Disclaimer, Title, Story, Warning bisa dilihat sendiri di chapter 1 dan chapter 2.
terima kasih atas review yang sudah diberikan! mulai dari chapter ini ke selanjutnya, balasannya bisa dilihat di inbox pm masing-masing karena takutnya malah chapternya teralu panjang. :)
saya benar-benar bersyukur dan berharap reviewnya terus datang dan cerita ini masih selalu terus dibaca. naikin hits ceritanya terus yaa~ :)
banyak yang tanya spoiler di review, tapi saya, ReiyKa, tidak berminat sama sekali untuk memberitahu. biarlah sang misteri menjadi milik sang pengarang hingga cerita itu publish.
daripada banyak bacot dan malah digaplok, mendingan langsung saja.
Shiroi Yuki No Purinsesu wa.
Hatsune Miku terdiam sambil menatap layar ponselnya. Jarinya sibuk bermain di tombol-tombolnya saat dia mengetikkan sebaris pesan lalu menghapusnya lagi. Dia menghela napas dengan bosan. Dia sama sekali tidak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang ini.
Sekali lagi, dia berniat mengirimkan email, mengetik beberapa baris kata, lalu menghapusnya lagi.
Mata biru kehijauannya menatap nama penerima email yang dibatalkannya barusan. Itu email Kaito. Kaito, orang yang paling disukainya saat ini dan sampai kapan pun juga.
Akhirnya, merasa dirinya telah melakukan hal yang sangat bodoh, Miku malah membuka foto-foto di memori ponselnya. Dia menemukan satu foto favoritnya yang diambil saat kencan pertamanya dengan pemuda tampan berambut biru itu.
Foto mereka berdua tidak teralu jelas, gadis itu mengakui. Miku mengambilnya sendiri dengan ponselnya saat itu. Bahkan wajah Kaito terpotong sebagian di daerah hidung ke atas, tapi senyumannya benar-benar terlihat jelas disana.
Senyuman di wajahnya yang tampan. Senyuman yang diberikannya khusus untuk Miku saat itu. Senyuman penuh kebahagiaan.
Miku menarik napas panjang dan menghembuskannya. Dia mencoba membuat dirinya senyaman mungkin dalam balutan gaun putih pendek yang dikenakannya. Rambut panjangnya diurai ke belakang malam itu, supaya tampak serasi dengan gaun formal serta sepatu berhak tingginya.
Gadis itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling, mencoba mencari sesuatu yang menarik perhatiannya dan mampu mengusir rasa kebosanan di hatinya, tapi akhirnya dia sama sekali tidak menemukan apapun.
Anggur. Parfum yang membuat pusing. Wajah-wajah asing yang sama sekali tidak dikenalnya. Suara dentingan kaca saat gelas-gelas tinggi bersentuhan diikuti dengan obrolan berbahasa berat.
"Apa yang sebenarnya kulakukan disini," gumam Miku pelan.
Dia mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi hari ini.
Dia diculik oleh gadis asing berambut pirang yang sangat cantik—diselamatkan Kaito serta Leon—kemudian entah kenapa dan bagaimana caranya Luka diculik.
Miku memijit pelipisnya, berusaha membuat dirinya berpikir rasional. Dia masih mencoba menyusun memori hari ini. Setelah semua kepanikan itu, Meiko yang dibius oleh si penculik dibawa ke rumahnya yang memang kosong karena orang tua Miku sedang dinas ke luar kota.
Meiko sadar dan Miku terpaksa menjelaskan segalanya padanya. Lalu, setelah itu mereka berdua terlibat diskusi tanpa suara dengan ditemani secangkir teh hangat yang sama sekali tidak disentuh.
Setelah itu, tepat pukul sembilan malam, pintu rumah Miku diketuk oleh seseorang dan Meiko langsung mengambil pisau buah yang ada di dekatnya.
"Sembunyi disini dan perhatikan situasi. Kau harus bersiap kabur kalau tamu itu menunjukkan gelagat berbahaya!" perintah Meiko sambil menarik pundak Miku dan mendiamkannya di balik bufet di lantai dua.
Miku mengangguk pelan dan mengamati dalam diam ketika Meiko turun dari tangga dan membuka pintu depan. Seorang laki-laki dengan pakaian formal—sebuah jas hitam serta dasi kupu-kupu hitam di selipan kerah kemeja putihnya—menyambut Miku dan Meiko dengan tenang.
"Sakine Meiko?" bisik laki-laki itu pelan dengan suaranya yang rendah dan berat.
"Ya. Kau siapa?" Meiko balas bertanya. Pisaunya berada di sisi kiri roknya, tidak terlihat dari sisi laki-laki itu.
"Kau tidak mengenalku ya? Seharusnya aku cukup terkenal... hmm... itu aneh."
Mata coklat Meiko mengintip dari balik pintu dan dia bisa melihat beberapa mobil tengah diparkir di depan rumah Miku. Laki-laki itu membawa teman! "Apa maksud kedatanganmu kesini?"
"Hei... hei... kurasa kalian benar-benar agak teralu kasar, menurutku. Termasuk si pengawal bayangan itu sendiri." Tonio tersenyum santai, mencoba mencarikan suasana tegang antara dirinya dan Meiko. "Ah ya, singkirkan pisaumu karena kita tidak membutuhkannya."
Meiko menaikkan sebelah alisnya. Dia cukup terkesan laki-laki itu mengetahuinya. "Kau siapa?"
"Tonio. Kau cukup panggil aku dengan nama itu." Laki-laki itu terkekeh geli. Dia mengelus rambut hitamnya yang tersisir rapi. "Aku kesini karena Hime-sama menyuruhku untuk menjemputmu dan sahabat baik Luka-sama."
Miku yang diam-diam mengintip dari balik pagar lantai dua mulai keluar.
"Hime-sama?"
"Ah... ya..." Tonio memukul dahinya. "Karena kedatangan Hime-sama memang sedikit dirahasiakan ya.. hmm..."
"Jadi, apa kau ada hubungannya dengan penculikan Ojou-sama?"
Tonio mengangkat kedua tangannya. "Penculikkan? Yang benar saja! Itu teralu berlebihan!"
Meiko mengerutkan dahinya.
"Hime-sama hanya sedikit bermain dengan Luka-sama. Tidak ada yang gawat. Hanya bermain. Tidak berbahaya sama..."
Kata-kata Tonio langsung terputus begitu Meiko menendang wajah sisi kanannya dan membuat laki-laki itu terlempar ke luar rumah Miku. Mata coklatnya menatap laki-laki itu tajam. Meiko berjalan mendekatinya dan menarik kerahnya. "Tidak berbahaya katamu? Bagaimana mungkin kau bisa berkata semudah itu? Jangan bercanda denganku, bodoh!"
Tonio mengangkat tangan kanannya untuk memberi sinyal agar pengawal lainnya tidak perlu ikut campur dalam hal ini. "Makanya sudah kubilang, Sakine Meiko-san, ini cuma permainan dari Hime-sama."
Meiko mengangkat tinjunya dan tersenyum dingin. "Permainan kau bilang? Kau lucu sekali kau tahu! Benar-benar lucu sampai rasanya aku ingin membunuhmu!"
"Dengar ya, kau tidak perlu takut. Megurine-sama tidak tahu menahu soal ini dan Luka-sama selamat. Tidak ada yang perlu dibesar-besarkan."
Meiko membanting tubuh Tonio ke tanah dan berdiri. "Dimana Ojou-sama? Dan siapa Hime-sama yang kau maksud?"
Tonio harus menarik napas terlebih dahulu sebelum menjawab karena cengkraman Meiko barusan mampu membuat napasanya sedikit sesak. Dia sudah dengar rumor yang mengatakan pengawal pribadi Megurine Luka adalah seorang gadis yang kuat dengan tempramen tinggi. Seharusnya malam ini Tonio tidak perlu menguji kebenaran rumor tersebut.
"Kediaman keluarga Iroha. Aku datang kesini atas perintah Hime-sama untuk menjemput Sakine Meiko dan Hatsune Miku," jawab Tonio pelan. "Kalian berdua diundang dalam pesta penyambutan Iroha Nekomura-sama."
Dan, akhirnya sekarang, Miku duduk di pinggir air mancur berpahat khas romawai di rumah besar keluarga Iroha.
Tidak ada satu pun orang yang dikenal Miku disini. Bahkan dia sama sekali tidak mengenal nona besar yang mengadakan pesta ini, Iroha Nekomura. Dia memang beberapa kali pernah mendengar mengenai seorang gadis pemilik Ronec, perusahaan elektronik kedua terbesar di Jepang, yang ternyata merupakan sepupu Megurine Luka, tapi itu semua hanya sebatas itu saja.
Sekarang, Miku benar-benar menyesali keputusannya untuk datang kesini. Untuk apa sebenarnya dia datang dan duduk sendirian di pesta mewah ini? Kenapa sepupu tuan putri itu harus mengundangnya ke pesta?
Miku lagi-lagi menghela napas. Dia ingin pulang sekarang, tapi dia tidak tahu bagaimana caranya. Rasanya kalau sampai Miku berjalan mendekati pintu keluar, semua mata akan memberikan tatapan tajam padanya.
Kemudian, di tengah penuhnya pikiran Miku yang sibuk memikirkan jalan keluar, gadis manis itu tiba-tiba mendengar suara nyaring yang menganggu telinganya.
"Kyaa! Ouji-sama sudah datang! Benar-benar terlihat seperti pangeran di negeri dongeng!"
Seorang gadis dengan rambut pink yang digulung ke atas dan pakaian kimono merah muda berlari menyusuri ruangan lalu kemudian menggandeng seorang laki-laki. Miku dapat menebak gadis itu adalah nona besar pesta ini. Dia sama sekali tidak tertarik dan sudah berniat menyibukkan pikirannya lagi lewat ponselnya. Namun, jari itu berhenti tepat di atas tuts ponsel.
Seketika, mata Miku langsung melebar tak percaya.
Pandangan Miku tertuju pada sosok laki-laki yang diajak bicara oleh nona pesta itu. Dengan rambut biru pendeknya serta pakaian layaknya pangeran dari negeri dongeng, laki-laki itu tampak sangat menawan, tampan, memesona, indah. Dan mendadak Miku merasa kalau dia jatuh cinta sekali lagi pada laki-laki itu.
Ya... laki-laki dengan iris mata biru seindah lautan... laki-laki yang amat sangat tampan dan baik hati di matanya... laki-laki yang merupakan cinta pertama dan terakhirnya di dunia ini... laki-laki yang pernah membuat kenangan indah bersama Miku... laki-laki bernama Shion Kaito.
Seketika, tubuh Miku membeku.
Apa yang dilakukan Kaito-kun disini?
"Yaa... berkat bantuanmu aku benar-benar bisa jadi pangeran yang sempurna."
Miku dapat benar-benar mendengar suara lembut Kaito. Dia tidak melihat ilusi. Orang yang berdiri disana benar-benar Kaito!
"Benar sekali!" Sekarang suara nyaring Iroha Nekomura yang memenuhi telinga Miku. "Sekarang sekarang, waktunya sang pangeran mencari putrinya!"
Pangeran? Putri?
"Sang putri sudah menunggu disana!"
Miku menoleh tepat ke arah yang ditunjuk oleh Iroha Nekomura. Seorang gadis memang berdiri disana. Seorang gadis yang benar-benar cantik jelita. Seorang gadis yang memiliki segalanya. Seorang gadis yang dari awal memang selalu membuat Miku resah dari awal.
Seorang gadis bernama Megurine Luka.
Luka berdiri di deretan tangga dengan gaun pink selutut yang sangat pas membalut tubuh seksinya. Rambutnya yang sewarna dengan gaunnya diurai ke belakang dengan korsase mawar menjadi hiasan bandana. Dia terlihat sangat cantik... paling cantik dari seluruh gadis yang hadir di pesta itu.
Benar-benar bagaikan putri dari negeri dongeng tanpa senyuman di bibirnya tentu saja.
"Benar kan? Sang putri sudah menunggu disana!"
Kaito masih diam di tempatnya, membeku di tempatnya sambil menatap Luka.
Apakah Kaito terpesona padanya? Apakah Kaito telah jatuh cinta padanya?
—Tidak!
Tidak boleh! Tidak boleh begitu!
Miku berdiri. Meskipun kakinya lemas, dia harus berdiri. Dia harus berlari ke tempat Kaito dan mengatakan padanya bahwa Miku selama ini masih mencintainya. Selalu. Selalu. Perasaan itu tidak akan pernah tergantikan selamanya. Tidak akan. Tidak akan pernah!
Tapi, tenaga Miku mendadak menghilang ketika dilihatnya bibir Kaito membentuk seulas senyuman lembut dan kemudian berjalan menghampiri Luka dengan sorot mata penuh kelembutan.
Dan gadis cantik, putri dari negeri dongeng yang sudah memaksakan diri untuk datang ke pesta itu, turun dari tangga, mendekati Kaito dengan sorot mata yang terpaku pada sang pangeran.
Ketika akhirnya mereka berdua saling berhadapan, tepuk tangan meriah mulai terdengar. Mereka berdua tampak benar-benar serasi. Seakan-akan sang pangeran memang datang untuk bertemu sang putri. Seakan-akan sang putri memang datang untuk bertemu sang pangeran. Seakan-akan ini semua memang sudah direncanakan dari awal... di dalam buku takdir berjudul cinta.
Semuanya memandang kagum ke arah dua orang bagaikan pangeran dan putri dari negeri dongeng itu. Semuanya terpesona pada aura indah milik dua insan manusia itu. Semuanya terhanyut dalam pesona kebahagian pangeran dan putri...
Sebuah lagu klasik mulai dimaikan oleh kelompok orkestra di sudut ruangan. Alunan biola serta piano mendominasi suasana yang entah kenapa mulai melembut itu.
Kaito mulai membimbing Luka dan mereka berdansa berdekatan. Tangan Kaito memegang tangan Luka seakan takut gadis itu tiba-tiba menghilang. Tangan Luka berada di pundak Kaito, menyentuhnya dengan lembut seakan Kaito tiba-tiba akan hancur begitu saja olehnya. Langkah mereka berdua anggun dan saling mengimbangi. Benar-benar sempurna.
Satu-satunya hal yang Miku rasakan saat itu adalah rasa pedih yang amat sangat tidak bisa ditahannya lagi. Kenapa sepupu tuan putri mengundangnya malam ini? Kelihatannya Miku sudah menemukan jawabannya.
Untuk melihat adegan manis Megurine Luka dan Shion Kaito.
Haruskah Miku tersenyum sambil mengucapkan selamat kepada mereka berdua? Atau Haruskah Miku datang ke tempat pangeran dan putri yang sedang berdansa itu dan memisahkan kebahagiaan cinta mereka?
Cinta? Kaito mencintai Luka? Sudah pasti bukan? Dibandingkan dirinya sendiri, Luka adalah sosok tanpa cacat yang mendekati kesempurnaan. Apalah artinya seorang Hatsune Miku kalau dia harus dibandingkan dengan Megurine Luka?
Tidak ada artinya. Makna Hatsune Miku yang ada di samping Megurine Luka tidak berarti apa-apa bagi Shion Kaito.
Miku mengeratkan genggaman di gaunnya. Sudah cukup bukan? Sudah cukup! Hentikan!
Air mata Miku mulai menggenangi bola mata hijau kebiruan miliknya. Pandangannya mulai mengabur, tapi dia tahu, jauh disana, Kaito masih berdansa dengan Luka, dengan segala macam sorot kelembutan mata mereka.
Kemudian, tiba-tiba seluruh pandangannya berubah menjadi hitam saat dia merasakan telapak tangan dingin milik seseorang tengah menutupi matanya.
"Apa yang kau lakukan disini, Miku-chan?"
Miku kenal suara itu. Suara yang selalu terdengar konyol. Suara yang selalu mengikuti Kaito dimana pun Kaito berada. Suara lembut milik sahabat baik Kaito, Leon.
"Aku... tidak... tahu..." bisik Miku terbata-bata. Dia merasakan tangisannya akan semakin besar. "Nee... Leon... Kaito-kun... dia serasi sekali ya... kelihatan... bahagia..."
Laki-laki berambut pirang halus itu menarik Miku mendekat dan memeluknya. Dia menarik tangan kanannya yang menutupi mata Miku dan menyandarkan kepala gadis itu ke dada bidangnya. "Yang kau lihat hanya sandiwara. Kau tahu itu kan?"
"Tidak... aku... tidak... tahu..."
"Miku-chan?"
"Kenapa... sepupu tuan putri... mengundangku kesini?" bisik Miku dengan suara bergetar. "Untuk menunjukkan bahwa tuan putri itu sudah menemukan pangerannya? Untuk menunjukkan bahwa aku tidak akan pernah bisa kembali ke pelukan pangeran itu lagi?"
"Miku-chan..."
"Kenapa, Leon? Kenapa?"
Leon bisa melihat Kaito dan Luka berdansa dengan indahnya dari belakang Miku. Mereka berdua seakan berada di dimensi lain, di sebuah dunia yang hanya tercipta untuk mereka berdua.
Gadis yang sedang berdansa dengan Kaito saat itu terlihat seperti bukan seorang Megurine Luka. Ekspresi lembut... sorot mata dalam yang hanya tertuju pada Kaito seorang... senyuman tipis di bibirnya... dia benar-benar terlihat seperti sang putri dari negeri dongeng.
Laki-laki yang sedang berdansa dengan Luka saat itu terlihat seperti bukan seorang Shion Kaito. Ekspresi datar... sorot mata tajam dan menawan... dia benar-benar terlihat seperti pangeran dari negeri dongeng yang akhirnya berhasil bertemu dengan sang putri.
Sementara itu, di antara mereka berdua, terdapat gadis cantik yang menangis karena sibuk menyesali keputusannya untuk datang ke pesta dansa sang pangeran dan sang putri.
Leon tersenyum lembut lalu mengeratkan pelukkannya kepada Miku. Sejujurnya dia sama sekali tidak tahu harus mengatakan apa, tapi setidaknya dia bisa memastikan satu hal. Dia tidak ingin melihat gadis di hadapannya itu menangis apapun yang terjadi.
Dia akan melakukan apa saja untuk mencegah air mata bening itu mengalir keluar dari kedua kelopak mata Miku yang indah. Apa saja.
白い雪のプリンセスは
白い雪のプリンセスは
Kaito menatap mata Luka. Luka menatap mata Kaito. Mereka berdua berdansa dalam diam, saling bertukar ekspresi hanya lewat sorot mata. Sesuai rencana Nekomura, mereka berdansa sampai ke taman yang juga sudah dihias.
Ada air mancur besar disana dengan lampu berwarna-warni. Pepohonan rindang berbunga yang juga dihiasi dengan lampu. Suara alunan musik masih terdengar dari tempat itu dengan diiringi bunyi gemercik air dari air mancur.
Mereka sudah tidak perlu berpura-pura lagi sekarang kan? Lantas kenapa tidak ada satu pun yang menjauh dan menghentikan dansa konyol mereka?
Sandiwara sudah usai. Pangeran sekarang sudah bisa kembali menjadi Kaito yang biasanya dan Putri sekarang sudah bisa kembali menjadi tsundere Luka.
Lagi-lagi pertanyaan yang sama. Kenapa tidak ada satu pun di antara mereka berdua yang saling memisahkan diri?
Akhirnya, setelah cukup lama berdansa di bawah taburan bintang, Luka mundur ke belakang dan menarik tangannya dari genggaman Kaito. Wajahnya memerah dan dia mencoba agar Kaito tidak melihatnya. Namun, Kaito sempat melihat semburat itu yang entah kenapa membuat wajahnya terasa panas.
Mereka berdua saling memandang pantulan langit di air mancur. Terdiam tanpa perlu mengatakan apa-apa. Keduanya masih sibuk memulihkan diri dari debaran jantung yang tidak teratur setelah sandiwara singkat mereka selesai.
"Nekomura yang memintamu?"
Akhirnya, suara datar itu terdengar juga oleh Kaito.
"Dia bilang aku harus jadi pangeran malam ini."
"Apakah aku harus menjadi putrinya?"
Kaito sama sekali tidak tahu harus menjawab apa untuk pertanyaan Luka barusan.
"Hatsune Miku kan ya?" bisik Luka tiba-tiba. "Dia adalah sang putri yang ditakdirkan untuk pangeran biru yang ada di sampingku sekarang ini kan?"
"Entahlah. Aku tidak tahu."
Keduanya diam untuk sesaat. Lalu, Luka kembali bicara. "Maaf karena aku melibatkannya dalam permainan bodoh sepupuku."
"Dia baik-baik saja," kata Kaito tenang. Miku memang baik-baik saja tadi siang. Kenyatannya adalah Kaito tidak tahu kalau Miku sedang tidak baik-baik saja sekarang.
"Untungnya penculikkan itu dilakukan oleh Nekomura. Seandainya tidak..." Luka tidak melanjutkan kata-katanya. Baik gadis itu maupun pemuda yang ada di sampingnya sudah bisa menebak apa kelanjutannya.
"Kau juga... terpaksa harus terlibat kejadian seperti ini..." lanjut Luka datar. "Padahal kita bertiga bahkan hanya terlibat percakapan beberapa kali... tapi aku terpaksa melibatkan kalian dalam masalah berbahaya. Lagipula, kau seharusnya tidak perlu menyelamatkanku seperti tadi. Kita hanya dua orang yang kebetulan berada di jurusan yang sama di Utaunoda. Kita sama sekali tidak saling mengenal."
Kaito melirik gadis cantik yang berdiri di sebelahnya. "Apa yang sedang kau coba katakan?"
Luka membuka mulutnya, tapi kemudian dia menutupnya lagi. Seakan semua kosa kata telah hilang dari dalam otak jeniusnya, membuat dia terpaksa bertanya pada hatinya yang tidak bisa menggunakan logika. "Aku... tidak... ingin..."
Kaito masih menunggu dengan sabar kelanjutan ucapan Luka barusan, tapi gadis itu sudah menutup mulutnya lagi. "Tidak ingin apa?"
Mata biru Luka tiba-tiba bertemu dengan mata biru Kaito saat gadis itu menoleh tajam ke arahnya. "Tidak ingin kita memiliki suatu kaitan apapun denganmu!"
"Hah?"
"Malam ini, adalah malam terakhir kita bicara! Aku tidak akan pernah mau berbicara dengan orang sepertimu dan orang seperti pacarmu itu dan orang seperti temanmu yang konyol itu! Tinggalkan aku sendirian!" seru Luka dengan nada tajam. Dia membalikkan tubuh ke tempat pesta dengan anggun dan berjalan pergi.
Sang Putri telah pergi meninggalkan Pangeran sendirian di bawah langit berbintang yang indah.
Kaito menghela napas panjang dan duduk di pinggir air mancur. "Memangnya siapa juga yang mau berurusan dengan tsundere seperti kau?" bisik Kaito. Dia menengadahkan kepalanya menatap langit berbintang. Dia merasa tindakannya malam ini saat menolong tuan putri yang tidak mau berterima kasih itu sudah sia-sia. Seharusnya, sejak awal Kaito tidak usah menolong Luka sekalian saja.
Kesal, tangan Pangeran itu meraih batu dan melemparkannya ke arah semak-semak.
"Aku tidak akan pernah mau berbicara dengan orang sepertimu dan orang seperti pacarmu itu dan orang seperti temanmu yang konyol itu!"
"Siapa yang pacaran denganku?" tanya Kaito pelan pada dirinya sendiri. "Jangan bicara asal kalau kau sama sekali tidak mengerti apa-apa, dasar tuan putri bodoh!"
Kemudian, Kaito mengeluarkan ponselnya yang tadi sempat dia selipkan tanpa terlihat oleh Lily dan menekan satu nomor yang sudah sangat dihapalnya. Dia hanya ingin mendengar suaranya. Dia hanya ingin mendengar suara gadis itu setelah semua yang dialaminya hari ini.
"Miku?" sahut Kaito saat sambungan teleponnya sudah terhubung dengan ponsel Miku.
Ada jeda panjang disana dan sambungan telepon itu langsung diputus.
白い雪のプリンセスは
Cerita ReiyKa soal pembuatan chapter ini:
kalau saya pernah bilang chapter 9 adalah chapter tersulit, maka saya akan menghapus imbuhan ter di kata tersulit karena chapter ini jauh lebih sulit.
mood saya benar-benar dipaksa muncul habis-habisan. dengan sedikit nonton anime tentang hurt-comfort dan ditambah beberapa lagu Gumi Megpoid seperti Aitai dan Anato No Uso, saya akhirnya bisa menyelesaikannya sampai disini.
lagu dansa Kaito Luka itu sebenarnya memang benar adanya. saya pakai lagu yang dibuat oleh Mozart, tapi saya nggak tahu judulnya. lagu itu menurut saya beneran manis dengan ada unsur sedihnya. judul yang ada di i-tunes saya cuma track 2 volume 31. list judulnya ada di rumah saya dan saya sedang dalam keadaan tidak bisa pulang. nanti saya kasih tahu kalau saya sudah pulang ke rumah yaa~
mau update lebih cepat? beri review yang banyak. XD
yap. sampai jumpa di chapter depan.
:dengan berbagai perubahan. 2 Agustus 2011:
