Another 5%

Remake Novel by Shanty Agatha

Cast: Park Chanyeol – Byun Baekhyun – Oh Sehun – Xi Luhan

WARN! Genderswitch for Byun Baekhyun and Xi Luhan

Length: Chaptered

Genre: Genderswitch, Romance, Hurt/Comfort, Supernatural

Disclaimer: This story belongs to Shanty Agatha. I only remake this story with the other cast and change some words that need to be.

.

.

.


CHAPTER 10


Jalanan cukup lancar, meskipun gerimis mulai deras di luar. Setelah turun dari taxi, Baekhyun berlari-lari kecil menuju teras restoran yang terlindung dari gerimis. Rambutnya sedikit basah, tetapi tidak apa-apa. Yang dicemaskan Baekhyun adalah restoran mewah ini. Kalau Sehun tidak segera datang, Baekhyun terpaksa harus menunggu sendirian di lobby sampai Sehun datang.

Diliriknya jam tangannya, Baekhyun datang tepat waktu, jam menunjukkan pukul tujuh malam. Mungkin memang Baekhyun harus menunggu sebentar, dia yakin begitu Sehun sampai di rumah sakit, lelaki itu pasti akan menghubunginya.

"Apakah anda ingin masuk?" Sapaan itu membuat Baekhyun menoleh, dan langsung bertatapan dengan pegawai restoran yang bertugas di depan. Pipi Baekhyun memerah. "Eh, iya, saya sedang menunggu seseorang dulu."

"Kalau anda sudah melakukan reservasi, anda bisa menunggu di dalam." Pegawai restoran itu tersenyum ramah. "Apakah anda sudah melakukan reservasi?"

Baekhyun ingat perkataan Sehun di telepon tadi bahwa dia sudah melakukan reservasi untuk makan malam pukul tujuh. "Saya… pasangan saya bernama Oh Sehun."

"Silahkan masuk dulu, sepertinya hujan akan turun deras di luar. Saya akan memeriksa di daftar reservasi." Pegawai restoran itu membuka pintu kaca besar yang berkilauan itu dan tersenyum ramah kepada Baekhyun yang gugup.

Baekhyun melirik kea rah langit, yang bekerjapan dengan cahaya-cahaya petir berkilauan. Benar kata lelaki petugas restoran itu, sepertinya hujan akan turun deras sebentar lagi dan mau tak mau, Baekhyun harus berlindung di dalam.

Dia masuk ke dalam ruang tunggu di lobby restoran yang hangat dibandingkan di luar, dan menunggu. Tak lama kemudian, petugas restoran itu datang kepadanya bersama seorang pelayan. "Mari agasshi, meja atas nama Oh Sehun sudah kami siapkan. Pelayan kami akan mengantarkan anda."

Kemudian pelayan itu mengantarkan Baekhyun memasuki ruang utama restoran itu, membiarkan Baekhyun mengikuti langkahnya.


Chanyeol sedang duduk dengan tenang di sofa ruang tengah rumahnya sambil membaca sebuah buku ketika Jongin memasuki ruangan. "Ada apa Jongin?" Chanyeol bergumam, tidak mengangkat matanya dari buku yang dibacanya.

"Saya ingin memberikan informasi baru tentang nona Baekhyun dan Sehun, tuan."

"Informasi apa?" Chanyeol mengangkat alisnya. Bukankah seperti yang dikatakan Baekhyun tadi, saat ini dia akan menghabiskan waktunya untuk makan malam istimewa bersama kekasihnya? Sebenarnya sempat terbersit keinginan untuk mengganggu keduanya, tetapi dia kemudian berpikir ulang dan membiarkannya, karena mungkin ini akan menjadi makan malam terakhir antara Baekhyun dengan Sehun yang diliputi kebahagiaan. Jadi biarkanlah mereka berdua menikmati kesempatan satu-satunya itu.

"Mereka sepertinya gagal untuk makan malam romantic malam ini."

Kata-kata Jongin menarik perhatian Chanyeol. Dia meletakkan bukunya di pangkuannya. "Kenapa?"

"Anda tahu, anda menugaskan saya untuk mengawasi nona Luhan. Malam ini dia mengalami serangan."

"Dan apa hubungannya dengan makan malam Baekhyun bersama Sehun?"

"Saya tidak tahu nona Luhan mempunyai rencana apa, tetapi dia mengalami serangan saat ini, kondisinya menurun drastic. Tetapi alih-alih memanggil-manggil nama anda seperti biasanya dan memohon dihilangkan kesakitannya, nona Luhan memanggil-manggil nama tuan Sehun. Sepertinya nona Luhan tahu hari ini adalah hari istimewa dan ingin mengacaukannya dengan caranya sendiri."

Bibir Chanyeol menipis. Luhan… adiknya itu benar-benar keras kepala dan tidak mempedulikan peringatan Chanyeol untuk menjauh dari semua rencananya. Matanya bersinar kejam. "Jadi Sehun datang ke rumah sakit?"

"Dan meninggalkan nona Baekhyun menunggu di sebuah restoran."

"Hmm…" Chanyeol tidak bisa menahan senyumnya. Keberuntungan ternyata berpihak kepadanya. Kesempatannya datang begitu saja, dan itu semua bukan karenanya bukan? Sehun sendiri yang begitu bodoh dan mudah terpengaruh dengan semua rencana Luhan.

"Aku tidak akan memberikan darahku untuk Luhan malam ini." Mata Chanyeol masih bersinar kejam. "Biar dia tahu, bahwa hukuman karena mencampuri urusanku adalah tidak mendapatkan darahku untuk menahan sel kankernya semakin ganas." Lelaki itu kemudian berdiri dan tersenyum kepada Jongin. "Siapkan mobil dan pakaianku, kurasa aku akan menghadiri makan malam, malam ini."


Sehun berlari melewati koridor rumah sakit, menuju ke ujung lorong tempat Luhan dirawat. Dan saking tergesanya, dia bertabrakan dengan dokter Joonmyeon yang melangkah keluar ruangan diikuti perawat-perawatnya.

"Sehun," dokter Joonmyeon menyapa, menoleh sedikit ke arah kamar Luhan di belakangnya.

"Seonsaengnim? Bagaimana keadaan Luhan?"

"Dia sudah melewati fase kritis serangannya, tadi dia kejang-kejang hebat dan kehilangan kesadarannya. Tetapi kami berhasil mengembalikannya. Luhan kelelahan." Dokter Joonmyeon tampak sedih. "Kau pasti tahu Sehun bagaimana rasanya. Dan dia memanggil namamu tadi."

"Bolehkah saya masuk?" Sehun tahu pasti rasanya. Rasanya sakit sekali, dan setelah kejang usai, rasanya lebih sakit lagi, kelelahan luar biasa yang diikuti dengan rasa sakit disekujur tubuh. Dia sungguh beruntung karena terpilih untuk disembuhkan, sedangkan Luhan rupanya tak seberuntung itu.

"Silahkan, tetapi jaga supaya pasien tetap tenang, dan jangan sampai dia lebih kelelahan lagi."

"Gamsahamnida seonsaengnim." Sehun menganggukkan kepalanya, dan kemudian melangkah masuk dengan hati-hati ke dalam ruangan Luhan.

Ruangan itu harum oleh aroma vanilla yang manis, dan begitu sepi. Sehun menoleh ke arah Luhan yang terbaring lemah dengan mata terpejam di atas ranjang.

Perempuan ini mungkin tertidur karena kelelahan…

Dengan pelan, Sehun meraih kursi dan duduk di dekat ranjang Luhan, mengamatinya. Luhan benar-benar pucat seputih kapas, dan sangat kurus, meskipun kecantikan masih tersirat di sana. Tiba-tiba saja Sehun teringat akan dirinya sendiri beberapa waktu lalu, dan tahu pasti bahwa dulu kondisinya sama persis seperti Luhan.

Bulu mata lentik Luhan bergerak-gerak seolah mengetahui kehadirannya, perempuan itu lalu membuka matanya pelan-pelan, dan bibirnya tersenyum lemah ketika melihat Sehun sedang duduk di tepi ranjangnya dan mengamatinya.

"Sehun?" Luhan mendesah lemah. "Kau datang." Jemari lemah Luhan terulur, seolah-olah ingin meraih Sehun.

Dengan lembut Sehun meraih jemari Luhan, menggenggamnya. "Aku ada di sini, Luhan."

Wajah Luhan tampak sedih. "Tahukah kau bahwa penyakit ini sudah menyerang seluruh indraku? Aku… aku bahkan tidak bisa melihat segala sesuatunya dengan jelas, semuanya tampak samar-samar. Dan aku takut…" Air mata Luhan menetes bening di pipinya, membuat Sehun tersentuh. Dia pernah mengalami rasa takut yang sama seperti Luhan, ketika dia hampir kehilangan pendengaran dan penglihatannya karena kanker otaknya, tidak mampu berjalan lagi karena tubuhnya seakan mati rasa, Sehun pernah merasakan ketakutan yang sama, bahkan ketika malam menjelang dan dia hendak tidur, dia sangat ketakutan, takut kalau-kalau ternyata esok hari dia sudah tidak bisa membuka matanya lagi.

"Uljima, Luhan... Kau kelelahan dan bingung, istirahatlah, aku akan menemanimu."

Luhan meremas tangan Sehun dengan lemah. "Kau tidak akan meninggalkan aku bukan?"

Sehun menganggukkan kepalanya mantap. "Aku akan di sini Luhan." Hujan turun dengan derasnya di luar, sepertinya mala mini akan badai, akrena suara Guntur sudah bergemuruh, membuat jendela kaca ruangan itu bergetar beberapa kali karena begitu kerasnya suaranya.

Sehun mengamati Luhan, dia sedikit merasa tenang karena Luhan sudah tidur pulas. Tiba-tiba saja dia teringat pada Baekhyun dan melirik jam tangannya, sudah jam delapan malam lebih. Tadi dia minta Baekhyun menunggu di restoran sejak pukul tujuh. Kekasihnya itu pasti cemas, Sehun harus segera ke sana.

Dengan hati-hati Sehun mencoba melepaskan genggaman tangan Luhan di jemarinya, dia kana meninggalkan Luhan diam-diam, karena dia yakin perempuan itu akan tertidur pulas sampai esok pagi, apalagi setelah tubuhnya menyerap pengaruh obat yang diberikan dokter kepadanya.

Tetapi mata Luhan terbuka kembali, berkaca-kaca dan penuh air mata saat Sehun sedang melepaskan kemarinya, perempuan itu terisak-isak histeris. "Kau bohong Sehun, kau akan pergi… Kau akan meninggalkanku…" Luhan setengah menjerit di tengah isakannya. Sementara itu Sehun teringat pesan dokter untuk selalu membuat Luhan tenang. Luhan sudah kelelahan karena serangan kejangnya dan dia bisa kehilangan kesadaran kalau terlalu lelah.

Sambil menghela nafas panjang, Sehun duduk di pinggir ranjang, dan menghapus air mata Luhan. "Mianhae, aku hanya ingin ke toilet sebentar."

Isakan Luhan sedikit mereda. "Jadi, kau bukannya akan meninggalkanku?"

"Bukan." Sehun meringis karena harus berbohong, tetapi dia harus melakukannya bukan? Di depannya terbaring seorang perempuan lemah yang sepertinya sangat bergantung pada kehadirannya, dan Sehun yang pernah mengalami kesakitan yang sama, tidak akan tega menyia-nyiakan perempuan ini. "Tidurlah, aku akan menjagamu."

Jemari lemah Luhan meraih jemari Sehun dan menggenggamnya erat-erat. "Gomaweo, Sehunnie," bisiknya lembut, lalu memejamkan matanya lagi.

Sehun sendiri duduk dan mengamati jemarinya yang digenggamnya dengan begitu erat oleh Luhan, lalu dia mengela nafas panjang, diraih ponselnya sambil melirik cemas kea rah hujan deras yang menghujan diiringi gempuran petir di luar. Dia tidak bisa menelpon Baekhyun di sini karena akan mengganggu istirahat Luhan, akhirnya dia mengirimkan pesan singkat kepada kekasihnya itu.

- "Chagiya, mianhae. Aku tidak bisa meninggalkan Luhan, kondisinya parah. Kita ganti makan malam ini esok hari ya? Saranghae~ -


Sudah jam delapan malam lebih.

Baekhyun melirik ke arah jam tangannya dan memandang cemas ke sekeliling, sudah satu jam dia menunggu Sehun dan kekasihnya itu tidak datang juga. Pelayan sudah bolak balik datang dan menanyakan mejanya. Ya… meja di restoran ini selalu tereservasi penuh, banyak sekali pasangan atau keluarga yang mengantri untuk makan malam di restoran yang elegan ini. Dan Baekhyun yang hanya menunggu di meja, tanpa memesan hidangan dan hanya meminum air putih tentu saja merupakan sebuah in-efisiensi bagi pelayanan meja restoran itu.

Baekhyun tahu kalau pasangannya diharapkan segera datang, kalau tidak Baekhyun harus membatalkan reservasi dan meniggalkan restoran itu, karena meja yang dia duduki sekarang bisa digunakan oleh pasangan lain yang mengantri. Tetapi bagaimanapun juga Baekhyun harus menunggu Sehun bukan? Sehun menyuruhnya menunggu, dan Baekhyun yakin kalau Sehu akan datang.

Seorang pelayan datang lagi menghampirinya untuk ketiga kalinya. "Cheoseonghamnida agasshi, apakah sudah mulai akan memesan?" Itu adalah pertanyaan sopan bernada pengusiran halus, dan Baekhyun tidak bisa menyalahkan pelayan itu karena dia akan melaksanakan tugasnya.

Pada saat yang bersamaan, ponsel Baekhyun berbunyi dan dia membelalakkan matanya penuh harap ketika mengetahui bahwa pesan itu berasal dari Sehun, segera dia membuka pesan itu dan membacanya.

- "Chagiya, mianhae. Aku tidak bisa meninggalkan Luhan, kondisinya parah. Kita ganti makan malam ini esok hari ya? Saranghae~ -

Seketika itu juga dada Baekhyun seakan dihantam oleh palu yang sangat kuat, membuatnya merasakan rasa nyeri yang menyiksa di sana. Hari ini adalah hari ulang tahunnya, hari ulang tahun pertama mereka dimana mereka bisa merayakan bersama-sama tanpa Sehun menderita sakit. Dan Sehun malahan menghabiskannya bersama perempuan lain.

Mata Baekhyun berkaca-kaca, dia tahu bahwa dia seharusnya tidak boleh sedih ataupun marah kepada Sehun. Sehun melakukan ini semua pasti ada alasannya, dan dia percaya kepada Sehun, pasti kondisi Luhan benar-benar buruk di sana, dan dia membutuhkan Sehun, lebih daripada Baekhyun membutuhkannya.

"Agasshi? Bagaimana? Apakah anda akan mulai memesan, ataukah anda masih akan menunggu?" Pelayan itu bergumam, menarik Baekhyun dari kesedihan di dalam benaknya.

Baekhyun mendongak, menatap pelayan itu dengan mata sedih, hendak mengatakan bahwa dia akan pulang karena pasangannya tidak bisa datang. "Saya… saya akan pulang. Cheoseonghamnida, pasangan saya tidak bisa datang."

Seketika itu juga Baekhyun menerima tatapan iba dari pelayan itu, yang membuat hatinya bagaikan diiris sembilu. Pelayan itu pasti tahu betapa Baekhyun datang dan menunggu lebih dari satu jam lalu dengan harapan berbinar-binar hanya untuk kemudian dipupuskan begitu saja setelah menunggu sekian lama. Tiba-tiba saja Baekhyun merasa malu bukan kepalang.

"Baekhyun?" Sebuah suara familiar tiba-tiba terdengar di belakang Baekhyun, membuat Baekhyun menoleh dan bertatapan langsung dengan mata coklat Chanyeol yang dalam. Penampilan lelaki itu luar biasa, dengan setelan yang sepertinya dijahit khusus untuknya. Rambutnya agak basah, mungkin karena menembus badai di luar dalam perjalanannya memasuki restoran.

Bahkan pelayan itu ternganga kagum akan penampilan Chanyeol, untunglah dia segera menguasai diri. Pelayan itu tersenyum lebar kepada Baekhyun dengan penuh perhatian. "Saya rasa pasangan yang anda tunggu pada akhirnya datang." Senyum pelayan itu tampak tulus. "Sebentar, saya akan mengambilkan menu untuk kalian berdua." Dan kemudian pelayan itu bergegas pergi, tidak mendengarkan Baekhyun yang berusaha memanggilnya.

Setelah pelayan itu pergi, Baekhyun menatap Chanyeol dengan malu. "Cheoseonghamnida sajangnim. Pelayan itu mengira anda sebagai pasangan makan malam saya. Tetapi sebenarnya calon suami saya membatalkan acara makan mala mini, jadi saya akan pulang. Saya rasa anda juga sedang menunggu pasangan anda, jadi saya akan ke sana dan menjelaskan kepada kepala pelayan restoran," dengan gugup Baekhyun hendak berdiri, tetapi jemari Chanyeol menahan lengannya dengan lembut.

"Duduklah dulu Baekhyun, aku tidak sedang menunggu seseorang jadi kau bisa jelaskan pelan-pelan." Dengan santai Chanyeol duduk di kursi di depan Baekhyun, menatap Baekhyun dari seberang di bawah bayang-bayang lilin di antara mereka. "Jadi calon suamimu membatalkan makan malam kalian? Wae? Dari yang aku dengar darimu tadi siang, kalian sudah merencanakan makan malam ini."

Baekhyun menghela nafas panjang, berusaha menyembunyikan kesedihannya. "Dia… dia ada kepentingan mendadak di rumah sakit."

"Apakah calon suamimu sakit lagi?" Chanyeol mengangkat alisnya, dan Baekhyun langsung menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

"Tidak, bukan begitu. Ada seorang temannya yang menderita sakit parah sama sepertinya mengalami serangan mala mini, dan dia membutuhkan calon suami saya untuk menemani."

"Lebih daripada kau membutuhkan kehadiran calon suamimu untuk menemanimu di hari ulang tahunmu, eoh? Bukankah itu berarti calon suamimu lebih memilih temannya daripada dirimu?" Kata-kata Chanyeol terdengar tenang, tetapi langsung menusuk ke dasar jiwa Baekhyun membuatnya mengernyit.

"Saya tidak akan berpikiran seperti itu terhadap calon suami saya. Saya tahu dia melakukan apa yang menurutnya terbaik dan saya mendukungnya."

"Dengan membiarkanmu menunggu sendirian di restoran? Berapa jam, Baekhyun? Satu jam? Dua jam?"

"Jangan mencoba membuat saya berpikiran buruk pada suami saya," Baekhyun menyela, suaranya terdengar tegas hingga membuat Chanyeol terdiam. "Jeongmal cheoseonghamnida…" Baekhyun bergumam kemudian, menyadari kalau dia telahmembentak atasannya sendiri. "Saya… saya rasa sebaiknya saya pergi."

"Makan malamlah denganku, Baekhyun. Aku kebetulan tidak ada teman dan kebetulan pula bertemu denganmu di sini, lagipula kau belum makan malam bukan? Dan di luar hujan deras serta tidak ada taxi kau harus menunggu lama di depam dan pasti kebasahan." Tatapan Chanyeol tampak tak terbantahkan. "Kita bisa menunggu badai reda sambil makan malam bersama."

Baekhyun terpaku di tempatnya… meragu.

Apakah dia akan tinggal, ataukah dia akan pergi?


TBC

Makasih yang udah baca, review, yang follow juga :)

Tinggalkan jejak kaki kalian ya :)