Makasih buat respon baik kalian...

Buat yang gak login, login pliiiiissss...

Biar enak aku bales review kalian...

.

.

Okelah kalau begitu, luv yu ma rider!

.

.

.

-(Neji pov)-

Aku menggerak-gerakkan kakiku tak sabar. Menunggu memang hal paling menyebalkan. Waktu terasa berjalan lambat dan membosankan. Harusnya tadi aku ikut saja masuk ke ruang rawat ibu Sasori.

Aku mendongak mendengar suara langkah tegas ke arahku. Ini bukan suara langkah buru-buru seperti halnya para dokter dan perawat atau keluarga pasien. Suara ini tenang dan tegas.

Tentu saja, harusnya aku menduga jika tuan sialan Kizashi ada di sini. Dia sedang berperan menjadi suami baik hati? Menggelikan.

"Kau di sini?" si pengoleksi harem itu berhenti tepat didepanku. Membuatku tak bisa tidak mengutuknya dalam hati.

"Kau masih bertingkah seolah aku penjahat?" Lagi, suara tuan sialan Haruno itu terdengar saat aku mengacuhkannya.

Aku melotot ke arahnya. Memangnya dia tidak merasa kalau dia penjahat? Memaksa seseorang agar menerima lamarannya dengan ancaman sadis itu lebih dari penjahat! Cih sampai kapanpun aku tak akan menganggap orang ini ayahku. Dia hanyalah maniak harem.

"Bukankah itu kenyataannya?!" Sinisku tanpa takut.

Aku tak peduli meski wajahnya mengeras, semarah apapun dia tak akan membuatku takut. Aku justru semakin ingin menonjoknya!

"Sekarang aku mengerti mengapa Sakura memaksaku menikahi ibumu. Kau bahkan tak akan mampu hidup dengan baik tanpa rasa bencimu." Ucap si pengoleksi harem sialan itu tenang. Kelewat tenang.

Aku mengepalkan tanganku menahan diri agar tak meninjunya dan membuat keributan dirumah sakit. Gigiku bergemeletuk menahan emosi karna ucapannya.

"Apa maksudmu? Putri sialan itu yang memaksamu menikahi ibuku?" Geramku tanpa rasa hormat.

Si tua bangka Haruno sialan itu sudah akan membuka mulut. Jika dilihat dari uratnya yang saling menonjol, aku yakin dia marah. Dan aku tak peduli. Sayangnya seseorang datang membuatnya mengatupkan rahangnya kembali.

"Tuan, sudah waktunya menemui tuan Hiruma." Orang itu sedikit membungkukan tubuhnya pada Haruno sialan tua bangka itu.

Aku menatap tajam pria yang memaksa menjadi ayahku. Dia sedikit merapikan pakaiannya dan melangkah pergi di ikuti pria tadi. Namun dia berhenti di langkah ke lima.

"Seharusnya aku tak membiarkan putriku memperhatikanmu. Kau hanyalah bocah bodoh yang menyusahkan." Ucapnya lalu melanjutkan langkahnya dan pergi.

Kepalaku rasanya mau meledak merasakan kemarahan yang memuncak. Sebisa mungkin aku mengepalkan tangan menahan diri agar tak berteriak. Setidaknya aku tak akan mempermalukan diriku sendiri dengan berteriak-teriak disini.

Aku menarik nafas beberapa kali demi melonggarkan sesak di dadaku. Aku sungguh ingin meninju wajah seseorang. Dan apa yang dilakukan Sasori hingga terlalu lama berada di dalam sana. Oke, ini baru lima belas menit, tapi menahan kemarahan selama lima belas menit itu neraka!

Setelah menit-menit menyebalkan terlewati, akhirnya aku melihat Sasori berjalan ke arahku. Aku sangat ingin memakinya karna membuatku menunggu terlalu lama. Tapi niat itu segera ku urungkan saat melihat wajah sandunya. Hhh. Entah sejak kapan Sasori mengusik emosiku. Aku terlalu berlebihan dengan memikirkannya.

"Maaf membuatmu menunggu lama, Neji." Ucap si merah ini memaksakan senyumnya. Ck, seharusnya dia tak perlu memaksakan diri jika memang sedang tak bisa tersenyum. Aku tak keberatan dengan wajah cemberutnya.

Tunggu! Bukankah itu terdengar ambigu? Aku ingin membenturkan kepalaku ke tembok. Sialan. Tak bisakah aku bersikap tenang layaknya si Sasuke itu.

"Baguslah jika kau sadar." Mulut ketusku bicara tanpa menunggu perintah otakku. Benar-benar menyebalkan. Hidupku, mulutku dan pikiranku sama sekali tak sinkron.

Daripada semakin kesal, aku melangkah menduluinya ke parkiran. Supir Sasori sedikit membungkukkan tubuhnya sebelum membukakan pintu mobil untuk kami. Ini mengherankan, aku yang dulu bahkan hanya bisa setahun sekali memakan daging sapi sepuasnya, kini seolah menjadi tuan muda yang mendapatkan bungkukan hormat. Hidupku sungguh ironi.

Perjalanan ke tempat kerja Sasori diselimuti kesenyapan. Sangat tak nyaman. Aku melirik Sasori yang menatap keluar jendela. Sepertinya dia memiliki beban berat. Ini membuatku sedikit berfikir, apa dia memiliki masalah menyebalkan sepertiku?

"Kita sudah Sampai tuan." Si supir membukakan pintu lagi untukku lalu untuk Sasori. Kelihatannya pekerjaannya merepotkan.

"Terima kasih." Ucap Sasori dengan senyum manis sementara aku dengan acuh berdiri disampingnya. Sikap manisnya membuatku ingin menggerutu.

Kami disambut oleh seorang wanita berwajah ramah. Bersurai hitam sebahu dan cantik. Dengan langkah anggun dia menghampiri kami, atau lebih tepatnya Sasori.

"Kau tepat waktu. Ini aniki mu yang lain?" Tanyanya sembari membimbing kami memasuki gedung.

"Bukan. Dia ini otouto ku. Aku hanya punya dua aniki dan satu aneki. Dan Neji ini otoutoku." Sasori menjelaskan dengan nada manis. Aku ingin mengerang saat melihat wanita itu menutup mulutnya menatapku dan Sasori bergantian.

Tertawa saja jika ingin tertawa. Kenapa ditahan-tahan dan membuatku sebal. Mungkin karna menyadari tatapan tajamku, wanita itu menurunkan tangannya dan berdehem.

"Ku pikir kau terlalu imut untuk menjadi anikinya." Gumam wanita itu yang hanya disahuti senyuman oleh Sasori karna penata riasnya sudah memanggil.

Aku tahu dan setuju dengan ucapan wanita itu. Seharusnya memang Sasori yang menjadi anak bawang, wajahnya sangat anak bawang sekali. Tapi aku juga tersinggung. Ucapannya seolah menegaskan jika aku terlalu tua untuk jadi adik Sasori. Padahal itu karna Sasori yang seperti bayi. Huufft. Apa aku terlalu sensitif?

"Kenalkan, namaku Shizune. Aku sudah berkenalan dengan putri tunggal Haruno, ah maksudku kakak kalian..." Dia sepertinya salah tingkah karna menyebut si merah muda sialan itu tunggal. Sebenarnya aku tak peduli karna aku sama sekali tak menganggap jika diriku bagian dari Haruno sialan itu.

"...Sebelum Sasori menjadi bagian dari Haruno, aku sebagai managernya yang mengurus dia dari hal kecil sampai hal besar. Tapi sejak menjadi Haruno, semuanya yang ku lakukan untuk anak itu dibatasi. Aku mengerti dengan menjadi seorang Haruno membuat Sasori jadi berbeda statusnya dengan sebelumnya, hanya saja aku cukup merasa kehilangan." Aku mendengus lirih. Apa wanita ini sedang curhat? Yang benar saja. Memangnya aku peduli dengan segala keluh-kesahnya? Jika iya, berarti aku akan mati dalam seminggu.

Mengabaikan ocehan bernada keluhannya yang sepertinya masih panjang, aku memilih memperhatikan Sasori yang berpose di depan kamera.

Pria itu mengenakan pakaian ala pangeran kerajaan inggris berwarna merah. Senada dengan rambutnya. Dia berpose memegang topi di atas kepalanya seolah akan jatuh sedangkan tangan satunya memegang tongkat setinggi pinggangnya. Memangnya apa tema pemotretan ini?

Beberapa kali Sasori berganti pakaian, pose dan tempat. Seolah sesi pemotretan mereka merambati dan menelusuri ruangan ini. Itu terlihat konyol dan melelahkan di mataku. Tapi sepertinya hanya di mataku karna Sasori justru terlihat sumringah mengikuti segala arahan si fotografernya.

Aku mengernyit menyadari sesuatu. Seketika itu mulutku gatal ingin berkomentar.

"Memangnya yang membeli majalah ini anak-anak?" Dengusku. Lihat saja dekorasi dan segala pernak-pernik disekitar Sasori. Orang dewasa mana yang menyukai hal manis seperti ini?

"Hah? Sasorikan memang model untuk majalah anak-anak." Sahut Shizune menatapku dengan wajah bodoh.

Aku nyaris tersedak karna salivaku sendiri mendengar ucapannya. Aku baru tahu! Seharusnya Sasori memang menjadi anak bawang saja. Pekerjaannya jelas menunjukkan jika dia anak bawang!

Karna berkutat dengan pikiranku sendiri, aku baru sadar jika Sasori sudah tak ada diruangan ini. Aku mengedarkan pandanganku karna ternyata Shizune juga tak lagi disampingku. Tak ada Sasori, namun Shizune terlihat sedang bicara dengan si fotografer.

"Di mana Sasori?"Tanyaku menghampiri Shizune. Aku tak perlu menambahkan kata -nii karna sedang tidak ada si merah itukan.

"Sedang berganti pakaian. Ikuti saja lorong itu dan kau akan menemukan pintu bertuliskan ruang ganti." Sahut Shizune acuh tak acuh. Sepertinya pembicaraannya penting.

Mendengus, aku segera mengikuti petunjuknya. Mataku memicing saat nyaris membuka pintu, aku melihat seseorang menginjak kursi dan mengulurkan tangannya ke atas bilik ganti. Dia sedang memotret atau merekam?

Tunggu, apakah Sasori yang sedang di intainya? Mengingat itu membuatku jengkel seketika. Berjalan tanpa menimbulkan suara, aku menghampiri pria itu dan membantingnya ke lantai. Mengabaikan erangannya, aku mengambil ponselnya yang terlempar.

Wajahku seketika memanas dan mau meledak melihat tubuh polos Sasori yang hanya menggunakan celana dalam. Pria ini benar-benar tukang intip.

"Kemarikan!" Pria itu merebut ponselnya dariku. Namun sebelum dia kabur, aku menarik kerah bajunya dan sekali lagi membantingnya ke lantai.

"Kau pikir kau akan kemana setelah melakukan hal tak senonoh hm?" Sinisku. Ah benar juga, sejak tadi aku menahan diri dari keinginan meninju seseorang. Sepertinya tuhan berbaik hati memberiku media pelampiasan.

"Neji!" Buk. Bersamaan dengan tinjuku yang menadarat di pipi pria pengintip, Sasori keluar dari bilik. "Apa yang kau lakukan?!" Jerit Sasori.

"Meninju seseorang." Sahutku kalem dan memberi tinjuan susulan ke wajah si pengintip lagi. Mengabaikan erangan mengutuk pria itu dan jeritan Sasori yang menghentikanku.

"Neji! Hentikan! Apa kau gila!" Sasori menarik lenganku berusaha menjauhkanku dari pria di bawahku.

"Brengsek!" Umpat pria itu dan beranjak kabur setelah mengelap sudut bibirnya yang memar.

"Kau yang brengsek!" Aku menghempaskan Sasori dan mengejar pria itu. Baguslah larinya tak secepat yang ku kira. Mengabaikan orang-orang yang keheranan, aku berhasil menggapai kerah pria itu lagi dan membantingnya ke lantai. Lagi. Kali ini kami berada di ruang pemotretan tadi hingga banyak orang yang menonton.

"Apa yang kalian lakukan?!" Bentakan entah siapa itu.

"Neji!" Nah yang ini si pemilik tubuh telanjang yang terekam tadi. Mengingat rekaman itu membuat kepalaku nyaris meledak karna terlalu panas. Dan aku lengah hingga satu tinjuan mendarat di pipiku lalu tendangan di perutku.

Aku meringis namun dengan cepat bangun dan meraih pria itu lagi sebelum dia keluar ruangan. Mengabaikan jeritan-jeritan tak jelas disekitarku, aku meninjunya beberapa kali hingga dia hampir tersungkur jika saja seseorang tidak memegangiku dan pria itu.

"Neji! Ada apa denganmu!" Jerit Sasori memegangi lenganku dengan wajah hampir menangis. Sedangkan pria pengintip di pegangi seseorang entah siapa. Lalu si fotografer merentangkan tangannya di antara kami.

"Ada apa ini?" Dengan nada tegas si fotografer berucap. Sedangkan pria yang memegangi si pengintip mengeratkan pegangannya karna si pengintip mencoba berontak. Mungkin pikirnya si pengintip akan memukulku, padahal kenyataannya dia pasti berniat kabur.

"Dia merekam Sasori yang berganti pakaian dengan ponselnya." Ujarku sengit. Si fotografer menatap si pengintip yang terlihat pucat dan ketakutan.

"Tidak. Ini salah paham." Bantahnya. Sementara tangannya beringsut menyembunyikan ponselnya dibelakang tubuhnya. Usaha yang sia-sia. Kasihan.

"Buktikan saja." Tantangku saat si fotografer menatapku ragu.

Si fotografer mengambil paksa ponsel si pengintip yang sudah pucat itu. Jika hukumannya terlalu ringan nanti, aku saja yang akan membuatnya babak belur. Lagi pula memangnya apa yang bisa di lihat dari tubuh polos si muka bayi ini. Sangat datar meskipun putih mulus. Ck, apa yang ku pikirkan?

"Jangan lama-lama! Kau seperti maniak!" Aku merampas ponsel yang sedang memutar adegan Sasori ganti pakaian setelah sepuluh detik mereka lihat. Memangnya mereka tidak malu menonton orang ganti baju?

Aku melirik wajah Sasori yang memerah. Dia hanya menunduk menyembunyikan wajahnya. Apa dia malu?

Menghela nafas aku membongkar ponsel itu dan mengambil memorinya. Maksudku membongkar adalah menginjak-injak ponsel itu sampai hancur. Membuat semua yang ada di situ melongo terkejut. Memangnya mereka mengharapkan sikap seperti apa?

"Apa kau tak mau melakukan sesuatu padanya?" Tanyaku pada si fotografer yang melirik si pengintip ragu. Aku mengernyit. "Kalau begitu biar aku saja yang melakukan sesuatu."

"Neji!" Teriak Sasori menahanku. Ah si fotografer juga menahanku.

"Dia sepupuku. Aku harap ini akan selesai sampai di sini. Aku janji hal ini tak akan terjadi lagi." Bujuknya. Aku mendengus. Sepupu ya? Itukah yang membuat orang-orang di sini seperti orang bodoh?

"Kalau begitu aku akan menyelesaikannya di sini!" Raungku melepaskan diri dan menerjang si pengintip sepupu si fotografer. Kejadian ini membuatku muak. Mengingatkanku betapa keadilan sulit didapatkan seperti saat ayah dan adikku meninggal.

Aku mengabaikan beberapa orang yang berusaha menghentikanku. Meski akhirnya mereka berhasil menjauhkan si pengintip dariku, aku sudah berhasil menyarangkan banyak tinju dan tendanganku. Menjengkelkan.

"Ayo pulang!" Aku menyahut tangan Sasori dan menggeretnya keluar dari gedung sialan ini.

Setelah cukup jauh, aku berhenti untuk mengatur nafasku. Bukan karna lelah, namun karna rasa jengkelku yang tak terpuaskan.

Aku melirik Sasori yang menatapku. Kelakuannya membuatku mengerutkan dahi bingung. Terlebih dia tersenyum manis dan meraih ku. Mengalungkan tangannya ke leherku, memelukku.

"Apa kau gila?" Mulutku seperti sudah di setel untuk mengeluarkan kata-kata yang mengerikan.

"Terima kasih, Neji. Sebagai kakak harusnya aku yang melindungimu. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Terima kasih." Ujarnya lembut yang membuat kepalaku pusing.

"Kau kan memang menyedihkan yang tak bisa melakukan apapun sendiri." Mulutku. Sialan.

Sasori melepas pelukannya dan cemberut. Namun tak lama kemudian dia terkekeh manis. Hazelnya terlihat berbinar. Aku semakin bingung saat dia menggandeng tanganku.

"Ayo, ku pikir sesekali tak apa kita pulang berjalan kaki." Dia menggeretku berjalan santai menuju rumah.

Meski bingung, aku diam mengikuti langkahnya. Mataku memicing melihat tangan kami saling bertautan. Hhhhh. Aku masih belum mengerti apa yang ada di kepala si merah ini hingga bisa bertingkah konyol dengan menggandeng tanganku. Namun yang paling konyol adalah aku tak keberatan.

"Kau tahu Neji..." Aku hanya diam saat dia membuka suara. Langkahku yang sedikit lebih kebelakang darinya membuatku tak bisa melihat ekspresi wajahnya.

"Aku senang. Karna setelah kejadian tadi, setidaknya aku memiliki keyakinan jika keluarga akan selalu ada meski seburuk apapun diriku."

Aku sama sekali tak paham dengan ucapannya. Di mana letak keburukan seorang Sasori memangnya? Bahkan di mataku dia adalah yang terbaik di antara kami berlima.

"Neji... Mau ceritakan kenapa kau begitu membenci Sakura-nee?" Tanya Sasori yang melambatkan langkahnya mensejajariku.

Pertanyaannya kali ini membuatku cukup terkejut. Aku mengerjap beberapa kali seraya menatap ujung sepatuku yang melangkah beriringan dengan Sasori. Sebenarnya ini bukan rahasia, hanya saja memberitahu masalahku sama saja membuka diriku. Padahal aku berniat keluar dari keluarga Haruno, padahal aku sendiri tak menganggap Haruno keluargaku, apa ini tak apa-apa? Menceritakan hal pada seseorang yang mungkin tak akan ku temui setelah aku benar-benar lepas dari Haruno.

.

.

.

...tbc

.

.

.

Keyikarus

21/7/2017