(Benar2 maafkan saya jika ada TYPO-s-) *tanpa edit

(Mian juga karena tidak membalas REVIEW, tapi Ge baca semua. Viele Dank~)

*DEEP BOW*


.

OUR houseHOLD

bei : Vhy & GE

Cast : Kim Ki Bum & Kim Ye Sung

.

!Happy Reading!

V

V


Benar-benar!

Yesung harus berlatih untuk tak gampang tergoda oleh pesona Kibum! Ia harus benar-benar bisa mengendalikan dirinya ketika Kibum mengeluarkan godaan-godaan seperti itu!

Harusnya, sekarang dia masih marah karena Kibum terus saja menghabiskan uang di tengah kondisi perusahaan yang di ujung tanduk. Harusnya dia diam saja ketika Kibum melancarkan bisikan mesumnya. Harusnya dia bisa mengendalikan diri dengan baik. Harusnya seperti itu!

"...Belum ada kejelasan dari pihak perusahaan Kim dan perusahaan Baek. Semua-"

PIP

Televisi yang sedang ditonton Yesung menjadi hitam.

Remote yang sedang dipegang Kibum adalah asal dari kejadian itu.

Kini, Kibum telah mengenakan sebuah baju tidur berwarna putih dengan polkadot hitam, setelah mandi.

Ditaruhnya remote itu, dan duduk di sebelah Yesung.

Baru saja ia akan memulai pembicaraan, ketika ia melihat Yesung dengan segera berdiri, dan mulai beranjak.

Tap,

Tangan Kibum meraih pergelangan Yesung.

Jangan masalah ini lagi. Batin Kibum.

Sekali hempas, tak membuat pegangan itu lepas dari Kibum. Dengan terpaksa Yesung berbalik, dan melotot pada Kibum.

Dan malah dihadiahi senyuman lembut Kibum padanya.

Chuu~~

Kedua bibir itu menempel. Yesung membulatkan matanya, tak percaya.

"Aaahh.." Ciuman itu terlepas paksa, dan..

PLAAAK!

"Jangan menyentuhku!" Yesung berseru sambil menutup pintu kamar mandi.

"Dia ini benar-benar mooddy seklai." Gumam Kibum, masih tersenyum, mmegang pipinya yang cukup panas.

-::::::::::::::::::::::::::::-

8^_^8

-::::::::::::::::::::::::::::-

Makan malam yang khikmad.

Ah..tidak! Makan malam yang sepi lebih tepatnya, di kamar PR-1 (President Room-1).

Tak ada satupun yang membuka pembicaraan.

Setelah menghabiskan dessertnya, Yesung berdiri dan menuju bar kecil yang ada di president room itu.

Clap,,

Tutup botol wine terbuka, dan Yesung langsung menuangkannya setengah penuh ke gelasnya.

Ia goyangkan sedikit gelas itu, dan menyesap aroma yang keluar dari wine tahun 1990 itu.

Baru saja ia akan menegak winenya, gelas itu telah hilang dari tangannya.

Ia menemukan Kibum telah menegak seluruh wine yang ia tuangkan tadi.

Teegg,

"Tuangkan lagi." Kibum menaruh gelas yang telah kosong itu. Yesung hanya menurutinya, dan mengambil gelas lain.

Ctrriinng...

Kedua gelas itu saling bergesekan, dan mereka menegaknya bersama.

Sebenarnya, Kibum tak begitu menyukai Yesung meminum wine. Tak baik untuk kesehatannya. Tapi...untuk malam ini saja... Ia ingin membiarkan Yesung mengikuti kemauannya sendiri. Mungkin dengan begitu, mereka bisa bicara dengan lebih tenang.

Gleeg, gleeg..

Satu gelas lagi untuk Kibum, dan satu gelas lagi untuk Yesung..

Teeg, Teeg, teeg,,

Tiga gelas, empat gelas...

Belum ada yang berbicara.

Kibum belum merasa mabuk, sedangkan Yesung mulai merasakan kepalanya berputar dan bergumam tak jelas sesekali.

Teeg,

Baru saja Yesung akan menuangkan wine ke gelasnya, ketika tangan Kibum mencegahnya.

"Kau sudah mabuk. Sebaiknya kau tidur." Kibum menyimpan botol wine itu di belakang tubuhnya. Mencegah Yesung yang ingin merebutnya kembali.

"Emmm~~" Yesung bergumam lagi, dengan alis yang menyatu. Tatapannya tak terlihat fokus dan badannya terhuyung kemana- mana.

"Ya...sebaiknya kau tidur, Yesung-ah...kau sudah..YA!" Kibum terlalu sibuk memberi petuah Yesung, dan tak melihat Yesung sudah menggenggam satu botol wine baru dari nakas.

"berikan padaku...Sini!"

Yesung masih belum mau mendengarkan, ia berusaha menjauhkan botolnya dari jangkauan Kibum dengan separuh kesadaran yang tersisa.

"Geurae...geurae...Satu gelas lagi. Akan aku berikan satu gelas lagi, dan setelahnya kau harus tidur. Kau sudah mabuk berat."

Mendengar itu, Kibum langsung menengadahkan tangannya.

Ia menerima botol wine dari Yesung, dan mengembalikannya ke nakas. Setelahnya ia menuangkan setengah gelas wine ke dalam gelas yang dipegang Yesung di atas meja.

Gleeg, Gleeg..Teeg.

Tak sampai habis wine dari gelas Yesung...Yesung merasa mual. Dia berdiri lagi dari duduknya, dan berusaha meraih gelas wine miliknya...

TEP,

Sebelum ia benar-benar menegak isinya. Tangan Kibum menumpuk tangannya di gelas wine, dan Kibum menegak isinya..

Yesung langsung menatap tak suka pada Kibum. Tapi, sedetik kemudian..Kibum telah, mengunci dirinya di meja Bar dan langsung meraup bibirnya.

"Euumppphh..." Belum lima detik dan lenguhan Yesung lepas.

Mungkin sedikit saja sentuhan Kibum telah bisa membuatnya melayang di setengah kesadarannya.

"Aaaahh.." Bibir Yesung terbelah, karena Kibum menggigitnya gemas. Dan saat itu pula wine yang berada di mulut Kibum disalurkan ke Yesung.

Entah sadar atau setengah sadar, atau bahkan tak sadar sama sekali, Yesung mengalungkan kedua lengannya ke leher Kibum, sedang Kibum terus menekan tubuh Yesung hingga tubuh keduanya benar- benar menempel tanpa celah.

"Eemmh...geu-mmmhhaan..." Yesung berusaha mengakhiri ciuman itu. Ia memandang Kibum sayu, dan dia langsung menunjuk Kibum tepat di dahinya.

"Neo! Neo nappeun namjayo! Neo baboya~~ hehehehehee.."

Mendengar perkataan itu, Kibum menyeringai. Tentu saja. Sekarang Yesung benar-benar berada di alam bawah sadarnya. Mungkin malam ini mereka bisa sedikit bersenag-senang.

"Yesung-ah,," Kibum berbisik. Suaranya ia buat seserak mungkin.

Satu tangannya mencengkeram pinggang Yesung, sedang tangan yang lain mengunci kepala Yesung untuk terus menatapnya.

"Aku dapat memastikan...jika hal ini takkan pernah kau lupakan, meski kau tengah mabuk sekarang."

Hap,

Dengan berakhirnya kalimat itu, Kibum memebawa Yesung ke dalam gendongannya, dan membaringkan Yesung di atas sofa besar di depan TV.

Entah karena dia terlalu banyak minum wine, atau karena Kibum berada d atasnya, Yesung menggeliat gelisah. Suhu tubuhnya meningkat, dan ada sebuah hasrat yang memebuatnya tak mendonrong Kibum menjauh darinya.

"Eunngh..." Punggung Yesung sedikit terangkat ketika Kibum berusa menyelipkan tangannya ke bawah.

"Euummmmph.." Ciuman itu jatuh lagi ke bibir Yesung. Kali ini dia tak menolaknya. Tapi masih butuh beberapa waktu untuk membuat tangannya melingkar tepat di di leher Kibum, sebagai tumpuan tubuhnya.

HAP,

Yesung kembali berada di gendongan Kibum.

"Sebaiknya kita ke kamar saja. Kau terlalu terhormat jika harus melakukan hal seperti ini di sini." Kibum yakin Yesung tak mendengarnya. Karena dalam rengkuhannya, Yesung terus saja bergumam sambil menutup mata.

Kibum mecumbui Yesung lagi setelah ia rebahkan Yesung terlentang dengan dirinya di atas, Ia menuntun kedua tangan Yesung untuk melepaskan kancing bajunya. Sedang ia terus saja merangsang Yesung dengan menyentuh, membelai, meremas gemas sekitar perut, pinggang, dan paha dalam Yesung yang telah tersibak, karena gaunnya yang sedikit terangkat.

Ssssrrttt...

Seperti melepas pakaian bayi yang terentang, Kibum menanggalkan gaun Yesung, dan langsung meraup pusar Yesung. Ia memainkan lidahnya dan menyentuh cerukan itu semangat. Kedua tangannya terus beralih dari dada Yesung, pinggang Yesung, dan sekarang ia telah berhasil melepaskan kaitan bra Yesung dan membuagnya entah kemana.

"Eeeuughh." Yesun mulai menggeliat gelisah, dan Kibum langsung mensejajarkan wajahnya pada wajah Yesung.

"Wae?" Suara serak Kibum membuat Yesung membuka matanya. Mata sayu yang sangat didambakan Kibum. Penuh gairah, penuh nafsu, dan...mungkin seberkas cinta.

"Kau selalu curang." Yesung mempoutkan bibirnya. Ia menunjuk dengan kesal kemeja Kibum yang hanya terbuka dua kancing.

"Mian.."

Teeeg,

Baju itu telah dibuang Kibum sekenanya.

Chu~~~

Bukan lumatan. Kibum menekan bibirnya dalam ke bibir Yesung. Tanda penyesalannya pada Yesung.

Untuk meresponnya, Yesung melingkarkan kembali kedua tangannya ke leher Kibum, dan seketika itu pula kecupan dalam itu berubah menjadi lumatan-lumatan penuh nafsu.

Lidah Kibum menggelitik bibir Yesung, dan mencari celah.

Kibum sedikit menghabiskan waktu untuk benar-benar menjelajahi seluruh rongga mulut Yesung, dan baru menghentkannya ketika Yesung menepuk bahunya.

Ia menurunkan ciumannya sekitar leher dan bahu Yesung. Kibum terus saja melumat, menghisap, dan mengigiti lembut setiap jengkal tubuh Yesung.

"Ki-Kbuumm~~."

Panggilan itu membuat Kibum berhenti dari apa yang dilakukannya. Tapi bibirnya masih menempel di ceruk leher Yesung.

"Sabukmu. Dingin sekali di perutku."

Tanpa menjawab lagi, Kibum membuka pengait sabuknya, melepasnya, dan menaruhnya di nakas.

"Eummpphh..." bibir Kibum menyapu bahu kanan Yesung, dan makin membuat Yesung mendongak dan mendesah.

Wine, Kibum, Mabuk, terlentang di bed. Tak ada yang terasa nyata di pikiran Yesung.

Dan entah sejak kapan, Kibum telah mempersiapkan kejantanannya agar bisa masuk ke hole Yesung.

Satu tangan Kibum menuntun kejantanannya, tangan yang lain berada di samping kepala Yesung sebagai penyangga tubuhnya. Sedangkan kedua tangan Yesung melingkar posesif di sekitar piggang Kibum.

Tatapan mereka bertemu, dan terus saling memandang.

Bahkan ketika Kibum menurunkan ciumannya ke bibir Yesung, mereka masih membuka mata.

"Eump..AAAAaa!" Seketika Yesung mendorong pinggang Kibum menjauh, saat merasakan ada yang berusaha menyeruak holenya.

Kibum menautkan alis.

"Wae? Apa terlalu sakit?" Kibum melepas tangannya dari kejantaannannya, dan menggunakannya untuk memebelai poni Yesung yang berantakan.

Yesung tak menjawab. Dia hanya mengangguk, dan Kibum tau apa yang harusnya ia lakukan.

Kibum tersenyum lembut. Ia megecup dahi Yesung, hidung Yesung, bibir Yesung, dagu Yesung, dada Yesung, turun ke pusar, dan Kibum membelah jelas kedua paha Yesung dan menemukan sebab Yesung berteriak.

Hole yang kering. Itu akan sangat menyakitkan bagi pemula, untuk melakukan penetrasi.

Tanpa menunggu lagi, Kibum mencium bibir vagina Yesung, melumatnya bergantian. Melakukannya seperti sedang mencium bibir Yesung, dan sesekali meyodokkan lidahnya untuk menembus ke dalam vagina Yesung. Ia juga mengigiti gemas klirotis Yesung, dan berhasil membuatnya panas, dan tegang.

"Eeeuummpphh.." tesung meremas rambut Kibum gemas. Ia mendorong kepala Kibum agar terus mencumbui vaginanya, dan memperdalam sodokan lidahnya ke dalam.

Muka Yesung memerah, genggaman tangannya di rambut Kibum menguat, dan wajahnya terus ia dongakkan menahan nafsunya yang maikin memuncak.

Kibum yang tau Yesung hampir berada di puncaknya, Kibum menambah intensitas lumatan dan hisapan di vagina Yesung. Ia terus melesakan lidahnya menggoda hole Yesung, sedang kedua tangannya sibuk meremas buah dada Yesung, dan membelai pinggang dan pinggul Yesung.

"Aaaahhhh..."

Sslrruup...

Yesung memuncratkan hasratnya, dan langsung diterima oleh Kibum dengan mulutnya.

Kibum menelan separuh dari cairan Yesung, dan ia mensejajarakan wajahnya dengan wajah Yesung.

Tatapan mereka sangat dalam satu sama lain. Sangat intim.

"itu menjijikkan." Yesung sedang membahas tentang cairannya yang di telan Kibum.

"Tak ada yang menjiikkan darimu."

Yesung memindahkan kedua tangannya melingkar di leher Kibum, lalu ia memejamkan mata.

Chuuu~~

Yesung langsung membuka mata saat bibirnya bertemu dengan Kibum. Ada rasa yang aneh di bibirnya. Ia lasung menjauhkan bibirnya dari bibir Kibum, dan menautkan alis.

"Jangan menciumku dengan cairan itu di mulutmu. Rasanya aneh." Nada Yesung bukanlah nada yang biasanya Kibum dengar. Ia hampir lupa jika Yesung masih dibawah kendali alkohol.

"Kau akan menikmatinya. Seperti kau menyukai vanilla."

Di akhir kalimat Kibum langsung meraup, dan langsung melumat bibir Yesung. Tak peduli Yesung terus mendorongnya menjauh, Kibum terus saja menyalurkan cairan Yesung ke mulutnya, dan bertukar saliva dengannya.

Ia terus menekan, dan menarik lidah Yesung untuk masuk ke rongga mulutya. Dan membiarkan Yesung benar- benar merasakan cairannya sendiri di dalam mulut yang penuh akan sisa orgasme Yesung, menit lalu.

"Aaaahh." Ciuman itu berakhir dengan benang saliva yang menggantung di bibir keduanya.

JLEB!.

"AAAaaah!" Yesung mendongak dan berteriak.

Ia tak sadar sama sekali jika satu tangan Kibum telah turun, dan tiba-tiba salah jarinya masuk ke dalam hole.

Kibum mediamkan jarinya yang teremas sangat kuat, karena dinding hole Yesung yang tegang.

"Rileks, tenang.." Kibum berusaha menyamankan Yesung dengan keberadaan jarinya. Ia menciumi perut Yesung, dan buah dada Yesung sensual.

Setelah merasa tenang, dia mendekatkan wajahnya ke wajah Yesung dan meraup bibirnya.

Dan bersamaan dengan itu, Dua jari ditambahkan untuk terbenam di hole Yesung...

"EEUMmph." Jeritan Yesung tertahan, Kibum membungkamnya erat dengan bibirnya dan membiarkan sidikit darah mengalir dari sana.

"Eeemmpphha.." Ciuman terlepas, dan Kibum tersenyum lembut pada Yesung.

Ia menggerakkan seikit tiga jarinya di hole Yesung.

Membuat Yesung melenguh kesakitan.

"euummpphh..aaakk.." Masik terasa sakit. Tapi tak membuat Kibum berhenti.

Ia terus menggerakkan ketiga jarinya menerobos hole Yesung dengan perlahan.

"Aah!"Gotcha.

Kibum langsung mempercepat sodokannya dan mengarahkan ke tempat yang sama saat ia mendengar desahan Yesung.

"Aaah...Ahh...Ahh..." Yesung terus mendesah. Suhu tubuhnya makin meningkat drastis, dan ia berkeringat semakin banyak. Sadar entah tidak, Yesung menggerakkan pinggulnya berlawanan arah dengan arah jemari Kibum yang keluar masuk..

"Aaaaaaaahh.." Yesung klimaks untuk kedua kalinya. Kibum mengeluarkan jemarinya, dan mengemutnya, sebentar. Ia langsung memegang kejantanannya, dan bersiap memasuki Yesung.

"Haaaahh..Haaaahhh.." nafas Yesung terengah. Sanagt lelah, tentu saja. Tapi..ia tak merasa sepusing tadi. Sekarang tubuhnya mulai berada dalam kendalinya.

Kibum tersenyum tulus, dan menggoda hole Yesung dengan kejantanannya.

Yesung langsung menatap wajah Kibum. Ia menautkan alis. Dan ketika itu pula Kibum tau, Yesung telah sadar dari mabuknya.

"Kau menggunakan cara licik untuk menyetubuhiku." Satu kalimat yang terlontar sangat dingin. Sangat khas dengan orang yang kecewa, marah, dan meremehkan.

Kibum berhenti bergerak. Benar- benar menghentikan gerakan tubuhnya secara total.

"Wae?" Yesung bertanya sambil memiringkan kepalanya, tetap menatap Kibum.

"Kenapa berhenti. Gunakan saja tubuhku semaumu. Toh kita sudah menikah." Yesung melanjutkan.

Kibum makin terdiam. Ia kaget dengan apa yang dikatakan Yesung padanya.

"Ye-Yesung-ah."

"Teruskan semaumu. Aku baik-baik saja." Yesung mengalungkan kedua tangannya ke pinggang Kibum. Ia menarik tubuh Kibum agar menempel ke tubuhnya, walau gagal, karena Kibum masih membatu dengan posisinya.

Kibum sangat merasa bersalah. Seharusnya ia biarkan Yesung istirahat. Bukan malah memanfaatkan keadaan untuk menyentuhnya.

"A-aku tak bermaksud-" Kalimat Kibum terpotong oleh Yesung.

"apa actingku bagus?" Kibum menautkan alis mendengarnya.

"YA! Kau bertanya padamu, Kim!" Yesung melolot ke arah Kibum yang masih membatu.

"YAAA!" Yesung makin marah, karena merasa diabaikan.

"Aaah..ne~?" Kibum baru tersadar dari pikirannya.

BRRUUKK...

Seketika Yesung mendorong tubuh Kibum menjauh darinya, dan ia langsung memiringkan tubuhnya, membelakangi Kibum yang terlentang akibat ulahnya.

"Kau sangat tidak asik!" Yesung masih gusar. Tapi kalimat itu, membuat Kibum mengerti.

Yesung sedang bermain acting dengannya tadi.

Grreep,

Kibum lagsung membuat tubuhnya merapat dengan Yesung sehadap miring.

Ia menyelipkan satu lengannya sebagai bantalan kepala Yesung dan satunya melingkar posesif di pinggang.

Ia mendekatkan bibirnya tepat di sebelah telinga Yesung dan meniupnya perlahan.

Membuat Yesung menggeliat tak nyaman.

"Acting yang buruk." Kibum mendesis seserak mungkin di telinga Yesung.

"Kau sering berkata dingin padaku." Yesung menjauhkan wajahnya dari Kibum, dan berusaha lepas, Meski tak ada perubahan apapun dari posisi mereka berdua.

"Kau terlalu dingin, kau membuatku takut." Jelas yesung masih menutup matanya.

"Karena itu, kau berusaha membuatku takut dengan bersikap dingin juga?" Kali ini bukan suara serak. Kibum bukan benar-benar bertanya pada Yesung. Ia tau jawabannya. Ia hanya ingin memastikan jawabannya saja.

"Ya. Aku ingin membuatmu takut. Eomma Kim bilang itu pelajaran yang baik untuk anak dingin sepertimu."

"Mianhae." Kibum berujar singkat. Tapi, bagi Yesung..itu sudah cukup untuk membuatnya puas. Kini Yesung berbalik, dan berhadapan dengan Kibum.

"Gwaenchana." Yesung mengangkat satu tangannya untuk membelai wajah Kibum, dan Kibum mentup matanya rapat.

"Aku dididik untuk meneruskan perusahaan. Eomma memang memberiku perhatian penuh dan menyangiku. Tapi, appa akan selalu megingatkanku tentang apapun, dan segala hal yang akan membuatku jatuh dari kehidupan."

"apa appa Kim mengajarimu bersikap dingin?"

"Tidak. Tentu aku memiliki cara sendiri untuk membuat pertahan yang kuat untuk diriku sendiri."

"Kau tak punya teman."

"Tak satupun. Aku lebih tak percaya pada siapapun dibanginkan orang lain." Kibum membenarkan pendapat Yesung tentang dirinya.

"Kau tak percaya padaku?"

"Tidak, mungkin iya. Aku juga tak begitu mengerti." Yesung tak begitu mempermasalahkan jawaban Kibum. Percaya, tidak percaya tidak bisa dipaksakan, keujji?

"Kau itu tampan." Yesung membelai Kibum lagi, kali ini tatapan mereka bertemu dan saling melemparkan senyum.

"Tersenyumlah sedikit, dan bicaralah dengan nada yang tak membuat orang takut, kau akan lebih tampan nati."

Kibum tersenyum mendengarnya. Ia menyentuh tangan Yesung di wajahnya.

"Saat pertama kali melihatmu, kau adalah orang pertama yang membuatku iri. Sejujurnya aku sangat kesal padamu."

"Wae?"

"Aku melihatmu dengan Siwon sedang bercengkrama di dekat danau sekolahmu. Kau tertawa terbahak-bakak, mepoutkan bibirmu, memasang wajah menggoda, tersenyum manis, kau sangat ekspresif. Sedangkan Siwon selalu bersikap seakan dia pelindungmu. Kau seperti permata yang di jaga oleh seorang prajurit."

"Apa yang membuatmu iri? Karena kau melihat aku bermesraan dengan Siwon, setelah kau mendengar kau akan dijodohkan denganku?"

"pertanyaanmu tidak sopan." Kalimat dingin lagi dari Kibum.

Yesung langsung mempoutkan bibirnya. Dan membuang muka. Membuat Kibum tersenyum. Terseyum sangat manis.

"Aku juga ingin memiliki hal seperti itu."

"berwajah ekspresif?" Yesung langsung memotong.

"Bukan. Memiliki sesuatu yang bisa membuat kita nyaman." Mendengar itu, Yesung merasa jawaban Kibum melenceng jauh dari pernyataannya.

"Kau memiliki Siwon untuk berbagi. Kau punya seseorang yang bisa menerimamu, mencintaimu, menghargaimu, dan selalu berada di sampingmu, meski hanya untuk mendengar celotehan tak penting yang biasa kau lakukan pada Siwon."

"Kau membuntuti kami?"

"Bukan itu pointnya, Nyonya Kim.."

"Lalu..."

"Sudahlah. Kau memang tidak cocok berpikir hal-hal yang berat."

Chuu~~~

"Tidurlah." Kibum meminta, dan meraih selimut.

"Ki-Kibum-ssi." Kibum langsung menutup mata mendengar Yesung menyapanya. Kata 'ssi' belum hilang dari belakang namanya.

"heum~?"

"Saranghae~" Chuu~~ Yesung berkata cepat dan mencium pipi Kibum. Ia langsung menunduk dan mengeratkan dirinya ke pelukan Kibum.

"Kau akan terus memanggilku dengan Kibum-ssi?" Kibum membalas pelukan Yesung. Tapi, ia sedang benar-benar menunggu jawaban Yesung.

"Kita baru kenal. Bahkan belum genap satu tahun." Mendengarnya, hati Kibum miris. Ia...bahkan untuk mendapat sapaan akrab, Yesung tak memberinya jalan yang mulus.

"Tapi, kalau kau berjanji membelikanku kura-kura di pulau ini...Aku akan memanggilmu Kibum-ah." Kibum langsung membuka matanya.

Ternyata ini negoisasi. Batin Kibum sedikit lega, sedikit kesal juga, karena dipermainkan.

"Kubelikan tiga kura-kura."

"Kau ingin aku memanggilmu Kibum-ie?" Kibum tak menjawab pertanyaan Yesung. Ia hanya memandang Yesung terus.

"Emmm...bagaimana, ya?" Satu tangan Yesung mengetuk dagu.

Pose berpikir anak kecil. Batin Kibum

"Akan kutambah dua anjing." Kibum menambahkan penawaran.

"Baiklah. Aku setuju!" Yesung langsung berseru. Dan memeluk Kibum erat.

Jadi..harga 'Kibum-ie' hanya senilai tiga kura-kura dan dua anjing. Batin Kibum. Tapi ia tersenyum senang setelah itu. Mereka terlelap tanpa mengenakan busana. Hanya sebuah selimut tebal dan hangat yang menutupi tubuh polos keduanya.

V

V

V

"Ternyata kau baik juga, ya?" Yesung membuka mata pertama kali. Yang pertama dilihatnya adalah wajah Kibum yang terlelap, dan ia merasakan pelukan posesif di pinggangnya.

Satu lengan Kibum pun masih menjadi bantalan kepalanya.

"Bagaimana kabar Siwon-ah, ya?" Tanya Yesung sambil membelai wajah Kibum. Meski ia tau tak akan ada jawaban dari siapapun.

Kibum masih menutup mata, tapi ia tidak tidur. Ia mendengar gumaman yang sangat jelas dari Yesung. Hatinya agak kecewa saat yang pertama di sebut Yesung bukanlah namanya. Tapi..nama Siwon. Mantan kekasihnya.

Perlahan Kibum membuka mata, dan di sambut senyuman dari Yesung.

"Aku mengganggu tidurmu?" Kibum hanya menjawab dengan senyuman. Tapi ada sebuah pertanyaan dalam batinnya. Yesung...apakah masih ada perasaan dengan Siwon? Kau tak pernah mengatakan kau mencintaiku, Yesung-ah.

"Kau pasti mendengarku bergumam. Kau mau menelepon Siwon untukku?" Yesung bertanya to the point.

Kibum tak menjawab. Ia hanya meraih handphonenya di nakas, dan mendial nomor Siwon. Menunggu beberapa saat.

"Yeoboseyo? Kibum-ah?"

Tak ada yang menjawab sapaan Siwon di seberang line. Kibum hanya menatap Yesung, dan Yesung hanya tersenyum melihat Kibum.

Perlahan, Yesung meraih handphone Kibum, dan menekan loudspeaker.

"Yeoboseo, Siwon-ah."

"Yesung-ah?"

"Oo." Jawab Yesung menatap Kibum.

Yesung mengubah posisinya menjadi duduk, dengan satu tangan membawa handphone dan tangan yang lain menahan bedcover agar tetap menutupi dadanya.

"Bagaimana kabarmu? Ini handphone Kibum, keujji?"

"Oo. Aku baik-baik saja. Ini memang handphonenya. Dia sedang di sampingku sekarang." Yesung menjawab enteng.

Tapi tak ada respon dari line seberang.

"Siwon-ah?"

"Ah. Ne. Waeyo?"

"Bagaimana kabarmu? Kau menghilang begitu saja." Kibum tersenyum, miris. Bahkan secara tidak langsung Yesung menyatakan bahwa dirinya pernah bersama Siwon akhir-akhir ini.

"I-itu...hanya perasaanmu saja. Ada proyek di China. Aku harus segera mengurusnya jika ingin berhasil."

"Kau makan dengan baik?" Melihat percakapan ini akan berlangsung lama, Kibum berniat beranjak dari sana. Ia bersiap mengambil celananya, jika tangan Yesung tak langsung mencegahnya.

"Aku makan dengan baik." Siwon menjawab singkat, membuat Yesung mempoutkan bibirnya. Kibum yang melihatnya hanya memasang ekspresi datar.

"Ah..syukurlah. kalau begitu-"

Tuuuttt..tttuutt...tttuuuuttt.

"Gunakan ponselmu sendiri untuk menghubunginya." Kibum berkata dengan dingin sambil merebut ponselnya. Lalu ia kembali merebah dan memejamkan mata.

Chuu~~~

Kibum merasakan sesuatu yang kenyal di bibirnya. Ia membuka mata, dan menemukan Yesung tengan menciumnya.

"Berhenti bercanda. Ini masih jam 6 pagi. Sebaikanya ka tidur lagi, ada sesuatu yang harus ku-"

"Kau cemburu?"

"Tidak." Kau terlalu cepat menjawab. Itu berarti kau cemburu. Batin Yesung, setelah mendengar jawaban Kibum.

Yesung merebah di sebelah Kibum. Ia melingkarkan tangannya utuk memeluk Kibum.

"Kau lulus ujian kedua." Ujar Yesung menutup mata.

To Be Continuoudede ;!

GE +Vhy *BOW*

Mian telat update, Vhy sakit, doakan cepat sembuh, ne?

.

GE's note :

Let me see the different in your love with the pain which you bring now. I love you ^_^. REVIEW?