Fanfiction

Cast : Jongin, Sehun

Genre : Romance, Drama

Warning : Sexual Content

Summary : Jongin yang awalnya terpaksa menerima permintaan tolong tetangganya untuk menjaga bocah tiga belas tahun bernama Oh Sehun, kini dengan suka rela menghabiskan waktu luangnya dengan anak kecil yang selama ini ia anggap anak menyebalkan. KaiHun. Yaoi. Rated M.

Part Eleven

"Sehun, pakai celanamu."

"Panas Hyung."

"Jangan bohong. Ini bulan Desember."

"Celanaku kotor Hyung."

"Biar Hyung ambilkan celana baru."

"Ih Hyung kenapa tidak peka sih?!"

Pria berambut kecoklatan dengan wajah merah menghela nafasnya untuk kesejuta kalinya Minggu pagi itu. Didepannya berdiri seorang pemuda belia yang hanya memakai jaket kebesaran miliknya. Paha jenjang dan mulus milik pemuda itu terekspos dengan indah untuknya, memecah konsentrasinya untuk membaca materi perkuliahan yang ia lewatkan selama dua minggu.

"Bukan Hyung tidak peka Sehun.." Pria bernama Kim Jongin itu memijat dahinya. "Hyung hanya tidak ingin melakukan hal itu sampai—"

"Tapi aku mau Hyung!"

Jongin mengerang.

Disatu sisi ia ingin mencoba menjaga moralnya agar tidak menyetubuhi kekasihnya yang masih dibawah umur tapi disisi lain hormon mudanya masih meledak-ledak dan melihat kekasihnya berpakaian menggoda seperti itu membuat ia nyaris gila.

"Aku sudah berjanji tidak akan bilang siapa-siapa Hyung." Oh Sehun, pemuda belia yang masih tiga belas tahun itu menatap Jongin dengan sorot mata memohon.

"Tapi semalam kita sudah melakukannya." Jongin berlutut dan membuka celana pendek agar Sehun bisa memakainya. Mata Jongin memandang wajah cantik kekasihnya yang masih cemberut karena permintaannya tidak dituruti. Ah, Sehun memang terlalu ia manjakan. Sepertinya Sehun tidak semanja ini dengan ibunya atau orang-orang lain disekitarnya.

"Tapi aku masih ingin." Sehun dengan setengah hati memasukkan satu kakinya kedalam celana yang sudah Jongin ambilkan untuknya.

"Sehun.." Jongin kehabisan kata-kata. Ia bingung menghadapi situasi ini, bagaimana ia bisa membuktikan kalau ia adalah kekasih yang baik jika Sehun tidak bisa diajak bekerja sama?

Jongin ingin belajar.

Cepat lulus dan mendirikan rumah sakit seperti ayahnya.

Lalu ia akan menikahi Sehun yang pada waktu itu sudah sembilan belas tahun.

Rencana yang sempurna bukan?

Tapi sayangnya Sehun tidak mendukung sama sekali.

Bagaimana ia bisa belajar dan cepat menyelesaikan kuliahnya jika Sehun terus-terusan telanjang dan menggoda imannya?

"Tadi malam kita sudah melakukannya, jadi pagi ini tidak boleh." Jongin berkata bijak.

"Kenapa? Biasanya kita melakukannya berkali-kali dalam sehari." Sehun cemberut mendengar jawaban Jongin.

"Karena terlalu banyak bercinta itu tidak baik. Kalau kau hamil bagaimana?"

"Tidak apa, aku ingin hamil."

What the…

Jongin mengumpat dalam hati. Susah sekali menghadapi Sehun kalau sudah ada maunya seperti ini.

"Kalau kau hamil sekarang, kau akan dimarahi ibu, Hyung akan dimarahi ibu."

"Hah, baiklah." Sehun menghela nafas panjang. Sehun tidak mau dimarahi ibunya dan yang jelas ia tidak mau hubungan asmaranya dengan Jongin ketahuan. "Kalau begitu kapan?"

"Nanti kalau Hyung sudah lulus kuliah."

"Terlalu lama Hyung!" Sehun merengut lagi, membuat Jongin tanpa sadar mengecup bibir mungil Sehun karena gemas. "Nanti kalau Hyung sudah selesai belajar ya?"

Jongin menahan tawanya.

"Baiklah, habis Hyung belajar." Jongin tidak mau dan tidak bisa menolaknya. Mana mungkin ia mampu menahan nafsunya sampai ia lulus kuliah. Bisa-bisa ia mati gila karena tidak bisa merasakan manisnya tubuh Sehun.

"Yes! Aku juga mau belajar kalau begitu!" Sehun dengan riang berlari keluar apartemen Jongin menuju apartemennya sendiri untuk mengambil buku pelajarannya. Jongin menggeleng-gelengkan kepalanya heran, bisa-bisanya Sehun sekarang tidak malu minta untuk bercinta.

Setengah jam kemudian, Sehun dan Jongin sudah duduk diatas karpet ruang tengah apartemen Jongin. Pemuda cantik itu mengerjakan latihan soal yang Jongin berikan padanya sementara Jongin membaca materi-materi perkuliahan yang ia lewatkan selama dua minggu.

"Hyung.."

"Kenapa? Ada yang tidak kau mengerti?" Jongin mendongakkan wajahnya dari buku catatan milik Chanyeol.

"Ini Hyung.." Sehun bangkit dari duduknya dan disebelah Jongin.

"Ah ini.." Jongin menundukkan kepalanya dan mengamati soal didepannya. Sehun bukannya ikut memperhatikan soal yang membuatnya kesulitan malah memperhatikan wajah Jongin.

Jongin Hyung tampan sekali. Aku beruntung sekali punya pacar sekeren Jongin Hyung, bukan cuma tampan dan pintar tapi sangat menyayangiku. Aku tidak mau berpisah dari Jongin Hyung, mau manja-manja terus, peluk-peluk, cium-cium terus mau…tidur sama Jongin Hyung setiap malam.. Tidur sambil cium-cium dan pegang-pegang punya Jongin Hyung…

"—Hun? Sehun? Kenapa melamun?"

"Uh, dingin." Sehun menjawab asal.

"Mau Hyung naikkan pemanas ruangannya?" Jongin bertanya lembut.

"Tidak usah, mau peluk saja." Sehun dengan cueknya bangkit dari duduknya dan pindah keatas paha Jongin.

"Ya sudah peluk saja." Jongin tersenyum kecil. Sehun didepannya sudah menghadap buku latihan soal lagi sedangkan ia mengalungkan tangannya pada pinggang Sehun hingga dadanya bersentuhan dengan punggung sempit Sehun. Kepalanya ia senderkan pada bahu mungil Sehun.

Keduanya diam.

Jongin sibuk membaca buku yang berada disamping buku latihan milik Sehun sementara bocah kecil itu sibuk mengerjakan latihan soal. Uh, setidaknya itu yang terlihat meskipun dalam kepala Sehun soal-soal latihan didepannya sama sekali tidak ia baca.

Isi kepala Sehun saat ini adalah sebuah benda yang menyentuh pantatnya. Benda yang sedang tertidur tapi tetap terasa mengganjal diantara belahan bokongnya. Yap, Sehun memikirkan penis Jongin. Sejak awal Sehun memang sudah tidak konsentrasi dengan latihan soal yang diberikan Jongin untuknya. Soal-soal itu hanya dibaca sekilas dan ia dengan asal-asalan melingkari jawabannya.

Kini, dengan Jongin yang memangkunya, pikiran Sehun semakin kemana-mana. Ia bayangkan jika benda yang menyentuh pantatnya itu tidak hanya menyentuh saja, tapi mengisi lubang kecilnya yang belakangan ini rewel terus ingin diisi. Lalu ia bergerak naik turun sementara Jongin akan mengecupi lehernya dan mencengkram pinggangnya, membantunya bergerak lebih cepat.

Sehun membayangkan suara rendah Jongin berbisik ditelinganya, tentang bagaimana ketat lubangnya, betapa basah dan nikmat dinding anusnya yang terus memijat penis raksasa Jongin juga suara Jongin yang menyuruh Sehun untuk mendesah lebih keras dan lebih keras.

Sehun bergerak perlahan membuat penis Jongin menggesek belahan pantatnya. Tanpa Sehun sadari nafasnya memberat dan tangannya mencengkram pensil erat-erat. Sehun bergerak sekali lagi, menggesekkan gundukan itu pada pantatnya. Kali ini Sehun memejamkan matanya, menikmati rasa gatal yang menyerang lubang bawahnya.

"Hunhh.." Jongin mengerang perlahan saat Sehun menggerakkan pinggulnya untuk yang ketiga kali. Awalnya Jongin mengira jika Sehun hanya membenarkan posisi duduk agar lebih nyaman, tapi gerakan Sehun semakin kentara. Bocah itu menggoda penisnya dengan pantat sintal yang sering ia bayangkan sebelum tidur.

"K-kenapa Hyung?" Sehun mencoba bersikap innocent.

"Jangan menggoda.." Suara Jongin terdengar lebih serak dari biasanya dan Sehun pun menyeringai. Tinggal ia goda sedikit lagi, kekasihnya itu akan segera membanting tubuh rampingnya ke atas meja ruang tengah dan menelanjanginya.

"Hmmhh….punya Hyung sudah kerashh.." Sehun menekan tubuhnya kebawah dan menggerakkan pinggulnya sensual, jangan lupa suara desahan dan kalimat sok polos yang keluar dari bibir bocah itu.

"Kau mencari masalah Oh Sehun.." Jongin mengerang kencang. Kebiasaannya yang hanya mengenakan boxer dan Sehun yang bawahannya hanya mengenakan boxer juga, membuat penisnya nyaris bisa merasakan kesintalan bokong Sehun yang nakal itu.

"Aku kan cuma mau menghangatkan diri tadi. Hyung yang mesum, aku bergerak sedikit saja sudah keras." Sehun berkata masih dengan sikap sok polosnya.

Jongin tidak tahan lagi dengan sikap nakal Sehun, tangannya mulai menggerayangi pinggang Sehun dan tidak lama kemudian tangannya itu sudah menyelinap masuk kedalam boxer kebesaran yang dikenakan Sehun. Meremas paha Sehun sebelum akhirnya menyentuk penis mungil Sehun yang sudah menegang.

"Kalau Hyung mesum, lalu kau apa? Hm?" Jongin mengecupi belakang telinga Sehun yang merupakan titik lemah kekasih kecilnya itu.

"Mhhmmm…H-hyunghhh…uuhhhh…." Sehun mendesah. Sentuhan tangan Jongin pada bagian privatnya membuat Sehun semakin berani, ia semakin intens menggesek tonjolan milik Jongin yang sudah mengeras.

"Kau nakal sekali Bunny.." Jongin berbisik rendah ditelinga Sehun sementara tangannya melepas boxer yang Sehun pakai dengan mudah.

"H-hyunghh..uunnghhh…" Sehun merinding merasakan penisnya yang tegang terkena udara bulan Desember yang dingin.

"Menungging Bunny." Jongin memerintah dengan suara seraknya. Sehun dengan cepat dan suka cita segera menungging sementara bagian atas tubuhnya ia letakkan diatas meja dan lututnya menyentuh karpet tebal diatas lantai.

"Pantatmu terlalu sempurna Bunny.." Mata Jongin berbinar-binar melihat bongkahan sintal yang siap ia nikmati didepannya. Dua bongkahan itu terlihat sangat empuk dan kenyal, ukurannya juga pas untuk ia remas.

"Hyunghh..makan lubangku.." Sehun merengek manja dan menggoyangkan pinggulnya, membuat bulatan sintal miliknya ikut bergoyang. Jongin menahan nafas melihatnya, bagaimana bisa seorang bocah tiga belas tahun memiliki bokong seperti ini?

"Tentu Bunny." Jongin mengelus pantat Sehun perlahan sebelum membuka gundukan itu. Lubang merah muda Sehun terlihat ketat dan berkedut, menunjukkan pemiliknya ingin sesuatu mengisi lubang itu.

PLAK!

"Hnghh..Hyunghh.." Sehun mendesah antara sakit dan nikmat.

"Kau suka?"

Sehun mengangguk cepat. Memang Jongin kadang sedikit kasar dalam bercinta tapi Sehun menyukai sisi dominan Jongin itu, bahkan ia kini menyukai jika Jongin memukulnya, meremas kencang penisnya atau menggigit putingnya hingga terluka.

PLAK!

PLAK!

PLAK!

"Katakan Bunny, apa maumu menggoda Hyung sedang belajar?" Jongin mengusap pipi pantat Sehun yang memerah akibat pukulan-pukulannya.

"Mhhmm.." Sehun hanya mengerang pelan. Terlalu malu untuk mengatakan keinginannya.

"Kenapa tidak mau bicara? Kau malu?" PLAK! "Kau malu mengatakan keinginanmu tapi tidak malu telanjang didepan Hyung dan menggesekkan pantatmu pada penis Hyung?" Jongin mengecup pantat Sehun sekali dan mengusap lagi bekas pukulannya.

"A-aku.." Sehun menggigit bibirnya.

"Yes Bunny? Cepat katakan sebelum Hyung memukulmu lagi."

"Aku mau pe-penis Hyungh.." Sehun berkata lirih sambil menggerakkan pinggangnya, berusaha memanjakan penis kecilnya pada meja tempat ia bersandar.

PLAK!

"Berhenti menggesekkan penismu!" Sehun berhenti seketika, pukulan yang Jongin berikan barusan sangat keras dan terasa panas. Herannya gairah dalam tubuhnya malah semakin mendidih.

Jongin tersenyum kecil dan meremas pantat Sehun lagi.

"Hanya Hyung yang boleh memanjakanmu Bunny." Jongin membuka bongkahan itu sekali lagi dan pemandangan lubang Sehun yang berkedut cepat membuat penisnya ikut berkedut.

"Hyunghhhh…uuuhhhh…anghhh….ahhhh…." Sehun meremas buku latihan soalnya ketika ia merasa sesuatu yang hangat dan basah menyentuh bibir lubang anusnya yang ia yakini adalah lidah Jongin.

"Kau suka Bunny?"

"Suka sekali Hyunghh…la-lagi.." Sehun menunggingkan pantatnya semakin tinggi, berharap Jongin akan memanjakan lubang nakalnya lagi. Jongin menyeringai sebelum membenamkan lidahnya pada lubang Sehun.

Menjilat.

Menghisap.

Melumat.

Dan menggoda lubang itu hingga suara desahan Sehun memenuhi apartemennya.

"Hnngghh…tusuk Hyunghhh…akkhhh…enak sekalihhh…" Sehun mendongakkan kepalanya dengan mata tertutup dan mulut terbuka, menunjukkan betapa besar kenikmatan yang ia rasakan hanya karena permainan lidah Jongin.

"Ga-gatal Hyunghh…uuhhh…ahhh…nyahhh…" Sehun yang sudah diselimuti nafsu menggerakkan pinggulnya agar lidah Jongin semakin dalam memanjakannya. Sungguh pemandangan yang memancing gairah bagi siapapun yang melihatnya.

"Hmmhhh…uuuhhh…Jongin Hyunghhh…akkhhh…hngghh…" Gerakan pinggul Sehun semakin cepat, menujukkan pemuda belia yang tubuhnya kelewat sensitif itu sudah akan mencapai puncaknya.

Mengetahui kekasih mungilnya sudah dekat, Jongin dengan sengaja menyudahi rimmingnya pada pemuda itu. Sehun langsung mengerang kesal dan memandang Jongin dnegan pandangan tidak setuju.

"Ini hukuman untukmu Bunny, kau harus belajar mengontrol dirimu." Jongin mengambil celana yang tadi dipakai Sehun dan berusaha memakaikannya kembali.

"Hyuuuung.." Sehun merengut dan menggelengkan kepalanya, tidak mau memakai celana.

"Pakai Oh Sehun atau Hyung akan mengikat penismu agar tidak bisa orgasme." Jongin mengancam dan Sehun langsung memasukkan kakinya pada lubang celana. Ia tahu bagaimana sakitnya orgasme kering dan ia tidak ingin merasakannya lagi.

"Kerjakan soal latihanmu lagi." Jongin berusaha bersikap tegas meskipun dibawah sana penis monsternya sudah memohon agar dikeluarkan dari sarangnya dan dimanjakan oleh lubang hangat Sehun.

Sehun dengan setengah hati duduk disamping Jongin yang sudah mulai belajar lagi. Pemuda ini masih kesal dan ia yakin jika otaknya tidak mungkin bisa ia ajak bekerja sama. Mana mungkin Sehun bisa belajar dengan penis tegang maksimal?

"Hyung memangnya bisa belajar ya? Penis Hyung keras sekali sepertinya." Sehun berujar setelah lima menit berusaha mengerjakan soal-soal latihan dihadapannya.

"Sehun jaga bicaramu, jangan mengatakan hal-hal vulgar seperti itu.." Jongin menatap kekasihnya dengan tatapan tidak setuju.

"Maaf.." Sehun bergumam pelan. "Biar aku bantu Hyung!"

"Bantu ap—ahhh!" Jongin mengerang tertahan. Sehun yang tadi duduk disampingnya tiba-tiba sudah berada dibawah meja dengan wajah menghadap selangkangannya.

"Sehun henti—anghh.." Jongin awalnya berusaha mendorong Sehun menjauh, tapi ia kalah cepat oleh Sehun yang sudah menarik boxernya hingga kejantanannya yang masih sekeras kayu muncul dan menampar wajah cantik Sehun.

"Hmm..wangi.." Sehun langsung mengendusi penis Jongin dengan wajah puas. Ini dia yang ia rindukan, bisa menyentuh dan merasakan benda raksasa milik Jongin. "Hyung belajar saja, aku akan menidurkan penis Hyung."

Jongin mengerang dalam hati, bagaimana bisa ia belajar jika ada mulut hangat yang memanjakan penisnya?!

"Hmm..mmphh…" Sehun menjilati penis keras Jongin seperti kucing menjilati susunya. Jilatan-jilatan kecil yang membuat penis Jongin semakin keras. Wajah polos Sehun yang terlihat dipenuhi nafsu juga membuat Jongin tidak bisa menolak godaannya pagi itu.

"Punya Hyung makin besar.." Sehun meremas lembut kejantanan Jongin sembari menjilat ujungnya.

"Ahh..sial.." Jongin kini membuka kakinya lebar-lebar, membiarkan Sehun bermain dengan penisnya. Cantik sekali kekasihnya kalau sedang bermain dengan penisnya seperti ini. Pemandangan yang ingin sekali Jongin abadikan.

"Hyung, aku kulum ya?" Sehun mendongak untuk melihat kekasihnya. Sial wajah Sehun kenapa sok polos seperti itu? Membuatku makin tegang saja!

"Kulum Bunny, telan sampai kau tersedak." Jongin menjawab tidak sabaran. Sehun tersenyum lebar dan mengecup kepala penis Jongin sekali lagi lalu perlahan-lahan, penis besar Jongin mulai tenggelam.

"Uhh…shithhh…." Giliran Jongin yang mendongakkan kepalanya kali ini. Mulut Sehun sama nikmatnya dengan lubang anus pemuda itu, sama-sama hangat dan basah. "Lebih dalam Bunny.."

Sehun menurut, ia menelan lebih banyak penis Jongin hingga hampir seluruhnya tenggelam dalam kerongkongannya. Mata Sehun mulai berair namun ia tidak berhenti. Jongin menatap kekasihnya tidak percaya. Sehun melakukan deep throat! Fuck!

"Good boy.." Jongin membelai rambut Sehun dan mereka bertatapan. Sorot mata Sehun seolah bangga karena ia nyaris menelan penis Jongin yang biasanya hanya mampu ia kulum setengahnya saja. Salahkan kemajuan teknologi yang membuat Sehun belajar banyak hal seperti ini.

Sehun sudah mulai terbiasa dengan kehadiran penis besar Jongin dalam kerongkongannya dan ia mulai menggerakkan kepalanya naik turun. Matanya masih menatap Jongin untuk melihat apakah service yang ia berikan memuaskan kekasihnya.

"Ahh..fuck! Fuck!" Jongin agak malu sebenarnya mendesah seperti remaja yang baru pertama kali dikulum penisnya tapi kuluman Sehun kali ini tidak main-main. Sangat nikmat! Dipadu dengan wajah cantik Sehun yang memandangnya, mata berair Sehun. That's it, Sehun yang menahan tangis seperti ini sangat membangkitkan gairah Jongin.

Sehun mengulum penis Jongin semakin cepat, lidah kecilnya menggoda urat-urat yang semakin menonjol, terkadang kepala penisnya dan kadang lidah itu menjilati daerah kepala penis dengan gerakan memutar.

Jongin meraih kepala Sehun dan mencengkram rambut hitam kekasih kecilnya. Kepala Sehun ia gerakkan dengan cepat sesuai keinginannya. Sehun sesekali mengerang karena penis Jongin terlalu dalam masuk kedalam kerongkongannya hingga pemuda kecil itu nyaris tersedak.

"Hnghh…hmpphh…" Sehun meremas paha kokoh Jongin dan menatap Jongin dengan mata berairnya. Meskipun berkali-kali tersedak, Sehun tidak berusaha menghentikan Jongin yang memperkosa mulutnya.

"Kau suka tersedak penis? Hm?" Jongin menatap tajam Sehun dengan geraman tertahan.

"Mmmpphh…hhhhkkk…" Sehun berusaha menjawab namun tidak bisa dan menganggukkan kepalanya sebagai ganti atas jawabannya.

Jongin mengerang semakin keras. Sehun benar-benar seperti pelacur sekarang. Hanya dalam kurun waktu beberapa bulan, Sehun sudah berubah menjadi pemuda seksi yang tahu cara menggoda pasangannya.

"Hkkhh…hhnghh…" Air mata Sehun mulai mengalir. Jongin benar-benar mengasari mulutnya sampai ia kesulitan bernafas tapi lagi-lagi ia tidak meminta Jongin untuk berhenti karena Sehun tahu jika Jongin sudah akan mencapai orgasmenya.

"Shithh..ahhh…" Jongin ikut menggerakkan pinggulnya untuk meraih orgasme yang sudah didepan mata. Sehun membantu dengan memainkan lidahnya pada lubang uretra Jongin dan tangannya mengelus-elus bola kembar Jongin yang terasa berat.

"Sehunhh!" Jongin menekan kepala Sehun dalam-dalam ketika penisnya berkedut kencang dan menyemprotkan cairan hangat kedalam rongga mulut kekasihnya. Sehun tersedak hebat namun ia berusaha keras untuk menelan cairan kental itu.

Jongin membuka matanya dan menemukan Sehun sudah keluar dari bawa meja dengan wajah puas. Tangan kecil pemuda itu membersihkan sisa sperma yang membasahi pipi, dagu hingga leher mulusnya.

"Enak Hyung?" Sehun bertanya cerah.

"Enak sekali." Jongin mengelus kepala kekasihnya. "Terima kasih."

Sehun tersenyum bangga dan mengecup sekilas bibir penuh Jongin. Keduanya saling memandang dan tersenyum, senang dengan kehadiran satu sama lain, senang akhirnya mereka bisa menghabiskan waktu bersama tanpa diam-diaman, senang kar—

"JONGIN! JONGIN!"

Suara gedoran dan teriakan terdengar dari luar mengejutkan pasangan kekasih itu. Jongin mengernyit, sepertinya ia mengenal suara yang memanggilnya. Sehun hanya terlihat bingung, sama sekali tidak tahu siapa yang menggedor apartemen Jongin pagi-pagi begini.

"Bersihkan wajahmu, Hyung akan membukakan pintu." Jongin bangkit dan memakai celananya kembali sementara Sehun berlari menuju kamar mandi untuk membersihkan wajahnya dari sperma Jongin.

"I-ibu?" Sehun bisa mendengar suara Jongin. "Kyungsoo?"

Nama tersebut membuat Sehun terbelalak, mau apa pria beralis tebal itu kemari?

"Dulu waktu SMU Jongin memang jarang bermain keluar seperti anak SMU pada umumnya. Kerjaannya hanya belajar atau main game."

"Ah, pantas saja Jongin bisa dengan mudah masuk kedokteran."

"Kau pasti juga pintar, bisa masuk kedokteran juga."

"Tidak juga Bibi. Saya masuk kedokteran karena belajar dengan keras, kalau Jongin memang dasarnya sudah cerdas jadi dia lebih cocok menjadi dokter." Kyungsoo tersenyum malu-malu mendengar pujian wanita didepannya.

Jongin yang melihatnya sedikit merinding. Bukan karena Kyungsoo yang malu-malu tapi karena kenapa ibunya bisa mengobrol akrab dengan Kyungsoo. Bisa-bisa Sehun kan nanti cemburu! Lalu bagaimana kalau dia didiamkan lagi? Baru saja kemarin baikan.

Setengah jam yang lalu, Jongin membukakan pintu apartemennya dan menemukan ibunya serta Kyungsoo berdiri didepan sana dengan wajah khawatir. Kata mereka, keduanya sudah menggedor-gedor pintu dan membunyikan bel tapi tidak ada jawaban sama sekali. Well, Jongin kan sedang mendapat blow job ternikmat selama hidupnya, indranya seolah mati waktu Sehun menghisap penisnya dalam-dalam.

Rupanya, sang ibu dan Kyungsoo tidak sengaja bertemu didepan pintu apartemen Jongin. Kyungsoo beralasan ingin menjenguk Jongin sementara ibunya memang sedang berkunjung. Sang ibu mengomel karena semenjak Jongin tinggal sendiri, Jongin nyaris tidak pernah pulang dan jarang sekali menghubungi rumah.

Sehun yang keluar dari kamar mandi menatap Jongin penuh tanya kenapa Kyungsoo dan ibunya bisa datang bersamaan. Kini, Sehun sedang didapur membuatkan Kyungsoo dan ibu Jongin minum dan Jongin sudah menjelaskan sekilas jika kedua orang itu tidak sengaja bertemu didepan. Sehun mengangguk-angguk paham walaupun dahinya masih berkerut tidak suka.

"Silahkan minumannya." Sehun datang sambil membawa nampan berisi dua gelas teh hangat.

"Ibu, ini tetanggaku namanya Sehun."

"Selamat pagi Bibi. Namaku Oh Sehun." Sehun tersenyum sambil membungkukkan tubuhnya sopan.

"Manisnya. Kau kelas berapa?" Ibu Jongin tersenyum melihat pemuda manis itu.

"Kelas tujuh Bibi."

"Sehun sering main disini karena ibunya bekerja." Jongin menjelaskan.

"Jongin dan Sehun sangat dekat Bi. Saya pernah bertemu mereka sedang jalan-jalan dan setiap kali saya kemari, pasti ada Sehun. Jongin suka sekali dengan anak kecil ya Bi?" Kyungsoo tersenyum manis pada wanita tengah baya itu, terlihat sekali jika ia ingin mengambil hati sang wanita.

"Eh, Bibi tidak pernah tahu Jongin suka anak kecil." Ibu Jongin sedikit terkejut dengan cerita Kyungsoo dan memandang Sehun yang duduk disamping Jongin. Duduk rapat sekali pada anak tunggalnya.

"Ibu Sehun sering memberiku makanan Bu, jadi aku dekat dengan Sehun. Sehun suka bermain game juga, jadi kami semakin cocok. Apalagi Sehun suka memasak, jadi aku sering memintanya memasak untukku." Jongin berusaha memberi penjelasan yang paling sederhana dan masuk akal.

"Kau pintar memasak?" Ibu Sehun bertanya tidak percaya, ada kesan terkejut dan ketakjuban. Anak laki-laki berumur tiga belas tahun yang jago memasak itu jarang sekali lho!

"Uh, tidak juga Bi." Sehun menjawab malu. Jongin melebih-lebihkan kemampuan memasaknya didepan wanita yang ia harapkan akan menjadi mertuanya nanti. Ah, salahkan drama-drama di televisi yang membuat Sehun sudah mengerti banyak sekali kosa kata dewasa seperti mertua contohnya.

"Sungguhan enak Bu! Aku hampir tidak pernah makan ayam goreng lagi sejak tinggal disini." Jongin memuji Sehun lagi.

"Masa?" Ibu Jongin terkesiap. Makanan apa yang mampu menggantikan posisi nomor satu ayam goreng yang sudah Jongin cintai sejak kecil?

"Sungguhan Bu!" Jongin berkata serius. Sehun semakin menunduk malu. Ah, ternyata pertemuan pertamanya dengan calon mertua tidak jelek-jelek amat. Walaupun ia harus menahan kesal melihat Kyungsoo yang berusaha keras mengambil perhatian ibu Jongin darinya.

Pokoknya aku mau cepat besar dan menikah dengan Jongin Hyung!

"Bibi, bagaimana kalau aku masakkan daging asap?" Sehun bertanya dengan senyum cerah diwajahnya.

"Sekarang?" Ibu Jongin bertanya dengan wajah terkejut.

"Iya." Sehun mengangguk riang.

"Tentu saja!" Ibu Jongin menerima tawaran Sehun dengan senang hati, penasaran dengan hasil masakan Sehun yang Jongin bangga-banggakan.

"Biar Hyung bantu." Jongin berkata penuh semangat.

"Memangnya kau bisa masak?" Ibu Jongin menggoda anak semata wayangnya.

"Bisa Bu!" Jongin merengut sebal dan Sehun pun tertawa. Kyungsoo hanya tersenyum kecil melihat kedekatan Jongin dan Sehun. Biarpun Sehun hanyalah anak kecil dan ia yakin jika hubungan antara Sehun dan Jongin hanyalah sebatas kakak adik saja, entah mengapa ia tidak suka.

"Bolehkah aku membantu?"

"Uh, tentu saja." Sehun tersenyum. "Hyung bisa tolong belikan kecap asin di supermarket? Kemarin Jongin Hyung lupa tidak beli padahal sudah aku ingatkan."

"Huh?" Kyungsoo terkejut atas ucapan Sehun.

"Kecap asin Hyung." Sehun tersenyum manis. Jongin juga tidak mempercayai pendengarannya, ia tahu Sehun sengaja menyuruh Kyungsoo membeli kecap asin agar pemuda itu sedikit menjauh. Hanya saja Jongin tidak menyangka jika kekasihnya bisa secerdik ini!

"Te-tentu saja." Kyungsoo hanya mengangguk kecil kemudian berjalan keluar apartemen Jongin dengan bibir sedikit cemberut.

Sementara didapur, Sehun, Jongin dan ibu Jongin sudah mulai memasak. Ibu Jongin mengomentari dapur anaknya yang terlihat 'hidup', tidak seperti yang ia bayangkan. Disana banyak sekali bahan-bahan makanan, alat memasak yang lucu dan peralatan makan yang tertata rapi.

"Sehun sering masak disini Bu. Katanya kalau dirumah ibunya sering mengomel karena Sehun selalu membuat dapur berantakan." Jongin bercerita pada ibunya dengan cerah. Senang sang kekasih dan ibunya bisa cocok.

"Tapi kan aku selalu membersihkannya!" Sehun membela diri.

"Apa tidak apa-apa kau disini terus bersama Jongin Hyung? Ibumu tidak mencarimu?" Ibu Jongin bertanya dengan senyum lembut.

"Ibu bekerja terus Bibi, berangkatnya pagi pulangnya malam jadi aku bersama Jongin Hyung terus saja." Sehun menjawab sambil mengeluarkan bahan-bahan masakan dari lemari es.

"Kalau ayahmu?"

"Ayah sudah meninggal waktu aku kecil Bi." Sehun menjawab ringan.

"Ohh.." Ibu Jongin terkejut mendengar jawaban Sehun, terlebih cara Sehun bicara. Seperti tidak ada beban sama sekali. Pasti pemuda tiga belas tahun ini nyaris tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah.

"Hyung, apa biji wijen yang kemarin masih ad—"

"Sehun? Jongin?" Sebuah suara terdengar dari area depan apartemen Jongin.

"Ibu?" Sehun mengenal baik suara itu.

"Sehun? Kau disini?"

"Iya Bu! Didapur!" Sehun berteriak dari dapur. Tidak lama kemudian seorang wanita tengah baya masuk kedalam dapur apartemen Jongin dengan wajah lelah dan masih mengantuk.

"Selamat pagi Bibi." Jongin membungkuk hormat pada ibu Sehun. "Bibi, ini ibuku." Jongin memperkenalkan ibunya pada ibu Sehun. Mimpi apa dia semalam tiba-tiba dua ibunya kini sudah saling bertemu. Jongin berharap ini adalah pertanda baik untuk hubungannya dengan Sehun. Kalau dua ibu-ibu ini sudah dekat, pasti mereka senang kan jika Jongin melamar Sehun nanti?

"Ah, selamat pagi Nyonya." Ibu Sehun membungkuk hormat.

"Jangan terlalu formal." Ibu Jongin tersenyum juga sambil membungkukkan badannya. Dugaan Jongin benar, dua wanita itu segera cocok satu sama lain. Mereka dengan cepat membahas tentang masakan dan resep-resep.

"AW!" Sehun tiba-tiba berteriak, mengejutkan tiga orang dewasa didapur.

"Ada apa Sehun?"

"Sehunnie?"

"Sehun?!"

"Ja-jariku terkena pisau.." Sehun memandang ketiga orang itu dengan mata berkaca-kaca.

"Sini Hyung obati." Jongin dengan sigap menarik Sehun menuju ruang tengah. "Bibi, Ibu, aku mengobati Sehun dulu."

"Iya. Bersihkan dulu lukanya!" Ibu Jongin memperingatkan anaknya.

"Iya Bu, aku bersihkan dikamar mandi." Jongin mendorong Sehun menuju kamar mandi dan Sehun hanya menurut.

"Sa-sakit Hyung.." Sehun merengek merasakan air mengenai luka ditangannya yang cukup besar dan dalam. Keduanya kini sudah dikamar mandi dengan Jongin memeluk tubuh langsing Sehun dari belakang sementara tangannya bekerja membersihkan luka ditangan Sehun.

"Tahan.." Jongin berkata lembut.

"Ahh…sa-sakit Hyung.." Sehun berjengit sambil merengek kesakitan. Entah bagaimana, hanya karena suara kesakitan itu, pikiran Jongin langsung kotor. Ia jadi ingat kali pertamanya dengan Sehun. Pemuda mungil itu kesakitan tapi ada desahan yang keluar dari bibirnya. Sial, otakmu kotor sekali Kim!

"Hngghh…Hyuuung sudah, sakit sekai…ahhh…"

Fuck! Baru beberapa saat yang lalu ia mendapatkan blow job nikmat dari Sehun masa kini ia sudah tegang lagi?

"Sehun hentikan suaramu, penisku bangun." Jongin menyuruh Sehun diam namun tindakannya seolah meminta agar Sehun mendesah terus. Tubuh besar Jongin mendorong Sehun agar menempel di wastafel hingga penisnya yang sudah tegang menempel pada pinggang Sehun.

"H-hyung.." Sehun langsung memerah merasakan penis Jongin yang menegang. Sehun yang tadi masih belum mendapat pelepasan atas gairahnya langsung tersulut dengan sikap nakal Jongin.

Jongin tahu jika tindakannya kali ini sangat berbahaya. Diluar sana ada ibunya dan ibu Sehun, mereka bisa menggedor pintu kamar mandi kapan saja. Belum lagi Sehun kalau sedang bercinta luar biasa menggairahkan desahannya, bocah itu masih belum bisa mengontrol desahannya sendiri.

"Sehun, Hyung keras lagi.." Jongin menggerakkan pinggulnya, menggesekkan penisnya pada pinggang langsing Sehun.

"H-hyunghh…diluar ada Ibu dan ibu Hyunghh..hhh…" Sehun langsung melupakan rasa pedih dijarinya. Penis Jongin yang hanya menggoda pinggangnya dalam sekejap membangkitkan libidonya tapi pemuda itu berusaha berpikir lurus. Bahaya kalau mereka sampai ketahuan.

"Sebentar saja Bunny.." Jongin tidak sabar dan menurunkan boxer yang dikenakan Sehun. Pantat sintal yang gemuk langsung menyambutnya dan penisnya semakin tegang.

"Hyunghh..hhmmmhhh…he-hentikanhhh…" Sehun berbisik lirih. Biarpun bibirnya menyuruh Jongin untuk berhenti namun pinggulnya ia naikkan agar Jongin bisa mendapatkan pemandangan sempurna atas bokong sintalnya.

"Uhhh…Jo-jongin Hyunghhh…" Sehun berpegangan kuat pada pinggiran wastafel karena kakinya sudah mulai gemetar. Jongin yang sudah berjongkok diantara kaki Sehun mulai mempersiapkan kekasihnya untuk kegiatan bercinta mereka yang sungguh nekat.

"Hyunghhh!" Sehun menjerit tertahan. Dua jari Jongin yang hanya berbalutkan air liur tanpa aba-aba melesak masuk kedalam anusnya.

"Ssstt.." Jongin mengecupi pantat Sehun dengan lembut agar pemuda itu sedikit lebih tenang.

"Sa-sakit Hyunghh…" Sehun meringis kesakitan, biarpun ia sudah sering dimasuki benda raksasa seperti penisnya Jongin tapi lubang mungilnya tetaplah mungil. Masih nyeri setiap kali dimasuki benda apapun termasuk dua jari kekasihnya.

"Sebentar Bunny.." Jongin mengecupi paha dan pantat Sehun sementara dua jarinya mulai bergerak perlahan, melonggarkan lubang ketat favoritnya. Benar saja, hanya beberapa detik setelah Jongin melonggarkan lubang ketat Sehun, pemuda manis itu sudah mendesah keenakan.

"H-hyunghh…ahhh…e-enakhhh…" Sehun dengan wajah memerah memandang pantulan dirinya dikaca wastafel. Ada perasaan malu melihat wajahnya yang dipenuhi gairah tapi juga semakin bernafus karena tenyata ia begitu seksi ketika lubangnya sedang dimasuki.

"Mhhmmm…le-lebih cepat Hyunghh…" Sehun mendesah lirih, bibirnya ia gigit guna menahan suara-suara nista keluar dari bibirnya. Jongin bukannya mempercepat gerakan tangannya, malah mengeluarkan dua jarinya.

"Hyuuung…" Sehun menoleh kearah Jongin dengan wajah sebal.

"Sabar Bunny." Jongin menyeringai lebar dan segera melepaskan boxer yang ia kenakan. Tangan besarnya mengocok sejenak penisnya yang sudah sekeras baja lalu menggesekkannya pada celah pantat Sehun.

"Lihat wajahmu Bunny, lihat betapa seksinya dirimu." Jongin menarik pinggang Sehun agar lebih menungging, memudahkan ia mempenetrasi penisnya. Sehun menatap pantulan dirinya lagi. Wajahnya yang cantik terlihat begitu menggairahkan.

"Mhhhmmm…pelan Hyunghhh…uhhh…" Sehun meringis karena nyeri yang menyapa lubang anusnya. Penis Jongin perlahan-lahan masuk kedalam tubuhnya sementara kekasih tampannya itu menatap dirinya intens dari kaca.

"Kau seksi sekali Bunny.."

"Uhh…Hyunghhh…hhhh…" Sehun meremas wastafel dengan kuat. "Ce-cepat keluar ya Hyung…nanti dagingku gosong.." Sehun berkata lirih saat penis Jongin sudah berada didalam anusnya sepenuhnya meskipun belum bergerak.

"Hyung bisa membuatmu orgasme dua kali dalam dua puluh menit." Jongin mengecup leher Sehun dan meraba perut rata kekasihnya sebelum mulai bergerak.

"Ooohhhh….ahhhhh…Hyunghhhh….nnghhh…" Sehun langsung mendesah, lupa jika ia harus menahan suaranya agar tidak terdengar sampai luar. Penis Jongin yang besar selalu dengan mudah menemukan prostatnya bahkan hanya dalam sekali tusuk.

"Ssstt…jangan berisik Bunny.." Jongin berkata tepat pada telinga Sehun, membuat pemuda cantik itu merinding. Suara Jongin saja bisa membuat gairahnya naik satu level lebih tinggi, ditambah tusukan penis besar kekasihnya. Sehun sudah kelimpungan hanya dalam beberapa menit.

Jongin tidak bisa berhenti atau sekedar memelankan ritme tusukannya pada anus Sehun yang memijat erat penisnya. Desahan tertahan Sehun membuatnya semakin bersemangat dan wajah erotis Sehun yang terpantul pada kaca wastafel nyaris membuat Jongin kehilangan kewarasannya.

"H-hyunghhh…uhhh…hnnghhh…ahhhh…" Kepala Sehun mendongak tinggi, setiap gerakan yang dilakukan Jongin membuat Sehun kelabakan, seperti sekarang ini misalnya. Bibir penuh Jongin mengecupi leher dan rehengnya sebelum berakhir dibibirnya. Melumat bibir tipisnya dengan rakus.

"Hmmpphh…hhnhhh…mmpphh…." Sehun berpegangan pada pinggiran wastafel sekuat yang ia mampu. Pinggulnya ikut bergerak menyamakan ritme gerakan Jongin, berusaha agar prostatnya digaruk semakin cepat karena orgasmenya sudah dekat.

"Kau dekat Bunny? Hm?" Jongin melepas ciuman kasarnya dan meremas pinggang Sehun kuat. Menaikkan gerakan pinggulnya sambil memandang wajah cantik Sehun yang begitu erotis saat dipenghujung surga dunia.

"Hyunghhh…" Sehun tidak bisa berkata-kata. Yang ia tahu adalah penis Jongin sangat nikmat dan ia akan segera orgasme.

"Lihat dirimu Bunny.." Jongin berbisik lirih pada telinga Sehun. "Kau sangat cantik menjelang orgasme."

"Hyunghh…hhh…hhngghh…"

"Hyung suka sekali melihatmu orgasme Bunny.."

"Hyunghh..uhh.." Suara Sehun tercekat. Kata-kata kotor Jongin ditelinganya membuat ia semakin terpacu mengejar orgasme pertamanya pagi itu.

"Cum for Hyung, Bunny." Jongin menenggelamkan penisnya dalam-dalam pada anus Sehun saat tubuh pemuda cantiknya bergetar keras. Sehun orgasme tanpa suara namun banyaknya cairan yang keluar dari penis mungil Sehun menujukkan betapa nikmat orgasme yang ia dapatkan.

"Sekali lagi." Sedetik usai penis Sehun selesai mengeluarkan semua cairan cintanya, Jongin langung membalik tubuh ramping Sehun dan mendudukkannya di wastafel yang dingin.

"H-hyung.." Sehun baru saja akan menolak namun Jongin lebih cepat, ia membuka kakinya lebar-lebar dan segera mengisi lubangnya yang masih berkedut-kedut akibat orgasmenya barusan.

"Sebentar Bunny, Hyung akan lakukan dengan cepat." Jongin mulai bergerak, tidak mempedulikan Sehun yang masih lemas. Kini Jongin hanya peduli dengan kepuasaan penisnya.

"Kenapa lama sekali?"

"Luka Sehun cukup dalam Bu, dia tadi sempat menangis." Jongin berkata dengan senyum diwajahnya. Memang Sehun tadi sempat menangis, tapi bukan karena luka ditangannya tapi karena tubuh kecilnya tidak mampu menerima kenikmatan yang begitu tinggi berulang kali dalam waktu singkat.

"Dia itu sering sekali melukai dirinya kalau memasak." Ibu Sehun berkata dengan cemas. "Bibi saja yang menyelesaikan sisanya."

Sehun yang duduk diruang tengah mengamati jarinya yang dibalut perban dan plester lucu, pemuda ini tidak diperbolehkan memasak dulu oleh ibunya dan ibu Jongin. Jongin duduk disebelahnya dengan wajah riang gembira, tangannya memegang remote televisi mencari-cari acara yang menarik.

"Kenapa Kyungsoo lama sekali ya?" Ibu Jongin masuk keruang tengah dengan wajah cemas.

"Mungkin supermarketnya ramai Bu." Jongin menjawab.

"Supermarket dihari Minggu itu sangat kacau. Ramainya keterlaluan." Ibu Sehun berkata dari dapur.

Sehun yang mendengar percakapan itu tersenyum kecil.

Senang rencana nakalnya berhasil.

"Kenapa kau tersenyum?" Jongin bertanya dengan suara rendah meskipun ia tahu apa yang ada dalam kepala Sehun.

"Tidak apa-apa." Sehun hanya menggeleng.

"Apa kau lelah?" Jongin bertanya lagi masih dengan suara pelan, memandang wajah kekasihnya yang terlihat masih kelelahan akibat orgasme tiga kali dalam dua puluh menit—yep, Jongin bisa membuat Sehun orgasme tiga kali dalam waktu sesingkat itu.

"Sedikit."

"Tidurlah."

"Tidak mau, aku mau sama Hyung."

Jongin pun tersenyum dan mengusap kepala Sehun penuh kasih sayang.

Tanpa mereka sadari, sepasang mata memandang mereka. Ibu Jongin mengernyitkan dahinya kemudian tersenyum. Sepertinya ia tahu kenapa putranya nyaris tidak pernah pulang kerumah lagi setelah pindah kemari.

To Be Continue

Halo! Halo!

Habis baikan langsung ya enaena mulu wkwk

Gimana pendapat kalian tentang chapter ini?

Pengen segera Author tamatin setelah konflik kecil satu lagi hehe.

Oh iya, berhubung bentar lagi bulan puasa, Author mau hiatus dulu ya buat yang Rated M. Cuma yang Rated M doang kok hehe.

Soalnya Author juga harus puasa, nulis cerita beginian bisa batal mulu hahaha.

Jangan lupa review, kritik dan saran ya!

Gomawo dan selamat maljum!