"Ada perlu apa bibi Yuri?" tanya Hinata ramah.
"Hinata bisakah aku titip Iruka sebentar, hari ini aku sangat sibuk, biasanya baby sitterku masuk tapi untuk hari ini dia tidak masuk karena sakit. Apa kau mau membantuku?"
"Jadi maksud bibi kita menjaga dan merawat Iruka satu hari ini?" tanya Naruto tiba-tiba yang sedikit shock.
"Iya jadi tolong ya jaga Iruka baik-baik Hinata."
Hinata tersenyum dan mengangguk ragu, ia kemudian menggandeng Iruka. Bayangan bibi Yuri semakin lama semakin kecil kemudian menghilang diantara pertigaan jalan. Iruka melepaskan genggaman tangannya dari Hinata dan berlari menuju ayunan yang ada didepan rumahnya.
"Sepertinya hari ini adalah hari yang rumit," ucap Naruto.
"Aku pikir juga begitu."
JOURNEY OF SPRING/ CHAPTER 11
Author : Naragirlz
Genre : Romance, Friendship, Family
Pairing : Naruhina
Rating : T
WARNING
DON'T LIKE DON'T READ, EYD BERANTAKAN DAN ABAL. KARAKTER HINATA DISINI SANGATLAH KUAT DAN SANGAT OOC.
.JIKA ADA YANG TAK MASUK AKAL, DI ANGGAP MASUK AKAL JUGA YA HEHE
.
.
.
Bab Sebelas
.
.
Baik Hinata maupun Naruto melangkahkan kakinya dan berusaha mendekati Iruka yang asik bermain ayunan. Pria tampan berambut pirang dan bermata safir itu duduk dan menyetarakan tinggi tubuhnya dengan Iruka. Anak kecil berumur empat tahun itu terlihat sangat menggemaskan dimata Naruto. Ada perasaan ingin melindungi muncul dari dalam dirinya. Jika Naruto terlihat sumringah, lain lagi dengan perasaan bingung yang Hinata rasakan. Hinata tahu betul bagaimana nakalnya Iruka? Kenapa Iruka hadir disaat tangannya seperti ini. Hanya satu yang Hinata khawatirkan, apakah Naruto bisa sabar menghadapi Iruka? Entahlah, gadis berambut panjang indigo berharap Naruto bisa menghadapi Iruka.
"Iruka, kenalkan namaku Namikaze Naruto. Panggil saja aku Naruto nii-san," ucap Naruto penuh kelembutan dan kasih sayang.
"Tidak mau," jawab Iruka singkat.
Mendengar jawaban dari Iruka, Naruto mengalihkan pandangannya kearah kekasihnya. Hinata mendengus dan menggeleng pelan. Tatapan mata Hinata kepada Naruto seolah mengatakan memang seperti itulah Iruka. Bandel dan susah diatur. Iruka turun dari ayunannya dan segera berlari menuju sofa panjang berwarna putih. Tanpa berpikir dua kali Iruka menginjakan kedua kakinya yang masih bersepatu keatas sofa putih milik Hinata.
"Kyaaa Iruka jangan main disitu. Haduh, permukaan sofanya bisa kotor semua," ucap Hinata shock. Sayangnya, Iruka tak menghiraukan Hinata. Ia semakin lama semakin asyik melompat kesana kemari. Hinata mendengus, ia tak tahu harus bagaimana lagi.
"Iruka, turun ya, kalau kau melompat-lompat seperti itu sofanya bisa kotor. Lihat jejak kakimu disofa ini. Turun ya Iruka," bujuk Naruto dengan sejuta senyuman.
"Aku tidak mau!" jawab Iruka singkat sambil terus melompat-lompat.
"Ayo Iruka turun," ucap Naruto. Dengan cekatan Naruto menyelipkan kedua tangannya dibawah ketiak Iruka. Sekuat tenaga Naruto mengangkat tubuh Iruka yang sedikit gemuk dan menurunkan anak kecil berumur empat tahun itu dari sofa.
Suara tangisan memecah suasana sepi yang melingkupi rumah Hinata semenjak kepergian Ibunya. Iruka tak senang dengan sikap Naruto, bocah itu melampiaskan kekesalannya dengan tangisan yang luar biasa kencang. Baik Hinata maupun Naruto panik melihat perubahan mood Iruka secara tiba-tiba.
"Naruto-kun, apa yang sudah kau lakukan?" tanya Hinata panik.
"Aku tak tahu. Aku hanya menurunkan Iruka dari sofa," jwab Naruto bingung.
"Kau melakukannya secara paksa, jadi Iruka tak menyukainya. Aduh bagaimana ini. Apa yang harus kita lakukan agar tangisan Iruka berhenti?"
Naruto menghirup nafas dalam-dalam, kemudian mengeluarkan udara dari hidungnya secara perlahan. Naruto berjongkok dan menyetarakan tubuhnya dengan tinggi badan Iruka. Naruto tersenyum bak peri yang akan memberi Iruka hadiah. Ia sama sekali tak menyangka jika anak kecil itu sungguh merepotkan.
"Iruka jangan menangis lagi, kalau kau menangis wajahmu semakin jelek dan … ." Belum selesai Naruto bicara, Hinata memukul kecil pundak Naruto. Gadis bermata lavender itu pun berjongkok didepan Iruka.
"Kenapa kau memukulku?" protes Naruto.
"Bukan begitu cara membujuk anak kecil, Naruto-kun kau hanya membuat tangis Iruka semakin kencang. Kau ini ada-ada aja," omel Hinata.
"Kalau begitu lakukan sendiri," ucap Naruto sebal. Hinata memicingkan matanya kearah Naruto seolah berbicara, lihatlah apa yang aku lakukan.
"Iruka jangan menangis lagi ya. Iruka mau tidak kakak belikan es krim?"
Ajaib, bujuk rayu Hinata membuat tangisan Iruka berhenti. Naruto terperanjat, ia tak percaya Hinata bisa menaklukan Iruka hanya dengan satu kalimat atau mungkin satu kata yaitu "Es krim." Hinata menyunggingkan senyum kemenangan kepada Naruto. Pria berambut pirang itu melengos, karena ia tahu senyuman itu hanyalah pertanda kesombongan. Keajaiban tak berhenti dari situ saja, mimik Iruka yang terlihat depresi dan sedih berubah menjadi sumringah bahkan ia menebarkan senyuman kepada Hinata.
"Kakak janji mau membelikan es krim untuk Iruka?" tanya Iruka polos.
"Iya kakak janji, nanti kita beli es krim bersama," jawab Hinata ramah.
"Tapi aku tidak suka dengannya. Kakak itu jahat dan menakutkan," ucap Iruka sambil menunjuk-nunjuk Naruto tanpa ragu.
Naruto yang tadinya bersandar santai dipinggiran bawah sofa, sekarang duduk tegang memandang Iruka dan Hinata bergantian. Ia sama sekali tak percaya, Iruka akan mengatakan hal-hal seperti itu terhadapnya. Lain dengan Hinata, si gadis cantik itu hanya tertawa kecil. Naruto berdecak untuk mengekspresikan kekesalannya.
"Kenapa kau takut padanya?" tanya Hinata lembut.
"Rambutnya aneh," ceplos Iruka.
"Apa kau bilang?!" sergah Naruto.
"Naruto, dia hanya anak kecil jadi perkataannya jangan diambil hati."
Lagi-lagi Naruto tak bisa membantah perkataan Hinata karena yang dikatakan Hinata memang benar. Untuk apa ia marah dan tersinggung dengan ucapan anak yang berusia empat tahun. Naruto menghembuskan nafas secara perlahan untu menetralisir emosinya. Lagipula Iruka itu lucu, kalau diperhatikan secara seksama.
"Iruka, kalau begitu kita berangkat sekarang ya!" ajak Hinata.
Iruka tampak bahagia bahkan sesekali ia melompat-lompat dan bertepuk tangan. Hinata tersenyum manis melihat tingkah Iruka yang menurutnya lucu. Tanpa ragubocah kecil itu menggandeng tangan kanan Hinata dengan lembut. Naruto hanya bisa bengong menatap tingkah laku mereka. Perlahan Hinata dan Iruka melangkahkan kaki menuju ke luar rumah. Emosi Naruto semakin tak stabil ketika mengetahui bahwa Hinata tak berniat untuk mengajaknya.
"Kau meninggalkan aku sendirian disini, Hinata?" tanya Naruto heran.
"Iya, gomen Naruto-kun tapi masalahnya toko yang menjual es krim ini ada dijalan raya yang ramai dan banyak kerumunan orang disana. Aku tahu kau tidak bisa kesana lagipula aku juga tidak bisa melindungi dua orang sekaligus. Jadi tunggulah sebentar, aku mencintaimu," ucap Hinata manis.
Naruto menjawab pernyataan Hinata dengan beberapa anggukan tanda mengerti. Sepeninggal Hinata dan Iruka, Naruto memikirkan suatu hal yaitu penyakit phobianya. Semakin dirasakan, ia semakin tak betah menanggung ini semua. Naruto ingin sembuh seperti orang lain yang bebas bepergian kemana saja. Naruto menyandarkan kepalanya dibawah pinggiran sofa putih Hinata.
"Aku tahu kau tidak bisa kesana lagipula aku juga tidak bisa melindungi dua orang sekaligus." Itulah kalimat yang keluar dari mulut Hinata. Kata-kata itulah yang membuat Naruto berpikir jauh. Jika seandainya dia sudah menjadi suami Hinata, apa yang bisa ia lakukan untuk istrinya? Dimanapun sepasang suami istri pergi, suamilah yang melindungi istri bukan sebaliknya. Kalau dia terus seperti ini, dimana martabat seorang suami. Naruto memijat kedua pelipis kepalanya, bagaimanapun caranya Naruto ingin sembuh dari penyakitnya.
Merasa bosan, Naruto beranjak dari duduknya. Ia berdiri sambil berkacak pinggang dan melihat-lihat sekitar rumah Hinata. Matanya tanpa sengaja tertuju pada sofa putih yang kotor karena jejak sepatu Iruka. Senyuman manis tersungging dibibr Naruto yang tipis. Dengan penuh semangat, Naruto menyingkirkan sofa-sofa lain lalu mendorong sofa panjang itu menuju halaman samping rumah. Untunglah pintu samping Hinata bukanlah pintu biasa, namun pintu geser berlapis kaca.
ooOOoo
Hinata dan Iruka berjalan dengan riang, tangan kiri Hinata serta tangan kanan Iruka berayun senang, seolah mereka menikmati pagi yang cerah ini. Iruka terlihat senang dengan es krim yang ada digenggamannya. Bahkan sesekali bocah itu menjilatinya dengan rakus. Hinata tersenyum kecil melihat tingkah lucu Iruka. Sesampainya didepan rumah, Hinata mendorong kuat pintu pagarnya dengan tangan kananya. Langkah demi langkah, kaki mereka membawa Hinata dan Iruka kembali ke dalam rumah.
"Kami pulang," ucap Hinata dengan suara sedikit berteriak.
Tak ada jawaban, Hinata sedikit mengerutkan keningnya. Matanya mencari setiap sudut rumah namun ia tak menemukan sosok Naruto disana. Dia kembali menggandeng Iruka dan berjalan menuju ruang tengah. Hinata semakin bingung ketika sofa-sofa itu sudah tak tertata rapi. Yang lebih mengehrankan lagi adalah sofa panjang bekas injakan kaki Iruka menghilang. Angin bertiup kencang membuat vitrase yang terpajang dipintu geser kaca samping rumah Hinata melambai-lambai. Pintu itu tak lagi tertutup.
Hyuga Hinata memberanikan diri melihat apa yang terjadi disana. Tak hanya itu saja, samar-samar telinga Hinata mendengar suara gemericik air. Semakin ia mendekat dan berjalan menuju halaman samping rumahnya, suara gemericik air itu semakin terdengar jelas. Pikiran buruknya mulai datang, mungkin ada pencuri? atau mungkin Naruto diculik? Hinata segera menggelengkan kepalanya untuk mengusir pkiran tak berguna itu. Apapun itu, Hinata berharap semua tak seperti yang ia bayangkan. Sesampainya diluar halaman, Hinata memutar kepalanya ke arah kiri. Ia pun lega mendapati Naruto asyik menyemprotkan air disofanya yang kotor.
"Eh, kau sudah pulang Hinata?" tanya Naruto penuh senyum.
"Sedang apa kau Naruto-kun?"
"Aku sedang membersihkan sofamu."
"Apa perlu aku bantu?"
"Tidak usah, lebih baik kau bermain dan menjaga Iruka saja Hinata. Kursi putih seperti ini jika kotor harus segera dibersihkan, kalau tidak nanti warna kursinya akan berubah menjadi kusam." Tiba-tiba iruka melepaskan genggamannya dari tangan kiri Hinata. Anak kecil itu berlari penuh semangat mendekati Naruto.
"Iruka jangan mendekat, nanti kau bisa basah semua!" teriak Hinata.
Sayang, Iruka sama sekali tak peduli dengan himbauan Hinata. Bocah itu melompat kesana kemari dengan wajah bahagia. Air yang menggenang di atas rerumputan Hijau, menarik perhatian Iruka. Tanpa ragu Iruka menghentakan kedua kakinya diatas genangan air. Percikan air kotor pun kemana-mana, bahkan ada beberapa percikan air kotor itu mengenai kaos putih Naruto.
"Haishhh, kau ini. Apa yang kau lakukan Iruka? Bajuku kotor semua," omel Naruto.
"Hehehehe kakak lucu," jawab Iruka sambil menunjuk-nunjuk Naruto.
Rentetan gigi putih Iruka yang tak lengkap terlihat jelas. Tawa Iruka membahana dan memecah kesunyian yang ada dirumah ini. Melihat Iruka yang tertawa bahagia, membuat amarah Naruto reda. Bahkan ada dorongan besar dalam dirinya, untuk mengajak Iruka bermain air bersamanya. Iruka sangat menggemaskan dimata Naruto.
"Iruka kita main air bersama yuk," ajak Naruto. Bocah itu mengangguk penuh semangat. Naruto dengan telaten menanggalkan satu per satu baju Iruka.
"Naruto-kun, apa yang akan kau lakukan?" tanya Hinata sambil berjalan mendekati Iruka dan kekasihnya. Tangan kirinya yang masih normal berusaha mengambil baju Iruka yang Naruto letakkan begitu saja diatas sofa.
"Aku hanya ingin mengajaknya bermain. Hinata apa kau bisa membawa kaosku sekalian?"
Hinata tak menjawab, ia hanya berdiri didepan Naruto serta diam seribu bahasa. Naruto melepaskan kaos putihya yang sudah basah dan kotor. Semburat merah tiba-tiba muncul diantara kedua pipi Hinata. Gadis pemalu ini sedikit menunduk walaupun matanya curi-curi pandang ke Naruto. Mata Hinata terfokus pada leher sampai perut Naruto. Ia pun menyadari bahwa kekasihnya itu sangat "panas." Perutnya yang berotot, dadanya yang bidang, serta wajahnya yang tampan, membuat fantasi Hinata semakin liar. Tanpa sadar Hinata menelan ludah melihat pemandangan indah didepan matanya.
"Hinata, kenapa kau melihatku seperti itu?" tanya Naruto Heran.
"Eh, ti … tidak, siapa yang melihatmu," elak Hinata. Lamunannya pun buyar.
"Yakin kau tidak melihatku? Lalu kenapa pipimu merah, sebenarnya apa yang kau pikirkan Hinata? Apa tubuhku membuatmu terpana?" goda Naruto.
"Si…siapa juga yang melihat tubuhmu?!" Hinata buru-buru mengambil kaos Naruto lalu berjalan menuju dalam rumah.
"Hahaha aku tahu apa yang kau pikirkan honey." Mendengar ejekan Naruto, Hinata membalikan badannya dan menatap Naruto tajam.
"Aku tidak seperti itu!" ucap Hinata kesal. Sesampainya didalam rumah, Hinata berhenti sejenak untuk mengatur pernafasannya dan mentralisir detak jantungnya yang tak beraturan. "Kenapa hari ini dia terlihat lebih tampan? Huh ini menyebalkan!" gerutu Hinata.
ooOOoo
Di sebuah rumah minimalis, berarsitektur tradisional Jepang namun disentuh dengan arsitektur modern membuat rumah ini terkesan unik namun tetep mewah. Gaara duduk santai di sebuah meja taman rumahnya yang berukuran kecil. Pikirannya fokus kepada naskah film yang akan dia perankan besok. Ternyata menjadi raja dalam film kategori sejarah itu sangat bermanfaat , kita akan lebih tahu bagaimana sejarah negara sendiri dan bagaimana watak dari pahlawan atau raja-raja terdahulu.
Gaara merasa mendapatkan suatu kehormatan yang luar biasa saat dia terpilih untuk memerankan Raja yang agung yaitu Jimmu. Konsentrasinya pecah, ketika mendengar seseorang memencet tombol rumahnya beberapa kali. Dari dalam rumah Gaara mengintip kamera pengaman yang dia pasang didepan pagar. Seolah tak percaya dengan tamunya, Gaara sedikit mencodongkan wajahnya ke layar dan memperhatikan baik-baik sosok gadis yang ada didepan rumahnya.
"Erika? untuk apa dia datang kesini?" gumam Gaara.
Gaara menekan sebuah tombol di dinding, dari layar terlihat pintu pagar rumah Gaara terbuka sendiri. Erika memasuki rumah Gaara tanpa ragu dan langsung mencari kemana Gaara berada.
"Gaara-nii…Gaara nii!" suara Erika menggema diseluruh ruangan.
"Hei, kecilkan suaramu. Aku tidak tuli, jadi kau tak perlu berteriak-teriak," kemunculan Gaara tiba-tiba membuat Erika terkejut. Jantungnya seakan mau keluar dari dadanya. "Ada perlu apa kau kemari?" Tak ada waktu basa-basi bagi Erika. Dia ingin Gaara menjelaskan sesuatu.
"Gadis yang bernama Hyuga Hinata itu, apa dia benar-benar pacar Gaara-nii?"
Gaara agak aneh mendengar pertanyaan Erika yang tiba-tiba ingin tahu tentang Hinata. Lebih baik dia jangan berprasangka buruk dulu terhadap Erika, mungkin dia hanya ingin mengetahui gossip yang beredar akhir-akhir ini.
"Kenapa kau tiba-tiba ingin tahu tentang kisah asmaraku?"
"Jangan banyak bicara. Nii-san tinggal menjawabnya."
"Dia bukan pacarku, kami hanya sebatas teman. Aku sengaja mengatakan hal itu kepada wartawan agar mereka tak terus-terusan mengejarku."
Ekpresi Erika berubah sedih. Erika berharap kalau Hinata adalah pacar Gaara, dengan begitu dia bisa bersama dengan Naruto tanpa gangguan siapapun. Jika Hinata adalah pacar Gaara, tentunya Naruto tak akan pernah merebutnya atau bahkan meliriknya karena gadis itu adalah milik seorang artis tampan bernama Sabaku Gaara.
Harapan terbaiknya seolah pupus. Namun, Erika tak mau menyerah begitu saja. Sekarang dia ingin tahu bagaimana perasaan Gaara kepada gadis itu. Jika Gaara mencintainya, Erika ingin menyatukan mereka dan mengajak Gaara bekerja sama. Sekilas terlihat seperti niat baik tapi jika ditelisih lagi, ini akan menjadi niat yang jahat.
"Jawab jujur pertanyaanku, apa Gaara-nii menyukainya?" Erika dengan sabar menunggu jawaban dari Gaara. Gaara mengangguk ragu dan hal itu membuat Erika sedikit lega. "Ternyata kita memiliki nasib yang sama."
"Nasib yang sama, apa maksudmu?" tanya Gaara bingung. Erika berjalan menuju sofa lalu duduk santai. Wajahnya cemas dan hatinya gundah.
"Naruto dan Hinata dijodohkan dan mereka pun sekarang pacaran."
"Apa dijodohkan? pacaran? Tapi Naruto tak pernah menceritakan hal ini padaku."
Hati Gaara hancur berkeping-keping. Dia tak menyangka ternyata hubungan Naruto dan Hinata sudah sejauh ini. Jika perkataan Erika benar, lagi-lagi Gaara harus menerima kenyataan walaupun kenyataan itu sangatlah pahit. Di saat dia sudah bangkit dari keterpurukan, sekarang ia harus merasakan rasanya kembali terjatuh dari langit paling atas menuju dasar bumi. Benar-benar menyakitkan.
"Semuanya berjalan begitu cepat. Gaara-nii, aku ingin mengajakmu bekerja sama."
"Bekerja sama seperti apa maksudmu?"
"Begini, kau menyukai Hinata dan aku menyukai Naruto. Gaara-nii berjuang untuk mendapatkan Hinata dan aku berjuang untuk mendapatkan Naruto kembali. Bagaimana menurutmu?"
"Jadi kau mengajakku untuk memisahkan mereka berdua?"
"Tepat sekali, bagaimana Gaara-nii?"
Memang Gaara mengakui kalau dia sangat mencintai Hinata, tapi bukan berarti harus menghalakan segala cara untuk mendapatkannya. Apalagi memisahkan dia dengan orang yang ia sayangi. Cinta itu bukan keegoisan untuk memiliki, tapi cinta adalah merelakan orang yang kita cintai bahagia dengan orang lain. Jika dirinya berhasil memisahkan Hinata dengan Naruto, apa dirinya bisa menjamin kalau Hinata akan lebih bahagia bersamanya. Dia adalah pria dewasa yang punya harga diri dan prinsip hidup, bukan remaja yang egois dan ingin menang sendiri.
"Tidak. aku tidak mau. Itu sungguh licik dan tak berperasaan. Kau akan menyakiti banyak orang. Apa kau suka melihat orang yang kau cintai terlihat sedih dan tak bersemangat."
"Lebih baik dia seperti itu daripada dia tak bersamaku."
"Apa katamu?" Gaara tak menyangka jawaban Erika akan sekejam itu.
"Kalau Gaara-nii tak mau ya sudah. Aku pergi dulu," Erika mengambil tas yang tergeletak di Sofa. Dia pergi dengan wajah kusut dan suram.
Gaara terduduk lemas, otaknya terus berfikir sesuatu. Kalau memang Hinata adalah kekasih Naruto, kenapa pada saat dia mengatakan dirinya mencintai Hinata di rumah sakit Naruto diam saja atau tak menanggapi omongannya sedikitpun. Lagi-lagi dirinya selalu tak beruntung dalam urusan asmara. Gaara berjalan pelan menuju ruang tengah, langkahnya berhenti didepan kaca kecil yang menempel di dinding. Gaara melihat bayangan wajahnya sendiri dicermin lekat-lekat dan bertanya-tanya, apa yang salah pada dirinya? dia tampan, kaya dan tidak jahat tapi kenapa wanita cintanya selalu bertepuk sebelah tangan.
"Lebih baik, aku ke rumah Hinata sekarang untuk menanyakan hal ini."
ooOOoo
Gaara menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia yakin kalau Naruto dan Hinata tak memiliki hubungan apa-apa. Tapi jika itu benar, Gaara tak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia sangat mencintai Hinata, rasanya dia tak sanggup jika harus kehilangannya. Kehilangan dalam arti, Hinata milik orang lain bukan milikknya. Selama perjalanan ia tak konsentrasi dan hampir saja dia menabrak mobil yang ada di depannya saat lampu lalu lintas menyala merah.
Lima belas menit sudah ia menempuh perjalanan menuju rumah Hinata. Gaara memakirkan mobilnya didekat pintu pagar rumah Hinata. Ia segera turun dan memencet tombol yang ada dipagar. Gaara yakin Hinata masih dirumah karena tangannya masih belum sembuh total. Tiga menit berselang akhirnya pintu pagar terbuka. Gaara tersnyum, namun sesaat senyumnya memudar ketika melihat wajah seseorang yang membukakan pintu untukknya.
"Naruto, sedang apa kau disini?" tanya Gaara.
TO BE CONTINUE
terima kasih buat yang selalu setia untuk baca FF ini maaf aku nggak bisa balas Review kalian satu-satu :(
