Title : The Kingka Strawberry and Vanilla

Author : Sulis Kim

Main C : Kim Jaejoong

Jung Yunho

Other

Rate : T~M

Genre : School life, Family, Comedy (gagal) Friendship.

WARNING

YAOI Boy x Boy, jika tidak suka jangan baca, Author cinta damai.

Ff ini milik saya seorang. Jika ada kesalahan typo dan salah kata mohon maaf. Menerima kritik dan saran yang membangun.

Don't like Don't read.

Alwasy keep the faith.

Happy Reading...!

Langkah kaki Jaejoong mengayun lebar sambil melompat lompat, kedua tanganya bergerak berlawan kesana kemari. Rambut almond pemuda itu telah berganti warna menjadi born terang dengan potongan rambut yang sedikit lebih pendek, poni atas mata juga jauh lebih pendek.

Baru saja Jaejoong selesai bersalon ria bersama sang ibu yang sudah membangunkanya di pagi buta. "Sudah saatnya kau ganti model rambut dan ubah warna rambutmu yang seterang matahari itu." Jaejoong tidak tahu harus bersyukur atau mengutuk salon sahabat ibunya itu rela buka pagi buta hanya untuk melayani ibunya yang crewet.

Jadi. Hari ini Jaejoong sudah berdandan rapi lebih rapi dari biasanya untuk ia tunjukan kepada kekasih hatinya, Yunho.

Jas seragam terpakai rapi dengan dasi senada yang menggantung indah kerah lehernya. Tas pungung Jaejoong melompat lompat seiring gerakan pemuda itu melompat ria. Jangan lupa bibir mungil Jaejoong bergerak imut menyanyikan sebuah lagu bahagia yang saat ini sedang tenar.

Suara klakson mobil dari sisi jalan mengagetkan Jaejoong. Mobil berwarna silfer itu berhenti, kamudian kaca mobil di turunkan. Munculan wajah mantan tetangga lamanya Go Ahra. "Hi Jongie."

Cengiran khas pemuda itu mau tak mau membuat Ahra tersenyum. "Nunaaaaa..." ia menunduk untuk menjajarkan tubuh dengan Ahra yang masih di dalam mobil. "Bagaimana Nuna bisa ada disini, bukankah Sekolah Nuna cukup jauh dari sekolah Jongie."

Di belakang kemudi duduklah seorang pria tampan yang sudah lama tidak Jaejoong lihat. Jaejoong mengerjap. Jin Yihan.

Tersenyum lebar kearahnya.

"Sepertinya kau melupakanku kucing nakal." Pekikan Jaejoong membuat sepasang kekasih yang masih di dalam mobil itu tertawa. Oh, Jaejoong masih tetap sama sejak terakhir mereka bertemu.

"Hyung, kapan Hyung kembali."

"Masuklah, kami akan mengantarmu."

"Tidak usah, sekolahan Jongie sudah kelihatan sebentar lagi bell masuk kenapa Hyung baru sekarang mencari Jongie."

"Benar juga apa kata Jongie." Ahra membenarkan. Sepulang sekolah nanti kami akan menjemputmu untuk makan malam bersama." Ahra mengedipkan mata.

Jaejoong mengagguk imut. "Akan Jongie ingat." ia melambai.

"Kau yakin tidak ingin kami antar." Yihan menyakinkan. "Kau akan terlambat."

Jaejoong berpikir sejenak, ia sudah terbiasa datang terlambat bukan. Tetapi kapan lagi bisa diantar pria tampan seperti Yihan. Dan akhirnya ia menerima ajakan pria itu. "Baiklah, kapan lagi kalian akan mengantarku." jawabnya gembira.

"Warna rambut yang bagus." Yihan berkomentar.

"Kau akan kaget melihat warna rambut Jongie yang sebelumnya, sayang."

"Almond." Menarik sabuk pengaman Jaejoong menyela. " kata Changmin warna itu sangat terang dan berani seperti Joongie."

"Kalian masih akur seperti dulu, bukan? Anak nakal itu,,,"Yihan tertawa dan mulai menjalankan mobil. "Bagaimana dengan Yoochun,"

Kali ini Ahra yang menjawab. "Mereka masih selalu bersama, kau tau apa yang mereka bertiga lakukan saat pertandingan atar sekolah minggu lalu."

"Nunaaa..." Seakan tuli Ahra mengabaikan rengekan Jaejoong yang manja. "Mereka bertiga mengintip kelas renang untuk anak gadis, sebagai hukumanya kepala sekolah menghukum mereka untuk membersihkan lapangan." Mereka tertawa mengabaikan gerutuan dan umpatan Jaejoong yang sedikitpun tidak menakutkan.

.

.

.

Memang sudah takdir. Padahal Jaejoong sudah diantar Yihan sampai di depan gerbang, akan tetapi Jaejoong masih juga terlambat lima menit. Untunglah ketika bell berbunyi ia sudah diambang gerbang, namun butuh waktu lima menit untuknya berlari masuk sebelum jam pelajaran di mulai.

Jaejoong menggeram di ambang pintu. Kenapa Guru disekolah ini selalu tepat waktu, tidak bisakah telah lima menit saja agar Jaejoong bisa masuk sebelum waktu belajar di mulai.

Dengan keberanian The Kingka Vanilla Jaejoong menyeret langkah kaki yang tiba tiba terasa berat. Yoochun dan Changmin telah mengetahui keberadaanya, dan mengisyaratkan untuk menyelinap masuk tanpa suara.

Mengendap endap seperti Jiji ketika akan mencuri makanan dari ibunya, Heechul. Jaejoong mulai melangkah pelan ketika Guru sejarah itu sedang sibuk menulis sesuatu di papan tulis. Ujung mata Jaejoong melirik penuh penasaran ketika melihat sosok lain yang berdiri di sisi Guru itu, seorang gadis berambut panjang.

Bisikan bisikan terdengar mengisyaratkan Jaejoong untuk segera masuk. Tentu saja teman temanya itu akan dengan senang hati menyelinapkan Jaejoong agar tidak mendapatkan hukuman. Bangku Jaejoong hanya berjarak dua meja dari tempat ia berdiri, mata Doo pemuda itu mendelik lebar ketika gadis itu juga menatapnya dengan keterkejutan yang sama.

"Nenek sihir." detik berikutnya kedua tangan mungil Jaejoong mendekap mukutnya sendiri. Dasar bodoh, ia mengatai diri sendiri ketika Guru sejarah itu menyadari keberadaanya dan mendelik sangar.

"Kim Jaejoong kau terlambat lagi di kelasku," Kaca mata pria tua itu sedikit turun dari tempatnya. "Untuk kelima kali dalam bulan ini." Nafas pria tua itu terdengar kasar ketika melanjutkan. "Aku tidak tahu lagi harus memberi hukuman apa untuk anak nakal sepertimu. Dari yang terberat sampai teringan sudah pernah kau jalani."

Jaejoong berdiri tegak ditempatnya, akan tetapi bola matanya melirik kedua sahabat yang mencibir dan mengatainya bodoh. Sialan mereka.

"Maafkan Aku Mr. Lee aku berjanji tidak akan terlambat lagi." Kedua tanganya bergerak kekiri dan kekanan. "Pagi tadi Jongie ke salon sehingga terlambat." ia mencari alasan.

Kontak seluruh mata menahan tawa dan menatap penuh kagum gaya rambut terbaru Kingka Vanilla mereka. Jaejoong tetap saja menggemaskan dengan warna rambut coklat terang itu. Jangan lupa tindik di telinga kirinya yang berkilauan tertutupi rambut, mereka berdoa semoga Mr. Lee tidak memperhatikan benda berkilau di telinga Jaejoong.

Sungguh, Mr. Lee sudah angkat tangan untuk mengatur anak bandel seperti Kim Jaejoong dan kedua sahabatnya. Jadi ia berkata, "Duduklah Jaejoong,"

Jaejoong menghela nafas bersyukur karena tidak mendapat hukuman. Kemudian Mr. Lee mengatakan sesuatu yang membuat bahunya lunglai. "Jam istirahat nanti bersihkan perpustakaan."

Ia menggerang. "Oh, Mr. Lee tidak adakah hukuman lain yang lebih ringan," Ia mulai merengek dengan nada yang menggemaskan.

"Membersihkan kolam renang sepertinya akan lebih cocok untukmu."

"Aku suka perpustakaan," Cengiran tanpa dosa pemuda itu membuat Guru sejarah itu memutar mata bosan. "Duduklah, dan anak anak..." Lelaki yang sudah beruban itu memutar tubuh kembali menghadap yang lain." Tadi kita sudah berkenalan dengan Kim Ga Eun, semoga kalian bisa berteman baik denganya."

Menghempaskan tas punggungnya di atas meja dengan begitu keras, Jaejoong juga menghempaskan tubuhnya sampai terdengar benturan kursi dengan meja belakangnya.

Changmin menggerutu ketika mejanya bergeser. "Dasar bodoh, hanya tinggal dua langkah untuk sampai di mejamu, dan dengan bodohnya kau menjerit seperti gadis kecentilan." Jaejoong memutar tubuh untuk mendelik kearah sahabatnya. "Diamlah, Chwang. Kenapa kalian meninggalkanku,"

"Model rambutmu lumayan juga." ia mengalihkan pembicaraan. Memainkan ujung poni Jaejoong Yoochun mendapatkan tamparan keras di pungung tanganya. "Jauhkan tangan kotormu itu dariku."

Bibir Yoochun kembali mencibir. "Nikmati saja hukumanmu."

Sial. Salah besar jika Jaejoong akan melepaskan Yoochun dan Changmin begitu saja. "Kalian harus membantuku," terdengar dehaman keras dari arah depan. Mereka bertiga duduk tegak dan sibuk kembali dengan buku pelajaran.

"Tidak akan, " Jaejoong mendengar Changmin menjawab. "

"Baiklah, malam ini aku akan makan malam dengan Yihan Hyung. Sebaiknya aku pergi sendiri saja."

Anak sialan. Jaejoong benar benar memiliki persediaan senjata menyerang yang cukup banyak untuk membuat menderita kedua sahabatnya itu.

"Setelah ku pikir pikir, perpustakaan lebih tenang jadi aku akan membantumu, hanya karena aku baik hati dan setia kawan."

Kali ini Yoochun yang berbisik. "Kau mengenal gadis itu, mendengar teriakan yang nyaring sudah dapat di pastikan kau mengenalnya."

"Ya," Jaejoong menjawab kasar.

"Seberapa akrab."

"Trimakasih, tapi aku tidak akan pernah akrab dengan nenek sihir itu." Kepala Yoochun menoleh kearah Jaejoong penuh curiga, begitu juga Changmin. Hey, ini pertama kalinya Jaejoong tidak tertarik kepada gadis cantik. Kim Ga Eun cukup lumayan untuk tidak di abaikan.

Apakah pengaruh Yunho sudah membuat pemuda itu tidak tertarik lagi dengan wanita. Yoochun bergidik. Ingatkan dia untuk tidak terlalu dekat dengan Jaejoong juga Junsu yang pagj tadi terus mengekorinya karena tidak menemukan Jaejoong dimanapun.

.

.

.

Yunho sengaja mencari Jaejoong ke kelasnya karena pemuda itu tidak membalas pesan juga tidak mengangkat telfonya sejak pagi tadi, ia harus mengingatkan Jaejoong untuk mengubah kebiasaan buruk kekasihnya itu dengan mengabaikan Yunho ketika sedang merajuk.

Akan tetapi ia sudah tidak sabar melihat Jaejoong dan ingin melihat gaya rambut baru kekasihnya itu.

Ah, jatuh cinta itu terasa menyenangkan. Ia sudah merindukan Jaejoong padahal baru tadi malam ia bertemu dengan kekasih cantiknya.

"Hoy, Yunho. Jaejoong tidak ada di kelas." Itu suara salah satu teman kelas Jaejoong. Yunho lupa siapa namanya. "Jaejoongie membersihkan perpustakaan, si centil itu mendapat hukuman karena lagi lagi terlambat masuk." Pemuda itu tertawa. "Hati hatilah Yun, Jaejoong semakin mempesona dengan gaya rambut dan warna baru yang membuatnya terlihat semakin menggemaskan."

Amarah menguasai Yunho. "Sialan kau," Pemuda malang itu mundur ketika melihat Yunho menerjang maju." Oh, ayolah Yunho. Kau tahu aku bercanda, tidak akan ada yang berani merebut Jaejoong darimu. Kalian pasangan yang serasi dan semua murid menyukai itu."

"Aku tidak butuh dukungan siapapun," Melangkah keluar kelas Yunho hampir saja menabrak seseorang ketika akan melewati pintu.

"Ups..." Gadis itu berhenti di saat yang tepat sebelum tubuh besar Yunho menabraknya. Yunho mendorong bahu gadis itu dan melenggang pergi.

Ga Eun tersenyum misterius ketika memperhatikan Yunho berjalan menjauh. Pemuda itu tidak mengingatnya, dan ia akan membuat Yunho mengingatnya sekarang. "Yunho, tunggu." Ia berlari mengejar Yunho.

Akan tetapi Yunho tidak mengurangi kecepatan langkah kakinya yang panjang. Ga Eun sampai harus berlari untuk mengejarnya.

Ia sudah mengira Yunho juga bersekolah di Shinki ketika melihat Jaejoong tadi pagi. Bahkan ia sudah berkeliling untuk mencari Yunho dimana mana namun nihil. Dan ketika dirinya sudah pasrah dan memutuskan akan bertanya kepada Jaejoong setelah pemuda itu menyelesaikan hukumanya Yunho malah muncul di kelasnya.

Tentu saja, Yunho akan sama seperti pemuda lain yang mencari perhatian dirinya jika pemuda itu sudah benar benar melihatnya, bagaimanapun juga dia cantik lebih cantik dari gadis tercantik di Shinki. "Yunho, tunggu."

Pemuda itu berdiri di ambang pintu sebuah ruangan yang Ga Eun sendiri belum tahu ruangan apa. Terdengar suara aneh yang membuat bulu kuduk gadis itu merinding.

Tubuh Yunho menegang, pemuda itu menggeram marah, dan bersiap untuk menerjang masuk. "Tunggu Yunho," Ia menarik lengan pemuda itu untuk mencegah. Dan Yunho menggeryit kearahnya. "Kau tidak boleh masuk, di dalam ... Mereka sedang..." ia kembali diam ketika terdengar suara rintihan atau lebih tepatnya suara kikikan seseorang diikuti dua suara lain yang berbeda.

"Oh, diamlah Jongie, aku tidak dapat melihat lehermu kalau kau menutupinya dengan tangan. Chwang pegangi dia agar aku bisa menyelesaikan tugasku dengan cepat, dan tiba giliranmu."

"Jongie, lepaskan kemejamu."

"Geli, bodoh." Jaejoong berteriak histeris.

Kecemburuan menguasai Yunho. Ia mendobrak pintu detik itu juga dan mendapati Changmin berdiri di belakang Jaejoong untuk menahan pemuda itu agar tidak bergerak. Dan Yoochun yang menunduk di hadapan Jaejoong dengan kemeja pemuda itu terbuka.

.

.

.

"Ada apa dengan sekolahan ini, kenapa banyak sekali murid pindahan di tahun ini." Jaejoong melempar buku ke atas meja, mendapat jitakan kasih dari Yoochun.

"Kalau kau berani melempar satu buku lagi kami akan meninggalkanmu sendirian, lupakan tentang makan malam itu karena kami yakin kau tidak akan pergi sendirian kesana. "Dan sialnya mereka benar Jaejoong tidak akan menjadi pihak ketiga yang terabaikan ketika Yihan dan Ahra saling bermesraan di hadapan mereka. Kebiasaan yang tidak akan pernah berubah.

"Aku ingin terlihat keren di hadapan Yihan Hyung." Mata Jaejoong menerawang. Membayangkan tubuh kekar yang tidak akan pernah dimilikinya. "Akan aku tunjukan aku bukanlah Jaejoong kecil yang mengemaskan seperti yang tadi pagi ia katakan."

"Kau memang menggemaskan." Sahut Yoochun.

Mengabaikan Yoochun Jaejoong memikirkan sesuatu yang membuatnya terlihat lebih keren" Mungkin jika aku memiliki Tattoo dia akan menarik kata katanya itu kembali, Ya Tattoo." Binar bahagia yang di tunjukan Jaejoong menyakinkan Changmin akan terjadi sesuatu yang buruk. "Jangan menatapku,"

Jaejoong mengalihkan pandanganya kearah Yoochun."Apa, tidak , kau tidak boleh menggambari tubuhmu yang mulus itu dengan gambar kucing berpita seperti hello kitty. Yihan akan menertawakanmu." Ia menambahkan. "Bibi Heechul akan mencincangmu dan memberikan dagingmu untuk makanan Jiji." Yoochun bergidik.

Mendaratkan jitakan sayang untuk ChunMin Jaejoong berkata. "Bodoh, tentu saja bukan Tatto asli kalian hanya perlu menggambarnya di bagian tubuhku."

Mata Yoochun menyelusuri dari atas kebawah."Aku tidak yakin Tattoo apapun akan cocok untukmu,"

Namun Jaejoong sudah menanggalkan Jas disusul membuka kancing kemeja. "Apa kau akan pergi kesana dalam keadaan telanjang Jongie." Changmin menatap horor. "Kau akan mempermalukan dirimu sendiri."

Ya Tuhan, sejak kapan Changmin menjadi bodoh seperti itu. "Aku ingin kau menggambarnya di dada nagian atas leher dan lengan atasku."

"Kenapa sekarang, kau tidak akan mandi sore ini?"

"Tentu saja sekarang, dan aku akan berhati hati ketika mandi, lupakan hukuman kita karena perpustakaan ini akan sama berantakan kalau mereka kembali kesini."

Mengeluarkan spidol dari laci Jaejoong menyerahkan benda itu kepada Yoochun. "Aku tidak yakin ini ide yang bagus Jongie."

"Lakukan saja, atau aku akan mengulitimu."

Kedua sahabatnya lagi lagi memutar bola matanya. Mereka tidak yakin Jaejoong berani melakukan itu, jika ia sendiri takut gigitan semut apalagi menguliti orang.

Yoochun mendesah pasrah. "Aku akan melukis bagian leher dan Changmin kau gambar bagian lenganya."

Baru beberapa goresan Jaejoong sudah menggeliat tidak nyaman ketika ujung spidol itu menggelitik di kulitnya. "Oh, diamlah Jongie, aku tidak dapat melihat lehermu kalau kau menutupinya dengan tangan. Chwang pegangi dia agar aku bisa menyelesaikan tugasku dengan cepat, dan tiba giliranmu."

"Jongie, lepaskan kemejamu."

"Geli bodoh." Jaejoong berteriak histeris.

"Kau yang meminta kami menggambar untukmu, dan ini bukanlah kemauan kami." Yoochun menggeram, Jaejoong benar benar tidak bisa diam.

Pintu perpustakaan terbuka dan terbantik di tembok menimbulkan suara yang cukup keras sampai sampai tiga pasang mata yang berada di dalam perpustakaan menatap terkejut kearah pintu. Yunho berdiri disana dengan wajah merah padam dan tangan terkepal erat.

"Apa yang kalian lakukan," Suara Yunho menggema di pepustakan yang memang dikosongkan untuk dibersihkan oleh Jaejoong Cs.

"Seharusnya kami yang bertanya seperti itu." Mengeliat untuk dapat lepas dari cengkraman Changmin, Jaejoong berdiri di atas kedua kakinya. "Kau mengganggu kami Bear," meskipum Jaejoong senang melihat kekasihnya itu disini. Egonya tidak akan membiarkan ia tersipu hanya karena mengingat ciuman mereka tadi malam.

Mata setajam musang Pemuda itu mendelik kearah Yoochun kemudian Changmin. Oh, sial Yunho cemburu tentu saja. Dan Jaejoong yang polos tidak akan menyadari hal itu kalau tidak diberitahu.

"Jelaskan kepadaku, Jaejongie." Yunho bertanya dengan penuh penekanan di setiap kata. "Apa yang sedang kalian lakukan, dan untuk apa kau membuka kemejamu." Tuhan, Jaejoong akan membunuhnya jika tidak segera mengancingkan kembali kemeja pemuda itu yang memperlihatkan dada putihnya.

Sekuat tenaga Yunho mengabaikan bagian lain tubuh Jaejoong yang terbuka dengan fokus menatap mata Jaejoong yang mendelik lebar kearahnya. "Pakai kembali bajumu Jongie."

Kedua sahabat Jaejoong saling menatap satu sama lain, mencari waktu yang tepat untuk kabur dari ruangan yang tiba tiba terasa panas oleh hawa kemarahan sepasang kekasih yang sedang bertengkar.

Yoochun khawatir kertas kertas di seliling mereka akan mudah tersulut, hey ini perpustakaan yang terisi buku buku yang mudah terbakar. Tidak, mereka akan jadi daging panggang jika tidak segera lari. Sekali lagi ia melirik Changmin yang juga sedang menatapnya. Sepertinya ia sudah ngelantur dengan berpikir akan terjadi kebakaran.

Ga Eun berdiri di belakang Yunho menatap tiga pasang mata yang menatap tajam kearahnya. Jemarinya memegang lengan Yunho, sedangkan pemuda itu tidak menyadarinya. Yunho terlalu murka dna berfokus kepada Jaejoomg dan kemeja yang terbuka.

Dengan tatapan polos yang di buat buat Ga Eun berkata. "Sepertinya kita mengganggu mereka, Yunho." Nada suara yang begitu akrab gadis itu membuat alis Jaejoong bergerak gelisah. "Sebaiknya kita pergi, dan membiarkan apapun yang akan mereka lakukan, kita tidak boleh mengganggu mereka."

Wajah Jaejoong memberenggut hancur sudah kebahagiaan bertemu Yunho. Pandanganya melirik tangan nenek sihir itu di lengan kekasihnya. Dan Yunho diam saja, apakah pemuda itu telah lupa dengan apa yang terjadi tadi malam. "Apa yang kau katakan kepadaku tadi malam, Bear."

Dada Jaejoong seperti terhimpit, apakah mereka sudah sedekat itu. Padahal Jaejoong hanya mengabaikan Yunho sejak pagi dan tidak menenuinya siang ini karena ia harus menjalani hukuman.

Seakan tidak menyadari ketegangan lain yang ditimbulkan gadis di belakangnya Yunho berkata. "Jangan mengalihkan topik yang sedang kita bahas, Jaejongie." Melangkah maju cengkramam Ga Eun terlepas. Yunho berdiri di hadapan Jaejoong, jemari Yunho meraih kancing demi kancing mengaitkan kelubang masing masing sampai sepenuhnya tertutup dan meninggalkan satu kancing tetap terbuka dibawah dagu Jaejoong.

"Aku tidak mengalihkan topik pembicaraan kita, aku hanya ..."

Yunho memotong. "Dan apa ini," Menunjuk spidol yang masih di genggaman tangan Yoochun. Pemuda itu segera melemparnya keatas meja, benda panjang itu menggelinding kemudian jatuh kelantai dengan bunyi yang lumayan keras.

Mata musang Yunho melirik tulang rusuk Jaejoong yang bergambat sesuatu yang tidak jelas. Tiba tiba Yunho merasa kepalanya pening. "Ya, Tuhan. Kau benar benar nakal,"

Jaejoong tidak berkata apa apa begitu juga kedua sahabatnya yang berdiri di belakang tanpa mengucapkan sepatah katapun. "Kau pikir dirimu itu preman pasar dan mengambari tubuhmu, kau masihlah seorang pelajar ,Jaejoong." Yunho berhenti hanya untuk menarik nafas. "Tidak bisakah kau berhenti membuat masalah dan jadilah anak baik manis dan penurut. Bukan anak badung yang mencari masalah setiap harinya."

Pemuda itu mengatakan suatu kebenaran yang tak Yoochun ragukan, akan tetapi Yunho sudah sangat keterlaluan jika pemuda itu bisa mengatur kehidupan Jaejoong hanya karena Jaejoong memilihnya untuk dijadikan kekasih. Jaejoong memang suka membuat masalah dan Yoochun sendiri sudah mencoba menasehati Jaejoong dengan cara halus karena Yoochun tahu Jaejoong memiliki hati lembut selembut kapas yang mudah terombang ambing. Bukan dengan cara kasar yang Yunho katakan saat ini.

"Kau keterlaluan Yunho." Yoochun bersyukur karena Changmin mengatakan itu terlebih dahulu. Berarti mereka memiliki pemikiran yang sama. "Aku hargai kau begitu perhatian kepada Jaejoongie, tetapi kami tidak akan diam saja jika kau mencoba mengaturnya."

Tangan Yunho mengibas, menolak fakta itu. "Aku tidak mengaturnya, aku hanya ..." Ia terdiam. Ya Tuhan, mata Doo kekasihnya itu sudah memerah.

Rasa sesal menyusup begitu cepat ke rongga dada Yunho, bagaimana bisa ia membentak Jaejoong. Dirinya hanya tersulut emosi karena ia pikir mereka melakukan hal hal yang tidak seharusnya dilakukan tiga orang sahabat, Yunho punya alasan, siapapun akan berpikiran sama jika mendengar kata kata mereka bertiga dari luar perpustakaan.

Ah, apakah ia sedang membela diri atas kesalahan dirinya dengan membentak Jaejoong tanpa mendengarkan penjelasan kekasihnya itu terlebih dahulu. Sial, dan sekarang ia harus minta maaf. "Maafkan aku,"

"Kau benar." Suara Jaejoong begitu lirih. "Aku preman pasar yang suka mencari masalah dan menyebalkan untuk semua orang."

"Tidak ..."

Jaejoong menyahut sebelum Yunho menjelaskan." Ya, kau benar,,, aku... aku tidak berguna, anak nakal yang sudah membuat semua guru dan kepala sekolah kalang kabut, kalau begitu abaikan aku,,, abaikan Kim jaejoong pembuat onar yang selalu membuatmu sakit kepala dan carilah orang yang baik, manis dan penurut seperti yang kau inginkan." Jaejoong menyambar Jas dan berlari keluar perpustakaan diikuti Yoochun yang segera mengejarnya.

"Jae..." Changmin menahan Yunho.

"Jaejoong benar, aku peringatkan kau untuk mengikuti saranya jika tidak ingin hidupmu di ganggu oleh kami. Jaejoong adalah Jaejoong dan kami menyayanginya karena dia Kim Jaejoong yang nakal dan suka mencari masalah. Bukan Kim Jaejoong yang manis dan penurut seperti yang kau cari, maaf tidak ada kim Jaejoong seoerti itu disini." Sebagai salam perpisahan Changmin mendorong pria itu sampai tubuh Yunho terjerembab membentur meja.

Dan melayangkan tatapan benci dan jijik kearah Ga Eun. Dan gadia itu seperti biasa mengabaikan tatapan yang menurutnya tatapan cemburu karena ia lebih dekat dengan Yunho di banding pria tinggi seperti tiang listrik itu.

~TBC~