Konichiwa minna-saaaaann! XD Natsu balik lagi dengan chapter 11! XD
Sebelumnya Natsu pingin minta maaf, soalnya telaat (banget) updatenya! DX Urusan dunia nyata membuat segalanya lebih sulit… :'(
Yosh, tanpa basa-basi lagi langsung baca aja! XD
.
.
Disclaimer : Togashi Yoshihiro
Title : To Be With You
Story By : Natsu Hiru Chan
Genre : Romance, & Family—maybe?
Rated : T
Pairing : KuroroXKurapika
Warning(s) : AU, OOC, typo bertebaran dimana-mana, terinspirasi dari sebuah novel, semi-M sometimes, abal, gaje, norak, jelek, ancur, dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin!
Summary : Berawal dari sebuah kesalahan kecil, yang terjadi di Spider Island, Kurapika harus 'tertimpa' bencana besar yang membuatnya harus terjebak dalam kehidupan seorang pria yang bernama Kuroro Lucifer.
.
Don't like, don't read!
.
.
.
Kurapika mengerjap-kerjapkan matanya beberapa saat sebelum terbuka sepenuhnya. Gadis itu merasakan sebersit cahaya yang masuk melalui jendela. Suara burung yang bernyanyi di pagi hari sedikit membuatnya menggerutu, karena memang suara itulah yang membangunkannya dari tidur nyenyaknya.
Gadis itu lalu mengambil posisi duduk, lalu merenggangkan otot-ototnya. Menguap sedikit, lalu menghela nafas panjang. Mata birunya sedikit menelusuri isi ruangan, hingga tertuju pada jam dinding yang menunjukkan pukul enam pagi. Kurapika memicingkan mata. Meski sudah seminggu tinggal di desanya sendiri, ia masih belum terbiasa dengan kehidupan barunya. Tepatnya kehidupannya yang dulu sebelum ia tinggal di kota. Biasanya ia bangun pukul tujuh pagi. Namun di desa anak gadis tidak boleh bangun lewat pukul enam.
Setiap pagi ia mendengar suara para tetangga yang sedang bercengkrama, suara ternak, dan beberapa mesin lewat yang biasa digunakan oleh petani. Berbeda saat ia tinggal di kota, tiada hentinya ia mendengar suara kendaraan yang menghasilkan karbon dan polusi udara, memicu terjadinya pemanasan global.
Kurapika lalu turun dari tempat tidurnya, dan merapikannya. Kemarin ibunya sudah kembali ke rumah, karena sudah baikan, dan Kurapika sangat bersyukur atas itu. Namun gadis itu memutuskan untuk tinggal di desa ini lebih lama lagi. Lagipula ia merindukan ibunya, tetangganya, desanya. Ia juga sangat merindukan kamarnya yang kecil namun nyaman ini. Berbeda dengan kamarnya saat ia mengontrak rumah di Yorkshin dulu, maupun kamar luas yang berada di rumah Kuroro.
Berbicara mengenai Kuroro, Kurapika berharap lelaki itu akan baik-baik saja. Kurapika sudah menelponya sekali, memberitahu bahwa ia baik-baik saja di desa. Gadis itu tak mau repot-repot memberitahu mengenai letak desanya, dan alasannya kesana. Itu urusannya, dan Kuroro sama sekali tak ada sangkut pautnya di sini.
Sesekali gadis itu teringat akan pria muda itu, namun segera ia tepis. Pertengkarannya dengan Kuroro dua minggu terakhir membuat Kurapika sedikit terbiasa dengan 'ketidakadaan' Kuroro. Ditambah lagi, di desa ia harus lebih banyak bekerja. Misalnya saja dalam hal mencuci. Jika di kota ia biasanya menggunakan mesin cuci, di desa Kurapika harus mencuci dengan tangannya sendiri. Hal yang sama berlaku pada pekerjaan yang lain. Kesibukannya itulah yang membuatnya sedikit bisa melupakan lelaki itu.
Setelah tempat tidurnya sudah rapi, Kurapika lalu mengambil tempat, duduk di tepi. Ia sedikit merenung. Sesosok lelaki tampan berkulit putih, dengan tattoo salib di dahinya terngiang di kepalanya. Bagaimana keadaannya sekarang? Mungkinkah Kuroro sudah kembali beraktivitas, mengabaikan ketiadaan dirinya? Atau saat ini lelaki itu tengah dilema, merasa kehilangan?
Kurapika segera menggeleng keras. Ingin rasanya ia membenturkan kepalanya ke tembok, telah memikirkan hal seperti itu.
Tiba-tiba mata gadis itu membelalak, saat merasakan lambungnya seperti terkocok. Ia segera memegangi perutnya dengan satu tangan, dan tangan lain membungkam mulutnya. Segera ia berlari keluar, hendak menuju kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya.
.
.
"Mual di pagi hari itu memang wajar. Tapi kau juga harus tetap menjaga asupan makananmu," Bisca berkata sambil menuangkkan minyak ke dalam wajan, membelakangi putrinya yang kini tengah duduk di meja makan.
Kurapika menghela nafas panjang, menopangkan pipinya pada tangannya. "Aku hanya kesal, setiap aku makan, selalu saja kumuntahkan. Bukankah itu tidak ada gunanya?"
Bisca menuangkan adonan yang sudah dibuatnya ke minyak panas. "Setidaknya lebih baik, daripada kau mual tanpa memuntahkan apapun. Bukankah itu menyiksamu?"
Kurapika hanya merespon nasehat ibunya dengan gumaman tak jelas. Ia sudah terbiasa mengalami morning sick. Ia juga mengatasinya sendiri, mengingat di rumah Kuroro, di kamarnya ada kamar mandi sendiri, membuat Kuroro tak akan menyadari jika Kurapika sedang muntah-muntah. Lelaki itu pernah sekali menanyakannya, namun Kurapika hanya menjawabnya acuh.
"Aku bisa mengatasinya,"
Ia memang berusaha semaksimal mungkin untuk meminimalisir dimana Kuroro semakin memasuki hidupnya, dan Kurapika takut akan hal itu. Ia tak ingin bergantung dengan pria itu. Ia tak bisa membayangkan jika ia akan terbiasa dengan Kuroro, yang selalu berusaha membuatnya seolah 'tak bisa hidup tanpa pria itu'. Kurapika bisa mengerti, lelaki itu melakukannya agar nantinya Kurapika bisa melahirkan sesosok anak lelaki yang tampan, hebat, yang akan meneruskan perusahaan Lucifer di masa depan kelak. Namun lelaki itu terlalu berlebihan menanggapinya. Semakin Kurapika mencoba untuk menghindar, semakin Kuroro berusaha untuk memasuki kehidupannya lagi dan lagi.
Kurapika tak pernah bisa tahu isi hati lelaki itu, namun Kuroro bisa dengan mudahnya membaca pikiran serta emosi Kurapika. Kurapika mencoba untuk menuruti peraturan yang dibuat Kuroro, namun Kuroro dengan entengnya melanggar peraturan yang telah mereka sepakati. Lelaki itu terlalu egois. Situasinya terlalu berat sebelah. Mau bagaimana lagi? Lelaki yang bertanggung jawab atas bayi yang dikandungnya itu merupakan putra pewaris perusahaan Lucifer. Anak yang dididik untuk menjadi sesosok pemimpin yang hebat. Sementara dirinya? Hanya gadis desa yang dibesarkan oleh perempuan biasa. Ia tidak secantik dan sekaya Neon. Ia bahkan tidak bisa masak. Tidak punya banyak teman. Kuroro terlalu bagus untuk bisa seatap dengannya. Hal itulah yang membuat Kurapika senantiasa membangun tembok tebal, melarang Kuroro untuk menuju apa yang ada dibalik tembok tersebut. Mereka hanya terikat perjanjian, bukan ikatan.
Suara piring yang diletakkan di depannya membuyarkan lamunan Kurapika. Gadis itu melihat sepiring dadar (bahasa modernnya pancake) yang masih hangat tersaji di depannya. Dilihatnya ibunya, duduk di dekatnya, tengah memotong-motong dadar untuk dirinya sendiri.
"Ibu yakin, baik-baik saja? Padahal baru keluar kemarin…" Kurapika berucap, sambil mengambil sendok, dan mulai menyantap makanannya.
"Tenang saja. Mungkin ibu hanya merindukanmu, sehingga ibu sakit. Setelah melihatmu, ibu merasa sangat sehat!" Bisca berkata penuh semangat.
Kurapika menghela nafas panjang. Dalam aktivitas makannya, ia mulai memikirkan kapan sebaiknya ia kembali ke Yorkshin. Ia sudah absen sekali untuk mengecek kandungannya, dan Kuroro pasti akan mempermasalahkan ini. Ia juga sudah sudah seminggu tidak belajar dengan guru privatnya. Matanya lalu melirik pada ibunya yang juga sedang asyik sarapan.
Bagaimana wajah ibunya nanti jika Kurapika kembali ke Yorkshin? Apakah wanita itu akan menangis, dan sakit-sakitan lagi? Atau mungkin Kurapika akan tinggal lebih lama lagi. Selain itu gadis itu sedikit mempertimbangkan untuk mengajak ibunya ikut, tinggal bersamanya di kota, di apartemennya yang dulu. Kurapika bisa meggunakan alasan itu untuk pergi dari rumah Kuroro. Lelaki itu memanggilnya atas sikap Kurapika yang ceroboh dan selalu membahayakan bayi yang dikandungnya. Namun dengan kehadiran sang ibu yang mengawasi, hal itu bisa dihindari, bukan? Namun kemungkinan terburuk, jika Kuroro malah mengajak ibu Kurapika tinggal di rumahnya.
"Kurapika, nanti kau jaga rumah ya. Ibu mau ke pasar," suara ibunya menyadarkan Kurapika dari lamunannya untuk kedua kalinya.
Gadis itu sedikit berkedip, tak menyadari bahwa makanannya sudah setengah habis. "Tidak usah. Ibu di rumah saja. Biar aku yang ke pasar," cegahnya.
"Tidak, tidak… Kau sedang hamil Kurapika,"
Kurapika menggeleng kesal. "Ibu sendiri sedang sakit. Biar aku yang ke pasar. Aku juga ingin membeli sesuatu,"
"Kau bisa mengatakan apa yang ingin kau beli. Biar ibu yang belikan,"
"Tidak usah, aku bisa melakukannya sendiri. Ibu istirahat saja di rumah…"
Bisca hanya menghela nafas panjang. Sepertinya kali ini ia akan kalah berdebat dengan putrinya yang keras kepala ini.
.
.
"Ah, Kurapika, kau sudah besar rupanya! Kapan kau kembali?"
"Seminggu yang lalu Bi,"
"Heee… Kenapa kau tidak mampir ke rumah? Bagaimana keadaan ibumu?" wanita berambut biru tua itu berkata, sambil memasukkan ikan-ikan segar ke kantung plastik, dan memberikannya pada Kurapika.
"Aku akan mampir jika ada waktu. Ibu sudah agak siuman…" Kurapika menerima sekantung ikan itu sambil mengukir seulas senyum tipis. "Terima kasih," ucapnya seraya memberikan uangnya. "Aku pulang dulu. Bibi Genueve mampir ke rumah ya,"
Setelah menerima senyuman dari wanita itu, Kurapika lalu berbalik arah hendak pulang. Ia menjenjeng beberapa barang belanjaannya. Jarak antara rumahnya dan pasar berkisar satu kilometer, dan Kurapika sudah terbiasa berjalan kaki dulu. Jadi ia merasa tak terlalu lelah melakukannya. Lagipula tidak selamanya wanita hamil harus bermalas-malasan di tempat tidur. Ada kalanya mereka harus banyak bergerak, utamanya untuk melakukan hal yang bermanfaat.
Gadis itu berjalan dengan santai, menikmati udara segar, serta aroma tanah yang belum disentuh oleh aspal. Sesekali orang-orang menyapanya, dan hanya dibalasnya dengan senyuman tipis. Kurapika memang cukup ramah untuk orang-orang yang dikenalnya di desa, meski tidak, untuk orang-orang di kota.
Setelah perjalanan kurang lebih lima belas menit, akhirnya gadis itu sampai. Namun bukannya masuk kerumah, meletakkan barang belanjaan, lalu beristirahat, gadis itu malah berdiri dengan wajah penuh keterkejutan di depan rumahnya.
Genggamannya pada tas belanjaannya kian mengerat. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Bola matanya hampir keluar dari tempatnya, begitu melihat sebuah mobil sedan hitam yang sangat dikenalnya terparkir di depan rumahnya.
"Ini bohong 'kan…?" ia bergumam tidak percaya.
Bola matanya lalu bergerak mengecek nomor plat mobil mewah tersebut, dan hal itu sukses membuatnya bagaikan tersambar petir di siang bolong. Tanpa pikir panjang ia langsung berlari ke dalam. Ia sempat melihat sepasang sepatu hitam di depan pintu, membuat tali harapannya yang setipis bulu kucing putus seketika.
Dilihatnya seorang pria berambut hitam yang sangat dikenalnya tengah duduk di kursi ruang tamu, bercengkrama dengan Bisca, ditemani secangkir teh. Kurapika membatu di tempat.
Menyadari kehadiran seseorang, kedua orang itu lalu menoleh ke arah pintu, mendapati seorang gadis pirang yang kini terlihat seperti sedang melihat bumi hancur lebur di depan matanya, sambil membawa tas belanjaan yang sejak tadi tak jatuh-jatuh, seperti yang terlihat dalam beberapa adegan di film-film.
"Ah, Kurapika. Kau sudah kembali?" Bisca berkata dengan suara lembutnya, polos tak berdosa. "Ano…" ia nampak ragu, terutama saat mendapati putrinya melotot tajam kepadanya. "Lelaki ini mengaku kalau dia Kuroro Lucifer. Dia ingin bertemu denganmu…"
Pandangan Kurapika lalu tertuju pada orang yang dibicarakan di sini, mendapati lelaki bermata hitam yang diam-diam terseyum penuh kemenangan padanya. Belum sepenuhnya tersadar dari keterkejutannya, Kurapika hanya bisa membuka mulutnya, tanpa mengatakan sepatah katapun.
"Selamat pagi," Kuroro berkata dengan nada mengejek yang tersirat hanya untuk Kurapika.
"S-Selamat pagi apanya!?" Kurapika membentak dengan horror. "Apa yang kau lakukan di tempat ini!? Bagaimana kau bisa tahu desaku!?"
Kuroro melipat kedua tangannya di dada, dan meletakkan satu kakinya di atas lutut. "Perlu kau tahu aku ahli dalam mengumpulkan informasi. Tahu kau ada di desamu, aku … Shalnark langsung mencari tahunya melalui sekolahmu," ucapnya enteng.
Kurapika terdiam. Apakah lelaki ini sudah gila? Melakukan hal yang di luar nalar seperti ini. "Kau gila?" ia mengutarakan pikirannya. "Pulanglah!"
"Kurapika," Bisca angkat bicara. "Kuroro baru sampai di sini. Kenapa kau begitu tidak sopan padanya? Dia tamu di sini…" ucapnya mencoba menenangkan putrinnya.
"Tamu yang tak diundang," komentar Kurapika sinis. Ia menatap lelaki itu super tajam, berharap Kuroro akan pulang karenanya. Namun sepertinya lelaki itu sama sekali tak terpengaruh, dan malah menatap si pirang, menantangnya. Wajah datar itu membuatnya muak!
"Kau tidak boleh seperti itu Kurapika. Kuroro ke sini karena mengkhawatirkanmu!"
'Karangan apalagi yang ia ceritakan pada ibuku kali ini?' Kurapika memutar bola matanya. Ia lalu melangkah, hendak masuk dapur. "Terserahlah. Yang penting kau cepat pulang," ucapnya cuek, tak ingin berargumen dulu saat ini. Lagipula dirinya masih kesal terhadap Kuroro sejak kejadian dua minggu yang lalu, dimana lelaki itu seenaknya saja menghukumnya.
"Aku tak akan pulang tanpa kau,"
Perkataan itu sukses membuat seluruh bulu Kurapika naik menegang. Dengan kikuk ia menoleh ke belakang, menatap Kuroro dengan tatapan tak percaya. Lelaki itu malah mengembangkan senyum, seolah telah melihat jalan kemenangannya.
"Aku tahu kau masih ingin tinggal di sini lebih lama, jadi aku akan tinggal di sini juga sampai kau mau kembali,"
Mendengarnya membuat aliran darah Kurapika terhenti seketika. Bola matanya lalu tertuju terhadap ibunya, yang kini tersenyum ragu kepadanya. Ia menduga Kuroro pasti telah membicarakan hal ini dengan ibunya, dan entah muslihat macam apa yang digunakan oleh pria itu, dengan lugunya ibunya menyetujuinya.
"Dia bisa tidur di kamarmu, dan kau bisa tidur di kamar ibu…"
Dan Kurapika sudah tak sanggup berkata apa-apa lagi.
.
.
"Apa maumu?"
Tatapan tajam dari permata biru muda itu sama sekali tak menggerakkan Kuroro. Lelaki itu malah duduk dengan santai di tepi tempat tidur Kurapika, seraya melepas kaus kakinya, mengabaikan sesosok gadis pirang yang hendak menguburnya hidup-hidup.
Kuroro sudah tahu ini akan terjadi. Bukan hal mudah untuk menemukan desa terpencil seperti ini, namun ia tetap melakukannya. Ia tak peduli Kurapika mau berkomentar apa. Ia hanya ingin menemukan gadis pirang itu. Kuroro tak yakin, kenapa ia melakukannya. Ia hanya…
Mengkhawatirkannya?
Mata hitam itu sedikit bergerak.
'Bayinya, bukan ibunya…' setelah mendengar suara batinnya, Kuroro hanya mengangkat bahu tak acuh. Ia lalu menatap Kurapika yang masih berdiri di ambang pintu, menatapnya setajam silet. Kuroro mengabaikannya, lalu mengambil tasnya, dan mengobrak-abrik isinya. Dikeluarkannya sebuah botol kecil berisi beberapa pil.
"Aku membawakanmu pil dari dokter Miharu," ucapnya tak menjawab pertanyaan Kurapika, meletakkan pil-pil itu di atas meja dengan santai. "Aku juga membawakanmu susu, dan beberapa buku pelajaran…"
Rasanya Kurapika hendak menendang bokong lelaki di depannya itu. Namun menyadari Kuroro memperhatikan hal-hal sedetail itu mengenai dirinya membuat amarahnya sedikit surut. Kenapa lelaki itu datang? Mengkhawatirkannya? Peduli padanya?
Gadis itu menolehkan kepalanya, menggingit bibir bawahnya tanpa tertangkap oleh mata hitam Kuroro. 'Bayinya!' ia berteriak dalam hati, berharap hal itu bisa menghanguskan segala pikiran—yang dianggap—anehnya.
"Kamarmu cukup nyaman. Pantas saja kau betah di sini…" Kuroro berkomentar, menepuk-nepuk guling yang tergeletak di dekatnya.
"Tidak sebagus kamarmu, Tuan Lucifer," Kurapika menganggap hal itu sebagai sebuah ejekan.
Kuroro hanya mengangkat bahu tidak peduli. Saat ini ia malas berdebat dengan Kurapika—meski ia menginginkannya. Ia terlalu lelah untuk melakukannya. Perjalanan jauh ini membuat dirinya hanya ingin terbaring pulas di atas ranjang. Ranjang yang biasa ditempati Kurapika.
Mata Kuroro memicing. Tidur di atas ranjang yang biasa ditempat Kurapika tidur? Lelaki itu mengernyitkan alisnya. Entah kenapa sebuah pemikiran yang tak pernah dipedulikannya selama ini terlintas dibenaknya. Lelaki itu menghela nafas lelah, yang tak pernah ditunjukkannya kepada orang lain. 'Ini bukan diriku…'
"Aku harap kau pulang secepatnya," Kurapika berkata sinis.
"Tidak tanpamu, Kurapika…"
Gadis itu sedikit bergerak. Entah kapan terakhir kali ia mendengar Kuroro menyebut namanya. Oh tuhan, apakah dua minggu bisa terasa selama ini? "Bagaimana dengan perusahaanmu? Kau tak bisa selamanya liburan,"
"Machi yang mengurusnya."
Kurapika hanya mendengus kesal. Tak bisakah lelaki di depannya itu memperlakukan orang lain sebagai 'manusia'? Tidakkah ia merasa berat, melimpahkan beban berat terhadap kakak kandungnya itu? Yah, itulah Kuroro yang dikenalnya. Lelaki tak berperasaan yang berwajah tampan.
"Aku yakin kau tak akan betah di sini. Di sini tidak sama degan kehidupanmu sebagai Tuan Muda," Kurapika berucap, seraya berlalu meninggalkan ruangan itu...
Kuroro hanya mengangkat bahu tak peduli. Ia lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Hidungnya bisa menangkap aroma Kurapika yang sudah sangat dikenalnya. Lelaki itu menarik nafas dalam-dalam, menikmati aroma itu. Ranjang Kurapika berukuran sepertiga dari ranjangnya, membuatnya tak bisa bergerak bebas. Namun itu tak menjadi masalah baginya, mengingat Kuroro bukan tipe yang banyak bergerak saat tidur.
Perlahan kelopak matanya mulai terpejam, menutupi permata onyxnya. Mungkin ia butuh sedikit istirahat.
.
.
.
"Ibu! Ibu sedang masak apa?"
"Sup labu. Ibu yakin kau akan menyukainya!"
"Heee! Kalau begitu aku boleh membantu?"
"Tentu. Kau bisa memanggil ayah dan Machi. Makan malam sudah siap!"
"Eh? Ibu yang menyiapkan segalanya?"
"Tidak, tidak… Ibu hanya membuat sup. Sisanya dikerjakan pelayan,"
"Ibu payah,"
"Kuroro. Darimana kau belajar kata seperti itu?"
"Machi selalu mengataiku begitu!"
"Kuroro… kau itu masih 5 tahun. Kau tidak boleh mengatakan hal seperti itu. Dan juga, Machi itu lebih tua tiga tahun darimu. Hormatilah dia sedikit!"
"Iya bu…"
.
Kuroro terbangun oleh aroma sup yang menggugah selera. Lelaki itu mengerjap-kerjapkan matanya, mengambil posisi duduk. Tatapannya tertuju pada jam dinding yang menunjukkan pukul satu siang. Ia sedikit mengangkat alisnya. Selama itukah dia tidur?
Ia lalu turun dari tempat tidur Kurapika, hendak keluar untuk membasuh wajahnya. Rumah Kurapika cukup kecil, jadi mudah baginya untuk menjelajahinya demi menemukan kamar mandi.
Dengan lancang Kuroro berjalan santai, hingga ia sampai ke dapur. Dilihatnya sepasang ibu dan anak di sana. Si ibu sedang sibuk dengan peralatan dapur, memasak. Sedangkan si anak nampak mempersiapkan piring, dan peralatan lainnya.
"Sudah bangun?" ucap Bisca basa-basi saat menyadari kehadiran Kuroro. Kurapika sejenak menatap lelaki itu, lalu kembali dengan aktivitasnya. "Kamar mandinya ada di situ. Aku sudah mempersiapkan makan siang…"
Kuroro hanya tersenyum tipis, lalu melangkah santai, melewati Kurapika begitu saja. Ditutupnya pintu kamar mandi, dan dibasuhnya wajahnya dengan air. Kuroro melihat pantulan wajahnya di cermin. Sesosok pria dengan wajah datar tanpa emosi.
'Mimpi sial,'
Diambilnya handuk yang tergantung dekat sana, dan mengeringkan wajahnya. Alat-alat mandi yang tergeletak tak jauh di dekatnya menarik perhatian Kuroro. Ia tak pernah tahu apa isi kamar mandi yang ada di kamar Kurapika, di rumahnya. Lelaki itu tak mau ambil resiko meski ia penasaran dengan aroma wangi Kurapika. Gadis itu sungguh harum, meski ia tahu bahwa Kurapika tak pernah memakai farfum. Kuroro sudah sering mencium aroma parfum mahal dari kariawan, atau rekan kerjanya. Namun dia jauh lebih menyukai aroma Kurapika yang natural.
"Orange mint?" ia bergumam entah pada siapa, melihat sabun cair yang dipegangnya. Ia hanya mengukir senyum, meletakkan benda itu pada tempatnya, dan keluar.
Tanpa diperintah Kuroro lalu mengambil tempat duduk di depan Kurapika, sedangkan Bisca berada di samping putrinya. Nampaknya Ibu dan anak itu menunggunya. Dilihatnya raut wajah gadis di depannya, yang kini memasang tampang sebal.
Kuroro tak bisa memprediksi sampai kapan mereka akan seperti ini. Memang salahnya. Ia yang terlalu egois, memperlakukan Kurapika seenaknya. Namun ia melakukannya karena dia peduli. Peduli dengan Kurapika, serta bayi yang dikandungnya. Bisakah gadis itu sedikit mengerti dan berhenti bertindak egois?
Aroma sup didepannya menarik perhatian Kuroro. Sup labu. Alis lelaki itu mengernyit. Sup itu mengingatkannya terhadap mimpi yang dialaminya barusan. Rekaman masa lalunya, saat dirinya masih berusia lima tahun. Saat ia masih bisa memeluk ibunya sesuka hati. Oh sial! Andai ia tahu mimpi itu akan datang, mengingatkannya terhadap wanita yang sangat dibencinya, Kuroro tak akan pernah mau untuk tidur.
"Kau tidak suka labu?" teguran ibu Kurapika membuyarkan lamunan Kuroro.
"Tidak, aku suka," Kuroro berucap seraya menyendok sup itu ke dalam mangkukknya, bersikap acuh terhadap gadis yang kini menatapnya kesal atas sikap angkuhnya.
.
.
"Ini selimutmu. Jika kau ada perlu lakukan sendiri. Ingat, ini tak seperti di rumahmu!" Kurapika menyerahkan sebuah gumpalan kain tebal bergaris putih kecil yang didominasi warna biru kepada lelaki bersurai hitam yang kini tengah duduk di tepi ranjang.
"Terima kasih," Kuroro menerima selimut itu dan meletakkannya di sampingnya. "Ngomong-ngomong, aku memperlakukanmu dengan baik saat kau tinggal di rumahku. Dan kau berperilaku sebaliknya," Kuroro mengajukan protesnya.
Kurapika mendengus. "Dulu kau memaksaku untuk tinggal di rumahmu. Dan sekarang kau datang ke rumahku tanpa diundang. Satu-satunya yang egois di sini adalah kau," ia ingin melanjutkan 'lagipula kita sedang bertengkar, jadi tak mungkin aku baik padamu,' namun Kurapika menahannya. Ia tak ingin malam ini dihabiskannya dengan bertengkar bersama pria itu. Lagipula Ibunya pasti khawatir melihat putrinya bertengkar dengan seorang pria berusia sembilan tahun lebih tua darinya. Ditambah dengan suara berisik mereka yang akan mengganggu tetangga.
Kuroro menghembuskan nafas lebih banyak dari biasanya. Sungguh, ia benar-benar muak dengan sikap Kurapika yang kian mendingin padanya. Apa benar ini semua salahnya? Seharian ini gadis itu hanya bersikap cuek terhadapnya. Hanya ibu Kurapika yang mengajaknya mengobrol. Beberapa kali Kuroro mendengar bahwa Bisca mencoba untuk meminta Kurapika agar berhenti bersikap seperti itu, namun tentu saja Kurapika membantahnya dan mereka terlibat perdebatan kecil.
Kuroro tak bisa membantahnya. Ia merasakan kesepian tanpa Kurapika dan ucapan tajamnya. Kesepian yang dalam. Selama seminggu lelaki itu 'mengurung' Kurapika, dan ia memaksa dirinya tak berbicara terhadap gadis itu. Ditambah saat mendengar kabar bahwa Kurapika lari dari rumah bersama seorang lelaki bernama Leorio, lelaki—yang dianggapnya—pengganggu yang menyebabkan semua ini terjadi.
Alis Kuroro mengernyit. Tunggu dulu… Sejak kapan ia menjadi kekanak-kanakan begini. Ia memang memiliki sifat egois, namun ia pandai membuatnya tidak terlihat seperti itu. mungkin pertemuannya dengan Kurapika telah merubah segalanya.
"Baiklah. Aku menyerah. Aku minta maaf,"
Butuh beberapa detik untuk Kurapika memahami maksud dari kalimat yang baru saja dilontarkan oleh Kuroro. Gadis itu mengerjap beberapa kali, menatap pria di depannya dengan tatapan tidak percaya.
"Kita tak bisa selamanya begini. Tidak baik untuk kandunganmu. Kita terikat kontrak, bukan? Jadi cobalah untuk membuang sifat egoismu demi bayimu. Aku pun juga akan melakukannya," Kuroro melanjutkan
Kurapika merasakan sebilah silet mengiris sesuatu yang ada dalam dadanya, membuatnya perih. Gadis itu mengalihkan pandangannya ke samping, menatap sesuatu entah apa itu, yang penting bukan mata Kuroro. Ia takut dirinya akan terjerat dalam sorotan mata hitam tak berdasar itu, jika ia terus-terusan nekat memandanginya. Ia ingin bercermin, melihat bagaimana raut wajahnya saat ini. Kekecewaan? Untuk beberapa saat, gadis itu melupakan istilah 'kontrak' yang mengubah hidupnya. Dan saat Kuroro mengungkitnya membuat hatinya teriris.
Kurapika memejamkan mata untuk beberapa saat, lalu kembali menegakkan kepalanya, menatap mata Kuroro tanpa keraguan. Untuk waktu beberapa detik gadis itu telah berhasil membangun kembali tembok pertahanannya yang sempat hampir runtuh. Kuroro benar. Mereka terlibat kontrak; Kurapika bertanggung jawab melahirkan bayinya—dan Kuroro dengan selamat, dan lelaki itu yang mengurusnya. Ia harus lebih menggunakan logikanya dibanding emosinya saat ini, sama seperti yang dilakukan pria itu.
Ah, tidak! Kurapika menggeleng dalam khayalannya. Sepenuhnya menggunakan logika. Ia harus membuang emosinya, perasaannya.
"Aku mengerti. Aku juga minta maaf," akhirnya ia berkata tanpa menyadari rasa lesu dibalik suaranya.
Kuroro mengangkat sudut bibirnya, mengukir seulas senyum tipis. Senyuman itu membuat jantung gadis di depannya berhenti berdetak untuk sepersekian detik. "Kau sudah meminum susumu?" ia bertanya, bukan bermaksud untuk mengobrol. Ia hanya ingin memastikan.
"Belum…" Kurapika memegang sikunya. "Aku akan meminumnya nanti…" ucapnya sambil menatap lemari di sampinynya dengan tatapan kosong.
"Hmmm…" Kuroro hanya bergumam merespon ucapan Kurapika. Ia lalu mengangkat kakinya naik ke tempat tidur dan menutupinya dengan selimut. "Kalau begitu selamat malam. Pastikan tidurmu cukup…"
"Selamat malam,"
Blam…
Setelah Kurapika meninggalkan ruangan itu baru Kuroro merebahkan dirinya ke kasur dan menarik selimut hingga menutupinya dari ujung kaki sampai dada. Lelaki itu mengangkat satu tanganya dan menaruhnya di dahi, merenungkan ucapannya barusan, memastikan tak ada perkataannya yang salah.
Percakapan barusan sungguh singkat, namun membuatnya sangat lega. Rupanya memang dirinyalah yang harus meminta maaf duluan untuk menyelesaikan masalah ini. Kuroro menolak untuk mengutarakan bahwa ia merindukan Kurapika. Ia memilih untuk mengungkapkan hal yang lebih rasional untuk menyelesaikan masalah ini. Dan perasaannya ini—menurutnya—benar-benar irasional.
Lelaki itu bisa menangkap raut kekecewaan di wajah Kurapika tadi, dan ia mengerti akan hal itu. Ia sadar bahwa gadis yang sedang dihadapinya itu masih berada di usia remaja, dimana anak-anak pada usia mereka selalu berpikir jauh, lebih jauh dari kenyataan yang ada. Yah, meskipun Kurapika selalu bertindak lebih dewasa dibanding usianya yang sebenarnya.
"Setidaknya masalah ini selesai," ucapnya acuh, lalu mencoba untuk memejamkan matanya.
.
.
Bisca menatap punggung gadis yang berbaring membelakanginya dengan tatapan bingung. "Kurapika, kau sudah tidur?"
"Ya, aku sedang bermimpi indah sekarang,"
Wanita itu tertawa kecil mendengar ucapan putri semata wayangnya. "Bagaimana perasaanmu? Maksudku kau tidak merasa mual atau yang lainnya?"
"Aku baik-baik saja…"
Sejenak Bisca mengukir senyuman lembut penuh keibuan. "Kurapika… Kupikir kau harus berhenti bersikap seperti ini. Berbaikanlah dengan Kuroro. Ibu tahu dia pria yang baik,"
Ada keheningan yang cukup lama baru Kurapika merespon ucapan ibunya. "Kami sudah baikan. Baru saja,"
"Eh? Benarkah?" ucapan Kurapika membuat Bisca bangkit, setengah berbaring, menumpukan tubuhnya pada sikunya. Kurapika hanya diam, tidak bermaksud untuk mengatakan apapun lagi. Sungguh, kata 'benarkah' itu sama sekali tak membutuhkan jawaban apapun.
Namun wanita itu merasakan keanehan dari suara Kurapika. Biasanya gadis itu berbicara dengan nada datar, terkendali, dan berwibawa. Namun sejenak… Ia mendengar seorang gadis remaja yang baru memasuki masa pubertas. Tersirat kesenduan yang sangat jelas (bagi seorang ibu) dari nada bicara putrinya, meski ia tak yakin orang lain bisa menyadarinya.
"Kurapika?" Bisca meraih bahu Kurapika dan menariknya sehingga ia bisa melihat wajah gadis itu. Mata birunya sedikit membelalak, begitu mendapati genangan air pada sepasang mata biru yang bukan miliknya.
"Kau kenapa?" tanyanya penuh kekhawatiran.
"Aku…" suara gadis itu terdengar serak. "Aku tidak tahu…" Bisca menemukan kejujuran dari nada bicara gadis di depannya itu.
Untuk pertama kalinya ia menemukan raut wajah seperti itu dari Kurapika. Raut penuh kekecewaan, seperti gadis yang sedang patah hati ditinggal kekasihnya. Selama ini Kurapika yang dikenalnya adalah gadis yang kuat. Gadis cantik dengan senyuman manis, meski ia jarang memperlihatkannya. Gadis yang terlihat dewasa, membuat siapapun yang melihatnya pasti berpikiran bahwa perempuan pirang itu merupakan gadis yang kuat, baik secara fisik maupun mental.
Ditatapnya gadis itu dengan tatapan sendu dan prihatin. Ia tak tahu apa yang terjadi antara putrinya dan Kuroro, namun ia bisa menduganya. Percayakah kau tentang insting seorang ibu? Sejenak ia berpikir, semengerikan apa lelaki bernama Kuroro itu, sampai-sampai bisa merobohkan dinding tebal tak tertembus yang terbangun di hati Kurapika? Bahkan, mantan suaminya yang sangat kejam itu tak bisa menghilangkan tatapan tajam dari Kurapika. Disaat dirinya tengah menangis tersedu-sedu, putrinya itu malah menatap sang ayah dengan tatapan seolah ingin membunuhnya. Gadis kecil enam tahun itu. tatapan membunuh.
"Ayo kemari..." diraihnya tubuh putrinya yang sebanding dengan tubuhnya itu, dan memeluknya dengan lembut. Ia mengusap-usap belakang kepala Kurapika, mencoba membuat putrinya senyamman mungkin. Kurapika hanya menyandarkan dahinya pada dada ibunya, diam tanpa kata.
Hanya keheningan yang menguasai kamar itu, hingga keduanya dikalahkan oleh rasa kantuk.
.
~TO BE WITH YOU~
.
Kurapika membenamkan wajahnya pada lipatan tangannya saat dia duduk di kursi makan, merasa lelah. Ia baru saja memuntahkan isi perutnya dipagi hari. Itu merupakan hal yang wajar, namun yang membuatnya heran, biasanya setelah muntah, ia akan merasa baikan. Namun saat ini dunia seolah berputar.
Gadis itu mencoba menegakkan tubuhnya, berusaha memulihkan dirinya. Ia lalu berdiri, hendak mengambil air putih, namun tiba-tiba pandangannya memburam, dan keseimbangannya langsung hilang.
"Kau baik-baik saja?" gadis itu tak merasakan sakit pada bagian bokongnya saat seharusnya ia terjatuh di lantai yang dingin. Ia merasakan sepasang tangan kekar menahan tubuhnya dari belakang, mencegahnya jatuh.
Harusnya Kurapika segera bangkit, mendorong pria yang baru bangun tidur itu dengan wajah merah yang memalukan karena jarak sedekat ini. Namun ia tak bisa melakukannya. Sakit kepala menguasai dirinya. Ia bisa merasakan dada Kuroro menahan kepalannya, serta aroma maskulin yang alami dari pria itu.
"Aku pusing…" Kurapika mengutarakan keluhannya. Ia berusaha untuk menjauhi Kuroro, dan berjalan menuju kursi makan dan duduk di sana, tanpa menyadari satu tangan Kuroro menggenggam erat sikunya, berjaga-jaga jika gadis itu kehilangan kesadaran.
Melihat posisi Kurapika sudah aman di atas kursi, Kuroro lalu mengambilkan segelas air dan memberikannya kepada gadis itu. Kurapika tanpa protes apapun menerima air itu, dan langsung meneguknya habis.
Ia menghela nafas panjang. Ia merasa sedikit lebih baik sekarang. Kurapika merasakan tubuhnya sangat ringan, seolah hal itu bisa membuatnya melayang. Matanya setengah terbuka.
"Bagaimana?" suara Kuroro kembali menyadarkannya.
"Aku baik-baik saja…" Kurapika mencoba terdengar sebaik mungkin. Ia tak ingin membuat Kuroro khawatir. Khawatir kepada bayinya tentunya.
"Wajahmu pucat…" Kuroro menempelkan telapak tangannya pada dahi Kurapika, dan ia merasa cukup lega menyadari bahwa gadis itu tidak demam. "Kau ingin makan sesuatu?"
"Tidak, aku mungkin akan memuntahkannya lagi…"
"Setidaknya perutmu tidak bisa dibiarkan kosong,"
Kurapika mendengus. Jika seperti ini Kuroro pasti akan terus mendebatnya hingga ia mau mendengarkkan ucapan pria itu. "Aku akan melakukannya nanti. Lagipula Ibuku masih tidur, dan bahan makanan sudah habis. Aku akan ke pasar nanti…"
"Di mana pasarnya?"
Pertanyaan itu malah membuat Kurapika mengangkat sebelah alisnya. Ditatapnya lelaki itu dengan tatapan bingungnya yang sayu. "Haruskah kau se-penasaran itu?"
"Biar aku yang melakukannya,"
Untuk beberapa detik, rasa pusing yang menguasai Kurapika menguap entah kemana. Gadis itu membuka mulutnya, menatap lelaki di sampingnya itu dengan tatapan tidak percaya. Apa maksudnya? Kuroro Lucifer? Ke pasar? Sepertinya hal itu bisa menjadi lelucon terburuk sepanjang masa.
Melihat ekspresi gadis pirang itu membuat Kuroro mengernyit tidak senang. "Jangan kau pikir aku tak bisa melakukannya,"
Yah, Kurapika memang berpikir seperti itu.
Tak melihat respon positif dari Kurapika, Kuroro hanya menghela nafas pendek. "Terserah kau lah," ucapnya lalu meninggalkan ruangan itu.
Kurapika mengangkat sebelah alisnya menyaksikan kepergian pria itu. Apakah Kuroro marah? Hanya karena masalah itu. Oh, jangan lagi! Mereka baru berbaikan semalam, dan kenapa lelaki itu harus marah hanya karena hal sesepele itu? Kurapika mendengus sebal, dan membaringkan kepalanya pada meja makan.
Ia terlalu pusing untuk memikirkan itu semua. Dielusnya perutnya yang agak buncit, berharap hal itu bisa menghilangkan kunang-kunang yang sedari tadi menari di sekitar kepalanya. Rasa kantuk mulai meguasai dirinya, membuatnya terlalu lelah, untuk sekedar berjalan menuju kamar ibunya untuk melanjutkan tidurnya kembali.
Beberapa menit kemudian suara langkah kaki dan aroma yang sangat dikenalinya membuat Kurapika terbangun kembali. Ia menatap ke sumber, mendapati seorang pria tampan dengan celana jeans hitam dan kemeja hitam kotak-kotak berjalan ke arahnya. Kurapika menyipitkan matanya bingung. Beberapa menit yang lalu ia melihat Kuroro masih dalam balutan piyamanya. Namun Kurapika terlalu mengantuk untuk bergerak, bahkan untuk membuka mulutnya.
Dirasakannya sebuah benda dingin menyentuh dahinya, membuatnya merasa nyaman. Tiba-tiba Kurapika merasakan tubuhnya terangkat, dan ia pun jatuh terlelap sebelum sempat mengajukan protes.
.
~TO BE WITH YOU~
.
Kuroro membuka piyamanya dan menggantinya dengan pakaian biasa. Tak butuh waktu yang cukup lama untuk melakukannya. Lelaki itu bahkan tak mau repot-repot untuk bercermin, melihat kondisi wajahnya sekarang. Ia lalu mengambil dompet serta ponselnya, hendak keluar dari ruangan itu.
Baru saja ia akan keluar, namun merasakan ponselnya bergetar membuatnya berhenti. Kuroro lalu mengangkat telponnya, tepat setelah melihat nama Machi tertera di sana. "Ada apa?" ucapnya tanpa basa-basi.
"Kapan kau pulang!? Aku sudah muak mengurusi pekerjaanmu di sini!"
Kuroro memasang ekspresi bosan. Ia sudah menduga kakak perempuannya itu cepat atau lambat akan menghubunginya, entah untuk menanyakan kabar Kurapika, atau memprotes tentang tanggung jawab yang diterimanya dari sang adik yang egois. "Aku juga tidak tahu. Kau tahu sendiri 'kan, aku akan pulang bersama Kurapika…"
"Ohya, bagaimana dengan Kurapika? Dia baik-baik saja 'kan!?"
'Dia bahkan tak menanyakan kabarku,' Kuroro mendengus. "Ya, dia baik-baik saja," ucap Kuroro berbohong. Ia terlalu malas untuk mengatakan bahwa Kurapika sedang tidak baik sekarang. Ia sedang tak mau mendengar omelan, nasehat, serta arahan kakaknya saat ini.
"Baguslah… Ngomong-ngomong aku sudah lelah di sini. Lagipula aku ada studi di Eropa! Pulanglah!"
"Bersabarlah sedikit lagi… Kau akan terbiasa," Kuroro berucap tanpa perasaan. "Sudah ya, jaringannya sedang tidak bagus," Kuroro memutus telponnya dan segera me-nonaktifkan ponselnya. Ia tak ingin wanita itu terus-terusan menelponnya selama 'liburannya' di sini.
Ia lalu keluar dari kamar Kurapika dan segera menuju dapur. Didapatinya Kurapika membaringkan setengah tubuhnya di atas meja.
Menyadari kehadirannya, Kurapika menoleh, menatapnya dengan tatapan lesu. Kuroro lalu berjalan, dan menyentuh dahi gadis itu dengan telapak tangannya. Bola matanya bergerak. Suhu badan gadis itu sudah mulai naik. Jika tak ditangani dengan cepat Kurapika bisa saja terserang demam.
Tanpa pikir panjang Kuroro lalu menyelipkan satu tangannya ke belakang lutut Kurapika, dan satunya lagi ke punggung gadis itu dan mengangkatnya. Alis Kuroro mengerut, merasakan Kurapika menjadi lebih ringan dari terakhir kali ia menggendongnya. Apakah karena pertengkaran mereka, sehingga tidak ada yag memperhatikan asupan gizi gadis itu?
Kuroro mengabaikan segala dugaannya, dan meninggalkan dapur itu menuju kamar Kurapika. Dibaringkannya tubuh gadis itu di ranjang yang sudah dirapikannya sejak ia bangun, dan menutupi tubuh Kurapika dengan selimut. Sekali lagi ia menyentuh dahi Kurapika, dan merasakan suhu yang sama saat ia melakukannya di dapur tadi.
Kuroro pun segera meninggalkan ruangan itu, menuju tempat yang tak pernah dikunjunginya seumur hidupnya. Pasar tradisional.
.
~TO BE WITH YOU~
.
Kurapika menatap makanan yang tersaji di depannya dengan tatapan takjub, begitu pula dengan ibunya yang duduk di depannya. Kedua perempuan itu lalu menoleh kepada lelaki berambut hitam yang duduk santai, tersenyum penuh kepuasan.
Nasi, sup, ikan, daging, bahkan makanan penutup pun tersaji menggiurkan di atas meja. Kurapika sudah mengetahui bahwa Kuroro pandai dalam hal memasak, namun tidak menduga akan sepandai ini. Selain itu yang membuatnya takjub ialah kenyataan bahwa Kurorolah yang mengerjakan segalanya, termasuk ke pasar untuk membeli bahan makanan. Ia tak pernah menduga lelaki kaya itu bisa melakukannya. Sementara dirinya yang dilahirkan di desa, sebagai anak perempuan pun tak cukup baik dalam hal memasak.
Ibu Kurapika pun tak kalah takjubnya. Hal ini di luar dugaannya. Beberapa menit yang lalu ia terbangun oleh aroma makanan yang memanjakan indra penciumannya, dan ia mendapati Kuroro sedang asyik memasak di dapur. Beberapa saat kemudian Kurapika datang dengan wajah mengantuknya.
"Bagaimana keadaanmu?" pertanyaan Kuroro menyadarkan kedua perempuan itu ke alam nyata. Kurapika berkedip, merasa pertanyaan itu ditujukan untuknya.
"Sudah baikan setelah tidur sebentar…" Kurapika memberi jeda dalam ucapannya, mengalihkan pandangannya ke arah lain dengan pipi yang sedikit merona. "T—terima kasih,"
Kuroro hanya tersenyum tipis. Ibu Kurapika yang ada di sana hanya diam, dan beberapa saat kemudian ikut mengukir senyum setelah menganalisa kejadian yang tertayang di depannya.
"Yooshh… Kalau begitu selamat makan~!" ucapnya bersemangat, dan mulai menyantap sarapan yang dibuatkan oleh pewaris perusahaan Lucifer itu, diikuti sepasang muda-mudi yang duduk tak jauh darinya.
Mereka makan dalam keheningan, hingga suara Kuroro memecah keheningan. "Maaf, ini memang bukan saat yang tepat untuk mengutarakannya, tapi setelah ini aku akan segera kembali ke Yorkshin,"
Dua pasang mata biru itu membulat.
"Aku akan tetap pergi tanpa Kurapika, tapi…" tatapan Kuroro yang sebelumnya tertuju pada Bisca kini tertuju pada Kurapika. "Kuharap kau juga kembali ke sana secepat mungkin,"
.
.
.
~TO BE CONTINUED~
Kyahahahahaha! Makin gaje aja nih fic! XD
Sekalilagi Natsu mau minta maaf yang sebesar-besarnya atas keleletan update Natsu! DX Natsu janji deh, chapter depan updatenya bakal lebih cepet! XD Soalnya dokumennya udah Natsu ketik separuh! XD
Ohya, sekedar mengingatkan, 'Bisca' di sini OC yang berperran sebagai ibu Kurapika. Maaf baru sertain namanya di chapter ini, dan bukan chapter sebelumnya. Habisnya… Pas ngetik, Natsu serasa rempong banget pake kata 'ibu Kurapika' mulu. Jadi Natsu memutuskan untuk kasih nama itu. Bisca meski sudah paruh baya tetep cantik (tapi udah keliatan agak tua). Rambutnya coklat, ikal, panjang. Matanya bulat biru. Tergantung dari bagaimana reader-san berimajinasi! XD
Dan sekedar info, chapter-chapter depan akan muncul beberapa OC lagi untuk mendukung kelanjutan cerita! XD Yah, mungkin cuman itu yang mau Natsu informasikan! ^^
Yosh! Makasih banyak buat para readers yang udah setia mau ngikutin fic nista ini, utamanya yang kasih sumbangan review! XD Yang login, udah Natsu bales lewat PM! XD
Makasih banyak, aeon zealot lucifer, Moku-chan, Miwa Lucifer, dindachan06, Ku BlueBlack31, Tefu Choi, lavender sapphires chan, & HaruchiiYazumi!
Dan ini balasan buat yang gak login :
. cagalli atha zala
Arigato reviewnya, Atha-saaaaaannn! XD
Yah, tunggu aja! XDD
. Mayuyu
Arigato reviewnya, Mayuyu-saaaaaaann! XD
Gomen, kalo kecepatan update serta kepanjangan ceritanya gak seperti yang Mayuyu-san harapkan… :'(
Natsu bakal berusaha buat bikin lebih panjang lagi, serta lebih cepat diupdate! XD
. Little lily
Arigato reviewnya, Lily-saaaaaaaannn! XD
Gomenasai! DX Pas ngantar Kurapike nee-chan mudik(?) esoknya Leorio langsung kembali ke YorkShin, karena musti kuliah! XD
Tapi ntar Natsu bikin Kuroro nii geregettan kok! XD
Ga bisa terlalu dramatis juga. Ntar kayak sinetron2 ato FTV2… :p
. Sweetheart
Arigato reviewnya, Sweet-saaaaaaaaaannn! XD
Di fic ini Machi emang jadi pemeran pendukung… ^^"
Ntar ditambahin deh, konfliknya! XD
. Palm
Arigato reviewnya, Palm-saaaaaaannnnn! XD
Makasih udah mau nungguu! XDD
. mikyo
Arigato reviewnya, Mikyo-saaaaaaaaaaaannn! XD
Nggak sampe ngejar juga sih… Nyusul, tepatnya! XD
. Craio
Arigato reviewnya, Craio-saaaaaaaann! XD
Makasih udah mau nungguuuu! XD
. Rie Megumi
Arigato reviewnya, Rie-saaaaaaaaannnnn! XD
Hehehee, maklum aja, masa lalu keduanya 'kan suram. Jadi gak heran kalo otak mereka rada miring! *dikeroyok KuroPika*
Iya nih. Padahal masih sekolah, tapi sibuk udah kayak wanita karir… :'(
MAKASIH BANYAK buat masukannyaaaaaaaaa! XD
Sangat membantu buat kelanjutan fic iniiiiiii! XD Rie-san pengalaman soal orang hamil yah… ._. *ditabok*
. K3Y K4W4I
Arigato reviewnya, K3y-saaaaaaaannn! XD
Hehehehe, Natsu coba niru Kuroro nii versi RL dari anime HxH, meski hasilnya tetep aja OOC akut… :'(
Natsu juga kurang suka konflik yang melibatkan orang ketiga, tapi… tunggu aja kelanjutannya! XD *plak*
. Illuka
Arigato reviewnya, Illuka-saaaaaaaaann! XD
Hehehehe, moga dengan updatenya chapter ini Illuka-san ga penasaran lagi! XD
. Guest
Arigato reviewnya, Guest-saaaaaaann! XD (paling tidak sertain nama dong… ^^")
Ini udah lanjut~ Moga Guest-san sukaaa! XD
. Ferianzodiac
Arigato reviewnya, Ferian-saaaaaaaannnn! XD
Whoaa~ Baca ngebut chapter segitu apa mata ga sakit!? O.o
. Hirame mezuki
Arigato reviewnya, Hirame-saaaaaaannnn! XD
Gomenasaaaaiii… Emang kelamaan sih, honntou ni gomenasaaaaiii! DX
Natsu bakal coba buat update secepat yang Natsu bisa! XD
.
Yosh! Sekali lagi Natsu ucapin makasiiiih banyak! XD Moga reader-san ga bosen ngikutin *baca: nungguin* fic gatceh(?) ini! XD
Sekarang, bolehkah Natsu nanya pendapat minna soal fic ini? Mau ngasih kritik, saran, concrit, bahkan flame sekalipun, Natsu terima dengan lapang dada! XD
Akhir kata, REVIEW PLEASE...?
~ARIGATOU~
NATSU HIRU CHAN
