GUARDIAN & ANGEL
(Chapter 11)
Cast: Super Junior members and others
Disclaimer: Super Junior belongs to SME, and the members belong to themselves EXCEPT HENRY, He is MINE (gaploked by Strings –hey, aku juga strings!)
Warning: genderswitch (so NO YAOI), OOC, Sci-fi, penuh imajinasi abal, typos, dan sodara-sodaranya..
MOKPO!
Disinilah kami. Sebuah kota yang asri namun sarat dengan nilai budaya. Kota yang terkenal dengan sumber daya ikannya di negeri kami, Korea Selatan. Study tour kami tak terlalu berjalan lancar karena banyak pihak-pihak yang secara entah disengaja atau tidak ikut-ikutan hadir.
Zhoumi ahjussi – yang seharusnya masih berbulan madu dengan Liu Xianhua – memaksa ikut karena merasa bertanggung jawab dengan kesehatan dari Kangin.
Ayah Chullie, Kepala Sekolah Kim. Merasa butuh sekali mengawasi anak semata wayangnya itu. Sebenarnya bukan itu alasannya. Beberapa hari yang lalu, Tan songsaenim dan Chullie mengakui bahwa mereka telah bertunangan, dan itu membuat Kepala Sekolah Kim semakin menjaga Chulie. Ada kepercayaan jaman dahulu bila sepasang insan sudah bertunangan, maka yang perempuan harus dijaga sejauh mungkin dari yang laki-laki (lu pikir dipingit, thor? | iya aja, kalik :P)
Dan yang terakhir, Lee Donghae. Orang yang katanya ditunangkan denganku.
Aku masih heran dengan umma. Sepertinya ia menyetujui hubunganku dengan Kangin, kenapa malah jadinya menjodohkanku dengan Donghae ssi?
"Leeteuk ssi. Apa yang kau lamunkan?" ujar seseorang. Bukan, bukan Kangin.
"Aniyo, Donghae ssi. Lebih baik kita ikut dalam rombongan," ajakku.
Ya, Donghae ikut. Ah, lebih tepatnya dia numpang. Asalnya adalah di Mokpo ini dan ia 'numpang' bis wisataku untuk balik ke Mokpo. Karena ada beberapa kursi kosong, makanya Donghae dibolehkan ikut asalkan membayar kompensasinya. Businessman kayak dia kok nggak bisa mbayar. Nggak mungkin banget.
Kami yang sudah sampai di Mokpo bukannya berpisah malah ia menawarkan diri untuk menjadi guide kelasku. Alasannya sih karena ada aku, tapi aku tahu ia hanya ingin mencari perhatian dari gadis-gadis didalam kelasku ini.
Perjalanan kami diawali dari Gunung Yudal yang dilengkapi dengan patung Laksamana Agung Lee Soonshin yang berhasil menghentikan invasi dari pasukan Imjin Jepang tahun 1592. Mengapa aku tahu? Karena aku membaca. Makanya, kawan. Membaca lah! #plak
Aku dah Kangin masih berdiri berdampingan. Ia dibelakangku, benar-benar seorang bodyguard.
Kami berpindah menuju paviliun Yuseongak, sambil mendengarkan dongeng-dongeng tentang Kota Mokpo. Puncak Ildeungbawi pun sangat menarik karena terletak di atas awan dan kabut dari laut, sehingga membuat para turis merasa seperti sedang melayang. Dalam perjalanan turun pun kita dapat berhenti sejenak di Taman Botanikal Tanaman Pribumi, tempat dimana kita dapat melihat tumbuhan langka dari seluruh Korea, dan juga Taman Arca, dimana 41 karya seni pahat artis lokal dan mancanegara dipamerkan di sebuah taman terbuka.
Rasanya sehari pun tak cukup untuk mengitari tempat-tempat ini! Terlampau luas dan tak semuanya bisa aku nikmati dengan sungguh-sungguh.
Setelah panitia merasa bahwa kami cukup puas –padahal kenyataannya belum—kami masuk kedalam bis dan melanjutkan perjalanan menuju hotel tempat kami akan menginap malam ini. Yah, sekarang memang sudah cukup petang dan kami belum menaruh koper-koper kami.
Donghae? Jangan tanyakan soal dia. Dia memiki rumah sendiri yang tiap kamarnya lebih luas dari kamar hotel yang aku dan Chulie tempati ini.
Eh, Kangin mana?
"Hei, siapa namja yang terus-terusan mendekatimu itu? Ia mengincarmu ya?" tanya Chulie saat kami akan ganti pakaian untuk berendam dalam pemandian air panas. Dan aku melupakan kalau Kangin ternyata sudah menghilang dari sekitaranku.
"Namanya Lee Donghae. Ia seorang pembisnis yang juga direktur utama South Sea Hotel. Pernah kah kau dengar nama hotel itu?"
"Tentu saja. Setidaknya untuk sebuah international hotel, South Sea memiliki kualitas yang tinggi. Semalamnya bisa memakan 500.000 won (sekitar 3.500.00 rupiah)!" aku menganga. Semalam sampai 3,5 juta?
"Tapi itu yang kamar eksklusif sih. Yang biasa harganya sekitar 100.000 won (sekitar 700.000 rupiah), lebih sedikit lah.. Hehe," dia meringis, dan aku menganga.
Pantas saja dia jadi sekaya itu. Sekali check in langsung ber jeti-jeti masuk. Ckckck
"Lalu apa hubungannya denganmu?" ia mengembalikan topik. Aku menghela napas.
"Haaah.. Orangtuaku memutuskan untuk menunangkanku dengannya," keluhku.
"APA? TUNANGAN?" dan sebuah kaos kaki yang tadi siang aku pakai dengan sangat muat masuk kedalam mulut lebarnya itu *author dibunuh Petals*.
"Bisakah kau mengecilkan suaramu itu? Bahkan Saekbong songsaenim bisa terbangun karena suaramu!" dan ia mengangguk pelan tanda mengerti.
"Haaah. Bahkan Kangin hari ini terlihat cemberut sekali hari ini. Ia tak secerah waktu awal kami berangkat tadi pagi. Apa ada yang salah dengan caraku memperlakukan Donghae ssi ataupun Kangin?"
Chullie memajukan bibir bawahnya yang sebelah kanan dan melihat kearah langit-langit. Mencari cicak mungkin #plak
"Mungkin saja dia cemburu melihat kau bisa dekat-dekat dengannya!"
"Tapi kami lebih sering bersama ketimbang aku dan Donghae ssi," belaku.
"Dengar. Ketika seorang pria sudah sangat menyukai seseorang, ia akan terus memendam kecemburuan pada orang lain yang dekat-dekat dengan orang yang disukainya itu. Terlepas ia dekat, jauh, sering, jarang, atau apapun alasannya itu," tutur Chullie. Dan aku mengangguk paham.
Mudah-mudahan memang itu.
Hari ini kunjungan kami adalah ke pelabuhan Mokpo. Jangan kira kami akan pulang hanya dalam sehari di Mokpo, ya? Kami saat ini akan mengunjungi tempat-tempat wisata penuh kependidikan di sekitar pelabuhan ini.
Delapan museum dan ruang pameran berjejer di jalan yang disebut dengan "Jalan Budaya Gatbawi." Diantara museum tersebut terdapat, "Pusat Kebudayaan Mokpo," "Ruang Seni Budaya," "Museum Sejarah Alamiah," dan juga "Pusat Penelitian Budaya Maritim Nasional," yang merupakan satu-satunya pusat penelitian bawah laut di Korea yang memamerkan kapal kuno Shinan yang ditemukan karam disekitar perairan Mokpo.
Jalan Budaya Gatbawi juga akan membawa kita menuju "Jembatan Hobaeng" atau juga disebut "Jembatan Naik-Turun" karena pada saat air surut jembatan ini akan turun satu meter, dan pada saat air pasang jembatan ini akan naik menyesuaikan dengan ketinggian air. Jembatan ini menghubungkan kita pada "Plaza Perdamaian," yang terdiri dari beberapa panggung outdoor.
Jembatan yang sangat besar. Disini aku bisa melihat teman-temanku sedang berkencan dengan kekasih mereka masing-masing. Euh, Kangin~ Kau dimana?
Aku berjalan melewati jembatan itu, dan sampailah aku pada sebuah taman luas di seberang jalan. Taman itu sepi. Padahal di jembatan ini sangat ramai.
Aku melihat 2 orang sedang berhadap-hadapan. Salah satunya memiliki postur tubuh yang familiar dimataku.
"Kangin?"
Aku pun mendekat pada kedua orang yang awalnya kukira Kangin itu. Rasanya sangat menyesakkan melihat pemandangan didepan matamu saat ini.
"Kangin... Siapa yeoja itu?"
Setelah lebih dekat, baru aku tahu bahwa itu memang Kangin dan seorang yeoja yang aku tak tahu siapa dia. Yeoja itu terlihat mengenakan sebuah pakaian dari salah satu pegawai di paviliun Yuseongak.
Aku bersembunyi dibalik emak-semak yang cukup banyak. Berusaha menahan gerakan namun mempertajam pendengaran.
"Sudah kukatakan aku tak mengenalmu!" ini suara Kangin.
"Youngwoon! Aku ini pacarmu! Kau 2 tahun menghilang dan kembali namun tak mengingatku?" yang ini suara yeoja. Pasti yeoja sialan itu.
"Pacar? Dengar. Kau yang menarikku ke tempat ini, kau yang menyapaku seakan kita sudah kenal lama saat kemari kami di paviliun Yuseongak. Kau yang memanggilku bukan dengan namaku! Namaku Kangin!"
"Kangin? Nama macam apa itu? Namamu itu Kim Youngwoon! Kau anak dari guru olah raga di SD Yamgeul, SD dekat rumahmu. Kau tinggal disini dan kau besar disini!"
"Aku memang sempat hilang ingatan, namun bukan berarti aku 'Youngwoon'mu yang hilang itu. Lagi pula kalau kau memang pacarku 'dulunya' seharusnya aku bisa menyukaimu kembali meskipun aku pernah amnesia."
"Kau itu Kim Youngwoon! Lihat saja lututmu ada bekas luka sepanjang 10 cm akibat gerusan batu karang. Lalu punggungmu terdapat 10 jahitan karena tergores bambu. Kenapa aku tahu? Karena KAU KIM YOUNGWOON!" ucapnya paksa. Kangin termenung sebentar.
"Seperti yang kau katakan tadi. Kau memang pernah amnesia. Tak apa kau melupakan bahwa kita pernah pacaran, namun hubungan kita tetap sepasang kekasih dan aku tak mau mengelakkan soal itu." Katanya dan tiba-tiba ia berjinjit.
AKU AKAN MEMBUNUH WANITA ITU!
Lancang sekali ia mencium Kangin?
"Oppa. Bila kau ingin tahu lebih banyak tentang masa lalumu, datanglah kemari lagi nanti malam pukul 6 sore. Kupastikan kau akan mengingat semuanya setelah itu," ucapnya lalu berjalan menjauh dari Kangin setelah mencium pipinya. Ck! Nyari mati beneran deh tuh orang!
Kulihat Kangin masih terdiam. Ia menyentuh bibirnya. Matanya menunjukkan kegelisahan. Seharusnya aku tak memarahinya untuk saat ini. Karena ia pasti sedang dalam masa terjatuhnya karena barusaja mendapatkan informasi tentang masa lalu, sesuatu yang takkan pernah bisa ia selamatkan.
"Teuki-ah. Keluar saja. Aku tahu kau didalam sana," ujarnya. Aku yang merasa seperti maling yang bersembunyi tapi ketahuanpun akhirnya keluar.
"Mm, K-kangin... A-ak..,"
"Menurutmu aku harus bagaimana?" belum juga aku menyelesaikan kata-kataku, ia malah bertanya seperti itu.
Aku mendesah pelan dan tersenyum kecil.
"Lebih baik kita kembali ke hotel dan membicarakan itu nanti."
Aku setuju dengan ide itu. Dalam pikiranku masih terbelenggu mengenai keberadaan gadis itu.
Kalau yang dikatakan gadis itu benar adanya, maka keberuntungan untuk Kangin! Ia bisa mengetahui masa lalunya yang suram itu. Dan dapat mengetahui mengapa data dirinya tak tercantum kedalam data genetik milik Bank Genetik.
Tapi ia harus meninggalkanku kalau sudah tahu soal masa lalunya. Berarti ia sudah menemukan keluarganya yang dulu sudah ia tinggalkan. Dibandingkan aku yang baru tinggal dengannya beberapa bulan, keluarganya disini sudah tinggal dengannya selama bertahun-tahun.
"Nona, tak perlu memikirkan itu lagi. Ini masalah saya dan saya yang akan menyelesaikannya," jelasnya.
Kami berdua mengendap-endap melewati penjagaan dari satpam. Agak susah, namun akhirnya kami berdua bisa lolos keluar dari hotel dan menuju taman tadi siang.
Butuh waktu sekita2 20 menit untuk mencapai taman tempat kami – Kangin lebih tepatnya – bertemu dengan yeoja yang katanya kenal dengan masa lalu Kangin. Aku sebenarnya tak mau Knagin kembali ke tempat ini karena besok aku tak tahu Kangin harus memilih siapa. Wanita itu yang mengetahui masa lalu Kangin, atau aku yang saat ini sebagai kekasihnya.
Bukannya percaya diri, tapi seharusnya memang ia bersamaku. Tapi mengingat wanita itu juga memegang kuci masa lalu dari Kangin, tentang mengapa ia tak memiliki data di Bank Genetik, mengapa keluarganya pergi jauh dari Mokpo menuju Seoul, mengapa kedua orang tuanya tak diketahui kabarnya apakah menginggal atau masih hidup, kurasa wanita itu juga ada penilaian lebih untuk bisa dipilih oleh Kangin.
Kami berdua sampai disana dengan perasaan galau. Ia menggenggam erat tanganku yang mulai kedinginan. Kami lupa mengenakan jaket yang lumayan tebal sehingga badan kami sedikit menggigil. Terdengar suara obrolan sehingga kami menunduk untuk bersembunyi.
"Hyukkie ya. Aku bisa menjelaskan soal perempuan itu," ucap seseorang. Kami berdua menunduk sehingga tersembunyi dibalik sesemakan yang kemarin aku gunakan untuk mengintip.
"Tak perlu Donghae-ya. Lagi pula aku sudah menemukan kekasihku yang sudah 2 tahun menghilang itu." Ucap seorang yeoja. Karena tadi siang posisiku seperti ini, jadi aku masih ingat kalau yeoja itu yang tadi siang mengobrol dengan Kangin.
"Beberapa menit lagi waktu pertemuanku dengannya. Kalau kau ingin tahu seperti apa dia, kau boleh melihatnya," tantang yeoja itu.
"Hyukkie ya, jebal.. Aku tak ada apa-apa dengan yeoja itu. Aku berjanji begitu aku mendapatkan informasi tentang kekebalan yang dimiliki gadis itu, aku langsung meninggalkannya dan menikahimu. Rahimmu butuh penguat agar tak keguguran seperti sebelumnya," terang namja lain yang kupercayai adalah Donghae, tunanganku –yang dipaksakan.
Aku menahan Kangin yang hampir menampakkan diri. Saat ini mereka butuh waktu untuk berdua. Aku yakin apa yang mereka bicarakan kali ini sangatlah serius apabila sudah menyangkut-pautkan dengan masalah rahim seorang yeoja.
"Kau mendekati keluarga itu –terutama menjadi tunangan gadis itu—demi mendapatkan rahasia kekebalan darinya?" tanya yeoja yang dipanggil Hyukkie itu.
"Ne! Ini bukti cintaku. Aku tak ingin kehilangan anak kita lagi seperti sebelumnya," jelasnya.
"Dan aku takkan pernah mau menerimanya! Demi apapun, itu namanya mencuri, Lee Donghae!"
"Lee Hyukjae! Aku melakukan ini demi kita, demi anak kita!"
"Tapi dengan cara mendekati perempuan lain! Aku tak suka itu.. Donghae, aku tak suka.. hiks.. aku benci Hae.. Benci.. hiks," ucap yeoja itu. Sepertinya hari ini sangat berat baginya.
"Hyukkie, mianheyo. Jeongmal mianheyo. Aku tak bermaksud membentakmu. Aku berjanji aku akan mendapatkan rahasia itu...," aku tak tahan mendengar mereka bertengkar hanya karena merebutkan kekebalan yang aku miliki. Sebelum ia menyelesaikan kata-katanya, aku langsung mengambil aksi duluan – sepertinya mengagetkan Kangin.
"Akan kuberi tahu rahasia kekebalanku!" ungkapku pada kedua orang yang dalam pikiranku adalah lebih dari sepasang kekasih itu.
"Teuki?" panggil Donghae tak percaya. Kangin secara perlahan bangkit dari rimbunan semak.
"Youngwoonie?" panggil yeoja itu. Cih, panggilan macam apa itu. Dia namanya Kangin, pabo!
"Y-youngwonnie? Jadi anak kasar tak tahu diri ini adalah mantan kekasihmu itu?" Kangin hampir saja melompat dari semak-semak untuk memukul Donghae kalau aku tak menghentikannya.
"L-lalu, apa benar kau akan memberikan rahasia kekebalanmu itu pada kami?"
"Tentu. Aku rasa kalian juga berhak memilikinya." Aku tersenyum pada mereka berdua.
"Kalua begitu, beri tahu aku sekarang!" pinta Donghae terburu-buru.
"Eh, tidak bisa. Kau harus menjawab beberapa pertanyaan dariku terlebih dahulu."
Mereka terlihat tak setuju namun terpaksa setuju. Akhirnya mereka berdua mengangguk.
"Apakah kalian sudah menikah?"
Mereka saling menatap, lalu menggeleng.
"Kalau begitu aku akan memberi tahu kalian, tapi kalian harus berjanji akan menikah dalam waktu 1 minggu dari sekarang!" perintahku. Mereka berdua terkaget-kaget rupanya.
"Apa-apaan itu? Bahkan aku belum melamar Hyukkie dan aku harus menikahinya minggu depan?" teriak Donghae tak percaya. Otomatis wanita disebelahnya cemberut.
"Hae ya! Kau tak mau menikah denganku? Bahkan kua sudah sekali menghamiliku hingga keguguran dan kau masih tak mau menikahiku? Laki-laki macam apa kau ini?"
"Sudah-sudah. Begini saja. Besok kan hari terakhir kami disini. Donghae ssi, kau pergi ke tempat appa setelah kami sampai di rumah. Jelaskan padanya tentang posisimu dan Lee Hyukjae ssi. Kuharap appa mau memahami."
"Lalu kapan kau akan memberikan rahasia kekebalan itu?"
"Kalau appa sudah setuju dengan pernikahan kalian. Lagi pula salahkan dia yang sudah setuju mau bertunangan denganku! Makanya berurusan dengan appa segala," terangku dengan mengaitkan tangan di dada.
"Baiklah. Kurasa Kyuhyun sunbae mau memberiku restu untuk putus tunangan denganmu,"
Bis kami sampai di sekolah. Satu persatu dari kami mulai turun dengan cerita yang tak henti-hentinya terlontar dari tiap bibir. Hari sudah mulai petang dan kami masih harus menunggu appa selesai dair kantor untuk menjemput kami. Eomma tak bisa mengendarai mobil sehingga ia tak bisa menjemput kami. Memanggil taksi hanya membuat kantong kami makin tipis setelah berbelanja oleh-oleh dari Mokpo.
DIN, DIN!
Sebuah mobil minibus berwarna merah elegan berhenti tepat didepan kami, aku dan Kangin, yang sedang menunggu appa. Kaca jendela pun diturunkan. Lee Donghae ssi!
"Mau kuantar? Sekalian meminta restu nih," tawarnya penuh semangat.
"Tentu! Ayo, Kangin!" ajakku padanya yang sejak tadi diam dan termenung. Entah apa yang ia pikirkan lagi saat ini.
Aku berusaha menghubungi appa yang ternyata dalam perjalanan menjemputku. Untung aku memberitahunya lebih awal sehingga ia belum terlanjus sampai di sekolah.
"Kau sudah emnyiapkan kata-kata untuk memutuskanku nanti? Tak membawa Lee Hyukjae ssi sekalian?" tanyaku padanya yang sedang menyetir. Pandangannya lurus kedepan, dan tampak serius sekali. Aku jadi sedikit bersalah sudah bertanya padanya.
"Aku ada rencana sendiri untuk itu," dan mobil kami melaju lebih kencang. Secaepat aku melupakan Kangin yang makin lama semakin tak jelas bagaimana pikirannya sekarang.
*TBC
*Kotak curhat author*
Eaaa.. TBC lagi. Mantep kagak? Muter-muter ya?
Hehe, banyak ide, tapi susah ngeluarinnya. Masak leppi musti dibawa ke kamar-mandi? Kan kagak elit tuh...
Oia, akhirnya disini Hyuk jadi mantan kekasihnya Kangin. Haha, sudah gila saya XD. Trus pake Hyuk keguguran pula? Idenya siapa coba? *ide lu sendiri thor!* hahha
Ya udah deh.. yang RCL yang RCL. :D #kondektur
