Warning : Membosankan.
Disclaimer : Yu-Gi-Oh isn't mine. I'm sure you've known it.
JANUARY
Di saat dia terbangun, Atem melihat cahaya putih terang. Dia mengerjap, membiasakan matanya dari sinar matahari siang yang masuk melalui jendela. Matanya bergerak dan menyadari bahwa dia berada di ruang asing, tidak lagi berada di gedung tempat dirinya disiksa.
Pukulan... cambukan... tebasan pisau... dia memasuki dirinya... darah...
Tubuh Atem menegang saat teringat kembali apa yang terjadi padanya, dia bisa merasakan kedua tangannya yang gemetar terkepal erat.
Dia melirik ke arah tangannya yang dipenuhi selang infus, dan merasakan sesuatu terpasang di wajahnya... tepat di bawah hidungnya. Tubuhnya dipenuhi balutan perban. Suara berisik dari cardiograph membuatnya sadar bahwa dia masih hidup.
Dia mengangkat tangannya dan berniat untuk mencabut infus-infus yang menghiasinya ketika jari-jari hangat menangkap pergelangan tangannya. Tubuhnya kembali tegang.
"Jangan. Tidak boleh."
Gadis itu menoleh dan mendapati wajah Yugi yang serius.
'Aibou...' Dia ingin sekali mengatakannya, tetapi suaranya tidak keluar walau mulutnya sudah terbuka.
"Sssst." Yugi menenangkan sembari ibu jarinya mengelus lengan gadis itu secara melingkar. Dia mengelus pipi Atem dengan lembut dan tersenyum. "Tidak apa-apa. Segalanya baik-baik saja."
Lelaki itu kemudian bangkit berdiri dari kursi yang didudukinya dan berbalik, membuat rasa panik menguasai gadis yang terbaring di ranjang. "Tenanglah. Aku hanya mau memberitahu dokter kalau kamu sudah sadar." Dia tersenyum lembut dan menepuk pelan bahu Atem. "Aku akan segera kembali."
-
"Helo, Atem!"
Mata Atem melebar ketika melihat dokter yang dibawa Yugi. Mulutnya terbuka sedikit. Yugi yang melihat ekspresi terkejut di wajah gadis itu, terkekeh.
"Kaget?" tanyanya disambut anggukan dari Atem. Sang dokter mengerucutkan bibirnya dan langsung jongkok merajuk di sudut kamar dengan telunjuk bergerak melingkar di lantai.
"Kenapa, sih, setiap orang selalu kaget melihatku jadi dokter di sini...?" gumam dokter itu kecewa, air mata menggantung (anime-style). "Waktu kalian nganterin Atem ke sini juga, Honda, Ryuji, dan Malik sampai heboh gitu."
Yugi dan Atem sweatdrop melihatnya. "Apa boleh buat. Siapapun pasti tidak akan menyangka kalau kau jadi dokter, Mai. Dengan gaya kehidupanmu itu." kata Yugi.
Mai sesenggukan. "Tapi... tapi... apa salahnya! Manusia itu, kan, nggak bisa cuma dinilai dari luar aja!!"
Yugi menggelengkan kepala dan menghela nafas. "Bukannya kau mau memeriksa Atem?"
Mata Mai lebar. "Oh, iya..." dia tertawa garing. "Hehehe... sori..." Dia memeriksa tubuh Atem. Dan saat Mai mulai membuka baju Atem untuk memeriksa luka-luka, Yugi langsung berbalik dengan wajah merah.
Beberapa menit kemudian, dia menarik stetoskopnya dan tersenyum. "Lumayan. Pernafasan mulai lancar. Jahitan sudah nggak bengkak. Luka-luka udah mulai sembuh. Lebam-lebam sudah mulai hilang. Tenggorokanmu sedikit terluka, jadi untuk sementara jangan bersuara. Dan untuk tubuhmu, makan sekali juga cukup untuk membuat tubuhmu kuat memegang pulpen dan kertas." Dia menulis sesuatu di clipboard-nya. "Ok. Lancar."
Yugi mengangkat sebelah alis. "Apa caramu bicara juga seperti ini waktu memberitahu pasien lain soal kondisi mereka?"
"Ya nggaklah... kalian ini, kan, temanku. Jadi, ngomong kayak kita lagi ngumpul aja! Lebih asyik! No formalities!" kata Mai santai, membuat Yugi sweatdrop.
"Dasar."
Mai membuang muka. "Huh! Ok, aku keluar dulu buat ngambil jatah makanannya dia." Dia berjalan ke arah pintu dan berbalik. "Jaga dia!"
"Ya, ya..."
Mai keluar kamar setelah menutup pintu, tapi pintu terbuka lagi dan kepala Mai melongok ke dalam dengan tatapan memperingati. "Jangan macem-macem pada pasien selama aku pergi, mengerti!" Dan dia pergi. Meninggalkan Atem yang bingung dan Yugi yang wajahnya semerah tomat.
Hari demi hari berlalu, Atem semakin lama semakin membaik. Dia mulai bisa mengeluarkan suaranya walau pelan dan terdengar tidak jelas.
"Aibou..." panggil Atem pelan. Yugi menoleh ke arahnya tersenyum.
"Hm?"
"Apa yang... terjadi pada... Ka...iba...?"
Mata Yugi menggelap ketika mendengar nama orang yang telah menyiksa Atem. "Dia koma."
Mata Atem melebar. "Koma? Kenapa?"
"Entahlah." Yugi mengulurkan tangannya yang memegang tisu untuk mengelap mulut Atem yang belepotan makanan. "Sejak kejadian itu, dia terus tidak sadarkan diri."
Atem menunduk, tatapan matanya kosong. "Sebenarnya... apa yang terjadi? Aku me...lihat Kaiba akan... menu...sukmu, tapi setelah itu pan...dangan...ku gelap."
Yugi menatap gadis dihadapannya dan menghela nafas. "Kaiba memang akan menusukku, tapi Jounochi telah menolongku."
"Jouno...chi?"
"Ya..."
Flashback.
Kaiba mencengkeram leher Yugi dan mengangkatnya. Mata Kaiba telah berubah menjadi merah seutuhnya, seringai licik terlihat di wajahnya.
"Bodoh... bodoh..." ejek Kaiba. "Jika kau mendengarkannya tadi, aku pasti sudah mati." Dia mengambil pedangnya dan mengarahkannya ke Yugi.
"YUGI!!" teriak teman-temannya, mereka berlari untuk menyelamatkan Yugi, tetapi para serigala kegelapan menghalangi mereka.
Kaiba menyeringai. "Dengan ini selesai sudah." Dia mengayunkan pedangnya. "SELAMAT TINGGAL, YUGI MUTOU!! KITA BERTEMU LAGI DI NERAKA!!!"
Mata semua orang terbelalak ketika darah menyembur dari luka tebasan. Tubuh Yugi terlepas dan jatuh, matanya melebar melihat tubuh Kaiba yang perlahan ambruk. Dia memindahkan pandangannya dari tubuh Kaiba yang terkapar di lantai dan mendapati Jounochi yang terengah memegang pedang Yugi yang berlumuran darah.
Air mata perlahan mengalir di pipi lelaki pirang itu. Dia menjatuhkan pedang tersebut dan berlutut di samping tubuh Kaiba yang berusaha mengambil nafas.
Warna mata Kaiba terus berubah, dari merah ke biru dan sebaliknya, bagaikan kelap-kelip lampu kecil di pohon natal. Dengan susah payah, dia mengangkat tangannya dan menghapus air mata di wajah Jounochi. Dia tersenyum, mengangkat tubuhnya yang sudah di ambang batas untuk membisikkan sesuatu di telinga kekasihnya sebelum kembali terbaring di lantai. Mata jounochi lebar.
Kaiba menoleh ke arah Yugi. "Cepat selesaikan, Yugi. Sebelum dia kembali lagi."
Yugi ingin menolaknya, tetapi saat dia melihat Jounochi yang gemetar menahan diri, dia langsung diam. Dia berdiri untuk mengambil pedangnya – mengesampingkan rasa sakit yang menjalar di tubuhnya – dan mengarahkan pedangnya ke dada kiri Kaiba.
Mata jounochi terpejam erat ketika pedang meluncur ke arah tubuh kekasihnya. Dan di saat pedang tersebut menusuk Kaiba, cahaya putih yang membutakan menyelimuti mereka.
End of Flashback.
"Dan begitu cahaya itu menghilang, luka di tubuhku dan Kaiba sembuh. Walau Kaiba hidup, dia koma sampai sekarang."
Atem menatap makanannya diam. "Kasihan Jounochi..."
Suara ketuka memecah keheningan di antara mereka berdua.
"Ya?" sahut Yugi. Pintu terbuka dan Mai masuk diikuti seseorang di belakangnya.
"Ada tamu." kata Mai. Dia menyingkir, dan orang di belakangnya membuat Yugi dan Atem terkejut.
"Jou?"
Jounochi menunduk, matanya tertutupi poni. Dia berjalan mendekati mereka berdua dan lalu bersujud, membuat Yugi dan Atem semakin terbelalak.
"A-apa yang kau-!"
"Maaf!!" teriak Jounochi, masih bersujud. "Memang hal ini tak bisa menggantikan apa yang telah terjadi, tapi aku minta maaf apa yang telah pacarku lakukan padamu, Atem!! Jika bisa, aku akan melakukan apapun untuk memperbaikinya, tapi tetap saja aku tak bisa!! Aku tak bisa menggantikan tempatmu!! Aku tak bisa menyembuhkan trauma-mu!!"
Atem terkesiap kaget. Jounochi yang mendengarnya hanya bisa tersenyum lirih.
"Aku tahu, sekarang kau tidak bisa disentuh lelaki selain Yugi. Bahkan, Yugi pun butuh waktu untuk bisa menyentuhmu tanpa membuat tubuhmu tegang." Jounochi semakin menundukkan kepalanya. "Dan aku minta maaf atas segalanya, mewakili Kaiba – yang entah apa dia akan tersadar dari koma atau tidak. Jadi..." Jounochi tak bisa melanjutkan ucapannya. Tenggorokannya serasa disumbat sesuatu. Air mata mengalir menetes ke lantai.
Atem dan Yugi saling berpandangan. Atem kemudian menunduk, poni menutupi kedua matanya. Dia lalu mencoba menggerakkan kedua kakinya ke pinggir ranjang dan berusaha berdiri dengan bertopang pada ranjang.
Yugi, yang melihat Atem berusaha berjalan ke arah Jounochi dan jatuh, memegang lengan gadis itu. Atem menoleh ke arah Yugi – yang tersenyum – dengan ekspresi terkejut sebelum membalas senyuman aibou-nya, dan berjalan ke arah sahabat baiknya dengan bantuan partnernya.
Dia merendahkan tubuhnya dan duduk di depan Jounochi. Kedua tangannya terjulur untuk mengangkat kepala sahabat baiknya – yang terkejut. "Sudahlah, Jou..." kata Atem perlahan. "I... tu... bukan... salah... mu. I-itu ju-ju... ga bu... kan... salah... nya. Di-dia... di... kenda... li... kan. A... ku... bisa... me... lihatnya." Dia terbatuk-batuk. "Kau tidak... se... harus... nya... memi... kir... kan hal i... tu. Kau... ti... dak... seharusnya bera... da... di... sini... juga. Di... a... mem... butuh... kan... mu... di... si... sinya." Atem tersenyum. "Dan... aku... te... lah... me... ma... afkan... nya... se... jak la... ma..."
Air mata kembali mengalir di wajah Jounochi. Dia lalu memeluk Atem erat, terisak di bahu gadis itu. Berulang-ulang mengucapkan "terima kasih" seperti mengucapkan doa.
Atem mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan sahabatnya. Perlahan mengelus rambut lelaki itu, menghiburnya. Setiap kali Jounochi mengucapkan "terima kasih", dia menganggukkan kepala pelan. Dan kemudian dia mendengar sesuatu yang menghentikan gerakannya.
"Angel Links..." gumam Jounochi di telinga Atem yang gerakannya terhenti.
Atem melepas pelukan dan menatap Jounochi bingung. "Apa?"
"Angel Links," ulang Jounochi, tatapannya serius. "Sebelum Kaiba pingsan, dia membisikkan hal itu padaku. Dia bilang 'dia' merasuki tubuhnya karena mengincar itu. 'Dia' pikir itu ada di dalam tubuhmu, tapi ternyata salah."
'Angel Links?' pikir Atem, bingung. 'Apa itu?'
Jounochi beranjak berdiri. Dia menghapus air mata dengan punggung tangannya dan tersenyum. "Aku harus pergi. Maaf telah mengganggu kalian." Dia membungkuk. "Terima kasih telah memaafkannya."
Jounochi melangkah ke arah pintu. Atem – yang telah berada di ranjang – menarik-narik lengan Yugi dan meminta lelaki itu untuk menemani Jounochi. Yugi mengangguk dan keluar menyusul sahabat baik mereka.
"Mai." panggil Atem.
Mai – yang mau keluar – menoleh. "Apa?"
"Bi... sa... kau me... merik... saku?"
Mendengar pertanyaan Atem, Mai langsung berlari panik ke arah gadis mesir itu. "Ada apa? Apa ada yang sakit? Atau luka-lukamu terbuka?"
Atem menggeleng. Dan ucapan Atem berikutnya membuat mata Mai melebar.
"Tes ke... hami... lan."
"Angel Links?" tanya Isis dan Anzu. Atem mengangguk.
"Ya. Apa kau tahu sesuatu tentang itu, Isis?" tanya Atem.
Isis menaruh keranjang buah di atas meja dan duduk di kursi samping ranjang. Alisnya menaut serius, berpikir. "Entahlah. Tapi, aku merasa familiar dengan kata-kata itu."
Anzu mengambil apel dari keranjang dan mengupas kulitnya sebelum menaruhnya ke piring untuk disajikan pada Atem. "Memangnya kenapa?"
Atem menerima apel dari Anzu dan mulai memakannya. Entah kenapa akhir-akhir ini dia selalu ingin makan apel, padahal dia sama-sekali tidak menyukai buah itu. "Tiga hari lalu Jounochi berkunjung. Dia bilang sebelum Kaiba koma, dia membisikkan hal itu di telinganya. Katanya 'dia' mengincar itu, dan salah mengira itu ada padaku. Aku tidak tahu siapa 'dia' yang dimaksud."
"Mungkin kegelapan yang merasukinya." kata Isis. Atem mengangguk.
"Mungkin."
Anzu menghela nafas. "Tapi, sampai sekarang aku tidak bisa percaya. Kaiba itu, kan, cowok paling kuat dan paling keras kepala, kenapa dia bisa dikuasai kegelapan?"
Isis dan Atem terdiam menatap gadis berambut cokelat itu sebelum menggerakkan bahu. "Entahlah. Tapi Seth, yang juga orang paling keras kepala dan paling kuat yang pernah kukenal, bisa dikendalikan kegelapan Akhnadin."
Suara ketukan pintu menghentikan pembicaraan mereka. Pintu terbuka dan Mai masuk dengan wajah serius.
"Atem..." Mai menatap Atem serius. Dan Atem mengangguk, mengetahui apa yang akan disampaikan dokter wanita tersebut dan membiarkan dua temannya mendengarkan. "Positif."
Mata Atem melebar mendengar ucapan Mai. Dia menunduk memandangi perutnya, tangannya terangkat untuk mengelus perutnya. "Begitu..." gumamnya pelan, ekspresinya sedih.
Tiba-tiba, kata-kata Ra sebelum Atem dihidupkan kembali, terngiang di telinganya.
'Aku tahu kau sangat menginginkan sesuatu sejak tiga ribu tahun lalu, walau mungkin kau telah melupakannya. Itulah mengapa kau akan kukembalikan dengan beberapa... perubahan jadi kau bisa mencapai keinginanmu itu selama kesempatan hidupmu.'
Dan sekarang, dia mengerti maksudnya dengan sangat jelas.
"Eh? Tentang apa ini? Apanya yang positif?" tanya Anzu bingung, dia menoleh ke arah Mai lalu ke arah Atem.
Kesunyian menyeruak sebelum suara Atem memecahnya.
"Aku... hamil."
Ucapan Atem membuat mata Isis dan Anzu melebar terkejut. "Hamil?" gumam mereka terkejut. Atem mengangguk.
Mereka berdua menunduk simpati. "Begitu... jadi Kaiba telah..."
"Bukan. Bukan Kaiba." Isis, Anzu, dan Atem langsung menoleh ke arah Mai terkejut.
"Bukan?!" seru mereka bersamaan. Mai mengangguk.
"Ya, bukan dia. Kaiba memperkosamu sebulan lalu, kan?"
Ucapan "memperkosa" membuat tubuh Atem sedikit gemetar.
Mai berdehem menyesali ucapannya yang blak-blakan sebelum melanjutkan. "Itu berarti bayi dalam kandunganmu bukan miliknya. Karena umur kehamilanmu hampir empat bulan."
Mereka semua terdiam. Atem, dengan mata lebar, menatap perutnya dengan ekspresi terkejut.
"Empat bulan..." gumamnya terkejut. Empat bulan?! Jangan-jangan bayi ini...
"Empat bulan? Kalau begitu siapa yang-"
"Aibou..." gumam Atem, memotong ucapan Anzu. Mereka semua menoleh ke arah gadis mesir yang terlihat sengsara itu.
Anzu – dengan susah payah – tersenyum menghibur. "Hey, tenanglah. Aku yakin kau dan Yugi akan menjadi orangtua yang baik ketika saatnya tiba. Dan..."
"Anzu!" Atem tak bisa menahan dirinya untuk membentak. Melihat ekspresi Anzu, dia sadar bahwa sudah terlambat untuk menarik balik. Dia harus mengatakan rahasianya. "Bukan itu yang kukhawatirkan."
Bibir ketiga temannya tertekuk. "Lalu, apa?" tanya Isis lembut.
Atem memejamkan matanya erat, menyembunyikan berbagai emosi yang melandanya. "Isis, Anzu, Mai..." Dia menjilat bibirnya yang kering dan memberanikan diri. "Aku hanya diberi waktu satu tahun, jadi... begitu bayinya lahir... aku akan pergi." Dia bisa merasakan sesuatu retak di dalam dirinya ketika dia mengatakan hal itu keras-keras.
Suasana menjadi begitu sunyi, sangat sunyi, dan dia membuka matanya untuk buat yakin bahwa Mai dan Anzu tidak pingsan – dia tahu bahwa Isis itu wanita yang kuat, jadi dia tidak mengkhawatirkannya. Mata ketiga temannya lebar dan berair ketika menatap dirinya.
"Atem..." Anzu akhirnya membuka mulutnya. Dia mengangkat tangannya dan memeluk gadis mesir itu. "Ma-maaf!"
Atem menggeleng kepala, memaksa emosi-emosi menghilang dari matanya. "Jangan." Hal terakhir yang dia butuhkan sekarang adalah rasa kasihan.
Setelah beberapa saat, Mai berhasil menjernihkan pikirannya. "Apa... apa kau sudah bilang ke Yugi?"
Lagi, Atem menggeleng kepalanya. "Tidak." Dia menatap tajam ke arah mereka bertiga. "Dan kalian tidak akan memberitahunya juga."
"Tentu saja tidak." Isis berkata dengan lembut bagaikan seorang ibu menghibur anaknya. "Tapi, aku pikir kau harus mengatakannya. Dia berhak untuk tahu."
Atem memalingkan muka dan menghela nafas. "Aku tahu. Dan aku akan memberitahunya, nanti." Dia sama-sekali tidak tahu bagaimana cara untuk melakukannya. Memberitahu ketiga teman perempuannya saja sudah begitu menyakitkan.
Dia, sejak dulu, selalu bisa menguasai emosinya. Tapi kontrol-dirinya telah semakin memudar selama beberapa bulan ini... dengan setiap senyuman dari Yugi padanya, tanpa mengetahui bahwa dia tidak kembali pada lelaki itu untuk waktu yang lama.
Dan dia mulai menangis di dalam pelukan ketiga teman perempuannya yang juga ikut menangis bersamanya.
"Bagaimana, tuan?" Suara menggema di dalam sebuah ruangan gelap berdinding batu, disambut suara kekehan mengerikan.
"Tak kusangka dia benar-benar tidak memilikinya." Suara kekehan kembali terdengar. "Dan keberuntungan memang ada di tanganku. Walau gagal, aku telah menemukannya!"
Chastity dan Bakura hanya diam berlutut dengan kepala menunduk. Seringai puas terlihat di bibir pria yang menjadi pemimpin mereka.
"Terlebih lagi, aku sudah menandai gadis itu." Dia mengangkat sebelah tangannya. "Tenang saja, Atem. Aku akan benar-benar membuatmu menjadi istriku, dan lalu..." Dia menjilat darah yang melumuri tangannya. "Kau akan menjadi tumbal untuk membangkitkan kegelapan yang sesungguhnya. Hahahahahahaha!!!" Tawanya yang gelap menggema dalam ruangan itu.
Dia kemudian duduk di takhtanya. Kaki disilang, dan kedua tangannya menaut, seperti seorang pria yang akan membicarakan bisnis dengan rekan kerjasamanya.
"Chastity, Bakura."
"Ya!" sahut Chastity dan Bakura. Pria itu menyeringai.
"Ubah rencana." Pria itu bersandar, dan bertopang dagu. Seringaian licik masih terlihat. "Sasaran kita sekarang...
...Yugi Mutou."
TBC...
A/N :
Iblis Kira : (celingukan) Mana si author-bastard itu?
Malaikat Light : (Minum teh bak seorang bangsawan) Lagi sibuk. Soalnya dia ada ujian.
Iblis Kira : (sarkastik) Alaaah... paling dia lagi santai entah dimana. Dia itu, kan, paling males kalo disuruh belajar.
Malaikat Light : Belum tentu. Walau otaknya nggak setara kita berdua, dia itu jagonya dalam kerja keras.
Iblis Kira : Iya. Jagonya, kalo sudah terlanjur melakukannya.
Malaikat Light : (menjitak Kira keras-keras) Aaaaaaaah, udah deh!! Kok jadi ngomongin orang gini!! (menoleh ke arah kamera) Selamat... entah kapan kalian membaca cerita ini, malam, siang, pagi, sore... bertemu lagi dengan kami berdua, Light Yagami dan...!! (melambai ke Kira)
Iblis Kira : (tanpa ekspresi) Edward Cullen. (Dijitak lagi)
Malaikat Light : (Pasang senyum tanpa dosa, menghiraukan Kira yang menatapnya tajam) Kami berdua akan membaca dan menjawab review dari para pembaca sekalian. (sulking) Walaupun lebih sedikit dari biasanya.
Iblis Kira : Ya mau gimana lagi. Orang chapter sebelumnya sama-sekali nggak bisa direview lewat hape. Tuh saksinya, si Death crazy Angel. (dilempar sepatu entah dari mana)
Malaikat Light : (tertawa nervous) Ayo kita mulai saja!
-
To Vi ChaN : Thanx atas review dan pujiannya.
Iblis Kira : Singkat, padat, dan jelas.
Malaikat Light : Hush! Tutup mulutmu!
-
To Dika the WINGed Kuriboh : Thanx a lot.
Iblis Kira : (Two thumbs up) Wuokeh banget! Gw juga suka si jamur itu diinjek-injek! Baru kali ini kita sependapat!
Malaikat Light : (mengangguk) Setuju! Daripada diinjek, aku lebih suka dia digiles pake buldoser!
Kaiba : (Death glare at the devil and angel)
Malaikat Light dan Iblis Kira : (siul pura-pura tidak tahu)
-
To GreenOpalus : Terima kasih atas review dan dukungan anda.
Iblis Kira dan Malaikat Light : Sama. Gw juga pengen banget ngebunuh dia.
Kaiba : (veins popped)
-
To Death Angel : Thanx.
Iblis Kira : (nutup kuping pakai ear-plug) Gila ni cewek! Teriakannya setara ama Misa.
Malaikat Light : (nutup kuping pake tangan dan bergumam) Inilah kenapa aku lebih milih Ryuuzaki dibanding dia. (menatap tajam ke arah Kira) Ini salahmu Misa jadi pacar kita.
Iblis Kira : (protes) Kenapa salahku! Kau juga menyetujuinya, kan?!
Malaikat Light : Aku menyetujuinya karena nggak mau melukai perasaanya!!
Iblis Kira : Makanya gw nyebut lu orang lemah! Dasar!
Malaikat Light : (menendang Kira tepat di 'anu'nya)
Iblis Kira : OOOOOOUUUUUUUCHHHHHH!!!!!!! MY PRECIOUS D*CK!!!!!!!!!!!
-
To Yamino Kamichama 666 : Thanx for your review, support, and compliment.
Iblis Kira : (Terbelalak kaget penuh horor) KENAPA DIA MASIH HIDUP!!!!!!!!!
Malaikat Light : (tatapan horor) BENAR!!! KENAPA SI BAJINGAN ITU MASIH HIDUP!!!!!!!!!?
Hikari_07 : (menatap mereka dengan wajah polos dan senyum kemenangan)
Iblis Kira dan Malaikat Light : (veins popped + dark aura + kill intention + Death Note in hand + a pen) Kill. Kill. Kill. Kill. Kill. Kill. Kill. Kill. Kill.
Yami : (Geplak si iblis dan malaikat sebelum menarik Hikari_07 keluar dari ruang review)
-
To Messiah Hikari : Thanx so much.
Iblis Kira : Nah, ini dia si pecinta bokong orang! Dan biasa aja kali, mbak. Lebay banget, sih.
Malaikat Light : (berhigh-five) YES!! Makin banyak yang benci si jamur!! Gimana kalo kita buat klub THE KAIBA'S HATER!!!!!!!!
Kaiba : (pedang di tangan, mau membunuh si iblis dan malaikat, tetapi dicegah dari belakang oleh para kru Yu-Gi-Oh)
-
Malaikat Light : (bows) Terima kasih banyak atas review-review kalian, author sangat menghargainya. Dan maaf bila fic-nya-
Iblis Kira : Jelek, payah, jelek, amburadul, jelek, tidak dimengerti, jelek, tidak menghibur, jelek, dan membosankan.
Malaikat Light : (sweatdrop) Kau bilang kata "jelek" lima kali...
Iblis Kira : (tampang – sok – polos) Ow... benarkah?
Malaikat Light : (scoffed) Pokoknya, Please review if don't mind. Dan author juga membuat behind-scene fic ini!! Jadi-
Iblis Kira : (teriak sekeras mungkin) JANGAN DIBACA!! JANGAN!! ATAU KALIAN BAKALAN KENA KANKER DAN MATI MEMBUSUK DI POJOKAN!!!
Malaikat Light : (menendang Kira sekeras mungkin dan menginjak-injaknya berkali-kali)
...
....
.....
With Death Note on top and crimson camelia,
-
Kira and Light Yagami, and Scarlet Natsume that nowhere.
