Mister Naruto

By : 12 senpai 12

Disclaimer : Saya tidak memiliki apapun dari fict ini

Summary : Dia sudah lelah akan keberadaannya, segala cara telah dia lakukan untuk mendapatkan rasa damai itu. Tapi semuanya gagal, sekarang dia datang membawanya ke dunia baru dan bertemu mereka. Saat itu dia sadar bahwa akhir dari dunia itu adalah akhir darinya, tapi bagaimana dengan mereka?

Warning : AU, OOC, Typo, dan lain – lain, chara death (perhatian tokoh dalam fic ini dapat berubah wataknya seiring dengan kejadian yang dialami tokoh)

Pairing : issei x harem, Naruto x ?

….

Charlote tengah bediri di depan sebuah dojo yang berada di Osaka. Setelah perbincangannya yang lalu Charlote tidak langsung menjawab pertanyaan Asia. Sebenarnya ia ingin menepati janjinya dengan Asia untuk merasiakan hal ini, tapi tak disangka Naruto sudah mengetahui hal ini setelah bertemu dengannya. Charlote yang sudah lama mengenal pemuda itu dibuat terkejut saat membiarkan Asia melatih dirinya. Awalnya ia ingin Asia dilatih oleh dirinya sendiri namun karena beberapa situasi yang datang mendadak membuat mereka datang ke dojo ini. Wanita berambut pirang itu melirik kearah sesamanya. Ia dapat melihat antisipasi dan kegugupan berputar di iris hijau biarawati itu. Interaksinya dengan biarawati itu beberapa hari ini membuat sebuah hubungan diantara mereka. Yah, siapa yang bisa menolak tatapan polos dari iris hijau itu. Terkekeh, Charlote menepuk bahu Asia lalu berjalan memasuki dojo tersebut.

Sadar dari pikirannya Asia mengikuti pirang yang lebih tua itu masuk ke dalam dojo dengan langkah pasti. Asia menoleh kesamping kiri dan melihat sebuah papan nama. Papan nama itu bertuliskan 'Night Raid'

"Ayo Asia."

Asia mendatangi Charlote dengan bergegas setelah namanya dipanggil. Mereka berdua dapat melihat ruangan berlantai kayu yang luas dengan berbagai alat yang biasa ada di Gym. Itu cukup aneh melihat dojo memiliki alat seperti itu. Tapi mengetahui siapa pemilik Dojo ini, sepertinya semua itu memang wajar.

"Yo, Leone." Sapa Charlote kepada seorang wanita cantik berambut pirang mengenakan baju dan celana latihan ketat berwarna abu – abu di pojok ruangan. Wanita berambut pirang itu menyemburkan sake yang diminumnya karna terkejut akan sosok di depannya. Iris ungu Charlote memandang geli wanita yang sedang tersedak didepannya.

"Uhuk! Uhuk! Charlote!" Ucap wanita yang dipanggil Leone itu setelah menaruh botol sake yang diminumnya. Charlote membuka tangannya saat Leone menerjang kearahnya. Setelah melepas pelukan itu mereka malukan tos sambil menyeringai." Charlote! Tumben datang ke sini, ada apa?" Tanya Leone sedikit penasaran.

"Hanya berkunjung saja. Oh! Ini Asia Argento." Jawab Charlote sambil menunjuk gadis yang ada dibelakangnya. Leone memberikan lambaian tangan ramah kearah biarawati pirang itu. "Dan Asia, ini Leone."

"Se-senang bertemu denganmu Leone-san." Ucap Asia sedikit terbata sambil membungkukkan badan. Leone maju lalu mengangkat badan Asia agar menatapnya.

"Nah, tidak perlu begitu Asia-chan. Panggil saja Leone, aku memang tidak suka formalitas." Ucapnya lalu mengedipkan sebelah matanya kearah biarawati itu. Merasa tidak tahu harus merespos seperti apa, Asia hanya mengangguk sebagai jawaban. Leone kemudian mengalihkan perhatiannya kearah Charlote. "Aku akan memanggil bos."

"Tidak perlu."

Suara wanita dari arah tangga membuat Asia dan Leone terkejut. Mereka dapat melihat seorang wanita cantik berambut hitam pendek dengan penutup mata disebelah kirinya dan mengenakan pakaian yang biasa dipakai wanita kantoran berwarna hitam dengan daleman berwarna putih. Iris wanita itu menatap tajam Asia yang tengah bersembunyi di balik Charlote.

"Bos, berhenti menatap Asia seperti itu. Kau membuatnya takut." Wanita itu tersentak lalu melirik Asia yang semakin menyembunyikan tubuhnya saat sorot mata wanita itu menatapnya. Wanita itu terkikik lalu mengangkat tangannya untuk menyapa Charlote.

"Tumben kau kesini, ada masalah apa?" Tanya Wanita itu. Charlote menggeser badannya membiarkan wanita itu dapat melihat Asia lebih jelas. Bagaimana wanita itu menatapnya rendah seperti itu membuat sosok wanita itu semakin mengintimidasi.

"Tidak. Tapi Asia disini, ia ingin belajar melindungi dirinya…" Mengelus pucuk pirang Asia, Charlote melanjutkan. "Jadi setelah memikirkannya aku membawanya kesini. Tidak apa – apa kan Najenda?" Najenda bergumam memandang Asia dari atas sampai bawah menimang kemungkinan yang akan terjadi. Namun jika ini melibatkan Charlote secara langsung, ADA sesuatu dibalik semua ini. Tak berapa lama kemudian Najenda mengangguk.

"Apa kau sanggup Asia?" Bisa dibilang Najenda cukup terkejut gadis sepolos Asia memiliki keinginan dan determinasi yang kuat dimatanya. Sepertinya dia tidak perlu jawaban dari pertanyaannya tadi. Menyeringai, Najenda memandang Leone." Leone mulai saat ini kau yang bertanggung jawab atas Asia." Asia berkedip, tidak menyangka dirinya akan diterima begitu saja. Padahal saat ia melihat tatapan tantangan dari Najenda tadi ia sudah mengira akan di tes atau sesuatu.

"Serahkan padaku bos! Nah, Asia mulai sekarang kau harus memanggilku senpai ya." Ucap Leone kemudian menarik Asia ke ruang ganti, tidak memberikan biarawati pirang itu kesempatan bicara. Najenda dan Charlote memandang kedua wanita pirang itu dengan seyuman kecil dibibirnya. Namun setelah kedua gadis itu menghilang dari pandangan, wajah Najenda menjadi datar. Najenda memiringkan kepalanya kearah tangga, memberikan sinyal kepada Charlote untuk mengikutinya. Terdiam beberapa lama Charlote akhirnya mengikuti Najenda ke lantai atas.

Sekarang mereka tengah duduk berseberangan, dengan Najenda duduk di dekat jendela. Wanita itu menyalakan rokok lalu menghisapnya, matanya menerawang jauh ke luar jendela. Sedangkan Charlote memilih menuangkan vodka yang sudah tersedia di meja kedalam gelas yang sudah terisi es lalu meminumnya. Cukup lama mereka terdiam seperti itu melakukan kesenangannya masing – masing, larut dalam ingatan.

"Kau masih marah karena aku mencalonkan Kurome menjadi Ms. Six…. " Mulai Charlote yang sudah lelah dengan kesunyian ini. Najenda memalingkan wajahnya membuang asap dari mulutnya keluar jendela. Charlote mengangkat gelasnya dan memandang wanita berambut hitam itu melalui gelasnya. " Jika membunuhku dapat melenyapkan amarah itu. Lebih baik lakukan saja. Lagipula tidak baik memendam perasaan seperti itu." Wanita pirang itu memainkan vodka yang ada digelasnya, matanya tidak lepas pada sosok Najenda didepannya.

Najenda menggigit bibirnya, tangannya terkepal. Dia gunakan seluruh kekuatannya untuk tidak memenggal wanita itu sekarang juga. Dia sudah tahu kalau membunuh Charlote tidak mengubah keadaan Kurome, tapi tetap saja!

Charlote terhenyak saat Najenda hanya menarik nafas lalu menghembuskannya perlahan. Wanita berambut hitam itu mendecih saat rokok dijarinya bengkok tertekan karena gejolak emosinya tadi. Mengambil rokok dari bungkusnya lalu menyalakannya lagi. Najenda menatap sosok yang sudah bersamanya sejak ia berusia tujuh tahun itu.

"Kau harus menjaga tubuhmu lebih baik lagi Charlote." Nasihat Najenda pada wanita berambut pirang di depannya. Mendengar kata – katanya tadi yang sangat kental akan kejujuran membuatnya tidak habis pikir, kenapa wanita itu tidak merawat dan menjaga tubuhnya dengan baik. Yah, dirinya juga tahu kondisinya tidak mempermasalahkan hal itu. Tapi melihatnya terluka seperti itu…. Dirinya tidak bisa. "Kau tidak bisa menganggap tubuhmu itu samsak tinju Charlote."

Charlote mengedipkan matanya. Tidak menyangka kalau Najenda akan menahan diri." Yah daripada dihancurkan sia –sia. Bukannya lebih baik sesekali digunakan sebagai samsak tinju?"

Najenda tertawa pelan sambil menggelengkan kepalanya mendengar lolucon itu. Moodnya mulai membaik setelah melihat seringaian wanita berambut pirang didepannya. "Yah, aku rasa aku masih kesal pada apa yang kau lakukan pada Kurome waktu itu. Tapi kita kesampingkan dulu masa lalu. Aku tahu kau itu Ms. Eight, tapi ini tidak seperti dirimu yang melibatkan seorang gadis polos seperti Asia dalam dunia ini." Najenda menatap Charlote secara keseluruhan. Ekspresi wajahnya datar dan benar – benar serius. Charlote tidak menjawab, ia kembali mengisi vodka kegelasnya yang sudah kosong. Dengan mata setengah tertutup Charlote memandang Najenda melalui gelas yang ada ditangannya.

"Kau terlalu cepat menghakimiku Najenda. Yang ingin Asia terlibat dengan dunia ini bukanlah aku, melainkan Mr. Nine." Charlote menenggak habis isi gelas itu. Masih dengan mata setengah tertutup wanita itu memandang sosok membeku Najenda. Mulut Najenda terbuka lebar menjatuhkan rokok yang ada dibibirnya jika tangannya tidak reflek menangkapnya, matanya melirik ke kiri dan kanan memastikan ini hanya bualan yang dikatakan oleh wanita didepannya. Setelah yakin kalau ini bukanlah lolucon atau semacamnya wanita berambut hitam itu mendesah berat. Melihat Najenda sudah keluar dari syoknya, Charlote kembali melanjutkan. "Walapun begitu aku ingin dia tetap aman dan selamat. Jadi ada baiknya jika kau tidak mengajarkan hal yang tidak patut diketahui padanya ya."

Najenda membawa tangannya ke keningnya lalu memijitnya agak keras." Aku hanya berpikir kalau berita itu hanya rumor belaka. Namun mengetahuinya darimu seperti ini … Hah."Ia kembali mendesah berat. Memang ada rumor yang mengatakan kalau Mr. Nine sudah pensiun, namun sedikitnya kontak dan fakta tentang hal itu membuat kebenaran rumor itu dipertanyakan. Ada juga yang mengatakan Mr. Nine sedang mencari penerusnya. Tunggu kalau begitu." Charlote apa kau tahu kalau penegak sudah memilih pengganti Mr. Nine?" Najenda menatap wajah bingung Charlote.

"Aku tidak tahu. Bisa kau jelaskan lebih rinci Najenda?" Ucap Charlote dengan dahi mengkerut. "Setahuku Mr. Tree dan Ms. Four merupakan penegak. Nah, jika kau ingatkan seperti itu, aku jadi ingat Five, Kurome, dan Mr. Seven menjadi agak diam akhir – akhir ini." Lanjutnya dengan nada heran.

Najenda menyandarkan punggungnya di dinding lalu menghela nafas. Menaruh rokoknya di asbak, ia memulai."Selain apa yang kau katakan tadi, aku juga sama tersesatnya denganmu. Tapi yang aku tahu sejauh ini, semua kondisi ini bukanlah kebetulan belaka. Apa kau sudah menanyakan hal ini pada Mr. Nine?" Tanya Najenda. Melihat gelengan kepala dari Charlote membuat bahu Najenda merosot.

"Nah, ini akan jadi masalah." Gumamnya. Mau tidak mau Charlote juga setuju dengan wanita didepannya. Isse yang menjadi Iblis, tawaran dari Shinigami, dan pergerakan Simmon, tentu saja melihat rentang waktu semua kejadian itu terjadi dirinya sendiri pun sangat yakin kalau semua itu bukanlah kebetulan. Tapi melihat Naruto yang masih santai dan tenang seperti itu, dia pasti mengetahui sesuatu. Tapi saat ini Charlote tidak akan menanyakannya pada Naruto, ia masih percaya pada pemuda berambut silver itu.

"Ah, aku senang dapat berbincang denganmu seperti saat ini. Tapi ada yang harus kulakukan." Najenda tersentak saat melihat Charlote berdiri dan tidak menghabiskan vodkanya. Hal ini mungkin tidak terlalu dipikirkan oleh orang lain, tapi tidak dengan Najenda. Ia sangat tahu wanita itu selalu menghabiskan vodkanya dulu melebihi apapun.

"Charlote? Kau yakin tidak mau membawa botolnya?" Sudah jadi kebiasaan kalau Charlote selalu menyelinap masuk dan mengambil vodka dari lemari esnya. Charlote hanya bergumam dan memandang botol itu dengan pandangan kosong. Sekarang Najenda benar – benar khawatir, ia berdiri dan mencoba mendekati wanita pirang itu tapi Charlote bergerak terlebih dahulu mengambil botol itu lalu menyimpannya kedalam tas yang dibawanya. Ia tersenyum kearah Najenda. Meskipun begitu Najenda belum merasa yakin. "Umm… Charlote?"

"Hehe. Aku menakutimu ya?" Charlote menggaruk kepalanya. Ia kemudian mangambil ponsel dari tas yang dibawanya lalu meletakannya ke atas meja. Wanita berambut pirang itu memberikan senyuman menenangkan kearah Najenda. Senyuman itu berhasil menenangkan pundak Najenda yang menegang tapi tidak rasa khawatir di dadanya. Iris wanita itu menatap jari Charlote yang menunjuk ponsel diatas meja lalu menggoyangkannya di depan wajahnya dengan senyuman kecil." Aku tidak apa – apa. Jadi kau tidak perlu khawatir. Aku sudah bilang pada Asia kalau dia akan menginap disini beberapa hari dan gunakan ponsel itu untuk menghubungiku jika terjadi apa – apa. Mr. Nine memintaku bertemu dengannya pukul 12:43 nanti, mungkin membicarakan tentang situasi saat ini." Najenda berkedip, pandangannya beralih pada jam dinding yang ada diruangan itu. 11:25. Masih ada waktu. Dahi Najenda mengkerut saat mendengar nama itu.

"Aku masih bingung kenapa kau masih berhubungan dengan orang itu. Setahuku perjanjiannya sudah berakhir dua tahun yang lalu." Gumam Najenda. Charlote yang mendengar gumaman itu tersentak lalu tersenyum simpul. Wanita berambut pirang itu berjalan mendekati Najenda lalu mengelus pucuk hitam surai Najenda. Wajah Najenda memerah saat melihat wajah Charlote sangat dekat dengannya, mulutnya membuka dan menutup tapi tidak ada kata yang keluar. Charlote menyeringai melihat wajah tersipu Najenda.

"Aww, aku tidak tahu kau peduli padaku." Najenda membuka mulut untuk membalas godaan itu tapi harus bungkam saat Charlote memeluknya dengan lembut. Badan Najenda menegang dipelukannya. Tapi pada akhirnya ia menyerah pada kehangatan yang diberikan tubuh wanita itu, kehangatan yang sama yang dirasakannya waktu kecil." Sudah kubilang bukan? Kau tak perlu khawatir. Aku ini sudah besar, aku bisa menjaga diri. Ms. Eight itu bukan cuma title kau tahu." Gumam Charlote halus. Tangannya mengelus punggung wanita itu dengan lembut. Charlote tersenyum getir. Gadis dipelukannya itu hanya takut kehilangan orang yang berharga baginya, sudah cukup ia kehilangan Kurome dan sekarang dia tidak ingin kehilangan dirinya. Setelah memberikan elusan terakhir Charlote melepas pelukannya lalu berjalan kearah tangga. Najenda kembali menutup mulutnya, ia merasa lebih baik diam sambil menenangkan gejolak emosi yang tadi dirasakannya. Dari ekor matanya Najenda dapat melihat Charlote mengambil kembali tas yang sempat dilepasnya saat memeluknya tadi. Najenda memberanikan dirinya menatap Charlote saat dia berhenti membelangkanginya.

"Aku harus pergi, Mr. Nine menungguku. Dan selalu ingat ini…" Charlote menoleh menatap Najenda dengan percaya diri."… Aku tidak akan mati." Lanjutnya dengan tenang namun tajam. Najenda menggigit bibirnya sembari menatap wanita itu menghilang menuruni tangga. Dia selalu mengatakan itu dan berhasil menyakinkannya. Tapi hanya kenyakinan itu saja tidak dapat meringankan rasa khawatir didadanya. Apalagi melihatnya terluka dan hancur namun masih bisa berdiri seakan mengejek pada kematian. Dia sudah mengerti kalau dirinya tidak ingin kehilangannya, tapi kenapa dia selalu melakukan itu? Najenda mengusap wajahnya lalu menghela nafas berat. Tubuhnya merosot karena kelelahan mental mulai menyerangnya sekarang. Mendecih wanita itu mengambil kembali rokoknya lalu menyalakannya. Tangan kirinya menggemgam erat sebuah kalung yang ada dilehernya.

"Tapi sampai berapa lama?"

.

.

.

.

.

.

.

.

"Sebenarnya kita akan kemana?" Mittlet mengangkat kepalanya melihat Dohansek bertanya kepada wanita berambut pirang itu. Charlote D. Stensel itulah nama wanita itu, juga nama sebenarnya dari Ms. Eight. Saat mereka bertemu dengannya Mittelt bisa merasakan kalau kematian sudah membisik tepat di telinganya. Jika melawan Mr. Nine mereka tidak apa – apanya apalagi Ms. Eight. Mereka sudah menyiapkan mental mereka jika Ms. Eight menyerang saat itu. Namun wanita itu malah tertawa, tertawa! Seakan – akan mereka hanyalah lolucon dihadapannya. Mittelt mencengkram M4 Carbine yang ada ditangannya saat mengingat kejadian itu. Untung saja pertemuan mereka dengan Mr. Nine dulu memberikan pelajaran pada Kalawarner, jadi posisi mereka tidak menjadi lebih buruk lagi. Setelah wanita itu puas tertawa, ia langsung mengatakan kalau mereka adalah anak buahnya. Wajah Mittelt mengeras setelah mendengar hal itu, namun perkataan wanita itu selanjutnya membuat dia – tidak – mereka sadar kalau nasib mereka berputar ditelapak tangan Mr. Nine. Dia mengatakan kalau ia tidak akan membunuh mereka karena Mr. Nine mengatakannya, dengan kata lain mereka masih berguna bagi Mr. Nine. Setelah itu? Mittelt meringis, ia…. Tidak ingin memikirkanya.

"Kita akan ke Romania. Ada beberapa orang yang harus kutemui disana." Ia kemudian membuka sebuah koper yang dibawanya ke basemen ini dan mengeluarkan sebuah sniper rifle yang cukup besar. Ia lalu bersenandung sambil mulai merakit sniper itu sesuai kebutuhannya. Mittelt menoleh saat mendengar suara kokangan, matanya berkedip saat melihat pilihan senjata Kalawarner, yaitu P90 lengkap dengan laser. Perhatian mereka bertiga teralih saat Charlote berhenti bersenandung dan menatap mereka dengan satu alis terangkat."Aku hanya penasaran. Apa kalian sadar resiko pekerjaan ini?" Tangan Kalawarner dan Dohansek terkepal keras saat mendengar pertanyaan itu. Beraninya dia?! Setelah mengejek nasib yang dialami mereka menanyakan hal itu!

"Resiko itu tidak menjadi masalah setelah mengetahui nasib kami." Kalawarner menutup mulutnya karena didahului ucapan datar dari Mittetl. Mereka bertiga mendecih kemudian menundukan kepalanya karena diingatkan oleh nasib mereka. Charlote mengerjapkan matanya melihat perubahan ekspresi mereka. Menggelengkan kepalanya, ia terkekeh.

"Nah, nah. Jangan galau begitu. Kalau belum dicoba belum tahu kan?" Menaruh snipernya dipundak, Charlote berjalan kedalam lingkarang sihir yang dibuatnya sebelum ia mengantar Asia ke Osaka. Meski dengan ketidaksukaan yang besar dengan wanita itu, tapi para Malaikat terbuang itu tetap mengikutinya kedalam lingkaran sihir itu. Mittelt kembali memeriksa perlengkapannya, sementara Charlote menentukan posisi mendarat. Mereka semua tersentak saat Charlote berdiri dan menatap mereka dengan dingin. "… Lagipula aku membenci orang yang pesimis." Para Malaikat terbuang itu hanya bisa meneguk ludahnya sebelum cahaya menyilaukan menelan mereka.

.

Sekarang mereka tengah berjalan kaki ditengah hutan. Charlote menyarankan untuk tidak menggunakan energy sihir ditempat ini karena itu dapat menarik perhatian mahkluk supranatural yang lain meskipun dalam perjalanan mereka tadi bertemu beberapa vampire dan Ghoul yang mencari masalah. Tangan Mittelt kembali pada pinggangnya, tempat ia menaruh pistolnya, meskipun pemuda berambut silver itu hanya menggunakan mereka, tapi nasihat dan sarannya sangat berguna. Ia berkata senjata yang baik itu adalah senjata yang dapat bertahan dan menyerang sekaligus. Mittelt kemudian sedikit mengangkat tudung coklat yang mereka bertiga kenakan saat ini untuk menatap punggung Charlote.

Sembilan pembunuh paling mematikan didunia. Itulah yang terus terngiang dikepalanya saat melihat dua orang ini. Jujur dalam hidupnya Mittelt tak pernah membanyangkan bertemu dengan dua dari Sembilan pembunuh itu, apalagi berkerja sama dengan mereka. Sekarang ini dia dapat mengetahui mengapa orang – orang itu sangat ditakuti di dunia termasuk supranatural. Selain dengan skill mereka yang sudah tidak perlu dipertanyakan lagi, mereka juga mempunyai cara tersendiri untuk menghabisi targetnya. Berbeda dengan Mr. Nine yang cepat dan tak ingin membuang waktu, tidak menyianyiakan kesempatan sedikit pun. Ms. Eight menghabisi targetnya dengan cara memberikan kemenangan dan keselamatan pada targetnya bahwa ia sudah selamat, kemudian setelah itu dia menghabisinya. Mittelt mengelus pundaknya yang terkena goresan dari beberapa vampire yang menyerangnya tadi. Selain menjadi atasan mereka kali ini, wanita itu juga melatih mereka dalam beberapa hal. Seperti harus siap akan segala kemungkinan yang akan terjadi dan cara mengalihkan rasa sakit saat terluka. Dia maju terlebih dulu kemudian mempermainkan musuhnya sambil mengarahkannya pada mereka. Dirinya yang tidak siap dengan perubahan alur pertarungan yang tiba – tiba itu membuat pundaknya terluka. Meskipun dia musuh, orang yang paling dibenci sekalipun, bukan berarti kau harus mengabaikan nasihat yang diberikannya. Itulah yang dapat disimpulkan Mittelt dari pengalamannya berkerja sama dengan dua orang itu.

"Ayo, sebentar lagi kita sampai." Ucapan Charlote menyadarkan Miittel dari pikirannya. Ia mendongak dan melihat jalan agak besar. Kalawarner dan Dohansek juga sudah menunggunya di jalan itu. Sepertinya ia terlalu larut dengan pikirannya sendiri sampai tertinggal. Mereka kemudian melanjutkan perjalanan mengikuti jalan agak besar itu. Tak lama kemudian terlihat sebuah desa didepan dengan sebuah gerbang agak besar sebagai pintu masuk. Itu masuk akal mengetahui mahkluk supranatural di Negara ini cukup bergerak dengan bebas. Mereka masuk begitu saja kedalam desa itu, karena memang gerbang besar itu sudah terbuka. Saat mereka masuk, mereka tidak bisa menghentikan dahi mereka mengkerut. Untuk keterangan saja Negara ini dikuasai oleh mahkluk supranatural, vampire lebih tepatnya. Memang tidak secara terang – terangan, tapi para fraksi yang lain mendapat pesan yang jelas kalau Negara ini dibawah kekuasaan Vampire. Dan dengan mahkluk arogan dan egois seperti itu yang menguasai Negara ini sudah menjadi gambaran yang tepat jika kondisi warga disini dalam konstan ketakutan dengan kematian yang dapat mengincar mereka setiap saat. Jadi saat melihat suasana desa ini ceria dan begitu bahagia itu sudah sangat mencurigakan. Jadi tak salah jika para Malaikat jatuh itu sudah memegang senjata masing – masing.

Pandangan mereka teralihkan kedepan saat merasakan sebuah aura, aura yang sangat mereka kenal. Aura itu berasal dari seorang laki – laki berbadan agak tegap berambut biru, berpakaian semacam jubah berwarna putih dengan daleman berwarna hitam yang ada semacam magatama berwarna merah ditengahnya. Tunggu apakah itu tanduk? Mittelt berkedip dan tidak ada apa pun dikepala pria itu. Mereka semakin mempererat pegangan pada senjatanya saat pria itu semakin mendekat. Sudah cukup aneh suasana di desa ini. Sekarang keberadaan iblis liar disini semakin membingungkan semuanya.

Keringat dingin mulai menetes didahi mereka saat iblis liar itu tidak bergeming akan aksi aggressive mereka. Menegangkan otot dikakinya, Mittelt bersiap menyerang jika tidak ditahan oleh Charlote yang mengangkat tangannya lalu melambaikannya dengan ceria kepada pria itu.

"Halo~" Pria itu berkedip melihat tingkah Charlote. Iris biru menatap tajam pada mereka lalu beralih ke wanita pirang itu. "Kami baru datang disini. Bisakah kau antarkan kami pada kepala desa?" Untuk beberapa saat pria itu tidak menjawab, hanya menatap mereka dengan pandangan datar nan tajam.

"Ada perlu apa kalian menemui kepala desa?" Tanya pria itu setelah beberapa saat kemudian. Tidak ada ekspresi apapun diwajah ataupun nada bicaranya. Charlote tersenyum senang lalu mengibaskan tangannya. Sebuah sinyal untuk mereka agar tidak bertindak gegabah. Melihat sinyal itu, mereka menurunkan kuda – kuda mereka tapi tidak kewaspadaan mereka.

"Kami ingin mewarnai putih dengan delapan dan Sembilan!" Sekarang Mittelt dapat melihat perubahan ekspresi diwajah datar pria itu walaupun hanya sesaat. Mengangguk kecil, pria itu berbalik dan berjalan menuju sebuah kastil besar di tengah desa.

"Baiklah, ikuti aku."

.

Mittelt beserta Kalawarner dan Dohansek berjalan dalam diam dan kewaspadaan yang tinggi saat mengikuti pria itu. Otot mereka menegang, matanya tidak dapat berhenti pada satu objek, mereka seakan – akan mengharapkan ada yang meloncat dari sudut rumah untuk menyergap mereka.

"Oi! Senyumlah sedikit. Kalian menakuti anak – anak."Charlote tertawa ceria sambil memberikan apel dari tas yang dibawanya pada anak – anak yang menggerumbunginya. Memberikan senyuman terkahir pada anak – anak yang mulai melarikan diri dengan apel ditangan mereka, Charlote berdiri menunjuk kearah belakang Trio Malaikat dengan seringaian. Tidak bisa menekan rasa penasaran mereka, mereka berbalik dan melihak anak kecil dari berbagai umur bersembunyi dibalik setiap sudut bangunan sambil memoloti mereka dengan tajam. Mittelt sweatdrop.

"Mau bagaimana lagi? Semua kondisi ini sangat tak masuk akal." Gumam Kalawarner sambil mengelus belakang lehernya. Mereka mulai berjalan lagi menuju rumah kepala desa, namun kali ini mereka berjalan lebih santai. Mittelt juga setuju dengan pernyataan Kalawarner. Dia sudah hidup cukup lama, tapi baru kali ini mendegar ada suatu wilayah yang dikuasai oleh iblis liar. Mereka sudah dapat melihat pintu gerbang kastil itu didepan. Syukurlah, kakinya tidak dapat bertahan lebih lama lagi.

"Itu benar. Tapi kita harus beradaptasi pada lingkungan dan keadaan. Itu adalah hal selanjutnya yang kalian harus pelajari." Nasihat Charlote pada wanita montok itu. Mittelt mengangguk, mencoba menanamkan kalimat itu dikepalanya. Sedangkan Dohansek mengambil sebuah catatan dari sakunya untuk menulis nasihat itu. Itu adalah salah satu hobi yang dilakukannya untuk melupakan nafsu bertarung yang mulai membludak. Memang agak aneh, tapi jika tidak membuat masalah, tidak apa – apa kan. Lagipula hobinya itu juga murah. Pria itu melirik kearah mereka, kemudian kembali memandang kedepan. Aksi itu membuat Mittelt penasaran. Benar saja, tak lama kemudian pria itu mulai berbicara.

"Reaksi kalian wajar. Kalian adalah satu – satunya orang luar yang mengatasi hal ini dengan baik." Satu – satunya? Memangnya apa yang terjadi pada orang luar yang mengetahui rahasia ini? Pikir Mittelt dengan penasaran. Kemudian malaikat loli itu melihat Charlote yang menirukan orang melahap sesuatu. Oh, oh, setelah dipikir – pikir dirinya tidak mau tahu jawaban pertanyaannya tadi. Wajah pucat Mittelt memandang pria berambut biru itu yang tengah menoleh kearah mereka sambil memberikan seringaian. "Aku akui kalian punya insting yang bagus dapat mengetahuiku saat pertama kali bertemu. Itu hal yang bagus, jadi pertahankan ya." Mereka berjengit, mengetahui perkataan mereka tadi membuat pria itu tersinggung. Kalawarner membuang muka setelah tertangkap basah, tapi satu tatapan dari Charlote membuatnya mendesah.

"Aku minta maaf telah menyinggungmu." Gumam Kalawarner masih membuang muka kearah lain. Pria itu berkedip lalu mengibaskan tangannya sambil terkekeh.

"Permintaan maaf diterima." Wanita montok itu mendelik kearah Charlote yang tengah mengangguk puas atas permintaan maafnya tadi. Pria itu mengangkat tangannya membuat mereka berhenti. Pria itu menatap datar pintu kastil didepannya yang terbanting terbuka dari dalam. Sebuah sosok berlari keluar dari dalam kastil itu kemudian meloncat tinggi dan melakukan berbagai gerakan yang dapat membuat peloncat indah professional iri. Pria berambut biru itu mengambil satu langkah ke belakang karena sosok itu tepat mendarat dimana Pria itu tadi berdiri.

"Susan! Disini kau rupanya! Aku sudah mencarimu kemana – mana tadi. Kau sudah membuat laporan kan? Jadi mau makan bareng, Isabela membuat pai apel yang sangat enak." Susan nama pria berambut biru itu memegang bahu wanita itu untuk membuatnya tenang.

"Ya, aku disini Seryu. Sudah, tapi nanti aku harus mengantar para tamu ini kehadapan kepala desa." Susan melepaskan tangannya lalu mundur.

"Oh, jadi begitu…" Gadis itu memasang wajah kecewa. Lalu miringkan kepalanya kearah mereka, ia bertanya dengan ceria. "Jadi, jadi, siapa mereka?" Susan menghela nafas pada antic dari Seryu, tapi tak dapat menahan senyuman kecil mengembang dibibirnya.

"Merekalah tamu yang ingin menemui kepala desa." Susan memberikan tanda pada mereka. Charlote berdehem kemudian maju terlebih dulu.

"Yo, Charlote D. Stensel. Salam kenal." Ucap wanita berambut pirang sambil mengangkat tangannya.

"Mittelt. Hanya itu." Selanjutnya perkenalan datar dari loli berambut pirang di belakang Charlote.

"Hmmp. Kalawarner." Wanita montok berambut ungu itu mendengus kemudian membuang muka. Dahi Seryu mengkerut melihat sikap wanita itu.

"Dohansek. Senang bertemu denganmu." Yang terakhir merupakan laki – laki berambut hitam tengah memegang buku catatan ditangannya. Merasa gilirannya untuk mengenalkan diri, Seryu membusungkan dadanya lalu menunjuk dirinya.

"Seryu Ubiquitous. Polisi keamanan desa ini. Jika kalian dalam masalah, jangan malu meminta bantuan padaku ya." Seryu mengakhiri perkenalannya dengan melakukan hormat. Mereka memandang gadis itu agak lama. Seryu mengenakan pakaian berwarna hijau dengan celana senada dengan bajunya, terdapat sebuah sabuk berwarna hitam dipinggangnya. Ia memiliki rambut dan mata berwarna coklat caramel. Jika dilihat dari situ, Seryu merupakan gadis yang manis. Tapi semua itu lenyap karena masker dengan gambar gigi yang dikatup yang dipakainya. Ia juga memakai sebuah penutup mata berwarna hitam pada mata kirinya. Lalu Seryu tersenyum kearah Susan, setidaknya mereka tahu kalau ia sedang tersenyum. "Senang bertemu dengan kalian. Sebaiknya kau selesaikan ini dengan cepat, aku sudah lapar. Jadi aku tunggu ditempat Isabela ya!" Ucapnya lalu berlari menjauh. Susan kemudian kembali berjalan kearah kastil dan diikuti oleh mereka.

"Susan-san. Hanya anda yang belum mengenalkan diri." Mereka semua berkedip saat Dohansek mengatakan itu. Pria berambut biru itu terkekeh gugup sambil mengaruk belakang lehernya.

"Ah, maafkan aku untuk hal itu. Namaku Susanoo, orang – orang disini memanggilku Susan." Kemudian ia dengan cepat menambahkan." Tidak. Aku tidak memiliki hubungan apapun dengan Dewa Susano`o dari mitologi Shinto." Kalawarner menutup mulutnya lalu ber`oh' ria setelah mendengar penjelasan Susano. Mereka sudah masuk kedalam kastil itu, kastil itu memiliki tiga tingkat jika dilihat dari luar. Namun mengetahui yang tinggal disini bukanlah manusia biasa, sepertinya masih banyak tingkatan lagi atau bahkan ruangan bawah tanah. Mereka kemudian memasuki sebuah pintu yang agak besar. Dohansek mengangguk terimakasih pada Susano karena membukakan pintu itu untuk mereka dan dibalas anggukkan singkat dari Susano.

Setelah memasuki pintu itu yang pertama kali diperhatikan oleh Mittelt adalah funitur dan dekorasi yang ada didalam ruangan itu. Funitur dan dekorasi ruangan itu dapat dikatakan….. aneh. Dengan berbagai macam senjata jaman pertengahan seperti, Long-sword, Morning star, helberd, tombak, sampai perisai. Di dinding juga terdapat berbagai macam crossbow dan musket yang digantung. Dan didepan mereka terdapat dua buah meriam agak besar yang mengarah pada pintu masuk. Hal selanjutnya yang diperhatikan Mittelt adalah kasur. Sebuah kasur berukuran King size yang tertutupi semacam kelambu berwarna putih berada diujung ruangan. Dari tempat mereka berdiri, Mittelt dapat melihat sesosok banyangan tengah duduk diatas kasur itu. Melihat bagaimana sikap Susano pada sosok itu, memastikan kalau sosok itu adalah Si kepala desa, orang yang menjadi tujuan mereka kesini. Dan sepertinya dia juga sudah menunggu mereka. Baguslah.

"Kau terlambat." Suara yang dikeluarkan sosok itu halus dan lembut, menandakan kalau sosok itu seorang perempuan. Para malaikat jatuh itu menutup mulutnya. Mereka tidak ingin melakukan hal gegabah dihadapan perempuan itu. Mittelt menegapkan tubuhnya saat merasakan mata perempuan itu tertuju padanya. "Dan kau juga membawa teman." Charlote mengangkat bahu sambil memutar lehernya.

"Yah. Medan yang kami lalui bukan merupakan yang paling mudah. Dan hey, setidaknya kami datang dengan utuh kan." Charlote melirik kearah mereka. "Aku rasa tidak apa – apa membawa satu atau dua teman kan. Yah, kau bisa menganggap mereka bodyguard-ku." Perempuan itu menatap Charlote agak lama kemudian mengangguk.

"Jadi begitu. Lalu apa keinginanmu datang kesini? Setahuku kau memiliki fasilitas dan anggota yang cukup besar untuk mengatasi apapun masalah yang kau hadapi saat ini." Sosok itu menutup matanya."Sampai – sampai datang ketempat terpencil yang dikuasai oleh mahkluk hina sepertiku?" Sosok itu memiringkan kepalanya memandang Charlote penuh tanya. Charlote terkekeh.

"Kau terlalu rendah diri. Apa yang kau lakukan didesa ini belum tentu bisa dilakukan oleh malaikat sekalipun. Dan aku rasa bakat itulah yang aku ingin pinjamkan darimu." Charlote kemudian menambahkan. "Aku tahu kau sangat menghargai surge ini dari apapun."

"Itu benar."

"Dan kau pasti sadar bahwa dunia ini lebih luas dari yang kau kira kan?" Charlote dapat melihat bibir perempuan itu menjadi garis tipis."Makanya aku menawarkan hal ini padamu. Bagaimana?" Sosok itu memandang tajam Charlote. Mittelt meneguk ludah merasakan suasana tegang didepannya. Perempuan itu bukan tandingan dari mereka bertiga, dan melihat dahi Charlote yang mulai berkeringat dingin menandakan kalau Charlote sendiri merasakan hal yang sama dengan dirinya. Energi sihir yang dikeluarkan perempuan itu menyebar kesetiap sudut kastil. Sensasi itu menghilang ketika perempuan itu menghela nafas. Perempuan itu mengalihkan perhatiannya pada Susan yang berdiri disamping meriam.

"Susan, bisa kau bawa tamu kita ini keluar sebentar. Pastikan mereka merasa nyaman. Aku ingin bicara dengan Charlote." Membungkukkan badannya Susan menggiring Trio malaikat keluar ruangan. Kalawarner menoleh pada Charlote kemudian mengikuti kedua temannya keluar.

Bunyi dentuman pintu merupakan suara terakhir yang terdengar diruangan itu. Kedua wanita itu masih menatap masing – masing dengan tajam. Melihat bibir perempuan itu berkedut, Charlote tidak bisa menahan bibirnya berubah menjadi seringaian. Tak lama kemudian bahu kedua wanita itu bergetar. Dan akhirnya mereka berdua meledak tertawa, puas tertawa selama lima menit Charlote mengusap air mata yang sempat keluar karena tertawa. Wanita pirang itu mendekati kasur itu dengan seringaian dibibirnya. Perempuan itu turun dari kasurnya, menampakkan seorang gadis remaja berusia antara 14 atau 16 tahun. Gadis itu memiliki rambut berwarna biru pucat hampir putih yang digerai begitu saja.

"Oh Charlote. Aku senang kau tidak kehilangan sentuhanmu." Masih ada air diujung matanya. Gadis itu mengusap matanya, iris merah delima itu seakan berkelip melihat Charlote.

"Shiro~!" Charlote dengan cepat menjebak Shiro dalam pelukannya. Setelah memutar gadis malang itu beberapa kali, Ia menurunkannya lalu mengelus pucuk surai Shiro. "Syukurlah aku memenuhi harapanmu. Woah! Kau bertambah besar Shiro!" Gadis itu memutar matanya melihat ekspresi terkejut Charlote. Menggembungkan pipinya, Shiro meninggalkan Charlote menuju pintu disamping kasurnya. Ia tahu kalau perkataaan itu tidak bermaksud apa – apa. Tapi perkataan itu tetap saja menyakitkan untuk didengar. Meskipun pandangannya lurus kedepan, iris merah delima itu tidak berhenti melirik dua buah bola yang menggantung didada Charlote. Menggeleng pasrah, ia mendesah panjang.

"Kau mengatakan melalui medan yang sulit, apa maksudmu tentang hal itu? Aku yakin sudah `membersihkan' daerah sekitar sini." Maksud dari sekitar sini itu adalah dalam radius 5 km dari gerbang desa. Charlote berjalan dibelakang gadis yang lebih pendek itu, setelah memasuki pintu tadi obor – obor yang digantung di dinding menyala dengan sendirinya. Tidak terlalu terang, tapi cukup untuk melihat kedepan. Wanita pirang itu mengambil beberapa saat sebelum menjawab.

"Bukan masalah besar sih. Tapi kami sempat diserang oleh kawanan Ghoul sekitar 2 km dari sini. Tentu saja kami menghabisi mereka. Kau tidak keberatan aku mengulurkan tangan sekali – kali kan?" Charlote mengedipkan matanya pada wajah datar Shiro. Jangan remehkan dia hanya kerena tubuhnya seperti anak kecil, meskipun memang anak kecil. Shiro memiliki kekuatan yang unik, ia memiliki Sacred Gear yang bernama Glory Of War. Ia bisa memanggil senjata apapun selama senjata itu pernah digunakan dalam peperangan. Dan satu hal lagi, Shiro merupakan iblis liar kelas double S. Jadi jangan macam – macam dengannya. Kalian tidak mengira kalau hanya Si kucing liar Kuroka yang mendapat peringkat Double S kan?

"Terima kasih. Sepertinya aku melewatkan beberapa. Sebaiknya aku kembali memeriksa kekkai yang kupasang." Dahi gadis itu mengkerut, ia benar – benar serius jika itu menyangkut desanya ini. Ah, benar – benar contoh pemimpin yang hebat. Shiro menggelengkan kepalanya, dia tidak boleh terlalu memikirkan hal ini. Dia harus sadar kalau sekarang dia tidak sendiri, ada orang yang bersedia menjadi sandarannya jika dia jatuh. Sekarang mereka tengah berhenti disebuah pintu kecil, mengambil nafas Shiro mendorong pintu itu terbuka. Senyuman nostalgia tercetak dibibir mungilnya.

"Kakak, aku pulang."

Ekspresi Charlote melunak saat mendengar Shiro mengatakan itu dengan wajah tak terbaca. Didalam ruangan itu terdapat sebuah super computer dengan empat layar disudut ruangan. Diseberangnya terdapat seorang laki – laki berambut coklat kemerahan tengah tertidur diatas ranjang rumah sakit dengan beberapa bantuan lainnya seperti infus dan lain – lain. Sama seperti ruangan tadi, ruangan ini juga dipenuhi berbagai macam senjata, tapi senjata yang ada diruangan itu cenderung bertipe jarak jauh. Panah, Crossbow, musket adalah contoh senjata yang ada dikamar itu. Kepala Charlote terangkat saat melihat suatu benda yang tidak seharusnya ada disini. Sebuah pedang, pedang itu berbeda dari pedang yang dilihatnya diruangan tadi. Terdapat aura suci dari pedang itu. Tidak banyak yang bisa merasakan aura pedang itu meski dari dekat sekalipun. Karena sarung yang membungkus pedang itu terus – menerus menghisap aura suci yang dikeluarkan pedang itu. Charlote mendekati Shiro yang sudah memeriksa alat bantu lelaki itu. Sora, itu adalah nama lelaki itu. Ia adalah kakak dari Shiro. Charlote berdiri disamping Shiro memandang lelaki itu.

"Bagaimana? Apa ada perubahan?" Hanya gelengan kepala jawaban dari gadis itu. Tidak ada yang aneh di kehidupan mereka berdua, mereka merupakan kakak beradik yang menyanyangi satu sama lain. Meskipun terkadang melenceng dari kodrat kakak beradik. Mereka benar – benar duo yang sangat luar biasa. Saling melengkapi menghadapi berbagai macam rintangan dan cobaan. Satu – satunya cara untuk mengalahkan mereka berdua adalah dengan memisah mereka. Dan bagaimana pun cara musuh mereka untuk memisahkan kakak beradik itu selalu gagal. Sampai saat itu. Saat dimana Shiro mengakifkan Sacred Gearnya. Seorang iblis yang tertarik dengan kemampuannya datang dan memberikan tawaran yang menurut akal tidak dapat ditolak. Mengetahui kedekatan kedua kakak beradik itu, ia meracuni sang kakak agar sang adik mau menerima tawarannya. Mereka yang tidak tahu menahu tentang dunia supranatural hampir putus asa. Sampai sang kakak mengatakan kalau mereka akan melawan sang iblis. Mereka berdua, iblis baru pengguna Sacred Gear dan seorang manusia melawan Iblis kelas atas beserta Peeragenya yang hampir penuh. Terdengar mustahil bukan? Tapi mereka dapat melakukannya. Dengan kekuatan baru Shiro, kekompakan, dan ketajaman pikiran mereka, mereka berhasil mengalahkan Iblis itu. Tidak ingin dia menikmati neraka sendirian, iblis itu melakukan aksi terakhir. Merebut satu hal yang paling berharga dari Shiro yaitu, Sora kakaknya.

Shiro menggemgam teralis besi yang ada dikasur itu dengan kuat. Charlote menatap gadis itu tapi tidak mengatakan apa – apa. Seharusnya dia mengetahuinya, kakaknya selalu mengingatkan kalau informasi itu adalah sesuatu yang penting. Bahkan sekecil apapun informasi itu. Ia berhasil melindungi Sora dari serangan bunuh diri iblis itu, tapi itu bukanlah satu – satunya rencana yang dimilikinya untuk membuat mereka menderita. Pada saat dia menyadari hal itu, semuanya sudah terlambat. Saat itu mereka tengah bertemu dengan salah satu darinya, seorang iblis liar. Ditengah pertarungan itu, ia merasakan rasa lapar yang teramat sangat. Hanya merah yang dapat dilihat matanya dan bau harum dari sampingnya. Dirinya yang terlena itu tidak sadar dan hanya mengikuti nafsunya saja. Dia baru sadar saat sebuah kapak dari iblis liar itu menancap dipundaknya. Merasa terganggu, ia mendesis dan mendelik pada iblis liar itu. Tapi erangan dari sosok dibawahnya membuat ia tersadar dan melihat kebawah. Pemandangan itu membuat darahnya membeku, serasa seperti ada es batu yang dijatuhkan kedalam perutnya. Yang pertama dilihatnya adalah wajah pucat dari kakaknya yang tidak bergerak sama sekali kemudian darah dikedua tangannya lalu sebuah lubang menganga di dada kakaknya. Pertama dia mengira ada seseorang yang melukai kakaknya saat dia sedang bertarung dengan iblis liar tadi. Panik mulai menyerangnya saat itu. Namun kepanikan itu berubah menjadi terror dan horror setelah merasakan cairan merah yang ada dibibirnya. Tidak dapat menyangkal lagi, ia melompat kebelakang sambil terus menggeleng dan menggumamkan tidak mungkin. Kata – kata dari iblis liar itu masih terngiang dikepalanya.

"Seorang iblis reinkarnasi yang tidak memiliki tuan tidak lebih dari monster yang belum menetas. Itulah diri kita sebenarnya."

Tapi tidak, ia berhasil dinyakinkan oleh kakaknya kalau dia itu bukan monster. Bodohnya dia tidak mengetahui hal ini. Inilah yang dinginkan dari iblis itu, dimana orang tersanyang mereka yang membunuhnya. Mengetahui kalau tidak ada pilihan lain selain kematian, ia mencabut kapak yang ada dibahunya dan bersiap menebaskannya ke lehernya. Tidak ada lagi yang bisa dilakukannya, dengan luka yang seperti itu tidak ada lagi yang bisa menyelamatkannya. Dengan pemikiran seperti itu ia menganyunkan kapak itu. Dirinya tidak menutup mata, ia terlalu hina untuk merasakan perasaan manusia seperti ampunan dan kebebasan. Namun matanya melebar saat tangan iblis liar itu menahan dan mengambil kapak itu lalu membuangnya dengan keras. Iblis liar yang diingat memiliki nama Aiko itu berteriak di mukanya. Mengatakan sesuatu tentang harapan dan tidak menghargai keinginan dari kakaknya. Ia saat itu hanya membiarkan tubuhnya diguncang oleh iblis liar itu, matanya menatap kosong kapak yang telah terlempar dan tertancap beberapa meter dari mereka berdua. Pandangannya kembali, seluruh otaknya mulai kembali berkerja saat mendengar apa yang dikatakan Aiko selanjutnya. Ada sebuah cara untuk menyelamatkan Sora yaitu….

"Lotus garden… Sebuah teknik dimana pengguna atau targetnya dijebak dalam mimpi tanpa akhir. Mimpi yang membuat dunia tempat tinggalnya menjadi tempat yang menyedihkan." Ucap Charlote dengan santai. Shiro mendelik, iris merah delimannya berubah menjadi vertikal. Seluruh senjata kecuali pedang suci itu bergetar. "Cara tercepat untuk menghilangkan efek teknik itu adalah dengan membunuh korban." Lanjut Charlote sambil melipat tangan didada. Kepala Shiro tertunduk, ekspresi wajahnya tidak terlihat. Bahunya bergetar, tangannya mencengkram teralis besi kasur itu dengan kuat sampai – sampai teralis itu putus. Seluruh senjata diruangan itu melanyang dan membidik kearah Charlote. Melirik keatas untuk melihat puluhan musket yang siap menembaknya, Charlote menghela nafas. "Itu semua hanya pengetahuan yang diketahui oleh orang awam. Jika kau mau ak – "

"Tidak!" Omongan Charlote diputus oleh teriakan Shiro. Gadis itu menutup telinganya dengan kedua tangan, ia menggelengkan kepalanya dengan keras berharap agar dia tidak lagi mendengar suara Charlote. Pengaman dari musket itu terlepas dengan bunyi klik. "Kumohon, jangan… jangan lagi. Aku… tidak sanggup lagi. Satu – satunya yang membuatku masih berdiri disini adalah harapan mereka berdua padaku." Setelah mendengar hal itu, ia langsung memandang iblis liar itu dengan pandangan berharap yang besar. Iris delima yang putus asa itu hampir memohon kalau ada sebuah cara untuk menyelamatkan Sora. Dia hampir menghela nafas lega saat Aiko mengangguk. Saat ia ingin menyanyakan bagaimana caranya, dia memandang dengan kekaguman yang ngeri saat Aiko menusukan tangannya ke dada dan mengeluarkan jantungnya yang masih berdetak. Dari jantung itu keluar sebuah bidak catur, sebuah bidak Bishop.

"Selama ini aku sudah kehilangan kemanusiaanku. Aku berjuang dan bertahan agar tetap menjadi manusia, tapi dengan wujudku yang sekarang ini….. Aku mulai kehilangan apa yang membuatku manusia. Lalu kau datang menyadarkanku akan hal itu dan aku berterimakasih untuk itu." Gadis itu menggemgam bidak Bishop ditangannya. Ia memberikan senyuman tulus disela darah yang mengotori bibirnya. "…. Meskipun aku bukanlah manusia. Tapi setidaknya aku bisa mati merasa menjadi manusia."

Shiro menggelengkan kepalanya, digigitnya bibirnya agar tidak mengeluarkan isakan saat mengingat ingatan tadi. "Aku tidak yakin, apakah aku masih sanggup jika dikhianati harapanku sendiri."

Charlote memandang gadis itu dengan ekspresi sulit. Dia bertemu dengan gadis itu saat sedang memburu targetnya. Targetnya itu melakukan penjualan budak, dan pihak gereja menyewanya karena sudah banyak Exorsict yang gugur oleh kelicikannya. Tapi ternyata targetnya sudah dihabisi oleh Shiro terlebih dahulu. Meskipun dengan awal yang tidak baik, peluru melayang dan pedang terbang kemana – mana. Charlote berhasil mendekati Shiro dan berteman baik dengannya. Wanita berambut pirang itu menghela nafas lalu mengeluarkan kantong yang diberikan Naruto kemarin dan menaruhnya diatas kasur. Setelah melihat kondisi mental Shiro yang sekarang ini, hanya satu yang bisa dilakukannya.

"Lakukanlah. Keluarkan seluruh frustasimu dan jangan – "

Ucapan Charlote terpotong. Terdengar suara tembakan dan tubuh yang jatuh ke lantai disela isakan tangis dalam kamar itu.

.

Mittelt, Kalawarner, dan Dohansek dibawa Susano ke sebuah ruangan yang nyaman dan cukup luas. Di dalam ruangan itu terdapat sebuah meja agak kecil yang dikelilingi dua sofa panjang dan satu sofa kecil saling bersebrangan. Terdapat dua buah pintu selain pintu masuk. Jika Mittelt dapat menebak, kedua pintu itu terdiri dari kamar tidur dan kamar mandi. Benar – benar sebuah ruangan tamu yang lengkap. Mereka bertiga duduk di sofa yang panjang menghadap pintu masuk.

"Boleh tahu kalian mau minum apa?" Tanya Susano pada mereka. Kepala Kalawarner terangkat dan mulai membuka mulutnya tapi didahului oleh Dohansek.

"Apa saja boleh." Susano mengangguk kemudian pergi mengambilkan mereka minuman. Kalawarner mendengus kesal karena keduluan Dohansek. Ia pun melempar punggungnya ke sofa dan menatap langit – langit.

"Semua ini terasa begitu sulit dipercaya…" Ucapnya tiba – tiba. Dohansek dan Mittelt memandangnya penuh tanya. Masih mengadah ia melanjutkan. "Maksudku, semua situasi ini benar – benar tak masuk akal. Kita sudah hidup cukup lama dan berpikir kita sudah melihat semuanya. Nyatanya sekarang kita malah terkejut melihat iblis liar yang seharusnya menjadi keseharian."

Dohansek menutup buku catatannya. "Mau bagaimana lagi, dunia ini lebih besar dari yang dikira. Bukankah itu yang dikatakan Charlote?"

"Aku tahu. Sepertinya aku yang salah berpikiran seperti itu…." Jawab Kalawarner pelan. Tiba – tiba dia membenarkan posisi duduknya lalu menjambak rambutnya. "Sudah cukup! Aku bisa mati karena penasaran jika begini terus. Aku akan menanyakannya!"

Mittelt dan Dohansek memandang wanita montok itu dengan terkejut. Meskipun Mittelt sendiri juga penasaran. Setiap kali ada iblis liar yang muncul selalu ada perintah untuk melenyapkanya. Bahkan di Grigory juga begitu, ia yang masih pangkat rendah tentu tidak berani melawan perintah atasan (Yang secara ironis ia melawan perintah atasan sehingga terjebak di situasi ini.) Apakah mereka benar – benar monster yang harus segera dilenyapkan? Tapi melihat Susano dan Seryu saat ini (Ya, mereka tahu jika Seryu juga iblis liar) Mereka tampak normal – normal saja. Lalu kenapa iblis liar selalu kehilangan bagian tubuhnya dan diganti dengan tubuh mutasi? Banyak sekali pertanyaan yang ingin ditanyakannya. Tapi pertanyaan yang ia ingin tahu jawabannya adalah, bagaimana cara mereka mempertahankan kewarasan mereka dengan kekuatan yang terus meningkat seperti itu? Mittelt melihat Dohansek berbalik kearah Kalawarner dan memandangnya dengan wajah sangar.

"Apa kau sudah gi – "

"Makanan datang!"

Seruan Seryu yang membawa beberapa buah nampan menghentikan perbincangan mereka. Dibelakangnya terdapat Susano yang tengah membawa nampan yang berisikan satu buah teko dan beberapa buah gelas.

"Silahkan dinikmati." Ucap Susano setelah menyusun nampan yang ia dan Seryu bawa dimeja kecil didepan mereka.

Kalawarner yang melihat Seryu disini kemudian bertanya. "Seryu, bukannya kamu pergi ke rumah Isabela?"

"Hmm? Oh! Iya, aku memang pergi kesana. Tapi mereka bilang Isabela ada dirumah Kepala desa. Makanya aku kesini. Cobalah, itu pai buatan Isabela. Dijamin enak kok!" Jawab Seryu sambil menunjuk nampan yang ia bawa tadi. Mittelt mengambil pai yang sudah disediakan dipiringnya, lalu mengambil sepotong dan memasukannya kedalam mulutnya. Kepala Mittelt terangkat dan matanya berkelip saat merasakan pai apel itu dimulutnya. Tanpa sadar dirinya menghabiskan pai itu dengan lahap dan berbarengan dengan Seryu yang menaruh piringnya diatas piring Mittelt. Mittelt berkedip. Mereka semua tidak menyadari kalau Seryu juga ikut makan dengan mereka tanpa melepaskan topengnya. Mengangkat bahu, Mittelt melirik kedua temannya. Nampaknya mereka juga menikmati pai apel itu.

"Wah, ini enak sekali!" Ucap Kalawarner disela mengunyahnya. Donhansek hanya mengangguk setuju karena mulutnya tengah penuh. Seryu menggaruk kepalanya sambil tersenyum malu – malu.

"Hehe. Terima kasih."

"Yang dipuji itu bukan kamu."

"Gah! Susan!"

Mereka kemudian menghabiskan tiga buah pai apel besar yang dibawa Seryu. Mittelt menyesap teh digelasnya dengan perlahan. Hanya melakukan hal kecil seperti itu saja sudah membuat hatinya tenang. Sepertinya mereka harus lebih menghargai hidup ini meskipun takdir mereka sudah ditentukan. Sementara Mittelt sedang berkelut dengan pikirannya, Susano memperhatikan Kalawarner yang tengah gelisah.

"Apa ada masalah?" Pertanyaan Susano menyadarkan Mittelt dari pikirannya dan juga membuat Kalawarner hampir meloncat karena terkejut. Seryu masih saja bersenandung tak memperdulikan Kalawarner ataupun Susano.

"Ah… um… anu, uhh, Susan, boleh aku menanyakan sesuatu?" Setelah beberapa kali gagal membentuk kalimat akhirnya Kalawarner menanyakan itu dengan muka serius. Seryu yang mendengar nada Kalawarner hanya melirik sekilas lalu kembali bersenandung.

"Ya, boleh." Jawab Susano disertai anggukan. Kalawarner meneguk ludahnya lalu mengambil nafas. Wanita montok itu memajukan tubuhnya memandang Susano yang duduk disebrangnya dengan pandangan paling serius yang pernah dibuat wajahnya.

"Bagaimana caramu mempertahakannya?" Susano mengernyitkan dahinya, ia masih belum mengerti apa yang dikatakan Kalawarner. Dohansek tersedak tehnya mendengar pertanyaan Kalawarner dan juga karena dicubik Mittelt. Satu – satunya pria di grup itu mendelik kearah Mittelt sambil mengelus pinggangnya. Sedangkan yang bersangkutan hanya menyesap tehnya dengan tenang.

"Kewarasan kami kan? Itu yang ingin kau ketahui bukan?" Bukan Susano yang menjawab melainkan Seryu. Mereka langsung memusatkan perhatian mereka pada perempuan itu. Seryu menurunkan kakinya yang ada diatas meja lalu memandang mereka dengan lurus. Kalawarner meneguk ludahnya sekali lagi saat melihat tatapan itu tertuju padanya. Iris coklat caramel itu seakan – akan menghakiminya. Tapi dia mengangguk dengan mantap. Yang penting sekarang adalah memuaskan rasa ingin tahunya. Melihat Mittelt yang tidak menghentikannya, menandakan kalau Malaikat Loli itu juga penasaran. Setelah mendengar maksud dari pertanyaan itu terjadi perubahan atmosper yang signifikan. Wajah Susano juga kehilangan kehangatannya. Seryu mendengus. "Baiklah."

"Eh?"

Mereka semua terkejut saat mendengar Seryu setuju begitu saja. Mereka dapat menduga kalau hal itu merupakan hal yang sensitive untuk dibicarakan.

Kalawarner yang masih belum yakin itu bertanya. "Sungguh?"

"Ya. Kenapa tidak?" Perempuan itu mengangkat bahunya. Dohansek dan Kalawarner menghela nafas lega. Dohansek yang bersyukur tidak terjadi konflik dan Kalawarner yang bersyukur karena rasa penasarannya akan terpuaskan. Mittelt menaikan satu alisnya. Ia masih tidak percaya dengan perkataan Seryu. Seperti yang dikatakan tadi, hal ini merupakan suatu subjek yang sensitive jika dibicarakan jadi jika perempuan itu menyetujuinya begitu saja. Maka dapat dipastikan ada sesuatu dibalik semua ini.

"Bisakah kau katakan padaku, apa yang kau dapatkan dari memberitahukan kami informasi ini?" Tanya Mittelt pada Seryu. Perempuan itu membuka matanya melirik Mittelt dari ekor matanya.

"Selain mendapatkan rasa percaya dari kalian? Kurasa tidak ada." Jawabnya biasa tidak terpengaruh nada mengancam yang digunakan Mittelt. Perempuan itu memiringkan kepalanya, menggunakan tangan kanannya untuk menahan kepalanya, ia menyeringai kearah Mittelt. "Meskipun kalian ingin menggunakan informasi ini untuk melawan kami. Kalian tidak akan bisa selamat keluar dari desa ini."

"Oh? Kau terdengar percaya diri sekali. Bedasarkan apa kata – katamu itu?" Balas malaikat loli itu, tidak terpengaruh ejekan dari Seryu. Iris biru dan coklat karemel saling beradu, tidak ada yang mau mengalah diantara keduanya.

"Selain dari fakta? Aku rasa tidak ada yang lain, Malaikat Jatuh." Iris biru itu semakin menajam, ia bisa melihat seringaian dibalik topeng itu semakin melebar. Energi sihir keduanya saling bertabrakan, saling mendominasi. Kalawarner yang melihat interaksi antara kedua wanita itu hanya bisa berkeringat dingin. Setelah mengetahui kalau Mittelt memiliki pasang sayap lebih banyak dari dirinya, ia sangat terkejut dan sempat jatuh dalam depresi. Tapi setelah mendengar nasihat dari Naruto, dia bangkit dan mencoba untuk melampaui level temannya itu berada. Namun tetap saja, merasakan kekuatannya dari dekat seperti ini membuatnya merinding.

"Hentikan. Aku tidak bisa membiarkan perkelahian pecah disini. Itu artinya, Turunkan energy kalian." Ucap Susano dengan penekanan dan kekuatan didalamnya. Mittelt dan Seryu berjengit dan menurut. Melirik Seryu sebentar, Susano menatap Kalawarner. "Apa kau yakin ingin mengetahuinya?" Wanita montok itu mengangguk pasti.

"Apa kau yakin dengan ini Susano-san? Jika kau tidak mau, kami tidak akan memaksa." Kalawarner membuat suara protes, tapi berjengit kesakitan saat pinggangnya dicubit Dohansek.

Susano menggeleng lalu tersenyum kecil. "Tidak apa – apa. Seperti yang dikatakan Seryu tadi. Selain untuk mendapatkan kepercayaan kalian, aku juga sudah diperintahkan oleh Kepala Desa untuk membuat kalian nyaman. Dan aku tidak akan mengecewakannya. Kalian sudah tahu dasar dari Evil Pieces kan?" Mereka bertiga mengangguk. Mereka telah membaca di perpustakaan Naruto dan bertanya pada Charlote. Meskipun wanita pirang itu sempat bingung, ia tetap memberitahukannya pada mereka. Susano melanjutkan. "Bagus. Diperlukan bidak dan jumlah yang sesuai untuk membangkitkan atau merenkarnasikan suatu mahkluk menjadi iblis. Sebenarnya selain mengubah mahkluk itu menjadi iblis, Evil Piece tidak mengubah tubuh sang mahkluk. Ekor dan sayap itu hanya gambaran yang secara tak sadar dibanyangkan oleh mahkluk yang akan direnkarnasikan. Contohnya Seryu dan aku disini. Aku tidak memiliki sayap tapi malah memiliki tanduk." Untuk membuktikannya, Susano mengeluarkan energy sihirnya. Kemudian wujud manusianya bergetar dan muncul dua buah tanduk di kepalanya. "Bahkan Seryu tidak memiliki sayap tapi mempunyai ekor yang lebih panjang dan kuat." Mereka bertiga memandang takjub ekor Seryu. Benar saja, ekor itu lebih panjang dan tebal dari ekor Iblis biasa. Ujung ekornya juga tidak berbentuk seperti panah seperti iblis biasa kebanyakan melainkan berbentuk seperti belah ketupat. Seryu kemudian menyembunyikan ekornya, mereka bertiga pun kembali memusatkan perhatian pada Susano.

"Evil Pieces juga mengeluarkan potensi sesungguhnya mahkluk yang direnkarnasi. Nah, disinilah masuk sang Raja. Tugas sang raja disini adalah menghentikan potensi itu jika melewati batas. Meskipun banyak Raja yang malah mencari cara agar potensi itu semakin berkembang pesat." Itu berarti sang Raja dapat menghambat perkembangan budaknya jika dia mau. Tapi melihat bagaimana sifat iblis, wajar banyak iblis baru yang membunuh tuannya karena kehilangan akal sehat. Disini Susano tersenyum miris. "Dan jika Iblis renkarnasi kehilangan Tuannya, maka potensi itu akan semakin meningkat dan menggangu mental sang iblis."

"Jadi mereka gila karena mabuk kekuatan, begitu?" Tanya Dohansek dan dibalas anggukan. Jadi begitu cara mereka kehilangan akal sehat, tapi itu belum menjawab pertanyaan yang sebenarnya.

"Kau berpikir menggemgam kekuatan itu, namun kau tidak sadar kau terus, terus ,dan terus menggunakannya. Pada akhirnya…." Seryu merentangkan kedua tangannya agak lebar, lalu menepukan kedua tanganya tiba – tiba. "Boom! Kekuatan itu yang akan mengendalikanmu."

"Setelah sekian lama memikirkannya, kepala desa akhirnya menemukan sebuah cara. Untuk merenkarnasikan suatu mahkluk menjadi iblis diperlukan jumlah dan jenis bidak yang tepat. Setelah memahami arti kata itu, kepala desa kemudian melakukan melakukan eksperimen pada dirinya sendiri. Dan beliau berhasil menemukan cara agar menjaga kewarasannya." Susano behenti kemudian mengeluarkan bidak benteng dari tubuhnya. Sedangkan Seryu membuka penutup mata kirinya dan memperlihatkan bunga mawar berwarna merah yang menggantikan mata kirinya. Bunga mawar itu mekar dan mengeluarkan bidak kuda berwarna hitam pekat kemerahan.

"Yaitu dengan memakan Evil Pieces iblis lain." Ucap keduanya bersamaan.

.

Satu hal yang dirasakan Charlote setelah bangun dari lantai adalah rasa nyeri yang luar biasa di kepalanya. Wanita pirang itu mencoba berdiri namun malah jatuh tertunduk sambil memegang kepalanya.

"Akhirnya kau bangun juga."

Charlote menoleh ke asal suara itu tapi tidak bisa melihat dengan jelas sosok itu karena rasa sakit yang teramat sangat dikepalanya.

"Ini, gunakan itu untuk mengurangi rasa sakitnya."

Sosok itu melempar sesuatu kearahnya. Sebuah botol menggelinding disamping tangannya. Mengerang menahan rasa sakit, Charlote membuka botol itu kemudian menelan isinya. Menghela nafas lega, Charlote menggelengkan kepalanya lalu menatap sosok itu yang mulai jelas. Didepannya duduk Shiro yang tengah memegang kantong yang ditaruhnya di kasur tadi. Dari kantong itu Shiro mengeluarkan sebuah bidak Kuda lalu memakannya. Wanita itu terdiam, kantong itu merupakan bayaran Shinigami pada Naruto karena telah melakukan pekerjaan untuknya. Dirinya jadi bertanya – tanya bagaimana Dewa kematian Shinto itu bisa mendapatkan bidak – bidak itu. Apakah dia mencongkelnya dari iblis liar yang ditemuinya? Mungkin saja. Evil Pieces hanya diberikan pada IBLIS tingkat atas. Jadi tidak mungkin jika Shinigami memintanya pada fraksi iblis.

"Maafkan aku soal yang tadi…" Gumam Shiro pelan. Iris delimanya tidak berani menatap Charlote secara langsung. Charlote menggeleng lalu memutar lehernya.

"Tidak apa – apa. Tapi bisakah kau tidak menembak dikepala? Bukan apa – apa, tapi sakit kepala sesudahnya itu, ugh!" Charlote kembali meringis dan memegang kepalanya. Shiro mendengus lalu melipat tangannya didada.

"Anggap saja itu ganjaran karena sudah memancingku seperti tadi, dan aku menembak dikepala itu agar kau langsung mati." Gadis itu lalu menunduk dan kembali melihat lantai. Iris delimanya melirik Charlote malu – malu. "… Tapi aku sungguh berterima kasih kau ada disampingku Charlote." Lanjutnya dengan nada kecil.

"Tidak masalah, lagipula itulah gunanya teman.." Shiro terkikik mendengar lolucon itu. Senyuman lembut tercipta dibibir Charlote saat mendengar suara gadis itu. Mereka berdua berdiri dari lantai dan kembali memandang Sora yang tergeletak tak berdaya di atas kasur itu. "Jadi apa pilihanmu?" Tanya Charlote. Gadis itu tidak langsung menjawab, ia memainkan rambut coklat kemerahan sang kakak lalu menggengam erat tangannya.

Mengambil nafas lalu membuangnya perlahan, Shiro menatap Charlote. "Jika ini untuk melindungi surgaku ini, maka aku ikut." Memegang bahu Shiro Charlote hanya mengangguk dengan senyuman lebar dibibirnya. Mereka terdiam larut dalam pikiran masing – masing. Hanya ada suara static dari Komputer di ujung ruangan dan suara mesin pedukung Sora. Sampai akhirnya Charlote memandang Shiro dengan nyengir lima jari.

"Ngomong – ngomgon kami boleh gak menginap disini?" Tanya Wanita pirang itu pada gadis itu.

Mengangkat satu alisnya melihat senyuman Charlote Shiro bertanya. "Boleh saja, memangnya kenapa?" Charlote tidak menjawab melainkan semakin nyengir tidak jelas.

"Hehe. Lihat saja nanti."

.

.

.

.

Seorang sosok berkerudung berjalan dengan pasti di tengah hutan. Sosok itu memandang ke depan dan melihat sebuah gerbang agak besar didepannya. Mengeratkan pegangannya pada benda yang dibawa dipunggungnya, sosok itu kemudian berjalan memasuki gerbang itu. Sebenarnya ia memilki misi lain yang lebih penting dari ini, tapi karena ini permintaan khusus dari seorang anak yang taat beragama dia akhirnya menuju kesini. Anak itu mengatakan kalau ayah dan ibunya datang kedesa ini dan tak pernah kembali. Tapi mereka kesini seakan – akan berada dalam kendali sesuatu. Dia berjanji akan menemukan kedua orang tua anak itu meskipun dalam keadaan mayat sekalipun.

Setelah masuk melewati gerbang tadi, hawa menusuk langsung menyerangnya. Desa itu benar – benar seperti desa hantu, tidak ada cahaya apapun disetiap rumah. Benar – benar sangat sepi, terlalu sepi malahan.

"Jika kau datang kesini untuk memberikan khutbah, silahkan. Aku tidak melarangnya, wahai Exorcist."

Sosok itu berbalik dan menatap seorang gadis remaja berambut putih dan memakai seragam Smp yang usang tengah berdiri santai ditengah jalan utama. Sosok itu langsung memasang kuda – kuda melihat gadis itu, meski samar sosok itu dapat merasakan energy yang tidak main – main berputar di sekitar gadis itu.

"Iblis liar…" Gumam sosok itu setelah menyadari aura apa yang dimiliki gadis itu. Gadis itu memiringkan kepalanya saat sosok itu menunduk dan menggumamkan doa untuk penduduk desa ini.

"Dan jika kau mencari kekerasan di desa ini….. Aku peringatkan kau segera pergi dari sini." Nada gadis itu berubah menjadi datar dan dingin saat mengatakan ancaman itu. Sosok itu tidak bergeming melainkan mengambil benda yang dibawa dipunggungnya dan mulai melepas kain yang melilit benda itu.

"Aku terlambat…. Dan nyawa penduduk desa ini menjadi korban…." Gumamnya tidak menghiraukan ancaman gadis itu. "Bapa, semoga kau memaafkanku setelah memusnahkan mahkluk berdosa ini." Dengan sekali tarikan kain yang melilit benda itu terlepas dan menampilkan sebuah pedang besar dengan gagang yang indah dan mata pedang berwarna putih. Aura suci yang menguar dari pedang itu menerangi desa pada malam yang gelap itu.

Gadis itu meghela nafas sambari menggelengkan kepalanya pelan. "…. Mereka tidak belajar."

"Musnahlah mahkluk pendosa!" Sosok itu berseru mengayunkan pedang suci itu secara vertical kedepan. Aura suci dari pedang itu melesat kearah gadis itu dengan cepat, jalan utama desa itu hancur dilewatinya. Gadis itu masih tenang menghadapi serangan yang dapat memunaskan iblis biasa itu. Ia kemudian kembali menggelengkan kepalanya sambil mendesah pasrah.

Gadis itu mengangkat tangan kirinya.

Boom!

.

.

.

Dia ingat namanya adalah Xenovia. Ia dibesarkan di sebuah gereja di Vatikan. Setelah melihat potensi yang dimilikinya, para pendeta dan suster mulai mengajarinya cara menjadi Exorcist. Setelah dibimbing oleh suster yang bernama Griselda Quarta dan lolos tes yang diberikan. Saat itulah ia merasa bangga pada dirinya, bukan karena dapat memegang pedang Excalibur Destruction, Durandal. Tapi sebagai Exorcist yang bernama Xenovia Quarta. Dirinya tidak berhenti disitu, melainkan terus berjuang meningkatkan kemampuannya demi menjalankan tugasnya sebagai Exorcist. Bisa dibilang Xenovia percaya diri dengan kekuatannya. Dirinya pernah bertarung melawan iblis liar kelas S seorang diri dan menang. Tapi kenapa? Kenapa dengan iblis liar ini?

Xenovia menyerang gadis itu dengan inten membunuh. Setiap tebasannya tidak main – main. Iris kuning gelapnya menatap tajam iris merah delima gadis itu. Memiringkan kepala menghindari lemparan sabit Kusarigama gadis itu ,Xenovia maju bersiap menghunuskan Durandal di dada gadis itu. Gadis itu hanya memiringkan tubuhnya lalu berputar. Xenovia kemudian berniat melakukan tebasan horizontal terpaksa harus menundukan kepalanya agar sabit gadis itu tidak memenggal kepalanya. Xenovia mengangkat kepalanya untuk melihat gadis itu melancarkan tendakan kearahnya, secara reflek gadis berambut biru itu menyilangkan tangannya di depan dada.

Buagh!

Xenovia terlempar dan terseret beberapa meter karena tendangan itu. Kini jubah yang dipakainya sudah hilang entah kemana. Gadis beriris kuning gelap itu memakai pakaian ketat berwarna biru gelap yang sudah robek disana – sini. Meringis karena rasa sakit ditangannya akibat tendangan itu, Xenovia kembali mengamati gadis itu. Suara gemerincing rantai Kusarigama terdengar saat gadis itu melilit rantainya di tangan. Tidak ada luka bahkan kotoran sekalipun dibajunya, ekspresinya seakan permanen datar itu memandangnya. Ada rasa kesal dan jengkel di Iris merah delima itu. Baguslah, setidaknya musuh yang dia lawan ini bukan boneka dari iblis liar itu. Xenovia kembali mengangkat Durandal, aura suci kembali menguar dengan intensitas yang kuat dari pedang itu. Tanpa aba – aba Xenovia menebaskan pedangnya kearah gadis itu.

Sekarang ia tahu kenapa ia bisa menang dengan iblis kelas S itu dan kenapa dirinya tidak bisa menorehkan luka sedikitpun pada iblis liar didepannya ini.

Gadis itu meloncat untuk menghindari aura suci mematikan pedang Durandal. Xenovia kemudian kembali mengangkat pedangnya untuk melepaskan gelombang aura suci kearah gadis yang berada di udara itu.

Memang yang dia lawan dulu merupakan iblis liar yang memiliki tekanan kekuatan tingkat S. Tapi dengan kewarasan yang sudah lama menghilang, iblis liar itu tidak ada bedanya dengan banteng yang sedang mengamuk. Dengan sedikit taktik dan muslihat dirinya bisa mengalahkannya. Berbeda dengan iblis liar ini. Seharusnya dia sudah tahu sejak dia berbicara dengannya tadi. Selain aura iblisnya yang memuakkan. Tidak ada tanda – tanda kalau gadis itu kehilangan kewarasannya.

Gerakan Xenovia dicegah gadis itu dengan melempar sabit kearahnya. Sabit itu langsung hancur terkena kontak dengan Durandal. Namun memang itulah tujuan gadis itu. Rantai Kusarigama itu menyelinap di tubuhnya lalu melilit kakinya dan membuatnya jatuh berlutut. Belum sempat merasakan rasa sakit, gadis itu segera mendarat dan memainkan rantainya sehingga rantai itu melilit tubuh Xenovia. Gadis itu kemudian menarik tubuh Xenovia, memutar – mutarnya beberapa saat lalu menghempaskannya ke jalan utama desa itu.

"Ghuakh!"

Darah segar keluar dari mulut Xenovia saat tubuhnya menghantam jalan dengan keras. Tak berhenti disitu, tubuhnya terpelanting dan terpental beberapa ratus meter dari tempatnya berdiri tadi. Dirinya hampir pingsan hanya untuk merasakan rasa sakit tadi. Durandal terpental jauh dari genggamannya. Masih terbaring ditanah, Xenovia berteriak kesakitan saat tombak berwarna coklat menusuk pinggang kanannya. Tak berhenti disitu sebuah anak panah melesat kearah kedua tangannya, menancap tepat dikedua lengannya. Dengan susah payah gadis beriris kuning gelap itu mengangkat kepalanya dan melihat dengan samar gadis itu berjalan santai kearahnya sambil memegang sebuah Crossbow ditangan kanannya. Pandangannya sudah mulai kabur, kesadarannya mulai lenyap dari tubuhnya. Tapi ia masih melihat gadis itu berhenti tepat di depannya dan menodongkan Crossbow itu dikepalanya.

Air mata menumpuk diujung mata gadis itu '… Maafkan aku…. Griselda….. Bapa…' Hal terakhir yang didengar Xenovia adalah bunyi dentingan dua buah proyektil saling bertabrakan.

.

Shiro mengangkat Crossbow ditangannya saat panahnya ditahan peluru sniper dari sebelah kanannya. Menoleh Shiro memandang sosok yang menahan tembakkannya. "Akhirnya kau keluar juga."

Charlote tertawa kecil, menaruh sniper riflenya di pundak, wanita itu mendekati Shiro. "Jika kau tahu aku ada didekat sini? Kenapa kau masih menembaknya?"

"Aku hanya ingin yakin kalau kemampuanmu belum pudar." Menghilangkan Crossbow ditangannya Shiro memandang Charlote. "Ada alasan kenapa kau melindungi Exorcist ini?" Gadis itu menghiraukan Exorcist yang tenggelam dalam genangan darahnya sendiri.

Charlote tidak menjawab, ia mendekati Exorcist itu kemudian mencabut tombak dan panah yang menancap ditubuh Exorcist itu. Setelah selesai Charlote menoleh dan melemparkan phonselnya kearah Shiro.

Shiro menangkap phonsel itu dengan mudah, iris delimanya menari membaca isi pesan phosel itu. Selesai, Shiro mengangguk. "Aku mengerti. Jadi ini alasan sebenarnya kau membawa malaikat jatuh itu." Charlote menggigit jempolnya sampai mengeluarka darah. Kemudian ia membuka mulut Exorcist itu lalu meneteskan darahnya ke dalam mulut gadis itu. Muncul sebuah lingkaran sihir berlambang pohon berwarna putih di bawah gadis itu. Dengan cepat luka – luka ditubuh Exorcist itu mulai menutup. Wanita pirang itu berhenti kemudian mengangkat tubuh Exorcist itu untuk dibawa ke rumah kepala desa.

"Sejujurnya, tujuanku membawa ketiga malaikat jatuh itu kesini untuk memberikan mereka sedikit liburan. Mr. Nine bisa sangat keras terkadang." Mereka mulai berjalan pelan menuju rumah Shiro. Jalan utama dan rumah yang sempat rusak karena pertarungan tadi mulai kembali seperti semula. "Oh! Shiro bisa kau bawakan Excalibur itu sekalian?" Shiro mengagguk kemudian berlari kecil ke tempat Durandal tertancap. Gadis itu dapat melihat aura suci menguar dari pedang itu, tangannya mungkin akan langsung terbakar jika menyentuhnya secara langusung. Mengambil sarung tangan, Shiro mencabut pedang itu dari tanah, meringis ia segera menuju ke tempat Charlote. Shiro tersentak saat energy berwarna hitam keluar dari Sacred Gearnya dan menyelimuti pedang itu sehingga membentuk sebuah sarung. Berkedip, karena tidak tahu apa yang terjadi. Shiro membawa pedang itu ke tempat Charlote dengan memegang sarungnya.

.

.

.

.

.

Uchiha Sasuke Surotobi, seorang Shinobi berlevel Kage. Ia adalah cucu dari Sarada Uchiha, putri dari Sasuke Uchiha, Sang pahlawan perang dunia Shinobi ke-empat. Memiliki rambut raven berwarna hitam dengan warna coklat diujungnya. Sasuke benar – benar mirip seperti kakek moyangnya. Meskipun memiliki darah Surotobi dan Uchiha, ia tidak memiliki elemen api seperti keluarganya. Melainkan memiliki elemen air dan angin, dengan bantuan dari Klan Yuki, ia akhirnya dapat membuat Kekkei Genkai Hyouton. Bisa dibilang dialah Uchiha pertama yang bisa melakukan Hyouton.

Seperti elemennya yang es, Sasuke Surotobi memiliki kepribadian yang santai dan ceria. Meskipun mengetahui ada yang menyelinap di perpustakaan Konoha, ia tidak langsung menyalakan alarm, namun malah mendatanginya.

"Ada yang bisa kubantu Ojou-chan?"

Gadis itu menegang lalu berbalik perlahan. Dari sudut matanya Sasuke bisa melihat sebuah buku bingo di salah satu tumpukan buku yang dicari gadis itu. Gadis itu mempunyai rambut hitam dan mata berwarna abu – abu. Dirinya sempat terkejut melihat banyaknya kebijaksanaan di iris abu – abu itu.

"Tidak perlu Hokage-sama. Saya sudah menemukan apa yang saya cari." Oh? Sepertinya dirinya lupa bilang kalau dirinya merupakan Hokage. Entahlah yang keberapa, mungkin lima belas atau enam belas, dirinya kehilangan hitungan. Tidak, dia tidak memiliki patung wajah yang diukir di gunung. Lagi pula gunung itu sudah penuh oleh wajah – wajah lagendaris dari masa lalu. Sasuke dapat melihat postur gadis itu siaga, bukan siaga yang ditampilkan orang yang sudah terlatih dan terbiasa dengan situasi ini. Melainka siaga yang biasa dilakukan warga sipil. Terkekeh di dalam pikirannya. Sasuke bertanya.

"Sebenarnya apa yang menarik perhatianmu?" Sasuke mendekati gadis itu, jubah Hokagenya berkibar karena gerakannya.

"Ah, saya sangat tertarik dengan sejarah dunia ini." Iris abu – abu itu berkelip saat mengatakan itu. Sasuke bergumam tertarik. Dikelilinginya meja yang menjadi tempat berkumpulnya buku itu. Iris coklatnya menyipit saat melihat salah satu buku. Judul buku itu adalah `One Night Line Tragedy'. Jadi begitu. Sasuke kemudian berjalan menuju salah satu rak buku kemudian menekan tangannya ke rak bagian atas. Gadis itu terkejut karena muncul kepulan asap ditangan Sasuke. Tersenyum kecil melihat reaksi gadis itu, Sasuke menaruh buku agak besar berwarna coklat itu keatas meja. Iris abu – abu itu mengkilat karena penasaran. Sasuke kemudian menekan tangannya di atas buku itu, beberapa saat kemudian terdegar bunyi klik di buku itu. Dengan senyuman kecil Sasuke mengluarkan buku itu dan menaruhnya di hadapan gadis itu.

"Kalau begitu kau pasti suka buku ini. Buku ini juga banyak dicari oleh orang sepertimu." Mata gadis itu memincing mendengar kata dan melihat buku yang di taruh didepannya. Sasuke kemudian menatap gadis itu dengan senyuman kecil. "Sebelumnya, apa aku boleh tahu siapa namamu Ojou-chan?"

Gadis itu menatap buku itu agak lama kemudian memandang Sasuke. Iris abu – abu itu menajam begitu juga postur tubuhnya. "Bisa kau hentikan sandiwara ini Hokage-sama?" Tanyanya datar nan dingin. Dahi Sasuke mengkerut tidak mengerti apa yang dibicarakan gadis itu.

"Apa maksudmu Ojou – "

"Kau sudah mengetahui kalau aku bukan manusia bukan?" Potong gadis itu cepat. Sasuke tidak menajawab, masih tersenyum kecil ia mengambil buku bingo yang ada di meja itu lalu membacanya, iris coklatnya berubah menjadi merah meilirik gadis itu dari ekor matanya. Meski samar, ia melihat aura berwarna emas berputar di sekitar gadis itu. Mengagguk puas pada apa yang ditemukannya. Sasuke berbalik dan menatap gadis itu.

"Ya begitulah. Bisa dibilang kau mirip seorang gadis yang kesini dulu. Hmm, kalau tidak salah namanya Minerva."Wajah gadis itu menjadi datar, ketidaksukaan terpancar jelas diwajahnya. Di dalam iris abu – abunya tersimpan kemarahan yang membara. Tapi secepat itu datang, secepat itu juga ekspresi itu menghilang digantikan raut datar dan dingin. "Ayo, jangan malu – malu. Ambilah buku itu."

Gadis itu menghentak meja, tangannya terkepal di atas buku yang ditaruh Sasuke. "Apa yang akan kau lakukan dengan informasi ini?"

Sasuke menggeleng kepalanya. Ekspresi wajahnya berubah datar. Iris coklatnya berubah menjadi merah dengan tiga koma yang berputar pelan. "Tidak, bukan aku. Yang benar itu, Apa yang akan KAU lakukan dengan informasi ini?"

"… Athena?"

.

.

.

.

.

Bersambung.

Fiuh~ akhirnya selesai juga chap 11 ini.

Pertama saya minta maaf karena para pembaca sekalian harus menunggu hampir sebulan untuk membaca imajinasi saya ini. Ya, ini menceritakan petualangan Charlote dan trio Malaikat jatuh.

Oh, untuk penjelasan mengenai Evil Pieces diatas itu hanya karangan dan hipotesaku saja. Jadi jangan terlalu dianggap seriusnya. Yah jika kalian ingin lebih memahami cerita ini, kurasa ada baiknya menanggapi penjelasan itu dengan serius. Shiro dan Sora di chap ini merupakan Shiro dan Sora dari No Game No Life.

Disini juga diperlihatkan Karakter Akame yang lain seperti Leone, Najenda, Susano, dan Seryu. Dan ada juga Asia yang dilatih langsung oleh Leonne! Disini juga muncul fakta menarik tentang Charlote yang ternyata mencalonkan Kurome menjadi Ms. Six! Lalu bagaimana nasib Xenovia di tangan Charlote dan Shiro!?

Dan Uchiha Sasuke Surotobi. Dia adalah Oc – ku untuk melengkapi fic ini.

Dan satu hal lagi, aku sudah melihat kekuatan Chara Akame ga kill. Dan walaupun aku sudah menghilangkan beberapa kelemahan yang dimiliki chara tersebut, aku tetap melihat mereka lebih lemah dari chara – chara di DxD. Jadi jangan terkejut jika aku memberikan mereka kekuatan tambahan ya, untuk menyetarakan kekuatan DxD dan Akame ga Kill.

Yap! Kurasa itu saja.

Waktunya Review!

Tenshisha Hikari: Tentu saja mahkluk yang memiliki kekuasaan dalam kematian!

Rohimbae88: Yosh! Ini udah lanjut!

The KidSNo OppAi: Begitu ya? Aku rasa set dxd disini lebih ke dunia lain…. Ah! Makasih! Dan ini udah lanjut!

Maulana59: Ahaha… Maaf sudah membuatmu menunggu. Dan terimakasih pujiannya, tapi aku rasa fic ku tidak sekeren itu hehe. Ah, kalau Rinnegan… tidak. Naruto tidak mempunyainya. Makasih dah review!

Ae Hatake: Pertunjuknya. Keturunan….. Dan kurasa kau kurang teliti membacanya, ciri – ciri ninja yang melawan Naruto tidak berambut biru gelap seperti punya Kisame. Jadi tidak naruto tidak melawan Kisame. Dan aku setuju Kisame itu memang ninja yang hebat. Makasih dan Rev ya!

Pedofillgila: Ya, aku rasa. Naruto memiliki hubungan yang rumit dengan Grayfia. Makasih dah rev!

Ashalim31: Ini udah next. Makasih dah Rev!

AoiKishi: Itu benar. Dan ya, akan ada karakter Akame ga kill yang lain yang muncul. Makasih dah rev!

Kanzaki Yuki: Ahaha… fic-ku tidak sebagus itu kok. Kalau soal itu akan terbongkar dengan sendirinya, meskipun Naruto sendiri tidak pernah mengaku menjadi manusia. Makasih dah rev!

Kazuni Kiba: Thanks! Dan untuk soal itu…. Aduh bang! Fic ini aja belum beres mau bikin fic lagi. Jujur saya tidak dapat mempublish fic itu dalam waktu dekat. Pasalnya setelah fic ini selesai, saya akan hijrah ke fandom Naruto dan menulis fic yang bernama Mr. Naruto: Sebab akibat. Sama seperti judulnya fic itu akan menceritakan awal mula kenapa Naruto bisa bersifat seperti ini di fic ini. Jadi maaf banget nih bang! Dan makasih untuk rev ya!

Ryoko: Muahaha makanya jangan berani menantangku! Uhum dan untuk barang pesanan si mesum itu * Evil Grin* kau akan terkejut nanti. Makasih dah rev!

Pertapa timur: Ah fic itu sudah mati. Aku kehilangan alurnya saat ditengah – tengah ulangan kenaikan kelas. Aku sudah berencana untuk menghapus fic itu, tapi gak sempat – sempat. Jadi fic itu tidak akan update.

Mr Udin: Zabuza berasal dari dunia Shinobi sama seperti dari Shinobi yang lainnya. Jika ia Edo tensei kenapa dia harus repot menyembuhkan lukanya? Spiral-san itu salah satu tokoh utama dan bukan Obito. Dan soal itu… aku rasa itu adalah caraku membawa karakter jadi agak susah mengubahnya hehe. Daripada memikirkan hal itu, bukannya lebih baik kau menanyakan hal ini. `Apa Naruto benar - benar karakter protagonist?'

Amin!

Sama saya juga ngefan sama cerita mereka. Tapi entah kenapa akhir – akhir ini saya jadi malas membaca cerita mereka. Entahlah, dan makasih dah rev, yang paling panjang lagi!

Cah Uzumaki: Hehe maaf menunggu lama. Hadeh, kalau soal itu coba ente baca chap 4 disitu dijelasin kenapa pendekar pedang kiri beserta Shinobi yang lain ingin membunuh Naruto. Soal yang siapa yang mengirim mereka…. Itu akan terungkap saat perjanjian tiga fraksi. Makasih dah rev dan mau menunggu!

Jadi bagaimana dengan chap ini? Mengecewakan, memuakkan, gaje, atau apalah? Sampaikan semua uneg – uneg, kritik, dan saran kalian tentang chap ini atau chap lain melalui review! Karena dengan saran dan kritik kalian aku bisa menjadi author yang lebih baik

Jadi,

Sampai jumpa chapter depan!