Tittle : White Crystal
Maincast : -Akashi Seijuurou
- Kuroko Tetsuya
- Aomine Daiki
- Kise Ryouta
- Murasakibara Atsushi
- Midorima Shintarou
Suport Cast : - All of Kuroko No Basuke Chara
Author : Lian (VT_Lian1995)
Genre : Family, Slice Of Life, School Life, Brotheship, Little Comedy, Sad, Hurt.
Attention : This chara not mine, this chara from Kuroko no Basuke by Fujimaki Tadatoshi – sensei.
Little information : Seluruh nama Cast akan menggunakan nama Akashi karna ini berhubungan dengan kisah keluarga Akashi. Jadi di mulai dari Tetsuya sampai Shintarou akan menggunakan nama depan Akashi.
Summary : Akashi Tetsuya, bungsu dari 6 bersaudara keluarga Akashi harus menangung beban berat di pundak untuk memberikan kesan betapa hebatnya keluarga Akashi. Tapi sayangnya, apapun yang ia lakukan pasti sudah pernah dilakukan oleh ke – 5 kakaknya. Apapun itu, segala yang Akashi Tetsuya raih seolah hanya sia – sia, terlebih jika dibandingkan dengan fisik ke – 5 kakaknya, Tetsuya jauh lebih lemah, namun tak menampik kemungkinan ia bisa jadi lebih kuat walau usahanya akan mendapat resiko yang tinggi. Ini demi menjunjung tinggi motto dari sang Ayah yang telah tiada "Pemenang akan mengukir sejarah dan yang kalah akan menjadi pecundang yang terlupakan."
"Jika kau katakan menjadi bungsu keluarga Akashi merupakan anugrah, tapi bagiku tidak. Beban yang ku tanggung lebih besar dari Ke-5 saudaraku yang lain"
_ooOOOoo_
Chapter 10
%^Lose!^%
Pria bersurai hijau tengah duduk di depan televisi besar di dalam ruangan pribadinya, sudah hal biasa jika ia mengawali hari dengan menonton siaran Oha Asa dan menentukan Lucky Itemnya hari ini. Seulas senyuman mengukir di bibirnya saat Cancer berada di posisi pertama dengan Lucky Item smartphone berwarna Baby Blue. Tapi senyuman itu tak berlangsung lama karna ramalan Oha Asa mengatakan jika Aquarius berada di posisi terbawah.
"Hari ini adalah hari terburuk untuk Aquarius, para Aquarius terlalu banyak mengorbankan apa yang dimiliki sampai lupa jika ia sudah tak memiliki apapun. Untuk menghindari hal buruk, Lucky Item untuk Aquarius hari ini Foto keluarga lengkap" Shintarou mengerutkan dahinya bingung.
"Foto keluarga?" Gumamnya tak jelas.
"Semoga beruntung untuk Aquarius" Kalimat terakhir membuat Shintarou menghela nafas, ntah kenapa perasaannya mendadak tidak enak. Di liriknya sebuah foto keluarga yang selalu terpampang di meja kerjanya, Foto dirinya bersama kelima saudara yang diambil saat Tetsuya baru saja memasuki jenjang sekolah menengah pertamanya.
"Mungkin aku akan pulang sebentar untuk mengecek keadaanmu, Tetsuya" Shintarou menghela nafas dan bersiap untuk pulang walau mungkin hanya 5 menit.
Sementara itu di luar gedung rumah sakit, Tanaka langsung menyuruh beberapa perawat mengambil ranjang beroda dan membawa Tetsuya ke ruangan gawat darurat karna nafasnya semakin tersengal terlebih lagi demamnya semakin tinggi. Momoi, Tanaka dan beberapa perawat mendorong ranjang beroda untuk menuju ruangan khusus yang telah disiapkan untuk keluarga pemilik AKASHI HOSPITAL itu. Salah satu perawat mengambil inisiatif untuk segera memanggil Shintarou di ruangannya, beruntung Shintarou yang berniat pulang masih berdiri di depan pintu.
"Sensei, keadaan darurat" Ucap Perawat itu tersengal sedangkan Shintarou masih menunggu kelanjutan dari ucapan sang perawat. "Tanaka – san datang membawa Tetsuya-sama"
"Tetsuya?"
"Haii, keadaannya cukup buruk karna memakai alat bantu oxygen untuk bantuan pernafasan" Mendengar ucapan salah satu perawat itu, Shintarou mengambil langkah seribu untuk menuju ruangan yang biasa di gunakan untuk keluarganya.
Shintarou terus berlari dan tak peduli dengan orang – orang yang ia tabrak, perawat itu juga mengikutinya dari belakang. Fikiran Shintarou terfokus pada satu orang, Si bungsu yang sudah lebih dari 3 bulan tak ia Control kesehatannya. Begitu sampai di depan pintu ruangan, terlihat Tanaka beserta gadis bersurai merah muda yang memasang raut wajah khawatir.
"Tanaka-san, Tetsuya kenapa?" Tanyanya.
"Seperti biasa Shintarou-sama, tapi kali ini lebih parah"
"Sudah berapa lama?"
"Usai pertandingan Winter Cup kemarin dan kumat tadi pagi" Tanpa buang waktu Shintarou langsung masuk namun sebelum itu, masih sempat ia mengucapkan hal klise pada Tanaka.
"Wakatta"
Pintu ruangan tertutup dan menyisakan Shintarou beserta beberapa perawat yang membantunya. Mata hijau Shintarou membulat besar melihat keadaan Si bungsu yang menyedihkan. Kulitnya semakin pucat juga kurus, tak luput nafasnya yang memburu dengan suhu tubuh yang sangat tinggi. Tetsuya memang rentan saat musim dingin terlebih ia tak bisa lelah, selama hidupnya, untuk pertama kali Tetsuya merasakan kelelahan luar biasa dan akhirnya tumbang.
"Berapa suhu tubuhnya?" Tanya Shintarou pada salah seorang suster yang memeriksa.
"41 derajat hampir mendekati 41,5 derajat"
Mendengar itu saja sudah membuat Shintarou hampir panik, penanganan dilanjutkan dan karna nafas Tetsuya yang memburuk, Alat bantu pernafasan yang sempat dipakaikan secara asal kini dilepas dan diganti hingga Tetsuya bisa bernafas normal. Tapi baru saja Shintarou akan menyuntihkan obat, hal yang ia takuti terjadi. Akibat dari suhu tubuh yang terlalu tinggi, Tetsuya mimisan dan tubuhnya menggigil kuat.
"Tahan sebentar, Tetsuya." Ucap Shintarou.
Darah segar yang keluar dari hidung segera dibersihkan, suntikan penang juga sudah diberikan. Tak butuh penanganan yang lama, Tubuh yang tadinya menggigil parah kini terlihat terkulai lemah begitu saja. Setidaknya dengan seperti ini, penanganan yang selanjutnya akan lebih mudah. Manusia boleh saja bertindak, tapi Tuhan yang menentukan segalanya. Baru saja Shintarou menghembus nafas lega, keadaan tubuh Tetsuya tak mampu menerima obat yang diberikan dan berujung Shintarou memutuskan untuk membawa Tetsuya ke ruang ICU untuk penanganan lebih lanjut.
Di sini lah Tetsuya sekarang, dengan suhu tubuh yang sangat tinggi dan bisa saja membuatnya kejang – kejang kapan saja, belum lagi hidungnya terus – terusan mengeluarkan darah. Ketika matanya terbuka, hal yang pertama kali terjadi adalah isi perut Tetsuya yang keluar karna pusing berlebihan. Sekarang keadaannya terlihat sangat kelelahan, matanya terpejam dengan nafas yang masih menderu namun tak tersengal membuatnya terlihat begitu tenang. Shintarou segera keluar ruangan dan terduduk lemah di depan pintu.
"Yokatta, keadaannya lebih stabil" Gumamnya sembari mengacak kasar rambutnya yang kusut.
"Shintarou-sama" Panggil Tanaka.
"Tetsuya sudah lebih baik Nanodayo, tapi belum ada perkembangan pasti. Untuk sementara dia akan dirawat di ruangan ini dulu" Tanaka mengangguk mengerti, dari apa yang ia lihat sekarang, tak beda jauh dengan Tetsuya yang selama ini terlihat lelah, Shintarou juga terlihat lelah juga berantakan. "Ne Tanaka-san, sebenarnya apa yang terjadi belakangan ini dengan Tesuya"
"Maaf sebelumnya, Shintarou-sama. Apa yang terjadi dengan Tetsuya-sama, sama seperti yang terjadi dengan tuan muda lainnya. Tetsuya – sama berlatih giat untuk memenangkan Winter Cup dan seperti yang anda lihat dia berhasil" Jelas Tanaka.
"Bukan itu maksudku Tanaka-san, tapi apa yang terjadi selama aku tak mengecek kesehatan Tetsuya belakangan ini" Tanaka mengehela nafas dan berusaha bersikap profesional.
"Akhir – akhir ini Tetsuya-sama memang sering terkena demam, ia juga jarang makan di rumah bahkan sering tak makan sama sekali. Kegiatan yang ia lakukan setiap harinya selalu penuh dan ini juga karna kelalaian saya karna tak menjaga Tetsuya –sama dengan baik" Tanaka menundukkan kepalanya menyesal.
"Ini bukan salahmu, Tanaka-san. Ini salahku juga Nanodayo. Aku terlalu sibuk mengecek kesehatan orang lain dan melupakan kesehatan adikku sendiri" Gumam Shintarou menyesal. "Lalu, apa ada alasan lain yang membuat Tetsuya bisa separah ini? dan kenapa pula sesak nafasnya kambuh?" Tanaka berfikir sejenak, belum lagi ia berbicara, Momoi yang dari tadi hanya mendengarkan percakapan itu kini membuka suara.
"Tetsu-kun sedang mengumpulkan hadiah untuk ulang tahun, Kakak pertamanya" Mendengar jawaban Momoi, sontak Shintarou dan Tanaka memandangnya.
"Apa maksudmu, Nanodayo?"
"Seharusnya aku tak boleh mengatakan ini pada kalian karna ini rahasiaku dan Tetsu-kun" Momoi menimang – nimang untuk memberitahu atau tidak. "Tetsu-kun ingin membuktikan pada kalian semua – kelima kakaknya – kalau ia juga bisa menjadi nomor satu dan menjadi salah satu dari keluarga Akashi yang sempurna dengan mengikuti berbagai kejuaraan. Hadiah piala, uang, penghargaan semuanya ia kumpulkan sebagai hadiah untuk ulang tahun…" Ucapan Momoi melambat saat menyebut satu nama. "Akashi Seijuurou"
"Seijuurou?"
"Haii, Tetsu-kun pernah mengatakan padaku ia lelah menjadi bagian dari Akashi yang dituntut sempurna, tapi jauh di dalam hatinya ia mempunyai keinginan kuat untuk bisa melampaui kalian. Tetsu-kun mengikuti semua kejuaraan yang pernah kalian ikuti lebih awal dengan harapan bisa membuktikan bahwa ia bisa" Momoi terdiam sejenak. "Hadiah yang ingin diberikan Tetsu-kun nanti adalah keinginannya untuk mendapatkan pengakuan dari Akashi Seijuurou"
"Soukka" Shintarou berdiri dan menepuk puncak kepala Momoi. "kau pasti orang yang benar – benar dipercaya Tetsuya sampai ia berani bercerita dan mengungkapkan apa yang menjadi keinginannya. Arigatougozaimasu Momoi-san, kau yang tak tau apa – apa jadi terlibat dalam keluarga kami. Tapi, aku bersyukur karna saat kami tak memperhatikan Tetsuya, kau bisa menggantikan kami semua." Ucapan kepala itu berhenti dan Shintarou beranjak. "Aku akan menghubungi yang lain, tolong jaga Tetsuya sampai salah satu dari kami datang"
"U-Un." Momoi mengangguk mengerti saat punggung Shintarou menghilang di belokkan lorong. Shintarou mencari tempat yang sepi untuk menelfon saudaranya, yang pertama kali adalah Atsushi. Setelah menunggu, akhirnya telfon diangkat.
"Moshi – moshi~~ Ada apa Shin Nii-chin?" Nada malas terdengar disana.
"Apa kau sangat sibuk sekarang?" Tanya Shintarou.
"Tidak terlalu, kenapa?"
"Kau bisa pulang? Keadaan Tetsuya memburuk di musim dingin, sekarang dia tengah ku rawat dan terpaksa masuk ruang ICU" jelas Shintarou panjang.
"Tetsu-chin Masuk rumah sakit?" Tanya Atsushi dengan nada khawatir disana.
"Haii, keadaannya sekarang cukup stabil walau tadi sempat memburuk"
"Wakatta, aku akan pulang. Mungkin nanti sore aku akan sampai"
"Baiklah, aku akan menunggu Nodayo"
Pip.
Satu orang berhasil dihubungi tanpa hambatan, kini giliran satu orang lagi yang mungkin akan sulit mengangkat telfon. Shintarou menunggu panggilannya terjawab, tapi masih belum. Sekali lagi ia mencoba menghubungi adiknya, menunggu hingga suara berat disana menjawab panggilannya.
"Haii, Shintarou Nii" jawab di sana dengan suara terburu – buru.
"Kau bisa pulang Daiki, Tetsuya dirawat di rumah sakit. Saat ini dia masih berada di ruang ICU" ucap Shintarou.
"ICU? Ada apa dengan Tetsu sebenarnya, Shintarou- Nii?" Suara panik terdengar disana.
"Kau tenang saja, keadaannya tak seburuk tadi."
"Baik, aku akan pulang sekarang"
Pip
Shintarou menghela nafas mendengar adiknya yang satu itu terkesan begitu panik saat mendengar kabar itu. Memang ini bukan pertama kalinya Tetsuya dirawat, tapi tetap saja membuat yang lain khawatir terlebih sampai masuk ruang ICU padahal Shintarou belum mengatakan njika Sesak Nafas Tetsuya kumat. Kini ia mencari lagi satu nomor adiknya yang paling sulit untuk diberi penjelasan. Setelah menghela nafas, Shintarou menelfon adik ke – 4 nya, Akashi Ryouta. Tak butuh waktu lama, Seseorang mengangkatnya.
"Moshi – Moshi! Kenapa Shintarou Nii-cchi tiba – tiba menghubungiku-ssu?" Celoteh pria berambut kuning di ujung sana.
"Pulanglah, Tetsuya masuk rumah sakit dan sekarang sedang berada di ruang ICU" Terdengar suara gebrakkan di sana, sudah pasti itu ulah Ryouta.
"Haii, aku akan pulang. Tunggu aku Nii-cchi"
Pip
'Lebih mudah dari yang ku kira ternyata' fikir Shintarou.
Kali ini orang yang mungkin paling tak ingin Shintarou beri tahu. Jujur saja, semenjak kakaknya berubah 6 bulan lalu dan menjadi sosok yang berbeda, Shintarou juga keempat saudara lainnya memutuskan untuk tak terlalu dekat dengan kakaknya itu. Apa yang mereka lakukan saat ini semata karna tak ingin mencoreng nama Akashi yang sudah sempurna dimata Jepang juga karna tuntutan yang mengikuti semenjak mereka dilahirkan.
Shintarou, Atsushi, Daiki, Ryouta dan Tetsuya sebenarnya merasakan kehilangan sosok si sulung yang berwibawa juga penengah untuk mereka, sosok si sulung yang sekarang tak lebih seperti iblis bergunting yang haus akan kemenangan dan kesempurnaan. Sedikit saja terdeteksi hampir membuat kesalahan, si sulung tak akan segan – segan memberikan tugas pekerjaan mereka menjadi berkali – lipat dan dibatas wajar. Shintarou berdo'a dalam hati sebelum menekan layar untuk membuat sambungan telfonnya terhubung. Tak berapa lama, terdengar suara seseorang di ujung sana.
"Kau mengganggu perkerjaanku, Shintarou. Jika tak ada hal penting sebaiknya jangan menghubungiku" nada suara yang begitu dingin juga menusuk terdengar jelas di telinga Shintarou, jika bukan karna Tetsuya, mungkin ia sudah menutup sambungan Telfon itu.
"Aku hanya ingin mengabarimu, Tetsuya sekarang sedang dirawat di ruang ICU. Keadaannya lebih buruk dari musim dingin seperti tahun – tahun sebelumnya Nanodayo" Ucap Shintarou pelan.
"Huh, kau Cuma ingin memberitahuku tentang itu?" Mata Shintarou membulat besar, apa ini Seijuurou yang ia kenal, kakak yang paling protectif mengenai si bungsu?
"Haii" jawab Shintarou singkat.
"Ck, ini sedkit mengganggu, tapi karna dia berhasil memenangkan Winter Cup tahun ini, baiklah, aku akan pulang"
Pip.
"SIALAN!" Gerutu Shintarou begitu mendengar nada dingin keluar dari mulut kakak pertamanya itu. "Kau sebenarnya siapa, Akashi Seijuurou?!"
_ooOOOoo_
Pemuda bersurai Baby Blue tampak terlihat tenang menikmati alam bawah sadar yang tak bisa dilihat oleh siapapun kecuali dirinya sendiri. Begitu tenang bahkan sangat tenang, sehingga tak seorangpun ingin membangunkannya bahkan untuk sekedar memanggilnya. Pria bersurai Hijau, Kuning, Navy Blue dan Ungu memenuhi ruangan itu. Hanya dalam hitungan jam, semuanya telah berkumpul, bahkan si surai ungu yang berada di Akita sudah tiba siang tadi padahal seharusnya pada Sore hari. Beberapa jam yang lalu Tetsuya sudah sadar dan di pindahkan ke ruang rawat inap seperti biasa. Bersyukurlah karna Shintarou terus berada di sisi Tetsuya tanpa pernah sekali pun pergi walau hanya untuk mengambil air minum.
Si surai kuning tampak duduk sembari menggenggam tangan mungil yang terlihat pucat juga kurus. Tangan satunya bergerak menyusuri helaian Baby Blue yang sudah terlihat lebih panjang. Sedikit demi sedikit ia merapikan helaian itu dan mengelusnya lembut. Tak jauh beda dari Si Kuning, si surai Navy Blue juga duduk berhadapan dengan si surai kuning sembari mengelus tangan mungil satunya yang tertusuk jarum infus.
"Tetsuya-cchi" Gumam si kuning. "Gomen –ssu, aku terlalu sibuk jadi tak bisa menjagamu-ssu" Si kuning mulai berceloteh.
"Hentikan ucapanmu itu Ryouta, nanti Tetsu bisa bangun" Tegur si Navy Blue – Daiki.
"Tapi-ssu" Ryouta berusaha membela diri tapi mendapat teguran lagi dari si surai hijau.
"Sudahlah, Nodayo. Bukan hanya kau saja yang tak pernah menjaga Tetsuya, tapi kita semua juga sudah jarang menemaninya bahkan bertemu dengannya Nanodayo"
"Shin Nii-chin benar, aku bahkan Cuma sekali bertemu dengan Tetsu-chin semenjak buka cabang di Akita. Saat itu pun, Tetsu-chin sudah tidur karna lelah" Si surai ungu – Atsushi memberitahu.
"Lebih baik kita segera keluar Nodayo, biarkan Tetsuya beristirahat lebih lama." Shintarou memberi perintah.
"Boleh aku lebih lama disini Shintarou Nii-cchi?" Tanya Ryouta.
"Hah.. Ryouta, Tetsuya butuh istirahat. Bagaimana kalau istirahatnya nanti terganggu?" tanya Shintarou.
"Onegai Nii-cchi, kali ini aku mohon biarkan aku menjaga Tetsuya-cchi ssu"
"Kau keras kepala sekali Ryouta, Shintarou – Nii katakan tidak ya tidak, biarkan Tetsu istirahat" Daiki sedikit meninggikan nada suaranya.
"Kecilkan suaramu itu Daiki" Tegur Shintarou. "Baiklah, kau boleh menemani Tetsuya, tapi ingatlah untuk tidak mengganggu tidurnya Nanodayo, aku tak mau istirahatnya terganggu"
"Haii, aku tak akan mengganggunya-ssu. Aku janji"
"Ma, lebih baik kita keluar sekarang"
Shintarou, Atsushi dan Daiki keluar ruangan itu, wajah bersalah tergambar dari ekspresi mereka. Jika bukan karna tak ingin mengganggu istirahat Tetsuya, Daiki maupun Atsushi juga ingin menunggui Tetsuya agar saat terbangun nantinya mereka bisa langsung memenuhi kebutuhan adiknya. Merasa tak ada yang bisa dikerjakan, Daiki membuka suara.
"Sekarang apa yang harus kita lakukan Nii-san?" tanyanya.
"Untuk saat ini tak ada, lebih baik kalian istirahatkan tubuh kalian untuk gantian berjaga. Aku masih harus memeriksa pasien yang lain, Nodayo" jelas Shintarou.
"Hmm.. Baiklah aku akan belanja untuk membuatkan makan malam untuk kita. Semoga Tetsu-chin sudah bangun nanti" ucap Atsushi.
"Dia pasti akan bangun Nodayo, aku pastikan itu" Jawab Shintarou percaya diri.
"Kalau begitu, aku akan membantumu belanja Atsushi-Nii" Daiki menepuk tangannya. "Aku yakin kau akan berbelanja banyak, sudah lama aku tak membantumu berbelanja dan menyiapkan makanan. Setelah beberapa bulan tak pernah berkumpul, sepertinya aku merindukan kebersamaan kita" Ucap Daiki mencairkan suasana.
"Tentu saja, Daiki-chin. Malam ini aku akan membuat masakkan yang enak untuk kita semua" Atsushi memberikan sebuah senyuman kecil.
"Jangan hanya asal memasak Nodayo, pikirkan juga keseimbangannya. Khusus untuk Tetsuya, aku harap Nii-san memasak makanan yang sesuai dengan lidahnya" Usul Shintarou.
"Haii, aku bukan anak kecil yang harus diingatkan Shin Nii-chin"
Shintarou tersenyum kecil mendengar jawaban dari adiknya itu, padahal baru beberapa bulan mereka tak berkumpul, tapi rasa rindu akan kebersamaan tak bisa dipungkiri lagi dari benaknya. Shintarou melirik ke arah jam tangannya, masih pukul 16:00 sore tapi ada rasa kecewa dalam dirinya. Satu orang yang paling ditunggu tapi saat ini belum juga datang, apa seberat itu meninggalkan gunungan dokumen? Atsushi, Daiki dan Ryouta langsung melesat meninggalkan pekerjaan mereka tanpa peduli konsekuensi yang mereka dapatkan. Tapi, orang yang satu itu memang tak bisa dimengerti, Shintarou mendengus kesal dan mulai beranjak.
Disisi lain, Seorang bersurai abu – abu terlihat mengacak kasar rambutnya. Sepertinya rencana yang telah ia susun gagal. Baru saja bibirnya mengulas sebuah senyuman kemenangan karna berhasil menumbangkan satu orang tapi sekarang bibirnya melengkung kebawah dengan nada kesal karna apa yang harusnya terjadi tak sesuai dengan harapannya.
"Cih! Seharusnya pelayan sialan itu ku ikat saja dan menghentikan perjalanan mereka menuju rumah sakit. Menyebalkan! Argh! Sial! Sial! Sial! Bom waktu yang ku pasang sama saja tak memberikan ledakkan untuk si kepala merah itu" Rutuknya berulang ulang.
Kaleng – kaleng kosong di jalanan menjadi sasaran empuk untuknya melampiaskan kekesalan yang sudah memuncak bahkan sudah siap untuk menyembur keluar. Tangannya ia masukkan ke dalam kantung jaket tebal tapi mulutnya tak berhenti berdecih kesal. Di saat ia tengah sibuk dalam fikirannya sendiri, tak sengaja pria dengan surai warna Navy Blue dan Ungu melewatinya dengan obrolan ringan tanpa beban.
"M-Mereka" Mata Pria bersurai abu – abu itu membulat besar dan sontak berbalik. "Akashi Daiki dan Akashi Atsushi? Bukannya mereka sedang di luar kota? Masaka?"
Buru – buru Pria itu mengikuti Daiki dan Atsushi yang berjalan berdampingan tanpa canggung dan saling melempar senyuman. Dahi pria itu sedikit mengerut saat mengetahui jika tak biasa – biasanya seorang Akashi itu jalan kaki terlebih memasuki supermarket dengan langkah ringan sedangkan sang adik bungsu sedang dirawat di rumah sakit. Kemana Daiki dan Atsushi melangkah, pria itu terus mengikuti mereka.
"Nii-san, aku rasa membuat Sup Tofu akan membuat Tetsu merasa lebih baik" Daiki memberi masukkan.
"Sup tofu? Itu ide yang bagus Daiki-chin, tapi Shintarou – Nii lebih menyukai Sup kacang merah" ucap Atsushi dengan nada malasnya.
"Benar juga, bagaimana kalau kita membuat makanan pembuka adalah sup Tofu, makanan utama kare dan penutupnya desert dengan campuran kacang merah?" Usul Daiki.
"He~~ Bukannya itu terlalu merepotkan Daiki-chin? Dapur rumah sakit tak sebesar di rumah"
"Bukannya dapur sudah diperbaiki oleh Shintarou Nii? Aku yakin kita bisa membuat masakkan yang lezat dan Tetsu bisa cepat sehat kembali"
"Wakatta, tapi pastikan Ryouta-chin tak ikut membantu. Aku yakin masakkan kita akan jadi sampah kalau dia ikut"
"Tentu saja, Ryouta akan dengan senang hati memilih menjaga Tetsu dari pada membantu membuat makan malam" Daiki mengulas senyum tipis, "Tapi, dari kita semua Seijuurou Nii yang belum datang" mengehela nafas, Daiki melanjutkan ucapannya. "Seijuurou – Nii benar – benar terasa seperti orang lain. Aku jadi tak mengenali ONii-san ku sendiri"
"Mou~~ Aku juga berfikir demikian. Jika saja Nijimura Shuuzou Nii - Chin ada, aku akan bertanya padanya"
"Shuuzou - Nii sedang mengurus Nijimura Corp cabang Nagasaki, dia tak punya waktu"
"He~~ Mereka sudah membuka cabang di Akihabara dan sekarang di Nagasaki juga, Aku tak heran jika ia semakin sibuk dan jarang berkunjung" Daiki menguap kecil.
"Bukan jarang lagi Nii-san, Bahkan sudah tidak pernah. Sekitar 4 tahun yang lalu saat aku masih sekolah di Touo. Shuuzou-Nii datang berkunjung untuk memberikan nasihat dan ceramah panjang yang membuat telingaku berdengung" Gerutu Daiki.
"Bukannya itu bagus Daiki-chin? Kau kan yang paling sulit dikendalikan" Atsushi berbicara dengan nada malas.
"Nii-san! Aku tau aku sulit dikendalikan, tapi bukan berarti dia harus menceramahi aku panjang lebar kan? Lagipula saat itu aku sudah cukup dewasa untuk melakukan segala hal yang ku suka, apa lagi basket"
"aku tau kau menyukai basket lebih dari apapun, tapi saat itu kau memang di luar kendali Daiki-chin. Kau mencetak 100 Score hanya dalam 2 Quarter tanpa peduli dengan lawanmu"
"Ck, Nii-san juga seperti itu. Nii-san sampai meruntuhkan ring basket karna emosi" Sindir Daiki.
"Itu karna aku muak dengan mereka yang tak bisa bermain tapi tetap memaksa untuk bermain"
"Sudahlah, lebih baik kita segera membeli segala keperluan untuk makan malam. Aku tak ingin Tetsu kelaparan karna kita terlambat membuat makan malam"
Daiki dan Atsushi sibuk memilih bahan makanan segar untuk menjadi bahan utama menu makan malam hari ini. Sesuai dengan ide diawal, mereka membuat Sup Tofu yang merupakan makanan kesukaan kakak sulung, puding dengan campuran kacang merah sesuai dengan kesukaan kakak kedua, dan Kare yang sama – sama mereka sukai. Jangan lupa dengan susu Vanilla yang menjadi minuman wajib si bungsu juga sudah disiapkan.
"Dengan ini aku yakin makan malam ini akan menyenangkan" Daiki bersemangat.
"Tentu saja, kita semua akan berkumpul"
Daiki dan Atsushi segera menuju ke kasir untuk membayar belanjaan mereka. Setelah memberikan beberapa lembar uang, mereka pergi dengan dua kantung penuh dimasing – masing tangan mereka. Si surai abu – abu terlihat semakin merutuk kesal dengan pembicaraan kakak beradik yang terkesan membanggakan keluarga mereka yang kan berkumpul.
Jika saja ia bisa mengatur sebuah rencana baru untuk membuat Keluarga Akashi yang sombong juga angkuh itu hancur atau paling tidak meledakkan bom waktu berupa kekalahan untuk si kepala merahpun rasanya sulit. Karna tak tau lagi apa yang harus diperbuat, Pria itu memutuskan untuk mengikuti langkah kaki kedua bersaudara itu, mungkin saja ia menemukan sesuatu untuk membuat Bom waktu meledak.
_ooOOOoo_
Aroma masakan menguar di dapur yang lumayan besar untuk ukuran dapur pribadi yang berada di dalam sebuah gedung rumah sakit. Sebuah meja bundar kecil terlihat sudah hampir penuh dengan makanan yang menggugah selera makan. Buah – buahan segar tersusun rapi di dalam sebuah keranjang kecil yang dikelilingi beberapa lauk – pauk untuk makan malam. Tak hanya itu, piring, Sendok, garpu, pisau, gelas dan teko tersusun rapi di meja bundar yang cukup untuk 6 orang.
Tak jauh dari meja itu, terdapat sebuah Sofa panjang yang muat untuk 4 orang duduk dengan sebuah sofa di samping pintu untuk 2 orang. Tepat di sudut ruangan, terdapat sebuah ranjang ukuran Queen Size yang di desaign sedemikian rupa agar seseorang yang dirawat disana merasa jauh lebih nyaman. Di dekat ranjang itu juga terdapat sebuah kursi untuk 1 orang beserta sebuah lemari kecil untuk menyimpan beberapa obat – obatan juga keperluan
Sekilas ruanga itu tampak seperti sebuah kamar hotel yang mewah, namun kenyataannya ruangan itu adalah salah satu ruangan rumah sakit yang di desaign khusus merawat salah satu anggota keluarga Akashi yang sakit. Ruangan itu juga di lengkapi dengan sebuah lemari besar, sebuah lemari pendingin ukuran mini dan sebuah dapur. Jangan tanya ukuran dapurnya, cukup besar untuk menampung berbagai macam peralatan masak terlebih terdapat pula sebuah lemari pendingin dengan ukuran yang lebih besar sehingga muat untuk menampung berbagai bahan masakkan.
Atsushi dan Daiki sibuk dengan peralatan masak, sedangkan Shintarou masih fokus memeriksa keadaan sang Adik yang kini sudah sadar namun wajahnya masih pucat terlebih kelelahan luar biasa tergambar dari wajahnya yang minim ekspresi. Di sisinya terdapat Ryouta yang tak henti – hentinya menanyakan kebutuhan sang adik dan dijawab dengan gelengan kepala. Mata si bungsu – Tetsuya – menatap lekat ke arah jam kecil bermotif Basket yang terletak di lemari kecil disampingnya.
Terlihat waktu menunjukkan pukul 19:00, waktunya untuk makan malam tapi orang yang ditunggu belum juga datang. Menghela nafas kecil, mata biru langitnya menatap foto keluarga yang terbingkai rapi – bersebelahan dengan jam kecilnya. Tetsuya menatap si surai merah yang tersenyum sembali melingkarkan kedua tangannya di leher Tetsuya sembari bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman dan menjadikan kepala Tetsuya sebagai Sandaran. Sedikit terhanyut saat memorinya mengulang kembali masa – masa di mana yang kakak yang begitu protectif dengan cara yang berbeda. Tetsuya tersadar saat Atsushi dan Daiki yang sudah membawa nampan berisi menu makan malam mereka.
"Sekarang waktunya makan Tetsu" Celetuk Daiki.
"Tetsu-chin ikut makan biar cepat sehat lagi" Atsushi masih dengan nada malasnya menatap sang adik walau senyuman tersungging di bibirnya. Tetsuya ingin menjawab ucapan kakaknya, tapi ntah kenapa rasanya lelah.
"Mau ku suapi Tetsuya-cchi?" Tetsuya menggeleng, alat bantu pernafasannya yang tadinya menutup mulut dan hidung kini sudah berganti dengan alat bantu yang langsung menusuk kedua hidungnya.
"Kalau begitu aku yang akan menyuapimu, Nodayo. Aku tak mau kau tambah parah" Tetsuya bermaksud menggeleng, tapi Shintarou buru – buru melanjutkan ucapannya. "Tak ada kata tidak Tetsuya, kau tak boleh terlambat makan karna menurut pemeriksaanku, Asam lambungmu sudah naik karna sering terlambat makan" Tak bisa menolak lagi, Tetsuya hanya mengangguk. "Atsushi, berikan padaku sup tofu itu"
"Haii, Shin Nii-chin" Atsushi mengambil semangkuk Sup tofu dan sebuah sendok pada Shintarou, sementara Ryouta hanya bisa merengut karna gagal menyuapi adik kesayangannya itu.
Sedikit membuat Tetsuya dalam posisi duduk agar mempermudah ia mengunyah makanan agar tak tersedak, Shintarou menambah volume bantal menjadi lebih tinggi namun tetap nyaman. Bola mata Tetsuya bergulir menatap seluruh ruangan, surai warna – warni kakaknya terlihat duduk dengan rapi di depan meja bundar dan bersiap untuk menikmati makan malam. Perasaan hangat itu kembali, tapi sayangnya masih ada yang kurang dengan seluruh kakaknya yang berkumpul sekarang, masih ada yang kurang, satu orang lagi yang ia tunggu tapi tak muncul.
"Nii-san…" Nada suara lelah terdengar keluar dari bibir mungil Tetsuya.
"Nani?" Tanya Shintarou.
"Sei-Nii belum datang?" tanyanya, Shintarou menggeleng pelan.
"Belum, mungkin salju menghambatnya" Shintarou beralasan.
"…." Bibir mungil itu terkatub dengan pandangan yang tertunduk seolah motif pada selimut lebih terlihat menarik dimatanya yang sayu. Pemandangan yang sediki banyak membuat hati penghuni ruangan itu merasa sakit.
"Kau tenang saja Tetsu, Sei – Nii akan datang sebentar lagi." Daiki menyemangati.
"Benar-ssu, Sei Nii-cchi pasti masih dalam perjalanan" Ryouta memberikan senyuman ceria.
"Lebih baik Tetsu-chin makan saja dulu, nanti setelah Sei Nii-chin datang, kau lebih terlihat segar" Atsushi ikut menambahkan.
"Kau dengar itu Nanodayo? Sebentar lagi Seijuurou akan datang, bersabarlah" Tetsuya mengangguk dan mulai makan dengan suapan Shintarou.
"Arigatougozaimasu, Nii-san." Ucap Tetsuya di sela – sela kunyahannya. "Eumh,, dari tadi kalian disini, lalu bagaimana dengan pekerjaan kalian?" Tanya Tetsuya, namun setelah beberapa detik berlalu, tak ada yang menjawab.
Sejenak ruangan itu menjadi hening dan tersisa hanya suara sendok dan piring yang beradu. Mereka berpura – pura tak mendengar ucapan si bungsu untuk saat ini, bukan karna apa, tapi mereka hanya ingin lambung Tetsuya terisi dulu sebelum mereka bercerita. Setelah setengah mangkuk habis, Tetsuya memutuskan untuk tak melanjutkan karna ia merasa perutnya sedang tak enak.
"Nii-san, bisakah kalian menjawab pertanyaanku?" Ucap Tetsuya masih dengan nada lelah.
"Kau tenang saja Tetsu, Imayoshi – Senpai sudah mengurus kasusku hari ini" Daiki memberikan senyuman khas tapi sayangnya itu adalah sebuah kebohongan, tugasnya ia tinggal begitu saja sehingga membuat beberapa petinggi kepolisian sibuk karn ulahnya.
"Aku juga-ssu, Kasamatsu – San sudah membatalkan semua jadwal pemotretanku hari ini. Dia memang Manager yang baik-ssu" Ryouta mengacungkan ibu jarinya dengan mengedipkan sebelah matanya. Sama seperti Daiki, Ryouta juga berbohong. Di saat ia selesai make up dan mengenakan costume untuk pemotretan, Ryouta langsung melesat tanpa pamit juga melepas costumenya untuk pulang ke Tokyo dan menyebabkan pemotretan hari itu berantakkan.
"Muro-chin juga sudah meng-handle restoranku, jadi aku tak masalah" Atsushi tidak berbohong, tapi sayangnya Himuro yang dimaksud belum bisa meng-handle restoran dengan baik sehingga untuk hari ini, Restoran Atsushi terpaksa libur padahal tamu penting hari itu adalah petinggi di Akita.
"Aku juga tak masalah, Nodayo. Kau dirawat tepat di tempat ku bekerja, jadi aku masih bisa melakukan pekerjaanku seperti biasa Nodayo" Shintarou sebenarnya sedikit berbohong, walau ia melakukan tugasnya seperti biasa, tapi sayangnya 70% waktunya tersita hanya untuk mengurus si bungsu.
"Soukka, aku senang kalian datang" Tetsuya terseyum kecil walau dengan mata sayu juga wajah yang lelah.
"Nah, kau sudah taukan jika kita sudah terbiasa melakukan pekerjaan yang kita tekuni sekarang? Jadi jika kami meninggalkannya, sudah pasti kami meninggalkan pekerjaan tanpa membuat masalah, Nanodayo" Jelas Shintarou sembari menepuk surai Baby Blue untuk memberi kenyamanan dan rasa percaya akan apa yang keempat kakaknya katakan.
"Begitu? Tapi berdasarkan laporan yang ku dapat, kalian melakukan banyak kesalahan hari ini" Ucap Seseorang dengan nada dingin tepat di depan pintu.
Si surai merah yang berdiri dengan jas tersampir juga kertas map berwarna kuning bertengger di tangan kanannya. Matanya yang berbeda warna menatap intens setiap penghuni ruangan itu seolah baru saja mendapatkan santapan empuk. Kegiatan kelima orang dengan surai warna – warni terhenti dengan tatapan terfokus pada pria di depan pintu.
"Sei – Nii" Ucap mereka bersamaan.
"Lama tak bertemu tapi kalian sudah membuatku kecewa" Ucapnya dingin sembari berjalan masuk.
"…" Tak ada yang menjawab karna masih terkejut dengan kedatangan orang yang seharusnya mereka tunggu – tunggu.
"Atsushi, aku menyuruhmu untuk fokus pada restoran di Akita dan jangan pernah meninggalkan restoranmu apapun yang terjadi, tapi apa yang ku lihat sekarang? Kau duduk diam dengan menyantap makan malam sedangkan restoranmu di Akita sedang di tutup dan membiarkan tamu istimewa kecewa begitu saja. Kau membuat satu kesalahan Atsushi"
"….." Atsushi tak menjawab saat kedua mata berbeda warna itu menatapnya intens, kini pandangan itu beralih ke arah Daiki.
"Daiki" Seketika Daiki menegang, "Kau hampir melakukan kesalahan fatal karna meninggalkan tugasmu dan membuat kepolisian Jepang sibuk mengurus kasus yang 80% selesai. Aku hanya menyuruhmu fokus dan hadapi setiap tantangan, jika kau bosan, aku bisa memberikanmu kasus yang lebih rumit lagi" Daiki terdiam. "Ryouta" Satu panggilan lagi.
"H-Haii-ssu" Jawab Ryouta pelan bahkan terkesan takut – takut.
"Kau melakukan kesalahan paling fatal" Ryouta bergidik ngeri mendengar suara dingin sang kakak yang terkesan mengerikan. "Kau pergi begitu saja dan membuat semuanya berantakkan. Pemotretan yang kau jalani itu merupakan ujung tombak dari perusahaan Fashion dunia. Dengan kelakuan bodohmu, kau mencoreng nama Akashi yang sudah terkenal dengan sikap Profesional saat bekerja. Kau tau apa yang kau dapat karna ulahmu kan?"
"….." Ryouta menunduk tapi tangannya mengepal erat, rasa kesal setengah mati benar – benar menggerogoti relung hatinya. Lelah dengan segala aturan dan kedisiplinan keluarga Akashi.
"Shintarou" Tatapan beralih pada si surai hijau yang masih memegang mangkuk berisi sup tofu yang setengahnya sudah habis. "Kau memang hanya melakuan kesalahan kecil, tapi tetap saja mempengaruhi efektivitas kerjamu. Kau seorang dokter, tugasmu adalah membantu menyembuhkan mereka yang membutuhkan, bukan hanya terfokus di ruangan ini"
"….." Bibir Shintarou terkatub rapat mendengar ucapan Seijuurou saat itu, apa – apaan kakak pertamanya itu? Bukannya selama ini jika si bungsu sakit, dia yang akan memaksa Shintarou untuk memeriksa bahkan harus 24 jam di sisi Tetsuya tanpa boleh kemanapun. Tugasnya di serahkan ke Takao Kazunari yang merupakan dokter hebat setelah Shintarou, tapi sekarang?
"Tetsuya, lebih baik kau lebih menjaga kesehatanmu lagi. Kau bisa menghalangi kesuksesan kakak – kakakmu yang lain dengan kondisimu yang seperti itu, kau sebentar lagi berusia 16 tahun dan sudah saatnya berdiri sendiri tanpa perlu kami mengawasimu." Seijuurou masih menatap tajam ke arah Tetsuya yang menunduk dengan wajah sayunya. "Festival gabungan yang sudah kau rencanakan bisa saja berantakkan karna kau ada disini sekarang, jangan pernah hancurkan reputasi Akashi yang sudah susah payah aku bangun" Ucap Seijuurou angkuh.
"Haii, Nii-san" Gumam Tetsuya lirih, nyaris seperti bisikkan yang hanya di dengar oleh Shintarou. Seijuurou berbalik dan bersiap untuk pergi,
"Aku hanya ingin mengatakan itu, kali ini aku memberikan toleransi untuk kalian, tapi tidak untuk nanti." Tangan Seijuurou mulai bertengger di knop pintu dan memutarnya. "Matta na" Belum lagi pintu di buka, Suara Ryouta menghentikan langkah kaki Seijuurou.
"Sudah Cukup! Aku lelah dengan aturan bodoh itu-ssu!" Celetuk Ryouta dan mendapat tatapan tak percaya dari yang lain. "Haaaa,, aku merasa lelah dengan pekerjaan yang dulu ku cintai sekarang terasa seperti penjara yang penuh tuntutan." Ryouta berdiri dan menatap sang kakak tajam. "Aku sudah 20 tahun, dan aku akan menentukan apapun yang aku mau-ssu." Mulut tajam Ryouta sontak membuat Seijuurou berbalik dan menatapnya tajam, lebih tajam dari gunting berwarna merah yang sering ia bawa kemanapun.
"Begitu, kenapa kau tak menghapus nama Akashi dari namamu Ryouta?"
"Baik! Lebih baik aku menghapus nama Akashi dari pada aku kehilangan salah satu keluarga yang paling ku sayangi. Tetsuya-cchi lebih berharga dari pada marga Akashi yang ku sandang-ssu" Seijuurou baru saja akan berbicara, Daiki langsung menggebrak meja.
Braak!
"HAAAhhhh!" Daiki meregangkan otot – otot tubuhnya yang tadi sempat tegang. "Aku tak mau hanya jadi penonton, aku ikut denganmu Ryouta. Aku juga sudah muak dengan kasus – kasus yang tak ada habisnya itu, kau benar. Lebih baik membuang marga Akashi dari pada kita kehilangan sesuatu yang berharga" Ucap Daiki lantang.
"Aku juga merasa seperti itu, aku lelah menjalankan restoran di Akita. Terlalu jauh dari rumah dan menghalangi aku untuk menjaga pola makan, Tetsu-chin. Aku juga akan melepas semuanya asal bisa kembali memasak untuk Tetsu-chin" Atsushi ikut menambahkan.
"Hmph, Kalian semua benar Nodayo. Aku juga lelah dan butuh istirahat dari pekerjaanku yang sekarang." Shintarou meletakkan mangkuk berisi sup tofu itu di atas lemari kecil dan mulai mendekat. "Aku akan menghapus marga Akashi yang ku sandang dan menyerahkan rumah sakit yang ku bangun berdasarkan marga keluarga kita. Aku merasa menjadi kakak yang buruk karna membiarkan salah satu pasien yang ku jaga dari kecil sekarang terbaring disini karna kelalaianku" Shintarou menaikkan bingkai kacamata dan mendekat ke arah Seijuurou yang masih diam. "Aku menyerahkan segalanya padamu, Seijuurou. Marga Akashi, rumah sakit ini juga segala yang ku dapat atas nama Akashi. Setelah Tetsuya sehat kembali, aku akan menyerahkan semuanya padamu"
"Aku juga-ssu, aku akan mengembalikan nama Model terkenal Akashi Ryouta dengan segudang prestasinya"
"Aku mengembalikan pangkat juga prestasiku sebagai Polisi muda dengan nama Akashi Daiki"
"Restoran di Akita mapun Tokyo juga keserahkan, pemilik restoran itu bukan lagi Akashi Atsushi."
"Nii-san…." Lirih Tetsuya melihat pertengkaran kelima kakaknya yang rela mengorbankan nama Akashi demi menjaga dirinya. Ini adalah pertengkaran pertama dan terburuk yang pernah Tetsuya lihat, sungguh ini bagai mimpi buruk yang lebih buruk dari sebelum – sebelumnya seolah ia dapat melihat kehancuran dari kesempurnaan Akashi yang di junjung tinggi.
"Hm.. ternyata kalian menentangku. Baik, silahkan kalian melepas semuanya, tapi akan ku pastikan kalian akan kembali menggunakan marga Akashi." Jawab Seijuurou tenang.
"Kita lihat nanti Seijuurou, kita tak akan tau apa yang terjadi kedepannya Nanodayo" Ucap Shintarou.
"Aku tau, karna aku selalu benar. Aku itu absolut Shintarou, jangan pernah lupakan itu"
"Nii-san…." Suara lirih yang terdengar serak mencuri perhatian lima orang yang sedang bertengkar itu, sontak seluruh mata tertuju padanya. "Jangan bertengkar, ini sudah cukup" Kepala Tetsuya tertunduk dalam. "A-aku tak mau melihat kalian bertengkar" Lirihnya lagi.
"Huh, jangan berbicara seolah kau tak terlihat Tetsuya. Seharusnya kau sadar ini semua karna ulah siapa" Jawab Seijuurou ringan. Tetsuya mendongak dan menatap sang kakak dengan tatapan sayunya.
"Wakatteimasu, aku juga termasuk" Tetsuya kembali tertunduk.
"Baguslah kau sadar Tetsuya, daripada kau tertunduk seperti orang bodoh seperti itu, lebih baik kau segera sehat sebelum orang – orang mengetahui kondisimu dan dengan mudahnya menjadikanmu penghancur kesempurnaan Akashi" tajam, menusuk, kata yang belum pernah diucapkan oleh sang kakak yang belasan tahun menjaganya.
"Nii-san, boleh aku bertanya sesuatu?"
"Nani?" Tetsuya menghela nafas dan mencoba mengungkapkan pertanyaan yang terus – berputar dikepalanya.
"Apa yang Nii-san pilih, kebersamaan atau kesempurnaan?"
Tatapan kelereng biru langit yang sayu itu terlihat memperhatikan sepasang mata berbeda warna lebih dalam. Mencoba menyelami dan memprediksi apa yang akan dipilih oleh kakaknya. Jelas teringat di kepala Tetsuya jawaban sang kakak saat ia pernah bertanya hal yang sama. Kali ini ia ingin memastikan dengan telinganya sendiri jawaban sang kakak.
"Kesempurnaan adalah segalanya Tetsuya, Kesempurnaan merupakan identitas Akashi, jika kau tak bisa sempurna, kau bukanlah bagian dari Akashi. Untuk mencapai kesempurnaan maka kemenanganlah yang harus kau dapatkan, jangan pernah lupa jika pemenang akan selalu diingat sedangkan yang kalah akan dilupakan"
Deg'
Seperti tertanjam tombak tajam tepat di jantungnya, rasanya sesak dan sakit bahkan bisa membuat nafasnya menjadi sesak. Alat bantu pernafasan yang menusuk di dua lubang hidungnya seolah tak memberikan pasokkan Oxygen yang cukup untuk memenuhi rongga pari – parunya. Ini berbeda, jawaban itu berbeda. Tetsuya tak akan lupa pilihan sang kakak saat itu.
'Nii-san akan memilih kebersamaan, Tetsuya' senyuman manis yang tak akan lekang di memori Tetsuya saat mengenang ucapan snag kakak. 'Dengan kebersamaan, kita akan menjadi sempurna. Kekurangan sebesar apapun akan tertutupi jika kita bersama dan tanpa kita sadari, kesempurnaan mengikuti kemanapun kita pergi'
Itu, jawaban itu yang ingin Tetsuya dengar. Tapi, ini berbeda, jawaban yang diberikan oleh Seijuurou berbeda. Bahkan nada bicara yang lembut juga hangat kini berubah, mata biru muda Tetsuya seperti melihat kearah cermin yang menghasilkan bayangan yang berbeda. Tetsuya seolah melihat Seijuurou berdiri di depan cermin dengan senyuman serta pakaian yang berwarna putih, tapi di sisi lain, bayangan yang dihasilkan sangat berbeda. Bayangan itu menampilkan sosok Seijuurou dengan pakaian serba hitam dengan mata tajam dan bibir melengkung kebawah.
Berbeda
.-.
Juga
.-.
bertolak belakang
.-.
"Nii-san.." Tetsuya berbicara dengan susah payah untuk menahan apa yang tersimpan di relung hatinya. " Dare….. Desuka?"
Belum sempat Seijuurou menjawab, sesuatu di luar dugaan terjadi. Tetsuya tiba – tiba merasakan pusing yang menghantam kepalanya, semua terasa berputar dan berdenyut hebat. Walau posisinya setengah duduk tapi bukan berarti ia dalam posisi seimbang, di saat yang bersamaan pula mual menyerangnya. Hanya dalam hitungan detik Tetsuya mengeluarkan kembali isi perutnya dan berakhir dengan kesadarannya yang semakin melemah hingga teriakkan sang kakak yang terdengar.
"TETSUYA/TETSUYA-cchi/TETSU/TETSU-chin!"
Shintarou buru – buru mengeluarkan peralatan kedokterannya untuk memeriksa keadaan Tetsuya sementara Ryouta tak henti – hentinya memegang tangan Tetsuya yang lemah, Daiki sendiri ikut mendekat dan mencoba mengelus surai biru yang ntah sejak kapan bermandikan keringat dingin.
Atsushi segera bertindak untuk membuat sang kakak tertua –yang sudah mereka tentang – untuk segera keluar. Dari tindakan Atsushi jelas saja ia bermaksud mengusir, baginya tak ada yang boleh melihat keadaan adik kesayangannya kecuali keluarganya. Seijuurou memang keluarga mereka, tapi itu beberapa menit yang lalu saat mereka semua masih menyandang nama Akashi – sekarang mereka telah melepasnya dan Seijuurou tak berhak melihat keadaan si bungsu yang tiba – tiba saja drop.
"Pergilah! Kami tak butuh seorang yang mengejar kesempurnaan dan mengorbankan saudaranya" Ketus Atsushi saat berhasil mendorong Seijuurou keluar dan menutup pintu sekuat mungkin hingga menghasilkan suara bantingan yang kuat.
Seijuurou mematung di depan pintu, tak tau apa yang harus dilakukan bahkan tak bisa mengerti apa yang baru saja terjadi. Dirinya yang sempurna seperti melihat kegelapan di masa depan. Sungguh, kenapa ini bisa terjadi? Seijuurou bertanya – tanya pada dirinya sendiri, kenapa sepertinya ia merasa sakit padahal dirinya sendiri sudah menyetujui jika kelima adiknya sudah tak menyandang marga Akashi lagi.
'Apa yang terjadi?'
To Be Continue...
Iftiyan Herliani253 : HAhahahag,, masih awal,, tenang tenang... Xixixixi,, Lian bakalan update kilatsesuai dengan jadwal,, kalau telayt, mungkin seminggu bisa dua kali.. Xixixixixi
ChintyaRosita : Betol, tapi kayaknya msih kurang di siksa.. (ketawa nista),, siipp.. (^_^)b
MaknaEXO : Angst maximal? ehmm,, akan saya fikirkan lagi.. ^^
Zizi Kirahira Hibiki 69 : Iya nyah?
fraukreuz67 : setiap ada anggota keluarga yang ultah, semua akan berkumpul, jadi pasti semua berkumpul, tapi... yah ini lha yang terjadi sama Sei-chan..
Lisette3517 : Haizakinya mau bikin lebih ancur lagi mungkin... ntar di chapter selanjutnya akan di jelaskan apa yang di lakukan sama Haizaki dan satu orang lagi muncul.. ^^
Caxocy : udah update koq.. Kilat kan, kayak kecepatan cahaya (?)... (sodorin maiubo) jangan nangis yah.. ini masih penyiksaan awal.. ^^
mamitsu27 : (sungkem) Gomennasai.. Aku ganggu UTSnya yah? haduuuh,, padahal aku juga lagi sibuk.. mana baru selesai kegiatan pramuka jadinya bljr pun tak konsen.. -_-" FF ini masih panjang, konfliknya belum klimaks, jadi bakalan ada lagi,, tapi aku usahain supaya gak terlalu panjang n klian nunggunya kelamaan... Oia,, moga UTS nya lancar yah.. ^^
Dewi15 : Sipp.. emang, Haizakinya nyebelin,, untk chapter selanjutnya waktunya nyiksa Sei-chan! (ketawa nista)
EmperorVer : Saia jahat? ('.') mungkin,, (smirk evil) ini masih belum seberapa koq,, masih bisa di siksa lagi di chapter2 selanjutnya.. ^^
deagitap : Siiipp,, udah updatekan pas harinya.. agak telat dikit karna tadi gak sempat buka laptop.. hehehehehe... Klu tambah Hanamiya.. errr... ntar LIan di kira makin kejam.. (pundung)
Nyanko Kawaii : kalau gak TBC ntar kepanjangan Nyan-cchi.. Lian gak mau ntar bacanya bosan, jadi di skip.. (Alasan tu, alasan #nunjuk diri sendiri),, lanjutannya udah update koq.. ^^
Mitsuki Izumi : Iyah,, (puk puk Tetsu-kun)
Guest 1 : Iyah,, udah update koq,, sampai jumpa di hari jum'at
mikocha : Meninggal? nggak koq,, klu meninggal di FF tamat donk.. Heheheh ^^
Hikari Sakura : Noh,, di atas ada di jelasin klu Tetsuya itu punya sesak nafas,, ntar di jelasin juga koq kenapa... masih ada chapter2 selanjutnya.. mereka udah ngumpul tuh.. ^^
CeiCuyaCelamanya : Gak koq,, Tetsu-kun gak akan (...) maaf di sensor.. ini masih tahap awal, jadi siapin tabung oxygen yah biar gak cecak nafas.. (^_^)v #digamparMasa
Guest 2 : Arigatou.. ^^
Sri Silvi Wahyu : iya,, udah update koq.. ^^
manami : gak telat koq,, udap update kan?
kikio : awalnya aku juga kepikiraan sama,, kalau mereka jadi sodara kayaknya aneh. mana tu rambut pada kayak gulali, gimana caranya bisa jadi sodara? lalu aku coba2 baca2 FF dari author - author yang udah ada, n aku nemu banyak yang buat mereka jadi sodara.. berbagai jenis konflik juga bahasa yang ku suka, ta[i rata2 updatenya lamaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa banget, jadi aku inisiatif buat FF ini khusus untuk diri sendiri... aku upload disini pun karna biar lebih mudah bacanya.. jadi sebelum update aku edit lagi.. eh, gak taunya banyak yang suka.. utk scene midotetsu, itu hanya iseng doank, mw coba runtuhin sifat tsunderenya midorin sebentar ajah.. ^^ arigatou-na...
nicisicrita : Gak mati koq,, kejam banget saia..
eri kirei : Siiiiiiiiiiiiiipppppppppppppppppp... (^_^)b
Yosh,, udah semua.. sampai jumpa di Chapter 11 : Nighmare...
