Periksa barang bawaan Anda. Pesawat telah tiba di Konoha International Airport.

Hinata segera mengemas barang dan keluar dari pesawat. Setelah ia mengambil koper, ia berjalan ke arah pintu keluar yang telah dipadati orang yang sibuk menjemput kerabatnya. Langkahnya terhenti kala mendengar seruan yang memanggil namanya.

"Hyuuga Hinata! Hyuuga Hinata!" Hinata berbalik dan mencari sumber suara. Irisnya membola saat mengenali manusia yang berjalan ke arahnya.

Sosok tersebut berdiri di hadapannya dan tersenyum. "Akhirnya aku menemukanmu, Nata."

Hinata terkejut mendengar sosok tersebut berbicara. "Ka-kau..."

Tangan Hinata diraih dan dikecup pelan. "Aku Namikaze Naruto. Aku calon tunanganmu."

.

.

.

I Realized (c) Yuki Ryota

SasuHina slight NaruHina

T+

.

.

.

Hinata membasuh mukanya berkali-kali. Menghilangkan noda muntahannya. Ia selalu mengalami mabuk kendaraan saat menggunakan pesawat dan selalu muntah ketika telah tiba di daratan. Kepalanya pusing, lemas, dan perutnya yang keram. Ditambah ucapan Naruto yang membuatnya bertambah mual.

Ya Tuhan, cobaan apalagi ini.

Hinata melangkah gontai keluar kamar mandi. Wajahnya pucat pasi dan bibirnya kering akibat dehidrasi. Naruto dengan sigap memapah Hinata.

"Kau tidak apa? Kau pucat sekali."

Hinata tidak menjawab pertanyaan Naruto. Ia merasa begitu lemas tak berdaya. Ia putuskan untuk sedikit bersandar pada Naruto agar ia tidak jatuh.

"Akan kuantar kau untuk menyembuhkan dirimu." Hinata mengangguk lemah mendengar ajakan Naruto. Hal yang ingin ia lakukan sekarang hanyalah pulang ke rumah.

Seharusnya Hinata mengerti apa yang dipikiran pria dengan surai kuning tersebut. Nyatanya, ia dibawa ke sebuah restoran herbal.

Hinata menghela napas. Ingin rasanya marah-marah dan meninggalkan Naruto tapi ia tidak memiliki tenaga. Beruntung restoran cukup sepi dan tenang. Sehingga nyeri di kepalanya mulai mereda.

Beberapa saat kemudian dua porsi sup ayam jahe disajikan. Uap panas mengepul dari kedua sajian. Memberikan aroma herbal yang menggugah selera. Aroma rempaj-rempah memberi ketenangan tersendiri. Hinata dapat merasakan dirinya mulai membaik.

"Nah. Pertama minumlah rebusan jahe ini. Agar tubuhmu terisi cairan." Naruto menyodorkan minuman jahe dan Hinata menerimanya. Ia menenggak minuman jahe tersebut. Terasa panas dan manis. Ia merasakan hatinya menghangat.

Naruto menyodorkan sumpit kepada Hinata. "Makanlah. Tubuhmu harus terisi makanan agar sehat."

Hinata menatap Naruto sejenak sebelum menerima sumpit tersebut. Ia putuskan untuk mengembalikan tenaganya sebelum ia dapat mempertanyakan ketidakjelasan ini.

.

.

.

Hinata menatap Naruto yang fokus mengendarai mobil. Ah, betapa ia sangat mendambakan hal ini sedari dulu. Namun, anehnya ia merasa sesak di dada saat bersama dengan pria bermarga Namikaze itu.

"Naruto."

Naruto melirik Hinata. "Bagaimana Hinata? Kau butuh sesuatu?"

"Apa yang terjadi dengan Sakura?"

Nyaris saja Hinata menabrak dasbor jika tidak menggunakan sabuk pengaman. Iris Hinata menatap Naruto yang tampak terkesiap. "Naruto?"

"Ah, apa aku mengejutkanmu? Kau tidak apa-apa?" Naruto langsung menatap Hinata khawatir dan memeriksa jika ada lecet satu pun di diri Hinata.

"Aku baik-baik saja Naruto. Kau yang tidak baik-baik saja. Apa yang terjadi?" Tanya Hinata membuat Naruto bergeming.

Naruto menelan ludah. "Kau kelelahan Hinata. Sebaiknya kau beristirahat. Maaf, aku tidak tahu apa yang kau maksudkan. Sakura hanyalah masa laluku."

Apa maksud ucapan Naruto? Ingin rasanya Hinata memojokkan Naruto dan menjelaskan tentang Sakura tapi ia memilih diam. Berdebat bukanlah hal yang pantas dilakukan saat ini mengingat ia baru saja mendapatkan tenaganya.

Sesampainya di hunian Hinata, Hinata dan Naruto mengeluarkan barang-barang Hinata. Mereka bersama-sama memasuki rumah minimalis yang dimiliki Hinata. Dahulu, tempat ini digunakan Hanabi semasa kuliah. Sekarang rumah tersebut kosong.

"Apa kau perlu bantuan untuk menata ini semua?"

Hinata menggeleng. "Kau boleh pulang. Aku hanya ingin istirahat."

Rumah tersebut dikelilingi pagar batu tinggi dengan plat dari keramik yang bertuliskan Hyuuga dengan gerbang pintu otomatis. Ketika memasuki pagar, terdapat jalan setapak yang terbuat dari batu putih yang menuntun menuju pintu utama. Di halaman depan rumah terdapat berbagai tanaman bunga hias. Rumah tersebut hanya terdiri dari satu lantai.

Ketika memasuki rumah, terdapat sebuah rak penyimpanan sepatu. Setelah menaiki undakan, jika lurus maka akan bertemu dengan 3 pintu kamar yang saling berjejer. Yaitu kamar tamu, kamar utama, dan kamar mandi. Jika belok kanan, terdapat ruang keluarga yang menghadap halam samping dengan sofa yang menghadap ke televisi dan perapian di bawahnya. Terdapat bufet dan rak buku di belakang sofa yang menempel pada dinding. Di samping ruang keluarga terdapat meja makan dengan 4 kursi dan dapur. Sebuah pintu kaca berada di dekat dapur yang menghubungkan ke halaman belakang. Pintu kaca tersebut berada dekat pintu kamar mandi.

Rumah mungil tersebut sangat sesuai dengan seleranya. Didominasi dengan warna abu-abu, merah, dan hitam yang menghidupkan suasana. Hinata merebahkan diri di sofa yang memuat ukuran tubuhnya.

Hinata menghela napas. Terlalu banyak hal yang terjadi minggu ini dan yang ia inginkan hanyalah beristirahat. Hinata beranjak. Menarik koper ke kamar utama dan mengganti pakaian dengan piama satin tipis bercorak kelopak bunga sepanjang setengah pahanya. Ia merebahkan diri di atas kasur dan terlelelap ke alam mimpi.

.

.

.

Esoknya Hinata terbangun. Tubuhnya merasa lebih baik setelah seharian berisitrahat. Ia putuskan untuk membersihkan rumah. Dari menyapu, mengepel, menyeka debu, dan menata barang pribadi di tempat seharusnya. Setelah itu, ia putuskan untuk sarapan lalu membersihkan dirinya.

Hinata mengenakan gaun floral dengan perpaduan warna ungu, biru, dan putih. Kemudian ia lapisi dengan kardigan berwarna krem. Ia mengikat kedua anak rambutnya yang panjang di belakang kepala dengan ikatan sederhana. Ia ambil tas dan mengenakan sepatu. Ia bertekad untuk mendapat kejelasan dari ayahnya hari ini.

.

.

.

Hinata keluar dari taksi dan berdiri di gerbang mansion Hyuuga. Ia memasuki gerbang yang terdapat satpam yang mengenalinya. Ia berjalan dengan anggun dan berwibawa khas Hyuuga. Ia mengetuk pintu. Beberapa saat kemudian, ia disambut oleh terjangan pelukan dari seseorang.

"Aku merindukan Kakak!"

Hinata mengenali suara dan aroma ini. "Aku juga merindukanmu, Hanabi." Ia melonggarkan pelukannya dan tersenyum menatap Hanabi.

Hanabi balas tersenyum. Ia menarik tangan Hinata. "Ada banyak hal yang ingin kutunjukkan pada Kakak."

Hinata menahan tangan Hanabi. "Maaf Hanabi. Hari ini aku ingin bertemu dengan Ayah. Kau tahu dimana Ayah?"

Hanabi melrpaskan genggaman dan tersenyum sedih. "Ayah ada di ruang kerja seperti biasa."

Hinata tersenyum tipis dan mengusap surai Hanabi. "Aku akan menemuimu lagi."

Hinata berjalan dengan langkah tegap menuju ruang kerja ayahnya yang terletak di lantai 2. Dalam hatinya ia berusaha untuk membangun kepercayaan diri agar ayahnya tidak meremehkan dirinya.

Sesampainya di ruang kerja, Hinata mengetuk pintu. "Ayah, aku Hinata."

"Masuk."

Hinata memasuki ruangan dan menemukan Hiashi yang duduk di balik meja kerja dengan berkas di tangannya. Hiashi mendongak dan menatap putri sulungnya di balik bingkai kacamata.

"Bagaimana? Namikaze Naruto dapat diandalkan, bukan?"

Hinata berjalan menuju meja kerja ayahnya. "Apa maksud Ayah?"

"Ayah berniat untuk menjodohkan dirimu dan Naruto dalam pernikahan. Rupanya Naruto telah terpikat padamu saat ia melihat fotomu."

Hinata mengepalkan tangannya. "Ayah tahu jika aku tidak ingin menikah sekarang. Aku masih ingin bekerja. Aku masih memiliki banyak cita-cita. Kenapa ayah memperlakukanku seperti ini?"

Hiashi beranjak sambil membawa secangkir teh. "Ini demi perusahaan kita. Perusahaan Namikaze punya aset besar sayangnya sudah berada di ambang batas. Kita harus menolongnya."

Hinata menatap ayahnya. "Mengapa harus lewat pernikahan? Banyak cara untuk membantu perusahaan Namikaze tanpa perjodohan. Ayah tahu itu."

Hiashi menyesap tehnya dan menatap keluar jendela. "Supaya tidak ada pihak yang berbuat kecurangan. Pernikahan harus dilaksanakan."

Hinata menggeram. "Aku tidak ingin menikah, Ayah! Apalagi pernikahan bisnis seperti ini."

Hiashi menatap Hinata datar dan meletakkan cangkirnya. "Naruto telah tertarik denganmu. Ini bukan lagi pernikahan bisnis."

Hinata menatap Hiashi dengan penuh emosi. "Aku tidak ingin menikah, Ayah! Aku tidak ingin menikah yang tidak sesuai dengan kehendakku!"

Hiashi menggebrak meja. "Hyuuga Hinata!"

Hinata terkesiap mendengar seruan ayahnya. Irisnya tak lagi penuh emosi tapi dipenuhi dengan rasa kekecewaan dan kemarahan.

"Aku tidak ingin mendengar keluhanmu lagi." Hiashi berbalik. Suara pria paruhbaya tersebut sedingin es membuatnya tak bisa berkutik. "Keluar sekarang."

Hinata memutuskan untuk keluar dari ruangan. Di luar ia menemukan Hanabi yang menatapnya sedih. Hinata tersenyum getir. Pupus sudah segala hal yang ia inginkan. Hinata berjalan menuruni tangga dan menuju halaman belakang. Ia mengambil sebuah batu dan melemparkannya ke danau.

"Argh!" Hinata mengambil batu lagi dan melemparkannya kembali. "Sialan! Argh!"

Hanabi duduk di bangku taman dan mengamati Hinata yang melampiaskan kekesalan. "Sudahlah, Kak. Kita tidak bisa berbuat apa-apa."

Hinata berbalik. Ia menatap Hanabi sejenak sebelum melemparkan batu ke danau kembali. "Ini hidupku Hanabi! Aku tidak ingin kehidupanku diatur. Aku ingin hidup bebas! Semauku. Sesukaku. Tanpa ada yang mengatur termasuk Ayah!"

Hanabi terdiam. Ia tidak ingin mengungkit tentang ayahnya tapi ia harus mengatakan keadaan sebenarnya pada Hinata. "Ka-"

"Nona Hinata!" Panggil seorang pelayan. "Ada yang mencari Anda."

Hinata membersihkan tangannya dan berjalan ke arah pelayan. "Sebentar ya Hanabi." Setidaknya hatinya cukup tenang setelah melempar beberapa buah batu.

Ia menuju ke ruang utama dan betapa terkejutnya ia kala melihat sosok pria yang duduk di sofa. "K-kau. Apa yang kau lakukan di sini?"

Sosok tersebut beranjak saat melihat Hinata dan menghampiri. "Ah, Hinata. Aku ingin mengajakmu jalan-jalan."

Berdiri di hadapan Hinata adalah pria bermarga Namikaze dengan balutan sweater merah dan celana abu-abu. Tubuhnya yang jangkung dan atletis membuat pakaian tersebut pas di tubuhnya. Sebagaian surai keemasannya disibak ke belakang menampakkan dahi.

Hinata mengagumi bagaimana cara pria tersebut berpenampilan. Ia tak menyadari bahwa Naruto juga menatap penampilannya. Iris sapir tersebut berhenti di potongan gaun Hinata yang merupakan model V neck dan menatap dada wanita itu lekat-lekat seblum akhirnya menatap Hinata. Tanpa Naruto sadari wajahnya memerah.

"Sepertinya kau sudah siap." Suara Naruto membuyarkan lamunan Hinata.

"Ha?" Hinata melihat penampilannya. "Aku tidak yakin harus pergi seperti ini." Kondisi hati dan pikirannya sedang tidak stabil.

Tangan Hinata diraih dan didekatkan ke bibir Naruto. "Kau cantik." Iris biru cerah Naruto tak hentinya menatap rupa menawan Hinata.

Hinata kelabakan. "Ah, terima kasih." Ia menarik tangannya. "Tapi maaf. Aku tidak bisa pergi hari ini."

"Benarkah?" Naruto menatap jam tangan sekilas. "Ayahmu baru saja menghubungiku untuk mengajakmu jalan."

Ayah!

"Ah..."

"Aku baru saja dari Uzu dan segera kemari."

Uzu? Jauh sekali.

"Aku bahkan terburu-buru agar dapat menemuimu."

Ah, jika begini maka...

"Maaf jika penampilanku tidak rapi. Aku berangkat dari Uzu sejak fajar karena mendengar kau bisa menemaniku jalan."

Astaga.

"Baiklah. Jika kau tidak ingin pergi." Naruto menghela napas. Naruto memutuskan untuk beranjak pergi.

Hinata menggigit bibirnya. Ia merasa tidak enak jika harus menolak Naruto. "Baiklah. Aku ikut."

Dengan secepat kilat, Naruto berbalik dan menarik tangan Hinata.

.

.

.

Naruto membawanya ke taman hiburan. Hinata tidak menyangka akan hal itu. Ia telah mendambakan hal ini sejak lama saat ia masih di bangku sekolah. Ia pun mendambakan dapat berkunjung bersama Naruto. Mengingat masa sekolahnya membuat jantungnya berdenyut kencang.

Naruto mengajak Hinata untuk ke sebuah kios. Kios tersebut menantang pengunjung untuk dapat menembak barang yang nantinya barang tersebut akan menjadi milik pengunjung.

"Aku pasti akan memenangkan semuanya." Naruto menyiapkan senapannya.

Hinata tersenyum tipis melihat semangat dalam diri Naruto. Sudah lama ia tidak melihat temannya memberikan energi penuh semangat seperti ini.

"Ah! Aku kalah!" Naruro meletakkan sejumlah uang. "Aku akan melakukannya lagi! Aku pastikan kau akan mendapat boneka besar itu Hinata!"

Seruan Naruto membuat Hinata ikut bersemangat. Ia mengamati Naruto yang membidik. Lagi-lagi pria itu tidak mendapatkan barang apa pun dalam 3 kali kesempatan.

"Pak, aku pesan lagi!" Hinata menahan Naruto saat akan mengeluarkan uangnya.

Hinata mengambil senapan dari tangan Naruto dan mengeluarkan sejumlah uang kepada petugas. "Biarkan aku mencobanya, Naruto."

Hinata membidik beruang besar tersebut, papan sasaran untuk snow globe, dan papan sasaran untuk sebuah bantal leher. Semua tembakan Hinata mengenai sasaran dengan mudahnya. Dalam sekali percobaan Hinata memperoleh 3 benda.

Petugas tersebut memberikan hadiah kepada Hinata. "Selamat Nona! Kau sangat pintar!" Hinata yang mendengarnya bersemu dan menerima benda itu.

"Te-terima kasih, Pak." Hinata segera menggendong beruang besarnya sambil membawa kantung isi hadiah. Ia menatap Naruto yang cemberut.

"Seharusnya aku yang mendapatkannya untukmu."

Hinata tersenyum. "Kalau begitu. Kau bawakan ini saja." Hinata menyerahkan boneka pada Naruto.

Naruto mendengus kesal. "Hinataaa..."

"Hahahaha." Tawa Hinata. "Bagaimana jika kita membeli es krim?"

Naruto ikut tertawa. "Setelah itu bagaimana jika kita mencoba roller coaster?"

"Ide bagus." Sesampainya di kedai es krim, mereka memesan es krim cone.

"Sepertinya kita harus menitipkan barang jika ingin menaiki roller coaster," ujar Hinata sambil mencomot es krim di tangannya.

"Ah, iya. Sepertinya tempat penitipan barang ada di-"

Duk

Seseorang tak sengaja menabrak Naruto. "Ah, maaf Tuan. Anakku tidak sengaja."

Naruto tersenyum cerah. "Tidak apa-apa, Bu." Ibu dan anak tersebut meninggalkan Naruto. Naruto menilik ke bawah.

"Tidak!" Seru Naruto. "Padahal es krimnya belum kumakan."

"Hahahaha," tawa Hinata. "Nanti kutraktir arum manis. Sekarang kita ke tempat penitipan barang ya."

Walau Naruto kesal, ia tetap mengikuti Hinata. Setelah itu, mereka menaiki wahana roller coaster.

Hinata berkali-kali menepuk punggung Naruto karena pria tersebut masih ketakutan walaupun Naruto sendiri yang mengajak. Sesekali Hinata terkikik karena tingkah pria itu.

Akhirnya mereka menaiki wahan carousel. Sepanjang kuda tersebut berjalan, Naruto mengamati wajah Hinata yang kini dipenuhi kebahagiaan. Ia senang setidaknya Hinata tidak lagi muram.

.

.

.

Akhirnya, mereka duduk di sebuah bangku taman. Hinata membawa arum manis begitupun dengan Naruto. Hinata mencomot permen sehalus kapas itu dan mengecapnya pelan.

"Enak sekali. Tidak terlalu manis," komentar Hinata.

Naruto menoleh, "Benarkah?"

Hinata mengangguk dan kembali menyembunyikan wajahnya di balik gumpalan kapas. Naruto yang melihatnya merasa gemas.

Tangan Naruto menyentuh tangan Hinata. Hinata mendongak. Ia membelalakkan mata saat Naruto ikut memakan permen kapasnya. Wajah mereka cukup dekat hingga Hinata dapat melihat refleksi di iris Naruto. Naruto menatap Hinata intens membuat jantung Hinata bertalu-talu.

Naruto menarik diri dan menjilat sudut bibirnya. "Arum manismu enak tapi tidak semanis punyaku."

Hinata masih dalam wajahnya yang terkejut. Naruto tertawa melihat wajah Hinata yang belepotan. Naruto mengambil saputangan dan mengusapkannya pada Hinata. Hinata yang mulai tersadar segera mengambil saputangan dan membersihkan dirinya sendiri.

Hinata memalingkan muka. Ia merasa ada yang salah dalam hatinya. Ia sudah bertekad bahwa ia tidak ingin mencintai Naruto kembali. Karena ia ingin terus bergerak maju. Tapi, kenapa ia mendapati ia menikmati momen ini? Momen yang selalu menjadi mimpinya ketika masih sekolah.

Bolehkah ia egois?

.

.

.

Hinata membungkukkan badan bersama dengan kedua orang tuanya. Hari ini adalah hari dimana kedua keluarga bertemu. Keduanya keluarga memakai pakaian tradisional yang menunjukkan klan mereka.

"Ah, kau sangat cantik Hinata. Kimono merah memang sangat cocok untukmu," puji Kushina sambil menggenggam tangan Hinata.

"Ah, terima kasih, Tante." Hinata dapat merasakan wajahnya bersemu.

"Jangan panggil Tante. Aku sekarang adalah Ibumu juga, Hinata."

Hinata merasakan hatinya berat untuk tersenyum. Ia memang merasakan nyaman dengan Naruto akhir-akhir ini, tapi ia tidak mengharapkan untuk menikah dengan pria itu. Setelah 3 bulan bersama Naruto ia lebih merasa bahwa pria itu seperti temannya?

Hiashi berdeham. "Dengan pendekatan kedua keluarga selama 3 bulan ini. Diharapkan bahwa pernikahan akan diadakan secepatnya."

Minato mengangguk. "Aku setuju denganmu, Hiashi. Pernikahan ini memang harus segera dilaksanakan mengingat sepertinya mereka sudah tidak sabar untuk bersatu."

Hinata menatap piringnya. Ia tidak lagi mendengarkan ucapan kedua orang tua yang membahas pernikahannya. Ia tidak ingin menikah. Ia benci kenyataan bahwa orang lain mengatakan sesuatu yang bukab dirinya.

Hinata tidak menyadari bahwa sepanjang perjamuan, Naruto terus menatap Hinata dalam diam.

.

.

"Hinata. Kau tidak apa-apa?" Tanya Naruto. Saat ini mereka sedang berjalan di halaman belakang restoran sambil menghirup udara segar.

Hinata tersenyum tipis ke arah Naruto. "Aku baik, Naruto."

Naruto menghentikan langkahnya membuat Hinata ikut menghentikan langkah. "Naruto? Ada apa?"

Naruto menatap Hinata lurus-lurus menantang Hinata untuk memberikan jawaban yang jujur. "Hinata."

"Ya?"

"Apa kau ingin menikah?" Tanya Naruto.

Hinata terkesiap. Ia menghela napas dan memalingkan muka. "Jika kau ingin aku jujur, aku tidak ingin menikah. Setidaknya aku tidak ingin menikah sekarang. Masih banyak hal yang ingin kugapai dan menurutku menikah bukanlah prioritasku."

Naruto menatap Hinata sejenak. "Aku tidak tahu apa yang membuatmu resah."

Naruto memegang kedua pundak Hinata erat-erat. "Tapi, aku akan membuatmu jatuh cinta padaku dan menghapuskan keraguan dalam hatimu.

.

.

.

Naruto menghentikan mobil di depan rumah Hinata. Setelah jamuan makan malam. Naruto putuskan untuk mengantar Hinata pulang. Hinata keluar dari mobil begitu pun dengan Naruto.

Hinata membungkuk sekilas seraya memberikan senyum terbaiknya. "Terima kasih, Naruto. Atas tumpangan dan waktumu selama ini."

Hinata berbalik dan berjalan saat sebuah tarikan menahan langkahnya. Hinata menabrak tubuh bidang Naruto. Hinata meronta dalam pelukan pria itu.

"Na-Naruto. Le-lepaskan aku." Naruto semakin mengeratkan pelukannya. Ia dekatkan tubuh wanita itu hingga menempel padanya. Ia dapat merasakan kehangatan dari tubuh Hinata.

Naruto melonggarkan pelukan dan menatap Hinata yang juga menatapnya. Naruto mengecup dahi Hinata. "Aku akan merindukanmu semalaman."

Wajah Hinata memerah. Ia memalingkan muka. Menjauh dari Naruto lalu membungkuk. "Selamat malam. Namikaze."

"Besok ada pesta di rumah Shikamaru. Bagaimana jika kita pergi bersama?"

Hinata mengangguk kaku. "Baiklah." Hinata berbalik dan meninggalkan Naruto. Jantungnya tidak berdebar kencang anehnya ia merasakan sesak dan nyeri di hatinya atas perlakuan Naruto. Ia segera memasuki kamar dan menenggelamkan kepalanya di kasur.

Ia berharap bahwa semua hal yang terjadi adalah mimpi. Ia berharap ia akan terbangun dan keadaan kembali seperti semula.

.

.

.

Pukul 17.00

Atas dandanan Hanabi. Hinata mengenakan sebuah gaun selutut berwarna hitam dengan corak bunga lili putih dengan tali spaghetti dan menampakkan sedikit belahan dadanya. Merasa tidak nyaman, Hinata mengambil mantel kebesaran untuk menutupi lekuk tubuhnya.

Akhirnya Naruto datang menjemput. Naruto datang dengan tuksedo berwarna biru dongker. Surai keemasannya telah ditata rapi. Naruto tidak sempat mengomentari penampilan Hinata karena wanita itu mengenakan mantel dan acara akan dimulai.

Naruto segera melajukan mobilnya ke rumah Shikamaru. Sesampainya di rumah Shikamaru, Naruto disambut teman-temannya yang merupakan teman Hinata selama sekolah. Salah satunya adalah Lee, Kiba, Shino, Sasori.

"Wah! Naruto, kau membawa siapa? Ia cantik sekali," tanya Kiba sambil mengamati Hinata.

"Dia-"

"Malam, Inuzuka. Aku Hyuuga Hinata," potong Hinata.

Kiba terkejut. "Hinata?! Kau Hinata yang itu?!"

Hinata mengangguk seraya tersenyum sopan. "Ya, aku Hyuuga Hinata."

Seketika banyak orang mengerumuni Hinata dan Naruto. Hinata membalas jabat tangan yang diulurkan kepadanya dengan sopan. Sesekali ia tersenyum menanggapi teman-teman sekolahnya. Walau sebagian orang tidak ia kenali.

Shikamaru adalah kakak kelas Naruto dan Hinata dulu. Saat mereka kelas 10, Shikamaru kelas 12. Walau pribadinya yang tertutup, Shikamaru memiliki banyak teman di angkatan Naruto dan Hinata.

Hinata mengedarkan pandangannya. Mengamati tamu yang hadir malam itu. Irisnya terhenti kala melihat sepasang netra kelam menatapnya dalam di balik bingkai kacamata. Sosok jangkung itu tampak tidak terawat dengan kumis, janggut, dan jambang tipis yang tumbuh di wajah rupawannya. Walau begitu, pria itu tetap karismatik. Tubuh atletisnya dibalut tuksedo warna hitam dengan kemeja putih.

Hinata sangat mengenali sosok itu. Ingatannya kembali saat 3 bulan yang lalu. Sosok yang memporak-porandakan jiwa dan raganya. Sosok itu adalah Uchiha Sasuke.

.

.

.

Hinata mengamati jalannya pesta dari sudut ruangan. Ia menyesap anggur putihnya perlahan. Naruto sudah begabung dengan temannya dan berduel untuk minum. Meninggalkan Hinata yang lebih suka untuk menyepi. Ia berdiri di pojok ruangan sambil menatap suasana pesta.

Berusaha menenangkan jantungnya yang bertalu-talu dan meronta membuatnya merasa sakit dan excited secara bersamaan. Walau Hinata berusaha untuk bersembunyi di balik kerumunan yang sibuk berpesta, Hinata dapat merasakan tatapan mengamati gerak-geriknya dari kejauhan. Hinata meremas mantel yang masih ia gunakan.

Hinata perlahan mendongak dan mencari sosok yang menatapnya. Ia menemukan sosok tersebut masih bersandar di dinding dan menatap seolah menelanjangi dirinya.

Sosok tersebut adalah Uchiha Sasuke.

Hinata menggigit bibir dan menunduk saat merasakan gelenyar aneh dalam dirinya. Ia merasa tubuhnya panas saat melihat pria itu menyeringai ke arahnya.

Perasaan apa ini?

Hinata meletakkan gelas di meja terdekat dan ia putuskan untuk ke kamar mandi. Membasuh mukanya untuk menenangkan jiwa. Beruntung riasannya tidak luntur. Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya yang biasa pucat kini menampakkan rona merah.

"Kenapa ini? Kenapa wajahku memerah?" Hinata mengusap pipinnya kemudian mengelap wajahnya dengan saputangan.

Hinata keluar dari kamar mandi. Ia memekik saat merasakan tarikan di pergelangan tangannya. "Hei!"

Hinata merasa tubuhnya dihimpit ke dinding dengan kasar. "Aw!" Hinata mendongak dan menatap tajam siapa pun yang memperlakukannya dengan kasar.

Ia menemukan sepasang iris jelaga menatapnya dalam. Hinata meronta. "Apa yang kau lakukan?!"

"Apa yang terjadi antara kau dengan Namikaze Naruto?"

Hinata membuang muka. "Itu bukan urusanmu, Uchiha."

Sasuke geram. Ia menarik kedua pergelangan tangan Hinata dan mencengkramnya dengan satu tangan di atas kepala Hinata.

Hinata meringis. "Aw! Apa kau selalu berbuat kasar dengan wanita?!" Hinata mendelik.

Sasuke menyeringai. "Kau yang meminta, Hyuuga." Tangan kiri Sasuke yang bebas menarik pinggang ramping wanita itu ke arahnya

Hinata bergerak tak nyaman. "Apa maumu Uchiha? Kita tidak memiliki hubungan apa pun."

Sasuke merasakan ribuan jarum menghujam jantungnya. Ia menyeringai lebar. Ia dekatkan wajah ke perpotongan leher Hinata. Hidung mancungnya menghirup dalam-dalam aroma Hinata yang memikat. Membuat Hinata memejamkan mata erat-erat merasakan panas yang menggelitik area sensitifnya.

Aroma Hinata tetap sama seperti 3 bulan yang lalu. Begitu menggoda dan memabukkan. Ujung hidung Sasuke menyentuh garis rahang Hinata dan menarik napas dengan rakus membuat Hinata merintih pelan.

"Kita hanya memiliki peristiwa yang tak pernah bisa dilupakan, bukan?" Bisik Sasuke parau.

Hinata memejamkan mata. Menikmati sensasi hembusan napas Sasuke di leher, rahang, dan telinganya. Jemari Sasuke bermain di pinggang Hinata. Meremasnys pelan.

"Ah..." erang Hinata.

Tubuh mereka kini saling menempel satu sama lain. Hanya kemeja dan mantel yang memisahkan tubuh mereka. Baik Sasuke maupun Hinata dapat merasakan panas tubuh masing-masing yang menggoda mereka dalam pusaran gairah yang tak tertahankan.

Sasuke menyeringai melihat respon Hinata. "Hinata." Bisiknya di telinga Hinata.

Wajah Hinata memerah sempurna. Napasnya mulai tersengal dan ia merasa tenaganya mulai terhisap. Kedua kakinya lemas tak bertenaga membuat Sasuke semakin kuat merengkuhnya.

Sasuke menjauhkan wajahnya dan menatap Hinata mesra serta mendamba. "Kau takkan pernah melupakanku."

Sasuke lepaskan cengkraman di tangan Hinata membuat kedua tangan wanita itu jatuh di pundak Sasuke. Sasuke amati wajah Hinata yang memerah, tatapannya yang sayu, dan uap kecil keluar dari belahan bibirnya yang merah merekah.

Jemari panjang Sasuke perlahan membuka mantel Hinata. "Aku hanya ingin mengambil mantel ini, Hinata."

Perlahan jemari Sasuke menurunkan mantel yang dikenakan Hinata. Hinata dapat merasakan bagaimana garmen tersebut lolos dari tubuhnya dan jemari Sasuke yang meraba lengannya yang terbuka.

"Sasu... Sasuke..." Hinata remas kemeja putih Sasuke. Pelampiasan atas gelenyar aneh dalam tubuhnya.

Iris Sasuke menggelap saat melihat pakaian yang dikenakan Hinata. Begitu membentuk lekuk tubuh wanita itu. Membuatnya buta oleh gairah yang memuncak. Ia lesakkan wajah di pundak Hinata. Jemari panjangnya menurunkan tali spaghetti melewati pundak Hinata.

"Sialan, Hyuuga."

Detik berikutnya Hinata membelalakkan mata. Ia merintih. Ia dapat merasakan gigi Sasuke menggigit pundaknya. Detik berikutnya ia merasakan sapuan lidah panas di pundaknya yang terbuka.

"Ahh~ Sasu..." erang Hinata. Ia remas surai gelap Sasuke. Ia melonjak saat merasakan sapuan kumis dan janggut Sasuke mengenai kulit pundaknya yang telanjang.

"Akh!" Erang Hinata keras saat merasakan Sasuke menghisap pundaknya kuat-kuat. Hinata merasa begitu panas dan perutnya melilit karena rasa nikmat dari sentuhan Sasuke.

"Hinata?" Terdengar suara Naruto yang tak jauh dari mereka.

Saraf-saraf Hinata mulai bekerja kembali. Pikirannya mulai kembali jernih. "Na-Naruto?"

Naruto berjalan ke kedua insan yang di bawah cahaya temaram. "Kau di sana, Hinata?"

Sasuke tak memedulikan kehadiran Naruto, ia tetap menjilat bahkan menghisap pundak telanjang Hinata. Menciptakan tanda kepemilikan di sana.

"Naru-"

Belum sempat Hinata memanggil kembali, Naruto segera menarik Sasuke yang berada di hadapan Hinata dan menghantam pria itu di lantai. "Berani-beraninya kau kepada Hinata!"

"Naruto!" Pekik Hinata.

Ia masih belum sadar sepenuhnya akibat gairah dalam tubuh masih ada. Ia mulai sadar sepenuhnya saat Naruto mengeluarkan bogem mentah ke rahang Sasuke. Sasuke yang belum siap terpaksa menerima pukulan tersebut.

Hinata mengambil mantel dan segera mengenakannya. Ia berlari dan memeluk Naruto yang akan melancarkan serangan. "Cukup. Naruto! Kau mabuk!"

Naruto melepas rangkulan Hinata kasar. "Kau membelanya?!" Naruto kembali menghadap Sasuke dan melepaskan tinju untuk kedua kalinya. "Rasakan ini!"

Sasuke dengan sigap menahan pukulan Naruto. Ia tinju dagu Naruto hingga empunya terjengkang. Suasana semakin memanas, Sasuke menduduki Naruto dan meninju wajah pria itu berkali-kali. Sampai akhirnya Naruto menghantam kepala Sasuke dengan kepalanya membuat Sasuke terjengkang. Naruto segera meninju rahang Sasuke membuat sudut bibir pria itu berdarah.

Mendengar kegaduhan, Shikamaru segera menahan Naruto yang sangat sulit dikendalikan. Bahkan Naruto meronta berkali-kali. Sedangkan Hinata segera menahan Sasuke. Sasuke yang masih dalam kewarasan segera berhenti untuk membalas Naruto.

Ia meludahkan darah sebelum akhirnya menghadap Hinata. Sasuke melihat tangan Hinata yang terluka. "Kau tidak apa-apa?"

Hinata menatap luka akibat cakaran Naruto. "Aku tidak masalah." Hinata mendongak dan terkejut saat melihat wajah Sasuke yang luka di sana-sini.

"Sasu-"

Naruto meronta dalam kuncian Shikamaru. "Sialan kau! Ka-" Shikamaru memukul tengkuk bagian belakang sehingga Naruto pingsan.

"Kau harus membawanya pulang, Hinata." Shikamaru memapah Naruto sambil menatap Hinata. Kemudian ia menatap Sasuke. "Kau harus menjelaskannya, Uchiha."

Hinata dan Sasuke mengikuti Shikamaru yang memapah Naruto. Mereka berjalan di pinggir jalan untuk menghentikan taksi. Sebuah taksi berhenti di hadapan mereka. Shikamaru segera memasukkan Naruto ke kursi penumpang kemudian meninggalkan Sasuke dan Hinata.

Hinata akan memasuki mobil saat pergelangan tangannya ditarik Sasuke. "Lepaskan Uchiha. Tidak ada lagi hal yang harus kita bicarakan."

Sasuke membawa tangan kanan ke bibirnya. Ia kecup pelan goresan luka Hinata akibat cakaran Naruto. Ia julurkan lidahnya dan menyapu jejak darah di punggung tangan Hinata. Hinata merasa geli, sekujur tubuhnya merinding, dan mulai bergetar akibat rangsangan yang diberikan.

"Cu-cukup Uchiha. Aku harus pergi." Hinata menyentakkan tangannya.

Sasuke masih menahan tangan Hinata. Ia keluarkan sapu tangan dan membalut luka itu pelan. Hinata terdiam. Ia mengamati bagaimana Sasuke dengan lembut dan tenang membalut tangannya yang terluka. Tanpa ia sadari wajahnya memerah padam.

"Hati-hati," sorot mata Sasuke penuh kekhawatiran walau ekspresinya datar.

Hinata mengangguk pelan kemudian memasuki taksi. Sasuke memandang mobil taksi hingga mobil tersebut menghilang dari pandangannya. Saat ia berbalik tampak Shikamaru yang bersedekap.

"Kau berutang cerita padaku, Uchiha."

.

.

.

Pukul 21.00, Kediaman Namikaze

Naruto terbangun dengan pening di kepalanya. Ia meringis pelan kala merasakan luka lebam di wajahnya. Ia menatap kedua tangannya yang diplester.

Apa yang terjadi?

Naruto benar-benar lupa hal yang menimpanya hingga mengalami luka. Dengan terhujung-hujung Naruto berjalan meraih kotak obat di dapur. Ia mencari aspirin untuk meredakan rasa sakitnya.

"Kau mencari aspirin, Naruto?" Tanya Karin yang berdiri di ambang pintu.

Naruto melirik Karin sesekali ia meringis dan mengerang karena rasa sakit yang tak tertahankan. "Dimana aspirin?"

Karin mengambil toples makanan. "Ibu belum membelinya. Sepertinya kau harus membelinya sendiri."

"Sialan kau Karin," geram Naruto. Ia memijit pangkal hidungnya untuk menghilangkan rasa nyeri.

Karin mengangkat bahu. "Tidak usah berlebihan. Itu konsekuensi jika kau mabuk berat. Lagipula apotek hanya di samping rumah."

Naruto mengumpat pelan sebelum berdiri dan mengambil air putih untuk ditenggak. Setidaknya rasa sakitnya berkurang. Naruto berjalan menuju kamar mandi. Membasuh muka dan bersiap pergi ke apotek.

Sesampainya di apotek, ia segera membeli aspirin dan berjusaha untuk berjalan cepat agar dapat sampai di rumah. Sayangnya ia merasakan perutnya melilit tak karuan hingga ia merasakan keinginan untuk memuntahkan sesuatu dalam pencernaannya.

"Hoek," Naruto segera memuntahkan isi perutnya di dekat pohon. Ia paksakan dirinya untuk mengeluarkan sisa-sisa agar merasa lega.

Saat itulah sebuah tangan memijit lehernya pelan. "Kau tidak apa-apa?"

Suara wanita

Perlahan Naruto mendongak. Ia terbelalak saat melihat sosok di hadapannya. Seorang wanita muda memesona. Hal yang membuat Naruto terkejut bukanlah kecantikan wanita itu melainkan warna surai wanita.

Warna bunga sakura.

"Naruto kau tidak apa-apa?"

Kenapa ia bisa mengenaliku?

Tiba-tiba kepala Naruto semakin berdenyut kencang membuatnya mengerang kesakitan. Wanita itu menatap Naruto khawatir. "Naruto? Naruto?"

Naruto menepis kasar uluran tangan Sakura. "Siapa kau?"

.

.

.

Pukul 21.00, Kediaman Hyuuga Hinata

Ding dong ding dong ding dong

Hinata terbangun akibat suara bel rumah yang berbunyi berulang kali. Ia ambil robe tidurnya untuk menutupi piama satin tipis yang ia kenakan. Dengan kesadaran yang belum pulih sempurna, Hinata berjalan untuk membukakan pintu.

"Iya iya sebentar." Hinata segera membuka kunci dan membuka pintunya tanpa melihat siapa tamu yang berkunjung saat malam lewat interkom.

Saat pintu terbuka Hinata merasakan hawa dingin menerpa tubuhnya diikuti dengan suara derasnya hujan. Ia memeluk tubuhnya sendiri. Perlahan Hinata membuka mata lebar-lebar. Betapa terkejutnya ia saat melihat sosok jangkung bertudung berdiri di hadapannya.

Adrenalinnya terpacu. Ia merasakan ancaman yang membuat jantungnya berdetak kencang, irisnya membola, dan tubuhnya yang kaku. Dalam benaknya, ia memutar otak untuk menyerang sosok misterius yang berkunjung ke rumahnya. Belum sempat ia menyusun rencana sosok tersebut menerjangnya.

Hinata memekik. "Ah!" Ia merasakan tubuhnya basah akibat jas hujan yang dikenakan sosok itu membalut tubuhnya.

"Hinata."

Suara ini

Perlahan Hinata membuka tudung sosok itu. Betapa terkejutnya ia kala mendapati sosok tersebut adalah orang yang sangat ia kenal.

"Sasuke?"

.

.

.

TbC

A/N

Untuk chapter terbaru HaP dan MO akan dirilis dalam waktu dekat. Cerita ini akan berakhir dalam 2-3 chapter lagi. Saya tidak tahu apa yang mendapati saya hingga menciptakan konflik begitu rumit di sepanjang cerita yang akhirnya berat bagi saya untuk mengikuti alur tersebut. Alternatif lain adalah memotong cerita ini. Dan karena saya ingin segera merampungkan cerita ini maka maaf jika ada part yang tidak nyambung.

Unuk pairingnya SasuHina dan NaruSaku. Tapi makin kesini lebih ke arah SasuHina Naru. Ini adalah masalah besar karena saya telat menyadari bahwa saya harus menyisipkan porsi yang sama antara dua pairing tersebut dalam cerita. Jadi maaf untuk penggemar NaruSaku yang mengharapkan fik ini tapi lebih banyak porsi SasuHina. Karena saya memang lebih sering membuat fik tentang SasuHina jadi sulit bagi saya menyeimbangkan porsi keduanya. Untuk itu saya akan menghapus NaruSaku dalam halaman utama.

Terima kasih atas dukungan dari kalian selama ini. Tanpa dukungan saya tidak mampu melanjutkan fiksi sejauh ini. Maaf beribu maaf jika fiksi ini mengecewakan kalian. Saya masih belajar agar membuat cerita menarik.

Akhir kata, terima kasih dan sampai jumpa.