Holla chingu-chingu semua...
Diriku kembali bawa chap 10 nie.. Semoga suka ne.. Coz pikiranku makin ke sini makin buntu.. Jadi jika makin ancur bin jelek gak ketulungan ya mohon maaf aja..
Dan untuk yang review
Yunjae :: gomawo dah review.. Ne tu yunho.
Irengiovanny :: papi jahat ya bohong ma mami.. Gomawo dah rview
Aoi ko mamoru :: jangan nimpuk yunpa nnti jaema marah lo. Dan gomawo dah rview
guest :: gomawo dah rview. Gpp yunjae mnjauh selama hati mereka tetep dekat#apaan ini# ditunggu ja bntar lg yunjae ketemu ko.
Mian gak bisa balas semua..
Dan ini chap 10nya. Selamat membaca
# YUNJAE :: Love Is #
Cast : Jung Yunho/Yunnie (11 th)
Kim jaejoong/Joongie (7 th)
Park Yoochun
Kim Junsu
Shim Changmin
Disclaimer : Mereka semua milik tuhan dan orang tua mereka. yunjae is real dan gak bisa diganggu gugat..
Warning : ni gs coz para uke aku jadiin yeoja.. Jadi jika g berkenang mian aku mohon gak usah baca aja
#ini lanjutannya, selamat membaca#
=Yunjae Love is=
"Joongieee...!" Teriakan Junsu menyentak kesadaran Yoochun. Mereka berlari ke arah Jaejoong. Keduanya cemas, kalau sesuatu terjadi pada sahabatnya.
"Joongieee...!" teriak Junsu menjerit. Dia memeluk tubuh Jaejoong yang sangat lemah. Yeoja itu tidak bisa berkata-kata lagi.
"Ayo, segera kita bawa Jaejoong ke mobil." ujar Yoochun dengan panik.
Mereka pun menuntun Jaejoong ke mobil. Lalu yeoja itu duduk di jok belakang bersama Junsu. Sementara Yoochun tetap memegang kendali, luka-luka kecil di tubuhnya tidak dirasakannya. Dia menghidupkan mobil itu, sebentar saja mobil itu telah melaju. Meninggalkan air mata kepiluan, ditengah-tengah senja yang merambat malam.
-chap 10-
Jaejoong terbaring lemah di atas ranjangnya. Sederetan kejadian yang dialami membuat jiwanya terguncang. Dia sangat lelah. Rasa itu terlihat jelas dari tatapannya yang sayu, seperti tidak ada gairah kehidupan lagi. Bibirnya pucat, wajahnya pias. Beban kehidupannya terlalu berat untuk dia pikul. Dia terlalu lembut untuk disakiti. Memang itulah garis kehidupannya. Cinta dihatinya membuat dia sakit. Tubuhnya kurus terbujur lemah tengah berbaring.
Setelah kejadian di Bolero itu, Jaejoong jatuh sakit. Jarang sekali dia makan, mulutnya terasa pahit. Tidurpun tak pernah nyenyak. Itulah yang menyebabkan tubuhnya kurus. Tidak seperti kemarin-kemarin, sangat indah dan memancarkan kecantikkannya. Dalam tidurnya dia sering mengigau memanggil nama Yunho. Jawaban namja itu membuat dirinya menderita, namun dia tidak mempercayai kejujurannya, walaupun namja itu tidak pernah menjumpainya lagi. Padahal Yoochun dan Junsu terus mencari namja tampan itu. Bahkan appa Jaejoong pun turut mencarinya. Tetap saja tidak ketemu.
Seperti malam itu, Jaejoong masih terbaring lemah. Di sisinya ada ummanya yang menjaganya. Yeoja separuh baya itu turut sedih dengan keadaan putrinya. Dia menatap wajah pucat Jaejoong yang tengah tertidur. Yeoja separuh baya itu meneteskan air mata, ketika dia memperhatikan wajah putrinya yang pias.
"Yunnie...Yunnie...Yunnie..."
Oh putriku, ternyata cobaan hidupmu teramat berat, desah yeoja itu. Dia mencium tangan putrinya dengan tulus. Tak terasa air matanya jatuh menetes kembali. Cukup hangat dan itu membuat Jaejoong membuka matanya perlahan-lahan. Dia melirik ummanya. Dia melihat ummanya tengah mencium tangannya.
"Umma...Umma menangis, ne...?"
Yeoja separuh baya itu mengangkat wajahnya, menatap putrinya. Hatinya luruh mendengar pertanyaan aegya-nya. Karena walaupun dalam keadaan tak berdaya seperti itu, putrinya tidak pernah kehilangan kelembutannya. Yeoja cantik itu tahu kalau ummanya tengah bersedih dengan keadaannya.
"Anni, chagi. Umma tidak menangis."
"Umma bersedih kan dengan keadaan Joongie hingga umma menangis?"
"Anni. Umma tidak menangis. Hanya tidak kuat melihat penderitaanmu, chagi..."
"Mianhae.. Jeongmal mianhae umma, Joongie membuat umma ikut bersedih dengan keadaan Joongie."
"Anni, chagi. Kamu jangan berkata seperti itu. Memang kewajiban seorang umma yang mesti membuat aegya-nya bahagia, tapi umma tidak bisa berbuat seperti itu."
"Kenapa umma berkata seperti itu. Joongie bahagia, bahkan sangat bahagia. Joongie bersyukur karena telah memiliki seorang umma yang penuh kasih kepada Joongie."
"Ohh... nae-aegya." desah yeoja separuh baya itu sambil mengelus pipi putrinya dengan lembut. Wajah aegya-nya masih pias. Guratan kesedihan itu semakin tebal bergayut. Yeoja itu ingin menghapus semua itu dengan kasihnya yang putih.
"Dimana Yunnie, Umma...? Tadi Joongie dengar dia memanggil-manggil nama Joongie. Bahkan dia duduk menjaga Joongie waktu tidur," lirih Jaejoong dengan menatap ummanya teduh.
"Appamu pasti akan membawanya kemari, Joongie. Bersabarlah, dia pasti akan datang."
"Kapan, Ummaaa...?"
"Kalau tidak sekarang, barangkali besok dia akan kemari untuk menjengukmu."
"Benarkah, Ummaaa... benarkah Yunnie akan datang."
"Ne, chagi. Bersabarlah."
Jaejoong menggangguk lemah. Dia memang harus bersabar menunggu. Dia tidak ingin membuat umma dan appanya sedih. Selama beberapa hari ini, kedua orang tua itu pasti tidak kalah menderitanya dengan dirinya. Apalagi Jaejoong tahu mereka akan mempertaruhkan segalanya untuk kebahagiaannya.
"Apakah kamu tidak merasa lapar, Joongie. Sudah beberapa hari ini kamu tidak makan sesuappun, umma ambilkan bubur ne chagi."
"Mulut Joongie terasa pahit, Umma. Joongie tidak merasa lapar."
Mata yeoja separuh baya itu berkaca-kaca mendengar ucapan putrinya. Ternyata kesedihan hatinya membuat jiwa dan raganya sakit.
Di luar malam kian merambat. Kelam, karena gumpalan ayam hitam begitu pekat membayangi cahaya bulan. Langit pun tak berbintang. Alam pun menjadi gelap. Semuanya kelam, seperti harapan Jaejoong yang semakin pupus. Air matanya sudah habis, tidak ada yang bisa menetes lagi. Beningan kristal itu telah mengering oleh tangisan yang panjang. Namun Jaejoong terus menangis, tapi hanya dalam hati.
"Ummaaa..."
"Ne chagi..."
"Joongie mau minum,"
Yeoja itupun tidak menunggu lagi. Dia segera merengkuh tubuh putrinya dan membantunya untuk bersandar. Kemudian ummanya mengambilkan segelas air di meja kecil di sampingnya. Dari tadi air itu sudah disiapkan Yu Ahjuma dan masih berada di atas baki.
"Ini chagi, minumlah..."
"Gomawo, umma..." ujar Jaejoong lirih. Dia mencoba untuk tersenyum dan dia berhasil. Senyumannya sangat tipis, namun hanya membentuk lengkungan yang patah. Tapi tidak lama itu berlangsung, karena yeoja itu merasa tubuhnya semakin lemah hingga tidak bisa merasakan apa-apa lagi. Kesadarannya tiba-tiba hilang, tubuhnya melayang, dan matanya terpejam. Tubuhnya yang tengah bersandar tiba-tiba ambruk di tempat tidur. Jaejoong pingsan. Ummanya sangat panik melihat putrinya.
"Yeobo...Yeobo...Yeobo...Joongie...Yeobooo...!"
Tuan Kim yang berada di kamarnya itu terkejut mendengar teriakan istrinya. Dia yang tengah berfikir kemana dirinya harus mencari Yunho. Tapi takkala dia mendengar jeritan istrinya, dia langsung berlari menuju kamar putrinya.
"Ada apa Teukie...?
"Joongie yeobo... Aegya kita yeobo...Hiks..."
"Waeyo... Waeyo dengan Joongie...?"
"Joongie pingsan, hiks..."
"Tenanglah, Teukie... Aku akan menelpon dokter Choi."
Tuan Kim kemudian segera menghubungi Dokter Choi yang merupakan dokter keluarganya. Memang bagi orang yang berada seperti keluarga Jaejoong, mesti mempunyai dokter keluarga yang bisa dimintai tolong setiap saat. Terlihat tangannya menekan beberapa angka yang cukup di hafalnya.
"Yeoboseyo, Dokter Choi di sini."
"Mianhamnida, Dok. Saya mengganggu Dokter."
"Oh, Tuan Kim Youngwoon. Ada apa, Tuan Kim."
"Jaejoong, Dokter. Dia tiba-tiba saja pingsan. Saya takut dia kenapa-kenapa."
"Baiklah. Tuan Kim tunggu sebentar, saya akan segera kesana."
"Gamsahamnida, Dok...!"
Tak ada lagi jawaban. Namja separuh bawa itu meletakkan gagang telepon setelah yakin Dokter Choi juga telah menutup teleponnya. Kemudian dia segera menjumpai istrinya yang masih memeluk putrinya.
"Teukie... tenanglah, sebentar lagi Dokter Choi akan datang."
Namun istrinya tidak menghiraukan ucapan suaminya. Dia tetap saja memeluk putrinya sambil menangis. Dia mencium wajah putrinya dan menangis sejadi-jadinya di pipi aegya-nya yang halus. Dia masih memeluk aegya-nya ketika Dokter Choi sudah datang diantar oleh Yu Ahjuma yang juga terlihat panik.
"Teukie... Dokter Choi sudah datang. Biarkanlah dokter memeriksa Joongie dulu."
Nyonya Kim segera melepaskan pelukannya. Dia menyerahkan sepenuhnya kepada Dokter Choi untuk memeriksa keadaaan putrinya. Yeoja itu memeluk suaminya, kesedihannya masih melekat di hatinya. Suaminya mengerti dengan perasaan seorang umma yang telah melahirkan aegya-nya. Namja itu sendiri sangat terpukul dengan kenyataan yang menimpa putrinya, apalagi istrinya.
"Bagaimana, Dok...?" tanya Nyonya Kim setelah melihat Dokter Choi selesai memeriksa Jaejoong.
"Jaejoong tidak apa-apa. Dia baik-baik saja. Cuma kondisinya memang sangat lemah. Menurut saya yang sakit bukan fisiknya, tapi dia menderita tekanan batin. Sepertinya ada keinginannya yang tidak tersampaikan. Dia akan sembuh jika itu diperolehnya, tetapi sebaliknya, kalau itu tidak segera terpenuhi, bisa-bisa Jaejoong menderita depresi berat dan mianhae.. tidak menutup kemungkinan Jaejoong juga bisa gila."
"Anniiii..." teriak nyonya Kim setelah mengetahui kondisi putrinya. Dan nyonya Kim pun makin terisak. Dia semakin tersayat mendengar penuturan Dokter Choi.
"Oh nae-aegya..." desah Tuan Kim sembari merangkul istrinya yang menangis.
"Jadi, apa yang harus kami lakukan, Dok...?"
"Mencari cara agar keinginan Jaejoong bisa segera terpenuhi."
"Kami mengerti, Dok. Memang saat ini Jaejoong tengah merindukan seseorang. Namanya Yunho. Jaejoong mencintai namja itu, tapi entah kenapa tiba-tiba Yunho menghilang entah kemana. Kami telah mencarinya kemana-mana. Namun kami tidak menemukannya."
"Menurut pendapat saya, itulah yang membuat Jaejoong mengalami depresi seperti ini. Batinnya tertekan karena cintanya yang belum tersampaikan"
"Kami juga mengira begitu. Makanya kami terus mencarinya. Tetapi..."
"Sudahlah, Tuan Kim. Tuan dan Nyonya Kim jangan putus apa. Cobalah terus berusaha sambil berdoa. Siapa tahu ada keajaiban."
"Baiklah, Dok. Kami akan mengikuti saran Dokter."
"Kalau begitu, saya permisi dulu Tuan Kim, Nyonya Kim. Sebentar lagi Jaejoong pasti akan sadar. Dia cuma lemah. Kalau ada apa-apa, Tuan Kim berat hubungi saya!"
"Ne. Gamsahamnida, Dok..."
"Cheonmaneyo."
Tuan Kim dan istrinya mengantar Dokter Choi sampai di beranda depan. Namja itu kemudian memasuki mobilnya yang diparkir di halaman dekat taman. Sebentar saja, mobil itu sudah melaju meninggalkan rumah mewah itu.
"Ayo Teukie, kita ke kamar Joongie, siapa tahu putri kita sudah siuman."
"Ne... Ayo"
Kedua orang tua Jaejoong beranjak dari beranda depan. Rumah mewah itu, kini tidak lagi menebarkan kehangatan. Keceriaan Jaejoong yang lenyap begitu saja, membuat suasana kegembiraan di rumah itu juga lenyap. Memang dari luar, bangunan itu tampak sangat megah, tapi di seluruh ruangannya, kini terhias kesedihan pemiliknya. Mereka semua bersedih menyaksikan permata itu tidak berkilau dengan sempurna. Sinarnya redup dan layu. Ohh... Joongie sampai kapankah penderitaan ini akan menyelimuti hari-harimu, desis Nyonya Kim ketika dia berada di depan Jaejoong yang terbaring lemah.
Kedua orang tua itu masih berada di kamar putrinya. Mereka menjaga Jaejoong sepanjang malam. Sebentar kemudian terlihat keduanya tertidur di kursi karena terserang kantuk. Namun sebentar kemudian Nyonya Kim terlihat terbangun, ketika mendengar putrinya mengigau memanggil-manggil nama Yunho. Yeoja separuh baya itupun mengelus wajah putrinya. Dia melirik suaminya, namja itu masih tertidur dengan bersenderan di kursi. Dia pun tidur lagi dengan merebahkan kepalanya di pinggiran panjang putrinya ketika yeoja itu telah terlelap kembali.
Sampai fajar menyingsing. Pagi pun akan segera tiba menggeser malam yang teramat panjang bagi suami-istri itu. Mereka terbangun ketika mendengar seseorang memasuki kamar itu.
"Eh... Yu ahjuma."
"Mianhamnida nyonya. Saya mau mengganti air nona Jaejoong."
"Ohh... sudah pagi rupanya."
"Baru jam lima, nyonya..."
Tanpa menghiraukan lagi kata-kata Yu ahjuma, Nyonya Kim menatap putrinya. Rupanya Jaejoong masih tertidur. Barulah dia membangunkan suaminya dan beranjak dari kamar Jaejoong, bermaksud untuk membersihkan diri mereka masing-masing.
"Hati-hati Yu ahjuma. Jangan sampai Joongie terbangun." ujar Tuan Kim ketika melihat Yu ahjuma mau membersihkan kamar itu.
"Ne, Tuan."
Mereka kemudian berlaku meninggalkan Yu ahjuma yang tengah merapikan kamar Jaejoong.
Sementara di luar langit sudah mulai terang. Mega-mega merah terlihat bertengger. Itu pertanda tidak lama lagi matahari akan muncul dengan kehangatan sinarnya. Burung-burungpun berkicau, bernyanyi menyambut datangnya pagi yang merekah.
Tuan Kim dan istrinya kembali ke kamar Jaejoong setelah membersihkan diri mereka. Dalam hati, mereka terus berdoa untuk kesembuhan putri mereka dan terbesit harapan baru, semoga putri mereka akan pesat sembuh dan ceria seperti dulu lagi. Tak lama kemudian mentari pagi mulai mengintip dari celah-celah kamar itu. Pagi pun datang dengan kecerahan yang sempurna.
-TBc-
mian chingu harus putus dulu disni. Karena aku udah gak bisa mikir lagi.. Aku kok malah bikin umma menderita gini yah? Niat awal kan mau buat appa yang menderita lha kok ini malah begini.. Ya sudahlah tak apa.. Aku tunggu reviewnya chingudeul yang baik karena review itu adalah semangat untukku. Sampai jumpa di chap selanjutnya. Annyeong.
