan angin dengan chakra alam. Saya terinspirasi ini saat Naruto melawan pain, saat dia menggunakan tekhnik memukul tak terlihat menggunakan chakra alam. Dan jika salah, kembali lagi itu semua karangan saya. Jika diasumsikan, Naruto punya potensi menguasai lima elemen. Tapi tentu efektifitasnya bukan terletak disitu. Jadi, chakra sedikit yang dimilikinya bukan hambatan utamanya. Saat wujud Anbu, dia mampu bertarung tanpa chakra sama sekali. Hambatan utama, sekaligus kelemahan dalam jutsunya … mengendalikan chakra alam membutuhkan konsentrasi yang luar biasa. Jadi dia tidak bisa asal menggunakannya, harus dengan timing dan perhitungan yang tepat. Kesimpulan … jangan heran jika banyak jutsu yang mustahil nantinya. Dari itu semua … saya harap para readers bisa membedakan yang mana chakra alam dan bukan.

Satu lagi … jangan terpaku dengan titik dimana Naruto mengalahkan musuhnya. Melainkan dengan jalannya pertarungan. Dalam arti, dengan dia mampu mengalahkan Yagura tidak memastikannya mampu mengalahkan seorang Genin. Pemikiran orang berbeda :-D.


Reply Some Reviews

Ibiki Guru BP : Hahaha … terima kasih. Tidak apa-apa, anda hanya berusaha agar terdengar ringan :-D. Maaf atas kesalahan saya.

Ashuraindra64 : Tidak … Akatsuki tetap pada peran sebenarnya. Untuk masalah Bijuu, maaf saya tidak bisa memberitahu :-D. Terima kasih sudah memperhatikan kesalahan saya.

suriken : Hehehe … saya merasa tersanjung :-D. Terima kasih. Itu semua juga berkat kalian semua.

Ame : Hahah … anda benar. Pengetahuan saya tetntan FFN masih dangkal. Maaf dan terima kasih banyak pelajarannya :-D.

Akame no Shin : Terima kasih sudah membaca dan menyempatan review :-D. Dan terima kasih pelajarannya, saya benar-benar merasa terbantu. Saya akan berusaha memperbaiki.

Guest (yang merasa) : Hahaha … itu murni kesalahan saya. Maaf sebesar-besarnya :-D. Soal pair … Top Secret :-D. Jelasnya, bukan harem juga bisa saja tidak ada pair.

Sepertinya banyak yang sudah menebak kabar buruknya. Haah … sudah saya kira jika itu mainstream. Tapi saya senang dengan hasilnya :D terima kasih.

Terima kasih sudah membaca dan menyempatkan Review. Dan juga yang Favs & Follows fanfic saya … Sekali lagi terima kasih.

Maaf atas segala kekurangan.

Jadi selebihnya mohon bimbingannya.

Sampai jumpa di chap berikutnya …