-Sequel of ChikinChikin-

Happy reading yeoreobun...

.

.

.

GS, No Bash please ^^,

Don't read this story if you don't like my story

Sorry for typo

.

.

.

I hope you'll like my story

.

.

.

Still You

Cast : Kim Jongin & Do Kyungsoo (GS)

CHAPTER 11

Just, You and Me...

Previous chapter

"Tidurlah".

Kyungsoo mendekatkan tubuhnya pada Jongin. Membuat wajahnya sekarang menghadap dada bidang Jongin yang terasa lengket karena keringat. Jongin merangkul Kyungsoo dan membenarkan selimut yang menutupi tubuh Kyungsoo.

"Sekarang aku percaya kalau aku sudah menikah denganmu".

"Terima kasih".

"Untuk apa?".

"Karena kau sudah mau mengenalku, karena kau mau membiarkan aku untuk mengenalmu, karena kau mau menjadi seseorang untukku".

.

.

.

.

"Ya...", panggil Kyungsoo.

Jongin yang sedang mendekap tubuh istrinya dalam posisi tidur langsung mendorong secara halus pundak Kyungsoo, agar bisa melihat wajah istrinya.

"Ada apa?", tanya Kyungsoo.

"Berhentilah memanggilku seperti itu, panggillah aku dengan panggilan yang lebih manis".

"Manis? Kau ingin aku panggil dengan 'gula'? Gula itu manis kan, atau permen?", ujar Kyungsoo sambil tertawa kecil.

"Isshhh, kau ini", protes Jongin lalu mencubit pipi Kyungsoo.

"Panggil aku oppa. O-PP-A", pinta Jongin.

"Heh? Oppa? Bahkan umurmu lebih muda dariku dan aku harus memanggilmu oppa. Tidak mau. Itu terdengar aneh".

"Oho... kau menolak?".

Jongin lalu mengunci gerakan Kyungsoo lalu mulai menggelitik tubuh Kyungsoo. Membuat Kyungsoo tidak bisa menahan tawanya. Tubuhnya menggeliat menerima gelitikan dari Jongin.

"Ya... geli. Hentikan", pinta Kyungsoo.

Jongin tidak menyerah begitu saja. Dia terus menggelitik tubuh Kyungsoo sampai Kyungsoo menyerah dan mau memanggilnya oppa sesuai keinginan Jongin.

"Kalau begitu panggil aku oppa".

"Tidak mau".

"Kalau begitu aku akan membuatmu geli".

"Jongina, hentikan. Baiklah... baiklah...", Kyungsoo menyerah. Jongin berhenti membuat Kyungsoo kegelian.

"Ayo cepat. Aku ingin dengar".

Kyungsoo terlihat ragu. Selama ini semenjak Kyungsoo mengenal Jongin tidak pernah sekalipun Kyungsoo memanggil Jongin dengan panggilan 'oppa' itu. Memanggil Jongin dengan namanya saja itu sudah cukup manis bagi Kyungsoo. Kyungsoo melihat ke arah Jongin, mata Kyungsoo sedang menjalankan tugasnya untuk membujuk Jongin untuk berhenti memintanya memanggil Jongin seperti itu.

"Aku tidak akan terpengaruh dengan tatapan memelasmu, sayang. Cepat panggil oppa", cetus Jongin begitu tahu maksud tatapan mata Kyungsoo.

Kyungsoo menghela nafas. Usahanya gagal. Dengan terpaksa Kyungsoo harus melakukan yang Jongin minta. Sekarang Kyungsoo tidak lagi menatap wajah Jongin karena malu.

"O..pp..a", panggil Kyungsoo pelan.

"Apa? Aku tidak mendengarnya. Ulangi".

"Oppa...", panggil Kyungsoo.

Jongin tersenyum mendengar Kyungsoo memanggilnya seperti itu. Dia senang tapi memang terdengar aneh jika itu keluar dari mulut Kyungsoo. Mungkin karena telinga Jongin sudah terkontaminasi dengan Kyungsoo yang biasa memanggilnya seperti biasa. Tanpa memanggilnya dengan manis.

"Kau senang?", Kyungsoo kesal.

Jongin mengangguk, "kau benar, aneh mendengarmu memanggilku seperti itu. Jangan lakukan lagi".

"Kau tidak percaya padaku. Berhentilah untuk menjadi pasangan yang normal, Kim Jongin", ujar Kyungsoo menunjukkan senyumannya.

Jongin kembali mendekap tubuh Kyungsoo dengan erat.

"Jongina, kenapa kita hanya pergi kesini? Kenapa tidak pergi ke luar negeri, seperti orang lain?".

"Kau yang baru saja bilang padaku tadi, jangan berusaha untuk seperti pasangan yang normal".

"Iya. Hanya saja aneh kau hanya mengajakku kesini".

"Nanti. Nanti aku akan ajak kau pergi jauh".

Kyungsoo menenggelamkan wajahnya di dada telanjang Jongin. Menghisap wangi Jongin yang selalu Kyungsoo suka.

"Apa yang kau lakukan", tanya Jongin.

"Mencium wangimu. Aku suka".

"Peluk aku sepuasnya. Semaumu. Cium wangiku kapan saja kau mau, aku sudah menjadi milikmu sekarang jadi aku akan biarkan kau melakukan apapun".

"Apapun? Benarkah?".

"Hmm... benar".

"Kalau begiti aku akan membunuhmu".

"Isshh... kau ini".

Kyungsoo tertawa. Melihat Jongin yang kesal karena kejahilan Kyungsoo selalu menajdi keasikan tersendiri bagi Kyungsoo. Jongin terlihat lucu jika sedang kesal pada Kyungsoo. Jongin mengambil handphone miliknya lalu membuk daftar lagu yang ada di mp3 player handphone miliknya. Lagu Rocoberry-Thy Meaning, Jongin putar. Semenjak mengenal Kyungsoo daftar lagu di handphone Jongin berubah. Kyungsoo suka mendengarkan lagu-lagu indie seperti ini. Lagu yang awalnya aneh terdengar di telinga Jongin kini sudah tak lagi terasa seperti itu. Bahkan Jongin juga menjadi suka dengan lagu-lagu itu.

Geudaeui uimineun meosieottna

Nae mamsok hangose meomchwoseoittna

Barameun nae mameul algo isseulkka

Geudaeui gwitkae soksakyeojulkka

"Tidurlah".

"Ahh... nyaman sekali".

Jongin semakin erat mendekap tubuh Kyungsoo. Jongin benarkan selimut yang menutupi tubuh mereka berdua. Lagu Rocoberry-Thy Meaning memanjakan telinga Kyungsoo dan Jongin. Jongin menepuk-nepuk punggung Kyungsoo dengan halus mengikuti irama lagu. Membantu Kyungsoo agar cepat mengantuk. Tak perlu waktu lama, Kyungsoo sudah mulai tertidur di dekapan Jongin. Jongin menyingkirkan helaian rambut yang ada di kening Kyungsoo dengan jarinya, lalu Jongin mengecup kening Kyungsoo dengan lembut.

.

.

.

.

Jongin terbangun karena sinar matahari yang masuk dari sela-sela jendela kaca yang tertutup gorden. Sebelah matanya ia buka, mengintip jam dinding dan memeriksa istrinya masih ada di sampingnya atau tidak. Ada. Kyungsoo masih terlelap dengan posisi yang sama. Meringkuk, dengan wajah yang menghadap dada Jongin. Jongin membelai wajah Kyungsoo pelan. Gadisnya ini menggerakan tubuhnya. Perlahan Kyungsoo membuka matanya, melihat Jongin yang sudah bangun sedang tersenyum sambil membelai rambut Kyungsoo. Kyungsoo membalas senyuman Jongin.

"Good morning", sapa Jongin.

"Aku masih mengantuk", ucap Kyungsoo lalu kembali mendekap Jongin.

"Aku pun masih ingin tidur. Tapi... aku lapar, sayang".

"Kau baru saja bangun dan sudah lapar?".

"Cacing-cacing di perutku ini sedang demo sejak tadi".

"Sepuluh menit, Kim Jongin. Sepuluh menit lagi".

"Sekarang... hmmm", rengek Jongin.

"Baiklah", Kyungsoo batal melanjutkan tidurnya.

Jongin dan Kyungsoo berada di kamar mandi. Berdiri di depan wastafel dengan kaca besar menempel di dinding bagian atas wastafel. Mereka berdua sedang menyikat gigi mereka masing-masing bersamaan. Sesekali Jongin melihat ke arah Kyungsoo, menyingkap rabut Kyungsoo ke belakang telinga Kyungsoo. Sekarang mereka berdua sudah bersih. Sudah lebih segar. Kyungsoo sudah siap untuk memasak.

"Kyungsooya, kita makan di luar saja".

"Di luar? Kau tidak ingin aku yang masak?".

"Tidak perlu. Kita makan di luar saja. Sekalian kita jalan-jalan".

"Oke, call", sahut Kyungsoo riang.

Kyungsoo dan Jongin berjalan mencari tempat makan. Kyungsoo sejak tadi berjalan sambil tersenyum begitu senang. Berjalan sambil memegang tangan Jongin. Seperti anak kecil yang akan diajak pergi untuk membeli mainan. Mereka memutuskan untuk makan disebuah kedai makan sederhana di pinggir jalan menuju vila tempat Kyungsoo dan Jongin menginap. Di papan yang tergantung di kaca kedai tertulis "Sedia berbagai macam sup".

Jongin dan Kyungsoo duduk di meja dekat jendela. Tepat di meja dekat pintu masuk kedai. Kedai ini masih sepi, bisa jadi Jongin dan Kyungsoo pelanggan pertama. Jongin memesan samgyetang dan Kyungsoo memesan sup tahu dengan kerang.

"Wahh... enak", Kyungsoo terus berkomentar tentang rasa sup tahu yang ia makan.

"Makanlah dengan tenang, sayang".

"Aku sudah tenang".

"Sejak tadi kau berkomentar tentang rasa sup itu, kau bilang itu tenang?".

Kyungsoo tertawa. Karena Kyungsoo benar-benar tidak bisa membiarkan dirinya untuk tidak berkomentar karena rasa sup yang enak. Setelah selesai Jongin dan Kyungsoo kembali ke vila tempat mereka tinggal untuk beberapa hari. Mereka duduk di sofa menikmati pemandangan pantai Naksan dari balik jendela kaca besar yang menghalangi mereka. Kyungsoo sibuk bermain game di handphonenya. Jongin menyandarkan kepalanya di pundak Kyungsoo. Kyungsoo menyimpan handphonenya. Menghela nafas berkali-kali karena bosan.

"Aku bosan".

Jongin mengangkat kepalanya dari pundak Kyungsoo menatap Kyungsoo yang sedang mengerucutkan bibirnya.

"Lalu, kau mau pergi kemana?".

"Tidak tahu".

"Lanjutkan saja lagi main game di handphonemu".

"Aku ingin berenang".

"Heh? Berenang?".

"Iya. Kita sedang di pantai. Setidaknya aku harus tahu rasanya berenang di pantai seperti apa rasanya".

"Tidak. Kau ingin mati kedinginan? Ini sudah hampir pukul 5 sore, udara dingin. Kau lihat ombak dan angin begitu kencang", Jongin memegang pipi Kyungsoo dengan kedua tangannya dan memaksa Kyungsoo melihat ke arah pantai.

Jongin tidak melepaskan tangannya dari pipi Kyungsoo. Jongin melakukan itu lagi, menekan pipi Kyungsoo sehingga membuat bibir berbentuk hati milik Kyungsoo maju beberapa senti.

"Mintalah yang lain, hmm".

"Lepaskan tanganmu", kata Kyungsoo dengan suara tidak jelas.

"Tidak mau".

"Aku ingin tteokbeokki", ujung mulut Kyungsoo bergerak gemas saat bicara dengan tidak jelas.

"Aku akan cari".

Jongin lalu mencium bibir Kyungsoo dan melepaskan tangannya. Jongin pergi keluar mencari kedai atau apapun yang menjual tteokbeokki. Kyungsoo menunggu Jongin. Duduk menatap pantai tanpa ada yang ia kerjakan. Kyungsoo bangkit dari sofa, masuk ke dalam kamar lalu kembali keluar sudah berganti pakaian. Kaos lengan pendek berwarna krem dan hotpans berwarna hitam. Kyungsoo juga membawa dua buah handuk kering. Satu handuk yang dia bawa dari Seoul dan satu handuk lainnya adalah handuk yang disediaka untuk tamu di vila itu. Dengan segera Kyungsoo berlari keluar vila menuju pantai. Kyungsoo ingin berenang di pantai. Sebenarnya bukan berenang, hanya memasukkan tubuhnya ke air pantai, hanya di tepi pantai saja. Setidaknya Kyungsoo harus tahu bagaimana rasanya.

Jongin kembali setelah berkeliling mencari penjual tteokbeokki.

"Sayang... maafkan aku karena lama", Jongin bingung karena Kyungsoo tidak ada.

"Dia pergi kemana?".

Jongin lalu memeriksa semua ruangan. Kamar, kamar mandi, bahkan sampai halaman, Jongin tidak menemukan Kyungsoo. Sampai Jongin melihat dari kaca jendela, seseorang berjalan menuju tempatnya menginap. Berjalan dengan buru-buru sambil memegang handuk yang menutup tubuh bagian atas. Semakin Kyungsoo lihat, dia tahu siapa itu. Kyungsoo. Istrinya. Dengan cepat Jongin berlari mengahampiri Kyungsoo. Jongin terkejut melihat tubuh Kyungsoo yang sudah basah dan menggigil karena dingin.

"Kau dari mana?", tanya Jongin khawatir. Kyungsoo hanya melihat Jongin dengan tatapan memelas. Berharap Jongin tidak memarahinya.

"Kau. Kau berenang di pantai?".

Kyungsoo masih diam, tidak menjawab satu pun pertanyaan Jongin. Jongin lalu membantu Kyungsoo masuk. Tubuhnya sudah menggigil karena kedinginan. Kyungsoo sudah bersih. Duduk di sofa memakai jaket tebal dan dengan tubuh yang ditutup selimut. Tubuhnya masih bisa merasakan dinginnya air pantai. Kyungsoo sudah siap menerima omelan dari suaminya karena apa yang baru saja ia lakukan. Jongin menghampiri Kyungsoo dengan membawa segelas coklat panas.

"Kau ini. Aku sudah melarangmu, tapi masih kau lakukan. Jika kau sakit bagaimana?".

"Maafkan aku".

Jongin yang masih terlihat kesal pada Kyungsoo lalu merangkul tubuh menggigil Kyungsoo. Membantu Kyungsoo sedikit mengurangi rasa dingin di tubuhnya. Kyungsoo lalu membaringkan tubuhnya dan kepalanya berada di atas pah Jongin. Jongin memainkan rambut Kyungsoo.

"Tidurlah di kamar", pinta Jongin.

"Tidak mau".

"Disini dingin".

"Jika denganmu tidak".

"Kau ini tidak pernah mendengarkanku".

Jongin menahan kepala Kyungsoo lalu berdiri. Mengangkat tubuh Kyungsoo secara paksa dan membawanya ke dalam kamar.

"Ya... kenapa kau sekarang senang menggendongku sepertinini? Ini sudah jadi hobimu yang baru?".

"Ssssttt".

Jongin lalu menidurkan Kyungsoo, menutup tubuhnya dengan selimut. Lalu Jongin berbaring di sampingng Kyungsoo.

"Tidurlah".

"Aku tidak mengantuk".

"Kau ingin main denganku?".

"Main apa?".

Jongin lalu menatap Kyungsoo dengan tatapan menggoda dan menunjukkan smirknya. Kyungsoo yang langsung mengerti maksud dari kata 'main' yang Jongin sebut langsung menarik selimut hingga menutupi setengah wajahnya hingga hanya tersisa matanya saja yang terlihat.

"Tidak mau!", Kyungsoo menolak keras.

"Kenapa? Obat untukmu agar tidak sakit".

"Aku tidur saja".

Kyungsoo membalikkan tubuhnya ke arah sebaliknya. Karena jika Kyungsoo menghadapkan tubuh dan wajahnya ke arah Jongin, Kyungsoo bisa menebak apa yang akan Jongin lakukan selanjutnya. Berawal dari hanya merangkul tubuh Kyungsoo. Kemudian membelai wajah Kyungsoo. Mencium bibir Kyungsoo. Kemudian, itu semua terjadi. Kyungso bukan tidak ingin melakukan itu lagi dengan Jongin. Hanya saja Kyungsoo masih merasa aneh pada tubuhnya sendiri setelah malam pertamanya dengan Jongin.

Kyungsoo belum tidur. Karena dia memang belum mengantuk. Kyungsoo bisa dengar suara nafas Jongin. Kyungsoo tidak tahu apa yang sedang Jongin lakukan di sampingnya, karena sejak tadi Kyungsoo membalikan tubuhnya.

"Jika kau bosan berbaliklah", kata Jongin tiba-tiba. Kyungsoo diam, pura-pura tidak mendengar ucapan Jongin.

"Aku tahu kau belum tidur, Do Kyungsoo".

Kyungsoo mendengar peekataan itu langsung membalikkan tubuhnya ke arah Jongin.

"Kenapa?", tanya Jongin dengan mata yang terus memandang layar handphonenya.

"Aku tidak mengantuk".

"Lalu?".

Kyungsoo bangun dan mendekatkan tubuhnya pada Jongin.

"Kau sedang apa?", tanya Kyungsoo.

"Sedang mengirim foto-foto kita pada halmeoni, abeoji, Yuri noona, juga ayah dan ibumu".

"Kenapa kau kirim ke semua orang?".

"Biar mereka tahu apa yang kita lakukan, dan bisa lihat betapa senangnya kita".

"Jongina", panggil Kyungsoo.

"Hmmm".

"Ayo kita main".

"Main? Benarkah?".

Kyungsoo langsung melirik Jongin begitu melihat reaksi suaminya itu.

"Ishh... bukan main yang kau maksud". Pundak Jongin terlihatbturun saat mendengar jawaban Kyungsoo.

Jongin dan Kyungsoo duduk berhadapan di depan TV, di depan mereka ada meja kecil. Di atas meja ada sebuah piring kecil, berisi cairan berwarna putih. Kyungsoo mengajak Jongin bermain kawi, bawi, bo. Kemudian yang kalah wajahnya harus dicoret dengan cairan yang ada di piring kecil itu. Cairan kental berwarna kental itu Kyungsoo yang buat. Dia campur bedak bayi yang selalu Kyungsoo bawa dengan sedikit air. Jongin sempat menolak, karena Jongin begitu yakin kalau dia akan menang. Tapi Kyungsoo tetap memaksa Jongin untuk bermain.

"Kau yakin? Tidak akan menyerah? Jangan marah padaku jika kau kalah nanti, sayang".

"Tidak akan. Kita belum mulai, Kim Jongin. Jadi kau jangan percaya diri akan menang".

"Baiklah. Kita lihat saja. Ingat janjimu jika kau kalah".

Kyungsoo yang tadi terlihat begitu bersemangat langsung berubah saat ingat tentang janjinya pada Jongin tadi. Kyungsoo berjanji pada Jongin akan menurut pada Jongin jika dia kalah, tidak akan melawan, protes atau apapun dengan apapun yang Jongin minta. Sialnya, Kyungsoo begitu saja mengiyakan keinginan Jongin tanpa berpikir panjang.

"Baiklah. Aku tidak akan lupa. Aku pasti akan menang".

"Ayo kita mulai", ucap Jongin.

"Kawi... bawi... bo...".

Jongin tertawa begitu puas. Kyungsoo sedang begitu kesal melihat Jongin. Alis Kyungsoo terus mengkerut karena kesal. Jongin terus menang. Wajah Kyungsoo sekarang sudah berubah warna menjadi putih. Semua cairan bedak yang Kyungsoo buat sudah menempel begitu lekat di wajahnya sendiri. Kim Jongin, sedang begitu bahagia tertawa terbahak-bahak melihat wajah istrinya yang sudah penuh dengan warna putih.

"Lihat, kau kalah".

"Aku hanya beberapa kali kalah. Kau mencoret wajahku dengan seluruh telapak tanganmu, bagaimana wajahku tidak seperti ini", gerutu Kyungsoo.

"Yang terpenting kau kalah, sayang".

"Kau curang".

"Bagaimana aku bisa curang? Disini hanya ada kau dan aku".

"Isshh, Kim Jongin kau menyebalkan".

Jongin tak berhenti tertawa pada Kyungsoo.

"Bersihkan wajahmu cepat".

"Kau menyebalkan".

"Setelah itu kau harus menuruti semua permintaanku, sayangku. Kau ingat itu".

"Diamlah".

Kyungsoo lalu bangun dan menuju kamar mandi untuk membersihkan wajahnya. Kyungsoo sedang menyiapkan sabun dan handuk untuk wajahnya. Lalu tiba-tiba Jongin masuk dengan begitu bersemangat. Jongin lalu mengangkat handphone dan menghadapkan layar handphone ke wajah mereka.

CLICK!

Jongin mengambil beberapa foto di handphonenya bersama Kyungsoo yang masih dengan wajah berwarna putih karena bedak.

"Setidaknya aku harus mengabadikan wajahmu yang sangat cantik ini, istriku".

"Ya! Kim Jongin!"

Jongin dengan segera pergi keluar dari kamar mandi, sebelum Kyungsoo akan memberikan pukulan.

Jongin duduk di sofa menunggu Kyungsoo selesai membersihkan wajahnya. Jongin periksa pesan balasan dari halmeoni. Tak lama Kyungsoo keluar dari kamar mandi dengan wajah yang sudah bersih. Jongin masih bisa lihat Kyungsoo masih kesal padanya. Kyungsoo mendekat lalu duduk di samping Jongin.

"Kau senang?", tanya Kyungsoo kesal.

"Tentu".

"Kau tetap curang", ucap Kyungsoo tetap tidak terima kalau Jongin menang.

"Yang penting aku menang. Itu artinya kau harus menurut padaku".

"Baiklah. Kau ingin apa?", tanya Kyungsoo kesal.

Jongin tidak menjawab. Jongin malah menarik karet rambut yang mengikat rapi rambut hitam Kyungsoo. Kyungsoo hanya diam. Menunggu apa lagi selanjutnya yang akan di lakukan suaminya. Jongin lalu memegang memegang tengkuk Kyungsoo dan mencium bibir Kyungsoo pelan. Benar-benar pelan. Jongin tidak mau istrinya ini protes jika dia melakukannya tiba-tiba dengan begitu penuh nafsu.

Kyungsoo masih diam. Lalu Jongin perlahan mendorong tubuh Kyungsoo agar terbaring di sofa. Sebelah tangan Jongin yang tadi memegang tengkuk Kyungsoo sekarang beralih memegang punggung Kyungsoo menahan agar tubuh Kyungsoo tak langsung jatuh. Kyungsoo akhirnya berbaring di sofa, dan Jongin berada di atasnya. Kyungsoo masih diam. Meski Kyungsoo tahu apa berikutnya yang akan Jongin lakukan. Bibir mereka masih bertaut satu sama lain. Kyungsoo tidak ingin melawan, protes atau yang lainnya. Jongin tiba-tiba berhenti mencium Kyungsoo.

"Kau tidak akan melawan?".

"Aku sudah janji padamu untuk menurut".

"Bagus. Aku harus lebih bermain denganmu dan membuatmu kalah agar kau diam seperti ini".

"Nanti aku yang akan menang".

Jongin kembali mencium bibir Kyungsoo. Sekarang tangannya mulai mencari kesibukan. Sebelah tangannya mengelis lembut paha Kyungsoo dan sebelah tangannya yang lain sibuk memainkan dada Kyungsoo. Jongin beralih memberikan ciuman di leher Kyungsoo. Jongin tahu titik sensitif Kyunhsoo. Karena setiap Jongin memegang atau mencium leher Kyungsoo, Jongin bisa merasakan kalau Kyungsoo merasa beda.

Lagi-lagi Kyungsoo merasa seperti ada jutaan lebah menyengat tubuhnya jika Jongin mengecup lehernya. Tanpa sadar, Kyungsoo menikmati apa yang Jongin lakukan pada tubuhnya. Kyungsoo memegang kepala Jongin. Sesekali meremaa rambut Jongin. Setiap reaksi yang Kyungsoo berikan semakin membuat Jongin terus berusaha membuat Kyungsoo untuk bereaksi lebih. Sekarang Jongin meninggalkan tanda di leher Kyungsoo. Ada kissmark di leher Kyungsoo. Sesekali Kyungsoo mendesah pelan membuat Jongin semakin gila mendengarnya dan terus melakukan pekerjaannya.

Mereka berdua. Sepasang pengantin baru kembali menghabiskan malam mereka dengan seperti ini. Hal yang membuat masing-masing dari mereka merasa nyaman.

.

.

.

.

.

Jongin dan Kyungsoo kembali ke Seoul setelah beberapa hari menghabiskan waktu hanya berdua. Kyungsoo sudah tak lagi menyewa tempat tinggalnya. Untuk sementara ini mereka berdua tinggal bersama halmeoni sampai Jongin dan Kyungsoo mendapatkan tempat tinggal mereka sendiri.

"Aigu... kalian pergi lama sekali. Bagaimana?", tanya halmeoni begitu antusias menyambut Kyungsoo dan Jongin yang baru datang.

"Bagaimana apa halmeoni?", Kyungsoo balik bertanya.

"Kau ini masa tidak mengerti".

Jongin lalu yang menjawab pertanyaan halmeoni.

"Sukses halmeoni", jawab Jongin sambil tersenyum jahil.

"Benarkah? Cucuku memang hebat", puji halmeoni.

Kyungsoo masih belum mengerti apa yang dibicarakan Jongin dengan halmeoni. Sedangkan halmeoni dan Jongin sudah saling membalas senyum aneh. Jongin membawa barang bawaan mereka ke kamarnya. Kyungsoo mengikuti langkah Jongin membawa barang lainnya yang tidak bisa dibawa oleh Jongin. Jongin kembali turun menemui halmeoni setelah menyimpan semua barang bawaannya.

"Mandilah dulu".

"Hmm...".

Jongin kembali turun untuk mengobrol dengan halmeoni. Tn. Kim ayahnya juga akan mampir ke rumah halmeoni untuk bertemu dengan Jongin dan Kyungsoo. Jongin melihat jam, kenapa Kyungsoo belum juga turun setelah mandi. Jongin memutuskan untuk melihat apa yang dilakukan istrinya. Jongin melihat Kyungsoo sedang berbaring di ranjang. Jongin mendekati Kyungsoo. Memeriksa suhu tubuh Kyungsoo dengan tangannya.

"Kyungsooya, kau tidak enak badan?", tanya Jongin pelan.

Kyungsoo membuka matanya dan melihat ke arah Jongin.

"Ahh... maafkan aku. Kepalaku sedikit pusing".

"Tubuhmu panas".

"Aku tidak apa-apa. Ayahu sudah datang?".

"Sudah, sedang mengobrol dengan halmeoni".

Kyungsoo lalu berusaha bangun. Tapu Jongin dengan segera menahan Kyungsoo.

"Kau mau kemana?", tanya Jongin.

"Memberi salam pada ayahmu".

"Istirahatlah. Biar aku bilang pada abeoji kau sedang istirahat".

"Tapi..."

"Sudah. Istirahatlah dan kembali tidur. Jika halmeoni dan abeoji melihatmu sakit mereka pasti mengomel padaku. Baru saja menikah tapi kau sudah sakit seperti ini".

"Aku tidak apa-apa".

"Tubuhmu panas seperti ini kau bilang tidak apa-apa. Inilah akibatnya jika kau tidak mendengarkan aku".

"Kau bisa juga mengomel padaku, Kim Jongin".

"Diam. Tidurlah". Jongin mencium kening Kyungsoo.

Kyungsoo menurut. Kyungsoo kembali membaringkan tubuhnya. Jongin tak langsung pergi untuk kembali ke lantai bawah. Jongin menemani Kyungsoo sambil menepuk-nepuk punggung Kyungsoo. Setelah Kyungsoo terlihat tertidur, Jongin baru kembali ke lantai bawah.

"Kyungsoo mana?", tanya halmeoni.

"Dia tidur, tubuhnya panas".

"Heh? Panas? Bagaimana bisa".

"Kemarin dia berenang di pantai saat hari sudah sore".

"Aigu... dia selalu saja aneh-aneh".

.

.

.

.

Tn. Kim, ayah Jongin sudah kembali pulang ke apartementnya. Halmeoni membuatkan bubur untuk Kyungsoo. Jongin membawa semangkuk bubur dan segelas air putih ke kamarnya untuk Kyungsoo. Saat Jongin datang Kyungsoo masih tertidur. Jongin kembali memeriksa suhu tubuh Kyungsoo. Sudah tak panas seperti sebelumnya. Jongin lalu naik ke atas ranjang dan berbaring dengan posisi miring ke arah Kyungsoo. Jongin perlahan membangunkan Kyungsoo untuk makan. Karena sejak datang siang tadi Kyungsoo belum makan apapun.

"Kyungsooya, bangunlah sebentar".

Kyungsoo menggeliat. Perlahan matanya terbuka. Melihat Jongin sudah ada di depannya.

"Bangunlah, hmmm. Kau belum makan sejak siang tadi. Halmeoni membuatkan bubur untukmu".

Sekarang semuanya terasa berbeda. Kyungsoo sakit seperti saat ini ada Jongin di sampingnya. Dulu, sebelum mereka menikah pun Jongin ada saat Kyungsoo sakit. Tapi rasanya berbeda saat pria yang dia sayang ini sudah berstatus menjadi suaminya.

.

.

.

.

1 bulan kemudian

Kyungsoo begitu sibuk sejak pagi. Hari ini adalah hari pertama restorannya yang dia buka di kantor Jongin. Junmyeon tentu membantu. Restoran lamanya tutup hanya untuk hari ini agar Junmyeon bisa membantu Kyungsoo. Jongin sudah melarang Kyungsoo untuk membuka restoran di kantor tempat Jongin bekerja cepat-cepat. Jongin menyuruh Kyungsoo untuk mencari orang lain untuk membantunya. Tapi, bukan Kyungsoo jika menurut begitu saja dan tidak keras kepala. Kyungsoo tetap membuka restoran itu seauai rencananya.

"Istirahatlah jika kau lelah", ucap Jongin.

"Hmmm... tentu, sayang".

"Aku tidak mau melihatmu sakit karena ini, mengerti?".

"Ne... kau tenang saja".

Acara opening cabang restoran milik Kyungsoo selesai. Jongin menunggu Kyungsoo sampai selesai meski pekerjaannya sudah selesai sejak 1 jam yang lalu. Junmyeon sedang sibuk merapikan meja-meja saat Jongin datang.

"Hyung... annyeong", Jongin.

"Kau baru pulang? Aku lihat semua karyawan sudah keluar sejak tadi".

"Aku menunggu istriku".

"Tskk... kalian ini. Jangan bermesraan di depanku".

"Ne... hyungnim", sahut Jongin.

Jongin lalu mendekati Kyungsoo yang sedang berada di bali meja kasir. Jongin lalu mencium pipi Kyungsoo dan memeluk gadisnya.

"Kau belum pulang?".

"Belum. Aku menunggumu sampai selesai".

Kyungsoo lalu melihat jam tangan berwarna perak dengan tali berwarna hitam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.

"Tapi ini sudah lewat satu jam dari jam kantormu".

"Aku sengaja menunggumu".

"Benarkah? Terima kasih...".

Kyungsoo memberikan senyuman manisnya dan memberikan Jongin kexupan di bibirnya. Junmyeon melihat apa yang dilakukan Jongin dan Kyungsoo yang sedang asik berbalas senyum dan kecupan.

"Hey, kalian berdua. Carilah tempat yang lebih tertutup", protea Junmyeon.

"Kau cepatlah katakan perasaanmu pada kakakku agar kau bisa melakukan ini", goda Kyungsoo sambil mencium Jongin berkali-kali membuat Junmyeon semakin kesal.

"Isshh... aku pulang. Lanjutkan kesibukan kalian".

"Hati-hati chingu. Sampai ketemu besok", tukas Kyungsoo melambaikan sebelah tangannya pada Junmyeon.

Junmyeon lalu pamit dan pulang meninggalkan Jongin dan Kyungsoo. Kyungsoo belum selesai dengan pekerjaannya. Jongin kembali menunggu Kyungsoo. Setelah Kyungsoo selesai, Kyungsoo mengajak Jongin yang sudah kesal menunggu sejak tadi untuk makan. Mereka memilih curry untuk menu makan malam mereka berdua.

"Kau tidak lelah?", tanya Jongin.

Kyungsoo menggelengkan kepalanya, "tidak, aku senang. Sangat senang".

"Kau ini, segala sesuatu tentang restoranmu itu membuatmu senang?".

"Sangat".

Pesanan mereka sampai. Kyungsoo langsung mengisi mulutnya penuh. Kyungsoo sudah benar-benar lapar. Opening cabang restorannya hari ini lancar. Restoran yang Kyungsoo buka di lobi kantor Jongin, tempatnya tidak terlalu besar seperti restorannya yang pertama. Meski pelanggan Kyungsoo di cabang baru restorannya ini lebih banyak pegawai yang bekerja di gedung tempat Jongin bekerja. Gedung bertingkat 20 ini bukan hanya ada perusahaan tempat Jongin bekerja, tapi ada beberapa perusahaan lain yang juga berkantor di gedung ini.

"Kau sudah hubungi halmeoni kita akan pulang telat", seru Kyungsoo.

"Sudah. Halmeoni bilang akan tidur cepat".

"Heh? Halmeoni sakit?", tanya Kyungsoo khawatir.

"Tidak. Halmeoni sudah tua, tubuhnya pasti cepat merasa lelah".

"Tapi ajaklah halmeoni untuk memeriksakan kondisinya, aku khawatir".

"Khawatirkan dirimu sendiri, sayang".

Kyungsoo tak lagi menanggapi perkataan Jongin. Karena Jongin akan bicara panjang lebar jika Jongin sudah bicara tentang Kyungsoo yang tidak peduli dengan dirinya sendiri. Jadi, Kyungsoo memiih diam dan tidak menanggapi perkataan Jongin lebih jauh.

Kyungsoo menunggu Jongin yang masih mengahabiskan piring kedua curry pesanannya. Kyungsoo menatap ke arah seorang ibu muda yang bekerja di restoran curry tempat Kyungsoo dan Jongin makan. Ibu muda itu sedang menggendong seorang anak bayi di punggungnya. Sama seperti yang dilakukan Yuri, kakaknya jika sedang bekerja menggendong Jemi di pungunggunya.

"Kau lihat apa?", tanya Jongin.

Kyungsoo tidak menjawab dengan perkataan. Tapi Kyungsoo mengangkat dagunya menunjuk ke arah ibu muda itu.

"Kenapa?", tanya Jongin kembali.

"Aku tidak ingin seperti itu. Ibu itu terlihat sangat muda tapi dia harua bekerja sambil menggendong anaknya seperti itu".

"Kita bisa pakai baby sitter untuk menjaga anak kita".

"Tidak... tidak... aku tidak mau. Aku ingin mengurus anakku sendiri".

"Oke...", sahut Jongin santai.

"Jadi, aku belum mau untuk cepar memiliki anak secepatnya".

Kyungsoo dan Jongin pulang setelah selesai dengan makan malam mereka berdua. Jongin dan Kyungsoo masih tinggalbbersama halmeoni. Jongin sudah mencari tempat tinggal untuk mereka sendiri. Tapi Kyungsoo, lagi-lagi tidak pernah ada hal yang akan berjalan dengan lancar tanpa pertimbangan apapun jika berdiskusi dengan Do Kyungsoo. Kyungsoo memilih untuk tinggal bersama halmeobi saja. Kyungsoo tidak tega meninggalkan wanita berumur hampir 70 tahun tinggal sendiri di rumahnya. Walaupun Kyungsoo dan Jongin bekerja saat siang hari tapi setidaknya halmeoni merasa ada teman.

Rumah sudah sepi, lampu ruang tengah pun sudah mati. Hanya ada cahaya buram berwarna kuning dari lampu yang ada di halaman depan. Sepertinya halmeoni sudah tidur di kamarnya.

"Halmeoni sudah tidur", bisik Jongin sambil kembali menutup pintu rumah dengan pelan agar tidak mengganggu halmeoni.

Jongin menarik tangan Kyungsoo dan mengajaknya naik ke lantai dua menuju kamar Jongin yang sekarang sudah menjadi kamar mereka berdua.

"Ya, pelan-pelan. Aku tidak melihat jalan dengan jelas, Kim Jongin".

Kyungsoo dengan hati-hati meniti anak tangga dalam keadaan ruangan yang gelap.

"Sebentar lagi. Ayo cepat", ajak Jongin.

"Ada apa? Kenapa harus cepat-cepat".

Mereka sampai di kamar. Jongin segera menutup pintu kamar mereka rapat-rapat. Jongin dengan sigap lalu mencium bibir Kyungsoo tanpa aba-aba. Kyungsoo yang tiba-tiba menerima itu tentu kaget dan menahan apa yang dilakukan Jongin.

"Kenapa?", tanya Jongin.

"Tasku". Jongin dengan cepat melepaskan tas Kyungsoo dan menyimpannya di lantai.

Jongin melanjutkan urusannya dengan bibir mungil Kyungsoo. Kyungsoo kembali menahan Jongin. Jongin menghela nafas.

"Sekarang apa?".

"Jaketku".

Dengan cepat Jongin membantu Kyungsoo elepas jaket yang dipakai Kyungsoo. Jongin kembali melanjutkan 'urusannya' yang tertunda. Jongin terus membawa tubuh Kyungsoo terus menuju ranjang. Kyungsoo sudah berbaring. Jongin sedang sibuk dengan pekerjaannya di tubuh istrinya. Jongin sedang mengecup leher Kyungsoo. Bagian tubuh Kyungsoo yang Jongin suka.

"Ya, Kim Jongin. Ki-", perkataann Kyungsoo terputus-putus karena Jongin yang terus mengecup lehernya.

"Kita leb-"

"Lebih baik man-"

Kyungsoo tak jua menyelesaikan kalimatnya dengan benar. Karena Kyungsoo merasa seperti sedang diberikan kejutan listrik di tubuhnya. Jongin mulai berusaha membuka kancing kemeja Kyungsoo. Kyung yang sadar mengumpulkan kekuatannya dan menahan Jongin terus menelusuri tubuhnya.

"Sebentar", pinta Kyungsoo.

Jongin kembali menghela nafas.

"Sekarang, apa lagi, sayang?".

"Kapan kita terakhir melakukan ini?", tanya Jongin dengan kedua tangannya yang berada di dada Jongin, menahan tubuh Jongin mendekat ke tubuhnya.

"Hmmm... seminggu yang lalu, sepertinya".

Kyungsoo terdiam, wajahnya terlihat sedang berpikir.

"Ya, bangun".

"Kenapa?".

"Bangunlah", pinta Kyungsoo.

Jongin lalu berdiri memposisikan tubuhnya ke posisi normal. Duduk di atas ranjangnya. Menatap Kyungsoo dengan tatapan penuh tanya.

"Sekarang apa lagi?".

Kyungsoo lalu turun dari ranjang. Membuka laci meja kayu berukuran kecil yang ada di samping ranjang. Mengambil sebuah buku, pulpen, dan kalender duduk yang ada di atas meja di samping ranjang. Kyungsoo lalu menulis sesuatu. Sambil terua melihat kalender.

"Kau sedang apa?", tanya Jongin sambil mengintip apa yang Kyungsoo lakukan.

"Menulis jadwal".

"Jadwal?".

"Iya, jadwal".

"Jadwal apa?".

"Selesai...", Kyungsoo menunjukkan hasil dari apa yang ia tulis.

"Jadwal apa itu?".

"Jadwal kita, melakukan itu".

"Itu? Itu apa?".

Kyungsoo lalu melirikan matanya ke arah dadanya. Akhirnya Jongin mengerti maksud Kyungsoo.

"Heh? Jadwal? Kenapa harus di jadwal?".

"Kau lupa. Aku baru saja bilang padamu saat makan tadi. Aku belum mau untuk memiliki anak".

"Heh? Kyungsooya...".

"Kita baru melakukan itu seminggu yang lalu. Jika kita lebih sering melakukan itu tanpa di kontrol kemungkinan aku hamil dengan cepat itu lebih besar, Kim Jongin".

.

.

.

.

.

Kkeut! Done!

Chapter ini selesai... ^^,

Tetap bertahan dengan rate M untuk ff ini.

Thank you thank you~~

Sorry for late update... Sejak kemarin author ga bisa masuk ke jadi author ga bisa upload chapter baru. Jeosonghabnida... *deep bow*

Setelah sebelumnya ada sedikit drama karena ganti rate, authormu ini akhirnya memantapkan hati untuk melanjutkan ff ini dengan rate M.

Jeongmal... jeongmal gomawo ^^, buat kalian semua yang selalu, setiap saat memberikan support buatku... Sangat sangat sangat sangat terima kasih...

Chuchuchuchu~~ *tebar kisseu*

Wait foe next chapter yess... ^^,

Dan juga kembali selalu menunggu review kalian semua... setiap review yang kalian tinggalkan sangat berarti untukku. Aku harap setiap yang baca tinggalkan review kalian ^^,

(BUT, PLEASE DON'T BASH ANYONE ^^, GUNAKAN KATA2 YANG BAIK BUAT REVIEW)

Silent reader kembali ditunggu dan ditunggi review kalian... ^^,

I LOVE YOU :*

*kisshug*

*XOXO*